Menjadi pemimpin yang baik

Maka sangat marahlah aku, ketika kudengar keluhan mereka dan berita-berita itu. Setelah berpikir masak-masak, aku menggugat para pemuka dan para penguasa. Kataku kepada mereka: ”Masing-masing kamu telah makan riba dari saudara-saudaramu!” Lalu kuadakan terhadap mereka suatu sidang jemaah yang besar”. Nehemia 5: 6-7

Karakter apa yang paling penting untuk menjadi seorang pemimpin? Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab karena setiap lingkungan kerja tentunya mempunyai keadaan yang berbeda dan dengan itu membutuhkan pemimpin dengan karakter yang berlainan. Sebagai kepala sekolah, mungkin seseorang harus mempunyai karakter yang baik sebagai pendidik dan bisa diterima oleh para guru, murid dan orangtua murid. Seorang pemimpin negara tentu saja seharusnya mempunyai karisma, kebijaksanaan dan kemampuan untuk memimpin para menteri dan rakyatnya.

Banyak orang Kristen yang percaya bahwa menjadi pemimpin di luar gereja tidaklah mudah. Mengapa begitu? Di dalam kehidupan sekuler, kita tentunya tidak bisa memakai Alkitab sebagai buku pedoman kerja untuk semua orang. Dalam kehidupan di negara yang berlandaskan demokrasi, banyak pemimpin mau tidak mau harus tunduk kepada suara terbanyak. Apa yang bisa dilakukan seorang pemimpin dalam keadaan sedemikian tentunya hanya memakai etika praktis dan hukum yang ada dan yang bisa diterima oleh semua orang. Sekalipun demikian, ada satu karakter yang membedakan seorang pemimpin yang baik dari yang lain: integritas.

Apa arti kata “integritas”? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata ini sebagai “mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran”. Memang kejujuran adalah karakter yang sangat penting, yang membedakan orang yang mengikut Tuhan dari orang yang lain. Sayang sekali, kita tahu bahwa dari mulanya manusia cenderung untuk tidak jujur, seperti apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa di taman Firdaus di hadapan Tuhan.

Mengapa orang mampu menyulap apa yang buruk untuk menjadi sesuatu yang kelihatan baik? Mengapa orang, demi keuntungan dan kenikmatan diri sendiri, sanggup untuk memutar-balikkan fakta? Mengapa banyak orang yang menghalalkan segala cara, asal  tujuannya tercapai? Mereka yang tidak punya etika yang baik sudah tentu dapat dikatakan sebagai oknum yang tidak berintegritas. Itulah yang terjadi di zaman Nehemia, ketika orang Yahudi yang kaya dan berkedudukan menindas dan memeras mereka yang miskin dan lemah. Mereka yang tidak mampu sampai-sampai harus mengadaikan rumah mereka dan hidup dalam kelaparan, karena terlibat hutang yang berbunga besar.

Nehemia dalam ayat di atas menyatakan kemarahannya. Nehemia sebagai orang yang takut akan Tuhan, tidak ragu-ragu marah untuk memembela yang lemah. Memang kemarahan yang mempunyai sebab yang benar tidaklah perlu dihindari, dan justru harus dinyatakan. Dalam hal ini, Nehemia dalam kejujurannya, tidak dapat menahan kemarahannya ketika mendengar adanya orang-orang yang beriktikad jelek, yang mau menindas bagsa sendiri. Kemarahan Nehemia bukanlah asal marah saja, tetapi didasarkan pada integritas dirinya. Ia berpikir masak-masak sebelum bertidak, dan mengadakan sidang jemaah yang besar.

Integritas adalah suatu konsep berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Tetapi, dalam hal kejujuran dan etika setiap orang seringkali berbeda, karena latar belakang, budaya, sifat, kebiasaan dan lingkungan bisa membuat orang mempunyai standar yang berbeda-beda. Karena itu banyak orang (dan bahkan pemimpin kaliber tinggi) yang percaya bahwa mereka adalah orang yang mempunyai integritas, sekali pun di mata umum mereka mungkin sebaliknya.

Bagi orang Kristen, integritas seseorang adalah tingkah laku dan perbuatan  yang  tidak menyimpang dari fiman Tuhan. Firman di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus yakin akan apa yang akan kita nyatakan kepada orang lain. Jika kita percaya bahwa itu benar adanya, kita harus mengiyakannya. Tetapi jika sesuatu adalah tidak benar, kita juga harus berani untuk berkata “tidak”. Upaya untuk menutup-nutupi kenyataan dengan tipu-daya atau kamuflase, seharusnya tidak ada dalam kamus kehidupan orang Kristen karena semua itu adalah ketidak-jujuran.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah bagi kita untuk selalu bertindak jujur, tegas dan berani dalam membela kebenaran. Sering kali, karena kekuatiran, ketakutan atau karena adanya risiko, orang Kristen tidak dapat mempertahankan integritasnya. Ini bukan saja mengenai soal bisnis, pekerjaan, dan sekolah, tetapi juga kehidupan keluarga. Pada pihak yang lain, ada banyak orang Kristen yang seperti orang Yahudi di zaman Nehemia yang berlaku semena-mena kepada orang lain, termasuk sesama orang Kristen. Orang yang sedemikian seolah-olah tidak takut akan Tuhan yang mahaadil dan mahasuci.

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa jika kita memang benar-benar pengikut Kristus, kita akan sungguh-sungguh yakin bahwa apa yang kita perbuat, katakan dan pikirkan haruslah berdasarkan kebenaran. Dengan demikian, tidak ada gunanya bagi kita untuk berusaha melakukan  tindakan yang diharapkan untuk lebih meyakinkan orang lain atas integritas kita. Sebaliknya, kita harus menjaga integritas kita dengan selalu sadar bahwa apa yang akan kita tunjukkan, lakukan, dan sampaikan kepada orang lain adalah apa yang sudah diketahui oleh Tuhan kita. Integritas adalah ciri iman Kristen yang sejati.

Apakah yang harus kita lakukan?

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15-5-6

Setiap hari Minggu, umat Kristen umumnya pergi ke gereja. Walaupun demikian, tidak semua orang yang pergi ke gereja akan pulang ke rumah dengan membawa kesan yang baik. Mungkin itu disebabkan oleh acara pujian yang kurang “sreg”, atau mungkin juga karena bahan khotbah yang kurang mengena. Bagi pendeta yang membawakan khotbah memang sulit untuk bisa selalu menyampaikan firman Tuhan dengan menerangkan apa aplikasinya dalam hidup setiap jemaat. Memang, sebagian pengkhotbah sering membawakan khotbah yang “kering”, tetapi berisi pengajaran teologi yang dalam. Sebaliknya, ada banyak pengkhotbah yang menyampaikan khotbah “populer” yang kurang berisi firman Tuhan. Sebenarnya, apakah yang dibutuhkan jemaat dalam mendengarkan firman? Kebanyakan jemaat ingin tahu “apa yang harus aku perbuat?” dalam hidup yang mereka alami (berapa kali pertanyaan ini muncul dalam Alkitab PB?).

Bagi umat Kristen, terlepas dari hal bagaimana dan sejak kapan manusia mengenal Tuhannya, pada umumnya diterima pernyataan bahwa Tuhanlah yang memilih manusia untuk diperkenalkan kepada Dia. Mereka yang dipilih Tuhan, diberi kesempatan, jalan dan bimbingan untuk dapat merasakan kuasa, kasih dan eksistensi Tuhan, sekalipun mereka tidak dapat melihat Tuhan dengan mata jasmani. Dari ayat pembukaan di atas, kita bisa melihat bahwa Tuhan juga memilih umat-Nya untuk menghasilkan buah, yaitu berbagai bentuk kasih untuk sesama manusia. Itu jika kita mau untuk tetap hidup bersama Dia. Ini adalah salah satu dari firman Tuhan yang sudah dinyatakan kepada kita, dan yang harus kita perhatikan dengan seksama selama kita hidup di dunia. Ini juga seharusnya ditekankan dalam pengajaran Kristen. Mengapa demikian?

Jika Yesus digambarkan sebagai pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya, itu karena kita sudah dipilih untuk menjadi umat-Nya. Sebagai umat, kita akan bergantung kepada Dia sebagai sumber kehidupan. Karena itu, jika kita memang orang Kristen yang sejati, kita akan merasakan adanya dorongan untuk tumbuh dan berbuah. Mereka yang bukan orang yang dipilih-Nya adalah seperti ranting yang patah atau rontok tanpa menghasilkan buah dan kemudian akan menjadi kering.

Jika buah dari pengurbanan Kristus di kayu salib adalah keselamatan kita, buah dari keselamatan kita, yang tumbuh karena Yesus sudah memilih kita, adalah apa yang bisa membawa kabar keselamatan bagi orang lain.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Jika kita berusaha untuk berbuat baik dan mengasihi sesama kita, mungkin ada orang yang mungkin menegur kita bahwa keselamatan kita bukan bergantung pada usaha kita. Tetapi, ayat di atas mengatakan bahwa “barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak” . Ini menunjukkan bahwa mereka yang benar-benar mempunyai relasi yang baik dengan Yesus, pasti akan berbuah banyak. Mereka yang Kristen sejati pasti mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan. Mereka akan merasakan adanya dorongan untuk berbuah banyak karena adanya Roh Kudus yang bekerja.

Bagaimana kalau demikian? Haruskah kita mengabarkan bahwa sebagai manusia yang lemah, kita harus mengikut jejak Yesus dan hidup untuk berbuah? Tuhan yang sudah memilih kita adalah Tuhan yang mahakuasa, dan Ia mendengar doa-doa kita, supaya apa yang kita minta kepada Bapa dalam nama Yesus akan diberikan-Nya kepada kita. Karena itu kita harus yakin dalam iman bahwa jika Tuhan berserta kita, tidaklah ada yang perlu kita ragukan dalam hidup kita. Roh Kuduslah yang akan memberi kita buah-buah Roh jika kita hidup sesuai dengan firman-Nya dan tidak mendukakan Roh-Nya.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Efesus 4: 30

Sikap kita dalam menghadapi perundungan

Ketika Sanbalat mendengar, bahwa kami sedang membangun kembali tembok, bangkitlah amarahnya dan ia sangat sakit hati. Ia mengolok-olokkan orang Yahudi dan berkata di hadapan saudara-saudaranya dan tentara Samaria: ”Apa gerangan yang dilakukan orang-orang Yahudi yang lemah ini? Apakah mereka memperkokoh sesuatu? Apakah mereka hendak membawa persembahan? Apakah mereka akan selesai dalam sehari? Apakah mereka akan menghidupkan kembali batu-batu dari timbunan puing yang sudah terbakar habis seperti ini?” Lalu berkatalah Tobia, orang Amon itu, yang ada di dekatnya: ”Sekalipun mereka membangun kembali, kalau seekor anjing hutan meloncat dan menyentuhnya, robohlah tembok batu mereka.” Nehemia 4:1-3

Dalam media sosial ataupun dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membaca atau mendengar kata bully. Tak dapat dipungkiri bahwa kata ini begitu populer dalam masyarakat mana pun, termasuk Indonesia. Bullying atau perundungan sendiri adalah sebuah kegiatan penyalahgunaan kekuasaan atau ‘kekuatan’ yang bertujuan untuk menyakiti orang lain baik dalam bentuk fisik, psikis atau perkataan sehingga sang korban seringnya akan merasakan sakit, depresi atau terjebak dalam keputusasaan. Biasanya, pelaku adalah orang yang merasa mempunyai posisi yang lebih tinggi atau lebih ‘kuat’ dari sang korban. Tetapi, ada juga perundungan yang terjadi di antara dua pihak yang bermusuhan. Dalam hal in, perundungan mungkin muncul dalam bentuk ancaman atau intimidasi.

Perundungan bisa terjadi di sekolah, di kantor, di rumah, di gereja dan di mana saja, termasuk di dunia maya. Ini sudah ada sejak dulu, tetapi baru sejak dekade yang lalu disorot orang karena akibatnya yang sangat destruktif dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang menjadi hancur hidupnya setelah menjadi korban perundungan. Jika perundungan begitu buruk akibatnya dan hanya akan menyakiti orang lain, mengapa banyak orang yang kerap kali melakukannya?

Sekalipun Alkitab tidak mempunyai kata perundungan, dalam ayat di atas ada kata-kata yang berkaitan dengan perundungan. Pada waktu itu, Nehemia berada di Yerusalem dan berusaha mengerahkan orang-orang Yahudi untuk bersama-sama membangun kota itu, yang sudah porak-poranda karena berbagai serangan tentara musuh. Nehemia tidak mempunyai orang-orang yang berpengalaman dalam hal membangun, dan karena itu ia menerima bantuan dari banyak orang Yahudi yang mempunyai berbagai latar belakang dan pekerjaan. Sudah tentu, mereka tidak dapat bekerja sekeras atau secepat mereka yang biasa membangun. Ketika itulah ada beberapa orang non-Yahudi yang mengejek dan berusaha mematahkan semangat Nehemia dan pengikutnya.

Ada berbagai istilah mengenal perundungan yang perlu diketahui umat Kristen, diantaranya:

  1. Intimidasi fisik adalah bullying yang berbentuk kekerasan badani, seperti: mendorong, memukul, melukai, dan meludahi.
  2. Intimidasi emosional adalah bullying yang melibatkan faktor-faktor lain selain interaksi fisik, seperti: penghinaan, komentar yang menghina, memberi nama panggilan, membodoh-bodohkan dan mengolok-olok.
  3. Intimidasi individu adalah bullying yang dilakukan perorangan dan bisa terjadi baik secara langsung atau online. Intimidasi individu juga bisa dilakukan dengan cara intimidasi fisik atau intimidasi emosional.
  4. Intimidasi kelompok adalah bullying yang dilakukan beramai-ramai terhadap seseorang, dengan cara intimidasi fisik atau intimidasi emosional. Ini juga dapat dilakukan secara langsung atau di dunia maya.

Keempat jenis perundungan di atas sudah dilakukan kepada orang-orang Yahudi yang ingin membangun kembali kota Yerusalaem (baca Nehemia 4).

Banyak faktor yang memicu seseorang untuk melakukan perundungan, di antaranya yang paling umum adalah:

  • Kurangnya kepercayaan diri sendiri: sang pelaku ingin merasa ‘lebih baik’ dengan cara merundung; yang akhirnya memberikan mereka kepuasan yang bersifat sementara tanpa menyadari efek berkepanjangan pada korban .
  • Kurangnya empati kepada orang lain: biasanya para pelaku akan mencari alasan pembenaran kelakuan mereka jika ditanyakan. Namun bagaimanapun, tidak ada satu pun alasan yang bisa membenarkan sebuah tindakan tidak terpuji seperti bullying. Kurangnya hati nurani adalah penyebab utamanya, alih-alih alasan lain yang mereka coba buat.
  • Mencari-cari perhatian: sang pelaku merasa ‘hebat’ dengan menindas orang lain dan mendapatkan atensi dari banyak orang. Yang sebenarnya, bisa jadi salah satu tanda gangguan mental yang ia idap, seperti kecenderungan narsistik akut yang membuatnya ingin selalu dipandang sebagai yang ‘terhebat’.
  • Perbedaan suku, agama atau ras, dan antar agama: SARA adalah salah satu penyebab perundungan yang paling sering dijumpai. Ini karena adanya orang-orang dari golongan tertentu yang menganggap rendah orang lain. Dan inilah yang terjadi pada Nehemia dan pengikutnya.

Perundungan terhadap seseorang adalah suatu dosa, dan maraknya kasus semacam ini di berbagai tempat adalah sangat menyedihkan. Herannya, khotbah gereja jarang sekali membahas hal perundungan di kalangan umat Kristen. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa kasus perundungan adalah marak di antara umat Kristen, tetapi jarang dibahas karena adanya rasa tabu. Pada pihak lain, perdebatan antar golongan Kristen yang ada di media, dan yang sering kali sudah melampaui batas-batas etika, juga bisa digolongkan sebagai usaha perundungan sesama.

Hari ini, anda mungkin ingin tahu bagaimana reaksi Yesus seandainya Ia masih ada bersama kita sekarang ini. Matius 5: 22 bisa memberi sebuah gambaran:

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.“

Jelas bahwa Yesus membenci bentuk perundungan sekecil apa pun. Karena itu, sebagai umat Kristen kita harus ikut berusaha bersama masyarakat umum, badan gereja, aparat hukum dan pemerintahan untuk menghilangkan praktik perundungan dari kehidupan masyarakat. Itu adalah bagian panggilan kita untuk mengasihi sesama manusia.

“Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita” Amsal 14: 21

Apa yang dilakukan Nehemia dalam menghadapi perundungan dan ancaman musuh-musuhnya? Ia berdoa kepada Tuhan dan meminta pertolongan. Ia tahu bahwa perundungan sudah terjadi bukan hanya terhadap dia dan pengikutnya.

Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan. Jangan Kaututupi kesalahan mereka, dan dosa mereka jangan Kauhapus dari hadapan-Mu, karena mereka menyakiti hati-Mu dengan sikap mereka terhadap orang-orang yang sedang membangun. Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati.” Nehemiya 4: 4-6

Sepertinya, doa Nehemia ini terdengar sangat keras nadanya. Tetapi, itu adalah jeritan hatinya yang merasa bahwa Tuhanlah yang sudah dihina, karena perundungan yang sudah dilakukan oleh Sanbalat dan Tobia. Nehemia yang sudah disertai Tuhan sehingga ia diizinkan raja Artahsasta dari Persia untuk pergi ke Yerusalem, tahu bahwa ia mengemban tugas berat untuk membagun kembali kota Yerusalem untuk kemuliaan-Nya (Nehemiya 1,2). Oleh sebab itu, ia berdoa agar Tuhan menyertai bangsa Israel dalam perjuangan membangun kota Yerusalaem sampai selesai.

Hari ini kita bisa belajar bahwa jika kita mengalami perundungan, kita boleh berdoa kepada Tuhan untuk memohon perlindungan dan kekuatan, jika kita terancam untuk tidak dapat menjalankan tugas dan kewajiban sehari-hari yang diberikan Tuhan kepada kita. Lebih dari itu, Nehemia juga menunjukkan bahwa kita juga harus berani berjuang sepenuh hati untuk melenyapkan bahaya dan ancaman mereka yang ingin menghancurkan pekerjaan Tuhan (Yeremia 4).

“Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu.” Nememia 4:14

Tuhan melihat apa saja yang terjadi

“Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” 1 Petrus 3: 12

Seluruh pengendara mobil di Australia mengerti bahwa pemakaian HP selagi mengemudikan mobil adalah melawan hukum dan bisa didenda ratusan dolar. Walaupun demikian, sejak beberapa tahun terakhir mereka menyadari bahwa bukan saja polisi bisa menangkap mereka ketika mereka sedang melakukan kesalahan itu, tetapi adanya kamera canggih di banyak lokasi, mereka bisa juga didenda sesudah melakukan pelanggaran hukum. Dengan adanya kamera yang bisa merekam nomer plat mobil dan jenis pelanggaran yang dilakukan, seperti tidak memakai sabuk pengaman, menggunakan HP, dan mengemudi sambil makan, ribuan orang setiap bulannya didenda.

Manusia umumnya berani melanggar hukum jika tidak ada sanksinya. Manusia juga tidak segan bertindak bodoh jika tidak ada yang melihat. Manusia bukan saja cenderung untuk berbuat dosa, tetapi sudah dikuasai dosa sejak dilahirkan. Walaupun demikian, umay Kristen percaya bahwa Tuhan yang mahatahu selalu mengawasi setiap benda dan makhluk yang ada di alam semesta. Ayat di atas lebih lanjut menjelaskan bahwa mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat. Tuhan tahu setiap tindakan dan cara hidup manusia.

Dunia ini memang seperti rumah yang besar dan Tuhan adalah pemiliknya. Lebih dari itu, rumah dan semua penhuninya sepenuhnya bergantung kepada pemeliharaan Sang Pemilik. Tuhan tidak pernah berhenti bekerja untuk menjaga rumah itu dan mencukupi kebutuhan penghuninya. Tuhan mencintai seisi rumah itu, dan bahkan sudah memilih sebagian dari penghuninya untuk menjadi anak-anak-Nya.

“Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” Efesus 1: 5

Memang setiap orang yang bisa merasakan betapa besar kasih Tuhan kepada dunia, dan bisa melihat bagaimana besar kuasa-Nya yang tercerminkan dalam semua yang ada dalam alam semesta, tentunya tidak dapat menolak kenyataan bahwa Ia adalah Tuhan yang harus dihormati dan disembah. Walaupun demikian, selalu ada saja orang-orang yang tidak mau mengenal Tuhan, yang berbuat jahat dalam hidup mereka sehari-hari, atau yang tidak mau hidup untuk memuliakan Tuhan: mereka bukanlah anak-anak Tuhan.

Ayat diatas menunjukkan perbedaan reaksi Tuhan yang memiliki alam semesta ini, terhadap mereka yang menurut perintah-Nya dan mereka yang mengabaikan hukum-Nya. Seluruh umat manusia yang tinggal di rumah besar yang saat ini dinamakan dunia, menerima berkat Tuhan setiap hari, tetapi hanya mereka yang mengasihi-Nya boleh yakin akan pemeliharaan-Nya dalam setiap keadaan. Karena mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong. Tuhan juga memberikan keselamatan kepada mereka yang mau bertobat dan beriman kepada-Nya.

Pagi ini, jika kita merasa dunia ini seperti sudah terbalik dan kita terhimpit dibawahnya, biarlah kita boleh tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata telinga-Nya kepada kita yang sudah diangkat-Nya sebagai anak-anak pilihan. Semoga kita tetap bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita hari demi hari. Tuhan yang memiliki dunia ini tidak pernah meninggalkan kita.

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Yesaya 41: 10

Mengabarkan Injil melalui karakter kita

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Amanat Agung yang tertulis dalam Matius 28:19 di atas pasti pernah dibaca semua orang Kristen. Istilah “the Great Commission” ini mungkin diperkenalkan oleh seorang penginjil asal Austria, Justinian von Welz (1621–88), dan dipopulerkan oleh Hudson Taylor, hampir 200 tahun sesudahnya.

Dalam ayat di atas, Yesus memberi perintah agar semua bangsa dijadikan murid-Nya. Apa sebenarnya maksud Yesus? Apakah Ia memerintahkan kita untuk mengkristenkan semua manusia di dunia? Apakah Tuhan ingin menyelamatkan semua orang?

Istilah “kristenisasi” adalah istilah yang sensitip bagi orang-orang yang bukan Kristen. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai negara pernah mengalami peristiwa buruk ketika agama Kristen mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Berbagai cara penginjilan dipakai, termasuk cara-cara pemaksaan dan kekerasan. Di zaman ini, istilah ini sering menimbulkan ketegangan antar agama. Bagaimana sebenarnya posisi kita dalam hal mengabarkan injil?

Dalam Kisah 8: 26-40, seorang sida-sida Etiopia yang sedang dalam perjalanan berkereta kuda ke Yerusalem, mengeluh kepada Filipus bahwa dia tidak mungkin mengerti apa yang dibacanya jika tidak ada orang yang menolong. Filipus yang dengan petunjuk Tuhan dapat bertemu dengan sida-sida itu, kemudian memperoleh kesempatan untuk duduk berdampingan dalam kereta kuda dan menjelaskan arti firman Tuhan sehingga sida-sida itu akhirnya bisa mengerti dan minta untuk dibaptiskan. 

Filipus memang sudah menjalankan perintah Yesus dalam Matius 28:19 di atas. Tetapi, tanpa Roh Kudus segala sesuatunya akan sia-sia. Filipus membutuhkan Roh Kudus untuk memilih jalan tertentu yang memungkinkan ia bertemu dengan sida-sida itu. Roh Kudus jugalah yang membuat Filipus dapat berkomunikasi dengan sida-sida itu. Dan Roh jugalah yang membimbing sida-sida itu dan membuka hati dan pikirannya sehingga ia percaya dan mau dibaptiskan.

Apa yang menumbuhkan jumlah orang percaya adalah adanya banyak orang yang seperti Filipus dan sida-sida Etiopia, mau mendengarkan suara Tuhan dalam hidupnya dan membuka hidupnya agar Roh Kudus bisa bekerja dengan bebas. Dengan kata lain, manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia. Inilah prasyarat pertama untuk pengaruh spiritual, yaitu bekerjanya Roh Kudus dalam diri orang pilihan Tuhan.

Kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan Injil dan menjalani hidup menurut perintah Tuhan agar orang di sekitar kita bisa melihat kasih Tuhan. Penginjilan bisa dan harus kita lakukan, tetapi hanya Tuhan yang bisa “mengkristenkan” seseorang. Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk menipu mereka, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”. Hanya mereka yang mau menerima uluran tangan Tuhan bisa diselamatkan.

Lalu bagaimana kita bisa secara efektif menyampaikan Injil, kabar baik tentang penyelamatan manusia yang berdosa?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Karakter adalah prasyarat kedua untuk pengaruh spiritual. Setiap manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, dan secara naluriah dan dalam keterbatasan mereka, menghargai sifat-sifat karakter Tuhan yang merancang kita – bahkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan. Umat manusia secara universal menghargai buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak oleh para pemimpin agama kemudian tertarik kepada Yesus karena Ia mewujudkan karakteristik ini. Sampai hari ini, karakter seperti yang Yesus miliki masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat masyarakat.

Orang non-Kristen memerhatikan kegembiraan kita ketika kita bekerja, kedamaian kita di tengah kekecewaan, dan keanggunan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, karakter semacam ini sering terasa kurang terlihat dalam hidup kita yang dituntut untuk menunjukkan karakter Yesus kepada dunia. Pada tahun 2013, ada survei yang mempelajari kemunafikan di kalangan orang Kristen. Di antara mereka yang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kristen, penelitian berdasarkan daftar sikap dan tindakan yang dipilih untuk diri sendiri menemukan bahwa 51 persen menggambarkan diri mereka lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, menghakimi) dibandingkan dengan hanya 14 persen yang mencontoh tindakan dan sikap Yesus (tanpa pamrih, empati, kasih dan lain-lainnya). Kekurangan umat Kristen inilah yang bisa menghambat usaha penginjilan. Mengapa demikian? Teolog terkenal C.S. Lewis menjelaskan masalahnya:

“Ketika kita orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat kekristenan tidak dapat dipercaya oleh dunia luar. … Kehidupan kita yang ceroboh membuat dunia luar berbicara; dan kita memberi dunia sebuah alasan untuk berbicara dengan cara yang meragukan kebenaran kekristenan….”

Jika kata-kata kita berarti bagi orang lain, kata-kata itu harus mengalir dari kehidupan yang berintegritas. Jika tidak, perbuatan dan kata-kata kita akan diwarnai dengan kesombongan atau kebohongan. Sebaliknya, ketika orang melihat bahwa kita tidak hanya berpose, tetapi dengan rendah hati berusaha menjalani kehidupan yang berintegritas, mereka akan memperhatikan pesan kita.

Orang-orang juga memerhatikan apa yang akan kita lakukan ketika kita gagal dalam menjalani tes integritas. Dalam hal ini, apakah kita mau mengakui bahwa kita tidak sepenuhnya memiliki integritas sebagai anak Tuhan? Mungkin yang lebih penting daripada memperbaiki keadaan adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan, dan menebus kesalahan kita kepada mereka yang kita lukai. Salah satu elemen karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna atau manusia yang paling bijaksana.

Memang, sering kali sebagai orang Kristen kita berperilaku seolah-olah kita yang sudah lahir baru memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen yang belum menerima apa pun dan sama sekali rusak karakter dan moralnya (totally depraved). Karena itu, banyak orang mungkin merasa malu untuk mengakui kelemahan atau memperlihatkan kekurangan apa pun yang bisa merendahkan pamor kita. Pada pihak yang lain, ada juga orang Kristen yang merasa bahwa mereka tidak perlu malu dengan segala kekurangan dan cara hidup mereka yang kacau karena mereka yakin sudah terpilih. Kedua sikap ini tentunya keliru, untuk tidak dikatakan munafik!

Hidup sebagai saksi Kristus tidaklah mudah. Rasul Yakobus menulis bahwa imat adalah mati jika tidak disertai perbuatan (Yakobus 2: 17). Tetapi, berbuat baik saja tidak cukup untuk mmberitakan injil. Kita harus mempunyai sesuatu yang menarik dalam karakter kita. Dalam hal ini, yang terutama adalah kemampuan kita untuk mengakui kegagalan dan kehancuran, yang merupakan karakter yang sangat menonjol dalam masyarakat dan budaya di sekitar kita. Orang perlu mencium aroma manis kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang paling nyata terlihat melalui karakter rendah hati yang Dia ciptakan dalam diri kita. Itu tidaklah mudah untuk dipraktikkan. Kita tidak dapat memperlihatkan karakter yang baik kepada dunia jika Roh Kudus tidak bekerja sepenuhnya dalam hidup kita.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8

Orang Kristen mempunyai musuh yang tidak terlihat

“Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6: 12

Pernahkah anda menonton film perang? Sebagai penggemar film, ada banyak film perang dari segala zaman yang pernah saya tonton. Dalam beberapa film perang, misi sebuah regu tentara seringkali adalah untuk mencari tentara musuh dan menghancurkan mereka (search and destroy). Yang membuat penonton jadi tegang ialah adegan dimana tentara musuh yang semula tidak terlihat, tiba-tiba muncul dan menyerang. Di zaman sekarang, dengan kemajuan teknologi serangan musuh bukan hanya muncul dalam bentuk tentara dengan berbagai ragam senjata, tetapi juga datang dari udara dan laut dengan berbagai bentuk yang sulit dideteksi. Memang sulit untuk menghadapi musuh yang pandai berkamulflase seperti bunglon, apalagi menghadapi musuh yang datang dan pergi seperti setan.

Ayat diatas mengingatkan semua orang Kristen bahwa dalam hidup ini mereka harus berjuang untuk bisa tetap setia kepada Tuhan. Di banyak negara, hidup orang Kristen mirip dengan hidup mereka yang dalam peperangan karena adanya bahaya yang mengancam dari orang-orang yang membenci mereka. Sebagian orang Kristen yang lain memang hidup di daerah dimana perang ada. Dan ada juga masyarakat Kristen yang harus hidup dalam persembunyian karena pemerintah setempat melarang mereka untuk melakukan kegiatan agama. Hidup sebagai laskar Kristen memang tidak mudah.

Pada pihak yang lain, ada banyak orang Kristen yang hidup dalam kemakmuran di negara yang menjamin kebebasan beragama. Hidup mereka nampaknya bahagia dan serba berkecukupan, untuk tidak dikatakan berlebihan. Mungkin dalam berdoa mereka tetap ingat untuk memohon kekuatan, kecukupan dan perlindungan dari Tuhan untuk orang lain yang berada dalam penderitaan, tetapi untuk mereka sendiri tentunya mereka sering minta agar Tuhan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada mereka sampai berkelimpahan.

Sesungguhnya, hidup dalam kelimpahan dan kenyamanan bukan berarti tanpa bahaya. Mereka yang terbuai dalam suasana damai, aman dan nikmat, sering lupa bahwa iblis selalu mengintai untuk mencari kesempatan menyerang. Iblis bagaikan singa, akan menyerang mereka yang tidak berjaga-jaga. Hidup sebagai umat Tuhan bukannya berrarti bahwa kita tidak perlu berwaspada karena Tuhan yang sudah memanggil kita, akan melindungi kita sehingga kita tidak bisa jatuh. Hidup sebagai umat Kristen sejati bukannya bebas dari tugas untuk berjaga-jaga karena kita sudah menerima pengampunan.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8

Pagi ini kita diingatkan bahwa hidup yang terasa tenteram tidak boleh menyebabkan kita lengah. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan bisa jatuh kedalam keputusasaan dan dosa, mereka yang hidup dalam kecukupan bisa jatuh kedalam ketamakan, kesombongan dan dosa. Iblis ingin menghancurkan hidup setiap orang percaya dalam keadaan apapun. Mereka yang tidak waspada, jarang membaca firman, acuh tak acuh dalam menghadapi tugas dan kewajiban orang beriman, dan tidak mempunyai komunikasi yang baik dengan Tuhan sudah pasti akan menjadi mangsa yang empuk.

Iblis bukannya muncul dalam bentuk yang selalu terlihat jelas atau menjijikkan, karena jika demikian manusia akan mudah menghindarinya. Iblis justru muncul dengan berbagai bentuk kamulflase indah yang membuat kita tidak awas dan kemudian terkecoh. Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa dengan bimbingan dari Roh Kudus, kita harus sadar bahwa perjuangan kita bukanlah melawan hal-hal yang mudah dilihat dan dirasakan, tetapi melawan melawan roh-roh jahat di udara. Sadarlah dan berjaga-jagalah!

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” Efesus 6: 11

Kesibukan orang Kristen sejati

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Baru saja tahun baru, sekarang bulan Februari hampir berlalu. Saya yakin jika bulan Juli datang, banyak orang yang akan berkata “tak terasa setengah tahun sudah berlalu”. Memang dengan kesibukan hidup, hari berlalu dengan cepat dan usia pun bertambah tanpa terasa. Memikirkan hari-hari yang telah lalu atau tahun-tahun yang sudah silam, terkadang saya merenung. Seperti pemazmur dalam Mazmur 102: 11, saya berpikir dalam-dalam: “Hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang, dan aku sendiri layu seperti rumput”.

Memang dengan terbatasnya waktu dan umur yang dimiliki manusia, setiap orang tentunya ingin secepatnya mencapai apa yang diharapkan. Selagi masih bisa, manusia harus berusaha. Tetapi, dengan berlalunya waktu terkadang kita merasa adanya kemungkinan bahwa beberapa hal yang kita ingini, mungkin tidak bisa tercapai.  Dengan demikian timbullah berbagai pertanyaan. Jika kita dapat mengulangi hidup kita, apakah kita akan menempuhnya dengan cara yang berbeda atau dengan cara yang sama? Jika kita menempuh hidup yang penuh kesibukan, apakah semuanya itu sudah membawa kepuasan dan keberhasilan?

Jika jujur, semua orang tentunya mengaku adanya cita-cita atau keinginan yang mungkin tidak akan tercapai sampai akhir hayatnya. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan itu tanpa menjadi kecewa, tetapi banyak juga orang yang menyesali apa yang terjadi pada masa yang silam. I wish I could do that! Aku sebenarnya ingin seperti itu! Begitulah kata orang yang sedih mengapa orang lain bisa, sedangkan ia sendiri tidak mampu. Walaupun begitu, ada juga orang yang sekalipun pernah kecewa, merasa bahwa semua yang terjadi sudahlah ditentukan Tuhan. Sudah nasib. Karena itu buat apa dipikirkan lagi? I am what I am. Aku adalah sebagaimana adanya.

Dalam ayat diatas, Yesus menegur Marta yang kecewa karena saudaranya, Maria, tidak mau membantu dia mempersiapkan makanan di dapur. Selagi Marta sibuk melayani, Maria duduk dekat kaki Yesus dan sibuk mendengarkan suara Yesus. Marta dalam kesibukannya merasa bahwa waktu-waktu berlalu dengan cepat dan ia  kuatir kalau-kalau ia tidak dapat menangani apa yang perlu dikerjakan. Pada pihak yang lain, Maria sibuk mendengarkan pengajaran Yesus dengan penuh perhatian sehingga waktu berlalu tanpa terasa. Baik Maria maupun Marta mengasihi Yesus, dan mempunyai kesibukan hidup. Bagi keduanya waktu berlalu dengan cepat, tetapi kesibukan yang satu membawa kedamaian sedangkan yang lain membawa kekuatiran dan juga iri hati.

Hari ini, jika kita hidup seperti Marta, mungkin kita bisa melihat adanya saudara-saudara seiman kita yang seperti Maria , terlihat bahagia dan damai hidupnya.  Mereka kelihatannya tidak sibuk dan kurang peduli akan keramaian, kemewahan, kesibukan orang disekitarnya. Mungkin kita bertanya-tanya apa sebabnya. Sangat mudah bagi kita untuk menuduh orang-orang yang sedemikian sebagai orang-orang yang malas, kurang bersemangat atau kurang mau untuk berhasil.  Tetapi, mungkin saja mereka itu adalah orang-orang yang lebih berbahagia daripada kita yang selalu sibuk.  Bagi kita yang selalu sibuk bekerja, sibuk mencari uang, mencari nama, dan mencari kepuasan hidup yang lain, waktu berlalu dengan cepat dan kita bertanya-tanya kemanakah perginya. Seperti Marta yang sibuk melayani, mungkin hidup kita terasa berat. Lebih dari itu, Marta tidak sadar bahwa dari awalnya Tuhan mengharapkan ketaatan manusia kepada Firman-Nya.

Firman Tuhan diatas mengingatkan kita bahwa sudah sewajarnya bahwa manusia mempunyai berbagai kesibukan di dunia ini. Adalah normal jika waktu berlalu dan kita merasa bahwa kita belum atau tidak bisa mencapai target hidup kita. Walaupun demikian, Yesus mengingatkan kita untuk memakai waktu kita dengan bijaksana, agar kita bisa memilih apa yang terbaik untuk hidup kita. Jika kita yakin bahwa kita adalah orang pilihan, bukannya kita boleh melakukan apa saja karena keselamatan kita sudah terjamin. Sebaliknya, kita harus mau untuk membina hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesama kita. Kita harus memilih apa yang membawa kedamaian dan kebahagiaan yang sejati, apa yang membuat waktu berlalu dengan cepat, tetapi yang juga membuat kita makin ingin untuk lebih dekat kepada Tuhan selama kesempatan masih ada di dunia.

Siapakah yang akan ditolak Tuhan?

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu jug? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 22-23

Bagi sebagian orang Kristen, pertanyaan apakah dirinya akan diterima untuk masuk ke surga mungkin terkadang timbul. Menurut sumber-sumber Kristen, mereka yang mementingkan kedaulatan Tuhan, justru sering mempertanyakan apakah mereka memang orang pilihan. Itu karena mereka percaya bahwa manusia tidak mempunyai peran apa pun dalam keselamatan. Sebaliknya, mereka yang menekankan kehendak bebas, sering merasa yakin akan keselamatannya jika cara hidupnya dirasa cukup baik. Dalam hal ini, orang Kristen sering tidak sadar bahwa keselamatan tidak bisa dijamin sekalipun kita yakin sudah dipilih atau yakin sudah sering berbuat baik. Lalu bagaimana kita mendapat keyakinan bahwa kita sudah diselamatkan?

Ayat-ayat di atas sering dikumandangkan di gereja untuk memperingatkan umat Kristen bahwa tidak semua orang yang merasa sudah dipilih atau yang merasa sudah hidup menurut firman akan diselamatkan. Bagaimana bisa begitu? Dikatakan bahwa Tuhan akan menolak mereka dan berkata; Aku tidak pernah mengenal kamu! Ini adalah aneh karena Tuhan yang mahatahu seharusnya tahu dan mengenali setiap umat-Nya.

Jika kita baca lagi ayat-ayat di atas, kita akan bisa mengerti bahwa Tuhan sama sekali tidak kaget dengan adanya orang-orang yang bukan umat sejati. Mengenal dalam hal ini menunjuk pada adanya hubungan erat. Hubungan antara dua pihak sudah tentu melibatkan komunikasi dua arah. Jika seseorang memilih untuk tidak peduli kepada Tuhan, hubungan antara dia dan Tuhan adalah kosong dan karena itu Tuhan tidak menganggap orang itu sebagai umat-Nya.

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” Yohanes 10: 14-15

Ketika Yesus berkata, “Aku tidak pernah mengenalmu,” kepada orang yang berpura-pura percaya, maksud-Nya adalah bahwa Dia tidak pernah mengenali mereka sebagai murid sejati atau sahabat-Nya. Dia tidak pernah memiliki keserupaan dengan mereka atau menyetujui cara hidup mereka. Mereka bukan kerabat-Nya (Markus 3:34–35). Kristus tidak tinggal di dalam hati mereka (Efesus 3:17), dan mereka juga tidak memiliki pikiran-Nya (1 Korintus 2:16). Dalam semua hal ini dan lebih banyak lagi, Yesus tidak pernah mengenal mereka. Perhatikan bahwa Yesus tidak memutuskan hubungan di sini – memang tidak pernah ada hubungan yang harus diputuskan. Yesus bukan oknum yang menyebabkan mereka tidak mau membina relasi. Terlepas dari kata-kata mereka yang muluk-muluk dan semangat keagamaan yang mencolok, mereka tidak mau memiliki keintiman dengan Kristus.

Dalam kata-kata Yesus pada hari penghakiman, kita melihat beberapa kebenaran penting: bukanlah klaim lisan bahwa seseorang mengikuti Yesus yang menyelamatkan (Matius 7:21). Kekristenan nominal, atau sekadar menjadi orang Kristen menurut KTP, atau menjadi anggota gereja tertentu, tidak dapat menyelamatkan. Selain itu, ini bukanlah peragaan wawasan teologi atau kuasa rohani yang menyelamatkan (ayat 22). Seseorang bisa terlihat seperti orang Kristen di mata orang lain, namun tetap menjadi “pelaku kejahatan” di hadapan Tuhan dan dijauhkan dari hadirat-Nya (ayat 23). Hanya mereka yang melakukan kehendak Bapa dan yang dikenal Tuhan yang akan masuk surga.

Kata-kata muram itu “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan” dalam Matius 7:23 justru menunjukkan bahwa Yesus memang mahatahu. Dia tahu apa yang ada dalam hidup dan hati kita. Kecaman Yesaya atas kemunafikan sangat cocok dengan kelompok ini: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan” (Yesaya 29:13). Pelaku kejahatan yang tidak dikenal Yesus adalah orang-orang Kristen palsu yang bukan pelaku firman. Orang-orang ini tidak pernah Ia kenal, dan tidak akan menghasilkan buah Roh (Galatia 5:22-23); sebaliknya, mereka akan menghasilkan sebaliknya, perbuatan daging (Galatia 5:19-21).

Yesus memperingatkan bahwa suatu hari Dia akan memberi tahu sekelompok praktisi agama, “Aku tidak pernah mengenalmu.” Tuhan tidak senang mengirim orang ke neraka (2 Petrus 3:9). Tetapi mereka yang disuruh pergi telah menolak tujuan dan rencana kekal Allah bagi hidup mereka (Lukas 7:30). Mereka menolak terang Injil (2 Korintus 4:4), memilih kegelapan, karena perbuatan mereka jahat (Yohanes 3:19). Pada penghakiman, mereka mencoba untuk membenarkan diri mereka sebagai layak surga atas dasar perbuatan mereka (nubuatan, pengusiran setan, mujizat, dll.), tetapi tidak seorang pun akan dibenarkan oleh perbuatannya sendiri (Galatia 2:16).

Malam ini, kita harus menyadari bahwa yang terpenting pada akhirnya bukanlah tingkat pengenalan kita akan Tuhan, tetapi apakah Tuhan mengenal kita. Seperti yang dijelaskan Paulus, “Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” (1 Korintus 8:3). Sudahkah Anda mewujudkan kasih Anda kepada Allah dalam hidup sehari-hari?

Kesuksesan orang beriman

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20

Apa yang ingin Anda capai selama hidup di dunia? Setiap orang tentunya mempunyai jawaban yang berbeda. Sekalipun ada orang yang menjawab bahwa ia adalah orang yang sederhana dan tidak mempunyai cita-cita yang tinggi, ia tentunya ingin menjadi orang yang berbahagia. Mungkin tidak banyak disadari orang, hidup berbahagia adalah suatu cita-cita yang sangat tinggi dan bahkan yang tersulit untuk dicapai. Banyak orang yang sukses dalam segala usahanya, tetapi tidak berbahagia sampai hari kematiannya.

Berapa lama manusia harus hidup untuk bisa mencapai kebahagiaan? Mungkin ada orang yang merasa sudah mencapai kebahagiaan, hanya untuk dikecewakan pada saat mendekati akhir hidupnya. Mungkin orang ingin hidup panjang karena ingin mempertahankan kebahagiaan yang dirasakannya. Mungkin tidak ada orang yang ingin mati setelah merasakan adanya kebahagiaan yang sudah lama dicarinya. Tetapi, ada juga orang yang tidak mau hidup lebih lama lagi karena kebahagiaan yang tidak kunjung datang. Bagaimana dengan diri Anda? Berapa lama Anda ingin hidup di dunia? Kita bisa menmikirkan suatu angka, tetapi sebagai orang Kristen, kita hanya bisa berserah kepada Tuhan yang menentukan saat di mana kita akan bertemu dengan Dia, yang akan memberikan kebahagiaan sejati di surga.

Dari segi kedokteran, umur seseorang umumnya bergantung pada faktor genetika dan lingkungan. Ada bangsa-bangsa tertentu, seperti bangsa Jepang, yang sejak dulu terkenal berumur panjang. Sebaliknya, ada juga bangsa yang mudah terkena penyakit tertentu, seperti diabetes, yang disebabkan oleh faktor genetika. Walaupun demikian, faktor lingkungan juga besar pengaruhnya. Mereka yang hidup sehat dalam lingkungan yang baik, biasanya bisa mempunyai umur yang lebih panjang dari mereka yang serumpun tetapi lingkungan hidupnya kurang sehat atau kurang aman.

Bagi banyak manusia kematian adalah sesuatu yang menakutkan karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi sesudahnya, baik bagi dirinya maupun keluarganya. Dengan demikian, adalah suatu yang lumrah jika orang tidak ingin cepat mati, tetapi sebaliknya ingin untuk berumur panjang. Sekalipun orang Kristen percaya bahwa mereka akan ke surga sesudah mati, kebanyakan mereka juga ingin untuk sebisa mungkin hidup lama bersama keluarga. Walaupun mereka tahu bahwa hal hidup mati manusia ada di tangan Tuhan, mereka akan berusaha untuk hidup selama mungkin. Untuk bisa mempunyai umur panjang, mereka yang sadar akan berusaha untuk hidup sehat melalui makanan sehat, olahraga, cukup istirahat dan sedapat mungkin menghindari penyakit. Lalu apa yang akan mereka kerjakan jika dikaruniai hidup panjang?

Jika orang ditanya mengapa mereka ingin panjang umur, mungkin jawabnya adalah untuk mencapai kesuksesan, kebahagiaan, atau untuk menikmati hidup lebih lama bersama orang-orang yang dikasihi, tanpa menyadari bahwa kebahagiaan di dunia bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kebahagiaan di surga. Sungguh menarik, bahwa jarang orang Kristen yang menjawab bahwa mereka ingin hidup lebih lama untuk bisa makin memuliakan nama Tuhan di dunia. Bagi mereka, mungkin lebih penting untuk bisa menikmati berkat Tuhan lebih lama di dunia, dan bukan untuk lebih bersyukur kepada-Nya selama masih hidup.

Dalam ayat di atas, Paulus mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen, kita sebenarnya tidak perlu mendanbakan umur panjang. Itu karena baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Dengan demikian, baik dalam hidup atau mati kita bisa berharap atas kasih-Nya. Memang, tidak ada salahnya jika orang ingin berumur panjang untuk menikmati apa yang baik. Tetapi apakah yang baik itu? Bagi orang Kristen sejati, hidup haruslah dipakai untuk menjauhi hal yang jahat dan untuk melakukan apa yang baik untuk Tuhan dan sesama manusia. Orang pilihan Tuhan bukan hanya dipilih menjadi anak Tuhan, tetapi juga untuk menjadi serupa dengan Dia.

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:29

Hidup orang Kristen dengan demikian seharusnya dipakai untuk melanjutkan tugas untuk menjadi terang dunia. Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati apa yang baik? Biarlah keinginannya dinyatakan kepada Tuhan dengan kemauan untuk tetap bisa menjadi umat Tuhan yang hidup untuk kemuliaan-Nya.

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” Roma 14: 8-9

Siapa yang sudah dipilih pasti mau menjadi serupa dengan Kristus

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8: 29

Ayat di atas adalah ayat yang cukup sering kita dengar, tetapi mungkin kurang difahami orang. Mengapa? Sebagian orang Kristen percaya bahwa sesudah dipilih Tuhan untuk menerima keselamatan, dosa mereka sudah sepenuhnya dihapuskan oleh darah Kristus. Jika keselamatan adalah dari Tuhan dan ditentukan Tuhan, seluruh hidup kita pun ditetapkan oleh-Nya. Karena itu, bagaimana pun kita berusaha untuk hidup baik, itu tidak akan tercapai jika itu tidak datang dari Tuhan. Lebih dari itu, ada orang Kristen yang percaya bahwa jika ada orang yang berusaha untuk hidup baik dan menekankan hidup baik, orang itu pasti belum percaya bahwa keselamatan hanya melalui karunia Tuhan dan bukan karena berbuat baik. Benarkah begitu?

Dan jika Anda berkata, “Sejujurnya saya tidak perlu menjadi seperti Kristus,” mungkin itu karena Anda sedang berpikir tentang keserupaan ini sedemikian rupa sehingga terlalu sempit. Yesus adalah Tuhan, dan sudah tentu kita tidak bisa menjadi seperti Dia. Tetapi, apakah Anda ingin ditolak oleh Hakim alam semesta dan dihukum dengan hukuman kekal karena Anda menolak Anak-Nya, atau apakah Anda ingin bangkit dari antara orang mati, dikasihi dan diterima seperti Kristus? Lebih dari itu: Apakah Anda mau menjadi serupa dengan Kristus semasa hidup di dunia, ketika Anda masih hidup? Semua itu bukanlah sebuah pertanyaan kecil.

Satu hal yang nampak jelas dari ayat di atas. Jika Anda percaya bahwa Tuhan sudah memilih Anda, Ia jugalah yang akan membuat Anda serupa dengan Kristus. Manusia tidak dapat menjadi serupa dengan Kristus dengan kemampuannya sendiri. Mengapa begitu? Roma 3:23 menyebut: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Walaupun demikian, Tuhan bisa mengubah diri dan hidup seseorang untuk menjadi baik.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Dari ayat-ayat ini kita bisa melihat bahwa:

  • Allah memilih umat-Nya sesuai dengan rencana-Nya
  • Umat Tuhan adalah orang yang mengasihi Dia
  • Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang dilakukan umat-Nya
  • Allah mendatangkan kebaikan kepada umat-Nya

Sampai pikiran Anda dijadikan serupa dengan pikiran Kristus, ajaran dari ayat-ayat di atas ini mungkin akan menghasilkan konflik, bukan penghiburan. Anda mungkin merasa ragu bagaimana cara hidup dan prinsip hidup Anda bisa serupa dengan Kristus. Anda mungkin sudah berusaha, tetapi hasinya sampai sekarang belum menjadi kenyataan. Teks ini dimaksudkan untuk menghibur Anda dan menguatkan Anda serta meyakinkan Anda bahwa hal terbaik dan terburuk dalam hidup Anda akan bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi Anda, karena Anda mengasihi Kristus dan dipilih serta ditentukan dari semula untuk kemuliaan. Tetapi ayat-ayat itu hanya akan memiliki dampak jika Allah memberi Anda kebijaksanaan dan bimbingan Roh Kristus.

Ayat-ayat di atas bukan untuk menghukum mereka yang sedang mengalami pergumulan hidup. Tetapi sebaliknya, ayaet-ayat itu mendorong Anda bahwa untuk bisa berperilaku serupa dengan Yesus, haruslah ada peperangan seumur hidup dengan perilaku yang salah, dan untuk bisa menjadi beremosi serupa dengan Yesus perlu adanya peperangan seumur hidup dengan perasaan-perasaan yang salah, demikian juga agar menjadi berpikir serupa dengan Yesus merupakan peperangan seumur hidup dengan pemikiran yang salah. Menjadi serupa dengan Kristus tidak terjadi sekaligus, baik perilaku, ataupun emosi ataupun pikiran. Tetapi itu terjadi jika Anda mau mendengarkan dan melakukan pesan dari Roh Kudus yang sudah Anda miliki.

Hari ini, marilah kita berdoa untuk satu sama lain, agar dalam segala sesuatu Kristus dapat ditinggikan karena kita menjadi serupa dengan Dia, dan agar kita dapat menikmati jaminan besar yang karena pemilihan kita: yaitu segala sesuatu turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Dan jika Anda bertanya-tanya: apakah saya ada di antara orang yang dipilih, yang ditentukan dari semula, dan yang dipanggil? Inilah cara Anda untuk dapat mengetahuinya: Apakah Anda melihat hidup dan karakter Yesus sebagai apa yang Anda diingini lebih dari apa pun yang lain, dan percaya bahwa kasih-Nya cukup untuk menyelamatkan Anda dari dosa Anda, serta memuaskan kehausan hati Anda untuk selamanya? Itu adalah tanda dari anak Allah yang sejati. Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya bisa menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Terimalah uluran tangan-Nya!