Kegagalan membuat kita bisa melihat kasih Tuhan

Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” 1 Raja-raja 19: 4

Pernahkah anda merasa bahwa apa yang sudah anda kerjakan adalah sia-sia, tidak berguna atau berakhir dengan kegagalan? Anda bukan orang satu-satunya! Semua orang, termasuk mereka yang terlihat berhasil dalam hidupnya, pasti pernah mengalami perasaan yang tidak menentu dan bahkan sangat pahit, ketika mengalami apa yang terlihat sebagai kegagalan. Perasaan menyesal, malu, marah, dan sedih mungkin kemudian muncul silih berganti.

Di sepanjang sejarah, kita bisa membaca kisah orang-orang ternama yang mengalami goncangan hidup karena apa yang mereka pandang sebagai “failure“, yaitu kegagalan. Dan pada saat pandemi ini, kita juga mendengar bagaimana banyak dokter dan jururawat yang merasa gagal karena mereka tidak dapat menyelamatkan pasien mereka dari kematian. Kita juga tahu bahwa mereka yang sangat tertekan dengan perasaan gagal itu bisa merasa putus asa dan bahkan kehilangan pikiran sehatnya.

Alkisah pada saat itu seorang nabi Tuhan yang bernama Elia baru saja menang bertanding. Ia mengajak nabi-nabi dewa Baal untuk bertanding dalam hal kurban bakaran. Elia membuat sebuah mezbah dengan kurban bakarannya, demikian pula nabi-nabi dewa Baal membuat tempat persembahan lengkap dengan kurban bakaran. Elia menantang mereka untuk memanggil Baal guna mendatangkan api keatas kurban mereka, supaya orang bisa melihat apakah dewa Baal memang ada. Mereka gagal total. Baal tidak menjawab! Sebaliknya, ketika Elia mempersembahkan kurban bakarannya, api dari Tuhan datang menyambar dan membakar kurban itu. Elia menang. Dan Elia tentunya yakin bahwa Tuhan ada di pihaknya. Kemenangan Elia bahkan diakhiri dengan tewasnya ratusan nabi-nabi Baal.

Kemenangan biasanya terasa manis. Dan mungkin Elia juga merasakannya saat itu. Aku menang! Begitu mungkin ia berpikir. Tetapi kegembiraan yang ada berubah menjadi kekecewaan. Bani Israel tidak bertobat sekalipun Baal sudah terbukti dewa palsu. Raja Ahab dan permaisurinya yang jahat, Izebel, tetap berjaya. Elia mungkin merasakan kekosongan dalam kemenangannya. Ia mulai meragukan apakah semua usahanya ada gunanya. Ia merasa bahwa semua jerih-payahnya untuk membuat bani Israel bertobat adalah sia-sia. Dalam kekecewaannya pikiran sehat Elia mulai hilang. Ia lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Allah yang mempunyai rancangan, yang akan digenapi pada waktu yang Ia tentukan.

Ketika Izebel mengancam untuk menghabisi nyawa Elia sebagai pembalasan, Elia yang berada dalam keadaan lemah rohaninya, merasa sangat takut. Ia melarikan diri. Elia yang sebelumnya berani bertanding melawan nabi-nabi dewa Baal karena yakin akan penyertaan Tuhan, sekarang menjadi Elia yang merasa lemah dalam kesendiriannya. Elia mungkin saja mengalami depresi berat. Bukan karena Tuhan sudah meninggalkannya, tetapi karena ia merasa bahwa Tuhan sudah meninggalkannya. Elia menjadi orang yang kehilangan akal, mungkin seperti banyak orang ketika mengalami kegagalan dalam hidup mereka.

Elia melarikan diri dari Izebel. Takutkah ia akan kematian? Mungkin saja tidak. Ia merasa takut dan lari dari Izebel karena pikirannya yang goncang dalam kekecewaannya. Tetapi Elia justru mengharapkan kematian. Ia merasa gagal total seperti nenek moyangnya dalam usaha mereka untuk memimpin umat Israel kearah yang benar. Ia ingin mati karena ia merasa bertanggung jawab atas semua yang sudah terjadi. Ia lupa bahwa Tuhanlah yang memegang kendali.

Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” 1 Raja-Raja 19: 4

Ketika Tuhan menjumpai Elia ditempat persembunyiannya, Tuhan mengerti mengapa Elia lari dari kenyataan. Apa yang Elia butuhkan adalah keyakinan bahwa Tuhan tetap mengasihinya dalam setiap keadaan. Tuhan tahu bahwa Elia tidak akan sanggup menghadapi tantangan kehidupan seorang diri. Tuhan kemudian memberikan Elia penghiburan dan kekuatan dengan mengirim malaikatNya (1 Raja-Raja 19: 5 – 8).

Dalam ayat pembukaan di atas, kita bisa melihat bahwa sebagai manusia, Elia tidak berbeda dengan kita. Dalam kesulitan, Elia merasa bahwa ia adalah satu-satunya hamba Tuhan yang tertinggal dan tidak ada orang lain yang bisa membantunya. Rasa belas kasihan kepada diri sendiri muncul, dan hidupnya terasa malang karena ia merasa dibenci oleh semua orang. Elia merasa tidak lagi berguna dan ingin mati. Ia lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang pengasih, yang tetap menghargai umatNya dalam setiap keadaan.

Tuhan yang mengasihi Elia, kemudian mengutusnya untuk mengurapi tiga pemimpin bani Israel. Tuhan juga memberitahu Elia bahwa ada tujuh ribu orang yang masih taat kepadaNya. Tuhan jelas menyatakan bahwa Elia yang merasa kalah itu adalah orang yang justru berguna untuk Dia. Elia yang merasa sendirian dan merasa tidak dimengerti orang lain, ternyata masih mempunyai banyak teman seiman. Elia tidak sendirian, terutama karena Tuhan sudah menyatakan kasihNya.

Hari ini, jika kita merasa sedih, tertekan, atau juga depresi, mungkin kita merasa bahwa hidup kita tidak berguna lagi. Seperti Elia, mungkin kita merasa semua usaha baik kita sia-sia. Seperti Elia, kita mungkin lupa bahwa Tuhan yang menyertai kita pada saat yang lalu, adalah Tuhan yang sekarang beserta kita. Tuhan jugalah yang bisa dan mau memakai sisa hidup untuk kemuliaanNya di masa depan!

Keadaan yang buruk tidak dapat melenyapkan apa yang baik

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22 – 23

Bulan ini adalah bulan terakhir sebelum musim dingin datang di Australia. Musim dingin dimulai pada bulan Juni, dan berlangsung sampai akhir Agustus. Di depan kantor saya terlihat daun-daun yang mulai berguguran dan apa yang masih ada di pohon terlihat sangat indah berwarna-warni. Walaupun musim dingin mempunyai keindahan tersendiri, ada hal-hal yang membuat saya merasa masygul dalam memasuki musim dingin pada tahun ini. Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari setahun, dan situasi keamanan dunia yang saat ini mulai digoncangkan oleh berbagai pergolakan dan pertentangan, membuat saya kurang yakin apakah keadaan akan bisa cepat membaik.

Dari apa yang digambarkan dalam Alkitab dalam kitab Kejadian, semua yang ada di taman Eden sebelum manusia jatuh ke dalam dosa terlihat nyaman dan indah dan itu membuat Tuhan menjadi senang (Kejadian 1: 31). Apa yang ada pada waktu itu adalah hubungan yang harmonis antara Tuhan sang Pencipta dan segala makhluk ciptaanNya. Dalam segala apa yang diciptakanNya, kebesaran Tuhan terlihat nyata dan dipermuliakan. Tetapi dengan terjadinya dosa segala keindahan itu menjadi rusak karena tipu daya iblis. Namun, keadaan yang buruk itu tidak dapat mengubah apa yang benar-benar baik, yaitu Tuhan dan kasihNya.

Sebagai Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang baik, Tuhan tentu mau agar segala ciptaanNya bisa membawa kemuliaan bagiNya. Kejatuhan manusia membuat itu tidak mungkin terjadi jika Ia tidak merencanakan sesuatu yang bisa mengalahkan iblis dan mengembalikan keadaan manusia kepada keadaan semula. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, iblis sudah dikalahkan dan manusia bisa memperoleh status sebagai anak Tuhan. Sejak itu, mereka yang percaya kepada Yesus bisa kembali mempunyai hubungan yang baik dengan Allah Bapa. Mereka yang menerima Kristus sebagai Juruselamat bisa menjadi anak-anak Allah.

Hubungan yang baik antara Sang Pencipta dan ciptaanNya memungkinkan segala apa yang baik kembali muncul dalam diri ciptaanNya. Mereka yang sudah menjadi ciptaan baru di dalam Tuhan dengan demikian akan berubah hari demi hari, makin lama makin menjadi seperti Dia. Dengan demikian, mereka yang hidup dalam Tuhan akan mengeluarkan apa yang baik: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Tidaklah mudah bagi manusia untuk tetap bisa mengeluarkan apa yang baik, yang disukai Tuhan, jika keadaan di sekelilingnya menjadi buruk. Dalam keadaan yang kacau, tegang dan menguatirkan, manusia cenderung untuk menampilkan apa yang tidak disenangi Tuhan: kebencian, kebohongan, permusuhan, kesombongan dan sebagainya.

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Amsal 6: 16 – 19

Hari ini, pertanyaan kepada kita adalah apakah kita sudah benar-benar bertobat dari hidup lama kita dan menerima Kristus sebagai Juruselamat kita. Jika memang begitu, tentunya hidup kita sudah terlihat seperti pohon yang menghasilkan buah yang baik. Masalahnya, sebagai manusia kita tetap merupakan makhluk yang lemah. Jika suasana hidup terasa menekan, apa yang cenderung muncul adalah apa yang buruk.

Memang keadaan bisa membuat sebuah pohon terlihat kurang subur. Tetapi, pohon yang baik tidak mungkin membuahkan apa yang tidak baik sekalipun keadaan di sekitarnya menjadi buruk. Musim gugur boleh membuat pohon anggur kehilangan daunnya, tetapi ketika musim semi datang, daun yang hijau akan tumbuh lagi dan buah anggur yang lebih baik akan muncul. Jika kita tetap bersandar kepada Tuhan, Ia yang adalah sumber kehidupan akan bekerja dalam hidup kita melalui Roh Kudus dan memberi kemampuan kepada kita untuk membuahkan segala hal yang baik sekalipun keadaan di sekeliling kita sudah membuat banyak orang kehilangan arah dan harapan.

“Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.” Matius 7: 18

Menikmati tantangan hidup

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12: 9

Semalam saya hanya sempat tidur selama 4 jam saja, karena harus menyelesaikan tugas mengoreksi laporan murid-murid saya. Akibatnya, hari ini saya merasa lelah sekali. Karena itu, siang tadi saya menyempatkan diri untuk tidur siang, sekalipun itu bukan kebiasaan saya. Siapakah yang tidak pernah merasa lelah? Bagaimanapun kuatnya seseorang, tentu dalam keadaan tertentu ia akan merasa letih.Untunglah, jika kelelahan itu hanya dari segi jasmani, dengan beristirahat atau tidur kita mungkin akan dapat memulihkan kekuatan dan kesegaran kita kembali. Tetapi kelelahan rohani mungkin tidaklah mudah diatasi.

Kelelahan memang bisa dirasakan secara jasmani ataupun rohani. Sekalipun dalam hal jasmani orang mungkin masih kuat, rohaninya mungkin saja sudah mengalami tekanan yang berat. Kelelahan rohani yang tidak teratasi, bisa saja kemudian memengaruhi keadaan jasmani. Pada pihak yang lain, kelelahan atau persoalan jasmani yang terus-terusan bisa saja melemahkan kerohanian seseorang. Kita tahu bahwa keadaan rohani seseorang sering kali memengaruhi hidupnya, sedemikian rupa sehingga hal-hal yang menyedihkan mungkin saja terjadi jika ia tidak dapat lagi menahannya.

Adalah suatu kenyataan bahwa jika seseorang mengalami suatu tantangan, reaksi tubuh bergantung pada apa yang terjadi. Jika apa yang terjadi adalah suatu hal yang memang sudah diduga sebelumnya, dan sesuatu yang memang dicari, orang mungkin tidak terlalu mudah untuk merasa lelah atau menyerah. Mereka yang senang bertanding olahraga misalnya, tentunya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kelelahan dan bahkan rasa sakit, sehingga mereka tetap saja bisa menikmati olahraga itu.

Hidup orang Kristen tidaklah jauh berbeda dengan hidup seorang pelari yang berlari menuju ke garis finis. Paulus pernah mengatakan bahwa ia berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah dari Tuhan (Filipi 3: 14). Paulus melupakan apa yang sudah terjadi dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di masa depan, yaitu kemuliaan surgawi dari Tuhan. Ini bukannya mudah, karena Paulus juga mengalami berbagai penderitaan dan ancaman dalam hidupnya. Ia bahkan menulis bahwa ada utusan iblis yang mencoba untuk menghancurkan dia. Tiga kali Paulus meminta agar Tuhan membebaskannya dari penderitaan itu, tetapi Tuhan tidak menolong dia.

Dalam ayat diatas, Tuhan menjawab Paulus. Ia berkata bahwa Paulus sudah cukup menerima kasih karunia Tuhan dalam hidupnya. Tuhan juga berkata bahwa apa yang dialami Paulus sebenarnya juga berkat Tuhan yang memungkinkan Paulus untuk bisa menyadari bahwa ia harus bersandar kepada Tuhan saja. Karena itu, dalam penderitaannya, Paulus bisa bersyukur. Ia tahu bahwa kalau ia bisa tetap bertahan, itu karena Tuhan yang menguatkan dia. Seperti seorang pelari, Paulus bisa menerima segala penderitaannya karena ia tahu bahwa Tuhan ingin agar ia menang.

Mungkin saat ini kita mengalami berbagai hal yang membuat jasmani kita lelah. Atau mungkin juga ada persoalan berat yang membuat kita tertekan secara rohani. Itu mungkin berkaitan dengan suasana pandemi saat ini. Kepada siapa kita bisa berseru meminta pertolongan? Jika tidak ada lagi orang yang bisa menolong kita, tentunya hanya Tuhan yang bisa kita harapkan. Seperti Paulus, kita bisa dan harus berdoa memohon pertolongan dari Tuhan. Tidak cukup sekali atau dua kali, kita boleh saja terus berdoa. Tetapi kita harus sadar bahwa dalam penantian kita, Tuhan sebenarnya sudah mendengarkan doa kita dan bahkan tahu apa yang kita paling perlukan. Apa yang paling penting bagi umat Tuhan yang berada dalam kesulitan ialah kesadaran bahwa Tuhan yang mahakasih tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun. Itulah sebabnya Paulus kuat menghadapi segala persoalan hidupnya. Memang dalam kelemahan kita bisa merasakan adanya kuasa Tuhan. Dialah yang membimbing kita sampai kita menyelesaikan semua tugas kita di dunia.

Precious Lord, take my hand
Lead me on, let me stand
I am tired, I’m weak, I am worn
Through the storm, through the night
Lead me on to the light
Take my hand, precious Lord
Lead me home

Mengapa kuatir?

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ayub 1: 21

Memebaca berita minggu ini, hati saya makin gundah. Bagaimana tidak? Pandemi bukannya berkurang, sekarang malahan tambah merebak. Berita adanya sengketa antar negara juga mulai bermunculan. Belum lagi berita tentang adanya orang-orang yang tidak menghiraukan seruan pemerintah untuk membatasi aktivitas dan menjaga diri agar tidak tertular Covid-19. Seolah-olah manusia saling berlomba untuk mendapatkah “hak” mereka untuk memuaskan diri sendiri. Semua itu membuat saya memikirkan masa depan saya. Apa yang akan terjadi pada saya dan keluarga saya? Saya sadar bahwa perasaan ini juga dirasakan oleh banyak orang di dunia.

Ayat Alkitab diatas adalah ayat yang cukup dikenal umat Kristen, tetapi tidak terlalu sering dibahas karena ada latar belakang yang sedih. Diceritakan bahwa Ayub yang setia kepada Tuhan baru saja mengalami berbagai musibah, kehilangan ternak peliharaannya dan juga anak-anaknya. Bukannya ia menyesali nasibnya, Ayub justru mengakui kebesaran Tuhan, yang berhak untuk memberi dan mengambil apa saja yang dikehendakiNya. Ayub mengakui kedaulatan Tuhan. Ayub percaya bahwa apa yang dikehendaki Tuhan adalah baik.

Berbeda dengan sikap Ayub, pada zaman ini manusia makin terpukau pada materialisme. Karena itu manusia hanya melihat kebesaran Tuhan dari satu sisi saja, yaitu dari segi pemberianNya, berkat materi dan kenyamanan yang diberikanNya. Manusia, seperti anak kecil, memang lebih mudah untuk mengerti bahwa Tuhan itu kasih melalui berbagai hal yang menyenangkan yang diberikan Tuhan dalam hidupnya.

Bahwa kegagalan dan kesusahan bisa menjadi bagian paket berkat Tuhan, adalah sulit dimengerti oleh banyak orang. Mereka yang berpendapat bahwa Tuhan itu maha kasih dan karena itu tidak mungkin membiarkan anak-anakNya menderita, adalah kurang menyadari bahwa Tuhan menghendaki bahwa manusia dekat kepadaNya, bergantung kepadaNya dalam segala situasi. Tuhan adalah sumber kehidupan manusia dan melalui rancanganNya, Tuhan bermaksud untuk membuat manusia sadar bahwa Ia adalah Tuhan maha kuasa yang menghajar umat yang dikasihiNya agar mereka makin kuat dan beriman didalam Dia.

Pagi ini, jika hujan deras dan topan menghantam kehidupan kita, janganlah kita berkecil hati. Seperti Ayub yang setia, kita harus memahami bahwa paket berkat dari Tuhan tidak selalu membawa sesuatu yang kita harap-harapkan, tetapi bisa juga berupa hal-hal yang tidak pernah kita harapkan. Satu hal yang harus kita yakini adalah bahwa Tuhan selalu mempunyai rancangan yang baik untuk anak-anakNya yaitu kedamaian hidup kita dan kesatuan dalam kasih antara kita dengan Dia dalam keadaan apapun di hari-hari mendatang.

“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5-6

Dibenarkan karena iman

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Roma 3: 28

Agama adalah salah satu status yang penting di Indonesia, seperti juga status pekerjaan dan perkawinan. Mungkin saja sebagian besar penduduk Indonesia berpendapat bahwa mereka yang hidupnya berhasil adalah orang yang beragama, yang mempunyai pekerjaan tetap, dan yang rumah tangganya berjalan baik. Walaupun demikian, tentunya orang setuju bahwa tidak semua orang yang beragama itu adalah orang-orang yang saleh, atau mereka yang mempunyai pekerjaan itu pasti mendapat penghasilan yang cukup, atau mereka yang berstatus kawin itu pasti mempunyai rumah tangga yang bahagia. Dengan demikian, status yang bisa dilihat atau dibaca orang, belum tentu bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

Bagaimana dengan status beragama Kristen? Apakah ada artinya? Dalam Alkitab berbahasa Indonesia, kata “agama” muncul lebih dari 30 kali dalam Perjanjian Baru. Tetapi, dalam terjemahan-terjemahan berbahasa Inggris, kata “religion” hanya muncul kurang dari 10 kali. Memang dalam penerjemahan Alkitab dari bahasa-bahasa aslinya (Yahudi dan Yunani) beberapa kata yang sebenarnya berbeda artinya dengan arti kata “agama” yang sekarang, diterjemahkan sebagai “agama”. Kata yang dipilih penerjemah itu memang bisa menyebabkan perbedaan dalam pengertian. Oleh karena itu, dalam mempelajari firman Tuhan kita harus memakai beberapa terjemahan Alkitab dan menggunakan buku bimbingan Alkitab yang baik, yang bisa mengartikan setiap ayat dalam konteks yang benar.

Hal terjemahan Alkitab memang bisa membuat sebagian orang untuk mengabaikan bagian-bagian tertentu dari Alkitab. Lebih dari itu, ada beberapa golongan yang memakai “Alkitab” yang berbeda dengan apa yang kita pakai. Sebagian dari mereka mengajarkan bahwa Perjanjian Baru hanya dapat dimengerti melalui sudut pandang Ibrani, dan ajaran Rasul Paulus tidak dipahami secara jelas oleh para pendeta Kristen di zaman ini. Tidak sedikit dari mereka yang mengakui adanya Perjanjian Baru dalam bahasa Ibrani dan, dalam banyak kasus, merendahkan akurasi naskah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Ini secara halus menyerang integritas naskah Alkitab yang sekarang kita pakai. Jika naskah Yunani tidak dapat diandalkan dan telah dikorupsi, seperti tuduhan mereka, Gereja tidak dapat mempunyai tolok ukur kebenaran.

Di antara golongan-golongan ini ada banyak yang memercayai bahwa kematian Kristus di atas salib tidak mengakhiri Perjanjian Musa, melainkan memperbaruinya, menambah pesan dasarnya, dan menulisnya di atas hati para pengikut Kristus yang sejati. Mereka menuduh bahwa Gereja telah beralih dari akar Yahudinya dan tidak sadar bahwa Yesus dan para rasulNya merupakan orang Yahudi yang taat kepada hukum Taurat. Karena itu, pada umumnya mereka mendorong supaya setiap orang percaya menjalani hidup yang taat kepada ajaran Taurat. Ini berarti bahwa peraturan dalam Perjanjian Musa harus menjadi fokus utama dari hidup orang percaya pada zaman ini, sama seperti umat Yahudi di zaman Perjanjian Lama di Israel.

Mereka mengajar bahwa orang Kristen non-Yahudi telah dicangkok ke dalam Israel, dan oleh karena itu setiap orang yang lahir baru dalam Yesus Sang Mesias harus turut berpartisipasi dalam pemeliharaan cara hidup dan budaya orang Yahudi. Mereka mengajar bahwa pemeliharaan ini tidak dilakukan secara terpaksa, melainkan atas dasar kasih dan ketaatan. Pada pihak yang lain, mereka juga mengajar bahwa hidup yang berkenan pada Allah adalah hidup yang menaati hukum Taurat. Manusia tidak dapat diselamatkan tanpa menaati hukum Taurat.

Apa yang tertulis dalam Alkitab mengenai keselamatan kita? Ayat diatas menulis bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Berdasarkan ayat ini, dan untuk zaman ini, kita bisa menafsirkan bahwa orang Kristen dibenarkan karena iman kepada Yesus Kristus, dan bukan karena ia melakukan kewajiban-kewajiban agama. Mereka yang rajin melakukan kewajiban agama saja adalah seperti mereka yang digolongkan sebagai orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka yang merasa sudah diselamatkan karena kesalehannya adalah orang yang beragama, tetapi belum tentu beriman kepada Tuhan Yesus.

Apa yang membawa kepada keselamatan adalah iman kepada Yesus, yaitu Tuhan yang sudah turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Jika manusia ingin berbuat baik untuk bisa masuk ke surga melalui agama, itu adalah usaha yang sia-sia karena sebagai manusia kita tidak dapat memenuhi syarat kesucian Allah. Agama penuh dengan peraturan yang dibuat manusia, tetapi iman datang dari Allah. Lebih dari itu, jika ketaatan pada hukum Taurat merupakan bagian syarat keselamatan, itu berarti bahwa pengurbanan Kristus di kayu salib adalah kurang sempurna.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Pagi ini, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita sudah benar-benar beriman kepada Kristus. Apakah kita sudah memercayakan masa depan kita, baik di bumi maupun di surga, kepadaNya. Ataukah kita masih berusaha berbuat berbagai kebaikan untuk memastikan keselamatan kita? Jika kita memang beriman, kita tidak perlu menguatirkan masa depan kita. Sebaliknya, dengan rasa syukur kita bisa hidup dalam kedamaian, dan dengan itu kita mau memuliakan Tuhan yang mahakasih dengan membaktikan kasih kita kepadaNya dan sesama kita setiap hari.

“Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” Roma 10: 4

Janji Kristus sebelum naik ke surga

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Yohanes 14: 2

Di tengah suasana pandemi ini, warga Australia mengalami krisis perumahan. Banyak warga Australia yang saat ini tidak memiliki rumah dan tidak juga mampu menyewa tempat tinggal. Salah satunya adalah Majik, yang berusia 52 tahun. Biasanya, Majik selalu menyelinap ke sebuah taman kota sebelum taman tersebut dikunci pada malam hari, sehingga dia bisa tidur dengan aman. Namun, menjelang datangnya musim dingin, tidaklah mudah bagi dia untuk mencari tempat yang aman dan yang tidak terlalu dingin. Hidup bagi para tuna wisma di Australia sama saja dengan mereka yang hidup di negara lain sekalipun di Australia ada banyak badan sosial.

Jika untuk memiliki rumah di dunia sudah begitu sulit, bagaimana pula untuk memiliki tempat tinggal di surga? Bagi mereka yang tidak percaya adanya Tuhan dan surga, hal sedemikian tentunya tidak perlu dipikirkan. Untuk apa memikirkan apa yang belum tentu ada, begitu banyak orang berpikir. Hidup di dunia hanya sekali saja, dan mereka tentunya ingin agar apa yang bisa dinikmati sekarang ini, bisa dicapai secepatnya.  Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang bekerja keras untuk mengumpulkan harta, guna menjamin kenyamanan hidup di dunia.

Bagi mereka yang mengenal Kristus, hidup yang ada sesudah hidup di dunia tentunya terkadang muncul dalam pikiran. Bagaimana rasanya hidup di surga? Benarkah bahwa segala sesuatu sangat indah dan nyaman ketika kita berada di surga? Memang, karena tekanan hidup yang besar di dunia ini, sebagian orang Kristen merasa gelisah karena apa yang diharapkan ada di surga tentunya belum bisa dilihat mata pada saat ini. Selain itu, dengan adanya pergumulan manusia selama di dunia melawan segala godaan, mungkin ada keraguan apakah Tuhan hanya memilih orang-orang tertentu saja untuk bisa memasuki tempat kediaman di surga. Mungkinkah Tuhan membatasi jumlah orang yang akan ke surga seperti yang diajarkan oleh beberapa sekte Kristen? Mungkinkah surga hanya untuk mereka yang sering beramal seperti yang diajarkan agama lain?

Pada hari ini kita memperingati kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Dalam ayat di atas, Yesus menyatakan perlunya Ia untuk kembali ke surga. Ia mengatakan bahwa ada banyak tempat di surga, dan Ia pergi untuk mempersiapkan tempat kediaman bagi semua orang yang percaya kepadaNya.

Siapapun yang percaya kepada Yesus adalah percaya kepada Allah yang mengutus Yesus dan yang memiliki surga. Tidak perlu diragukan bahwa karena Yesus mengatakan bahwa ada banyak tempat kediaman di surga, surga tidak akan menjadi penuh jika semua orang menjadi pengikut Kristus. Karena itu jugalah Kristus memerintahkan semua muridNya untuk mengabarkan injil ke seluruh penjuru dunia, supaya siapapun yang percaya kepadanya akan bisa bersama Dia di surga.

“Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” Yohanes  14: 3

Hari ini, sebagai pengikut Kristus kita mendapat tantangan untuk bisa mempercayakan hidup kita, baik yang sekarang maupun yang akan datang, kepadaNya. Jika hidup kita saat ini terasa berat, Yesus yang sudah bangkit dan naik ke surga adalah Tuhan yang membimbing kita untuk bisa dengan iman, kuat menghadapi segala tantangan kehidupan sampai Tuhan menjemput kita dan membawa kita ke tempat di mana Ia sekarang berada.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Kita tidak perlu menjadi orang Yahudi

“Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” Roma 2: 29

Sewaktu masih kecil, saya sering berpikir bagaimana bangsa Israel bisa menjadi umat pilihanNya. Tuhan memilih bangsa Israel dari mana Yesus Kristus akan dilahirkan sebagai Juruselamat umat manusia (Yohanes 3:16). Betapa beruntungnya bangsa Israel, bangsa pilihan Allah itu, begitu pikir saya. Tuhan pertama kali menjanjikan kedatangan Mesias selepas Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3). Tuhan kemudian meneguhkan bahwa Mesias akan datang melalui garis keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub (Kejadian 12:1-3).

Yesus Kristus adalah alasan utama mengapa Tuhan memilih Israel untuk menjadi umat pilihan-Nya. Tuhan tidak perlu mempunyai umat pilihan, namun Dia memutuskan untuk melakukannya dengan cara itu. Pada pihak yang lain, alasan Tuhan memilih bangsa Israel bukan semata-mata untuk membawa Mesias. Tuhan juga bermaksud supaya mereka menjadi orang yang membimbing orang lain kepada Tuhan. Tetapi, bangsa Israel telah gagal dalam melaksanakan sebagian besar tugas ini. Malahan, sebagian bangsa Israel tidak akan memeroleh keselamatan karena mereka tidak memercayai Yesus sebagai Mesias (Matius 21: 43). Karena itu, saya sekarang tidak lagi menganggap bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang beruntung.

Sejak kebangkitan Yesus, jumlah umat Kristen bertumbuh cepat di banyak negara. Tidak mengherankan bahwa ada orang-orang yang bukan Yahudi yang merasa bahwa untuk menjadi pengikut Yesus, mereka harus hidup seperti orang Yahudi. Pada saat itu Paulus melihat bahwa orang Kristen di Roma mulai menonjolkan hal-hal yang berbau Yahudi, seperti hal mengikuti hukum Taurat dan kebiasaan Yahudi. Ia menegur jemaat Roma dengan menjelaskan bahwa semua yang nampak dari luar itu tidaklah penting. Apa yang penting adalah yang ada dalam hidup mereka sehari-hari.

Hukum Taurat yang berat itu, memang dalam pelaksanaannya sering membuat orang mencari jalan untuk bisa melanggarnya secara “halus”, yaitu melalui apa yang diperbolehkan menurut pikiran dan keputusan para pemimpin agama. Mereka terpaksa untuk memakai siasat “pilih-pilih” atau “pick and choose” untuk mencari cara gampangnya. Itulah sebabnya mengapa Paulus, yang sebenarnya adalah orang Farisi yang mengenal seluk-beluk hukum Taurat dan kebiasaan orang Yahudi, mengatakan bahwa mereka yang bersikeras untuk menerapkan hukum Taurat tetapi melanggarnya adalah lebih buruk dari mereka yang hidup dalam kebenaran walaupun tidak mengenal hukum Taurat.

“Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri.” Roma 2: 14

Bagaimana orang percaya bisa berjalan dalam kebenaran tanpa memiliki hukum Taurat? Bagaimana mereka bisa menjadi orang Kristen sejati tanpa melalui hukum Taurat dan adat istiadat orang Yahudi? Yesus pernah berkata bahwa Ia tidak meniadakan hukum Taurat, tetapi menggenapinya. Ia menjelaskan bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi dapat diringkas menjadi hukum kasih (Matius 22: 37 – 40).

Pagi ini, jika kita meneliti hidup kita, biarlah Firman Tuhan bisa menyentuh hati kita. Bahwa bukannya kebiasaan dan ritual agama yang membuat kita menjadi orang Kristen sejati, karena apa yang kita pikir dan lakukan dalam hidup sehari-harilah yang lebih penting. Seperti bungkus tidak menentukan isi, begitu juga isi hidup kitalah yang lebih penting di hadapan Tuhan. Yesus sudah membayar hidup kita dengan harga termahal, dan pengurbananNya bukanlah agar kita mempunyai penampilan yang baik menurut hukum Taurat, tetapi agar kita memiliki hidup baru di dalam Dia.

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3:28:

Perhatian kita harus sepenuhnya kepada Kristus

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Dalam bepergian ketempat asing adalah kurang menyenangkan jika kita tidak dapat mencapai tujuan kita. Mungkin jalan yang kita pilih pada mulanya tidak memberi kesan bahwa jalan itu adalah jalan yang keliru, tetapi kemudian kita bisa sadar bahwa kita telah tersesat. Kesadaran itu mungkin timbul karena apa yang kita tuju tidak kunjung terlihat, atau karena suasana di sekitar kita yang terasa asing, atau mungkin juga karena ada orang yang menyadarkan kita.

Kesadaran saja, bahwa kita harus berganti haluan, tidak bisa menjamin bahwa kita akan menemukan jurusan yang benar. Tanpa mengganti jurusan, kita mungkin tidak bisa mencapai tujuan kita. Juga, tanpa memakai suatu pedoman arah, tidaklah mudah untuk memastikan ke mana kita harus pergi. Dan sekalipun kita mempunyai pedoman arah, pengertian kita mungkin keliru. Belum lagi kalau ada hal-hal yang mengalihkan perhatian kita dari arah yang benar. Memang jika kita benar-benar berada di tempat yang asing, kita harus selalu berhati-hati dan mau mempelajari medan.

Seperti itu jugalah hidup kita sebagai orang Kristen yang menuju ke tempat yang asing untuk kita yaitu surga. Dalam perjalanan hidup, banyaklah hal-hal yang bisa mengalihkan kita dari arah yang benar. Banyak orang Kristen yang sepertinya mempelajari firman Tuhan, tetapi sebenarnya lebih memusatkan perhatian pada sejarah, humanisme, kebudayaan dan bahasa yang dipakai umat Tuhan yang ditampilkan dalam Alkitab. Padahal, pedoman arah kita, Alkitab, menulis bahwa Yesus berkata:

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Jika kita tahu bahwa ada satu jalan menuju ke arah keselamatan, ada sebuah pertanyaan yang sering menggelitik kita: apakah kita bisa tersesat dalam perjalanan hidup ini? Ayat yang ditulis rasul Paulus dalam kitab 2 Korintus 11: 3 di atas menunjukkan bahwa kita bisa saja tersesat dalam iman kita. Paulus jelas tidak ragu untuk mengingatkan jika kita tidak mempunyai perhatian yang dipusatkan kepada Kristus dan firmanNya saja, kita mungkin sudah jatuh kedalam tipuan iblis. Umat Kristen yang merasa percaya kepada Yesus, bisa saja tersesat jika pusat perhatian mereka berubah menjadi perhatian pada ajaran manusia yang selalu berubah-ubah di sepanjang masa.

Hari ini kita diingatkan bahwa menjalani hidup kekristenan itu tidak mudah. Jika kita tidak selalu awas akan arah iman kita dan selalu memakai Alkitab dengan benar, kita akan bisa tersesat. Ada begitu banyak orang yang menunjukkan berbagai arah dan jurusan menuju ke arah surga, dan ada begitu banyak orang yang percaya perlunya untuk mempunyai hal-hal ekstra di luar Yesus; semua itu bisa-bisa adalah tipu daya iblis yang berusaha memperdayai kita.

Kita harus sadar bahwa seperti dalam melakukan perjalanan wisata, kita harus selalu mau mempelajari medan dan memakai pedoman arah; dalam perjalanan hidup kita harus selalu memusatkan perhatian kepada Yesus dan anugerah keselamatanNya sesuai dengan firman Tuhan.

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 15-16

Menyimak indahnya kepalsuan

“Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.” Kisah Para Rasul 20: 30

Usaha membuat sesuatu lebih baik dari aslinya bukan saja dalam hal jual-beli barang, tetapi juga dalam hal keagamaan. Sejarah membuktikan adanya banyak orang yang jatuh ke dalam jebakan pemimpin-pemimpin agama atau sekte, yang mengajarkan hal-hal yang tidak benar, yang dibungkus sedemikian rupa sehingga terlihat indah dan berguna. Orang yang terbujuk sering kali terjerumus sangat dalam dan sulit untuk disadarkan.

Sebenarnya sejak Yesus meninggalkan dunia ini sudah ada pemimpin-pemimpin kerohanian yang berusaha menarik orang-orang dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Paulus dalam ayat di atas mengingatkan pengikut Kristus bahwa orang-orang semacam itu harus diwaspadai karena mereka bukannya muncul sebagai orang yang tidak mengenal Kristus, tetapi justru terlihat sebagai pengikut Kristus.

Pada zaman sekarang, penyesat-penyesat seperti itu sangat sering muncul dalam kalangan Kristen, dan bahkan dalam gereja-gereja besar. Mereka yang mengajarkan hal-hal yang tidak berdasarkan Alkitab, yang menekankan pengertian mereka sendiri, yang menonjolkan pengalaman pribadi, semuanya untuk menarik umat supaya mengikut mereka, dan bukannya untuk mengikut Kristus. Mereka sering kali terlihat penuh dengan kebijaksanaan yang seolah datang dari Tuhan, tetapi semua itu adalah kepalsuan.

Mengenai Alkitab, beberapa golongan yang mengaku Kristen ternyata tidak mengakuinya sebagai satu-satunya firman Tuhan. Ada yang mempersoalkan penggunaan kata-kata tertentu dalam Alkitab, dan ada juga yang menambahkan ayat-ayat dari kitab-kitab kuno lain untuk “melengkapi” Alkitab. Salah satu kitab yang pernah dianggap sebagai bagian dari Alkitab adalah kitab Yasar yang berarti “kitab orang jujur”.

Ada sebuah buku yang disebut “The Book of Jasher” hari ini, meskipun itu bukan buku yang sama seperti yang disebutkan dalam Perjanjian Lama. Ini adalah pemalsuan abad kedelapan belas yang dituduh sebagai terjemahan dari Buku Jasher yang “hilang” oleh Alcuin, seorang sarjana Inggris abad kedelapan. Ada juga buku yang lebih baru berjudul “The Book of Jashar” oleh penulis fiksi ilmiah dan fantasi Benjamin Rosenbaum. Buku ini adalah karya fiksi yang lengkap.

Kitab Orang Jujur ( “Kitab al Mustakim”; “Buku Yasar”; bahasa Inggris: Book of Jasher atau Book of Jashar); juga dinamakan Book of the Upright (“Kitab Orang yang Benar”) atau Book of the Just Man adalah sebuah kitab non-kanonik yang disebutkan dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama di Alkitab Kristen). Terjemahan “Kitab Orang Jujur” merupakan terjemahan tradisional bahasa Yunani dan Latin, sedangkan bentuk transliterasi “Jasher” ditemukan dalam Alkitab King James version tahun 1611.

Buku lain dengan nama yang sama, disebut oleh banyak orang “Pseudo-Jasher,” sementara ditulis dalam bahasa Ibrani, juga bukan “Book of Jasher” yang disebutkan dalam Alkitab. Ini adalah buku legenda Yahudi dari penciptaan hingga penaklukan Kanaan di bawah Yosua, tetapi para ahli berpendapat bahwa itu tidak ada sebelum 1625 M. Selain itu, ada beberapa karya teologis lain oleh para rabi dan sarjana Yahudi yang disebut “Sefer ha Yashar, ”Tetapi tidak satupun dari ini yang mengklaim sebagai Kitab Jasher yang asli.

Pada akhirnya, kita harus menyimpulkan bahwa sebagai umat Tuhan kita harus berhati-hati untuk tidak terperosok ke dalam apa yang kurang benar. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita mengagumi seorang yang nampak hebat dalam mengajarkan firman Tuhan, tetapi sering membicarakan apa yang baik dan buruk menurut pengertian dan pengalaman mereka sendiri, kita harus mau menguji apa yang disampaikan mereka bersama dengan saudara-saudara seiman yang lain. Kita harus sadar bahwa dengan kekuatan sendiri tidaklah mudah bagi kita untuk membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar. Karena itu kita harus mau untuk saling mendoakan, menguatkan dan mengingatkan agar kita bisa menjauhi guru-guru palsu yang ada di sekitar kita.

“Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.” 2 Korintus 11: 13

Hambar menjadi manis

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 8 – 9

Hidup yang manis, yang penuh madu, tentunya adalah idaman semua orang. Dari kecil sampai tua, semua orang mendambakan kebahagiaan. Bagi sebagian orang yang pernah merasakan saat-saat di mana mereka mengalami kegembiraan, tentunya tidak mudah melupakan hal itu. Walaupun demikian, karena banyaknya pergumulan hidup, banyak orang yang merasa bahwa hidup ini berat.

Memang ada benarnya bahwa manis-pahitnya hidup ini tergantung pada diri kita sendiri. Mereka yang berkelimpahan, belum tentu bisa merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang berkekurangan belum tentu tidak mempunyai kebahagiaan dalam hidup. Rasul Paulus sendiri pernah menulis bahwa ia berusaha untuk mencukupkan diri dalam setiap keadaan (Filipi 4: 11).

Orang Kristen seharusnya bisa merasa damai dan tenteram dalam setiap keadaan. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Bagaimana orang bisa menjadikan apa yang pahit untuk menjadi manis? Hanya keajaiban yang bisa membuat itu terjadi! Kita tahu bahwa hanya keajaiban yang bisa membuat air tawar menjadi anggur yang terbaik, dan itu karena Yesus. Karena itu, kita harus bergantung kepada Dia untuk mendapatkan kemampuan untuk membuat hidup yang hambar dan bahkan pahit, untuk menjadi hidup yang terasa manis.

Yesus tidak hanya membuat keajaiban selama Ia hidup di dunia. Ia yang sekarang di surga, tetap bisa menolong kita seperti Ia sudah menolong tuan rumah perjamuan kawin di Kana dengan mengubah air menjadi anggur. Dengan Roh Kudus yang telah dikaruniakanNya, banyak orang Kristen yang dianiaya tetap bisa bertahan dalam hidup mereka dengan keteguhan iman. Dengan bimbingan Roh juga, kita yang mengalami kepahitan hidup dapat melihat kepada kasih kemurahan Tuhan yang sudah memberikan keselamatan kekal kepada kita yang sebenarnya tidak layak menerimanya.

Roh Kudus memang ada dalam hidup kita dan membimbing kita untuk memilih cara hidup yang benar. Tetapi Roh Kudus tidak membuat kita menjadi robot-robot yang hanya bisa menurut perintah Tuhan. Setiap orang sudah diberi Tuhan kebijaksanaan dan kesadaran akan apa yang baik dan yang buruk. Karena itu, apa yang kita pilih bisa menentukan apakah kita akan bisa merasakan manisnya hidup ini. Kekusutan pikiran tentu membuat orang murung, dan orang yang membiarkan hidup mereka untuk diisi kemurungan memang sulit untuk dapat merasakan kasih Tuhan.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus dan Timotius kepada jemaat di Filipi untuk menguatkan hidup mereka. Apa yang diajarkan? Jemaat di Filipi dianjurkan untuk memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Ini bukan cara berpikir positif, positive thinking, tetapi adalah cara hidup positif, positive action, yang bisa membawa damai sejahtera. Sebagai orang Kristen kita tidak berlarut-larut tinggal dalam pikiran yang tidak baik, tetapi selalu memusatkan pikiran dan harapan kita kepada Tuhan. Maukah anda hidup sesuai dengan firman Tuhan?