Tuhanlah yang akan bertindak

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Matius 13: 30

Adalah suatu hal yang biasa dalam kehidupan politik di Amerika, bahwa ketika seorang presiden akan turun dari jabatannya, ia mempunyai kesempatan untuk mengampuni orang-orang yang sudah melanggar hukum. Ini adalah kesempatan terakhir bagi seorang presiden yang akan lengser untuk menolong orang-orang yang dianggap pernah berjasa kepadanya. Sekalipun orang-orang itu dianggap publik sebagai orang yang bersalah, ada kemungkinan bahwa karena “kebaikan” presiden, mereka tidak jadi dihukum. Sebaliknya, orang-orang yang tidak disenangi presiden bisa-bisa mengalami pemecatan.

Hidup manusia di dunia ini seringkali terlihat tidak adil. Mereka yang jahat dan curang kerapkali hidupnya berhasil dan nyaman, sedangkan mereka yang baik hati dan jujur justru hidupnya berat dan bahkan bisa menjadi bulan-bulanan orang lain. Dengan demikian, kita mungkin menghadapi semua itu dengan rasa kurang senang. Kalau Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat dan bahkan membiarkan mereka untuk berjaya, tidak patutkah kita merasa iri dan bahkan sakit hati kepada yang tidak mengenal Tuhan, dan juga marah kepada Tuhan yang tidak melakukan tindakan apa-apa kepada mereka? Tuhan agaknya tidak adil!

Dalam perumpamaan tentang lalang dan gandum, Yesus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh banyak orang: mengapa Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat untuk menikmati hidup mereka ditengah mereka yang taat kepada Tuhan (Matius 13: 24 – 30). Perumpamaan ini cukup sering dibahas atau dikhotbahkan, tetapi sering secara kurang tepat dipakai untuk membahas kehidupan gerejani. Perumpamaan ini sebenarnya berlaku untuk keadaan di dunia dan mengandung pengajaran yang mempunyai aplikasi praktis di semua zaman, terutama di zaman sekarang.

Dunia ini sudah sangat berkembang dan era globalisasi membuat negara yang satu membutuhkan negara yang lain. Begitu juga, di sebuah negara ada banyak berbagai partai dan golongan yang saling bergantung dan berinteraksi. Dalam kehidupan seseorang, kerjasama dan komunikasi dengan orang lain adalah perlu sekalipun mereka tidak sepaham. Semua itu tentunya jika masih dalam batas-batas yang bisa diterima masyarakat.

Masalahnya, jika dalam hidup kita melihat adanya sebuah negara, sebuah kelompok manusia atau pribadi yang seolah-olah berbuat semaunya sendiri dan menyebabkan berbagai masalah di muka bumi, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan membiarkan hal seperti itu. Kita mengerti bahwa Tuhan mahasabar, tetapi kita tidak mengerti mengapa Ia yang mahakuasa tidak bertindak tegas terhadap mereka yang jelas-jelas melakukan hal yang bertentangan dengan firmanNya. Mengapa Tuhan tidak membuat semua yang tidak benar itu lenyap dari muka bumi? Kita mungkin lupa bahwa sebenarnya kita pun bukan orang baik. Kita adalah orang-orang jahat dan berdosa, yang sudah menerima pengampunan melalui darah Kristus.

Hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahabijaksana. Dia adalah Tuhan yang membuat roda kehidupan ini berputar. Tuhanlah yang memungkinkan semua orang di dunia untuk hidup bersama dan berinteraksi. Ia jugalah yang menerbitkan sinar matahari dan  menurunkan hujan baik untuk orang yang jahat maupun umatNya (Matius 5: 45).  Segala bentuk kehidupan ada di dunia, sedemikian rupa hingga kuasa Tuhan bisa terlihat bekerja dan memegang kemudi. Dalam segala keadaan kehidupan manusia tetap berjalan, dan mereka yang mau bertobat dan percaya kepada Tuhan bisa menerima pengampunanNya. Mereka yang sudah percaya kepada Tuhan akan sadar bahwa Ia akan bertindak untuk memisahkan orang yang jahat dari mereka yang taat kepadaNya. Itu akan terjadi pada saat yang ditentukan Tuhan dan bukannya sekarang.

Hindarilah kekacauan

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Tanggal 20 Januari yang akan datang adalah hari yang bersejarah bagi rakyat Amerika karena presiden dan wakilnya akan dilantik di ibukota negara itu, Washington D.C.. Saya sendiri pernah merasakan suasana serupa pada tahun 2001 ketika saya mengunjungi kota itu pada saat menjelang pelantikan Presiden George W. Bush. Kali ini, jutaan orang di dunia yang akan memantau peristiwa itu melalui TV dan media lainnya karena Amerika adalah negara besar yang dianggap sebagai pelopor azas demokrasi. Tambahan pula, suasana pandemi dan politik di Amerika saat ini cukup membuat prihatin banyak orang. Orang tentunya mengharapkan agar acara itu bisa dilaksanakan dengan baik dan aman sekalipun ada perbedaan pendapat di antara rakyatnya.

Tujuan hidup rakyat suatu negara memang bisa menjadi dasar filsafat kesatuan sebuah negara. Walaupun demikian, tujuan hidup tiap orang selalu ada bedanya dengan tujuan hidup orang lain, dan apa yang diingini seseorang hari ini mungkin berubah di masa mendatang. Kekacauan kemudian bisa timbul karena adanya orang-orang yang bertentangan pendapat. Ini mungkin salah satu hal yang kadangkala bisa menyebabkan orang kurang bisa menghargai adanya peraturan dan sistem yang ada, sekalipun semua itu dibuat dengan maksud baik.

Adanya pemerintah memang dimaksudkan untuk membawa kebahagiaan bagi semua warganya. Pemerintah merupakan suatu bentuk organisasi yang bekerja dan menjalankan tugas untuk mengelola sistem dan menetapkan kebijakan dalam mencapai tujuan negara. Karena itu, seluruh rakyat sudah sewajarnya mendukung kegiatan-kegiatan baik yang dilakukan pemerintah.

Bagi umat Kristen, pemerintah yang sah, yang sudah terpilih melalui cara yang benar adalah ada dengan seizin Tuhan. Dengan demikian, ayat diatas merupakan hal yang sangat penting untuk membina rasa hormat kepada pemimpin bangsa dan negara. Malahan, jika semua warga mau menaati firman Tuhan diatas, kesatuan sebuah negara akan lebih mudah dipelihara untuk mencapai kebahagiaan bersama.

Kebahagiaan, ketenteraman, kemakmuran dan kesatuan tidak dapat dicapai hanya dengan konsep dan pikiran, tetapi harus dengan penerapan dan perbuatan. Orang Kristen dipanggil untuk menjadi contoh masyarakat dalam hal pengabdian kepada negara mereka masing-masing. Sekalipun mereka harus menghormati Allah diatas segala-galanya, mereka juga harus tunduk kepada pemerintah yang sudah ditetapkan Allah. Ini bukan hanya dalam menaati segala hukum dan peraturan, tetapi juga dalam hal menyumbangkan apa yang perlu demi kemajuan negara.

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 7

Pagi ini, kita diingatkan bahwa jika menginginkan kemakmuran, ketertiban dan kedamaian dalam negara kita, kita sebagai orang Kristen terpanggil untuk menjadi teladan dengan menghormati pemerintah yang ada dengan menunaikan kewajiban kita, mencintai sesama warga dan menaati segala hukum dan peraturan negara yang ada. Terutama pada saat pandemi ini, kita harus taat kepada peraturan/anjuran pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Seperti Allah yang sudah membawa perdamaian antara diriNya dan umat manusia melalui Yesus Kristus, kita harus membawa damai sejahtera dimanapun kita berada karena kita sudah ditebus dengan darah Kristus.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Iblis dan pengaruhnya

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” 1 Korintus 15: 33

Saat ini Jakarta sudah mulai menjalankan PSBB ketat lagi karena melonjaknya kasus Covid-19. Tentunya, mereka yang mengikuti anjuran pemerintah di berbagai media tahu bahwa setiap orang harus lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatannya. Karena itu saya heran bahwa kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta pada hari minggu ini masih ramai dikunjungi warga yang berolahraga, termasuk mereka yang ramai-ramai bersepeda dan berjalan kaki tanpa menggunakan masker. Mungkin mereka ingin menikmati segarnya udara pagi bersama dengan teman, dan mungkin juga mereka bosan tinggal di rumah; tetapi jelas bahwa ada banyak orang yang tidak dapat berpikir sehat karena terpengaruh oleh lingkungan pergaulannya.

Ayat diatas secara gamblang menyebutkan bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Orang yang sopan bisa menjadi tidak sopan, yang biasanya berhati-hati bisa menjadi ceroboh, yang jujur bisa berubah menjadi pembohong, yang lemah lembut bisa menjadi bengis dan kasar, dan yang hidupnya baik menjadi berantakan akibat pengaruh lingkungan dan pergaulan. Karena itu, sebagai umat Tuhan kita harus berhati-hati dalam menjalani hidup ini agar apa yang baik tidak berubah menjadi buruk.

Bagaimana kita bisa berhati-hati agar tidak terjerumus kedalam apa yang keliru? Berhati-hati lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Banyak orang yang sudah berusaha untuk berwaspada, tetapi tetap juga jatuh kedalam dosa. Apa yang nampaknya baik, dengan berjalannya waktu bisa saja berkembang menjadi sesuatu yang buruk. Mereka yang dulunya kita anggap sebagai teman, bisa saja menjadi orang yang kemudian menjerumuskan kita kedalam kebiasaan yang jelek. Ini sering menyangkut hal-hal seperti korupsi, narkoba, atau seks; tetapi juga bisa bertalian dengan tingkah laku dan gaya hidup.

Orang bisa berhati-hati kalau ia bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Orang tidak akan berhati-hati jika tidak menyadari adanya bahaya. Begitulah banyak orang Kristen yang tidak sadar jika iblis datang menggoda. Memang banyak orang yang membayangkan bahwa iblis adalah suatu makhluk gaib yang mempunyai rupa yang menakutkan. Tetapi, jika memang begitu, tentunya orang tidak mudah tergoda. Sebaliknya, iblis sering muncul sebagai sesuatu yang nampaknya memikat, indah, dan berguna. Dengan demikian, tidaklah mudah bagi manusia untuk membedakan apa yang baik dari yang jahat. Mereka yang melakukan hal yang bodoh, tidak sadar akan kebodohan mereka. Karena itu, sebagai orang yang sudah menerima keselamatan, kita harus mau hidup dalam bimbingan Roh Kudus setiap waktu sehingga kita tahu apa yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Kita harus juga mau mempelajari firman Tuhan secara teratur supaya kita makin mengerti apa yang baik dalam pandangan Tuhan.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita harus mau tetap merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kita harus sadar bahwa mereka yang sombong dan merasa kuat adalah orang-orang yang mengabaikan bimbinganNya, dan yang kemudian lebih suka untuk mendengarkan suara manusia di sekelilingnya. Mereka jugalah yang kemudian menjadi orang-orang yang tersesat, yang harus membayar kekeliruannya dengan harga yang mahal.

Rancangan Tuhanlah yang pasti terjadi

” TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? Tangan-Nya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?” Yesaya 14: 27

Ditemukannya beberapa vaksin untuk Covid-19, membawa harapan baru untuk rakyat dari negara mana pun. Jika biasanya untuk memgembangkan sebuah vaksin dibutuhkan waktu setidaknya 5 tahun, kali ini dalam satu tahun saja sudah ada beberapa kandidat vaksin yang bisa dipakai decara darurat. Bagi kita orang Kristen, ini tentunya karena adanya pertolongan Tuhan.

Dalam bahasa Ibrani, kata B’ezrat Hashem sering dipakai untuk menunjukkan ketergantungan manusia kepada Tuhan – kata itu sendiri berarti “dengan pertolongan Tuhan”. Memang, orang yang percaya adanya Tuhan yang mahakuasa tentunya sadar bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi dengan seizinNya. Lebih dari itu, untuk mencapai apa yang diingininya, manusia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk membuka jalan.

Ayat di atas menunjukkan bahwa apa pun yang kita perbuat tidak akan mengubah rancangan atau kehendak Tuhan. Karena itu banyak orang Kristen yang menghadapi tantangan hidup seringkali berdoa ” KehendakMu jadilah”. Dalam kenyataannya, manusia lebih mudah untuk mengatakan daripada untuk melakukan apa yang semestinya.

Manusia seringkali merencanakan segala sesuatu dengan tanpa memikirkan kehendak Tuhan. Manusia sering melakukan sesuatu dan ingin agar Tuhan kemudian memberikan persetujuanNya. Manusia kebanyakan berusaha untuk mencapai apa yang diingininya dan hanya merasa perlu berdoa jika menemui halangan.

Ayat di atas menyatakan bahwa kesombongan manusia secara tidak sadar sering ingin untuk melawan atau menggagalkan rencana Tuhan. Memang, menurut banyak orang, mereka yang tidak berani mengambil keputusan atau tidak punya impian masa depan, tidak akan mencapai apa yang baik. Dengan demikian, banyak orang yang bekerja keras dengan harapan bahwa itu akan sesuai dengan rencana Tuhan. Jika itu tidak sesuai dengan rencanaNya, semoga Ia mau mengubah rencanaNya setelah kita banyak berdoa!

Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang kurang berhasil hidupnya karena mereka kurang mau bekerja keras atau kurang mau untuk membuat rencana masa depan. Sebaliknya, banyak juga orang yang sangat yakin akan kemampuannya dan berani melangkahkan kaki untuk mengejar cita-citanya, hanya untuk menemui berbagai kesulitan dan kegagalan.

Ayat di atas memperingatkan mereka yang yakin dan bahkan sombong akan hari depan yang cerah, bahwa hidup mereka bukan di tangan mereka sendiri. Apa yang akan terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena Tuhanlah yang memegang kunci kehidupan. Mereka seharusnya menyadari bahwa hanya dengan mencari kehendak dan pertolongan Tuhan mereka akan bisa melaksanakan apa yang mereka rencanakan.

Sebagai umat Kristen, kita tidak dapat mengharapkan bahwa hidup di dunia bisa menjadi mudah dan selalu lancar. Kita tidak juga bisa berharap bahwa tanpa kita berbuat apa-apa Tuhan akan mendatangkan mukjizat yang kita ingini. Dalam situasi pandemi saat ini, kita tidak tahu apakah dengan adanya vaksin, dalam satu tahun kita akan bisa mengatasi semua dampaknya. Perjuangan hidup kita masih panjang, tetapi kita bisa mengharapkan datangnya pertolongan Tuhan agar kita bisa melangkah dengan iman dan sanggup menghadapi berbagai jurang dan bukit untuk menuju ke arah yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita.

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Dosa membawa kekacauan

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Amsal 6: 16 – 19

Suatu hari iblis datang dengan menyamar sebagai ular dan berbicara kepada Hawa, meyakinkannya untuk memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Hawa memberi tahu ular itu bahwa Tuhan berkata bahwa mereka tidak boleh memakannya dan mereka akan mati jika memakannya. Tetapi iblis menggoda Hawa untuk makan dengan mengatakan bahwa dia akan menjadi seperti Tuhan jika dia melakukannya. Iblis sudah membohongi Hawa. Hawa memercayai kebohongan itu dan menggigit buah itu, tentunya karena ingin menjadi seperti Tuhan yang tahu tentang yang baik dan yang jahat. Dia kemudian mengambil beberapa buah untuk dimakan bersama. Adam dan Hawa yang kemudian sadar bahwa mereka telah berdosa, segera merasa malu dan mencoba bersembunyi dari Tuhan. Bermula dari kebohongan atau dusta yang dibuat iblis, Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Karena itu Yesus berkata bahwa iblis adalah bapa segala dusta (Yohanes 8: 44).

Dalam bahasa asli Alkitab, dosa sebenarnya berarti “meleset dari sasaran”. Jika Tuhan sudah menetapkan apa yang boleh dilakukan oleh manusia, perbuatan manusia yang melanggar perintah itu adalah seperti anak panah yang tidak mencapai sasarannya. Ada berapa dosa yang kita perbuat sampai hari ini? Tidak ada seorang pun yang tahu berapa jumlah dan macam dosa yang diperbuatnya dalam sehari, apalagi selama hidupnya. Walaupun demikian, tidak semua orang mau memikirkan hal itu. Memang banyak orang yang melakukan “dosa-dosa kecil ” seperti “bohong putih” dengan anggapan bahwa semua itu tidak merugikan orang lain. Asal saja tidak ada “dosa besar” atau “kebohongan besar” yang dilakukan, banyak orang merasa bahwa hidupnya cukup baik. Dalam berdoa, mungkin mereka hanya mengingat hal-hal yang buruk menurut ukuran manusia dan masyarakat setempat.

Dalam ayat pembukaan diatas, penulis Amsal menyatakan bahwa ada enam atau tujuh hal yang dibenci Tuhan, diantaranya kesombongan dan kebohongan yang sering muncul dalam hidup kita sehari-hari. Penulis Amsal di atas agaknya mencatat dosa-dosa yang memengaruhi kesejahteraan hidup manusia didunia. Memang jika dalam masyarakat atau negara ada kekacauan, pertentangan dan permusuhan, dosa-dosa yang paling mencolok mata adalah kesombongan, kebohongan, kekejaman, ketidakadilan, rencana-rencana jahat, kejahatan, dan adanya saksi dusta. Berbagai kekacauan dan bencana yang terjadi di dunia saat ini bisa mengingatkan bahwa semua hal di atas seringkali adalah asal mula penderitaan manusia.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan bahwa semua dosa, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat mata, baik yang “kecil” atau “jamak” yang sering muncul dan sudah diterima masyarakat setempat, ataupun sesuatu yang terlihat benar-benar jahat dan muncul di media, semuanya berasal dari hati manusia yang cacat, seperti yang pernah dikatakan Yesus:

“Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” Markus 7: 20 – 22

Karena itu, marilah kita sadar bahwa setiap hari kita perlu memohon ampun untuk apapun yang tidak sesuai dengan firman Tuhan dalam hidup kita. Hanya dengan itu kita bisa mendekati Tuhan yang maha suci.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Siap hidup karena siap mati

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 21-24

Pandemi yang sudah berlangsung hampir satu tahun di dunia ini sudah membuat membuat resah banyak orang. Tidak hanya kekuatiran atas kemungkinan tertular virus corona, orang juga merasa gundah karena keadaan di sekitarnya. Adanya pembatasan kegiatan sosial membuat orang tidak bebas melakukan aktivitas sehari-hari, dan keadaan ekonomi menjadi buruk karena banyaknya perusahaan yang gulung tikar. Dalam suasana yang tidak menyenangkan ini, banyak orang memikirkan apa yang akan terjadi di tahun 2021 ini. Sebagian orang sampai pada kesimpulan bahwa mereka harus bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk: kematian.

Barangkali, Paulus dalam menulis surat kepada umat Kristen di Filipi merasakan hal yang serupa bagi dirinya. Usia yang mulai melanjut dan tahanan rumah yang dialaminya tentunya membuat dia memikirkan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan dan yakin atas keselamatannya, Paulus tentu tidak sangsi kemana ia akan pergi pada akhir hidupnya. Ia akan ke surga. Dengan demikian, keadaan terburuk yang banyak dipikirkan orang lain yang mengalami pergumulan hidup, justru merupakan keadaan yang terbaik bagi Paulus. Kematian akan membawa dia ke perjumpaan dengan Kristus.

Paulus menulis bahwa mati adalah keuntungan. Mengapa demikian? Sebagai orang beriman, Paulus percaya bahwa karena imannya, ia sudah menerima keselamatan yang datang melalui darah Kristus. Tetapi, selama hidup di dunia, ia hanya bisa membayangkan keindahan surga. Hanya melalui kematian tubuh jasmaninya, ia akan menerima tubuh rohani yang abadi di surga. Membayangkan saat dimana ia bisa berjumpa muka dengan muka dengan Kristus, Paulus berkata bahwa ia akan merasa beruntung jika itu terjadi sekarang juga karena itu jauh lebih baik daripada hidup di dunia yang gelap ini.

Keyakinan bahwa hidup di surga itu lebih baik dari hidup di dunia barangkali dipunyai oleh setiap orang percaya. Memang orang percaya bahwa dalam Kristus ada kebangkitan yang memungkinkan mereka untuk hidup bersama Kristus untuk selamanya. Walaupun demikian, mungkin tidak ada orang Kristen yang memilih untuk mati secepatnya. Kebanyakan orang Kristen mungkin mengakui bahwa saat untuk meninggalkan dunia ini ditentukan oleh Tuhan; tetapi, mereka akan memilih hidup panjang di dunia jika itu mungkin. Karena itu selama di dunia mereka berusaha untuk “memperpanjang” hidup mereka dengan segala cara.

Adakah orang Kristen yang percaya bahwa karena hidup itu di tangan Tuhan, orang tidak perlu berusaha untuk hidup sepanjang mungkin di dunia? Tentu ada! Memang Alkitab menyatakan hidup manusia itu seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yakobus 4: 13-14). Kita tidak dapat memperpanjang hidup kita sedetik pun. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus mengharapkan perjumpaan dengan Kristus untuk datang secepat mungkin. Mengapa demikian? Paulus menjelaskan bahwa sekalipun hidup di surga itu jauh lebih baik, ada perlunya untuk hidup di dunia untuk bekerja dan berbuah, yaitu untuk kemuliaan Tuhan. Untuk bisa memuliakan Tuhan selama kurun waktu yang ditetapkan Tuhan, kita harus berusaha untuk memelihara kesehatan kita sebaik mungkin sehingga kita bisa bekerja semaksimal mungkin untuk Dia.

Mereka yang siap untuk mati adalah orang-orang beriman yang percaya bahwa iman mereka tidak sia-sia. Mereka akan menyambut kematian dengan tanpa rasa takut karena mereka sudah siap untuk menjumpai Tuhan dan ingin hidup dalam kemuliaanNya di surga. Tetapi, orang-orang yang benar imannya adalah orang yang juga percaya bahwa sekalipun umur mereka sudah ditetapkan Tuhan, adalah baik jika mereka mempersembahkan tubuh mereka sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1). Jadi, selama hidup di dunia, kita juga harus berusaha sebisa mungkin untuk menggunakan hidup kita untuk sesama kita.

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah: “Apakah kita siap untuk mati?”. Apakah kita benar-benar siap untuk menjumpai Tuhan di surga? Jika kita memang siap untuk mati, itu berarti kita juga siap untuk hidup di dunia ini sebagaimana Tuhan menghendakinya. Kita harus tetap percaya, bahwa sekalipun keadaan saat ini kurang baik, kita harus tetap bersemangat untuk hidup guna melaksanakan perintahNya (Yakobus 4: 15).

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4:17

Sabar dalam menghadapi kesulitan

“Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran” 2 Korinttus 6: 4

Adanya pandemi di dunia ini agaknya sudah membuat banyak orang resah karena hilangnya kebebasan untuk hidup normal. Apa yang disebut “new normal” atau “normal baru” dimana orang harus memakai masker ke mana-mana, menjaga jarak, dan bahkan mengurung diri di rumah sudah membuat orang yang paling sabar pun menjadi tidak sabar. Kapan semua ini bisa berakhir?

Bagaimana kita harus menghadapi situasi ini sebagai orang Kristen? Kesabaran di Alkitab PB pada umumnya dikaitkan dengan ketekunan. Kesabaran bukannya pasif tetapi aktif. Bukan membiarkan segala sesuatu terjadi di sekeliling kita, seperti membiarkan penderitaan, kesesakan dan kesukaran tanpa bereaksi. Kesabaran adalah ketekunan dalam menghadapi persoalan dan dalam usaha mencari penyelesaian.

Sebagai orang Kristen kita menghadapi berbagai tantangan dan masalah kehidupan. Mungkin dalam pekerjaan, sekolah, keluarga, gereja dan negara. Orang Kristen dipanggil untuk bersabar dalam arti tetap tekun dalam berdoa dan tetap hidup dan bisa bekerja sesuai dengan keadaan yang ada. Sekalipun penyelesaian masalah belum ada, tetapi ketekunan membuat kita tetap percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan rencana Tuhan. Ini sebenarnya bukan cara hidup “normal baru”, tetapi seharusnya adalah cara hdup yang normal bagi setiap orang Kristen.

Kesabaran tidak bisa berkembang dalam waktu yang singkat. Kesabaran tumbuh sebagai proses pertumbuhan kedewasaan umat Tuhan. Kesabaran hanya bisa tumbuh dengan kekuatan dari Tuhan.

“…dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaanNya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar… ” Kolose 1: 11

Selanjutnya, kita juga harus sadar bahwa ujian hidup akan memberi ketekunan:

“sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 3

Walaupun kita tahu bahwa kesabaran/ ketekunan akan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, tidak mudah buat kita untuk bisa mempraktikkannya dalam hidup kita. Adakah hal-hal yang bisa membantu kita?

Yang pertama adalah hidup bersyukur. Orang yang kurang bisa bersyukur akan merasakan kehidupan yang lebih berat dari yang sebenarnya. Orang yang demikian sering bertanya “mengapa ini harus terjadi padaku?” Sebaliknya, rasa syukur akan membuat apa yang berat menjadi ringan.

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4: 4

Yang kedua, kita harus sadar bahwa segala sesuatu ada sebabnya. Kadang kita mengalami kesulitan supaya kita bisa menjadi saksi atas perlindunganNya dan bisa makin bertumbuh dalam hal-hal yang baik. Kita harus percaya bahwa segala sesuatu akan membawa kebaikan kepada orang yang percaya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Yang ketiga, kita harus sadar bahwa sebagai manusia, kesabaran dan ketekunan kita ada batasnya. Ada saatnya dimana kita mungkin hanya bisa bertekun dalam penyerahan kepada Tuhan.

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Mazmur 46:10

Semoga kita bisa memahami bahwa kesabaran dan ketekunan dapat menyuburkan pertumbuhan iman kita sehingga kita bisa mengerti bahwa Allah kita adalah Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana; yang membuat segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencana dan waktuNya.

Mengapa ini harus terjadi?

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” Ayub 3: 25

Kemarin malam, saya mendapat kabar tentang adanya kecelakaan pesawat terbang di Indonesia. Kesedihan muncul dalam hati saya, mengingat bahwa ada banyak orang yang kehilangan sanak saudara. Baru saja kita memasuki tahun baru, dan semua orang tentunya mengharapkan bahwa tahun 2021 ini akan membawa keberuntungan. Mengapa semua ini harus terjadi?

Ayat di atas menunjukkan bagaimana Ayub mengeluh bahwa apa yang ia takutkan justru terjadi dalam hidupnya. Ini pun kekuatiran yang sering muncul dalam hidup kita saat ini. Memang hal yang jelek bisa terjadi di dunia yang rusak karena kejatuhan manusia kedalam dosa. Malapetaka bisa juga terjadi karena pekerjaan iblis, seperti apa yang terjadi pada Ayub. Selain itu, seperti apa yang terjadi pada Ayub, terkadang Tuhan memperbolehkan penderitaan datang kepada umatNya. Tetapi kita harus sadar bahwa Ayub yang mengalami berbagai malapetaka, tetap dilindungi Tuhan sampai akhir.

Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat malapetaka untuk umatNya. Tuhan justru ingin menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, kita bisa menyadari betapa besar kasihNya. Karena itu, tidak boleh ada keraguan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik bagi kita, sekalipun hidup saat ini terasa berat.

Kesedihan atas apa yang menimpa kehidupan kita adalah normal tetapi tidak boleh mematikan hati. Kita terkadang boleh merasa sedih tetapi tidak terus hidup dalam kesedihan. Mengapa begitu? Karena kita tidak mau menghancurkan hidup kita sendiri. Kita tidak ingin untuk hidup dalam penderitaan karena merasa malang, karena merasa bahwa kita adalah orang yang termalang. Itu adalah sikap mengasihani diri sendiri atau self pity.

Jika ada perbedaan antara Ayub dan umat Tuhan lainnya, itu adalah dalam hal bagaimana Ayub tetap percaya dan setia kepada Tuhan sekalipun hidupnya dilanda malapetaka yang datang satu persatu. Ayub merasa sedih dan tertekan, tetapi tidak mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan. Ayub tidak memberontak dan menghujat Tuhan, karena ia tetap yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahakasih. Ayub tahu bahwa Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang berhak untuk mengambil kembali (Ayub 1: 21). Ayub menyadari bahwa dengan memikirkan kemalangan hidupnya, penderitaannya tidak akan berhenti, tetapi justru membuatnya lelah dan gelisah. Penderitaan memang bisa bertambah besar karena pikiran negatif manusia.

“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 26

Pagi ini, jika kita mengeluh bahwa apa yang buruk sering terjadi dalam hidup kita tanpa sebab yang jelas, kita mungkin lupa bahwa kita sudah menerima hal yang sangat baik padahal kita tidak pantas untuk memperolehnya. Kita manusia yang berdosa, tanpa sebab yang jelas, sudah memperoleh kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Siapakah kita, sehingga Tuhan memilih kita untuk memperoleh pengenalan akan jalan keselamatan? Pikiran negatif memang bisa menghancurkan, tetapi pikiran yang positif akan membawa semangat baru.

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal 17: 22

Mengapa ada pandemi?

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya.” Roma 11: 33

Suatu masalah yang sering diperbincangkan di kalangan umat Kristen adalah mengenai hal-hal yang jahat yang terjadi di muka bumi. Mengapa ada hal-hal yang buruk dan jahat? Mengapa ada penderitaan dan ketakutan? Mengapa ada pandemi? Dan mengapa makin banyak orang yang menjadi korban?

Memang dunia ini sudah jatuh dalam dosa dan tidaklah mengherankan bahwa ada saja kejadian-kejadian yang mengerikan di segala penjuru dunia. Tetapi, apakah Tuhan yang membuat semua itu? Jika Tuhan itu mahakuasa tetapi tidak menghentikan hal-hal yang jahat dan berbagai malapetaka, bukankan Ia juga bersalah? Mengapa Tuhan membiarkan banyak anak-anakNya menderita dan bahkan mati dalam kesengsaraan di dunia ini? Jika Tuhan itu mahakasih, bukankah Ia harus melindungi anak-anakNya setiap saat dan dalam semua keadaan? 

Kita mungkin tahu bahwa Tuhan membimbing umat Israel keluar dari tanah Mesir dan selama itu umat Israel menerima berbagai hukuman Tuhan dan bangsa-bangsa lain disekitarnya juga mengalami kejadian serupa. Jika itu untuk menggenapi rencana Tuhan untuk penyelamatan umat manusia, apakah Tuhan tetap melakukan hal-hal yang serupa di jaman ini untuk menggenapi semua rancanganNya?

Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sulit dijawab dan tidak seorangpun yang tahu jawaban apa yang 100% benar. Roma 11: 33 diatas seharusnya dapat menyadarkan bahwa kita tidak mungkin bisa mengerti jalan pikiran dan rencana Tuhan sepenuhnya. Walaupun demikian, dengan mempelajari Firman, kita setidaknya akan mengerti beberapa pokok yang penting.

Memang di dunia yang penuh dosa ini, hidup manusia adalah berat dan penuh perjuangan. Alam semesta dengan semak duri dan berbagai bencana alam adalah bagian kehidupan manusia. Selain itu, karena manusia adalah mahluk yang lemah, ia juga sering membuat kesalahan dalam mengolah dan memelihara apa yang ada di bumi. Juga membuat kekeliruan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Karena itu tidak mengherankan kalau ada berbagai bencana, perang dan kecelakaan di dunia.

Umat percaya boleh bersandar kepada Tuhan untuk memberi bimbingan dan perlindungan, tetapi karena hidup seluruh manusia di dunia adalah seperti lalang dan gandum yang hidup dalam satu lahan, siapapun dapat mengalami bencana yang berbagai ragam bentuknya. Dalam hal ini, Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana tentu bisa dan berhak melakukan apa saja yang dikehendakiNya pada saat yang sesuai dengan rencanaNya.

Secara perseorangan, mereka yang mengalami bencana belum tentu lebih besar dosanya dari yang lain. Tapi untuk anak Tuhan, adanya bencana justru membuka kemungkinan adanya keajaiban Tuhan yang terjadi dalam hidup atau nurani mereka dan juga dalam hidup orang lain, serta memberi kesempatan bagi manusia untuk  bisa saling menolong agar nama Tuhan makin dipermuliakan.

Hidup orang percaya juga selalu dalam incaran iblis, yang ingin menghancurkannya. Ayub adalah contoh yang nyata bahwa hidup orang-orang Kristen mungkin mendapat serangan iblis sedemikan rupa sehingga iman mereka benar-benar mengalami ujian berat. Tetapi bencana yang terjadi bukanlah berasal dari Tuhan, sekalipun itu terjadi dengan seizin Tuhan. Tuhan tahu kekuatan Ayub dan Ia tidak membiarkan Ayub dicobai lebih dari kekuatannya. Kitapun harus yakin bahwa seperti Ayub, kita harus tetap teguh dalam iman untuk memenangkan pergulatan hidup seperti itu.

Hari ini biarlah kita bisa meyakini bahwa Tuhan kita baik. Pada hakikatnya, Tuhan tidak ingin untuk mendatangkan atau membuat bencana di dunia. Jika bencana terjadi, seringkali kita tidak bisa memahami mengapa itu terjadi. Walaupun demikian, adalah penting bagi kita untuk percaya bahwa Ia mengasihi seluruh umat manusia dan bahkan mengurbankan anakNya untuk menebus dosa mereka yang percaya. Tuhan jugalah yang menggerakkan umatNya untuk bisa mengasihi mereka yang tertimpa bencana atau dalam kesusahan. Pujilah Tuhan sebab besar kuasaNya! Pujilah Tuhan sebab besar kasihNya!

Tuhan bisa memakai siapa dan kapan saja

“Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaranNya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepadaNya dan mendapat hidup yang kekal.” 1 Timotous 1: 16

Banyak orang ketika mereka melihat kata-kata Paulus dalam ayat-ayat di atas berkata: “Oh, dia pasti melebih-lebihkan untuk menjelaskan sesuatu”. Benarkah begitu? Tidak, Paulus bukannya dengan sengaja memilih kata-kata yang merupakan majas hiperbola. Memang, ketika Roh Kudus menginsafkan seseorang, pada saat itu ia merasa dirinya adalah orang berdosa. Keyakinan ini adalah hal yang sangat terasa; Roh Kudus mengambil dan mengaplikasikan kebenaran Tuhan sehingga menembus hati orang itu dan pada saat itu ia merasakan perlunya pertobatan. Begitu juga kita yang telah menyadari kegagalan di hidup kita dan kemudian menerima kasih karunia dan pengampunan Tuhan, kita akan mengetahui kebenaran ini. Itu mungkin tidak berdampak begitu kuat kepada kita pada saat kita mulai belajar untuk hidup denganNya. Tetapi, cepat atau lambat akan ada perubahan dalam cara hidup kita.

Di dunia ini tidak ada seorang pun yang sempurna. Orang yang menyangkal bahwa mereka adalah orang berdosa sama sekali tidak pernah dekat dengan Tuhan. Mereka yang telah mengalami pertemuan dengan Tuhan yang mahasuci akan sadar akan keadaan diri mereka sendiri – bahwa mereka adalah orang-orang berdosa yang telah ditebus. Mereka mengetahui kebenaran bahwa Yesus telah mati untuk mereka dan Roh Kudus tinggal di dalam mereka untuk membebaskan mereka dari dosa. Mereka tidak lagi harus berbuat dosa. Mereka mungkin masih sering tersandung dan melakukan dosa individu, tetapi kehidupan dalam dosa telah mati dan mereka sekarang hidup bagi Tuhan (Rom 6:10).

Ketika kita merenungkan rasul Paulus dan apa yang dia katakan, kita menyadari sesuatu yang luar biasa – Tuhan menggunakan orang berdosa! Meskipun dia adalah seorang Kristen yang luar biasa dan seorang rasul yang luar biasa yang mencapai hal-hal yang luar biasa, menjadi alat Tuhan untuk menyebarkan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi, dia memiliki banyak kelemahan. Kita hanya perlu melihat pada “ketidaksepakatan tajam” antara Paulus dan Barnabas (Kis 15:39) untuk melihat seorang pria yang tidak mampu memberi orang lain kesempatan kedua dan yang berpisah dari rekan kerja yang telah lama dikenalnya. Ini jelas bisa meninggalkan kesan yang kurang baik tentang dirinya. Tapi Tuhan memakai dia!

Lebih lanjut, siapa pun yang mengetahui sejarah dengan cukup baik mungkin tahu bahwa para Reformator bukan hanya pria dan wanita pemberani yang memulihkan Injil, tetapi juga pria dan wanita tidak konsisten yang hidupnya sering mengkhianati Injil. Pertimbangkan beberapa contoh terkenal dari Luther, Calvin, dan Zwingli, tiga tokoh Reformasi.

Luther berulang kali melontarkan hinaan keji pada lawan-lawannya, termasuk Katolik, Yahudi, Anabaptis, dan lainnya. Meskipun Luther menyerang orang Yahudi terutama karena alasan teologis daripada etnis, banyak orang menuduhnya sebagai penganut antisemitisme. Calvin mengizinkan dewan kota Jenewa untuk mengeksekusi Michael Servetus, seorang bidat dalam pelarian dari otoritas Katolik Roma. Zwingli, dengan cara yang mirip dengan Calvin, menyetujui tenggelamnya Felix Manz, salah satu mantan muridnya dan seorang pemimpin dalam gerakan Anabaptis yang sedang berkembang.

Jika kita membaca biografi para pemimpin Kristen lainnya, kita akan menemukan bahwa banyak kelemahan karakter seperti yang dimiliki Luther, Calvin, dan Zwingli. Masing-masing mencatat sejarah dengan noda yang mencolok. Orang mungkin bertanya-tanya apakah jasa orang-orang seperti itu patut dihargai dan diperingati. Walaupun demikian, kita harus sadar bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja dengan segala kelemahan mereka untuk melebarkan kerajaanNya pada saat dan situasi apa pun.

Mungkin ada orang yang mempunyai pandangan sinis akan kehendak Tuhan untuk mengambil orang-orang berdosa dan menebus mereka. Tetapi itulah kehendak Tuhan, Tuhan bekerja di dunia yang jatuh ini untuk menebus pria dan wanita, untuk menyelamatkan mereka dari pengaruh dosa dan menjadikan mereka sesuatu yang istimewa. Kata-kata Yeremia yang terkenal mengatakan semuanya saat dia mengucapkan firman Tuhan untuk bani Israel:

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepadaKu, maka Aku akan mendengarkan kamu” Yeremia 29: 11-12

Dalam konteks yang lebih luas itu berarti bahwa sekalipun situasi pandemi saat ini sedang dialami oleh siapa saja, Tuhan merencanakan apa yang baik untuk kita, untuk membebaskan kita dari ikatan dosa dan menjadikan kita anak-anak angkat Tuhan, diampuni, disucikan dan diberdayakan. Tuhan mau memakai kita untuk menjadi terang dunia. Itu adalah keajaiban dari keseluruhan kehendak Tuhan yang tidak berubah, sekalipun langit kelabu ada di depan kita saat ini. Percayalah akan kasih dan kuasaNya!