Tuhan mengasihi orang yang bergantung kepadaNya

Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah rumah, sedang Daud main kecapi seperti sehari-hari. Adapun Saul ada tombak di tangannya.” 1 Samuel 18: 10

Mereka yang sudah banyak beramal dan berbuat baik agaknya mudah untuk merasa saleh karena demikianlah pandangan kebanyakan orang. Tidaklah mengherankan bahwa mereka dapat dengan tinggi hati yakin bahwa Tuhan selalu mendengarkan doa mereka. Sebaliknya, mereka yang sadar bahwa hidupnya kurang berkenan, mungkin sering meminta ampun kepada Tuhan bahwa mereka bukanlah orang yang pantas untuk menjadi umatNya. Itulah apa yang disampaikan Yesus sebagai perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang berdoa di bait Allah (Lukas 18: 9-14). Yesus menyatakan bahwa orang yang rendah hati itu adalah orang yang dibenarkan di hadapan Allah. Itu karena di hadapan Allah yang mahasuci siapa yang meninggikan diri akan direndahkan dan siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan. Tuhan membenci orang yang sombong.

Saul yang diangkat menjadi raja Israel yang pertama adalah anak orang berada dari suku Benyamin yang tinggi besar dan tampan rupanya. Sekalipun ia berada dalam keadaan yang bisa membuat banyak orang menjadi iri kepadanya, Saul merasa tidak pantas menjadi orang yang dipilih Tuhan untuk menjadi raja (1 Samuel 9: 21). Saul pada waktu itu adalah orang yang rendah hati, dan karena itu Tuhan memilihnya. Lebih dari itu, dengan bimbingan Roh Tuhan, Saul pada mulanya diberkati Tuhan dengan berbagai kesuksesan. Sayang sekali, setelah menjadi raja yang jaya, Saul kemudian menjadi orang yang angkuh. Ia ingin meminta berkat Tuhan sebelum maju perang, tetapi tidak sabar menunggu Samuel untuk mempersembahkan korban bakaran. Ia memaksa untuk mempersembahkan korban, tetapi tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya. Saul menjadi orang yang sombong dan mengabaikan Tuhan.

Bagaimana Tuhan bertindak menghadapi Saul yang sudah merasa sanggup untuk hidup tanpa Tuhan? Tuhan menghentikan bimbingan RohNya dari Saul dan dengan itu mengalami goncangan kejiwaan. Dalam ayat di atas, jelas bahwa Tuhan mengizinkan roh jahat menguasai Saul sehingga ia tidak dapat menguasai dirinya sendiri.

Tuhan yang mempunyai rencana yang baik untuk umat Israel, tidak akan membiarkan Saul menjadi sedemikian murka jika Ia tidak dapat menguasai tindakan Saul. Dalam berbagai keadaan kritis yang membahayakan jiwa Daud, Tuhan tahu bagaimana Ia harus menyudahinya. Tuhan adalah mahakuasa dan mahatahu. Rencananya selalu baik untuk orang orang yang dikasihiNya. Sebaliknya, Ia membenci orang yang lupa bahwa tanpa Tuhan hidupnya adalah kosong. Ia membenci orang yang berpura-pura saleh, tetapi tidak mau menurut firmanNya. Kita ingat bahwa dengan seizin Tuhan, raja Saul kemudian mengakhiri hidupnya secara tragis dan diganti raja Daud.

Dalam hidup ini, kita mungkin pernah melihat atau mendengar kejadian dimana pemimpin dan tokoh dunia yang dulunya dipandang sebagai orang-orang yang saleh dan menurut perintah Tuhan, kemudian menjadi orang-orang yang lupa bahwa mereka tidak dapat hidup di atas kaki sendiri. Jika kita teliti, banyak orang yang sedemikian lambat laun berubah menjadi orang-orang yang bodoh dan melakukan tindakan-tindakan tercela yang mempermalukan dirinya sendiri. Mereka menjadi orang-orang yang kurang waras pikirannya karena Tuhan menghentikan bimbingan dan perlindunganNya.

Bagaimana pula dengan kehidupan anda saat ini? Sadarkah anda bahwa tidak seorang pun yang bisa hidup tanpa bimbingan, perlindungan dan berkatNya? Keadaan pandemi di dunia saat ini mungkin bisa mengingatkan bahwa kita adalah ciptaan Tuhan dan tidak bisa bergantung pada kekuatan diri sendiri. Tuhan memberkati mereka yang datang kepadaNya dengan rendah hati, memohon pengampunanNya dan dengan penyerahan kepada Dia yang mahakuasa. Tuhan mengasihi orang yang sadar akan dosa dan kelemahannya, dan mau memohon pengampunan dan bimbinganNya setiap hari. Biarlah kita boleh percaya bahwa semua yang terjadi saat ini akan berakhir dengan apa yang baik bagi umatNya.

Ada konsekuensi dari setiap pilihan kita

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Pada saat ini, suasana pandemi di berbagai negara mengharuskan rakyat untuk menjalankan semua protokol kesehatan yang perlu. Tetapi, ada banyak orang yang tidak mau melakukan hal-hal itu. Mereka tidak senang jika diharuskan untuk menjalankan suatu tindakan. Memang, manusia dimana pun sangat menghargai kemerdekaan, karena dengan adanya kemerdekaan mereka mendapat kebebasan untuk memilih atau melakukan apa saja yang mereka maui. Mereka tidak mau dipaksa.

Dalam kenyataannya, kemerdekaan suatu negara selalu disertai dengan penentuan hukum-hukum yang harus ditaati seluruh rakyatnya. Hukum yang mengharuskan semua rakyat untuk melakukan atau tidak melakukan hal-hal tertentu. Dengan kemerdekaan suatu bangsa, ada komitmen bersama untuk membatasi diri dalam segala tindakan mereka agar tidak melanggar hukum atau peraturan. Negara-negara merdeka juga harus tunduk dalam hukum internasional. Kalau begitu, benarkah ada kemerdekaan manusia itu? Adakah kemerdekaan manusia untuk memilih jalan hidupnya? Ada, tetapi tidak sepenuhnya!

Kemerdekaan manusia ada dalam Alkitab sejak penciptaan. Tetapi kemerdekaan yang disertai kebebasan memilih tidaklah seperti yang umumnya dibayangkan. Manusia sering berpikir bahwa “nasibmu ada ditanganmu sendiri” atau “you are the master of your destiny“, tetapi seringkali kenyataan adalah jauh dari itu karena manusia selalu mengalami hal-hal yang tidak bisa dipilih atau dikontrol dalam hidupnya.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 16-17

Ada kemerdekaan, ada kebebasan memilih, tetapi ada batasan. Dalam kebebasan yang diberikan Allah, Adam dan Hawa juga dapat melanggar batasan itu, dan harus menanggung konsekuensinya. Dengan menyalahgunakan kemerdekaan itu, pelanggaran batasan terjadi – yang kemudian membawa dosa untuk seluruh umat manusia. Manusia tidak lagi hidup dalam jaminan ketenteraman Firdaus, tetapi masuk kedalam ketidakpastian masa depan!

Sesudah kejatuhan, manusia masih mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan. Tetapi karena jauh dari Tuhan, kebebasan malahan sering digunakan manusia untuk menjadi hamba dosa. Ketenteraman hidup yang dulunya ada, berubah menjadi berbagai kesulitan dan penderitaan. Untunglah Allah dengan kasihNya memberikan kemungkinan agar setiap orang bisa secara bebas mengambil keputusan untuk memilih apa yang sudah disediakanNya, yaitu keselamatan dalam Kristus.

Ayat pembukaan diatas berasal dari bagian Alkitab yang menceritakan bagaimana Yesus dan murid-muridNya mampir ke desa Marta dan saudaranya, Maria. Barangkali ada sekitar 70 orang yang bersama Yesus saat itu, dan mungkin banyak juga yang bertamu di rumah kedua perempuan itu. Jika kunjungan itu hanyalah sekadar untuk bertamu, bisa dibayangkan betapa ramainya suasana disana, mungkin mirip sebuah pesta dan Yesus adalah tamu agungnya. Membaca ayat-ayat diatas, jelas Maria dan Martha mempunyai kemerdekaan untuk memilih apa yang akan dilakukan.

Apa yang terjadi ternyata membuktikan bahwa setiap manusia mempunyai kehendak bebas untuk memilih apa yang disenanginya. Maria duduk didekat kaki Tuhan untuk mendengarkan perkataan-Nya. Sebaliknya, Marta tidak menyempatkan diri untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Ia sibuk sekali melayani tamu-tamu dan mungkin juga sibuk dengan mempersiapkan hidangan. Kedua orang itu sudah memilih apa yang baik menurut pikirannya dan Yesus tidak memaksa mereka untuk memilih apa yang disenangiNya.

Sebagai pengikut Yesus, kita mungkin pernah menghadapi hal yang serupa. Kesibukan sehari-hari seringkali mengharuskan kita untuk membagi waktu yang ada untuk bisa melaksanakan berbagai tugas. Mungkin karena terlalu sibuk, kita memilih untuk melakukan apa yang kita anggap lebih penting atau lebih menyenangkan, dan itu mungkin bukan untuk mempelajari firmanNya atau untuk berbakti kepada Tuhan dengan seluruh anggota keluarga. Seperti Martha kita mungkin sudah memilih apa yang tidak disukai Tuhan, tetapi itu terjadi bukan karena kehendakNya. Tuhan mengizinkan kita untuk menggunakan kebebasan kita dan tidak akan memaksa kita untuk memilih apa yang disukaiNya. Tetapi RohNya tidak henti-hentinya mengingatkan kita, seperti Yesus mengingatkan Martha.

Pagi ini kita harus sadar bahwa waktu adalah sebuah sarana yang terbatas. Umur kita bukan di tangan kita dan karena itu kita harus mengatur hidup kita sebaik-baiknya dengan mengutamakan apa yang terbaik. Kita tidak sepatutnya berpikir bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai anak-anakNya dan Ia menerima hidup kita sebagaimana adanya, tanpa mau berubah dari hidup lama kita. Memang ada hal-hal dalam hidup ini yang diluar kendali manusia, tetapi mengatur cara hidup adalah di tangan setiap individu. Tuhan mungkin sudah sering memperingatkan bahwa ada kesempatan bagi kita untuk bisa memilih untuk menjadi seperti Maria yang menggunakan waktu yang ada untuk mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan, atau menjadi seperti Marta yang selalu sibuk dengan hal-hal duniawi. Kapankah anda akan mengambil keputusan untuk mencari kehendakNya? Pilihan kita, resiko kita.

Mengikut Yesus keputusan siapa?

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Minggu lalu saya terbang ke Townsville yang jaraknya 1335 km dari Brisane. Sewaktu saya tiba di Brisbane Airport saya melihat banyak orang yang memakai masker. Sewaktu boarding lebih banyak lagi orang bermasker yang berbaris menunggu giliran masuk pesawat. Sebenarnya keadaan di Brisbane pada waktu ini cukup terkontrol sehingga orang tidak diharuskan memakai masker; mereka yang memakai masker tentunya berdasarkan keputusan diri sendiri. Saya pun kemudian mengambil keputusan untuk mengambil sebuah masker yang disediakan secara gratis di pintu masuk.

Saat ini memang ada anjuran dari maskapai penerbangan di Australia agar penumpang memakai masker, tetapi itu bukanlah keharusan. Tetapi, di kota-kota tertentu ada orang-orang yang terpaksa memakai masker karena diharuskan oleh pemerintah setempat. Sekalipun mereka tidak senang mengenakan masker, adanya peraturan membuat mereka mau tidak mau memakainya. Terlintas sebuah pertanyaan dalam pikiran saya: apakah ini keputusan saya untuk memakai masker, ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang ada orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang mengatur segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism“.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus menyatakan bahwa ia tahu, bahwa didalam dirinya, sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam dirinya, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Kehendak yang ada pada diri manusia seringkali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga bisa dipengaruhi iblis. Dengan demikian, jika kita memang bebas untuk memilih apa yang kita lakukan setiap hari, kehendak bebas yang dipakai dalam hubungan kita dengan Tuhan seringkali justru membuat kita menjauhkan diri dari Tuhan. Mereka yang merasa yakin dapat memilih apa saja yang disukai di dunia, bisa terjerumus ke dalam kesimpulan bahwa hidupnya bergantung sepenuhnya pada kemampuan diri sendiri.

Jika kehendak bebas dikaitkan dengan soal keselamatan rohani, siapapun yang mengambil keputusan untuk percaya tentunya hanya bisa percaya karena bimbingan Roh Kudus. Orang tidak dapat memilih jalan keselamatan tanpa bimbingan Tuhan, sekalipun ia dapat memakai kemampuan otak yang diberikan Tuhan untuk mengambil berbagai keputusan dalam hidup sehari-hari.

Walaupun sebagian orang Kristen percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan atau freedom untuk mengambil keputusan sehari-hari, mereka belum tentu bisa menerima bahwa semua itu adalah kehendak bebas atau free will yang dikaruniakan Tuhan karena kasihNya. Rencana Tuhan tidak dapat dipengaruhi pilihan manusia, tetapi Ia memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih karena Ia ingin agar manusia menyadari bahwa Ia bukanlah Tuhan hanya dapat memaksa manusia untuk tunduk kepadaNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, kita diberi kebebasan untuk memilih dan melakukan apa yang kita ingini dalam hidup di dunia. Tetapi, jika kita tidak mau bekerja untuk memuliakan Tuhan dan menyerahkan hidup kita kepadaNya, kehendak bebas kita akan membawa kepada dosa. Penyerahan hidup kita kepada bimbingan Tuhan bukanlah sesuatu yang otomatis akan terjadi pada setiap orang Kristen, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa kitalah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup kita di dunia ini.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Matius 16: 24

Ketika badai tidak kunjung mereda

“Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.” Yakobus 5: 7

Sudah 9 bulan keadaan dunia menjadi porak poranda gara-gara adanya pandemi. Bukan saja korban Covid-19 makin lama makin banyak, keadaan ekonomi hampir seluruh negara di dunia sudah menjadi kacau balau. Dalam keadaan seperti ini, banyak negara yang kurang kuat ekonominya mungkin tidak akan dapat mengatasi keadaan setempat tanpa bantuan negara lain; karena sekalipun vaksin sudah ditemukan, mereka akan mengalami kesulitan dalam mengusahakan dana dan fasilitas untuk pengadaan vaksin untuk seluruh rakyat mereka. Jika semua orang saat ini merasa menderita, rakyat jelatalah yang akan mengalami penderitaan yang besar dan berkepanjangan.

Mengapa keadaan tidak kunjung membaik? Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi pandemi ini? Ini adalah pertanyaan yang dimiliki semua orang, tetapi tentu tidak semua orang yakin akan jawabnya. Memang dengan adanya vaksin, besar kemungkinan bahwa pandemi ini pelan-pelan akan bisa diatasi. Walaupun demikian, untuk pembagian vaksin diperlukan waktu yang cukup lama. Dalam hal ini, mau tidak mau orang harus menerima keadaan yang ada di saat ini. Berserah dan bersabar. Bagi orang Kristen, semua ini mungkin mengingatkan mereka akan kejadian dalam Alkitab dimana orang Israel mengalami penderitaan akibat musim kemarau yang berkepanjangan dan tidak ada manusia yang bisa memberi jawaban. Tuhanlah yang pada akhirnya menunjukkan kuasa dan kasihNya, dan hujan turun pada waktunya.

Dalam hidup di dunia saat ini, sebenarnya bukan kesehatan saja yang diharapkan manusia. Setiap manusia mempunyai berbagai pengharapan dan kebutuhan. Dalam hal ini, terkadang penderitaan yang dialami selagi menunggu datangnya pertolongan Tuhan terasa tidak tertahankan. Rasul Yakobus dalam ayat di atas menasihati jemaat pada saat itu untuk bersabar dalam penderitaan sambil mengingat bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat. Seperti seorang petani, mereka semuanya harus bersabar menantikan datangnya hujan yang membawa hasil berharga dari tanahnya.

Kedatangan Tuhan menyatakan saat dimana kita bisa melihat kemuliaan Tuhan sambil bersukacita. Sudah tentu tidak ada seorangpun yang tahu kapan itu akan terjadi. Tetapi itu bukanlah masalah bagi mereka yang beriman, karena apa yang mereka alami tidaklah sebanding dengan apa yang akan mereka terima dari Tuhan. Bagi umat Kristen, kebahagiaan bisa dirasakan dalam segala keadaan karena mereka tahu bahwa Tuhan menghargai ketekunan umatNya. Tuhan yang maha penyayang dan penuh belas kasihan tidak akan menyia-nyiakan mereka yang setia kepadaNya.

“Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” Yakobus 5: 11

Menghadapi pencobaan hidup

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.” Yakobus 1: 13

Baru saja kita memasuki tahun baru, berita-berita media sudah melaporkan berbagai kejadian yang menyedihkan dari seluruh dunia. Semua kejadian seperti itu memang bisa membuat orang menghela nafas, bukan saja karena ikut merasa sedih, tetapi juga rasa sesal karena adanya orang-orang yang mengalami hal-hal yang buruk karena kesalahan yang diperbuatnya. Peribahasa “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” adalah peribahasa yang sangat terkenal, yang menunjuk kepada ketidakberdayaan manusia dalam menentukan apa saja yang terjadi dalam hidupnya. Tetapi, apakah ini berlaku untuk setiap orang dan setiap kejadian?

Memang banyak orang berpendapat bahwa setiap manusia mau tidak mau harus berserah kepada “nasib” atau “takdir”. Pengertian yang bersifat fatalisme ini sering dijumpai dalam ajaran tokoh-tokoh agama. Baik dan buruk dianggap tergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Tuhan dianggap sebagai penyebab malapetaka, pencipta penderitaan dan yang memberi pencobaan. Mereka yang percaya akan hal ini yakin bahwa Tuhanlah yang bertanggung jawab atas segala derita yang dialami manusia. Tuhan adalah seperti dalang, dan manusia hanyalah bonekaNya.

Dengan berpandangan seperti ini, banyak manusia yang berdalih bahwa dosa atau kesalahan yang diperbuatnya adalah berasal dari Tuhan. Tuhanlah yang memeri pencobaan yang membuat manusia terperangkap. Pandangan seperti ini sudah pasti hanyalah pemikiran manusia yang berusaha membela diri dan mempersalahkan segala sesuatu, kecuali dirinya sendiri, sebagai penyebab masalah. Tetapi, ayat dari Yakobus 1: 13 diatas jelas menunjukkan bahwa jika seorang mengalami cobaan, itu bukanlah karena “nasib” atau perbuatan Tuhan. Mereka yang menderita karena perbuatan orang lain juga tidak dapat berkata bahwa Tuhan yang menyebabkan hal itu. Dosa terjadi karena pilihan manusia yang tidak sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan Tuhan. Dosa adalah seperti anak panah yang tidak mencapai pusat target.

Tuhan memang menentukan jalan kehidupan manusia, tetapi tidak seperti yang digambarkan sebagai nasib mujur dan nasib malang. Tuhan mempunyai rencana-rencana yang harus terjadi di bumi seperti di surga, tetapi rencana itu bukannya membuat manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Tuhan bisa melaksanakan rencananya tanpa harus membuat manusia sebagai robot. Tuhan yang mahatahu dapat menyelami pikiran manusia. Tuhan yang mahakuasa dapat mencapai tujuanNya dengan melewati apa saja yang diperbuat manusia.

Setiap manusia bebas untuk melakukan apa saja yang dimauinya, tetapi tidak semua yang dilakukannya berguna atau membawa kebaikan. Seperti yang dialami Adam dan Hawa, dalam kebebasannya manusia bisa berbuat jahat dan melanggar firman Tuhan. Tetapi, sebagai orang Kristen kita sadar bahwa kita harus melakukan hal yang baik, yang sesuai dengan perintah Tuhan. Dengan hidup menurut firmanNya dan menyakini bahwa Dia adalah Tuhan yang mahakasih, kita boleh percaya bahwa Tuhan akan memberkati kita dengan hal-hal yang baik dan kebahagiaan di tahun yang baru ini.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Menjalani hidup hari demi hari

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Selamat tahun baru! Hari besar yang ditunggu-tunggu sejak datangnya hari Natal telah tiba. Tahun baru telah datang di berbagai tempat di dunia, dimulai dengan negara-negara di sekitar Selandia Baru, kemudian Australia, Indonesia dan seterusnya, sesuai dengan posisi mereka di bumi. Bersama dengan itu berbagai harapan, resolusi dan doa diucapkan manusia untuk 365 hari yang akan datang.

Dalam merayakan tahun baru, biasanya banyak orang yang berpesta-pora dan makan-minum untuk mengucapkan selamat tinggal pada tahun yang telah lalu dan menyambut datangnya tahun yang baru. Negara-negara yang kaya menghamburkan jutaan dolar untuk segala acara dan pesta kembang apinya. Mereka yang berhasil hidupnya tentunya ingin merayakannya dengan semeriah mungkin, karena kemampuan yang ada. Tetapi, pada akhir tahun ini suasana sangat berbeda karena adanya pandemi. Banyak negara sudah membatalkan acara kembang api untuk menghindari kerumunan orang dan juga untuk mengurangi pengeluaran. Dalam keprihatinan, tidaklah mengherankan bahwa di saat ini orang hanya bisa bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada bulan-bulan mendatang.

Berbeda dengan ucapan selamat hari Natal yang berisi pesan-pesan mengenai sukacita dan damai, kebanyakan ucapan selamat tahun baru secara tradisionil berisi harapan untuk keberhasilan dalam semua usaha dan segi kehidupan manusia. Walaupun semua ucapan selamat tahun baru itu dimaksudkan untuk memberi semangat optimisme dan keberanian dalam menjalani hidup di tahun baru, pada saat ini tidak ada seorang pun yang yakin bahwa tahun depan adalah tahun yang baik. Memang, hidup agaknya akan menjadi semakin berat dalam tahun 2021 ini.

Soal hidup berat, saya teringat akan lagu “One day at a time” atau “Satu hari pada satu waktu” yang pernah dinyanyikan oleh Meriam Bellina. Lagu ini menggambarkan betapa banyak masalah yang dihadapi sang penyanyi, tetapi ia memohon kepada Yesus untuk bisa menghadapi persoalan hari ini saja untuk saat ini. Karena masa lalu sudah lenyap dan masa depan tidak diketahuinya, ia hanya meminta Tuhan untuk memberi pertolongan untuk menghadapi hari ini. Persoalan esok hari tidak perlu dipikirkan sekarang.

One day at a time, sweet Jesus
Satu hari pada satu waktu, Yesus yang manis
That’s all I’m asking from you
Hanya itu yang saya minta dari Engkau
Give me the strength to do everything that I have to do
Berilah aku kekuatan untuk melakukan segala sesuatu yang harus aku lakukan
Yesterday’s gone sweet Jesus
Kemarin sudah lenyap Yesus yang manis
And tomorrow may never be mine
Dan besok mungkin tidak akan menjadi milikku
Help me today
Bantu aku hari ini
Show me the way
Tunjukkan
jalannya pada ku
One day at a time.
Satu hari pada satu waktu.

Memang bagi banyak manusia, umumnya keadaan yang tidak menentu di hari depan bisa menimbulkan kekuatiran yang besar. Persoalan hari ini belum terselesaikan, persoalan-persoalan lain di hari-hari mendatang sudah terasa menakutkan. Berbeda dengan itu, bagi orang Kristen satu hal yang paling penting dalam menyambut tahun baru, adalah keyakinan akan penyertaan Tuhan. Bagi orang Kristen, apapun yang akan terjadi dalam tahun yang baru bukanlah sesuatu yang harus dikuatirkan. Keberhasilan atau kegagalan dalam hidup di dunia bukanlah diukur dengan segala sesuatu yang bersifat fana, karena semua hal itu tidaklah kekal. Tetapi harta surgawi, yaitu kedekatan hubungan kita dengan Tuhan adalah yang seharusnya diutamakan; dengan itu kita bisa mendapatkan rasa cukup dan bahkan rasa sukacita yang abadi. Dengan hadirnya Tuhan dalam hidup kita, kita juga akan merasakan ketenteraman karena Tuhan adalah sumber kekuatan dan pelindung kita.

Hari ini, kita harus sadar bahwa seberapapun besarnya rasa optimis dan besarnya pengharapan kita akan kesuksesan kita di tahun yang baru, kita tidak dapat mengandalkan hidup kita kepada diri kita sendiri. Sebaliknya, jika ada rasa pesimis di hati kita, hidup ini terasa penuh dengan tantangan, kesulitan dan marabahaya yang bisa menghancurkan siapapun. Walaupun demikian, dalam keadaan apapun Tuhan selalu siap menolong kita yang beriman kepadaNya. Dengan demikian, kita yakin bisa menghadapi semua tantangan hari demi hari. Biarlah kita dalam tahun yang baru ini bisa dikuatkan karena penyertaan Tuhan sampai sekarang yang bisa kita syukuri!

TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.” Mazmur 28: 7

Auld Lang Syne

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” Pengkhotbah 12: 1

Siapakah yang tidak mengenal lagu Auld Lang Syne? Lagu itu selalu dikumandangkan menjelang malam pergantian tahun baru hampir di seluruh dunia. Lagu rakyat Skotlandia ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1788 dan berisi tentang kenangan akan teman-teman lama dan waktu yang dilalui bersama mereka.

Pada tahun 1929, Guy Lombardo, seorang penyanyi yang lahir di Kanada, tampil di Roosevelt Hotel di New York City pada malam pergantian tahun. Ia tampil bersama grup musiknya yang bernama Royal Canadian band, dan disiarkan melalui radio. The Royal Canadian sendiri dibentuk pada 1924, bersama saudara lelakinya yaitu Carmen, Lebert, dan Victor, serta musisi lain dari tanah kelahirannya. Pada tengah malam, mereka memilih untuk menyanyikan lagu yang pertama kali didengar oleh Lombardo dari para imigran Skotlandia di Ontario. Judul lagu itu adalah Auld Lang Syne.

Tahun-tahun berikutnya, hingga 1959, Guy Lombardo dan saudara-saudaranya tetap bermain di Roosevelt Hotel, menyanyikan lagu yang sama pada setiap malam tahun baru. Hingga tahun 1976 saat Lombardo berusia 74 tahun, mereka terus memainkan lagu ini pada malam tahun baru di Waldorf Astoria Hotel, dan disiarkan melalui radio juga televisi. Lombardo pun terkenal dengan sebutan “Mr. New Year Eve.” Pada tahun 1976, untuk terakhir kalinya Lombardo memainkan lagu Auld Lang Syne karena ia meninggal dunia pada tahun 1977 karena serangan jantung.

Apa arti setahun? Setahun bagi seseorang mungkin berisi banyak hal yang signifikan, tapi bagi yang lain mungkin berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Walaupun demikian, bagi semua orang, baik tua maupun muda, tahun yang berlalu jelas menambah usia. Manusia manapun akan bertambah tua. Dimulai pada saat kelahiran, seorang bayi tumbuh menjadi seorang anak kecil, anak remaja, orang muda, orang dewasa, orang berumur dan kemudian orang lanjut usia, sebelum meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Walaupun begitu seharusnya, tidak semua orang akan mengalami seluruh tingkat usia itu. Ada orang yang belum tua tetapi sudah tidak beserta kita, ada pula orang yang karena sakit, menjadi tua sebelum waktunya.

Masa muda biasanya diisi dengan berbagai kegiatan yang menarik, yang memberi kesenangan, kebanggaan dan kepuasan pribadi. Seolah seluruh dunia ada untuk dinikmati oleh diri sendiri. Dengan bertambahnya usia, manusia umumnya mulai belajar untuk hidup bukan bagi dirinya sendiri, terutama setelah berkeluarga. Namun dengan bertambahnya usia, hidup seringkali diisi dengan kesibukan mencari ilmu, harta, kesuksesan atau nama. Kesenangan yang dicapai melalui jerih payah seolah bisa memberi makna kehidupan.

Keluarga dan persahabatan baik secara nyata atau maya bisa juga menjadi suatu kenikmatan. Waktu yang 24 jam sehari seringkali kurang untuk memberi perhatian yang cukup kepada sanak kerabat dan teman. Seringkali, karena kesibukan yang seolah berdasarkan cinta akan sesama, waktu yang ada tidak cukup untuk Tuhan. Padahal soal mengasihi Tuhan itu seharusnya lebih penting dari yang lain, terutama di masa depan. Tuhan dan kasihNya tetap ada sewaktu perhatian sanak dan teman sudah hilang.

Selama setahun, Tuhan sudah menyertai kita. Tiap hari, tiap jam bahkan tiap detik,Tuhan melindungi kita sehingga kita tetap bisa hidup sampai saat ini dan siap memasuki tahun yang baru. Lebih-lebih lagi, Tuhanlah yang sudah mengambil inisiatif untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Walaupun begitu besar kasihNya kepada manusia, kebanyakan orang menerima kasih Tuhan itu sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya, dan mudah melupakannya. Lebih mudah untuk dilupakan daripada melupakan kenangan manis bersama teman-teman lama.

Sekalipun kita masih bisa menyambut datangnya tahun baru kali ini, adalah kenyataan hidup bahwa akan ada satu saat dalam hidup kita dimana kedatangan tahun baru tidak lagi dapat memberi kegembiraan. Mungkin saat itu terjadi sesudah kita menginjak usia tua, tetapi mungkin juga sewaktu kita masih muda. Pada saat itu, dukungan sanak kerabat dan teman tidaklah dapat memberi kekuatan dan semangat, apa yang ada terasa hampa.

Pagi ini kita harus sadar bahwa jika kita tidak terbiasa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, jika kita tidak terbiasa berbincang-bincang dengan Tuhan, mempelajari firmanNya dan menyadari kasihNya, dalam keadaan yang menguji iman kita di masa depan, kita akan mengalami kesunyian yang luar biasa karena Tuhan serasa jauh dari kita.

Tahun 2020 yang penuh dengan masalah hidup ini akan segera menghilang dan hanya menjadi kenangan. Tahun baru akan datang, tetapi kita tiak tahu apakah itu akan membawa harapan baru. Walaupun demikian, biarlah tahun 2021 bisa membawa kesadaran bagi kita semua bahwa selagi kita masih bisa, kita harus makin dekat kepada Tuhan!

Berserahlah kepada Tuhan

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Sebentar lagi tahun baru akan datang. Bagaimana kita harus menyambut kedatangannya? Biasanya orang menyambut kedatangan tahun baru dengan berpesta-pora dan bergembira ria. Tetapi tahun ini situasi sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena pademi Covid-19 yang masih merajarela di seluruh bagian dunia. Apa yang akan terjadi di dunia pada tahun 2021? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan kepastian, karena tidak ada yang tahu. Jangankan di dunia, apa yang terjadi pada diri kita sendiri pun tidak ada yang bisa menerka. Bagaimana dengan keuangan kita? Sekalipun kita siap untuk bekerja lebih keras dari tahun yang lalu, kita tidak bisa memastikan bahwa hasilnya akan lebih baik. Apalagi, karena adanya pandemi, ekonomi dunia sekarang ini agaknya sedang sakit.

Sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan selalu memberikan apa yang nyaman untuk umatNya. Sebagian lagi percaya bahwa bagi mereka yang benar-benar beriman tidaklah ada kegagalan dan penderitaan. Tapi pandangan semacam itu hanya membuat Tuhan itu seperti sesuatu yang hanya memiliki satu dimensi, yang dapat diukur manusia. Lebih-lebih lagi, jika pikiran Tuhan dapat diterka manusia, Ia bukanlah Tuhan yang mahakuasa. Kalau pikiranNya mudah diterka, manusia bisa mengelak dari keputusan Tuhan dan bisa berbuat sesuatu untuk mengubah keputusanNya. Hidup manusia dengan demikian mungkin bisa dijalani sebagai suatu eksperimen untuk mencari jalan agar Tuhan selalu memberi kelimpahan. Ini adalah pandangan yang jelas keliru.

“Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?” Roma 11: 34 – 35

Lebih dari itu, Tuhan jelas berhak untuk memberkati atau membenci orang-orang tertentu, sesuai dengan kehendakNya.

Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Roma 9: 15

Dari uraian diatas, jelas bahwa Tuhan yang mahabijaksana mengambil keputusan tanpa dipengaruhi usaha manusia. Tetapi, hal ini bisa menyebabkan timbulnya dua pertanyaan. Yang pertama, jika Tuhan agaknya berlaku semena-mena kepada makhluk ciptaanNya, dapatkah kita katakan bahwa Tuhan itu adil?

Alkitab berkata bahwa jika Tuhan itu mahakuasa, tentunya Ia bisa melakukan apa yang dihendakiNya. Berbagai contoh dalam Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan bisa memudahkan, membuat sukar atau membiarkan hidup kita. Tetapi, kita sebagai manusia harus menerima apa saja yang diputuskanNya.

Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Roma 9: 20

Pertanyaan kedua, yang sehubungan dengan usaha manusia, adalah mengapa kita harus bekerja keras menurut rencana yang baik jika Tuhan pada akhirnya menentukan hasilnya. Bukankah hidup kita bergantung pada apa yang diputuskan Tuhan?

Alkitab mempunyai banyak contoh dimana mereka yang menurut firmanNya dan yang selalu mengikuti kehendakNya, memperoleh berkat yang berkelimpahan dalam hidup. Tetapi Alkitab juga menulis bagaimana mereka yang setia kepadaNya, memperoleh kekuatan dalam menghadapi berbagai penderitaan di dunia. Tuhan bisa memberkati mereka yang bekerja dengan giat dan jujur, tetapi lebih dari itu Ia bisa memberi rasa cukup dan ketenteraman kepada umatNya dalam segala keadaan.

Memang perlu kita sadari, Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita akan selalu nyaman, tetapi Ia berjanji akan menyertai dan menguatkan kita dalam menghadapi berbagai tantangan. Lebih dari itu, Tuhan adalah mahakasih dan karena itu semua rencana dan kehendakNya adalah baik untuk mereka yang mau dipimpinNya.

Adakah kekuatiran anda dalam memasuki tahun yang baru? Mereka yang hanya mengenal kemahakuasaan dan kemahasucian Tuhan mungkin akan sering menghadapi hidup dengan kemuraman atau kekuatiran, tetapi siapa yang mengerti bahwa Tuhan juga mahaadil, mahabijaksana dan mahakasih, akan dapat menghadapi tahun yang baru dengan optimisme, kedamaian dan rasa syukur. Selamat menyongsong tahun baru!

Tuhan memberi kekuatan kepada yang lemah

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 30

Ayat di atas adalah ayat yang terkenal, tetapi tidak mudah dimengerti. Mengapa Paulus menulis “Aku akan bersukacita atas kelemahanku”? Apakah pernyataan Paulus kepada jemaat di Korintus itu serupa dengan beberapa bentuk “sukacita” dalam penderitaan di bawah ini?

  1. “Aku bersukacita karena aku menderita’: Penderitaan adalah sesuatu yang bisa aku banggakan.
  2. “Aku bersukacita karena penderitaan yang kupaksakan pada diriku sendiri”: Aku berusaha membuat diriku menderita sedemikian rupa agar bisa menaikkan tingkat kerohanianku.
  3. “Aku bersukacita walaupun aku menderita”: Aku mampu menghadapi badai kehidupan dengan wajah tegar.
  4. “Aku bersukacita karena penderitaanku tidak seburuk orang lain”: Sejelek-jeleknya nasibku, aku masih lebih beruntung jika dibandingkan dengan orang lain.

Jika dibandingkan dengan ucapan Paulus, empat bentuk sukacita di atas kelihatannya menunjukkan bahwa kita sanggup untuk berdiri di atas kaki sendiri. Dalam kenyataannya, keadaan dunia di saat ini bisa membuat orang yang paling kuat untuk merasa lemah dan putus asa. Betapa besar bedanya dengan sukacita yang Paulus miliki!

Sukacita yang Paulus miliki berkata “Aku bersukacita di dalam penderitaan.” Penderitaan, bagi Paulus, justru adalah konteks dimana sukacitanya muncul. Mengapa? Karena sukacita Paulus bukanlah sukacita yang melihat ke dalam diri, atau bahkan membandingkan diri dengan orang lain.

Sukacita Paulus adalah sukacita di dalam Kristus, karena Yesus sudah menderita dan menyelamatkannya. Kesadaran bahwa Kristus telah bangkit dari kematian dan memerintah seisi alam semesta dari surga, justru bisa membuat Paulus selalu ingat akan besarnya kasih anugerah Tuhan dalam hidupnya.

Hidup ini memang tidak mudah dan terkadang penuh tantangan, masalah atau bahaya. Banyak orang yang dalam keadaan semacam itu akan berusaha untuk bertahan dan berjuang seorang diri, karena mereka berharap untuk bisa kuat dan menang dengan tenaga sendiri. Itu jugalah yang diajarkan para motivator terkenal di berbagai seminar. Tetapi, sebagai makhluk sosial tidak ada orang yang bisa survive dalam hidup ini tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Sayang sekali, seringkali tidak ada orang yang mengerti penderitaan kita, mau atau mampu menolong kita.

Bagi kita yang beriman, Juru Penolong yang sejati adalah Yesus Kristus. Bukannya khayalan, Yesus Anak Allah itu benar-benar datang dari surga ke dunia, mati menebus dosa manusia, tapi bangkit lagi pada hari yang ketiga. Hari ini kita harus sadar bahwa Yesus adalah gembala kita yang sebenarnya. Yesus adalah Tuhan, Tuhan yang juga sudah menciptakan segala sesuatu, yang memelihara segala sesuatu dan yang dari mulanya mempunyai rencana untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Ialah kebanggaan kita yang sesungguhnya, karena Ia bisa dan mau menolong mereka yang meyadari kelemahan mereka.

Dalam keangkuhan dan kebodohan kita tidak menyadari kuasa dan kasih Tuhan, tetapi dalam kelemahan kita bisa merasakan kuasaNya seperti apa yang dialami Rasul Paulus.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 9

Takutlah akan Tuhan

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Mazmur 23: 1-3

Di Australia, hari sesudah hari Natal dinamakan Boxing Day. Boxing Day adalah istilah yang merujuk pada tradisi di Inggris, dan juga negara Eropa lain, ketika banyak kaum pekerja yang harus bekerja di hari Natal dan baru keesokan harinya (26 Desember) bisa merayakan Natal. Pada hari itu, para pekerja itu berkesempatan membuka hadiah yang mereka terima dari para bangsawan, tuan tanah, perusahaan, hingga pemilik modal. Hadiah itu biasanya berada dalam kotak (box), sehingga hari tersebut dikenal sebagai boxing day.

Pada saat Boxing day kemarin, seperti biasanya toko-toko besar mengadakan “sale” besar-besaran. Harga barang-barang mewah bisa mendapat discount sampai 50%. Karena itu, dari siaran TV saya bisa melihat banyaknya orang yang berdesak-desakan memasuki berbagai toko, seakan lupa bahwa saat ini setiap orang seharusnya tetap berhati-hati dan menjaga jarak untuk menghindari penyebaran virus corona. Begitulah, jika manusia sangat menginginkan sesuatu, mereka akan berusaha memperolehnya dan tidak takut akan segala konsekuensi yang ada. Bahkan, seperti Adam dan Hawa, umat manusia sering lupa akan Tuhan jika mereka menginginkan sesuatu.

Dengan memasuki tahun baru, umumnya orang berharap bahwa keberuntungan yang lebih besar akan bisa didapat. Tidak ada bedanya dengan tahun baru Imlek, memasuki tahun baru Masehi ini orang saling mengucapkan harapan untuk kesehatan, kesuksesan, rejeki dan lain-lain. Orang Kristen pun sering terperangkap dalam situasi yang serupa, sekalipun buat mereka sebenarnya lebih penting untuk memikirkan soal surgawi daripada hal-hal duniawi.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33

Yesus sudah mengajarkan bahwa sebagai orang percaya kita harus berharap agar Roh Kudus makin bekerja dalam hidup kita, sehingga hidup kita bisa makin dekat kepada Tuhan dan bisa berbahagia. Dengan kedekatan manusia kepada Tuhan, kekuatiran akan apapun bisa dikalahkan melalui iman yang makin dikuatkan. Lebih dari itu, karena Tuhan menyenangi orang yang punya rasa takut kepadaNya, Ia akan menambahkan berkatNya dalam berbagai hal yang lain.

TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. Mazmur 147: 11

Memang, dalam Alkitab ada banyak contoh dimana orang-orang yang takut akan Tuhan, menjalani hidup mereka sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Orang-orang seperti Abraham, Jusuf, Musa dan Daud yang dalam segala kelemahan mereka, selalu kembali kepada keinsafan bahwa Tuhan yang mahakasih adalah seperti seorang gembala yang ingin membawa semua dombaNya ke padang rumput yang hijau. Orang-orang sedemikian diberkati Tuhan dalam hidup mereka, karena mereka mau menuruti panggilan Tuhan.

Ayat pembukaan diatas mengambarkan bagaimana Tuhan gembala kita membawa kita, domba-dombaNya, ke padang yang berumput hijau. Tetapi dalam kenyataannya, ada domba-domba yang berhenti pada suatu tempat dan tidak mau mengikuti Dia karena adanya sejengkal rumput hijau didepan mata. Mungkin juga ada domba-domba lain yang ingin menemukan padang rumput dengan usaha sendiri. Domba- domba yang sedemikian sudah mengabaikan rasa takut kepada si Gembala. Orang-orang semacam itu mungkin yakin bahwa kebahagiaan dapat ditemukan melalui kesuksesan, kekayaan, kemasyhuran yang dicapai dengan segala cara, termasuk cara-cara yang tidak jujur atau melanggar hukum.

Hari ini, dalam memikirkan apakah harapan apa yang terbaik untuk orang-orang yang kita kasihi dan untuk kita sendiri pada tahun yang akan datang ini, biarlah kita tidak ragu untuk berharap agar semua orang bisa menumbuhkan rasa takut akan Tuhan kita yang mahakuasa, mahatahu, mahakasih dan mahabijaksana. Dengan itu tahun yang baru bisa diisi dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyertai kita.