Hidup kita bagaikan emas

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya.” 1 Petrus 1: 6 – 7

See the source image

Barangkali anda masih ingat akan sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris  “Life is not meant to be easy” yang berarti “Hidup tidak dimaksudkan untuk mudah”. Ungkapan ini pertama kalinya dipakai oleh George Bernard Shaw (1856-1950), seorang penulis cerita sandiwara dari Irlandia yang mendapat hadiah Nobel dalam Sastra pada tahun 1925. Sebenarnya, apa yang ditulisnya berbunyi ““Life is not meant to be easy, my child; but take courage: it can be delightful”, yang artinya “Hidup ini tidak dimaksudkan untuk menjadi mudah, anakku, tetapi jangan takut: itu bisa menjadi sesuatu yang bisa dinikmati”. Ungkapan ini seringkali dianggap sebagai tanggapan manusia atas keadaan yang kurang baik yang mau tidak mau harus dihadapinya.

Adalah menarik bahwa seorang perdana menteri Australia, Malcolm Fraser (1930 – 2015), pernah menyebutkan umgkapan yang serupa tetapi dengan maksud yang berbeda. Ia berpendapat bahwa dalam hidup ini orang tidak perlu mencari jalan yang mudah untuk memperoleh apa yang baik. Dengan demikian kemudahan bukanlah sesuatu yang baik. Betulkah?

Pada saat ini keadaan perekonomian dunia sudah menjadi kacau balau karena dampak COVID-19. Wabah belum lagi selesai, tetapi jutaan orang sudah kehilangan pekerjaan dan harus bergantung pada bantuan sosial dan tunjangan pemerintah, itu pun jika ada. Bagi mereka yang tidak mempunyai uang tabungan dan tidak bisa mendapat bantuan sosial, masa depan yang suram sudah tentu bisa dibayangkan. Bagaimana mereka bisa bertahan jika kekacauan ini berlangsung untuk waktu yang lama?

Bagi mereka yang sangat menderita, ungkapan “Life is not meant to be easy” tidak akan berguna untuk menambah semangat berjuang. Setiap orang pada saat yang kritis tentunya ingin untuk bisa survive dengan cara apa saja. Hidup ini sudah berat dan karena itu tidak ada orang yang ingin mencari tantangan hidup yang lebih besar. Siapakah yang mau menderita lebih banyak dan berharap untuk bisa mendapatkan apa yang menyenangkan?

Penderitaan seseorang memang sering terasa sangat berat dan tidak mempunyai makna selain menambah kesusahan dan rasa putus asa. Memang kalau hidup ini hanya sekali saja dan itu sering terisi duka cita, bagaimana ia bisa berharap akan masa depan? Dalam penderitaan waktu berlalu sangat lambat. Itu karena adanya pikiran bahwa semua penderitaan dan masalah hidup adalah kesia-siaan. Tidak ada kebahagiaan dalam penderitaan yang dialami manusia, dan semua penderitaan agaknya membawa kehancuran hidup manusia. Itu benar jika hidup manusia hanya hidup secara jasmani di dunia ini.

Ayat di atas menyatakan bahwa untuk orang percaya, harapan akan kebahagiaan tidak harus dipenuhi secara jasmani di dunia ini. Sebaliknya, selagi hidup di dunia yang fana ini kita seringkali berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Semua itu tidak sia-sia karena dengan  adanya masalah dan dukacita, kemurnian iman kita akan terlihat. Jika emas di dunia ini dimurnikan dengan api, iman kita yang jauh lebih berharga dari emas, diuji dengan berbagai halangan, masalah dan penderitaan sehingga iman itu justru bisa tumbuh makin kuat.

Dengan adanya berbagai kesulitan hidup, kita akan bisa menghilangkan rasa angkuh dan tidak peduli akan Tuhan dan sesama kita. Dengan adanya berbagai masalah hidup, kita bisa kembali bergantung sepenuhnya kepada bimbingan Tuhan dan mau merendahkan diri kita di hadapan tahtaNya. Dengan adanya penderitaan dalam hidup kita, kita juga akan lebih bisa merasakan penderitaan orang lain dan mau menolong mereka yang lebih menderita.  Dengan demikian, dalam menghadapi berbagai tantangan hidup kerohanian kita makin lama akan menjadi makin baik dan makin menyerupai apa yang sudah diperlihatkan Yesus kepada kita. Oleh karena itu, harapan kita akan masa depan juga akan makin besar, yaitu harapan akan puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya. Tetaplah teguh dalam iman!

“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” Ayub 23:10

Menurut adalah lebih baik dari memberi persembahan

Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” 1 Samuel 15: 22

See the source image

Tidak dapat disangsikan bahwa wabah COVID-19 sudah membuat kacau kehidupan manusia di seluruh penjuru dunia. Dengan adanya pembatasan sosial, orang tidak dapat melakukan aktivitas rutinnya karena berbagai kantor, pabrik, sekolah, universitas dan bahkan gereja yang tidak dapat berfungsi seperti biasa.  Keadaan ekonomi pun menjadi sangat buruk karena banyak orang yang kehilangan pekerjaan, dan oleh sebab itu pemerintah harus melakukan berbagai tindakan untuk menolong mereka yang kehilangan mata pencahariannya, dan juga membantu pemilik perusahaan yang kegiatannya harus dihentikan untuk sementara waktu.

Di Australia, saat ini bukan hanya perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Universitas juga mengalami krisis luar biasa karena jumlah murid untuk semester yang akan datang pasti akan berkurang, terutama murid yang datang dari luar negeri. Berbagai badan sosial juga mengalami hal yang serupa, karena makin berkurangnya orang yang bisa menyumbang dan makin banyaknya orang yang memerlukan bantuan. Gereja dalam hal ini mengalami penyusutan uang masuk karena  kebaktian yang sekarang diganti dengan siaran online melalui internet membuat banyak jemaat tidak bisa mempersembahkan uang kolekte seperti biasanya. Dalam hal ini, jemaat yang setia tentunya tetap merasakan dorongan untuk mempersembahkan apa yang sudah biasa dilakukan setiap minggu selagi kebaktian di gereja masih ada.

Membawa pesembahan untuk Tuhan bagi umat Kristen adalah suatu keharusan yang timbul dari diri sendiri. Persembahan haruslah dilakukan dengan sukarela dan bukan dengan perasaan duka atau terpaksa. Persembahan kepada Tuhan sudah dilakukan manusia sejak awalnya, dan itu kita bisa baca di kitab Kejadian 4: 3 – 4 ketika Kain dan Habel mempersembahkan sebagian dari hasil kerja mereka, sebagai tanda ucapan syukur atas pemeliharaan Tuhan. Sebagai umat Kristen kita tahu bahwa apa pun persembahan kita, itu sebenarnya berasal dari Tuhan. Segala sesuatu adalah milik Tuhan, dan persembahan kita adalah sebagai pernyataan kasih kita kepadaNya.

Apakah persembahan yang paling disukai Tuhan? Dari kisah Kain dan Habel, mungkin sebagian orang merasa bahwa Tuhan tidak menyukai sayur-mayur dan buah-buahan seperti yang sudah dipersembahkan oleh Kain. Tetapi Tuhan mungkin Ia lebih menyukai korban persembahan yang berupa daging berlemak yang berasal dari anak kambing atau domba yang sulung, seperti yang sudah dipersembahkan Habel. Pendapat sedemikian adalah kurang benar, karena persembahan daging adalah berhubungan dengan kebiasaan saat itu yang diteruskan turun-temurun di antara umat Israel. Persembahan yang disukai Tuhan adalah persembahan dari hati yang tulus dan bersyukur kepadaNya.

Dalam Perjanjian Baru kita mengerti bahwa bukanlah apa yang kita bawa ke gereja adalah yang penting, namun diri kita sendiri yang dipersembahkan kepada Tuhan.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Persembahan materi kepada Tuhan memang bisa dipakai untuk menyatakan kasih dan rasa syukur kita kepadaNya, tetapi tidak ada yang lebih disukai Tuhan daripada penyerahan hidup kita kepadaNya.

Ayat pembukaan kita adalah ucapan Samuel kepada Saul yang bermaksud mempersembahkan sebagian hewan jarahan dari orang Amalek sebagai korban bakaran kepada Tuhan. Samuel menegur Saul karena Tuhan sebelumnya sudah memerintahkan Saul untuk memusnahkan bangsa Amalek dan seluruh ternak mereka, tetapi Saul membiarkan tentaranya untuk membawa pulang hewan peliharaan orang Amalek. Samuel berkata bahwa Tuhan membuat perbedaan yang besar antara korban persembahan dan mendengarkan suaraNya.  Bagi Tuhan, mendengarkan perintahNya adalah lebih baik dari pada korban sembelihan.

Bagi kita di zaman ini, hal menurut perintah Tuhan adalah lebih penting daripada hal mempersembahkan materi. Jika kita hidup dengan menurut perintahNya, kita adalah orang yang mempersembahkan hidup kita. Bagi Tuhan manusia ciptaanNya adalah lebih berharga dari makhluk atau benda apa pun di dunia. Karena itu Ia mengharapkan persembahan hidup manusia yang kudus dan berkenan kepadaNya. Jika kita mau hidup sesuai dengan perintahNya, Ia akan menunjukkan kemurahanNya dalam hidup kita sehingga kita akan bisa mempersembahkan hal-hal lain yang sudah kita terima sebagai berkatNya sebagai ucapan syukur kita.

 

Kuatkan dan teguhkan hatimu

“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, kemana pun engkau pergi.” Yosua 1: 9

Fruit in the Bible - Biblical Archaeology Society

Yosua adalah nama anak laki-laki yang berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “Tuhan adalah keselamatanku”. Di Indonesia, banyak orang memakai nama yang serupa yaitu Yusak yang sebenarnya berasal dari bahasa Arab YūshaJoshua berasal dari nama Ibrani Yehoshu’a, dari akar kata yeho, mengacu pada Tuhan, dan yasha ’, yang berarti “untuk menyelamatkan ‘. Yosua berbagi asal-usul dengan nama Yesus, yang berasal dari variasi bahasa Aram Yeshu’a. Seorang tokoh penting dalam Perjanjian Lama, Yosua bin Nun adalah penerus Musa yang akhirnya memimpin bangsa Israel ke Tanah Perjanjian, Kanaan. Nama Yosua yang sebenarnya adalah Hosea bin Nun dari suku Efraim, tetapi Musa memanggilnya Yehoshu’a (Yosua) seperti yang tertulis di kitab Bilangan 13:16. Yosua dilahirkan di Mesir sebelum bangsa Israel ke luar dari tanah Mesir, dan meninggal pada usia 110 tahun di Kanaan (Yosua 24: 29).

Alkisah, bangsa Israel pada saat itu sampai ke padang gurun Paran, yang berbatasan dengan tanah Kanaan. Tuhan menyuruh Musa mengirim 12 orang pengintai, satu orang dari masing-masing suku Israel, untuk mengintai tanah Kanaan, yang akan diberikan Tuhan kepada orang Israel. Dari suku Efraim dipilih Hosea bin Nun. Sesudah lewat 40 hari pulanglah mereka dari pengintaian negeri itu, dan langsung datang kepada Musa, Harun dan segenap umat Israel di Kadesh, di padang gurun Paran. Mereka membawa pulang kabar kepada keduanya dan kepada segenap umat itu dan memperlihatkan kepada sekaliannya hasil negeri itu. Tetapi mereka juga menjelaskan bahwa penghuni tanah itu adalah orang-orang yang kuat dan tinggi besar.

Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri Kanaan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada Tuhan, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang Tuhan menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.” (Bilangan 14: 7 -9). Tetapi, mendengar ucapan mereka, orang Israel lainnya mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu.

Sebagai  kepala-kepala suku, Yosua dan Kaleb mungkin bisa kita bayangkan sebagai orang-orang yang sudah sepantasnya tegas dan berani. Bukan saja mereka berani melakukan pengintaian, mereka juga berani untuk mengajak bani Israel untuk maju terus menuju Tanah Perjanjian sekalipun itu bisa membahayakan jiwa mereka. Tetapi, sebenarnya mereka tidaklah berbeda dengan banyak pemimpin suku yang lain. Secara manusiawi, mereka pasti bisa membayangkan bahwa adalah sulit bagi bangsa Israel untuk menang melawan orang Kanaan. Secara manusia, mereka tentunya takut akan ancaman masa. Walaupun demikian, secara rohani mereka adalah orang-orang yang berbeda dari orang yang lain. Rahasia keberanian Yosua dan Kaleb adalah kepercayaannya kepada Tuhan. Karena itu Tuhan melindungi mereka sampai mereka berhasil memasuki tanah Kanaan.

Pagi ini, banyak orang di dunia yang merasakan bahwa perjalanan hidup mereka sudah mencapai saat kritis. Untuk menghadapi hari depan terasa begitu berat karena adanya berbagai ancaman dan masalah. Untuk mundur ke masa lalu bukanlah satu hal yang mungkin, karena itu hanya membawa rasa sesal. Satu-satunya kemungkinan hanyalah tetap menghadapi masa depan dan maju terus. Tetapi, masa depan kita adalah seperti tanah Kanaan yang dihuni oleh raksasa-raksasa. Secara manusiawi kita layak merasa kuatir dan takut, apalagi ada banyak orang yang tidak bisa atau mau mendukung semangat kita. Kita merasa sendiri karena tidak banyak orang di sekitar kita yang percaya bahwa Tuhan akan menyertai orang yang taat kepadaNya. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan sudah memerintahkan Yosua untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya. Seperti Yosua, sebagai orang percaya kita tidak perlu untuk kecut dan tawar hati, sebab Tuhan Allah kita akan menyertai kita, kemana pun kita pergi. Kita adalah Yosua karena kita percaya bahwa Tuhan adalah keselamatan kita.

Jangan ragukan Tuhan

Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lukas 24: 36 – 38

See the source image

Bagi banyak orang munculnya kasus COVID-19 adalah sebuah kejutan. Sebenarnya, kasus ini untuk pertama kalinya muncul di akhir tahun 2019, ketika sebuah penyakit misterius dilaporkan di Wuhan, China. Penyebab penyakit ini segera dikonfirmasi sebagai jenis baru coronavirus (SARS-Cov-2) yang sejak itu menyebar ke banyak negara di seluruh dunia. Pandemi virus ini dipastikan telah mencapai Australia pada 25 Januari 2020 di propinsi Victoria, ketika seorang pria yang kembali dari Wuhan, dinyatakan positif. Sejak itu, pemerintah Australia memulai persiapan untuk menghadapi datangnya pandemi. Pada tanggal 30 Januari 2020, WHO sudah mendeklarasikan wabah ini sebagai ancaman kesehatan masyarakat internasional; tetapi Direktur Jenderal WHO baru menetapkan COVID-19 sebagai pandemi pada tanggal 11 Maret 2020. Sebagai akibatnya, perbatasan Australia ditutup untuk semua orang yang bukan penduduk  mulai tanggal 20 Maret 2020.

Adanya kejutan yang datang dalam hidup manusia sebenarnya tidak harus diterima sebagai hal yang luar biasa. Adalah normal jika apa yang tidak disangka muncul pada suatu saat. Walaupun demikian, apa yang tidak disangka dan bisa membuat kejutan besar adalah munculnya hal-hal signifikan yang tidak diinginkan, yang membuat orang kelabakan. Selain itu, kejutan mungkin terjadi jika sesuatu yang menakutkan atau mengerikan muncul dengan tiba-tiba di depan mata. Mereka yang terkejut bisa saja mengalami kelumpuhan atau merasa lemah, setidaknya untuk sementara, karena tidak mengerti apa yang sudah terjadi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pada pihak yang lain, kejutan belum tentu merupakan hal yang buruk, karena kabar baik yang datang secara tiba-tiba juga bisa membuat orang kaget, tidak percaya dan kehilangan akal sehat.

Pada saat itu murid-murid Yesus sedang berkumpul dan bercakap-cakap tentang Yesus yang sudah bangkit dan menampakkan diri kepada Simon. Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!” . Sekalipun mereka mendengar bahwa Yesus sudah bangkit, para murid ternyata tidak yakin akan hal itu. Sekalipun apa yang terjadi adalah sesuatu yang baik, mereka tetap terkejut. Bagaimana manusia bisa bangkit setelah dikubur tiga hari?  Tidaklah mengherankan bahwa mereka terkejut dan takut, dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Manusia biasa tidak dapat bangkit dari kematian dan tidak dapat muncul dengan tiba-tiba tanpa melalui pintu masuk. Mereka dapat melihat adanya Yesus tetapi ragu-ragu apakah itu benar-benar  Dia. Karena itu Yesus berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? “.

Mengapa kita harus terkejut melihat datangnya kekacauan di dunia? Mengapa kita terkejut jika ada hal yang tidak disangka datang? Dan mengapa pula kita harus terkejut jika kita diingatkan bahwa Tuhan yang mahahadir tentunya ada di tengah badai kehidupan kita? Perasaan dan pikiran kita mungkin kurang bisa menerima bahwa kekacauan yang terjadi di dunia saat ini tidaklah lepas dari pandangan mata Tuhan. Tuhan tidak mungkin ada ditengah malapetaka yang sudah membuat kita terkejut dan takut. Jika Tuhan memang ada, tentunya semua bencana ini tidak akan  terjadi, begitu mungkin pikir banyak orang.

Walaupun demikian, seperti apa yang terjadi pada murid-murid Yesus, Tuhan yang tidak pernah kehilangan kontrol atas keadaan dunia ini pada waktunya bisa membuat kita heran dengan apa yang diperbuatNya. Jika kita ragu-ragu bahwa Ia ada dimana-mana dan Ia mahakuasa dan mahakasih, adalah sulit bagi kita untuk mengharapkan munculnya Tuhan.  Sebaliknya, jika kita yakin bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa, kita akan mempunyai keyakinan bahwa pada saat yang tepat Ia akan muncul dan menyatakan kuasa pertolonganNya. Jangan takut, jangan ragu-ragu dan jangan sampai terkejut jika Ia bertindak! Damai sejahtera pasti datang bagi orang yang percaya!

 

Pengalaman manakah yang membawa pengertian?

“Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” Markus 6: 51 – 52

See the source image

Apakah pengalaman adalah guru yang terbaik? Banyak orang yang berkata begitu. Tetapi, jika pengalaman adalah sesuatu yang berguna, dalam kenyataannya tidak semua orang mau atau bisa belajar darinya. Mereka yang keras kepala misalnya, tidak mau gampang-gampang menyerah dengan adanya hasil yang kurang baik dari usahanya, dan karena itu ingin terus mencoba usaha yang sama dengan harapan bahwa lain kali hasilnya akan lebih baik. Selain itu, ada orang yang tidak bisa mengerti bahwa apa yang sudah pernah dilakukannya dan gagal adalah sesuatu yang kurang baik, dan karena itu ia tetap ingin melakukannya. Mereka yang tidak mau atau tidak bisa belajar dari pengalaman adalah orang-orang yang tidak bijaksana.

Pada pihak yang lain, pengalaman yang dialami seseorang belum tentu bisa dipakai sebagai pedoman untuk masa depan. Pengalaman seseorang yang bersangkutan dengan hubungannya dengan orang lain atau situasi tertentu memang bisa memberi pelajaran berharga, tetapi belum tentu bisa dipakai untuk mengatasi persoalan yang serupa di masa depan. Itu karena keadaan bisa berubah: orang dan situasi yang dihadapi di masa depan mungkin saja berbeda dan itu memerlukan pendekatan yang berbeda. Pengalaman memang memberi pengetahuan empiris, tetapi itu belum tentu bisa dipakai untuk masa depan karena apa yang ada dan terjadi di dunia selalu berubah-ubah.

Pada waktu itu, murid-murid Yesus baru saja menyaksikan suatu mukjizat dimana Yesus memberi makan lima ribu orang dengan modal lima roti dan dua ikan. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia di dunia, tetapi Yesus sudah memungkinkannya. Apa yang dipikirkan murid-murid Yesus ketika itu? Tentunya mereka heran dan takjub melihat bagaimana Guru mereka bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya hanya bisa terjadi dalam alam mimpi. Pengalaman yang luar biasa itu tentunya membekas dalam pikiran dan hati mereka. Jika mereka mau dan bisa belajar dari pengalaman mereka, tentu mereka akan berubah menjadi orang yang percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Yesus. Sekalipun dalam penampilannya Yesus terlihat lemah lembut dan sederhana, Yesus adalah orang yang luar biasa dan tidak ada tandingnya.

Tidak setiap orang mau dan bisa belajar dari pengalaman. Murid-murid Yesus ternyata tergolong kedalam jenis orang yang sedemikian. Mereka adalah orang yang tidak bijaksana. Karena itu, ketika mereka kemudian berperahu dan ditimpa angin badai, mereka menjadi takut. Mereka sudah lupa bahwa Yesus yang baru saja memberi makan lima ribu orang itu tentunya bukan manusia biasa. Pengalaman luar biasa yang dialami mereka sebelumnya ternyata tidak ada gunanya.

Kita yang percaya bahwa pengalaman belum tentu merupakan guru yang terbaik karena semua itu bersifat empiris dan hanya berlaku untuk keadaan waktu itu, mungkin ingin membela murid-murid Yesus. Bagaimana mereka bisa percaya bahwa Yesus bisa berjalan di atas air dan menenangkan angin badai? Memang benar Yesus sudah membuat mukjizat dengan lima roti dan dua ikan, tetapi apakah Yesus bisa membuat keajaiban yang menundukkan hukum alam? Yesus tidak akan bisa berjalan di atas air dan menghentikan topan! Begitu pikir mereka.

Dalam kehidupan kita, mungkin kita tahu batas-batas dimana pengalaman kita yang lalu bisa berguna untuk menghadapi masalah di hari depan. Kita mungkin bisa mengekstrapolasi apa yang kita alami pada masa yang lalu untuk bisa diterapkan di masa depan. Tetapi, kita mungkin tahu bahwa situasi yang berbeda di masa depan membuat kita tidak bisa memegang pengalaman kita sebagai guru yang terbaik. Keterbatasan manusia dan perbedaan situasi seringkali membuat kita meragukan manfaat pengalaman kita. Itu bisa dimengerti, kecuali untuk satu pengalaman. Pengalaman yang kita alami dalam hidup karena campur tangan Tuhan tidak boleh diabaikan karena Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa yang tidak bisa dikalahkan oleh situasi dunia dan keterbatasan manusia. Jika Tuhan mampu melakukannya pada waktu yang silam, Ia juga dapat melakukannya di masa depan jika Ia menghendakinya.

Pagi ini, adakah kemasygulan di hati kita karena adanya banyak masalah di sekeliling kita? Adakah kekuatiran dan ketakutan karena bahaya yang muncul di mana-mana? Pengalaman hidup kita mungkin mencoba meyakinkan kita untuk tidak kuatir, tetapi pikiran kita tidak dapat meyakini bahwa Tuhan akan dapat menolong kita. Seperti murid-murid Yesus yang sudah melihat satu mukjizat besar tetapi tetap tidak sadar siapakah Yesus itu, kita mungkin tidak mengerti bahwa manusia dan situasi dunia yang berubah-ubah tidak dapat mengubah kasih dan kuasa Tuhan. Biarlah pengalaman kita yang lalu dimana Yesus dengan kasihNya menebus kita dan membawa kita ke jalan keselamatan, bisa meyakinkan kita bahwa Ia juga akan membimbing kita melalui jalan yang berat saat ini untuk menuju kemenangan dan kedamaian!

Berharap untuk masa depan

“Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 24:14

Jika kita membaca media hari-hari ini, seolah hanya kabar buruklah yang ada. Pandemi COVID-19 sudah memporak-porandakan banyak negara, termasuk negara-negara yang besar dan kaya. Jika akhir pandemi ini belum bisa ditentukan sebelum adanya vaksin, krisis ekonomi, sosial, hukum dan politik sudah mulai muncul di beberapa negara. Dengan banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan, kebutuhan sehari-hari semakin sulit untuk diperoleh. Apalagi harga bahan makanan pun mulai naik karena produksi dan distribusi yang terganggu dengan adanya wabah ini. Dengan keadaan yang makin sulit ini, bagaimana kita bisa berharap untuk dapat melalui tahun 2020  dengan selamat?

Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan kapan krisis pandemi ini bisa diatasi. Jika ada orang yang mencoba membuat prediksi tentang hal itu, semuanya hanya berdasarkan asumsi-asumsi tertentu yang belum tentu benar. Yang pasti, dunia ini akan berada dalam keadaan “sakit” paling tidak sampai akhir tahun ini. Pandangan yang suram dan pesimistik? Mungkin sebagian orang berpendapat begitu. Memang ada orang yang percaya bahwa semua ini akan berakhir dengan cepat dan karena itu mereka ingin segera memulai aktivitas kehidupan mereka secepatnya. Tetapi, sebagian yang lain agaknya merasa bahwa mereka harus lebih sabar untuk menderita, karena mereka tidak ingin untuk mengalami kesulitan yang lebih besar di kemudian hari. Keputusan mana yang terbaik?

Kebijaksanaan untuk mengambil keputusan harus dipunyai semua orang. Masa depan sepenuhnya ada di tangan kita, begitu sebagian orang berpendapat. Tetapi, sebagian orang sebaliknya yakin bahwa masa depan manusia ada di tangan Tuhan sepenuhnya. Mana yang benar? Bagi umat Kristen, sudah tentu apa saja yang terjadi adalah seizin Tuhan dan sesuai dengan rancanganNya. Tetapi ini bukan berarti manusia tidak perlu mengambil keputusan untuk mengatur hidupnya. Manusia harus menggunakan hikmat kebijaksanaan yang diterimanya dari Tuhan untuk dapat mengatur seisi dunia seperti apa yang diperintahkan Tuhan sejak awalnya (Kejadian 1: 28). Menolak tanggung jawab untuk berusaha dan bekerja dengan demikian adalah dosa.

Dalam berusaha dan bekerja manusia haruslah melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Jika manusia hanya melakukan apa yang dikehendakinya, Tuhan bisa menghentikan atau mengubah arah tujuannya agar sesuai dengan rancanganNya. Tuhan yang berkuasa tidak akan kehilangan jejak atau terlena jika manusia melakukan tindakan apa pun di dunia, dan dihadapanNya tidak ada seorang pun yang bisa menyembunyikan dosa dan kesalahannya.  Bagi kita umat Kristen, sudah sepatutnya kita bekerja dan menjalankan tugas kita seperti yang dikehendakiNya. Kita harus memakai hikmat kebijaksanaan yang ada pada kita untuk bisa mencapai hasil yang baik. Hikmat kebijaksanaan dan hasil baik yang bagaimana?

Jika manusia hanya memakai hikmat dan kebijaksanaannya sendiri, apa yang diperbuatnya hanya menghasilkan sesuatu yang bodoh dimata Tuhan. Manusia tanpa Tuhan adalah bagaikan layang-layang yang ingin terbang tinggi tanpa menyadari bahwa talinya sudah putus.

Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.”`1 Korintus 3: 19

Hikmat kebijaksanaan hanya bisa diperoleh dari Tuhan. Hanya dengan mengenal Tuhan dan perintahnya, manusia akan dapat bekerja dan mengambil tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka yang tidak takut akan Tuhan tidaklah mengenal Tuhan, dan karena itu mereka tidak dapat mengerti bahwa hidup mereka seharusnya untuk memuliakan Tuhan.

Pagi ini, kita sadar bahwa tantangan dan perjuangan besar ada di depan kita. Tetapi kita juga sadar bahwa Tuhan adalah lebih besar dari semuanya. Karena itu, dengan menyadari kuasa Tuhan, marilah kita hidup dengan rasa takut akan Dia. Takut bukan berarti kita merasa bahwa Ia kejam, sebaliknya kita percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ia menghendaki umatNya untuk mempunyai hidup yang berbahagia dan karena itu mau mengaruniakan hikmat kebijaksanaan kepada mereka yang tunduk kepadaNya. Dengan hikmat kebijaksanaan dari Tuhan, kita akan mempunyai harapan untuk masa depan.

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” Mazmur 111:10

Jangan lemah atau putus asa jika ada orang yang membenci kita

“Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” Ibrani 12: 3

Mencari teman adalah sukar, tetapi musuh datang tanpa diundang. Begitulah bunyi sebuah kata mutiara kuno. Memang itu ada benarnya, karena selama hidup ini kita lebih mudah untuk menperoleh musuh daripada menemukan seorang teman sejati. Apalagi, sebuah kata mutiara yang lain mengatakan bahwa jika kita hanya mempunyai satu musuh, itu sudah terlalu banyak. Lalu bagaimana kita harus bertindak dalam hidup agar kita tidak mempunyai musuh? Bisakah kita berusaha agar tidak ada seorang pun yang membenci kita? Barangkali kita harus berusaha menyenangkan semua orang? Sayang sekali, kata mutiara lain mengatakan bahwa tidaklah mungkin bagi kita untuk membuat semua orang puas akan apa yang kita lakukan.

Jelas bahwa dalam hidup di dunia, setiap orang selalu menemui adanya orang yang kurang menyenangi, dan bahkan membenci dirinya. Mungkin orang yang membenci kita adalah orang yang kurang mengenal kita, tetapi mungkin juga orang itu justru adalah orang yang sering bertemu dengan kita dan bahkan mungkin adalah anggota keluarga kita sendiri! Mereka yang dulunya mengenal kita dan bahkan dekat dengan kita, suatu saat bisa saja berubah menjadi musuh kita karena adanya hal-hal yang disengketakan. Dalam hal ini, orang yang memusuhi kita bisa saja sangat membenci kita dan menunjukkan sikap permusuhan (hostility) yang luar biasa. Dengan demikian, bukan saja hubungan antara kita dengan orang itu yang menjadi rusak, tetapi suasana kehidupan kita pun bisa terpengaruh dan berubah menjadi suram dan pahit.

Yesus yang sudah turun ke dunia, pada waktu mudanya agaknya tidak mempunyai musuh. Tetapi, ketika Ia memulai pekerjaan yang diperintahkan Allah BapaNya, Yesus mulai menjumpai orang-orang yang tidak menyenangiNya karena Dia mengajar banyak orang dengan wibawa  dan karisma yang luar biasa.  Tambahan lagi, karena kata-kataNya yang pedas kepada orang Farisi dan Saduki, kebencian orang-orang ini kepada Yesus makin lama makin bertambah besar, sampai pada akhirnya menyebabkan penyalibanNya. Ia dibawa ke kayu salib seperti seekor domba yang dibawa ke pembantaian.

“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” Yesaya 53: 7

Dalam ayat pembukaan di atas, penulis Ibrani menyatakan bahwa kita harus selalu ingat bahwa Yesus dengan tekun menanggung permusuhan yang luar biasa terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa. Mereka yang memusuhiNya pada waktu itu bukan saja orang Farisi dan Saduki tetapi  juga orang Israel lainnya, yang dulunya mengelu-elukan Dia sebagai raja, tetapi kemudian kecewa. Dalam konteks yang lebih luas, sebenarnya semua umat manusia yang berdosa sudah memusuhiNya, dan itu termasuk diri kita. Karena kita juga, Yesus sudah menanggung hukuman yang luar biasa dan mati di kayu salib. Yesus mati karena dosa kita.

Pagi ini, ingatkah kita bahwa Yesus dengan tekun menjalani hidupNya di dunia sebagai manusia biasa dan kemudian mengembara tanpa mempunyai tempat kediaman atau tempat untuk membaringkan kepalaNya hanya untuk menjalankan tugas penyelamatan manusia, termasuk diri kita?

Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Matius 40: 20

PengurbananNya yang luar biasa seharusnya mengingatkan kita, yang saat ini mungkin menderita karena adanya orang-orang yang membenci kita, bahwa seperti Ia yang sudah dengan sabar dan tekun menderita karena dosa kita, kita seharusnya bisa tetap teguh dan kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup kita. Apa yang kita alami dari orang lain sekarang ini tidaklah sebanding dengan apa yang sudah dialami Yesus.

“Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.” Ibrani 12: 4

Biarlah kita tetap bisa bersabar dalam hidup ini karena keyakinan bahwa penderitaan Kristus sudah memungkinkan kita  pada akhirnya untuk menerima mahkota kehidupan. Lebih dari itu, kasihNya yang luar biasa yang diberikan kepada kita orang berdosa, adalah kasih yang harus kita bagikan kepada sesama kita, termasuk orang-orang yang memusuhi kita.

Jangan heran kalau melihat jahatnya dunia

“Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.” 2 Timotius 3: 12 -13

See the source image

Dalam situasi yang tidak menentu sekarang ini, banyak orang yang merasa gundah. Bukan saja karena adanya pandemi  orang merasa kuatir, tetapi dampaknya yang besar pada keadaan ekonomi dan kestabilan politik di seluruh dunia bisa menyebabkan orang menjadi takut. Berjuta-juta orang sudah kehilangan pekerjaan dan adanya banyak orang yang membutuhkan bantuan bahan makanan dan obat-obatan di minggu-minggu mendatang membuat banyak pemimpin negara berada dalam keadaan sulit. Pada suasana yang mulai kacau itu, ada orang-orang yang berusaha mengambil keuntungan dengan menyebarkan berbagai berita palsu yang sebagian untuk memperoleh keuntungan finansial dan ada juga yang untuk memperoleh rasa puas karena dapat menipu orang lain atau membuat kekacauan. Mengapa ada orang-orang jahat seperti itu yang memanfaatkan keadaan?

Orang yang jahat sudah ada sejak mulanya. Dalam kenyataannya Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang memberontak dari Tuhan. Anak mereka yang bernama Kain kemudian membunuh saudaranya yang bernama Habel. Sejak itu sejarah menunjukkan bagaimana manusia saling menjahati, dan bangsa-bangsa saling menyerang dan saling membunuh. Walaupun demikian, dengan bertambah majunya kebudayaan umat manusia selama berabad-abad, keadaan dunia kelihatannya menjadi makin baik dalam banyak hal. Dalam hal ini, ada pertanyaan apakah manusia menjadi makin baik atau makin jahat. Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa secara umum manusia lebih berperikemanusiaan dan juga lebih bertanggung-jawab atas keadaan flora, fauna dan lingkungan. Pada pihak yang lain, orang di zaman ini lebih mampu untuk membinasakan sesamanya dalam jumlah besar, tidak hanya dengan memakai berbagai persenjataan yang serba canggih tetapi juga dengan menggunakan berbagai taktik  di bidang ekonomi, politik dan sosial.

Ayat di atas tanpa ragu menyatakan bahwa dunia ini makin jahat sekalipun kita menganggapnya makin beradab. Mengapa begitu? Dengan kemajuan budaya dan hukum, ternyata mereka yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus tetap mengalami penganiayaan, sedangkan  mereka yang  beriktikad jahat dan gemar menipu justru bertambah banyak dan  bertambah berani.  Untuk memberitakan injil di negara barat sekarang tidak mudah karena banyak orang yang menolak Kristus, sedangkan usaha serupa di negara lain bisa membuat orang masuk penjara atau didera. Di kalangan gereja pun ada banyak orang yang mengaku pengikut Kristus tetapi sebenarnya mereka ingin membuat orang lain menjadi pengikut mereka. Mereka mampu menipu banyak orang karena mereka juga sudah semakin sesat. Mereka yang jahat tidak perlu terlihat jahat; sebaliknya, dengan apa yang mereka perbuat dan katakan orang Kristen mudah terpedaya.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius yang jauh lebih muda, bermaksud mempersiapkannya untuk menjadi pemimpin orang Kristen. Ia memperingatkan bahwa untuk menjadi pengikut Kristus, Timotius tidak dapat mengharapkan hidup yang serba nyaman. Sebaliknya, untuk menjadi orang Kristen sejati orang harus menghadapi resiko bahwa banyak orang akan membenci dan ingin menyesatkannya. Seperti itu juga, kita yang berada di zaman modern ini harus selalu berhati-hati dalam mengarungi hidup di dunia. Khususnya dalam suasana yang sulit saat ini, kita tidak boleh mudah terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang salah yang bukannya membuat  kita berserah kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, tetapi sebaliknya berharap kepada apa yang hanya memuaskan kebutuhan kita saja. Selain itu, kita juga tidak boleh terpengaruh oleh ajaran yang bisa membuat kita meninggalkan kasih kepada sesama, terutama saudara-saudara seiman kita. Sekalipun keadaan bisa menjadi makin berat untuk hidup kita, kita masih harus bersedia untuk mengabarkan injil dan menolong mereka yang hidupnya lebih menderita. Semoga Tuhan melindungi dan menguatkan kita semua!

 

Percayalah kepada Tuhan yang mahakuasa

“Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?” Roma 11: 34 – 35

Adanya masalah besar yang terjadi dalam hidup seseorang bisa menghasilkan setidaknya tiga macam reaksi: marah, sedih dan pasrah. Jika kemarahan terjadi karena adanya perasaan tidak terima, rasa sedih muncul karena perasaan terpukul, dan rasa pasrah keluar karena adanya rasa tidak berdaya. Tentu saja ada juga orang yang menunjukkan ketiga reaksi itu secara bersamaan: yaitu merasa marah dan sedih, tetapi tidak berdaya untuk berbuat apa-apa.

Reaksi seseorang yang muncul tentunya tergantung pada masalah apa yang dialaminya dan apa yang menyebabkannya. Biasanya, jika masalah itu timbul karena kesalahan orang, rasa marahlah yang muncul. Marah kepada diri sendiri, atau kepada orang lain yang dijadikan kambing hitam. Tetapi, jika apa yang buruk terjadi karena perbuatan orang lain yang lebih berkuasa, perasaan marah belum tentu bisa dikeluarkan. Dengan demikian, perasaan sedih atau rasa putus asalah yang timbul dalam hati.

Bagaimana pula jika seseorang merasakan kepahitan yang diduga berasal dari Tuhan? Mungkin dengan adanya kegagalan, kehilangan, bencana dan penyakit yang dialaminya? Ada orang yang marah kepada Tuhan, seperti yang terjadi pada nabi Yunus.

Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.” Yunus 4: 8 – 9

Dan orang yang merasa sedih, seperti raja Daud.

“…mataku merana karena sengsara. Aku telah berseru kepadaMu, ya TUHAN, sepanjang hari, telah mengulurkan tanganku kepada-Mu.” Mazmur 88: 9

Dan ada juga orang yang putus asa seperti Salomo:

“Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia.” Pengkotbah 3: 19

Pada saat ini, banyak orang yang merasakan penderitaan sehubungan dengan adanya pandemi. Banyak orang yang dulunya sehat, sekarang harus dirawat di rumah sakit. Tidak terhitung orang yang sudah kehilangan pekerjaan, dan juga yang kehilangan sanak saudara yang sudah meninggalkan dunia ini. Tuhan seakan menelantarkan umat manusia dan membiarkan mereka untuk berjuang di antara hidup dan mati.

Saat ini, bagaimana perasaan anda kepada Tuhan? Adakah rasa marah, rasa sedih atau rasa putus asa? Sebagai manusia, adalah wajar jika kita mempunyai perasaan-perasaan ini. Walaupun demikian, sebagai orang beriman, kita tidak akan berlama-lama terbenam di dalamnya. Ayat pembukaan kita mengatakan bahwa tidak ada orang yang mengetahui pikiran Tuhan. Tidak ada orang yang bisa menjadi penasihatNya. Lebih dari itu, tidak ada orang yang pernah memberikan sesuatu kepadaNya, sehingga Ia harus menggantikannya.

Tuhan kita adalah Tuhan yang berdaulat. Karena itu kita tidak bisa menuntut Dia untuk melakukan apa yang kita maui. Kita tidak sepatutnya marah kepada Dia jika kita kehilangan apa yang kita sayangi. Pada pihak yang lain, kita tidak perlu berputus-asa karena menyangka bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Tuhan memang tidak membutuhkan nasihat kita, tetapi itu karena Ia adalah Tuhan yang mahabijaksana dan mahakasih. Ia tidak membutuhkan apa pun dari diri kita, kecuali kasih kita; itu karena Ia sudah lebih dulu mengasihi kita dengan memberikan AnakNya yang tunggal untuk menyelamatkan kita. Karena itu, dengan iman kita percaya kepada Dia yang sanggup memberikan rasa damai, sukacita dan keberanian untuk menghadapi hari depan.

Darimanakah datangnya kekuatan kita?

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” 1 Korintus 1: 18

See the source image

Jika teringat akan masa muda, pikiran mau tidak mau melantur dan membayangkan betapa mudahnya bagi saya untuk pergi kemana-mana dengan mengendarai sepeda motor. Hujan, panas, angin maupun mendung tidak akan menghalangi kepergian saya. Heran, setelah memasuki usia senja, keinginan untuk “keluyuran” tidak lagi ada. Bahkan, sekalipun ada ajakan untuk pergi bermobil untuk bertamasya, membayangkan bagaimana jauhnya tempat yang dituju sudah bisa membuat semangat saya padam. Walaupun demikian, satu keuntungan dengan bertambahnya usia, adalah bertambahnya pengalaman. Dengan makin banyaknya pengalaman, orang mungkin bisa menjadi semakin bijak. Benarkah? Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa menarik manfaat dari bertambahnya umur.

Ayat di atas menyebutkan bahwa bagi sebagian orang, pengurbanan Yesus di kayu salib adalah sesuatu yang tidak ada artinya. Mereka mungkin tidak bisa mengerti mengapa Allah harus mengubankan AnakNya untuk  menebus manusia yang berdosa. Sebagian orang percaya bahwa dengan tidak melakukan kejahatan dan dengan banyak berbuat baik, mereka akan bisa masuk ke surga. Selain itu ada juga orang yang percaya bahwa hidup hanyalah ada di dunia, dan setelah mati manusia tidak lagi mempunyai eksistensi. Bagi orang-orang semacam ini, pemberitaan tentang salib adalah suatu kebodohan saja. Mereka tidak sadar bahwa tanpa pengurbanan Yesus, mereka akan binasa.

Orang bisa melihat arti pengurbanan Yesus di kayu salib hanya karena berkat Tuhan semata-mata. Mereka adalah orang-orang yang sudah berubah dari hidup lama mereka yang hanya berpusat pada diri sendiri. Allah sudah membuka hati dan pikiran mereka sehingga sekalipun segala sesuatu pada mulanya sulit dimengerti, Roh Kudus mencelikkan mata mereka sehingga mereka dapat melihat kasih dan kemuliaan Allah. Mereka menyadari bahwa apa yang sudah di nubuatkan dalam kitab Perjanjian Lama, akhirnya terjadi persis seperti yang direncanakan Allah. Adanya kesadaran bahwa Allah sudah merencanakan segala sesuatu dari mulanya untuk menyelamatkan manusia, membuat mereka sadar bahwa Allah adalah benar-benar Oknum yang mahakuasa.

Jika   Tuhan begitu berkuasa dalam melaksanakan rencanaNya, orang yang beriman tentunya tidak mempunyai keraguan bahwa hidup mereka juga berada dalam tanganNya. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup mereka, tentunya terjadi sesuai dengan rencanaNya. Karena itulah, mereka yakin bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup mereka, kekuatan Tuhan senantiasa menaungi mereka. Mereka juga sadar bahwa hidup mereka bukan lagi milik mereka tetapi sepenuhnya milik Kristus.  Usia boleh bertambah dan tubuh lambat laun boleh melemah, tetapi iman mereka semakin hari justru menjadi makin kuat. Dengan demikian, hidup orang yang dinaungi kekuatan Allah bisa menjadi hidup yang senantiasa diperbaharui dalam keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, Allah senantiasa membimbing mereka sampai  saat dimana mereka memperoleh hidup yang kekal.