Domba-domba yang sudah menang

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Roma 8: 35 – 37

Hari ini hari Paskah, hari kebangkitan Yesus Kristus. Yesus yang taat kepada kehendak Allah Bapa, dan karena itu mau disiksa dan disalibkan seperti induk domba yang digunting bulunya dan seperti anak domba yang sudah dibawa ke pembantaian (Yesaya 53: 7), sekarang sudah menang atas maut. Ia tidak lagi dapat di jumpai di liang kubur karena Ia tidak lagi berupa jasad mati yang terkurung tembok.

Jika kematian Yesus menunjukkan besarnya kasih Allah kepada umat manusia, kebangkitanNya membuktikan besarnya kuasa Allah. Jika sebelum Ia bangkit, Yesus mempunyai tubuh seperti kita yang bisa mengalami rasa lelah, sakit, dan takut, sesudah Ia bangkit tidak ada hal duniawi yang bisa membuat Dia menderita. Karena Ia sudah menang atas maut, Ia membuktikan bahwa apa yang pernah dinyatakanNya kepada banyak orang adalah benar: Ia memang Anak Allah. Sebagai Anak Allah ia adalah satu dengan Allah Bapa, dan karena itu Ia mahakuasa dan mahakasih.

Bagi umat Kristen, kematian Kristus adalah keajaiban yang terbesar yang diperbuat Allah Bapa karena kasihNya, yang sudah direncanakanNya sejak dari mulanya. Pada pihak yang lain, kebangkitan Kristus membuat orang Kristen yakin bahwa iman kepada Yesus bukanlah sia-sia, karena pada saatnya kita akan dibangkitkan kembali seperti Dia. Walaupun demikian, pertanyaan yang ada adalah bagaimana kita bisa mempunyai keyakinan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus juga membawa berkat dan kebahagiaan bagi kita selama kita masih hidup di dunia.

Apa untungnya menjadi pengikut Kristus selama kita masih hidup di dunia? Adakah manfaat yang bisa kita peroleh dengan menyadari bahwa Yesus sudah mati dan bangkit untuk kita? Ayat di atas menyatakan karena besarnya kasih Allah yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal, bahaya dan penderitaan apa pun tidak dapat memisahkan kita dari Kristus.

Hari ini mungkin kita merasakan beban kehidupan yang berat dan bisa melihat adanya ancaman bahaya. Walaupun seperti Yesus kita telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan, tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, sebab Yesus sudah menang atas kematian. Dengan demikian, kita adalah domba-domba Kristus yang bisa merasakan damai dan sukacita dalam keadaan apa pun karena adanya harapan untuk masa depan. Karena itu juga, kita bisa hidup dan memuliakan Kristus sepanjang hidup di dunia.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1: 21

Kebangkitan Kristus memberi kepastian

“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” 1 Korintus 15: 14

Adakah hal yang pasti dalam hidup manusia? Banyak orang berpendapat bahwa tidak ada apapun yang pasti. Sewaktu kecil saya pernah mendengar peribahasa “Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”, dan saya percaya bahwa itu benar. Tetapi, setelah dewasa saya bisa melihat adanya orang-orang yang sekalipun rajin dan hemat ternyata tidak sukses hidupnya. Bahkan, dalam suasana perekonomian dunia  di saat COVID-19 ini, ada kemungkinan bahwa banyak orang yang dulunya kaya bisa menjadi bangkrut. Begitu pula orang yang dulunya sehat, bisa jatuh sakit dan bahkan meninggal dunia. Nasib manusia memang seperti sebuah yo-yo yang terkadang di atas, dan terkadang di bawah.

Sekalipun tidak ada sesuatu pun yang bisa dipastikan di dunia, ada beberapa orang yang pernah menyatakan bahwa untuk manusia apa yang bisa dipastikan adalah kematian dan pajak (death and taxes). Salah satu diantara orang-orang itu adalah Benjamin Franklin yang menulis hal ini dalam suratnya kepada Jean-Baptiste Leroy, pada tahun 1789. Memang, setiap orang yang hidup di sebuah negara umumnya harus membayar pajak kepada pemerintah dan akhirnya menemui ajalnya. Dengan demikian, selama hidup di dunia ini orang tidak dapat memastikan  datangnya apa yang baik dan indah, tetapi bisa memastikan apa yang buruk, yaitu pajak dan kematiannya. Hidup manusia agaknya seperti apa yang dikatakan Allah sesudah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa:

“Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Kejadian 3: 17 – 19

Sejak saat itu, hidup manusia agaknya menjadi suram dan tidak mempunyai harapan. Tetapi, karena Allah adalah Tuhan yang mahakasih, Ia tidak membiarkan manusia menderita di dunia untuk selamanya. Tuhan dalam kitab Kejadian juga menyatakan rencana penyelamatan umat manusia; dengan menjanjikan datangnya seorang Manusia yang akan mengalahkan iblis, yaitu Yesus Kristus.

“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kejadian 3: 15

Yesus Kristus mengalami penderitaan di kayu salib, tetapi dengan itu Ia meremukkan kepala iblis. Kematian Yesus menebus manusia yang berdosa dan kebangkitanNya memungkinkan mereka yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat untuk memperoleh keselamatan. Memang selagi hidup di dunia orang percaya tidak akan luput dari berbagai penderitaan seperti kemiskinan  dan penyakit, tetapi mereka mempunyai harapan untuk masa depan, yaitu hidup kekal di surga.

Selagi di dunia, mereka yang percaya tentu saja hanya dapat membayangkan bagaimana indahnya kehidupan di surga, dimana tidak ada lagi tangis dan duka. Tetapi, karena tidak ada seorang pun yang pernah ke surga, hal itu haruslah diyakini dengan iman selama masih hidup di dunia. Itu tidak mudah dilakukan. Apalagi, dengan adanya berbagai masalah hidup, kita akan mudah hilang harapan. Bagaimana jika hidup kekal itu ternyata tidak ada? Bukankah iman kita akan menjadi sia-sia?

Untunglah bahwa hidup kekal memang benar-benar ada karena Yesus yang sudah mengalahkan kematian. Di hari Paskah ini kita merayakan kemenangan Yesus atas iblis dan atas maut, dan karena itu kepercayaan kita tidaklah sia-sia. Bagi umat Kristen apa yang pasti bukanlah penderitaan seperti kematian dan pajak, tetapi adanya hidup yang kekal dalam Yesus Kristus!

Utamakan kasih dalam keadaan apapun

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Pandemi COVID-19 adalah sesuatu yang dipandang sebagai bencana di dunia. Virus SARS-Cov-2 penyebab pandemi yang sangat menular ini sudah menyebabkan ribuan orang tewas. Banyak orang yang merasa bahwa keadaan saat ini mirip suasana perang; hanya saja musuh yang diperangi tidaklah kelihatan.

Bagi banyak orang, keadaan yang makin memburuk ini membuat mereka stres. Selain ekonomi yang mulai hancur berantakan, di berbagai negara pembatasan sosial berskala besar sudah dilakukan, dan ini menyebabkan orang berlomba-lomba untuk memborong bahan kebutuhan hidup dalam jumlah besar untuk ditimbun. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa beberapa barang kebutuhan utama sekarang ini sulit dicari.

Dalam keadaan seperti ini, mereka yang lemah, miskin, sakit-sakitan atau sudah tua sering merasa tidak berdaya. Mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk menjalani hidup sehari-hari, tetapi itu tidak mudah diperoleh di saat seperti ini. Jika manusia hidup dalam lingkungan yang tenteram dan damai, kebanyakan orang terlihat gembira dan menghormati orang lain. Tetapi, dalam keadaan bahaya atau keadaan kritis, sifat manusia yang asli seringkali muncul. Dan itu seringkali membuat manusia bertingkah laku seperti hewan yang buas.

Apakah orang Kristen mempunyai reaksi yang berbeda dari orang yang bukan Kristen jika mereka berada dalam keadaan genting? Ini tidak mudah dijawab. Jika mereka mempunyai pendidikan yang cukup, barangkali mereka lebih bisa berusaha mencari jalan keluar. Tetapi, pendidikan yang tinggi belum tentu bisa mengubah sifat jahat seseorang. Jika mereka biasanya sangat saleh hidupnya, mungkin mereka tidak mau melakukan hal-hal yang dipandang buruk oleh masyarakat. Tetapi, jika ada kesempatan orang cenderung untuk melanggar hukum jika terpaksa. Bagaimana pula jika ada orang yang yakin bahwa Tuhan adalah mahakuasa? Mereka mungkin akan lebih rajin berdoa dan berserah kepada kehendak Tuhan. Walaupun begitu, apa yang bisa membuat mereka bersedia mendahulukan atau menolong orang lain?

Memikirkan orang lain dan mengasihi mereka yang tidak kita kenal atau yang tidak mengenal kita adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Tetapi, di minggu Paskah ini kita bisa merenungkan bahwa Allah  tetap mengasihi umat manusia walaupun manusia tidak mau mengenalNya. Jika dipikirkan, manusia sudah berdosa dan menjauhkan diri dari Tuhan. Adakah sebab yang membuat Allah mau mengurbankan AnakNya untuk menebus kita? Ayat di atas menyatakan bahwa sekalipun kita adalah orang-orang yang tidak pantas untuk dikasihi dan dikasihani, Allah mau menunjukkan kasihNya.

Minggu ini kita merayakan Jumat Agung dan hari Paskah mungkin dengan melihat TV atau komputer karena kebaktian gereja sudah ditiadakan. Kita masih bersyukur karena teknologi memungkinkan hal itu.  Hari-hari mendatang mungkin akan membawa lebih banyak masalah di dunia. Kita harus tabah dalam menghadapinya, dan kita bisa belajar dari Yesus yang tabah dalam menghadapi kesengsaraanNya menjelang saat disalibkan. Lebih dari itu kita bisa mengingat bahwa sekalipun kita adalah orang-orang yang patut menerima kebinasaan, Allah sudah memberikan kesempatan bagi kita untuk diselamatkan. Dengan demikian, adakah alasan bagi kita untuk tidak mengasihi atau tidak mau menolong orang lain yang lebih menderita daripada kita di saat yang sulit ini?

 

 

 

Kematian Yesus haruslah dirayakan

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Roma 6: 3 – 4

Merayakan hari-hari yang mempunyai arti penting dalam hidup seseorang adalah sudah menjadi kebiasaan manusia dalam hidup bermasyarakat. Dalam hal ini, merayakan hari lahir orang yang kita kenal adalah salah satu kegiatan yang membawa kegembiraan jika orang itu masih hidup, dan membawa kenangan indah jika orang itu sudah meninggalkan kita. Sebaliknya, hari kematian seseorang jarang dirayakan walaupun mungkin diperingati. Kelahiran biasanya untuk dirayakan, dan kematian untuk diperingati.

Jumat Agung adalah hari yang diperingati orang Kristen sebagai hari kematian Yesus. Hari ini biasanya diperingati secara khusyuk, terutama jika kita mengingat bagaimana Yesus pada waktu itu diejek, dipermalukan, disiksa dan kemudian mati digantung di kayu salib. Segala yang terjadi pada Yesus adalah bukti kejahatan manusia yang tidak bisa menerima apa yang datang dari Allah. Manusia yang lebih mementingkan kepuasan diri sendiri daripada menurut perintah Allah. Manusia yang menolak Anak Allah karena mereka ingin hidup seperti  yang dikehendakinya. Mereka tidak sadar bahwa bukannya merdeka, mereka justru hidup dalam belenggu dosa yang membawa kematian. Manusia tidak mengerti bahwa Yesus datang untuk memerdekakan mereka.

Memang banyak manusia di dunia ini yang merasa bahwa hidup hanya sekali dan karena itu harus dinikmati. Kesempatan yang ada harus dipergunakan untuk mencari kebahagiaan, kesuksesan, kekayaan dan segala kenyamanan hidup lainnya. Hal hidup sesudah mati adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat mata dan karena itu tidak perlu dipikirkan dalam-dalam. Lain halnya dengan orang Kristen; hidup di dunia adalah hidup untuk  sementara, sedangkan hidup di surga adalah kekal. Dengan demikian, hidup di dunia ini adalah jauh lebih singkat dari hidup sesudahnya. Hidup yang ada sesudah mati adalah hidup yang jauh lebih penting dan lebih berharga dari hidup yang sekarang.

Jelas bahwa apa yang sangat berharga tidaklah mudah untuk diperoleh.  Apa yang sangat berharga tentunya harus dibayar dengan harga sangat tinggi. Tidak ada seorang pun yang bisa ke surga dengan usaha sendiri. Dengan kemampuan kita tidaklah mungkin kita bisa membayar harga keselamatan kita. Hanya melalui darah Yesus yang disalibkan di bukit Golgota, Allah mau menerima kita sebagai anak-anakNya.

Ayat di atas menulis bahwa Yesus sudah mati disalibkan dan kita yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematianNya. Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya kita mati dari hidup lama kita dan memperoleh hidup yang baru melalui kebangkitanNya. Sama seperti Kristus kemudian dibangkitkan dari antara orang mati oleh Allah Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru sebagai anak-anak Allah.

Kematian Kristus dengan demikian bukanlah semata-mata peringatan akan saat yang sedih. Sebaliknya, itu adalah suatu perayaan dimana kita mengingat bahwa Yesus sudah taat kepada Allah Bapa dan menggenapi rencanaNya. Sebagai AnakNya yang tunggal, Yesus sudah taat sampai akhir dan karena itu Ia menerima kemuliaan dari Allah Bapa. Seperti itu jugalah, jika kita mau menguburkan hidup lama kita, kita akan menerima kemuliaan dari Allah Bapa dalam hidup yang baru di sorga.

Saat ini, keadaan disekeliling kita mungkin tidaklah terlalu menggembirakan. Barangkali, kita sedang mengalami berbagai persoalan berat dalam hidup kita sehari-hari. Masalah yang besar, ancaman bahaya dan tantangan kehidupan datang silih berganti. Walaupun demikian, kita tahu bahwa kematian Yesus berarti kematian pengaruh hidup duniawi. Dengan demikian, hari Jumat Agung adalah satu hari yang perlu dirayakan dengan rasa sukacita karena kita tahu bahwa anugerah keselamatan surgawi sudah kita terima melalui kematian dan kebangkitan Yesus.

Dua tiang penyangga kehidupan

“Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus.” 2 Tesalonika 3: 5

Pernahkah anda mengalami kesulitan hidup yang besar? Setiap manusia tentunya pernah; kalau itu tidak terjadi pada masa lalu, mungkin itu sedang terjadi di masa sekarang atau akan terjadi di masa depan. Mereka yang sudah mengalaminya pada masa yang lalu, mungkin sekarang merasa lega karena itu sudah lewat. Tetapi, ada juga orang yang tetap kuatir akan kemungkinan terjadinya masalah yang besar di masa depan. Memang, kesusahan  yang tidak diundang seringkali muncul di saat yang tidak terduga.

Jika satu kesusahan yang besar datang, mungkin kita berharap itu segera berlalu. Kita menarik nafas lega dan bersyukur  jika semua itu bisa diatasi dan kita masih bisa berdiri teguh. Namun, masalah yang datang secara bertubi-tubi bisa membuat hidup seseorang menjadi goyah, seperti sebuah kapal yang diombang-ambingkan badai di laut. Kesulitan hidup yang banyak macamnya, seperti kelaparan, penyakit, ancaman bahaya dan sebagainya, selalu ada di dunia. Dari zaman dulu hingga zaman sekarang tidaklah jarang orang harus menghadapinya pada saat yang bersamaan.

Bagaimana orang bisa bertahan menghadapi tantangan hidup yang besar dan tetap mempunyai harapan untuk masa depan?  Ini adalah pertanyaan yang dilontarkan banyak orang dan untuk itu ada banyak pembicara yang menampilkan berbagai jurus hidup yang katanya bisa dipakai untuk mempertahankan semangat hidup. Dalam hal ini, banyak pemimpin Kristen yang memakai cara yang serupa, dengan pendekatan psikologis, mencoba menguatkan jemaat mereka yang ditimpa bencana. Maksud mereka baik, tetapi cara yang mereka pakai sudah tentu tidak Alkitabiah.

Saat ini, jika kita menghadapi kesulitan besar, apa yang harus kita perbuat? Bukankah kata-kata siapa pun yang bisa memberi semangat seharusnya kita terima dengan senang hati? Itu mungkin jawaban mereka yang lupa bahwa manusia tidak bisa menunjukkan jalan yang benar. Hanya Tuhan   dan firmanNya yang bisa membimbing kita ke arah yang benar, kepada harapan yang sejati.

Ayat di atas menunjuk kepada dua pilar yang bisa menguatkan orang yang mengalami masalah hidup yang besar. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika menulis bahwa ia berharap agar Tuhan tetap menujukan hati mereka kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus. Kasih Allah dan ketabahan Kristus adalah dua penyangga kehidupan kita di dunia yang kacau balau sekarang ini. Karena kasih Allah yang besar, Ia sudah memberikan AnakNya yang tunggal agar kita menerima keselamatan yang kekal. Karena ketabahan Kristus, Ia tetap setia kepada Allah Bapa sampai Ia mati di kayu salib guna menebus orang yang percaya.

Dalam menghadapi masalah kehidupan kita harus ingat bahwa apa pun yang terjadi kasih Allah senantiasa menyertai kita karena itu sudah terbukti dengan datangnya Yesus sebagai Juruselamat kita. Dalam menghadapi bencana, kita juga harus ingat bahwa Yesus sudah bertahan sampai akhir dan karena itu Allah mempermuliakan Dia. Kasih Allah dan ketabahan Kristus adalah dua hal yang akan menguatkan kita dalam menghadapi hari-hari yang gelap karena kasih Allah yang mahakuasa yang ada bersama kita di masa kini, dan kemuliaan dalam Kristus yang akan kita terima di masa mendatang.

 

Hal melayani mereka yang dalam penderitaan

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10: 43 – 45

Tidak dapat dipungkiri, hari-hari mendatang adalah bagaikan mendung gelap dan tebal yang mendatangi. Walaupun orang tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi bisa dipastikan hujan lebat akan turun disertai dengan petir yang menyambar-nyambar. Memang banyak orang yang sekarang ini mulai kuatir: Akankah aku tetap sehat? Apakah aku akan tetap bisa bekerja? Bagaimana pula dengan keadaan ekonomi negara? Sayang sekali, pertanyaan-pertanyaan ini tidak ada yang bisa menjawabnya dan ini membuat banyak orang kuatir.

Dalam keadaan yang seperti ini, orang cenderung untuk menarik diri dan berusaha membangun benteng pertahanan. Apalagi dengan kewajiban untuk social distancing dan physical distancing, orang segan untuk pergi ke tempat yang ramai dan karena itu memilih untuk tinggal di rumah saja. Juga, karena sekolah dan universitas sudah dijalankan secara online dan pekerja kantor sekarang bekerja dari rumah (work from home), seisi keluarga bisa tinggal di rumah sepanjang hari. Dalam hal ini, adalah mudah bagi seseorang untuk memikirkan kebutuhan diri dan keluarga sendiri saja. Kebutuhan hidup yang makin meningkat di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu ini juga membuat orang segan mengeluarkan uang jika tidak sangat perlu.

Memang, salah satu dampak keadaan darurat dalam suatu negara adalah orang berubah menjadi egosentris, yaitu memusatkan perhatian kepada diri sendiri. Dalam hal ini, banyak organisasi sosial seperti badan penolong anak yatim-piatu,  orang miskin, dan orang lanjut usia, dan bahkan berbagai organisasi gereja, yang sekarang ini mengalami kesulitan keuangan. Keadaan yang berlarut-larut sudah tentu akan mempengaruhi pelayanan organisasi-organisasi  yang hidup dari sokongan atau bantuan donatur. Dalam keadaan dimana banyak orang membutuhkan pertolongan mereka, keadaan keuangan yang makin sulit akhirnya membuat mereka mengurangi aktivitas. Bagi mereka yang hidup dari bantuan badan sosial, hidup bisa menjadi sangat suram dalam bulan-bulan mendatang.

Mengapa Tuhan membiarkan adanya malapetaka? Dan mengapa pula Tuhan membiarkan orang-orang tertentu hidup dalam penderitaan dan kekurangan sedangkan orang lain nampaknya masih bisa hidup dalam kenyamanan dan kemakmuran? Ini adalah pertanyaan yang logis dan membuat banyak orang mempertanyakan kasih dan kebijaksanaan Tuhan. Walaupun demikian, pertanyaan ini seharusnya dilontarkan ketika Adam dan Hawa diusir dari taman Eden. Mengapa Tuhan membiarkan Adam dan Hawa dan semua keturunan mereka hidup menderita di dunia dan bahkan mati dan kembali menjadi debu karena dosa yang diperbuat mereka?

Pertanyaan ini sebenarnya tidak tepat. Tuhan tidak membiarkan manusia yang diciptakanNya sebagai peta dan teladanNya untuk menemui kehancuran begitu saja. Segera setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Tuhan menyatakan rencananya untuk menolong umat manusia dan menghancurkan iblis (Kejadian 3: 15). Karena itu, dalam Alkitab, kita bisa membaca bagaimana Tuhan merancang kedatangan Mesias, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan manusia. Rencana agungNya pada akhirnya memungkinkan semua orang yang percaya kepada Yesus untuk memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 16). Dengan demikian, tepatlah apa yang dikatakan Yesus dalam ayat di atas bahwa Ia datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang. Adanya penderitaan manusia di dunia justru membuat manusia bisa melihat bahwa Tuhan masih mau menyatakan kasihNya.

Bagaimana pula dengan panggilan orang Kristen dalam keadaan sekarang dimana ada banyak orang menderita sakit dan mengalami kekurangan? Bagaimana pula sikap kita menghadapi kesulitan yang dialami gereja dalam usaha mengabarkan injil dan melayani jemaat di saat keuangan semakin parah? Dalam hal ini Yesus sudah memberikan jawabanNya: Ia datang untuk melayani mereka yang menderita, termasuk diri kita yang berdosa. Ia datang untuk memberikan harapan yang baru bagi seluruh umat manusia. Dengan pengurbananNya di kayu salib, nama Allah yang mahakasih sudah dipermuliakan. Kesempatan yang sama ada pada diri kita: kita harus mau melayani, membantu, menolong mereka yang menderita dengan apa yang kita punyai. Hanya dengan meniru Yesus, nama Allah akan dipermuliakan dalam keadaan yang terlihat suram pada saat ini. Semoga Tuhan menguatkan kita sekalian!

Kematian Yesus membebaskan kita dari ketakutan

Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya, kata-Nya: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.” Markus 10: 32 – 34

Mengapa manusia bisa mengalami rasa takut? Rasa takut biasanya muncul ketika ada kejadian yang membuat kita terancam. Lebih dari merasa terancam, kita mungkin meragukan kemampuan kita untuk bisa mengatasi ancaman itu. Dengan demikian, kita bisa menjadi takut karena merasa tidak berdaya dalam menghadapi berbagai masalah hidup.

Sebenarnya rasa takut adalah lumrah. Dengan adanya rasa takut kita bisa berusaha untuk melarikan diri, menghindari atau mempertahankan diri dalam menghadapi ancaman yang ada. Tetapi rasa takut juga bisa muncul ketika orang lain yang menghadapi ancaman. Dalam hal ini, kita kuatir kalau-kalau orang yang kita kenal atau cintai akan terkena bahaya.

Ketika itu Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Mengapa demikian? Mereka kuatir bahwa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi pada diri mereka dan juga pada diri Yesus. Mereka tahu bahwa ada banyak orang Yahudi yang membenciNya. Apa yang akan terjadi tidaklah bisa diterka, tetapi pastilah sesuatu yang buruk. Lebih payah lagi, mereka bisa melihat bahwa Yesus bukanlah seorang panglima perang yang mempunyai ribuan serdadu. Yesus ternyata adalah seorang guru yang mengajarkan kesabaran, pengampunan dan kasih. Dan ini diajarkannya sekalipun banyak orang yang memusuhiNya!

Murid-murid Yesus dan pengikutNya menjadi takut karena suasana yang makin memanas. Yesus Anak Allah nyata-nyata tidak mempunyai malaikat pengawal. Malahan, Yesus berkata bahwa Ia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan memberiNya hukuman mati. Ia akan diolok-olok, diludahi, disesah dan dibunuh. Tidak dapat kita bayangkan bagaimana perasaan sedih dan takut yang dialami murid-muridNya.

Seperti murid-murid Yesus, kita pun sering kuatir dan takut karena adanya perasaan bahwa kesulitan yang kita hadapi saat ini adalah sangat besar. Mungkin kita takut kalau-kalau Tuhan membiarkan kita hancur di tengah bencana dunia. Kita mungkin tidak bisa merasakan adanya kuasa Yesus dalam hidup kita. Tetapi, tunggu dulu! Apakah yang dikatakan Yesus setelah Ia menyatakan bahwa Ia akan disesah dan dibunuh? Ia berkata: “….dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.”

Tidak ada manusia yang bisa bangkit dari kematian. Sekalipun ada raja-raja dan panglima perang yang perkasa, mereka semua akhirnya mati dan kehilangan kuasa. Sebaliknya, Yesus yang mati kemudian bangkit dan naik ke surga! Dia tentu bukan manusia biasa: Yesus adalah Anak Allah! Mengapa pula kita harus takut kalau Allah ada di pihak kita?

Adakah yang baik dalam kesengsaraan?

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3 – 4

Pagi hari ini saya pergi ke supermarket untuk membeli beberapa jenis makanan. Sebenarnya saya sudah mempunyai persediaan yang cukup untuk sebulan, tetapi pagi ini saya ingin mencari sayuran segar dan kacang goreng kegemaran saya.

Berbelanja di saat dimana orang harus melakukan physical distancing ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Rasa canggung terasa jika ada orang yang mendatangi, dan hati menjadi dag dig dug jika ada orang yang batuk-batuk di dekat saya. Pada pihak yang lain, saya juga bisa melihat adanya perasaan kuatir dalam sinar mata beberapa orang yang berpapasan dengan saya.

Mengalami keadaan hidup yang seperti ini tentunya membuat banyak orang merasa gundah. Manusia sebagai makhluk sosial umumnya tidak dapat hidup berbahagia tanpa berinteraksi dengan sesama. Karena itu, semakin lama keadaan ini berlangsung, tentunya akan makin banyak orang yang mengalami penderitaan baik secara jasmani maupun rohani.

Di dunia ini tidak ada seorang pun yang mau menderita. Jika kita bayangkan kehidupan di taman Firdaus, tentunya Adam dan Hawa sangat bahagia sebelum kejatuhan dalam dosa. Dengan demikian, sangatlah mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa penderitaan adalah sesuatu yang buruk, yang berawal dari dosa. Penderitaan dengan demikian adalah sesuatu yang tidak berguna, yang harus disesali dan dibenci. Benarkah demikian?

Ayat di atas menyatakan bahwa umat Kristen seharusnya tidak bersusah hati, tetapi justru bermegah dalam kesengsaraan kita. Mengapa demikian? Karena mereka tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Pengharapan yang bagaimana?

Roma 5: 5 menjelaskan:

“Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Dengan demikian, penderitaan orang Kristen memungkinkan mereka untuk berharap dan bergantung sepenuhnya kepada kasih Allah yang sudah dinyatakan oleh Roh Kudus dalam hati mereka. Jika mereka yang hidup dalam kejayaan mudah melupakan kasih dan penyertaan Allah, adanya penderitaan membuat kita menyadari bahwa Allah kita adalah Tuhan yang mahakuasa.

Dengan adanya penderitaan, kita bisa meyakini bahwa Allah yang sudah mengirimkan Yesus untuk menderita dan mati di kayu salib untuk menebus kita adalah Tuhan yang mahakasih yang setia dalam rencana kasihNya. Dengan demikian, melalui penderitaan yang kita alami, kita akan lebih bisa menyadari bahwa tidak ada apa pun di dunia yang terjadi di luar rencana Tuhan. Tuhan tahu apa yang kita derita, dan melalui semua yang kita alami Ia akan menambahkan iman dan pengharapan kita kepadaNya.

Tuhan selalu mempunyai maksud baik

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1: 17

Dalam menghadapi setiap kesusahan besar manusia sering mempunyai beberapa pertanyaan:

  1. Mengapa ini harus terjadi?
  2. Mengapa harus aku?
  3. Apakah ini kehendak Tuhan?
  4. Dimanakah Tuhan jika malapetaka terjadi?
  5. Apakah Tuhan mahakasih?

Kelima pertanyaan itu adalah logis dan setiap manusia berhak mempertanyakannya. Mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu belum tentu orang yang bukan Kristen, karena orang Kristen pun sering bergulat menghadapi gejolak hidupnya.

Pada saat ini, setiap manusia yang mengerti keadaan dunia tentu tahu bahwa bahaya pandemi COVID-19 adalah nyata. Masih terbayang ketika kita merayakan datangnya tahun 2020 dan menyambutnya dengan pesta kembang api, tetapi pada saat itu tidak seorang pun yang bisa membayangkan bahwa dua bulan kemudian orang harus menghadapi masalah besar yang bisa menghancurkan negara mana pun, baik dalam hal kesehatan umum, ekonomi maupun politik.

Apa yang akan terjadi dalam bulan-bulan mendatang tidaklah ada orang yang tahu, tetapi efek pandemi ini pasti akan tetap dapat dirasakan untuk waktu yang cukup lama. Karena itu, dalam suasana yang kurang baik ini, setiap orang tentunya mempunyai beberapa  (atau banyak) pertanyaan, seperti yang tertulis di atas. Bagaimana sebagai orang Kristen harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?

Mengapa kekacauan dan bencana ada di dunia? Bagi mereka yang percaya bahwa manusia sudah jatuh kedalam dosa dan karena itu harus meninggalkan taman Eden, pertanyaan ini tidaklah sukar untuk dijawab. Karena Adam dan Hawa sudah jatuh kedalam dosa, mereka harus meninggalkan tempat yang serba indah dan nyaman dan kemudian mengalami hidup yang penuh derita dan susah-payah (Kejadian 3: 23 – 24). Kita sekarang hidup di dunia yang harus dihadapi dengan perjuangan, dan adanya kelaparan, penyakit, kematian dan malapetaka lainnya adalah suatu yang lumrah.

Sebagian orang Kristen merasa bahwa menjadi pengikut Kristus adalah jaminan untuk hidup nyaman dan untuk memperoleh kelimpahan dalam segala sesuatu. Karena itu, banyak orang yang mengajarkan bahwa iman adalah kunci segala kesuksesan baik di bidang jasmani atau pun rohani. Tetapi, thema Alkitab secara keseluruhan bukanlah kesuksesan atau berkat secara jasmani. Firman Tuhan selalu menekankan bahwa berkat yang berbentuk apa pun adalah datang dari Tuhan, tetapi berkat yang paling utama dan yang tidak bisa hilang adalah adanya keselamatan yang abadi yang dikaruniakan kepada setiap orang percaya melalui darah Yesus Kristus. Dengan demikian, jika kita mengalami masalah kehidupan, kita tidak perlu merasa malu. Setiap orang di dunia ini bisa mengalami penderitaan jasmani, tetapi mereka yang berada dalam Tuhan akan memperoleh kekuatan untuk menghadapinya.

Jika ada masalah yang sangat besar, setiap orang bisa merasa sedih atau terpukul. Selain itu, seringkali muncul pertanyaan apakah semua itu adalah kehendak Tuhan. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa kita tidak selalu bisa menjawabnya. Tidak ada seorang pun yang bisa membaca pikiran Tuhan. Walaupun demikian, jika Tuhan menghendaki sesuatu terjadi, itu selalu berakhir dengan kebaikan. Adakalanya Tuhan membiarkan malapetaka terjadi pada suatu bangsa untuk memberi peringatan agar mereka mau mengakui kuasaNya. Tuhan bisa juga membiarkan kita mengalami kesusahan agar kita mau lebih bergantung kepadaNya. Pengalaman pahit bisa juga membuat masyarakat untuk lebih berhati-hati di masa depan. Dengan demikian, sekali pun Tuhan tidak mendatangkan bencana untuk umatNya, Ia yang memegang kontrol atas segala sesuatu terkadang memungkinkan hal yang nampaknya buruk untuk terjadi.

Dimanakah Tuhan ketika kita mengalami malapetaka? Jeritan dan tangisan ini sering muncul di tengah penderitaan. Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu sudah pasti tetap memegang kemudi kehidupan manusia dan bahkan alam semesta. Tuhan tetap ada dan melihat semuanya terjadi. Tuhan tahu apa yang akan kita lakukan dan melihat apa yang sedang kita lakukan. Tuhan yang selalu memegang kontrol kehidupan selalu dapat mewujudkan rencananya dalam keadaan apa pun. Jika apa yang dilakukan manusia adalah sesuai dengan kehendakNya, itu akan terjadi. Sebaliknya, jika apa yang dilakukan manusia tidak sesuai dengan rancanganNya, kehendakNyalah yang kemudian terjadi. Dalam hal ini, bagi umat Kristen, adanya iman kepada Tuhan membuat mereka bisa hidup dalam kedamaian bahwa Tuhanlah yang mengatur segalanya.

Apakah Tuhan itu mahakasih? Pertanyaan ini lebih mudah dijawab jika kita berada dalam keadaan nyaman dan aman. Tetapi jika malapetaka terjadi dan banyak orang sudah menjadi korbannya, termasuk mereka yang beriman, pertanyaan ini sulit untuk dijawab. Banyak orang Kristen yang kemudian bersandar pada fatalsisme: jika semua itu terjadi, itu adalah kehendak Tuhan dan manusia tidak bisa mengubahnya. Pandangan ini kelihatannya benar, karena siapakah yang dapat melawan kehendak Tuhan? Tetapi pandangan ini juga mudah ditolak, karena siapakah yang tahu dengan pasti apa kehendak Tuhan? Ayat pembukaan kita mengatakan bahwa setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang. Tuhan yang tidak pernah berubah adalah Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang tidak mendatangkan bencana bagi umatNya. Karena itu, bagi mereka yang percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih, berjuang untuk menegakkan keadilan, memajukan pendidikan, meningkatkan kesehatan dan mengusahakan kecukupan dalam masyarakat adalah panggilan, agar kasih Tuhan dinyatakan kepada semua orang dan namaNya dipermuliakan.

Tuhan ingin kita mengenal Dia

Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.” 1 Samuel 4: 3

Hidup ini penuh tantangan. Siapa pun yang hidup di dunia selalu mempunyai berbagai masalah yang harus dihadapi dan diselesaikan. Mungkin terkadang kita  merasa betapa nikmatnya kehidupan orang tertentu; tetapi mereka yang terlihat enak hidupnya juga sering mengeluh bahwa hidupnya tidaklah mudah. Memang tiap orang mempunyai persoalan hidup yang berbeda, tetapi mereka juga memiliki gaya hidup yang berbeda dalam menghadapi masalah hidup masing-masing.  Dalam hal ini, adalah mudah bagi kita untuk merasa bahwa Tuhan itu kurang adil dalam memberikan berkatNya, karena apa yang dipunyai orang lain terlihat lebih baik dari apa yang kita miliki.

Mengapa Tuhan tidak memberi semua umat Kristen hidup yang nikmat dan berkelimpahan? Mengapa hidup orang Kristen seringkali sama beratnya, dan bahkan bisa lebih berat dari mereka yang tidak percaya kepada Tuhan? Apa gunanya menjadi pengikut Tuhan jika hidup kita tidak seenak hidup mereka yang tidak mengenal Tuhan? Adakah yang bisa kita lakukan agar Tuhan berada di pihak kita?

Tentara Israel waktu itu sedang berperang melawan tentara Filistin. Sebagai umat Tuhan, tentara Israel tentunya berharap untuk menang, tetapi mereka justru terpukul kalah. Mereka heran, tidak mengerti mengapa hidup bisa menjadi begitu berat. Dimanakah Tuhan ketika umatNya mengalami perjuangan berat? Dimanakah Tuhan ketika kita mengalami bencana?

Tentara Israel tidak mengerti mengapa Tuhan membiarkan mereka kalah. Mereka tidak sadar bahwa bukan Tuhan yang lebih dulu meninggalkan mereka, tetapi umat Israel yang sudah menjauhi Tuhannya. Memang dalam Alkitab tidak ada kejadian dimana Tuhan meninggalkan seseorang dalam kesulitan hidupnya, jika ia tetap setia kepada Tuhan.

Mereka yang sudah meninggalkan Tuhan belum tentu bertingkah laku seperti hewan yang buas, tetapi pasti adalah orang-orang yang sudah tidak lagi mengenal pribadi Tuhan. Umat Israel masih berharap agar Tuhan mau menolong mereka dalam menghadapi orang Filistin, tetapi bukannya bersujud mendekati Tuhan, mereka mengambil dari Silo tabut perjanjian, dengan maksud memaksa Tuhan agar Ia datang ke tengah-tengah mereka dan melepaskan mereka dari tangan orang Filistin. Mereka lupa bahwa Tuhan tidak dapat dijadikan “jimat” pembawa kemenangan. Kekeliruan mereka akhirnya harus dibayar mahal dengan kekalahan total dari orang Filistin.

Saat ini hampir semua negara di dunia menghadapi masalah besar karena adanya pandemi. Mengapa ini harus terjadi? Tidak ada seorang pun yang tahu. Tetapi, satu yang jelas adalah pada saat yang kritis ini Tuhan menghendaki kita mengenalNya dengan benar. Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih, tetapi juga Tuhan yang mahakuasa. Tuhan bukalah ilah yang bisa kita pakai untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan kita. Biarlah kita mau menghampiri tahtaNya dengan bersujud di hadapanNya untuk memohon pertolonganNya!