Masih adakah rasa hormat dan takut kepada Tuhan?

“Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepadaNya, dengan hormat dan takut.” Ibrani 12: 28

Jika kita memperhatikan hidup umat Kristen di berbagai tempat di dunia, kita dapat melihat bahwa tiap komunitas mempunyai cara dan ciri tertentu dalam berbakti kepada Tuhan. Walaupun demikian, di zaman ini makin sering terlihat di gereja orang yang berbakti atau berdoa dengan santai, seolah-olah mereka pergi ke rumah teman, ke pesta atau ke bioskop. Malahan juga sering terlihat bahwa dalam kebaktian orang sibuk memakai ponselnya untuk berkomunikasi dengan teman yang berada di tempat lain. Agaknya sulit bagi mereka untuk duduk diam sejam dalam seminggu dan untuk sejenak melupakan kesibukan sehari-hari.

Dengan kemajuan zaman, memang banyak orang Kristen cenderung untuk bersifat “casual” dalam hubungan mereka dengan Tuhan. Rasa hormat dan takut kepada Tuhan agaknya sudah sangat berkurang, seiring dengan berkurangnya rasa hormat kepada guru, orangtua dan atasan. Dengan demikian, komunikasi dengan Tuhan melalui doa dan mempelajari firmanNya sekarang sudah menjadi beban yang harus dilaksanakan secepat dan sesingkat mungkin.

Pada beberapa kebaktian gereja, rasa hormat dan khusyuk juga sudah berubah menjadi “kebebasan” yang bukan memuliakan Tuhan, tetapi membesarkan manusia. Acara kebaktian untuk Tuhan sudah berubah menjadi show atau tontonan saja. Rasa hormat dan takut kepada Tuhan diganti dengan rasa kagum kepada orang-orang yang mengaku punya pengalaman dan kemampuan tertentu.

Di zaman sekarang memang banyak orang mengaku pernah berjumpa secara langsung dengan Tuhan. Tetapi, sekalipun Tuhan bisa muncul dalam bentuk apapun jika Ia mau, pada dasarnya Ia bukan Oknum yang bisa dijumpai secara jasmani. Hanya Yesus yang pernah melihat Allah (Yohanes 1: 18), sedangkan manusia melalui penampakan oleh Tuhan (theophany) terkadang bisa merasa berjumpa dengan Tuhan. Pada pihak yang lain, semua orang Kristen bisa merasakan perjumpaan dengan Tuhan secara rohani dalam doa dan ibadah yang benar.

Perjumpaan dengan Tuhan bukanlah hal yang kecil. Musa sebagai contoh, mendapat peringatan dari Tuhan ketika ia menjumpaiNya:

Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Keluaran 3: 5 – 6

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai umat Tuhan kita harus menempatkan diri kita dan sesama manusia pada tempat yang seharusnya. Sebagai manusia kita sudah dipilihNya untuk diselamatkan melalui pengurbanan Yesus, dan kita diangkat sebagai anak-anakNya. Walaupun demikian, Tuhan yang di surga adalah Tuhan yang mahabesar, mahakuasa dan mahasuci. Karena itu, kita harus mengucap syukur dan beribadah kepada Dia saja dan menurut cara yang berkenan kepadaNya, yaitu dengan rasa hormat dan takut. Segala pujian dan sembah hanya untuk Dia!

Mengurangi keinginan adalah kunci kebahagiaan

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Bacaan: 1 Timotius 6: 6 – 10

Apa arti kata “ibadah”? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan untuk mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Dalam ayat di atas kata “ibadah” dipakai, tetapi dalam Alkitab berbahasa Inggris kata “godliness” lah yang sering dipakai. Kata ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai “kesalehan”, yaitu hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan.

Hidup manusia di dunia bukan hanya diisi dengan perbuatan, tetapi mencakup banyak hal seperti perkataan, pekerjaan, pikiran, tingkah laku, dan sebagainya. Dengan demikian, hidup manusia adalah sesuatu yang bisa membedakan keadaan manusia yang satu dengan yang lain. Mereka yang sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat, memperoleh hidup baru yang berpusat pada Dia.

Diantara umat percaya yang sudah menerima hidup baru, perbedaan antara orang yang satu dengan yang lain tetap ada karena tiap orang tentunya memiliki tingkat kedewasaan iman yang berbeda. Oleh sebab itu, ada orang Kristen yang hidupnya terlihat berbahagia sekalipun berada dalam perjuangan, tetapi ada juga orang Kristen yang hidupnya enak tetapi tidak menunjukkan adanya sukacita.

Ayat di atas menyebutkan bahwa hidup orang Kristen yang disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Mengapa begitu? Banyak orang yang berpendapat bahwa hidup bahagia bisa tercapai jika orang bisa mencapai apa yang diinginkan. Di zaman ini sering diajarkan bahwa melalui Tuhan berbagai berkat akan datang melimpah kepada mereka yang mau meminta. Tetapi, ayat di atas menyatakan bahwa kebahagiaan justru bisa tercapai dengan mengurangi apa yang diinginkan dari Tuhan.

Hidup dengan rasa cukup memberi keuntungan besar. Tetapi bagaimana mengartikan rasa cukup? Setiap orang tentunya menafsirkan ini menurut ukurannya sendiri. Bagi sebagian orang, rasa cukup sulit dicapai karena adanya keinginan dan kebutuhan yang semakin lama semakin besar. Dengan demikian, rasa bahagia dan rasa puas tentu saja sulit untuk dicapai. Karena itu Paulus dalam suratnya kepada Timotius menulis bahwa jika orang ingin untuk berbahagia, ia justru harus bisa merasa puas dengan apa yang sudah ada.

Paulus melanjutkan dengan menulis bahwa manusia tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan mereka tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Karena itu, asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Dengan adanya rasa cukup, rasa sukacita akan tumbuh; tetapi tanpa adanya rasa cukup orang akan selalu merasa kurang puas dan kecewa. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang ingin kaya sering terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan!

Hal mengampuni kesalahan orang

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 14 – 15

Hari ini saya membaca di media bahwa seorang ibu yang kehilangan tiga anak karena ditabrak oleh seorang pengemudi yang sedang mabuk, berkata bahwa ia tidak membenci pembunuh anak-anaknya. Sekalipun ia pada saat ini tidak mau menemui orang itu, ia mau mengampuninya dan hanya berharap agar pengadilan memberi hukuman yang sepantasnya. Bagi saya ini adalah sesuatu yang luar biasa, bahwa kemarahan dan kebencian bisa padam karena adanya kasih dalam hati orang Kristen. Kasih yang sudah diperintahkan Tuhan untuk dilaksanakan oleh umatNya.

Pernahkah anda memaafkan orang yang bersalah kepada anda? Jika ya, apakah anda benar-benar mengampuni orang itu dengan melupakan segala kesalahan dan cacat celanya? Banyak orang yang berkata bahwa mereka bisa mengampuni orang tetapi tidak dapat melupakan perbuatannya. Dengan demikian, bayangan tentang orang itu dan kejahatannya selalu ada dalam pikiran dan tentunya setiap kali muncul bisa menimbulkan kemarahan atau rasa benci yang membuat diri mereka sangat menderita. Tetapi, saya yakin ada orang yang benar-benar bisa mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain. Itu tentu ada sebabnya.

Jika hal mengampuni kesalahan orang lain adalah sesuatu yang sulit dilakukan manusia, bagi Allah yang mahasuci tentunya akan lebih sulit lagi  untuk mengampuni manusia yang berdosa kepadaNya. Karena standar kesucian Allah yang mahatinggi, tidak akan ada seorang pun yang bisa diampuniNya, jika tidak ada penebusan oleh darah Yesus. Karena Yesus sudah mati ganti kita, Tuhan mau mengampuni kita dan melupakan  dosa kita sekali pun kita mempunyai dosa sebesar apa pun.

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Bagaimana Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu dapat melupakan sesuatu peristiwa? Banyak orang berpikir bahwa jika Tuhan bisa lupa, Ia bukanlah Oknum yang mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan bisa mengampuni dan melupakan dosa kita karena Ia dengan sengaja tidak mau memikirkan hal itu. Sebagai Tuhan yang mahakasih Ia mengambil keputusan untuk memberikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepada Yesus yang sudah dikaruniakanNya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Dengan demikian, Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita patutlah menghendaki agar manusia mau mengasihi Dia dan sesama kita karena Tuhan mengasihi seisi dunia ini. Dalam hal ini, selama hidup di dunia tentu lebih mudah bagi manusia untuk mengasihi sesama manusia yang bisa dilihatnya daripada mengasihi Tuhan.

Bagi manusia, tidaklah mudah untuk mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah yang Roh dan karena itu jika ada orang yang berkata bahwa ia mengasihi Allah, itu terjadi karena Allah sudah membuka mata rohaniNya. Orang yang sedemikian sudah menjadi ciptaan baru yang mengenal apa yang dikehendaki Allah dan melaksanakan perintahNya. Dengan demikian, mereka yang mengaku mengasihi Allah tetapi membenci sesamanya, perlu bertanya kepada diri sendiri bagaimana ia bisa mengasihi Allah tanpa melakukan apa yang diperintahkanNya.

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. 1 Yohanes 4: 20

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Yesus sudah datang untuk menebus dosa kita dan karena itu seluruh dosa kita sudah diampuni Tuhan. Mengapa pula kita merasa berat untuk mengampuni sesama kita jika mereka juga dikasihi Tuhan dan diberi kesempatan untuk menerima keselamatan jika mereka mau bertobat?

Berdoa itu memang tidak mudah

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Ingatkah anda akan doa pertama yang pernah anda ucapkan? Saya sendiri sudah lupa akan apa yang saya ucapkan sebagai doa makan ketika saya berumur 8 atau 9 tahun. Ketika itu ayah saya mengingatkan agar saya mau mulai berdoa sendiri, dan tidak mengharapkan orang lain mendoakan saya. Doa adalah hubungan komunikasi pribadi antara seseorang dengan Tuhannya dan karena itu harus disampaikan oleh orang yang bersangkutan menurut imannya.

Sebagaimana Yesus sudah mengajar murid-muridNya berdoa, setiap orang Kristen harus mau dan bisa berdoa sendiri, tanpa bantuan orang lain. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan atau dibiasakan. Karena itu banyak orang yang selalu ingin didoakan dan mengharapkan orang lain yang memimpin doa.

Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa adalah lebih baik jika kita berdoa secara kolektif. Dalam hal ini, orang sering mengutip ayat dalam Matius 18: 19 – 20 yang berbunyi “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Tetapi, ayat itu sebenarnya tidak menyebutkan bahwa doa orang banyak akan lebih didengar Tuhan daripada doa perseorangan. Ayat itu bersangkutan dengan pertikaian di antara orang Kristen: mereka yang ingin doanya didengar Tuhan hendaknya mau berdamai dan bersatu hati dengan yang lain sebelum menyampaikan doa mereka.

Doa jelas adalah percakapan antara Tuhan dengan umatNya. Setiap orang yang mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan tentu sering berdoa, bukan hanya dua atau tiga kali sehari, tetapi sesering mungkin, terutama jika ia rindu atau ingin untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan yang mengasihinya. Mereka yang tidak merasakan kerinduan untuk berdoa mungkin saja terlalu nyaman hidupnya, terlalu sibuk, atau sedang terbenam dalam masalah hidup yang besar.

Dalam suka memang banyak orang yang lupa untuk menyatakan rasa syukurnya kepada Tuhan. Dan ketika hidup penuh dengan kesibukan, berdoa mudah untuk dikesampingkan. Tetapi sebagai umat percaya, kita sudah diberikan Roh Kudus untuk menegur kita jika jarang berdoa.

Roh Kudus juga membantu kita dalam berdoa jika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, baik dalam suka maupun duka. Dalam menghadapi masalah yang besar, orang seringkali sulit untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita agar tidak mendukakan Roh Kudus dengan mencoba melarikan diri dariNya. Apa yang harus kita lakukan justru membiarkan Roh Kudus untuk memimpin kita. Jika Roh mengingatkan perlunya kita untuk dengan rendah hati berkomunikasi dengan Tuhan, biarlah kita boleh menurut bimbinganNya. Tuhan yang mahakasih ingin agar kita selalu dekat denganNya dalam setiap keadaan!

Hal mendua hati

“Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Lukas 16: 13

Jika ada sesuatu di bumi yang sangat mempengaruhi hidup manusia, itu pastilah uang. Uang yang pada dasarnya adalah alat untuk melakukan transaksi jual beli, sudah sejak dulu menjadi sesuatu yang dibutuhkan masyarakat yang sudah maju budayanya.

Ketergantungan manusia pada uang ada dimana saja. Tanpa uang orang tidak akan dapat membeli apa yang diperlukan dalam hidupnya. Money is everything. Dengan demikian, banyak orang yang menderita karena tidak adanya uang untuk membiayai kebutuhan mereka.

Banyak orang yang percaya bahwa dengan adanya uang, ada kehidupan. Kehidupan itu ada jika uang ada, dan kehidupan ada untuk menghasilkan uang. Money is life and life is money. Karena itu, mereka yang hidup di negara kaya seringkali mengira bahwa mereka yang hidup di negara miskin tidak akan dapat merasakan kebahagiaan. Mereka yang miskin tentunya selalu menjadi bulan-bulanan orang kaya. Itu agaknya karena uang memberi atau dapat membeli kekuasaan. Money is power.

Alkitab mempunyai pandangan yang sangat berbeda dengan apa yang dipercaya oleh dunia. Jika dunia menaruh kepercayaaan pada uang, Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah yang mahakaya sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 6 – 7).

Kita juga tahu bahwa selama hidup di dunia Yesus mengembara dan tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap.

“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Matius 8: 10

Dengan demikian, mereka yang ingin menjadi pengikut Yesus di dunia dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka harus siap untuk menempatkan Yesus di atas segala-galanya, dan mau menderita untuk melebarkan kerajaanNya. Ini jelas berbeda dengan pandangan umum yang menempatkan uang, kuasa, kesuksesan dan hal-hal duniawi lainnya sebagai pusat kehidupan.

Memang selama hidup di dunia kita memerlukan uang untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup, tetapi kita tidak boleh memusatkan hidup kita hanya untuk mengejarnya. Sebaliknya, kita harus bisa meniru Rasul Paulus yang ingin untuk mengejar pengenalan akan Yesus.

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri …” Filipi 3: 7 – 9

Mengapa Paulus yang pada mulanya mengejar keuntungan duniawi kemudian menganggapnya sebagai sampah? Bukankah itu terlalu ekstrim? Salahkah kita jika ingin mendapatkan kepuasan duniawi dan juga kebahagiaan surgawi? Ayat pembukaan kita jelas menyatakan bahwa pilihan ada di tangan kita, kepada siapa kita menyerahkan hidup kita. Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kita harus memilih Mamon yang melambangkan uang, kedudukan dan hal-hal duniawi lainnya, atau Tuhan yang mahakuasa. Mana yang anda pilih?

Memuliakan Kristus dalam penderitaan

“Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” 1 Petrus 4: 15 – 16

Bagi sebagian orang Kristen, mempunyai Tuhan adalah suatu keuntungan. Mengapa begitu? Memang ada orang yang merasa beruntung karena Tuhan yang dikenalnya itu adalah Oknum yang bisa dan mau memberikan apa yang diingininya. Tuhan adalah the Provider. Jika orang menginginkan kekayaan, ia meminta kepada Tuhan, begitu juga jika ia membutuhkan apapun, Tuhanlah yang akan menyediakannya. Bukankah Tuhan adalah sumber kehidupan manusia? Bagi mereka, Tuhan yang mahakaya sudah tentu menghendaki mereka yang percaya kepadaNya untuk menjadi kaya juga. Tuhan yang mahabesar tentunya ingin agar pengikutNya mengalami kesuksesan dan kejayaan di dunia dan di surga. Mereka yang tidak mengalami hidup yang jaya di dunia, tentunya bukan pengikut Tuhan yang sejati.

Bagi orang Kristen yang lain, dipunyai Tuhan adalah suatu keuntungan. Mereka percaya bahwa Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa yang karena kasihNya sudah memilih mereka sebagai dombaNya untuk menerima keselamatan di surga. Bagi mereka, keselamatan ini adalah sesuatu yang jauh lebih berharga dari benda apa pun yang ada di dunia karena keselamatan dari Tuhan adalah harta yang tidak dapat binasa, dengan kata lain kekal untuk selama-lamanya. Tuhan adalah sumber kehidupan, the Provider, yang memberi apa yang terbaik untuk umatNya. Tetapi apa yang baik belum tentu berupa sesuatu yang indah dan nyaman, karena itu bisa muncul sebagai ketabahan, kekuatan dan iman dalam menghadapi pergumulan hidup. Mereka yang benar-benar beriman kepada Tuhan, pasti bisa merasakan kasih penyertaan Tuhan dan merasa cukup dalam setiap keadaan.

Memang agaknya tidak ada orang yang mau memilih untuk hidup dalam penderitaan, sekiranya mereka bisa memilih apa yang ringan dan nyaman. Tetapi panggilan Tuhan kepada umatNya jelas berisi ajakan untuk berjuang bersama Dia. Karena Tuhan adalah pemilik kita, kita harus mau menjalani hidup ini dan berjuang bersama Dia untuk kemuliaan namaNya.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Matius 16: 24 -25

Sebagai umat Kristen yang hidup di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa, mungkin saja kita harus menghadapi berbagai penderitaan, seperti kekurangan, penyakit, tekanan hidup dan bahkan kematian. Sekalipun kita berusaha untuk menghindari atau mengatasi hal-hal itu, sebagai orang percaya kita tidak boleh memilih jalan keluar yang nampaknya mudah tanpa memikirkan konsekuensinya. Jika orang lain bebas untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan perintah Tuhan, orang Kristen yang takut akan Tuhan tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang berlawanan dengan firmanNya. Oleh karena itu, ayat di atas menyatakan bahwa kita tidak perlu malu atau gentar jika kita harus menderita sebagai pengikut Kristus.

Penderitaan apapun tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, begitu kata rasul Paulus. Sekalipun orang-orang disekitar kita menindas, menganiaya atau mencemooh kita, kita tidak perlu gentar dan ragu dalam iman. Mereka yang merasa memiliki Tuhan adalah orang-orang yang hidup dalam ilusi. Mereka akan goncang imannya jika keadaan hidup mereka tidaklah seperti yang diharapkan. Sebaliknya, mereka yang taat kepada Tuhan adalah orang-orang yang dimiliki Tuhan dan selalu dikuatkan dalam menghadapi segala persoalan dan senantiasa bisa bersyukur kepadaNya karena Ia yang sudah mengasihi mereka.

Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari,  kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Roma 8: 36 – 37

Yesus datang untuk orang yang sadar akan dosanya

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Markus 2: 17

Saat ini media apa pun di dunia didominasi oleh berita tentang menyebarnya coronavirus, satu virus berbahaya yang sudah menyebabkan banyak korban. Berbagai negara sudah membuat tindakan yang perlu untuk mencegah atau mengatasi penyebaran virus ini, antara lain dengan melakukan pengawasan ketat akan kedatangan pengunjung dari luar negeri.

Mereka yang merasa tidak sehat, diharuskan untuk melaporkan diri untuk bisa diperiksa dokter. Dalam hal ini, ada kemungkinan bahwa tidak semua orang yang sakit mau melapor karena selain ingin menghindari hambatan perjalanan, mereka mungkin juga kuatir akan besarnya biaya dokter dan rumah sakit.

Memang tidak mudah untuk menganjurkan orang untuk mawas diri atas kesehatannya. Adalah kenyataan bahwa ada orang yang sebenarnya sakit keras tetapi mencoba untuk mengabaikan sakitnya dan bahkan yakin bahwa pada waktunya ia akan sembuh sendiri. Selain itu ada orang yang karena kesibukannya atau karena adanya hal-hal yang menyita pikirannya, tidak merasa bahwa ia sakit, sampai penyakitnya menjadi sangat berat. Tentu saja, mereka yang terlalu yakin bahwa tidak ada hal yang perlu dipikirkan tentang kesehatannya justru bisa jatuh sakit berat karena keteledorannya.

Yesus dalam ayat di atas membuat sebuah analogi tentang maksud kedatanganNya ke dunia. Yesus menjelaskan bahwa seperti seorang tabib yang datang untuk menyembuhkan orang sakit, Ia datang untuk menyelamatkan orang berdosa. Memang Yesus sudah membuat berbagai mukjizat termasuk menyembuhkan orang sakit. Tetapi Ia datang ke dunia dengan tujuan utama untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. Dosa adalah penyakit yang bisa menghancurkan hidup manusia.

Pada waktu itu ahli-ahli Taurat dari orang Farisi melihat bahwa Yesus mau diundang dan bahkan makan dengan pemungut cukai dan orang yang dipandang berdosa. Mereka bertanya kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Mereka tidak sadar bahwa di hadapan Tuhan semua orang adalah orang berdosa, seperti orang sakit yang memerlukan tabib. Mereka yang menyadari dosanya dan datang kepada Yesus akan menerima keselamatan secara cuma-cuma, tetapi mereka yang tidak mengakui dosanya tidak akan bisa menghindari kematian.

Mungkin pada saat ini hidup kita berjalan lancar dan nyaman. Adalah mudah dalam keadaan yang sedemikian untuk kita merasa bahwa semuanya ada dalam keadaan baik. Sebagai orang Kristen, kita mungkin tidak lagi merasa bahwa kita selalu membutuhkan Yesus pada setiap saat untuk terus menguatkan, membimbing dan menyembuhkan bagian hidup kita yang tidak baik.

Kecenderungan memang ada untuk mengabaikan apa yang buruk dalam hidup kita dan merasa bahwa kita sudah cukup baik untuk Tuhan. Kalau kita merasa diberkati, ada perasaan bahwa Tuhan tentu sudah senang dengan cara hidup kita. Selain itu, dengan adanya berbagai kesibukan, kita tidak lagi peduli untuk selalu datang kepada Yesus untuk memohon pengampunan dan bimbingan dariNya.

Yesus datang seperti seorang tabib yang datang untuk menyembuhkan mereka yang sakit. Mereka yang sudah merasa hidupnya cukup baik dan sehat adalah orang-orang yang tidak menyadari segala kelemahan dan dosanya. Hanya orang yang menyadari kelemahannya akan mau mengundang Dia untuk datang dan menyertainya setiap saat. Maukah kita selalu menyadari bahwa kita selalu membutuhkan Dia dalam hidup kita?

Apakah iman bisa memindahkan gunung?

Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17: 20

Pada kesempatan mengunjungi Mesir, saya sempat mampir di sebuah gereja besar berkapasitas 20000 orang yang dikenal di Indonesia sebagai “Gereja Sampah”. Nama yang agaknya mempunyai konotasi yang kurang baik itu sebenarnya muncul karena gereja itu didirikan di daerah Bukit Mokattam dimana penduduknya mencari nafkah dengan mengumpulkan dan mengolah sampah untuk dijual sebagai bahan daur ulang. Nama resmi gereja ini sebenarnya Gereja Santa Perawan Maria dan juga dikenal sebagai gereja St. Simon the Tanner (Simon penyamak kulit).

Di gereja ini saya mendengar dari guide saya bagaimana warga Mesir pada zaman yang silam menyaksikan suatu mukjizat yakni gunung yang berpindah tempat karena doa orang percaya. Alkisah, ada seorang imam yang ditantang untuk memindahkan sebuah gunung oleh raja Mesir sehubungan dengan bunyi ayat di atas. Sang imam kemudian berpuasa tiga hari dan bertemu dengan Bunda Maria. Sang imam diminta mencari seseorang bernama Simon. Bersama tukang sepatu inilah sang imam berdoa. Mukjizat pun terjadi dan gunung itu berpindah sehingga kini ada gereja di puncaknya.

Memang ada orang yang percaya bahwa ayat di atas harus ditafsirkan secara harafiah, yaitu jika kita mempunyai iman sebesar biji sesawi segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Jika memindahkan gunung belum terjadi, itu karena belum ada manusia yang mempunyai iman yang cukup. Dengan demikian, banyak orang Kristen yang merasa sangat terpukul ketika apa yang mereka doakan tidak terjadi dan orang lain mempersalahkan iman mereka.

Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Yesus itu adalah kiasan. Manusia sudah tentu tidak diharapkan Tuhan untuk bisa secara fisik memindahkan gunung yang sudah diciptakanNya – sekalipun mempunyai iman sebesar apa pun. Tetapi, manusia mampu menghadapi persoalan sebesar gunung jika ia mau percaya bahwa Tuhan bisa menolongnya pada saat dan dengan cara yang sesuai dengan kehendakNya. Iman kita bukanlah diukur dengan apa yang terjadi yang sesuai dengan pengharapan kita, tetapi dengan kepercayaan dan penyerahan bahwa Tuhanlah yang membuat itu terjadi.

Sebagian orang mungkin juga berpikir bahwa memiliki iman yang besar itu tidak perlu, karena biji sesawi menggambarkan sesuatu yang sangat kecil. Tetapi ini juga tidak benar karena Yesus menegur muridNya karena mereka gagal melaksanakan tugas mereka sebab kurang percaya. Mereka seharusnya meminta Tuhan untuk memberikan mereka iman yang besar, karena iman datang bukan karena usaha manusia tetapi karena karunia Tuhan (Efesus 6: 23). Iman tidak dapat diperoleh manusia dengan berbuat baik atau taat kepada Tuhan. Sebaliknya, jika kita memperoleh iman dari Tuhan, kita akan bisa menjalankan kehendakNya.

Iman diberikan Tuhan kepada manusia agar mereka bisa memuliakan Tuhan. Iman bukannya untuk membawa keuntungan duniawi yang bersifat pribadi. Dengan demikian, mereka yang berdoa meminta iman yang besar agar dapat memindahkan “gunung” masalah hidup mereka sebenarnya tidak menyadari bahwa iman yang besar berarti kepercayaan yang besar bahwa Tuhan sanggup menolong mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan. Iman yang besar akan menghilangkan kekuatiran bahwa Tuhan melupakan atau mengabaikan keluhan umatNya.

Mengapa masih meragukan kuasa Tuhan?

Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Matius 14: 28

Kisah Yesus berjalan di atas ombak danau Tiberias agaknya sering dibahas. Kejadian itu ditampilkan dalam Matius 14: 22 -33, Markus 6: 45 – 52 dan Yohanes 6: 16 – 21, tetapi hanya Matius yang menyebut Petrus yang hampir tenggelam. Kebanyakan orang mengupas kejadian itu dari sudut kelemahan iman Petrus ketika mencoba berjalan di atas air seperti Yesus.

Mungkin sebagian orang merasa bahwa Petrus agaknya cukup bodoh untuk melangkahkan kaki keluar dari perahunya. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa berjalan di atas air? Hanya Allah yang bisa, karena Ia mahakuasa. Ayub 9: 4 – 8 menyebutkan bahwa Allah itu bijak dan kuat, yang bisa memindahkan gunung-gunung dengan tidak diketahui orang, yang membongkar- bangkirkannya dalam murka-Nya; yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang; yang memberi perintah kepada matahari sehingga tidak terbit, yang mengurung bintang-bintang sehingga tidak berpindah; yang seorang diri membentangkan langit, dan yang melangkah di atas gelombang-gelombang laut.

Yesus yang sepenuhnya berupa manusia pada saat itu bisa melangkah di atas gelombang laut Galilea atau danau Tiberias, karena Ia bukan manusia biasa. Ia adalah Tuhan yang berkuasa atas alam semesta. Walaupun demikian, Petrus tidak yakin apakah sosok yang berjalan di atas gelombang air itu adalah Yesus! Bagaimana mungkin manusia yang makan, minum dan tidur seperti dia bisa melakukan hal itu? Karena itu ia berseru kepada Yesus: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepadaMu berjalan di atas air.”

Mengapa Yesus berjalan di atas air? Sesuai dengan Ayub 9: 4 – 8, Yesus bermaksud menyatakan diriNya kepada murid-muridNya yang mengalami bahaya bahwa Ia yang sepenuhnya manusia adalah juga sepenuhnya Tuhan, yang berkuasa atas apa pun, termasuk gelombang kehidupan manusia. Jika manusia tidak sanggup menyelesaikan masalah hidupnya, Tuhan bisa mengatasinya.

Apakah Yesus memang mengajak Petrus untuk berjalan di atas air untuk mengukur imannya? Barangkali tidak, karena Petrus adalah manusia. Yesus sebaliknya tahu bahwa Petrus ragu bahwa Ia adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Sayang sekali Petrus bimbang bahwa Yesuslah yang berjalan di atas air! Karena itu, Yesus ingin mengajar Petrus bukan untuk berjalan di atas air sendirian, tetapi untuk percaya bahwa Oknum yang berada di tengah gelombang laut dan tidak tenggelam adalah Tuhan sendiri.

Hari ini, adakah masalah besar dan gelombang kehidupan yang anda hadapi? Tuhan mungkin tidak mengharapkan anda untuk menghadapinya sendirian. Tuhan yang tahu kelemahan anda mengharapkan anda untuk mengakui Dia sebagai Tuhan yang mahakuasa. Seperti Petrus, kita mungkin bimbang apakah Tuhan yang berada di dekat kita, akan mampu mengatasi topan kehidupan kita. Mungkin kita mencoba untuk berjalan di atas topan kehidupan kita dengan kaki kita sendiri. Tetapi, bukan itu yang diharapkan Tuhan. Tuhan mengharapkan semua umatNya untuk tidak bimbang atas kuasa dan kasihNya.

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” Matius 14: 31 – 33

Jangan mengabaikan Tuhan

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan BapaKu yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga.” Matius 10: 32 – 33

Pernahkah anda menyangkali sesuatu atau seseorang? Pertanyaan ini mungkin tidak perlu cepat dijawab dengan “ya” atau “tidak”. Menyangkali yang bagaimana? Kata “menyangkali” memang mempunyai beberapa arti: mengingkari; tidak mengakui; tidak membenarkan; membantah; melawan; menentang; menyanggah; dan menolak.

Apa yang terjadi pada diri Petrus ketika Yesus sedang diadili tentunya sudah banyak dibahas. Ketika itu Petrus ditanya orang apakah ia adalah pemgikut Yesus. Tiga kali ia ditanya, tiga kali juga ia menyangkal. Dengan demikian, Petrus sudah meyangkali atau menolak Yesus. Jika tidak karena penyesalan Petrus dan pengampunan Yesus, tentunya Petrus tidak mempunyai harapan untuk masa depannya.

Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. Matius 26: 74 – 75

Bagi kita yang tidak pernah mengalami suasana mencekam seperti yang dialami Petrus, tentunya tidak dapat membayangkan bagaimana mudahnya Petrus untuk menyangkali Tuhannya. Pada pihak yang lain, kita tahu bahwa Petrus pada akhir hidupnya mengalami kematian yang mengerikan karena bertahan pada imannya.

Kita tentunya berharap agar dalam hidup kita ini tidak harus menghadapi tantangan hidup sebesar yang dialami Petrus, agar tidak pernah menyangkali Tuhan kita selama hidup di dunia. Selama kita tidak mengalami ancaman besar, mungkin kita yakin bahwa kita akan bertahan dengan iman kita. Apalagi jika kita merasa hidup kita selalu aman dan nyaman, hal menyangkali Tuhan tentunya tidak pernah terpikirkan. Tuhan tentunya senang dengan cara hidup kita, begitu kita mungkin berpikir.

Benarkah kita tidak pernah menyangkali Tuhan? Menyangkali Tuhan tidak harus diartikan sebagai menolakNya seperti apa yang dilakukan Petrus. Kita bisa saja mengaku umatNya, tetapi tidak selalu hidup menurut perintahNya. Kita mungkin sudah lama menjadi orang Kristen, tetapi sering lupa akan janji kesetiaan yang kita ucapkan dulu. Mungkin juga, karena pengaruh orang lain, hidup kita tidak lagi berjalan menurut perintah Tuhan. Menyangkali Tuhan tidak harus dengan perkataan atau perbuatan, tetapi bisa juga terjadi jika kita sering mengabaikan atau melupakan Dia.

Mereka yang hidupnya selalu menurut firmanNya akan mengalami perubahan hidup sehingga makin lama makin bisa hidup seperti apa yang dikehendaki Bapa (Matius 5: 48). Sebaliknya, jika tahun demi tahun berlalu dan hidup kita tidak banyak mengalami perubahan dalam tingkah laku, cara hidup, kebiasaan dan etika kita, mungkin kita sudah melupakan Tuhan dan tidak lagi mengakui Dia sebagai Raja. Seperti apa yang terjadi pada Petrus, Tuhan yang mahakasih masih memberi kita kesempatan melalui bimbingan RohNya untuk insaf akan kekeliruan kita dan mau mengubah hidup kita.