Hukum ada karena Tuhan ada

“Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.” Roma 13: 3

Kemarin malam untuk kesekian kalinya ada tawuran di daerah pinggir pantai di Melbourne. Mereka yang tinggal di daerah itu memang sudah lama merasa takut untuk keluar rumah di malam hari karena adanya kelompok anak muda yang sering membuat kekacauan. Apa yang terjadi kemarin malam melibatkan sekitar 50 anak muda yang berkelahi dalam sebuah bis, samapai-sampai polisi perlu memakai semprotan merica (pepper spray) untuk memisahkan dua kelompok yang tersangkut. Selanjutnya, pagi ini penduduk setempat harus membersihkan pantai yang dikotori dengan berbagai sampah yang ditinggalkan anak-anak muda itu.

Mengapa orang kadangkala bisa bertindak seperti hewan yang tidak mengerti hukum? Ini pertanyaan lama yang tidak dapat dijawab dengan mudah. Filsuf Aristotle pernah berkata bahwa “At his best, man is the noblest of all animals; separated from law and justice he is the worst”. Itu benar. Dalam keadaan terbaik, manusia adalah makhluk yang paling baik di antara hewan, tetapi ia adalah makhluk yang paling buruk jika tidak ada hukum dan keadilan. Lebih dari itu, manusia jelas bisa lebih buas dari hewan jika mereka tidak takut akan Tuhan. Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa memang mampu untuk berbuat dosa apa saja dengan kebebasan yang diterimanya dari Tuhan.

Ada berbagai faktor praktis yang bisa membuat orang merasa bahwa ia ada di atas hukum. Mungkin orang itu mabuk atau merasa kuat karena berada bersama banyak teman, tetapi jelas  bahwa pada saat orang dengan sengaja melanggar hukum mereka merasa bahwa  hukum tidak dapat menangkap mereka. They act as if they are above the law. Mereka yang semestinya takut kepada hukum dan pemerintah, merasa bahwa tidak ada apapun yang bisa menghentikan perbuatan jahat mereka. Sebaliknya, orang yang melihat kelakuan mereka mungkin justru merasa takut karena kuatir kalau-kalau hukum yang ada tidak dapat melindungi mereka.

Ayat di atas mengingatkan orang Kristen untuk menaati hukum dan pemerintah. Etika Kristen mengajarkan bahwa jika pemerintah yang sah mengatur negara dengan segala hukumnya, adalah keharusan bagi orang Kristen  untuk taat kepadanya karena pemerintah adalah wakil Tuhan (Roma 13: 4). Hukum ada untuk membuat setiap warga menjadi orang yang berkelakuan baik.  Dengan taat kepada hukum, kita boleh mendapatkan kedamaian dalam hidup sehari-hari karena hanya orang yang melanggar hukum yang harus takut kepada pemerintah.

Bagi orang Kristen, taat kepada hukum bukan berarti boleh melakukan apa yang buruk asal tidak tertangkap oleh hukum. Dalam bentuk sederhana, ini mungkin menggunakan ponsel selagi mengendarai mobil, tetapi mereka yang berani mengambil resiko mungkin tidak ragu untuk menggunakan uang negara selagi ada kesempatan. Adanya pemerintah bagi orang Kristen adalah bukti adanya Tuhan yang menghendaki ketertiban. Oleh karena itu, orang Kristen harus taat kepada hukum dan pemerintah setiap saat karena Tuhan yang mereka sembah adalah Oknum yang mahatahu. Takut akan Tuhan akan bisa terlihat dalam hidup seseorang yang taat kepada hukum negara.

Cara hidup lebih penting dari nama

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Beberapa tahun yang lalu ada berita yang menyebutkan bahwa di Tiongkok permintaan orang tua untuk memberi anak mereka sebuah nama yaitu “@” telah ditolak pemerintah. Saya setuju. Memang banyak orang tua yang memilih nama yang aneh, konyol atau tidak biasa untuk anak mereka. Mungkin dengan maksud baik, tetapi bisa membuat malu anak itu di kemudian hari.

Apa artinya sebuah nama? What’s in a name? Begitu orang sering bertanya. Memang sebuah nama belum tentu cocok dengan sifat atau penampilan anak yang diberi nama. Tetapi, sebuah nama jika dipilih dengan hati-hati bisa menggambarkan apa yang diharapkan dari anak itu. Contohnya, Yesus yang dilahirkan pada hari Natal diberi nama sedemikian, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Matius 1: 21). Yesus berasal dari bahasa Ibrani Yehoshua dan nama Yeshua atau Joshua adalah kependekannya, dan berarti “keselamatan”. Lebih dari itu, orang juga menamakan Yesus sebagai Imanuel yang berarti Allah menyertai kita (Matius 1: 23).

Lalu bagaimana dengan nama “Kristen” yang diberikan orang kepada murid-murid Barnabas dan Paulus di Antiokhia (Kisah Para Rasul 11: 26)? Nama Kristen atau Christian itu muncul karena mereka adalah pengikut Kristus atau Christ. Orang melihat bahwa mereka adalah pengikut Yesus dan bukannya pengikut Barnabas atau Paulus, karena mereka menjalankan apa yang diajarkan Yesus. Yesus yang mereka akui sebagai Anak Allah adalah lebih besar dari Barnabas atau Paulus yang manusia biasa.

Di zaman sekarang, jumlah orang yang digolongkan Kristen di dunia sudah lebih dari 2000 juta orang. Walaupun demikian, mereka mungkin lebih dikenal dengan nama-nama lain seperti Katolik, Protestan, Pentakosta dan sebagainya. Bahkan, untuk lebih jelasnya mereka mungkin memperkenalkan diri sebagai pengikut aliran Reformed, Arminian, Wesleyan, Methodist, Seventh Day Adventist, dan lain-lain. Sebutan Kristen saja mungkin belum dianggap cukup untuk bisa membedakan teologi yang mereka anut.

Memang teologi sering dianggap begitu penting dalam perjalanan iman orang Kristen. Tetapi, jika setiap orang Kristen berusaha melaksanakan kepercayaan mereka dengan cara mereka masing-masing, bagaimana pandangan Tuhan akan hal itu? Apakah Tuhan membedakan manusia berdasarkan pengertian manusia atas diriNya? Apakah Tuhan memberikan kunci ke surga kepada seseorang berdasarkan penilaianNya atas pengetahuan kekristenan yang dipunyainya?

Ayat di atas mengatakan bahwa bukan setiap orang yang berseru: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke surga. Ini menunjukkan bahwa mereka yang kelihatannya mengenal Tuhan belum tentu akan diselamatkan. Bukan setiap orang yang rajin mempelajari firman Tuhan dan segala tafsirannya akan dapat masuk ke surga, tetapi hanya orang yang benar-benar sudah memiliki iman yang menyelamatkan (saving faith) dari Tuhan.

Mereka yang melakukan kehendak Allah lah yang akan diberiNya kunci ke surga. Ini menunjukkan bahwa pelaksanaan perintah Tuhan setiap hari dalam hidup adalah tanda yang lebih nyata bahwa seseorang benar-benar mengenal Tuhan. Dengan demikian, bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan dan sesama kita adalah tanda kekristenan yang terpenting dalam hidup kita.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Yakobus 1: 23

Hal memberi nasihat

“Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.” 1 Timotius 1: 5 – 6

Ada ungkapan terkenal yang berbunyi “Tujuan menghalalkan cara” yang dalam bahasa Inggris ditulis sebagai “The ends justify the means“. Ungkapan ini mungkin bisa diartikan: “Tidak menjadi soal apa cara kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, selama kita bisa mendapatkannya”. Jika diartikan sedemikian, ungkapan ini agaknya bernada negatif atau jahat, tetapi ini memang sering terjadi di dunia bisnis dan politik. Pada pihak yang lain, mereka yang bermaksud baik bisa saja mengartikannya sebagai “Cara apa pun adalah baik selama tujuannya baik”.

Bagaimana pandangan orang Kristen mengenai ungkapan ini? Bolehkah kita menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang baik? Sebelum anda menjawabnya, mungkin anda perlu mengetahui bahwa para misionaris yang datang ke Australia dan beberapa gereja di Australia pernah mempraktikkan pengambilan dengan paksa anak-anak yang dilahirkan oleh wanita yang tidak menikah. Tujuannya kelihatannya baik, yaitu untuk memberikan pendidikan dan pemeliharaan yang mungkin bisa lebih baik dari apa yang bisa diberikan oleh sang ibu, tetapi caranya tentu tidak dapat dibenarkan.

Apakah Tuhan kita juga memakai segala cara untuk mencapai tujuanNya? Ini adalah hal yang sering diperdebatkan umat Kristen. Bagi sebagian orang, Tuhan yang mahakuasa tentunya berhak memakai cara apa saja, termasuk menciptakan kejahatan, untuk memperoleh apa yang dikehendakiNya. Tetapi, orang yang lain mungkin berpendapat bahwa Tuhan tidak dapat mencapai tujuanNya dengan cara yang bertentangan dengan hakikiNya sebagai Tuhan yang mahakasih, mahaadil dan mahasuci. Cara apa pun yang dipakai Tuhan untuk membimbing umatNya, itu selalu berdasarkan hakikiNya, sekali pun kita sering tidak dapat memahaminya.

Ayat di atas menjelaskan bahwa seperti Tuhan yang selalu memakai cara yang baik dan efektif untuk membimbing kita, kita pun harus memakai cara yang baik untuk membimbing dan menasihati orang lain. Jika kita mempunyai tujuan yang baik untuk menyadarkan atau menolong orang lain, cara yang kita pilih haruslah sesuai dengan tujuan itu. Cara yang kita pilih haruslah mencerminkan apa yang menjadi hakiki Tuhan kita.

Jika kita ingin memberi nasihat, itu adalah tujuan yang baik. Tetapi itu harus timbul dari kasih yang ada dalam hati kita, yang suci, yang dari hati nurani yang murni, dan dari iman yang tulus ikhlas. Itu tidaklah mudah. Karena itu, ada banyak orang yang tidak dapat mencapai tujuan baiknya karena cara yang dipilih adalah cara yang keliru, yang hanya akan menghasilkan hal yang sia-sia.

“…tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1: 15 – 16

Pernikahan adalah sebuah pilihan dan tanggung jawab setiap insan

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” 2 Korintus 6: 14

Pernikahan antara seorang pria dan wanita adalah apa yang diperintahkan Tuhan setelah penciptaan manusia (Kejadian 1: 28). Berbeda dengan hewan yang berhubungan dengan lawan jenisnya melalui dorongan naluri saja, manusia mempertimbangkan berbagai faktor sebelum memutuskan untuk menikah. Walaupun demikian, di zaman modern ini banyak orang yang berpendapat bahwa konsep pernikahan itu sudah kuno dan karena itu ada orang yang percaya bahwa hubungan intim antara pria dan wanita adalah untuk memenuhi kebutuhan jasmani saja, dan oleh karena itu seringkali didasarkan pada naluri dan perhitungan untung-rugi.

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa pernikahan adalah sesuatu pilihan yang dilakukan manusia bukan saja untuk melakukan hubungan jasmani, tetapi juga menyangkut soal rohani. Memang, ikatan pernikahan yang diberkati Tuhan dari awalnya adalah ikatan dua insan yang berlainan jenis yang berjanji saling mengasihi untuk seumur hidup dan dalam setiap keadaan, dan dengan demikian melambangkan hubungan kasih antara Allah dan gerejaNya (Efesus 5: 22 – 25).

Manusia dapat memilih untuk menikah atau tidak menikah, tetapi rasul Paulus menganjurkan mereka yang ingin melayani Tuhan dengan sepenuhnya agar memilih hidup membujang. Walaupun demikian, jika orang merasa dapat tergoda untuk melakukan hal yang salah, lebih baik mereka menikah (1 Korintus 7: 9). Ini pun adalah keputusan yang harus diambil manusia, dan bukan yang ditentukan Tuhan.

Mereka yang ingin menikah, harus memikirkan bagaimana dengan pernikahan mereka, nama Tuhan akan makin dimuliakan. Karena itu, jika pasangan mereka justru membuat mereka menjauhi Tuhannya, ada pertanyaan apakah keputusan yang diambil sudah sesuai dengan kehendakNya. Sekali lagi, setiap manusia harus bertanggung jawab atas siapa yang dipilih sebagai pasangannya, bukan Tuhan.

Mereka yang ingin menikah tetapi tidak atau belum juga mendapatkan pasangan yang sesuai, mungkin sering memikirkan mengapa Tuhan yang menghendaki manusia untuk berkeluarga agar bisa saling tolong menolong, tidak membuka jalan bagi mereka. Dalam hal ini, sudah tentu setiap orang percaya bisa menyampaikan permohonan kepada Tuhan sambil mengakui bahwa pada akhirnya kehendak Tuhanlah yang harus terjadi.

Jika orang menemukan jodoh yang sepadan dan mempunyai keturunan, itu adalah berkatNya yang harus dihargai untuk kemuliaanNya. Keluarga adalah unit terkecil dimana setiap orang Kristen bisa mempraktikkan hukum kasih. Tetapi, jika seorang akhirnya hidup sendirian atau tidak mempunyai anak, itu pun berkat Tuhan yang tetap bisa dipakai untuk lebih dapat memuliakan Tuhan dan melayani sesama.

Baik hidup berumahtangga maupun sendirian adalah memiliki berbagai tantangan. Tidak semua orang bisa berhasil mengatasinya. Tetapi tiap orang yang mau memuliakan Tuhan harus berusaha untuk taat kepada firman Tuhan dan senantiasa memohon kekuatan dan bimbinganNya. Itu pun hal yang harus diputuskan dalam hidup setiap orang percaya.

Bagi anda yang belum menikah, baru menikah, tidak menikah, atau sudah lama menikah, pernikahan adalah sebuah pilihan dan tanggung jawab anda, tetapi adanya iman seharusnya membuat anda memiliki perspektif yang berbeda.

Menghadapi badai kehidupan

“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” Matius 7: 25

Pagi ini saya sibuk sekali membersihkan balkoni apartemen saya di Gold Coast. Kemarin siang 128 mm hujan turun dalam waktu satu jam. Banyak daerah yang kebanjiran, dan ribuan rumah terputus aliran listriknya. Untunglah daerah saya tidak mengalami banjir, sekalipun daun dan lumpur dari taman menutupi lantai balkoni.

Menurut badan meteorologi, hujan kemarin termasuk besar, mungkin hujan sedemikian hanya terjadi sekali tiap 50 tahun. Tetapi memang perubahan iklim yang terjadi di Australia sering membuat hujan besar dan badai terjadi di saat yang tidak terduga, sekalipun di banyak tempat hujan jarang sekali turun. Mereka yang tidak siap menghadapi kedatangan hujan besar seperti itu tentu saja bisa mengalami kebocoran atap, tumbangnya pohon atau kebanjiran. Itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan kerusakan rumah yang disebabkan badai.

Mereka yang tidak pernah membayangkan bahwa badai besar bisa terjadi, tentunya tidak merasakan perlunya persiapan khusus. Rumah yang berada di daerah yang tidak pernah dilanda badai tentunya tidak perlu mempunyai desain dan cara pemeliharaan yang khusus.

Hidup manusia dalam ayat di atas dibayangkan sebagai rumah yang dilanda badai. Datangnya masalah kehidupan yang besar tentunya menggoncang hidup siapa saja. Badai sebesar itu mungkin belum sering terjadi, dan setiap orang berdoa dan berharap agar tidak terjadi, tapi jika terjadi itu tidak dapat ditolak atau dihindari.

Dalam dunia yang sudah tercemar dosa, siapa saja bisa mengalami masalah hidup yang besar. Tetapi, bagi umat Kristen penderitaan yang lebih besar sering terjadi karena dunia membenci mereka. Lebih dari itu, orang Kristen juga sering mengalami serangan iblis yang ingin memisahkan mereka dari Tuhan.

Kapankah kita akan mengalami badai kehidupan di masa depan? Tentu saja tidak ada orang yang bisa menjawabnya. Hanya Tuhan yang tahu, sekalipun Dia bukan penyebabnya. Dalam hal ini, kita yang percaya kepada Tuhan harus yakin bahwa apa pun yang terjadi, Tuhan akan menyertai kita. Tetapi ini bukan berarti bahwa kita tidak perlu berbuat apa-apa.

Seperti mempersiapkan sebuah rumah untuk menghadapi badai yang akan datang, kita harus memohon agar Tuhan memperkuat iman kita hari demi hari, dan memusatkan hidup kita kepadaNya. Dengan demikian, jika badai kehidupan datang, kita akan tetap dapat berdiri teguh dalam iman sampai akhir.

Gunakan kebebasanmu untuk memuliakan Tuhan

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Roma 6: 1

Dengan datangnya minggu kedua bulan Desember, acara “schoolies” di Gold Coast berakhir. Acara schoolies adalah acara pesta gembira mereka yang baru lulus SMA (school leavers) di Australia. Karena perbedaan tanggal lulus, mereka yang tinggal di Queensland merayakannya di akhir bulan November, seminggu sebelum mereka yang bersekolah di negara bagian New South Wales dan Victoria. Para lulusan SMA ini biasanya pergi ke pantai dan tinggal di hotel untuk beberapa hari bersama teman-teman sekelas. Mereka yang merasa sudah dewasa ini seringkali mengadakan pesta gila-gilaan yang menyangkut penggunaan miras dan narkoba selain hubungan yang tidak senonoh.

Bagi orang tua dan orang yang tinggal disekitar tempat pesta, acara schoolies tentunya menimbulkan kekuatiran dan membawa perasaan sebal. Bukan saja tindakan anak-anak muda itu yang sering di luar batas, tetapi lingkungan setempat juga ikut tercemar dengan kebisingan, kemacetan, dan banyaknya sampah yang bertebaran, serta kerusakan bangunan atau fasilitas. Oleh karena itu, sejak beberapa tahun terakhir ini pemerintah dan polisi mulai mengadakan pendekatan dan bimbingan agar mereka tidak melakukan hal-hal yang tercela. Sekalipun mereka jauh dari pengawasan orang tua, para pekerja sosial dan polisi secara aktif ikut menenangkan suasana.

Memang kebebasan tanpa batas seringkali mendatangkan kekacauan. Ini bukan saja terjadi pada anak muda, tetapi juga dikalangan orang dewasa. Jika manusia hanya mementingkan kegembiraan dan kepuasan pribadi, pada akhirnya mereka akan melakukan hal-hal yang tidak baik. Hal yang serupa bisa juga terjadi di kalangan orang Kristen yang merasa bahwa dengan pengampunan  yang mereka terima melalui Yesus Kristus, mereka dibebaskan dari pemikiran atau kekuatiran tentang dosa. Dengan kesadaran bahwa Tuhan adalah Oknum yang mahakasih, mereka mudah jatuh dalam perbuatan yang tercela. Bukankah Tuhan yang mahakasih akan selalu dapat mengampuni dosa mereka? Bukankah kasih Tuhan yang tidak dapat dibayangkan dalamnya bisa mengampuni dosa yang sekelam apapun?

Jika kasih Tuhan yang tidak terbatas menghapus kekuatiran manusia untuk melanggar hukum Tuhan, itu adalah sesuatu yang aneh. Mengapa? Jika manusia sadar bahwa Tuhan mengasihi mereka, itu bukanlah surat izin untuk melakukan apa saja yang dikehendaki mereka. Tuhan yang lebih dulu mengasihi kita, ingin agar kita juga mengasihi Dia dan sesama kita. Dalam kenyataannya, jika kita benar-benar pengikutNya tentunya kita akan berusaha untuk menempuh hidup yang baik dan menjalankan perintahNya. Kemerdekaan dari dosa yang sudah diberikan Tuhan, bukan berarti kesempatan untuk membuat dosa baru. Sebaliknya, pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan seharusnya membuat kita sadar bahwa hidup kita makin lama harus makin baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan Tuhan,

Tuhan memberikan kemerdekaan kepada umat manusia untuk memilih apa yang baik. Tetapi, sayang sekali bahwa Adam dan Hawa gagal untuk menggunakan kebebasannya. Sebaliknya, karena pelanggaran mereka, seluruh umat manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan karena itu makin sulit bagi mereka untuk memilih apa yang baik. Manusia sudah rusak sedemikian rupa sehingga sekalipun nampaknya merdeka, sudah jatuh dalam kungkungan dosa. Ini bukan berarti bahwa manusia sudah rusak sama sekali sehingga ia sama sekali tidak dapat membedakan yang baik dari apa yang jahat. Tetapi, tanpa bimbingan dan pengarahan Tuhan pastilah manusia akan mengalami kesulitan dan tidak akan mempunyai harapan untuk keselamatan.

Ayat di atas menegaskan bahwa sebagai orang yang sudah diberi pencerahan oleh Roh Kudus, dan oleh karena karuniaNya kita sudah menerima pengampunan, pengertian kita akan kebebasan seharusnya diperbaharui hari demi hari. Sekali pun kita melihat bahwa ada banyak hal yang menarik yang dapat kita pilih, hidup yang sudah disucikan oleh darah Kristus akan memilih untuk meninggalkan dosa lama dan menjalani hidup sesuai dengan firmanNya. Karena kasih karunia Tuhan, kita akan makin sadar bahwa dalam hidup baru yang kita terima kita harus bisa memakai kebebasan kita untuk memilih Dia di atas segala yang terlihat memikat di depan mata.

Tuhan adalah mahakasih

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38

Tahun 2019 hampir berakhir dan tahun 2020 tidak lama lagi akan datang. Hari-hari mendatang adalah hari-hari terakhir yang bisa dipakai orang untuk mencapai target atau harapan yang pernah ditetapkannya pada awal tahun 2019. Pada pihak yang lain, hari-hari yang tersisa dari tahun ini, bagi sebagian orang, adalah hari-hari yang bisa dinikmati sesudah menyelesaikan kewajiban yang ada. Hari-hari yang bisa dipakai untuk berlibur atau beristirahat sebelum memasuki tahun baru dan menjalankan tugas-tugas baru. Semua itu adalah baik, karena sejak penciptaan manusia diberi pengertian akan pentingnya bekerja dan beristirahat.

Awal minggu ini, sebuah kapal pesiar berpenumpang sekitar 6000 orang mengunjungi sebuah tempat di Selandia Baru.  Saat dimana sebuah kapal berhenti dan penumpangnya bisa mendarat adalah saat gembira. Sekitar 50 penumpang kemudian mengikuti sebuah tour lokal untuk melihat sebuah kawah gunung berapi. Diantara mereka ada yang pergi bersama keluarga dan ada juga yang bersama teman-teman seusia. Malang tak dapat ditolak, gunung berapi yang dulunya tidur, tiba-tiba meletus tanpa tanda-tanda peringatan. Sebagai akibatnya, banyak orang yang luka berat dan beberapa orang sudah dinyatakan tewas akibat semburan pasir dan uap panas. Hal yang sangat menyedihkan, terutama karena itu terjadi menjelang hari Natal.

Bagi banyak orang, suasana gembira yang tiba-tiba menjadi suasana duka membawa pertanyaan mengapa semua itu harus terjadi. Apakah salah mereka sehingga menemui kemalangan yang begitu besar? Mengapa Tuhan membiarkan malapetaka semacam itu terjadi? Apakah Tuhan yang menyebabkan semua itu? Bagi mereka yang tidak atau kurang mengenal sifat hakiki Tuhan yang tidak hanya mahakuasa, tetapi juga mahakasih, sudah tentu ini bisa menjadi suatu pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Sebagai Tuhan yang mahakuasa, Ia berhak melakukan atau tidak melakukan apa saja, sesuai dengan kehendakNya. Tetapi, jika Ia adalah Tuhan yang mahakasih, Ia tentunya bukan penyebab malapetaka.

Dalam Alkitab, kita bisa membaca bahwa Tuhan yang mahakuasa sudah tentu bisa menghindarkan manusia dari bencana. Itu dilakukanNya pada bani Israel ketika mereka dikejar tentara Firaun dan terpojok di pinggir laut. Lebih dari itu, Tuhan juga pernah melindungi orang lain dari berbagai bencana, sekalipun mereka bukan orang Israel atau umatNya. Yesus dan murid-muridNya juga menyembuhkan banyak orang yang sakit tanpa memikirkan apakah mereka pantas untuk ditolong. Dengan demikian, jika kita melihat adanya bencana, pertama-tama kita harus ingat bahwa Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana tentunya bukan Tuhan yang kejam.

Ayat diatas menyatakan bahwa dalam keadaan apa pun, apa yang harus kita pegang sebagai prinsip utama adalah bahwa Tuhan itu kasih. Dengan mengingat kasihNya, kita akan dapat menghadapi segala tantangan kehidupan dengan keberanian. Dengan mengingat kasihNya, kita juga percaya bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia dan bukan hanya umatNya.  Kasih Tuhan sebenarnya sudah diperlihatkanNya ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam bencana besar akibat dosa. Adam dan Hawa diusir dari taman Firdaus dan hidup manusia sejak saat itu menjadi hidup yang penuh bahaya dan tantangan.  Walaupun demikian, Tuhan menjanjikan datangnya seorang Juruselamat yang akan menyelamatkan keturunan mereka. Janji Tuhan ini sudah ditepati dengan kedatangan Yesus ke dunia di hari Natal.

Pagi ini, jika hati anda gundah karena apa yang terjadi di sekitar anda, janganlah hati anda menjadi kecil. Tuhan bukanlah oknum Ilahi yang karena kemahasucian dan kemahakuasaanNya bertindak dengan semena-mena. Sebaliknya, Tuhan menghendaki setiap orang agar mau menyerahkan hidup dan masa depan mereka kepada Tuhan yang mempunyai rencana yang baik untuk seluruh umat manusia, yaitu untuk memberikan keselamatan yang kekal kepada mereka yang mau menerima kasihNya yang dinyatakan dalam diri AnakNya, Yesus Kristus.

Natal mengingatkan kita bahwa Tuhan itu dekat

“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!” Yakobus 5: 13

Hari Natal adalah hari peringatan akan kelahiran Tuhan Yesus. Hari yang akan dirayakan sebagai hari gembira karena datangnya Sang Juruselamat lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Bagi mereka yang bukan orang Kristen pun, hari Natal adalah hari yang biasanya disambut dengan rasa senang.  Bagi mereka yang mempunyai keluarga atau teman dekat, hari itu mungkin bisa dirayakan bersama-sama. Mereka yang sering ke gereja mungkin sudah merencanakan untuk hadir dalam kebaktian khusus hari Natal. Tetapi, banyak juga orang yang jika ditanya, menjawab bahwa mereka tidak mempunyai rencana khusus untuk merayakan Natal. Mungkin karena mereka jauh dari keluarga, tidak mempunyai sanak atau teman, atau sedang berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan. Bagi mereka, Natal justru bisa mendatangkan kesedihan.

Mereka yang beriman, seharusnya bisa membayangkan bahwa Tuhan yang ada di surga adalah Tuhan yang sebenarnya ingin untuk dekat dengan ciptaanNya. Keselamatan yang direncanakanNya sudah dilaksanakan sejak mulanya dengan mendatangkan AnakNya ke dunia. Yesus yang turun ke dunia adalah Tuhan sendiri yang berwujud manusia, dan dengan pengurbananNya sudah menjembatani hubungan antara Allah Bapa dan umatNya. Allah tidak lagi oknum yang jauh di sana, tetapi adalah Bapa dari orang percaya. Lebih dari itu, sesudah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikanNya kepada semua pengikutNya guna memberikan penghiburan, bimbingan dan keberanian untuk menghadapi segala tantangan hidup di dunia. Dengan demikian, kehadiran Tuhan  seharusnya makin terasa dalam hati umatNya ketika hari Natal mendatangi.

Mengapa Tuhan yang seharusnya dekat masih terasa jauh di sana? Itulah pertanyaan yang sering diucapkan setiap orang yang merasa bahwa mereka harus menghadapi hidup ini sendirian. Bagi setiap orang percaya, ini adalah pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab. Karena Tuhan sudah menunjukkan kasihNya melalui kelahiran Yesus, adalah kenyataan bahwa Ia ingin menyertai setiap umatNya. Jika kehadiran Tuhan tidak kita rasakan dalam hidup kita, itu adalah karena kita sendiri yang belum membuka hidup dan hati kita untuk Dia.

Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan. Ini haruslah dilakukan setiap saat, dan bukan hanya jarang-jarang saja. Jika kita menderita, baiklah kita berdoa kepada Tuhan; jika kita bergembira baiklah kita memuji Dia. Kebiasaan yang baik ini haruslah selalu dipertahankan sekalipun hidup kita terasa sibuk sepanjang tahun. Tuhan yang datang ke dunia sebagai manusia adalah Tuhan yang bisa merasakan suka-duka kita dan Tuhan yang mau dekat dengan kita. Yesus adalah sobat yang setia dalam keadaan apapun.

Mungkin pada saat-saat yang lalu kita sering mengalami kesusahan. Mungkin penderitaan yang kita alami membuat kita merasa bahwa Tuhan pun tidak dapat menolong kita. Dengan keadaan sedemikian, kita mungkin merasa bahwa doa kita tidak ada gunanya. Pada pihak yang lain, mungkin saja selama ini hidup kita cukup lancar dan kita merasa itu sudah sewajarnya. Kita sudah berusaha hidup baik dan bekerja keras, dan sudah sepatutnya kita memperoleh keberhasilan. Dengan itu mungkin kita lupa untuk memuji Dia. Sekalipun Tuhan ada di dekat kita, Dia sudah menjadi Tuhan yang diabaikan. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa lambat laun  hubungan kita dengan Tuhan menjadi renggang atau hambar.

Hari Natal sudah dekat, tetapi getaran hati kita untuk menyambut hari kelahiranNya mungkin tidak terasa. Hari Natal mungkin sudah menjadi hari yang tidak ada artinya secara spritual.  Tuhan yang sudah kita abaikan hari demi hari tidak akan terasa dekat sekalipun lagu-lagu Natal mulai menggema. Hubungan yang renggang sepanjang tahun tidak akan membuat kita sadar bahwa Ia sudah datang untuk kita, agar kita tidak merasa seorang diri dalam hidup di dunia. Hanya dengan mengubah hidup kita untuk dekat kepadaNya dalam setiap saat dan keadaan, dalam duka maupun suka, kita akan dapat mengerti kasih dan penyertaan Tuhan sepanjang hidup kita.

Kasih Allah sudah menghilangkan kegelapan

“..:oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” Lukas 1: 78 – 79

Di Australia, sekarang ini adalah musim panas. Karena itu tidak ada Natal yang bersalju seperti di Amerika. Berbeda dengan Indonesia, Australia terletak jauh di bawah garis khatulistiwa (equator). Pada musim panas matahari yang berada di belahan selatan bumi muncul pagi sekali, sebelum jam 5 pagi.

Bagi orang yang harus berangkat bekerja di dini hari, adanya sinar matahari adalah sangat membantu; berbeda dengan keadaan di musim dingin, dimana mereka harus berangkat menuju tempat pekerjaan sewaktu masih gelap karena matahari pada waktu itu ada di belahan utara dunia.

Sekalipun adanya musim dingin di Australia dapat dirasakan, itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan suasana di tempat-tempat yang dekat kutub bumi. Karena jauhnya dari posisi matahari, tempat seperti Alaska bisa mengalami kegelapan sampai 2 bulan setiap tahunnya.

Keadaan bumi sebelum adanya matahari dapat dibayangkan seperti musim dingin di Alaska. Gelap dan dingin. Keadaan serupa dapat dibayangkan untuk dunia jika manusia tidak mengenal Tuhan. Kegelapan dosa akan meliputi tempat dimana manusia merasa bebas untuk melakukan apa saja yang diingininya. Kejahatan, kekejian, kebohongan, ketamakan dan berbagai perbuatan asusila bisa muncul jika manusia tidak takut akan Tuhan. Dalam sepanjang sejarah, ini bisa terjadi di negara atau tempat mana pun.

Bagaimana reaksi Tuhan ketika Ia pada saat penciptaan melihat kegelapan yang menguasai alam semesta? Ia menciptakan matahari, bulan dan bintang untuk mengusir kegelapan. Bagaimana pula reaksiNya ketika Ia melihat kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa? Tuhan yang tahu bahwa karena dosa satu orang, seisi dunia akan dikuasai oleh kegelapan rohani, sudah dari awalnya mempunyai rencana untuk mendatangkan AnakNya untuk menerangi dunia.

Dalam ayat di atas, seorang imam yang bernama Zakharia yang menjelaskan apa yang akan terjadi pada hari Natal yang pertama. Bahwa oleh rahmat dan belas kasihanNya, Allah akan menilik manusia yang mengalami kegelapan rohani. Surya pagi dari tempat yang tinggi, yaitu Yesus Kristus, akan datang untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan hidup mereka kepada jalan damai sejahtera.

Pagi ini kita diingatkan bahwa apa yang dilakukan Allah dua ribu tahun yang lalu, masih tetap dilakukanNya sampai sekarang karena kasihNya tidak pernah berkurang. Karena itu, jika kita sekarang merasa bahwa hidup kita terisi kesedihan, kekosongan, dosa atau kekecewaan, masih ada kesempatan bagi kita untuk menyambut rahmat dan belas kasihan Allah untuk mengusir kegelapan yang selama ini menguasai kita. Dengan sinar kasih Yesus Kristus yang datang ke dunia, kita bisa hidup dalam damai dan sejahtera yang dianugerahkan oleh Allah yang mahamulia.

Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. 2 Korintus 4: 6

Jangan salahkan keadaan, orang lain atau Tuhan

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1: 14

Salah satu pekerjaan yang tidak mudah dilaksanakan di Australia ialah profesi pembela dalam sebuah pengadilan. Pada dasarnya, hukum yang ada memberikan kesempatan kepada seorang tertuduh untuk membela diri dengan bantuan seorang atau sebuah tim pembela.

Dalam hal ini, seorang terdakwa umumnya berusaha mencari segala alasan yang bisa dipakai untuk menyatakan bahwa dirinya sebenarnya tidak bersalah. Itu mungkin bisa dilakukan dengan memakai berbagai alasan, termasuk berbohong dan mempersalahkan orang lain atau keadaan. Dengan itu, memang ada kalanya orang yang sebenarnya bersalah bisa menerima pembebasan.

Dalam kenyataannya, pembela yang hebat memang bisa menggunakan segala bukti dan alibi yang dapat memperkecil hukuman dan bahkan membebaskan terdakwa dari hukuman. Dengan demikian, seorang tertuduh yang kaya bisa saja memilih pembela atau tim pembela yang top.

Di hadapan Tuhan yang mahatahu, orang tentunya tidak dapat berbohong atau mempersalahkan orang lain jika ia memang bersalah. Tetapi, banyak juga orang yang menyalahkan Tuhan atas keadaan yang dialaminya. Banyak orang yang marah kepada Tuhan karena Ia seolah membiarkan mereka untuk berbuat dosa. Bukankah sebagai Tuhan Ia mampu menjauhkan manusia dari dosa? Mungkin Tuhan sudah menentukan manusia untuk berbuat dosa!

Ayat di atas dengan jelas menegaskan bahwa manusia tidak dapat mempersalahkan keadaan, orang lain atau Tuhan yang berkuasa sebagai penyebab dosa. Tuhan yang mahasuci tidak pernah berbuat jahat atau menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Tuhan yang mahakasih tidak mendatangkan dosa untuk manusia. Tetapi tiap-tiap orang mempunyai kebebasan dan tanggung jawab sendiri atas hidup dan perbuatannya. Manusia berbuat dosa dengan melanggar perintah dan hukum Tuhan.

Mereka yang hidup dalam dosa masih mempunyai harapan jika mau bertobat. Itu karena Yesus sudah datang sebagai pembela mereka yang bertobat dan percaya kepadanya (Kisah Para Rasul 2: 38). Tetapi, mereka yang berdalih dan berusaha melemparkan tanggung jawabnya ke orang lain atau kepada Tuhan tidak akan bisa memperoleh pengampunanNya. Bagi mereka pertobatan adalah sulit untuk dilakukan karena mereka tidak pernah merasa bersalah. Bagi mereka pengampunan dari Tuhan yang mahakasih tidak akan ada.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 9 – 10