Kita adalah loh Allah

“Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” 2 Korintus 3: 3

Kemarin saya mendapat kesempatan untuk mendaki gunung Sinai di Mesir. Gunung ini menurut dugaan adalah tempat dimana Allah pada tahun 1300 SM memberikan dua loh batu yang berisi sepuluh hukum Tuhan untuk bangsa Israel. Untuk mencapai puncak gunung yang tingginya 2285 meter ini tidaklah terlalu mudah karena sesudah mengendarai unta untuk satu setengah jam, saya harus mendaki 750 tangga batu yang curam. Saya heran bahwa Musa yang sudah berumur 90-100 tahun waktu itu mau dan bisa mendaki gunung curam itu sebelum ada tangga.

Loh batu yang diberikan untuk umat Israel untuk ditaati ternyata tidak membuat mereka untuk bisa menjadi umat Tuhan yang baik. Sepuluh hukum Tuhan hanyalah merupakan sesuatu yang bisa dilihat, tetapi tidak dimengerti atau ditaati oleh umat Israel. Umat Israel tidak tertarik untuk mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan mereka dan karena itu bagi mereka melaksanakan hukum Tuhan adalah suatu yang sulit dilaksanakan.

Yesus sudah datang ke dunia dan meringkas sepuluh hukum Tuhan itu kedalam dua hukum kasih. Tetapi, ini pun tidak akan membuat manusia untuk mau berusaha dengan sepenuh hati untuk melaksanakannya. Itulah sebabnya Tuhan memberikan RohNya kepada mereka yang percaya agar mereka memgerti apa yang dihendaki Tuhan karena mereka bisa mendengar suara Tuhan dalam hati mereka.

Suara Roh Kudus dalam hati setiap orang Kristen seharusnya membuat mereka hidup dekat dengan Tuhan dan mau hidup menurut apa yang dikehendakiNya. Tetapi, dalam kenyataannya, adalah mudah bagi seseorang untuk mengabaikan suara Roh dalam hidup sehari-hari. Oleh sebab itu, seringkali mereka yang seharusnya bisa melaksanakan perintah Tuhan dan hidupnya berubah makin lama makin baik, ternyata tidak bertumbuh menjadi orang Kristen yang dewasa secara iman.

Pagi ini, kita menyimak dari Alkitab bahwa seperti orang Israel yang sering mengabaikan hukum Tuhan yang diperoleh Musa dari Tuhan melalui penderitaan dan pengurbanannya, begitu pula kita sering mengabaikan hukum Tuhan yang sudah diberikan Yesus dalan hati kita melalui pengurbanan dan kasihNya. Mengapa sering kita mengabaikan suara Roh yang menegur kita ketika kita melakukan hal yang salah? Mengapa kita sering melupakan bahwa segala perintah Tuhan yang sudah ditulis dalam hati kita adalah untuk dilaksanakan dan bukan untuk diabaikan?

Menghadapi kenyataan hidup

“Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” 1 Korintus 4: 11 – 13

Pagi ini saya membaca adanya peringatan yang diberikan oleh negara-negara tertentu kepada warganya tentang adanya ancaman di negara lain. Travel warning ini menyuruh warga mereka untuk mempertimbangkan lagi rencana kunjunngan ke negara tertentu. Hal ini pasti bisa membuat gundah mereka yang mempunyai rencana untuk bepergian.

Jika pertentangan antar negara kadang-kadang terjadi dan menimbulkan berbagai persoalan serius, pertentangan antar individu lebih sering terlihat dalam hidup sehari-hari. Sebagai makhluk yang beradab, manusia mungkin merasa bahwa mereka adalah jauh lebih bisa untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesamanya. Tetapi, dalam kenyataannya banyak masalah yang timbul dalam hidup sehari-hari yang disebabkan karena kegagalan manusia dalam hidup bersosial.

Hidup bermasyarakat memang bukanlah mudah. Dari mulanya kita bisa membaca di Alkitab bahwa perbedaan yang ada di antara manusia, kelompok dan suku sering menimbulkan pergesekan, pertentangan dan perseteruan. Tidaklah heran, Paulus dalam ayat-ayat di atas menulis bahwa ia pernah merasakan berbagai hal seperti dimaki, difitnah dan bahkan dianggap seperti sampah oleh orang lain.

Paulus juga menulis bahwa dalam hidupnya ia sudah mengalami hal yang tidak enak seperti kelaparan, kehausan, telanjang, dipukuli dan hidup mengembara, dan ia juga melakukan pekerjaan tangan yang berat. Semua itu adalah kenyataan hidup yang bisa dialami setiap manusia dan umat Kristen tidaklah imun darinya. Sekalipun mungkin tidak sebanding dengan apa yang pernah dialami Paulus, kita mungkin sering mengalami hal yang serupa.

Bagaimana seharusnya kita bertindak jika kita mengalami hal yang tidak menyenangkan dari orang lain? Paulus menulis bahwa ketika ia dan rekannya dimaki, mereka justru memberkati; kalau mereka dianiaya, mereka malah bersabar; dan kalau mereka difitnah, mereka tetap menjawab dengan ramah. Paulus bisa melakukan hal itu karena ia benar-benar mengikut Yesus yang sudah mengalami penderitaan yang jauh lebih besar. Bagaimana pula dengan kita?

Hidup harmonis dengan Tuhan dan sesama

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Heran bin ajaib, belakangan ini saya mulai gemar memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, terutama mereka yang seumur saya atau yang lebih tua. Saya tidak tahu apakah orang lain juga mengalami hal yang serupa, tetapi salah satu yang selalu menarik perhatian saya adalah adanya pasangan yang sudah berumur yang nampaknya sudah menikah cukup lama, tetapi tetap terlihat mesra dan serasi. Apa kunci kebahagiaan rumah tangga mereka?

Dari beberapa tulisan yang saya pernah baca dan juga dari penelitian saya sendiri rupanya hubungan antara suami dan istri yang harmonis itu sering dihubungkan dengan kemauan masing-masing untuk berkurban untuk yang lain dan menerima pasangannya sebagaimana adanya. Hidup rumah tangga yang sedemikian biasanya diisi dengan rasa syukur dan komunikasi yang baik sekalipun situasi dan kondisi hidup tidak selalu berjalan mulus. Hal ini juga sering dikemukakan oleh banyak penasihat dan pembina perkawinan (marriage counsellor) yang membantu pasangan yang mengalami kesulitan dalam hidup pernikahan mereka. Benarkah ini kunci ketenteraman hidup?

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose memberikan nasihat-nasihat mengenai hubungan antar anggota keluarga dalam Kolose 3: 18 – 25, dan ayat 18 dan 19 sudah sering dibahas dalam konteks hubungan antara suami dan istri. Tetapi, ayat 17 di atas yang mendahuluinya mungkin bisa dipakai sebagai sebuah pedoman dari ayat-ayat sesudahnya. Ayat 17 memegang kunci keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Mengapa begitu?

Paulus menasihati jemaat di Kolose, dan juga kita yang tergolong umat Tuhan, untuk menjalani hidup kita dengan rasa syukur kepada Tuhan. Jika kita selalu ingat untuk pengurbanan Yesus bagi kita, segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan akan dapat dipakai untuk memuliakan Yesus. Dengan demikian, situasi, kondisi dan orang-orang di sekitar kita bukanlah faktor yang menentukan hidup kita.

Pagi ini firman Tuhan menyatakan pentingnya bagi kita untuk mengingat bahwa keharmonisan hidup bisa tercapai jika kita sadar bahwa hidup kita dari Tuhan, karena Tuhan dan untuk Tuhan. Mereka yang bisa mensyukuri hidup yang sedemikian, lebih mudah untuk mengerti bahwa apa yang mereka lakukan atau katakan dalam hidup sehari-hari haruslah untuk kemuliaanNya. Dengan demikian, apa pun yang terjadi dalam hidup kita tidak akan menentukan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama kita.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Berpikir positif secara Kristen

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Hampir semua orang sekarang mengenal apa yang dinamakan “positive thinking” atau berpikir secara positif. Pada dasarnya, cara berpikir ini bukanlah barang baru. Sudah lama para ahli kejiwaan mengenal gejala dimana orang yang menanggapi hidup dari segi positifnya akan lebih bisa berhasil mencapai cita-citanya. Sebaliknya, pikiran negatif cenderung membuat orang merasa kuatir, lemah dan sulit untuk maju.

Berbagai motivator dan bahkan pendeta mengajarkan bahwa sekalipun hidup ini terasa berat, pikiran positif yang melihat segi baik dari segala kejadian bisa memberi semangat baru untuk mengatasi masalah kehidupan. Tetapi ada pertanyaan apakah positive thinking adalah sesuai dengan iman Kristen.

Positive thinking adalah apa yang juga diajarkan firman Tuhan. Tetapi, itu tidaklah sama dengan apa yang diajarkan oleh banyak motivator baik yang Kristen maupun yang bukan Kristen. Mereka yang menggembar-gemborkan cara berpikir positif sebagai upaya untuk lebih giat berusaha dan tidak mudah putus asa, umumnya mengajarkan bahwa nasib manusia ada di tangan manusia sepenuhnya. Jelas itu tidak sesuai dengan iman Kristen yang mengajarkan bahwa hidup kita bergantung kepada Tuhan sepenuhnya.

Mereka yang mengajarkan cara berpikir positif tanpa menyebutkan peranan Tuhan adalah orang-orang yang agaknya berusaha mengangkat derajat manusia agar menjadi setara dengan Tuhan. Sudah tentu itu adalah usaha yang sia-sia. Manusia tidak dapat menghilangkan ketakutan, kekuatiran dan keraguan hanya dengan kekuatan sendiri. Orang tidak dapat memperoleh rasa damai dan rasa cukup hanya dengan berpikir secara positif.

Bagi umat Kristen, berpikir secara positif adalah percaya bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu dan Ia mengasihi umatNya. Karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, kita tidak perlu kuatir tentang apapun juga. Sebaliknya, kita bisa menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Dengan demikian, rasa damai dan sejahtera dari Tuhan yang luar biasa akan memelihara hati dan pikiran kita setiap hari. Cara berpikir positif yang sedemikian akan memungkinkan kita untuk memperoleh kekuatan untuk menghadapi segala tantangan dan masalah dalam hidup.

Hidup yang bergantung pada Tuhan

“Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.” Matius 10: 10

Berapa helai baju yang anda punya? Bagi kebanyakan orang, tentu tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Mengapa? Setiap orang yang cukup mampu di zaman ini pada umumnya memiliki banyak baju, sehingga jumlah yang pasti tidak mudah ditentukan. Selain membeli baju baru untuk mengganti apa yang dipakai, sering orang membeli baju baru karena menyenanginya.

Jika alasan yang pertama berdasarkan kebutuhan, alasan yang kedua adalah demi kepuasan. Bagi kita yang hidup di dunia modern ini agaknya orang menganggap kedua alasan ini sebagai sesuatu yang wajar dalam batas tertentu. Keinginan untuk memiliki banyak baju, perhiasan, mobil atau rumah dianggap biasa. Hidup yang diinginkan orang adalah hidup yang bukan hanya cukup, tetapi berlebihan.

Pada zaman Yesus hidup di dunia, memiliki dua baju adalah sesuatu yang dipandang cukup. Satu baju bisa dipakai, dan kalau itu perlu dicuci, baju yang lain bisa menggantikannya. Walaupun begitu, Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk pergi mengabarkan Injil tanpa membawa dua helai baju, kasut atau tongkat. Hidup secara sederhana, untuk tidak dikatakan menderita. Barangkali kita membayangkan betapa sulitnya untuk menjadi murid Yesus. Benarkah begitu?

Kita yang hidup di zaman modern sudah terbiasa dengan pandangan bahwa orang tidak seharusnya puas untuk mencapai tingkat sederhana saja. Banyak orang Kristen yang justru percaya bahwa pengikut Kristus yang baik tentu diberkatiNya sehingga berlebihan dalam segala sesuatu. Karena itu banyak orang Kristen yang justru bekerja untuk mengejar keberhasilan materi. Karena itu juga banyak orang Kristen yang lupa bahwa Tuhanlah sumber kehidupan kita. Hidup yang sedemikian justru bisa menjadi hidup yang benar-benar sulit untuk dijalani.

Dari ayat di atas kita bisa melihat bahwa Tuhan Yesus tidak menghendaki umatNya untuk memikirkan bagaimana bisa hidup berlebihan, tetapi bagaimana bisa merasa cukup dalam setiap keadaan. Hidup dengan memuliakan Tuhan sambil percaya bahwa Ia yang akan mencukupkan. Yesus menyuruh murid-muridNya bekerja untuk Dia sepenuhnya tanpa memikirkan kebutuhan atau keinginan mereka, tetapi yakin akan kemurahan Tuhan kepada mereka yang setia kepadaNya.

Memasuki tahun yang baru, kepada kita diberikan dua pilihan. Memikirkan kebutuhan kita setiap hari dan karena itu merasa menderita dan kurang puas akan pemeliharaan Tuhan, atau memikirkan bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan secara maksimal dalam hidup kita sambil percaya bahwa Ia selalu memelihara umatNya yang setia. Manakah yang kita pilih?

Jangan kuatir akan masa depan

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal dan sering dikhotbahkan untuk menunjukkan bahwa Tuhan mengatur alam semesta dan juga hidup manusia sampai ke detail yang sekecil-kecilnya. Tuhan agaknya menghitung jumlah rambut kita satu persatu dan tidak membiarkan sehelai rambut pun rontok tanpa seizinNya. Tuhan dengan demikian membuat segala sesuatu berjalan persis seperti apa yang dikehendakiNya. Pengertian yang sedemikian biasanya cenderung mengarah ke pandangan bahwa Tuhan adalah pencipta dan penyebab terjadinya segala sesuatu, termasuk apa yang baik dan jahat.

Sekalipun secara literal bunyi ayat itu menggarisbawahi kedaulatan Tuhan yang mutlak, banyak penafsir Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus dalam ayat itu memakai sebuah kiasan untuk menyatakan bahwa Tuhan adalah mahatahu dan mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan tidak perlu untuk menghitung jumlah rambut kita setiap detik, tetapi Ia yang mahatahu selalu bisa memegang kemudi jalan kehidupan manusia.

Dalam kenyataannya, dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa sudah tentu tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang disenangi Tuhan. Berbeda dengan kehidupan di taman Firdaus, dosa manusia menyebabkan berbagai kejahatan dan penyelewengan sering terjadi. Walaupun demikian, Tuhan yang mahakuasa tidak akan terkejut melihat apa yang terjadi, karena Ia yang memegang kemudi dan sanggup mengatur segalanya sehingga pada akhirnya kehendakNya yang terjadi.

Bagaimana dengan kita sendiri jika kita melihat sesuatu terjadi di luar dugaan atau rencana kita? Karena kita bukan Tuhan, sudah tentu reaksi kita akan berbeda dengan reaksiNya. Kita mungkin heran, kaget, kuatir atau takut. Jika itu menyangkut masa depan dan rencana kita, mungkin saja kita merasa putus asa. Adalah wajar bahwa sebagai manusia kita menyadari bahwa kemampuan kita terbatas dan karena itu kita bisa kehilangan harapan.

Baru saja memasuki tahun baru 2020, kita tentu mempunyai harapan bahwa tahun ini akan dapat dilalui dengan baik. Tetapi, dalam hati kita mungkin mengakui adanya kemungkinan bahwa hal-hal yang tidak kita harapkan bisa terjadi. Adanya kebakaran hutan di Australia atau banjir di Indonesia adalah contoh kejadian yang membuat banyak orang menjadi was-was. Adakah hal yang bisa kita lakukan seandainya hal yang serupa terjadi dalam hidup kita?

Ayat di atas meyakinkan kita bahwa tidak ada hal yang terlalu kecil untuk diabaikan Tuhan, dan tidak ada hal yang terlalu besar untuk bisa diatasiNya. Tuhan mahatahu tidak mungkin untuk tidak melihat masalah apa pun yang terjadi di dunia dan Ia tahu bagaimana hal yang kecil bisa berkembang menjadi besar. Tuhan yang mahakuasa tentunya mampu untuk mengatasi masalah apa pun pada waktu yang tepat. Tuhan pastilah bisa membuat apa saja untuk menjadi kebaikan untuk umatNya sehingga semua orang bisa memuliakan Dia yang mahakuasa. Biarlah kita memasuki tahun 2020 ini dengan keberanian dalam Tuhan!

Selamat tahun baru 2020

Para pembaca yang terhormat,

Segala puji syukur saya sampaikan kepada Yesus Kristus karena tahun 2019 dapat dilalui dengan selamat.

Selama 2019, jumlah pembaca renungan sudah mencapai lebih dari 79 ribu orang, dan renungan yang ada sudah dibaca lebih dari 118 ribu kali. Ini berarti peningkatan yang lebih dari 100%, jika dibandingkan dengan tahun 2018. Ini tentu dimungkinkan karena adanya bantuan yang dengan setia selalu diberikan oleh Ibu Padma selaku Editor.

Saya berdoa agar di tahun 2020, makin banyak orang yang membaca Renungan Kristen. Bantuan anda untuk menyebarkan renungan ini tentunya sangat saya hargai. Semoga nama Tuhan yang dipermuliakan melalui blog ini.

Salam hangat,

Andreas Nataatmadja

Apakah yang kau cari?

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3: 1 – 2

Beberapa hari sebelum tahun baru, seorang teman bertanya bagaimana kesan saya tentang tahun 2019 yang akan dilewati; apakah saya sudah merasa sukses? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab setidaknya karena tiga hal. Pertama, kesuksesan pada umumnya berlainan untuk semua orang. Sebuah kesuksesan bagi seseorang, mungkin bukan apa-apa bagi orang lain. Kedua, sekalipun untuk hal yang sama, ukuran kesuksesan adalah berbeda bagi tiap orang. Karena itu, ada orang yang kelihatannya sukses tetapi tetap tidak merasa bahagia. Ketiga, semua kesuksesan di dunia adalah tidak permanen. Apa yang ada sekarang, tidak akan terus ada untuk selamanya. Apa yang dipunyai bisa hilang, dan pemiliknya juga akan mengalami nasib yang serupa.

Apakah kesuksesan yang anda idamkan pada tahun yang baru ini? Kesuksesan yang benar seharusnya adalah sesuatu yang hebat dalam pandangan semua insan, sesuatu yang membawa kebahagiaan sejati dan sesuatu yang abadi. Kesuksesan jelas tidak mudah diperoleh dan bahkan tidak dapat diperoleh seseorang dengan cara apa pun. Jika seseorang merasa berbahagia karena memperoleh suatu “kesuksesan” tetapi tidak pasti akan apa yang terjadi di masa depan, itu bukanlah kesuksesan tapi kegagalan. Lebih dari itu, semua usaha untuk mencapainya adalah sia-sia.

Menurut Alkitab, semua orang bukanlah orang yang sukses. Sebaliknya manusia yang diciptakan Tuhan sudah gagal untuk taat kepada Sang Pencipta. Manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan hanya kematian yang menunggunya. Orang mungkin bisa mendapatkan seisi dunia, tetapi pada akhirnya ia akan binasa

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Lukas 9: 25

Beruntunglah orang yang sudah menerima keselamatan dari Yesus, yang sudah datang ke dunia untuk menebus dosanya. Misi penyelamatan Yesus adalah kesuksesan Ilahi yang kekal, dan karena itu siapa pun yang mau bertobat dan percaya kepadaNya pasti menerima keselamatan. Tetapi, kesuksesan Yesus bukanlah sesuatu yang bisa dimengerti semua orang.

Bagi sebagian orang, kesuksesan Yesus adalah untuk hidup di masa depan: di surga, bukan di dunia. Untuk hidup di dunia, mereka tetap memakai ukuran kesuksesan manusia seperti harta, ketenaran, posisi dan pengaruh. Bahkan itu seringkali menjadi tema yang didengung-dengungkan sebagian pendeta dan aliran gereja.

Memasuki tahun 2020, firman Tuhan berkata bahwa jika kita sudah dibangkitkan bersama dengan Kristus, kesuksesan Yesus adalah kesuksesan kita. Seperti Yesus, ukuran kesuksesan kita bukanlah apa yang menyenangkan di mata manusia, tetapi apa yang berkenan kepada Allah. Kesuksesan Ilahi bukanlah apa yang bersifat jasmani, yang berbeda-beda dan yang tidak membawa kebahagiaan yang kekal. Karena itu, sebagai orang yang sudah ditebus, kita harus mencari perkara yang di atas, yang berkenan bagi Tuhan. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi, dan itu pasti akan membawa kebahagiaan yang penuh dan abadi.

Salam berkat penutup tahun

“TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Bilangan 6: 24 – 26

Satu hal yang sudah sering hilang dari liturgi kebaktian gereja ialah salam berkat atau doa penutup yang dalam bahasa Inggrisnya dinamakan Benediction. Seringkali salam berkat ini disampaikan oleh pastor atau pendeta yang bertugas dengan mengangkat kedua tangannya dari atas mimbar di hadapan jemaat. Sesudah itu himne penutup atau doxology dinyanyikan jemaat sebelum mereka meninggalkan gereja. Bagi mereka yang menyenangi liturgi tradisional gereja, kombinasi benediction dan doxology ini memang terasa khidmat sekali.

Ayat di atas adalah apa yang sering dipakai sebagai benediction. Itu adalah pesan Allah kepada Musa untuk disampaikan kepada Harun dan anak-anaknya yang bertugas sebagai imam umat Israel. Sudah tentu, karena Allah sendiri yang memerintahkan hal itu, salam berkat itu bukan sekedar kata, tetapi merupakan janji kasih kepada umatNya. Selain ayat di atas, ada beberapa ayat Alkitab yang juga dipakai untuk salam berkat. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan firmanNya, kata-kata yang disampaikan bisa terasa menyegarkan dan untuk itu hanya ada satu jawaban: Amin.

Bagi kita yang melalui pengurbanan Kristus sudah dijadikan umat Tuhan, janji yang sama tentunya berlaku juga. Dalam memasuki tahun yang baru kita harus ingat bahwa Tuhan sendiri yang berkata bahwa Ia akan memberkati kita dan melindungi kita. Tuhan akan menyinari kita dengan wajah-Nya dan memberi kita kasih karuniaNya. Tuhan akan menghadapkan wajahNya kepada kita dan memberi kita damai sejahtera.

Memang kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada tahun 2020. Hanya Tuhan yang tahu dan membuat segala sesuatu berjalan sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Tetapi, jika kita percaya bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan mahakasih, kita bisa bersandar kepada Dia dan janjiNya. Marilah kita memasuki tahun yang baru ini dengan semangat dan pengharapan!

“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” 2 Korintus 13: 14

Hidup kita, tanggung jawab kita

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Hari tahun baru sudah di ambang pintu, dan bagi banyak orang itu adalah kesempatan untuk berpesta-ria. Memang menyambut datangnya tanggal 1 Januari itu adalah tradisi hampir semua bangsa, tetapi tidak semua orang yang merayakannya memakai kesempatan itu untuk menganalisa hidupnya selama tahun yang silam.

Apa yang sudah aku capai dalam tahun 2019? Apakah aku sudah memperoleh apa yang aku inginkan? Adakah hal yang belum tercapai selama setahun ini? Mungkin begitu pertanyaan seseorang kepada diri sendiri, jika ia mau meneliti hidupnya pada akhir tahun. Tetapi ada banyak orang yang memilih untuk tidak memikirkan hal-hal itu, terutama jika apa yang diharapkan tidak tercapai. Apalagi mereka yang sering mengalami badai kehidupan, mereka mungkin hanya ingin melupakan semua itu.

Bagi mereka yang beriman, sebenarnya berbagai hal di atas tidaklah penting. Bagi mereka, mencapai kesuksesan hidup duniawi bukanlah sesuatu yang didambakan. Sebaliknya, orang Kristen lebih mementingkan ketaatan kepada Kristus. Oleh sebab itu, akhir tahun adalah kesempatan bagi setiap orang percaya untuk meneliti apa yang sudah dilakukan selama setahun ini, sehubungan dengan apa yang diperintahkan Tuhan. Apakah kita sudah bertumbuh secara rohani sesuai dengan apa yang dikehendakiNya?

Ada banyak orang Kristen yang tidak pernah bertumbuh secara rohani. Tahun demi tahun lewat, tetapi mereka tetap hidup seperti orang yang belum dewasa secara iman. Mereka mengaku Kristen karena ke gereja atau sesekali membaca Alkitab, tetapi tidak hidup menurut firmanNya. Baik dalam kelakuan, perkataan, pikiran , dan perbuatan, mereka hampir tidak dapat dibedakan dengan mereka yang tidak mengenal Kristus.

Ada banyak orang Kristen yang masih mementingkan kesuksesan duniawi dan kecewa atau kuatir jika hidup tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Ada juga yang selalu mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Dan bahkan ada juga orang yang menggunakan firman Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi. Semua itu menunjukkan hidup yang belum sepenuhnya dipakai untuk memuliakan Tuhan.

Akhir tahun adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk meneliti hidup kita, sampai dimana kita sudah berusaha untuk hidup dalam terang Kristus. Setiap orang sudah diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk memilih jalan dan cara hidupnya. Jalan yang manakah yang sudah kita pilih? Jalan yang lebar yang membawa kematian iman atau jalan yang sempit yang menuju kepada kehidupan dalam Kristus? Firman Tuhan berkata bahwa setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah!