Belas kasihan adalah lebih baik dari persembahan

“Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Matius 9: 13

Beberapa hari lagi tahun 2020 akan datang. Bagi banyak orang, memasuki tahun baru berarti kesempatan untuk membuat rencana baru yang dimaksudkan untuk memperbaiki keadaan yang sekarang. Sebagai manusia yang tidak sempurna, tetapi yang diberi Tuhan kemampuan untuk menilai keadaan, adalah wajar jika orang ingin untuk makin bisa memperbaiki apa yang ada, baik itu tentang diri sendiri atau pun keadaan di sekelilingnya.

Tidak semua orang ingin atau bisa untuk berubah dan mengubah. Seorang tokoh industrialis abad 19 yang bernama John H. Patterson pernah berkata: ““Only fools and dead men don’t change their minds. Fools won’t and dead men can’t” yang artinya “Hanya orang bodoh dan orang yang sudah mati yang tidak berubah pikiran. Orang bodoh tidak mau dan orang mati tidak bisa”. Dalam kenyataannya, dengan berlalunya tahun 2019 tentu ada orang yang tidak sadar akan kekurangan yang ada dan banyak juga yang tidak mau berbuat apa pun sekalipun tahu apa yang perlu diperbaiki di tahun 2020.

Orang Farisi adalah contoh orang yang bodoh dan keras kepala. Berkali-kali Yesus memperingatkan dan menegur mereka, tetapi mereka tetap tidak mau berubah dalam hidup kerohanian mereka, dan tidak mau menerima Yesus sebagai Mesias. Pikiran mereka sudah menjadi bodoh dan hati mereka sudah menjadi keras, sehingga mereka justru berusaha mencari kesalahan Yesus dan murid-muridNya.

Pada waktu itu, ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang yang dianggap sesat hidupnya, yang kemudian makan bersama-sama dengan Dia dan murid-muridNya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit”. Matius 9: 10 – 12.

Yesus mengingatkan orang Farisi bahwa Ia datang untuk menyelamatkan orang berdosa, dengan demikian semua orang yang mau bertobat dari hidup lamanya dan yang menerima Yesus sebagai Juruselamatnya. Orang Farisi adalah orang yang mementingkan ritual dan hukum agama dan karena itu merasa yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang paling benar. Orang Farisi juga mempunyai aturan khusus untuk memberikan persembahan kepada Allah. Mereka yang merasa suci itu berpendapat bahwa orang lain bukanlah orang yang perlu dikasihi atau dikasihani. Bagi mereka orang lain adalah orang yang tidak sempurna, untuk tidak dikatakan kafir.

Yesus menegur orang Farisi karena mereka yang begitu mendalami hal keagamaan ternyata sangat lemah dalam pengertian tentang keadilan, belas kasihan, dan iman. Mereka tidak sadar bahwa di hadapan Tuhan, semua orang adalah sama-sama orang berdosa.

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23

Karena itu, dalam ayat pembukaan di atas Ia menjelaskan bahwa yang dikehendakiNya ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Ia justru datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Dalam memasuki tahun 2020 ini, marilah kita memikirkan bagaimana kita bisa memperbaiki kehidupan rohani kita. Bukan dengan mempelajari hukum dan firman Tuhan saja, tetapi dengan melaksanakannya. Adalah lebih mudah bagi kita untuk menghafalkan ayat-ayat Alkitab daripada menjalankannya, tetapi itu bukan yang dikehendakiNya.

Hukum utama yang diajarkan Yesus adalah hukum kasih, dan dengan itu wajiblah kita belajar untuk lebih bisa mengerti keadaan, penderitaan, kebutuhan, dan perasaan orang lain. Dengan demikian, kita akan bisa mempunyai rasa belas kasihan yang lebih besar kepada sesama manusia, baik yang Kristen maupun yang bukan Kristen. Ini tidak mudah, tetapi kita bisa memohon bimbingan Tuhan untuk mengubah cara hidup kita. Semoga dalam tahun 2020 kita akan lebih bisa untuk mengerti keadaan orang lain, menolong mereka yang menderita, dan membawa mereka ke jalan yang benar.

Orang Kristen dan rasa empati

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Perayaan hari Natal dan segala kemeriahannya mungkin sudah berakhir dan banyak orang yang sekarang mulai menantikan datangnya tahun baru dengan berbagai harapan. Tetapi, bagi sebagian penduduk Australia yang mengharapkan turunnya hujan mungkin harus tetap bersabar untuk waktu yang tidak dapat dipastikan. Jika ramalan cuaca tidak menunjukkan kemungkinan turunnya hujan, bahaya kebakaran hutan justru dapat dipastikan akan tetap ada.

Kebakaran hutan di akhir tahun 2019 memang luar biasa. Beberapa orang sudah tewas dan ratusan rumah habis terbakar, dan banyak orang yang mengalami kemalangan ini sekarang harus hidup dengan bantuan negara dan masyarakat. Kebanyakan reaksi orang terhadap mereka yang ditimpa bencana ini adalah perasaan simpati dan juga empati. Kedua kata ini bunyinya serupa tapi memiliki perbedaan arti. Simpati menggambarkan perasaan belas kasihan atas kejadian yang menimpa seseorang, sedangkan empati berarti dapat menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan merasakan secara langsung kesedihannya.

Walaupun kebanyakan orang mudah merasa simpati atas kesedihan orang lain, rasa empati mungkin lebih sukar dirasakan. Karena itu, dalam setiap malapetaka, selalu ada orang-orang yang membuat komen yang agaknya bisa terasa kejam atau kurang berperasaan. Ada orang yang berpendapat bahwa kemalangan seseorang adalah sehubungan dengan dosanya, atau sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan. Ada pula yang menertawakan orang lain karena anggapan bahwa kebodohan orang itu yang menjadi sebab malapetaka yang dialaminya. Tetapi bagaimana orang Kristen seharusnya bereaksi atas kemalangan orang lain?

Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang Kristen, kita seharusnya bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan ikut menangis dengan orang yang menangis. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada untuk dilakukan. Bagaimana kita bisa bersukacita dengan orang yang tidak kita sukai? Dan bagaimana pula untuk menangis dengan orang yang menderita karena kesalahannya sendiri? Alkitab jelas mengajarkan bahwa kita tidak boleh bersukacita ketika melihat orang yang tidak kita senangi mengalami kemalangan!

“Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok” Amsal 24: 17

Hari ini, firman Tuhan mengajarkan kita untuk mempunyai hati bagi orang-orang yang ditimpa kemalangan dan bisa menempatkan diri kita pada situasi dan kondisi yang mereka alami. Ini bukan hanya untuk saudara-saudara seiman, tetapi juga untuk orang-orang yang tidak kita sukai atau mereka yang membenci kita. Sebagai orang Kristen, jika kita tidak memiliki rasa simpati dan empati kepada orang lain, nama Tuhan akan dipermalukan. Tetapi, jika kita mempunyai kasih dan empati kepada sesama kita, nama Tuhanlah yang akan dimuliakan.

Yesus adalah hadiah Natal yang terbesar

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Lukas 2: 11 – 12

Hari Natal sudah datang. Bagi banyak anak kecil di Australia, hari ini adalah hari yang dinanti-nantikan sejak beberapa bulan yang lalu. Mereka yang sudah mengharapkan untuk mendapat hadiah Natal tertentu, mungkin bangun pagi-pagi sekali untuk membuka hadiah yang terletak di bawah pohon Natal. Anak-anak yang masih memercayai adanya Santa atau Sinterklas mungkin segera memeriksa isi kantung hadiah yang tergantung di depan pintu. Mereka akan bersukacita jika hadiah yang diharapkan benar-benar datang, dan kecewa jika apa yang mereka terima tidak sesuai dengan apa yang diimpikan.

Jika seorang anak mempunyai harapan untuk menerima hadiah Natal, bagaimana pula dengan mereka yang sudah dewasa? Mereka mungkin saja menerima hadiah dari orang tua, kerabat atau teman dekat, jika kebiasaan tukar menukar kado masih dipertahankan. Tetapi, berbeda dengan anak-anak, hadiah Natal orang dewasa seringkali bukan yang mereka harapkan atau butuhkan. Karena itu, sesudah hari Natal banyak hadiah yang tidak terpakai terpaksa diberikan kepada orang lain atau dibuang, termasuk hadiah yang berupa anjing atau kucing yang tidak diingini.

Natal bagi sebagian orang dewasa mungkin hanyalah hari yang datang dan pergi tanpa membawa kesan istimewa. Karena itu, mereka mungkin setuju bahwa hari Natal hanya bisa dinikmati oleh anak-anak. Hari Natal bagi mereka mungkin bukan sesuatu yang dinantikan karena mereka tidak mengharapkan hadiah dari orang lain. Jika pun mereka membutuhkan sesuatu, mereka toh bisa membelinya. Pada pihak yang lain, banyak orang dewasa yang masih mengharapkan sesuatu yang sangat dibutuhkan, tetapi itu tidak bisa dibeli atau didapat dari orang lain. Natal demi Natal datang dan pergi, tetapi apa yang mereka harapkan tidak pernah terjadi.

Hari Natal sebenarnya bukan hari biasa, karena itu adalah perwujudan janji Allah yang pernah dinyatakanNya segera setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Ribuan tahun berlalu dan banyak orang yang menantikan kedatangan Mesias merasa kecewa karena itu tidak terjadi dalam kurun hidup mereka. Tetapi kita beruntung karena Yesus sudah datang dua ribu tahun yang lalu. Janji Allah sudah digenapi dan hadiah Natal terbesar sudah dikaruniakanNya dalam bentuk seorang bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan di Betlehem.

Bagaimana perasaan anda di hari Natal ini? Masih adakah sukacita di hati anda karena Allah sudah menepati janjiNya? Adakah rasa sukacita dalam hati anda karena kelahiran Yesus sudah membawa keselamatan kepada setiap orang percaya? Ataukah masih ada kerisauan dalam hati anda karena adanya sesuatu yang masih dinanti-nantikan? Semoga kita tetap dapat mempunyai rasa syukur atas hadiah Natal terbesar dalam hidup kita!

Pujian kepada kaum ibu

“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.” Amsal 31: 30

Bacaan: Amsal 31: 10 – 31

Hari ini adalah Hari Ibu atau Mother’s Day di Indonesia. Berbeda dengan banyak negara di dunia yang merayakan hari ibu pada minggu ke dua bulan Mei, Indonesia merayakannya pada tanggal 22 Desember, tiga hari sebelum hari Natal. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928.

Bagi saya, dekatnya hari ini dengan hari Natal adalah suatu hal yang baik. Mengapa demikian? Karena pada hari Natal, seorang perempuan sudah menjadi ibu dari seorang Raja di atas segala raja, Yesus Kristus. Kitab Lukas 1: 35 – 45 menjelaskan bahwa dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, ke tempat kediaman seorang perawan yang bernama Maria, dan membawa kabar bahwa ia akan mengandung seorang bayi. Maria dengan demikian adalah pilihan Allah, dan karena itu kita tidak boleh melupakan peranannya dalam membesarkan Yesus.

Mengapa Allah memilih Maria sebagai ibu Yesus? Sekalipun kita tidak tahu jalan pikiran Tuhan, kita tentu yakin bahwa Ia sudah memilih seorang perempuan yang terbaik untuk menjadi ibu Yesus. Maria bukan dipilih karena ia cantik, pandai, kaya atau pun bangsawan. Maria adalah gadis sederhana yang rendah hati dan takut akan Tuhan (Lukas 1: 38). Karena itu, Maria menyambut keputusan Tuhan itu dengan sangat gembira.

Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” Lukas 1: 46 – 49

Hari ini adalah Hari Ibu, dan pada hari ini kita mengucapkan syukur kepada Tuhan karena ada banyak wanita yang seperti Maria, sudah dipilih Tuhan untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Itu bukan karena mereka adalah orang-orang cantik atau terlihat baik dalam mata manusia, tetapi mereka adalah orang-orang yang takut akan Tuhan.

Amsal 31: 10 – 31 menunjukkan bahwa seorang ibu yang baik adalah orang yang jujur, rajin, dan mau berkurban untuk keluarganya sehingga suami dan anak-anaknya memuji dia. Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi ia melebihi mereka semua karena ia takut akan Tuhan. Ibu dan istri yang baik selalu hidup menurut firman Tuhan, bukan menurut tradisi dan kebiasaan. Jika wanita lain menjadi ibu atau istri yang hanya menurut apa yang dikatakan sang suami, mereka yang bijaksana seperti Maria akan menimbang apa yang terbaik untuk Tuhan. Jika tradisi mengharuskan mereka tinggal di bawah bayang-bayang orang lain, seorang wanita yang sadar akan panggilan Tuhan akan mempunyai keberanian dan tekad untuk menghadapi hari depan dan selalu siap untuk memuliakan nama Tuhan.

Selamat Hari Ibu!

Pertumbuhan kerohanian terjadi karena adanya kemauan

“Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan” 1 Petrus 2: 2

Tinggal 4 hari lagi kita akan merayakan hari Natal, dan seminggu kemudian Tahun baru akan datang. Waktu berjalan cepat sekali dan tak terasa umur kita akan bertambah satu tahun. Apa yang sudah anda capai selama setahun? Apa yang ingin anda lakukan pada tahun yang akan datang? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bisa muncul, sekalipun tidak semua orang mau memikirkannya. Bagi banyak orang tahun demi tahun berlalu tanpa adanya perubahan dalam hidupnya kecuali uban yang mulai bermunculan.

Bagi saya, tahun yang lalu bukanlah tahun yang biasa; tetapi sebaliknya itu adalah tahun yang signifikan, karena saya memperoleh cucu yang pertama. Pada tahun ini cucu saya mencapai usia satu tahun. Seperti orang lain yang beruntung untuk bisa melihat pertumbuhan seorang bayi, perasaan kagum atas kebesaran dan kasih Tuhan muncul dalam hati saya, bagaimana bayi yang mulanya kecil dan tidak berdaya, kemudian tumbuh perlahan-lahan sehingga setelah satu tahun ia bisa mulai berjalan dan mengucapkan satu atau dua patah kata.

Pertumbuhan seorang bayi sebenarnya adalah hal yang ajaib. Pertumbuhan yang baik hanya bisa terjadi dengan adanya nutrisi yang baik dan juga perhatian orang tua yang cukup. Pertumbuhan bayi itu bukan saja secara jasmani, yang menyangkut pertumbuhan badan, tetapi juga secara rohani, yang menyangkut pertumbuhan emosi, perasaan dan pengertian.

Ayat di atas memberi anjuran bagi umat Kristen untuk tumbuh seperti seorang bayi, yang hanya bisa mengalami pertumbuhan yang sehat melalui makanan yang sehat dan bernutrisi. Pertumbuhan yang dimaksudkan oleh rasul Petrus sudah tentu adalah pertumbuhan rohani. Petrus memberi nasihat ini karena adanya tiga kemungkinan yang bisa terjadi pada orang Kristen.

Ada orang Kristen yang tidak pernah tumbuh secara rohani. Mereka tidak tertarik untuk lebih mengenal Tuhan. Mereka merasa bahwa keselamatan yang mereka terima melalui Kristus sudahlah cukup. Mereka tidak tertarik untuk ke gereja secara teratur, atau untuk mempelajari firman Tuhan, atau untuk melayani sesamanya. Orang yang sedemikian tidak sadar bahwa secara rohani mereka tetap kecil dan bahkan kerdil, sehingga lambat laun akan bisa tenggelam dalam masalah hidup yang besar.

Orang Kristen yang lain, menyadari pentingnya pertumbuhan rohani dan ingin menerima makanan rohani. Tetapi, karena selalu memikirkan apa yang terlihat baik di depan mata, mereka kemudian memilih makanan rohani yang tidak murni. Makanan yang sudah tercemar membuat kerohanian mereka tumbuh, tetapi tidak secara sehat. Dengan demikian, emosi, perasaan dan pengertian mereka ikut dipengaruhi oleh berbagai pengajaran dan kebiasaan yang salah. Mereka kemudian hidup. dengan cara yang tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

Petrus mengingatkan mereka yang ingin mempunyai kerohanian yang dewasa, kuat dan sehat, haruslah mau untuk memilih makanan yang murni dan yang rohani, supaya olehnya mereka bertumbuh dengan baik sampai saatnya mereka mengakhiri hidup mereka di dunia dan menerima mahkota keselamatan dari Tuhan. Ini tidak mudah dilakukan karena membutuhkan kemauan. Tetapi, pada suasana Natal ini kita bisa membayangkan bagaimana bayi Yesus yang kecil kemudian bertumbuh dan bisa menjadi Juruselamat manusia karena Ia taat kepada perintah Sang Bapa. Seperti itulah kita bisa bertumbuh dan memuliakan Bapa jika kita mau mempelajari dan melaksanakan firmanNya.

Jangan mudah terbuai

Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Lukas 22: 46

Menjelang hari Natal ini banyak orang yang melakukan perjalanan menuju tempat pariwisata atau mengunjungi kampung halaman untuk berjumpa dengan sanak saudara dan orang tua. Bagi orang yang sudah berumur seperti saya, hal mengemudikan mobil jarak jauh tanpa bantuan supir adalah satu tantangan. Memang jarak yang jauh dan sepi  di Australia seringkali membuat orang mengantuk. Pengemudi mobil atau truk yang lelah mudah untuk kehilangan konsentrasi. Oleh karena itu, banyak kecelakaan yang terjadi karena supir yang tertidur di belakang kemudi. Hanya beberapa detik saja sudah bisa menentukan hidup-mati orang di jalan raya. Untuk itu, polisi menganjurkan agar pengemudi lebih berjaga-jaga di akhir tahun ini.

Ayat diatas adalah peringatan Yesus kepada tiga murid (Petrus, Yakobus dan Yohanes) yang jatuh tertidur ketika diminta untuk berjaga-jaga selagi Yesus berdoa di taman Getsemani. Murid-murid itu tentunya sadar  bahwa Yesus yang merasa sedih meminta mereka untuk menemaniNya selagi Ia berdoa. Walaupun demikian mereka tidak sepenuhnya menyadari bahwa Yesus sedang menghadapi  perjuangan besar dan bergulat dengan kenyataan bahwa sebentar lagi Ia akan menemui kematian. Perasaan sedih dan tubuh yang lelah, membuat murid-murid itu tertidur. Mereka gagal untuk berjaga-jaga.

Perlukah Yesus, Anak Allah, meminta dukungan manusia yang lemah? Sudah tentu Yesus tidak memerlukan hal itu karena Allah Bapa bisa mengirimkan seorang malaikat untuk memberi kekuatan (Lukas 22: 43). Yesus meminta ketiga muridNya untuk berjaga-jaga sebagai perlambang bahwa dalam hidup di dunia mereka harus siap bertahan menghadapi apa yang akan terjadi. Alkitab menyebutkan bahwa mereka mengalami goncangan besar ketika melihat dengan mata-kepala sendiri, bagaimana Guru mereka, Sang Mesias, kemudian ditangkap, dipukuli dan disalibkan sampai mati. Harapan mereka hancur karena Mesias yang mereka saksikan tidaklah seperti yang mereka harapkan. Dengan demikian, Yesus mengajak ketiga muridNya untuk mengajar mereka agar tetap berjaga-jaga dalam menghadapi masa depan, dan Ia juga memberi peringatan khusus kepada Petrus (Matius 26: 40) yang kemudian menyangkaliNya tiga kali .

Seperti ketiga murid itu, setiap orang Kristen akan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, terutama tantangan untuk bisa tetap hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Memikirkan tantangan hidup adalah sesuatu yang kurang menyenangkan. Orang lebih senang memikirkan apa yang nyaman dan indah seperti Natal yang akan kita rayakan sebentar lagi. Membayangkan kelahiran Yesus dengan memandang pohon Natal dengan lampu-lampunya yang indah mungkin lebih membuai  daripada memikirkan perjuangan Yesus dalam kegelapan taman Getsemani.  Mungkin saja ada yang merasa bahwa acara pesta Natal dan Tahun Baru lebih menarik daripada kebaktian gereja!

Hari Natal memang membawa rasa gembira. Kita memang harus bersyukur bahwa Yesus yang lahir sebagai bayi di hari Natal adalah Tuhan yang sudah turun ke dunia. Hari Natal adalah hari dimana misi Yesus dimulai dan tiap kali kita merayakannya kita diingatkan bahwa misi penyelamatanNya masih terus berjalan. Dengan demikian, dalam gemerlapnya lampu Natal saat ini kita tidak boleh melupakan kenyataan bahwa kita pun dipanggil seperti tiga murid di atas untuk mendukung perjuanganNya. Dalam hal ini, ada begitu banyak hal di dunia yang bisa membuat kita terbuai dan kemudian jatuh kedalam pencobaan. Sesuai dengan perintah Yesus di atas, maukah kita selalu berjaga-jaga dalam hidup kita agar tetap bisa menjadi umatNya yang setia dalam mendukung pekerjaanNya?

Jadilah seperti Abraham

“Peliharalah kasih persaudaraan! Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” Ibrani 13: 1 – 2

Sewaktu saya masih bekerja di Parramatta, sebuah pusat bisnis di sebelah barat Sydney Australia, saya tinggal di sebuah apartemen yang terletak tidak jauh dari kantor saya. Setiap hari saya berjalan kaki ke kantor dan ini hanya memakan waktu sekitar 15-20 menit saja jika saya berjalan cepat. Seperti kebanyakan orang di Australia, saya merasa senang dapat berjalan ke kantor tanpa harus mengendarai mobil atau motor. Berjalan kaki, terutama melewati pusat bisnis dan pertokoan adalah kesempatan untuk berolahraga sambil menikmati suasana. Dan pada saat menjelang Natal seperti sekarang, tentunya  segala sesuatu terlihat lebih berkesan dengan berbagai hiasan dan lagu-lagu Natal yang ada di kompleks pertokoan Westfield yang saya lewati.

Cara yang terbaik untuk menikmati pemandangan kota adalah dengan berjalan kaki, begitu banyak orang berpendapat.  Saya setuju, tetapi dengan catatan bahwa dengan berjalan kaki kita harus siap untuk melihat bukan saja apa yang nyaman tetapi juga apa yang menyedihkan. Parramatta yang terlihat sibuk dengan berbagai kantor dan restoran ternyata mempunyai banyak orang yang tidak mempunyai tempat tinggal (homeless people). Mereka yang mulai muncul sekitar jam 8.00 pagi dan makin banyak terlihat sesudah tengah hari, pergi ke pusat kota untuk meminta-minta. Terkadang hati saya tergerak untuk memberi satu atau dua dollar kepada mereka yang jelas nampak menderita. Pada pihak yang lain, seorang teman segereja saya selalu siap memberikan uang kecil kepada siapa saja yang ditemuinya di jalan. Mengapa demikian? Teman saya itu percaya akan ayat di atas secara harafiah.

Ayat di atas adalah salah satu ayat alkitab yang agak sulit diartikan. Bagi kita orang Kristen, sudah tentu kita percaya adanya malaikat. Malaikat adalah ciptaan Tuhan yang bekerja melayani Tuhan dan juga, atas perintah Tuhan, melindungi dan menolong umat Tuhan atau menyampaikan pesan Tuhan. Malaikat (angels) bukanlah hanya di cerita khayal, tetapi sesuatu yang nyata ada. Walaupun demikian, kita tahu bahwa tidak banyak orang yang pernah melihat malaikat dalam hidupnya secara nyata. Ada orang yang percaya bahwa setiap manusia secara permanen disertai malaikat penjaga (guardian angels), tetapi ini tentunya tidak alkitabiah. Malaikat hanya bertindak atas perintah Tuhan yang mengetahui keadaan setiap manusia.  Malaikat tidak selalu ada di antara kita karena mereka bertugas untuk melayani dan siap menjalankan perintah Tuhan. Tuhan yang mahakuasa bisa bertindak di antara manusia dengan atau tanpa malaikat, dan karena itu kita tidak boleh bergantung kepada malaikat tetapi kepada Tuhan.

Mengenai ayat di atas, ada orang Kristen yang percaya bahwa mereka harus siap untuk menolong orang lain dengan adanya kemungkinan bahwa mereka yang membutuhkan pertolongan adalah malaikat-malaikat Tuhan. Kepercayaan ini mungkin didasarkan atas apa yang terjadi pada Abraham dan Lot (Kejadian 18 dan 19). Walaupun demikian, banyak penafsir Alkitab yang menyatakan bahwa ayat di atas tidak dapat ditafsirkan secara harafiah. Sudah tentu malaikat tetap dapat muncul di antara kita seperti mereka menunjukkan diri kepada Abraham dan Lot, tetapi itu bukanlah kejadian yang sering terjadi. Lebih dari itu, Tuhan yang mahatahu tentunya tidak perlu mengirimkan malaikatNya untuk menguji kesetiaan kita kepada firmanNya.

Apa yang lebih tepat untuk mengartikan ayat di atas adalah pengertian bahwa seperti Abraham sudah menjamu malaikat-malaikat yang datang ke tempat kediamannya, kita pun harus mempunyai kebaikan yang sama kepada semua orang yang membutuhkan bantuan kita. Kapan saja dan dimana saja, selagi kita bisa. Memelihara kasih persaudaraan (Ibrani 13: 1) bukanlah satu perintah bagi umat Kristen untuk menolong orang-orang tertentu saja, tetapi untuk siapa saja, termasuk orang yang tidak kita kenal. Seperti Tuhan mengasihi semua manusia ciptaanNya dan mau memelihara seisi dunia, orang Kristen harus mau ikut memikirkan adanya kemungkinan bahwa mereka yang kita jumpai adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan kita.

Saat ini hari Natal sudah mendekati. Mungkin apa yang kita lihat sekarang selalu memberi kesan yang indah karena setiap tahun kita merasakan besarnya kasih Allah yang sudah mengirim AnakNya ke dunia. Pohon-pohon Natal, lagu-lagu dan hiasan Natal ada dimana-mana. Tetapi, apakah mata kita masih dapat melihat adanya orang-orang yang duduk di sudut kota, yang tinggal dalam bayang-bayang kegelapan, dan yang hidup dalam penderitaan? Siapakah mereka? Kita tidak tahu, tetapi yang sudah pasti adalah adanya panggilan bagi kita untuk bisa meniru apa yang dilakukan Abraham. Dalam iman kita harus mengakui bahwa Tuhan menghendaki kita untuk menghormati Dia dan mengasihi sesama kita.

Hukum ada karena Tuhan ada

“Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.” Roma 13: 3

Kemarin malam untuk kesekian kalinya ada tawuran di daerah pinggir pantai di Melbourne. Mereka yang tinggal di daerah itu memang sudah lama merasa takut untuk keluar rumah di malam hari karena adanya kelompok anak muda yang sering membuat kekacauan. Apa yang terjadi kemarin malam melibatkan sekitar 50 anak muda yang berkelahi dalam sebuah bis, samapai-sampai polisi perlu memakai semprotan merica (pepper spray) untuk memisahkan dua kelompok yang tersangkut. Selanjutnya, pagi ini penduduk setempat harus membersihkan pantai yang dikotori dengan berbagai sampah yang ditinggalkan anak-anak muda itu.

Mengapa orang kadangkala bisa bertindak seperti hewan yang tidak mengerti hukum? Ini pertanyaan lama yang tidak dapat dijawab dengan mudah. Filsuf Aristotle pernah berkata bahwa “At his best, man is the noblest of all animals; separated from law and justice he is the worst”. Itu benar. Dalam keadaan terbaik, manusia adalah makhluk yang paling baik di antara hewan, tetapi ia adalah makhluk yang paling buruk jika tidak ada hukum dan keadilan. Lebih dari itu, manusia jelas bisa lebih buas dari hewan jika mereka tidak takut akan Tuhan. Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa memang mampu untuk berbuat dosa apa saja dengan kebebasan yang diterimanya dari Tuhan.

Ada berbagai faktor praktis yang bisa membuat orang merasa bahwa ia ada di atas hukum. Mungkin orang itu mabuk atau merasa kuat karena berada bersama banyak teman, tetapi jelas  bahwa pada saat orang dengan sengaja melanggar hukum mereka merasa bahwa  hukum tidak dapat menangkap mereka. They act as if they are above the law. Mereka yang semestinya takut kepada hukum dan pemerintah, merasa bahwa tidak ada apapun yang bisa menghentikan perbuatan jahat mereka. Sebaliknya, orang yang melihat kelakuan mereka mungkin justru merasa takut karena kuatir kalau-kalau hukum yang ada tidak dapat melindungi mereka.

Ayat di atas mengingatkan orang Kristen untuk menaati hukum dan pemerintah. Etika Kristen mengajarkan bahwa jika pemerintah yang sah mengatur negara dengan segala hukumnya, adalah keharusan bagi orang Kristen  untuk taat kepadanya karena pemerintah adalah wakil Tuhan (Roma 13: 4). Hukum ada untuk membuat setiap warga menjadi orang yang berkelakuan baik.  Dengan taat kepada hukum, kita boleh mendapatkan kedamaian dalam hidup sehari-hari karena hanya orang yang melanggar hukum yang harus takut kepada pemerintah.

Bagi orang Kristen, taat kepada hukum bukan berarti boleh melakukan apa yang buruk asal tidak tertangkap oleh hukum. Dalam bentuk sederhana, ini mungkin menggunakan ponsel selagi mengendarai mobil, tetapi mereka yang berani mengambil resiko mungkin tidak ragu untuk menggunakan uang negara selagi ada kesempatan. Adanya pemerintah bagi orang Kristen adalah bukti adanya Tuhan yang menghendaki ketertiban. Oleh karena itu, orang Kristen harus taat kepada hukum dan pemerintah setiap saat karena Tuhan yang mereka sembah adalah Oknum yang mahatahu. Takut akan Tuhan akan bisa terlihat dalam hidup seseorang yang taat kepada hukum negara.

Cara hidup lebih penting dari nama

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Beberapa tahun yang lalu ada berita yang menyebutkan bahwa di Tiongkok permintaan orang tua untuk memberi anak mereka sebuah nama yaitu “@” telah ditolak pemerintah. Saya setuju. Memang banyak orang tua yang memilih nama yang aneh, konyol atau tidak biasa untuk anak mereka. Mungkin dengan maksud baik, tetapi bisa membuat malu anak itu di kemudian hari.

Apa artinya sebuah nama? What’s in a name? Begitu orang sering bertanya. Memang sebuah nama belum tentu cocok dengan sifat atau penampilan anak yang diberi nama. Tetapi, sebuah nama jika dipilih dengan hati-hati bisa menggambarkan apa yang diharapkan dari anak itu. Contohnya, Yesus yang dilahirkan pada hari Natal diberi nama sedemikian, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Matius 1: 21). Yesus berasal dari bahasa Ibrani Yehoshua dan nama Yeshua atau Joshua adalah kependekannya, dan berarti “keselamatan”. Lebih dari itu, orang juga menamakan Yesus sebagai Imanuel yang berarti Allah menyertai kita (Matius 1: 23).

Lalu bagaimana dengan nama “Kristen” yang diberikan orang kepada murid-murid Barnabas dan Paulus di Antiokhia (Kisah Para Rasul 11: 26)? Nama Kristen atau Christian itu muncul karena mereka adalah pengikut Kristus atau Christ. Orang melihat bahwa mereka adalah pengikut Yesus dan bukannya pengikut Barnabas atau Paulus, karena mereka menjalankan apa yang diajarkan Yesus. Yesus yang mereka akui sebagai Anak Allah adalah lebih besar dari Barnabas atau Paulus yang manusia biasa.

Di zaman sekarang, jumlah orang yang digolongkan Kristen di dunia sudah lebih dari 2000 juta orang. Walaupun demikian, mereka mungkin lebih dikenal dengan nama-nama lain seperti Katolik, Protestan, Pentakosta dan sebagainya. Bahkan, untuk lebih jelasnya mereka mungkin memperkenalkan diri sebagai pengikut aliran Reformed, Arminian, Wesleyan, Methodist, Seventh Day Adventist, dan lain-lain. Sebutan Kristen saja mungkin belum dianggap cukup untuk bisa membedakan teologi yang mereka anut.

Memang teologi sering dianggap begitu penting dalam perjalanan iman orang Kristen. Tetapi, jika setiap orang Kristen berusaha melaksanakan kepercayaan mereka dengan cara mereka masing-masing, bagaimana pandangan Tuhan akan hal itu? Apakah Tuhan membedakan manusia berdasarkan pengertian manusia atas diriNya? Apakah Tuhan memberikan kunci ke surga kepada seseorang berdasarkan penilaianNya atas pengetahuan kekristenan yang dipunyainya?

Ayat di atas mengatakan bahwa bukan setiap orang yang berseru: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke surga. Ini menunjukkan bahwa mereka yang kelihatannya mengenal Tuhan belum tentu akan diselamatkan. Bukan setiap orang yang rajin mempelajari firman Tuhan dan segala tafsirannya akan dapat masuk ke surga, tetapi hanya orang yang benar-benar sudah memiliki iman yang menyelamatkan (saving faith) dari Tuhan.

Mereka yang melakukan kehendak Allah lah yang akan diberiNya kunci ke surga. Ini menunjukkan bahwa pelaksanaan perintah Tuhan setiap hari dalam hidup adalah tanda yang lebih nyata bahwa seseorang benar-benar mengenal Tuhan. Dengan demikian, bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan dan sesama kita adalah tanda kekristenan yang terpenting dalam hidup kita.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Yakobus 1: 23

Hal memberi nasihat

“Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.” 1 Timotius 1: 5 – 6

Ada ungkapan terkenal yang berbunyi “Tujuan menghalalkan cara” yang dalam bahasa Inggris ditulis sebagai “The ends justify the means“. Ungkapan ini mungkin bisa diartikan: “Tidak menjadi soal apa cara kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, selama kita bisa mendapatkannya”. Jika diartikan sedemikian, ungkapan ini agaknya bernada negatif atau jahat, tetapi ini memang sering terjadi di dunia bisnis dan politik. Pada pihak yang lain, mereka yang bermaksud baik bisa saja mengartikannya sebagai “Cara apa pun adalah baik selama tujuannya baik”.

Bagaimana pandangan orang Kristen mengenai ungkapan ini? Bolehkah kita menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang baik? Sebelum anda menjawabnya, mungkin anda perlu mengetahui bahwa para misionaris yang datang ke Australia dan beberapa gereja di Australia pernah mempraktikkan pengambilan dengan paksa anak-anak yang dilahirkan oleh wanita yang tidak menikah. Tujuannya kelihatannya baik, yaitu untuk memberikan pendidikan dan pemeliharaan yang mungkin bisa lebih baik dari apa yang bisa diberikan oleh sang ibu, tetapi caranya tentu tidak dapat dibenarkan.

Apakah Tuhan kita juga memakai segala cara untuk mencapai tujuanNya? Ini adalah hal yang sering diperdebatkan umat Kristen. Bagi sebagian orang, Tuhan yang mahakuasa tentunya berhak memakai cara apa saja, termasuk menciptakan kejahatan, untuk memperoleh apa yang dikehendakiNya. Tetapi, orang yang lain mungkin berpendapat bahwa Tuhan tidak dapat mencapai tujuanNya dengan cara yang bertentangan dengan hakikiNya sebagai Tuhan yang mahakasih, mahaadil dan mahasuci. Cara apa pun yang dipakai Tuhan untuk membimbing umatNya, itu selalu berdasarkan hakikiNya, sekali pun kita sering tidak dapat memahaminya.

Ayat di atas menjelaskan bahwa seperti Tuhan yang selalu memakai cara yang baik dan efektif untuk membimbing kita, kita pun harus memakai cara yang baik untuk membimbing dan menasihati orang lain. Jika kita mempunyai tujuan yang baik untuk menyadarkan atau menolong orang lain, cara yang kita pilih haruslah sesuai dengan tujuan itu. Cara yang kita pilih haruslah mencerminkan apa yang menjadi hakiki Tuhan kita.

Jika kita ingin memberi nasihat, itu adalah tujuan yang baik. Tetapi itu harus timbul dari kasih yang ada dalam hati kita, yang suci, yang dari hati nurani yang murni, dan dari iman yang tulus ikhlas. Itu tidaklah mudah. Karena itu, ada banyak orang yang tidak dapat mencapai tujuan baiknya karena cara yang dipilih adalah cara yang keliru, yang hanya akan menghasilkan hal yang sia-sia.

“…tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1: 15 – 16