Tuhanlah yang melindungi umatNya

“Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerahMu seperti perisai.” Mazmur 5: 12

Suatu hal yang menarik perhatian saya ketika mengunjungi bangunan kuno di Tiongkok adalah adanya balok pintu (door threshold) di pintu rumah. Balok yang berbeda-beda tingginya ini diletakkan di lantai, di antara dua jenang pintu. Adanya balok yang tingginya sekitar 15-20 cm ini sudah tentu bagi yang tidak terbiasa merupakan hal yang kurang menyenangkan karena bisa membuat orang tersandung.

Mengapa orang meletakkan balok seperti itu di depan pintu masuk? Ada banyak alasannya, tetapi alasan praktisnya yaitu untuk membuat air hujan, banjir, tikus atau debu jalan sulit untuk memasuki rumah. Alasan lain yang sering dikemukakan adalah untuk mencegah roh jahat memasuki rumah atau menghalangi rezeki keluar rumah. Mengenai alasan yang kedua ini, sebagian orang menganggapnya takhayul, tetapi sebagian lain berpendapat bahwa ini hanya simbol dari harapan pemilik rumah.

Agaknya mudah bagi orang di zaman ini, terutama orang Barat, untuk menilai bahwa adalah aneh jika orang berharap untuk bisa memagari rumah dari roh jahat dan mencegah hilangnya rezeki dengan memakai balok yang melintang di ambang pintu. Selain itu, ada juga orang yang memandang kepercayaan tentang adanya ancaman roh jahat sebagai kepercayaan kuno yang tidak beralasan.

Pada pihak yang lain, orang di zaman modern sering melakukan hal yang serupa untuk melindungi diri dari hal yang tidak diharapkan. Hal mengejar kesuksesan misalnya, mempunyai segi praktis yaitu untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga bisa menimbulkan kepercayaan bahwa itu dapat menghindari kesusahan dan bisa memberi kebahagiaan. Bagi mereka yang beragama, kesuksesan juga sering menjadi simbol harapan akan penyertaan kuasa ilahi, dan agama mereka mungkin digunakan untuk menghindari kuasa jahat. Pandangan-pandangan seperti ini sudah tentu bukan pandangan Kristen.

Bagi orang Kristen, Tuhan adalah satu-satunya yang dapat melindungi hidup kita. Tuhan adalah sumber kehidupan kita, dan Ia adalah yang memberkati umatNya dan memagari dia dengan anugerahNya seperti perisai. Umat Kristen percaya bahwa dalam segala keadaan, baik dalam kekurangan maupun kelebihan, Tuhan selalu menyertai mereka. Manusia tidak mungkin bahagia tanpa penyertaan Tuhan dan tidak dapat mengatasi kuasa jahat tanpa perlindungan dan kuasa Yesus yang sudah mengalahkan iblis.

Kenakanlah perhiasan yang abadi

“Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” 1 Petrus 3: 3 – 4

Dalam perjalanan ke Tiongkok saya sempat mengunjungi beberapa pusat pembuatan cenderamata. Dari situ saya bisa melihat bagaimana bangsa ini begitu menghargai batu giok (jade) yang adalah salah satu dari jenis batu permata yang umumnya berwarna hijau yang mengandung beberapa unsur mineral.

Batu giok adalah batu nasional Tiongkok dan dianggap sebagai batu yang membawa kemujuran, kesehatan dan kebahagiaan pemakainya. Jika batu giok yang keras dipakai sebagai perhiasan seperti gelang dan kalung, batu giok yang lunak bisa dibuat bahan kerajinan tangan atau ornamen seperti ukir-ukiran.

Karena makin sulitnya untuk memperoleh batu ini, harganya terus meningkat. Walaupun tidak murah, sebagian orang tetap saja ingin untuk membeli perhiasan dan ornamen batu giok asli dari Tiongkok.

Pada saat rasul Petrus menulis ayat di atas, mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa di beberapa tempat di dunia, giok sudah diagungkan sebagai “batu penyelamat” bahkan sebagai “batu kesehatan” oleh suku-suku bangsa di Asia Timur dan di benua Afrika ataupun Amerika, termasuk oleh suku Maya dan Inca. Walaupun demikian, rasul Petrus tahu bahwa banyak orang yang merasa bangga jika dapat mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau mengenakan pakaian yang indah-indah.

Lebih mencolok dari masa silam, di zaman modern ini kebahagiaan orang, baik pria maupun wanita, sering diukur dengan kemampuan untuk memakai segala sesuatu yang serba gemerlapan dan serba “wah”. Mereka mungkin tidak sadar bahwa di hadapan Tuhan semua itu tidak ada artinya. Apapun yang ada di dunia adalah benda fana yang tidak abadi. Dengan demikian, semua benda jasmani yang dibanggakan manusia adalah kebodohan bagi Allah.

Pagi ini ayat di atas mengingatkan kita bahwa jika kita ingin terlihat indah dalam pandangan Allah, kita harus mengenakan apa yang abadi, yang diberikanNya kepada kita untuk memuliakan Dia. Setelah mengenal dan percaya kepada Yesus, Roh Kudus yang tinggal dalam hati kita seharusnya sudah membuat kita sadar bahwa keindahan dari dalam hati kita adalah jauh lebih berharga dari benda apapun.

Adanya kasih, rasa syukur, kesabaran, kelemahlembutan, kerendahan hati dan segala apa yang baik secara rohani adalah “perhiasan” berharga di mata Allah. Mengapa pula kita masih lebih mementingkan penampilan lahiriah daripada batiniah? Dan adakah alasan bagi kita untuk tidak mau berubah dari penampilan lama kita untuk mengenakan apa yang benar-benar indah?

Pakailah kesempatan yang ada

“Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” Roma 2: 4

Hari ini saya meninggalkan Beijing untuk menuju ke Shanghai dengan menggunakan kereta api yang berkecepatan 300 km per jam (high speed train). Jam 7 pagi saya sudah berada di stasiun Beijing Selatan untuk check in dan melihat sudah banyak orang yang menunggu saat boarding ke kereta masing-masing.

Walaupun stasiun modern ini nampak sibuk, kelihatannya para penumpang mau menunggu dengan sabar dan mengantri dengan tertib seperti di airport saja. Ini agak berbeda dengan suasana yang saya lihat 20 tahun yang lalu, dan juga dengan keadaan di beberapa negara Asia lainnya, dimana orang masih sering terlihat dorong mendorong.

Apa yang bisa membuat orang untuk mengubah gaya dan cara hidupnya? Tentu adanya pengarahan dan pendidikan bisa memperbaiki kehidupan masyarakat. Tetapi, ini hanya bisa terjadi jika kesempatan yang ada kemudian dipakai seseorang dalam kurun waktu yang tersedia. Bagi setiap insan, kesempatan tidak selalu ada atau ada untuk selamanya. Bagi setiap orang, keputusan ada di tangan sendiri untuk bisa berubah menjadi makin baik.

Ayat di atas mengingatkan bahwa kesempatan bagi setiap orang yang belum percaya untuk bertobat datang dari Tuhan. Karena itu, mereka seharusnya tidak menganggap sepi kemurahan Tuhan, kesabaranNya dan kelapangan hatiNya. Setiap orang seharusnya sadar bahwa maksud kemurahan Tuhan selama orang hidup di dunia adalah menuntunnya kepada pertobatan, dan untuk itu kesabaranNya ada batasnya.

Mereka yang berkeras hati, yang tidak mau bertobat, akan menimbun murka atas dirinya sendiri dan pada waktunya akan menerima hukuman Tuhan, karena Ia yang adil akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,

Jika kesempatan dari Tuhan bagi mereka yang belum bertobat adalah terbatas, kesempatan yang serupa bagi kita orang percaya untuk memperbaiki cara hidup kita juga tidak boleh diabaikan. Jika kita benar-benar umat Tuhan, tidak mungkin dengan sengaja memilih untuk mengulangi dosa-dosa lama kita yang sudah diampuniNya. Jika kita benar-benar taat kepada Tuhan, tidak mungkin kita menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan.

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6: 1 – 2

Tuhan adalah tempat perlindunganku

“Demikianlah TUHAN adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan.” Mazmur 9: 9

Kemarin saya sempat mengunjungi tembok besar China (the Great Wall of China) untuk kali yang kedua. Tembok besar China adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Ini merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat oleh manusia (lebih dari 8 km), sekalipun merupakan gabungan tembok-tembok pendek yang mengikuti pegunungan di utara China.

Pada awalnya tembok itu mulai dibangun sekitar 900 tahun sebelum Masehi dan bertujuan untuk menahan serangan musuh dan suku-suku dari utara Tiongkok. Dengan berjalannya waktu, tembok itu rusak dan mengalami perbaikan oleh berbagai penguasa suku. Apa yang dapat dikunjungi saat ini adalah sebagian kecil dari tembok yang sudah diperbaiki oleh pemerintah Tiongkok modern untuk memenuhi syarat keamanan dan kenyamanan turis.

Jika suku-suku bangsa di China pada zaman dulu berharap untuk bisa menahan serangan musuh dengan membangun tembok yang tinggi, bangsa-bangsa lain di dunia juga memakai taktik yang sama. Tembok Yerikho misalnya, adalah tembok pertahanan suku Kanaan yang sebenarnya sudah mulai dibangun pada tahun 8000 sebelum Masehi.

Pada zaman modern, tembok pertahanan kota semacam ini sudah tidak dijumpai karena tidak praktis atau pun berguna. Walaupun begitu, untuk bisa bertahan atau survive manusia modern mempunyai tembok-tembok pertahanan yang lain, seperti kedudukan, kepandaian, kekayaan dan sebagainya. Tanpa bentuk pertahanan seperti itu, banyak manusia merasa lemah karena mudah dipermainkan dan dihancurkan orang lain.

Bagi mereka yang lemah dan mengalami penderitaan karena perlakuan orang lain, seringkali perhatian orang lain dan perlindungan hukum yang dibutuhkan terasa tidak ada. Tanpa kedudukan, pengaruh dan uang, hidup orang kecil bisa terasa berat. Mereka yang sudah jatuh, seringkali terhimpit tangga.

Kemana kita harus mengadu jika orang lain tidak peduli atas nasib kita? Apakah yang dapat kita lakukan untuk membendung serangan musuh-musuh kita? Ayat di atas mengingatkan kita bahwa jika usaha kita untuk mencari perlindungan dari dunia seringkali sia-sia, Tuhan di surga adalah satu-satunya harapan kita. Ia yang mahakuasa dan mahakasih adalah tempat perlindungan orang yang berharap kepadaNya, sekarang dan selamanya.

“Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara.” Mazmur 9: 18

Menjadi pemimpin yang baik

“Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” Roma 13: 13

Kemarin saya sempat mengunjungi kota terlarang (the Forbidden City) di Beijing. Ini adalah bekas keraton kaisar yang terletak di tengah ibukota Tiongkok. Sejak tahun 1949, negara ini menjadi negara republik, dan dengan itu kekaisaran dihapuskan. Kehidupan kaisar terakhir Tiongkok pernah dituangkan ke dalam layar putih dalam judul “The Last Emperor“.

Pada zaman sebelum tahun 1949, seorang kaisar di Tiongkok adalah orang yang ditakuti rakyatnya. Kaisar adalah pemimpin negara yang bersifat diktator. Warna kuning adalah warna kebesaran kaisar dan karena itu orang yang sengaja memakai warna kuning untuk cat rumah misalnya, bisa dihukum mati.

Kaisar pada waktu itu adalah orang yang suka berpesta-pora dan memiliki setidaknya 72 gundik selain seorang permaisuri. Tidaklah mengherankan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, rumahtangga kaisar yang mewah dan penuh pesta pora itu sering mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dan kekacauan, seperti perselisihan dan iri hati.

Kaisar sebagai pemimpin negara seharusnya bisa membawa kebahagiaan kepada rakyatnya, tetapi jika rakyat justru menderita karena adanya pemimpin yang kacau hidupnya, itu adalah hidup yang tidak bermasa depan.

Hidup yang baik adalah seperti hidup pada siang hari, dimana orang pada umumnya menaati hukum dan etika yang ada. Tetapi, hidup yang kacau adalah bagaikan malam hari dimana orang yang bermaksud jahat bisa bekerja dengan leluasa dalam bayang-bayang kegelapan.

Orang Kristen adalah orang yang diharapkan untuk menjadi terang dunia, menjadi contoh yang baik dalam masyarakat. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, seharusnya kita bisa membimbing orang lain untuk meninggalkan hidup lama yang kacau, guna menjalani hidup baru sesuai dengan panggilan Kristus. Tetapi, jika hidup kita sendiri kacau dalam pesta pora dan kemabukan, dalam percabulan dan hawa nafsu, dan juga dalam perselisihan dan iri hati, bagaimana pula kita bisa menjadi pemimpin yang baik?

Pagi ini, firman Tuhan mengundang kita untuk hidup dengan menjalankan firman Tuhan setiap hari. Dalam hidup pribadi atau pun dalam keluarga, tempat pekerjaan, dan juga masyarakat, kita harus ingat bahwa kekacauan adalah dosa yang dibenci Tuhan kita yang mahasuci.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Galatia 6: 2

Di Australia, umumnya segala tugas sehari-hari harus dikerjakan sendiri. Dalam hal membersihkan pakaian, mencuci piring, berbelanja, bepergian dan sebagainya, orang tidak dapat mengharapkan jasa pembantu rumah tangga (PRT) dan supir. Ini karena ongkos untuk mempekerjakan mereka adalah cukup besar, sehingga hanya orang yang kaya sekali akan mampu menggajinya. Bagaimana dengan mencari pekerja dari negara lain? Ini pun sama saja, karena secara hukum, mereka seharusnya mendapat gaji yang sama besarnya dengan gaji pekerja lokal.

Dengan situasi yang sedemikian, tidaklah mengherankan bahwa dalam kehidupan rumah tangga, suami dan istri harus bisa saling membantu. Pembagian tugas keluarga antara orang tua dan anak pun bukanlah hal yang luar biasa. Memang hidup mungkin tidak bisa seringan apa yang ada di negara lain, tetapi jika tugas yang berat bisa dibagi di antara beberapa orang, tentunya itu bisa terasa lebih ringan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Jika beban berat yang menyangkut hal jasmani tidaklah terlalu sulit untuk dibagi, beban rohani adalah berbeda. Di negara barat, orang lebih cenderung bersikap individual. Karena itu apa yang tidak terlihat dalam hidup seseorang dan apa yang bersifat pribadi, orang lain tidak ingin ikut campur. Sebagai akibatnya, banyak orang yang secara batin mengalami penderitaan, tanpa orang lain bisa menolong. Karena itu, merupakan fakta yang menyedihkan bahwa di Australia jumlah orang yang bunuh diri dan mengalami gangguan kejiwaan adalah cukup besar menurut ukuran internasional.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, menasihati mereka agar mau bertolong-tolongan menanggung beban hidup. Ini tidak lain adalah pemenuhan hukum kasih yang diajarkan Yesus kepada murid-muridNya. Dalam hal ini, seringkali orang merasa bahwa ia sudah memenuhi hukum Kristus dengan memberi bantuan yang berbentuk jasmani. Tetapi, bantuan jasmani adalah yang paling mudah dilakukan manusia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa ada banyak orang di sekitar kita yang menanggung beban berat secara rohani. Ini mungkin tidak mudah dilihat mata, sekalipun mereka tinggal tidak jauh dari kita. Mungkin saja mereka hidup serumah, sekantor, sesekolah dan segereja. Di antara mereka mungkin saja ada yang sangat tertekan hati dan pikirannya. Bagi mereka, kesediaan kita untuk menyapa, mendengarkan keluh-kesah, menguatkan, dan mendoakan mereka mungkin adalah apa yang terpenting.

Firman Tuhan sudah mengingatkan kita akan pentingnya untuk memiliki peduli kasih kepada setiap orang yang menderita, terutama kepada mereka yang seiman. Untuk orang-orang yang sedemikian, Tuhan memerintahkan kita untuk mempunyai kepekaan dan mau berusaha meringankan beban, supaya kehadiran dan kasih Kristus bisa terasa dalam hidup mereka.

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 19

Dalam Yesus, Tuhan tidak lagi suatu enigma

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” 1 Korintus 13: 12

Di Australia ada banyak orang yang mengadopsi anak yang berasal dari negara-negara lain. Secara umum, ada dua macam adopsi yang bisa dipilih, yaitu adopsi tertutup (closed adoption) dan adopsi terbuka (open adoption). Jika jenis adopsi yang pertama merahasiakan informasi mengenai orang tua anak yang diadopsi, jenis yang kedua memungkinkan anak yang diadopsi untuk mengenali siapa orang tua mereka.

Di zaman ini, adopsi terbuka dianggap lebih baik untuk pertumbuhan kejiwaan sang anak, karena ia tidak akan merasa seperti orang terbuang yang tidak tahu asal usulnya. Memang seorang yang diadopsi seringkali ingin tahu siapa orang tua yang sebenarnya dan hal ini bisa menjadi suatu enigma, atau tanda tanya yang besar yang membawa penderitaan.

Kurun waktu yang panjang dan jarak yang jauh seringkali membuat anak yang diadopsi sulit untuk mencari informasi tentang orang tua yang sebenarnya. Hal yang serupa membuat seseorang yang sudah lama hidup secara duniawi untuk sulit memikirkan asal usulnya. Sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan menurut peta dan teladanNya, ia tidak mudah mengenal bahwa pada awalnya ia adalah ciptaan Tuhan yang paling utama. Bagi manusia yang sudah hidup jauh dari Tuhan, Tuhan adalah seperti enigma.

Sebenarnya Tuhan yang di surga tidak jemu-jemunya berusaha untuk mengingatkan semua orang bahwa Ia ada dan menantikan mereka untuk mau kembali mengenaliNya. Tuhan bekerja dalam kehidupan manusia, dan melalui berbagai kejadian dan ciptaanNya mengingatkan setiap orang bahwa Ia ada. Namun tidak semua orang mau memikirkan adanya Tuhan. Bagi mereka, Tuhan yang jauh disana adalah Tuhan yang tidak perlu dikenal. Suatu enigma yang tidak dapat dipecahkan.

Bagaimana dengan hidup kita sendiri yang sudah percaya adanya Tuhan? Tentunya kita menyadari bahwa kita adalah anggota keluarga Tuhan. Kita bukan anak-anak dunia (Yohanes 17: 16). Walaupun demikian, kita tidak dapat membayangkan kebesaran Tuhan dengan sepenuhnya. Dengan iman kita percaya, tetapi kita belum pernah menjumpai Dia. Pada saat ini kita hanya dapat melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar. Hal ini seringkali mendatangkan kegalauan, karena setiap orang percaya hanya memiliki pengenalan akan Tuhan yang tidak sempurna.

Untunglah bagi kita, Yesus sudah turun ke dunia. Ia adalah Anak Allah dan satu dengan Allah. Yesus adalah Tuhan dan melalui hidupNya di dunia kita dapat mengenal siapa Tuhan dan bagaimana hakikatNya. Melalui Yesus kita tahu bahwa Tuhan adalah mahakuasa, mahatahu, mahahadir dan mahakasih. Bagi mereka yang percaya kepada Yesus, Tuhan bukanlah sebuah enigma. Sebagai orang Kristen kita tidak mempunyai alasan untuk menolak jalan, kebenaran dan hidup seperti yang sudah difirmankan Yesus.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Yohanes 14: 6 – 7

Tuhan mendengarkan keluh kesah kita

Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab mereka: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. Matius 20: 32 – 34

Australia seperti banyak negara lain, mengalami perubahan iklim yang tidak pernah dialami sebelumnya. Sudah beberapa tahun ini curah hujan menurun, dan bahkan terhenti sama sekali di beberapa daerah. Banyak orang yang menghubungkan perubahan ini dengan kegiatan manusia yang menyebabkan berbagai polusi udara, dan untuk itu manusia haruslah mau mengubah cara hidupnya. Tetapi masih banyak juga orang yang yakin bahwa semua ini adalah bagian dari siklus perubahan iklim dunia. Bagi mereka, musim kering yang berkepanjangan ini akan berakhir pada suatu saat, seperti apa yang pernah terjadi pada abad-abad yang silam. Selain itu, ada orang yang percaya bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan, dan karena itu kita harus menerimanya. Siapakah yang bisa mempengaruhi Tuhan dan memaksaNya untuk berubah pikiran?

Hidup manusia mungkin bisa juga menghadapi kemarau yang panjang. Jika penderitaan datang silih berganti dan tidak kunjung hilang, perasaan gundah kita mungkin akan muncul. Apakah yang harus aku lakukan? Sebagian orang yang melihat kesulitan yang kita alami mungkin akan berkomentar bahwa “semua itu terjadi karena kesalahan yang diperbuatnya”. Walaupun demikian, ada juga orang yang berpendapat bahwa kesusahan dan kegembiraan adalah bagian hidup manusia. Mereka mungkin menasihati kita agar jangan berputus asa, karena semua yang pahit akan berlalu pada saatnya. Tetapi, ada juga orang-orang lain yang menasihati kita agar kita menerima semua itu sebagai kehendak Tuhan. Tuhah sudah menentukan segala yang terjadi di bumi dan di surga, baik hal yang baik maupun yang terlihat kurang baik. Tuhan yang mahakuasa tentunya tidak dapat kita bantah.

Dalam ayat di atas, diceritakan bahwa ketika Yesus dan murid-muridNya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Ketika itu, dua orang buta yang duduk di pinggir jalan dan yang mendengar bahwa Yesus lewat, berseru memanggil Yesus memohon belas kasihanNya. Sebagai orang buta pada zaman itu hidup tentunya sangat berat. Mungkin, apa yang mereka bisa lakukan sehari-harinya adalah meminta-minta belas kasihan orang lain. Sebagai Anak Allah, Yesus tentu tahu apa yang dibutuhkan mereka, tetapi Ia tetap bertanya: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Atas pertanyaan Yesus, mereka menjawab: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.”Permohonan yang menarik karena mereka tidak meminta uang atau benda lain, tetapi memohon kesembuhan. Kesembuhan ajaib tentu tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa.

Pantaskah permohonan orang buta itu kepada Yesus, Anak Allah? Bukankah Tuhan tahu apa yang mereka butuhkan sebelum mereka memohonkannya? Tidakkah permohonan orang buta itu keterlaluan? Bahwa Tuhan yang sudah “membuat” mereka buta sekarang diminta untuk mencelikkan mata mereka? Kedua pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering dipikirkan oleh orang Kristen yang berada dalam penderitaan dan kesulitan hidup. Peperangan batin sering muncul antara keinginan untuk memohon dan keinginan untuk berserah.

Sebagian orang Kristen memang percaya bahwa Tuhan menentukan apa saja yang terjadi di dunia. Jika kurang dari itu, Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa, begitu pendapat mereka. Apa saja yang terjadi di dunia harus terjadi sesuai dengan rencanaNya, dan karena itu tidak ada “kejutan” bagi Tuhan. Pada pihak yang lain ada orang Kristen yang percaya bahwa karena dunia ini sudah jatuh dalam dosa, banyak hal yang jahat dan kejam yang terjadi; tetapi itu bukan karena perbuatan Tuhan. Tuhan yang mahatahu tidak akan “terkejut”  atau “heran” melihat adanya penderitaan dan kejahatan di antara manusia, karena Ia yang mahakuasa tetap bisa menggenapi rencanaNya dalam keadaan apapun. Selain itu, Tuhan belum tentu menghendaki adanya penderitaan tertentu pada manusia, tetapi Ia selalu menghendaki manusia sepenuhnya menyadari kuasa dan kasihNya dalam setiap keadaan.

Bagaimana dengan kedua orang buta itu? Yesus bisa melihat bahwa orang buta itu menderita, tetapi juga tahu bahwa mereka percaya bahwa Ia bisa menolong mereka. Yesus tahu bahwa mereka percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Tuhan yang mahakuasa bisa berbuat apa saja yang diinginkanNya dan membiarkan apa saja untuk terjadi di dunia; tetapi Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mendengarkan permohonan manusia yang percaya. Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. Karena kuasa dan kasih Yesus, kedua orang buta itu menjadi celik secara jasmani dan rohani.

Pagi ini adakah penderitaan yang kita alami? Adakah hal-hal yang membebani kita sehingga kita merasa bahwa hidup ini hampa? Tuhan yang mahatahu tentu bisa melihat apa yang kita derita. Ia ingin agar kita memanggilNya, memohon pertolongan. Ia ingin agar kita menyadari bahwa Tuhan yang mahakuasa mempunyai rencana yang baik bagi setiap umatNya, dan itu bisa berarti bahwa apa yang kita alami sekarang, baik itu manis atau pahit,  adalah bagian dari rencanaNya untuk hidup kita. Tetapi, kita juga harus sadar bahwa rencana Tuhan tidak dapat dihalangi oleh keterbatasan manusia dan dunia. Karena itu kita tetap bisa menyatakan keinginan kita dalam doa permohonan kita kepadaNya. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang direncanakan Tuhan dalam hidupnya, tetapi setiap orang harus sadar bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan Ia bisa memakai berbagai cara untuk mewujudkan rencanaNya.  Karena Ia mahakuasa dan mahakasih, kita bisa makin dekat kepadaNya dan tidak ragu untuk berdoa!

Jangan mendukakan Roh Kudus

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 30 – 31

Pernahkah anda merasa sedih karena perlakuan orang lain terhadap anda? Saya yakin jawabnya adalah “ya”. Dari kecil kita bisa merasakan kesedihan jika ada hal-hal yang diperbuat orang yang menyinggung, melukai dan membuat kita merasa kurang dihargai atau disayangi.

Dengan bertambahnya umur, mungkin orang lebih tahan sabar dalam menghadapi hal-hal semacam itu; tetapi, jika banyak hal-hal yang melukai hati setiap hari, perlahan-lahan kepribadian orang itu akan berubah. Memang perasaan yang terluka bisa membuat orang menutup diri terhadap mereka yang menyebabkannya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa Roh Kudus bisa didukakan oleh perbuatan kita. Ini mungkin agak mengherankan sebagian orang Kristen, karena Roh Kudus sering digambarkan dengan api. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika memang pernah menulis agar mereka tidak memadamkan Roh (1 Tesalonika 5: 19). Jika Roh adalah api, atau “sesuatu”, memang kata “mendukakan” rasanya kurang tepat.

Walaupun demikian, Roh Kudus sebenarnya adalah Tuhan sendiri yang tinggal dalam diri umat percaya. Ia adalah Oknum yang seperti Allah Bapa dan Yesus Kristus, mempunyai kepribadian dan eksistensi Ilahi. Dalam kenyataanNya, Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus adalah satu, dan kepadaNya orang Kristen berbakti. Dengan demikian, segala kelakuan, tingkah laku, pikiran dan perbuatan yang salah bisa membuat Roh merasa sedih dan terlukai. Roh Kudus melihat bagaimana kita perlahan-lahan menjauhkan diri dan menuruti jalan kita sendiri.

Dalam kitab Perjanjian Lama ada banyak contoh dimana Allah dalam kemarahanNya kepada orang Israel, membiarkan mereka mengalami pengalaman pahit. Begitu juga banyak hal yang bisa mendukakan Tuhan yang tinggal dalam hidup kita, sedemikian rupa hingga kita tidak lagi dapat merasakan bimbingan dan pertolonganNya. Tidaklah mengherankan, jika orang hidup jauh dari Tuhan, yang mendukakan Roh Kudus, kemudian mengalami hal-hal yang semakin hari semakin parah. Tanpa bimbingan Roh, hidup manusia adalah bagai layang-layang yang putus talinya.

Bagaimana kita harus bersikap dalam hidup agar Roh tidak didukakan? Paulus menyebutkan dalam ayat di atas agar kita membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan. Hal-hal yang sedemikian membuat Roh tidak mau bekerja membimbing kita dalam hidup sehari-hari. Sebagai akibatnya, hidup kita bisa menjadi makin kacau, dan rasa damai menjadi hilang.

Pagi ini, firman Tuhan menasihati kita bahwa sebagai orang percaya, kita harus mau hidup menurut firmanNya. Dengan hidup yang baik, bimbingan Roh Kudus akan makin nyata dalam hidup kita, sehingga makin hari kita akan makin sempurna seperti apa yang dikehendaki Tuhan.

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1: 10

Apakah Tuhan mengasihi semua orang?

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” Matius 5: 45 – 46

Apakah Tuhan mengasihi semua orang? Ini adalah satu pertanyaan yang sering dikemukakan semua orang, baik orang Kristen maupun bukan. Sebagian orang percaya bahwa Tuhan hanya mengasihi mereka yang beriman, sebagian lagi yakin bahwa Tuhan membenci mereka yang “kafir”. Selain itu, ada juga orang yang percaya bahwa Tuhan hanya mengasihi mereka yang banyak berbuat amal dan berkurban untuk sesamanya. Sudah tentu, ada juga orang yang meragukan kasih Tuhan kepadanya, karena merasa bahwa hidupnya jauh dari apa yang dikendaki Tuhan.

Memang di dunia ini ada banyak agama yang mengajarkan bahwa Tuhan itu adalah oknum yang menuntut manusia untuk menyembah Dia dalam ketakutan dan dengan demikian manusia harus banyak berbuat baik di dunia, agar bisa menerima kasihNya. Tetapi, Alkitab menunjukkan bahwa kepercayaan seperti ini seringkali bukannya membuat manusia menjadi benar-benar baik, tetapi merasa sudah baik. Memang, jika kasih Tuhan dianggap bisa dibeli, orang tidak perlu merasa takut untuk berbuat dosa karena amal-ibadah bisa menebus dosanya. Pada pihak yang lain, mereka yang sudah berusaha untuk hidup baik sering masih merasa tertekan karena adanya perasaan bahwa Tuhan belum menunjukkan kasihNya.

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan yang mahasuci menuntut umatNya untuk hidup baik sesuai dengan firmanNya. Tuhan membenci dosa dan tidak dapat dipermainkan oleh manusia dengan segala pikiran dan perbuatan mereka. Walaupun demikian, tidak ada apapun yang bisa diperbuat manusia untuk mencuci dosanya, untuk memenuhi syarat kesucian Tuhan. Semua manusia sudah berdosa dan tidak layak berdiri di hadapan Tuhan. Umat manusia tidak akan mempunyai harapan masa depan jika Tuhan tidak mengasihi mereka.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Apakah Tuhan mengasihi semua umat manusia? Jika benar, mengapa ada orang yang kelihatan jaya dan berbahagia, sedangkan orang lain harus menderita? Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan yang di sorga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Jika semua manusia sudah sepantasnya menderita karena dosa-dosa mereka, Tuhan tetap memelihara mereka untuk bisa hidup dan lebih dari itu, memberi kesempatan bagi mereka untuk mengenal kuasa dan kasihNya.

Tuhan bukan saja memberi karunia dan berkat kepada seisi dunia, Ia juga mengaruniakan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Yesus datang ke dunia, supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya bisa menerima hidup yang kekal di surga.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Kasih Tuhan sungguh besar dan tidak pandang bulu. Jika demikian, mengapa kita kurang atau tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu? Mungkinkah karena orang-orang itu terlihat berbeda cara hidupnya jika dibandingkan dengan cara hidup kita? Mungkinkah orang-orang itu hidup bergelimang dalam dosa? Ataukah karena mereka membenci dan sering menyakiti kita? Ayat di atas menunjukkan jika kita hanya mengasihi orang-orang tertentu saja, itu berarti kita belum sadar bahwa karena kasihNya, kita yang tidak layak sudah diangkat menjadi anak-anak Allah karena darah Kristus. Pagi ini, marilah kita yakin bahwa Tuhan mengasihi semua orang, dan itu termasuk diri kita sendiri.