Menjaga integritas Kristen

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”  Matius 5: 37

Baru-baru ini ada iklan rumah dijual di internet. Dalam iklan itu ada foto dari ruang-ruang dari rumah yang walaupun kecil, terletak di tempat strategis. Rumah itu akan dilelang dengan patokan harga sekitar 775 ribu dollar. Dari foto-fotonya, rumah yang agak tua itu nampak rapi dan nyaman, dan karena itu banyak orang yang diperkirakan akan muncul pada hari pelelangan. Namun, suatu hal yang tidak terduga terjadi, dan karena itu mungkin saja rumah itu tidak jadi dijual. Mengapa? Dari penyelidikan beberapa orang, ternyata foto-foto rumah itu sudah “disulap”, sehingga apa yang kotor dan rusak tidaklah kelihatan di foto. Yang mengerikan adalah karpet  di foto yang kelihatan mulus, ternyata kotor dan bernoda gelap. Menurut koran, si pemilik rumah dulunya meninggal dunia di ruang itu dan selama beberapa hari jasadnya tidak ditemukan orang.

Mengapa orang mampu menyulap apa yang buruk untuk menjadi sesuatu yang kelihatan baik? Mengapa orang, demi keuntungan dan kenikmatan diri sendiri, sanggup untuk memutar-balikkan fakta? Mengapa banyak orang yang menghalalkan segala cara, asal  tujuannya tercapai? Mereka yang tidak punya etika yang baik sudah tentu dapat dikatakan sebagai oknum yang tidak berintegritas. Mereka belum tentu bukan orang Kristen, karena justru banyak orang Kristen yang mempunyai hidup dalam dualisme: hidup dalam gereja yang berbeda dengan hidup di luar gereja.

Integritas adalah suatu konsep berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Tetapi, dalam hal kejujuran dan etika setiap orang seringkali berbeda, karena latar belakang, budaya, sifat, kebiasaan dan lingkungan bisa membuat orang mempunyai standar yang berbeda-beda. Karena itu banyak orang (dan bahkan pemimpin kaliber tinggi) yang percaya bahwa mereka adalah orang yang mempunyai integritas, sekali pun di mata umum mereka mungkin sebaliknya.

Bagi orang Kristen, integritas seseorang adalah tingkah laku dan perbuatan  yang  tidak menyimpang dari fiman Tuhan. Firman di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus yakin akan apa yang akan kita nyatakan kepada orang lain. Jika kita percaya bahwa itu benar adanya, kita harus mengiyakannya. Tetapi jika sesuatu adalah tidak benar, kita juga harus berani untuk berkata “tidak”. Upaya untuk menutup-nutupi kenyataan dengan tipu-daya atau kamuflase, seharusnya tidak ada dalam kamus kehidupan orang Kristen karena semua itu adalah ketidak-jujuran.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah bagi kita untuk selalu berlaku jujur. Seringkali, karena kekuatiran, ketakutan atau karena adanya resiko, orang Kristen tidak dapat mempertahankan integritasnya. Ini bukan saja mengenai soal bisnis, pekerjaan, dan sekolah, tetapi kehidupan keluarga pun sering digoncangkan karena adanya orang-orang yang tidak menjaga integritasnya. Sebagai akibatnya, seringkali ada rasa kurang percaya, rasa marah dan kecewa kepada orang lain yang timbul setelah sebuah tipu daya terbongkar.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa jika kita memang benar-benar pengikut Kristus, kita akan sungguh-sungguh yakin bahwa apa yang kita perbuat, katakan dan pikirkan pasti diketahui Tuhan. Dengan demikian, tidak ada gunanya bagi kita untuk berusaha melakukan  tindakan yang diharapkan untuk lebih meyakinkan orang lain atas integritas kita. Sebaliknya, kita harus menjaga integritas kita dengan selalu sadar bahwa apa yang kita tunjukkan dan sampaikan kepada orang lain adalah apa yang sudah diketahui oleh Tuhan kita. Integritas adalah ciri iman Kristen yang benar!

Ketika hujan lupa turun

“Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.” Yakobus 5: 7

Kemarin cuaca di kota saya sangat cerah, tetapi langit biru tidaklah kelihatan. Asap kebakaran hutan di sekitar tempat kediaman saya membuat langit seperti berkabut kelabu. Dalam keadaan sedemikian matahari yang terbit atau terbenam menyinarkan warna merah, seakan ikut merasa marah atas musim kemarau yang berkepanjangan di Australia.

Sudah lama hujan tidak turun dan banyak pohon besar di halaman rumah saya yang mati kekeringan. Air ledeng saat ini harus digunakan secara berhemat dan tidak dipakai untuk hal yang kurang penting, seperti mencuci mobil , menyirami tanaman atau membersihkan lantai. Semua orang merasa menderita, tetapi sebagian besar masih bisa bersyukur jika tidak ada ancaman kebakaran hutan di daerahnya.

Mengapa hujan tidak kunjung turun? Apa yang bisa kita lakukan untuk mendatangkan hujan? Ini adalah pertanyaan yang dimiliki semua orang, tetapi tentu tidak semua orang yakin akan jawabnya. Memang, sekali pun dengan kemajuan teknologi saat ini, tidaklah mudah untuk mengubah iklim yang ada atau untuk membuat hujan turun pada daerah yang luas. Dalam hal ini, mau tidak mau orang harus menerima keadaan yang ada di saat ini.  Bagi orang Kristen, semua ini mungkin mengingatkan mereka akan kejadian  dalam Alkitab dimana orang Israel mengalami penderitaan yang serupa dan tidak ada manusia yang bisa memberi jawaban. Tuhanlah yang pada akhirnya menunjukkan kuasa dan kasihNya, dan hujan turun pada waktunya.

Dalam hidup di dunia saat ini, sebenarnya bukan hujan saja yang diharapkan manusia. Setiap manusia mempunyai berbagai pengharapan dan kebutuhan. Dalam hal ini, terkadang penderitaan yang dialami selagi menunggu datangnya pertolongan Tuhan terasa tidak tertahankan. Rasul Yakobus dalam ayat di atas menasihati jemaat pada saat itu untuk bersabar dalam penderitaan sambil mengingat bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat. Seperti seorang petani, mereka semuanya harus bersabar menantikan datangnya hujan yang membawa hasil berharga dari tanahnya.

Kedatangan Tuhan menyatakan saat dimana kita bisa melihat kemuliaan Tuhan sambil bersukacita. Sudah tentu tidak ada seorangpun yang tahu kapan itu akan terjadi. Tetapi itu bukanlah masalah bagi mereka yang beriman, karena apa yang mereka alami tidaklah sebanding dengan apa yang akan mereka terima dari Tuhan. Bagi umat Kristen, kebahagiaan bisa dirasakan dalam segala keadaan karena mereka tahu bahwa Tuhan menghargai ketekunan umatNya. Tuhan yang maha penyayang dan penuh belas kasihan tidak akan menyia-nyiakan mereka yang setia kepadaNya.

“Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” Yakobus 5: 11

Hal mendoakan orang lain

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” 1 Timotius 2: 1 – 4

Hari ini, banyak daerah di Australia sedang dilanda malapetaka. Karena hujan yang tidak kunjung datang, kebakaran rumput dan hutan  yang luar biasa terjadi di beberapa tempat di negara bagian New South Wales dan Queensland. Banyak rumah penduduk yang musnah, dan bahkan beberapa orang sudah tewas terbakar, karena cuaca panas dan angin yang keras membuat menyebarnya api kebakaran sulit untuk diatasi. Dalam keadaan terdesak, banyak orang yang kemudian berdoa kepada tuhan apa saja untuk memohon pertolongan. Tetapi, orang Kristen tentunya menyampaikan doa syafaat kepada Tuhan yang dikenal melalui Yesus Kristus.

Apakah doa syafaat itu? Doa syafaat (bahasa Inggrisnya intercession) adalah salah satu bentuk doa yang sering ditemui dalam kehidupan bergereja. Secara singkat doa syafaat adalah saat manusia berdoa atas nama orang lain. Mungkin jemaat sering menyebutnya sebagai ‘doa untuk orang lain’, termasuk di dalamnya mendoakan bangsa dan negara, mendoakan orang orang yang menderita ditempat lain/negara lain, mendoakan umat beragama lain. Sudah tentu, untuk bisa mendoakan orang lain kita perlu untuk tahu bagaimana keadaan orang lain yang ingin kita doakan. Untuk bisa tahu, tentunya kita harus peduli akan keadaan orang lain. Mereka yang tidak peka atau tidak peduli akan keadaan orang lain tentunya hanya tahu keadaan diri atau kelompok sendiri. Mereka yang hanya mempunyai kepedulian, kasih dan belas kasihan untuk golongan sendiri, sudah tentu tidak tertarik untuk mengetahui masalah orang lain.

Haruskah kita selalu mendoakan orang lain dalam doa-doa-kita? Barangkali secara individual, orang kurang siap untuk berdoa syafaat. Di gereja, jemaat mungkin hanya berdoa syafaat karena ada pendeta yang memimpin doa, sesuai dengan liturgi gereja. Secara individu, biasanya orang Kristen kurang mau atau mampu untuk mendoakan orang yang tidak benar-benar dikenalnya. Dalam hal ini, kita memang lebih mudah untuk mendoakan diri sendiri atau sanak keluarga karena hubungan yang dekat dan juga karena kita merasa terbeban atas persoalan dan kebutuhan mereka. Tetapi, Tuhan yang mengasihi semua orang tentunya mau agar kita juga mengasihi siapa pun, bukan hanya sanak, teman dan orang kita kenal saja.

Ayat di atas adalah tulisan Paulus untuk rekannya yang jauh lebih muda, Timotius. Paulus pertama-tama menasihatkan Timotius agar ia menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar semua orang dapat hidup tenang dan tenteram.  Itu bukan doa untuk orang Kristen saja dan bukan juga doa untuk orang yang kita kenal saja. Itu adalah doa untuk semua orang, dari semua bangsa dan semua kedudukan. Mengapa demikian? Paulus menjelaskan bahwa itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Allah yang mahakasih mau agar kita membagikan kasihNya untuk semua orang agar mereka bisa mengenal Dia.

Doa untuk orang lain bukan saja membawa kebaikan untuk  mereka. Doa syafaat juga mengingatkan bahwa bukan kita yang memiliki Allah, tetapi Allahlah yang memiliki kita. Bukan kita yang memilih Dia, tetapi Ia yang memilih kita. Dengan demikian, kita tidak boleh memonopoli kasih Allah atau merasa bahwa doa kita hanyalah untuk mereka yang sudah diselamatkan. Kita harus sadar bahwa Tuhan bekerja diantara umat manusia untuk membawa lebih banyak orang menuju kearah keselamatan. Tuhan mau agar kita bisa belajar mengasihi siapapun, dimana pun mereka berada, dan dengan demikian makin banyak orang yang  menyambut keselamatan dan pengetahuan akan kebenaran Tuhan.

Doa syafaat memang bisa membentuk karakter kita sebagai anak-anak Tuhan. Jika pada saat-saat yang lampau kita mungkin lebih memusatkan perhatian pada kepentingan diri sendiri atau kebutuhan sanak keluarga dan bangsa sendiri, kedewasaan iman bisa membuat kita sadar bahwa di luar lingkungan sendiri kasih Tuhan juga tercurah untuk semua orang, baik mereka yang sudah mengenal Tuhan atau mereka yang masih hidup dalam dosa. Doa syafaat tidak boleh dibatasi oleh tembok-tembok ras, agama, budaya atau bangsa. Bukankah pada saatnya semua orang yang percaya kepada Tuhan akan hidup bersama di surga?

Tanda orang percaya adalah adanya kasih

“Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” 1 Yohanes 3: 14

Di dunia ini ada berbagai macam aliran kepercayaan dan agama. Sudah tentu, bagi mereka yang baru mulai mempelajari kerohanian, adanya berbagai agama bisa menimbulkan kebingungan. Manakah agama yang benar? Ataukah semua agama pada hakikatnya baik?

Sseorang penginjil terkenal pernah dalam sebuah siaran radionya menyebutkan 4 unsur utama yang seharusnya dipertimbangan mereka yang ingin mempelajari agama:

  1. Asal: dari mana datangnya manusia,
  2. Arti: apa arti hidup manusia,
  3. Akhlak: apa yang diajarkan agama mengenai moral manusia, dan
  4. Akhir: bagaimana hidup manusia akan berakhir.

Agama Kristen adalah satu-satunya kepercayaan yang secara konsisten bisa menghubungkan keempat unsur di atas secara harmonis karena adanya kepercayaan akan Tuhan yang mahakasih.

Karena kasihNya, Tuhan sudah menciptakan manusia agar mereka dapat hidup berbahagia dalam hubungan yang baik dengan Sang Pencipta. Karena kasihNya juga, Tuhan membimbing manusia agar mereka tetap bersandar dalam iman yang benar sampai saat dimana mereka menemui Sang Pencipta di surga.

Allah yang mahakasih dengan demikian menciptakan manusia bukan secara sembarangan, tetapi sebagai peta dan teladan atau gambarNya, dan memberi mereka kedudukan sebagai wakilNya di dunia. Sayang sekali, bahwa dengan jatuhnya manusia ke dalam dosa, manusia kemudian kehilangan kemuliaan dan kedudukan yang dikaruniakan Tuhan. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa pastilah akan menuju ke neraka, jika Allah tidak mengambil inisiatif untuk menyelamatkan mereka yang bertobat.

Manusia baru adalah mereka yang sudah dipindahkan Tuhan dari kematian dan alam maut, ke dalam hidup baru yang kekal dalam kasih Tuhan. Dengan demikian, mereka yang sudah diselamatkan akan dapat memancarkan kasih Tuhan yang sudah mereka terima kepada orang lain.

Mereka yang belum bisa mengasihi sesamanya adalah orang-orang yang belum menerima kasih Tuhan yang menyelamatkan. Memang tidaklah mungkin bagi mereka yang sudah merasakan besarnya kasih Tuhan untuk tetap hidup untuk kepentingan serta kenyamanan diri sendiri saja. Mereka yang sudah hidup dengan rasa syukur atas keselamatan yang diterimanya pasti akan melimpah dalam kasih mereka kepada sesamanya.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” 1 Korintus 13: 4 – 7

Mengapa berbalik arah?

“Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?” Galatia 4: 9

Ada istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan orang yang kembali ke keadaan yang pernah ditinggalkannya. Mungkin sebelumnya orang itu berkata bahwa ia tidak mau lagi melakukan sesuatu perbuatan karena satu dan lain sebab. Tetapi setelah beberapa waktu, orang itu kembali melakukan hal itu dengan berbagai alasan. Orang itu agaknya seperti kucing yang sudah meninggalkan tempat kediamannya, hanya untuk kemudian berbalik arah dan kembali ke tempat semula. Tindakan yang sedemikian dikatakan sebagai “balik kucing”.

Istilah balik kucing mungkin bunyinya aneh dan lucu untuk orang yang tidak mengenal sifat kucing yang memiliki kemampuan untuk pergi ke tempat jauh dan kembali ke tempat asalnya. Dalam bahasa formal baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, istilah yang semakna mungkin tidak ada dan karena itu istilah “berbalik lagi” atau “turning back” dipakai sebagai gantinya.

Ayat di atas menampilkan peringatan rasul Paulus kepada jemaat di Galatia agar mereka tidak balik kucing. Paulus mengingatkan mereka yang sudah mengenal Allah yang mahakuasa dan mahakaya agar jangan berbalik lagi kepada hal-hal keduniawian yang tidak ada artinya di hadapan Tuhan dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya. Ini bukannya jarang, tetapi justru sering terjadi dalam masyarakat modern, dimana orang Kristen bisa tergoda oleh apa yang nampaknya nyaman, nikmat, dan gemerlapan di sekelilingnya. Mereka yang dulunya rajin ke gereja misalnya, lambat laun lebih ingin untuk menggunakan waktunya untuk hal-hal yang lain.

Keinginan untuk sukses juga bisa membuat orang Kristen berbalik arah. Dalam hal ini patut disayangkan adanya orang-orang Kristen yang mengajarkan bahwa setelah memperoleh jaminan keselamatan surgawi dari Yesus orang beriman harus yakin untuk bisa hidup dalam berkelimpahan di dunia. Ini sudah tentu tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Berulang kali dalam Alkitab, Paulus mengingatkan jemaatnya bahwa menjadi pengikut Kristus bukanlah mudah. Seperti Paulus, mereka harus bisa menghadapi tantangan hidup dengan iman dan merasa cukup dalam semua keadaan. Tetapi, sekalipun hidup terasa berat orang yang benar-benar beriman tidak mudah untuk balik kucing. Mereka yang sudah berjanji untuk mengikut Kristus dan hidup dalam kebenaran, tidak akan mudah tergoda atas apa yang ditawarkan dunia, karena mereka tahu apa yang tersedia di surga tidaklah ada bandingnya.

Pagi ini, firman Tuhan memperingatkan kita bahwa jika Tuhan sudah mengenal kita, adalah kewajiban bagi kita untuk menyambut kasihNya dengan kesetiaan untuk menurut Dia, kemana pun dan apa pun yang dikehendakiNya. Itu berarti bahwa kita tidak lagi menuruti keinginan duniawi kita yang seringkali bertentangan arah dengan tujuan iman kita. Semoga kita tidak pernah tertarik untuk berbalik arah!

Berserah bukan berarti menyerah

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”. 1 Petrus 5: 7 – 8

Australia seperti banyak negara maju lainnya mengalami masalah sosial yang cukup besar. Sekarang ini banyak penduduknya yang tergolong peminum berat alias alkoholik. Kecanduan alkohol atau miras sudah mengakibatkan berbagai dampak negatif bukan saja pada hidup perseorangan, rumah tangga dan komunitas, tetapi sudah juga merugikan ekonomi negara secara signifikan. Banyak juga pecandu alkohol yang akhirnya menjadi pecandu narkoba, dan ini sudah tentu membuat masalahnya menjadi makin rumit dan sulit dipecahkan.

Alkohol dan juga narkoba memang seringkali dipakai orang yang mengalami persoalan hidup untuk meredakan perasaan sedih atau kekosongan hidupnya. Pemakaian miras dan narkoba yang pada mulanya jarang-jarang, lambat laun menjadi kecanduan yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Jika seseorang sudah menjadi pecandu, tidak banyak yang bisa ia lakukan, kecuali menyerah kepada keadaan. Dalam hal ini, banyak di antara mereka yang hidupnya berakhir dengan tragis.

Menyerah adalah suatu kata yang seharusnya tidak ada dalam perbendaharaan kata orang Kristen. Itu karena mereka percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan Bapa yang mengasihi anak-anakNya. Dengan demikian, sekalipun hidup di dunia bisa menjadi sangat berat karena satu dan lain hal, orang yang beriman bisa tetap teguh karena mereka bisa menyerahkan diri kepada Tuhan dan bukan menyerah kepada keadaan.

Ayat di atas mengatakan bahwa kita harus mau menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan, sebab Ia yang memelihara kita. Ini lebih mudah untuk dikatakan dari pada dijalankan. Karena itulah, banyak orang Kristen memilih untuk menyerah pada keadaan daripada berserah kepada Tuhan. Mungkin anda bertanya apakah kedua tindakan ini berbeda. Tentu saja! Tuhan tidak menghendaki umatNya untuk menyerah. Tuhan menghendaki umatNya untuk menyerahkan rasa takut dan kuatir kita, selagi kita berjuang. Dengan demikian, kita bisa menghadapi hidup ini dengan keberanian dan keyakinan bahwa Tuhan adalah yang membimbing kita.

Hidup ini memang penuh tantangan dan bahaya. Terutama karena iblis yang berjalan berkeliling seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Jika kita menyerah dan tidak berbuat apa-apa, sudah tentu kita akan menjadi korbannya. Jika kita melarikan diri, sang singa akan menerkam kita dari belakang. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan?

Ayat di atas menulis bahwa kita harus sadar dan berjaga-jaga. Ini berarti kita harus bertindak dan bukannya pasif. Untuk bisa selalu sadar dan berjaga-jaga, kita membutuhkan kekuatan dan kebijaksanaan dari Tuhan. Kita harus sadar akan apa yang terjadi dalam hidup kita, dan berhati-hati melangkahkan kaki kita. Tidak lengah, apalagi tidur rohani. Sebaliknya, kita harus makin dekat dengan Tuhan dan taat kepada firmanNya. Berserah bukan berarti menyerah!

Menjadi anggota keluarga Allah

“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu.” Markus 3: 35

Jika saya telusuri perbincangan antar pemakai sosial media di zaman ini, mau tidak mau saya merasa geli. Bagaimana tidak? Dulu kita selalu memakai istilah saudara dan saudari untuk memanggil orang yang kita ajak berbincang, tetapi sekarang ini orang sering memakai panggilan “bro” dan “sis“. Memang, kedua panggilan ini agaknya lebih keren karena berasal dari bahasa Inggris “brother” dan “sister” yang artinya “saudara” dan “saudari”. Tetapi, yang agak aneh ialah selain “bro”, panggilan  “Mas Bro” juga dipakai untuk teman pria. Mas Bro?

Lawan dari “bro” adalah “sis”, tetapi panggilan “sis” ini banyak ditemui di online shop, ketika penjual memanggil pelanggannya, tidak peduli pria atau wanita. Selain itu, ada juga panggilan “gan” yaitu panggilan untuk sesama pria anggota sebuah forum internet (agan). Bagaimana dengan panggilan “om”? Di zaman Belanda, “oom” dan “tante” adalah panggilan untuk paman dan bibi, tetapi “om” sekarang dipakai untuk memanggil pria yang dihormati, walaupun belum tentu tua atau lebih tua. Selain itu, di banyak gereja panggilan “om” dan “tante” sering dipakai untuk mereka yang duduk sebagai pemimpin gereja.

Panggilan-panggilan di atas tidaklah perlu ditanggapi terlalu serius. Jika kita dipanggil orang yang memakai istilah seperti itu, kita tidak perlu merasa kurang enak. Orang memanggil kita, tentunya dengan maksud agar bisa lebih akrab. Bagaimana dengan hal panggil-memanggil antara umat Kristen? Di Alkitab berbahasa Inggris, memang istilah brother and sister dipakai untuk memanggil orang yang belum tentu mempunyai hubungan darah, tetapi adalah saudara dan saudari dalam satu iman. Bahkan rasul-rasul memanggil siapa pun yang seiman sebagai saudara dan saudari, sekalipun belum pernah berjumpa. Agaknya iman yang mempersatukan semua umat Kristen, dimana pun mereka berada dan dari bangsa apapun.

Berbeda dengan panggilan saudara dan saudari dalam hubungan sehari-hari, panggilan saudara dan saudari dalam konteks kekristenan adalah hal yang serius. Alkisah, pada waktu Yesus tengah berbicara dengan orang banyak, ada orang yang mengingatkan Dia bahwa ibu dan saudara-saudaraNya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Apa jawab Yesus? Ia berkata: “Siapa ibuKu? Dan siapa saudara-saudaraKu?” Lalu kataNya, sambil menunjuk ke arah murid-muridNya: “Inilah ibuKu dan saudara-saudaraKu! Yesus bukannya tidak menghormati Maria dan bukannya tidak mengasihi saudara-saudaraNya, tetapi pada kesempatan itu Ia ingin menekankan pentingnya ikatan dengan Allah. Jika manusia sering memusatkan hidup mereka untuk kebutuhan keluarga, orangtua, saudara dan teman, sebagai orang Kristen mereka seharusnya memusatkan hidup mereka kepada Tuhan.

Pada ayat di atas Yesus menjelaskan bahwa barangsiapa melakukan kehendak Allah, dia adalah saudara, saudari dan ibu Yesus. Yesus adalah Anak Allah dan Ia adalah satu dengan Allah. Dengan demikian, jika kita hidup menurut firman Allah, kita adalah anggota keluarga Allah. Ini bukanlah hal yang remeh, karena mereka yang tidak mau melakukan kehendak Allah tentu adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah, dan karena itu bukanlah “bro” dan “sis” yang sesungguhnya. Sekalipun kita mempunyai saudara dan saudari yang berhubungan darah, semua itu pada akhirnya tidak ada artinya jika mereka tidak dipersatukan dengan kita dalam darah Kristus. Sebaliknya, sekalipun kita tidak mengenal orang-orang yang jauh di sana dan tidak pernah berjumpa muka, kita bisa mendoakan dan mau menolong mereka yang sehati dan seiman dalam Kristus.

Pagi ini, marilah kita meneliti hubungan kita dengan mereka yang hidup di sekeliling kita. Mungkin kita mengasihi mereka yang akrab dan tergolong teman baik ataupun sanak. Itu sudah sepantasnya. Alkitab justru mengajarkan agar kita mau mengasihi sesama manusia tanpa pandang bulu. Walaupun demikian, apakah artinya kasih kita jika kita mengerti bahwa Allah, sekalipun Ia mengasihi seluruh umat manusia, tidak akan mengakui semua orang sebagai anak-anakNya? Bukankah kita terpanggil untuk selalu mengingatkan mereka bahwa adalah terlebih baik menjadi anggota keluarga Allah daripada menjadi anggota keluarga manusia?

Perlukah rasa menyesal?

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” Mazmur 51: 1

Pagi tadi saya menonton TV yang menampilkan sebuah wawancara dengan seorang penyanyi terkenal, Leo Sayer. Saya memang adalah penggemar lagu-lagunya yang sangat populer seperti “You Make Me Feel Like Dancing” dan  “When I Need You” dan pernah juga menonton show-nya. Dalam wawancara itu, ia diberi sebuah pertanyaan apakah ia mempunyai sesuatu kekuatiran dalam hidupnya. Maklum, penyanyi ini sudah dua kali menikah dan keduanya berakhir dengan perceraian. Selain itu, ia juga pernah dirugikan secara finansial secara besar-besaran oleh teman dekatnya. Terhadap pertanyaan itu, ia menjawab bahwa ia bukanlah orang yang mudah  kuatir untuk hal apapun, sekalipun ia mengaku sudah membuat berbagai kesalahan dalam pernikahan maupun bisnisnya.  Kelihatannya, jawaban ini bisa membuat orang lain kagum. Dari penampilannya, penyanyi ini tentunya adalah orang yang selalu berpikir positif dan bisa melupakan apa yang pahit pada masa lalunya.

Berpikir positif atau positive thinking adalah sesuatu yang banyak digembar-gemborkan oleh berbagai motivator pada zaman ini. Berpikir positif adalah sesuatu yang membuat orang bisa bertahan dalam menghadapi kesulitan, begitu kata orang. Memang, jika seseorang mengalami hal yang kurang menyenangkan, pikiran yang negatif seringkali membuat persoalan menjadi terasa makin berat. Berpikir positif secara umum menyangkut usaha untuk memperbesar hal percaya kepada diri sendiri dan memupuk semangat untuk menghadapi hari depan. Kelihatannya, semua ini adalah baik dalam pandangan banyak orang yang menghadapi kesulitan hidup. Rasa sesal dan kesal memang bisa membuat semangat orang menjadi hancur dalam kesulitannya. Bgaimana kata firman Tuhan dalam hal ini?

Alkitab menceritakan kesulitan besar yang dihadapi raja Daud. Ketika itu ia sudah melakukan dosa besar dengan menghamili Batsyeba, istri Uria panglima perangnya. Bukan itu saja, tindakan Daud yang lain kemudian menyebabkan kematian Uria. Tuhan kemudian mengutus nabi Natan untuk memperingatkan Daud (2 Samuel 12). Daud tidak membantah apa yang dinyatakan oleh Natan, sebaliknya ia memohon ampun kepada Tuhan. Daud tidak memakai cara berpikir positif dengan mengabaikan kekeliruan yang pernah dilakukannya, tetapi dengan sungguh-sungguh meminta pengampunan Tuhan akan segala pelanggarannya. Daud mengerti bahwa dengan mengakui segala kekeliruannya dan menyadari bahwa Tuhan tidak dapat ditipu dengan penampilannya, ia masih bisa berharap pada belas kasihan Tuhan.

Dari kisah hidup Daud, kita bisa menyadari bahwa Daud bukanlah orang yang sempurna, tetapi sebaliknya ia adalah orang yang lemah dan bergelimang dosa. Tetapi Daud adalah orang yang tidak bersandar pada diri sendiri dan mencoba menyelesaikan persoalan hidupnya dengan kekuatannya. Ia tidak menutupi masa lalunya dengan  pikiran-pikiran positif.  Sebaliknya, Daud  menghampiri tahta Tuhan dengan bersujud dan menyesali apa yang telah dilakukannya. Ia sadar bahwa dengan usaha apapun ia tidak dapat memutar balik jam kehidupannya dan mencuci bersih dosa yang sudah dilakukannya. Ia hanya bisa memohon ampun kepada Tuhan yang mahasuci.

Apa yang akhirnya terjadi pada Daud bisa mengingatkan kita  bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih. Seperti Tuhan sudah mengampuni Daud, Ia juga bisa mengampuni kita jika kita mau mengakui kekeliruan hidup kita dan memohon ampun kepadaNya. Jika kita memang mau berlaku jujur di hadapan tahtaNya, Tuhan akan memberikan kita kemurahanNya dengan membimbing kita untuk menghadapi masa depan kita. Tidak ada hal lain yang bisa mengembalikan rasa percaya diri kita, kecuali keyakinan bahwa Tuhan sudah mengampuni segala kesalahan, kesombongan, kepalsuan dan kejahatan kita yang lain. Dengan pengampunanNya, beban besar yang ada dipundak kita akan dilepaskan dan kita bisa melangkah menuju hari depan dengan rasa damai dan bahagia.

Benarkah kita mengenal Tuhan?

“Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,  sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.” Kolose 1: 9 – 12

Apakah anda kenal dengan Rudy Hartono? Dapatkah anda mengenalinya jika anda bertemu dengan dia di jalan? Rudy Hartono Kurniawan lahir dengan nama Nio Hap Liang adalah salah satu mantan pemain bulu tangkis Indonesia yang namanya pernah diabadikan dalam Guiness Book of World Records pada tahun 1982 karena berhasil membawa Indonesia meraih juara All England delapan kali dan memenangkan Thomas Cup sebanyak empat kali. Delapan gelar All England adalah rekor milik Rudy di nomor tunggal putra yang belum pernah berhasil dicuri oleh pebulutangkis tunggal putra di generasi berikutnya. Saya sendiri hanya mengenal namanya lewat siaran pandangan mata pertandingan bulutangkis mulai tahun 1960an. Dengan demikian, saya tidak tahu banyak mengenai kehidupan, sifat dan kebiasaan Rudy. Saya tahu, tetapi tidak kenal dia; dan besar kemungkinan saya tidak dapat mengenalinya di jalan, sekalipun saya pernah melihat foto terbarunya di media.

Apakah anda kenal dengan Tuhan Allah yang mahakuasa? Sekalipun anda tidak bisa melihat wajahNya, dapatkah anda mengenali suaraNya jika anda menghampiri tahtaNya? Sebagai orang Kristen tentu kita sudah banyak membaca tulisan dan doktrin yang berhubungan dengan Tuhan: tentang sifatNya, kasihNya, KuasaNya dan sebagainya. Begitu pula kita sudah banyak membaca ayat-ayat Alkitab dan mendengar firmanNya melalui apa yang dikhotbahkan di gereja. Mungkin kita sudah tahu siapakah Dia sejak lama, tetapi belum tentu kita tahu apa yang dikehendakiNya dalam hidup kita dan dalam lingkungan dimana kita berada. Tuhan yang kita ketahui, mungkin saja bukan Tuhan yang kita kenal, karena Ia adalah Tuhan yang nun jauh di sana.

Dalam ayat di atas, Paulus  mengungkapkan kepada jemaat di Kolose bahwa ia  dan Timotius tidak  berhenti-henti berdoa untuk mereka.  Untuk apa? Paulus dan Timotius meminta kepada Tuhan agar jemaat di Kolose menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna. Paulus agaknya tahu bahwa sekalipun jemaat di Kolose sudah memiliki pengetahuan tentang Tuhan, itu belum cukup untuk membuat mereka benar-benar kenal dengan Tuhan. Mereka yang benar-benar kenal dengan Tuhan akan mempunyai segala hikmat kebijaksanaan dan pengertian akan Tuhan dengan sifatNya. Dengan demikian, mereka yang benar-benar kenal dengan Tuhan akan menyadari kehendakNya, sehingga mereka tidak akan hidup sembarangan, tetapi akan menjalani hidup yang layak di hadapanNya.

Lebih lanjut, Paulus berdoa agar jemaat Kolose bisa  menghasilkan buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah. Memang bukan hanya pada waktu itu saja  ada orang-orang yang merasa kenal akan Tuhan tetapi sebenarnya hanya tahu tentang Dia. Di zaman ini ada orang-orang yang rajin membaca firmanNya atau  aktif di gereja; tetapi mereka tidak bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Tuhan, dan tidak berusaha untuk hidup baik di antara sesama manusia guna memuliakan Dia.

Mereka yang hanya tahu adanya Tuhan seringkali tidak menyadari bahwa Tuhan selalu menyertai mereka yang mau hidup sesuai dengan kehendakNya. Karena mereka tidak benar-benar kenal akan Tuhan, mereka  sering tidak sadar bahwa Ia mengasihi mereka dalam keadaan apapun. Karena itu, Paulus juga mendoakan jemaat Kolose agar mereka dikuatkan oleh kuasa kemuliaan Tuhan untuk bisa menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan  bisa selalu mengucap syukur dengan sukacita kepada Dia.

Pagi ini, ada sebuah pertanyaan penting bagi kita:  apakah kita benar-benar kenal kepada Tuhan. Jika kita menyadari betapa besarnya kasih Allah yang sudah mengurbankan AnakNya, Yesus Kristus, untuk ganti kita, kita dengan yakin boleh percaya bahwa Tuhan mengenal kita sebagai anak-anakNya. Dengan demikian kita mengenal Dia sebagai Bapa yang sudah melayakkan kita untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan surga.  Karena itu jugalah kita tidak perlu merasa ragu akan kasihNya yang akan membimbing kita selama hidup di dunia. Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang mahakuasa, mahabijaksana dan mahakasih. Kepada Dia kita bisa menggantungkan hari depan kita sepenuhnya.

Mengatasi pencobaan dalam hidup

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13 – 14

Hidup manusia adalah penuh tantangan dan setiap orang umumnya pernah mengalami masalah hidup yang serius. Dalam hal ini, sebagian orang merasa beruntung jika mereka pada akhirnya dapat mengatasi masalah mereka, mungkin setelah bergumul cukup lama. Tetapi sebagian lagi mungkin merasa bahwa mereka menghadapi persoalan yang tidak teratasi. Sebagai orang Kristen, tentunya kita yakin bahwa dengan berdoa kita bisa menyampaikan keluh-kesah kita kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Tetapi, kita tentunya sadar bahwa Tuhan sudah tahu apa yang kita derita sebelum kita berdoa. Doa memang bukan dimaksudkan untuk mengingatkan Tuhan akan kesulitan kita, tetapi sebaliknya untuk mengingatkan kita yang dalam kesulitan untuk selalu dekat kepadaNya.

Reaksi manusia dalam kesulitan memang ada berbagai rupa. Ada yang makin rajin berdoa dan percaya bahwa pertolongan Tuhan pasti datang jika mereka giat mengulangi permohonan mereka. Tetapi ada juga orang yang berdoa memohon pertolongan sambil berserah kepada kehendak Tuhan. Dalam hal ini, memang sebenarnya hal berserah kepada kehendak Tuhan itu diajarkan oleh Yesus dengan Doa Bapa Kami, dan karena itu kita tidak sepantasnya “memaksa-maksa” Tuhan untuk menolong kita. Di pihak lain, dalam kesulitan hidup ada orang yang merasa bahwa Tuhanlah yang mengijinkan datangnya semua masalah dan Tuhanlah yang bisa melenyapkannya.  Selanjutnya, mereka yang sudah lama menderita mungkin saja mengira bahwa Tuhan yang mahakuasa menghendaki semua itu terjadi, dan karena itu mereka mungkin percaya bahwa doa adalah sesuatu yang sebenarnya sia-sia.

Secara garis besar, penderitaan di dunia ini adalah hal yang lazim. Manusia hidup di dunia yang sudah cacat dan karena itu hidup bisa menjadi sangat sulit dijalani. Walaupun demikian, kesulitan hidup bukanlah datang tanpa sebab. Ada orang yang mengalami kesulitan hidup sekalipun itu terjadi bukan karena kekeliruannya. Dalam hal ini, sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan terkadang membiarkan hal itu terjadi untuk membuat kita mau bergantung sepenuhnya kepada Dia. Ini adalah sebuah tes kehidupan yang justru bisa membuat kita makin kuat dalam iman. Pada pihak yang lain, ada juga kesulitan hidup yang terjadi karena kekeliruan kita sendiri, sekalipun tidak mau kita akui. Mungkin sebagai pelarian, orang yang merasa tidak berdaya merasa bahwa Tuhanlah yang sudah mendatangkan semua hal yang buruk dalam hidup mereka.

Ayat di atas ditulis oleh Yakobus ratusan tahun yang lalu, tetapi tetap aktuil pada zaman ini. Yakobus menasihati umat Kristen pada zamannya bahwa mereka yang jatuh kedalam dosa karena pencobaan haruslah mau mengakui kesalahan mereka. Pencobaan yang membawa kejahatan dan dosa bukanlah datang dari Tuhan, tetapi manusialah yang karena keinginan mereka sendiri kemudian jatuh dalam dosa. Pada zaman modern  ini mungkin lebih banyak lagi orang yang merasa bahwa mereka jatuh kedalam dosa dan pencobaan karena Tuhan sudah membiarkan pengaruh jahat merajalela di dunia. Mengapa Tuhan membiarkan manusia untuk melakukan hal-hal yang makin jahat di dunia? Bukankah sebagai Tuhan yang mahakuasa Ia bisa menghentikan tumbuhnya pikiran-pikiran dan perbuatan kotor di dunia? Dengan demikian, banyak orang Kristen yang merasa bahwa jatuh ke dalam dosa dan pencobaan adalah hal yang tidak terlalu perlu untuk dipikirkan karena itu tentunya sesuai dengan kehendak Tuhan pada zaman ini.

Dalam ayat di atas kita diperingatkan bahwa Tuhan tidak pernah mencobai umatNya agar mereka jatuh dalam dosa. Mereka yang jatuh dalam dosa tidaklah dapat mempersalahkan pengaruh orang lain atau lingkungan mereka. Mereka tidak dapat membuat alasan bahwa semua itu terjadi karena Tuhan membiarkan mereka mengalami pencobaan. Tiap-tiap orang harus menghadapi persoalan hidup mereka sendiri dan berusaha menghindari jebakan-jebakan yang memikat dan yang terlihat sebagai solusi yang mudah. Sebagai manusia kita seharusnya bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk. Memang seringkali dengan tenaga sendiri kita tidak sanggup untuk mengatasi keinginan hati kita, tetapi dengan membina hubungan baik kita dengan Tuhan, kita akan mendapat kekuatan untuk bisa selalu menang dalam menghadapi pencobaan.