Dimanakah Tuhan?

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Mazmur 42: 11

Pada beberapa hari terakhir ini bencana kebakaran hutan lagi melanda negara bagian Queensland di Australia. Banyak rumah yang terbakar habis termasuk bangunan hotel kuno Binna Burra di Gold Coast yang dibangun pada tahun 1933. Kota Stanthorpe yang berjarak sekitar 140 km dari kota saya, Toowoomba, juga mengalami kebakaran yang mengharuskan sebagian penduduknya untuk mengungsi. Pagi ini, giliran penduduk Peregian Beach di utara Brisbane untuk meninggalkan rumah mereka karena ancaman api. Diduga api kebakaran berasal dari tangan usil beberapa remaja yang membakar semak-semak yang kering.

Dimanakah Tuhan? Pertanyaan ini muncul jika kita mengalami bencana. Mengapa Tuhan membiarkan kejadian-kejadian yang menyedihkan terjadi? Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih? Pertanyaan ini juga mungkin dilontarkan oleh orang yang melihat umat Tuhan yang ditimpa kemalangan. Mereka mungkin secara diam-diam mengejek orang Kristen yang sekalipun mempunyai Tuhan, tetap saja bisa mengalami kejadian yang menyedihkan. Buat apa mempunyai Tuhan jika Ia tidak bisa menolong umatNya yang sedang menderita? Bukankah Tuhan yang benar-benar ada seharusnya bisa dan mau menolong umatNya?

Bahwa Tuhan sering nampak berdiam diri ketika umatNya sedang mengalami bencana bukanlah sesuatu yang harus diherani. Yesus sebagai Anak Allah yang turun ke dunia juga mengalami hal yang serupa. Ketika Ia disalib Allah Bapa terasa jauh dan karena itu Ia berseru: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” yang berarti Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Markus 15: 34). Walaupun demikian, sebenarnya Allah tidak pernah meninggalkan orang-orang yang dicintaiNya. Segala sesuatu terjadi dengan seizinNya dan membawa akibat yang sesuai dengan rencanaNya.

Penulis Mazmur 42 adalah anak-anak Korah yang mempertanyakan keberadaan Tuhan ketika jiwa mereka gundah-gulana. Jiwa yang tertekan dan gelisah. Walaupun tidak disebutkan apa yang sebenarnya dialami mereka, mungkin kita pernah merasakan penderitaan yang serupa. Kelihatannya, penderitaan yang dituliskan dalam Mazmur 42 bukanlah penderitaan jasmani, tetapi lebih ke arah penderitaan rohani. Mereka mungkin mengalami depresi spritual. Seseorang dalam kondisi depresi seperti ini bisa mengalami perasaan sedih, cemas, atau kosong; mereka juga cenderung merasa terjebak dalam kondisi yang tidak ada harapan, tidak ada pertolongan, penuh penolakan, atau perasaan tidak berharga. Lebih jauh, individu yang mengalami depresi rohani seperti ini dapat juga merasa malu atau gelisah. Semuanya sehubungan dengan perasaan bahwa Tuhan sudah meninggalkannya, dan ini bisa saja membuat hidup ini terasa sia-sia.

Bagaimana tindakan kita jika kita mengalami depresi rohani? Pemazmur diatas sudah menunjukkan caranya. Yang pertama ialah dengan bertanya kepada diri kita sendiri apakah yang menyebabkan kegelisahan kita. Kita juga boleh bertanya kepada Tuhan mengapa semua ini harus terjadi.  Tuhan mungkin tidak memberikan jawaban secara langsung, tetapi kita kemudian akan sadar bahwa Tuhan tahu segala apa yang terjadi dalam hidup kita. Tuhan tidak mungkin kehilangan kemudi. Yang kedua adalah dengan mengingat bahwa sampai saat ini Tuhan sudah membimbing kita. Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Dia adalah yang memegang kontrol kehidupan kita. Dengan demikian kita bisa berharap akan pertolongan Tuhan di masa depan. Yang ketiga ialah dengan menyampaikan rasa syukur dan doa kepada Dia yang mahakasih. Dengan ini kita juga bisa lebih merasakan kerinduan kita kepada Tuhan yang memberi kedamaian dan keyakinan. Hanya Tuhan yang bisa menyegarkan dan menguatkan kita kembali dan itu yang harus kita yakini.

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42: 1

Menghadapi musuh yang tidak terlihat

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6: 11 – 12

Bagi mereka yang mengikuti perkembangan militer, kemajuan teknologi militer yang dicapai oleh beberapa negara dalam dua dekade yang terakhir memang sangat mengagumkan. Sekalipun tidak ada perang yang sedang dihadapi, berbagai negara berlomba-lomba mengembangkan kemampuan militernya, terutama dalam hal teknologi pesawat udara. Beberapa negara saat ini sedang giat-giatnya mengembangkan pesawat tempur yang dijuluki pesawat siluman (stealth aircraft), yaitu pesawat yang menggunakan teknologi yang membuatnya lebih sulit untuk dideteksi.

Pada umumnya tujuan pesawat siluman adalah melancarkan serangan selagi pesawat itu masih berada di luar jangkauan pendeteksian musuh. Pesawat siluman memiliki kemampuan untuk menghindari deteksi secara visual, audio, sensor panas, maupun gelombang radio (radar). Mengapa pesawat itu disebut pesawat siluman dalam bahasa Indonesia? Saya kurang mengerti. Siluman dalam berbagai cerita rakyat Indonesia adalah makhluk halus yang tinggal dalam komunitas dan menempati suatu tempat. Mereka melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari sebagaimana layaknya manusia biasa, tetapi seringkali melakukan hal-hal yang mengganggu manusia. Dalam bahasa Inggris, “stealth” bukanlah hantu atau jadi-jadian, tetapi berarti “tidak terlihat” atau “secara sembunyi”.

Mereka yang tidak percaya adanya siluman tentunya bisa merasa geli mendengar adanya istilah “pesawat siluman”. Tetapi mereka yang tidak percaya adanya iblis juga bisa merasa geli membaca ayat di atas. Dalam ayat di atas Paulus mengingatkan jemaat Efesus akan adanya “pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia dan roh-roh jahat di udara”. Paulus tentunya tidak berbohong. Siluman itu ternyata memang ada.

Iblis memang berusaha menghancurkan apa yang baik yang diciptakan Tuhan sejak dari awalnya. Iblis sangat pandai untuk membujuk manusia agar mereka mengabaikan firman Tuhan. Iblis tidak terang-terangan mengajak umat Tuhan untuk berbuat dosa, tetapi ia membuat manusia merasa tidak merasa bersalah dalam dosa yang diperbuatnya. Iblis mampu membuat apa yang salah, yang jahat, yang kejam dan yang licik, terlihat sebagai sesuatu yang indah. Iblis mengajarkan manusia membuat berbagai dalih untuk membenarkan perbuatan jeleknya. Iblis juga sering membuat manusia merasa diagungkan dan karena itu dengan senang hati mengikuti jalan yang sesat.

Perjuangan orang Kristen dalam hidup ini bukanlah menghadapi sesuatu yang mudah dilihat. Iblis yang bekerja seperti siluman (stealth) sudah memasuki segala segi kehidupan manusia, baik itu menyangkut hukum, politik, ekonomi, medis, agama, keluarga dan kemasyarakatan. Iblis secara perlahan-lahan dan tersembunyi sudah menggerogoti nilai-nilai hidup suci yang sudah diberikan Tuhan sehingga semuanya nampak sebagai hal-hal yang sepele, yang bisa dilupakan. Iblis jugalah yang membuat manusia merasa besar dan percaya bahwa hidup-matinya ada ditangan mereka sendiri. Manusia yang sudah diserang dan dikalahkan oleh iblis biasanya justru tidak menyadari keadaannya, karena ia tidak dapat melihat iblis, si siluman yang bekerja dibalik semuanya.

Hari ini firman Tuhan berkata bahwa perjuangan kita melawan iblis yang tidak kelihatan tidaklah mudah.  Apa yang kita lihat mungkin menawan dan nyaman, tetapi dibalik semua itu iblis sudah siap untuk menjatuhkan siapa saja yang tidak berhati-hati. Dengan demikian, kita harus mau mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat si penipu. Kita harus makin kokoh dalam memegang kebenaran dan keadilan Kristus, ikut mengabarkan injil kepada semua orang, berlindung di balik iman, berpegang pada fiman Tuhan dan rajin berdoa untuk memohon penyertaan Tuhan kepada semua orang percaya.

“Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.” Efesus 6: 14 – 18

Adakah perubahan dalam hidup kita?

“Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.” Roma 6: 19

Adalah menarik jika kita meneliti reaksi manusia terhadap bertambahnya umur. Pada waktu masih kecil seorang anak mungkin berharap akan cepatnya datangnya kedewasaan, karena dengan itu datang “kebebasan”. Walaupun demikian, orang dewasa sering membayangkan betapa enaknya mereka yang masih anak-anak, karena mereka tidak perlu memikirkan berbagai tanggung jawab kehidupan. Pada pihak yang lain, mereka yang sudah uzur mungkin ingin untuk menjadi muda kembali untuk bisa memulihkan kesegaran tubuh mereka.

Reaksi manusia terhadap umurnya tentunya berbeda-beda. Mungkin saja ada orang yang puas dengan umurnya atau yang ingin tetap berada dalam umur yang sekarang. Tetapi mereka yang realistis tentunya sadar bahwa bertambahnya umur adalah salah satu tanda yang mengingatkan bahwa dalam hidup ini kita akan mengalami berbagai kejadian, baik yang dikehendaki maupun yang sebenarnya ingin dihindari.

Jika pada waktu muda bertambahnya umur diharapkan bisa menambah kemandirian dan kekuatan, perubahan yang ingin dihindari manusia dengan menanjaknya usia pada umumnya bertalian dengan adanya berbagai masalah kehidupan dan mundurnya kesehatan. Mungkin jarang orang yang memikirkan bahwa bertambahnya umur adalah kesempatan untuk membuat hidup makin sesuai dengan firman Tuhan.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa pada masa lalu kita mungkin sudah membiarkan hidup kita jatuh ke dalam kecemaran dan kedurhakaan. Rasa sedih dan rasa malu atas apa yang sudah kita lakukan mungkin ada, tetapi bagi banyak orang itu adalah sesuatu yang lebih baik dilupakan. Sebaliknya, bertambahnya umur seharusnya mengingatkan kita untuk memakai hidup kita untuk menjadi hamba kebenaran yang membuat kita makin menyerupai Kristus. Tetapi, bagi banyak orang, ini pun adalah sesuatu yang sering dilupakan karena semuanya hanya rencana untuk masa depan. Lalu apakah yang kemudian terjadi? Masa kini berubah menjadi masa lalu, dan masa depan tidak pernah datang karena tidak ada perubahan yang terjadi. Itulah ciri manusia duniawi yang dari lahir hingga mati tidak mengalami perubahan rohani.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Apa yang terlihat indah haruslah diuji

“Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.” Kisah Para Rasul 20: 30

Hari ini saya pergi berkeliling kota bersama seorang sanak yang ingin membeli rumah. Di Australia, pada umumnya orang melihat iklan rumah yang dipasarkan melalui internet. Pemilik rumah biasanya memakai jasa agen real estate yang memasarkan rumah itu melalui berbagai media elektronik. Agen itu jugalah yang bisa memberi nasihat kepada pemilik rumah bagaimana mereka membuat penampilan rumah itu lebih menawan bagi para calon pembeli.

Apa saja yang bisa dilakukan oleh seorang pemilik rumah untuk membuat calon pembeli terkesan? Sudah tentu mereka akan berusaha untuk membersihkan rumah sebaik mungkin. Selain itu, pemilik rumah bisa menambal dan mengecat bagian tembok yang berlubang dan membetulkan apa yang rusak supaya tidak nampak kerusakannya. Bahkan ada yang menyewa perabotan tertentu seperti TV raksasa dan piano supaya rumah yang dijual itu kelihatan lebih mentereng. Memang dalam dunia jual beli sangatlah penting bagi penjual rumah untuk memberi kesan baik kepada calon pembeli, dan membuat barang mereka terlihat lebih baik dari aslinya. Sudah tentu calon pembeli yang tidak awas akan bisa tertipu.

Usaha membuat sesuatu lebih baik dari aslinya bukan saja dalam hal jual-beli barang, tetapi juga dalam hal keagamaan. Sejarah membuktikan adanya banyak orang yang jatuh kedalam jebakan pemimpin-pemimpin agama atau sekte, yang mengajarkan hal-hal yang tidak benar, yang dibungkus sedemikian rupa sehingga terlihat indah dan berguna. Orang yang terbujuk seringkali terjerumus sangat dalam dan sulit untuk disadarkan.

Sebenarnya sejak Yesus meninggalkan dunia ini sudah ada pemimpin-pemimpin kerohanian yang berusaha menarik orang-orang dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Paulus dalam ayat di atas mengingatkan pengikut Kristus bahwa orang-orang semacam itu harus diwaspadai karena mereka bukannya muncul sebagai orang yang tidak mengenal Kristus, tetapi justru terlihat sebagai pengikut Kristus.

Pada zaman sekarang, penyesat-penyesat seperti itu sangat sering muncul dalam kalangan Kristen, dan bahkan dalam gereja-gereja besar. Mereka yang mengajarkan hal-hal yang tidak berdasarkan Alkitab, yang menekankan pengertian mereka sendiri, yang menonjolkan pengalaman pribadi, semuanya untuk menarik umat supaya mengikut mereka, dan bukannya untuk mengikut Kristus. Mereka seringkali terlihat penuh dengan kebijaksanaan yang seolah datang dari Tuhan, tetapi semua itu adalah kepalsuan.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita mengagumi seorang yang nampak hebat dalam mengajarkan firman Tuhan, tetapi sering membicarakan apa yang baik dan buruk menurut pengertian dan pengalaman mereka sendiri, kita harus mau menguji apa yang disampaikan mereka bersama dengan saudara-saudara seiman yang lain. Kita harus sadar bahwa dengan kekuatan sendiri tidaklah mudah bagi kita untuk membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar. Karena itu kita harus mau untuk saling mendoakan, menguatkan dan mengingatkan agar kita bisa menjauhi guru-guru palsu yang ada di sekitar kita.

“Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.” 2 Korintus 11: 13

Jangan biarkan budaya mengalahkan iman

“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3: 26 – 28

Ada berapa jenis denominasi gereja di Australia? Jawabnya: ada banyak – mungkin sekitar 90. Berbagai denominasi itu dapat digolongkan dalam beberapa kelompok besar: Anglican, Catholic, Orthodox, Reformed, Presbyterian, Protestant, Pentecostal dan lain-lain. Banyaknya denominasi itu muncul sehubungan dengan adanya perbedaan latar belakang, budaya, bahasa, dan tentu saja teologi. Bagi sebagian orang, adanya berbagai ragam denominasi dipandang sebagai suatu yang lumrah dan sehat, karena semuanya merupakan bagian tubuh Kristus. Walaupun demikian, sebagian lagi memandang semua itu sebagai suatu kelemahan gereja Kristen yang nampaknya terpecah-belah.

Ada banyak denominasi yang berlatar belakang kebudayaan atau bahasa, misalnya: Antiochan Orthodox Church; Bulgarian Orthodox, Coptic Orthodox,  Free Serbian Orthodox, Greek Orthodox, Macedonian Orthodox, Romanian Orthodox, Russian Orthodox, Syrian Orthodox, Ukrianian Orthodox, Apostolic Catholic Assyrian Church of the East dan lain-lain. Seperti di Indonesia, denominasi baru sering muncul karena adanya gereja yang tidak dapat bergabung dengan denominasi yang ada. Hanya saja, hal membuka gereja dan membentuk denominasi di Australia tidaklah sesulit di Indonesia. Karena adanya kebebasan beragama (religious freedom), setiap orang boleh saja mempunyai kepercayaan apa saja asal saja tidak mengganggu ketertiban masyarakat atau melanggar hukum.

Kebebasan memang sesuatu yang didambakan manusia dan karena itu sering dipakai manusia untuk memilih apa saja yang disukainya. Dalam hal iman, seringkali orang Kristen memakai kebebasannya untuk memilih cara berbakti, cara menyanyi, ataupun jenis bahasa untuk dipakai dalam gereja. Semua itu tentunya terkait pada latar belakang kebudayaan masing-masing. Mereka yang berasal dari Yunani mungkin lebih cocok untuk ke gereja yang memakai cara berbakti dan bahasa Yunani. Begitu pula, beberapa gereja yang berbahasa Indonesia yang ada  di Australia biasanya di kunjungi oleh orang Indonesia. Walaupun demikian gereja yang benar adalah gereja yang mementingkan kebenaran firman Tuhan, bukan gereja yang hanya mencocoki selera atau kebudayaan orang tertentu. Kebudayaan adalah penting tetapi tidak boleh mengubah atau dipakai untuk menerapkan firman Tuhan.

Sayang sekali, dibeberapa negara ada tendensi bahwa kebudayaan tertentu adalah lebih baik, superior, dari kebudayaan lain dalam hal memimpin orang agar menjadi Kristen sejati. Oleh karena itu ada orang Kristen yang mempelajari kebudayaan bangsa-bangsa lain dan bahkan menjalani kebiasaan bangsa-bangsa itu dengan harapan bahwa mereka akan lebih dapat mengerti firman Tuhan. Mereka berpikir bahwa bangsa-bangsa tertentu adalah bangsa yang istimewa karena adanya hubungan sejarah bangsa itu dengan apa yang ada dalam Alkitab. Dengan demikian, mereka mengharapkan untuk bisa lebih “rohani” jika mereka menjalankan adat istiadat bangsa lain dan menggunakan bahasa -bahasa tertentu untuk berbakti. Mereka tidak sadar bahwa Yesus sudah datang untuk melepaskan manusia dari belenggu adat-istiadat dan hukum yang dibuat manusia, agar bisa memusatkan diri kepada kebenaran firman Tuhan.

Ayat di atas menjelaskan bahwa dalam Yesus, kita adalah anak-anak Allah karena kita semua yang dibaptis dalam Kristus, telah bersatu dengan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kita semua adalah sederajat dan satu di dalam Kristus Yesus. Dengan demikian, setiap orang percaya harus menempatkan firman Tuhan di atas perbedaan yang ada di antara manusia. Firman Tuhan yang universal dan sudah tercetak dalam berbagai bahasa, tidak boleh dipengaruhi oleh latar belakang dan kebudayaan manusia. Biarlah kita boleh dikuatkan melalui kasih karunia Kristus dan bukannya melalui berbagai pengajaran manusia.

“Janganlah kamu disesatkan oleh berbagai-bagai ajaran asing. Sebab yang baik ialah, bahwa hati kamu diperkuat dengan kasih karunia dan bukan dengan pelbagai makanan yang tidak memberi faedah kepada mereka yang menuruti aturan-aturan makanan macam itu.” Ibrani 13: 9

 

 

Kemabukan menjauhkan kita dari Tuhan

“Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam.” 1 Tesalonika 5: 6 – 7

Apakah anda penggemar acara TV? Acara apakah yang paling anda sukai? Acara musik, berita, olahraga atau sinetron? Di Australia, makin banyak orang keranjingan menonton acara kuliner, yaitu acara memasak. Malahan ada TV Channel yang hanya berisi acara masak-memasak dari seluruh penjuru dunia sepanjang hari. Mengapa orang bisa keranjingan acara semacam ini? Ya, memang setiap orang tentu mempunyai kegemaran yang berbeda. Orang memang bisa menggemari acara apa saja, terutama yang ada di cable TV atau TV langganan. Saking banyaknya acara di TV langganan ini, ada orang-orang yang kecanduan menonton, yang menghabiskan waktu di depan TV untuk sekedar melihat acara apa saja yang ada, tanpa menonton sebuah acara dari awal hingga akhir. Aneh bukan? Tetapi itulah namanya kecanduan, dan orang bisa kecanduan apa saja.

Dalam ayat di atas, Paulus mengingatkan jemaat di Tesalonika bahwa sebagai pengikut Kristus  mereka jangan gemar “tidur” seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. Kata “tidur” disini tentunya dihubungkan dengan keadaan dimana orang tidak sadar akan keadaan di sekelilingnya: mereka tidak menyadari adanya bahaya, kekeliruan dan dosa. Jika orang lain terbuai oleh apa yang ditawarkan dunia dan kemudian tertidur atau mabuk  dalam kegelapan, orang Kristen seharusnya hidup dalam kebenaran, awas akan keadaan di sekitarnya dan selalu menghindari kejahatan dan dosa.

Sungguh menarik bahwa kata “tidur” seolah diidentikkan dengan kata “mabuk”. Padahal kata mabuk dalam Alkitab umumnya dihubungkan dengan kemabukan yang disebabkan oleh minuman keras (Efesus 5: 18). Tetapi memang benar bahwa baik tidur maupun mabuk umumnya terjadi pada waktu malam. Jika orang bisa kecanduan minuman keras dan menjadi pemabuk, orang juga bisa kecanduan untuk hidup tanpa kesadaran akan adanya Tuhan. Manusia memang bisa kecanduan hidup bebas tanpa kesadaran akan firman Tuhan dan dengan demikian hanya menyukai apa yang dikehendakinya.

Kecanduan atau kemabukan manusia dalam menikmati apa yang terlihat menarik bukan saja dalam hal  keranjingan menonton TV,  kegandrungan bermain ponsel, mengejar kekayaan, kenikmatan seksual, menikmati makan-minum ataupun pesta-pora, tetapi juga dalam hal-hal lain yang kelihatannya baik. Manusia bisa saja mabuk bekerja, mabuk melayani, dan bahkan mabuk ke gereja. Mereka yang mabuk, seperti ayat diatas, adalah orang orang yang kehilangan kesadaran akan apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup mereka. Mereka tidak sadar bahwa hidup mereka sudah dikuasai oleh berbagai jenis kegiatan yang mungkin saja terlihat baik, tetapi sebenarnya tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan dan kesadaran akan firmanNya. Mereka juga seperti orang-orang yang tertidur pulas di tengah malam, yang tidak lagi  tertarik untuk bangun dan melihat sinar matahari kebenaran Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai pengikut Kristus kita adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang yang hidup dalam kegelapan. Sebab itu, baiklah kita jangan tidur atau mabuk seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebagai pengikut Kristus, baiklah kita selalu mau menyatakan iman dan kasih kita kepada Tuhan dan sesama, dan berpegang kepada pengharapan dan keselamatan dalam Kristus (1 Tesalonika 5: 5- 8).

“Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.” 1 Tesalonika 5: 11

Berdoa dengan roh dan pikiran

“Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” 1 Korintus 14: 15

Di Australia hampir setiap orang mempunyai kendaraan bermotor karena pada umumnya orang memerlukan kendaraan pribadi untuk pergi dari satu ke lain tempat. Berbeda dari Indonesia, kebanyakan pemilik mobil harus bisa menyetir mobilnya sendiri karena gaji supir yang terlalu tinggi. Menurut statistik, setiap empat orang di Australia memiliki tiga mobil, dengan kata lain setiap orang memiliki 0,75 mobil. Dapatlah dimengerti bahwa di kota-kota besar seperti Sydney, Melbourne dan Brisbane, jalan-jalan utama selalu penuh dengan mobil pada jam-jam sibuk (rush hours). Ini berbeda dengan keadaan di jalan bebas (freeway) di luar kota yang umumnya cukup lebar dan lancar.

Sebagai pengemudi mobil, saya dulu sering bepergian ke luar kota menempuh jarak ratusan kilometer dalam sehari. Jarak terpanjang yang pernah saya tempuh dalam waktu 9 jam lebih adalah dari Sydney ke Melbourne, yaitu sekitar 880 km. Menempuh jarak sepanjang itu seorang diri, saya harus bertahan menghadapi rasa bosan dan kantuk. Jalan yang panjang, lurus dan sepi memang bisa membuat pengemudi kehilangan konsentrasi. Mengemudi mobil jarak jauh memang seringkali membuat otak beristirahat dan pikiran melantur kemana-mana. Karena tidak ada yang perlu dipikirkan, pengemudi mobil seolah menjadi sebuah robot. Ini tentu saja bisa menimbulkan situasi yang membahayakan dirinya atau orang lain.

Ayat di atas adalah ayat yang cukup dikenal di lingkungan gereja, ayat yang mengingatkan orang Kristen untuk memakai baik roh maupun akal  budi dalam berdoa dan memuji Tuhan. Memang dalam keadaan tertentu, suasana bisa membawa mereka yang berdoa dan bernyanyi untuk melakukan hal itu seperti otomatis saja, alias tanpa perlu berpikir. Lebih dari itu ada orang-orang yang sengaja mencari suasana dan kesempatan untuk mengistirahatkan pikirannya dan berusaha bersekutu dengan Tuhan dalam roh saja. Dengan demikian mereka yang terlibat tidak akan mengerti apa yang terjadi pada dirinya atau pada orang lain. Karena pikiran yang kosong atau dikosongkan, hal-hal sedemikian tentu bisa menimbulkan situasi yang kurang baik bagi diri mereka atau orang lain.

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kita harus berdoa tanpa memakai pikiran kita. Ajaran yang menganjurkan orang untuk menyepi dan mengosongkan pikiran dalam bersekutu dengan Tuhan bukanlah  berdasarkan firman Tuhan, tetapi berdasarkan pengalaman pribadi orang-orang tertentu dan dengan demikian bersifat empiris saja. Selain itu, berbagai kepercayaan Timur yang berbau mistik juga sering mendorong orang untuk menyepi, mencari tempat-tempat tertentu yang dipercaya sebagai tempat yang sering dikunjungi Tuhan. Lebih dari itu banyak juga aliran gereja baru yang sekarang ini menganjurkan jemaatnya untuk berdoa secara hening (contemplative prayer), dengan mendengarkan lagu-lagu tertentu atau dengan mengucapkan kata-kata tertentu secara terus menerus. Praktik-praktik semacam itu jelas berusaha memisahkan roh dan pikiran.

Baikkah jika kita berdoa dan bersekutu dengan Tuhan dan sesama kita dengan roh saja, sambil mematikan pikiran atau akal budi kita? Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus dengan jelas menolak hal itu. Manusia yang diciptakan menurut gambar Allah adalah manusia yang lengkap dengan roh dan akal budi. Manusia yang memang berupa rohani dan jasmani tidak seharusnya menghentikan pikirannya untuk bisa mendengarkan suara Tuhan. Pada saat kita mengistirahatkan pikiran kita, kita justru kehilangan kesadaran bahwa yang seharusnya kita hadapi adalah Tuhan yang mahabesar, mahakasih dan mahasuci. Tidaklah mengherankan, dalam suasana mistik seperti itu manusia sulit untuk menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Karena itu, sering terjadi bahwa dalam keadaan sedemikian orang justru bisa tertipu oleh suara-suara mistik yang bukan dari Tuhan.

Hari ini firman Tuhan secara gamblang menyatakan bahwa dalam membina hubungan dengan Tuhan kita, kita haruslah memakai roh dan akal budi kita. Tanpa melalui roh, akal budi kita tidak dapat merasakan kehadiranNya dalam hidup dan hati kita. Tanpa memakai akal budi atau pikiran, kita akan mudah terjerumus dalam tindakan-tindakan yang justru bisa menjauhkan kita dari kebenaran Tuhan. Biarlah kita selalu mau berdoa meminta penyertaanNya agar kita bisa memakai roh dan pikiran kita dengan sebaik-baiknya untuk bisa memuliakan Tuhan dalam menjalani hidup kita hari demi hari.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Berbahagialah bangsa yang percaya kepada Tuhan

“TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilihNya menjadi milikNya sendiri!” Mazmur 33: 10 – 12

Tanggal 1 September adalah permulaan musim semi di Australia. Sekalipun udara masih cukup dingin di Toowoomba, matahari terasa mulai bersinar cukup panjang. Permulaan mesim semi biasanya disambut dengan rasa gembira di negara yang mengalami empat musim, karena pohon-pohon yang mulai tumbuh daunnya sesudah musim dingin berakhir. Dengan demikian, musim semi biasanya adalah musim yang dihubungkan dengan kegembiraan hidup. Walaupun begitu, pikiran saya justru melayang jauh ke benua Eropa dimana musim rontok baru saja dimulai. Bayangan bahwa daun-daun mulai berjatuhan memang bisa membuat hati sedih.

Perang dunia kedua dimulai di Eropa pada tanggal 1 September 1939 tatkala tentara Jerman menyerbu memasuki Polandia. Ribuan tentara dan penduduk Polandia menjadi korban keganasan tentara Jerman pada waktu itu. Inggris dan Perancis kemudian memaklumkan perang kepada Jerman pada tanggal 3 September, dan beberapa negara lain kemudian ikut menyusul. Perang dunia kedua menyebabkan sekitar 6 juta penduduk Polandia menemui ajalnya sampai akhir perang  di tahun 1945. Dengan berakhirnya perang dunia kedua, Amerika dan Rusia menjadi negara adikuasa dan Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) serta negara Israel kemudian terbentuk.  Bagaimana perang yang terbesar di dunia itu bisa terjadi dan kemudian berakhir dengan hancurnya Hitler dan sekutunya, adalah sesuatu yang sulit untuk dibayangkan. Lebih sulit lagi untuk memikirkan apa yang Tuhan kerjakan selama berlangsungnya perang itu.

Adakah peranan Tuhan dalam hidup manusia dan apa yang dilakukanNya dalam menghadapi segala rencana bangsa-bangsa? Ayat di atas menulis bahwa  Tuhan menggagalkan rencana bangsa-bangsa, tetapi rencanaNya tetap selama-lamanya; rancangan hatiNya turun-temurun. Jelaslah bahwa Tuhan mempunyai rencana tertentu untuk seisi bumi dan jika ada bangsa-bangsa yang berusaha untuk merencanakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendakNya, Tuhan akan menghancurkan rencana-rencana itu. Bagi Tuhan, apa yang tidak sesuai dengan rencanaNya adalah sesuatu yang jahat dan buruk, dan Ia tidak akan memperbolehkan itu terjadi. Sebaliknya, apa yang dirancang Tuhan pasti terjadi sekalipun manusia berusaha menggagalkannya.

Benarkah bahwa Tuhan tetap bekerja mengatur semua orang dan semua bangsa di dunia sampai saat ini? Melihat keadaan dunia sekarang yang sekalipun tidak mengalami perang tetap saja kacau-balau, mungkin ada orang yang menyangka bahwa Tuhan sedang tidur, dan bahkan ada orang yang percaya bahwa Tuhan sudah mati. Mungkinkah manusia sekarang bisa memakai kehendak bebas mereka tanpa persetujuan Tuhan? Bukankah manusia di berbagai negara sekarang bebas untuk menikmati hidup yang bebas dalam hal memakai narkoba, hidup pesta-pora, melakukan aborsi ataupun euthanasia, dan memilih teman hidup apapun? Bukankah negara dan bangsa tidak lagi bisa melarang rakyat melakukan hal yang bisa membuat Tuhan marah?

Ayat di atas menegaskan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang “pilih kasih”. Sebagai Tuhan pemilik alam semesta, tidak ada yang bisa melarangNya untuk lebih mengasihi negara, bangsa dan orang tertentu. Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, karena mereka yang dipilihNya menjadi milikNya sendiri. Mereka yang percaya kepadaNya akan diselamatkan, dan siapa pun yang hidup sesuai dengan firmanNya adalah orang-orang yang berbahagia.

Apa yang bisa kita pelajari dari perang dunia ke dua adalah  adanya bangsa-bangsa yang mengakui adanya Tuhan, tetapi tidak mau menaati perintahNya. Pada zaman ini, keadaan tetap saja seperti itu,  banyak bangsa mengaku bahwa Tuhan itu ada tetapi dalam perbuatan sehari-hari mereka tidak menunjukkan iman kepada Tuhan yang sudah mengirim AnakNya untuk menebus dosa manusia. Hanya melalui darah Kristus, manusia bisa ditebus dari belenggu dosa dan menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Hanya mereka yang menjadi milikNya akan menjadi milik Yesus dan menerima kebahagiaan kekal sebagai karunia Tuhan.

“Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.” Yohanes 17: 9 – 10

Siapakah Bapamu dan siapa pula Pemimpinmu?

“Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.” Matius 23: 9 – 10

Hari ini adalah Father’s day atau Hari Ayah di Australia. Pada hari ini, dalam keluarga yang merayakannya, para ayah mendapatkan perlakuan istimewa. Anak yang sudah dewasa mungkin mengajak ayahnya untuk menikmati acara kekeluargaan tertentu. Anak-anak yang masih kecil mungkin membuat kartu ucapan selamat Hari Ayah dan kartu ucapan terima kasih kepada ayah-ayah mereka.

Ucapan terima kasih kepada ayah yang menyayangi anak-anaknya sudah tentu adalah sepantasnya. Seorang ayah adalah figur yang selayaknya dicintai dan dihormati oleh anak-anaknya karena ayah yang baik adalah bapa yang melindungi dan memimpin anak-anaknya. Walaupun demikian Yesus dalam ayat diatas melarang murid-muridNya memanggil siapa pun sebagai bapa karena hanya Tuhan di surga yang pantas disebut Bapa. Mengapa demikian?

Bapa yang disebutkan dalam Matius 23: 9 adalah Abba dalam bahasa Ibrani. Dalam konteksnya, Abba adalah oknum yang mempunyai kuasa, otoritas dan kontrol atas hidup manusia. Abba jugalah yang bisa memberkati manusia yang menurut perintahNya dan menghukum mereka yang durjana. Oleh karena itu, panggilan Abba dalam arti yang sepenuhnya hanya patut diberikan kepada Tuhan.

Jika panggilan Abba yang dilandasi dengan penyerahan total adalah hanya untuk Allah, sudah tentu Ia menuntut ketaatan dari umatNya yang lebih besar dari ketaatan yang diberikan manusia kepada ayah mereka. Sayang sekali bahwa tidak semua orang menyadari kemahabesaran Tuhan. Sebab sekalipun banyak orang mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya (Roma 1: 21).

Bagaimana pula dengan ketaatan kepada para pemimpin masyarakat, seperti pemimpin, sekolah, perusahaan, gereja, partai dan negara? Matius 23: 10 menyatakan bahwa kita hanya mempunyai satu Pemimpin yang sejati, yaitu Yesus Kristus. Pemimpin kita adalah Oknum Ilahi yang sudah berkurban untuk menebus dosa kita dengan darahNya.

Dalam hal ini, Filipi 2: 6 – 11 menyatakan bahwa Yesus yang adalah Allah, telah mengosongkan diriNya sendiri dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan itu, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi. dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Jelaslah bahwa Yesus Kristus adalah Pemimpin sejati umat Kristen.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan siapa yang harus kita muliakan dalam hidup ini. Jika manusia cenderung untuk mengagumi, menghormati, menaati dan mengasihi orang-orang yang mereka pandang luar biasa, Tuhan yang mahabesar, mahakuasa dan mahakasih adalah jauh lebih mulia dari semuanya. Kepada Allah saja kita patut memanggil Abba dan kepada AnakNya yang tunggal kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya untuk dipimpinNya.

Adakah alasan untuk sombong?

“Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” 1 Korintus 4: 7

Pernahkah anda memikirkan mengapa orang bisa menjadi sombong? Anda mungkin berpendapat bahwa ada banyak hal yang bisa membuat orang pongah: harta, kedudukan, kepandaian, kemampuan, kerupawanan dan sebagainya. Selain itu, hidup kerohanian dan keagamaan pun bisa membuat orang jadi congkak. Jika demikian, apakah yang paling sering membuat orang menjadi sombong?

Sekalipun tidak mudah menjawab pertanyaan ini, agaknya sebuah peribahasa lama mungkin bisa memberi jawabannya. “Seperti katak di bawah tempurung” adalah peribahasa yang menunjuk kepada seseorang yang memiliki pengetahuan atau wawasan yang sempit. Katak yang hidup di bawah tempurung tidak bisa melihat dunia yang ada di sekitarnya. Ia merasa bahwa ia sudah tahu segala sesuatu, sekalipun apa yang bisa dilihatnya hanya apa yang ada di bawah tempurung. Orang yang sombong seringkali tidak menyadari bahwa ada yang jauh lebih besar dari apa yang bisa dilihatnya.

Ayat diatas adalah teguran rasul Paulus kepada sebagian jemaat di Korintus yang sombong. Ia bertanya mengapa mereka begitu bangga dan berlagak seperti orang penting dan orang kaya. Paulus menegur mereka karena semua itu hanya pemberian Tuhan. Paulus bertanya mengapa mereka memegahkan diri, seolah-olah mendapatkan semua itu dengan jerih payah sendiri. Padahal, jika manusia dapat hidup di bumi dan kemudian di surga, itu karena Tuhan yang sudah memberikan karuniaNya dengan cuma-cuma.

Mereka yang tidak bisa melihat kemurahan Tuhan dalam hidupnya adalah orang-orang yang terbatas pengertiannya. Mereka hanya hidup dalam kecupatannya, dan tidak sadar bahwa segala sesuatu ada karena Tuhan. Mereka tidak bisa merasakan adanya Tuhan yang mahabesar, karena mereka hanya bisa melihat apa yang ada dalam hidupnya yang dipengaruhi dosa. Kegelapan yang ada membuat mereka hanya bisa melihat apa yang bisa dilihat dan dinikmati .

Pagi ini, jika kita bangun dan merasa berbahagia karena adanya keluarga, rumah, kendaraan, makanan, kesehatan, pekerjaan, kedudukan dan segala yang baik, kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan yang mahakasih ada di balik semua itu. Kita tidak boleh buta akan kasih dan berkatNya atau merasa bangga seakan semua itu terjadi karena kehebatan kita sendiri. Jika kita bangga, itu adalah karena kita mempunyai Tuhan yang sudah memberikan segala yang baik dalam hidup kita!

Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” 1 Korintus 1: 31