Dari mana datangnya kejahatan?

“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.” Roma 1: 28 – 29

Dua pembunuhan masal dalam seminggu di Amerika bukanlah berita yang bisa diabaikan. Berita sedih seperti ini ingin kita hindari, tetapi rupanya sudah menjadi hal yang biasa muncul di media dari negara manapun. Mengapa bisa timbul rasa kebencian yang luar biasa yang membuat orang tega untuk mencelakai sesama manusia yang tidak mereka kenal atau bersalah terhadap mereka? Mengapa ada orang-orang yang mendapat kepuasan dengan mencelakakan orang lain?

Hal-hal ini memang patut kita renungkan, karena dunia ini kelihatannya bertambah jahat. Memang secara keseluruhan dunia ini makin sadar akan nilai-nilai kemanusiaan. Tetapi pada lain pihak, manusia di zaman ini makin terbiasa untuk merasa bahwa hidup mereka ada di tangan mereka sendiri. Tuhan jika memang ada, bukanlah Oknum yang harus disegani dan dihormati.

Manusia dimana saja memang selalu ingin untuk merdeka dalam hidup. Jika dulu orang mendambakan kemerdekaan dari kungkungan orang lain dan dari jajahan negara lain, sekarang orang yang hidup di banyak negara maju dan merdeka, dengan sengaja menginginkan kemerdekaan dari Tuhan dan hukumNya.

Dengan memikirkan adanya Tuhan, manusia mungkin merasa terhambat untuk bisa hidup sebagaimana yang mereka maui. Karena itu, banyak orang yang sengaja melupakan adanya Tuhan. Dalam banyak keluarga, orangtua tidak lagi mendidik anak-anak mereka hal takut akan Tuhan. Jika Tuhan bisa dilupakan, anak-anak mereka akan lebih bisa mencapai apa saja yang mereka cita-citakan. Benarkah begitu?

Ayat di atas menyatakan bahwa jika manusia merasa tidak perlu mengakui Allah, maka Allah tidak mau mengakui mereka sebagai umatNya. Allah tidak akan membimbing mereka yang tidak mau percaya kepadaNya. Terhadap mereka yang dengan sengaja mengabaikan Dia, Tuhan akan menolak mereka dan membiarkan mereka jatuh kedalam berbagai dosa yang membawa ke arah kehancuran hidup mereka.

Kembali ke soal kejahatan manusia yang makin marak, bagaimanakah kita harus mengambil sikap dalam situasi seperti ini? Sebagai orang Kristen kita harus tetap berani untuk meyakinkan orang lain bahwa takut akan Tuhan adalah kunci perdamaian antar umat manusia dan antara manusia dan Tuhannya. Takut akan Tuhan haruslah ditanamkan pada setiap insan sejak kecil dan dipelihara sampai akhir hayat.

“Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang” 2 Korintus 5: 12

Bersatu dalam Tuhan

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 18: 25

Akhir pekan ini saya mengikuti sebuah retret gereja yang diadakan di sebuah tempat camping di gunung Tamborine, Queensland. Seperti yang kita ketahui, retret (retreat)  pada umumnya diartikan sebagai gagasan untuk sementara waktu menjauhkan diri kita dari kegiatan sehari-hari.

Retret dapat berarti sebuah pengalaman mengasingkan diri bersama dengan sebuah kelompok/komunitas orang seiman. Dalam arti luas, ini bisa berupa pertemuan doa, kebaktian kebangunan rohani atau kebaktian gereja. Kegiatan semacam ini dipandang perlu untuk membawa pembaharuan atau penyegaran hidup rohani. Walaupun demikian, tidak semua orang Kristen menyadari perlunya retret. Lebih parah lagi, ada orang Kristen yang tidak sadar akan pentingnya untuk ke gereja setiap hari Minggu.

Banyak orang Kristen mengeluh bahwa di zaman ini, sangat sulit untuk mempraktikkan cara hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Jika di negara-negara tertentu orang Kristen tidak bebas untuk beragama, di tempat lain orang Kristen justru bisa mengalami berbagai masalah karena adanya kebebasan beragama.

Dengan kesibukan manusia dan kebebasan manusia untuk memilih kepercayaannya, datanglah kebebasan manusia untuk tidak mengamalkan imannya. Karena itu di negara yang maju, orang kurang merasakan keharusan untuk bersekutu dalam Tuhan. Dengan kata lain, kebebasan beragama adalah identik dengan kebebasan untuk tidak beragama. Dan di antara orang yang mengaku Kristen, mungkin ada yang yakin bahwa mereka tidak perlu untuk pergi ke gereja atau ke persekutuan orang seiman yang lain.

Ayat di atas ditulis oleh rasul Paulus yang mengingatkan kita untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, seperti retret atau kebaktian gereja. Memang banyak orang sudah terbiasa untuk menggunakan segala kesempatan untuk mencari kegembiraan duniawi. Apalagi karena mereka sehari-harinya sudah sibuk bekerja mencari nafkah. Walaupun demikian, karena kita sadar bahwa kedatangan Tuhan bisa terjadi sewaktu-waktu, kita harus selalu berjaga-jaga dan mau saling menasihati dalam hal menumbuhkan kerohanian kita, dan semakin giat untuk melakukan apa yang baik untuk membina hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, biarlah kita makin bersemangat dalam mengikuti persekutuan orang percaya dalam bentuk apapun.

Tuhan tidaklah jauh dari kita

“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?” Mazmur 139: 7

Sudah lebih dua minggu polisi di Canada mencari dua anak muda yang diduga sudah menembak mati tiga orang di daerah pegunungan di British Columbia yang lebat hutannya. Tragisnya, salah satu korban adalah putra dari petinggi kepolisian Australia. Tentunya sang ayah merasa sangat frustrasi karena sekalipun ia adalah polisi yang biasa menangani kasus berat di Australia, kali ini ia harus menjadi penonton saja karena kasusnya terjadi di negara lain. Bagaimana kedua penjahat itu bisa menembus tempat-tempat pemeriksaan polisi (checkpoints) yang ada dimana-mana dan menyembunyikan diri sampai sekarang adalah sebuah tanda tanya besar untuk polisi Canada.

Mereka yang melanggar hukum biasanya melakukan kejahatan secara tersembunyi.  Jika apa yang mereka lakukan diketahui polisi mereka akan melarikan diri supaya tidak tertangkap. Dalam kenyataannya, polisi tidak selalu bisa menyelesaikan kasus kejahatan karena adanya hal-hal yang tidak dapat ditemukan, seperti bukti kejahatan, saksi kejahatan dan pelaku kejahatan itu sendiri. Selang beberapa tahun, polisi mungkin saja terpaksa menutup kasus itu karena tidak adanya kemungkinan untuk mencari jawabannya. Kasus itu kemudian menjadi cold case. Kasus sulit yang belum terselesaikan dan yang terpaksa dikesampingkan untuk sementara waktu.

Banyak kasus cold case yang akhirnya tidak terselesaikan. Orang kemudian melupakan kasus-kasus itu. Setelah bertahun-tahun, ada kemungkinan bahwa pelaku kejahatan itu sendiri sudah meninggal dunia. Mereka tidak pernah mendapat hukuman atas kejahatan yang pernah dilakukan dan dengan demikian tidak ada seorang pun yang tahu pasti siapa dan dimana pelaku kejahatan itu. Kecuali Tuhan.

Tuhan yang mahatahu tentunya bisa melihat siapa yang berbuat kejahatan. Ia juga tahu apa yang terjadi. Tuhan sering dikatakan orang sebagai Tuhan yang mengawasi manusia dari jauh. God is watching us from a distance, begitulah syair sebuah lagu yang terkenal. Memang, diantara mereka yang percaya adanya Tuhan, sebagian merasa bahwa Tuhan itu jauh dan tidak melibatkan diri dalam kehidupan manusia. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang tidak merasa takut jika mereka melakukan apa yang jahat. Tidaklah aneh jika ada orang Kristen yang mengabaikan Tuhan dalam hidup dan tingkah lakunya karena Tuhan itu jauh dan tidak terlihat.

Ayat di atas ditulis oleh Daud yang menyadari bahwa Tuhan tidaklah “nun jauh di sana”. Tuhan ada di mana saja dan Ia tahu segala apa yang terjadi dan kita lakukan dalam hidup kita. Daud juga menyadari bahwa Roh Tuhan menyertai dia, kemana pun ia pergi.

Seperti Daud, sebagai orang Kristen kita tentunya bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Jika tidak demikian, mungkin kita belum yakin bahwa Tuhan yang mahakasih senantiasa menyertai umatNya. Tuhan tidak saja mengikuti apa yang kita jalani dalam hidup ini, Ia juga tinggal dalam hati kita. Roh Kudus adalah Roh Allah yang mau membimbing kita dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Kita harus sadar bahwa Tuhan yang dekat tidaklah boleh diabaikan. Tuhan tahu apa yang kita lakukan dan Ia tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bagi Tuhan tidaklah ada cold case. Tuhan selalu bisa melihat segala sesuatu, menyelesaikan semua perkara dan menentukan apa yang akan terjadi. Karena itu biarlah kita boleh menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang dekat.

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Mazmur 139: 23 – 24

 

 

Jangan merasa terpaksa

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” 2 Korintus 9: 7

Pernahkah anda didatangi oleh orang yang meminta sumbangan? Di Australia, biasanya tiap tahun ada orang dari gereja tertentu yang berkunjung dari rumah ke rumah untuk mencari sumbangan bagi mereka yang hidup dalam kekurangan. Gereja ini memang terkenal dengan aktivitas sosialnya yang sangat menolong mereka yang tidak mempunyai rumah atau pekerjaan. Selain itu, terkadang ada juga orang yang meminta sumbangan atas nama sebuah rumah sakit atau badan riset penyakit tertentu. Mereka yang dengan senang hati memberi sumbangan biasanya adalah orang yang sadar akan hasil baik yang sudah dicapai oleh badan-badan sosial itu.

Sekalipun menyumbang badan sosial adalah sesuatu yang dipandang baik, banyak orang yang kurang tertarik untuk melakukannya. Bagi mereka, menyumbang adalah kehilangan uang dan itu tidak memberi manfaat apa-apa. Untuk mendorong agar orang mau menyumbang, badan-badan sosial bisa meminta izin khusus pemerintah sehingga para penyumbang bisa memperoleh potongan pajak pendapatan. Dengan demikian, para penyumbang tidak terlalu merasa kehilangan, tetapi sebaliknya memperoleh keuntungan walaupun tidak sebesar jumlah yang disumbangkan.

Berbagai organisasi lain yang bukan badan sosial, juga sering mencari sumbangan untuk maksud-maksud tertentu. Mereka mungkin membuat undian berhadiah atau mengadakan acara-acara tertentu yang dikarciskan. Dengan demikian, orang memberikan sumbangan dengan mengharapkan balasan. Selain itu, ada organisasi-organisasi yang mengharuskan pemakai jasa mereka untuk membayar uang iuran. Orang dengan demikian terpaksa membayar karena itu sudah menjadi keharusan.

Ayat diatas sering dibacakan di gereja ketika kantung persembahan akan diedarkan. Ayat itu menganjurkan agar setiap jemaat memberikan menurut kerelaan hatinya, tidak dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Ayat ini agaknya menyuruh jemaat untuk memberikan persembahan sebagai pilihan dan dengan sukacita, bukan karena adanya keharusan atau keuntungan.

Bagaimana kita bisa memberi persembahan kepada Tuhan sebagai pilihan dan dengan sukacita? Kita memilih untuk memberi persembahan karena kita ingin menyatakan kasih kita kepadaNya. Kita tahu bahwa Tuhan sudah membuat berbagai kebaikan buat umatNya. Tuhan  sudah lebih dulu mengurbankan AnakNya untuk menebus dosa kita. Tuhan juga sudah membimbing kita tiap hari dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dengan demikian, kita tidak perlu mengharapkan balasan dari Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan akan memakainya untuk berbagai maksud yang baik sesuai dengan rencanaNya. Kita memilih untuk memberi, bukannya karena terpaksa dan bukan juga karena kita ingin mencari keuntungan yang lebih besar.

Tuhan tidak membutuhkan persembahan manusia karena sebagai Tuhan yang mahakaya, Ia jugalah yang sudah memberikan berkatNya kepada umat manusia. Tuhan tidak perlu menawarkan suatu hadiah insentif agar manusia mau mempersembahkan sesuatu kepadaNya. Tuhan tidak juga memaksa umatNya untuk membayar “upeti” karena kita sudah menerima kasihNya. Karena itu, semua persembahan kita haruslah dilandaskan pada rasa terima kasih atas segala yang sudah diberikanNya. Dalam hal ini, persembahan yang paling layak kita berikan adalah hidup kita karena Yesus sudah mati untuk menebusnya.

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Efesus 5: 1 – 2

Apakah anda menanti-nantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya?

“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” Ibrani 9: 27 – 28

Pernahkah anda mendengar nama Hachikō? Hachikō adalah seekor anjing jantan jenis Akita yang dilahirkan pada tahun 1923 di Prefektur Akita, Jepang. Pada tahun 1924, professor Hidesaburō Ueno mengambilnya sebagai binatang peliharaan untuk hidup bersamanya di Shibuya, Tokyo. Setiap hari kerja, Profesor Ueno  naik kereta api dari stasiun Shibuya untuk ke universitas Tokyo dan jika ia pulang, Hachikō  sudah menunggunya di depan stasiun. Kebiasaan ini berlanjut sampai 21 Mei 1925, ketika sang majikan tidak pulang ke rumah. Pada hari itu Profesor Ueno meninggal dunia karena perdarahan otak. Setelah majikannya meninggal, Hachikō terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di tempat yang sama selama 9 tahun, 9 bulan dan 15 hari.

Patung Hachikō di depan Stasiun Shibuya telah menjadi salah satu marka tanah di Shibuya. Hachikō dianggap sebagai contoh anjing yang sangat setia. Tetapi, apakah Hachikō sebenarnya mengerti arti  kesetiaan? Saya kurang tahu. Yang jelas, Hachikō tidak mengerti bahwa majikannya sudah meninggal dunia. Ia menunggu karena berharap bahwa Profesor Ueno akan pulang ke rumah. Ia mencintai majikannya dan sudah terbiasa untuk menunggu dia muncul dari stasiun. Bagi Hachikō tidak ada tugas lain yang lebih penting dari menanti-nantikan kedatangan sang majikan. Suatu kesetiaan dan pengharapan yang mengesankan tetapi tidak ada gunanya. Sampai Hachikō mati, sang majikan tidak pernah muncul kembali.

Bagi kita manusia, pekerjaan menunggu seringkali adalah sesuatu yang membosankan. Apalagi jika kita harus menantikan sesuatu yang belum pasti terjadi, atau belum diketahui kapan akan terjadi. Bagi kita, mempunyai kesetiaan seperti Hachikō mungkin diartikan sebagai kesetiaan yang buta, tanpa makna. Tentunya hanya orang bodoh yang mau menantikan sesuatu yang pasti tidak akan terjadi.

Bagaimana pula dengan menantikan hal kedatangan Kristus untuk kedua kali? Banyak orang Kristen yang menganggap ini sebagai sesuatu yang tidak bisa diterka kapan akan terjadi. Bagaimana Kristus akan muncul lagi juga sulit dibayangkan. Malahan ada yang percaya bahwa semua itu adalah kiasan saja. Karena itu, ada orang Kristen yang sama sekali tidak mau memikirkan pentingnya hal ini. Hidup ini penuh dengan tugas dan kegiatan; menunggu sesuatu yang tidak pasti bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan sekarang, begitu mungkin ujar mereka. Sebaliknya, ada orang Kristen yang seolah selalu menantikan kedatangan Kristus. Kristus bisa muncul sewaktu-waktu dan karena itu mereka selalu sibuk mencari tanda-tanda kedatanganNya. Bagi orang-orang seperti ini, hidup kekristenan adalah seperti hidup Hachikō sepeninggal majikannya. Menanti-nantikan kedatangan Kristus yang kedua kali adalah satu-satunya tugas yang utama.

Ayat di atas menyatakan bahwa  Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia. Majikan kita, tuan kita, Tuhan kita, akan datang lagi guna memberikan kita hadiah keselamatan kekal yang sudah dijanjikanNya. Ini adalah saat yang istimewa yang seharusnya sudah dinanti-nantikan oleh mereka yang benar-benar percaya dan setia kepada Tuhan. Bukti kesetiaan kita adalah keinginan untuk dengan sungguh-sungguh (eagerly) menantikan kedatangan Tuhan Yesus. Mereka yang tidak tertarik untuk menantikan Dia, mungkin mempunyai prioritas lain dalam hidupnya.

Menantikan kedatangan Kristus bukan hanya menunggu, membayangkan dan mengharapkan Kristus untuk datang dengan kemuliaanNya. Menantikan kedatanganNya juga bukan berarti hanya mengharap-harapkan “hadiah” kemuliaan yang akan diberikan kepada umatNya yang setia. Menantikan kedatangan Kristus berarti percaya dengan sungguh-sungguh bahwa Kristus adalah Raja di atas segala raja. Menantikan Dia yang kita kasihi juga menuntut agar kita membagikan kasih kita kepada orang lain. Karena itu, sebelum Ia datang lagi, kita harus bekerja dengan giat untuk memasyhurkan namaNya di antara orang-orang yang belum mengenal Dia. Menunggu sang Raja, kita juga harus mempersiapkan diri dengan menata hidup kita supaya kelihatan tidak bercacat di hadapan Dia.  Menunggu berarti hidup sesuai dengan FirmanNya dan siap untuk menyambutNya kapan saja.

“Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. 1 Timotius 6: 14

Tuhan tidak membuat kita berdosa

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” 1 Yohanes 2: 16

Pada saat ini polisi di Canada sedang sibuk mencari dua orang pemuda yang diduga sudah membunuh tiga orang di daerah terpencil. Kedua pemuda ini dilaporkan sebagai orang yang berbahaya karena selain membawa senjata api, mereka mempunyai latar belakang yang tidak baik. Mengapa kedua pemuda itu menembak ketiga orang yang tidak mempunyai hubungan dengan mereka? Tidak ada seorang pun yang bisa menjawabnya saat ini, selain menduga bahwa mereka menjadi orang buronan karena keinginan mereka sendiri. Mereka mungkin memperoleh kepuasan tersendiri dengan melakukan kejahatan.

Memang sering orang melakukan apa yang jahat, tetapi menyalahkan orang lain, lingkungan atau keadaan. Jarang orang mau mengaku jika berbuat salah, bahwa itu karena pilihan sendiri. Lebih parah lagi, ada orang yang seolah menyalahkan Tuhan jika mereka jatuh kedalam kesulitan. Tuhan yang berkuasa seharusnya bisa menghindarkan mereka dari kesulitan hidup, begitu pikir mereka. Jika Tuhan membiarkan adanya kesulitan hidup, godaan dan hal-hal yang jahat, tentunya manusia tidak dapat sepenuhnya dituntut untuk bertanggung-jawab, demikianlah pendapat sebagian orang. Pada pihak yang lain,  ada yang percaya bahwa apa yang jahat pun dibuat oleh Tuhan untuk menggenapi rencanaNya, tetapi manusialah yang harus tetap bertanggung-jawab untuk kejahatan mereka.

Ayat di atas menjelaskan bahwa semua yang jahat dan ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Tuhan bukanlah Oknum Ilahi yang membuat manusia jatuh kedalam dosa. Sekalipun Tuhan mempunyai rencana-rencana tertentu, Ia tidak perlu memaksa manusia untuk melakukan hal-hal yang tidak disukaiNya.

Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih dan mahasuci, dengan demikian Ia bukanlah sumber kekejian dan dosa. Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan (1 Yohanes 1: 5). Manusialah yang memilih jalan hidup mereka sendiri, dan karena itu harus bertanggung-jawab atas segala dosa yang diperbuatnya. Manusia cenderung melakukan apa yang jahat karena mereka hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa.

Memang dalam kenyataannya, banyak orang ingin bebas untuk melakukan apa saja yang diingininya. Jika kemudian mereka diminta untuk mempertanggung-jawabkan tingkah laku dan cara hidup mereka, segala alasan akan mereka kemukakan agar apa yang sudah diperbuat bisa diterima sebagai sesuatu yang lumrah, yang bisa terjadi pada semua orang.

Sebagai manusia yang lemah, kita pun sering melakukan hal yang sama, melupakan apa yang buruk dan menganggap semua itu bisa diampuni Tuhan. Kita mungkin melatih diri  untuk menjadi kebal atas apa yang biasa dilakukan dalam masyarakat, dan tidak mudah merasa bersalah (guilty) akan apa yang jelas-jelas melanggar perintah Tuhan. Jika semua orang melakukannya, tentunya itu juga OK untuk kita.

Firman Tuhan berkata bahwa apa yang jahat bukanlah berasal dari Tuhan. Tuhan justru membenci apa yang jahat, apa yang kotor, dan apa yang culas. Karena itu, Ia bukanlah penyebab timbulnya masalah dalam hidup kita. Masalah yang kita hadapi seringkali adalah karena kita kehilangan kemampuan untuk membedakan apa yang baik dari apa yang buruk – karena kita hidup jauh dari Tuhan. Sebaliknya, jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, darah Yesus bisa memberi kita kesempatan untuk menjalani hidup baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Antikristus di zaman ini

“Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.” 1 Yohanes 2: 22

Kata antikristus atau antichrist sering dipakai untuk menyebutkan suatu sosok atau oknum yang menjadi musuh besar Kristus pada akhir zaman. Oknum ini dan anak buahnya akan menyerang orang-orang percaya dengan tujuan untuk menjadi penguasa dunia. Siapakah yang akan menjadi tokoh antikristus ini? Di sepanjang sejarah, orang berusaha menerka-nerka dan selama ini berbagai ramalan sudah terbukti salah.

Orang memang mudah terpaku akan sosok antikristus ini. Bahkan di berbagai gereja, topik antikristus ini sering dibahas dan dijadikan bahan penarik jemaat. Mirip ramalan Jayabaya dan Nostradamus, banyak orang berusaha membuat ramalan tentang akhir zaman dan antikristus, biasanya dengan menafsirkan kejadian-kejadian yang muncul, yang dipandang luar biasa.

Ayat di atas, yang ditulis oleh rasul Yohanes juga menyebutkan hal antikristus. Tetapi ia bukannya meramalkan siapa yang akan datang sebagai musuh Kristus di masa mendatang. Rasul Yohanes menyebutkan adanya antikristus yang ada di sekitarnya. Antikristus adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, yang menyangkal baik Allah Bapa maupun Anak, yang tidak mengakui Yesus sebagai Kristus atau Mesias.

Bagi kita umat Kristen, tentu saja kita mengenal dan bahkan mengakui bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Allah. Jika ada antikristus di sekitar kita, itu tentunya orang-orang yang belum mengenal Allah Bapa dan PutraNya, begitu tentunya pendapat kita. Tetapi, rasul Yohanes menyatakan bahwa barangsiapa mengenal dan mengasihi Yesus, ia tentu menjalankan firmanNya. Sebaliknya, antikristus adalah pendusta karena apa yang dikatakan berbeda dengan apa yang dilakukan.

“Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” 1 Yohanes 2: 4

Pada hari Minggu ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita mengaku sebagai umat percaya dan secara rutin pergi ke gereja, tetapi hidup dan tingkah laku sehari-hari kita tidak mencerminkan apa yang di firmankan Tuhan, semua itu berarti kebohongan saja. Menjadi orang Kristen pada hari Minggu tetapi hidup seperti bukan orang Kristen di luar gereja adalah suatu kepalsuan yang menjadi ciri antikristus.

Benarkah kita percaya kepada Yesus dan mengasihiNya? Jika benar, tentunya kita akan memegang perintahNya, setiap hari dan setiap saat, dimana saja dan kapan saja. Hanya dengan menjadi orang Kristen yang tulus, kita akan menerima berkat dan penyertaan Tuhan.

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yohanes 14: 21

Bimbinglah aku, Tuhan!

“Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.” Mazmur 119: 10

Bacaan: Mazmur 119

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, konsep ketuhanan adalah sesuatu yang tidak masuk di akal atau tidak ada gunanya. Bagi mereka seluruh alam semesta dan semua benda, flora, fauna dan manusia mempunyai fungsi dan kurun hidup yang tertentu, tetapi semua itu ada dan muncul dengan sendirinya tanpa memerlukan adanya Tuhan.

Memang tidak mudah bagi manusia untuk menyadari adanya Tuhan, dan bagi mereka yang percaya sekalipun, tidaklah mudah untuk mengerti apa yang dikehendakiNya. Oleh sebab itu, orang yang kacau hidupnya, mungkin membayangkan bahwa ia akan lebih mudah untuk taat jika Tuhan membuatnya tidak dapat menyimpang dari hukumNya.

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan ada dan memegang kemudi kehidupan seisi alam semesta. Tetapi, Ia memberikan kesempatan, mandat dan kemampuan kepada manusia untuk memilih untuk menjalankan perintah dan hukumNya. Manusia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dilakukannya dalam keadaan apapun.

Penulis Mazmur menyadari bahwa ia tidak dapat mempersalahkan Tuhan atau keadaan jika ia gagal untuk melaksanakan perintah-perintahNya. Tuhan sudah memberikan segala perintah, ketetapan dan hukumNya, karena itu ia tidak dapat menghindar dari kewajiban untuk berusaha dengan sepenuh hati untuk melaksanakan semuanya. Walaupun demikian, ia juga tahu bahwa sebagai manusia ia penuh kelemahan dan tidak akan sanggup untuk menaati perintah Tuhan.

Seperti pemazmur, kita seharusnya sadar bahwa menaati hukum Tuhan adalah keharusan setiap orang percaya dalam keadaan apapun. Ini tidaklah mudah karena dengan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu untuk menjadi orang-orang yang taat. Dengan demikian, kita hanya bisa berharap bahwa dengan kasihNya, Tuhan tidak akan membiarkan kita menyimpang dari perintah-perintahNya. Seperti pemazmur, apa yang kita perlukan adalah kemauan untuk selalu mencari bimbingan Tuhan sehingga kita mempunyai kerinduan, dorongan dan kekuatan untuk menjadi umatNya yang patuh dan taat.

“Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu.” Mazmur 119: 66

Tuhan adalah Pencipta dan Pemilik segala sesuatu

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Kejadian 1: 1

Di zaman ini hak cipta adalah sesuatu yang dipandang penting. Jika dulu orang dengan mudah membuat copy sebuah buku atau CD dan kemudian menjualnya sebagai “barang bajakan”, sekarang hal semacam itu dianggap sebagai tindakan yang melawan hukum. Mereka yang membuat hasil karya asli baik berupa benda, cara ataupun ide bisa mendaftarkan ciptaan mereka supaya tidak bisa ditiru atau dicuri. Para pencipta itu tentunya ingin agar semua orang menghargai hak cipta mereka dan tidak mengurangi penghargaan masyarakat atas jerih payah mereka.

Ayat diatas menunjukkan bahwa jauh sebelum ada makhluk, benda atau tumbuhan apapun di dunia, Tuhan sudah menciptakan langit dan bumi. Tuhan mencipta segala sesuatu, termasuk surga, dengan tanpa memakai bahan dan tanpa bantuan siapapun. Tuhan menciptakan sesuatu dari apa yang tidak ada. Ex nihilo. Karena itu Tuhan adalah oknum yang mencipta dan memiliki hak cipta atas segala sesuatu di alam semesta. Tidak ada oknum lain atau manusia yang bisa mengklaim apapun sebagai hak miliknya dengan sepenuhnya.

Memang banyak manusia yang dengan bangga mengaku sebagai pencipta sesuatu. Selain itu ada juga orang yang mengklaim sebagai pemilik barang, tempat, flora/ fauna, dan bahkan sesama manusia. Walaupun demikian, Tuhan yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya, sudah mendaftarkan semua ciptaanNya dalam Alkitab. Sebelum manusia ada Tuhan sudah menciptakan semua yang kemudian digunakan oleh manusia untuk membuat apa yang diperlukannya.

Manusia dengan demikian bukanlah pencipta, tetapi pengguna. Manusia bukanlah pemilik, tetapi peminjam. Manusia tidak dapat menciptakan sesuatu ex nihilo. Manusia tidak juga memiliki apapun, seperti Ayub yang berkata bahwa dengan lahir telanjang ia keluar dari kandungan ibunya, dengan telanjang juga ia akan kembali (Ayub 1: 21).

Jika segala sesuatu diciptakan dan dimiliki oleh Tuhan, adakah yang patut kita banggakan? Jika kita menggunakan dan meminjam apa yang dimiliki Tuhan, pantaskah kita menyia-nyiakan hidup kita? Dan jika kita sudah menerima segala berkatNya, tidakkah kita patut hidup dengan bersyukur kepadaNya? Baik hidup atau mati manusia adalah milik Tuhan. Dengan demikian, Tuhan yang menciptakan manusia adalah Tuhan yang memberi hidup yang seharusnya dipakai untuk memuliakan Tuhan. Dan jika kita mati, sebagai umatNya kita juga harus merasa beruntung karena kita akan bisa hidup di surga bersama dengan Dia.

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Roma 14: 8

Jangan lupakan Bapa yang di surga

“Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” 2 Korintus 6: 18

Pagi ini saya membaca ulasan tentang buku karangan John Marsden, seorang pendidik anak terkenal dan penulis buku yang pernah menjadi pendiri dan kepala dari dua sekolah di Australia. Dalam bukunya yang terbaru itu, John menguraikan masalah orangtua  zaman sekarang yang kurang bisa mendidik anak-anak mereka. Masalah ini sudah sangat berat dan menyebabkan epidemi penyakit kejiwaan di antara anak-anak. Selama ini, masalah ini sering diabaikan orang karena biasanya orang tidak mau mengkritik para orangtua dengan cara pendidikan masing-masing.

John Marsden menguraikan beberapa jenis sikap orangtua yang keliru dan penyebabnya:

  1. “Anakku adalah pahlawanku”: Orangtua yang memanjakan dan tidak peduli akan apa yang dilakukan anak.
  2. “Anakku adalah luar biasa”: Orangtua narsis yang merasa gagal dalam hidup mereka sendiri.
  3. “Aku percaya kebebasan anak”: Mereka yang tidak mau mengambil keputusan berat untuk mendisiplin anak.
  4. “Ia adalah anakku dan harus menurut apa saja yang aku katakan”: Orangtua yang sangat mengontrol anak.
  5. “Aku terlalu sibuk dalam hidupku”: Orangtua yang sering absen dari keluarga.
  6. “Aku dan anakku adalah teman baik”: Mereka yang ingin menjadi teman tetapi tidak mau menjadi orangtua.

Sebagai orang Kristen, kita mungkin setuju dengan pengamatan John Marsden di atas. Barangkali, item nomer 1, 2, 4 dan 5  lebih sering terjadi di antara keluarga di negara-negara Timur, tetapi dengan adanya pengaruh Barat, item 3 dan 6 juga mulai muncul.

Sebagai orang Kristen seharusnya kita tahu bahwa setiap orang percaya mempunyai orangtua di bumi, tetapi  juga orangtua di surga. Karena pengurbanan Kristus, setiap orang Kristen sudah diangkat menjadi anak Tuhan. Dalam hal ini, setiap orang percaya tentunya sadar bahwa Tuhan adalah Bapa yang mahakasih dan mahabijaksana. Dengan demikian, setiap orang percaya harus mau belajar dari orangtua mereka yang di surga, yaitu Tuhan, agar bisa membina hubungan yang baik dengan orangtua dan anak mereka yang di bumi.

Mereka yang tidak mengenal Tuhan sebagai Bapa tentunya akan mengalami kesulitan untuk mengerti apa yang harus dilakukan di bumi, baik sebagai orangtua maupun anak. Alkitab adalah buku pedoman bagi setiap orang percaya, bagaimana mereka bisa mengasihi sesama, mendidik mereka yang lebih muda dan menghormati orang yang lebih tua. Sayang bahwa banyak orang Kristen jarang membaca Alkitab dan mempelajari firmanNya. Mereka tidak dapat membayangkan Tuhan yang mahabesar tetapi juga yang mahakasih. Tuhan yang mahasuci tetapi juga yang mahasabar. Tuhan yang tidak dapat dipermainkan, tetapi juga yang penyayang. Tuhan yang ingin menyelamatkan setiap manusia, tetapi tidak memaksakan kehendakNya. Tidaklah mengherankan bahwa dalam keluarga Kristen pun, berbagai masalah bisa terjadi dalam hubungan antara orangtua dan anak.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa ada berbagai teori pendidikan yang bisa kita pelajari untuk membina keluarga. Selain itu, ada begitu banyak motivator dan pendidik yang bisa memberikan pengarahan kepada orangtua  maupun anak. Tetapi, semua itu akan menjadi kesia-siaan jika kita tidak mau mempelajari firman Tuhan. Mempelajari fiman Tuhan dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari adalah kunci kesuksesan dalam pendidikan anak muda. Mereka yang sadar akan hal ini akan memperoleh kebijaksanaan untuk memilih apa yang baik dan menghindari apa yang buruk dalam kehidupan keluarga.

” TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.” Mazmur 147: 11