Lalang dan gandum boleh hidup bersama

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Matius 13: 30

Pagi ini saya menyempatkan diri untuk memotong rumput di halaman belakang rumah saya yang cukup luas. Sudah lama saya tidak menggunakan mesin traktor pemotong rumput karena hujan yang jarang turun. Tetapi sejak turunnya hujan bulan lalu, halaman itu sekarang kelihatan hijau bukan saja dengan rumput, tetapi juga dengan berbagai tanaman liar seperti lalang dan sejenisnya. Saya sebenarnya ingin memiliki halaman yang ditumbuhi rumput saja, tetapi  di padang rumput manapun tanaman liar selalu ikut tumbuh bersama rumput yang ada. Dengan adanya sinar matahari dan air hujan, tanaman liar itu terkadang justru tumbuh lebih subur dari rumput. Ini yang membuat saya kesal karena selain tidak mudah untuk mencabut lalang, lubang bekas lalang tidaklah sedap dipandang mata.

Hidup manusia di dunia ini seringkali nampaknya seperti padang yang ditumbuhi rumput dan lalang. Mereka yang jahat dan curang kerapkali hidupnya berhasil dan nyaman, sedangkan mereka yang baik hati dan jujur justru hidupnya berat dan bahkan bisa menjadi bulan-bulanan orang lain. Mengapa begitu? Kalau Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat dan bahkan membiarkan mereka untuk berjaya, tidak patutkah kita merasa iri dan bahkan sakit hati kepada yang tidak mengenal Tuhan, dan juga marah kepada Tuhan yang tidak melakukan tindakan apa-apa kepada mereka? Tuhan tidak adil!

Dalam perumpamaan tentang lalang dan gandum, Yesus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh banyak orang: mengapa Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat untuk menikmati hidup mereka ditengah mereka yang taat kepada Tuhan (Matius 13: 24 – 30). Perumpamaan ini cukup sering dibahas atau dikhotbahkan, tetapi sering secara kurang tepat dipakai untuk membahas kehidupan gerejani. Perumpamaan ini sebenarnya berlaku untuk keadaan di dunia dan mengandung pengajaran yang mempunyai aplikasi praktis di semua zaman, terutama di zaman sekarang.

Dunia ini sudah sangat berkembang dan era globalisasi membuat negara yang satu membutuhkan negara yang lain. Begitu juga, di sebuah negara ada banyak berbagai  partai dan golongan yang saling bergantung dan berinteraksi. Dalam kehidupan seseorang, kerjasama dan komunikasi dengan orang lain adalah perlu sekalipun mereka tidak sepaham. Semua itu tentunya jika masih dalam batas-batas yang bisa diterima.

Masalahnya, jika dalam hidup kita melihat adanya sebuah negara, sebuah kelompok manusia atau pribadi yang seolah-olah berbuat semaunya sendiri dan menyebabkan berbagai masalah di muka bumi, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan membiarkan hal seperti itu. Kita mengerti bahwa Tuhan mahasabar, tetapi kita tidak mengerti mengapa Ia yang mahakuasa tidak bertindak tegas terhadap mereka yang jelas-jelas melakukan hal yang bertentangan dengan firmanNya. Mengapa Tuhan tidak membuat semua yang tidak benar itu lenyap dari muka bumi?

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahabijaksana. Dia adalah Tuhan yang membuat roda kehidupan ini berputar. Tuhanlah yang memungkinkan semua orang di dunia untuk hidup bersama dan berinteraksi. Ia jugalah yang menerbitkan sinar matahari dan  menurunkan hujan untuk orang yang jahat dan orang yang baik (Matius 5: 45).  Segala bentuk kehidupan ada di dunia, sedemikian rupa hingga kuasa Tuhan bisa terlihat bekerja dan memegang kemudi. Dalam segala keadaan, yang baik maupun yang buruk, kehidupan manusia tetap berjalan dan mereka yang percaya bisa senantiasa berharap atas kasih dan pertolongan Tuhan. Mereka yang percaya kepada Tuhan juga yakin bahwa Ia akan bertindak untuk memisahkan orang yang jahat dari mereka yang taat kepadaNya. Itu akan terjadi pada saat yang ditentukan Tuhan dan bukannya sekarang.

Orang berdosa yang dikuduskan

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.” Roma 5: 8 – 9

Orang Kristen adalah orang yang sudah ditebus dosanya oleh darah Kristus. Karena pengorbanan Yesus di kayu salib, mereka yang dulunya harus menemui kebinasaan sekarang bisa menjadi orang yang diselamatkan. Lebih dari itu, orang Kristen boleh memanggil Allah sebagai Bapa karena mereka adalah orang-orang yang sudah dikuduskan. Orang kudus? Saint?

Sebutan “orang kudus” ada di Alkitab baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, sebutan orang kudus jelas dipakai untuk mereka yang sudah dikuduskan oleh darah Kristus. Karena itu, sebagai orang Kristen sebenarnya kita tidak boleh ragu untuk  menyatakan bahwa sebagai anak-anak-Tuhan kita adalah orang-orang kudus. Tetapi, sebutan sedemikian mungkin bisa menjadi bahan tertawaan bagi mereka yang tidak mengerti bahwa orang Kristen selama hidup di dunia tentunya tetap bisa jatuh ke dalam dosa. Orang Kristen yang masih hidup di dunia adalah orang yang disucikan Tuhan, tetapi bukannya suci seperti Yesus. Orang Kristen tetap adalah orang-orang berdosa. Membingungkan bukan?

Bagi sebagian orang Kristen, sebutan “orang kudus”, “saint“, “santa” atau “santo” mungkin dipakai untuk memanggil mereka yang dianggap benar-benar suci karena hidup mereka yang dianggap luar biasa, dan mungkin karena jasa mereka kepada gereja. Mereka itu mungkin ditetapkan oleh pimpinan gereja sebagai tokoh-tokoh yang sudah suci seperti Tuhan. Karena itu, jemaat mungkin sering berdoa kepada orang-orang kudus untuk mendapatkan pertolongan atau kemudahan dalam hidup. Tetapi penebusan Kristus sebenarnya tidak membeda-bedakan orang Kristen yang satu dengan orang Kristen yang lain. Mereka semuanya adalah orang berdosa yang membutuhkan penebusan Kristus, dan selama hidup di dunia mereka tetap berbuat dosa.

Orang Kristen adalah orang kudus tetapi juga orang yang berdosa. Berbeda dengan orang lain, darah Yesus memungkinkan mereka untuk memperoleh hidup baru dengan kesadaran akan apa yang baik dan buruk menurut firman Tuhan. Orang yang sudah dikuduskan  mempunyai keinginan untuk berjalan dalam kebenaran, dan memiliki kekuatan dari Tuhan untuk menolak apa yang jahat. Ini bukan berarti bahwa mereka adalah orang yang tidak dapat berbuat dosa selama mereka hidup di dunia, tetapi jika mereka berbuat dosa mereka akan sadar akan hal itu dan makin hari akan makin bisa hidup lebih baik.

Pagi ini, kita harus bersyukur bahwa Tuhan sudah memilih kita untuk menjadi anak-anakNya. Dengan demikian, kita tidaklah tetap hidup dalam kebiasaan lama yang bergelimang dengan dosa. Kita harus mempunyai kesadaran bahwa darah Yesus sudah ditumpahkan bukan untuk disia-siakan. Yesus sudah berkurban untuk kita dan jika kita benar-benar mau menjadi orang kudus, kita harus mau bertumbuh dalam kebenaran sehingga makin lama kita makin menyerupai Dia.

Belajar dari Roh Kudus

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Amsal 19: 20

Bagi mereka yang ingin mempunyai anak, tentunya biaya pendidikan adalah salah satu hal yang harus dipikirkan dan dipersiapkan. Di Australia, biaya sekolah dari SD sampai SMA bisa ditekan serendah mungkin jika anak masuk ke sekolah negeri, tetapi bisa menjadi sangat mahal jika sekolah swasta yang dipilih. Biaya sekolah swasta sangat bervariasi, dari beberapa ribu sampai lebih dari dua puluh ribu dolar per tahun.

Banyak orang tua merasa lega ketika anak-anak mereka berhasil menyelesaikan pendidikan SMA mereka. Apakah anak-anak itu kemudian meneruskan ke perguruan tinggi atau tidak, orang tua tidak perlu lagi memikirkan biaya studi mereka. Itu karena biaya universitas yang sangat besar bisa dibayar oleh mereka yang belajar secara mengangsur setelah lulus. Walaupun demikian, orang tua bisa merasa kuatir juga kalau sang anak tidak kunjung selesai belajar, kalau-kalau hutang mereka menjadi terlalu besar.

Sampai umur berapakah orang bisa belajar dalam hidup ini? Di Australia, jawaban pertanyaan ini tidak mudah diberikan. Sudah tentu orang pada umumnya ingin cepat-cepat mendapat ijazah S1 agar dapat segera bekerja. Tetapi ada juga orang yang ingin mendapat ijazah S2 atau S3 sebelum bekerja. Selain itu ada orang yang setelah bekerja beberapa tahun, kemudian kembali ke universitas secara part-time atau full-time untuk mendapatkan ijazah yang lebih tinggi. Lebih dari itu, ada orang yang sudah pensiun kemudian mengambil ijazah S2 atau S3 pada usia lanjut, bahkan pada usia uzur 80 – 90 tahun.

Ayat di atas adalah nasihat raja Sulaiman yang cukup terkenal dan sering ditujukan kepada kaum muda agar mereka mau mendengar nasihat dan menerima didikan, supaya mereka menjadi bijak di masa depan. Bagi mereka yang sudah tergolong berumur, berpendidikan atau berpengalaman, mungkin dorongan untuk terus belajar untuk kebaikan masa depan agaknya dipandang kurang cocok. Bagi mereka, apa yang ada sudah pernah dikunjungi atau sudah pernah dilakukan. Been there, done that. Masa depan sudah berlalu dan menjadi masa lalu, dan yang tersisa adalah masa kini yang harus diterima atau dinikmati selagi masih bisa.

Saat ini dalam menyongsong hari kedatangan Roh Kudus, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita seharusnya tidak pernah berhenti untuk belajar guna menuju ke arah kedewasaan iman. Sebelum Yesus naik ke surga, Ia menjanjikan kepada murid-muridNya seorang Penghibur dan Guru yang akan membimbing mereka. Sampai sekarang Roh Kudus senantiasa mau memberi kita nasihat dan didikan, agar kita makin mengerti kehendak Tuhan. Maukah kita memakai sisa hidup kita untuk selalu belajar dari Dia?

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yohanes 14: 25 – 26

Jangan mudah dibuat bingung

“…sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Efesus 4: 14 – 15

Jika kita ingin mencari berita apa saja, internet adalah tempat yang paling mudah digunakan sebagai sarana. Dengan memakai Google search, orang bisa menulis beberapa kata kunci (keywords) di ponsel atau komputer dan kemudian menemukan berita apa yang dicarinya dalam waktu beberapa detik saja. Memang semua itu kelihatannya gampang, tetapi dalam kenyataannya seringkali berita yang diperoleh itu tidak jelas sumbernya dan berbeda-beda isinya. Sebagai akibatnya, banyak orang yang di zaman ini mudah tertipu oleh berbagai kabar simpang siur yang membingungkan.

Internet bisa dipandang sebagai salah satu penemuan teknologi abad 20 yang sudah menjadi bagian hidup orang di abad 21. Bisa dibayangkan bahwa apapun yang ada di dunia ini sekarang tergantung pada internet dan karena itu orang atau negara yang kurang bisa menggunakan internet perlahan-lahan akan tertinggal dalam segi ekonomi, pengetahuan, kesehatan dan sebagainya.

Sebagai orang Kristen, kita harus bersyukur bahwa umat manusia  makin lama  makin  pandai dalam mengelola ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan jika dipakai dengan benar, akan memberi manusia kemampuan untuk mengatur dunia dan segala isinya. Dengan kemajuan teknologi, kabar baik tentang keselamatan lebih mudah diberitakan dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Berbagai Alkitab elektronik, buku agama dan renungan harian juga bisa ditemukan di internet.

Sayang sekali, bahwa walaupun di satu sisi manusia makin pandai, manusia tidaklah bertambah dekat kepada Tuhan. Malahan, dengan kemajuan teknologi, manusia lebih mudah tersesat kedalam berbagai pengajaran yang bisa dijumpai melalui internet. Melalui Youtube misalnya, orang bisa menonton berbagai pembicara yang mengaku Kristen tetapi mengajarkan apa yang tidak sesuai dengan Alkitab. Banyak di antara mereka yang menampilkan berbagai hal yang hebat dan luar biasa, dengan tujuan untuk menarik perhatian publik, agar mereka di anggap sebagai hamba Tuhan yang hebat. Mungkin saja mereka adalah serigala yang menyamar sebagai domba (Matius 7: 15).

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh menjadi dewasa sehingga kita tidak tetap sebagai anak-anak yang bisa diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran dan oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Sebaliknya, kita harus berpegang teguh kepada kebenaran firman Tuhan, dan di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus, pemimpin kita yang sejati. Kita hidup untuk belajar dari Kristus dan untuk menjadi seperti Dia dalam segala hal yang baik.

Masih seringkah anda bingung ketika mendengar berita atau menyaksikan peristiwa yang luar biasa yang dialami seseorang? Apakah anda belum bisa membedakan karya Tuhan dengan karya manusia? Dapatkah orang mencapai apa yang baik di mata Tuhan melalui jalan yang salah? Sulitkah anda membedakan mana yang baik dan mana yang jahat? Jika kita berpegang pada apa yang diajarkan Yesus, kita tidak akan mudah untuk menjadi bingung. Jika kita menguji segala yang kita lihat, dengar dan alami dengan firman Tuhan, kita akan menyadari apakah nama Tuhan dipermuliakan, apakah kebenaranNya ditegakkan, dan apakah kasih kepada sesama sudah diutamakan.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21 – 22

Keadilan Tuhan selalu terlihat pada akhirnya

“Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” Lukas 1: 51 – 52

Hari ini adalah hari peringatan 75 tahunnya D-day dimana pada tahun 1944, tentara sekutu mendarat secara besar-besaran di pantai-pantai Normandy, Perancis utara. Pendaratan tentara sekutu di daerah yang saat itu dikuasai oleh tentara Nazi Jerman adalah permulaan dari usaha pembebasan benua Eropa yang menewaskan ratusan ribu prajurit dari kedua pihak. Karena berhasilnya tentara sekutu dalam melakukan invasion itu, perang dunia kedua tidak lama kemudian berakhir dengan menyerahnya pihak Nazi Jerman. Dengan berakhirnya perang dunia kedua, dunia kemudian menjadi lebih tenang, dan dengan demikian keadaan ekonomi, teknologi, sosial dan budaya di banyak negara mengalami kemajuan pesat.

Peperangan apapun adalah hal yang tidak disukai oleh siapapun. Peperangan selalu dihubungkan dengan kekejaman, penderitaan dan kematian. Karena itu, semua orang tentu berusaha untuk menghindari terjadinya peperangan. Walaupun demikian, adanya peperangan seringkali seakan tidak dapat dihindari. Peperangan tidak terjadi karena permusuhan atau pertikaian yang terjadi pada satu hari saja. Peperangan pada umumnya terjadi melalui proses permusuhan yang berlangsung cukup lama.

Dalam Perjanjian Lama kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel berperang melawan berbagai bangsa yang ada disekitarnya. Pada saat itu, seringkali peperangan terjadi karena perintah Tuhan kepada bani Israel, bangsa pilihan Tuhan pada waktu itu, untuk menyerang dan menghancurkan bangsa lain. Jika itu terjadi pada zaman sekarang, tidak dapat diragukan bahwa Tuhan akan dituduh berlaku sangat kejam kepada ciptaanNya. Tuhan nampaknya bukanlah Tuhan yang mengasihi umat ciptaanNya, begitu pikir banyak orang.

Semua peperangan terjadi dengan seijin Tuhan dan sekalipun sebagian di antaranya bukanlah sesuatu yang dikehendaki Tuhan, setiap peperangan pada akhirnya bisa menunjukkan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam keadaan yang bagaimanapun buruknya. Peperangan bisa juga terjadi karena dosa yang dilakukan oleh suatu bangsa atau oleh pemimpinnya. Mereka yang berusaha memberontak dari norma-norma kebaikan dan kebenaran Tuhan, dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan pertikaian. Tetapi, sejarah membuktikan bagaimanapun buruknya tindakan manusia, Tuhan yang mahatahu selalu dapat mengatasinya dan bahkan menunjukkan kebesaran dan kasihNya melalui tindakan orang-orang yang dipilihNya.

Pagi ini kita harus bersyukur bahwa keadaan dunia pada saat ini pada umumnya tidaklah seburuk abad yang lalu. Walaupun demikian, tiap hari selalu ada saja berita-berita yang menyedihkan, dan itu mungkin yang disebabkan oleh tindakan seseorang, sekelompok tertentu, pemimpin rakyat ataupun negara tertentu. Bahkan dalam rumah tangga dan gereja pun, sering ada pertikaian yang membawa permusuhan dan perpecahan. Dalam hal ini, kita harus yakin bahwa Tuhan yang mahakasih pada hakikatnya  bukanlah Tuhan yang merestui pertikaian manusia. Sebaliknya,Tuhan memerintahkan semua umatNya untuk bisa mengasihi sesama mereka.

Sebagai umat Kristen kita memang terpanggil untuk menunjukkan kedamaian dari Tuhan yang sudah kita terima kepada semua orang. Tetapi, selama kita hidup di dunia, kekacauan karena perbuatan manusia selalu muncul silih berganti. Bagaimana kita harus bersikap dalam menghadapi suasana yang tidak menyenangkan itu? Firman Tuhan pagi ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperhatikan keadaan dunia. Ia selalu memperlihatkan kuasaNya dengan perbuatan tanganNya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya. Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, tetapi Ia meninggikan orang-orang yang rendah hati dan berserah kepada bimbinganNya. Karena itu, biarlah kita mau meyerahkan hidup dan masa depan kita kepadaNya sambil percaya bahwa keadilan Tuhan selalu terlihat pada akhirnya.

Pengampunan bukannya murah atau mudah

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 14 – 15

Hari ini adalah hari raya Idul-Fitri dan bagi yang merayakannya hari ini tentunya disambut dengan rasa sukacita. Di Indonesia, perayaan hari raya ini adalah cukup unik karena orang biasanya mengucapkan selamat Idul Fitri sambil bermaaf-maafan. Bagi mereka yang di luar negeri, tradisi bermaaf-maafan sambil mengucapkan Happy Eid-al-Fitr ini tidaklah lazim. Walaupun demikian, kebiasaan saling bermaaf-maafan tentunya  baik jika benar-benar dilakukan dengan sepenuh hati dan dilaksanakan di segala waktu.

Bermaaf-maafan dalam pandangan orang Kristen sebenarnya adalah keharusan dan bukan hanya kebiasaan. Tetapi, karena keharusan yang belum tentu menjadi kebiasaan, banyak orang Kristen yang lupa atau melupakan bahwa mereka sebenarnya perlu untuk selalu bisa mengampuni. Dari segi praktisnya, seseorang yang mengalami perbuatan buruk orang lain mungkin tidak bisa melupakan kejadian itu dan tidak bisa mengampuni pelakunya. Memang, selama orang ingat akan apa yang sudah terjadi, tidaklah mudah baginya untuk mengampuni. Sebaliknya, ada orang yang mau mengampuni orang lain, tetapi tetap tidak bisa melupakan apa yang terjadi. Tentunya dalam hal ini mungkin ada pertanyaan apakah benar orang yang bersangkutan memang sudah bisa mengampuni.

Melupakan dan mengampuni adalah dua hal yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Dalam hal ini, mungkin ada orang yang bertanya-tanya apakah Tuhan yang mahatahu bisa dengan sepenuhnya mengampuni dosa-dosa umatNya. Tuhan bukanlah Tuhan jika Ia bisa lupa. Bayangkan saja jika Tuhan lupa untuk memelihara umatNya! Ia tidak pernah lupa, tetapi memilih untuk melupakan dosa-dosa mereka yang sudah bertobat dan minta ampun kepadaNya.

“Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.” Ibrani 8: 12

Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang dengan sengaja tidak mau mengingat dosa-dosa kita, jika kita mau menerima Yesus sebagai Juruselamat kita. Sekalipun besar dosa kita, darah Yesus mampu mencuci bersih dosa itu sehingga kita menjadi layak di hadapan Tuhan.

“….Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Pengampunan dosa manusia dengan demikian sebenarnya bukan hal yang mudah atau murah. Tuhan yang mahaadil seharusnya menghukum setiap manusia dengan kebinasaan karena semua sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Tetapi karena kasih karuniaNya, mereka yang percaya sudah dibenarkan dengan cuma-cuma dengan penebusan dalam Yesus Kristus (Roma 3: 23 – 24).

Kita yang sudah menerima pengampunan Tuhan seharusnya sadar bahwa apa yang kita terima bukanlah barang murah. Pengurbanan Yesus juga bukan sesuatu yang mudah dilakukan, tetapi sudah terjadi karena ketaatan Yesus kepada kehendak BapaNya. Bagi kita yang sudah menerima pengampunan yang sangat mahal harganya dan sulit untuk dilakukan, tetapi yang hanya karena kemurahan Tuhan bisa memperolehnya dengan cuma-cuma, tentu panggilan untuk mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita adalah suatu kewajiban. Jika kita tidak bisa atau tidak mau mengampuni, itu tidak lain adalah suatu yang berlawanan dengan kasih Tuhan kepada kita. Hanya dengan menerima kasih dan pengampunan Tuhan dengan iman, kita akan mampu untuk mengasihi dan mengampuni orang lain. Mereka yang tidak dapat mengasihi atau mengampuni orang lain tentunya belum bisa mengerti bahwa Tuhan sudah lebih dulu mengasihi dan mengampuni mereka.

Menghasilkan apa yang baik dengan mulut kita

“Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.” Yakobus 3: 12

Mulut manusia adalah bagian tubuh yang sangat berguna. Jika makhluk lain menggunakan mulut pada dasarnya hanya untuk makan, manusia menggunakan mulut untuk makan dan berbicara. Manusia memang adalah makhluk satu-satunya yang memiliki cara berkomunikasi sistematis yang berupa bahasa. Dengan demikian, mulut berfungsi untuk memperoleh input, tetapi juga untuk menghasilkan output. Mana yang lebih penting fungsinya untuk orang Kristen?  Yesus dalam Matius 15: 11 – 19 menjelaskan bahwa apa yang masuk ke dalam mulut tidak menajiskan orang, tetapi apa yang keluar dari mulut dan bersumber dari hati dapat membuahkan berbagai dosa.

Memang apa yang keluar dari mulut seseorang bisa menunjukkan sifat atau kepribadian orang itu. Tidak hanya kebohongan, kesombongan, omong kotor, fitnah, gosip, sumpah palsu dan hujat yang bisa keluar dari mulut seseorang, tetapi juga apa yang nampaknya benar dan indah tetapi yang sebenarnya menyesatkan orang lain. Dalam kehidupan rohani, sering terlihat adanya guru-guru atau pemimpin agama yang bukannya mengajarkan kebenaran, tetapi justru menampilkan ajaran-ajaran yang bisa membuat orang lain tersesat. Kebanyakan hal ini terjadi agar bisa membawa keuntungan kepada si pembicara dan kelompoknya.

Rasul Yakobus dalam Yakobus 3: 1 – 12 mengungkapkan pentingnya menjaga mulut. Ini  ditulisnya untuk semua orang Kristen, tetapi diutamakan kepada orang-orang Kristen yang ingin menjadi guru, pemimpin, atau pembimbing orang Kristen lainnya. Dalam kenyataannya, setiap orang Kristen haruslah menjadi teladan bagi orang lain, dan dengan demikian wajib menjaga mulut mereka, agar apa yang diucapkan tidak berupa dosa. Memang sebagai manusia kita semua mempunyai cacat-cela, tetapi orang Kristen yang bisa menjadi pemimpin adalah orang yang bisa mengendalikan mulut, hati dan pikirannya sehingga apa yang dikatakan akan menguatkan dan membangun sesama.

Mungkin banyak orang Kristen yang mengeluarkan berbagai alasan jika dari mulut mereka muncul kata-kata yang tidak benar, kasar, kotor atau menyakitkan orang lain. Tidak sengaja, bukan bermaksud buruk, karena terpaksa, ataupun karena ilham, begitu orang sering berdalih untuk membenarkan perkataan mereka. Tetapi Yakobus tidak bisa menerima alasan-alasan seperti itu. Ia mengatakan bahwa pohon ara tidak akan menghasilkan buah zaitun dan  pokok anggur tidak dapat menghasilkan buah ara. Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

Pagi ini, jika kita sudah memiliki hidup baru, kita tidak boleh tinggal dalam kebiasaan lama dan sembrono dalam menggunakan mulut kita. Kita tidak bisa memakai mulut kita untuk memuji Tuhan dan dengan mulut yang sama berbuat jahat kepada sesama kita. Apa yang keluar dari mulut kita jelas adalah pencerminan hati dan pikiran, dan karena itu kita harus mau berubah dari dalam untuk menjadi manusia baru yang membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Apa yang masuk ke dalam hati dan pikiran kita mungkin juga adalah hal-hal yang tidak benar dan jahat yang kita terima dari orang lain atau bersumber dari apa yang kita pernah lihat dan alami. Karena yang masuk adalah kotor, apa yang keluar juga kotor. Garbage in, garbage out. Oleh sebab itu, untuk mengendalikan mulut kita, kita harus benar-benar bertekad untuk mau mengendalikan seluruh tubuh kita. Kita  harus mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya untuk dibimbing Tuhan dan mengabdikan hidup kita sepenuhnya untuk kemuliaanNya.

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Efesus 4: 29

Memanfaatkan stres untuk kebaikan kita

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Setiap orang pernah mengalami stres yaitu ketegangan yang dialami karena adanya kesulitan, bahaya atau beban hidup. Stres adalah reaksi tubuh atas ancaman yang datang dari luar dan bisa mempengaruhi keadaan fisik maupun kejiwaan. Stres bukan monopoli manusia atau orang dewasa. Anak kecil pun sudah bisa mengalami stres terutama jika ia merasa bingung dan tidak nyaman dengan keadaan disekelilingnya. Selain manusia, binatang peliharaan seperti kucing dan anjing juga bisa mengalami stres karena tidak terbiasa dengan wajah orang-orang dan suasana yang berbeda dengan apa yang biasanya ada.

Bagi orang dewasa, stres seringkali muncul bukan saja dengan adanya kesulitan hidup, tetapi juga dengan adanya kemungkinan bahwa kesulitan hidup akan datang. Cukup dengan merasa kuatir akan apa yang belum (tentu) terjadi, orang bisa mengalami stres dan kemudian mengalami gangguan pikiran maupun kesehatan. Orang bisa merasa bingung, kehilangan semangat, sering merasa sangat lelah atau kehilangan nafsu makan karena pikiran yang tertekan. Sudah  tentu, stres yang tidak terkontrol dan berlangsung lama bisa membawa akibat yang jelek pada manusia maupun makhluk hidup lainnya.

Dalam perjuangan hidup, orang Kristen tidaklah berbeda dengan orang lain. Menjadi Kristen bukanlah jaminan bahwa hidup akan menjadi lancar karena adanya berkat materi/jasmani dari Tuhan. Sekalipun ada orang yang mengajarkan bahwa Tuhan yang mahakasih akan memberkati setiap umatNya dengan berkelimpahan, dalam kenyataannya orang Kristen tidaklah imun dari persoalan keluarga, masalah ekonomi, penyakit, bahaya dan hal-hal yang jahat selama mereka hidup di dunia. Karena itu wajarlah jika kita sebagai orang beriman juga mengalami stres dari waktu ke waktu. Tetapi, berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan, orang Kristen tahu cara yang terbaik untuk menghadapi stres. Sebagai orang percaya, orang Kristen seharusnya juga tahu bagaimana menggunakan stres untuk kebaikan mereka.

Ayat diatas adalah salah satu ayat Alkitab yang sering dikutip orang untuk dipakai sebagai pedoman untuk menghadapi stres. Apa yang dapat kita lakukan adalah membatasi pengaruh tekanan hidup pada diri kita agar kita tidak hidup dalam kekuatiran. Kekuatiran bisa muncul dalam bentuk apapun dan tentang apapun. Itu juga bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Kekuatiran yang besar sudah tentu bisa melumpuhkan, tetapi kekuatiran yang kecil pun bisa berlipat-ganda dan menjadi besar jika dibiarkan. Karena itu, ayat diatas mengajarkan kita untuk tidak berdiam pasif dalam memikirkan segala kekuatiran kita. Sebaliknya, kita harus secara aktif mau melupakan kekuatiran kita dan menghadap Tuhan dengan membawa segala permohonan kita sambil mengucap syukur atas pemeliharaan dan berkatNya sampai saat ini.

Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang tahu segala apa yang kita butuhkan dan mau memberikan apa yang terbaik untuk kita. Tetapi, Tuhan jugalah yang ingin agar kita senantiasa mau bergantung kepadaNya. Tuhan bukanlah seperti orangtua yang memanjakan anak-anak mereka dengan memberikan apa saja yang mereka inginkan. Anak-anak yang manja biasanya adalah anak-anak yang hanya bisa menuntut perhatian orang tua, tetapi tidak mempunyai hubungan batin yang baik dengan mereka. Anak-anak yang manja tidak pernah merasa bersyukur dengan apa yang sudah ada. Tuhan yang mahabijaksana adalah Bapa yang tahu bagaimana mendidik anak-anakNya supaya mereka menjadi dewasa dalam iman. Sebagai Bapa yang baik, Ia tidak berjanji untuk memberikan apa saja yang kita inginkan, tetapi Ia berjanji untuk memberikan damai sejahtera kepada anak-anakNya dalam menghadapi segala tantangan kehidupan.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Untuk apa anda ke gereja?

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Filipi 3: 10 – 11

Sekalipun Australia adalah negara sekuler, pada hari Minggu ini terlihat banyak orang yang hadir di gereja. Kebaktian di Australia biasanya diadakan sekali atau dua kali pada pagi hari (kebaktian umum dan kebaktian keluarga) dan sekali pada sore hari (kebaktian kaum muda). Sebagian orang mungkin sudah terbiasa untuk ke gereja bersama orang tua dan saudara sejak kecil, tetapi sebagian lagi mungkin baru ke gereja setelah dewasa.

Sebenarnya apakah tujuan kita untuk ke gereja? Tiap orang tentunya bisa mempunyai jawaban yang berlainan. Memang pada umumnya orang Kristen ke gereja untuk bisa bersekutu dengan mereka yang seiman untuk memuji Tuhan dan mendengarkan firmanNya. Tetapi ada juga mereka yang sebenarnya ke gereja untuk memohon berkat dan pertolongan Tuhan yang seolah tidak dapat diperoleh di tempat lain. Selain itu, ada juga mereka yang ke gereja untuk mengikuti upacara tertentu atau mengaku dosa. Dengan demikian, pada akhirnya setiap orang pergi ke gereja dengan tujuan yang sesuai dengan pandangan hidup masing-masing.

Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang ke gereja untuk memohon sesuatu kepada Tuhan. Orang-orang yang mendambakan penghiburan dan motivasi hidup akan selalu mengharapkan hal itu dari gereja mereka. Begitu juga mereka yang menginginkan kesuksesan mungkin menyukai gereja tertentu. Mereka yang merasa sudah berbuat dosa pada hari-hari sebelumnya, datang ke gereja khusus untuk mengaku dosa dan memohon ampun. Apapun yang kita inginkan dalam hidup, seringkali membentuk motivasi tertentu bagi kita untuk ke gereja.

Ayat diatas berisi keinginan rasul Paulus dalam hidupnya yang dinyatakannya kepada jemaat di Filipi. Paulus menulis bahwa ia ingin makin mengenal Yesus dan kuasa kebangkitanNya dan mau bersekutu dalam penderitaanNya, supaya ia makin menjadi serupa dengan Yesus. Menjadi umat Tuhan yang baik memang tidak cukup dengan menerima keselamatan dari Yesus, tetapi seharusnya makin hari menjadi makin sempurna melalui pengenalan dan pelaksanaan firman Tuhan. Inilah proses pertumbuhan iman yang dikendaki Paulus.

Hari ini firman Tuhan mengajukan beberapa pertanyaan untuk kita. Apakah kita sudah hidup seperti Paulus, yang ingin makin menyerupai Yesus yang sudah mati dan disalibkan dan kemudian bangkit dan menang atas kematian? Apakah kita termasuk orang-orang beriman yang mau menyalibkan hidup lama yang egosentris dan penuh dosa dan kemudian menempuh hidup baru dalam Kristus? Apakah seperti Yesus kita bisa tabah dalam menghadapi segala tantangan dan selalu ingin untuk memuliakan Tuhan serta memancarkan sinar kasih kepada orang lain? Dengan memahami apa yang dikehendaki Paulus, kita akan memiliki tujuan hidup yang akan memberi motivasi yang benar bagi kita untuk ke gereja.

Hal menjadi marah

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” Kolose 3: 8

Road rage adalah suatu hal yang sudah memakan banyak korban di Australia. Kemarahan pengemudi kendaraan di jalan raya itu memang bisa mengakibatkan kecelakaan lalu lintas atau perkelahian antar pengemudi yang terkadang membawa korban jiwa. Seringkali hal ini dimulai dengan seorang pengemudi yang merasa tersinggung atau marah karena pengemudi lain yang memotong jalannya atau menyerempet mobilnya, dan yang kemudian melampiaskan kemarahannya dengan memaki-maki atau melakukan pembalasan dan tindakan kekerasan lainnya.

Mengapa orang bisa menjadi sangat marah sampai melakukan perbuatan tercela? Biasanya kemarahan yang luar biasa disebabkan oleh harga diri yang terasa diinjak-injak oleh orang lain. Orang mungkin marah karena perlakuan orang lain, tetapi selama mereka tidak merasa tersudut atau sangat terhina, kemarahan itu biasanya dapat diredakan. Sebaliknya, kemarahan yang didasari oleh kesombongan seringkali membuat orang geram dan mata gelap. Dengan demikian dosa terjadi karena munculnya pikiran dan tindakan jahat yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1: 20).

Tidak bolehkan orang Kristen marah? Tentu saja boleh jika itu pada tempatnya, misalnya ketika melihat adanya kejahatan atau ketidakadilan dalam hidup bermasyarakat. Walaupun demikian, kemarahan orang Kristen pada hakikatnya tidak boleh berdasarkan pada kebencian kepada sesama manusia, tetapi kepada kejahatan yang mereka perbuat. Kemarahan yang pantas bukanlah untuk membenarkan diri sendiri, tetapi untuk menegakkan kebenaran.

Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih, tetapi Ia juga Tuhan yang bisa marah kepada umat manusia. Kemarahan yang muncul dalam bentuk yang mengerikan pernah terjadi ketika manusia secara sengaja tidak menghormatiNya sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu. Karena itu, Alkitab menuliskan bagaimana orang-orang yang melawan atau menipu Tuhan mengalami nasib yang menyedihkan. Walaupun demikian, Tuhan tidaklah terus membenci semua orang yang jahat. Kepada mereka yang mau bertobat, pengampunan dan keselamatan juga tersedia untuk mereka.

Sebagai manusia kita memang boleh marah jika itu memang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, kemarahan yang tidak pada tempatnya, yang berlama-lama, yang tidak membawa kebaikan, yang disebabkan oleh kesombongan pribadi, yang mengabaikan hukum kasih, yang tidak berdasarkan kebenaran firman Tuhan, dan yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan adalah kemarahan yang harus kita hindari. Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa Ia mahaadil dan karena itu kita yakin bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya mengambil tindakan yang paling tepat.

“Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.” Mazmur 37: 1 – 2