“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21
Apakah Australia adalah negara Kristen? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Setelah tahun 1788, sejak tentara Inggris membawa orang-orang tahanan ke Australia, jumlah orang yang mengaku Kristen berkembang terus dan mencapai 96.1% pada saat negara Australia bersatu pada tahun 1901. Tetapi, hasil sensus tahun 2016 menunjukkan bahwa hanya 52.1% penduduk Australia sekarang mengaku sebagai orang Kristen.
Australia memang menjamin kebebasan beragama, tetapi tidak mempunyai agama resmi dalam hidup kenegaraan . Australia mempunyai hukum yang secara total memisahkan agama dari pemerintahan. Data dari tahun 2002 menunjukkan bahwa 24% penduduk Australia adalah atheis, walau survei kecil tahun 2009 menunjukkan bahwa 68% penduduk percaya adanya “tuhan” atau “kuasa ilahi”. Sebanyak 49% rakyat Australia saat ini merasa bahwa agama tidak lagi penting dalam kehidupan.
Di banyak negara, adanya Tuhan secara resmi diakui. Bahkan ada negara-negara yang pemerintahannya berdasarkan agama tertentu atau setidaknya berlandaskan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Walaupun demikian, hal itu belum tentu menjamin bahwa negara-negara itu secara kolektif lebih baik dalam hal kesalehan dari negara lain. Memang, soal iman adalah soal pribadi, dan apa yang dipercayai oleh seseorang secara individual biasanya hanya berpengaruh pada hidupnya sendiri.
Ayat diatas ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma 2000 tahun yang lalu, tetapi tetap aktuil untuk zaman sekarang. Betapa tidak? Paulus berkata bahwa sekalipun banyak orang mengenal Tuhan, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Tuhan atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya hidup mereka dibaktikan kepada hal-hal yang sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Memang, sekalipun dalam beberapa negara kepercayaan kepada Tuhan itu digembar-gemborkan atau dipakai sebagai pedoman, itu tidak menjamin bahwa seluruh rakyat mereka mau memuliakan Tuhan dan hidup menurut jalan yang baik.
Kepercayaan kepada adanya Tuhan sebenarnya adalah hal yang sulit untuk dijabarkan. Karena itu ada banyak orang yang merasa kenal akan Tuhan, tetapi sebenarnya tidak demikian. Yang pertama, adanya “tuhan” yang beraneka ragam menurut berbagai kepercayaan, bisa membuat bingung manusia. Manusia dengan demikian mungkin saja berbakti kepada “tuhan” yang ada menurut pengertian, kebiasaan, atau adat-istiadat mereka saja. Kedua, seringkali “tuhan” yang dikenal manusia adalah oknum yang diharapkan untuk bisa memberi kehidupan yang nyaman kepada manusia. Tuhan untuk mereka bukanlah oknum yang mahakuasa dan mahasuci, yang membenci mereka yang merasa saleh tetapi tetap hidup dalam dosa. Dan yang ketiga, Tuhan bagi banyak umat manusia adalah oknum ilahi yang dapat dihampiri manusia dengan cara berbuat amal atau hidup menurut kaidah agama.
Pagi ini, firman Tuhan memperingatkan kita, bahwa kita jika benar-benar mengenal Tuhan, itu adalah karena Tuhan sudah memanggil kita dan memberikan pengertian secara pribadi kepada kita. Tuhan yang benar adalah Oknum yang mahakuasa dan mahasuci yang tidak dapat dicapai oleh usaha manusia sendiri. Hanya melalui darah Kristus, Tuhan dapat melupakan dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Dengan pengampunanNya, kita harus mau mempersilakan Dia untuk mengubah hidup kita; dari hidup lama yang mementingkan diri sendiri, menjadi hidup baru untuk memuliakan Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan yang benar adalah iman dan bukan agama, karena agama diciptakan manusia sedang iman adalah pemberian Tuhan. Karena itu, dalam hidup keKristenan, kita menjalankan firman Tuhan karena sebagai orang-orang yang sudah menerima keselamatan, kita mau memuliakan Tuhan. Perbuatan baik kita adalah tanda bahwa hidup kita sudah diubahNya dan bukanlah usaha untuk mendapatkan keselamatan di surga atau kenyamanan hidup di dunia.
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21
Anda penggemar sosial media seperti Facebook atau WhatsApp? Mungkin anda sering melihat berbagai meme dan slogan yang mendukung persahabatan seperti “Sahabat sejati adalah sahabat di hari tua” dan semacamnya. Sekalipun hanya di dunia maya, nampaknya orang merindukan adanya sahabat yang setia.
Tahukah anda bahwa bukan hanya manusia yang bisa mengalami anxiety atau perasaan kuatir? Anjing saya kemarin seharian tidak berani untuk mendekati dapur sewaktu saya sedang memakai oven yang mengeluarkan bunyi detik terus menerus. Rupanya bunyi aneh yang tidak dipahaminya itu membuatnya sangat takut. Saya merasa kasihan kepada anjing saya yang bodoh itu, tetapi kemudian dalam hati mengakui bahwa saya sendiri dalam hidup ini juga sering merasa kuatir tanpa alasan yang jelas.
Akhir pekan ini cuaca benar- benar kurang baik untuk mereka yang mengunjungi Brisbane dan Gold Coast. Hujan dan angin keras menerpa kota-kota itu sehingga banyak orang yang memilih untuk tinggal di rumah saja. Memang daerah sepanjang pantai terkadang mengalami angin keras (gale) untuk beberapa hari dalam setahun. Yang sekarang terjadi masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan angin keras tahun lalu, yang membuat karam beberapa perahu.
Adakah orang yang mengucapkan terima kasih tanpa sebab? Di dunia barat, ada ungkapan bernada sarkastik “thanks for nothing” atau “terima kasih untuk tidak adanya bantuan” yang diucapkan untuk menyindir orang yang diharapkan untuk membantu, tetapi ternyata tidak membantu sama sekali. Kebalikan dari kata ini, ada ucapan “thanks for everything” atau “terima kasih atas segalanya”, yang bisa dipakai untuk mengucapkan terima kasih atas berbagai macam pemberian yang sulit untuk disebut satu persatu, atau untuk sekedar basa-basi.
Baru-baru ini muncul berita viral dalam sosmed bahwa ada kejadian luar biasa yang muncul di suatu daerah. Berbagai komentar disampaikan, dan sebagian orang menghubungkan peristiwa ini dengan suatu pertanda dari Tuhan. Memang, bagi mereka yang kurang memahami gejala alami, kejadian yang langka seperti ini sering dikaitkan dengan hal yang ilahi. Padahal, kejadian yang dinamakan sun dog ini tidak lain adalah refleksi matahari yang dipantulkan sekelompok awan yang mengandung butir-butir es di angkasa.
Ucapan “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” muncul beberapa kali dalam Alkitab Perjanjian Baru. Tuhan Yesus sendiri agaknya sering mengucapkannya untuk mengingatkan pentingnya apa yang diucapkanNya.
Gempa bumi yang terjadi di berbagai tempat baru-baru ini membuat banyak orang kuatir. Sampai saat ini, sains belum bisa memastikan kapan datangnya gempa dan seberapa besarnya. Manusia mungkin bisa menduga kemungkinan terjadinya berbagai malapetaka dengan mengukur dan menganalisa berbagai data, tetapi apa yang akan terjadi biasanya ada diluar jangkauan pengetahuan mereka.
Membaca berita yang muncul di koran atau di TV pada zaman ini mungkin seringkali membuat kita menghela nafas atau menggelengkan kepala. Bagaimana tidak? Apa yang diberitakan biasanya adalah hal-hal yang jelek dan jahat, sedangkan hal-hal yang baik biasanya kurang ditonjolkan. Lebih dari itu, orang-orang yang dimunculkan dalam berita seringkali adalah mereka yang perbuatan, perkataan dan hidupnya kurang bisa ditiru. Sayang, banyak diantara mereka mengaku atau dikenal sebagai orang Kristen.
Pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sebenarnya sukar untuk dijawab. Secara teologi, pertanyaan ini sudah banyak diperdebatkan. Tetapi, untuk hidup sehari-hari, ada baiknya untuk kita renungkan dan simak.