Mengapa masih sukar untuk menemui Tuhan?

“Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.” Ibrani 10: 19 – 21

Minggu lalu adalah minggu yang menarik bagi seluruh penduduk Australia karena adanya sebuah pergolakan politik yang terjadi. Setelah melalui berbagai kejutan,  seorang Perdana Menteri baru pada akhirnya terpilih. Dengan terpilihnya “ScoMo“, nama julukan dari Scott Morrison, tentunya ada perubahan dalam segi keamanan, yang layaknya harus disediakan untuk pemimpin negara. Sekalipun di Australia rakyat sering bisa menjumpai tokoh-tokoh pemerintahan tanpa harus melalui protokol yang ketat, sesudah menjadi Perdana Menteri tentunya ScoMo akan lebih sukar untuk ditemui.

Kalau untuk menjumpai seorang pemimpin negara tetap mungkin sekalipun tidak mudah, pada zaman sebelum Tuhan Yesus disalibkan bani Israel tidak bisa secara langsung menemui Tuhan di Bait Allah. Tuhan yang memimpin bani Israel secara langsung adalah Allah yang maha suci,  yang tidak dapat didekati oleh manusia yang berdosa.  Bait Allah pada waktu itu terdiri dari tiga bagian. Yang pertama adalah pelataran, dimana ada mezbah untuk korban bakaran, dan juga bejana atau kolam pembasuhan tempat membersihkan diri atau penyucian. Bagian kedua Bait Allah adalah ruang kudus, yang berisi kaki dian bercabang tujuh, meja roti sajian, dan mezbah dupa.  Di ruang kudus ini, hanya imam dan imam besar yang boleh masuk. Sebuah tirai atau tabir memisahkan antara ruang kudus ini dan ruang maha kudus yang merupakan bagian ketiga dari Bait Allah. Dalam ruang maha kudus ada tersimpan Tabut Perjanjian, lambang kehadiran Tuhan, dan juga dua loh batu berisi Sepuluh Hukum Allah yang ditulis oleh Musa. Ruang Maha Kudus ini hanya boleh dimasuki oleh Imam Besar dan orang lain yang masuk ke ruang ini pastilah menemui ajalnya.

Dengan kematian Yesus untuk menebus dosa umat manusia, tirai yang memisahkan ruang kudus dan ruang maha kudus terbelah dua dari atas sampai ke bawah (Matius 27: 51). Karena itu, tidak ada lagi tirai yang memisahkan umat percaya dengan Tuhan. Setiap orang sekarang bisa mendekati Tuhan dan berkomunikasi denganNya setiap waktu, tanpa harus merasa takut bahwa Tuhan akan menolak dan menghukumnya. Dengan demikian, untuk menjumpai Tuhan seharusnya tidak sukar karena Dia ada dimana-mana. Walaupun demikian, dalam hidup ini banyak orang yang masih mengalami kesulitan untuk menjumpai Tuhan, dan juga merasa ragu kalau Dia mau mendengarkan doa mereka.

Sebagian orang Kristen memang masih belum dapat menghargai sepenuhnya apa arti kematian Yesus, yang membuka kesempatan bagi setiap orang percaya untuk menjumpai Tuhan. Bagi mereka, komunikasi dengan Tuhan hanya dilakukan ketika ada keperluan saja. Ketika mereka berada dalam kesulitan dan memerlukan pertolongan, barulah sebuah doa dipanjatkan. Tetapi komunikasi antara Tuhan dan manusia ciptaanNya sudah tentu bukanlah hanya melalui doa yang jarang-jarang. Kematian Yesus adalah harga yang tertinggi yang sudah dibayar untuk pengampunan dosa manusia, dan itu memungkinkan manusia untuk mendekati Tuhan pada setiap saat; untuk memuji Dia, untuk menyembah Dia, untuk merenungkan sabdaNya dan untuk berkomunikasi dengan Dia.

Ada juga orang-orang Kristen yang merasa bahwa Tuhan yang maha suci itu masih bersembunyi di balik sebuah tirai. Untuk menjumpai Tuhan masih terasa sebagai hal yang sulit dilakukan karena adanya dosa-dosa lama yang menghantui pikiran mereka. Mereka mungkin hanya bisa mengharapkan orang lain untuk mewakili mereka. Mereka lupa bahwa Yesus sendiri sudah menjadi Imam Besar untuk semua orang percaya. Yesus yang sudah menebus dosa manusia adalah Imam Besar yang memungkinkan kita mendapatkan pengampunan total akan dosa kita sehingga kita dilayakkan untuk bisa berjumpa dengan Tuhan. Yesus Kristus sendiri adalah Tuhan  yang menerima kita sebagaimana adanya untuk dijadikan umatNya.

Kebalikan dari orang-orang diatas, sebagian lain orang Kristen mungkin merasa yakin bahwa menemui Tuhan itu tidaklah sukar. Bagi mereka, keyakinan akan penebusan Kristus membuat mereka percaya bahwa apapun yang mereka doakan akan dikabulkan Tuhan. Mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan, tetapi karena merasa bahwa Yesus sudah menebus dosa-dosa nereka, tidak mempunyai keinginan untuk memperbaiki cara hidup mereka. Orang-orang semacam ini mungkin tidak merasa bahwa walaupun kita sudah ditebus dari dosa-dosa kita, kita tetaplah manusia yang harus menyadari kedudukan kita di hadapan Tuhan yang maha suci. Sebab hanya dengan kerendahan hati kita dapat menghampiri tahtaNya, bukan dengan keyakinan bahwa kita adalah cukup baik di mata Tuhan (Lukas 18: 13 – 14). Sebab jika kita hidup dalam kebenaran Tuhan, doa kita akan didengarNya (Yakobus 5: 16).

Pagi ini, kita diingatkan bahwa Tuhan senantiasa ingin agar kita dekat kepadaNya. Karena itu, Tuhan sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal di kayu salib agar kita bisa berkomunikasi dengan Dia secara langsung di setiap waktu. Lebih dari itu, Ia ingin agar kita mau berjalan bersamaNya dalam hidup ini, dan Ia sudah memberikan Roh KudusNYa untuk membimbing kita. Kesempatan sudah diberikan kepada setiap umatNya untuk bisa mendekati Dia setiap saat dengan kerendahan hati dan penyerahan, tetapi kita harus mengambil keputusan bagaimana dan bilamana kita mau menggunakan hal itu.

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.” Yudas 1: 20

Hidup ini seperti sebuah pertandingan

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” 1 Korintus 9: 26

Sekarang ini lagi musim lari “fun run” di Indonesia dan banyak orang yang senang untuk berpartisipasi secara “rame-rame” dengan teman dan keluarga. Memang lari itu sehat dan berlari bersama ribuan orang itu membawa kenikmatan tersendiri. Saya pun sebenarnya seorang penggemar fun run, dan tiap tahun di Australia saya biasanya selalu ikut lomba lari half marathon, agar saya mendapat motivasi untuk berolahraga secara teratur.

Sungguh menarik jika kita melihat berbagai ragam orang yang ikut fun run itu. Ada orang-orang yang kelihatannya benar-benar serius dalam mempersiapkan diri, dan bahkan atlet profesional dari berbagai negara. Ada pula yang kelihatannya hanya ikut-ikutan dan memakai pakaian yang aneh dan lucu. Pada saat yang sama semua peserta diberangkatkan, untuk lari melalui jalan-jalan yang sama dan akhirnya memasuki garis finis pada waktu yang berlainan. Tetapi, sekitar 5-10% perserta biasanya tidak mencapai tujuannya karena faktor kesehatan atau kurangnya persiapan.

Pada waktu Rasul Paulus mengabarkan injil di Yunani, olahraga lari memang sangat populer. Begitu juga tinju. Memang, tiap dua tahun sekali atlet-atlet dari seluruh Yunani berkumpul di Korintus untuk bertanding atletik dalam pekan olahraga Isthmus atau Isthmian Games untuk menghormati dewa Poseidon. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa Paulus menggunakan ilustrasi pelari dan petinju untuk menggambarkan hidup orang Kristen.

Mengapa kehidupan orang Kristen dikaitkan dengan kehidupan atlet? Paulus menyebutkan bahwa hal yang penting untuk diperhatikan dalam olahraga adalah tujuan untuk seorang pelari, dan sasaran memukul untuk seorang petinju. Memang untuk memenangkan pertandingan lari, seorang atlet harus tahu kemana dan dimana ia harus berlari dan mempersiapkan diri untuk menghadapi medan yang ada, sedangkan seorang petinju harus memahami bagaimana ia harus menggunakan teknik tinjunya pada lawannya untuk mencapai sasaran.

Hidup orang Kristen adalah seperti hidup seorang atlet. Hidup yang tidak digunakan secara sembarangan, tetapi untuk memuliakan Tuhan. Hidup yang tidak disia-siakan, tetapi hidup untuk menghasilkan berbagai buah kebaikan. Hidup yang tidak dipusatkan pada kebahagiaan duniawi yang sementara, tetapi kepada kebahagiaan surgawi yang kekal.

Seperti seorang atlet, tidaklah mudah bagi orang Kristen untuk bisa mencapai tujuan hidupnya. Seperti seorang atlet, setidaknya ada lima hal yang perlu diperhatikan untuk meraih kemenangan:

  • Tekad
  • Disiplin
  • Belajar
  • Bekerja
  • Menjadi makin baik

Memang semua hal itu tidak mudah dilakukan; karena itu banyak orang Kristen yang merasa cukup menjadi penonton dan bukan atlet. Mereka mungkin ke gereja, tetapi hanya sekedar kebiasaan. Mereka mungkin segan untuk membaca firman Tuhan; atau sekalipun hafal, mereka tidak atau jarang melaksanakannya. Hari demi hari berlalu, tetapi hidup kerohanian mereka tidak pernah berubah.

Seorang pengikut Kristus harus mempunyai tekad yang besar untuk tetap mengikut Dia dalam keadaan apapun. Ia bersedia untuk mendisplinkan diri, dan memilih untuk mau menjalankan perintah Tuhan setiap hari dan setiap saat. Ia mau mempelajari firman Tuhan dan mau belajar dari saudara-saudara seiman. Orang Kristen juga orang yang mau selalu bekerja mempraktikkan imannya untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesamanya. Selain itu, orang Kristen selalu ingin untuk menjadi makin baik dan bersinar dalam segala segi kehidupan.

Pagi ini, panggilan untuk kita semua adalah panggilan untuk menjadi atlet-atlet Tuhan yang benar-benar mempunyai keinginan untuk mencapai kemenangan dalam pergulatan hidup di dunia. Maukah kita?

“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” 1 Korintus 9: 25

Apakah arti pemeliharaan Tuhan itu dan apa pula kehendakNya?

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Hari Jumat kemarin adalah hari yang luar biasa di Australia. Pagi hari itu di parlemen, tiga orang mencalonkan diri sebagai pengganti perdana menteri yang ada. Bukan melalui pemilihan umum, karena sebenarnya perdana menteri yang ada masih mempunyai sisa masa jabatan lebih dari setahun. Di Australia memang pemerintah yang ada bisa mengganti pemimpin negara melalui mosi diantara anggota parlemen dari partai yang berkuasa, untuk memilih pemimpin baru. Mereka yang kurang mengerti akan sistim ini mungkin menganggap ini tidak berbeda dengan “kudeta”. Siang harinya, seorang perdana menteri baru terpilih. Dalam 24 jam, perdana menteri yang lama dan wakilnya kehilangan posisi mereka.

Apakah Tuhan menentukan kejadian diatas? Apakah itu kehendak Tuhan? Begitu sebagian orang bertanya. Memang jika ditimbang dari segi kemahakuasaan Tuhan, tidak ada kejadian di bumi ini yang terjadi tanpa seizin Tuhan. Jelas bahwa pemerintah dimanapun terpilih dengan seizin Tuhan. Sekalipun pemerintah atau pemimpin itu kurang baik, Tuhan mengizinkan itu terjadi menurut rencana pemeliharaanNya (yang disebut providensia). Tetapi, apa yang terjadi belum tentu merupakan kehendakNya.

Memang perdebatan manusia tentang apa yang direncanakan dan apa yang dikehendaki Tuhan sering muncul. Sebagian orang percaya bahwa pemerintah atau pimpinan organisasi apapun terpilih atas kehendak Tuhan. Dan seperti ayat diatas, semua orang harus tunduk kepada pemerintah (authority) yang ada diatasnya. Sebaliknya, ada yang yakin bahwa pemerintah ada karena azas demokrasi yang memberikan kesempatan bagi rakyat untuk secara bebas dan rahasia memilih pemimpin mereka berdasarkan suara terbanyak. Bagi mereka ini, jika pimpinan yang kemudian terpilih ternyata kurang baik adanya, itu adalah akibat pilihan mereka sendiri dan bukan merupakan kehendak Tuhan. Dengan demikian, mereka mungkin berusaha untuk mencari gantinya.

Pertanyaan untuk kita, apakah mungkin seorang pemimpin terpilih walaupun tidak sesuai dengan kehendakNya? Sebelum menjawab pertanyaan itu, mungkin kita harus lebih dulu bertanya, apakah mungkin orang berbuat dosa? Tuhan sudah pasti tidak menghendaki kita untuk berbuat dosa, tetapi jika kita berbuat dosa itu adalah kesalahan kita sendiri. Mengapa Tuhan membiarkan kita berbuat dosa sekalipun itu bertentangan dengan kehendakNya? Karena Tuhan memberikan manusia kesempatan untuk mengenal Dia dan menurut perintahNya. Tuhan dalam kemahakuasaanNya tetap bisa meneruskan rencana pemeliharaan (providensia) -Nya yang sudah ada, dalam keadaan apapun. Providensia Tuhan tidak selalu sama dengan kehendakNya, seperti apa yang terjadi pada bani Israel.

“Israel telah menolak yang baik biarlah musuh mengejar dia! Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 3 – 4

Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bahwa Ia selalu memelihara umatNya dengan memberikan pemeliharaanNya hari demi hari. Sekalipun keadaan disekitar kita terlihat kurang menyenangkan, Tuhan bisa memakainya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkanNya. Dalam hal ini, orang Kristen terpanggil untuk tetap hidup dalam kebenaran dan tunduk kepada hukum dan peraturan yang ada. Sebaliknya, jika apa yang terjadi jelas-jelas tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, umat Kristen terpanggil untuk menjadi terang dunia dengan memberi bimbingan, tauladan serta pengurbanan, dan menegakkan keadilan maupun kebenaran seperti apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus sewaktu Ia ada di dunia. Kita harus bisa selalu mencari kehendakNya dalam bekerja sambil percaya kepada pemeliharaanNya!

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Hal omong kosong dan kabar berantai

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Teringat saya pada kejadian sewaktu saya masih mahasiswa di Surabaya, ketika saya menerima sebuah surat yang ditujukan kepada saya dari seseorang yang tidak mau dikenal. Surat yang tidak mencantumkan alamat pengirimnya itu sudah dapat dipastikan berasal dari seorang yang mengenal saya. Setelah saya buka surat itu, ternyata isinya hanyalah sebuah pesan untuk menyampaikan fotokopi surat itu kepada lima teman saya agar saya tidak mengalami bencana. Surat aneh itu langsung saya robek-robek dan masukkan kedalam tong sampah. Itu hanyalah sebuah surat berantai (chain letter).

Bagi kebanyakan orang yang mempunyai akal sehat, surat berantai bukanlah sesuatu yang menimbulkan masalah, walaupun bisa menimbulkan rasa jengkel kepada si penerima. Surat semacam itu adalah sebuah takhayul, yang hanya dipercayai oleh orang-orang tertentu. Walaupun demikian, setiap orang yang menerima surat semacam itu tentunya tidak merasa senang, sekalipun surat itu menjanjikan keberuntungan bagi mereka yang meneruskannya ke orang lain. Surat semacam itu jelas mengeksploitir kelemahan manusia yang tidak dapat menentukan apa yang akan terjadi di masa depan.

Jika surat berantai sekarang sudah menghilang karena jarangnya orang menulis surat di zaman ini, pesan berantai melalui Whatsapp (WA) masih sering muncul, terutama di antara anggota chat group. Begitu mudahnya bagi seseorang untuk mem- forward – kan pesan dari seseorang kepada banyak orang melalui WA, membuat mereka yang menulis dan meneruskan omong kosong, surat berantai dan hoax merasa bahwa semua itu hanya “soal kecil” saja. Siapa tahu kalau apa yang dikirimkan bisa berguna, begitu dalih mereka. Mungkin mereka tidak sadar bahwa iblis, yang melakukan hal yang serupa kepada Adam dan Hawa di taman Firdaus, tentunya sangat menyukai kecanggihan teknologi zaman now dan kesediaan manusia untuk meniru dia.

Bahwa iblis adalah biang kekacauan dan penipu yang unggul sudah ditulis dalam Alkitab.

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat terang.” 2 Korintus 11: 14

Apa yang ditawarkan dan diperlihatkan dalam sosial media pada zaman sekarang ini seringkali adalah usaha iblis untuk memperlemah iman orang percaya, dan untuk mengalihkan perhatian dan ibadah kita kepada Kristus. Dalam hal ini, Paulus pernah menulis kepada jemaat di Korintus:

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 1 Korintus 11: 3

Pagi ini, ayat pembukaan diatas mencoba mengingatkan kita untuk bisa lebih berhati-hati dalam mengirimkan dan meneruskan berita-berita yang kosong, konyol, palsu, menakutkan dan menyesatkan. Kita harus memusatkan pikiran kita pada semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Dengan demikian, hidup kita dan hidup orang di sekitar kita akan diisi dengan damai sejahtera.

“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 9

Berjaga-jaga bukan berarti berjaga

“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” Matius 24: 42

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ada perbedaan antara kata “berjaga-jaga” dan kata “berjaga”. Perbedaan itu mungkin tipis dan sering diabaikan. Tetapi, agaknya kata “berjaga-jaga” lebih cocok untuk diartikan sebagai “bersiap-siap”, sedang kata “berjaga” berarti “tidak tidur”.

Dalam hal menantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, kata “berjaga-jaga” yang dipakai dalam ayat diatas adalah kata pilihan Yesus. Bukan “berjaga”. Dalam Matius 25: 1- 13, Yesus memberi perumpamaan tentang 10 gadis yang di tengah malam menunggu kedatangan mempelai pria untuk menghadiri perjamuan kawin. Dari kesepuluh gadis itu, lima diantaranya adalah bijaksana karena mereka membawa pelita lengkap dengan minyaknya yang disimpan dalam buli-buli, sedang lima gadis yang lain adalah bodoh karena mereka hanya membawa pelita. Apa yang mereka lakukan selagi menunggu kedatangan mempelai pria? Mereka semuanya tidur, karena memang hari sudah malam. Mereka tidak perlu berjaga. Walaupun begitu, gadis-gadis yang bijaksana sudah berjaga-jaga untuk menyambut kedatangan mempelai pria dan karena itu bisa masuk kedalam ruang perjamuan.

Kedatangan Kristus untuk kedua kalinya adalah seperti yang digambarkan sebagai kedatangan mempelai pria. Banyak orang Kristen yang menantikan hal itu dengan semangat yang luar biasa karena takut tertinggal. Seringkali mereka adalah orang-orang yang lupa diri, dan karena itu mereka selalu berjaga dan bukannya berjaga-jaga. Mereka sering menganalisa segala kejadian, dan berusaha menentukan kapan Yesus akan datang. Sebagian malahan ada yang meninggalkan kegiatan sehari-hari, untuk bisa menunggu kedatangan Yesus sepanjang hari (doomsday cults).

Kejadian-kejadian yang kita alami dalam hidup ini juga sering mereka tafsirkan secara harfiah, seperti apa yang digambarkan oleh Yesus:

“Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat.” Matius 24: 7

Memang dalam Matius 24, Yesus menggambarkan apa yang akan terjadi setelah Ia kembali ke surga, tetapi kebanyakan penafsir Alkitab menulis bahwa apa yang diucapkan Yesus di bukit Zaitun ini bukanlah tanda-tanda akhir zaman, tetapi apa yang akan terjadi (dan sudah terjadi sekarang) pada bangsa Israel. Ini bukan berarti bahwa hal-hal yang menakutkan itu tidak bisa mengawali kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, tetapi itu tidak harus demikian karena tidak ada seorang pun yang bisa menerka kapan Yesus akan datang lagi.

Apa yang jelas bagi kita adalah bahwa Yesus akan datang pada suatu saat yang tidak terduga, dan itu mungkin saja terjadi pada saat kita masih hidup di dunia. Karena penekanan pada hal-hal yang menakutkan seperti yang tertulis dalam Matius 24, sebagian orang Kristen menjadi gelisah dan bingung, dan bahkan meninggalkan kewajiban untuk terus mengabarkan injil keselamatan kepada dunia. Mereka tidak henti-hentinya berusaha mempelajari keadaan dunia untuk menerka-nerka saat kedatangan Yesus. Tetapi ini bukanlah barang baru. Kepada umat Kristen pada zamannya, Rasul Paulus menulis:

“Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba.” 2 Tesalonika 2: 1 – 2

Pagi ini kita harus sadar bahwa dalam hidup kita sekarang ini, kita tidak perlu berjaga untuk menantikan kedatangan Kristus dengan menganalisa berbagai kabar buruk di dunia. Sebaliknya, karena kita sadar bahwa Yesus bisa datang kapanpun juga, kita harus berjaga-jaga dengan makin giat mempelajari dan melaksanakan firmanNya. Lebih dari itu, kita harus tetap mau memberitakan injil keselamatan (kabar baik) kepada semua bangsa selagi kesempatan masih ada.

“Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa; sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.” Mazmur 57: 9 – 10

Apakah Tuhan peduli akan sakit kita?

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Sudah tiga bulan ini saya menderita rasa sakit pada pundak saya yang sebelah kanan. Karena itu saya sementara ini tidak bisa menggunakan tangan kanan saya untuk mengangkat barang belanja atau beban berat lainnya. Ultrasound menunjuk pada sobeknya otot penghubung bahu dan lengan saya sepanjang 1,75 cm. Cedera yang dialami sewaktu berolahraga itu membuat saya berpikir dan merenung, kalau-kalau itu adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada saya. Kalau betul demikian, untuk apa?

Memang soal sakit, semua orang pernah mengalaminya. Itu adalah bagian hidup di dunia. Walaupun demikian, orang baru memikirkannya secara sungguh-sungguh ketika ia sudah jatuh sakit. Pertanyaan “mengapa aku” atau “why me” mungkin muncul disertai dengan rasa kuatir. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, itu mungkin bisa menjadi permulaan dari permohonan dan doa yang khusyuk dan khusus untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Walaupun begitu, sering juga timbul keraguan apakah Tuhan akan menolong.

Rasul Paulus juga pernah mengalami kejadian serupa. Dalam 2 Korintus 12: 7 -8 ia menulis bahwa Tuhan memberinya suatu “duri di dalam daging”, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh dia, supaya dia jangan meninggikan diri. Tentang hal itu rasul Paulus sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu diusir, tetapi hal itu tidak terjadi. Paulus sadar bahwa dibalik sakitnya, Tuhan mempunyai rencana yang tersendiri. Tuhan memang bisa mengijinkan hal yang jelek terjadi atas diri kita agar kita tetap dekat kepadaNya.

Memang rasa sakit dan penyakit adalah bagian hidup di dunia yang penuh dosa. Tetapi, pada pihak yang lain, hal-hal sedemikian bisa membimbing kita agar kita tidak hidup “ugal-ugalan”. Supaya kita mau berusaha untuk menghindari bahaya dan penyakit, dan sadar bahwa sebagai manusia kita adalah lemah dan harus bergantung kepada pemeliharaan Tuhan.

Setiap manusia bisa mengalami sakit, baik itu sakit jasmani ataupun sakit rohani. Pada abad-abad berselang, sakit jasmani mungkin dianggap lumrah sedangkan sakit rohani seperti depresi dan penyakit kejiwaan lainnya dianggap seperti “aib” yang harus disembunyikan. Tetapi, di zaman sekarang orang mulai mengerti bahwa baik sakit jasmani maupun rohani bisa terjadi pada siapapun juga. Mereka yang sehat jasmaninya bisa sakit jiwanya, dan mereka yang sakit jasmaninya bisa sehat secara rohani.

Dari ayat diatas, kita bisa membaca bahwa Yesus sebagai Tuhan yang pernah menjadi manusia bisa merasakan segala kelemahan-kelemahan kita, dan bahkan sama dengan kita, Ia pernah dicobai. Bahkan, dalam penderitaanNya sewaktu disalibkan di bukit Golgota, Ia sampai berseru memanggil Allah BapaNya. Jeritan Yesus itu terjadi karena Ia sangat menderita secara jasmani maupun rohani, sebab Ia mewakili manusia yang seharusnya mati karena dosa mereka.

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Markus 15: 34

Pagi ini, jika kita merasakan hidup ini adalah terlalu berat untuk kita jalani karena beban jasmani ataupun rohani, biarlah kita ingat bahwa Tuhan Yesus tahu apa yang kita rasakan dan mengerti bagaimana kita menderita karenanya. Yesus yang sudah menebus dosa kita adalah Tuhan yang mengasihi kita dan tidak akan meninggalkan kita, karena Ia tahu bagaimana rasanya bagi kita jika Tuhan terasa jauh. Biarlah kita semua bisa dikuatkan olehNya dalam keadaan apapun, supaya kemuliaan Yesus bisa terlihat dalam hidup kita.

“Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” 2 Korintus 4: 11

Hidupku bukanlah milikku

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” 1 Korintus 6: 19

Tahukah anda bahwa di zaman modern ini masih ada beberapa negara dimana adat “membeli” seorang istri masih dipraktikkan dalam masyarakat? Di negara-negara itu, seorang calon istri mungkin dihargai dengan 50 ekor lembu atau 100 ekor babi; dan jika harga itu diterima, sang istri kemudian menjadi milik suami sepenuhnya, seperti halnya lembu atau babi yang sebelumnya menjadi milik suami.

Bolehkah seorang manusia membeli sesamanya untuk dijadikan harta miliknya? Tentu saja tidak! Kita masih ingat bahwa pada beberapa abad yang lalu, perbudakan dalam segala bentuknya ada di dunia. Hanya melalui perjuangan yang berat, sistim perbudakan yang kejam itu bisa dilenyapkan. Semua manusia adalah sama derajatnya, dan karena itu perbudakan antar manusia dengan segala bentuknya harus dihilangkan.

Alkitab yang menceritakan kehidupan manusia ribuan tahun yang lalu juga mempunyai berbagai ayat yang menyebutkan adanya hamba atau budak. Ada hamba yang baik, ada hamba yang jahat. Demikian pula ada tuan atau majikan yang baik, dan ada yang kejam dan jahat. Tetapi, Alkitab menyebutkan bahwa dalam Kristus semua manusia adalah sama, karena mereka semuanya adalah orang-orang yang sudah dilepaskan dari perhambaan dosa.

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3: 27 – 28

Tuhan yang mahakuasa telah mengirimkan AnakNya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa yang membawa kepada kebinasaan, agar bisa kembali menjadi milikNya. Hanya dengan membayar harga tertinggi untuk manusia, yaitu melalui darah Kristus, Tuhan yang mahasuci bisa mengampuni manusia yang seharusnya masuk kedalam neraka. Dengan membeli manusia dengan harga tertinggi, iblis dan jerat mautnya sudah dikalahkan, dan mereka yang percaya kemudian menjadi milik Tuhan sepenuhnya.

Bagi sebagian orang, menjadi milik Tuhan adalah suatu bentuk perhambaan yang tidak banyak berbeda dari perbudakan antar manusia. Mereka merasa bahwa menaati perintah Tuhan adalah menghilangkan kebebasan mereka untuk bisa berbuat apa yang mereka kehendaki. Mereka ingin untuk menjadi majikan dan pemilik dari hidup mereka. Mereka tidak menyadari bahwa dengan menolak menjadi milik atau hamba Tuhan, mereka membiarkan hidup mereka dikuasai oleh berbagai hal, seperti harta, pekerjaan, kesuksesan, obat-obatan, sex dan sebagainya. Selain itu, banyak juga manusia yang menjadi hamba orang lain, yang dipuja dan didewakan. Mereka sudah menjadi hamba dosa.

Pagi ini kita harus sadar bahwa sebagai Sang Pencipta, Tuhan adalah pemilik alam semesta tanpa perkecualian. Itu adalah kenyataan yang tidak dapat ditolak manusia. Walaupun demikian, dengan kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa, manusia kemudian menjadi hamba dosa yang akan membawa kematian jika Tuhan tidak bertindak untuk menyelamatkan manusia yang percaya kepadaNya. Dengan demikian, mereka yang menolak untuk menjadi hamba Tuhan dan memilih untuk tetap hidup dalam dosa berarti menolak kasihNya dan rencana keselamatanNya. Mereka yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat adalah orang-orang merdeka yang percaya bahwa Tuhanlah pemilik hidup mereka, dan karena itu selalu ingin hidup dalam ketaatan kepada firman Tuhan. Maukah kita menjadi milik Tuhan?

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2: 16

Tuhan sebagai pendidik

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5 – 6

Sebagai seorang dosen, minggu-minggu mendatang adalah minggu-minggu yang sibuk, karena tugas-tugas murid saya yang sudah diserahkan, harus dikoreksi. Bagi saya pekerjaan memeriksa tugas murid adalah hal yang membosankan, tapi harus dijalankan. Memang salah satu tugas seorang dosen adalah memberi tes dan ujian kepada murid-muridnya agar mereka bisa memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam karir dan masa depan mereka.

Bagi para murid, adanya tugas dan ujian merupakan hal yang tidak menyenangkan. Tidak hanya mereka harus mempelajari semua teori yang sudah diajarkan, mereka juga harus memakainya untuk menyelesaikan tugas dan ujian mereka. Semua itu adalah tantangan untuk bisa mencapai hidup yang baik di masa depan. Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan, begitu kata orang yang bijaksana.

Dengan contoh diatas, kehidupan orang Kristen juga bisa dibayangkan seperti kehidupan murid sekolah atau mahasiswa. Seperti tidak ada murid yang tidak menghadapi ujian untuk bisa lulus, begitu juga dalam hidup ini, kita harus menghadapi berbagai ujian agar kita bisa menjadi orang Kristen yang dewasa dan teguh beriman.

Memang ada banyak orang Kristen yang mengajarkan bahwa hidup anak-anak Tuhan seharusnya penuh kebahagiaan dan berkat, tetapi pandangan semacam itu adalah serupa dengan seorang murid yang mendapat sebuah ijazah untuk tidak belajar. Sesuatu yang tidak masuk di akal, dan sesuatu yang tidak bisa dibenarkan.

Walaupun demikian, di dunia ini memang ada orang-orang yang mengaku sebagai sarjana ini dan itu, tetapi hanya bermodalkan ijazah palsu. Demikian juga ada orang yang mengaku orang Kristen, tetapi dari hidupnya terlihat bahwa ia belum pernah mendapat didikan Tuhan dan bahkan mungkin belum mengenal Tuhan.

Dari kemampuan seorang pekerja perusahaan dalam menghadapi persoalan kita bisa melihat pengetahuan dan pengalamannya. Begitu juga dengan melihat bagaimana orang Kristen menghadapi tantangan kehidupan, kita bisa melihat pengetahuan dan pengalamannya dalam hal menjadi pekerja Tuhan.

Memang menjadi pengikut Tuhan tidak hanya harus mengenal Dia dan firmanNya, tetapi harus juga bisa melaksanakannya. Karena iblis pun mengenal siapa Tuhan itu dan tahu setiap ayat dalam Alkitab, tetapi ia tidak pernah mau melaksanakan firman Tuhan. Dengan demikian, mereka yang mengaku sebagai anak Tuhan tetapi tidak mau atau tidak bersedia menghadapi kesukaran dalam hidup, belumlah sadar bahwa Tuhan sebagai Bapa adalah Tuhan yang mendidik semua anak-anakNya untuk bisa kuat menghadapi semua ujian kehidupan.

Pagi ini, jika kita merasa bahwa hidup kita sangat berat dan seakan Tuhan jauh dari kita, biarlah kita boleh sadar bahwa Tuhan tidak pernah melupakan atau mengalihkan pandangan mataNya dari semua anak-anakNya. Karena adanya Bapa yang mau mendidik kita untuk menjadi dewasa dalam iman, kita harus menghadapi berbagai ganjaran dalam hidup, agar makin hari kita makin dekat kepadaNya.

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Mujizat apa yang masih dicari?

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.” 2 Tesalonika 2: 9 – 10

Setiap hari, jika kita membaca berbagai media, kita bisa menjumpai banyak berita yang menunjukkan adanya berbagai penderitaan yang dialami manusia. Hati kita mungkin menjadi sedih jika kita membayangkan bahwa banyak diantara mereka yang tidak dapat memperoleh pertolongan baik untuk kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani.

Pada pihak yang lain, dalam media kita juga menemui berbagai kabar baik tentang adanya berbagai organisasi yang bisa membantu mereka yang menderita, bermacam obat yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, dan juga berbagai keajaiban yang terjadi dalam hidup manusia. Kita harus bersyukur bahwa dalam keadaan yang buruk bagaimanapun, kita bisa melihat Tuhan masih tetap bekerja baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk menolong mereka yang menderita.

Memang kebutuhan manusia itu berbagai ragam adanya, dan sekalipun mereka yang kaya-raya tetap juga mempunyai berbagai hal yang masih mereka cari. Seringkali, dalam usaha untuk mencari apa yang sangat diperlukannya, manusia mengalami jalan buntu dan karena itu hanya bisa berharap akan adanya mujizat. Sebagian menemukan “miracle” yang terjadi melalui datangnya pertolongan yang tidak disangka, melalui pengobatan yang tidak tradisionil, maupun kejadian-kejadian yang tidak bisa diterima dengan pikiran sehat manusia. Dan jika itu terjadi, manusia mungkin bisa merasakan adanya keajaiban atau faktor keberuntungan.

Mereka yang selalu mengharapkan datangnya sesuatu yang luar biasa, seringkali terperangkap dalam hal-hal yang nampaknya spektakuler namun sebenarnya hanya sekedar bayangan atau impian saja. Karena harapan yang terlalu besar, apapun yang muncul lebih mudah diterima sebagai manifestasi apa yang mereka inginkan. Serupa dengan efek plasebo dalam ilmu obat-obatan, apa yang mereka alami, baik dalam hal jasmani ataupun rohani hanyalah semu dan bersifat sementara saja.

Mengapa orang Kristen bisa jatuh kedalam jerat mujizat dan keajaiban palsu? Itu pada umumnya disebabkan oleh fokus kehidupan sehari-hari. Mereka yang memusatkan perhatian pada kekayaan, mengharapkan Tuhan membuat mujizat dalam hal harta dan kesuksesan. Mereka yang selalu memikirkan hal kesehatan, mudah terperangkap dalam hal kesembuhan ilahi. Dengan demikian pandangan mata rohani mereka menjadi sangat terbatas kemampuannya. Bagi mereka, Tuhan hanya ada karena adanya mujizat yang bisa mereka lihat atau alami.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita bahwa iblis adalah oknum yang pintar. Iblis bisa memanfaatkan kelemahan manusia yang selalu bergantung pada mujizat, dengan membuat berbagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dan dengan rupa-rupa tipu daya jahat. Tipu daya iblis pasti berhasil jika ada orang-orang yang tidak sadar bahwa mereka sudah menerima keajaiban terbesar yang sudah ditawarkan oleh Yesus Kristus, yaitu keselamatan jiwa mereka. Mereka yang tidak mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka, akan tetap tinggal dalam kebodohan mereka dan menerima apa yang tidak ada gunanya di hadapan kemuliaan Tuhan. Kita harus sadar bahwa sekalipun kita tidak melihat tanda-tanda ajaib dengan mata anda, keajaiban yang terbesar sudah terjadi pada diri kita. Karena itu,

  • Iman kita tidak berlandaskan pada mujizat, tetapi berlandaskan pada Yesus.
  • Kita tidak mencari mujizat, tetapi mencari kehendak Tuhan.
  • Kita tidak memuliakan mujizat, tetapi memuliakan Tuhan.
  • Kita tidak memasyhurkan mujizat, tetapi memasyhurkan nama Tuhan.

Sekali merdeka, tetap merdeka!

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Galatia 5: 1

Sekali merdeka, tetap merdeka! Begitulah semboyan yang kita kenal sejak lama di Indonesia, terutama pada saat kita merayakan hari kemerdekaan bangsa dari penjajahan.

Kemerdekaan (freedom) adalah sebuah hal yang didambakan setiap manusia di dunia, dimanapun mereka berada. Untuk menjadi merdeka (free) orang mungkin mau membayar harga apapun, dan bahkan bersedia berjuang sampai mati.

Memang Tuhan dari mulanya sudah memberikan kemerdekaan kepada manusia ciptaanNya di taman Firdaus, dan dengan itu setiap manusia mengerti perlunya hal itu.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas..” Kejadian 2: 16

Tuhan memberikan taman Firdaus kepada Adam dan Hawa untuk tempat hidup mereka, agar mereka bisa menjadi “manager“, yang mengusahakan dan memelihara taman itu. Mereka bebas untuk menjalani hidup mereka dan boleh memakan buah apa saja, kecuali buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

“..tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 17

Jelas bahwa sekalipun kemerdekaan itu adalah hak azasi manusia, dengan kemerdekaan ada kewajiban dan batasan. Sayang sekali, karena Adam dan Hawa melanggar batasan itu, mereka kehilangan kemerdekaan mereka dan jatuh kedalam belenggu dosa. Oleh karena itu juga, semua manusia adalah mahluk yang berdosa sejak dilahirkan. Dengan demikian, tak ada satu manusia pun yang bisa bebas dari hukuman dosa, yaitu kematian abadi, jika Yesus Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus dosa manusia.

Sebagai umat Kristen, kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa, dan menjadi manusia merdeka, seperti keadaan Adam dan Hawa pada mulanya. Harga kemerdekaan kita tidak mungkin terbayar oleh usaha kita sendiri. Harga yang termahal itu sudah dibayar oleh Tuhan, dengan mengurbankan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus.

Sekali merdeka, tetap merdeka! Itu adalah harapan kita. Kita harus bersyukur bahwa dengan adanya satu pengurbanan yang sempurna, semua dosa kita sudah diampuni Tuhan. Dengan kemerdekaan itu, kita harus ingat bahwa tidak ada kemerdekaan yang tidak berkaitan dengan tanggung jawab dan kewajiban untuk mempertahankannya. Karena setiap orang yang sudah merdeka, bisa jatuh lagi kedalam perhambaan dan kehilangan kemerdekaannya, jika tidak berhati-hati dalam hidup dan tingkah lakunya.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa hidup sebagai manusia yang merdeka bukanlah berarti bahwa kita bisa dan boleh berbuat apa saja yang kita sukai. Kemerdekaan yang benar adalah kemerdekaan dalam batas-batas hukum yang ada. Kemerdekaan yang tanpa batas adalah sebuah anarki. Bagi kita umat Kristen, segala hukum yang ada bisa disimpulkan dalam dua hukum yang terutama, yaitu untuk menghormati Tuhan dan mengasihi sesama kita.

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13