Jadilah penjala manusia

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Matius 4: 19

Kemarin pagi, selagi saya berjalan menyusuri pantai Broadwater di Gold Coast saya melihat pemandangan yang menarik. Ratusan burung camar dan bangau bakau berlomba terbang dan terjun ke laut untuk menangkap ikan. Kelompok ikan yang kebetulan berenang dalam jumlah besar disepanjang pantai itu merupakan makanan empuk untuk burung-burung liar yang kelaparan itu.

Apa yang saya lihat kemarin sering terjadi di danau Galilea yang dihuni banyak burung camar dan berbagai burung pemakan ikan lainnya. Israel adalah tempat dimana berbagai burung yang melakukan migrasi tahunan dari negara lain berkumpul pada musim tertentu di danau-danaunya. Mungkin saja pada saat Yesus masih di dunia, burung-burung itu sudah bersaing dengan para nelayan dalam hal menangkap ikan, seperti apa yang terjadi sekarang.

Ketika itu Yesus sedang berjalan menyusur danau itu, dan Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus kemudian mengajak mereka berdua untuk mengikut Dia dan meninggalkan pekerjaan mereka, untuk menjadi penjala manusia. Dan keduanya, tanpa membantah, menuruti ajakan Yesus!

Seperti apa yang dikatakan Yesus kepada Simon dan Andreas pada waktu itu, ajakan untuk menjadi penjala manusia masih tetap dikumandangkanNya kepada setiap orang percaya. Yesus sebelum meninggalkan dunia ini berkata:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Menjadi penjala orang, menarik manusia kepada Kristus adalah tugas yang sangat penting, yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mengaku pengikutNya. Di dunia ini masih banyak orang yang perlu diperkenalkan kepada Injil keselamatan, agar mereka mau menerima Yesus sebagai Juruselamat. Yesus adalah satu-satunya jalan, dan itu harus diberitakan agar bukan diri kita saja yang memperoleh keselamatan.

Memberitakan Injil bukan hanya berarti menjadi penginjil dan pendeta, tetapi juga bisa berarti menjadi orang-orang yang mau mengamalkan firman Tuhan dalam hidup mereka, sehingga orang lain bisa mengenal Tuhan yang hidup dalam hati mereka. Memberitakan firman tidak hanya melalui mimbar, tetapi di zaman ini bisa melalui berbagai media, pendekatan dan cara.

Sewaktu Simon dan Andreas masih menjala ikan, burung-burung liar bersaing dengan mereka. Sebagai penjala manusia, mereka kemudian mendapat saingan dan bahkan musuh berbahaya yang berusaha mencuri kabar keselamatan yang mereka sampaikan, bagaikan burung-burung liar yang mencuri benih yang ditaburkan (Matius 13: 3 – 4).

“Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.” Matius 13: 19

Pagi ini kita diingatkan untuk bisa menjadi penjala manusia dimanapun kita berada. Kita juga diingatkan bahwa kita akan bersaing dengan iblis yang berusaha untuk mencuri perhatian manusia dan membuat mereka melupakan firman Tuhan yang sudah ditaburkan.

Adakah perasaan belas kasihan dalam hati kita, ketika melihat begitu banyak orang disekitar kita, dan bahkan sanak keluarga, yang belum benar-benar menerima hidup baru didalam Kristus? Bahwa mereka akan akhirnya menemui kebinasaan? Yesus sudah memanggil kita: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Maukah kita menjawab dengan “ya”?

Apa rencanamu?

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13 – 14

Hari kemarin adalah hari berkabung. Seorang teman sejawat yang kantornya bersebelahan dengan kantor saya meninggal dunia. Sedih memang, karena kejadian itu tidak disangka. Minggu lalu beliau masih bekerja seperti biasa, hari Senin di awal minggu ini masuk ke rumah sakit untuk dioperasi; tetapi belum itu sempat dilakukan, beliau meninggal sewaktu tidur.

Buat banyak orang, meninggalnya seorang teman atau sanak adalah hal yang membawa kesedihan. Tetapi, untuk orang Kristen hal yang benar-benar menyedihkan adalah jika orang yang dikenalnya meninggalkan dunia ini tanpa mengenal Yesus sebagai Juruselamatnya. Mengapa begitu? Karena mereka tidak mungkin berjumpa lagi untuk selamanya. Perpisahan itu adalah perpisahan yang abadi.

Walaupun hal meninggalkan dunia ini adalah bagian dari kenyataan hidup, sebagian besar manusia tidak mau memikirkannya. Mungkin karena kematian adalah hal yang menakutkan, karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi sesudah itu.

Sebaliknya, bagi umat Kristen kematian seharusnya disambut dengan sukacita; karena dengan itu, kesempatan untuk bertemu dengan Tuhan akan menjadi kenyataan. Tetapi, tidak semua orang Kristen bisa berpikir seperti Paulus yang menerima hidup sebagai pengabdian untuk Kristus dan kematian sebagai keuntungan.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1: 21

Bagi kebanyakan orang, termasuk orang Kristen, hidup justru kesempatan untuk mencari untung. Untuk memperoleh kesuksesan, kekayaan, kepandaian, kenikmatan dan berbagai kenyamanan pribadi. Mumpung bisa, selagi masih hidup. Mereka lebih suka memikirkan hal-hal duniawi daripada memikirkan hal-hal surgawi. Padahal Yesus pernah berkata bahwa adalah lebih baik jika kita mengumpulkan harta di surga.

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 19 – 20

Memang sepandai-pandainya manusia, ia tidak berarti di hadapan Tuhan. Mereka yang merasa bijak dengan menggunakan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mencari keuntungan duniawi, adalah orang-orang bodoh yang tidak mengerti bahwa Tuhanlah yang akhirnya menentukan apa yang akan terjadi pada hidup mereka. Ayat pembukaan diatas menggambarkan hidup manusia yang seperti uap, tiba-tiba bisa lenyap.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk jangan terlena dalam hidup ini. Jangan sampai pandangan hidup kita dipusatkan pada hal mencari keberhasilan di dunia, seperti yang diajarkan oleh banyak motivator dan ditunjukkan oleh beberapa pemuka agama kaliber dunia. Sungguh menyedihkan kalau itu terjadi dalam hidup orang Kristen.

Apa yang seharusnya kita lakukan? Bukankah sebagai orang beriman kita harus memberi teladan kepada masyarakat di sekeliling kita dengan hidup kita? Benar! Memang setiap orang Kristen harus mempunyai rencana yang baik dan bekerja keras dalam hidupnya, tetapi itu haruslah disesuaikan dengan kehendak Tuhan dan dipakai untuk kemuliaanNya.

“Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Manusia berusaha, Tuhan menentukan

“Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya” Efesus 1: 11

God is in control. Ungkapan ini sering kita dengar, tetapi tidak dapat diterjemahkan secara tepat dan singkat kedalam bahasa Indonesia. Mungkin ada yang mengartikan “Tuhan yang menentukan” , “Tuhan yang berkuasa” atau “Kehendak Tuhan jadilah” ; tetapi semua itu tidak sama dengan “Tuhan yang memegang kemudi”.

Dalam kehidupan, manusia berusaha; tetapi Tuhan yang mempunyai rencana, akan mewujudkan rencana itu. Kehendak Tuhanlah yang pada akhirnya terjadi, sekalipun manusia melakukan apa saja yang diingininya. Manusia dengan akal budinya bekerja dan menempuh perjalanan hidup yang berliku-liku, tetapi Tuhan bisa mengakomodasi semua apa yang terjadi untuk mewujudkan semua kehendakNya.

Banyak orang yang dengan mudah berkata bahwa apapun yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Tuhan. Tetapi, sekalipun maksudnya baik, ucapan itu tidak selalu tepat. Manusia sebagai ciptaan Tuhan bisa berbuat apa saja, tetapi belum tentu apa yang diperbuat mereka sesuai dengan kehendak Tuhan. Karena itu adalah dosa, jika manusia berjalan menurut jalannya sendiri. Tetapi, ayat diatas menunjukkan bahwa Tuhan yang mahakasih mempunyai rencana yang memungkinkan orang yang percaya kepadaNya untuk bisa pada akhirnya menerima keselamatan melalui darah Yesus, sesuai dengan kehendakNya dari semula.

Seperti apa yang terjadi dalam hidup rohani kita, apa yang terjadi dalam hidup jasmani kita dan juga apa yang terjadi di dunia, belum tentu indah. Manusia bisa jatuh sakit, entah itu karena pembawaan atau kelalaian, tetapi kehendak Tuhan yang mahakuasa pasti terjadi pada akhirnya. Malapetaka bisa terjadi di dunia yang sudah jatuh dalam dosa, baik karena kebodohan manusia maupun hukum alam, tetapi Ia jugalah yang memegang kemudi, dan pada akhirnya mencapai apa yang direncanakanNya.

Apa yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari seringkali membuat kita merenung. Apakah hal ini dan hal itu adalah kehendak Tuhan? Sebagai manusia kita mungkin tidak dapat memperoleh jawaban yang memuaskan. Apa yang dipikirkan manusia tidaklah sama dengan apa yang dipikirkan Tuhan. Kehendak Tuhan seringkali tidak terjangkau oleh pikiran manusia. Walaupun demikian, setiap orang beriman harus tetap setia untuk berkomunikasi dengan Tuhan untuk mencari kehendakNya. Hidup kita akan berjalan lebih lancar jika kita mengerti dan menuruti apa yang dikehendaki Tuhan.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa hidup di dunia ini adalah seperti perjalanan sebuah perahu. Kita mungkin ingin mengemudikan perahu itu karena merasa paham dan sanggup. Kita mungkin ingin mengabaikan rambu-rambu Tuhan dalam perjalanan, karena itu seolah cara yang cepat dan tepat untuk mencapai tujuan. Tetapi apa yang kita lakukan selalu membawa akibat dan resiko yang harus kita tanggung sendiri. Karena itu, adalah bijaksana jika kita selalu menuruti apa yang dikehendaki Tuhan dan membiarkan Dia memegang kemudi kehidupan kita, sebab kehendak Tuhanlah yang pada akhirnya terjadi.

“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5: 17

Keselamatan kita dijamin Tuhan

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.” 1 Petrus 1: 3 – 5

Pernahkah anda mengalami kesulitan besar dalam hidup anda, sedemikian rupa sehingga anda merasa bahwa hidup ini terlalu sulit untuk ditempuh dan barangkali lebih enak kalau anda bisa ke surga sekarang juga? Mungkin anda belum pernah mengalami perasaan semacam ini. Walaupun demikian, setiap hari di dunia ini ada banyak orang Kristen yang membandingkan pilihan untuk terus hidup dalam perjuaangan dan penderitaan di dunia, dengan kesempatan untuk ke surga. Rasul Paulus pun pernah membandingkan hal hidup dan mati baginya.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Filipi 1: 21 – 22

Sudah tentu Paulus tidak bisa menentukan kapan ia akan dipanggil ke surga; karena itu, ia memutuskan bahwa selama masih hidup, ia akan berjuang untuk memuliakan nama Tuhan.

Memang, adalah baik jika kita bisa seperti Paulus, tetap kuat menghadapi hidup di dunia ini. Tetap bisa memakai kesempatan apapun untuk melayani Tuhan dan sesama. Tetapi, ada kalanya hidup ini sangat berat dan kita merasa lelah dan berputus asa.

Mungkin kita tidak bisa membayangkan bagaimana dalam perjuangan hidupnya, Paulus bisa tetap bisa tabah dalam iman dan yakin bahwa ia akan bisa menerima keselamatan. Banyak umat Kristen yang menjadi ragu untuk keselamatan yang dijanjikan Tuhan, bukan karena kuatir bahwa Tuhan akan melupakan janjiNya, tetapi karena keraguan apakah mereka tetap bisa hidup bertahan menghadapi segala persoalan. Hidup memang bisa menjadi sangat berat, dan jika Tuhan tidak menolong mereka, bagaimana mereka bisa bertahan dalam iman dan tetap diselamatkan?

Ayat-ayat pembukaan diatas adalah tulisan rasul Petrus yang ditujukan kepada jemaat Kristen di beberapa tempat yang mengalami berbagai pencobaan. Petrus menulis bahwa Yesus Kristus dengan kasihNya yang besar, melalui kematian dan kebangkitanNya, akan membawa kita kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima hidup yang kekal. Petrus lebih lanjut menulis bahwa kita akan dipelihara Allah karena iman kita sementara kita menantikan keselamatan yang telah tersedia.

Pagi ini, jika kita meragukan apakah keselamatan itu akan tetap tersedia untuk kita karena hidup kita saat ini bagaikan perahu yang diombang-ambingkan ombak, firmanNya berkata bahwa Tuhanlah yang akan memelihara kita. Iman bukanlah hasil jerih payah kita; iman berasal dari Tuhan yang sudah diberikan kepada kita, besar ataupun kecil, menurut ukuran yang sesuai dengan kehendakNya (Roma 12: 3). Selama kita tetap berpegang pada iman itu, Tuhan akan memelihara dan melindungi kita sehingga keselamatan itu tidak bisa lenyap. Tuhan tidak berjanji untuk menghilangkan ombak kehidupan kita, tetapi Ia berjanji untuk memelihara kita sampai akhir zaman!

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” 1 Petrus 1: 6

Bukan hanya bermanis-manis di bibir

“Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” Keluaran 20: 7

Di zaman ini, orang agaknya bisa mendengar nama Tuhan disebut-sebut dalam pergaulan sehari-hari dan bahkan juga dalam pidato-pidato para pejabat. Memang dalam kehidupan sehari-hari, nama Tuhan dikaitkan dengan berkat dan kuasaNya. Karena itu, menyebut-nyebut nama Tuhan mungkin bisa membawa kesan baik dalam hubungan antar umat manusia yang mengakui adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih.

Sering kita mendengar orang yang dengan kesungguhan berkata “Tuhan memberkati kamu” atau “semoga Tuhan menyertaimu”. Bisa juga diucapkan “semoga Tuhan membalas kebaikanmu berlipat ganda” atau “puji nama Tuhan”. Dalam sosial media, kita sering pula menjumpai meme yang menyebut-nyebut nama Tuhan, atau pesan-pesan yang diakhiri dengan singkatan “GBU” atau “YLU”. Tetapi selain itu ada orang-orang yang sepertinya “latah”, yang menyatakan rasa terkejut atau heran, dan bahkan memaki, dengan memanggil nama Tuhan. Di negara barat malahan acara komedi dewasa (adult comedy) sering berisi kata-kata kotor dan lelucon yang menyebut-nyebut nama Tuhan.

Ayat diatas adalah bagian yang ketiga dari sepuluh hukum Tuhan yang diterima oleh Musa untuk ditaati bani Israel. Dengan adanya kedua hukum kasih dari Tuhan Yesus (Matius 22: 36 – 40), banyak orang Kristen yang sekarang merasa bahwa sepuluh hukum Taurat itu sudah tidak berlaku, atau tidak penting lagi untuk dibahas. Tetapi itu tidak dapat dibenarkan. Yesus berkata bahwa Ia datang ke dunia bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (Matius 5: 17).

Jelas bahwa kita tetap harus berusaha untuk tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan seperti yang ditulis dalam kesepuluh hukum Tuhan yang dinyatakan kepada Musa. Tetapi apa yang dimaksud dengan kata “sembarangan” itu bukanlah sesuatu yang mudah dimengerti, apalagi jika orang mengucapkannya dengan “maksud baik”.

Memang menyebut nama Tuhan secara sia-sia dan tanpa alasan adalah salah. Tetapi ada hal-hal lain yang juga keliru jika kita menyebutkan nama Tuhan:

  • sekedar karena kebiasaan,
  • tanpa adanya kesungguhan,
  • untuk menyenangkan yang mendengar,
  • tanpa mengerti sebab dan akibatnya, dan
  • tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa sebagai pengikut Kristus, tiap kali kita menyebut nama Tuhan itu harus benar-benar dimaksudkan untuk memuliakan Dia dan untuk mengasihi sesama kita. Kita menyebut nama Tuhan sebagai wakilNya, dan karena itu harus sadar akan perintah dan kehendakNya. Tidak sepatutnya kita mengeluarkan kata-kata pemanis bibir yang terdengar indah, jika kita tidak benar-benar mengerti apa arti, tujuan dan kebenarannya. Karena itu, setiap kali kita menyebut nama Tuhan, kita harus yakin bahwa Tuhan setuju akan apa yang kita ucapkan. Apa yang kita ucapkan harus selalu berdasarkan firman Tuhan dan bukan berdasarkan kebiasaan saja. Dengan demikian, apa yang kita sampaikan kepada orang lain juga bisa bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3: 16).

Semoga Tuhan membimbing kita dalam melaksanakan perintahNya!

Apakah kita cukup baik untuk Tuhan?

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Markus 2: 17

Apakah anda orang baik? Kalau saja pilihannya hanya dua, orang baik atau orang jahat, di hadapan orang lain mungkin bisa dipastikan bahwa jawaban anda adalah “orang baik”. Memang dalam pengertian umum, orang jahat adalah perampok, pembunuh, koruptor dan sejenisnya. Sudah tentu kita bukanlah seperti mereka yang suka melanggar hukum, the outlaws.

Tetapi, apa beda orang baik dan orang jahat di hadapan Tuhan? Dalam Lukas 18: 11 – 14, dikisahkan adanya dua orang yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri tegap dan berdoa mengucap syukur karena ia bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah. Sebaliknya, pemungut cukai itu tidak berani menengadah ke langit, tetapi memohon agar Allah mengasihani dia karena dosanya. Yesus yang menyampaikan kisah itu kemudian berkata bahwa orang pemungut cukai itu justru adalah orang yang dibenarkan Allah.

Orang Farisi itu merasa yakin bahwa ia orang baik. Begitu pula banyak orang di zaman ini yang merasa sudah banyak berbuat baik. Tetapi, dihadapan Tuhan semua orang adalah orang yang tidak benar, alias orang jahat.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Mereka yang seperti pemungut cukai itu mengaku sebagai orang-orang yang berdosa, sadar bahwa mereka adalah orang-orang yang sakit, yang memerlukan tabib untuk memperoleh pengobatan. Mereka akan dibenarkan karena Yesus sudah datang untuk menebus dosa mereka.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Darah Yesus sudah menjamin bahwa dosa yang segelap apapun bisa diampuni. Karena itu, mereka yang mengakui dosa-dosanya dan berpaling kepada Yesus akan diterima Tuhan sebagai anak-anakNya, sekalipun jauh dari sempurna.

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Walaupun demikian, ada orang-orang yang sering merasa bahwa hidup mereka belum cukup baik untuk bisa menerima keselamatan dari Tuhan. Apalagi jika pengalaman masa lalu muncul lagi dalam pikiran. Dengan segala penyesalan dan rasa malu, setiap hari mereka merasa tidak layak berdiri di hadapan Tuhan. Hidup mereka terasa sengsara, sebab Tuhan terasa jauh dan tidak peduli. Mereka tidak sadar bahwa di dunia ini tidak ada orang yang cukup baik untuk Tuhan, kecuali jika mereka sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat dan mempersilahkan Roh Kudus untuk tinggal dalam hidup baru mereka, dan memperbaiki hidup mereka hari demi hari.

“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roma 8: 11

Pagi ini, jika kita masih mempertanyakan apakah Tuhan menuntut kita untuk mencapai tingkat kebaikan tertentu untuk bisa diselamatkan, mungkin kita lupa bahwa tidak ada seorangpun yang bisa memenuhi standar Tuhan yang mahasuci. Hanya karena darah Kristus, kita orang yang jahat ini bisa diterima sebagai orang yang baik dihadapan Tuhan. Pujilah Tuhan selalu karena kasihNya!

Adakah gairah anda untuk berdoa?

“Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.” Kisah Para Rasul 12: 5

Sering dikatakan, bahwa bagi setiap orang percaya, berdoa adalah bagian dari kehidupan. Benarkah? Belum tentu! Tidak semua orang yang mengaku Kristen mempunyai kebiasaan berdoa setiap hari. Bahkan, menurut survei di banyak negara, hanya sebagian kecil orang yang mengaku Kristen biasa berdoa secara rutin. Berdoa merupakan komitmen untuk berkomunikasi dengan Tuhan, tetapi hanya sebagian orang Kristen yang sanggup mempunyai komitmen ini. Mengapa begitu?

Ada banyak alasan mengapa orang Kristen tidak atau kurang berdoa. Tetapi dalam hal ini mungkin ada 3 penyebab yang utama. Yang pertama adalah soal waktu. Orang seringkali merasa sibuk dengan berbagai aktivitas, dan berdoa tidak dianggap sepenting yang lain. Yang kedua, banyak orang merasa hidup ini tetap berjalan seperti biasa, dengan atau tanpa berdoa. Yang ketiga adalah adanya dosa-dosa tertentu yang menghalangi orang untuk menjumpai Tuhan dalam doa.

Apapun penyebab orang untuk tidak atau kurang berdoa, satu hal yang pasti ada dalam hidup manusia yang kurang berdoa: hati yang dingin. Mereka yang tidak mementingkan doa, sudah kehilangan kehangatan hubungan dengan Tuhan, rasa butuh dan keinginan (gairah = passion) untuk berdoa sudah hilang. Rasa kasih kepada Tuhan dan sesama sudah berkurang atau hilang karena kebanyakan manusia di dunia ini hidupnya semakin jauh dari Tuhan.

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24: 12

Sebagai orang Kristen kita seharusnya menyadari bahwa keadaan disekeliling kita saat ini tidaklah bisa membuat hati kita untuk mempunyai gairah yang lebih besar untuk berdoa. Di zaman modern ini, dorongan untuk berbuat sesuatu (action) mungkin justru lebih besar bagi kita, untuk menentukan “nasib” kita sendiri.

Pagi ini kita mempelajari keadaan murid-murid setelah Yesus meninggalkan dunia ini, yang bisa memberi gambaran bagaimana peranan doa dalam hidup mereka. Ayat diatas mencatat bahwa pada waktu Petrus berada dalam tahanan, jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah. Mereka mempunyai gairah untuk menjumpai Tuhan dan berdoa untuk orang lain.

Apakah hasil ketekunan mereka dalam berdoa? Ayat 6 dan 7 mencatat bahwa pada malam sebelum Herodes menghadapkan Petrus kepada orang banyak untuk diadili, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu kemudian membuat rantai itu gugur dari tangan Petrus. Petrus kemudian bebas dan bisa kembali menjumpai mereka yang berdoa untuknya. Dan tentu saja mereka yang sudah mendoakan Petrus merasakan betapa besar kasih Tuhan kepada mereka.

Mengapa kita harus berdoa dengan tekun? Satu hal yang bisa kita simpulkan dari pengalaman murid-murid Yesus diatas adalah kenyataan bahwa dengan adanya gairah untuk berdoa, kita akan mempunyai semangat yang lebih besar untuk menghadapi tantangan kehidupan. Lebih dari itu, kita bisa menyatakan kasih kita kepada orang lain; sekalipun kita tidak bisa menolong orang lain, kita bisa meminta Tuhan kita untuk menolong mereka sesuai dengan kebijaksanaanNya. Dan dengan doa, kita juga dipersiapkan untuk bisa menerima apapun yang terjadi, karena kita yakin akan kasih Tuhan. Adakah gairah anda pagi ini untuk berdoa?

Berbuat baik untuk orang lain

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Baru-baru ini saya melihat video presentasi seorang motivator yang membahas hal berbuat baik. Presentasi itu tampak cukup menarik dan dibuat secara profesional. Isinya juga cukup bagus untuk didengar, yang antara lain menyebutkan bahwa:

  • Orang tidak selalu menghargai perbuatan baik kita.
  • Orang mungkin saja membalas kebaikan kita dengan kejahatan.
  • Walaupun begitu, perbuatan baik kita akan mendapat balasan dari Tuhan.
  • Karena itu kita harus selalu berbuat baik.

Bagi kebanyakan orang semua nasihat itu kelihatannya baik. Walaupun demikian, bagi umat Kristen, itu belumlah lengkap. Mengapa? Apa yang kurang justru adalah yang paling penting dalam iman Kristen.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4: 19

Menurut iman Kristen, kita harus berbuat baik bukan karena mengharapkan agar Tuhan membalas perbuatan kita, tetapi karena Tuhan sudah lebih dulu berbuat baik kepada kita, terutama dengan mengirimkan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa kita.

Selain itu, seperti apa yang ada dalam ayat pembukaan diatas, kita harus berbuat baik karena itu diperintahkan Tuhan kepada semua umatNya agar orang yang melihat perbuatan kita, akan memuji Dia yang menyuruh kita. Perbuatan baik adalah bagian hidup Kristen yang berfungsi untuk mengabarkan kasih Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Berbuat baik adalah bagian dari tugas mengabarkan injil keselamatan, sebagaimana diperintahkan Yesus kepada semua pengikutNya dalam amanat agungNya (Matius 28: 19 – 20).

Banyak orang Kristen yang mengajarkan bahwa kita yang berbuat baik akan mendapat upah dari Tuhan. Salahkah pengajaran seperti itu? Tentu tidak! Ada ayat-ayat Alkitab yang memang menyatakan hal itu.

Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” Matius 10: 42

Memang Tuhan yang mahakasih dan mahaadil, tidak akan melupakan perbuatan baik yang kita lakukan untuk sesama kita. Yesus malahan mengajarkan kita untuk mengasihi semua orang, termasuk orang non-kristen, orang yang menderita, dan orang yang dikucilkan masyarakat. Sekalipun kita mungkin tidak menyukai kelakuan dan cara hidup seseorang, kita tetap harus mengasihinya. Untuk perbuatan baik kita, Tuhan akan memberi upah, kalau tidak di dunia ini, kita pasti akan menerimanya di surga. Walaupun demikian, upah dari Tuhan tidak seharusnya menjadi suatu insentif atau motivasi buat orang Kristen untuk berbuat baik.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita berbuat baik semata-mata karena Tuhan sudah lebih dulu berbuat baik. Kita tidak dapat membalas kasihNya, tetapi kita tetap berbuat baik sesuai dengan perintahNya yaitu dalam rangka pemberitaan kabar baik injili, dan agar nama Tuhan dipermuliakan.

“Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.” 1 Korintus 9: 17

Apakah anda mencari Yesus?

“Kamu akan mencari Aku, tetapi tidak akan bertemu dengan Aku, sebab kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada.” Yohanes 7: 34

Pernahkah anda merasakan kesulitan hidup yang luar biasa? Mungkin pada waktu itu anda lagi sakit, terancam bahaya, atau membutuhkan pertolongan. Anda mungkin membayangkan betapa enaknya jika Yesus ada disamping anda, secara nyata bersama anda menghadapi kesulitan itu. Atau, sekiranya Yesus lagi sibuk, barangkali Ia mau mengirimkan malaikatNya untuk melindungi anda?

Memang, jika dibayangkan, kalau saja Yesus itu seperti seorang penguasa dunia yang tidak ada tandingnya, kaya-raya, bijak dan murah hati, sungguh enak hidup orang Kristen jadinya. Setiap kali kita mengalami kesulitan, kita akan bisa menelepon atau menjumpai Dia untuk minta pertolongan.

Pada zaman Yesus di dunia, masyarakat Israel hidup dalam penindasan Roma. Mereka mengharapkan bahwa Mesias akan datang sebagai seorang pahlawan perkasa yang dengan pedang akan menumbangkan kuasa kaum penjajah. Dengan demikian, sebagian orang menduga bahwa Yesus akan membuat suatu revolusi melawan kerajaan Romawi. Tetapi, dalam ayat diatas Yesus menyatakan bahwa Ia bukanlah seperti yang mereka harapkan.

Di zaman ini, orang mungkin tidak lagi mendambakan kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain, walaupun masih ada beberapa negara di dunia yang dijajah, baik oleh bangsa lain maupun bangsa sendiri. Kebanyakan orang ingin mendapatkan kemerdekaan dari kemiskinan, penyakit dan penderitaan jasmani lainnya. Mereka menginginkan kemakmuran, kesuksesan, kesehatan, umur panjang, penampilan yang mempersona dan hal-hal duniawi lainnya. Dan dengan demikian, banyak orang yang mengharapkan bahwa Tuhan akan memenuhi keinginannya.

Seperti apa yang terjadi pada saat Yesus di dunia, banyak orang yang mengira bahwa Tuhan ada untuk memberi kenyamanan hidup di dunia. Mereka menyembah tuhan mereka dengan tujuan untuk mendapat berkat materi. Begitu juga banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan adalah sumber kemakmuran, dan kemakmuran adalah tanda iman yang teguh. Mereka yang berpandangan sedemikian, tidaklah dapat menemukan Yesus dalam hidup mereka.

Pagi ini, Yesus berkata dalam ayat diatas bahwa jika kita mencari Dia untuk mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan jasmani, kita tidak akan bertemu dengan Dia, karena kita tidak tahu siapa Dia dan dimana Dia berada. Yesus adalah Tuhan yang sudah datang ke dunia, mati disalibkan dan bangkit agar kita mempunyai harapan masa depan.

Yesus sudah menyelamatkan jiwa kita, dan sekarang dipermuliakan di surga. Tetapi, Yesus jugalah yang sudah memberi seorang penolong yaitu Roh Kudus yang tinggal didalam hati setiap orang yang percaya. Hidup ini tidaklah mudah, dan memang penuh dengan perjuangan. Jika kita mencari Tuhan dalam bentuk berkatNya, kita tidak bisa menemukan Dia. Tetapi jika kita merasakan kehadiranNya dalam hati kita, kebahagiaan dan kecukupan akan datang dengan sendirinya.

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3: 1 – 2

Tuhan itu mahakasih dan mahaadil

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Apakah Tuhan mencintai setiap orang? Pertanyaan ini kelihatannya tidak sukar dijawab, tetapi sebenarnya bisa dan sudah menyebabkan kebingungan diantara banyak orang. Mereka yang belum percaya kepada Kristus mempertanyakan sifat mahakasih dari Tuhan, karena kalau Ia mahakasih, tentunya kasihNya adalah tanpa syarat (unconditional). Jika Tuhan mengharuskan mereka untuk percaya kepada Yesus agar tidak binasa, itu sepertinya tidak menunjukkan sifat mahakasihNya. Bagi sebagian orang Kristen, ayat diatas menyatakan sifat Tuhan yang mahakasih, tetapi juga yang mahakuasa, yang berhak menentukan siapa di dunia ini yang bisa percaya kepada Kristus untuk menerima keselamatan.

Terlepas dari apa yang dikerjakan Tuhan secara khusus pada diri setiap individu di dunia ini, ayat diatas merupakan kasih Tuhan yang tidak bersyarat: bahwa Ia pada hakikatnya ingin menyelamatkan seisi dunia. Ia memberikan AnakNya yang tunggal kepada seluruh umat manusia di bumi ini, baik pria atau wanita, kaya atau miskin, pandai atau tidak pandai, yang muda dan juga yang tua. Bahkan Ia mengirimkan Yesus kepada mereka yang sudah mempunyai kepercayaan lain.

Injil keselamatan sudah disebarkan ke seluruh penjuru dunia, seperti apa yang sudah diperintahkan Yesus kepada seluruh muridNya dalam Amanat AgungNya.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Dalam Amanat Agung ini, nyatalah bahwa uluran tangan kasih penyelelamatan Tuhan ini ditujukan kepada semua bangsa, seluruh umat manusia. Dalam usahaNya untuk menyelamatkan seisi dunia, Tuhan memerintahkan umat Kristen untuk pergi mengabarkan Injil, agar siapa saja yang percaya bisa mendapatkan hidup kekal.

Sekalipun Tuhan mengasihi seluruh umat manusia dalam hal memberi kesempatan bagi siapa saja untuk mendengarkan panggilanNya, tidak semua orang akhirnya menjadi pengikutNya. Tetapi, bagi orang-orang yang mau mendengar firmanNya, firman Tuhan serupa dengan benih yang jatuh di tanah yang baik. Mereka adalah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan (Lukas 8: 15). Mereka menjadi orang yang benar-benar beriman, karena mereka menyambut uluran tangan Tuhan.

Bagi mereka yang benar-benar beriman, hidup lama mereka sudah diganti dengan hidup baru yang berpusat kepada Kristus, dan bukannya kepada hal-hal duniawi. Dari buah-buah kehidupan mereka, dapat terlihat apakah mereka benar-benar sudah mempunyai hidup baru (Galatia 5: 22 – 23). Mereka yang mengaku percaya tetapi tetap hidup dalam kedurhakaan, adalah orang-orang yang dengan sengaja menolak kasih Tuhan dan memilih untuk hidup diluar hukum Tuhan. Kepada mereka ini, murka Tuhan akan datang.

“Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” Roma 1: 18

Tuhan memang mengasihi setiap manusia dan ingin agar mereka diselamatkan, tetapi keselamatan tidak bisa diberikan kepada semua orang. Apakah sifat mahakasih Tuhan bisa menjadi berkurang karena adanya kesalahan manusia? Apakah Tuhan harus membiarkan manusia untuk bisa bebas berbuat semau mereka agar Ia bisa mempertahankan sifat mahakasihNya? Sudah tentu tidak, karena sifat mahakasihNya tidak dapat dipisahkan dengan sifat mahaadilNya yang juga berlaku untuk setiap orang.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Yesus mencintai semua bangsa di dunia. Semua bangsa di dunia, walaupun berbeda dalam agama, budaya dan bahasa, bagi Yesus mereka adalah sama dan tidak dibeda-bedakan. Mereka sudah diberikan kesempatan untuk melihat kasihNya dan menjawab panggilan keselamatanNya. Kita yang sudah pernah merasakan kasihNya dan menerima Kristus sebagai Juruselamat bukanlah orang-orang yang istimewa, tetapi adalah orang-orang yang sudah seharusnya bersyukur atas kemurahanNya setiap hari.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.” Roma 5: 8 – 9