Perlukah kita memikirkan dosa karena sudah mendapat kasih karunia?

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Roma 6: 1

“Iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa kita, tetapi juga bahwa Ia jauh lebih baik daripada dosa.”

Penjelasan alkitabiah tentang kasih karunia Allah akan selalu membuat adanya orang yang mengatakan, “Jika apa yang Anda katakan itu benar, lalu mengapa saya tidak bisa hidup secara bebas dan berbuat dosa semau saya?”. Ini bukan lelucon, tetapi pikiran sedemkian sudah ada sejak zaman Paulus. Keberatan manusia terhadap Roma 6:1 adalah keberatan alami terhadap ajaran kasih karunia. Jika seseorang mengajar tentang kasih karunia Allah, bahwa kita diselamatkan melalui karunia semata-mata (by Grace only, Sola Gratia) dan setelah pelajaran itu selesai, tidak ada yang mengajukan keberatan yang diajukan untuk Roma 6:1, maka pengajaran itu belum sepenuhnya membahas kasih karunia Allah.

Roma 6:1 sebenarnya adalah ujian litmus untuk pengajaran siapa pun tentang kasih karunia. Pernah saya mendengar sebuah ungkapan “Kasih karunia Allah melampaui segala perbuatan manusia”. Ungkapan yang bagus, tetapi bisa ditafsirkan dalam berbagai cara. Walaaupun demikian, sehubungan dengan ayat di atas, ada dua arti yang bisa saya renungkan: (1) Kasih karunia Allah sanggup menhapus segala dosa manusia dan (2) Kasih Karunia Allah jauh lebih besar dari dosa yang dilakukan manusia. Kedua pengertian ini adalah benar. Walaupun demikian, keberatan yang selalu muncul jika saya menulis tentang kasih karunia seperti ini adalah: Tidakkah orang akan menyalahgunakan pengartian tentang kasih karunia seperti ini?

Keberatan saya mungkin cukup beralasan, karena itulah juga yang membuat Paulus menulis peringatannya kepada jemaat di Roma. Namun, jika kasih karunian Tuhan diberitakan dengan pembatasan untuk menghindari penyalahgunaan manusia, itu bukan lagi kasih karunia Tuhan yang mahakuasa. Tak pelak lagi, setiap kali saya berbicara atau menulis tentang kasih karunia yang tidak terbatas, ada orang yang berkeberatan atas Paulus yang mengatakan dalam Roma 6:1 bahwa kita tidak boleh terus berbuat dosa dengan maksud agar kasih karunia Tuhan makin berlimpah. Jika Tuhan mahabesar, tentu kasih karunia-Nya mampu menghapus dosa yang bertumbuh sebesar apa pun. Orang pilihan tentu mendapat pengampunan sekalipun dosanya merah seperti kirmizi (Yesaya 1:18). Begitu alasan mereka.

Dalam Roma 4–5, Paulus telah menulis tentang kasih karunia Tuhan yang luar biasa besarnya. Mengapa Roma 6:1 berlainan dengan ajaran Paulus sebelumnya tentang kasih karunia? Jika apa yang telah ditulis Paulus itu benar, mengapa orang Kristen sejati tidak dapat hidup tanpa memikirkan dosa? Dan apa perlunya kita berusaha untuk hidup baik jika kita tidak diselamatkan oleh perbuatan baik kita? Jika Anda sedang mengajar atau menulis tentang kasih karunia dan Anda mendapatkan pertanyaan ini, bersukacitalah, karena Anda telah menolong seseorang melihat sifat kasih karunia Allah yang luar biasa, dan sekarang mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan implikasinya.

Dari pengakuan Westminster Bab 9 Poin 4, kita tahu bahwa jikaAllah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang teal beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat.

Paulus mengajak kita untuk memikirkan cara hidup kita sekalipun kita yakin sudah menerima keselamatan. Kita harus sadar bahwa perjuangan kita adalah melawan kuasa-kuasa kegelapan yang ingin menjatuhkan kita ke dalam dosa dan membuat hidup kita di dunia sengsara. Jika sesudah menerima Roh Kudus Anda jatuh kedalam dosa, itu adalah karena pilihan Anda,

Anda mungkin pernah mendengar tentang tujuh dosa utama (seven capital sins) atau tujuh dosa mematikan (seven deadly sins) yang pernah disebut dalam tradisi gereja di abad mula-mula: kesombongan, iri hati, kemarahan, ketamakan, hawa nafsu, kerakusan dan kemalasan. Dosa-dosa semacam itu tidak terjadi secara “normal” dalam hidup orang percaya, yang sudah menerima Roh Kudus. Itu terjadi karena mereka tidak mau secara aktif melawan dosa. Mereka yang tidak sadar akan hal ini, lambat laun akan terjebak dalam antinominanisme. Antinomianisme berarti anti terhadap hukum. Ajaran ini mengajarkan bahwa orang-orang Kristen telah dibebaskan dari hukum Tuhan dan tidak perlu melakukan hukum Tuhan lagi karena orang-orang Kristen telah mendapat kasih karunia Allah.

Sebagian orang mungkin juga berpikir bahwa membuat kategori “tujuh dosa” adalah sia-sia, karena di mata Tuhan tidak ada dosa kecil atau dosa besar. Di Alkitab ada disebutkan berbagai macam dosa, dan jumlahnya jauh lebih besar dari tujuh. Ini benar. Namun, dalam tradisi Kristen yang panjang ketujuh dosa utama ini terus didengungkan karena sikap realistis bahwa ketujuh dosa ini memang “utama,” dalam arti ia melahirkan banyak dosa-dosa lainnya selama manusia hidup di dunia. Karena itu mereka disebut dosa utama (capital, caput, kepala), dosa yang merendahkan kasih karunia Tuhan yang sudah mengampuni mereka. Dosa yang bisa membawa kehancuran hidup orang Kristen di dunia dan merugikan masyarakat di sekitarnya. Selain itu, dosa-dosa orang Kristen bisa disebutkan sebagai perbuatan anti penginjilan.

Pada pihak yang lain, ada orang yang berpendapat bahwa tidak ada dosa yang bisa membawa kebinasaan kepada orang percaya. Orang yang sudah diselamatkan sudah dibasuh dengan darah Kristus dan karena itu tidak ada dosa yang bisa membatalkan penyelamatan itu. Orang pilihan selalu menerima karunia pengampunan Tuhan. Sudah tentu pandangan ini ada benarnya, yaitu jika orang berdosa sudah menerima hidup baru dari Tuhan dan berubah dari hidup lamanya, ia adalah orang yang benar-benar dipilih oleh Tuhan. Pada pihak yang lain, ini bukan berarti bahwa setiap orang yang rajin ke gereja, tetapi tetap bergelimang dalam dosa adalah orang yang sudah diselamatkan.

Jika setiap orang yang benar-benar bertobat akan diampuni Tuhan, mengapa kita harus kuatir akan kemungkinan jatuh dalam dosa? Bukankan dosa orang pilihan tidak akan membawa kebinasaan? Memang, jika kita benar-benar percaya kepada Allah dan Putra-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, keselamatan sudah diberikan kepada kita. Itu adalah hasil pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita dan Ia akan bekerja secara luar biasa dalam hidup kita, sehingga kita tidak tetap hidup dalam dosa.

“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roma 8: 11

Paulus selanjutnya menjelaskan mengapa orang tidak boleh berbuat dosa lagi, tetapi dia tidak pernah mengatakan mereka tidak bisa berbuat dosa. Dalam ayat di atas Paulus tidak mengatakan bahwa jika orang terus hidup dalam dosa, mereka akan mengakhiri kasih karunia Allah, atau akan membuktikan bahwa mereka tidak pernah benar-benar dibenarkan sejak awal. Tidak, Paulus berpendapat bahwa jika seseorang benar-benar memahami kasih dan anugerah Allah, dan apa yang telah Allah lakukan bagi mereka di dalam Yesus Kristus, pengetahuan ini akan menuntun mereka untuk hidup bebas dari dosa, bahkan tidak lagi hidup dalam dosa.

Malam ini, masih adakah pemikiran anda akan bahaya dosa dalam hidup Anda? Apakah dosa sudah membuat hidup Anda tenang, nyaman, dan bahagia? Apakah Anda masih peduli tentang dosa apa yang dilakukan hari ini sebelum Anda berdoa? Ataukah keyakinan bahwa keselamatan sudah ditangan Anda membuat Anda hidup dalam kebebasan dari bimbingan Roh Kudus? Percayakah Anda bahwa iman yang benar bukan hanya percaya bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa kita, tetapi juga bahwa Ia jauh lebih baik daripada dosa? Hanya Anda yang bisa menjawab, dan jawaban dan cara hidup Anda yang sudah diselamatkan akan mempengaruhi cara hidup orang-orang di sekitar Anda yang juga merupakan milik Tuhan yang harus kita kasihi.

SINERGISME DALAM PREDESTINASI

(Sumber Wikipedia)

Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: ”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan. Galatia 5: 14-15

Dalam teologi Kristen, sinergisme adalah kepercayaan bahwa keselamatan melibatkan suatu bentuk kerja sama antara rahmat ilahi dan kebebasan manusia. Sinergisme dijunjung tinggi oleh Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks, Gereja Anabaptis, dan Gereja Metodis. Ini adalah bagian integral dari teologi Arminian yang umum dalam tradisi Baptis Umum dan Metodis.

Sinergisme menentang monergisme (yang menolak gagasan bahwa manusia bekerja sama dengan kasih karunia Allah), sebuah doktrin yang paling sering dikaitkan dengan tradisi Protestan Reformasi serta Lutheran, yang soteriologinya sangat dipengaruhi oleh uskup Afrika Utara dan Bapa Gereja Latin, Agustinus dari Hippo (354–430). Lutheranisme, bagaimanapun, mengakui keselamatan monergis tetapi menolak gagasan bahwa siapa pun ditakdirkan masuk neraka (lihat  pandangan Lutheran dan Calvinis).

Sinergisme dan semipelagianisme masing-masing mengajarkan beberapa kerjasama dalam keselamatan antara Tuhan dan manusia, tetapi pemikiran semipelagian mengajarkan bahwa separuh awal dari iman adalah tindakan kehendak manusia. Dewan Orange (529), Lutheran Formula of Concord (1577), dan dewan lokal lainnya masing-masing mengutuk semipelagianisme sebagai ajaran sesat.[9]

Teologi Katolik

Sinergisme, ajaran bahwa ada “semacam interaksi antara kebebasan manusia dan rahmat ilahi”, merupakan bagian penting dari teologi keselamatan Gereja Katolik.

Gereja Katolik menolak gagasan tentang kebobrokan total: mereka berpendapat bahwa, bahkan setelah Kejatuhan, sifat manusia, meskipun terluka dalam kekuatan alaminya, belum sepenuhnya rusak. Selain itu, mereka menolak predestinasi ganda, gagasan yang akan “membuat segala sesuatu menjadi karya anugerah ilahi yang mahakuasa yang secara sewenang-wenang memilih sebagian untuk diselamatkan dan sebagian untuk dikutuk, sehingga kita umat manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih tentang nasib kekekalan kita”.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa kemampuan kehendak manusia untuk menanggapi rahmat ilahi itu sendiri dianugerahkan oleh rahmat. “Dengan karya rahmat Roh Kudus mendidik kita dalam kebebasan spiritual untuk menjadikan kita kolaborator bebas dalam karya-Nya di Gereja dan di dunia”. “Persiapan manusia untuk menerima rahmat sudah merupakan karya rahmat.” Ketika umat Katolik mengatakan bahwa orang ‘bekerja sama’ dalam mempersiapkan dan menerima pembenaran dengan menyetujui tindakan pembenaran Allah, mereka melihat persetujuan pribadi seperti itu sendiri efek anugerah, bukan sebagai tindakan yang timbul dari kemampuan bawaan manusia.”

Teologi Ortodoks Timur

Pandangan Sinergisme Ortodoks Timur berpendapat bahwa “manusia selalu memiliki kebebasan untuk memilih, dalam kehendak pribadi (gnomik) mereka, apakah akan berjalan dengan Tuhan atau berpaling dari-Nya”, tetapi “apa yang Tuhan lakukan jauh lebih penting daripada apa yang kita manusia lakukan”.

“Untuk menggambarkan hubungan antara anugerah Allah dan kebebasan manusia, Ortodoksi menggunakan istilah kerja sama atau sinergi (synergeia); dalam kata-kata Paulus, ‘Kami adalah rekan sekerja (synergoi) dengan Allah’ (1 Korintus iii, 9). Jika kita harus mencapai persekutuan penuh dengan Tuhan, kita tidak dapat melakukannya tanpa bantuan Tuhan, namun kita juga harus memainkan peran kita sendiri: kita manusia dan Tuhan harus memberikan kontribusi kita untuk pekerjaan bersama, meskipun apa yang Tuhan lakukan jauh lebih penting daripada apa yang kami lakukan.” Agar orang yang dilahirkan kembali untuk melakukan kebaikan rohani — karena pekerjaan orang percaya yang berkontribusi pada keselamatan dan dikerjakan oleh rahmat supranatural secara tepat disebut spiritual — ia perlu dibimbing dan didahului oleh kasih karunia.”[18]

Umat Protestan Arminian berbagi pemahaman sinergisme ini, yaitu, kelahiran kembali sebagai buah dari kerja sama kehendak bebas dengan anugerah.

Teologi Anabaptis

Kaum Anabaptis berpegang pada sinergisme, mengajarkan bahwa “baik Tuhan maupun manusia memainkan peran yang nyata dan perlu dalam hubungan rekonsiliasi yang mengikat mereka.” Kaum Anabaptis memiliki pandangan yang tinggi tentang kapasitas moral manusia ketika “dihidupkan oleh tindakan aktif Roh Kudus.”

Teologi Arminian Klasik dan Wesleyan Arminian

Sinergis membandingkan peran Tuhan dalam keselamatan dengan Kristus “berdiri di depan pintu”. Umat Kristiani yang menganut teologi Arminian, seperti Metodis, percaya bahwa keselamatan bersifat sinergis, dicapai melalui “kerja sama ilahi/manusia”, masing-masing menyumbangkan bagiannya untuk mencapai regenerasi (kelahiran baru) dalam suatu individu, serta pengudusan orang percaya. Namun, meskipun individu berperan dalam keselamatan, seseorang tidak dapat berbalik kepada Tuhan atau percaya sendiri karena Tuhan pertama-tama menarik semua orang dan menanamkan keinginan di hati mereka untuk mengenalnya (bdk. 1 Timotius 2:3-4).

Setelah Kelahiran Baru, “Umat Kristiani harus melakukan baik karya kesalehan maupun karya belas kasihan untuk bergerak menuju kesempurnaan Kristiani” bekerja sama dengan kasih karunia Allah. Singkatnya, teologi Methodis (Wesleyan-Arminian) mengajarkan bahwa “Umat Kristiani harus bertumbuh dalam kasih karunia Allah, yang pertama-tama mempersiapkan kita untuk percaya, kemudian menerima kita ketika kita menanggapi Allah dalam iman, dan menopang kita ketika kita melakukan perbuatan baik dan berpartisipasi dalam karya misi Allah.”

Arminian percaya bahwa semua manusia benar-benar dirusak oleh dosa tetapi Tuhan menganugerahkan kepada semua orang berdosa anugerah pendahuluan (prevenient artinya “datang sebelum”). Dengan rahmat yang mendahului ini (atau dengan pengaruhnya pada manusia yang jatuh), seseorang dapat dengan bebas memilih untuk beriman kepada Kristus atau menolak keselamatannya. Jika orang tersebut menerimanya, maka Tuhan membenarkan mereka dan terus memberikan rahmat lebih lanjut untuk menyembuhkan dan menguduskan mereka secara spiritual.

Pandangan ini berbeda dengan semipelagianisme, yang berpendapat bahwa manusia dapat mulai beriman tanpa membutuhkan rahmat. John Wesley menjelaskan konsepsi Arminian tentang kehendak bebas, mengatakan, “Kehendak manusia pada dasarnya bebas hanya untuk kejahatan. Namun, setiap orang memiliki ukuran kehendak bebas yang dikembalikan kepadanya oleh kasih karunia.” Dia melanjutkan, “Kehendak bebas alami dalam keadaan umat manusia saat ini, saya tidak mengerti: Saya hanya menegaskan, bahwa ada ukuran kehendak bebas yang dipulihkan secara supernatural kepada setiap orang, bersama dengan cahaya supernatural yang ‘menerangi setiap orang yang datang ke dunia.”

Arminian berpendapat bahwa keputusan individu bukanlah penyebab keselamatan atau kehilangan mereka, melainkan tanggapan bebas terhadap anugerah yang mendahului membentuk dasar bagi keputusan bebas Allah; keputusan orang tersebut tidak membatasi Tuhan, tetapi Tuhan mempertimbangkannya ketika dia memutuskan apakah akan menyelesaikan keselamatan orang tersebut atau tidak.

Jacobus Arminius jarang memberikan dukungan alkitabiah untuk sinergisme, tetapi dalam Perdebatan XI “Tentang Kehendak Bebas Manusia dan Kekuatannya” dia memberikan dukungan tekstual untuk rahmat yang mendahului, mengutip Phil. 1:6, 1 Petrus 1:5, dan Yakobus 1:17.

Suatu analogi yang terkadang dikutip didasarkan pada Wahyu 3, di mana Kristus menyatakan bahwa Ia berdiri di depan pintu dan mengetuk, dan jika ada yang membuka ia akan masuk. Arminian menegaskan bahwa Kristus datang kepada setiap orang dengan rahmat yang mendahului, dan jika mereka menginginkan dia untuk masuk, dia memasuki mereka. Oleh karena itu, tidak seorang pun melakukan pekerjaan menyelamatkan diri mereka sendiri, karena Kristus melakukan pekerjaan datang kepada mereka di tempat pertama, dan jika mereka bersedia untuk mengikutinya, Dia melakukan pekerjaan penyelamatan, tetapi apakah Dia akan melakukannya? Ini tergantung pada keinginan orang tersebut (namun, tidak seorang pun dapat menginginkan Kristus untuk masuk jika Dia tidak terlebih dahulu mengetuk).

Pandangan Lutheran dan Calvinis

Teologi Lutheran membedakan antara keselamatan monergistik dan kutukan sinergis. Dengan keselamatan monergistik, Lutheran mengartikan bahwa iman yang menyelamatkan adalah karya Roh Kudus saja, sementara manusia masih merupakan musuh Allah yang tidak mau bekerja sama (Roma 5:8,10). Untuk mendukung pemahaman mereka tentang kutukan sinergis, mereka berpendapat bahwa Kitab Suci menyatakan berulang kali bahwa manusia berpartisipasi dan memikul tanggung jawab untuk menolak anugerah Allah berupa anugerah cuma-cuma – bukan anugerah yang dipaksakan – keselamatan (mis: Mat. 23:37, Heb. 12: 25, Kis 7:51, Yoh 16:9, Ibr 12:15, dll.).

Kaum Lutheran memahami pandangan mereka sebagai kontras dengan kutukan monergistik Calvin dan keselamatan sinergis Arminius. Namun, Calvinis akan mempermasalahkan pandangan mereka yang menyebut “kutukan monergistik,” karena mereka mengklaim setuju dengan Lutheran dan Arminian bahwa hanya umat manusia yang memikul tanggung jawab atas dosa mereka dan atas penolakan mereka terhadap panggilan Allah di seluruh dunia untuk bertobat dan diselamatkan.

Perbedaan yang dimiliki Lutheranisme dengan Calvinisme dan Arminianisme, kemudian, terletak pada bagaimana mereka menggambarkan cara kerja kehendak Allah, pentahbisan sebelumnya, dan pemeliharaan yang murah hati. Lutheranisme mengajarkan bahwa Allah menakdirkan sebagian orang untuk keselamatan tetapi tidak menakdirkan yang lain untuk penghukuman – itu seperti yang Allah kehendaki agar semuanya diselamatkan (1 Tim 2:3-6, Rm. 11:32, dll.).

Pandangan Lutheran berbeda dengan pandangan Calvinis bahwa Allah sejak kekekalan secara aktif mendekritkan sebagian untuk keselamatan dan sebagian untuk kutukan. Dalam determinisme teologis ini, predestinasi Allah secara logis mendahului pengetahuan-Nya sebelumnya. Pandangan Lutheran juga berbeda dengan pandangan Arminian bahwa predestinasi Allah didasarkan pada prapengetahuan ilahi atas penerimaan atau penolakan sinergis manusia atas keselamatan.

Bagi kaum Lutheran, orang bebas menolak panggilan Tuhan untuk keselamatan karena mereka menolak kasih karunia-Nya karena Tuhan tidak menakdirkan mereka untuk keselamatan. Bagi kaum Arminian, Tuhan hanya mengetahui sebelumnya bahwa mereka akan dengan bebas menolak kasih karunia-Nya. Bagi Calvinis, orang dengan bebas menolak panggilan Tuhan untuk keselamatan karena Tuhan secara kekal memilih untuk tidak menempatkan anugrah-Nya kepada mereka. Tuhan tidak mau memperbesar nilai anugrah-Nya yang tidak layak bagi mereka yang tidak akan diselamatkan.

Setelah membaca uraian di atas, pandangan manakah yang benar menurut pendapat Anda? Ketahuilah bahwa setiap golongan merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar. Sejarah membuktikan bahwa sesama orang Kristen bisa saling menghancurkan, dan itu terjadi sampai sekarang. Media sosial seperti Youtube penuh dengan rekaman khotbah yang saling menjelekkan. Sebagian penerbit rekaman itu memang kelihatannya mencari nafkah dengan cara menampilkan video-video yang bernada kebencian. Paulus memberi peringatan pedas kepada jemaat di Galatia agar mereka berhenti saling menggigit dan saling menelan. Dan pesan itu juga cocok untuk kita di zaman sekarang. Mengapa? Supaya kita jangan saling membinasakan. Hanya iblis yang senang jika anak-anak Tuhan saling membenci dan saling menyerang.

Mengapa orang Kristen tetap harus mempunyai etika?

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Secara bahasa kata ‘etika’ lahir dari bahasa Yunani ethos yang artinya tampak dari suatu kebiasaan. Dalam hal ini yang menjadi perspektif objeknya adalah perbuatan, sikap, atau tindakan manusia. Pengertian etika secara khusus adalah ilmu tentang sikap dan kesusilaan suatu individu dalam lingkungan pergaulannya yang kental akan aturan dan prinsip terkait tingkah laku yang dianggap benar. Pengertian etika secara umum adalah aturan, norma, kaidah, ataupun tata cara yang biasa digunakan sebagai pedoman atau asas suatu individu dalam melakukan perbuatan dan tingkah laku. Penerapan norma ini sangat erat kaitannya dengan sifat baik dan buruknya individu di dalam bermasyarakat. Dengan begitu, etika adalah ilmu yang mempelajari baik dan buruknya serta kewajiban, hak, dan tanggung jawab, baik itu secara sosial maupun moral, pada setiap individu di dalam kehidupan bermasyarakat. Atau bisa dikatakan juga bahwa etika mencakup nilai yang berhubungan dengan akhlak individu yang berkaitan dengan benar dan salahnya.

Adapun banyak jenis etika yang dapat kita jumpai di lingkungan sekitar, misalnya, etika berteman, etika profesi atau kerja, etika dalam rumah tangga, etika dalam melakukan bisnis, dan semacamnya. Etika tentunya harus dimiliki oleh setiap individu dan sangat dibutuhkan dalam bersosialisasi yang mana hal itu menjadi jembatan agar terciptanya suatu kondisi yang baik di dalam kehidupan bermasyarakat. Bagaimana dengan etika untuk orang Kristen? Apakah orang Kristen memiliki etika yang sama dengan etika masyarakat umum?

Tugas etis tertinggi seseorang adalah mencintai Tuhan dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatannya. Tugas etis tertinggi kedua mereka adalah mencintai sesama seperti diri mereka sendiri. Bagi seorang Kristen, memenuhi kewajiban moral ini terjadi dalam ketaatan pada hukum Kristus dan tunduk pada ajaran firman Tuhan. Tujuan utamanya adalah untuk memuliakan Tuhan dalam segala hal yang dikatakan, dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan. Tujuan etis luas lainnya termasuk menjadi berkat bagi orang lain dan tumbuh sebagai orang yang berbudi luhur. Perlu diingat bahwa hidup baik yang sesuai dengan etika Kristen bukanlah jalan keselamatan, atau akan membuat orang Kristen menjadi sempurna. Adanya etika Kristen bukannya menggantikan hukum Torat yang dijadikan ukuran kebenaran pada zaman Perjanjian Lama.

Mengingat visi positif ini, cukup menyedihkan bahwa banyak orang—baik Kristen maupun non-Kristen—cenderung memandang orang percaya sebagai legalistik dan suka mengutuk. Di dunia yang memberontak melawan Allah, mereka yang menjunjung tinggi standar moral Allah harus menyinari kegelapan dan harus menentang praktek-praktek dosa yang mungkin diterima secara luas dalam masyarakat. Tetapi Alkitab tidak hanya menyajikan kode etik yang terdiri dari larangan dan “jangan”. Memang ada hal-hal yang harus dihindari, tetapi ada juga banyak kewajiban moral positif yang dituntut oleh Kitab Suci. Jika kita dengan benar membentuk pandangan etis kita dari Alkitab, kita akan menemukan bahwa kita harus menjauhi kejahatan dan melakukan perbuatan baik. Ada perbedaan kategoris antara yang baik dan yang jahat, dan yang benar dan yang salah, dan karena itu kehidupan Kristiani dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dalam melakukan kebaikan. Pelaksanaan etika Kristen seharusnya menyenangkan karena itu memberi kesempatan bagi kita untuk bersyukur kepada Allah yang sudah menyelamatkan kita.

Pada pihak yang lain, ada golongan Kristen tertentu yang cenderung menentang perlunya pelaksanaan etika dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dikatakan sebagai orang yang mengikut faham antinomianishe. Kata “antinomianisme” berasal dari dua kata Yunani, yaitu anti, yang berarti “melawan”; dan nomos, yang berarti “hukum.” Antinomianisme secara harafiah berarti “melawan hukum.” Secara teologi, antinomianisme adalah doktrin yang menyatakan kalau Allah tidak mengharuskan orang Kristen untuk taat kepada hukum moral apa pun. Antinomianisme memang mengambil ajaran dari alkitab, namun kesimpulan yang ditarik tidaklah alkitabiah.

Umat Kristen mudah jatuh dalam faham antinomianisme karena doktrin keselamatan melalui “anugerah semata-mata”. Orang bisa saja berpikir, “Jika saya diselamatkan oleh anugerah dan semua dosa saya telah diampuni, mengapa saya harus berusaha hidup menurut etika yang baik?” Pemikiran ini bukanlah hasil dari pertobatan sejati. Pertobatan yang sejati akan menghasilkan hasrat yang lebih besar untuk menjadi taat kepada firman Tuhan, bukan sebaliknya. Kehendak Allah – dan kehendak kita saat kita telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus – adalah bahwa kita akan berusaha keras untuk tidak berbuat dosa. Sebaliknya, kita akan berusaha untuk berbuat baik karena sudah dimampukan oleh Roh Kudus.

Pada saat ini banyak gereja yang dirongrong oleh pengajaran antinomianisme, yang tidak menekankan pentingnya perubahan hidup orang Kristen setelah menerima hidup baru. Tahun demi tahun dilewati, tetapi mereka tetap hidup bergelimang dalam dosa lama. Itu karena adanya pendeta-pendeta yang terlalu menekankan doktrin predestinasi ganda, yaitu bahwa Allah sudah memilih orang Kristen untuk diselamatkan, dan keselamatan itu tidak bisa hilang selama orang hidup di dunia. Allah juga sudah menetapkan sebagian orang untuk hidup dalam dosa, dan manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Antinomianisme adalah seperti penyakit kanker yang menggerogoti gereja.

Etika Kristen adalah pelaksanaan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang walaupun tidak disebutkan secara terperinci dalam Alkitab, adalah suatu tanda bahwa Roh Kudus bekerja dalam hidup orang percaya, sehingga mereka mengerti dan taat kepada firman-Nya. Jika etika umum bisa muncul dalam satu masyarakat dan karena etika berhubungan dengan budaya setempat, etika dalam sebuah masyarakat tertentu mungkin tidak dikenal dalam masyarakat lain. Sebaliknya, karena etika Kristen bertalian dengan firman Tuhan, seharusnya semua orang Kristen tahu apa yang baik dan buruk dalam hidup sehari-hari menurut ukuran firman Tuhan.

Etika Kristen adalah suatu cabang ilmu teologi yang membahas masalah tentang apa yang baik untuk dilakukan dari sudut pandang Kekristenan; jadi seharusnya berlaku untuk siapa saja, kapan saja dan  di mana saja. Apabila dilihat dari sudut pandang Hukum Taurat dan Injil, maka etika Kristen adalah segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan itulah yang baik. Dengan demikian, maka etika Kristen merupakan satu tindakan yang bila diukur secara moral adalah baik. Saat ini, permasalahan utama yang dihadapi etika Kristen ialah perbedaan yang mungkin ada antara kehendak Allah terhadap manusia dan reaksi manusia (yang mungkin dipengaruhi budaya setempat) terhadap kehendak Allah.

Etika dimaksudkan agar manusia tidak menjadi manusia “kurang ajar” yang hidup “ugal-ugalan”. Tetapi karena tidak semua apa yang dilakukan manusia dari jaman ke jaman itu belum tentu dibahas dalam Alkitab, permasalahan kedua dalam etika Kristen adalah bagaimana mengajarkan dan menerapkan etika menurut prinsip kekristenan jika itu tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab. Dalam hal ini, mereka yang tidak mau atau bisa berpikir akan kurang bisa melihat hubungan antara etika dan Firman. Sebaliknya, ada kemungkinan bahwa mereka yang pintar berdalih akan memakai etika yang menguntungkan mereka saja. Ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh orang Farisi di zaman Yesus.

Pelaksanaan etika Kristen bukan hanya dalam perbuatan, tetapi juga dalam pikiran, dan terutama dalam hati. Dalam ayat Kolose 3: 5 – 6 disebutkan bahwa kita tidak boleh melakukan segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan. Sebagai orang Kristen mungkin kita mudah berkata bahwa kita mengerti akan hal-hal di atas. Tetapi bagaimana pula dengan praktik tingkah laku dan pikiran kita yang sehari-hari tentang hal-hal itu? Apakah kita marah melihat adanya ketidakadilan di sekitar kita? Ataukah kita ikut melakukan hal-hal tercela di rumah, kantor, sekolah, gereja dan di masyarakat? Adakah etika kita? Bagaimana dengan hati kita, apakah hati kita merasa sedih jika kita gagal melaksanakan firman-Nya?

Yesus pernah menjumpai orang-orang yang sepertinya sudah melakukan apa yang diharuskan oleh agama tetapi mengabaikan etika-etika hidup yang benar. Sebagai contoh, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mungkin merasa bahwa mereka sudah membayar apa yang harus dibayar dalam hidup mereka, tetapi melupakan bahwa ada hal-hal lain yang menyangkut keadilan, belas kasihan dan kesetiaan yang perlu dilaksanakan.

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan sebaik mungkin etika hidup Kristen yang berdasarkan hukum kasih. Dalam bekerja, kita harus bekerja dengan rajin, menghormati atasan dan bawahan kita, menghargai orang-orang yang rajin bekerja dan mengasihani mereka yang kekurangan; karena Tuhanlah yang menjadi majikan kita. Dalam berkeluarga, kita harus setia, mau saling menolong dan menguatkan, serta membagi waktu untuk seluruh anggota keluarga. Sebagai seorang warganegara kita harus ikut menunjang pemerataan ekonomi, menolong mereka yang kurang mampu, dan menghormati pemerintah dan hukum yang berlaku. Sebagai anggota masyarakat kita harus menempatkan diri sama seperti yang lain dan tidak memakai kedudukan sosial kita untuk menguntungkan diri sendiri. Sebagai manusia kita juga harus menghargai hidup sehat jasmani dan rohani dan karena itu tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, dengan etika Kristen kita bisa menghindari perbuatan, pemikiran dan perkataan yang merugikan orang lain dan juga diri sendiri.

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4:17

Tidak sempurna, tapi tetap ingin tumbuh

Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.” 1 Korintus 13: 9-11

Anda orang Kristen? Saya percaya bahwa jika Anda membaca tulisan ini sampai akhir, Anda tentunya sudah menjadi orang Kristen dan itu mungkin sudah cukup lama. Orang yang baru menjadi Kristen karena panggilan Tuhan, dapat dipastikan akan mengakui bahwa pengetahuannya tentang hal kerohanian masih harus diperbanyak. Setiap orang yang baru diselamatkan tentu merasa bahwa apa yang tidak diketahui adalah jauh lebih banyak dari yang sudah dimengerti. Memang pelajaran yang diterima sewaktu katekisasi hanyalah tetang dasar-dasar kekristenan. Setiap orang Kristen kemudian akan memperoleh tambahan pengetahuan dan pengalaman selama hidupnya, dan dengan karunia Tuhan serta pertolongan Roh Kudus ia akan makin bertambah dewasa secara iman dan pengertahuan tentang Allah.

Soal iman dan pengetahuan dalam kekristenan adalah hal yang sering didiskusikan orang percaya. Sebagian orang Kristen mungkin berpendapat bahwa iman dan pengetahuan adalah dua hal yang bertentangan. Iman adalah percaya akan apa yang tidak terlihat, sedangkan pengetahuan adalah percaya akan hal yang terlihat/terasa. Tetapi, bukan maksud saya membandingkan iman Kristen dan sains. Saya ingin membahas kaitan iman Kristen dengan pengetahuan tentang kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan kepada manusia, yaitu firman Tuhan dalam Alkitab. Apakah iman berumbuh dengan pengetahuan, atau iman tidak ada hubungannya dengan pengetahuan?

Alkitab menyatakan bahwa takut akan Tuhan adalah sumber kebijaksanaan. Manusia yang takut akan Tuhan, akan mau bertobat dan mengikut Yesus. Keselamatan hanya melalui iman, karena tidak banyak orang yang pernah menjumpai Tuhan untuk bisa mempunyai rasa takut kepada-Nya. Tuhanlah yang menggerakkan hati manusia sehingga ada rasa takut itu, dan menimbulkan kesadaran bahwa Tuhan yang mahasuci tidak dapat mengampuni dosanya, kecuali jika orang itu mau dibasuh oleh darah Kristus.

Dari rasa takut akan Tuhan, manusia kemudian menyadari bahwa kasih Tuhan kepadanya sungguh besar karena ia telah menerima keselamatan secara cum-cuma. Dari situlah timbul keinginan yang lebih besar untuk lebih tahu, lebih kenal akan Tuhan dan kehendak-Nya agar ia dapat hidup untuk memuliakan-Nya. Jadi, setiap orang Kristen yang sejati pasti rindu untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak tentang kemahakuasaan, kemahasucian, kemahatahuan dan kemahakasihan Tuhan. Ia akan berusaha untuk rajin membaca Alkitab, mendengarkan renungan, pergi ke gereja dan sebagainya. Lebih dari itu, setiap saat dalam hidupnya, ia akan ingat bahwa Tuhan mengajar dan membimbingnya melalui apa yang terjadi dalam hidupnya. Melalui apa yang manis maupun apa yang pahit.

Dari pengakuan Westminster (Bab 9, poin 4), kita tahu bahwa bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat. Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa, dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, karena kerusakan yang masih tinggal padanya, manusia tidak menghendaki apa yang baik secara sempurna, dan bukan hanya itu saja, ia juga masih sering menghendaki apa yang jahat. Tidaklah mengherankan bahwa iman yang mulanya cukup besar pada waktu sesorang baru bertobat, belum tentu bisa bertumbuh, jika kurang ada kesadaran atau pengetahuan tentang apa yang baik dan buruk selama ia hidup di dunia. Roh Kudus yang memampukan orang Kristen untuk hidup baik, belum tentu didengar suaranya di tengah hiruk-pikuk kesibukan manusia sehari-hari.

Dalam hidupnya di dunia, orang Kristen harus mengerti bahwa iblis selalu berusaha menyerang dia dari sudut kelemahannya. Jika ia tidak menyadari apa yang menjadi kelemahannya, sudah tentu iblis akan mudah mengalahkan kemauan orang itu untuk hidup menurut firman Tuhan. Kelemahan itu belum tentu perasaan tidak mampu untuk mengenal Tuhan dengan baik, tetapi justru sering terjadi karena orang merasa puas bahwa ia sudah mempunyai pengetahuan yang banyak tentang Tuhan. Mungkin pengetahuan itu diperoleh melalui pendidikan atau pengalaman pribadinya, dan itu membuat ia merasa bahwa iman dan pengetahuannya sudah sempurna. Ia mungkin lupa bahwa dengan makin banyaknya pengetahuan kita tentang kebesaran Tuhan, makin tahulah ia akan kekurangannya. Oleh karena itu, ia akan makin bersemangat untuk lebih banyak belajar dan mengajar orang lain untuk bisa hidup lebih dekat dengan Tuhan.

Manusia yang sudah lahir baru adalah orang yang sudah diselamatkan. Orang yang sedemikian tentunya merasa ingin untuk hidup baru, menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Rasa syukur yang luar biasa hanya bisa menambah kemauan untuk memuliakan Tuhan setiap saat. Tetapi, keadaan manusia dan dunia selama ia masih hidup di dunia sering kali membuat dia kecewa, sebab sekalipun ia ingin untuk hidup baik, ia tetap sering berbuat apa yang tidak baik. Oleh karena itu, setiap orang Kristen harus sadar bahwa jika ia jatuh, ia tidak akan tinggal jatuh. Ia akan berusaha untuk bangun lagi, dan dengan penyertaan Roh Kudus ia akan bisa bangun lagi dan berjalan memikul salibnya.

Orang Kristen sejati tidak akan memikul salib untuk membawa kemuliaan pada dirinya sendiri. Tugas dan kewajibannya dijalankan karena sebagai “hamba yang tidak berguna ia ahanya melakukan apa yang diperintahkan tuannya” (Lukas 17:10). Pada pihak yang lain, seorang hamba yang setia akan tetap melakukan tugasnya sekalipun orang lain menganggap dia melakukan tugasnya untuk menuntut upahnya. Setiap orang Kristen sudah dikaruniai anugerah yang terbesar yaitu keselamatan dalam darah Kristus; dan karena itu, jika kita sekarang berbuat kebaikan, itu hanyalah untuk kemuliaan Kristus.

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10

Pagi ini kita harus ingat bahwa tidak ada alasan bagi setiap orang Kristen untuk tidak mau belajar tentang apa yang perlu untuk hidup di dunia sebagai umat Tuhan. Kita tidak memerlukan pengetahuan teologi yang muluk-muluk, tapi perlu mempelajari apa kehendak Tuhan yang sidah dinyatakan dalam Alkitab. Kita harus tahu apa tugas seorang hamba Kristus. Setiap orang Kristen akan berjuang sekeras tenaga untuk menjalani hidup sebagai hamba Tuhan yang setia, sekalipun ia mungkin tidak diberi banyak talenta. Ia harus menghindari berbagai godaan untuk mengabaikan apa yang sudah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Ia harus sadar bahwa Tuhan tidak mengharapkan umat-Nya untuk bisa sempurna selama hidup di dunia. Baru dalam keadaan yang dicapainya setelah dimuliakan di surga, umat Kristen dikaruniai kebebasan yang sempurna dan tidak peka terhadap perubahan dan tantangan, sehinnga bisa menghendaki apa yang baik semata-mata (pengakuan Westminster, Bab 9, poin 5). Selama hidup di dunia, tetaplah berjuang, tumbuhlah dalam pengetahuan dan iman!

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3:18


Pengakuan Westminster 1646: Kehendak Bebas

Bab IX. Kehendak bebas

1. Allah telah memperlengkapi kehendak manusia dengan kebebasan kodrati yang tidak dipaksa dan tidak ditentukan oleh keharusan alamiah apa pun untuk berbuat baik atau jahat.[a]

a. Mat 17:12; Yak 1:14; Ula 30:19.

2. Ketika masih berada dalam kedudukan tidak bersalah, manusia memiliki kebebasan dan kuasa yang membuatnya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik dan berkenan dan kepada Allah. [a] Akan tetapi, dalam hal itu ia peka terhadap perubahan, sehingga ia dapat saja jatuh dan kehilangan kemampuan itu.[b]

a. Pengk 7:29; Kej 1:26. b. Kej 2:16-17; 3:6.

3. Karena jatuh ke dalam keadaan berdosa, manusia sama sekali kehilangan kemampuan menghendaki harta rohani apapun yang menyertai keselamatan.[a] Maka itu, manusia kodrati sama sekali menolak harta itu[b] dan mati dalam dosa,[c] sehingga ia tidak mampu untuk dengan kekuatannya sendiri bertobat atau mempersiapkan diri untuk bertobat.[d]

a. Rom 5:6; 8:7; Yoh 15:5. b. Rom 3:10,12. c. Efe 2:1,5; Kol 2:13. d. Yoh 6:44,65; Efe 2:2-5; 1Ko 2:14; Tit 3:3-5.

4. Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa[a] dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani.[b] Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat.[c]

a. Kol 1:13; Yoh 8:34,36. b. Fil 2:13; Rom 6:18,22. c. Gal 5:17; Rom 7:15,18,19,21,23.

5. Baru dalam keadaan yang dicapainya setelah dimuliakan, kehendak manusia dikaruniai kebebasan yang sempurna dan tidak peka terhadap perubahan untuk menghendaki apa yang baik semata-mata.[a]

a. Efe 4:13; Ibr 12:23; 1Yo 3:2; Yud 1:24.


Perjalanan hidup orang Kristen bersama Roh Kristus

Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa , tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roma 8: 8-11

Roma 8 dimulai dengan pernyataan yang luar biasa tentang kasih karunia Allah: Tidak ada penghukuman bagi mereka yang di dalam Kristus Yesus. Setelah menjelaskan bagaimana ini dimungkinkan oleh kehidupan dan kematian Yesus, Paulus membandingkan dua jenis kehidupan. Yang satu adalah hidup di dalam Roh Kudus bagi mereka yang ada di dalam Kristus, yang lainnya adalah hidup yang dijalani menurut daging. Orang Kristen memiliki Roh; dan mereka berbeda dari orang yang tidak mengenal Allah. Karena Roh ada di dalam kita, kita akan dibangkitkan dari kematian seperti Yesus, sedangkan mereka yang hidup dalam daging, artinya non-Kristen, mengabaikan dan dengan demikian, memusuhi Tuhan.

Paulus telah menjelaskan perbedaan antara mereka yang hidup dengan “daging”, yaitu mereka yang mementingkan diri sendiri dan hidup dalam dosa, dengan mereka yang hidup oleh Roh Allah. Uraian Paulus tidak memberi kemungkinan bagi siapa pun untuk hidup oleh daging dan juga hidup oleh Roh. Orang Kristen sejati tetap hidup oleh Roh, bahkan jika mereka terkadang masih terganggu oleh dosa. Orang yang benar-benar percaya kepada Kristus dapat berbuat dosa (1 Yohanes 1:9-10), tetapi dosa bukanlah pola perilaku yang normal bagi seseorang yang ada di dalam Kristus (1 Yohanes 3:4-6).

Pada pihak lain, orang non-Kristen mempunyai hidup yang bersifat karnal atau kedangingan, yaitu hidup yang secara normal untuk melayani keinginan dan nafsu diri mereka sendiri. Karnal adalah hasrat tubuh pada sesuatu yang sifatnya material, seperti lawan jenis, harta benda atau makanan dan segala hal material lainnya. Pembentukan sifat karnal ini bergantung pada obyek karnal itu sendiri (yaitu obyek-obyek jasmani) yang bisa dirasakannya. Misalnya, apabila seseorang terbiasa dengan makanan yang sangat sederhana, maka sifat karnalnya terhadap makanan tidak mudah tumbuh menjadi besar. Namun, jika kemudian dia mencicipi makanan yang jauh lebih mewah dan enak daripada yang biasa ia makan, maka sifat karnalnya pun mulai naik ke tingkat yang lebih tinggi dan akan tumbuh untuk menciptakan rasa tidak cukup, dan dengan demikian muncul rasa tidak puas atas yang ada, dan adiksi pada apa yang lebih nikmat tetapi yang kurang sehat. Seperti itu juga, dosa dalam hidup kedagingan bisa menimbulkan berbagai masalah (ingat 7 dosa yang membinasakan).

Roma 8 dimulai dan diakhiri dengan pernyataan kedamaian mutlak orang Kristen di hadapan Allah. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya kepada Injil, kita sekarang hidup dalam bimbingan Roh Allah. Itu memungkinkan kita untuk memanggil Tuhan sebagai Abba, yaitu Bapa. Kita menderita bersama Kristus, dan kita menderita bersama dengan semua ciptaan sementara kita menunggu Allah menyambut kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan pertolongan Roh, kita yakin bahwa Allah ada di pihak kita dan bahwa Dia selalu mengasihi kita di dalam Kristus.

Kita harus bersyukur bahwa Allah sudah mengirinkan Putra-Nya untuk menebus manusia yang berdosa. Setiap orang yang bertobat dari dosanya dan percaya kepada Yesus Kristus akan lahir baru sebagai umat Tuhan dan diberi karunia Roh Kudus.

Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Kisah 2:38

Paulus menjelaskan kepada para pembacanya, orang-orang Kristen yang tinggal di Roma, bahwa dia mengerti bahwa mereka berada di dalam Roh dan bukan di dalam daging. Paulus mengidentifikasi mereka sebagai orang Kristen yang sudah lahir baru, dengan ketentuan bahwa ini benar “jika” Roh Allah diam di dalam kamu. Dalam bahasa kita, kita cenderung berasumsi bahwa kata “jika” menyiratkan keraguan; tetapi, dalam hal ini kata itu hanya menghubungkan dua gagasan. Ungkapan ini mungkin lebih baik dibaca sebagai kondisi yang dianggap benar. Dengan kata lain, “Kamu ada di dalam Roh karena Roh Allah diam di dalam kamu”. Kebalikannya juga benar: Jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, dia bukan milik Kristus. Paulus dalam kitab Roma 8 tidak membahas hal orang non-Kristen yang tidak memiliki Roh Allah. Itu karena Allah memberikan Roh Kudus-Nya kepada setiap orang Kristen. Tanpa Roh, kita bukanlah orang Kristen (1 Korintus 3:16; 2 Timotius 1:14).

Kita harus menyadari bahwa Allahlah yang mendorong orang berdosa hingga bertobat, dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat. Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata, dan menjadikan orang itu mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Ini adalah tanda orang Kristen: ia bisa menggunakan kehendak bebasnya dengan bimbingan Roh Kudus untuk memilih apa yang baik di mata Tuhan (sesuai dengan Pengakuan Westminster Bab 9, poin 4). Akan tetapi, Roh Kudus bekerja begitu rupa sehingga manusia tidak dipaksa untuk memilih apa yang baik. Jika orang Kristen terus berbuat dosa, ia mendukakan Roh Kudus yang kemudian menjadi diam. Orang Kristen kemudian bisa jatuh kembali ke sifat kedagingannya. Ini disebabkan oleh kerusakan yang masih tinggal pada orang itu, sehingga ia tidak bisa menghendaki apa yang baik itu secara sempurna; dan bukan hanya itu saja, tetapi ia juga masih bisa menghendaki apa yang jahat selama ia masih hidup di dunia.

Dalam ayat 10 dan 11, Paulus mengontraskan kuasa kebangkitan hidup yang dibawa oleh Roh Kudus, dengan daging yang fana, yang membawa maut. Ini terhubung kembali ke Roma 7:24, di mana Paulus bertanya, “Aku, manusia celaka ! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Dia menyatakan bahwa dia masih hidup dalam tubuh daging, yang membawanya mengalami kematian dengan menuntunnya untuk menuruti hukum dosa. Paulus menjawab pertanyaannya sendiri dengan menyatakan bahwa Yesuslah yang membebaskan kita dari tubuh maut.

Salah satu keselamatan, atau kelepasan, yang harus kita nantikan adalah saat kita diselamatkan dari keharusan berjalan dengan sifat dosa kita. Tubuh baru kita tidak akan memiliki natur dosa (baca pengakuan Westminster Bab 9 Poin 5). Itulah pengharapan kita akan kemuliaan dalam banyak hal. Tapi itu adalah sesuatu yang ada di masa depan. Dalam ayat 11 Paulus menulis bahwa Tuhan menciptakan kita untuk tujuan final ini, dan bahwa Roh Kudus adalah janji untuk kemuliaan dan pembebasan dari tubuh kita yang berdosa ini.

Bagi orang percaya, hidup baru diberikan melalui Roh Kudus (ayat 11). Roh yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati sekarang berdiam di dalam kita. Pada akhirnya, pemberian hidup ini akan menjadi sempurna sepenuhnya; sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari kematian, kita juga dapat menantikan kebangkitan penuh ketika kita meninggalkan bumi ini (1 Korintus 15:51-53). Dia yang membangkitkan Kristus Yesus dari kematian juga akan memberikan hidup kepada tubuh fana kita, melalui Roh-Nya yang diam di dalam kita. Tetapi, pada saat ini, kita masih memiliki tubuh fana ini dengan manusia lama ini, sifat dosa lama ini di dalamnya (Roma 6:6) dan juga dengan Roh Kristus tinggal di dalamnya.

Pergumulan antara daging dan roh terbukti di seluruh kitab Roma, dan Paulus ingin memperjelas bahwa kematian Kristus cukup untuk membawa kebenaran kepada kita di hadirat Allah, bahwa Kasih Karunia telah melimpah lebih dari yang dapat dilakukan oleh dosa. Tetapi untuk kita mengalaminya dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus menghadapi dua realitas yang bersamaan yaitu memiliki tubuh yang mati dari dosa yang ingin menguasai kita, sementara juga memiliki roh Kristus yang hidup tinggal di dalam kita karena iman kita kepada-Nya.

Jika Kristus ada di dalam kita, meskipun tubuh akan mati karena dosa, roh kita hidup karena kebenaran. Ini bukan alasan untuk tidak berusaha untuk menaati perintah Tuhan untuk hidup dalam terang, karena kehidupan kita di dunia seharusnya membawa kemuliaan bagi Tuhan. Kehidupan orang Kristen yang tidak beres bisa menjadi batu sontohan dan menghalangi orang lain untuk percaya kepada Kristus. Kehidupan orang Kristen yang tidak sesuai dengan firman Tuhan juga akan membawa masalah bagi orang itu dan keluarganya.

Hari ini, sebagai umat-Nya, kita dapat hidup bukan sebagai budak dosa dan kematian, tetapi sebagai orang yang telah dibangkitkan. Untuk itu kita harus dekat dengan Tuhan dan mau mendengarkan suara Roh Kudus dalam hidup kita. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang sudah diselamatkan, dengan hidup dalam Roh, agar nama Tuhan dipermuliakan. Hidup kita harus bisa dibedakan dari hidup mereka yang hidup secara karnal, yang tidak memiliki Roh Kristus, yang bukan milik Kristus. Pada saat ini, kita harus bersyukur kalau Tuhan memberikan kehidupan kepada tubuh yang fana meskipun kita masih memiliki kelemahan terhadap dosa di dalam diri kita. Semua itu adalah kesempatan bagi kita untuk menyatakan kebesaran Tuhan di dunia sambil bersyukur atas kasih-Nya. Maukah Anda mengguakan kesempatan yang masih ada?

Antara kehendak Tuhan dan pilihan manusia

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus – itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu” Filipi 1: 21-24

Filipi adalah koloni Romawi, dan kota utama salah satu bagian Makedonia, di sini rasul Paulus diarahkan oleh sebuah penglihatan, untuk pergi dan memberitakan Injil; dan yang berhasil membawa pertobatan Lydia, kepala penjara dan keluarga mereka (Kisah 16: 13-40). Pauluslah yang meletakkan dasar sebuah gereja di tempat ini, kepada siapa surat ini ditulis. Kitab Filipi ditulis oleh rasul Paulus ketika dia menjadi tahanan di Roma.

Ayat ini menawarkan beberapa kata yang paling berkesan di seluruh Alkitab: “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Ayat ini menampilkan tidak hanya kehendak Tuhan, tetapi juga pilihan manusia. Paulus tidak tahu apa kehendak Tuhan yang belum dinyatakan, tetapi ia tahu bahwa Tuhan senang kalau Paulus masih mau melayani. Karena itu, terlepas dari apakah vonis atas kasusnya adalah hidup atau mati, Paulus akan tetap setia kepada Tuhan. Dia tahu bahwa kehidupan di bumi ini berarti hidup bagi Kristus, tetapi kematian bagi Paulus pribadi, akan lebih baik lagi karena dia akan berada di hadirat Tuhan. Paulus tidak ingin terburu-buru untuk mati, karena penting baginya untuk menyebarkan Injil sejauh mungkin (Filipi 1:22).

Kata-kata ini juga penting untuk memastikan apa yang terjadi pada jiwa orang percaya setelah kematian. Beberapa berpendapat menyatakan bahwa “tidur jiwa” adalah mungkin. Ini adalah pandangan bahwa jiwa orang beriman memasuki keadaan tidak sadar, dan tidak pergi ke surga bersama Tuhan sampai penghakiman yang akan datang. Ayat ini menunjukkan bahwa ajaran seperti itu tidaklah benar. Paulus dengan jelas menyatakan harapannya untuk bersama Kristus pada saat hidupnya di bumi berakhir. Ini adalah pandangan yang juga direfleksikan oleh Yesus ketika Ia mengatakan kepada pencuri di kayu salib bahwa ia akan berada di surga bersama-Nya “hari ini” (Lukas 23:43).

Filipi 1:19–30 memperlihatkan Paulus merenungkan dua keinginan yang bersaing. Di satu sisi, seorang Kristen sejati tentunya ingin melayani Tuhan dan membawa orang lain kepada Kristus melalui hidup cara mereka. Sebaliknya, seorang Kristen sejati rindu untuk meninggalkan penderitaan—ingin bersama Allah dalam kekekalan. Paulus bebas untuk menyatakan pilihannya, tetapi ia juga tahu bahwa Tuhan tentu menetapkan apa yang terbaik bagi-Nya. Karena Paulus dekat kepada Tuhan, ia menyimpulkan bahwa dirinya lebih baik hidup sampai Tuhan memanggilnya pulang, sehingga dia bisa melayani sesamanya untuk memuliakan Tuhan.

Paulus menyatakan adanya dua pilihan dan adanya kehendak Tuhan dan kehendak manusia. Apakah Paulus mempunyai untuk memilih untuk mati? Sudah tentu tidak, Paulus tidak akan berlaku sembrono atau bunuh diri agar ia bisa mati. Itu bukan cara hidup orang Kristen. Tetapi, Paulus memilih untuk terus bekerja, dan untuk itu ia membina semangat hidupnya untuk makin dekat kepada Tuhan. Itu adalah pilihannya yang bertentangan dengan kehendaknya. Paulus juga menyemangati orang Filipi dengan keyakinannya bahwa dia akan dibebaskan untuk melihat mereka lagi. Pengalamannya, baik atau buruk, semuanya menambah kemuliaan Yesus Kristus. Pilihan orang Kristen sejati selalu untuk memuliakan Tuhan melalui hidup-matinya.

Pernahkah Anda memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan untuk diri Anda? Apakah Anda pernah berusaha untuk mencari kehendak-Nya dan bukan hanya memikirkan apa yang Anda ingini? Ataukah Anda tidak pernah memikirkan apa kehendak Tuhan karena Anda yakin bahwa pilihan Anda sia-sia adanya? Bahwa hidup Anda terus berjalan sebagai orang Kristen sekalipun tidak mengalami pergumulan untuk memilih apa yang terbaik untuk Tuhan? Dari Paulus kita belajar bahwa mencari kehendak Tuhan adalah perlu, supaya kita dapat mengambil keputusan tentang yang terbaik di antara dua pilihan yang terlihat baik. Ini lebih sulit dari memilih apa yang baik di antara dua pilihan: baik atau buruk.

Pada saat kita belum bertobat, sebelum lahir baru, kita memang sama sekali kehilangan kemampuan menghendaki harta rohani apapun yang menyertai keselamatan. Maka itu, manusia kodrati kita sama sekali menolak karunia Tuhan dan mati dalam dosa, sehingga kita tidak mampu untuk memilih apa yang baik. Kehendak bebas kita justru membuat kita makin gampang memiilih apa yang buruk.

Sebagai orang percaya, kita sekarang seharusnya adalah ciptaan yang baru. Yang lama sudah lenyap, dan yang baru sudah datang. Bila Allah membuat kita, orang berdosa, bertobat dan memindahkan kita ke posisi sebagai seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskan kita dari perhambaan kodrat di bawah dosa; dan oleh rahmat-Nya semata-mata, Ia menjadikan kita mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Mata rohani kita sudah dicelikkan. Tidak boleh ada keraguan akan hal ini; sebab jika kita bimbang, maka kita akan segan memilih tindakan yang terbaik dalam hidup kita untuk memuliakan Tuhan.

Iblis sudah tentu tidak ingin kalau kita bersemangat untuk hidup baik untuk Tuhan. Iblis mungkin selalu mengingatkan bahwa kita adalah orang berdosa. Tiap tiap kali kita ingin berbuat baik, ia akan mengingatkan kita akan berbagai kegagalan pada masa yang lalu. Sebagai akibatnya, mungkin kita merasa tidak mampu untuk memilih apa yang terbaik dalam hidup kita. Padahal Tuhan sudah memberikan Roh Kudus untuk memimbing kita.

Cara Roh Kudus bekerja bukanlah dengan memaksa kita. Karena sebagai manusia pengaruh dosa masih ada dalam kita, kita sering tidak menghendaki apa yang baik; dan bukan hanya itu saja, kita juga masih sering menghendaki apa yang jahat. Karena itu, adalah penting bagi kita untuk tetap bersemangat untuk hidup dalam bimbingan Roh Kudus, dan mau bertanggung jawab untuk memilih yang terbaik dan bertindak. Kelemahan kita bukanlah alasan untuk tidak mau memilih apa yang terbaik untuk kemuliaan Tuhan. Jika kita memang mengakui kedaulatan Tuhan, kita harus tunduk kepada perintan-Nya untuk taat kepada firman-Nya dan hidup untuk memuliakan Dia.

Kedaulatan Tuhan dan fatalisme

“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6:10


Apakah Anda percaya bahwa Tuhan adalah berdaulat dan kehendak-Nya harus terjadi? Saya yakin Anda akan menjawab “ya’ jika Anda pernah mengucapkan Doa Bapa Kami. Dalam doa itu ada kalimat ” Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga”. Setiap orang Kristen seharusnya percaya. Tetapi, setiap kali saya mendengar orang berbicara tentang iman Kristen sebagai pandangan fatalistik, saya bisa mengerti karena di antara orang Kristen sendiri ada yang percaya (seperti pengikut agama lain) dan menafsirkan bahwa Tuhan yang mahakuasa selalu memaksakan kehendak-Nya agar terjadi. Sebenarnya, jika ada satu hal yang tidak dimiliki oleh Kekristenan adalah fatalistisme.

“Fatalisme” berarti bahwa nasib manusia dikendalikan dan tidak bisa dielakkan, sehingga pada akhirnya menjadi bulan-bulanan dari takdir. Atau itu berarti bahwa hidup kita dikendalikan oleh kekuatan yang tidak berperasaan dan buta, yang hanya bekerja secara mekanistik. Bukan itu yang harus kita nyatakan ketika kita berbicara tentang kebebasan Kristen dan kedaulatan Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakuasa, tetapi bukan Tuhan yang sewenang-wenang. Bagaimana mungkin jika Tuhan sewenang-wenang, Ia justru membenci orang yang berlaku sewenang-wenang kepada sesamanya?

Dalam hal kedaulatan Tuhan dan kebebasan manusia, ada baiknya kita melihat apa yang dipercaya oleh pemimpin-pemimpin gereja di saat ini. Pendeta Tim Keller, sebagai contoh, menyatakan bahwa “Tuhan berdaulat, tetapi pilihan manusia penting”. Bagaimana bisa begitu? Pengakuan Westminster tahun 1646 Bab 9, Poin 1 memang menyatakan bahwa Allah telah menganugerahi kehendak manusia dengan kebebasan alami, yang tidak dipaksakan, atau, oleh kebutuhan mutlak apa pun dari alam, ditentukan untuk kebaikan, atau kejahatan, (Matius17:12; Yakobus 1:14; Ulangan 30: 19). Tuhan memberi kebebasan kepada manusia dan tidak memaksakan kehendak-Nya atas kebebasan itu, dalam memilih apa yang baik atau apa yang buruk.

Ini berarti bahwa manusia adalah agen bebas: (1) Bahwa manusia memiliki kekuatan sendiri; bahwa dia bergerak sendiri, dan tidak hanya bergerak seperti dia digerakkan dari luar. (2) Bahwa manusia selalu menghendaki menurut apa yang ada padanya; dan sesuai dengan pemahamannya pada saat itu, dia keinginan untuk berkehendak. (3) Manusia dilengkapi dengan alasan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, dan hati nurani untuk membedakannya yang benar dan yang salah, agar sesuai dengan keinginan dan akibatnya kehendak bisa rasional dan benar; namun keinginannya belum tentu baik, rasional, atau benar, tetapi mereka dibentuk di bawah terang akal dan hati nurani mereka, baik selaras atau bertentangan dengan mereka, sesuai dengan disposisi kebiasaan atau karakter moral jiwa mereka sendiri.

Jika manusia adalah bebas untuk memilih apa yang baik atau buruk menurut pemahamannya, di manakah kedaulatan Tuhan untuk bisa membuat apa pun terjadi sesuai dengan kehendak-Nya? Teolog RC Sproul menjelaskan bahwa pertama-tama, ketika kita berbicara tentang kedaulatan Tuhan, kita mengatakan bahwa Tuhan benar-benar berkuasa dan berdaulat atas segala sesuatu. Tidak ada yang terjadi terlepas dari kehendak-Nya, dalam arti tertentu. Namun, dalam konteks kedaulatan Allah, Allah dapat mengoperasikan kekuasaan berdaulat itu dengan berbagai cara. Tuhan dapat mengoperasikan kekuasaan kedaulatan-Nya secara aktif atau pasif.

Secara aktif, Tuhan dapat menentukan dengan membentuk peristiwa sejarah untuk mewujudkan apa yang akan Dia wujudkan. Dia dapat memerintahkan dunia secara sepihak untuk menjadi ada. Dia dapat menghidupkan kembali orang mati dengan kuasa perintah-Nya. Itulah seberapa besar kekuatan dan kasih yang Dia miliki. Dan kita membicarakannya dalam istilah kemahakuasaan, yaitu kekuatan mutlak atas tatanan ciptaan.

Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Yeremia 18: 4

Allah juga menjalankan kuasa kedaulatan itu melalui operasi pasif melalui apa yang kita sebut sebagai “kuasa penahan”. Artinya, Tuhan dapat memberi kita kebebasan dalam batas-batas dan masih membawa kita ke mana kita ingin pergi atau membawa dunia ke mana Dia ingin pergi tanpa harus mengambil semua kebebasan kita untuk memilih dan kemauan kita. Pada pihak lain, Tuhan dapat menahan tindakan kita atau menyajikan peluang yang Dia tahu akan kita pilih jika Dia menempatkannya di hadapan kita. Itu karena Tuhan bukan saja mahakuasa, tetapi juga mahatahu dan mahabijaksana. Dia tetap bekerja sekalipun melalui cara pasif.

Anda mungkin meminta sebuah contoh tentang itu dan bagaimana Alkitab berbicara tentang kedaulatan Tuhan dan kebebasan manusia. Karena baru saja kita merayakan hari kematian dan kebangkitan Yesus, marilah kita meneliti apa yang dilakukan Tuhan.

Yesus harus mati, dan Alkitab mengatakan bahwa tidak mungkin dalam konteks kematian-Nya bahwa tulang-tulang Yesus dipatahkan. Apakah Anda ingat ayatnya? Yohanes 19:36. Tidak mungkin tulang Kristus dipatahkan. Dalam arti apa tidak mungkin tulang-tulang-Nya dipatahkan? Apakah karena manusia Yesus memiliki kekuatan di kaki-Nya yang secara intrinsik tidak bisa dihancurkan? Atau apakah tulang Yesus secara intrinsik rapuh seperti tulang manusia mana pun?

“Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Yohanes 19: 32-34

Praktik Romawi yang normal adalah membiarkan pria dan wanita yang disalibkan di kayu salib sampai mereka mati — dan ini bisa memakan waktu berhari-hari — dan kemudian membiarkan tubuh mereka yang membusuk tergantung di sana untuk dimakan oleh burung nasar. Jika ada alasan untuk mempercepat kematian mereka, para prajurit akan memukul kaki korban dengan palu besi (praktik yang disebut, dalam bahasa Latin, crurifragium). Terlepas dari syok dan kehilangan darah lebih banyak, langkah ini mencegah korban mendorong dengan kakinya agar rongga dadanya tetap terbuka. Ketika kaki dipatahkan, lengan kemudian segera menjadi tidak kuat, dan terjadilah asfiksia (kondisi ketika oksigen dalam tubuh berkurang yang bisa mengakibatkan penurunan kesadaran dan bahkan kematian).

Bukan karena Yesus memiliki struktur kerangka tubuh yang secara intrinsik tidak dapat dihancurkan yang membuat tulang-tulangnya tidak mungkin dipatahkan. Itu karena Tuhan telah memutuskan dengan otoritas kedaulatan-Nya bahwa tulang-tulang Putra terkasih-Nya tidak akan dipatahkan. Dan tidak ada kekuatan di langit dan bumi yang dapat menolak ketetapan Tuhan itu.

Jika prajurit itu mengambil palu dan menghantamkannya pada kaki Yesus, Tuhan akan “menggerakkan langit dan bumi” untuk menahan pilihan manusia itu agar tidak membawa hasil yang sebenarnya. Tetapi seperti kita baca, Tuhan tidak perlu bertindak karena prajurit itu mengambil keputusan untuk tidak mematahkan kaki Yesus. Bukan karena Tuhan memaksa prajurit itu untuk berpikir demikian.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu memakai pandangan fatalis untuk menjelaskan kedaulatan Tuhan. Tuhan berdaulat, tetapi keputusan manusia adalah penting supaya kebesaran Tuhan dinyatakan. Pandangan fatalistik bukan meninggikan kedaulatan Tuhan, tetapi sebaliknya merendahkan Dia, karena kita membatasi cara kerja-Nya. Kita tidak dapat menharapkan Tuhan berindak atas nama diri kita, karena setiap manusia harus bertanggung jawab atas hidupnya; dalam setiap tindakan kita baik itu baik ataupun buruk. Karena itulah kita harus berusaha mencari kehendak Tuhan sebelum kita mengambil keputusan. Jika kita yang sudah menerima Roh Kudus tidak bertindak atau tidak mau berbuat baik, itu pun adalah tindakan yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan.

Jika kita tidak mau bertindak karena kita menganggap Tuhan adalah kejam dan semena-mena, itu pun keputusan yang kita pilih dan harus dipertanggungjawabkan. Jika kita memandang Tuhan sebagai Oknum yang tidak memberi kebebasan memilih, itu pun keputusan kita yang tidak menghargai kebijaksanaan Tuhan yang sudah menciptakan kita sebagi gambar-Nya. Tuhan yang berdaulat tidak akan terkejut jika kita membuat tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya; sebaliknya kita akan terkejut jika apa yang kita kehendaki ternyata tidak terjadi karena kita mengabaikan firman-Nya.

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3: 5-6

Yesus bangkit untuk membangkitkan kita dari kematian rohani

“Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.” 1 Petrus 2: 2-3

Hari ini hari Paskah, hari kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus adalah kunci iman kita, karena jika Ia tidak dibangkitkan semua apa yang kita percaya dan harapkan akan menjadi sia-sia (1 Korintus 15: 17). Jika Yesus tidak bangkit, kita akan tetap hidup dalam dosa karena tidak ada yang dapat membasuhnya. Karena Yesus bangkit, kita akan dibangkitkan juga. Karena kita benar-benar sudah mengecap kebaikan Tuhan, kita beroleh keselamatan.

Seperi bunyi ayat di atas, walaupun keselamatan adalah satu hal utama dalam iman, sebagian besar orang Kristen tentunya juga mengharapkan bahwa mereka akan dapat menempuh hidup baru yang memuliakan Tuhan. Mereka ingin bertumbuh dalam iman, berbahagia dalam Tuhan, dan berbuah-buah dalam hidup mereka sebab itu adalah yang dihendaki Tuhan. Sayang sekali, tidak semua orang Kristen mempunyai keinginan yang sama. Mengapa begitu?

Ancaman besar terhadap keselamatan dan pertumbuhan kita menuju keselamatan adalah apa yang disebut fatalisme rohani—kepercayaan atau perasaan bahwa hanya ini yang pernah saya alami tentang Allah— tingkat intensitas spiritual yang saya miliki sekarang adalah satu-satunya yang dapat saya miliki sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang lain mungkin memiliki hasrat yang kuat akan Tuhan dan mungkin memiliki pengalaman yang mendalam tentang kebahagiaan pribadi di dalam Tuhan, tetapi saya tidak akan pernah memilikinya karena … yah, hanya karena Tuhan sudah menentukan ukuran iman saya.

Fatalisme spiritual ini adalah perasaan bahwa kekuatan genetik, kekuatan keluarga, kekuatan budaya, kekuatan pengalaman masa lalu, dan keadaan sekarang terlalu kuat untuk memungkinkan saya untuk berubah dan menjadi lebih bersemangat untuk Tuhan (Titus 2:14), atau lebih bersemangat (Roma 12:12), atau lebih bergembira di dalam Allah (Mazmur 37:4), atau lebih lapar akan persekutuan dengan Kristus (Yohanes 6:35), atau lebih betah dengan hal-hal rohani (Roma 8:5), lebih berani (2 Timotius 1:7), atau lebih bertekun dan bersukacita (Roma 12:12), atau penuh harapan (1 Petrus 1:13).

Fatalisme spiritual adalah kejadia tragis di dalam gereja, dan sering dikhotbahkan oleh sebagian pendeta. Dengan kedok ketundukan kepada kedaulatan Tuhan, pesan-pesan mereka membuat jemaat terjebak. Itu menghilangkan harapan dan impian akan perubahan dan pertumbuhan. Itu menekan kebahagiaan hidup, yang merupakan bagian pertumbuhan iman. Ini seperti mengatakan kepada seorang gadis kecil yang merasa kikuk karena merasa tubuhnya tidak proporsional: begitulah dirimu, dan kamu akan selalu seperti itu, padahal sebenarnya dia ditakdirkan untuk tumbuh dan berubah. Adalah sangat tragis untuk meyakinkannya tentang semacam fatalisme fisik—bahwa pertumbuhannya terhenti tepat di usia 13 tahun. Dalam hal ini, fatalisme spiritual adalah jauh lebih buruk. Itu karena hal-hal yang lebih besar sedang dipertaruhkan, yaitu selama di dunia kita mungkin akan tidak pernah mencapai titik di mana kita telah sampai pada kedewasaan iman seperti yang kita alami pada tubuh fisik kita. Itu adalah karena kesalahan kita sendiri, yang tidak dapat mengerti adanya kedaulatan Tuhan dan tanggung jawanb manusia.

Dalam ayat di atas Tuhan memerintahkan kita untuk tidak menjadi fatalis secara rohani. Petrus berkata dalam ayat 2: “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohan.” Kata yang sangat penting di sini adalah “selalu ingin” —ini adalah perintah untuk menginginkan. Artinya adalah jika Anda merasa mandek karena Anda tidak memiliki hasrat spiritual yang seharusnya, teks ini mengatakan, Anda tidak boleh mandek! Dikatakan, “Jadilah seperti bayi!—Dapatkan keinginan yang belum Anda miliki.” Jika Anda saat ini tidak menginginkan susu Firman, mulailah menginginkannya! Ini adalah tanggung jawab Anda.

Bukankah itu luar biasa? Perintah Tuhan untuk menginginkan! Perintah untuk merasakan kerinduan yang tidak kita rasakan. Perintah untuk merasakan keinginan yang tidak kita miliki. Adakah yang lebih bertentangan dengan fatalisme spiritual daripada perintah itu? Fatalisme mengatakan, saya tidak bisa menciptakan keinginan. Jika Tuhan tidak memberi keinginan, saya tidak akan punya. Karena itu saya tidak merasakan hal-hal yang dirasakan oleh para pemazmur ketika mereka berkata, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang mengalir, demikianlah jiwaku merindukan-Mu, ya Tuhan” (Mazmur 42:1). Saya tidak pernah merasa seperti itu terhadap Tuhan, maka itu tentu sudah kehendak Tuhan. Saya tidak bisa seperti para pemazmur! Itulah yang dikatakan fatalisme spiritual. Fatalisme spritual memadamkan api Roh Kudus yang sudah diberikan kepada setiap orang percaya.

Tetapi Tuhan berkata (dalam ayat 2), “Inginkan susu murni dari firman!” Sekarang, sebelum Anda mengajukan segala macam keberatan, seperti, bagaimana Tuhan bisa memerintahkan saya untuk memiliki keinginan? Apa yang dapat saya lakukan untuk mematuhi perintah seperti itu? Bagaimana cara menghasilkan keinginan? Seluruh masalah saya adalah bahwa saya tidak memiliki kekuatan yang saya butuhkan. Dan Tuhan hanya mengatakan kepada saya untuk menginginkan! Itu mungkin alasan kita.

Tuhan Yesus pernah juga menyuruh orang lumpuh untuk berjalan. Dan orang itu kemudian menurut, lalu bisa berjalan. Bagaimana jika orang itu mempunyai falatlisme rohani? Dapatkah ia berjalan? Tentu tidak. Uluran tangan Tuhan menuntut kita untuk menyambutnya. Iman bukan saja membawa keselamatan, tetapi juga membawa perubahan pandangan hidup jika kita mau taat kepada firman-Nya. Yesus sudah bangkit untuk membangkitkan kita dari kematian rohani kita dan Ia akan menolong kita untuk bisa hidup baik untuk memuliakan nama-Nya. Selamat hari Paskah!

“Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.” Ibrani 13: 20-21

Jadi, apa itu hiper-Calvinisme? Apakah itu kesalahan serius?

Saya menulis artkel ini, yang saya sadur secara bebas dari tulisan Pdt. Ronald Hanko dari gereja Covenant Protestant Reformed Church, karena ada satu kejadian yang tidak saya duga. Menyambut hari Paskah 2023, baru saja saya mendapat komentar dari seorang teman bahwa penekanan saya akan perlunya manusia untuk bertobat (temasuk orang Kristen) dan untuk hidup baik menurut Firman Tuhan adalah pelaksanaan kehendak bebas yang bersifat kedagingan. Saya terkejut karena baru sekali ini saya mendengar komentar semacam ini, tetapi saya tidak heran bahwa memang ada orang Kristen yang berpandangan sedemikian.

Saya akan menjelaskan, pertama, bahwa ada yang namanya hiper-Calvinisme, meskipun beberapa orang akan menyangkalnya. Mereka yang menyangkalnya biasanya adalah orang yang memang bertendensi hiper-Calvinis. Secara historis, nama tersebut telah diterapkan kepada mereka yang menyangkal bahwa perintah Injil untuk bertobat dan percaya harus diberitakan kepada semua orang.

Seorang hiper-Calvinis (secara historis dan doktrin) adalah seseorang yang, karena percaya bahwa tidak semua orang bisa dipilih dan ditebus Tuhan, tidak akan memerintahkan semua orang yang mendengar Injil untuk bertobat dan percaya. Dia adalah seseorang yang memulai dari premis yang benar tetapi menarik kesimpulan yang salah—yang tidak percaya bahwa “Allah memerintahkan semua orang di mana pun untuk bertobat” (Kis. 17:30).

Maka, seorang hiper-Calvinis sejati adalah orang yang percaya dengan benar pada kedaulatan Allah, predestinasi ganda dan khususnya penebusan Kristus, tetapi yang menyangkal kasih universal Allah dan kehendak Allah untuk menyelamatkan semua manusia. Namun dia menyimpulkan dengan salah bahwa karena Allah telah menentukan siapa yang akan diselamatkan, Ia mengutus Kristus hanya untuk mereka, dan memberikan kepada mereka keselamatan sebagai pemberian cuma-Cuma. Oleh karena itu hanya orang pilihan yang harus diperintahkan untuk bertobat dan percaya kepada pemberitaan Injil.

Ini, saya percaya, adalah kesalahan serius. Itu adalah kesalahan yang secara efektif menghancurkan pemberitaan Injil dan penginjilan—sebuah kesalahan yang harus disingkapkan dan dihindari. Doktrin semacam ini juga membuat orang Kristen kurang bersemangat untuk menginjil secara bebas, dan juga membuat mereka membenci orang yang tidak sefaham dengan mereka.

Inti dari hyper-Calvinisme, oleh karena itu, adalah penolakan terhadap apa yang disebut “kewajiban iman” (duty faith) dan “kewajiban pertobatan”  (duty repentance) yaitu, bahwa itu adalah tugas dan kewajiban yang sungguh-sungguh dari semua orang yang mendengar Injil untuk bertobat dan percaya. Hyper-Calvinisme menyimpulkan bahwa, karena manusia tersesat dalam dosa dan tidak mampu dari diri mereka sendiri untuk bertobat dan percaya, adalah suatu kesalahan untuk mengajak mereka untuk melakukannya. Ayakan seperti itu akan menyiratkan bahwa orang dapat mempunyai kemampuan untuk bertobat dan percaya, dan itu menandakan adanya kehendak manusia di luar kehendak Tuhan.

Maka, kaum hiper-Calvinis membuat kesalahan yang sama seperti mereka yang sangat menekankan kehendak bebas, hanya saja kaum hiper-Clavinis menarik kesimpulan yang berbeda. Keduanya berpikir bahwa untuk memerintahkan atau menuntut pertobatan dan iman dari orang berdosa yang mati harus menyiratkan bahwa orang berdosa tersebut tidak mati dan memiliki kemampuan untuk bertobat dan percaya. Mereka yang menekankan kehendak bebas mengatakan, “Mengajak orang untuk bertobat harus menyiratkan kemampuan, oleh karena itu, orang memiliki kemampuan.” Seorang hyper-Calvinis berkata, “Mengajak orang untuk bertobat harus menyiratkan kemampuan, oleh karena itu, kami tidak akan memerintah siapa pun kecuali yang terpilih.”

Ini berarti bahwa sementara seorang hiper-Calvinis sejati akan mengkhotbahkan “fakta-fakta” ayat Alkitab kepada semua orang yang mau mendengar (dan bersikeras bahwa dia memberitakan Injil), dia tidak akan mengajak audiensi untuk bertobat dan percaya. Perintah-perintah itu, menurut mereka, harus dikhotbahkan hanya kepada mereka yang menunjukkan bukti sebagai “orang-orang berdosa yang berakal sehat”, yaitu orang-orang berdosa yang telah diinsafkan oleh pekerjaan Roh Kudus.

Saya menolak gagasan ini karena berbagai alasan. Pertama, sulit untuk membayangkan bagaimana seseorang, tanpa ilham ilahi, dapat yakin bahwa dia berkhotbah hanya kepada “orang-orang berdosa yang berakal sehat” untuk membawa perintah Injil dengan percaya diri. Oleh karena itu, pada kenyataannya, perintah Injil jarang, jika pernah, terdengar dalam khotbah hiper-Calvinis. Khotbah-khotbah mereka hanya seputar kedaulatan Tuhan dalam memilih orang yang dikehendaki-Nya, dan tentang Tuhan yang tidak perlu memakai alasan untuk menghukum orang yang tidak dipilih-Nya.

Kedua, hyper-Calvinisme mengubah perintah bertobat dan percaya menjadi perintah untuk terus bertobat dan percaya, atau bertekun dalam bertobat dan percaya. Yang disebut “orang-orang berdosa yang berakal sehat”, satu-satunya yang dapat dipanggil untuk bertobat dan percaya adalah mereka yang sudah mulai melakukannya melalui pekerjaan rahasia Roh Kudus. Iman yang diminta, dalam hal ini, bukanlah iman yang menyelamatkan dalam arti kata yang paling benar dan terdalam, yaitu, iman yang membawa seseorang ke dalam persekutuan dengan Kristus, yang membenarkan dia dan memberinya keselamatan, tetapi hanya iman yang terus terwujud sendiri dalam buah jaminan dan harapannya.

Dalam hubungan inilah hiper-Calvinis sejati biasanya mengajarkan bahwa orang tersebut dibenarkan sepenuhnya dalam kekekalan dan bahwa pembenaran oleh iman hanya melibatkan jaminan pembenaran. Jadi, iman yang diminta dalam Injil pada kenyataannya tidak membenarkan kita di hadapan Allah tetapi hanya menjamin pembenaran yang telah terjadi. Peran dan tanggung jawab manusia dalam kehidupan Kristen dianggap tidak ada. Ini sebabnya di zaman ini banyak kita temui orang Kristen “kedagingan” yang hidupnya tidak nampak seperti orang yang sudah beriman.

Dalam hubungan ini , tidaklah mengherankan bahwa para hyper-Calvinis juga dituduh, dan itu memang sepatutnya, menganut faham antinomianisme (melawan hukum atau perintah) mengenai iman. Mereka tidak menganggap serius perintah untuk bertobat dan beriman, justru karena panggilan untuk beriman bagi mereka hanyalah panggilan untuk yakin akan imannya. Mereka juga mengabaikan perlunya untuk hidup baik sesuai dengan firman Tuhan. Ini adalah pandangan sesat yang sangat berbahaya, karena bisa menghancurkan norma-norma dan etika-etika hidup baik orang Kristen yang seharusnya ditaati orang percaya untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Atas dasar inilah saya dengan tegas menolak pandangan hiper-Calvinisme.

Penyangkalan terhadap “kewajiban iman”, “kewajiban pertobatan” dan “kewajiban memilih hidup baik”  ini jelas bertentangan dengan Kitab Suci. Kitab Suci mengatakan dalam Kisah Para Rasul 17:30 bahwa “Allah sekarang memerintahkan semua orang di mana saja untuk bertobat.” Yohanes Pembaptis dalam khotbahnya bahkan memanggil orang Farisi dan Saduki yang tidak percaya untuk bertobat (Mat. 3:8; Luk. 3:8). Yesus, juga, memanggil semua orang untuk bertobat dalam pemberitaan-Nya (Mat. 4:17) dan mencela kota-kota Galilea karena mereka tidak bertobat (Mat. 11:20). Ketika Dia mengutus 70 orang, Dia juga mengutus mereka kepada mereka yang menolak Injil dan bahkan memperingatkan mereka tentang penolakan ini (Markus 6:10-11), namun kita membaca bahwa mereka pergi dan memberitakan bahwa manusia harus bertobat (ayat 12).

Juga tidak ada bukti bahwa ketika Petrus, di bait suci setelah penyembuhan orang lumpuh, berkhotbah “bertobatlah dan bertobatlah” (Kis. 3:19), bahwa dia berkhotbah hanya kepada “orang-orang berdosa yang berakal sehat.” Tentu saja, Simon si tukang sihir bukanlah “orang berdosa yang bijaksana,” ketika Petrus berkata kepadanya, “Karena itu bertobatlah dari kejahatan ini, dan berdoalah kepada Tuhan, jika mungkin pikiran hatimu dapat diampuni” (Kis. 8:22).

Beberapa perikop yang telah dikutip (Kis. 3:19; 8:22) juga menyiratkan bahwa Injil menuntut iman dari semua orang yang mendengarnya. Iman adalah bagian dari pertobatan dan seseorang tidak dapat berdoa kepada Allah memohon pengampunan tanpa juga berdoa dengan iman. Demikian pula, tidak mungkin Yesus mengutuk orang Farisi karena tidak percaya, jika mereka tidak dituntut untuk percaya (Mat. 21:25; Luk. 22:67; Yoh. 10:25-26).

Hiper-Calvinis menyiasati ayat-ayat ini dengan berbicara tentang berbagai jenis pertobatan dan iman. Dia berbicara tentang “pertobatan Yahudi”, “pertobatan reformasi”, “pertobatan tidak langsung”, “pertobatan kolektif”, dll., dan mengklaim bahwa Kitab Suci juga menyerukan berbagai jenis iman. Jadi mereka bersikeras bahwa banyak dari ayat-ayat yang telah kita rujuk hanya untuk jenis iman dan pertobatan seperti itu, tetapi bukan untuk menyelamatkan pertobatan dan iman.

Saya tidak menyangkal, tentu saja, bahwa Kitab Suci berbicara tentang “iman” dan “pertobatan” yang tidak menyelamatkan (Kis. 8:13; II Kor. 7:10; Yakobus 2:19; Ibr. 12:17). Tapi ini, seperti yang kita tahu, hanyalah kemunafikan, dan tidak disukai Tuhan. Maka, mereka tidak mungkin menjadi sesuatu yang Tuhan minta. Bagaimana mungkin Allah, yang tidak berdusta, berbicara melalui Injil, memanggil manusia kepada pertobatan atau iman yang tidak tulus dan menyelamatkan? Tidak ada bukti sedikit pun di dalam Kitab Suci bahwa Dia juga melakukannya.

Oleh karena itu, kita harus percaya bahwa Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 17:30 harus diperhatikan dengan serius oleh mereka yang memberitakan Injil. Perintah untuk bertobat, percaya dan taat kepada Tuhan adalah bagian integral dari Injil, tidak hanya menyangkut umat pilihan Allah tetapi juga menyangkut  semua orang. Semua yang datang mendengarkan khotbah HARUS mendengar perintah itu! Tidak hanya sesuai dengan kehendak Allah bahwa itu diberitakan kepada semua orang tanpa pandang bulu tetapi itu perlu sejauh menyangkut Injil itu sendiri. Pertobatan dan ketaatan adalah sebuat paket yang diharuskan Tuhan. Menyangkal hal ini berarti melucuti Injil dari kekuatannya, dan menjadikannya pertunjukan sandiwara saja.

“Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.”  Kisah Para Rasul 17:30