Yesus bangkit untuk membangkitkan kita dari kematian rohani

“Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.” 1 Petrus 2: 2-3

Hari ini hari Paskah, hari kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus adalah kunci iman kita, karena jika Ia tidak dibangkitkan semua apa yang kita percaya dan harapkan akan menjadi sia-sia (1 Korintus 15: 17). Jika Yesus tidak bangkit, kita akan tetap hidup dalam dosa karena tidak ada yang dapat membasuhnya. Karena Yesus bangkit, kita akan dibangkitkan juga. Karena kita benar-benar sudah mengecap kebaikan Tuhan, kita beroleh keselamatan.

Seperi bunyi ayat di atas, walaupun keselamatan adalah satu hal utama dalam iman, sebagian besar orang Kristen tentunya juga mengharapkan bahwa mereka akan dapat menempuh hidup baru yang memuliakan Tuhan. Mereka ingin bertumbuh dalam iman, berbahagia dalam Tuhan, dan berbuah-buah dalam hidup mereka sebab itu adalah yang dihendaki Tuhan. Sayang sekali, tidak semua orang Kristen mempunyai keinginan yang sama. Mengapa begitu?

Ancaman besar terhadap keselamatan dan pertumbuhan kita menuju keselamatan adalah apa yang disebut fatalisme rohani—kepercayaan atau perasaan bahwa hanya ini yang pernah saya alami tentang Allah— tingkat intensitas spiritual yang saya miliki sekarang adalah satu-satunya yang dapat saya miliki sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang lain mungkin memiliki hasrat yang kuat akan Tuhan dan mungkin memiliki pengalaman yang mendalam tentang kebahagiaan pribadi di dalam Tuhan, tetapi saya tidak akan pernah memilikinya karena … yah, hanya karena Tuhan sudah menentukan ukuran iman saya.

Fatalisme spiritual ini adalah perasaan bahwa kekuatan genetik, kekuatan keluarga, kekuatan budaya, kekuatan pengalaman masa lalu, dan keadaan sekarang terlalu kuat untuk memungkinkan saya untuk berubah dan menjadi lebih bersemangat untuk Tuhan (Titus 2:14), atau lebih bersemangat (Roma 12:12), atau lebih bergembira di dalam Allah (Mazmur 37:4), atau lebih lapar akan persekutuan dengan Kristus (Yohanes 6:35), atau lebih betah dengan hal-hal rohani (Roma 8:5), lebih berani (2 Timotius 1:7), atau lebih bertekun dan bersukacita (Roma 12:12), atau penuh harapan (1 Petrus 1:13).

Fatalisme spiritual adalah kejadia tragis di dalam gereja, dan sering dikhotbahkan oleh sebagian pendeta. Dengan kedok ketundukan kepada kedaulatan Tuhan, pesan-pesan mereka membuat jemaat terjebak. Itu menghilangkan harapan dan impian akan perubahan dan pertumbuhan. Itu menekan kebahagiaan hidup, yang merupakan bagian pertumbuhan iman. Ini seperti mengatakan kepada seorang gadis kecil yang merasa kikuk karena merasa tubuhnya tidak proporsional: begitulah dirimu, dan kamu akan selalu seperti itu, padahal sebenarnya dia ditakdirkan untuk tumbuh dan berubah. Adalah sangat tragis untuk meyakinkannya tentang semacam fatalisme fisik—bahwa pertumbuhannya terhenti tepat di usia 13 tahun. Dalam hal ini, fatalisme spiritual adalah jauh lebih buruk. Itu karena hal-hal yang lebih besar sedang dipertaruhkan, yaitu selama di dunia kita mungkin akan tidak pernah mencapai titik di mana kita telah sampai pada kedewasaan iman seperti yang kita alami pada tubuh fisik kita. Itu adalah karena kesalahan kita sendiri, yang tidak dapat mengerti adanya kedaulatan Tuhan dan tanggung jawanb manusia.

Dalam ayat di atas Tuhan memerintahkan kita untuk tidak menjadi fatalis secara rohani. Petrus berkata dalam ayat 2: “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohan.” Kata yang sangat penting di sini adalah “selalu ingin” —ini adalah perintah untuk menginginkan. Artinya adalah jika Anda merasa mandek karena Anda tidak memiliki hasrat spiritual yang seharusnya, teks ini mengatakan, Anda tidak boleh mandek! Dikatakan, “Jadilah seperti bayi!—Dapatkan keinginan yang belum Anda miliki.” Jika Anda saat ini tidak menginginkan susu Firman, mulailah menginginkannya! Ini adalah tanggung jawab Anda.

Bukankah itu luar biasa? Perintah Tuhan untuk menginginkan! Perintah untuk merasakan kerinduan yang tidak kita rasakan. Perintah untuk merasakan keinginan yang tidak kita miliki. Adakah yang lebih bertentangan dengan fatalisme spiritual daripada perintah itu? Fatalisme mengatakan, saya tidak bisa menciptakan keinginan. Jika Tuhan tidak memberi keinginan, saya tidak akan punya. Karena itu saya tidak merasakan hal-hal yang dirasakan oleh para pemazmur ketika mereka berkata, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang mengalir, demikianlah jiwaku merindukan-Mu, ya Tuhan” (Mazmur 42:1). Saya tidak pernah merasa seperti itu terhadap Tuhan, maka itu tentu sudah kehendak Tuhan. Saya tidak bisa seperti para pemazmur! Itulah yang dikatakan fatalisme spiritual. Fatalisme spritual memadamkan api Roh Kudus yang sudah diberikan kepada setiap orang percaya.

Tetapi Tuhan berkata (dalam ayat 2), “Inginkan susu murni dari firman!” Sekarang, sebelum Anda mengajukan segala macam keberatan, seperti, bagaimana Tuhan bisa memerintahkan saya untuk memiliki keinginan? Apa yang dapat saya lakukan untuk mematuhi perintah seperti itu? Bagaimana cara menghasilkan keinginan? Seluruh masalah saya adalah bahwa saya tidak memiliki kekuatan yang saya butuhkan. Dan Tuhan hanya mengatakan kepada saya untuk menginginkan! Itu mungkin alasan kita.

Tuhan Yesus pernah juga menyuruh orang lumpuh untuk berjalan. Dan orang itu kemudian menurut, lalu bisa berjalan. Bagaimana jika orang itu mempunyai falatlisme rohani? Dapatkah ia berjalan? Tentu tidak. Uluran tangan Tuhan menuntut kita untuk menyambutnya. Iman bukan saja membawa keselamatan, tetapi juga membawa perubahan pandangan hidup jika kita mau taat kepada firman-Nya. Yesus sudah bangkit untuk membangkitkan kita dari kematian rohani kita dan Ia akan menolong kita untuk bisa hidup baik untuk memuliakan nama-Nya. Selamat hari Paskah!

“Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.” Ibrani 13: 20-21

Jadi, apa itu hiper-Calvinisme? Apakah itu kesalahan serius?

Saya menulis artkel ini, yang saya sadur secara bebas dari tulisan Pdt. Ronald Hanko dari gereja Covenant Protestant Reformed Church, karena ada satu kejadian yang tidak saya duga. Menyambut hari Paskah 2023, baru saja saya mendapat komentar dari seorang teman bahwa penekanan saya akan perlunya manusia untuk bertobat (temasuk orang Kristen) dan untuk hidup baik menurut Firman Tuhan adalah pelaksanaan kehendak bebas yang bersifat kedagingan. Saya terkejut karena baru sekali ini saya mendengar komentar semacam ini, tetapi saya tidak heran bahwa memang ada orang Kristen yang berpandangan sedemikian.

Saya akan menjelaskan, pertama, bahwa ada yang namanya hiper-Calvinisme, meskipun beberapa orang akan menyangkalnya. Mereka yang menyangkalnya biasanya adalah orang yang memang bertendensi hiper-Calvinis. Secara historis, nama tersebut telah diterapkan kepada mereka yang menyangkal bahwa perintah Injil untuk bertobat dan percaya harus diberitakan kepada semua orang.

Seorang hiper-Calvinis (secara historis dan doktrin) adalah seseorang yang, karena percaya bahwa tidak semua orang bisa dipilih dan ditebus Tuhan, tidak akan memerintahkan semua orang yang mendengar Injil untuk bertobat dan percaya. Dia adalah seseorang yang memulai dari premis yang benar tetapi menarik kesimpulan yang salah—yang tidak percaya bahwa “Allah memerintahkan semua orang di mana pun untuk bertobat” (Kis. 17:30).

Maka, seorang hiper-Calvinis sejati adalah orang yang percaya dengan benar pada kedaulatan Allah, predestinasi ganda dan khususnya penebusan Kristus, tetapi yang menyangkal kasih universal Allah dan kehendak Allah untuk menyelamatkan semua manusia. Namun dia menyimpulkan dengan salah bahwa karena Allah telah menentukan siapa yang akan diselamatkan, Ia mengutus Kristus hanya untuk mereka, dan memberikan kepada mereka keselamatan sebagai pemberian cuma-Cuma. Oleh karena itu hanya orang pilihan yang harus diperintahkan untuk bertobat dan percaya kepada pemberitaan Injil.

Ini, saya percaya, adalah kesalahan serius. Itu adalah kesalahan yang secara efektif menghancurkan pemberitaan Injil dan penginjilan—sebuah kesalahan yang harus disingkapkan dan dihindari. Doktrin semacam ini juga membuat orang Kristen kurang bersemangat untuk menginjil secara bebas, dan juga membuat mereka membenci orang yang tidak sefaham dengan mereka.

Inti dari hyper-Calvinisme, oleh karena itu, adalah penolakan terhadap apa yang disebut “kewajiban iman” (duty faith) dan “kewajiban pertobatan”  (duty repentance) yaitu, bahwa itu adalah tugas dan kewajiban yang sungguh-sungguh dari semua orang yang mendengar Injil untuk bertobat dan percaya. Hyper-Calvinisme menyimpulkan bahwa, karena manusia tersesat dalam dosa dan tidak mampu dari diri mereka sendiri untuk bertobat dan percaya, adalah suatu kesalahan untuk mengajak mereka untuk melakukannya. Ayakan seperti itu akan menyiratkan bahwa orang dapat mempunyai kemampuan untuk bertobat dan percaya, dan itu menandakan adanya kehendak manusia di luar kehendak Tuhan.

Maka, kaum hiper-Calvinis membuat kesalahan yang sama seperti mereka yang sangat menekankan kehendak bebas, hanya saja kaum hiper-Clavinis menarik kesimpulan yang berbeda. Keduanya berpikir bahwa untuk memerintahkan atau menuntut pertobatan dan iman dari orang berdosa yang mati harus menyiratkan bahwa orang berdosa tersebut tidak mati dan memiliki kemampuan untuk bertobat dan percaya. Mereka yang menekankan kehendak bebas mengatakan, “Mengajak orang untuk bertobat harus menyiratkan kemampuan, oleh karena itu, orang memiliki kemampuan.” Seorang hyper-Calvinis berkata, “Mengajak orang untuk bertobat harus menyiratkan kemampuan, oleh karena itu, kami tidak akan memerintah siapa pun kecuali yang terpilih.”

Ini berarti bahwa sementara seorang hiper-Calvinis sejati akan mengkhotbahkan “fakta-fakta” ayat Alkitab kepada semua orang yang mau mendengar (dan bersikeras bahwa dia memberitakan Injil), dia tidak akan mengajak audiensi untuk bertobat dan percaya. Perintah-perintah itu, menurut mereka, harus dikhotbahkan hanya kepada mereka yang menunjukkan bukti sebagai “orang-orang berdosa yang berakal sehat”, yaitu orang-orang berdosa yang telah diinsafkan oleh pekerjaan Roh Kudus.

Saya menolak gagasan ini karena berbagai alasan. Pertama, sulit untuk membayangkan bagaimana seseorang, tanpa ilham ilahi, dapat yakin bahwa dia berkhotbah hanya kepada “orang-orang berdosa yang berakal sehat” untuk membawa perintah Injil dengan percaya diri. Oleh karena itu, pada kenyataannya, perintah Injil jarang, jika pernah, terdengar dalam khotbah hiper-Calvinis. Khotbah-khotbah mereka hanya seputar kedaulatan Tuhan dalam memilih orang yang dikehendaki-Nya, dan tentang Tuhan yang tidak perlu memakai alasan untuk menghukum orang yang tidak dipilih-Nya.

Kedua, hyper-Calvinisme mengubah perintah bertobat dan percaya menjadi perintah untuk terus bertobat dan percaya, atau bertekun dalam bertobat dan percaya. Yang disebut “orang-orang berdosa yang berakal sehat”, satu-satunya yang dapat dipanggil untuk bertobat dan percaya adalah mereka yang sudah mulai melakukannya melalui pekerjaan rahasia Roh Kudus. Iman yang diminta, dalam hal ini, bukanlah iman yang menyelamatkan dalam arti kata yang paling benar dan terdalam, yaitu, iman yang membawa seseorang ke dalam persekutuan dengan Kristus, yang membenarkan dia dan memberinya keselamatan, tetapi hanya iman yang terus terwujud sendiri dalam buah jaminan dan harapannya.

Dalam hubungan inilah hiper-Calvinis sejati biasanya mengajarkan bahwa orang tersebut dibenarkan sepenuhnya dalam kekekalan dan bahwa pembenaran oleh iman hanya melibatkan jaminan pembenaran. Jadi, iman yang diminta dalam Injil pada kenyataannya tidak membenarkan kita di hadapan Allah tetapi hanya menjamin pembenaran yang telah terjadi. Peran dan tanggung jawab manusia dalam kehidupan Kristen dianggap tidak ada. Ini sebabnya di zaman ini banyak kita temui orang Kristen “kedagingan” yang hidupnya tidak nampak seperti orang yang sudah beriman.

Dalam hubungan ini , tidaklah mengherankan bahwa para hyper-Calvinis juga dituduh, dan itu memang sepatutnya, menganut faham antinomianisme (melawan hukum atau perintah) mengenai iman. Mereka tidak menganggap serius perintah untuk bertobat dan beriman, justru karena panggilan untuk beriman bagi mereka hanyalah panggilan untuk yakin akan imannya. Mereka juga mengabaikan perlunya untuk hidup baik sesuai dengan firman Tuhan. Ini adalah pandangan sesat yang sangat berbahaya, karena bisa menghancurkan norma-norma dan etika-etika hidup baik orang Kristen yang seharusnya ditaati orang percaya untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Atas dasar inilah saya dengan tegas menolak pandangan hiper-Calvinisme.

Penyangkalan terhadap “kewajiban iman”, “kewajiban pertobatan” dan “kewajiban memilih hidup baik”  ini jelas bertentangan dengan Kitab Suci. Kitab Suci mengatakan dalam Kisah Para Rasul 17:30 bahwa “Allah sekarang memerintahkan semua orang di mana saja untuk bertobat.” Yohanes Pembaptis dalam khotbahnya bahkan memanggil orang Farisi dan Saduki yang tidak percaya untuk bertobat (Mat. 3:8; Luk. 3:8). Yesus, juga, memanggil semua orang untuk bertobat dalam pemberitaan-Nya (Mat. 4:17) dan mencela kota-kota Galilea karena mereka tidak bertobat (Mat. 11:20). Ketika Dia mengutus 70 orang, Dia juga mengutus mereka kepada mereka yang menolak Injil dan bahkan memperingatkan mereka tentang penolakan ini (Markus 6:10-11), namun kita membaca bahwa mereka pergi dan memberitakan bahwa manusia harus bertobat (ayat 12).

Juga tidak ada bukti bahwa ketika Petrus, di bait suci setelah penyembuhan orang lumpuh, berkhotbah “bertobatlah dan bertobatlah” (Kis. 3:19), bahwa dia berkhotbah hanya kepada “orang-orang berdosa yang berakal sehat.” Tentu saja, Simon si tukang sihir bukanlah “orang berdosa yang bijaksana,” ketika Petrus berkata kepadanya, “Karena itu bertobatlah dari kejahatan ini, dan berdoalah kepada Tuhan, jika mungkin pikiran hatimu dapat diampuni” (Kis. 8:22).

Beberapa perikop yang telah dikutip (Kis. 3:19; 8:22) juga menyiratkan bahwa Injil menuntut iman dari semua orang yang mendengarnya. Iman adalah bagian dari pertobatan dan seseorang tidak dapat berdoa kepada Allah memohon pengampunan tanpa juga berdoa dengan iman. Demikian pula, tidak mungkin Yesus mengutuk orang Farisi karena tidak percaya, jika mereka tidak dituntut untuk percaya (Mat. 21:25; Luk. 22:67; Yoh. 10:25-26).

Hiper-Calvinis menyiasati ayat-ayat ini dengan berbicara tentang berbagai jenis pertobatan dan iman. Dia berbicara tentang “pertobatan Yahudi”, “pertobatan reformasi”, “pertobatan tidak langsung”, “pertobatan kolektif”, dll., dan mengklaim bahwa Kitab Suci juga menyerukan berbagai jenis iman. Jadi mereka bersikeras bahwa banyak dari ayat-ayat yang telah kita rujuk hanya untuk jenis iman dan pertobatan seperti itu, tetapi bukan untuk menyelamatkan pertobatan dan iman.

Saya tidak menyangkal, tentu saja, bahwa Kitab Suci berbicara tentang “iman” dan “pertobatan” yang tidak menyelamatkan (Kis. 8:13; II Kor. 7:10; Yakobus 2:19; Ibr. 12:17). Tapi ini, seperti yang kita tahu, hanyalah kemunafikan, dan tidak disukai Tuhan. Maka, mereka tidak mungkin menjadi sesuatu yang Tuhan minta. Bagaimana mungkin Allah, yang tidak berdusta, berbicara melalui Injil, memanggil manusia kepada pertobatan atau iman yang tidak tulus dan menyelamatkan? Tidak ada bukti sedikit pun di dalam Kitab Suci bahwa Dia juga melakukannya.

Oleh karena itu, kita harus percaya bahwa Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 17:30 harus diperhatikan dengan serius oleh mereka yang memberitakan Injil. Perintah untuk bertobat, percaya dan taat kepada Tuhan adalah bagian integral dari Injil, tidak hanya menyangkut umat pilihan Allah tetapi juga menyangkut  semua orang. Semua yang datang mendengarkan khotbah HARUS mendengar perintah itu! Tidak hanya sesuai dengan kehendak Allah bahwa itu diberitakan kepada semua orang tanpa pandang bulu tetapi itu perlu sejauh menyangkut Injil itu sendiri. Pertobatan dan ketaatan adalah sebuat paket yang diharuskan Tuhan. Menyangkal hal ini berarti melucuti Injil dari kekuatannya, dan menjadikannya pertunjukan sandiwara saja.

“Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.”  Kisah Para Rasul 17:30

Hidup kita adalah sebuah pernyataan rasa syukur

“Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah. Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” 1 Petrus 1: 21-22

Apa manfaatnya jika kita merayakan hari kematian dan kebangkitan Kristus? Bagi kebanyakan orang, itu hanya berarti hari libur yang bisa dinikmati. Bagi sebagian orang yang mengaku Kristen, itu mungkin adalah keharusan untuk pergi ke gereja sekalipun biasanya mereka jarang ke gereja. Dan bagi sebagian orang Kristen arti kematian dan kebangkitan Kristus masih menjadi pergumulan setiap hari. Apa yang harus mereka lakukan dalam hidup setelah menyadari betapa besar kasih Allah kepada manusia yang berdosa?

Petrus, rasul Yesus, menulis surat kepada orang Kristen yang menghadapi penganiayaan untuk menghibur mereka dengan kebenaran tentang siapa mereka di dalam Kristus—anak-anak Allah dengan segala alasan untuk bersukacita dalam keselamatan mereka dan kemuliaan masa depan dalam kekekalan. Selanjutnya, dia mendorong mereka untuk hidup seperti orang-orang kudus Tuhan yang sudah ada dengan menaati Tuhan sekarang, saling mengasihi dengan sungguh-sungguh, dan menaruh semua harapan mereka pada kehidupan tanpa akhir yang akan datang.

Yesus telah dinyatakan sebagai Anak Allah dan korban bagi dosa demi kita, demikian Petrus menulis. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus kita telah menjadi percaya kepada Allah. Petrus mendengar Yesus sendiri mengatakan hal yang sama dalam Yohanes 14:6–7: Tidak seorang pun datang kepada Bapa kecuali melalui Putra. Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Banyak orang mungkin berkata bahwa mereka percaya kepada Tuhan, tetapi hanya melalui percaya kepada Kristus kita benar-benar menaruh iman kita kepada Bapa.

Rencana Tuhan tidak berhenti dengan pengorbanan Putra Tunggal-Nya sebagai pembayaran dosa. Petrus berkata bahwa Allah juga membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan memuliakan Dia. Menggambarkan kemuliaan yang diberikan kepada Yesus oleh Bapa, Paulus menulis bahwa Allah “… sangat meninggikan Dia dan menganugerahkan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Filipi 2:9).

Jadi iman dan pengharapan kita ada di dalam Tuhan. Dengan cara yang sama Allah memiliki rencana untuk kehidupan dan kematian Kristus dan kebangkitan dan kemuliaan, Dia memiliki rencana untuk kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kemuliaan kita. Kita percaya Allah yang melakukan semua itu di dalam dan melalui Kristus dan tahu Dia akan melakukan hal yang sama di dalam dan melalui kita. Harapan kita ada di tempat yang tepat.

Perikop 1 Petrus 1:13–25 menggambarkan bagaimana orang Kristen—mereka yang dilahirkan kembali oleh Allah—harus hidup sekarang. Kita harus mengambil keputusan untuk mau menaati perintah Tuhan. Bukan menantikan Tuhan untuk bertindak untuk kita. Kita harus secara mental terlibat dalam menetapkan semua harapan kita pada kasih karunia Allah di masa depan bagi kita.

Pagi ini kita harus memilih untuk bertindak sebagai umat Allah, menolak keinginan jahat yang mendorong tindakan kita sebelum kita mengetahuinya dengan lebih baik. Pilihan kita penting. Tuhan kita sangat menghargai hidup kita, membayarnya dengan darah Kristus. Karena Tuhan telah membuat kita mampu melalui Roh Kudus, kita sekarang harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk hidup baik dan saling mengasihi. Selamat hari Paskah!

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan

“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” Lukas 18: 7

Bacaan: Lukas 18: 1-8, Markus 14: 66-72, Yohanes 21: 1- 19

Ketika Yesus diadili menjelang saat penyalibannya, Petrus secara diam-diam menyelinap di halaman. Lalu datanglah seorang hamba perempuan Imam Besar, dan ketika perempuan itu melihat Petrus sedang berdiang, ia menatap mukanya dan berkata: “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.” Tetapi Petrus menyangkalnya dan berkata: “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud.” Pada saat itu terdengarlah suara kokok ayam. Ketika hamba perempuan itu melihat Petrus lagi, berkatalah ia pula kepada orang-orang yang ada di situ: “Orang ini adalah salah seorang dari mereka. Tetapi Petrus menyangkalnya pula. Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ berkata juga kepada Petrus: “Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau seorang Galilea!” Maka Petrus bersumpah: “Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!” Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu menangislah ia tersedu-sedu (Markus 14: 66-72). Petrus sudah berusaha keras untuk mengasihi dan setia kepada Yesus, tetapi jalan terlihat buntu baginya.

Tentunya Anda masih ingat akan peribahasa “Di Mana Ada Kemauan, Di Situ Ada Jalan”. Pepatah ini sangat terkenal, tetapi di zaman ini sering disalah gunakan. Bagi masyarakat umum yang ingin mendapatkan sesuatu yang baik dan halal, rasanya pepatah ini sangat sulit diyakini; tetapi bagi yang biasa berbuat jahat, menipu, dan melawan hukum, peribahasa ini rasanya cocok sekali. Bagaimana makna peribahasa ini untuk Petrus dan orang Kristen seperti kita? Kelihatannya Petrus dengan sangat mudah menghindari risiko ditangkap dengan cara berbohong. Ada kemauan ada jalan? Ya, dan memang untuk berbuat jahat, kemauan yang kecil saja sudah cukup untuk membuahkan hasil yang diharapkan.

Sebenarnya ada banyak ayat Alkitab mendorong ketekunan dan tekad, tetapi itu dalam konteks keterlibatan Tuhan dalam situasi tersebut. Kita harus tetap teguh dalam iman atau doa dalam mengejar tujuan yang diberikan Tuhan kepada kita – dan bukannya hanya mengandalkan kekuatan, atau usaha diri sendiri. Ini ada kaitannya dengan istilah “kehendak bebas” yang sering didiskusikan umat Kristen. Pada hakikatnya ada beberapa hal yang bertalian dengan kehendak dan tekad manusia:

  • manusia bebas untuk memilih,
  • manusia seharusnya memilih apa yang dikehendaki Tuhan,
  • karena adanya dosa, manusia tidak akan memilih apa yang baik tetapi apa yang jahat, nikmat, atau mudah,
  • manusia tidak akan mengerti apa kehendak Tuhan jika Tuhan tidak mencelikkan mata rohaninya,
  • Tuhan tidak memaksa manusia untuk memilih apa yang dikehendaki-Nya,
  • manusia bertanggung jawab atas pilihannya, dan
  • hanya Tuhan yang memungkinkan terjadimya apa yang dipilih.

Manakah ayat Alkitab yang mendukung peribahasa di atas dalam hal bertekad untuk mendapatkan apa yang baik? Salah satu perikop yang cocok adalah kisah Yesus tentang janda yang gigih menuntut haknya dan hakim yang tidak benar (Lukas 18:1-8). Meskipun hakim biasanya tidak mengizinkan siapa pun untuk memberi tahu dia apa yang harus dilakukan, dia mengabulkan permintaan janda itu supaya dia bebas dari gangguan terus-menerus. Yesus berkata bahwa, bahkan jika orang jahat seperti itu dapat dipengaruhi oleh keuletan manusia, maka Allah yang pengasih akan lebih rela dan cepat membantu mereka yang memintanya. Ini tentunya bergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah sendiri.

Dalam perumpamaan tentang janda yang gigih itu, orang miskin yang tidak berdaya (janda) terus meminta orang yang korup dan berkuasa (hakim) untuk menegakkan keadilan baginya. Perumpamaan tersebut mengasumsikan ajaran Yohanes Pembaptis bahwa orang yang memegang posisi kekuasaan dan kepemimpinan diwajibkan untuk bekerja dengan adil, terutama atas nama orang miskin dan lemah. Tetapi Yesus memfokuskan perumpamaan itu pada poin yang berbeda, bahwa kita “selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Lukas 18:1).

Yesus mengidentifikasi para pendengar – kita – dengan wanita itu, dan oknum yang berkuasa – Tuhan – dengan hakim yang korup, kombinasi yang aneh. Tentunya Yesus tidak bermaksud bahwa Allah itu seperti hakim yang jahat karena inti perumpamaan itu adalah bahwa jika kegigihan akan terbayar oleh manusia yang rusak dengan kekuatan yang terbatas, berapa banyak lagi yang akan terbayar oleh Tuhan yang adil dengan kekuatan yang tidak terbatas.

Tujuan dari perumpamaan ini adalah untuk mendorong orang Kristen untuk bertekun dalam iman mereka melawan segala rintangan dan godaan. Tapi itu juga memiliki dua aplikasi untuk umat Kristen. Tugas seorang beriman adalah bekerja menuju apa yang baik di setiap saat. Kita memang tidak bisa memperbaiki setiap kesalahan di dunia yang bisa menghalangi kita. Namun kita tidak boleh putus asa, dan tidak pernah berhenti bekerja untuk kebaikan yang lebih besar di tengah sistem yang tidak sempurna di mana pekerjaan kita terjadi. Kita tidak boleh hanya berserah kepada Tuhan dan mengharapkan Dia untuk mengadakan intervensi secara ajaib dan langsung dalam setiap peristiwa. Setiap manusia sudah ditetapkan untuk bekerja dengan gigih dalam hidupnya.

Poin kedua adalah bahwa hanya Tuhan yang dapat mewujudkan keadilan di dunia yang rusak. Itu sebabnya kita harus berdoa dan tidak menyerah dalam hidup dan pekerjaan kita, sekalipun “pasrah” mungkin dianggap sebagian orang sebagai sebuah tanda ketaatan kepada kehendak Tuhan. Sampai sekarang Tuhan tetap bekerja menegakkan keadilan-Nya di dunia yang rusak, sama seperti Tuhan dapat memberikan kesembuhan yang ajaib di dunia yang sakit. Tentu kita masih ingat bagaimana tembok Berlin terbuka, rezim apartheid runtuh, dan perdamaian terjadi di berbagai tempat. Semua itu terjadi melalui perjuangan manusia yang gigih dan tujuan manusia yang disetujui. Pada pihak yang lain, Alkitab juga menunjukkan bahwa, jika Tuhan tidak terlibat atau menyetujui suatu usaha, tidak ada upaya manusia yang akan membuatnya berhasil (Mazmur 127:1-2).

Petrus yang menyangkali Yesus tiga kali, kemudian bertemu dengan Yesus yang sudah bangkit di pantai danau Tiberias (Yohanes 21: 1- 19). Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: ”Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: ”Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: ”Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: ”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: ”Ikutlah Aku.”

Bagaimana Petrus yang pengecut kemudian menjadi rasul yang berani mati? Petrus mempunyai kemauan tetapi kemauan saja tidak cukup untuk membuatnya menjadi orang yang setia kepada Yesus. Ia mengalami pengalaman pahit dengan usahanya untuk mengasihi Yesus. Ia gagal untuk memuliakan Yesus dengan penyangkalannya. Tetapi, kebangkitan Yesus membuat ia sadar bahwa jika ia mau berusaha dengan tulus hati dan mau menurut kehendak Tuhan, ia akan berhasil. Tiga kali Yesus bertanya apakah Petrus mengasihi Dia, dan tiga kali Petrus menjawab dengan “ya”. Dengan itu, Yesus menyuruhnya untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Ketekunan Petrus pada akhirnya berjumpa dengan belas kasihan Yesus yang memberi Petrus keberanian untuk masa depan, sekalipun ia harus mati sebagai seorang martir demi kemuliaan Tuhan.

Hari Jumat ini adalah hari kematian Yesus. Jika kita melihat penderitaan Kristus di saat itu, mungkin kita bisa hilang harapan seperti Petrus karena kita sudah berkali-kali gagal untuk hidup sebagai umat-Nya yang setia. Tetapi kita sekarang tahu bahwa Yesus bangkit pada hari yang ketiga, dan dengan itu terbukti bahwa Ia adalah Anak Allah yang sanggup untuk memberi kita bimbingan dan pertolongan bagi kita, jika kita mau mengikut Dia dengan kesungguhan dan tekad yang besar. Tuhan sendiri akan melihat tekad kita untuk berjuang menjadi umat-Nya yang setia, dan Ia akan mendengar doa-doa kita dan mau menjadikan kita umat-Nya yang bisa hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Setiap orang punya tanggung jawab kepada Allah

Karena ada tertulis:”Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah.”Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. Roma 14:11-12

Bacaan: Roma 14:1-12

Salah satu tragedi terbesar dalam gereja Kristen selama berabad-abad adalah gagasan adanya nasib, yaitu bahwa apa pun yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Menurut pandangan ini, pernyataan bahwa Tuhan mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, berarti bahwa Tuhan sebenarnya telah memakai sebuah naskah, dan hanya dapat mengikuti jalan yang telah ditetapkan-Nya sampai ke detil yang sekecil-kecilnya. Tuhan yang tidak dapat bertindak apa-apa, kecuali jika Ia membuat segala sesuatu menurut kehendak-Nya. Dengan demikian Tuhan digambarkan seperti manusia yang terbatas kemampuannya.

Adalah menyedihkan bahwa banyak orang Kristen yang masih percaya pada bentuk-bentuk “fatalisme Kristen” akan menyatakan bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Tuhan dan bahkan didatangkan Tuhan. Apa yang baik dan apa yang jahat, terjadi karena kehendak Tuhan. Dan Tuhan yang mahasuci menentukan terjadinya apa yang baik dan apa yang jahat di dunia. Dengan demikian, orang-orang yang percaya bahwa segala sesuatu sudah ditentukan dari awalnya, kurang berminat untuk berubah dalam cara hidup mereka. Dengan semboyan “pasarah pada nasib” atau “tunduk kepada kehendak Tuhan”, apa pun yang akan terjadi, akan terjadi. Semboyan itu bukan hanya dipakai oleh pemikut agama lain, tetapi juga ada dalam sebagian pemeluk agama Kristen dalm berbagai bentuk.

Keyakinan bahwa semua yang terjadi di dunia adalah sesuai dengan kehendak Tuhan bukannya membuat mereka mengasihi sesama manusia. Sebaliknya, karena pandangan mereka yang keliru, mereka cenderung memusuhi orang yang berbeda pendapat, terutama sesama orang Kristen. Itu mungkin karena mereka percaya bahwa Tuhan sudah menentukan bahwa pandangan mereka adalah satu-satunya yang benar, pandangan yang mengakui kedaulatan Tuhan.

Ayat di atas ditulis ole rasul Paulus yang menegur orang-orang Kristen yang bertengkar dengan sesama orang beriman. Mereka yang memandang rendah pendapat saudara seiman dalam hal-hal yang tidak bersangkutan dengan iman, dan yang menghakimi saudaranya yang lebih lemah. Paulus dengan jelas mengatakan bahwa setiap orang percaya yang masih hidup harus hidup untuk Tuhan, dan jika mati, mereka mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, mereka semuanya adalah milik Tuhan. Setiap orang Kristen harus berusaha hidup untuk Tuhan dan itu adalah tanggung jawab masing-masing.

Kita tidak perlu percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa harus menetapkan satu cara hidup untuk bisa mewujudkan rencana-Nya. Tetapi, Tuhan tetap bisa mewujudkan rencana-Nya tanpa harus menginjak-injak kehendak manusia, sekalipun manusia berbuat hal-hal yang tidak disenangi-Nya. Tuhan bekerja di tengah-tengah segala sesuatu dan Dia memutuskan hasilnya berdasarkan semua faktor yang penting bagi-Nya, termasuk pilihan yang dibuat orang, dan terutama dalam doa, cara hidup, dan tanggapan umat-Nya sendiri. Adanya perbedaan justru menunjukkan bahwa bukan setiap tindakan manusia ditentukan olehTuhan atau dikehendaki-Nya. Setiap orang bertanggung jawab atas cara hidupnya sendiri. Setiap orang harus bisa membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Dalm Roma 14: 1-12 kita bisa melihat bahwa bukanlah kehendak Tuhan bagi gereja-Nya untuk memberi satu pengertian yang benar kepada satu golongan saja, dan orang lain adalah orang yang keliru, yang tidak mau tunduk kepada Tuhan. Ayat-ayat ini juga menekankan pentingnya melaksanakan tanggung-jawab kita sebagai orang yang sudah diselamatkan oleh darah Yesus. Agar kita mau berubah dalam hidup kita, menjadi makin baik, makin bijaksana dan makin taat, melalui pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kusus. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup (Roma 14: 9).

Pada saat menjelang Paskah, biarlah kita menentang setiap bentuk “fatalisme Kristen” yang terselubung. Jangan sampai kita bermegah karena Tuhan sudah menentukan kita menjadi satu-satunya kelompok orang yang terpilih untuk diselamatkan oleh darah Yesus. Pada pihak yang lain, jangan memakai kata kehendak Tuhan untuk tidak mau berubah dari apa yang salah dalam hidup kita. Jangan pasif. Jangan malas. Jangan apatis. Jangan tidur.

Setiap orang harus bertanggung jawab kepada Tuhan yang memiliki hidup mereka dan mau berubah agar hidup mereka tidak akan serupa dengan apa yang dimiliki oleh orang yang belum diselamatkan. Tolaklah setiap bentuk fatalisme, bahkan jika itu muncul dalam jubah “kedaulatan Tuhan” dan “penetapan Tuhan”. Kabarkanlah kasih Tuhan kepada semua umat manusia, terutama kepada umat-Nya yang sudah diberi penebusan, sekalipun mereka berbeda dalam penampilan dan kebiasaan.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12:2

Enam Poin John Calvin tentang Kehendak Bebas

Oleh Wyatt Graham

Direktur Eksekutif The Gospel Coalition Canada.

Agustus 26, 2020

John Calvin berbicara tentang kehendak bebas dalam enam cara berikut:

  1. Adam memiliki kehendak bebas dan dengan bebas memilih untuk berbuat dosa.
  2. Adam kehilangan kehendak bebas karena kehendak bebas menuntut pikiran untuk mempertimbangkan dan membedakan yang baik dari yang jahat sebelum memilih satu tujuan. Dalam pengertian ini, kehendak bebas tidak lagi ada pada manusia karena kodrat kita telah rusak.
  3. Namun semua orang pada dasarnya memiliki dorongan untuk berbuat baik. Dorongan ini, bagaimanapun, adalah dorongan hewani yang tidak mengikuti akal yang mempertimbangkan antara yang baik dan yang jahat dan memilih satu atau yang lain (persyaratan untuk kehendak bebas; Inst. 2.2.26).
  4. Orang-orang yang dilahirkan kembali memiliki kehendak bebas yang dikembalikan kepada mereka sebagian sekarang, dan kemudian secara penuh di surga.
  5. Akibatnya, orang yang jatuh tidak memiliki kemampuan untuk berbuat baik (karena itu membutuhkan kehendak bebas). Orang-orang yang jatuh kemudian hanya melakukan kejahatan moral (karena dorongan menuju kebaikan tampaknya, bagi Calvin, adalah keburukan karena tidak rasional).
  6. Ketika orang yang jatuh berbuat dosa, mereka melakukannya karena kebutuhan tetapi bukan karena paksaan (Inst. 2.3.5). Dengan cara ini, Calvin berusaha menegaskan bahwa manusia berbuat dosa dengan rela tanpa paksaan, sekalipun harus berbuat dosa.

Kehendak kita yang dibebaskan oleh darah Kristus

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. Lukas 23: 34

Menyambut hari Jumat Agung, pikiran kita mungkin tertuju kepada Yesus, yang pada saat itu menghadapi saat-saat terakir sebelum penyaliban-Nya. Mungkin juga kita membayangkan bagaimana Yesus memberikan pesan-pesan terakhir kepada murid-murid-Nya sebelum Ia mengalami kematian di bulit Golgota. Apa yang kemudian terjadi di bukit itu memang sangat mengerikan, karena Anak Allah sudah mengalami hukuman mati yang diberikan oleh ciptaan-Nya. Perlakuan manusia terhadap Tuhan adalah sangat kejam, tetapi itu hanya dimungkinkan oleh Tuhan sendiri yang mau mengurbankan diri-Nya untuk membebaskan manusia dari hukuman dosa.

Bersalahkah mereka yang membawa Yesus ke kayu salib? Ataukah itu sesuatu yang sudah sepenuhnya ditentukan Tuhan, sesuatu yang harus terjadi sekalipun mereka tidak mau melakukan kejahatan atas Yesus? Tuhan sudah menentukan penebusan manusia melalui kematian Yesus, tetapi mereka yang menyalibkan Dia melakukannya atas tanggung jawab mereka sendiri. Mereka benar-benar melakukan kekejaman kepada manusia Yesus dan itu bukan karena mereka menjadi “boneka” Allah. Tuhan Yesus sendiri berdoa kepada Bapa-Nya, meminta agar orang-orang itu diampuni karena mereka tidak sadar apa yang mereka lakukan. Orang-orang itu memakai kehendak bebas mereka untuk membunuh Yesus, tetapi tidak tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah yang harus mati untuk menebus dosa umat manusia.

Apakah yang dimaksudkan dengan kehendak bebas manusia? Pandangan populer tentang kehendak bebas, adalah pandangan paling umum tentang kebebasan manusia yang kita temukan dalam budaya kita. Itu adalah pandangan yang paling banyak dianut orang, di dalam gereja maupun di luar gereja. Dalam skema ini, kehendak bebas didefinisikan sebagai kemampuan kita untuk membuat pilihan secara spontan. Artinya, pilihan yang kita buat sama sekali tidak dikondisikan atau ditentukan oleh prasangka, kecenderungan, atau watak sebelumnya. Tidak ada yang mempengaruhi pilihan – tidak ada prasangka, disposisi sebelumnya, atau kecenderungan sebelumnya – pilihan datang dengan sendirinya sebagai tindakan spontan oleh orang tersebut. Pandangan ini tidak benar.

Jika pilihan atas hal yang baik atau buruk kita buat murni secara spontan, tanpa kecenderungan atau disposisi sebelumnya, maka kita boleh mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk memilih. Tidak ada motif untuk memilih; itu terjadi begitu saja secara langsung tanpa dipikir. Mereka yang menyalibkan Yesus tidak mungkin melakukannya kalau tidak mempunyai kecenderungan. Kecenderungan yang ada dalam hidup mereka membuat pilihan itu jahat. Tuhan, dalam menilai suatu perbuatan, tidak hanya melihat perbuatan lahiriah itu sendiri (perbuatan), tetapi Dia juga mempertimbangkan motivasi batin (maksud di balik perbuatan itu). Tetapi jika tidak ada motivasi batin, jika tidak ada kesengajaan yang nyata, lalu bagaimana mungkin tindakan itu memiliki makna moral? Itu tidak mungkin.

Dari sudut pandang alkitabiah, manusia dalam kejatuhannya tidak berada dalam posisi netral sehubungan dengan hal-hal tentang Allah. Manusia berdosa memang punya prasangka. Dia memang memiliki bias. Dia memang memiliki kecenderungan, dan kecenderungannya adalah ke arah kejahatan dan menjauhi perkara-perkara Allah. Manusia yang belum diselamatkan mempunyai kehendak bebas, tetapi kebebasannya adalah dalam memilih hal-hal yang tidak berguna, atau yang ada dalam dosa. Itu sudah kecenderungan yang tidak dapat dihindari oleh manusia, yang membuatnya tidak bisa membuat kehendak yang spontan, bebas dari pengaruh orang lain, lingkungan, dosa, dan juga iblis. Tetapi, manusia duniawi tidak sadar dan tidak tahu akan hal ini.

Sebenarnya, kehendak bebas manusia adalah “pilihan pikiran”. Antara pikiran dan kehendak, keduanya tidak dapat dipisahkan. Kita tidak membuat pilihan moral tanpa pikiran menyetujui arah pilihan kita. Ini terkait erat dengan konsep alkitabiah tentang hati nurani bahwa pikiran terlibat dalam pilihan moral. Alkitab menyatakan bahwa takut akan Tuhan adalah sumber kebijaksanaan, dan itu benar.

“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” Amsal 9: 10

Ketika orang-orang Yahudi memilih pembebasan Barabas dan penghukuman Yesus, mereka menyadari adanya pilihan-pilihan tertentu. Manusia dengan kebebasannya selalu bertindak sesuai dengan kecenderungan terkuat yang mereka miliki pada saat memilih. Dengan kata lain, kita selalu memilih menurut kecenderungan kita, dan kita selalu memilih menurut kecenderungan terkuat kita pada saat tertentu. Kecenderungan untuk berbuat dosa, jika tidak ada rasa takut akan Tuhan.

Calvin, dalam menelaah pertanyaan tentang kehendak bebas, mengatakan bahwa jika yang kita maksud dengan kehendak bebas adalah manusia yang jatuh memiliki kemampuan untuk memilih apa yang diinginkannya, maka tentu saja manusia yang jatuh itu memiliki kehendak bebas. Tetapi jika yang kita maksud dengan istilah itu adalah manusia dalam keadaan jatuhnya memiliki kekuatan moral dan kemampuan untuk memilih kebenaran, maka, kata Calvin, “kehendak bebas adalah istilah yang terlalu muluk untuk diterapkan pada manusia yang jatuh.” Orang Yahudi pada saat itu tidak sadar bahwa mereka bertindak karena kecenderungan manusia berdosa yang tidak mau tunduk kepada Tuhan.

Alkitab berbicara tentang manusia yang telah jatuh dalam perbudakan dosa. Mereka yang berada dalam perbudakan telah kehilangan beberapa dimensi kebebasan moral. Mereka masih membuat pilihan dan mereka masih memiliki kehendak bebas, tetapi kehendak itu sekarang condong ke arah kejahatan dan segan ke arah kebenaran. Tidak ada yang berbuat baik. Tidak ada yang benar. Tidak ada seorang pun yang mencari Allah, tidak seorang pun tidak (Roma 3:10-12). Itu menunjukkan sesuatu telah terjadi pada kita di dalam hati kita.

Orang berdosa berdosa karena mereka ingin berbuat dosa. Oleh karena itu, mereka menolak Dia dengan bebas. Dan sebelum seseorang dapat menanggapi hal-hal Allah secara positif, untuk memilih Kristus, dan memilih kehidupan, dia harus memiliki keinginan untuk melakukannya. Pertanyaannya adalah: Apakah manusia yang telah jatuh bisa mempunyai keinginan di dalam hatinya untuk tunduk kepada Tuhan? Kita tahu bahwa tanpa pekerjaan Roh Kudus kita tidak mungkin mengerti apa yang kita perbuat. Hanya orang percaya yang tahu sepenuhnya apa yang dikehendaki dan apa yang dibenci Tuhan.

Setiap kali kita berbuat dosa, tindakan ini menunjukkan bahwa, pada saat kita berdosa, keinginan kita untuk melakukan dosa lebih besar daripada keinginan untuk menaati Kristus. Jika keinginan kita untuk menaati Kristus lebih besar daripada keinginan untuk melakukan dosa, kita tidak akan berbuat dosa. Tetapi pada saat kita memilih, kita selalu mengikuti kecenderungan kita yang paling kuat, watak kita yang paling kuat, keinginan kita yang paling kuat. Memang kita tidak selalu menganalisa dengan sangat berhati-hati mengapa kita membuat pilihan kita. Namun ada alasan untuk setiap pilihan yang kita buat, dan kita selalu bertindak sesuai dengan kecenderungan terkuat kita saat ini.

Sebagai orang percaya, apakah kita selalu bisa melakukan yang baik? Rasul Paulus pernah berkata,

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 18-19

Hal ini menunjukkan bahwa memang masih mungkin bagi orang percaya untuk memilih melawan keinginannya yang baik. Apa yang dia ungkapkan adalah sesuatu yang kita semua alami: kita memiliki keinginan di dalam diri kita untuk menyenangkan Kristus, tetapi keinginan itu tidak selalu menang ketika saat kebenaran tiba.

Hari ini, Yesus berkata bahwa buah pohon berasal dari sifat pohon itu (Matius 7:17–20). Pohon ara tidak menghasilkan jeruk. Anda tidak mendapatkan buah yang rusak dari pohon yang benar. Ada sesuatu yang salah di dalam diri kita jika keinginan dan kecenderungan kita masih berada dalam belenggu dosa. Kita adalah orang dipilih untuk tahu dan ingat bahwa Yesus yang sudah disalibkan sudah memberi kita kemampuan untuk memilih apa yang benar agar kita tidak terus hidup dalam dosa. Dalam Yesus kehendak kita seharusnya bisa benar-benar bebas dari pengaruh dosa.

Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Roma 6: 6-7

Hiduplah dalam terang

“Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” 1 Yohanes 1:6-7

Di zaman ini, orang mungkin sudah jarang memakai lampu tempel atau lampu petromaks. Dengan adanya tenaga listrik yang bisa disimpan dalam baterai atau disalurkan ke berbagai tempat, orang sekarang tentunya lebih sering memakai lampu listrik (baik jenis DC maupun AC). Bahkan dengan harga yang makin murah, lampu LED sekarang kelihatannya mulai mengganti bola lampu atau lampu neon. Lampu LED memang lebih terang, lebih awet, dan pemakaian listriknya sangat kecil jika dibandingkan lampu jenis lain. Hanya saja, saking terangnya lampu jenis baru ini, bagian rumah yang agak kotor yang dulunya kurang terlihat, sekarang kelihatan lebih mencolok. Terang menghilangkan kegelapan dan membuat apa yang kotor terlihat jelas.

Kitab 1 Yohanes 1 menyatakan fakta bahwa Yesus adalah Anak Allah yang kekal. Yohanes menegaskan bahwa dia secara pribadi telah melihat dan mendengar hal-hal yang Dia ajarkan. Kebenaran Tuhan disajikan sebagai “terang”, sedangkan ajaran palsu disajikan sebagai “kegelapan”. Mereka yang berpegang pada kebenaran diselamatkan dari kekotoran dosa melalui terang Kristus; tetapi, mereka yang mengaku tidak berdosa sama sekali adalah menipu diri sendiri karena hidup dalam kekotoran. Membaca tulisan ini, kita mungkin bertanya-tanya: apakah kita diselamatkan karena hidup baik kita?

Kitab 1 Yohanes 1:5–10 membuka topik utama surat Yohanes. Tuhan sepenuhnya adalah kebaikan dan kebenaran, dan mereka yang mengikuti Tuhan tidak bisa juga mengikuti kejahatan dan kepalsuan. Dalam ayat di atas, Yohanes menekankan kata “jika”, agar semua orang Kristen membandingkan diri masing-masing dengan kebenaran. Secara khusus, dalam ayat 10 menyebutkan adanya orang-orang yang mengaku sepenuhnya bebas dari dosa, atau tidak pernah berbuat dosa. Keyakinan seperti itu secara harfiah berlawanan dengan Injil. Tidak ada orang yang tidak berdosa selain Yesus Kristus.

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 10.

Apa artinya 1 Yohanes 1: 6-7? Ayat 6 berbicara hal berjalan dalam kegelapan. Ayat 7 menawarkan kontrasnya, dan memanggil orang percaya untuk hidup menurut jalan Tuhan. Dalam hal ini, kita menemukan hubungan ayat-ayat ini dengan Injil Yohanes 1:8-9 tentang Yohanes Pembaptis yang menyatakan bahwa “ia (Yohanes Pembaptis) bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia”. Yesus dicatat sebagai “terang” dan “terang sejati”. Yohanes Pembaptis berbicara tentang Dia, dan ia memanggil orang-orang untuk bertobat sebagai persiapan kedatangan-Nya. Karena itu, sampai sekarang pun orang percaya dipanggil untuk berjalan menurut jalan Kristus dan bukan apa yang diajarkan oleh manusia.

Ayat 1 Yohanes 1:7 menyatakan apa yang terjadi ketika orang percaya benar-benar berjalan dalam terang Kristus: persekutuan orang percaya dan penyucian dari dosa. Pertama, orang percaya akan memiliki komunitas dan persahabatan satu sama lain. Dengan demikian, mereka akan dapat saling menguatkan dan saling menolong. Kedua, orang percaya akan mengalami pengampunan. Meskipun seseorang telah diampuni (selamanya) dari dosa ketika dia pertama kali percaya kepada Kristus, orang Kristen masih bisa melakukan dosa selama hidup di dunia dan membutuhkan pengampunan sebagai orang percaya.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Orang Kristen bukanlah orang yang sudah sempurna, tetapi adalah orang yang disadarkan Roh Kudus akan dosanya. Mereka yang tidak sadar akan hidupnya yang porak poranda justru adalah orang yang tidak pernah atau tidak mau menerima bimbiongan Roh Kudus. Mereka tidak menyadari bahwa Tuhan yang mahasuci adalah Tuhan yang membenci dosa sekecil apa pun. Jika manusia bisa membedakan apa yang disebut dosa besar dan apa yang disebut dosa kecil, bagi Tuhan semua dosa adalah kegagalan manusia untuk taat kepada kehendak-Nya yang sudah dinyatakan dalam Alkitab.

Setiap hari, dapatkah Anda menyebutkan dosa apa yang membutuhkan pengampunan dari Tuhan? Ataukah Anda mengira semua itu adalah lumrah dan termasuk dosa-dosa kecil yang umum dan biasa? Kita mungkin harus sadar bahwa rasul Paulus mencatat adanya banyak kegagalan dalam hidupnya, terlepas dari keinginannya untuk hidup benar dan banyaknya pekerjaan mulia yang telah dia lakukan untuk Tuhan.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7:18

Implikasinya di sini jelas: kehadiran dosa dalam hidup orang Kristen yang sadar akan kelenahannya tidak berarti bahwa orang tersebut tersesat. Pengorbanan Kristus di kayu salib yang akan kita peringati sebentar lagi, sudah menghapus hukuman kekal dari semua dosa kita, di masa lalu, sekarang, dan di masa depan. Lebih penting lagi, mereka yang percaya kepada Kristus diampuni bahkan untuk dosa yang tidak mereka sadari. Bagaimana dengan dosa-dosa yang kita sadari? Kita harus mengakuinya, dan itu akan diampuni Tuhan – agar kita tidak melakukannya lagi. Jika kita bersikukuh untuk hidup dalam kegelapan setelah diampuni, itu berarti kita memakai kebebasan kita untuk tetap tinggal di jalan yang lebar yang akan membawa berbagai penderitaan (1 Timotius 6: 10). Itu bukanlah kehendak Tuhan atau rencana Tuhan untuk umat-Nya. Tetapi, jika kita mau dan bertekad untuk hidup dalam ketaatan, Tuhan akan melengkapi kekurangan kita dan memberikan kedamaian dalam hidup kita.

”Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Yohanes 8: 11

Apakah Tuhan pencipta dosa umat manusia?

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Ayat di atas adalah ayat yang terkenal dan sering dipakai untuk menjelaskan bahwa Tuhan yang menentukan perjalanan hidup manusia. Tetapi, ayat ini juga sering diperdebatkan umat Kristen karena pengertian yang berbeda mengenai sampai batas apa Tuhan menentukan apa yang terjadi dalam hidup manusia. Bagi sebagian orang Kristen, Tuhan menentukan segala apa yang terjadi dalam hidup manusia, sampai hal yang sekecil-kecilnya. Bagi kelompok lain, Tuhan menentukan poin-poin penting dalam rencana-Nya, tetapi di antara poin-poin itu manusia memiliki kebebasan untuk bertindak dan mengambil keputusan. Sekalipun ada perbedaan antara dua pandangan itu, satu yang pasti dan disetujui keduanya adalah bahwa apa yang direncanakan Tuhan pasti terjadi.

Satu hal yang menjadi keberatan atas pendapat yang pertama bagi orang yang kurang mengerti adalah adanya kemungkinan bahwa Tuhan adalah penyebab manusia jatuh dalam dosa, karena dengan kejatuhan manusia rencana-Nya untuk mengirim Anak-Nya sebagai Juruselamat akhirnya tercapai. Pada pihak yang lain, keberatan atas pendapat yang kedua adalah kemungkinan bahwa Tuhan tidak benar-benar berdaulat atas segala sesuatu, dan ini bisa menyebabkan bahwa ada tindakan manusia yang tidak dikontrol-Nya akhirnya bisa membatalkan rencana-Nya. Bukankah Tuhan yang berdaulat menentukan bukan hanya hasil akhir, tetapi juga jalan atau prosesnya?

Untuk dapat menyelami bagaimana kedaulatan Tuhan harus dimengerti oleh umat Kristen, baiklah kita mempelajari Pengakuan Iman Westminster yang merupakan sebuah pernyataan iman yang lahir pada abad ke-17. Pengakuan Iman Westminster menyatakan bahwa Alkitab merupakan otoritas tunggal dalam kepercayaan Kristen. Pengakuan Westminster bab 3 pasal1 menyatakan bahwa Tuhan sejak kekekalan, dengan keputusan yang paling bijaksana dan suci atas kehendak-Nya sendiri, dengan bebas dan tidak dapat diubah menetapkan apa pun yang terjadi.

Jika tindakan jahat manusia mendapat tempat dalam rencana Tuhan, dan jika tindakan itu ditetapkan sebelumnya oleh Tuhan, apakah manusia bertanggung jawab atasnya, dan bukankah Tuhan pencipta dosa? Dalam hal ini, Pengakuan Iman Westmister menjelaskan:

  1. Tuhan sebagai penyebab pertama akan adanya segala sesuatu, tetapi Ia bukanlah pencipta dosa,
  2. Tuhan tidak melakukan kekerasan untuk menghilangkan kehendak manusia,
  3. Tuhan tidak mengambil kebebasan atau perlunya manusia, melainkan menegakkannya.

Poin pertama menyatakan bahwa sekalipun Tuhan adalah penyebab pertama yang memungkinkan terjadinya semua hal dalam alam semesta, Tuhan bukanlah pencipta dosa. Tuhan selesai menciptakan bumi dan alam semesta dalam tujuh hari seperti yang ditulis dalam kitab Kejadian, tetapi tidak ada satu ayat pun yang menyatakan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu yang sangat jelek, yang dinamakan dosa. Segala yang diciptakan Tuhan adalah baik adanya.

Dosa bukanlah sesuatu yang diciptakan, melainkan suatu keadaan dimana manusia tidak dapat memenuhi standar kebenaran Allah. Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, itu bukan Tuhan yang membuatnya. Dalam hali ini, poin kedua dari Pengakuan Westminster menyatakan bahwa Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya (agar Adam dan Hawa tidak memakan buah terlarang), tetapi Ia tidak menghilangkan kehendak Adam dan Hawa untuk melanggar fiman Allah. Dengan demikian, manusia bertanggung jawab atas perbuatan jahatnya.

Orang yang bertanggung jawab atas tindakan jahatnya dibuat begitu jelas dari awal Alkitab sampai akhir sehingga sangat tidak berguna untuk mengutip teks untuk membuktikan adanya dosa individu. Tetapi sama jelasnya di dalam Alkitab bahwa Allah bukanlah pencipta dosa. Itu jelas dari natur dosa, sebagai pemberontakan terhadap hukum suci Allah. Itu juga diajarkan secara tegas dalam Alkitab.

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1:13–14

Adalah mudah bagi Allah untuk menghilangkan kemungkinan bagi manusia untuk berbuat dosa dari awalnya. Tetapi, point ke tiga dari Pengakuan Iman Westmister menjelaskan bahwa Allah tidak mengambil kebebasan manusia atau menhilangkan perlunya peranan manusia di antara ciptaan-Nya, melainkan menegakkannya. Tuhan sudah menciptakan seisi alam semesta dengan manusia menurut gambar-Nya, dan Tuhan tidak akan mengambil kebebasan yang sudah diberikan-Nya kepada manusia.

Sampai di sini, kita tahu bahwa Tuhan yang mempunyai rencana, telah menetapkan sebelumnya apa pun yang terjadi. Perbuatan berdosa dari manusia berdosa adalah hal-hal yang terjadi. Namun kita harus menolak jika Tuhan dianggap sebagai penulis dosa karena adanya kehendak manusia yang ditegakkan Tuhan, yang menempatkan tanggung jawab dosa pada manusia.

Bagaimana mungkin kita bisa mengerti hal ini? Apakah kita tidak melibatkan diri kita dalam kontradiksi besar tanpa harapan?Jawabannya ditemukan dalam fakta bahwa meskipun Tuhan menetapkan sebelumnya apa pun yang akan terjadi, Dia menyebabkan terjadinya hal-hal itu dengan cara yang sangat berbeda. Dia tidak menyebabkan terjadinya tindakan pribadi manusia dengan cara yang sama seperti cara Dia menciptakan benda, makhluk hidup dan peristiwa di dunia fisik. Tetapi di dalam Dia, dan hanya dengan seizin-Nya, segala hal bisa terjadi.

Itu benar bahkan untuk perbuatan baik manusia. Ketika Tuhan membuat manusia melakukan hal-hal tertentu dengan pengaruh Roh Kudus-Nya yang murah hati, Dia tidak memperlakukan mereka seperti tongkat atau batu, tetapi memperlakukan mereka seperti manusia. Dia tidak menyebabkan mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keinginan mereka, tetapi Dia mengarahkan kehendak mereka, dan kebebasan mereka sebagai pribadi sepenuhnya dipertahankan ketika mereka melakukan tindakan tersebut. Tindakan yang dilakukan adalah tetap tindakan mereka, meskipun mereka dipimpin untuk melakukannya oleh Roh Allah.

Ketika Tuhan menyebabkan terjadinya tindakan jahat manusia, Dia melakukannya dengan cara yang berbeda. Dia tidak menggoda manusia untuk berbuat dosa; dia tidak mempengaruhi mereka untuk berbuat dosa. Tetapi Ia menyebabkan terjadinya perbuatan-perbuatan itu melalui pilihan-pilihan yang bebas dan bertanggung jawab dari manusia secara pribadi. Dia telah menciptakan makhluk-makhluk itu dengan karunia kebebasan memilih. Hal-hal yang mereka lakukan dalam menjalankan karunia itu adalah tindakan mereka. Mereka tidak akan mengejutkan Tuhan dengan perbuatan mereka karena perbuatan mereka adalah bagian dari rencana kekal-Nya; namun dalam melakukannya mereka, dan bukan Allah yang kudus, yang bertanggung jawab.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah sulit menyelaraskan kehendak bebas nanusia dengan kepastian tindakan mereka sebagai bagian dari tujuan kekal Tuhan? Ini sebenarnya bukan masalahnya. Masalah yang sebenarnya adalah kesulitan untuk melihat bagaimana Allah yang baik dan mahakuasa dapat membiarkan dosa memasuki dunia yang telah Ia ciptakan. Bagaimana mungkin Tuhan yang suci, jika Dia mahakuasa, mengizinkan keberadaan dosa? Apa yang harus kita lakukan untuk menjawab pertanyaan ini? Dalam keterbatasan kita, kita harus mengaku bahwa itu tidak dapat kita dipecahkan.

Apakah begitu mengecewakan bahwa ada beberapa hal yang tidak kita ketahui? Iman adalah percaya akan hal-hal yang tidak kita mengerti. Tuhan telah memberi tahu kita banyak hal. Dia telah memberi tahu kita banyak pengertian bahkan tentang dosa. Dia telah memberi tahu kita bagaimana dengan harga yang tak terhingga, dengan pemberian Putra-Nya, Dia telah menyediakan jalan keluar untuk lepas dari hukuman. Apakah mengecewakan bahwa Tuhan belum memberi tahu kita semua rahasia dalam kebesaran-Nya?

Bagaimana pun, kita hanyalah makhluk yang terbatas. Kita tidak perlu heran bahwa ada beberapa misteri yang telah disembunyikan Tuhan dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas dari mata kita. Apakah mengherankan bahwa Dia meminta agar kita puas untuk tidak mengetahuinya tetapi hanya mempercayai Dia yang mengetahui segalanya? Hari ini, sebagai manusia kita harus sadar bahwa Tuhan sudah menentukan tujuan kehidupan kita. Kita diberi-Nya kebebasan untuk menjalani hidup kita, tetapi dalam batasan yang telah ditentukan-Nya melalui firman-Nya. Adalah lebih penting bagi kita untuk menggunakan kebebasan yang sudah kita terima dari Tuhan untuk mempersembahkan hidup kita kepada Dia.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Roma 12: 3

Apakah Anda penjaga umat-Nya?

“Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku.” Yehezkiel 33:7

Penjaga yang disebut dalam ayat di atas adalah orang yang bertanggung jawab untuk melindungi kota dan instalasi militer dari serangan mendadak musuh dan potensi bahaya lainnya. Kota-kota Israel kuno sering menempatkan penjaga di tembok tinggi atau di menara pengawas. Tugas mereka adalah berjaga-jaga dan memperingatkan penduduk kota tentang ancaman yang akan datang.

Kata Ibrani tsa-phah yang diterjemahkan “penjaga” berarti “orang yang mengintai”, “orang yang memata-matai”, atau “orang yang mengawasi”. Penjaga adalah pengintai yang mencari adanya teman maupun musuh yang mendekat. Tetapi, penjaga juga diperlukan untuk nengawasi landang dan kebun anggur selama musim panen.

Pada saat menjelang hari Paskah ini, tentunya kita ingat bahwa Tuhan Yesus pernah meminta agar tiga orang muridnya untuk berjaga-jaga dengan Dia karena Ia merasa sedih ketika sadar bahwa saatnya segera tiba bahwa Ia akan diadili dan kemudian dihukum mati (Matius 26: 38). Yesus mengajak murid-muridnya untuk bersama-sama menhadapi saat yang genting itu dan mendapatkan kekuatan rohani dalam kebersamaan. Tetapi ketiga murid itu jatuh tertidur dan tidak sanggup membuka mata mereka.

Dalam ayat di atas Alkitab menyebut penjaga dalam arti rohani. Tuhan menunjuk para nabi sebagai penjaga spiritual atas jiwa umat-Nya. Tugas para nabi sebagai penjaga adalah mendorong umat Allah untuk hidup dengan setia dan memperingatkan mereka tentang bahaya murtad dari Tuhan dan godaan untuk melakukan kejahatan. Sebagai penjaga, para nabi juga dipanggil untuk memperingatkan orang-orang jahat tentang penghakiman dan kehancuran yang akan menimpa mereka kecuali mereka berbalik dari jalan-jalan jahat mereka. Memang setiap manusia, Kristen maupun bukan, sampai sekarang harus mempertanggungjawabkan apa yang dipilih dan dilakukannya.

Penjaga rohani Israel memikul tanggung jawab yang berat di hadapan Tuhan. Jika seorang nabi seperti Yehezkiel gagal untuk memperingatkan orang lain atas apa yang Allah telah tetapkan untuk dia lakukan, nyawanya sendiri berada dalam bahaya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas dosa orang itu (Yehezkiel 33:2–6). Seorang penjaga yang buta atau tidak taat kepada Firman Tuhan membuat orang-orang yang seharusnya dilindunginya menjadi terbuka atas bahaya dan penderitaan (Yesaya 56:10).

Ketaatan adalah satu-satunya tindakan bagi seorang penjaga yang benar: “Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.” (Yehezkiel 33:9).

Peran penjaga rohani berlanjut dalam Perjanjian Baru dalam bentuk pemimpin gereja. Umat Tuhan diperintahkan untuk menaati pemimpin gereja: “ Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu (Ibrani 13:17).

Sebenarnya, Tuhan memanggil bukan hanya pemimpin, tetapi semua orang Kristen untuk menjadi penjaga saudara-saudara seiman. Yesus memberi tahu para murid-Nya untuk “berjaga dan berdoa agar kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Markus 14:38). Dengan demikian, kita harus mau saling mengingatkan agar hidup kita tetap dijalani sesuai dengan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab.

Adalah suatu kebodohan jika kita percaya bahwa segala seuatu sudah ditentukan oleh Tuhan sehingga kita tidak perlu berjaga-jaga. Adalah suatu kesombongan jika kita percaya bahwa sebagai umat-Nya kita tidak dapat jatuh dalam dosa yang mematikan kerohanian kita. Adalah suatu keteledoran jika kita membiarkan atau meyebabkan saudara kita jatuh dalam pencobaaan atau cara hidup yang sesat. Memang Tuhan mahakuasa, tapi itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu menjadi penjaga-penjaga saudara kita. Akankah kita akan menghindari tanggung jawab kita?

Firman TUHAN kepada Kain: ”Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: ”Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Kejadian 4:9