Kenalkah Anda akan diri Anda?

TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.” Mazmur 139: 1 – 2

Sebentar lagi kita memasuki tahun baru 2023. Bagaimanakah perasaan Anda saat ini? Banyak orang yang menantikan datangnya tahun baru karena itu adalah kesempatan untuk merayakannya bersama teman-teman dan sanak saudara. Tetapi banyak juga orang yang menganggap bahwa tahun baru adalah bukan hari yang istimewa untuk dirayakan, karena sebenarnya tidak ada beda antara hari Tahun Baru dengan hari-hari sebelumnya. Bukan seperti hari ulang tahun atau hari Natal. Walaupun demikian, adanya perayaan tahun baru sudah tentu memberi kesempatan bagi setiap orang untuk memikirkan kehidupannya. Apakah kita merasa puas dan bahagia dengan apa yang kita capai pada tahun yang lalu? Ataukah adanya Tahun Baru justru membuat kita merasa sedih ketika melihat orang lain bisa bergembira? Apakah Anda mengharapkan bahwa sesuatu yang indah seharusnya terjadi pada tahun yang lalu? Apakah Tuhan sudah mengecewakan Anda?

Hidup manusia di zaman modern memang bisa terasa sepi dan hampa karena jarang orang yang bisa memahami diri kita. Dalam keadaan suka, memang ada banyak teman di sekitar kita yang bisa diajak untuk menikmati apa saja. Tetapi jika kita berada dalam kesukaran, sulitlah bagi kita untuk mendapatkan orang yang benar-benar bisa kita sandari. Orang yang terdekat, seperti orang tua, suami, istri dan anak pun ternyata terbatas kemampuannya dalam hal menolong kita. Mereka seringkali tidak dapat mengerti perasaan, keluh kesah, dan masalah kita. Inilah yang bisa membuat kita merasa sedih dan merana; tetapi itu mungkin terjadi karena kita menaruh harapan kepada manusia dan bukannya Tuhan.

Pemazmur di atas menyatakan bahwa Tuhan menyelidiki dan mengenal dirinya; Tuhan tahu kalau ia duduk atau berdiri, dan Ia mengerti pikirannya dari jauh. Tuhan mahatahu, dan lebih dari itu Ia peduli atas keadaan umat-Nya. He cares. Tuhan bukanlah Oknum yang baru mau memandang umat-Nya jika mereka mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada-Nya. Tuhan tidak membutuhkan apa-apa dari manusia. Tuhan juga bukan Tuhan yang hanya mengasihi orang yang selalu taat kepada-Nya. Sebaliknya, Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih yang sudah memberikan seorang Juruselamat kepada manusia, agar mereka yang percaya kepada-Nya bisa menerima keselamatan. Tuhan bisa melihat apa yang kita lakukan, dan Ia mengerti apa yang terjadi dalam hidup kita. Tuhan jugalah yang selalu berusaha untuk membimbing seluruh umat-Nya ke arah yang benar.

Saat ini, adakah kesedihan dalam hati Anda karena anda seorang diri  berjuang dalam hidup? Adakah perasaan bahwa tidak ada seorang pun yang mengerti keadaan dan masalah Anda? Firman Tuhan berkata bahwa jika manusia tidak dapat mengerti jalan pikiran anda, Tuhanlah yang bisa melihat apa yang anda pikirkan dan kuatirkan. Ia yang mahakuasa selalu mau menyelidiki dan mengenal siapa Anda, sekalipun Anda sendiri kurang sadar akan arti hidup Anda. Ialah yang bisa menolong Anda, mengampuni Anda dan mengembalikan Anda ke jalan yang benar, agar Anda bisa hidup berbahagia dan menemukan kedamaian di dalam Dia.

Tuhan adalah mahatahu, dan karena itu Ia tahu segala sesuatu. Waktu dan tempat bukanlah sesuatu yang dapat membatasi Tuhan, karena Ia ada di mana pun dan kapan pun. Karena itu, Ia tahu apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi di bumi maupun di surga. Bahkan Ia tahu segala sesuatu sebelum apa pun terjadi, karena Dia ada sebelum ciptaan-Nya. Dengan demikian, tidaklah dapat diragukan bahwa Ia tahu akan segala sesuatu yang ada dalam hidup kita, bahkan sebelum kita dilahirkan. Karena itu, tidaklah mungkin kita menutup diri kita dari pandangan mata Tuhan. Sebaliknya, kita harus menyerahkan hidup dan isi hati kita kepada Dia.

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Mazmur 139: 23 – 24

Memang sifat/atribut Tuhan di atas adalah satu dari tiga sifat utama dari Tuhan, yaitu mahatahu, mahakuasa dan mahahadir (omniscient, omnipotent dan omnipresent). Tuhan adalah Oknum yang luar biasa yang tidak ada tandingannya. Walaupun demikian, Tuhan bukanlah Tuhan yang ingin agar manusia mendekati-Nya jika Ia hanya memiliki tiga sifat itu. Ketiga sifat itu mungkin justru membuat manusia menjauhi Tuhan jika Ia adalah Tuhan yang tidak peduli atau Tuhan yang semena-mena.

Dalam kehidupan ini, manusia mungkin jarang memikirkan faktor Tuhan jika hidup berjalan lancar. Dalam menghadapi masalah, tantangan dan penderitaan, biasanya manusia yang merasa tidak dapat mengatasinya kemudian mulai memikirkan adanya faktor tertentu yang tidak dapat dimengertinya. Mengapa semua itu harus terjadi? Mengapa itu terjadi pada diriku? Mengapa itu terjadi dalam keluargaku? Mengapa Tuhan yang mahatahu, mahakuasa dan mahaada tidak berbuat sesuatu ketika malapetaka terjadi? Apakah Dia adalah Tuhan yang tidak peduli akan keadaan manusia?

Jika Tuhan hanya memiliki tiga sifat utama diatas, Tuhan belum tentu adalah Tuhan yang baik. Tuhan yang demikian bukanlah Tuhan yang benar-benar mau mengenal kita sebagai domba-domba-Nya. Sebaliknya, Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih dan mahabaik (omnibenevolent), sehingga  karena kasih dan kebaikan-Nya semua orang yang berdosa diberi-Nya kesempatan untuk memperoleh karunia keselamatan. Kita harus ingat bahwa Tuhan sudah mengirim Anak-Nya untuk turun ke dunia sebagai seorang bayi yang lahir dalam sebuah palungan. Ia mempunyai maksud baik kepada semua orang sehingga Ia kemudian mengurbankan Anak-Nya untuk menebus manusia yang berdosa. Karena itu, bagi kita, sifat omnibenevolent ini haruslah diingat dalam merayakan datangnya tahun baru.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Pengurbanan Yesus di kayu salib adalah bukti bahwa Tuhan mempunyai iktikad baik kepada umat manusia. Lebih dari itu, selama hidup di dunia Yesus menyatakan sifat itu dengan lebih jelas: Ia melakukan berbagai kebaikan untuk mereka yang menderita dan kemudian menebus manusia yang berdosa dengan darah-Nya di kayu salib.

Apa yang harus kita sadari dalam memasuki tahun baru adalah perlunya bagi kita untuk mengenal Tuhan secara penuh, bahwa bukan saja Ia mahakuasa, Ia juga Tuhan mahakasih dan mahabaik. Yesus adalah Tuhan yang sudah turun ke dunia. Dia adalah gembala yang baik bagi umat-Nya, Ia bukan saja tahu keadaan kita, tetapi Ia mengenal kita dan segala segi kehidupan kita. Karena Ia mengenal semua domba-Nya, Ia bisa dan mau menolong mereka yang mengalami penderitaan dan kesulitan hidup. Kepada Dia kita boleh berharap akan pertolongan, bimbingan dan perlindungan-Nya.

Hari ini, adakah yang membuat anda gundah? Apakah ada masalah besar yang anda alami? Yesus mengenal anda dan mampu memberikan apa yang baik pada waktunya. Pada pihak yang lain, kenalkah anda akan diri Anda? Sadarkah anda bahwa Anda adalah milik Tuhan yang bukan saja mahakuasa, mahatahu dan mahaada, tetapi juga mahakasih dan mahabaik yang memberikan matahari kepada semua orang? Bukankah Tuhan yang sedemikian besar akan mengasihi kita dalam keadaan apa pun?

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Que sera sera?

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14

Ungkapan Que sera sera secara harafiah berarti “apa yang akan terjadi, terjadilah”. Sepanjang sejarahnya, ungkapan tersebut muncul dalam berbagai ejaan yang menyerupai bahasa Spanyol (Que será será), Italia (Che sarà sarà), Prancis (Qui sera sera), atau campuran bahasa Spanyol dan Italia. Ungkapan ini bertalian dengan pertanyaan atas apa yang akan terjadi di masa depan seseorang. Bagi mereka yang masih tergolong muda, mungkin ada banyak yang diidamkan untuk masa depan. Tetapi, bagi mereka yang sudah berumur, masa depan yang mereka impikan dulu adalah masa kini. Mereka mungkin sudah menyerah dan mau menerima apa saja yang bakal terjadi. Que sera, sera.

Saat memasuki tahun baru, memang ada orang yang selalu sibuk memikirkan dan menguatirkan masa depan, sedangkan mereka tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Dalam kehidupan sehari-hari orang memang sering kuatir akan apa yang terjadi karena adanya kejadian-kejadian yang tidak terduga. Sebagai contoh, ada negara-negara yang pada mulanya stabil akhirnya menjadi terpecah belah sehingga rakyatnya menderita. Tetapi hal yang nampaknya lebih kecil – seperti kehancuran rumah tangga – juga bisa terjadi diluar dugaan orang. Hidup adalah penuh dengan misteri, begitu kata orang.

Ayat diatas menunjukkan bahwa apa yang terlihat nyaman dan tidak nyaman terjadi karena kehendak Tuhan. Tuhan yang mahakuasa memang bisa mengizinkan  terjadinya hal apapun, yang tidak bisa diduga manusia, supaya manusia mengakui bahwa mereka hanya dapat bergantung kepada Sang Pencipta. Walaupun demikian, banyak orang yang tetap merasa mampu untuk menentukan hari depan mereka melalui usaha dan kerja; mereka mungkin berpikir bahwa masa depan setiap orang ada ditangan sendiri. Memang banyak guru yang mengajarkan bahwa jika kita bersikap positif untuk menghadapi hidup dan mau bekerja keras, masa depan yang cemerlang menunggu kita. Tetapi itu belum tentu terjadi.

Memandang masa depan yang tidak dapat diduga, seringkali membuat kita ragu. Jika semuanya tidak ada yang pasti, bagaimana pula kita bisa mempunyai harapan untuk hal apapun. Mereka yang mengajarkan manusia untuk berpikir positif selalu menekankan hal percaya diri; sebaliknya mereka yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah kunci kehidupan, menekankan hal percaya kepada Tuhan. Dalam hal ini,  seakan lebih mudah bagi seseorang untuk mempercayai kemampuan manusia karena Tuhan dan kehendak-Nya adalah sulit untuk dimengerti.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8 – 9

Walaupun demikian, mereka yang benar-benar mengenal Tuhan akan mempunyai pengertian tentang cara kerja atau modus operandi Tuhan. Sepanjang sejarah, Tuhan selalu bekerja agar umat-Nya mau menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepada-Nya. Ia tahu bahwa manusia tidak dapat hidup dengan bergantung pada diri mereka sendiri. Karena itu, melalui firman-Nya dan berbagai kejadian yang ada di dunia, Tuhan tidak jemu-jemunya mengingatkan bahwa jika kita hanya percaya kepada diri sendiri, kehancuranlah yang menunggu kita; jika itu tidak terjadi sekarang, pastilah itu terjadi di masa depan.

Pagi ini, perlulah kita pikirkan apa yang kita harapkan dari masa depan. Apakah kita mengharapkan datangnya hari-hari gembira yang penuh suka cita? Tidak ada salahnya jika kita mengharapkannya dari Tuhan. Jika itu datang, kita boleh menikmatinya sambil bersyukur kepada-Nya. Tetapi, jika hari-hari yang penuh tantangan dan kesulitan datang, kita pun harus sadar bahwa hari-hari itu juga datang dengan seizin Tuhan. Dalam hal ini, mereka yang tidak mengenal Tuhan akan mengeluh dan bahkan mungkin menghujat Tuhan; tetapi mereka yang mengenal kasih Tuhan yang sudah memberi keselamatan yang kekal di surga tidaklah menjadi kecewa, melainkan makin merasakan betapa besar kuasa Tuhan di dunia ini. Bagi mereka, hidup ini tidak lagi sebuah misteri.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Iman dan hidup adalah kesatuan

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2:26

Mungkin Anda masih berlibur saat ini. Hari kedua setelah hari Natal, pikiran anda masih ingin beristirahat. Tetapi, mungkin ini saat yang tepat bagi Anda untuk mengasah otak. Ayat diatas menyatakan bahwa tubuh tanpa roh = mati. Lebih lanjut, iman tanpa perbuatan = mati. Lalu apakah tubuh tanpa roh adalah sama dengan iman tanpa perbuatan? Itu ada benarnya secara logika, tetapi kurang tepat ditafsirkan begitu. Tubuh tanpa roh adalah mati jasmani, tetapi iman tanpa perbuatan adalah mati rohani. Dengan demikian, jika kita sebagai umat Kristen yang memiliki hidup jasmani dan hidup rohani, kita harus bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan iman kita selama kita hidup di dunia.

Iman tanpa perbuatan baik disebut mati karena kurangnya perbuatan baik itu mengungkapkan kehidupan yang tidak diubahkan, serta hati yang mati secara rohani. Ada berbagai ayat yang menjelaskan bahwa iman sejati yang menyelamatkan akan menghasilkan kehidupan yang berubah, bahwa iman terbukti oleh perbuatan kita. Cara hidup kita mengungkapkan kepercayaan kita dan apakah iman yang kita akui benar-benar iman yang hidup.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Apa yang ditulis oleh rasul Yakobus terkadang diceraikan dari konteksnya demi menciptakan sistem kesalehan beragama yang didasari perbuatan baik, padahal berlawanan dengan pengajaran lainnya di dalam Alkitab. Yakobus bukan mengajar bahwa perbuatan baik dapat membenarkan kita di hadapan Allah, melainkan bahwa iman sejati akan terbukti oleh perbuatan baik. Perbuatan baik bukanlah penyebab keselamatan; perbuatan baik adalah bukti keselamatan. Iman sejati di dalam Kristus selalu menghasilkan perbuatan baik. Orang yang mengklaim dirinya Kristen tetapi hidup dalam ketidaktaatan pada Kristus yang disengaja, imannya palsu dan ia tidak selamat.

Dalam tulisannya, Yakobus membandingkan dua jenis iman yang berbeda – iman sejati yang menyelamatkan dan iman palsu yang mati. Banyak orang Kristen yang yakin bahwa menjadi umat Tuhan cukup dengan iman. Mereka dengan mulut mengaku percaya, tetapi dalam hidup tetap menjalankan kebiasaan lama. Dengan demikian perlu dipertanyakan apakah tujuan mereka untuk menjadi umat Tuhan, jika tidak untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan dan untuk memuliakan-Nya? Orang yang demikian sering tidak mau menekankan pentingnya perbuatan baik dan nilai-nilai moral Kristen dengan alasan bahwa jika orang sudah diselamatkan, itu hanya karena karena Tuhan dan karena itu perbuatan manusia tidaklah mempunyai arti dalam konteks keselamatan.

Sudah tentu pandangan sedemikian adalah keliru. Tetapi mereka yang menganut faham itu sudah tentu tidak merasa atau tidak mau dituduh sesat. Dalam hidup Kristen, seharusnya setiap orang mempunyai tujuan dan mau bekerja untuk mencapainya. Lebih dari itu, orang juga mengharapkan hasil yang sesuai dengan tujuan dan cara hidupnya. Memang ada tiga hal yang penting dalam hidup: tujuan, cara dan hasil. Jika kita mau menjadi umat Tuhan, kita harus mempunyai tujuan hidup yang benar, cara hidup yang benar dan dengan demikian berharap untuk mendapatkan hasil yang baik.

Menjadi sempurna di dalam Kristus tidaklah terjadi dalam sekejap mata, itu adalah proses penyucian seumur hidup. Dalam hal ini ada orang yang menafsirkan bahwa Yesus sebenarnya tidak mengharapkan kesempurnaan tetapi kedewasaan. Apa pun penafsiran kata aslinya (bahasa Yunani: teleios), jelas bahwa tiap orang Kristen harus mengalami perubahan selama hidup di dunia.

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Filipi 3: 12

Dalam perspektif Alkitab, tujuan hidup yang utama berdasarkan ayat di atas adalah untuk menjadi seperti Yesus. Dengan tujuan ini, kita bisa memilih apa yang perlu dilakukan dan cara hidup yang harus dijalani. Ayat ini tidak menyatakan bahwa kita harus mencapai kesempurnaan agar dapat mencapai keselamatan. Kita tahu bahwa keselamatan adalah karunia Tuhan. Tetapi Yesus dalam Matius 5 menetapkan tujuan hidup yang seharusnya dilaksanakan setiap orang Kristen, agar mereka menjadi manusia dewasa yang hidup dalam kasih seperti Tuhan mengasihi kita. Selain itu, dari apa yang baik (buah-buah Roh), orang Kristen bisa terlihat apakah ia benar-benar sudah diselamatkan.

Banyak orang mengaku sebagai Kristen, namun kehidupan dan prioritas mereka menunjukkan kenyataan yang sesungguhnya. Yesus mengutarakannya demikian:

“Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:16-23.

Kesalahpahaman terkait hubungan di antara iman dan perbuatan datangnya dari penyalah-tafsiran ajaran Alkitab mengenai keselamatan. Pada umumnya ada dua kesalahan yang muncul dalam pengertian iman dan perbuatan. Kesalahan yang pertama ialah bahwa, selama seseorang pernah mengucapkan doa atau pernah berkata, “Saya percaya Yesus,” maka ia selamat tanpa pengecualian apa pun. Ajaran ini dikenal dengan ungkapan “pembaruan mengikuti keputusan,” dan sangat berbahaya.

Begitu juga ajaran”pembaharuan terjadi pada saat diselamatkan“. Idenya ialah bahwa pengakuan iman yang dikerjakan Tuhan akan menyelamatkan seseorang, dan orang itu diselamatkan tanpa harus bereaksi atas panggilan Tuhan, walaupun ia hidup bagaikan iblis setelahnya, dan dapat dimasukkan kategori “Kristen karnal.” Ajaran ini menyepelekan gaya hidup yang bejat: seseorang dapat meneruskan hidupnya sebagai pezinah yang tidak bertobat, suka berzinah, pembohong, atau pencuri, namun ia selamat; karena ia “sudah dipilih Tuhan”. Namun, sebagaimana kita jumpai dalam Yakobus 2, pengakuan iman yang kosong – pengakuan yang tidak menghasilkan hidup yang taat kepada Kristus – adalah iman yang mati, yang tidak dapat menyelamatkan. Tuhan tidak memilih orang-orang untuk diselamatkan tanpa menimbang kesetiaan iman mereka.

Kesalahan ketiga terkait iman dan perbuatan adalah ajaran sesat bahwa “untuk diselamatkan orang harus berbuat baik atau melaksanakan hukum Taurat”. Upaya mendapatkan keselamatan dengan mencampurkan iman dan perbuatan sangat berlawanan dengan Alkitab. Kita dibenarkan oleh kasih karunia melalui iman, dan akibat alami dari iman di hati ialah perbuatan yang dapat diamati. Perbuatan yang mengikuti keselamatan tidak membenarkan kita di hadapan Allah; perbuatan itu hanya mengalir dari hati yang diperbarui sama seperti air mengalir dari mata air yang hidup.

Keselamatan adalah tindakan berdaulat Allah dimana seseorang berdosa mengalami “permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” yang dicurahkan di atasnya sehingga ia lahir kembali. Ketika hal ini terjadi, Allah memberi orang berdosa yang telah diampuni sebuah hati baru dan menaruh roh yang baru di dalamnya. Allah mencabut hatinya yang telah dikeraskan oleh dosa dan mengisinya dengan Roh Kudus. Roh ini menyebabkan orang yang diselamatkan bisa berjalan dalam ketaatan kepada Firman Allah.

Iman tanpa perbuatan disebut mati karena yang terungkap ialah fakta bahwa hati orang itu belum diubah oleh Allah. Ketika kita diperbarui oleh Roh Kudus, kehidupan kita akan menyaksikan kehidupan baru itu. Perbuatan kita akan dikenal oleh ketaatannya kepada Allah. Iman yang tidak terlihat, dapat disaksikan secara nyata oleh kehadiran buah-buah Roh yang menghiasi kehidupan kita (Galatia 5:22). Orang Kristen adalah milik Kristus, Sang Gembala yang Baik. Sebagai domba-Nya kita mau mendengar suara-Nya dan mengikuti Dia (Yohanes 10:26-30). Inilah yang harus kita sadari dalam memasuki tahun yang baru.

Kekuatan yang tidak bisa hilang

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” 2 Korintus 4:16

Badai salju dan turunnya suhu yang luar biasa di Amerika minggu lalu membuat banyak negara bagian mengalami krisis energi. Di kala banyak orang memerlukan tenaga listrik untuk pemanas ruangan, sebagian daerah padam aliiran listriknya sehingga orang harus mencari jalan lain untuk dapat tetap hidup dan makan. Memang, sebagai manusia modern kita memerlukan tenaga listrik untuk kegiatan apa pun; dan jika ini tidak dapat diproduksi atau disalurkan ke konsumen, kekacauan dan penderitaan akan terjadi.

Banyak negara sekarang sudah beralih dari pemakaian tenaga listrik yang berasal dari hasil tambang, seperti minyak dan batubara, menuju ke arah penggunaan energi listrik dari tenaga angin atau ombak laut yang lebih langgeng. Tetapi, untuk menghasilkan tenaga listrik yang cukup besar dan lebih ekonomis sebagian orang berpendapat bahwa kita sebenarnya membutuhkan pembangkit listrik bertenaga nuklir. Sayang sekali, penggunaan reaktor bertenaga nuklir mempunyai risiko besar bagi penduduk sekitarnya. Dalam hal ini, kemajuan sains begitu pesat sehingga teknologi baru yang lebih aman dan efektif terus bermunculan. Harapan para peneliti adalah untuk menciptakan mesin yang bisa menghasilkan energi yang lebih besar dari energi yang dipakai, sehingga kita bisa mendapat suplai listrik yang tidak bisa mati. Kedengarannya mustahil, tetapi ini bisa dicapai melalui teknik nuclear fusion di masa depan.

Dalam kehidupan manusia, kita bisa melihat bahwa dengan bertambahnya umur, kemampuan jasmani kita akan menurun. Sekalipun orang berusaha memertahankan kesegaran tubuhnya dengan makanan bergizi, berolahraga dan cara hidup yang sehat, semua orang akan merasakan bahwa energi yang bisa dihasilkan akan menurun lepas usia pertengahan. Bagi sebagian orang ini adalah keadaan yang dirasakan sebagai penderitaan batin, karena kesadaran bahwa kemampuan tubuh sudah berkurang membuat mereka terpaksa untuk mengurangi kegiatan dan mulai merencanakan hidup hari tua. Bagi mereka, kenyataan hidup bahwa kemampuan tubuh makin merosot hari demi hari adalah sebuah fakta yang menyedihkan.

Bagaimana kita bisa menghadapi hari depan jika kita sadar bahwa pada suatu saat kita tidak lagi mempunyai energi yang cukup untuk hidup mandiri? Mungkin kta berharap akan bantuan orang lain untuk membagi energi yang mereka punyai agar hidup kita bisa tetap berjalan. Tetapi semua itu hanya memberi kesan bahwa hidup kta adalah seperti lilin yang hampir padam. Perasaan sedih akan datang jika kita tidak lagi bisa menghasilkan sesuatu yang positif dalam hidup kita. Bagaimana kita bisa tetap bertahan dan hidup dalam kedamaian jika kita sadar bahwa energi yang ada sudah semakin kecil? Kita membutuhkan pasokan energi baru!

Ayat di atas menjelaskan kunci hidup orang Kristen yang tidak pernah kehabisan energi selama hidup. Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa sebagai orang beriman mereka sadar akan kenyataan bahwa secara lahiriah mereka semakin merosot, namun mereka juga tahu bahwa secara batiniah mereka dibaharui dari sehari ke sehari. Energi mereka tidak pernah habis jika mereka dekat dengan Tuhan yang memberi mereka kesehatan rohani dan kekuatan rohani setiap hari. Jika mereka hidup sesuai dengan firman-Nya dan mengundang Roh Kudus untuk terus bekerja dalam hidup mereka, api Roh Kudus akan terus menyala dan memberi mereka kekuatan untuk menjalani masa depan.

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru, tahun 2023. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita, dan mungkin kita merasa gundah dan lemah. Kita membutuhkan sumber energi yang baru untuk menghadapi pergumulan hidup, baik itu di sekolah, di kantor, dalam rumah tangga, ataupun dalam pergaulan sehari-hari. Kita mungkin merasa lelah, putus asa, atau mungkin bosan dalam menghadapi masa depan. Firman Tuhan hari ini jelas menyatakan bahwa tanpa pembaruan rohani melalui Roh Kudus, kita akan hanya merasakan kemerosotan energi dan semangat hidup. Bertekunlah dalam pembaruan-Nya, maka Anda akan makin kuat dalam menghadapi hari depan!

Selamat hari Natal!

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Hari ini hari Natal, hari peringatan kelahiran Yesus ke dunia. Merry Christmas! Berjuta-juta orang Kristen merayakan hari Natal dengan berbagai acara gereja. Memang, bagi mereka hari Natal adalah hari yang membawa kesan gembira, hari ulang tahun Yesus Kristus. Untuk sementara, orang berhenti memikirkan persoalan hidup dan mencoba untuk bergembira dalam suasana Natal yang dapat mereka temui.

Tidak semua orang bisa dan mau merayakan hari Natal. Mereka yang tidak mengenal Yesus mungkin tidak berminat untuk merayakan kelahiran-Nya. Mereka yang tidak percaya bahwa Yesus Anak Allah, mungkin hanya merayakan Natal sebagai hari untuk libur seperti hari tahun baru. Dan mereka yang membenci Yesus mungkin akan berusaha menghalangi orang lain yang ingin merayakan Natal.

Mereka yang mengerti bahwa Yesus dilahirkan untuk menebus dosa mereka, tentu merasa beruntung bahwa hadiah Natal sudah mereka terima. Mereka sadar bahwa jika hadiah itu tidak datang secara cuma-cuma dari Allah, tidak mungkin bagi mereka untuk membeli harga penebusan dosa-dosa mereka. Karena Tuhan mahasuci, manusia tidak mungkin bisa menerima keselamatan jika itu tidak datang sebagai anugerah-Nya.

Mereka yang mengerti arti Natal yang sebenarnya, juga harus bersyukur bahwa Roh Kudus sudah bekerja dalam hidup mereka, sehingga mereka memperoleh kesadaran akan dosa-dosa yang ada, dan karena itu mau menerima uluran tangan Tuhan yang menyelamatkan. Mereka tentunya menyadari bahwa walau ada banyak yang mendengar panggilan Tuhan, sedikit saja yang terpilih. Memang sebagian manusia terlalu sibuk dengan hidup mereka untuk mau mengikut Kristus dan sebagian lagi memang membenci Dia.

“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Matius 22: 14

Sebagian dari orang yang sudah mengenal dan menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka, masih kurang yakin bahwa darah Yesus sudah melunasi harga tebusan mereka dengan sepenuhnya. Mereka masih terus mencari apa saja yang bisa menambah harga tebusan itu dengan menjalani hukum dan peraturan yang dibuat manusia untuk membuat mereka makin berkenan kepada Tuhan. Tetapi, cara hidup yang demikian sebenarnya merendahkan nilai penebusan Kristus.

“Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.” Galatia 2: 16

Hari ini, dalam merayakan Natal marilah kita bersyukur bahwa Tuhan sudah menunjukkan kasih-Nya yang sempurna. Karena itu kita bisa dengan sepenuhnya bersyukur kepada Tuhan dan menyatakannya dalam hidup kita, bukan saja pada hari ini, tetapi selama kita hidup di dunia. Selamat hari Natal!

Hadiah Natal yang perlu diterima

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Matius 1: 21

Hari ini tanggal 24 Desember dan esok hari adalah hari Natal. Hari Natal yang kita rayakan sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus. Hari itu hanya ditetapkan sebagian orang Kristen karena tidak seorang pun yang tahu kapan hari kelahiran Yesus. Walaupun demikian, hari itu dirayakan untuk memperingati hari kelahiran Yesus. Yesus, Anak Allah, sudah lahir di dunia untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Hari Natal bukanlah seperti hari tahun Baru, yang merupakan awal dari tahun baru. Karena itu ucapan selamat hari Natal sebenarnya tidak seharusnya disampaikan sesudah hari Natal itu datang, tetapi bisa dan lebih cocok untuk diucapkan sebelumnya. Agaknya terlambat kalau ucapan hari Natal itu disampaikan sesudah hari Natal.

Apa arti kata Natal? Kata Natal berasal dari kata Natus dalam bahasa Latin, yang berarti “dilahirkan”. Dalam istilah kedokteran, kata Neonatal menggambarkan bulan pertama kehidupan seseorang. Masa neonatal adalah bulan pertama setelah bayi lahir. Tahap neonatal adalah bulan pertama kehidupan, saat bayi paling kecil dan paling rapuh. Bayi yang lahir di rumah sakit yang tidak bisa segera pulang terkadang tinggal di unit perawatan intensif neonatal, di mana dokter spesialis dan perawat neonatal merawat mereka.

Di Australia, bukan hanya orang Kristen yang menyambut datangnya hari Natal karena hari ini adalah bagian penting dari budaya barat. Hari Natal bagi masyarakat umum biasanya dirayakan sebagai hari keluarga, dimana banyak orang mengunjungi orang tua mereka untuk makan bersama. Liburan Natal yang bersamaan dengan liburan panjang musim panas, juga membuat orang untuk memakai kesempatan yang ada untuk berlibur atau bertamasya bersama keluarga.

Saat ini, anak-anak sudah tidak sabar menanti datangnya Natal karena memikirkan hadiah apa saja yang bakal didapat dari orang tua mereka. Sebaliknya, sebagian orang masih bingung dan bahkan pusing memikirkan hadiah apa yang bisa mereka berikan kepada anak-cucu. Semua itu membuat hari Natal terasa seperti suatu kesibukan bagi semua umur. Walaupun demikian, bagi banyak orang lain hari Natal mungkin justru bisa mendatangkan rasa sedih. Mungkin itu karena tidak adanya anggota keluarga atau teman yang bisa diajak untuk merayakan Natal, atau kurangnya uang untuk bisa membeli hadiah natal. Karena itu, hari Natal yang meriah bagi banyak orang bisa menjadi hari di mana banyak orang merasa sedih, merana atau kesepian.

Seperti disebutkan sebelumnya, bagi mereka yang beragama Kristen, hari Natal adalah hari peringatan lahirnya Yesus. Ini seharusnya lebih utama dari segi sosial dan finansial. Walupun demikian, jika orang Kristen tidak meluangkan waktu untuk memikirkan arti hari Natal untuk dirinya, hari itu tidak akan berbeda dari hari-hari besar yang lain, seperti hari Tahun Baru dan hari kemerdekaan bangsa. Sekalipun ada yang bisa dinikmati, hari libur seperti itu adalah hari yang dirayakan orang setiap tahun tanpa ada yang terasa istimewa secara pribadi. Setiap tahun orang mungkin merayakannya tanpa mengalami perubahan, kecuali umur yang bertambah satu tahun. Benarkah demikian?

Hari Natal adalah hari yang seharusnya mengingatkan kita akan tujuh hadiah yang sudah kita terima dari Tuhan melalui Yesus. Tujuh hadiah itu adalah: pengampunan, pembenaran, hidup baru, perdamaian, pengadopsian, pembebasan dan penyucian. Karena Yesus lahir ke dunia dan mati di kayu salib ganti kita, kita bisa memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kita. Dosa yang seharusnya membawa kematian, tidak lagi menyebabkan datangnya murka Allah, karena melalui Yesus kita dibenarkan. Melalui Yesus kita bisa mendapat hidup baru, karena hidup lama yang sudah mati mendapatkan nafas baru dari Allah.

Natal seharusnya juga mengingatkan kita  bahwa Allah yang membenci dosa kita seharusnya memberi kita hukuman yang setimpal. Kita seharusnya mengalami kematian sebagai balasan atas kedurhakaan kita. Tetapi Yesus datang untuk mendamaikan Allah dengan kita, umat-Nya. Dengan itu terbuka kemungkinan bagi kita untuk diadopsi sebagai anak-anak-Nya dan berhak memanggil Dia sebagai Bapa. Kita sudah dibebaskan dari cengkeraman dosa dan pengaruhnya, oleh karena itu kita bisa mempunyai masa depan yang baik. Lebih dari itu, Tuhan yang mahakasih membimbing kita dengan Roh Kudus-Nya untuk menyucikan hidup kita setiap hari, sehingga semakin lama kita menjadi semakin serupa dengan Yesus.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita akan tujuh hadiah Natal yang sudah diberikan kepada kita. Hadiah-hadiah ini sering tidak kita pikirkan karena pikiran kita yang sering terpusat pada hal-hal duniawi. Hadiah ini seringkali tidak disadari manusia karena mereka menginginkan apa yang tidak abadi, seperti perhiasan, pakaian dan bahkan mobil, tetapi melupakan apa yang penting bagi rohani mereka. Bagi banyak orang, hadiah Natal yang surgawi adalah apa yang tidak mereka harapkan sekalipun itu adalah apa yang mereka butuhkan untuk hari depan. Bagaimana dengan sikap Anda dalam menghadapi Natal yang sebentar lagi akan datang? Sudahkah Anda bersyukur bahwa Tuhan sudah memberikan tujuh hadiah yang berharga untuk Anda dan orang-orang yang Anda kasihi? Semoga.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Damai di bumi?

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9: 6

Tidak terasa hari Natal sudah di ambang pintu dan dengan itu semua orang, Kristen dan bukan Kristen, dapat menikmati suasana Natal karena hotel, pertokoan dan tempat wisata sudah dihias dengan pohon, hiasan dan lampu Natal. Teringat saya akan masa kecil saya di Indonesia, mendengarkan lagu-lagu Natal dari radio luar negeri; membayangkan seolah hari Natal di luar negeri itu penuh kedamaian, apalagi dengan taburan salju di pohon-pohon dan di atas atap rumah-rumah. Salah satu lagu Natal klasik yang sering diputar saat itu adalah Hark! The Herald Angels Sing, ciptaan Charles Wesley. Lagu ini dikenal di Indonesia sebagai lagu Gita Sorga Bergema.

Gita Sorga Bergema adalah kidung yang termuat dalam buku nyanyian Kristen “Kidung Jemaat” Nomor 99 yang diterbitkan oleh Yamuger, dan juga dalam buku “Puji Syukur” nomor 457. Kidung ini biasa digunakan sebagai Nyanyian Gloria besar pada hari Natal dalam gereja-gereja Kristen Protestan. Lagu Natal ini juga populer di kalangan gereja-gereja Amerika Serikat dan Kanada. Pertama kali dipublikasikan pada tahun 1739 dalam koleksi Himne dan Sajak Kudus, Wesley sebenarnya membuat lirik kidung ini khidmat, bukan dengan tempo cepat atau disko seperti yang sering muncul di TV saat ini. Syair bait pertamanya berbunyi:

Gita sorga bergema,
“Lahir Raja mulia!
Damai dan sejahtera
turun dalam dunia.”
Bangsa-bangsa, bangkitlah
dan bersoraklah serta,
permaklumkan Kabar Baik;
Lahir Kristus, T’rang ajaib!
Gita sorga bergema,
“Lahir Raja mulia!”

Himne aslinya digubah sebagai “Himne untuk Natal” oleh Charles Wesley, yang termasuk dalam koleksi John Wesley yang diterbitkan tahun 1739. John dan Charles Wesley adalah dua bersaudara, pendeta gereja Metodis Amerika. Bait pertama kata-katanya direvisi pada tahun 1758 oleh George Whitefield, sahabat John dan Charles Wesley, menjadi syair bahasa Inggris yang sekarang. Kidung ini diterjemahkan oleh Yamuger pada tahun 1977. Versi terjemahan Indonesia lainnya adalah: “Dengarlah Malak Menyanyi” yang dimuat di Pujian Bagi Sang Raja, Sinode GBIS, dan Kidung Persekutuan Reformerd Indonesia, Sinode GRII, dan “Dengarlah Malaikat Nyanyi” yang dimuat di Nyanyian Kemenangan Iman.

Damai dan sejahtera turun dalam dunia, tertulis dalam bait pertama lagu ini. Agaknya yang dibayangkan dan diharapkan manusia dengan datangnya hari Natal seringkali tidak sesuai dengan apa yang terjadi dalam kenyataannya. Setelah dewasa saya menjadi sadar bahwa adanya Natal belum tentu membawa kedamaian. Di berbagai tempat, perayaan Natal terjadi di tengah peperangan, kemiskinan dan kekacauan. Bahkan, sekalipun banyak yang merayakan Natal di keluarga, di gereja atau negara, kedamaian itu seringkali sukar dirasakan. Apa guna merayakan Natal jika kedamaian itu tidak ada? Dapatkah kita membayangkan Yesus yang lahir sebagai bayi kecil lemah lembut di palungan? Dan malaikat-malaikat yang menyanyikan lagu malam kudus?

Yesus sebenarnya datang ketika bangsa Israel sedang dijajah bangsa Romawi. Bagi mereka, situasi pada saat itu tentunya tidak damai. Tetapi, Yesus datang ke dunia bukan dengan maksud untuk mendamaikan manusia dengan manusia. Ia tidak datang untuk memberi ketenteraman, kepuasan dalam kehidupan duniawi. Ia datang ke dunia untuk memisahkan mereka yang mau didamaikan dengan Allah Bapa, dari mereka yang ingin mendekati Allah dengan cara mereka sendiri.

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Matius 10: 34-36

Yesus adalah Raja Damai karena Ialah yang membawa damai antara Allah dan umat manusia. Murka Allah terhadap manusia yang tidak mau bertobat dari dosa mereka, terhadap mereka yang merasa dapat membeli karcis ke surga, atau yang merasa hidup mereka sudah cukup baik, tidaklah dapat dipadamkan kecuali melalui penebusan Yesus Kristus.

Hari ini biarlah kita sadar bahwa walaupun di dunia ini sering kita menjumpai berbagai hal yang tidak membawa kedamaian di antara umat manusia; dalam keluarga, pekerjaan, negara dan bahkan gereja, kita boleh yakin bahwa kita sudah didamaikan dengan Allah Yang Mahasuci. Dan karena kita sudah mendapatkan kebahagiaan yang tertinggi, kita juga seharusnya dapat membagikan kabar baik itu kepada sesama kita supaya mereka, melalui hidup kita, juga dapat memperoleh dan merasakan kedamaian dengan Allah Tuhan kita.

“Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Roma 10: 15b

Sudah siapkah anda untuk menyambut hari Natal?

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Allah menyertai kita. Matius 1: 23

Jika anda berada di Australia dan mengunjungi berbagai kompleks pertokoan, tentu anda bisa melihat bahwa orang mulai sibuk dengan persiapan menyongsong hari Natal. Pusat perbelanjaan di mana pun saat ini dipenuhi banyak pengunjung, apalagi sekolah dan universitas sudah memasuki masa liburan musim panas. Akhir tahun di Australia tidaklah bersalju, tetapi sebaliknya, bagi mereka yang senang berjemur, bulan-bulan ini adalah saat untuk bermain di pantai. Tentu saja, mereka yang kepanasan memilih untuk pergi shopping karena gedung pertokoan yang ber AC adalah tempat yang enak untuk bersantai.

Dengan berjubelnya pusat pertokoan, terkadang saya heran mengapa begitu banyak orang yang merayakan hari Natal. Benarkah mereka mengerti makna Natal? Ataukah mereka hanya merayakan hari Natal sebagai suatu kebiasaan turun temurun saja? Hanya sekitar 43% penduduk Australia saat ini mengaku sebagai orang Kristen, tetapi dalam kenyataannya hanya sebagian kecil dari mereka yang pergi ke gereja secara konsisten. Tentu saja mereka yang mengaku Kristen mengerti bahwa perayaan Natal adalah perayaan hari kelahiran Yesus. Tetapi, siapakah Yesus itu untuk diri mereka pribadi? Apakah Yesus tetap relevan untuk kehidupan mereka, sedangkan mereka yang tidak ke gereja kebanyakan berdalih bahwa gereja sudah tidak cocok untuk kehidupan zaman sekarang?

Memang kekristenan di zaman ini menghadapi serangan yang luar biasa dari segala penjuru. Bukan saja pertumbuhan agama-agama lain menyebabkan mereka yang dulunya lahir dan hidup dalam lingkungan Kristen, sekarang tertarik untuk pergi “shopping” mencari apa yang lebih menarik, kemajuan teknologi bisa membuat manusia seolah bisa menentukan nasibnya sendiri. Nasibku ada di tanganku, begitu banyak orang berpikir. Belum lagi adanya banyak orang terkenal yang mengajarkan cara hidup yang dikatakan akan membawa keberhasilan dan kebahagiaan tanpa perlu untuk menaati ajaran-ajaran keagamaan atau mengenal Tuhan. Tidaklah mengherankan, bagi banyak orang Yesus hanyalah tokoh sejarah dan bukan Anak Allah.

Ayat diatas adalah ayat yang sering dibacakan di gereja pada minggu-minggu menjelang Natal. Ayat yang signifikan karena setidaknya dua hal. Yang pertama adalah bahwa Yesus memang lahir sebagai manusia dan karena itu Ia adalah manusia yang bisa mengerti kebutuhan kita dengan sepenuhnya. Yang kedua, Yesus dilahirkan sebagai pernyataan kasih Allah yang ingin agar manusia menyadari bahwa didalam Yesus manusia dapat menemukan Dia.

Tuhan yang menjadi manusia adalah Tuhan yang bisa dan mau menolong kita. Tuhan kita bukanlah yang jauh di sana, yang dalam kebesaran-Nya membiarkan manusia untuk berjuang seorang diri di dunia, dan yang mengharuskan manusia untuk bisa mencapai derajat kesucian yang bisa diterima oleh-Nya. Bukan demikian. Tuhan tahu bahwa manusia yang lemah dan berdosa ini, tidaklah sanggup untuk berjuang seorang diri.

Tiga hari lagi kita akan merayakan Natal. Masih ada cukup waktu bagi siapa saja untuk mulai menganalisa hidup kita selama setahun ini. Sudahkah anda mencapai kebahagiaan yang sejati? Sudahkah anda merasa tenteram dalam hidup anda? Yakinkah anda bahwa hari-hari mendatang akan dapat anda hadapi dengan keteguhan hati?  Masih adakah perasaan bahwa dengan adanya berbagai persoalan ekonomi, studi, kesehatan dan keluarga, anda mungkin harus menerima kenyataan bahwa hidup ini terlalu sulit untuk dijalani?

Ayat di atas memberikan jaminan kepada setiap orang Kristen bahwa apa pun yang mereka alami, Yesus yang lahir di bumi sebagai manusia dapat mengerti dan ikut merasakannya. Ayat itu juga memberi keyakinan baru kepada siapa pun yang merasa lemah dan kuatir untuk menghadapi masa depan, bahwa Yesus Anak Allah akan menyertai mereka dalam setiap keadaan. Apa yang perlu kita persiapkan dalam menghadapi Natal adalah hati kita, agar kita tetap berpegang pada iman bahwa Imanuel itu benar-benar berarti Allah menyertai kita.

Kualitas orang Kristen menjelang Natal

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” Kolose 3: 12

Hari Natal adalah hari gembira untuk umat Kristen karena pada hari itu mereka merayakan kelahiran Yesus. Tetapi, di Australia banyak orang yang tidak beragama Kristen pun ikut merayakannya karena Natal dianggap sebagai “hari keluarga” untuk dinikmati bersama. Dengan demikian, banyak orang memakai hari Natal sebagai kesempatan untuk mengunjungi orang tua dan sanak saudara.

Hari Natal secara tradisi dirayakan dengan makan bersama dengan keluarga dekat dan tukar menukar kado. Karena itu, tidaklah mengherankan jika beberapa hari sebelum hari Natal, pusat pertokoan terlihat sibuk dengan banyaknya orang yang berbelanja. Suasana yang sedemikian umumnya membuat jalan dan tempat parkir menjadi macet karena banyaknya orang yang pergi shopping.

Bagaimana suasana di pusat pertokoan di Australia menjelang hari Natal saat ini? Sesudah tiga tahun berada dalam suasana tidak menentu akibat adanya pandemi COVID-19, sekarang banyak orang merasa bahwa kebebasan untuk bepergian dan berbelanja sudah kembali ada. Karena itu, shopping centre di kota-kota besar terlihat penuh sesak, apalagi sekarang murid sekolah dan universitas sudah libur. Agaknya suasana gembira dengan adanya hiasan dan lagu-lagu Natal tertutup dengan suasana tegang karena banyaknya orang yang menggunakan kesempatan berbelanja. Ini sering membuat orang menunjukkan sifat asli masing-masing: serakah, kasar, mudah naik darah dan mementingkan diri sendiri, terutama dalam mencari tempat parkir mobil.

Suasana hari Natal yang pertama adalah jauh berbeda dengan keadaan di zaman ini. Pada hari itu Anak Allah datang ke dunia dalam wujud seorang bayi yang tidak berdaya dan dilahirkan di kandang hewan di Betlehem. Anak Allah merendahkan dirinya sebagai manusia, tetapi yang tidak berdosa, dalam suasana hening, damai dan bahagia. Ialah Mesias yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama. Natal adalah wujud kasih Allah kepada manusia, yang tidak memusnahkan manusia yang sudah jatuh kedalam dosa, tetapi memberikan mereka kesempatan untuk bertobat dan mendapat pengampunan melalui Yesus Kristus.

Karena kasih Tuhan yang sangat besar itu, adalah wajar jika orang Kristen, sebagai orang-orang pilihan Allah mau mengenakan rasa belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran kepada sesamanya. Jika Natal bagi mereka yang tidak mengenal Allah adalah kesempatan untuk mencari kegembiraan untuk diri sendiri, kita dipanggil untuk membagikan kabar baik tentang kelahiran Yesus kepada semua orang melalui hidup kita setiap hari, dengan menunjukkan rasa kasih kita di setiap keadaan dan kesempatan kepada semua orang.

Selamat menyongsong hari Natal!

Tuhan mengerti perasaan kita

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Lukas 2: 29 – 32

Tak terasa hari Natal sudah dekat. Lima hari lagi! Tetapi, sekalipun bagi sebagian orang Kristen hari Natal adalah sesuatu yang disambut dengan rasa sukacita, bagi yang lain ini bukanlah sesuatu yang bisa disambut dengan rasa entusias. Untuk mereka tahun demi tahun berlalu, tetapi tidak ada yang berubah dalam kehidupan mereka. Malahan, masa depan kelihatannya makin suram.

Mungkin seperti itulah apa yang dirasakan oleh seorang bernama Simeon di Yerusalem. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi bangsa Israel. Tahun demi tahun lewat, tetapi Mesias yang dinantikannya tidak juga datang. Walaupun demikian, Simeon tetap percaya kepada janji dan kasih Allah.

Simeon adalah orang yang mengenal Tuhan, mau menurut firman-Nya dan beriman kepada-Nya. Simeon bukan hanya berharap untuk dirinya sendiri, tetapi untuk keselamatan orang Israel dan untuk bangsa-bangsa lain juga. Tuhan yang memperhatikan harapan Simeon yang taat kepada-Nya, memberikan janji-Nya bahwa Simeon akan melihat Sang Juru Selamat, Yesus Kristus, sebelum ia meninggal.

Empat puluh hari sesudah Natal, Simeon datang ke Bait Allah oleh petunjuk Roh Kudus. Ketika Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk upacara pentahiran, Simeon yang melihat Yesus merasa sangat gembira. Ia menyambut Anak itu serta menatang-Nya sambil memuji Allah. Masa penantiannya yang cukup lama sudah berakhir, dan Simeon melihat bahwa Allah sudah membuktikan kasih-Nya dengan lahirnya Mesias yang dikaruniakanNya untuk segala bangsa.

Mungkin bagi kita, selama ini hidup kita adalah seperti Simeon yang menantikan harapan untuk masa depan. Apa yang akan terjadi pada anak-cucu kita, kepada kerabat kita, atau bangsa kita di tahun-tahun yang akan datang? Kita merasa prihatin akan apa yang terjadi di sekeliling kita, dan berharap agar Tuhan menyatakan pertolongan-Nya. Tetapi, semua kekuatiran kita sebenarnya bisa kita tinggalkan jika kita hidup seperti Simeon: mengenal Tuhan, taat kepada firman-Nya dan mempunyai iman yang teguh.

Seperti Simeon yang akhirnya melihat dengan matanya bahwa Mesias sudah datang, kita pun bisa yakin bahwa dalam Yesus akan ada pertolongan dan harapan untuk masa depan orang-orang yang kita kasihi. Marilah kita menyambut hari Natal dengan kepercayaan yang makin besar bahwa Tuhan mengenal anak-anak-Nya dan mengerti apa yang dibutuhkan mereka.