Kelahiran Kristus menunjukkan kuasa Allah

Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Markus 4: 41

Kelahiran Tuhan Yesus di dunia adalah sesuatu yang sudah direncanakan Allah jauh bertahun-tahun sebelum hal itu terjadi. Kitab Perjanjian Lama penuh dengan berbagai ayat yang menyebutkan tentang kedatangan Juruselamat itu. Walaupun demikian, ketika Yesus dilahirkan, tidak ada orang yang menduga bahwa bayi yang lemah, yang lahir dalam palungan, adalah Anak Allah, Mesias, yang sudah dinantikan umat Israel.

Kelahiran Yesus Kristus bukanlah terjadi melalui jalan yang mulus. Banyak peristiwa yang terjadi antara saat kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa dan saat Yesus dilahirkan yang secara logika manusia bisa membuat rencana Allah menjadi berantakan. Itu karena iblis yang berusaha keras untuk menggagalkan renana penyelamatan umat manusia. Walaupun demikian, melalui berbagai kuasa dan bimbingan Tuhan, semuanya bisa berjalan sesuai dengan rencana-Nya.

Kelahiran Anak Allah bukanlah disertai dengan hal-hal yang megah seperti apa yang terjadi jika seorang bayi dilahirkan dalam keluarga Raja. Tidak ada pemberitaan langsung dari surga dan karena itu tidak banyak orang yang sadar bahwa apa yang dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya sudah digenapi Allah. Sampai sekarang pun, banyak orang Yahudi yang tidak percaya bahwa Mesias sudah datang.

Hanya melalui petunjuk Allah, sejumlah manusia langsung tahu bahwa Mesias sudah datang. Yusuf dan Maria, para gembala, orang Majus, dan Simeon adalah sebagian orang yang tahu akan hal itu. Namun orang lain, termasuk murid-murid Yesus, membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum mengenali bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka tahu bahwa Yesus adalah orang yang baik dan suka menolong orang lain, mempunyai kharisma dan pengetahuan yang luar biasa, tetapi mereka tidak tahu atau yakin bahwa Ia adalah Anak Allah.

Kita yang merayakan hari Natal setiap tahun, sudah tentu tidak pernah bertemu dengan Yesus secara jasmani. Yesus sekarang di surga, sedang kita masih di dunia. Semua orang yang merayakan hari Natal dengan alasan apapun, hanya mendengar tentang kelahiran Yesus dari orang lain atau membaca kisahnya dari buku atau sumber-sumber lain. Sebagian kecil manusia mungkin pernah memperoleh pengelihatan atau penglihatan tentang Yesus, tetapi semua itu tidaklah sempurna. Walaupun demikian, kita saling mengucapkan “Selamat Hari Natal” karena kita percaya bahwa kelahiran Yesus seharusnya membawa kebahagiaan bagi mereka yang percaya.

Adalah mudah bagi semua orang untuk menyadari bahwa Yesus adalah tokoh yang besar pada zaman-Nya, guru yang baik, orang yang mempunyai rasa sosial yang besar dan memiliki etika yang tinggi. Bukan hanya orang Kristen saja yang mengakui hal-hal itu, orang yang beragama lain pun percaya bahwa Yesus adalah orang baik. Tetapi, tidak semua orang tahu atau mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, bahwa Ia dan Bapa adalah satu.

“Aku dan Bapa adalah satu.” Yohanes 10:30 6

Dengan demikian, adalah sesuatu yang menyedihkan kalau mereka yang sudah mendengar bahwa Yesus yang lahir sebagai manusia biasa, tidak dapat mengerti bahwa Ia bukan manusia biasa, tetapi Tuhan yang mahakuasa.

Kitab Markus 4 menceritakan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Saat itu Yesus sedang tidur di buritan ketika angin ribut datang. Murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Yesus kemudian bangun, menghardik angin itu. Lalu angin itu reda dan danau menjadi teduh sekali. Para murid tidak menyangka bahwa Yesus mempunyai kuasa sebesar itu. Mereka menjadi sangat takut akan kuasa Tuhan yang dinyatakan di hadapan mereka.

Hari ini kita diingatkan bahwa bagaimanapun besarnya persoalan hidup yang kita hadapi, kita harus yakin bahwa Yesus yang pernah lahir sebagai manusia bukanlah manusia biasa. Karena itu kita tidak perlu mengeluh mengapa Ia membiarkan kita bergumul dengan penderitaan dan persoalan kita pada ini. Yesus adalah Tuhan yang tahu keadaan kita, dan dengan kasih-Nya pasti mengulurkan tangan-Nya pada saat yang tepat.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”Markus 4: 40

Ingat kelemahan, ingat Tuhan

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ”Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5-6

Dalam kehidupan sehari-hari sering manusia merasa lelah dan lemah. Berbagai masalah di kantor, sekolah, maupun rumah tangga, seringkali membuat kita lelah. Mereka yang bekerja di ladang Tuhan juga kerap kali merasa penat baik secara jasmani maupun rohani. Rasa lelah terasa lebih parah jika kita merasa sudah berusaha sebaik mungkin tetapi tidak mendapat hasil yang kita harapkan. Dalam keadaaan ini, orang Kristen mungkin teringat untuk berdoa guna meminta pertolongan Tuhan.

Jika kita jujur, mungkin kita ingat bahwa jumlah doa kita ketika berada dalam keadaan nyaman adalah lebih kecil, jika dibandingkan jumlah doa kita ketika mengadapi persoalan. Ini adalah hal yang umum di kalangan umat percaya. Mengapa begitu? Perumpamaan anak yang hilang menjelaskanbahwa manusia dalam keadaan nyaman sering lupa bahwa hidupnya yang harus disyukuri bergantung pada Tuhan; tetapi jika ia mengalami derita, ia mungkin baru sadar bahwa hanya Tuhan yang bisa menolong.

Soal merasa lelah dan lemah, jika tidak diatasi, bisa menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Rasul Paulus pernah mengungkapkan penderitaannya dalam hidup sebagai rasul Tuhan. Paulus menulis bahwa ia sudah banyak berjerih lelah dan bekerja berat; dan kerap kali ia tidak tidur; ia sering lapar dan haus; kerap kali dia harus berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian (2 Korintus 11: 27). Sudah sewajarnya ia merasa kuatir dengan adanya jemaat Korintus, yang sudah lama dibimbingnya, yang disesatkan oleh rasul-rasul palsu yang mungkin dianggap hebat dengan segala yang dibanggakan mereka.

Jika Paulus adalah orang yang tidak kuat imannya, ia mungkin akan mengalami kekecewaan yang besar karena adanya orang-orang yang tidak menghargai segala pengurbanannya untuk jemaat di Korintus. Apalagi ia mempunyai masalah kesehatan kronis yang tidak kunjung sembuh sekalipun ia sudah memohon kesembuhan tiga kali. Bukannya menyembuhkan Paulus, Tuhan justru berkata bahwa kasihNya kepada Paulus sudah cukup. Heran, dengan jawaban Tuhan itu, Paulus justru bisa makin merasakan bahwa hidupnya tergantung kepada Tuhan. Memang, Tuhan sering menghajar orang yang dikasihi-Nya, tetapi semua itu terjadi agar orang itu menjadi kuat karena sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Hari ini, jika kita merasa masih sangat lelah baik dalam hal lahir maupun batin, itu mungkin disebabkan oleh hal-hal dan suasana yang kita hadapi saat ini. Apalagi jika penghargaan, pertolongan, simpati dan empati orang lain tidak pernah kita terima. Keadaan yang demikian memang bisa membuat kita merasa sangat lemah dalam menghadapi hidup ini.

Tetapi, jika kita mengingat Paulus dengan kelelahan serta penderitaannya, dan juga dengan adanya jemaat di Korintus yang tidak menghargai segala pengurbanannya, biarlah kita juga bisa bersikap seperti dia, yang merasa bahwa kesulitan hidup justru membuat dia makin dekat kepada Kristus yang memberinya kesabaran, dan kekuatan. Adanya kesulitan hidup bisa membuat kita sepenuhnya bergantung pada Tuhan yang mahakuasa. Adanya kelelahan bisa membawa berkat karena dapat membuka kesempatan bagi kita untuk membina hubungan yang lebih baik dengan Kristus.

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. 2 Korintus 12: 9b

Kesuksesan yang benar adalah dalam hal memuliakan Tuhan

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Ada seorang teman saya yang pernah bertanya apakah masih ada yang ingin saya capai dalam hidup ini. Ketika saya menjawab tidak ada, muncullah pertanyaan kedua yakni apakah saya merasa sukses. Ketika saya menjawab saya tidak merasa bahwa saya sudah mencapai kesuksesan, kemudian muncul pertanyaan apakah saya puas dengan apa yang ada. Saya jawab bahwa saya bersyukur atas apa yang ada, sekalipun masih ada yang ingin saya kerjakan. Lalu, ia lalu bertanya apa yang masih ingin saya lakukan. Ketika saya menjawab bahwa saya ingin untuk lebih bisa memuliakan Tuhan, ia kemudian berhenti bertanya. Agaknya jawaban saya tidak bisa dimengertinya.

Sebenarnya, dalam usia senja banyak orang yang menerima kenyataan bahwa apa yang sudah tercapai mungkin adalah hasil maksimal dari usaha mereka. Sesudah usia tertentu, sebagian orang mungkin harus pensiun, ingin pensiun, atau ingin mengurangi tekanan pekerjaan untuk dapat menikmati apa yang masih bisa dilakukan selain bekerja untuk mencari nafkah. Walaupun demikian, ada orang yang tetap ingin bekerja keras untk mencapai hasil yang lebih baik, atau mencapai apa yang belum pernah didapat sampai saat ini. Mereka tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada, atau masih merindukan kesuksesan. Mungkin mereka kurang sadar bahwa selagi masih ada kesempatan, mereka harus bisa merasa cukup agar bisa lebih memuliakan nama Tuhan.

Pada umumnya orang selalu mempunyai keinginan untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu di masa depan. Memang hal ini lebih umum di kalangan orang yang belum mencapai usia uzur, tetapi di antara mereka yang sudah pensiun tidaklah jarang ditemui orang yang masih mempunyai rencana masa depan sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Masa depan adalah relatif, buat mereka yang masih anak-anak menjadi orang dewasa barangkali tidak atau belum pernah terpikirkan, tetapi mereka yang sudah termasuk dewasa tetapi masih tergolong muda mungkin mempunyai berbagai cita-cita dan rencana hidup yang diharapkan untuk tercapai sebelum datangnya usia tua. “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, begitulah nasihat yang sering diberikan kepada orang muda; tetapi bagi sebagian orang yang sudah pensiun mungkin pandangan hidup sudah berubah untuk menerima apa yang ada.

Berlainan dengan pandangan atau kebiasaan umum, buat orang Kristen tujuan hidup bukanlah hanya untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit dan berusaha mencapainya, dan juga bukan untuk hidup pasif dan tidak berbuat apa-apa – tetapi untuk memuliakan Tuhan, karena itulah tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia. Manusia dari segala bangsa, jenis, status sosial dan umur seharusnya mengabdikan diri mereka selama hidup di dunia untuk kemuliaan Tuhan.

“Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43: 7

Jika tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, itu bukan berarti kita tidak boleh berusaha mencapai apa yang bisa dicapai dalam hidup kita, karena Alkitab mengatakan bahwa apapun yang kita perbuat dalam hidup ini, kita harus melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Ini berarti bahwa apa yang kita pikirkan dan rencanakan haruslah mempunyai tujuan agar nama Tuhan dibesarkan. Dengan tidak bersemangat untuk mencapai hasil baik atau dengan kepuasan untuk tidak berbuat apa-apa, manusia tidak dapat memuliakan Tuhan.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia, tua atau muda, memiliki cita-cita dan membuat rencana untuk dirinya sendiri. Bukan saja mereka yang muda ingin untuk memperoleh segala kenikmatan duniawi yang ada, mereka yang sudah tua pun jarang memikirkan apa yang harus diperbuat untuk kemuliaan Tuhan dalam sisa hidup mereka. Manusia tidak tahu apa yang terjadi esok hari, tetapi seolah merasa bahwa mereka harus dan akan hidup  untuk mencapai apa yang mereka senangi.

Hari ini, kita harus menyadari bahwa hidup mati kita bukannya ada di tangan kita, dan karena itu dalam merencanakan segala sesuatu seharusnya kita melakukannya dengan rasa rendah hati dan penyerahan kepada Tuhan. Manusia memang bisa merencanakan segala sesuatu, tetapi jika itu bukan untuk kemuliaan Tuhan, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya sesudah hidup kita berakhir di dunia ini.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13-14

Semoga kita bisa mengarahkan hidup kita ke arah yang benar dan mau menyerahkan semua rencana hidup kita ke tangan Tuhan demi kemuliaan-Nya!

Mengapa ada kekejian?

“Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis. Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.” Titus 1: 15 – 16

Kemarin media memberitakan adanya baku tembak antara beberapa orang dengan polisi. Ketika itu, empat polisi mendatangi sebuah rumah di sebuah desa di Queensland untuk menyelidiki seseorang yang dinyatakan hilang. Tidak terduga, mereka ditembaki sehingga dua polisi yang masih muda tewas di tempat. Kekacauan yang terjadi selama enam jam itu berakhir ketika tim khusus polisi datang dan menembak mati tiga orang yang bersembunyi di rumah itu. Bagaimana asal mula terjadinya peristiwa yang menyedihkan itu belumlah diketahui. Walaupun demikian, sudah diketahui bahwa di antara tiga orang yang ditembak polisi ada dua pria, putra dari seorang pendeta dan penulis buku Kristen yang terkenal. Orang ketiga adalah istri dari salah satu pria itu. Lebih lanjut, dapat dipastikan bahwa salah satu pria adalah bekas kepala sekolah yang dikenal sebagai orang yang ramah.

Bagi orang tua mana pun, meninggalnya anak tentunya suatu hal yang membawa kesedihan. Saya yakin bahwa kenyataan bahwa kedua anak pendeta itu tewas dalam baku tembak dengan polisi, tentunya tidak mengurangi kesedihan orang tua mereka. Namun, yang lebih saya pikirkan adalah mengapa anak dan menantu seorang hamba Tuhan bisa melakukan apa yang berlawanan dengan hukum dan melakukan kekejian terhadap hamba hukum. Apakah semua itu sudah ditetapkan oleh Tuhan? Sebagian orang Kristen mungkin berpendapat begitu. Namun bagi saya, yang pasti adalah adanya pengaruh lain yang menyebabkan hal itu terjadi. Tuhan mengizinkan hal itu terjadi, tetapi bukan Tuhan yang membuat mereka melakukan apa yang bertentangan dengan hukum Tuhan. Jika seseorang berubah sifat dan cara hidupnya secara drastis, itu mungkin karena adanya “polusi” pikiran.

Sejak kapan kita mengenal kata polusi? Kata ini sebenarnya sudah ada sejak abad ke 14 dalam bahasa Latin polluere yang berarti “mengotori” diri sendiri secara jasmani. Dengan adanya perkembangan industri dan tumbuhnya kesadaran tentang kebersihan lingkungan, kata ini mulai sering dipakai sejak tahun 1980an. Sekarang, kata polusi atau pollution mungkin muncul setiap hari di media manapun karena memang pencemaran lingkungan ada dimana-mana.

Di zaman ini efek polusi bisa terjadi pada semua makhluk hidup maupun benda apapun di dunia. Semua polusi membawa akibat yang buruk atau degradasi dalam jangka waktu yang berbeda-beda, tergantung dari apa penyebabnya, siapa/apa korbannya dan bagian apa yang terkena. Untuk manusia, pada umumnya pencemaran lingkungan yang banyak dibicarakan orang adalah hal-hal yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat di sekitarnya.

Jika polusi yang kita kenal biasanya hanya menyangkut soal jasmani, ayat di atas menyebutkan polusi lain yang mungkin tidak sering dibicarakan. Polusi yang juga disebabkan oleh cara hidup manusia ini adalah hal-hal yang mempengaruhi pikiran dan hati orang lain, polusi yang menimbulkan masalah rohani.

Siapakah orang yang mengalami polusi rohani ini? Ayat diatas menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengaku mengenal Allah, tetapi dalam perbuatan dan cara hidup, mereka menyangkali Yesus, yaitu tidak mau menurut firman-Nya. Mereka mungkin adalah orang-orang yang kelihatannya baik hidupnya, tetapi dalam kenyataannya adalah orang-orang yang sudah terpolusi (polluted) pikirannya dan rusak (corrupted) rohaninya. Mereka adalah orang-orang yang masih mempertahankan hidup lamanya dan tidak mau tunduk kepada Tuhan.

Mereka yang sudah rusak dan kotor hati dan pikirannya hanya bisa menghasilkan apa yang najis, yang keji dan yang durhaka dalam pandangan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang secara terang-terangan atau pun terselubung hidup bergelimang dalam dosa, dan dengan demikian juga bisa menyebabkan pencemaran rohani orang lain melalui segala tindak tanduk, tujuan hidup, pikiran dan perkataan mereka yang sesat.

Dalam kenyataannya, di dunia ini ada banyak orang yang mangalami polusi rohani. Mereka bisa saja orang-orang yang menjadi pemimpin di negara, masyarakat, sekolah atau kantor. Mereka mungkin kekasih, guru, teman baik atau juga sanak kita. Mereka adalah orang-orang yang belum mengenal Tuhan dengan benar dan karena itu, cara hidup mereka yang memuliakan seks, harta, kedudukan, diri sendiri, dan hal-hal duniawi lainnya.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa dalam hidup ini kita harus berhati-hati dalam hubungan kita dengan mereka yang dalam cara hidup, pikiran maupun suara hati sudah atau masih tercemar oleh unsur-unsur duniawi. Bagaimana kita bisa hidup di dunia dan mengenali bahaya, serta menghindari dampak pencemaran seperti itu adalah bergantung pada kesadaran kita. Dengan bimbingan Roh Kudus biarlah kita mau dengan giat mempelajari dan melaksanakan firman-Nya dengan benar.

Arti warna merah di hari Natal

“Marilah, baiklah kita berperkara! firman TUHAN Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Dua minggu lagi kita akan merayakan hari Natal. Bagi banyak orang, hari Natal adalah hari yang dirayakan dengan kegembiraan, sekalipun mereka bukan orang Kristen. Hari Natal di banyak negara adalah hari besar di mana banyak keluarga merayakan kebersamaan dengan saling menukar hadiah dan makan malam bersama. Walaupun demikian, hanya mereka yang beragama Kristen merayakan hari Natal sebagai hari peringatan kelahiran Yesus, Anak Allah.

Jika pada saat ini banyak tempat yang sudah dihiasi dengan berbagai lampu dan hiasan Natal, satu warna yang selalu dapat dijumpai adalah warna merah. Mungkin banyak orang mengartikan bahwa karena hari Natal adalah hari yang berbahagia, warna merah adalah warna yang cocok untuk lampu dan hiasan Natal. Jarang orang sadar bahwa warna merah adalah warna darah, dan pada hari Natal dua ribu tahun yang lalu seorang bayi dilahirkan di palungan di kota Betlehem, yang kemudian, setelah dewasa, harus mengucurkan darah-Nya dan mati sebagai tebusan orang yang berdosa.

Warna merah juga warna yang melambangkan dosa manusia. Mengapa warna ini, dan bukan hitam misalnya? Istilah-istilah ini dipakai karena merah adalah warna yang terang, bisa menimbulkan noda yang mencolok mata. Salah satu kamus Alkitab menyatakan: “Satu-satunya warna dasar yang tampaknya memiliki konsepsi yang jelas dalam pikiran orang Ibrani ialah merah.” Berbeda dengan ketidakmampuan manusia untuk mencuci noda kehidupannya, ayat di atas menyatakan bahwa Allah bisa membasuh jiwa kita untuk kembali menjadi putih, seperti bulu domba yang tidak bernoda, bahkan seperti salju. Itu karena adanya warna merah yang lain, yaitu darah Kristus.

Sebagai umat Kristen, memang kita percaya bahwa karena darah Yesus kita mendapat pengampunan sepenuhnya. Tetapi pikiran kita seringkali sulit untuk dibersihkan atau dicuci bersih dari bekas-bekas dosa kita. Ada kalanya perasaan bersalah itu begitu besar, sehingga kita merasakan betapa besar dan nyata noda-noda yang ada dalam hidup kita. Apalagi jika iblis mulai menyerang kita dengan tuduhan-tuduhannya yang keji (Wahyu 12: 10).

Ayat di atas menjelaskan bahwa tidak ada yang bisa membersihkan hidup kita dari dosa. Agama-agama lain mengajarkan bahwa manusia dapat menyucikan dirinya dengan perbuatan amal dan berbagai ritual. Tetapi kita tahu bahwa standar kesucian Tuhan adalah sangat tinggi dan tidak mungkin dicapai manusia atas usaha dan jerih payahnya sendiri. Hanya darah Kristus yang bisa membersihkan kita dari noda-noda dosa kita. Apa yang kita perlukan hanyalah iman, percaya bahwa penebusan Kristus hanya sekali tetapi sudah cukup untuk memberikan kita hidup yang baru. Dengan itu kita bisa memusatkan pikiran kita kepada hal-hal yang positip dan menolak tuduhan-tuduhan iblis.

Pada saat menjelang Natal ini marilah kita mengingat bahwa bukan kelahiran Kristus yang menjadi inti iman kita, tetapi kematian-Nya yang menghapus dosa kita, dan kebangkitan-Nya yang memberi kita kesempatan untuk bangkit dengan tubuh baru untuk bersatu dengan-Nya di surga. karena itu, jika kita melihat warna merah di antara hiasan Natal pada saat ini, marilah kita bersyukur bahwa karena kasih Allah yang sangat besar, Ia sudah mengurbankan Anak-Nya agar kita beroleh hidup yang kekal.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Kebebasan seorang anak ada dalam batasan

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: ”Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 16-17

Apakah Anda memiliki kebebasan dalam hidup di dunia? Sebagian orang percaya mereka memiliki kebebasan, sebagian lagi yakin bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar bebas. Bagaimana dengan pendapat orang Kristen? Orang Kristen percaya bahwa manusia diciptakan dengan kebebasan yang ada dalam batasan, dan di luar batasan itu hanya ada pemberontakan.

Tuhan menciptakan alam semesta dalam enam hari, tetapi, pada awalnya, alam semesta tidak memiliki dosa—segala sesuatu yang Dia buat adalah “sangat baik” (Kejadian 1:31). Dosa masuk ke alam semesta karena tindakan pemberontakan terhadap Tuhan, bukan karena Tuhan menciptakan dosa. Karena manusia sudah melanggar batasan Tuhan, manusia menjadi hamba dosa – apa pun yang dilakukannya terasa sebagai kebebasan, tetapi justru mengikatnya pada kematian.

Kita perlu mendefinisikan “dosa.” Ayat 1 Yohanes 3:4 mengatakan, “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” Oleh karena itu, dosa adalah pelanggaran apa pun terhadap hukum Allah yang kudus. Roma 3:23 mengatakan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Dosa dengan demikian adalah segala sesuatu (perkataan, pikiran, tindakan, dan motivasi) yang tidak mencapai kemuliaan dan kesempurnaan Allah. Di dunia, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang ingin menggunakan kebebasannya untuk berbuat dosa pada setiap saat dan kesempatan yang ada.

Tuhan menciptakan manusia dan malaikat dengan kehendak bebas, dan, jika makhluk memiliki kehendak bebas, setidaknya ada potensi yang akan dia pilih dengan buruk. Potensi dosa adalah risiko yang diambil Allah. Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya, dan karena Dia bebas, manusia juga diciptakan bebas (Kejadian 1:27). Kehendak bebas melibatkan kemampuan untuk memilih, dan, setelah Allah mengomunikasikan standar moral, Dia memberi manusia itu kebebasan untuk memilih apa yang benar (Kejadian 2:16-17).

Adam memilih ketidaktaatan. Tuhan tidak mencobai, memaksa, atau memikat Adam ke dalam ketidaktaatan. Yakobus 1:13 mengatakan, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Allah mengizinkan Adam untuk memilih dengan bebas dalam batasan, dan menghormati pilihan itu dengan konsekuensi yang pantas (Roma 5:12).

Hal yang sama telah berlaku untuk setiap manusia sejak itu. Tua atau muda, sama saja. Kesempatan untuk berbuat dosa melekat dalam kebebasan kita untuk memilih. Kita dapat mendengarkan suara Roh Kudus dan memilih untuk taat kepada Tuhan, yang menuntun pada kehidupan yang benar (Yeremia 29:13; 2 Timotius 2:19). Atau kita dapat memilih untuk mengikuti kecenderungan kita sendiri, yang menjauhkan kita dari Tuhan (Amsal 16:5). Alkitab jelas bahwa, apapun jalan yang kita pilih, konsekuensi mengikuti. Kita menuai apa yang kita tabur (Galatia 6:7).

Bagaimana dengan cara kita mendidik anak kita tentang kebebasan dan konsekuensinya? Tanyakan siapa saja yang pernah bekerja di toko mainan anak-anak. Selalu ada orang tua yang membiarkan anak-anak mereka berkeliaran, mencoba sesuatu, lalu meninggalkan semuanya berantakan tanpa menyuruh mereka untuk mengembalikannya. Kadang-kadang, orang tua yang sama ini akan memandang pemilik atau pelayan toko yang malang itu (yang sekarang harus merapikan jualannya) dengan mata atau bahkan kata-kata yang mengatakan, “Yah, anak-anak selalu begitu. Mereka mempunyai jiwa yang bebas!”

Jangan salah paham, saya sendiri memiliki semangat bebas dan ingin agar anak-anak saya juga demikian. Semangat bebas sejati adalah orang yang tidak membiarkan siapa dan apa pun menghentikannya dari melakukan apa yang dia tahu benar. Sayangnya, istilah free spirit sekarang sering diartikan sebagai seseorang yang tidak mau mengikuti aturan. Aturan siapapun. Bahkan Tuhan. Dalam bahasa Tuhan, semangat bebas semacam itu adalah pemberontakan. Pemberontakan terhadap Tuhan adalah dosa. Tuhan itu penuh kasih karunia, tetapi Dia juga mengharapkan ketaatan yang sempurna. Tidak menaati Tuhan adalah pemberontakan. Pemberontakan atas perintah Tuhan tidak pernah berakhir dengan baik.

Jika Anda memiliki anak yang Anda anggap berjiwa bebas, periksalah perilaku apa, dan yang lebih penting sikap hati yang bagaimana, yang Anda inginkan untuk dimiliki anak tersebut setelah mereka dewasa. Mungkin dia ingin mengenakan warna pakaian yang tidak cocok dengan selera Anda saat dia pergi berbelanja dengan Anda. Dalm hal ini, biarkan anak Anda bebas untuk mengenakan warna yang disenanginya. Namun, jika Anda menyuruhnya mengenakan pakaian tertentu dan dia muncul mengenakan pakaian lain, itu adalah pemberontakan dan harus diperbaiki.

Berhati-hatilah, bahwa aturan yang Anda buat adalah aturan yang perlu ada. Jangan membuat situasi di mana Anda menentukan sesuatu yang harus dipilih melalui izin Anda, tetapi pada akhirnya membiarkannya dipilih secara bebas oleh anak Anda. Izinkan dia untuk mengekspresikan kepribadiannya dalam bidang-bidang yang tidak melanggar perintah atau prinsip Tuhan dan yang sesuai dengan usianya.

Mengatasi pemberontakan anak Anda dan bukannya membiarkannya berlanjut dengan alasan untuk “berjiwa bebas” pada akhirnya akan membuat pekerjaan pengasuhan Anda jauh lebih mudah. Dan ketika anak Anda harus membuat keputusan antara mematuhi Tuhan atau memberontak terhadap perintah Tuhan, kemungkinan besar dia akan membuat pilihan yang baik. Jika Anda percaya bahwa prinsip “jiwa bebas” berarti membiarkan anak-anak Anda memilih apa saja yang mereka sukai, itu berarti Anda sendiri yang ingin mempunyai kebebasan dari perintah Tuhan.

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Amsal 22:6

Jika Tuhan melindungi, mengapa harus berhati-hati?

Yesus berkata kepadanya: ”Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Matius 4:7

Pada suatu ketika, sebelum tidur, Charlotte yang berumur 4 tahun mendengarkan orangtuanya membacakan cerita anak-anak dari Alkitab dan berdoa malam untuknya. Biasanya, setelah itu orangtuanya meninggalkan kamar tidur Charlotte agar ia bisa tidur. Tetapi, pada kali ini Charlotte mengajukan satu pertanyaan yang cukup sulit dijawab; dan karena itu satu jam lagi lewat sebelum ia siap untuk tidur. Pertanyaan apa pula itu?

Charlotte pada siang harinya pergi berjalan-jalan dengan orang tuanya. Sering kali, sebelum mereka bersama-sama menyeberang sebuah jalan, orangtuanya memperingatkan dia untuk berhati-hati. Ini tentunya untuk melatih Charlotte agar selalu melihat ke kanan dan kiri sebelum menyeberang, unuk memastikan tidak ada kendaraan yang lewat. Pada malam harinya ia bertanya kepada orangtuanya: “Mengapa kita harus berhati-hati menyeberang jalan jika Tuhan Yesus melindungi kita?

Pertanyaan dari seorang anak kecil yang sulit dijawab ini, adalah juga pertanyaan orang dewasa yang sulit dijawab. Pertanyaan yang sering membuat orang dewasa menolak untuk percaya adanya Tuhan, dan tidak mau menjadi orang Kristen:

  1. Apa perlunya kita mempunyai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih jika kita tetap harus menjaga keselamatan diri sendiri?
  2. Apaakah Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih jika ada orang Kristen yang sudah berhati-hati tetapi tetap mengalami bencana?
  3. Apakah Tuhan yang menetapkan datangnya bencana pada umat-Nya, seperti Ia melakukannya kepada orang yang tidak beriman?

Pertanyaan yang pertama dan kedua adalah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh mereka yang tidak mau menjadi orang Kristen karena adanya kepahitan atas masa lalu atau atas apa yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka tidak menyadari bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang menyebabkan adanya masalah dalam hidup mereka. Mereka tidak mengerti bahwa semua manusia sudah jatuh dalam dosa dan karena itu harus hidup di luar kedamaian yang pada mulanya diciptakan Tuhan untuk ciptaan-Nya. Karena itu, adalah lumrah jika ada orang Kristen yang sudah berhati-hati tetapi tetap bisa mengalami masalah.

Mereka yang mengharapkan Tuhan akan melindungi mereka sekalipun mereka dengan sengaja membuat hidup mereka kacau balau, adalah orang-orang yang mencobai dan menantang Tuhan. Mereka berusaha membuktikan ada atau tidak adanya Tuhan, dan sering kali bersaksi bahwa Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih ketika mereka terhindar dari konsekuensi kebodohan mereka. Sebaliknya, jika mereka melihat orang Kristen yang lain menderita, mereka dengan mudah menuduh bahwa orang-orang itu kurang beriman, atau telah berbuat dosa sehingga menerima hukuman yang setimpal.

Kita tidak boleh mencobai Tuhan dengan menjalani hidup yang “ugal-ugalan” dan berharap bahwa Tuhan akan menghentikan kebodohan kita atau menghindarkan kita dari akibat kesalahan kita. Setiap manusia harus bertanggungjawab sepenuhnya atas hidup mereka dan menerima akibat apa yang dilakukan mereka. Selain itu, setiap umat Kristen sudah dikaruniai Roh Penolong, Roh Kudus yang membimbing hidup mereka dalam mengambil keputusan. Tidak ada orang Kristen sejati yang bisa menolak kenyataan bahwa Roh Kudus ada dalam hidup mereka. Jika kehadiran-Nya tidak terasa, itu adalah karena Ia sudah diabaikan dan didukakan sejak lama.

Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan hanya mau menolong mereka yang mau menolong diri mereka sendiri. Pendapat ini terdengar seperti sebuah kebenaran, yang mempersalahkan manusia yang mengalami masalah karena terlihat kurang mau berusaha. Sebetulnya, pendapat ini tidak benar. Jika kita berpendapat demikian, kita juga bisa dikatakan mencobai Tuhan karena jika kita merasa sudah bertindak semaksimum kita, kita berhak menuntut pertolongan Tuhan. Jika kita sudah merasa berbuat benar, kita merasa berhak menerima perlindungan-Nya. Ini bukanlah pendapat yang benar.

Dalam kenyataannya, setiap umat Kristen berhak menyebut Allah sebagai Bapa karena pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib, dan dibenarkan jika kita berharap akan pertolongan-Nya. Tetapi apa yang harus kita yakini adalah bahwa manusia boleh berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan. Manusia bisa berusaha tetapi itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kuasa Tuhan. Kita tidak boleh merasa yakin dapat melakukan segala sesuatu, dan Tuhan tidak perlu meyertai kita sampai saat kita meminta pertolongan-Nya. Tuhan tidak senang jika kita mengabaikan Dia.

Bagaimana pula dengan pandangan bahwa Tuhan yang menetapkan datangnya bencana pada umat-Nya, seperti Ia melakukannya kepada orang yang tidak beriman? Adalah keliru jika ada orang Kristen yang percaya kepada “nasib”, karena percaya bahwa Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu, hal baik maupun hal buruk, dari mulanya. Tuhan tidak mempunyai rencana yang jahat kepada umat-Nya. Ia ingin bahwa selagi langit dan bumi masih ada, makin banyak orang yang mengenal Dia dan bertobat dari dosa mereka. Karena itu, pada hakikatnya Tuhan tidak ingin membawa malapetaka kepada siapa pun, kecuali jika ada hal-hal jahat yang bisa mengganggu rencana-Nya.

Pada akhirnya, kita harus ingat bahwa kita hidup di dunia di mana iblis masih mempunyai kesempatan untuk menghancurkan hidup manusia. Iblis ingin menghancurkan ciptaan Allah, kasih Allah, karunia Allah dan Allah sendiri. Karena itu, seperti diungkapkan dalam ayat di atas, Yesus pun harus berhati-hati dalam menghadapi berbagai godaan iblis selama Ia hidup di dunia. Seperti itulah, kita juga harus tetap berhati-hati dalam melangkahkan kaki kita selama kita hidup di dunia yang penuh dosa ini. Tuhan 100% berkuasa, tetapi manusia 100% bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya.

Bagaimana bekerja untuk kemuliaan Tuhan

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Beberapa tahun yang lalu, seorang dokter yang biasa saya kunjungi jika saya merasa kurang sehat, menasihati saya untuk mengurangi kesibukan olahraga. Dia berkata: “Manusia diciptakan untuk hidup santai, bukan untuk bekerja keras”. Saya pada waktu itu heran mengapa dia berpendapat begitu, padahal selain kesibukannya sebagai dokter, dia juga seorang pendeta. Mungkin dia bisa membagi waktu dengan baik, dan bisa bekerja dengan santai.

Saya pada waktu itu merasa bahwa setiap orang di dunia harus bekerja keras, sesuai dengan kehendak Allah. Tetapi, sebenarnya kita tidak perlu bekerja keras jika Adam dan Hawa tidak jatuh dalam dosa. Kita tahu bahwa Allah telah menetapkan pekerjaan kita sebagai penatalayanan atas dunia ciptaan-Nya (Kejadian 1:28; 2:15). Dia telah merancang pekerjaan untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan kita. Dan saya sekarang percaya bahwa pekerjaan Adam dan pada waktu itu bisa dilakukan dengan santai. Sayang, karena kejatuhan dalam dosa, manusia kemudian harus bekerja keras untuk bisa hidup di dunia.

Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Kejadian 3: 17-19

Sekarang, setiap orang harus bekerja keras untuk hidup. dan karena itu sering kali kita tidak mempunyai waktu untuk bersantai. Bekerja keras di zaman ini bukan hanya untuk bisa hidup, tetapi banyak orang yang bekerja untuk menjadi kaya atau sukses. Pekerjaan manusia yang pada mulanya dirancang Tuhan untuk hal yang baik, sekarang belum tentu membawa kemuliaan bagi Tuhan dan kebaikan bagi kita. Sebagai orang Kristen kita sering bingung bagaimana kita harus bekerja untuk memenuhi kehendak-Nya. Untuk itu kita harus sadar akan beberapa hal:

  1. Percaya bahwa semua pekerjaan itu suci atau tidak suci di hadapan Tuhan berdasarkan iman kita, bukan dari apa yang dianggap benar melalui jenis pekerjaan itu sendiri. Sebagai contoh, seorang bisa menjadi dokter yang baik di mata manusia, tetapi belum tentu dokter yang baik di mata Tuhan.
  2. Bersikap adil dan jujur dalam semua urusan kita dengan uang. Banyak orang Kristen yang rajin ke gereja, tetapi di luar gereja mereka tidak ada bedanya dengan orang lain. Mereka mengejar untung dan kejayaan diri sendiri melalui ekploitasi orang lain, baik rekan sekerja maupun para pekerja mereka.
  3. Bergantung dengan penuh doa kepada Tuhan, bukan keyakinan atas kemampuan diri sendiri. Banyak orang Kristen yang lupa berdoa karena kesibukan mereka. Lambat laun mereka mereka merasa bahwa berdoa adalah tidak penting karena mereka berhasil sekalipun kurang berdoa. Mereka kemudian yakin bahwa kerja keras adalah kunci kesuksesan.
  4. Gunakan upah yang diperoleh dari pekerjaan kita untuk menolong dan memberkati orang lain. Apa yang terjadi di dunia saat ini adalah kenyataan bahwa yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin. Jurang antara yang kaya dan yang miskin makin besar. Ini bukan kehendak Tuhan.
  5. Bertumbuh dalam keahlian kita, bekerja keras, dan berjuang untuk kemuliaan Tuhan. Banyak orang Kristen yang merasa puas dengan apa yang bisa dilakukan saat ini, tanpa keinginan untuk mengembangkan karunia atau talenta yang Tuhan berikan. Orang lain kemudian memandang orang Kristen sebagai pekerja yang malas atau tidak mempunyai inisiatif.
  6. Teladankan kasih kepada sesama dalam cara kita berinteraksi dengan rekan kerja. Menjadi pekerja Kristen yang bersemangat bukan berarti kita boleh saling sikut untuk bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi. Tugas orang Kristen adalah membawa orang lain untuk mengenal kasih Tuhan melalui cara hidup kita.
  7. Rencanakan ke depan dengan percaya “jika Tuhan menghendaki”. Manusia boleh merencanakan, tetapi kehendak Tuhanlah yang terjadi. Karena itu, dalam merencanakan masa depan, kita harus mencari kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan kepada kita melalui firman-Nya.
  8. Sampaikan Injil kepada kolega kita. Sambil menyelam, minum air. Sambil bekerja, mengabarkan Injil. Ini tidak harus selalu melalui jalan formal, tetapi dari apa yang kita lakukan, ucapkan dan rencanakan orang harus bisa melihat kalau kita adalah orang Kristen yang taat kepada Tuhan.
  9. Bekerjalah seperti untuk Tuhan dan untuk manusia. Jika kita bekerja untuk manusia, kita akan sering merasa kecewa, sakit hati atau marah karena perlakuan orang lain. Tetapi, jika kita percaya bahwa Tuhanlah majikan kita, tanggapan kita akan suasana pekerjaan akan berubah menjadi lebih damai dan santai.
  10. Fokus pada pekerjaan yang telah diberikan. Sebagai orang Kristen kita tidak harus tetap bekerja pada satu tempat dan dibawah satu atasan. Tuhan bisa bekerja melalui aspirasi dan inisiatif kita, untuk membawa kita ke tempat lain yang lebih baik untuk kemuliaan-Nya dan untuk kebaikan kita. Tetapi, selama kita bekerja pada satu tempat, konsentrasi kita harus tetap dipertahankan sambil menunggu panggilan Tuhan untuk maju bergerak.
  11. Ucapkan kata-kata kasih dan syukur. Sekalipun situasi pekerjaan kita kurang mencocoki keinginan kita, kita harus tetap bersemangat dalam menunaikan tugas kita, dengan rasa syukur kepada Tuhan dan rasa kasih kepada sesama kita.
  12. Hidup dalam damai melalui keyakinan iman bahwa apa pun yang terjadi adalah sesuai dengan kehendak Tuhan yang menentukan atau mengizinkan semuanya. Percaya dalam iman bahwa Tuhan selalu memelihara umat-Nya.

Libur tidak libur sama saja

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Minggu depan adalah permulaan liburan akhir tahun bagi murid sekolah menengah di Australia. Pada umumnya liburan ini berlangsung selama 6 minggu, termasuk libur Natal dan Tahun Baru, kecuali untuk sekolah swasta yang mempunyai lebih banyak hari libur. Biasanya, pada musim liburan seperti ini tempat kamping (camping ground) di berbagai tempat pesiar dipenuhi banyak caravan.

Liburan adalah sesuatu yang umumnya disambut orang dengan gembira, kalau itu diartikan sebagai kesempatan untuk beristirahat dan menikmati hidup. Walaupun demikian, bagi mereka yang tetap harus bekerja atau tidak mempunyai kesempatan untuk berlibur, adanya hari libur mungkin bisa mendatangkan rasa sebal.

Alkitab tidak secara jelas membahas soal liburan selain adanya satu hari yang dikhususkan untuk beristirahat dan memuliakan Tuhan. Memang diluar libur sehari dalam seminggu, hari libur lainnya ditentukan oleh kebijaksanaan pemerintah atau organisasi setempat. Dalam hal ini banyak negara yang menentukan adanya liburan selama beberapa minggu dalam setahun kepada mereka yang bekerja, agar mereka dapat beristirahat untuk memulihkan keadaan tubuh dan pikiran.

Walaupun tidak jelas dikemukakan, sebenarnya Alkitab juga memberi gambaran adanya liburan untuk prajurit Israel pada kitab 1 Tawarich 27: 1.

“Adapun orang Israel, inilah daftar para kepala puak, para panglima pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pengatur yang melayani raja dalam segala hal mengenai rombongan orang-orang yang bertugas dan libur, bulan demi bulan, sepanjang tahun. Setiap rombongan berjumlah dua puluh empat ribu orang.”

Ternyata, pada zaman dulu orang sudah mengerti perlunya untuk bekerja dan berlibur. Memang, jika orang harus bekerja terus tanpa adanya liburan panjang, mereka akan mudah menjadi lelah.

Jika liburan panjang itu perlu, apa yang bisa dikerjakan pada waktu itu? Pertanyaan ini agaknya aneh bagi mereka yang ingin untuk 100% beristirahat tanpa mau memikirkan pekerjaan atau tugas. Tetapi, bagi mereka yang senang bekerja, pertanyaan ini adalah lumrah. Jika liburan tidak diisi dengan kegiatan, memang itu bisa juga membosankan dan juga melelahkan. Apalagi, bagi sebagian orang, berlibur bisa berarti tidak ada pemasukan uang. Lalu kegiatan apa yang sebaiknya dilakukan selama berlibur agar liburan tidak menjadi hal yang sia-sia?

Bagi umat Kristen, liburan panjang bukan berarti libur dari memuliakan Tuhan. Banyak orang yang berpikir bahwa selama liburan kegiatan memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya boleh dikurangi. Namun ayat pembukaan kita berkata bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan, kita wajib melakukannya dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur kepada Allah, Bapa kita. Dengan demikian, adanya liburan dari pekerjaan dan aktivitas rutin justru seharusnya memberi kita kesempatan untuk bersyukur atas kasih-Nya. Dengan demikian, liburan panjang adalah sebuah kesempatan untuk meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Libur atau tidak libur, tidak ada bedanya dalam hal ini!

Ayat yang sering disalahgunakan

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Pagi tadi saya bangun agak pagi karena ingin menonton siaran TV yang meliput pertandingan Piala Dunia di Qatar. Tim mana yang bertarung? Tentunya Anda bisa menerka. Tim Australia berhadapan dengan tim Argentina yang sudah dikenal sebagai tim sepakbola yang sangat kuat. Dalam hal rangking, tim Australia bukan apa-apa jika dibandingkan dengan tim Argentina. Dan hasil pertandingan mungkin menyatakan hal itu: skor 2 – 1 untuk Argentina, walaupun skor itu seharusnya bisa dihindari kalau saja kiper Australia tidak membuat blunder.

Demam bola agaknya menguasai banyak orang di seluruh dunia pada saat ini. Tua muda, pria maupun wanita, masing-masing mempunyai tim favoritnya sendiri. Mereka berharap, dan bahkan berdoa, agar tim kesayangan mereka menang; bukan karena tim lain disponsori oleh perusahaan yang tidak mereka sukai, dan bukan juga karena tim mereka adalah tim orang Kristen. Berharap untuk sukses atau menang memang sering bersifat egocentric, berpusat pada diri sendiri. Tidak peduli akan orang lain, asal diri sendiri berhasil.

Di kalangan orang Kristen pun ada banyak orang yang secara sadar atau tidak bersifat egosentris, memohon berkat dan keberhasilan dari Tuhan, sekalipun itu mungkin berarti kesusahan, kerugian dan kekalahan orang lain. Mungkin itu karena merasa bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan yang paling disayangi sehingga Tuhan akan mengabulkan permintaan apa saja. Mereka merasa tidak perlu mencari kehendak Tuhan. Mereka tidak mengerti bahwa Tuhan memberi kan berkat-Nya kepada semua orang di dunia. Mereka tidak paham jika Tuhan mengabaikan kebutuhan orang non-kristen di dunia ini, tentu seluruh sistim pemerintahan, perekonomian, teknologi dan sebagainya akan jatuh berantakan.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Banyak juga orang Kristen yang percaya bahwa sebagai orang yang dipilih Tuhan, mereka adalah orang-orang yang bisa mendapatkan apapun yang mereka ingini. Selalu menang. Dengan demikian, ayat diatas sering dipakai untuk memberi semangat kepada mereka yang kuatir dalam menghadapi kesulitan hidup, agar mereka yakin bahwa bersama Yesus mereka akan selalu berhasil. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Benarkah begitu?

Ayat diatas tidak dapat dipakai sebagai pedoman umum jika kita tidak mau membaca ayat-ayat lain sesudahnya. Dari ayat-ayat itu, kita bisa melihat bahwa Paulus menulis ayat diatas dalam konteks mengalami penderitaan dan apa yang diartikan sebagai kegagalan. Bukan dalam konteks mencapai keberhasilan. Paulus mempersiapkan orang-orang Kristen di Roma dalam menghadapi penderitaan!

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Roma 8: 35

Hari ini, jika kita merasa takut dalam menghadapi kegagalan dan penderitaan, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan beserta kita senantiasa. Dalam keadaan apapun, kita boleh yakin bahwa kita adalah pemenang sejati yang lebih dari pada orang-orang yang terlihat menang, karena kita mempunyaiTuhan yang mengasihi kita. Kita juga bisa merasakan adanya kekuatan yang diberikan Tuhan, karena tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39