Hidup Kristen adalah suatu proses pertumbuhan

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1: 5-7

Saat Simon Petrus mendekati akhir kehidupan fisiknya, guru-guru palsu berusaha untuk menarik orang Kristen menjauh dari iman dengan mempromosikan doktrin-doktrin palsu. Jadi, Petrus bertekad untuk mengingatkan orang-orang percaya akan keaslian panggilan mereka dan doktrin yang telah mereka pahami (2 Petrus 1:13-15). Petrus adalah seorang rasul yang sangat dihormati pada saat itu. Meskipun ia adalah orang yang sederhana, Petrus memiliki banyak pengalaman. Ia telah diajar secara pribadi oleh Yesus Kristus dan telah hadir pada peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah awal gereja.

Petrus dengan berani memanggil orang-orang sesat ini karena pengajaran dan perilaku mereka yang tidak saleh. Mereka membawa “sesat yang merusak” yang mengizinkan orang untuk hidup “menurut keinginan daging dalam keinginan yang najis” (2 Petrus 2:1, 10). Penyimpangan kasih karunia Allah ini merupakan masalah yang meluas yang merambah kekristenan sejati menjelang akhir abad pertama. Yudas juga membahas masalah ini ketika dia menulis tentang “orang-orang fasik, yang mengubah kasih karunia Allah kita menjadi kecabulan” (Yudas 1:4). Sayangnya, pandangan yang keliru tentang kasih karunia ini tetap ada sampai sekarang. Kasih karunia Allah bukanlah izin untuk berbuat dosa. Orang terpilih bukanlah orang yang boleh tetap hidup dalam dosa lama.

Ajakan bertindak untuk kedewasaan spiritual dijelaskan dalam tiga ayat di atas. Petrus tidak hanya mencerca guru-guru sesat yang menyedihkan ini. Ia juga melukiskan gambaran seperti apa seharusnya orang Kristen yang dewasa secara rohani. Dalam 2 Petrus 1:5-7, ia memberikan daftar karakteristik yang menggambarkan orang Kristen yang dewasa—sesuatu yang harus kita perjuangkan agar kita dapat “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (ayat 4).

Orang Kristen yang matang secara rohani akan bertumbuh dalam semua sifat ini. Ketika kita membaca bagian ini dalam Alkitab, kita dapat secara keliru berpikir bahwa kita harus memilikinya sepenuhnya satu sifat atau karakteristik spiritual, sebelum kita dapat menambahkan yang berikutnya. Tingkat demi tingkat atau step by step. Ini tidak benar. Yang benar adalah, ayat-ayat di atas memberitahu kita bahwa kita harus “melengkapi” atau “menggabungkan” satu sifat ke sifat berikutnya. Itulah arti “menambahkan”. Makna yang benar adalah bahwa seorang Kristen yang matang secara rohani akan bertumbuh dalam semua sifat ini, tidak hanya melakukan yang berikutnya secara berurutan setelah sepenuhnya menguasai yang sebelumnya. Jika tidak, orang Kristen mungkin akan menghabiskan hidup mereka untuk bekerja untuk mencapai kesempurnaan iman, satu hal yang tidak mungkin dicapai sampai akhir hidup mereka Sebaliknya, pertumbuhan kedewasaan rohani orang Kristen adalah secara menyeluruh, seperti pertumbuhan fisik seorang bayi dalam proses menjadi orang dewasa, sekalipun itu tidak mencapai kesempurnaan selama hidup di dunia.

Bagaimana kita dapat menerima pengertian tentang Tuhan agar dapat menumbuhkan iman kita? Ini hanya dapat terjadi dengan kemauan kita untuk menerima kebenaran-Nya. Tuhan selalu menunjukkan bimbingan dan kuasa-Nya dalam hidup setiap umat-Nya, tetapi tidak semua orang mau hidup untuk Dia. Mereka yang terlalu sibuk dengan kesibukan diri sendiri cenderung mengabaikan firman Tuhan dalam hidupnya. Karena itu, walaupun seseorang sudah mengenal Tuhan sejak lama, mungkin saja pengertian dan imannya tidak bertumbuh sebagaimana seharusnya. Mungkin saja, pertumbuhan yang ada hanyalah pada satu atau dua segi, sedangkan segi-segi lain tidak pernah bertumbuh.

Sekarang setelah kita mengetahui konteks surat Petrus dan memahami pandangan gabungannya tentang orang Kristen yang matang secara rohani dalam 2 Petrus 1:5-7, mari kita pertimbangkan secara singkat setiap segi atau karakteristik yang disebutkannya. Di bawah ini ada delapan segi kehidupan rohani umat Kristen yang perlu kita bina melalui bimbingan Roh Kudus.

Iman

Ketika Alkitab berbicara tentang iman, itu bisa mengacu pada seperangkat pemahaman doktrinal (“iman”) atau kepercayaan yang percaya bahwa Tuhan itu ada, setia kepada Firman-Nya dan memiliki harapan kepada kita. Kedua komponen iman itu perlu. Kita membutuhkan pengetahuan dan keyakinan. Orang-orang dapat memiliki keyakinan akan keberadaan Tuhan dengan cara yang berbeda.

Kita ingat Kristus menyembuhkan orang dan memberitahu mereka bahwa iman mereka telah menyembuhkan mereka. Kita juga ingat Paulus yang dikuatkan ketika mendengar tentang iman orang lain dan ingin membantu orang membangun dan menyempurnakan iman mereka, bahkan ketika iman mereka diuji melalui pencobaan. Iman kita dengan demikian merupakan komponen yang sangat pribadi bagi kita masing-masing.

Kebajikan

Melengkapi landasan iman ini, orang Kristen yang matang secara rohani juga akan memiliki kebajikan. Terjemahan lain menerjemahkan ini sebagai “karakter moral”, “kelayakan” dan “kebaikan”. Kata ini bisa sangat luas dalam arti bahwa ada banyak kebajikan, tetapi mungkin Petrus mengacu pada arti umum dari kata Yunani, yang mengacu pada kejantanan, keberanian, kekuatan, energi; dan maksudnya adalah, bahwa dia ingin mereka menunjukkan keteguhan atau keberanian apa pun yang mungkin diperlukan dalam mempertahankan prinsip-prinsip iman mereka, dan teguh dalam menanggung cobaan yang mungkin menimpa iman mereka. ‘Kebajikan’ sejati bukanlah hal yang jinak dan pasif. Itu membutuhkan energi dan keberanian yang besar.

Contoh sempurna dari kebajikan moral bagi orang Kristen adalah Yesus Kristus sendiri. Sebagai manusia, Dia selalu memiliki keseimbangan kebaikan yang sempurna terhadap manusia yang membutuhkan dorongan dan kekuatan untuk membela apa yang benar.

Pengetahuan

Pengetahuan yang harus kita miliki adalah pengetahuan tentang Yesus Kristus dan apa yang menyenangkan Dia (2 Petrus 1:3). Tentu saja, kita juga harus memiliki pengetahuan tentang “setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Kita juga harus bertumbuh dalam pengetahuan ini (2 Petrus 3:18).

Banyak orang saat ini memiliki pengetahuan tentang Yesus, tetapi mereka tidak mengerti apa yang Dia harapkan dari mereka. Ada tubuh pengetahuan, yang tidak diketahui banyak orang, yang datang dengan kedewasaan rohani. Memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah membantu kita mengidentifikasi dan menolak ajaran palsu. Seperti kata pepatah: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” (Amsal 9:10).
Paulus mencatat bahwa membantu orang mencapai pengetahuan yang benar tentang Allah adalah bagian penting dari pelayanannya dan komponen penting dari keselamatan (Kolose 1:9-10). Dia juga menjelaskan bahwa Allah “menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan tentang kebenaran” (1 Timotius 2:4).

Penguasaan diri

Kata ini bisa diterjemahkan sebagai “pertarakan”. Ini mengacu pada penguasaan atas kecenderungan dan keinginan jahat. Itu berarti moderasi dan tetap berada dalam batas-batas hukum Tuhan.

Dan kepada orang-orang Korintus, yang akrab dengan disiplin yang dituntut untuk atletik, Paulus menulis, ”Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota m yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku q dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak ” (1 Korintus 9:25-27).

Apa bidang kehidupan yang membutuhkan pengendalian diri dan disiplin dewasa ini? Penggunaan uang, kesetiaan kepada pasangan, perilaku moral setiap saat, pilihan musik dan hiburan (karena ini memengaruhi kita), kejujuran dalam bisnis dan dalam semua hubungan, dan daftarnya bisa terus bertambah.

Ketekunan

Ketekunan (atau “kesabaran”) berarti dengan sabar bertahan dalam menghadapi cobaan atau kesulitan. Beberapa orang menyerah ketika keadaan menjadi sulit atau ketika menjadi orang Kristen membuat hidup terbebani. Tetapi seorang Kristen sejati yang matang secara rohani tidak pernah menyerah.

Ada perbandingan menarik antara pengendalian diri dan ketekunan. Yang pertama seringkali bisa menjadi moderasi atau menahan diri terhadap hal-hal yang baik, sedangkan yang kedua adalah kesediaan untuk menanggung hal-hal buruk dengan harapan hal-hal baik di masa depan. Orang Kristen tidak bebas dari penderitaan!

Yakobus menulis tentang perlunya kita memiliki kesabaran dalam menghadapi pencobaan (Yakobus 1:2-4). Alasannya adalah karena ketekunan rohani dalam menghadapi kesulitan membangun karakter saleh, yang sangat berharga bagi Tuhan. Petrus juga membuat beberapa referensi tentang pentingnya orang Kristen untuk rela menderita jika perlu (1 Petrus 1:7; 4:1; 5:10). Orang Kristen yang matang secara rohani akan menghadapi pencobaan selama hidupnya, tetapi akan bertumbuh secara rohani dan bertekun melalui pencobaan itu.

Kesalehan

Dalm konteks ayat di atas, kata “ini “kesalehan” secara sederhana berarti menjadi seperti Tuhan. Artinya meniru dan mengambil sifat-sifat karakter Tuhan. Itu berarti sadar akan Tuhan dan ingin hidup sesuai dengan perintah-Nya. Menjadi seperti Tuhan berarti meniru Dia, mencintai apa yang Tuhan cintai dan membenci apa yang Dia benci. Sebelumnya, dalam 2 Petrus 1:3, Petrus mengatakan bahwa Tuhan telah memberi kita pemahaman tentang seperti apa rupa Tuhan. Menulis kepada Timotius, Paulus menasihatinya untuk mengejar kesalehan (1 Timotius 4:7-8; 6:11).

Secara sederhana, menjadi seperti Tuhan berarti meniru Dia, mencintai apa yang Tuhan cintai dan membenci apa yang Dia benci. Itu berarti mengembangkan nilai-nilai moral yang sama dengan apa yang dimiliki Tuhan dan menghargai apa yang Tuhan hargai.

Kasih persaudaraan

Kata Yunani yang diterjemahkan “kebaikan persaudaraan” adalah philadelphia. Kata ini berarti: ”kasih saudara, kasih persaudaraan, yaitu kasih di mana orang Kristen yang menghargai satu sama lain sebagai saudara. Ini agak berbeda dengan philia yaitu kasih persahabatan.

Kasih yang hangat dan akrab yang merupakan bagian dari keluarga jasmani yang sehat ini juga harus diperluas kepada rekan-rekan Kristen. Dalam Markus 3:35 Yesus menyatakan, “Karena barangsiapa melakukan kehendak Allah, ia adalah saudara-Ku dan saudara perempuan dan ibu-Ku.” Itulah sebabnya porang Kristen menyebut satu sama lain sebagai saudara.

Kasih untuk semua orang

Kata Yunani di sini yang diterjemahkan “kasih” adalah agape. Kasih yang tidak menuntut balas, kasih yang mau berkurban. Yesus menggunakan kata ini ketika Dia berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”” (Yohanes 13:35).

Seperti yang dapat kita lihat, baik philadelphia, philia dan agape digunakan untuk menggambarkan hubungan yang harus kita miliki dengan saudara-saudara rohani kita. Tetapi agape mengembangkannya dari kasih kepada saudara-saudara di dalam Kristus menjadi kasih kepada semua orang. Pengertian yang lebih luas dari mencintai seluruh dunia ini ditemukan dalam penggunaan agapao (bentuk kata kerja dari agape) ketika kita membaca: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).

Prinsip yang dapat kita petik dari penggunaan kedua kata Yunani ini oleh Petrus untuk cinta adalah bahwa kita perlu bertumbuh dalam kasih untuk saudara-saudara dan dalam kasih untuk semua umat manusia. Kita harus mengasihi orang dengan cara yang sama seperti Tuhan mengasihi semua orang dan menginginkan yang terbaik untuk semua orang. Paulus menangkap konsep mengasihi komunitas pada umumnya dan saudara-saudara ketika dia menulis: “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (Galatia 6:10).

Ayat-ayat di atas adalah tentang hidup kerohanian kita. Berapa lama anda sudah mengenal Tuhan? Apakah hidup kita sudah bertumbuh sejak anda menerima Dia? Apakah anda merasakan bahwa iman anda makin kuat sejak saat perjumpaan anda dengan Tuhan untuk pertama kalinya? Dapatkah anda merasakan adanya penyataan yang datang dari Tuhan melalui Roh Kudus setiap hari? Pada waktunya, semua orang percaya seharusnya akan bisa mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Yesus, dan memperoleh kedewasaan penuh yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4: 13-15). Semakin lama kita hidup sebagai umat-Nya, seharusnya kita makin dapat mengenal kasih, kuasa, kebijaksanaan, kesabaran dan kesucian Tuhan. Dengan demikian, seharusnya hidup kita bisa berubah, makin lama makin sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.

Menghadapi dinamika kehidupan

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Apakah ada yang anda kuatirkan dalam hidup ini? Pertanyaan ini bagi semua orang tentunya akan dijawab dengan kata “ya”. Sekalipun sebagian orang mungkin tidak terlalu kuatir akan kehidupan sendiri, mereka bisa saja kuatir akan apa yang terjadi pada diri orang lain atau akan apa yang terjadi di lingkungan, dalam negara, atau di dunia.

Hidup ini penuh dengan kejutan. Life is full of surprises. Orang yang terlihat sehat kemudian jatuh sakit parah, murid yang pandai justru tidak lulus ujian, mereka yang kaya-raya sejak lama kemudian jatuh bangkrut, mereka yang terlihat bahagia ternyata mengalami tekanan jiwa yang besar. Apakah yang bisa diharapkan manusia jika semua adalah tidak pasti adanya?

Dengan adanya berbagai persoalan hidup, mungkin tidak ada orang yang yakin bahwa hidup mereka akan berakhir dengan kebahagiaan atau “happy ending“. Mungkin hanya di layar perak saja kita bisa melihat adanya orang- orang yang sesudah mengalami perjuangan hidup, kemudian menemui kebahagiaan yang abadi. Sebaliknya, apa yang terjadi dalam kehidupan kelihatannya tidak dapat menjamin manusia manapun untuk bisa sepenuhnya optimis untuk masa depan.

Kemungkinan adanya penindasan, kesesakan hidup, penganiayaan, kelaparan, bahaya, kekejaman ataupun peperangan memang bisa membuat orang sulit untuk mendapat ketenangan hidup. Lebih dari itu, bagi kita umat Kristen, selalu ada bahaya yang mengancam karena adanya orang-orang yang ingin menghancurkan iman kepercayaan kita.

Bagi yang percaya adanya Tuhan sekalipun, tidaklah ada harapan masa depan jika mereka hanya mengenal Tuhan sebagai Oknum yang mahakuasa. Tuhan mungkin sudah menetapkan hidup mereka untuk mengalami kehancuran. Ini adalah pandangan yang keliru. Doktrin concurrence menyatakan bahwa Tuhan bekerja melalui kehidupan ciptaan-Nya untuk mencapai rencana-Nya. Keduanya, tindakan manusia dan penetapan Tuhan, berjalan secara berdampingan.

Salah satu tokoh Perjanjian Lana yang kita kenal adalah Yusuf, yang sudah dijual oleh saudara-saudaranya ke tanah Mesir. Yusuf berubah hidupnya dari seorang anak yang hidup dalam kasih sayang bapanya, menjadi budak dan bahkan orang tahanan di negeri asing. Sendirian dan tidak berdaya, Yusuf tetap bergantung kepada Tuhan yang dikenalnya. Melalui pergantian situasi, Yusuf kemudian menjadi orang penting yang mengurus kesejahteraan orang Mesir. Saudara-saudara Yusuf pada akhirnya terpaksa meminta tolong kepada Yusuf. Bukannya menolak mereka, Yusuf justru bisa melihat kasih Tuhan dalam hidup mereka.

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Kejadian 50: 20

Sifat Tuhan tidak berubah. Tetapi ini tidak berarti statis. Sebaliknya, Ia hidup, aktif, dan dinamis. Energi dan dinamis-Nya diekspresikan paling nyata dalam hubungan memberi-dan-menerima dalam pasang-surutnya kehidupan manusia. Dan hubungan Tuhan dengan umat-Nya selalu merupakan sarana pernyataan kasih-Nya (providence) sampai akhir zaman.

Alkitab memperluas gagasan ini dengan mengajarkan bahwa sifat Tuhan yang tidak berubah mengandung konflik atau dialog yang berkelanjutan. Dialog dua arah sepanjang masa. Bukan satu arah. Di dalam Tuhan ada ketegangan antara prinsip-prinsip keadilan dan belas kasihan yang tampaknya bertentangan, atau kontras antara kesucian dan kasih karunia-Nya yang sangat nyata.

Pada hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kasih Tuhan adalah lebih besar dari kesulitan hidup apapun. Karena itu, sekalipun hidup ini terkadang terasa sangat berat, kita yang sudah menjadi orang percaya tidak akan kehilangan keyakinan bahwa Tuhan senantiasa beserta kita!

Haruskah kita mengasihi orang yang “ditolak Tuhan”?

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 9-10

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal, yang dipakai oleh banyak orang Kristen sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Melalui ayat itu, mereka dipanggil untuk mengasihi semua orang karena adanya keyakinan bahwa Allah adalah mahakasih dan mengasihi seisi dunia. Walaupun begitu, ada sebagian umat Kristen yang menolak anggapan bahwa Allah mengasihi semua orang. Bukankah dalam Perjanjian Lama (Maleakhi 1: 2 – 3) kita membaca bahwa Tuhan mengasihi keturunan Yakub lebih dari keturunan Esau? Tuhan tentunya mengasihi orang yang dipilih-Nya dan membenci mereka yang ditolak-Nya.

Sebagian lain orang Kristen percaya bahwa sesuai dengan pilihan-Nya, Tuhan bisa dan berhak mengasihi sebuah bangsa lebih dari bangsa lain. Tetapi itu bukan berarti Tuhan mengasihi orang yang satu dan membenci yang lain tanpa sebab. Tuhan bisa lebih mengasihi orang tertentu dibandingkan orang yang lain, tetapi secara umum Ia mengasihi setiap manusia, dan ingin agar semua yang mau percaya untuk diselamatkan. Di dalam kasih-Nya tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan bukan Yahudi. Sebagian manusia, termasuk orang Yahudi, memang sampai akhir hidupnya menolak uluran kasihTuhan tetapi itu adalah pilihan mereka sendiri.

Perbedaan pendapat antara kedua pendapat di atas sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, dan sampai sekarang tidak terselesaikan. Bagaimana kita harus bersikap?

Yang pertama, kita harus mengakui bahwa kita tidak tahu siapa yang ditolak Tuhan karena mereka tidak mau bertobat. Karena itu, membenci orang-orang tertentu dan membatasi penginjilan kepada orang-orang yang “pantas” untuk menjadi orang pilihan Tuhan adalah keliru.

“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yohanes 3: 14-17

Dari Alkitab dan juga sejarah kita bisa menyadari bahwa banyak orang yang tidak mau untuk percaya bahwa Tuhan Sang Pencipta itu ada, dan perlu untuk disembah. Mereka memilih untuk hidup bebas menurut apa yang disukai. Tetapi Tuhan tetap mengasihi mereka dan mau memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertobat. Tuhan juga mengutus Roh Kudus untuk memberi pencerahan umum kepada setiap orang agar mereka bisa merasakan kebesaran Tuhan dalam alam semesta.

Yang kedua, Tuhan sedih jika ada orang yang menolak Dia. Yesus pun pernah menangisi nasib orang Israel yang tidak mau menerima keselamatan. Walaupun demikian, Tuhan yang mahakasih tidak akan memaksa setiap orang untuk bertobat karena itu bertentangan dengan kasih-Nya. Kasih ada bukan karena paksaan. Dengan demikian, walaupun ada banyak orang yang hidup di dunia, tidak semua orang akan diselamatkan. Ini adalah sebuah kenyataan yang seharusnya membawa rasa sedih dalam hati kita. 

Tuhan sebenarnya mengasihi semua orang dan segala bangsa, tetapi sebagian orang mengabaikan kasih-Nya yang sudah dinyatakan dalam pengurbanan Yesus. Selain itu, ada juga orang yang sudah mengenal nama Yesus tetapi tidak mau hidup sebagai domba-Nya. Dengan demikian ada banyak domba yang tidak bergembala, yang tersesat, yang akhirnya bisa jatuh ke dalam lembah kekelaman.

Ayat Yohanes 3: 16 menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia tanpa syarat (unconditional), tanpa membeda-bedakan manusia, baik suku bangsa, status sosial ekonomi ataupun apa saja. Tuhan Yesus datang ke dunia agar siapa saja yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan. Dengan demikian, dalam hal keselamatan, semua manusia sudah menerima kasih yang sama.

Selain itu, Tuhan dengan kasih-Nya juga memelihara seisi dunia ini sehingga segala sesuatu berjalan menurut rencana-Nya. Walaupun demikian, Tuhan tidak membuat seluruh umat manusia untuk mengalami hal-hal yang sama selama hidup. Alkitab jelas menunjukkan adanya bangsa Israel dan orang-orang pilihan Tuhan yang menerima perlakuan yang berbeda dari Tuhan. Mereka yang dipakai Tuhan untuk maksud dan rencana-Nya bisa mengalami hal-hal yang baik maupun yang buruk, sesuai dengan rencana-Nya. Perlakuan khusus yang dialami orang-orang tertentu terjadi karena Ia mempunyai rencana tertentu, bukan karena karena keistimewaan orang-orang itu. Semua orang sudah berdosa dan karena itu perlu diselamatkan.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yohanes 3: 17

Alkitab juga dengan jelas menyatakan bahwa kasih Tuhan kepada umat manusia dalam menghadapi perjuangan hidup adalah lebih besar kepada domba-domba-Nya daripada kepada orang-orang yang menolak Dia. Mereka yang mau menerima uluran tangan-Nya, diberi-Nya hak untuk memanggil “Bapa” dan kepada mereka diberi-Nya Roh Kudus yang menyertai mereka dalam setiap keadaan.

Hari ini, biarlah kita bisa bersyukur bahwa Tuhan mengasihi segala bangsa dan seluruh umat manusia tanpa perkecualian. Ia memanggil setiap orang untuk bertobat. Dengan itu, kita yang sudah menjadi umat-Nya juga terpanggil untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka yang belum menerima Kristus. Kita yang sudah menerima kasih Tuhan yang memberi kita keselamatan, mempunyai kewajiban untuk memancarkan kasih Tuhan itu dan mengabarkan Injil kepada semua orang, agar mereka mengambil keputusan untuk mau menjadi pengikut Kristus.

Tuhan memberi kita iman dengan tugas untuk memakainya

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2: 12-13

“Mengikut Yesus keputusanku” adalah sebuah himne Kristen yang berasal dari Assam, India. Diduga liriknya didasarkan pada kata-kata terakhir dari Nokseng, seorang pria India, yang menjadi orang Kristen pada pertengahan abad ke-19 melalui upaya seorang misionaris Baptis Amerika. Namun ada juga yanng mengaitkan himne tersebut dengan pendeta Simon Marak dari Jorhat, Assam.

Seorang editor himne Amerika, William Jensen Reynolds, menyusun aransemen untuk lagu itu yang kemudian dimasukkn ke dalam buku nyanyian gereja di Anerika pada tahun 1959. Versinya menjadi fitur reguler dari acara penginjilan Billy Graham yang menyebabkan popularitasnya. Karena fokus eksplisit liriknya pada komitmen orang percaya itu sendiri, himne tersebut disebut sebagai contoh utama dari teologi yang menekankan respons manusia daripada tindakan Tuhan dalam munculnya iman. Hal ini menyebabkan pengecualiannya dari beberapa himne gereja saat ini.

Berkenaan dengan lagu itu, terlintas sebuah pertanyaan dalam pikiran saya: apakah keputusan saya yang membuat saya mengikut Tuhan, ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang mengatur segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, sepenuhnya melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism“. Apakah benar begitu?

Alkitab mengajarkan bahwa pikiran manusia buta terhadap kebenaran rohani; dan hati manusia sulit untuk menerima adanya kebenaran rohani. Jadi bagaimana seseorang akan diselamatkan jika tidak semata-mata karena penentuan Tuhan? Inilah yang sering dipersoalkan.

Semua aliran Kristen percaya bahwa jika kehendak manusia dikaitkan dengan soal keselamatan rohani, siapapun yang mengambil keputusan untuk percaya tentunya hanya bisa percaya karena bimbingan Roh Kudus. Manusia tidak dapat memilih jalan keselamatan tanpa bimbingan Tuhan, sekalipun ia dapat memakai kemampuan otak yang diberikan Tuhan untuk mengambil berbagai keputusan dalam hidup sehari-hari.

Paulus pernah menyatakan bahwa ia tahu, bahwa didalam dirinya, sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam dirinya, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik (Roma 7: 18). Kehendak yang ada pada diri manusia seringkali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga dipengaruhi iblis. Kehendak manusia yang sedemikian bukanlah ditentukan oleh Tuhan, tetapi disebabkan oleh kesombongan. Karena itu, mereka yang merasa yakin dapat memilih apa saja yang disukai, bisa terjerumus ke dalam kesimpulan bahwa seluruh aspek hidupnya, baik hal jasmani maupun rohani, bergantung sepenuhnya pada kemampuan diri sendiri.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Dengan demikian, jika kita memang bebas untuk memilih apa yang kita lakukan setiap hari, kebebasan mausiawi yang dipakai dalam hubungan kita dengan Tuhan sering kali justru membuat kita menjauhkan diri dari Tuhan.

Sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, kita diberi kebebasan untuk memilih dan melakukan apa yang kita ingini dalam hidup di dunia. Tetapi, jika kita tidak mau terus menerus bekerja untuk memuliakan Tuhan dan menyerahkan hidup kita kepadaNya, kebebasan kita akan membawa kepada dosa. Penyerahan hidup kita kepada bimbingan Tuhan bukanlah sesuatu yang otomatis akan terjadi pada setiap orang Kristen, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa kitalah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup kita di dunia ini. Inilah yang difahami sebagai iman yang berkewajiban atau Duty Faith. Sayang, prinsip hidup dengan iman yang berkewajiban ini ditolak oleh sebagian orang Kristen yang percaya bahwa manusia tidak mempunyai peran apa pun dalam pertobatan dan iman.

Mengapa kita wajib mengerjakan keselamatan kita?

Mungkin ilustrasi dari pelayanan Yesus bisa membantu kita. Pada suatu kesempatan, Yesus bertemu dengan seorang pria di rumah ibadat yang tangannya layu. Rupanya dia mengalami kerusakan saraf yang membuatnya tidak bisa bergerak atau menggunakan tangannya. Yesus memerintahkan orang itu untuk mengulurkan tangannya (Matius 12:13). Secara manusiawi, itu adalah perintah yang mustahil. Tetapi Yesus menyuruhnya untuk melakukannya; dan ketika orang itu taat, tangannya dipulihkan. Pada kesempatan lain, Yesus memberi tahu seorang pria yang tidak dapat berjalan selama 38 tahun untuk bangun, mengangkat tilamnya, dan berjalan (Yohanes 5:8). Pria itu melakukannya dan ia disembuhkan!

Dalam kasus di atas, Tuhan memanggil orang-orang itu untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat mereka lakukan dengan kekuatannya sendiri. Yesus memberikan kepada mereka kekuatan supernatural yang dibutuhkan untuk memenuhi perintah-Nya. Tapi mereka tetap harus melakukannya. Jika mereka berkata, “Saya tidak bisa melakukannya,” mereka tentu tidak akan disembuhkan. Tuhan bekerja dengan luar biasa, tetapi mereka juga harus bekerja, menyambut karunia Tuhan dengan kemauan sendiri.

Dengan kata lain, jawaban yang benar atas kebutaan rohani pikiran manusia dan kekerasan rohani hati manusia adalah bahwa Yesus menarik mereka. Dia menghilangkan kebutaan pikiran dan melembutkan hati yang keras. Yesus memberi kita kesempatan untuk melihat kebenaran tentang kemuliaan-Nya dan Dia memberi kita kemampuan untuk berubah dari hidup lama kita. Dan Dia melakukan ini dengan sangat sederhana melalui kata-kata kebenaran, seperti ayat ini:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 18:3

Sampai sekarang, Tuhan aktif bekerja untuk melenyapkan kabut dari pikiran manusia dan melembutkan hati banyak orang. Pagi ini, pertanyaan untuk Anda adalah: apakah Anda sudah memakai iman dan kemampuan yang diberikan Tuhan untuk membawa Anda kepada hidup yang baik sesuai dengan kehendak-Nya? Iman hanya bisa bertumbuh jika itu diiringi dengan ketaatan kita kepada-Nya. Karena itu tetaplah kerjakan keselamatan Anda dengan takut dan gentar, sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan sudah memberi kita iman dan juga tugas untuk tetap beriman dengan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya!

Secukupnya bukan berarti sepuasnya

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” Matius 6: 11

Saat ini berbagai media sering mendiskusikan keadaan ekonomi Australia. Dalam diskusi itu diungkapkan bahwa keadaan ekonomi Australia saat ini sangat buruk karena tingginya angka inflasi dan adanya berbagai bencana alam. Sekarang ada banyak orang yang hidup dibawah garis kemiskinan, yang membutuhkan bantuan dari badan-badan sosial. Sekalipun ada beberapa badan sosial, jumlah dan kemampuan mereka adalah terbatas dan karena itu masih banyak orang yang hidup dalam kekurangan. Walaupun demikian, mereka yang memiliki kemampuan dan keahlian untuk bekerja tetap bisa bersyukur karena angka pengangguran yang sangat rendah. Tenaga mereka sangat dibutuhkan oleh berbagai perusahaan.

Tantangan hidup memang seringkali berat bagi banyak orang. Semakin banyak penduduk dunia, semakin banyak juga orang yang dalam kesusahan. Walaupun ada kemajuan teknologi dan ekonomi di banyak negara, dalam kenyataannya banyak orang di negara manapun yang harus berjuang untuk bisa hidup hari demi hari, terutama mereka yang dalam posisi lemah: yang masih dibawah umur dan yang sudah berusia senja. Mereka yang belum bisa mendapat pekerjaan dan mereka yang kehilangan sumber penghasilan.

Ayat diatas adalah sebagian dari doa Bapa kami yang diajarkan Yesus sebagai model doa yang harus kita tiru dalam kita berdoa setiap hari. Permohonan makanan sebenarnya juga mencakup semua apa yang dibutuhkan dalam hidup manusia. Bagi sebagian orang, ayat ini mudah mengucapkannya karena mereka hidup berkecukupan. Bagi mereka kata “secukupnya” mungkin sudah dapat diartikan “sangat berlebihan” oleh orang lain. Sebaliknya yang hidup berkekurangan mungkin masih menantikan datangnya kecukupan.

Perbedaaan antara mereka yang hidup berlebihan dan mereka yang berkekurangan semakin besar saja di berbagai negara di dunia. Sepintas lalu, kepincangan sosial ini membuat manusia bertanya-tanya, apakah Tuhan itu adil terhadap ciptaan-Nya. Apakah doa meminta makanan yang secukupnya masih relevan di zaman ini, karena makanan sudah tentu tidak akan jatuh dari surga. Bagi mereka yang sedang menghadapi pergumulan hidup, doa ini agaknya tidak terdengar oleh siapapun juga, termasuk Tuhan. Benarkah begitu?

Setidaknya ada dua hal yang penting dalam doa ini, yang pertama adalah pengakuan bahwa Tuhan adalah yang memberi, dan yang kedua adalah kesadaran bahwa Tuhan jugalah yang bisa memberi rasa cukup dalam hidup manusia. Kita memohon Tuhan untuk memberi apa yang kita butuhkan sesuai dengan ukuran-Nya. Bukan menurut ukuran kecukupan kita. Dengan demikian kitalah yang harus belajar hari demi hari untuk bisa mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan dengan apa yang kita terima.

Bagi mereka yang sudah diberikan berkat yang besar, seringkali masih merasa kurang karena tidak adanya kesadaran atas rasa cukup. Sebaliknya, mereka yang hidup berkekurangan seringkali hidupnya justru berbahagia karena adanya rasa cukup. Kemampuan untuk merasa cukup dan berbahagia dengan apa yang ada sebenarnya adalah karunia Tuhan yang tidak dimiliki semua orang karena tidak setiap orang memintanya. Untuk bisa mempunyai rasa cukup hidup kita harus berubah melalui proses penyempurnaan oleh Roh Kudus. Untuk memeperoleh bimbingan Roh Kudus kita harus mau mendengarkan suara-Nya dan tidak mendukakan-Nya.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4: 30

Pagi ini kita diingatkan bahwa setiap kali kita berdoa meminta berkat dari Tuhan, setiap kali juga kita harus mengakui bahwa Tuhanlah yang sudah memberi kita berbagai berkat dalam hidup kita. Selain itu, kita harus juga mau mengutarakan permohonan agar dengan bimbingan Roh Kudus, kita bisa mempunyai rasa cukup dalam hidup kita.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4:11-13 TB

Apa yang bisa kita persembahkan untuk Tuhan?

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1

Orang terkadang berpikir bahwa Tuhan menciptakan manusia karena Ia kesepian dan membutuhkan persekutuan dengan orang lain. Jika ini benar, itu pasti berarti bahwa Tuhan tidak sepenuhnya independen dari ciptaan-Nya. Ini berarti bahwa Tuhan perlu menciptakan alam semesta dan manusia agar Ia bisa benar-benar bisa bahagia atau sepenuhnya terpenuhi dalam kebutuhan pribadi-Nya.

Dengan demikian, mungkin banyak orang Kristen yang merasa bahwa mereka memegang peranan penting dalam rencana Tuhan, tanpa itu rencana Tuhan akan terhambat. Selain itu, banyak orang Kristen yang mengharapkan “ucapan terima kasih dari Tuhan” dalam bentuk berbagai berkat untuk apa yang sudah mereka lakukan untuk Tuhan. Benarkah sikap dan pendapat manusia seperti ini?

Kita harus mulai dengan menanyakan apakah Tuhan membutuhkan kita untuk ada di dunia. Tuhan dalam Alkitab adalah Tuhan yang tidak membutuhkan apa pun. Dia ada secara independen dari dunia, sebagai Oknum Ilahi yang mandiri dan ada dengan sendirinya. Tuhan tidak menciptakan manusia karena Dia membutuhkan mereka. Jika kita tidak pernah ada, Tuhan akan tetap menjadi Tuhan—Yang tidak berubah (Maleakhi 3:6). Ketika Dia menciptakan alam semesta, Dia melakukan apa yang menyenangkan diri-Nya sendiri, dan karena Tuhan itu sempurna, tindakan-Nya sempurna. “Bagus sekali” (Kejadian 1:31).

Jika Tuhan tidak membutuhkan persembahan dan bantuan kita, mengapa Ia menciptakan manusia? Jawaban singkat untuk pertanyaan itu adalah “untuk kesenangan-Nya. Kolose 1:16 menegaskan poin ini: “Segala sesuatu diciptakan oleh dia dan untuk dia.” Diciptakan untuk kesenangan Tuhan tidak berarti manusia diciptakan untuk menghibur-Nya. Tuhan adalah Makhluk Ilahi yang kreatif, dan itu memberi-Nya kesenangan untuk menciptakan manusia dan seisi alam semesta. Tuhan adalah pribadi, dan adalah kesenangan bagi-Nya untuk memiliki manusia yang Dia dapat memiliki hubungan yang tulus dengannya. Walaupun demikian, hubungan antara Tuhan dan manusia adalah inisiatif Tuhan. Tanpa inisiatif-Nya, kita tidak dapat mendekati Dia.

Menyadari kedaulatan penuh dan kekudusan Allah, kita tentu kagum bahwa Dia akan mengambil manusia dan memahkotainya “dengan kemuliaan dan hormat” (Mazmur 8:5) dan bahwa Dia akan merendahkan untuk menyebut kita “sahabat” (Yohanes 15:14-15 ). Diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27), manusia sebelum kejatuhan dalam dosa memiliki kemampuan untuk mengenal Allah dan mengasihi Dia, menyembah Dia, melayani Dia, dan bersekutu dengan Dia. Kemampuan ini hilang akibat dosa, tetapi dimungkinkan lagi melalui pengurbanan Kristus di kayu salib.

Segala sesuatu yang Tuhan ciptakan pastilah lebih rendah dari Dia. Hal yang dibuat tidak akan pernah bisa lebih besar dari, atau sebesar, Dia yang membuatnya. Dengan demikian, tidak ada barang apa pun yang patur kita persembahkan kepada Dia selain tubuh kita yang sudah dibasuh oleh darah Kristus. Tubuh kita adalah rumah Allah, di mana Roh Kudus tinggal. Itu adalah persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita dipanggil oleh Tuhan untuk menaati firman -Nya dan hidup dalam kesucian, itu bukan karena Ia membutuhkan kita. Sebaliknya, Tuhan dengan kasih-Nya ingin memberi kita kesempatan untuk mempunyai hubungan yang erat dengan-Nya, sesuai dengan rencana-Nya dan untuk kemuliaan-Nya. Sebagai orang yang sudah diselamatkan melalui pengurbanan Yesus Kristus, adalah kewajiban kita untuk menjadi hamba-Nya dan menyadari bahwa adanya ikatan antara kita dan Tuhan adalah untuk kebaikan kita dan bukan untuk memenuhi kebutuhan Tuhan.

Ada kemauan, ada jalan

“Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan” 1 Petrus 2: 2

Ayat di atas memberi anjuran bagi umat Kristen untuk ingin tumbuh seperti seorang bayi, yang hanya bisa mengalami pertumbuhan yang sehat melalui makanan yang sehat dan bernutrisi. Pertumbuhan yang dimaksudkan oleh rasul Petrus sudah tentu adalah pertumbuhan rohani. Petrus memberi nasihat ini karena adanya tiga kekeliruan yang bisa terjadi pada orang Kristen.

Ada orang Kristen yang tidak pernah tumbuh secara rohani. Mereka tidak tertarik untuk lebih mengenal Tuhan. Mereka merasa bahwa keselamatan yang mereka terima melalui Kristus sudahlah cukup. Mereka tidak tertarik untuk ke gereja secara teratur, atau untuk mempelajari firman Tuhan, atau untuk melayani sesamanya. Ada juga orang Kristen yang secara rutin ke gereja tetapi tidak mau berusaha untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan. Orang yang sedemikian tidak sadar bahwa secara rohani mereka tetap kecil dan bahkan kerdil, sehingga lambat laun akan bisa tenggelam dalam masalah hidup yang besar.

Orang Kristen yang lain, menyadari pentingnya pertumbuhan rohani dan ingin menerima makanan rohani. Tetapi, karena selalu memikirkan apa yang terlihat baik di depan mata, mereka kemudian memilih makanan rohani yang tidak murni. Makanan yang sudah tercemar membuat kerohanian mereka tumbuh, tetapi tidak secara sehat. Dengan demikian, emosi, perasaan dan pengertian mereka ikut dipengaruhi oleh berbagai pengajaran dan kebiasaan yang salah. Mereka kemudian hidup. dengan cara yang tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

Selain dua kelompok di atas, ada juga orang Kristen yang giat berbuat baik, tetapi perbuatan baik mereka bukan untuk kemuliaan Tuhan. Mereka berbuat baik mungkin untuk maksud lain, yang dipandang baik olen masyarakat, dani mendapatkan pujian untuk mereka sendiri. Mereka menunjukkan kebaikan mereka kepada orang lain sebagai kebanggaan bahwa mereka bisa berbuat baik. Mereka menganggap bahwa semua itu karena kemampuan mereka dan akan mendapat pahala besar di surga.

Melihat adanya 3 kelompok orang Kristen di atas, ada orang Kristen yang mungkin kecewa dengan pertumbuhan iman orang lain. Mereka mungkin punya pengalaman pahit atau pernah terlukai. Mereka merasa bahwa orang-orang di atas adalah orang yang munafik atau bodoh. Karena itu, mereka memisahkan diri dan menjadi tidak tertarik untuk berusaha hidup baik. Mereka mungkin juga merasa bahwa orang-orang Kristen yang lain bukanlah orang Kristen sejati, bukan orang yang diselamatkan.

Sekalipun orang Kristen sejati adalah orang yang diselamatkan, sebenarnya mereka bukanlah orang yang sudah sempurna. Kita tidak boleh menghakimi orang lain, tetapi seharusnya melakukan apa yang baik sesuai dengan firman-Nya. Kita tidak tahu siapa yang sudah dipilih Tuhan untuk diselamatkan, karena itu kita harus memusatkan hati dan pikiran kita kepada apa yang baik dan yang harus kita lakukan, jika kita percaya bahwa kita sudah diselamatkan.

Petrus dalam ayat di atas mengingatkan mereka yang ingin mempunyai kerohanian yang dewasa, kuat dan sehat, haruslah mau untuk memilih makanan yang murni dan yang rohani, supaya olehnya mereka bertumbuh dengan baik sampai saatnya mereka mengakhiri hidup mereka di dunia dan menerima mahkota keselamatan dari Tuhan. Ini tidak mudah dilakukan karena membutuhkan kemauan (will). Kita tidak boleh apatis bahwa karena kekuatiran melihat adanya orang- orang berusaha tumbuh dengan cara yang tidak baik, kita kemudian hanya “berserah” atas kehendak Tuhan. Alkitab justru menyatakan bahwa pertumbuhan bergantung kepada keinginan kita, karena Tuhan sudah menyediakan makanan yang baik untuk pertumbuhan. Apa yang harus kita ingat dalam hal ini?

  • Tumbuhlah dalam Roh secara ajaib, bukan secara alami
  • Tumbuhlah bersama teman seiman, bukan dalam kesendirian
  • Doronglah orang seiman, dan jangan merendahkan
  • Jadilah rendah hati untuk mau mengingini pertumbuhan
  • Tumbuhlah dalam segala aspek keKristenan, bukan hanya apa yang kita sukai saja
  • Jika kita mengingini apa yang baik, pasti ada hasil yang baik dari Tuhan
  • Sinisme membunuh keinginan dan pertumbuhan

Semoga kita bisa bertumbuh dan memuliakan Bapa jika kita mau mempelajari dan melaksanakan firmanNya!

Iman bekerjasama dengan perbuatan

Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Bagaimana manusia bisa mendapatkan keselamatan sesudah hidupnya berakhir di dunia adalah hal utama yang di bahas dalam semua aliran kepercayaan. Kalau ada orang yang hanya membahas bagaimana manusia bisa hidup berbahagia di dunia, orang itu bukan membahas kepercayaan tetapi falsafah hidup. Hidup di dunia memang dapat dilihat dan dirasakan, dan untuk itu kita tidak membutuhkan kepercayaan, tetapi perlu melakukan tindakan atau perbuatan.

Seorang mungkin percaya bahwa pada suatu saat manusia akan bisa pergi ke planet Mars, tetapi kepercayaan semacam itu bukanlah iman, melainkan keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Tambahan pula, keyakinan itu tidak perlu mengubah cara hidup manusia saat ini, karena hal pergi atau tidak pergi ke Mars adalah pilihan manusia. Karena itu, hal semacam itu tidak perlu membawa konsekuensi langsung pada cara hidup manusia di dunia. Bagaimana pula kepercayaan manusia untuk bisa ke surga?

Ayat di atas adalah ayat yang nampaknya sederhana dan mudah dimengerti. Tetapi, ayat ini sebenarnya sulit difahami dan sering menjadi bahan perdebatan, terutama antara 2 kutub aliran Kristen, yaitu Calvinisme dan Arminianisme. Perdebatan itu sebenarnya tidak perlu menjadi masalah karena kedua aliran itu percaya bahwa keselamatan datang dari Tuhan, dan bukan karena usaha manusia. Walaupun demikian, sebagian orang menganggap perbuatan sebagai hal yang mutlak penting untuk dilakukan, sedangkan yang lain lebih menekankan keyakinan akan pilihan Tuhan.

Ayat di atas sepertinya mirip dengan hitungan matematik: Tuhan (yang memberi iman) + manusia (yang melakukan perbuatan baik) = kesempurnaan, atau God + human = perfection. Jika itu benar, orang bisa menganggap bahwa peran manusia adalah mutlak perlu untuk mencapai kesempurnaan atau keselamatan yang diminta Tuhan di surga. Mungkin ada yang percaya bahwa keselamatan adalah kerjasama 50-50 antara Tuhan dan manusia. Iman tanpa perbuatan adalah tidak lengkap. Apakah ini benar?

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Pengertian akan ayat-ayat di atas sebenarnya menunjukkan bahwa orang yang nantinya mati secara kekal adalah orang yang tidak mempunyai iman yang menghasilkan perbuatan yang baik. Perbuatan baik siapa dan dari mana? Kalau dari manusia, bukankah itu sama saja dengan apa yang ditulis sebelumnya? Sebenarnya, perbuatab baik itu memang dilakukan oleh manusia tetapi berasal dari Tuhan. Manusia yang berdosa tidak mungkin menjadi orang yang bisa menghasilkan apa yang dikehendaki Tuhan; karena itu,Tuhan sendirilah yang harus memberikannya. Tuhanlah yang menumbuhkan pohon kebenaran yang berbuah dalam diri orang beriman: buah-buah Roh.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22-23

Barangkali kalau kita menulisnya dengan hitungan matematik, rumus kehidupan orang Kristen sejati adalah Tuhan + pertumbuhan rohani = kesempurnaan, atau God + growth = perfection. Mereka yang tidak bertimbuh secara rohani, bukanlah orang Kristen yang hidup secara rohani. Mereka bukan orang Kristen yang mempunyai hubungan yang baik dengan Kristus, karena setiap orang Kristen sejati tentunya sudah dikaruniai Roh Kudus yang menolong, membimbing dan menumbuhkan iman. Lalu bagaimana peranan manusia dalam hal ini? Tidak ada sama sekali? Ada!. Roh Kudus hanya mau bekerja jika orang Kristen mau menghormati dan mendengarkan serta menurut apa yang disampaikan-Nya. Roh Kudus adalah pribadi Tuhan yang perlu ditaati dan disembah. Orang yang terus menerus hidup dalam dosa akan memadamkan api atau mendukakan Roh Kudus.

Ketika Alkitab menggunakan kata “memadamkan,” Alkitab berbicara mengenai memadamkan api. Roh Kudus adalah api yang berdiam dalam diri setiap orang percaya. Dia ingin mengungkapkan diri-Nya dalam tindakan dan sikap kita. Ketika orang-percaya tidak mengizinkan karya Roh Kudus terlihat nyata dalam perbuatan mereka, atau ketika kita melakukan apa yang jelas tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, pada waktu itulah kita menekan atau “memadamkan” Roh. Kita tidak mengizinkan Roh Kudus mengungkapkan diri-Nya, dengan cara yang diinginkan-Nya dalam hidup dan perbuatan kita.

Jika kita benar-benar beriman, tidaklah mungkin bagi kita untuk tidak merasakan adanya dorongan Roh Kudus untuk mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk masa depan dengan menyempurnakan iman kita. Memang kita diselamatkan hanya karena iman, tetapi iman yang benar akan nampak dalam hidup kita di dunia sebagai hidup yang taat kepada perintah Tuhan. Hari ini kita dingatkan bahwa iman harus disertai dengan perbuatan yang seirama. Karena kita percaya bahwa kita akan hidup bersama Tuhan di surga, kita harus bisa memakai hidup kita yang sekarang ini untuk kemuliaan Tuhan.

“Janganlah padamkan Roh” 1 Tesalonika 5:19

Manusia mempunyai tanggung jawab, bukan kuasa

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Apakah Alkitab menyatakan bahwa manusia mempunyai kuasa setelah diciptakan Tuhan? Tidak. Yang ada hanyalah kewajiban. Jika manusia merasa mempunyai kuasa, ia sering tidak menyadari bahwa kuasa itu datang dari Tuhan dan milik Tuhan untuk selamanya. Ketika Adam dan Hawa mendapat tugas untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden (Kejadian 2: 15), mereka adalah suruhan Allah. Tuhan menyuruh mereka untuk menguasai atas segala hewan di bumi (Kejadian 1: 28), itu pun sebagai suruhan Allah. Bahkan mereka yang menjadi raja atau pemimpin negara, adalah orang-orang suruhanTuhan yang mendapatkan kuasa dari-Nya (Roma 13: 1). Pada pihak yang lain, Tuhan tidak mempunyai kewajiban karena Ia adalah Oknum Ilahi yang di atas segala makhluk di bumi. Ia tidak tunduk kepada siapa pun, tetapi memerintah siap saja dan apa saja menurut kehendak-Nya. Manusialah yang mempunyai kewajiban untuk tunduk kepada Tuhan dan karena itu harus bertanggung jawab sepenuhnya kepada Tuhan.

Bagi banyak orang, adanya tanggung jawab seringkali diidentikkan dengan adanya kuasa. Misalnya, seorang presiden dari sebuah negara demokrasi yang dipilih rakyat mempunyai kuasa sehingga ia memegang tanggung jawab untuk memimpin negara. Tetapi adanya kuasa adalah karena adanya mandat yang diberikan oleh rakyatnya, dan kuasa itu untuk menjalankan tugasnya.

Dalam iman Kristen, semua manusia tidak mempunyai kuasa apa pun jika Tuhan tidak mengaruniakannya. Pada phak yang lain, kewajiban adalah selalu ada pada setiap manusia, dan mereka yang merasa berkuasa pun pada akhirnya harus mempertanggung jawabkan hidup mereka di hadapan Tuhan. Karena itu, kita percaya bahwa Tuhan 100% berdaulat atas manusia dan manusia 100% bertanggung jawab kepada Tuhan atas hidupnya. Tanggung jawab tidak identik dengan kuasa.

Manusia dari awalnya memang mempunyai tanggung jawab untuk tunduk kepada kehendak Tuhan. Dengan tanggung jawab itu, mereka harus menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan dan tidak boleh melanggar larangan Tuhan. Tetapi manusia dari awalnya tidak mempunyai kekuasaan apa-apa selain apa yang datang dari Tuhan. Dari kodratnya, manusia bukanlah makhluk yang mempunyai kuasa. Manusia tidak dapat hidup tanpa Tuhan, manusia tidak dapat menjamin masa depannya, manusia tidak tahu kapan ia harus meninggalkan dunia ini.

Ketika Yesus memilih dua belas orang untuk menjadi murid-Nya, mereka diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan (Markus 3: 15; 6: 7), tetapi kuasa ini bukan milik umat Tuhan dan tidak selamanya ada pada setiap orang Kristen. Pada pihak yang lain, Yesus menjanjikan bahwa Roh Kudus akan datang kepada murid-Nya agar mereka bisa menjadi saksi-Nya di seluruh dunia. Ini juga janji-Nya kepada kita, agar kita bisa menjalankan Amanat Agung-Nya. Dengan datangnya kuasa dari Tuhan, muncul kewajiban dan tanggung jawab yang lebih besar bagi kita.

Pertanyaan yang muncul di antara umat Kristen, apakah kita masih mempunyai kebebasan setelah mendapat berbagai kewajiban dari Tuhan? Sesudah kejatuhan dalam dosa, kebebasan manusia masih ada, tetapi mereka yang tidak mengenal Tuhan selalu menggunakan kebebasannya untuk melakukan apa yang disenanginya, dan itu selalu dinodai dosa. Untuk apa yang dilakukannya, setiap manusia dituntut tanggung jawabnya oleh Tuhan. Bagi kita umat percaya, kita mempunyai kebebasan dari dosa dan karena itu dengan kebebasan kita bisa memilih apa yang terbaik untuk memuliakan Tuhan.

Dalam hal melaksanakan kewajiban, ada banyak orang Kristen yang tidak pernah bertumbuh secara rohani. Tahun demi tahun lewat, tetapi mereka tetap hidup seperti orang yang belum dewasa secara iman. Mereka mengaku Kristen karena ke gereja atau sesekali membaca Alkitab, tetapi tidak hidup menurut firman-Nya. Baik dalam kelakuan, perkataan, pikiran , dan perbuatan, mereka hampir tidak dapat dibedakan dengan mereka yang tidak mengenal Kristus. Mereka bukanlah orang Kristen yang mau bertanggung jawab atas cara hidupnya. Mereka mungkin berharap agar Roh Kudus memaksa mereka untuk taat, suatu hal yang tidak bakal terjadi.

Ada pula orang Kristen yang masih mementingkan kesuksesan duniawi dan kecewa atau kuatir jika hidup tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Mereka mungkin selalu mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Dan bahkan ada juga orang yang menggunakan firman Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi. Semua itu menunjukkan hidup yang menyalahgunakan kuasa dari Tuhan tanpa mau menjalankan kewajiban kepada Tuhan dan sesama.

Dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25: 14 – 30), tiga hamba yang sudah diberikan modal bekerja yang berlainan oleh tuan mereka, pada akhirnya harus menunjukkan laba yang sudah mereka peroleh. Kita bisa membaca bahwa mereka yang dibekali dengan lima dan dua talenta, kemudian mendapatkan penghargaan yang sesuai dengan hasil yang mereka peroleh.

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25: 23

Hamba yang ketiga hanyalah menerima satu talenta. Ia merasa kecewa dan tidak yakin akan kegunaannya. Karena itu ia tidak mengolah talenta yang sudah dipercayakan kepadanya dan hanya menyimpannya di dalam tanah. Bagi hamba ini, bukannya upah yang diterimanya, tetapi hukuman atas kemalasannya.

Sangat menarik perhatian, bahwa dalam perumpamaan itu ketiga hamba itu hanya diperintahkan untuk mengolah harta majikannya. Mereka dipercayai, diberi kuasa yang berbeda untuk memegang sejumlah uang sesuai dengan kesanggupan mereka untuk mengolahnya. Sebagai hamba, mereka tidak dijanjikan hadiah jika mereka mencapai hasil tertentu. Tetapi, tentunya setiap hamba tahu bahwa mereka harus berusaha sebaik mungkin untuk menghasilkan apa yang terbaik untuk sang majikan. Itu adalah kebebasan dan kewajiban. Kebebasan dalam Tuhan selalu berjalan bersama-sama dengan kewajiban kepada Tuhan yang berdaulat.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Sebagai orang percaya, kita tahu bahwa Tuhanlah yang sudah memberikan kita talenta, kuasa, dan kemampuan untuk bekerja, baik dalam bidang jasmani maupun rohani. Sebagai hamba Tuhan, kita hanya menjalankan perintah-Nya untuk mengembangkan apa yang sudah dititipkan-Nya kepada kita. Banyak orang yang merasa bahwa keberhasilan hanya terlihat dari benda-benda yang dapat diperolehnya. Mereka tahu bagaimana bisa mengkalim hadiah dari jerih payahnya, yaitu segala sesuatu yang bersifat jasmani dan materi. Tetapi, firman Tuhan berkata bahwa segala sesuatu, baik kemampuan jasmani ataupun rohani, adalah dari Tuhan, dan oleh Tuhan, dan kepada Tuhan. Karena itu bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Pagi ini, pertanyaan ada untuk kita. Apakah kita sudah memakai hidup kita sebagaimana mestinya? Kita harus ingat bahwa sebagai bejana tanah liat yang dibentuk-Nya, kita tidak memiliki kuasa, tetapi tanggung jawab. Jika kuasa dan kemampuan ada dalam diri kita, itu adalah karunia Tuhan, Sang Penjunan, untuk memungkinkan kita bisa bertanggung jawab atas segala yang kita lakukan dalam hidup di dunia (2 Korintus 4: 7). Patutkah kita menolak untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas hidup kita kepada Tuhan yang memiliki hidup kita?

“Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya, dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan; sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Mazmur 62: 11-12

Mengapa Tuhan mengecewakan aku?

“Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” 2 Korintus 12: 7

Jika kita jujur kepada diri kita sendiri, tentu kita harus mengaku bahwa dalam hidup ini kita sering merasa kecewa karena berbagai hal. Di antara kekecewaan yang ada, mungkin ada yang besar atau yang kecil, dan mungkin disebabkan oleh apa yang terjadi pada diri kita, orang lain, atau lingkungan.

Pernahkah anda merasa bahwa apa pun yang anda kerjakan tidak mendapat sambutan yang baik dari orang lain? Dalam cerita-cerita klasik mengenai kehidupan keluarga banyak dijumpai hal-hal semacam itu. Di luar kehidupan rumah tangga, adanya celaan orang lain juga sering terjadi. Seorang pekerja mendapat teguran dari boss nya karena membuat kesalahan adalah lumrah, tetapi jika ia dituduh melakukan kesalahan secara semena-mena, itu adalah hal yang menyakitkan. Walaupun demikian, adanya hal-hal sedemikian bukanlah sesuatu yang mengherankan.

Kekecewaan terjadi ketika apa yang kita harapkan tidak terjadi, atau jika apa yang tidak kita harapkan terjadi. Bagi orang yang percaya kepada Tuhan yang mahakasih, pertanyaan mereka mungkin bertalian dengan pikiran bahwa Tuhan seakan membuat umat-Nya kecewa. Doa yang diucapkan sejak lama misalnya, tidak kunjung terjawab; dan itu membuat manusia merasa dikecewakan. Selain itu, kekecewaan seseorang bisa terjadi karena merasa bahwa ia sudah mengecewakan orang lain, terutama yang dicintai, dan bahkan Tuhan. Memang orang Kristen yang mempuyai perasaan yang cukup peka terhadap kelakuannya, bisa merasa kecewa atas kesalahan yang diperbuatnya, bagaimanapun kecilnya,dan ini bisa membuat hidupnya menderita. Sebaliknya, orang yang tidak peka akan tingkah lakunya dan yang menggunakan kebebasannya untuk hal yang salah, sering membawa kesedihan bagi orang lain dan Tuhan.

Pada intinya, kekecewaan adalah rasa sedih karena kita terkejut dan tidak mengerti mengapa sesuatu berjalan tidak sesuai dengan kehendak kita. Kekecewaan belum tentu dosa, karena Tuhan juga sering “dikecewakan” oleh perbuatan manusia, dalam arti sedih, sekali pun Ia tahu segala yang akan terjadi dan penyebabnya. Rasa sedih Tuhan adalah karena kebodohan manusia, tetapi Ia justru mempersiapkan penyelamatan umat-Nya dari awalnya. Sebaliknya, kekecewaan manusia yang juga karena hal yang sama, bisa menjadi dosa jika manusia tidak mengakui bahwa kebodohan dan kebebasan manusia adalah penyebabnya, dan itu mungkin termasuk kebodohan dan kebebasan dirinya sendiri. Bagaimana bisa begitu?

Mereka yang tidak mengerti bahwa segala sesuatu berjalan menurut rancangan Tuhan adalah orang-orang yang bodoh. Mereka yang kecewa mungkin tidak menerima bahwa manusia mana pun adalah manusia berdosa yang dalam kebebasannya tidak mungkin melakukan apa yang baik, apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka yang kecewa adalah orang-orang bodoh yang kemudian bisa membenci Tuhan, orang lain, keadaan di sekelilingnya atau dirinya sendiri. Mereka yang kecewa bisa saja melakukan hal-hal yang lebih bodoh lagi dengan melakukan kekerasan atau kebencian kepada orang lain, lingkungan dan dirinya sendiri. Mereka yang sangat kecewa bisa saja mengutuki Tuhan. Mereka mungkin yakin bahwa Tuhan adalah pencipta kejahatan dan malapetaka di dunia. Suatu kebodohan yang serius.

Salah satu orang yang hampir kecewa adalah rasul Paulus, yang menderita karena suatu sebab. Apakah penderitaan itu adalah penderitaan fisik, spiritual atau emosional, tidaklah ada orang yang bisa memastikan. Tetapi ia jelas sangat menderita karena ia mengatakan bahwa ia mempunyai suatu “duri dalam daging”. Jika duri itu tidak mematikan tubuh jasmaninya, jelas bahwa ia merasa sakit sekali. Karena itu ia sudah berseru tiga kali untuk memohon pertolongan. Tetapi seakan Tuhan tidak mendengar. Tetapi Paulus tidak jatuh dalam kebodohan.

Tuhan memberi Paulus pengetahuan bahwa Ia sendiri sudah menyuruh utusan iblis untuk menyiksa Paulus. Bagaimana Tuhan yang mahakasih bisa membiarkan iblis untuk mengganggu Paulus mungkin adalah hal yang menakutkan bagi orang percaya. Tetapi itu bukanlah hal yang tidak mungkin, karena Ayub yang sangat taat kepada Tuhan juga mengalami penderitaan yang sangat besar ketika Tuhan mengizinkan iblis untuk menyerang Ayub (Ayub 1: 12). Tetapi Ayub bukanlah orang yang bodoh; ia mengerti bahwa Tuhan mempunyai maksud tertentu dalam semua yang dialaminya. Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih dalam semua keadaan. Tuhan tidak pernah merasa kecewa atas mereka yang taat kepada-Nya atau mengecewakan mereka.

Tahukah Paulus maksud Tuhan dengan membiarkan dirinya menderita? Mungkin saja ia pada mulanya tidak mengerti hal itu. Karena itu, Paulus memohon sampai tiga kali agar Tuhan melepaskannya dari duri itu. Jika ia mengerti apa maksud Tuhan dari mulanya, tentu Paulus sebagai rasul tidak perlu memohon kelepasan. Tetapi, melalui pergumulannya, Paulus kemudian mengerti bahwa semua itu terjadi agar ia tidak meninggikan diri. Sebagai anak Tuhan, Paulus bisa saja merasa sombong jika Tuhan selalu memberikan kenyamanan, kesuksesan dan kemakmuran kepadanya.

Jika kita mengalami penderitaan dan kekecewaan karena orang lain, karena lingkungan,  atau karena diri kita sendiri, kita harus menyadari bahwa seperti Ayub dan Paulus, kita pun pengikut Tuhan. Bagi pengikut Tuhan, penderitaan hidup yang bukan karena kesalahan kita adalah hal yang biasa. Berlawanan dengan apa yang diajarkan oleh sebagian orang Kristen, kita harus menghindari kebodohan manusia yang merasa bahwa Tuhan harus selalu melimpahkan berkat-Nya dalam bentuk apa yang enak saja. Kita juga harus berbeda pandangan dengan mereka yang mengajarkan bahwa segala kejahatan dan penderitaan datang dari Tuhan yang menetapkannya. Tetapi, kita harus yakin bahwa Tuhan yang mahakasih mempunyai rencana yang besar dalam diri setiap umat-Nya, dan melalui pergumulan hidup kita bisa menerima berkat yang besar yaitu iman, yang makin teguh kepada Dia.

“Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Ibrani 12: 7

Dari kedua ayat diatas, dapat disimpulkan jika kita melakukan sesuatu untuk kemuliaan nama Tuhan, tetapi mendapat perlakuan yang tidak baik dan bahkan dijahati orang lain atau mengalami hal-hal yang menyedihkan dalam hidup kita, kita tidak perlu berkecil hati. Memang, jika kita mau menderita demi Kristus, kita akan dimuliakan bersama Dia di surga. Masalahnya adalah dalam hidup ini, kita juga bisa menderita, dicela, difitnah dan dianiaya karena berbagai hal. Apakah ada gunanya bagi mereka mengalami penderitaan semacam itu? Jawabnya: bisa ada atau tidak ada.

Mereka yang menderita karena hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kemuliaan dan kehendak Tuhan, sudah tentu harus bisa menanggungnya sendiri. Apalagi mereka yang tidak mengenal Tuhan adalah individu-individu yang percaya bahwa mereka hidup dan bekerja untuk dirinya sendiri. Jika mereka mendapat keberhasilan, itu adalah untuk diri mereka; dengan demikian, jika mereka mendapat kegagalan, kesulitan ataupun penganiayaan, itu adalah persoalan yang harus mereka selesaikan sendiri, karena setiap manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang dipilih dan dilakukannya. Tentu saja hal ini tidak bisa mendatangkan kebahagiaan.

Sebaliknya, mereka yang percaya kepada Tuhan yakin bahwa dalam hidup mereka tidak berjalan seorang diri. Tambahan pula, segala yang dilakukan mereka adalah sesuai dengan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dan untuk kemuliaan Tuhan. Dengan demikian, jika apa yang mereka perbuat tidak mendapatkan tanggapan yang baik dari orang lain, dan mereka harus menderita karenanya, mereka tetap yakin bahwa semua itu tidak sia-sia di mata Tuhan. Umat Tuhan yang gagal dalam usaha untuk mencapai apa yang baik, harus yakin bahwa Tuhan tidak pernah kecewa atas jerih-payah mereka. Tuhan justru bisa memakai semua yang terjadi untuk kebaikan mereka.

Pagi ini, mungkin kita teringat berapa banyak kita pernah dikecewakan orang lain. Mungkin sering maksud baik kita justru membuat orang lain marah dan dendam kepada kita. Barangkali juga, kita sudah mengalami berbagai masalah kehidupan, kegagalan, peyakit, kekurangan dan sebagainya. Tetapi semua itu tidak perlu membuat kita sedih atau kecewa, jika kita memang mau hidup untuk Tuhan di setiap saat. Dalam hidup di dunia yang penuh dosa dan cacat cela ini, kita tidak perlu memiliki iman untuk memindahkan gunung, jika kita percaya bahwa Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang berdaulat atas segala apa yang terjadi dalam hidup manusia.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28