Mengapa perlu hidup suci?

Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. 2 Timotius 2: 21

Apakah ada orang yang suci di dunia? Tentu saja tidak ada, sekalipun ada orang Kristen yang saleh. Orang Kristen yang saleh, yang mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, bukanlah orang yang suci. Jadi apa yang dimaksud dengan orang yang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat? Orang yang sedemikian adalah orang yang sadar akan kehendak Tuhan yang dinyatakan dalam Alkitab agar umat-Nya menghidari hal-hal yang jahat. Mereka yang sudah mendapat Roh Kudus, seharusnya tidak mendukakan-Nya, tetapi mau mendengarkan suara-Nya yang mengingatkan mereka jika ada hal-hal yang jahat yang harus mereka hindari. Seperti itulah, kita tidak dapat memilih apa yang baik tanpa pertolongan Roh Kudus dan karena itu kita harus bersyukur karena Yesus tahu kelemahan kita.

Ayat di atas lebih lanjut menyatakan bahwa seseorang yang mau menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. Sudah tentu nasihat Paulus ini ditujukan kepada rekannya yang jauh lebih muda,Timotius, dan oran-orang percaya lainnya; dan bukan untuk orang yang belum percaya. Orang yang belum lahir baru tidak akan tahu apa kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dan tidak mengenal apa yang dipandang baik oleh Tuhan. Mereka tidak tahu bagaimana mereka bisa menjauhkan diri apa yang jahat menurut mata Tuhan.

Suatu hal yang penting kita ingat adalah bahwa orang Kristen bukan dipilih oleh Tuhan karena mereka adalah orang yang suci atau orang yang baik, terapi karena Ia mempunyai rencana untuk masa depan mereka. Jika mereka mempunyai dosa sebesar dan seburuk bagaimanapun, Tuhan akan membersihkan mereka dari dosa mereka melalui darah Kristus jika mereka bertobat. Itu bukan berarti bahwa mereka bisa menjadi sempurna selama hidup di dunia. Walaupun demikian, Tuhan menyuruh mereka yang sudah dipilih untuk menjadi bagian dari kerajaan-Nya akan bisa digunakan sebagai “perabot rumah” yang dipandang layak oleh-Nya dan disediakan untuk setiap pekerjaan-Nya yang mulia. Tuhan yang menyelamatkan, meminta mereka yang diselamatkan untuk mau menjadi apa yang berguna untuk kemuliaan-Nya.

Orang bisa saja bertanya-tanya, “Jika saya diselamatkan oleh anugerah dan semua dosa saya telah diampuni, mengapa saya harus berusaha untuk hidup suci?” Pemikiran ini bukanlah hasil dari pertobatan sejati. Pertobatan yang sejati akan menghasilkan hasrat yang lebih besar untuk menjadi taat, bukan sebaliknya. Kehendak Allah – dan kehendak kita saat kita telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus – adalah bahwa kita akan berusaha keras untuk menjadi sempurna seperti Dia. Itu harus dikerjakan dengan serius sampai saat kita meninggalkan dunia (Filipi 2: 12).

Dalam kenyataannya, ada banyak orang Kristen yang mengabaikan ajakan untuk hidup suci. Mungkin ada yang menggolongkan mereka ke dalam kelompok antinomianisme, tetapi saya tidak yakin apakah itu julukan yang tepat. Kata “antinomianisme” berasal dari dua kata Yunani, yaitu anti, yang berarti “melawan”; dan nomos, yang berarti “hukum.” Antinomianisme secara harafiah berarti “melawan hukum.” Secara teologi, antinomianisme adalah doktrin yang menyatakan kalau Allah tidak mengharuskan orang Kristen untuk taat kepada hukum moral apapun. Antinomianisme memang mengambil ajaran yang alkitabiah, namun kesimpulan yang ditarik tidaklah alkitabiah.

Orang Kristen memang tidak harus menaati Hukum Perjanjian Lama untuk dianugerahi keselamatan. Ketika Yesus Kristus mati di atas kayu salib, Dia menggenapi Hukum Perjanjian Lama (Roma 10:4) Kesimpulan yang tidak alkitabiah yang muncul: Allah tidak mengharuskan orang Kristen untuk menaati hukum moral dan etika Kristen karena sudah diselamatkan. Di zaman ini, saya kurang melihat adanya orang Kristen sejati yang dengan sengaja melanggar larangan Tuhan. Tetapi, saya melihat banyak orang Kristen yang mengabaikan ajakan Tuhan untuk berbuat baik dan melupakan adanya etika Kristen.

Rasul Paulus membahas isu antinomianisme dalam Roma 6:1-2, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Kritik yang paling sering dilontarkan terhadap doktrin keselamatan melalui “Melalui Anugerah semata-mata saja” atau ” By Grace alone” adalah: doktrin itu bisa mendorong seseorang untuk kurang peduli akan dosa dalam hidupnya. Selain itu, mungkin juga doktrin itu mendorong seseorang untuk tidak berusaha untuk menghasilkan apa yang baik untuk Tuhan dan sesama dari apa yang sudah diterimanya. Bukankah harga keselamatan sudah dilunasi Yesus?

Harus dimengerti bahwa sesudah menerima keselamatan, manusialah yang harus mau mengambil keputusan untuk hidup suci, menaati firman-Tuhan dan menjalankan semua perintah-Nya. Ini bukan untuk mempetahankan keselamatan yang sudah diterima mereka, karena keselamatan orang yang sudah terpilih tidak akan ditarik kembali oleh Tuhan yang setia. Tetapi, mereka yang benar-benar sudah menjadi orang percaya tentu akan mengerti bahwa tanda keselamatan mereka adalah adanya kerinduan untuk hidup suci karena adanya rasa syukur atas karunia keselamatan dan berbagai karunia yang lain. Mereka yang tidak mau menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, dan tidak rindu untuk berbuat baik selama hidup di dunia, mungkin saja bukan orang Kristen yang sejati. Orang Kristen yang sejati selalu ingin menjadi murid Yesus yang bisa dipakai-Nya untuk melebarkan kerajaan-Nya dan membawa kemuliaan bagi-Nya baik dalam hal yang besar maupun yang kecil (Matius 25: 14-30).

Bagaimana seseorang bisa menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat agar menjadi “perabot yang mulia”? Umat Kristen dapat menjauhkan diri dari apa yang dilarang Tuhan, dan menjalankan apa yang dikehendaki Tuhan. Dalam Alkitab ada banyak kata “janganlah” dan “hendaklah” dan kata-kata lain yang mengandung arti yang serupa. Dalam bahasa Inggris, kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan bisa digolongkan dalam dua grup, yaitu: “DO NOT” dan “DO”, yaitu “JANGAN LAKUKAN” dan “LAKUKAN”. Keduanya adalah kehendak Tuhan yang ada dalam Alkitab, dan untuk semua itu orang Kristen tidak dapat berlagak tidak tahu. Adalah ironi jika orang Kristen sering ingin mengetahui apa kehendak Tuhan pada masa depan sekalipun itu belum dinyatakan, tetapi mereka justru sering mengabaikan apa yang sudah dinyatakan.

Kembali ke soal “perabot yang mulia”, bagaimana kita bisa menyucikan diri kita dari hal-hal yang jahat? Dalam Alkitab, rasul Paulus pernah menasihati Timotius dan rekan-rekannya mengenai apa yang tidak patut dikerjakan oleh hamba Tuhan (semua orang Kristen sebenarnya adalah budak Tuhan):

“…sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran.” 2 Timotius 2: 24-25

Selanjutnya, rasul Paulus juga menulis kepada Titus mengenai syarat-syarat bagi penatua dan penilik jemaat (yaitu perabot yang mulia):

“Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya. Karena sudah banyak orang hidup tidak tertib, terutama di antara mereka yang berpegang pada hukum sunat. Dengan omongan yang sia-sia mereka menyesatkan pikiran. Orang-orang semacam itu harus ditutup mulutnya, karena mereka mengacau banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung yang memalukan.” Titus 1: 5-9

Selain dari itu, rasul Petrus menulis mengenai tanggung jawab manusia kepada Tuhan:

“Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa , supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang. Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu. Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” Petrus 4:1-4

Hari ini, firman Tuhan menyatakan bahwa sebagai orang Kristen kita adalah orang yang sudah mendapat karunia terbesar, yaitu penebusan Kristus. Kita dengan demikian patutlah dengan rendah hati menyatakan kemauan kita untuk menjadi budak-Nya yang berguna dan berusaha untuk hidup sesuai dengan perintan-Nya. Satu hal yang jelas adalah bahwa kita sudah dimampukan untuk menjadi perabot yang mulia, dan karena itu tidak boleh menyombongkan hidup kita. Pasa pihak yang lain, tidak ada alasan bagi kita yang mengaku Kristen sejati, untuk tidak membiarkan Roh Kudus memimpin kita untuk mengubah hidup kita. Kita harus ingat bahwa setiap manusia harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Hanya orang Kristen sejati yang akan mendapat pengampunan oleh darah Kristus.

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17: 10

Kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia

Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: ”Apa yang Kaubuat?” Daniel 4: 35

Ada dua ekstrem dalam pandangan seseorang tentang Tuhan dan dunia, yang harus dihindari. Salah satunya adalah determinisme, yang mengajarkan bahwa Tuhan menentukan segala-galanya sehingga tanggung jawab manusia ditinggalkan. Pandangan ekstrem lainnya adalah kehendak bebas total di mana manusia dijadikan penguasa atas nasibnya sendiri dan Tuhan dianggap tidak ikut campur dalam hidup manusia. Kedua ekstrem ini lazim dewasa ini di lingkungan sekuler, spritual, dan juga Kristen.

Ketika kita mengatakan bahwa Tuhan berdaulat, yang kita maksudkan adalah bahwa tidak ada hukum atau deskripsi apa pun di mana pun di alam semesta ini yang dapat memaksa atau memaksa Tuhan untuk melakukan apa pun yang tidak dikehendaki-Nya. Kita bisa menyimpulkan dari ayat di atas bahwa Allah memiliki kendali dan otoritas atas apa pun atau siapa pun tanpa batasan.

Tanggung jawab manusia yang dibahas di sini adalah bahwa manusia dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan untuk mentaati Tuhan melalui kehendak manusia. Manusia diharuskan membuat pilihan dalam hidup ini yaitu antara kebaikan atau kejahatan. Tetapi, dalam dosanya manusia tidak akan dapat memilih apa yang sesuai dengan kehendak Allah. Allah yang sudah menyediakan keselamatan bagi orang yang percaya, memungkinkan manusia untuk memilih apa yang baik. Tetapi, manusia tetap sepenuhnya bertanggung jawab atas hidupnya setelah diselamatkan. Jadi bertanggung jawab di sini bukan suatu kemampuan manusia, tetapi suatu tuntutan dari Tuhan.

Alkitab mengajarkan kedaulatan ilahi dan tanggung jawab manusia. Ini adalah kedua kebenaran yang nyata meskipun kita mungkin tidak mengerti bagaimana keduanya bekerja pada waktu yang sama. Rencana dan tujuan Tuhan akan terjadi karena Dia adalah Pencipta, namun manusia bertanggung jawab sebagai makhluk. Kita harus percaya bahwa Alkitab mengajarkan bahwa manusia adalah agen moral yang bertanggung jawab. Meskipun hidupnya dikendalikan secara ilahi; dan manusia ada dalam kontrol Tuhan, ia juga merupakan agen moral yang bertanggung jawab. Inilah sesuatu yang nampak sebagai misteri bagi kita: kedaulatan Tuhan adalah kenyataan, dan tanggung jawab manusia adalah kenyataan juga.

Entah bagaimana kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia bisa berada bersama. Ini hanya masalah bagi manusia karena ia terbatas, mencoba memahami pemikiran dan cara kerja Tuhan yang tidak terbatas. Begitu manusia berpikir bahwa dia dapat memahami Tuhan, maka dia sama sekali tidak memahami Tuhan, karena ada beberapa misteri yang diserahkan kepada Tuhan saja (Yesaya 55:8). Jika Tuhan dapat kita pahami secara mendalam dan jika wahyu tentang diri-Nya tidak mengandung misteri apa pun, kita akan menjadikan Tuhan menurut gambar manusia, dan itu tidak sesuai dengan Alkitab sama sekali.

Sekarang, jika kita menyatakan bahwa manusia begitu bebas untuk bertindak sehingga tidak ada kendali Tuhan atas tindakan kita, pandangan kita akan sangat mirip dengan ateisme. Di sisi lain, jika kita menyatakan bahwa Tuhan begitu menguasai segala sesuatu sehingga manusia tidak cukup bebas untuk bertanggung jawab, kita akan terdorong ke dalam Antinomianisme dan fatalisme. Bahwa Tuhan menentukan, namun manusia yang bertanggung jawab, adalah dua fakta yang seharusnya dapat kita lihat. Sebagian orang Kristen menyatakan itu tidak konsisten dan kontradiktif; tapi itu sebenarnya selaras.

Di satu sisi, jika kita gagal untuk mengakui adanya tanggung jawab manusia, kita cenderung memiliki sikap pasarah. Karena itu, mereka yang memegang prinsip kedaulatan penuh Tuhan sering kali dicap percaya pada nasib. Mereka dianggap mempunyai Tuhan yang seperti “monster”. Di sisi lain, jika kita gagal untuk mengakui kedaulatan penuh Tuhan, kita telah menyangkal kemahakuasaan Tuhan. Dengan demikian, secara praktis ini adalah suatu bentuk ateisme, karena Tuhan dianggap seperti manusia. Tuhan berdaulat di dalam dan di atas segala sesuatu atau Dia bukan Tuhan!

Bagaimata kedua hal di atas bisa menyebabkan friksi di antara umat Kristen? Kesalahannya ada pada penilaian kita yang lemah. Dua kebenaran tidak bisa saling bertentangan. Jika kita menemukan ayat di salah satu bagian dari Alkitab yang menyatakan bahwa segala sesuatu ditetapkan Tuhan sebelumnya, itu benar; dan jika kita menemukan, dalam ayat lain, bahwa manusia bertanggung jawab atas semua tindakannya, itu pun benar. Dengan demikian, hanya kebodohan kita yang membuat kita membayangkan bahwa kedua kebenaran ini dapat saling bertentangan.

Kedua kebenaran ini menghadirkan misteri atau paradoks bagi pikiran manusia. Ini sebenarnya merupakan antinomi dari dua kebenaran yang sama yang tidak dapat didamaikan dengan pikiran manusia. Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah 100% berdaulat dan bahwa manusia 100% bertanggung jawab atas tindakannya.

Kebanyakan orang Kristen bersedia untuk mengakui kedaulatan Tuhan di setiap bidang kecuali kehendak manusia yang berkaitan dengan keselamatan. Mereka merasa bahwa manusia benar-benar bebas memilih untuk mendukung atau melawan Tuhan. Mereka yang menganut pandangan ini tidak melihat bahwa kehendak manusia adalah untuk bebas dan menjadi budak dosa; dan karena itu, mereka juga tidak menerima misteri kedaulatan ilahi dan tanggung jawab manusia.

Manusia bebas dan bertanggung jawab kepada Tuhan sebelum Kejatuhan. Sejak dosa memasuki umat manusia, manusia masih bertanggung jawab kepada Tuhan tetapi telah kehilangan kemampuannya untuk memilih Tuhan, karena kehendaknya adalah budak dari kodratnya sendiri. Dosa telah membuat manusia tidak dapat memilih apa yang suci dan benar, tetapi ia tetap harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Ketidakmampuan tidak membatalkan tanggung jawab. Justru karena itulah Allah dalam kasih karunia harus bergerak untuk memampukan orang berdosa untuk percaya kepada Tuhan dan kemudian menyadari tanggung jawabnya di dunia.

Dalam Kisah Para Rasul 27:22 Allah memberitahukan bahwa Ia telah menetapkan pemeliharaan sementara bagi semua orang yang menyertai Paulus di dalam kapal; namun Paulus tidak ragu-ragu mengatakan, “jika kamu tidak tinggal di dalam kapal, kamu tidak dapat diselamatkan” (ay. 31); Allah menetapkan sarana itu untuk melaksanakan apa yang telah Dia tetapkan.

Dari 2 Raja-raja 20 kita belajar bahwa Tuhan benar-benar memutuskan untuk menambahkan lima belas tahun pada kehidupan Hizkia—namun ia harus mengambil sebongkah buah ara dan meletakkannya di atas bisulnya yang mematikan!

Paulus tahu bahwa dia selamanya aman di tangan Kristus (Yohanes 10:28)—namun dia “menjaga tubuhnya tetap terkendali” (1 Korintus 9:26). Rasul Yohanes meyakinkan mereka yang kepadanya dia menulis, “Kamu akan tinggal di dalam Dia”—namun dalam ayat berikutnya dia menasihati mereka, “Dan sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Dia” (1 Yohanes 2:27, 28).

Hari ini kita diperingatkan bahwa hanya dengan memperhatikan prinsip penting ini – bahwa kita bertanggung jawab untuk menggunakan hidup kita sesuai dengan kehendak Tuhan – kita akan dimampukan untuk menjaga pengertian yang benar antara kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia, dan diselamatkan dari fatalisme yang melumpuhkan!

Dapatkah kita menggagalkan rencana Allah?

Kauberikan tempat lapang untuk langkahku, dan mata kakiku tidak goyah. Mazmur 18: 36

Setiap orang Kristen tentunya percaya bahwa Tuhan adalah mahakuasa. Apa yng dikehendaki Tuhan pasti terjadi. Walaupun demikian, ada dua pertanyaan yang sulit dijawab: (1) Apakah kehendak Tuhan meniadakan kehendak manusia sedemikian rupa sehingga apa yang dilakukan manusia adalah sia-sia? (2) Jika manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang dilakukan mereka selama hidup di dubnia, bagaiman itu tidak akan menggangu rencana dan kehendak Tuhan? Dalam hal ini, tentenya ada orang Kristen yang tidak mau memikirkan kedua hal ini karena percaya bahwa Tuhan sudah menentukan setiap tindakan kita sekecil bagaimanapun, sebab semua perbuatan kita, baik itu apa yang benar ataupun dosa, adalah ditetapkan oleh Tuhan dari awalnya.

Sehubungan dengan pertanyaan (1), kita mungkin takut Tuhan memiliki konsekuensi serius yang tersembunyi di balik pintu tertentu jika kita memilih untuk membukanya. Kita takut dia akan menghukum kitai karena membuat pilihan yang salah. Pada pihak yang lain, bertalian dengan pertanyaan (2), saya pikir banyak dari kita membayangkan kehidupan Kristen seperti berjalan di atas tali yang tegang. Kita terus-menerus dalam bahaya jatuh dari kehendak Tuhan. Setiap gerakan tiba-tiba atau salah belokan bisa membuat kita jatuh dan itu bisa mengganggu atau menghancurkan rencanaTuhan untuk kita.

Semua pertanyaan ini berasal dari keinginan untuk menjalani hidup kita dari perspektif Tuhan daripada perspektif kita sendiri yang terbatas. Kita ingin mengetahui seluruh rencana-Nya untuk hidup kita, dari saat kelahiran sampai saat kematian. Kita memusatkan pikiran kita pada kehendak Tuhan yang belum dinyatakan, lebih dari melaksanakan kehendak-Nya yang sudah dinyatakan dalam Alkitab. Kita mungkin ingin membaca buku Tuhan, di mana setiap hari kehidupan kita dicatat dengan sangat rinci bahkan sebelum hari itu terjadi (Mazmur 139:16). Dengan kata lain, kita ingin menjadi mahatahu – dan ini tentu saja tidak mungkin bisa terjadi. Sebenarnya, adalah baik bahwa Tuhan telah memberi kita daya pikir dan pengetahuan yang terbatas tentang masa depan kita, karena itu memungkinkan kita untuk mau memohon belas kasihan dan kasih karunia-Nya.

Sebenarnua, kehidupan Kristen bukanlah sebuah tali tegang. Hidup adalah seperti padang rumput yang sangat luas dan mempunyai toleransi besar. Ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan memberi kita tempat lapang untuk berjalan dan kita tidak mungkin jatuh secara tiba-tiba dan tanpa alasan. Dalam bidang kehidupan apa pun, kita mengatakan sesuatu mempunai toleransi jika itu masih bisa menerima adanya ketidakcocokan, kesulitan, kesalahan, atau kegagalan.

Kehendak Tuhan juga, dalam arti tertentu, mempunyai kesabaran dalam arti menanti dan mengampuni. Tuhan tidak menetapkan untuk berjalan di atas sebuah tali yang tegang. Dia telah memberi kita tempat yang luas untuk berjalan, tempat di mana kita mengambil langkah dengan percaya diri atas adanya Tuhan yang mengawasi apa yang kita lakukan. Apa yang membuat kita tetap pada jalur-Nya bukanlah kemampuan kita untuk membaca pikiran Tuhan, tetapi kemampuan-Nya untuk menggembalakan kita meskipun usaha kita lemah dan kita sering tersesat ketika memilih padang rumput yang nampaknya hijau di mata kita.

Kita menjalankan kebebasan Kristen dalam keluasan rahmat-Nya (Galatia 5:1). Kita hidup dalam hikmat Kristen di bawah pengawasan kasih karunia-Nya. Dosa-dosa kita tidak dapat menggagalkan rencana-Nya. Keputusan kita yang buruk tidak dapat mengubah tujuan kita yang sudah ditetapkan Tuhan. Pada saat-saat itu, Dia telah menetapkan pengampunan-Nya untuk membuat kita tetap bisa kembali ke jalan yang benar. Kita semua adalah domba yang mudah tersesat (Yesaya 53:6), dan domba cenderung mengembara jika tidak berhati-hati. Belas kasihan dan kasih karunia Kristus bukanlah izin untuk berbuat dosa atau mengejar keinginan egois kita sendiri. Sebagai kawanan domba Allah, kita harus berjalan melalui tempat yang luas mengikuti suara Gembala kita (Yohanes 10:27).

Jika ada banyak orang Kristen yang resah tentang kehendak Tuhan bagi hidup mereka, itu karena kurang mengerti apa yang difirmankan Tuhan. Mereka tidak tahu apa kehendak Tuhan, dan ingin meyakinkan diri bahwa semua yang terjadi adalah kehendak-Nya. Memang itu adalah cara yang mudah untuk menghindari tanggung jawab. Sebagai umat Tuhan kita harus menyadari bahwa sekalipun Tuhan 100% berdaulat, kita 100% bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan dalam hidup.

Mereka yang sadar akan tanggung jawab mereka, mengerti bahwa sebagai domba mereka harus berjalan sendiri untuk merumput, tetapi selama Gembala ada di dekat mereka, mereka tidak perlu merasa takut. Mereka akan sampai ke tempat tujuan yang sudah ditetapkan Sang Gembala. Selama hidup di dunia, mereka hanya harus mau mendengar suara Gembala dalam Firman-Nya. Mereka tidak boleh mengasingkan diri dari kawanannya (Amsal 18:1). Jangan takut, domba kecil. Tidak ada keputusan yang dapat Anda buat yang dapat merenggut Anda dari tangan Kristus yang mahakuasa!

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.”Yohanes 10 :27-30

Apakah keselamatan kita bisa hilang?

“Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak” 2 Yohanes 1: 8-9

Pertanyaan umum bagi banyak orang Kristen adalah, “Dapatkah saya kehilangan keselamatan saya?” Kemungkinan jawabannya tentu hanya dua: ya atau tidak. Dalam hal ini, saya telah mendengar kedua sisi argumen dan percaya bahwa hanya Tuhan yang benar-benar tahu jawabnya. Alasan terjadinya perdebatan antar umat Kristen adalah karena Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah dari Tuhan yang tidak dapat diperoleh manusia dengan usahanya sendiri, tetapi Alkitab juga memberikan peringatan tentang adanya kemurtadan. Adalah lumrah jika ada ketegangan yang sehat antara kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia. Tetapi, isu ini juga sering menimbulkan perpecahan gereja, elitisme golongan, atau superioritas teologi.

Satu aliran pemikiran menyarankan bahwa keselamatan tidak bisa hilang, seperti kehilangan kunci mobil Anda. Kunci mobil bisa terjatuh atau diambil orang lain, tetapi keselamatan adalah suatu keadaan yang diciptakan Tuhan untuk seseorang dan milik Tuhan. Bagaimana itu bisa hilang atau dicuri? Walaupun demikian, keselamatan bisa ditinggalkan manusia, seperti menjauh darinya. Ini mungkin mengapa Yesus berbicara tentang orang yang berkata dalam hatinya “tuanku menunda kedatangan-Nya; oleh karena itu, saya akan berbalik dari menjalani kehidupan yang saleh”. Ketika tuannya kembali secara tidak terduga, pelayan itu dibuang karena dia memilih untuk berbalik dari apa yang dia tahu benar (Matius 24: 48-51).

Aliran pemikiran yang lain menyarankan bahwa beberapa perikop berhubungan dengan orang-orang yang tidak pernah sepenuhnya berserah kepada Kristus. Akibatnya, mereka jatuh. Mereka mendengar Injil, tetapi tidak pernah sepenuhnya memeluknya dan berbalik dari dosa-dosa mereka; mereka hanya memiliki pengetahuan “intelektual” tentang keselamatan. Menurut pandangan ini, pertanyaan sebenarnya bukanlah, “Dapatkah seseorang kehilangan keselamatannya?” tetapi, “Apakah orang itu benar-benar diselamatkan sejak awal?” Titus 1:16 dan Yakobus 2:14 keduanya menyimpulkan bahwa banyak orang “mengatakan” bahwa mereka mengenal Tuhan, dan bahkan mengajak orang lain untuk mengenal Dia, tetapi menyangkal Dia dengan gaya hidup mereka sehari-hari.

Suatu pemikiran yang sempat menghantui saya adalah mengenai hubungan kesehatan jasmani dan keselamatan rohani. Jika kita harus menjaga keselamatan kita, apa yang terjadi jika Alzheimer atau penyakit lain yang melemahkan pikiran muncul dan mulai memutarbalikkan, merusak, dan mencemari pemikiran kita? Apakah semuanya hilang, atau kita disatukan karena kita adalah anak Allah? Pulus menulis:

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8:38-39

Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari Tuhan, tetapi kita tidak boleh mengabaikan peringatan keras tentang berbalik dari-Nya. Keselamatan kita dijamin berdasarkan jaminan yang ditemukan dalam Kitab Suci, tetapi kita juga harus “mengerjakan keselamatan kita sendiri dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12).

Mereka yang percaya bahwa kita dapat kehilangan keselamatan seharusnya tidak menolak mereka yang percaya pada keselamatan yang kekal. Ungkapan “sekali diselamatkan selalu diselamatkan” sama sekali bukan izin untuk berbuat dosa – itu adalah kepercayaan pada jaminan sepihak dari Tuhan. Tetapi di sisi lain, mereka yang yakin akan keselamatan yang tidak bisa hilang tidak boleh mengejek mereka yang tidak setuju. Mereka harus menunjukkan keyakinan iman mereka dengan cara hidup yang baik, yang membuktikan respons positif mereka terhadap karunia keselamatan yang sudah dikaruniakan Tuhan.

Jadi saya tidak percaya seseorang dapat “kehilangan” keselamatan mereka sendiri. Dari sudut Tuhan, Tuhan yang merupakan sumber keselamatan tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun atau apa pun. Memang benar bahwa tidak ada yang bisa “merebut saya dari tangan Bapa saya”. Saya juga percaya bahwa hanya kasih karunia Tuhan yang bisa menyelamatkan manusia. Pengampunan dosa-dosa saya yang menjembatani kesenjangan untuk berkenan kepada Allah untuk kekekalan hanya bergantung pada karya Kristus yang telah selesai di bukit Kalvari melalui darah-Nya.

Walaupun keselamatan adalah anugerah Tuhan, kita juga memiliki bagian dalam rencana keselamatan-Nya, yaitu tanggung jawab untuk merespons, itulah langkah pertama dari keyakinan yang menyelamatkan jiwa. Dan lebih dari itu, kits memiliki tanggung jawab untuk tetap setia sampai akhir, mengatahkan kehendak saya melalui bimbingan Roh Kudus untuk mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, ditunjukkan dengan ketaatan (Yohanes 14:21), dan untuk tetap dalam persekutuan yang berkesinambungan dengan-Nya.

Keseimbangan kasih karunia Tuhan dan respons manusia tampaknya seperti dua rel kereta yang tidak dapat dipisahkan dalam menuju satu tujuan. Memang, Tuhan 100% berdaulat dalam segala rancangan-Nya, tetapi manusia harus100% bertanggungjawab apa yang dilakukannya. Tuhan dalam kedaulatan-Nya tidak memaksa manusia untuk taat kepada-Nya. Sementara Tuhan tidak akan meninggalkan kita, kita dapat memilih secara sepihak untuk mengakhiri perjanjian kita dengan Dia. Itu terjadi jika kita terus menerus mengabaikan suara Roh Kudus (Efesus 4: 30).

“Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita.” 2 Timotius 2: 12

Jika kita telah benar-benar menaruh kepercayaan kita kepada Kristus untuk pengampunan dosa-dosa kita untuk menerima karunia hidup kekal secara cuma-cuma, kita sekarang memiliki tanggung jawab pribadi untuk menaati firman-Nya. Kita tidak dapat secara tidak sengaja atau tiba-tiba “kehilangan” keselamatan kita, tetapi kita dapat menolaknya dengan melalui proses yang berlangsung terus-menerus mengabaikan Tuhan atau menolak untuk menaati-Nya. Seperti Esau, kita dapat menukar hak kesulungan kita sebagai anak Tuhan dengan kenikmatan duniawi. Tuhan tidak akan menceraikan kita, tetapi kita dapat meninggalkan Dia. Dia tidak akan mendiskualifikasi kita, tetapi kita akan mendiskualifikasi diri kita sendiri dengan pemberontakan tanpa iman dan ketidakpercayaan yang jelas, seperti yang ditunjukkan oleh cara kita menjalani hidup di dunia. Kemurtadan itulah yang disebut sebagai apostasis, kemurtadan yang tetap ada sampai seseorang meninggalkan dunia ini.

Jadi bagaimana kita tahu jika kita pasti diselamatkan? “Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.” (3 Yohanes 1:11). Begitu pula orang yang mengerti apa yang baik menurut firman Tuhan harus mau melakukannya (Yakobus 4: 17). Semuanya bergantung pada bagaimana kita menyadari adanya interaksi karunia Tuhan yang ajaib dari respons kita. Dan respons kita ini adalah gambaran indah dari cinta yang sedang beraksi. Kita dapat memilih untuk menerima anugerah Tuhan karena kita dicintai dan diinginkan Tuhan. Kita dapat memilih untuk merespons dengan baik jika kita memang mengasihi Tuhan dan berhasrat untuk menjadi hamba-Nya.

Jelas bahwa pertanyaan apakah seseorang dapat kehilangan keselamatannya bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Itu menyentuh kita pada inti kehidupan Kristen kita, tidak hanya berkenaan dengan kepedulian kita terhadap ketekunan kita sendiri, tetapi juga sehubungan dengan kepedulian kita terhadap keluarga dan teman-teman kita, khususnya mereka yang tampaknya, dari semua penampilan luar, telah membuat pengakuan iman yang sejati. Kita mungkin berpikir bahwa pengakuan percaya mereka terlihat kredibel, kita kemudian memeluk mereka sebagai saudara atau saudari seiman, hanya untuk melihat bahwa mereka menyangkal iman itu dalam keseganan mereka untuk melaksanakan firman Tuhan dalam hidup mereka.

Apa yang bisa kita lakukan, secara praktis, dalam situasi seperti itu? Pertama, kita berdoa untuk mereka dan kemudian, kita menunggu. Kita tidak tahu hasil akhir dari situasi ini, dan saya yakin akan ada kejutan ketika kita sampai di surga. Kit akan terkejut melihat orang-orang di sana yang kita pikir tidak akan ada, dan kita akan terkejut bahwa kita tidak melihat orang-orang di sana yang kita yakini akan ada di sana, karena kita tidak mengetahui isi hati manusia atau jiwa manusia.

Hanya Tuhan yang dapat melihat jiwa seseorang, mengubah, dan memeliharanya. Itu adalah kedaulatan-Nya yang tidak dapat diganggu gugat. Dengan demikian, pengetahuan akan bisa hilang atau tidaknya keselamatan itu bukanlah hal yang utama; tetapi, adalah lebih penting bagi kita untuk hidup sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan, orang-orang kudus, selama hidup di dunia. Itu adalah kehendak Tuhan bagi umat-Nya, dan hanya umat-Nya yang diberi kemampuan untuk melaksanakannya.

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 26-27

Apa yang anda kerjakan setelah menjadi budak Tuhan?

“Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Roma 6: 17-18

Tahukah Anda bahwa kata “hamba” muncul lebih dari 150 kali dalam Perjanjian Baru? Itu seharusnya tidak mengejutkan karena diperkirakan ada sekitar satu dari empat orang di Kekaisaran Romawi adalah budak, tetapi kata “budak” hanya muncul sekitar 10 kali. Mengapa? Para penerjemah tidak terlalu menyukai kata “budak” karena konotasi yang dibawa oleh kata tersebut. Mereka lebih menyukai kata “hamba” daripada “budak”.

Untuk beberapa alasan, kata Yunani “doulos” yang berarti “budak”, diterjemahkan (salah menerjemahkannya) menjadi “hamba”, sekalipun ada perbedaan besar antara menjadi budak dan menjadi hamba. Seorang hamba bekerja untuk tuannya dan kemudian pulang kerumahnya sendiri. Tuannya membayar hamba untuk pekerjaan mereka, tetapi seorang budak tidak dibayar. Budak tidak punya hak. Mereka bukan milik sendiri. Walaupun demikian, seorang budak sering kali menjadi bagian dari keluarga dan ia tidak perlu khawatir dari mana datangnya makanan, di mana mereka akan tidur di malam hari, dan tidak perlu memikirkan berapa harga sewa rumah atau biaya rumah tangga. Karena itu budak lebih dari hamba sebab mereka adalah bagian dari keluarga. Begitulah hubungan antara sebagian besar budak dan tuan di abad pertama.

Anda tidak akan berpikir bahwa tuan dari budak akan mencintai mereka sebagai salah satu dari mereka sendiri, tetapi memang, mereka adalah bagian dari keluarga. Salah satu contohnya adalah ketika seorang perwira Romawi mengirim seorang pria kepada Yesus untuk membantunya menyembuhkan hamba atau budaknya. Jelas bahwa budak disayangi tuannya lebih dari hamba mana pun, oleh karena itu menjadi budak Kristus adalah lebih baik dari sekedar menjadi hamba atau pelayan. Seorang hamba tidak benar-benar sadar akan sifat dan kehendak tuannya, lain halnya dengan budak yang selalu tinggal bersamanya. Budak lebih dari sekadar properti, tetapi, dalam banyak kasus, mereka dianggap sebagai bagian dari keluarga. Itulah alasan mengapa kita harus percaya bahwa kita adaah budak Kristus dan bukan sekadar hamba-Nya. Dia memiliki kita sepenuhnya!

Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Roma 6: 22

Apa artinya menjadi hamba Kristus yang tinggal bersama Kristus seperti budak yang dulu tinggal atau hidup dengan tuannya? Artinya kita secara sadar menyerahkan kehendak kita kepada kehendak-Nya. Artinya kita tidak memiliki apa-apa kecuali apa yang telah diberikan-Nya kepada kita (1 Kor 4:7). Artinya kita adalah milik-Nya. Bukannya kita yang memilih Dia, tetapi Dia yang memilih kita. Budak berada pada kehendak pemilik dan tidak mengendalikan hidup mereka sendiri. Tetapi budak dengan sadar mau bekerja untuk tuannya.

Satu hal yang baik tentang menjadi budak Kristus adalah bahwa kita tidak lagi menjadi budak dosa atau perbudakan dosa karena sudah dibeli dengan darah Kristus. Bagaimanapun, kita telah mati dalam dosa-dosa kita, bahkan tanpa menyadarinya (Efesus 2:1-2). Inilah sebabnya mengapa kita harus mati untuk diri kita sendiri dan hidup untuk Kristus. Kita hidup untuk Dia karena kita dimiliki oleh-Nya dan apa pun yang Dia inginkan harus menjadi apa pun yang kita inginkan dan lakukan dengan kesadaran bahwa itu adalah baik adanya. Itu karena seorang budak mengenal tuannya lebih baik daripada seorang hamba atau pelayan dan ganjaran untuk seorang budak jauh lebih besar dari sekedar menjadi seorang pelayan.

Salah satu kesalahpahaman tentang hal menjadi budak Tuhan bisa terjadi karena adanya orang Kristen merasa menjadi milik Tuhan tanpa keharusan untuk hidup bagi kemuliaan Tuhan. Ini bisa terlihat orang-orang Kristen duniawi” yang percaya bahwa karena mereka aman selamanya, mereka dapat menjalani gaya hidup tidak bermoral apa pun yang mereka inginkan dan tetap diselamatkan.

Tapi itu adalah kesalahpahaman dari apa yang Alkitab ajarkan. Seseorang yang percaya bahwa dia dapat hidup dengan cara apa pun yang dia inginkan karena dia telah mengakui Kristus tidak menunjukkan iman yang menyelamatkan yang sejati (1 Yohanes 2:3-4). Ketika seseorang diselamatkan, Roh Kudus melepaskan dia dari perbudakan dosa, dan memberinya hati yang baru dan keinginan untuk mencari kekudusan. Oleh karena itu, seorang Kristen sejati akan selalu berhasrat untuk taat kepada Allah dan akan diinsafkan oleh Roh Kudus ketika ia berbuat dosa. Orang Kristen sejati tidak akan pernah “hidup semaunya” karena perilaku seperti itu tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang telah diberi natur baru sebagai budak Kristus (2 Korintus 5:17).

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan apa yang baik, yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tidak boleh lupa bahwa sekalipun kita sudah dianggap sebagai anggota keluarga Tuhan, kita adalah budak-Nya yang harus melakukan apa yang disenangi-Nya. Tuhan kita adalah mahabaik dan mahasuci, karena itu kita harus berusaha untuk hidup baik dan hidup dalam kesucian. Diperlakukan sebagai anggota keluarga, kita sudah diberi pengertian akan apa yang baik dan apa yang buruk, dan karena itu harus melakukan apa yang baik. Tidak ada alasan bagi kita untuk membebaskan diri kita dari melaksanakan kehendak-Nya, sekalipun kita adalah orang-orang yang sudah dipilih-Nya.

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4:17

Menyerah adalah kata kerja aktif

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. 1 Petrus 5: 7

Benarkah “menyerah” adalah kata kerja aktif? Cara yang paling mudah untuk memahami pengertian kata kerja aktif dan pasif adalah dengan melihat imbuhannya. Kata kerja aktif umumnya memiliki fungsi sebagai pelaku atau subjek yang mendapatkan imbuhan me- atau ber-. Sedangkan, kata kerja pasif biasanya berfungsi sebagai pelaku atau subjek yang diberi imbuhan di- atau ter-. Kata kerja aktif memiliki subjek yang berposisi sebagai pelaku atau pihak yang melakukan.

Menyerah adalah kata kerja aktif yang mempunyai konotasi negatif. Menyerah berarti menjadi lemah. Anda menyerah ketika tidak memiliki keinginan lagi untuk bertarung, ketika anda kekurangan kekuatan, ketika anda kurang percaya. Menyerah bisa tampak seperti cacat karakter, terutama di dunia bisnis dan politik di mana orang ingin menang dengan cara apa pun. Jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah. Bertahan, melawan, berjuang. Begitu anjuran para influencer.

Tetapi sebenarnya menyerah tidak selalu tentang kekalahan, atau kelemahan, atau kepasifan. Tindakan pasrah, menyerah, bisa menjadi tindakan membuka diri, penerimaan. Itu bisa seberani dan sebesar kemenangan apa pun. Ayat di atas menyiratkan penyerahan orang Kristen kepada Tuhan yang memelihara mereka. Penyerahan ini adalah tindakan yang aktif, yang menunjukkan keberanian untuk berjuang, tapi juga kemauan untuk bergantung kepada Tuhan. Bukan karena hilang harapan, tetapi adalah siasat orang Kristen dalam menghadapi perang kehidupan.

Ini adalah paradoks. Tuhan berdaulat, tetapi manusia bertanggung jawab atas hidupnya. Salah satu bagian kehidupan adalah berjuang, sedang pada bagian yang lain manusia menyerahkan kekuatirannya kepada Tuhan. Terkadang kita harus melepaskan kekuatan kita untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar. Dan itu pada gilirannya mengubah pandangan kita terhadap kekuatan kita dan keinginan untuk menang. Dengan kata lain, penyerahan diri menjadi tindakan yang radikal dan transformatif. Sebuah redefinisi ego dan kemauan dan kesuksesan. Menyerah menciptakan ruang keberadaan baru bagi manusia yang terbatas, tetapi yang mempunyai Tuhan.

Ketika kita menyerahkan diri pada Tuhan, kita membiarkan diri kita melunak. Menyerah mengundang kita untuk menyerahkan diri kita kepada Tuhan yang mahabesar, untuk berbaur dengan keheranan dan kekaguman. Menyerah menciptakan keintiman dan kebebasan pada saat yang sama. Ini memicu rasa ingin tahu, eksplorasi, atas apa yang dikehendaki Tuhan. Kita menyerah mencoba untuk mengubah dan mengendalikan hal-hal yang di luar kemampuan kita. Kita menyerah karena tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan mahakasih.

Bayangkan apa yang akan berubah jika Kita membiarkan diri kita menyerah dalam percakapan dengan orang lain. Bagaimana jika anda berkomitmen untuk mendengarkan, membiarkan kata-kata dan semangat orang lain bangkit dan membuat fokus pembicaraan berubah dari sudut pandang anda, kebutuhan anda. Bagaimana jika anda memutuskan untuk tidak mencoba memenangkan argumen berikutnya yang anda hadapi? Bagaimana jika anda memutuskan untuk tidak menjadikan diri anda pusat pembicaraan antara anda dan Tuhan?

Hari ini, dalam menghadapi perjuangan hidup, kita harus sadar bahwa Tuhan adalah pusat kehidupan kita. Hubungan kita dengan Tuhan akan membawa keyakinan akan kuasa dan kasih-Nya, jika kita mau menyerahkan hidup dan masalah kita kepada-Nya. Itu bukan berari kita menjadi pasif dan berhenti berjuang. Tetapi sebaliknya kita akan makin bersemangat untuk menghadapi semua tantangan kehidupan, dengan kepercayaan bahwa Tuhan yang mahakuasa sanggup untuk membimbing kita ke arah yang baik, yang sesuai dengan kehendak-Nya. Keputusan ada di tangan kita, apakah kita mau untuk menyerahkan segala kekuatiran kita kepada-Nya, agar kita dapat merasakan kasih dan pemeliharaan-Nya.

Melupakan masa lalu untuk maju ke depan

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Filipi 3: 13-14

Pandemi COVID-19 saat ini sudah dapat dikatakan mereda, dan itu membawa nafas lega bagi banyak orang. Walaupun demikian, ada banyak orang yang masih mengalami tantangan, perjuangan dan penderitaan di saat ini. Masa depan dunia memang masih terlihat seperti sebuah tanda tanya besar. Bagaimana kita harus bersikap?

Hari ini, Rasul Paulus seolah menyapaikan pesan yang penting dalam hidup kekristenan. Jangan pikirkan apa yang sudah terjadi, tapi majulah menghadapi masa depan yang cemerlang! Kita tidak dapat menafsirkan kata-kata ini dengan pengertian bahwa bagi Paulus masa lalu tidak berarti apa-apa. Sebaliknya ini adalah pernyataan tentang pandangan hidup Paulus secara keseluruhan, yaitu bahwa masa depan lebih penting baginya, lebih dalam pemikirannya, daripada masa lalu. Pandangan Paulus yang dicatat dalam Alkitab ini haruslah menjadi pandangan kita juga.

Semangat itulah yang dimiliki Paulus ketika dia berbicara tentang melupakan apa yang ada di belakang dan berusaha keras untuk apa yang ada di depan. Mengapa memusatkan pikiran kita pada masa lalu ketika yang terbaik belum terjadi? Mengapa dibelenggu ke masa lalu, ketika masa depan lebih cerah dari apa yang telah terjadi?

Sebenarnya, apa yang kita alami di masa lalu dapat membantu kita memahami masa kini atau bahkan mempersiapkan kita untuk menghadapi masa depan. Jika kita ingat akan masa lalu kita, mungkin itu dapat menumbuhkan iman, memberi kita pola yang dapat kita ikuti, atau memperingatkan bahaya yang harus dihindari. Itu dapat membangkitkan rasa rendah hati, ketergantungan pada Tuhan dan rasa syukur bahwa Dia telah menyertai kita.

Walaupun demikian, memikirkan masa lalu juga bisa berbahaya. Saat kita bertumbuh dalam kedewasaan rohani, kita menjadi semakin sadar akan kesalahan kita. Apa yang dulu tampak dalam ketidakdewasaan kita sebagai perilaku Kristen yang memadai, sekarang kita melihat kembali dengan rasa malu yang mendalam. Kegagalan kita sekarang tampak seperti gunung ketika dulunya adalah gundukan tanah. Pandangan ke belakang menjadi mikroskop yang melaluinya kita melihat dosa-dosa kita dengan lebih jelas. Dan tidak ada yang salah dalam hal itu, jika itu mengarah pada penyesalan yang lebih dalam, kerendahan hati yang lebih besar, dan ketergantungan yang lebih kuat pada karunia dan kasih Tuhan.

Bahayanya adalah ketika memikirkan dosa-dosa masa lalu membuat kita masuk ke dalam diri kita sendiri daripada keluar kepada Kristus. Mengingat kesalahan masa lalu secara berlebihan, dosa yang telah lama disesali, sebenarnya membuat kita egois. Kita mungkin sering teringat akan tindakan konyol atau keputusan yang salah, dan ini dapat membuat kita putus asa. Perasaan malang membanjiri kita dengan rasa mengasihani diri sendiri; menghasilkan rasa lemah yang melumpuhkan hidup kerohanian dan pelayanan kita. Kenangan masa lalu membawa kita dalam rasa malu dan menyebabkan kita mengalihkan pandangan kita dari realitas spiritual saat ini dan masa depan. Kegagalan di masa lalu bisa juga membuat kita bersifat apatis dan bahkan fatalis dalam hidup.

Mengeluh dan mengerang karena dosa memiliki tempatnya dalam pengalaman Kristen tetapi itu bukan tujuan, melainkan hanya sarana untuk mencapai tujuan. Ini bukan ciri khas orang percaya (karena itu juga terjadi pada orang yang belum bertobat). Orang Kristen yang pikirannya dibanjiri dengan pemikiran dari masa lalu perlu diberi tahu: alihkan pandanganmu dari masa lalu dan arahkanlah pada realitas Kristus saat ini, Juruselamat dan Penebus kita yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa.

Jika Tuhan sendiri tidak lagi mengingat dosa dan kesalahan kita, adalah konyol bahwa kita harus menyeret dosa-dosa itu ke garis depan pikiran kita. Apa yang harus kita lakukan adalah membawa diri kita ke tugas lain dan melihat ke masa depan yang lebih cerah, dan dengan demikian memusatkan pikiran kita pada apa yang sekarang ada dalam Kristus – yang akan menjadi milik kita nantinya. Apa yang kita baca dalam Alkitab mengenai Tuhan yang bertindak dalam sejarah umat-Nya, seharusnya meyakinkan kita bahwa Dia bekerja untuk kebaikan kita di masa depan.

Jika kita telah terikat pada masa lalu, kita harus bertobat dan merangkul sikap pikiran yang dimiliki Paulus. Berkonsentrasi pada masa depan membebaskan kita dari pengaruh masa lalu yang menyedihkan dan memperbudak ini. Melihat ke masa depan menyiratkan bahwa yang terbaik belum terjadi; bahwa prospek masa depan memenuhi kita dengan harapan yang tidak dapat dipenuhi oleh masa lalu. Bagaimana ini bisa terjadi?

Ini semua adalah pernyataan yang seharusnya membuat kita mengantisipasi masa depan dengan penuh keyakinan. Ini bukan kasus menunda harapan kedewasaan kita sampai kita masuk surga; melainkan salah satu pemikiran positif tentang masa depan yang dekat, menghargai harapan kemajuan dan perkembangan spiritual dan kemenangan yang lebih besar, berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan kita. Kita harus membayangkan diri kita seperti seorang pelari yang memusatkan konsentrasinya pada apa yang akan dicapainya setelah ia menyelesaikan pertandingan itu dengan baik. Ia bisa mendapatkan pujian dari Tuhan, dan lebih dari itu bisa membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Hari ini, Paulus juga mengajak kita untuk bisa memikirkan masa depan yang lebih jauh lagi. Meskipun adalah menyedihkan jika tubuh kita pada suatu saat akan berada di bawah kekuatan musuh terakhir, yaitu kematian, dan roh kita terpisah dari tubuh kita, ada pikiran yang membawa sukacita. Roh kita akan disempurnakan dan akan berada di hadirat Kristus, yang jauh lebih baik dari keadaan di dunia saat ini. Dan suatu hari tubuh kita juga akan dibangkitkan dari tanah dan akan dipersatukan kembali dengan roh kita yang telah disempurnakan. Jadi, kita akan menghabiskan seluruh kekekalan bersama Tuhan dalam tubuh dan roh yang dimuliakan. Mengapa memikirkan kegagalan manusia di masa lalu ketika kita memiliki prospek masa depan Allah yang mulia untuk mengisi pikiran kita? Mengapa ragu untuk maju berjuang dan mengambil keputusan dalam hidup iman kita jika kita tahu apa yang dijanjikan Tuhan untuk umat-Nya?

Bagaimana kita bisa tunduk kepada Tuhan yang berdaulat

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12: 2

Hal tunduk kepada Tuhan adalah sesuatu yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa adalah pencerminan sifat manusia yang tidak mau tunduk kepada kehendak dan perintah Tuhan. Di zaman ini, banyak orang Kristen yang yakin bahwa kehendak Tuhan tidak dapat dilawan, tetapi mereka tetap saja berusaha untuk melakukan atau menjalani hidup yang diingini mereka. Pada pihak yang lain, banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan adalah berdaulat, sehingga mereka segan untuk mepertanggungjawabkan keputusan yang mereka ambil selama hidup di dunia. Jika golongan yang pertama bisa dituduh sebagai orang yang tidak sepenuhnya tunduk kepada Tuhan, golongan kedua mungkin juga bisa dikatakan sebagai orang yang tidak mau tunduk kepada perintah Tuhan untuk bisa aktif menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab.

Ada banyak ayat dalam Alkitab yang dimulai dengan kata “hendaklah” dan “janganlah” yang merupakan perintah Tuhan agar manusia mengambil tindakan dan bukan mengharapkan bahwa segala sesuatu akan terjadi sepenuhnya melalui tindakan Tuhan. Tuhan yang mahakuasa dan berdaulat bukanlah Tuhan yang memperlakukan manusia sebagai robot, tetapi memberi kebebasan kepada manusia untuk mengambil keputusan untuk tunduk kepada Dia dan menaati perintah-Nya. Jika Tuhan ingin umat-Nya untuk tunduk kepada-Nya, itu bukan saja untuk tidak melawan kehendak-Nya yang belum dinyatakan atau belum terjadi, tetapi juga untuk tidak melawan atau mengabaikan kehendak-Nya yang sudah dinyatakan saat ini, seperti perintah-Nya dalam ayat di atas untuk tidak menjalani hidup seperti mereka yang belum mengenal Tuhan yang berdaulat. Jika ada orang Kristen yang enggan untuk berusaha hidup baik, segan untuk menaati hukum negara dan malas untuk melaksanakan etika kehidupan Kristen, mungkin itu karena mereka mengabaikan bimbingan Roh Kudus yang tinggal dalam hati mereka.

Di dalam Perjanjian Baru kejadian dimana istilah tunduk digunakan, kata yang digunakan adalah terjemahan dari kata Yunani hupotasso. Bagian hupo berarti “di bawah” dan bagian tasso berarti “diatur.” Kata ini beserta akar-kata nya diterjemahkan sebagai istilah tunduk dan penaklukan. Makna lengkap dari kata ini ialah “menaati, tunduk kepada, menundukkan diri kepada, menjadi subyek dari atau menuruti.” Kata ini sering digunakan sebagai ungkapan militer yang berarti “menyusun divisi tentara di bawah perintah pemimpin.” Makna ini adalah definisi yang bagus akan arti “tunduk” kepada Allah. Hal ini berarti mengatur pribadi seseorang di bawah perintah sudut pandang illahi dibanding dengan gaya hidup lama yang didasari sudut pandang manusiawi. Semua itu adalah proses penyerahan kehendak kita kepada Allah.

Firman Tuhan telah mengatakan banyak hal mengenai ketundukan terhadap “kuasa yang lebih tinggi.” Ini merujuk kepada penetapan prinsip yang telah ditentukan Allah tentang dunia ini – pemerintah dan penguasa, dalam posisi dan jabatannya, yang telah Allah letakkan sebagai otoritas di atas kita di dunia ini. Prinsipnya secara pendek ialah bahwa kita harus taat kepada otoritas yang berkuasa di atas kita, siapapun otoritas itu, dan ketundukan itu akan membawa berkat nyata di dunia ini, dan bagi orang percaya, kelak di surga. Otoritas tertinggi ialah Allah, dan Ia mendelegasikan otoritas kepada pihak lain; jadi, dalam tunduk kepada Allah, kita tunduk kepada otoritas yang telah Ia tetapkan di atas kita. Anda mungkin akan sadar bahwa tidak ada peringatan khusus untuk membedakan antara otoritas yang baik ataupun buruk ataupun adil dan tidak adil. Hanyalah bahwa kita harus merendahkan diri dan menaati mereka “serupa ketaatan kita kepada Tuhan.”

Kita juga dihimbau untuk berserah diri kepada Allah. Di dalam Efesus kita membaca bahwa sang istri harus tunduk kepada sang suami sama seperti kepada Tuhan dan sang suami juga harus “mengasihi” istrinya (Efesus 5:22-25). Rasul Petrus menulis, “Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.’ Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:5-7). Tema di dalam bagian ini adalah rendah hati. Seseorang tidak dapat tunduk kepada Allah tanpa berrendah hati. Kita tidak dapat merasakan keharusan untuk taat kepada perintah Allah jika kita merasa yakin dan bangga bahwa kita adalah orang terpilih. Ketaatan mensyaratkan kita untuk merendahkan diri kepada otoritas lain, dan kita diberitahu bahwa Allah menolak kesombongan.

Jadi, memiliki rendah hati dan sebuah hati yang tunduk adalah pilihan yang harus kita ambil. Ini berarti sebagai orang yang telah lahir-baru kita harus mau memilih setiap hari untuk menundukkan diri kepada Allah supaya karya Roh Kudus di dalam diri kita akan “menyesuaikan kita serupa dengan Kristus.” Allah akan menggunakan situasi kehidupan untuk memberi kesempatan untuk tunduk padaNya (Roma 8:28-29). Orang percaya kemudian menerima anugerah-Nya dan semua yang tersedia untuk berjalan dalam Roh dan tidak mengikuti lagi khodrat yang lama. Karya ini dapat terlaksana dengan memilih untuk mempraktekkan Firman Allah kepada hidup kita dan belajar akan semua yang telah Allah sediakan bagi kita di dalam Kristus Yesus. Dari detik kita lahir baru, kita telah dilengkapi dengan semua yang kita butuhkan, dalam Kristus, untuk menjadi seorang percaya yang dewasa, akan tetapi kita harus memilih untuk mempelajari semua yang tersedia melalui pembacaan dan pembelajaran Firman maupun menerapkannya di dalam kehidupan pribadi kita hari demi hari.

Kita harus memilih untuk tunduk kepada Allah supaya proses pelajaran dapat dimulai dan kita dapat tumbuh secara rohani. Ialah proses yang dimulai pada keselamatan dan berlanjut dengan setiap pilihan yang kita ambil demi menundukkan diri kepada Allah. Proses ini akan berlanjut sampai Tuhan datang kedua-kalinya atau Ia memanggil kita pulang. Hal yang terindah, seperti Rasul Paulus berkata, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18).

Allah tidak meminta kita tunduk karena Ia adalah diktator atau tiran, tetapi karena Ia adalah Bapa yang mengasihi dan Ia mengetahui yang terbaik bagi kita. Berkat dan damai yang kita dapatkan dari penyerahan diri yang rendah hati setiap hari kepada-Nya adalah anugerah yang jauh lebih berharga dari apa yang dapat ditawarkan dunia.

Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Yohanes 14: 15-17

Apakah tanda orang Kristen sejati?

Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Yohanes 14: 15-17

Apakah hal yang membedakan orang Kristen sejati dari orang lain? Ada yang berkata bahwa orang Kristen sejati adalah orang yang sudah diselamatkan karena iman mereka. Ada lagi pendapat yang menyatakan bahwa orang Kristen sejati adalah orang dipilih Tuhan dari awalnya bukan karena perbuatan mereka. Ada juga yang mengatakan bahwa orang Kristen sejati adalah mereka yang mengasihi Tuhan. Semua pendapat itu ada benarnya; tetapi, ayat di atas menyatakan adanya 3 tanda yang secara nyata dimiliki oleh orang Kristen sejati:

  • Menurut segala perintah Tuhan
  • Menerima Roh Kudus
  • Mengenal Roh Kudus sebagai Tuhan

Bagi orang Kristen sejati (True Christian), hal menurut perintah Tuhan adalah lebih penting daripada apa pun. Jika kita hidup dengan menurut perintah-Nya, kita adalah orang yang mempersembahkan hidup kita kepada Dia. Bagi Tuhan, manusia ciptaan-Nya adalah lebih berharga dari makhluk atau benda apa pun di dunia. Karena itu Ia mengharapkan persembahan hidup manusia yang kudus dan berkenan kepada-Nya.

Jika dipikirkan dalam-dalam, hal yang paling berat dalam hidup kekristenan ini sebenarnya bukan soal berjuang atau bekerja untuk menuruti segala perintah Tuhan, tetapi soal keraguan apakah kita akan bisa mencapai apa yang kita upayakan. Karena itu banyak orang Kristen yang merasa bahwa jika kita percaya bahwa kita sudah dipilih, kita tidak perlu terlalu pusing memikirkan perintah Tuhan. Tidak ada manusia yang bisa menjalankan segala perintah Tuhan, dan Ia tentu tahu akan kelemahan kita. Benarkah begiu?

Memang benar bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Tidak ada orang Kristen sejati yang dengan yakin bisa mengklaim bahwa ia adalah orang yang benar-benar saleh hidupnya. Juga benar bahwa Tuhan tahu segala kelemahan umat-Nya, dan karena itu tidak akan menuntut apa yang lebih dari kemampuan mereka. Pada pihak yang lain, karena Ia tahu apa kelemahan umat-Nya, Tuhan sudah memberi mereka seorang Penolong, supaya Ia menyertai mereka selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Roh Kudus adalah oknum Ilahi yang lain dari Allah Bapa dan Allah Putra, yang tidak bisa dikenal oleh mereka yang bukan orang saleh, yang bukan Kristen sejati.

Hari ini firman Tuhan diatas berkata bahwa jika kita mengenal Tuhan, kita akan menurut segala perintah-Nya. Jika kita mengakui Dia sebagai Tuhan yang mahabesar, kita tidak perlu gundah jika kita terkadang tidak mengerti keputusan-keputusanNya dan tidak dapat menyelami jalan-jalanNya. Apa yang kita tahu ialah bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih sudah mengirimkan Roh-Nya untuk menyertai kita selama-lamanya. Karena itu, sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari-hari mendatang, kita tetap bisa bersyukur kepadaNya dan tetap mau mencari kehendak-Nya setiap hari.

Semoga saja pengenalan kita akan Tuhan membuat kita percaya bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan tetap mengasihi kita, dan Roh Kudus tetap tinggal dalam diri kita. Dengan demikian, dalam hidup ini kita akan diyakinkan untuk bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita, karena Dia yang lebih dulu mengasihi kita. Perintah Tuhan ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh diri kita sendiri, tetapi hanya melalui Roh Penolong yang tinggal dalam diri setiap umat-Nya.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. ” 1 Yohanes 4: 19

Pengudusan yang menuntut adanya kepatuhan

“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 6: 22

Apa yang membedakan hidup orang yang tidak percaya dengan hidup orang percaya? Apakah bedanya hanya terletak pada kejakinan sepihak orang Krisren, yang merasa mereka sudah dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan? Ayat diatas menyebutkan bahwa sebagai orang Kristen, kita seharusnya berbeda dari orang lain karena kita tentunya sudah berubah dari hidup lama kita; itu jika kita membiarkan Tuhan memimpin hidup kita.

Sebagai umat Tuhan, kita seharusnya dapat membedakan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan dari apa yang jahat. Tuhan selalu menghendaki apa yang baik, dan apa yang berkenan kepadaNya dan apa yang sempurna. Jika ada hal-hal yang jahat dan keji kita lakukan sebelum menjadi umat-Nya, kita pasti berubah melalui pengudusan sesudah menjadi hamba Allah yang sejati.

Perbedaan antara orang Kristen sejati dengan orang lain mudah dimengerti jika hanya menyangkut perbedaan antara akhir hidup orang percaya dan akhir hidup orang yang tidak benar-benar percaya. Masalah yang lebih rumit adalah hal berbuat dosa setiap hari dan akibatnya. Semua manusia tidak dapat bebas dari berbuat dosa selama hidup. Mengapa orang Kristen sejati harus peduli akan perubahan hidup?

Memang, semua orang Kristen percaya bahwa tidak ada seorang pun yang layak dihadapan Tuhan. Semua orang sudah berdosa dan hanya bisa diselamatkan semata-mata karena kasih anugerah Tuhan. Tetapi, orang Kristen juga percaya bahwa kasih anugerah Tuhan juga melakukan pembaharuan melalui Roh Kudus.

“Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.” Titus 3: 3-4

Ada orang Kristen yang berpendapat bahwa mereka sudah cukup berusaha untuk mengurangi dosa mereka dan berkeyakinan bahwa Tuhan yang mahakasih tentu tahu bahwa sebagai manusia mereka punya kelemahan, dan karena itu Tuhan pasti selalu mau mengampuni dosa yang sama setiap hari. Ada juga mereka yang berpendapat bahwa jika semua yang terjadi ada dalam kedaulatan Tuhan, tentulah dosa mereka juga sudah termasuk dalam rencana Tuhan yang tidak dapat mereka hindari.

Hidup yang sudah menerima Kristus tidak mungkin untuk tidak berubah karena adanya Roh Kudus yang tinggal didalam hati kita. Sebaliknya, jika pembaharuan hidup kita tidak terjadi, patutlah kita bertanya kepada diri kita sendiri: apakah kita benar-benar sudah menyerahkan hidup kita kepada Kristus? Apakah kita adalah orang Kristen sejati?

Dari ayat pembukaan di atas, kita bisa melihat bahwa Tuhan yang memberi pengampunan juga memilih umat-Nya untuk menghasilkan buah, yang membawa pengudusan bagi hidup kita. Paulus menulis bahwa, dengan percaya kepada Kristus untuk keselamatan kita, kita telah memasuki hubungan yang baru dengan Allah. Identitas kita begitu erat berhubungan dengan Kristus sehingga kita diubahkan menjadi orang-orang yang terikat untuk melakukan apa yang benar. Inilah kita sekarang. Ini adalah kabar baik. Mengapa? Karena “buah”, konsekuensi langsung dari menjadi hamba Kristus, adalah pengudusan dan hidup yang kekal. Ini bertentangan dengan rasa malu dan kematian yang ada ketika kita masih menjadi hamba dosa.

Hasil dari jalan yang kita jalani di dalam Kristus ini adalah hidup yang kekal. Kita akan mengambil bagian dalam kemuliaan Allah selama-lamanya. Ini menjelaskan mengapa kita tidak boleh terus berbuat dosa begitu kita beriman kepada Kristus. Paulus menjawab bahwa kita akan terus menjalani perbudakan dosa secara sukarela jika kita tidak mau melawannya. Sebaliknya, kita harus hidup seolah-olah kebenaran adalah tuan kita, Kita harus mau mematuhi kebenaran Allah daripada menuruti keinginan dosa kita,

Pengudusan, kadang-kadang diterjemahkan sebagai “kekudusan,” adalah proses perubahan di dalam diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Kita tidak sepenuhnya berada di sana, tetapi karena kita sekarang adalah milik Allah, kita sedang dalam perjalanan. Dia sedang mengubah kita (1 Yohanes 3:2).

Pagi ini kita harus sadar bahwa penebusan dosa kita oleh darah Kristus seharusnya bukan hanya sebuah even yang mengubah cara hidup kita dalam satu saat saja. Tetapi hidup kita sebagai orang Kristen sejati harus selalu tumbuh dan mengalami pembaharuan dan pengudusan secara terus menerus yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

“Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.” Roma 6: 17