Bagaimana seharusnya kita menggunakan Alkitab untuk hidup sehari-hari

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Julian Assange adalah pendiri sekaligus editor dan juru bicara WikiLeaks, sebuah situs media yang mempublikasikan berbagai dokumen dan informasi rahasia berbagai negara di dunia yang bertujuan untuk menciptakan pemerintahan yang lebih terbuka. Assange dikenal sebagai seorang aktivis hacker dan progammer komputer yang dikenal dunia setelah meluncurkan WikiLeaks. Ia banyak diburu oleh polisi internasional untuk mempertanggungjawabkan tindakannya yang telah membocorkan rahasia negara Amerika. Walaupun demikian, banyak orang yang mendukung Assange dan menganggap apa yang dilakukannya adalah etis dan benar karena sesuai dengan azas kemerdekaan pers yang disebut sebagai pilar demokrasi. Bagaimana posisi umat Kristen dalam masalah moral dan etika seperti ini?

Alkitab berisi banyak materi moral dan etis, misalnya Sepuluh Hukum Tuhan, Khotbah di Bukit, contoh umum dan ajaran Yesus, dan bagian-bagian dalam surat-surat Paulus. Penting bagi kita untuk membaca dan merenungkan materi ini. Dengan melakukan itu, kita mungkin menjadi sadar tidak hanya tentang cara Alkitab yang dapat membantu kita, tetapi juga tentang jarak yang sangat jauh antara dunia alkitabiah pada waktu itu dan dunia kita sendiri saat ini. Bagi banyak orang Kristen, konteks budaya para penulis Alkitab tampaknya bisa menghasilkan keputusan yang masih perlu kita pertanyakan hari ini, dalam terang perintah utama Yesus untuk mengasihi Tuhan dan sesama tanpa syarat. Sikap dalam hukum Musa terhadap musuh, budak dan wanita, bersama dengan hukuman seperti rajam untuk pelanggaran seksual, adalah contoh kasusnya.

Bagaimana kita harus hidup di zaman ini? Prinsip apa yang harus kita pakai dalam hal moral dan etika? Bagaimana kita bisa memahami masalah yang kita hadapi? Banyak pemikir dan filsuf selama berabad-abad telah menawarkan berbagai jawaban atas pertanyaan seperti itu, tetapi banyak orang Kristen yang percaya bahwa iman mereka bisa memberi mereka jawaban yang tepat. Singkatnya, orang Kristen berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, apakah usaha itu cukup?

Membedakan apa yang kehendak Tuhan dari apa yang harus kita hindari terkadang tidak sulit. Pembunuhan, penyiksaan, pencurian dan kebohongan adalah tidak etis dan, bagi orang Kristen, perilaku seperti itu jelas bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, merawat mereka yang membutuhkan, memberi makan yang lapar, dan membantu yang tertindas atau menderita dipahami sebagai moral yang mendalam dan sejalan dengan kehendak Tuhan. Walaupun demikian,keputusan moral lainnya seringkali terbukti lebih sulit untuk ditangani. Ini mungkin karena dilema etika baru telah muncul yang tidak tercakup oleh ajaran moral tradisional kita, atau karena ada perbedaan mengenai bagaimana ajaran moral tradisional itu sebaiknya ditafsirkan sekarang.

Jangkauan pengalaman moral kita luas dan kompleks; sehingga mencapai keputusan moral bisa sulit dan mahal untuk dilakukan. Gereja berusaha untuk mengakarkan pemahamannya tentang kehendak Tuhan dalam pengakuan akan tantangan-tantangan ini, dan Gereja berusaha untuk mendukung mereka yang bergumul dengan kesulitan moral yang mereka hadapi. Tetapi, perlu kita sadari, setiap orang dan setiap gereja memiliki prioritas dan kemampuan yang berbeda.

Jadi, dalam hal ini kita perlu mempertimbangkan bagaimana kita membaca Alkitab. Ayat di atas menyatakan bahwa firman Tuhan harus menjadi pembimbing hidup kita. Dua prinsip sangat penting: pertama, Gereja menekankan pentingnya pembacaan sistematis kitab suci dalam ibadah. Gereja mengikuti serangkaian bacaan dari Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, dan orang-orang Kristen terutama berfokus pada perkataan dan teladan Kristus. Kita tidak bisa hanya berfokus pada beberapa bagian yang menarik bagi kita; kita dituntut untuk membaca dan merenungkan Alkitab secara keseluruhan. Dengan demikian, Gereja adalah agen moral yang dibentuk oleh pembacaan Kitab Suci.

Prinsip kedua terkait dengan cara membaca Alkitab. Alkitab berisi banyak cita-cita Kristen, tetapi itu bukan sekadar buku peraturan. Ini adalah kumpulan kesaksian dari berbagai zaman tentang hubungan yang hidup antara Allah Bapa yang penuh kasih dan anak-anak-Nya, seorang Bapa surgawi yang selalu ingin melindungi kita dari bahaya yang mungkin kita timbulkan atas diri kita sendiri dan orang lain. Jadi sementara Alkitab menawarkan banyak bimbingan moral, terutama dalam kehidupan dan pengajaran Kristus. Memperlakukannya hanya sebagai sebuah buku aturan etis akan meminimalkan dan bahkan merusak nilainya.

Iman kita kepada Tuhan sebagai pencipta berarti bahwa kehendak Tuhan juga diwahyukan di dalam dan melalui dunia di sekitar kita – tidak hanya melalui lingkungan, tetapi melalui penelitian dan studi, melalui potensi dan keterbatasan kita sebagaimana ditentukan oleh alam, melalui interaksi dan eksplorasi manusia. Berbagai cabang studi dan usaha manusia, seperti humanisme dan psikologi, terus mengungkapkan banyak hal tentang penciptaan dan tentang penciptanya. Sayang, ada banyak orang Kristen yang memandang semua itu kurang sesuai dengan isi Alkitab.

Melalui doa dan penyembahan kita, studi dan meditasi kita, kita dapat menemukan lebih banyak lagi kehendak Tuhan untuk penciptaan. Pengalaman kita sebagai komunitas orang percaya, Gereja, adalah inti dari proses penegasan ini. Komunitas ini – melintasi ruang dan waktu – menawarkan kepada kita perspektif, tolok ukur yang dengannya kita dapat mengukur pengalaman dan tanggapan kita sendiri terhadap Tuhan. Sangat menolong jika kita sadar bahwa kita bukanlah orang pertama yang bergumul dengan masalah moral dalam kehidupan Kristen kita.

Kita mungkin mendapati bahwa upaya kita yang sungguh-sungguh untuk memahami kehendak Tuhan dalam situasi yang sulit membuat kita bingung dan tidak dapat menemukan jawaban yang membuat kita nyaman. Atau, bahwa saat mencapai jawaban, kita menemukan diri kita dalam ketidaksetujuan dengan orang-orang yang kita cintai dan percayai. Tetapi penting bagi kita untuk menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan ketidakmampuan untuk menghasilkan jawaban yang pasti untuk setiap pertanyaan moral, dan untuk mengingat bahwa, apa pun kesimpulan kita, kita mungkin perlu meninjaunya kembali berdasarkan perkembangan selanjutnya. Memang kita adalah manusia terbatas yang tidak sempurna.

Jadi bagaimana kita bisa membuat keputusan moral hari ini? Sebagai kesimpulan, kehendak Tuhan harus dilihat setidaknya dalam tiga cara:

  • melalui Alkitab sebagai pengungkapan hubungan Tuhan dengan umat-Nya, ini hal yang mutlak dan utama,
  • melalui komunitas orang percaya, dan
  • melalui dunia di sekitar kita, sebagai ciptaan Tuhan.

Semoga kita mau belajar agar makin lama makin sempurna dalam pengenalan kita atas kehendak Tuhan.

Mengapa Tuhan membiarkan umat-Nya menderita?

Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini. Yesaya 45: 6-7

Jika kita membaca berita dalam surat kabar atau dari media eletronik, pastilah kita bisa melihat bahwa setiap hari selalu ada saja kabar buruk yang terjadi di dunia. Tidak hanya berita tentang adanya kekacauan di bidang sosial, ekonomi dan politik di berbagai tempat, tetapi juga adanya penderitaan yang dialami manusia karena adanya kelaparan, penyakit, penganiayaan, kejahatan, perang atau kecelakaan. Apalagi, ada kejadian-kejadian dimana sejumlah besar manusia yang nampaknya tidak bersalah, menemui kematian pada waktu yang bersamaan akibat suatu bencana, seperti jatuhnya sebuah bom di kompleks perumahan Ukraina.

Memang sebagian manusia mungkin hanya memikirkan penderitaan orang lain secara sepintas lalu saja. Selama hal-hal itu tidak menyangkut hidup mereka atau hidup sanak saudara, mereka tidak merasa terbebani. Tetapi, kebanyakan manusia tentu bisa merasakan kesedihan yang dialami orang lain dan menerima kenyataan bahwa selama hidup di dunia memang penderitaan bisa datang silih berganti.

Apakah Tuhan itu benar ada dan tetap mengatur seisi jagad-raya? Jika Tuhan itu mahakuasa, mahatahu dan mahakasih, adakah yang Ia lakukan ketika Ia melihat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri umat manusia? Inilah pertanyaan yang sulit dijawab manusia jika mereka membaca ayat di atas. Dimanakah Tuhan ketika malapetaka terjadi di dunia? Sedihkah Tuhan jika umat-Nya terkena bencana?

Bagi orang Kristen hal ini adalah pertanyaan yang masih sering timbul. Bahkan adanya bencana dan malapetaka seringkali membuat hati menjadi kecil karena nampaknya malapetaka bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Itu karena Tuhan yang “menjadikan nasib mujur dan nasib malang”. Ini adalah serupa dengan pandangan fatalisme: bahwa segala sesuatu, apa yang baik dan yang jahat, diciptakan oleh Tuhan. Sebaliknya, apa yang bisa kita pastikan adalah segala sesuatu yang baik dan yang sempurna diciptakan oleh Tuhan (Yakobus 1: 17).

Sebelum kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, hidup semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan manusia.

Satu hal lain yang harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah satu-satunya yang menyebabkan munculnya malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya. Tuhan bukan pencipta kejahatan.

Konteks Yesaya 45: 6-7 adalah Allah memberi upah kepada Israel karena ketaatan dan menghukum Israel karena ketidaktaatan. Tuhan mencurahkan keselamatan dan berkat kepada orang-orang yang Dia kasihi. Tuhan membawa penghakiman atas mereka yang terus memberontak melawan Dia. “Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja!” (Yesaya 45:9). Itulah orang yang kepadanya Tuhan membawa “kejahatan” dan “bencana.” Jadi, bukannya mengatakan bahwa secara umum Tuhan menciptakan “apa yang jahat” untuk umat manusia. Yesaya 45:7 menyajikan tema umum dari Kitab Suci – bahwa Tuhan membawa bencana bagi mereka yang terus memberontak melawan-Nya. Selain itu, Tuhan juga memberi peringatan kepada umat-Nya yang mundur dari-Nya.

Dalam Alkitab, pengaalaman buruk umat Alah bisa digambarkan oleh Ayub. Ayub pernah mengalami pengalaman yang sangat buruk dan karena itu merasa bahwa itu adalah hukuman baginya Ia merasa bahwa Tuhan sudah memusuhinya. Ini adalah kekeliruannya. Tuhan tidak memusuhi umat-Nya.

Berapa besar kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu.Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu? Ayub 13; 23-24

Pagi ini, jika kita mendengar adanya sebuah malapetaka, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan seakan berdiam diri. Apakah Tuhan benar-benar mahakasih, maha adil dan mahakuasa? Ayat diatas menunjukkan bahwa  keputusan-Nya akan terjadi dan segala kehendak-Nya akan terlaksana. Apa-pun yang terjadi adalah dengan sepengetahuan-Nya.

Dalam keadaan yang tidak baik, bagi umat Kristen seharusnya tetap sadar bahwa satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apa pun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa terasa dan membuat manusia mau tunduk dan berserah kepada-Nya. Tuhan ingin agar umat-Nya bisa sepenuhnya bergantung kepada kasih-Nya.

Kita sering kali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang kita mengerti adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi apa yang datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi dimana kita sudah menerima garansi untuk bisa menikmati kebahagiaan yang penuh dengan Tuhan. Hidup yang singkat di dunia, dengan demikian bisa kita gunakan untuk mempersiapkan diri untuk hidup bersama Allah, dan untuk menolong mereka yang menderita, agar mereka bisa mengenal Tuhan yang mahakasih seperti kita. Biarlah nama Tuhan dipermuliakan segala bangsa dalam segala keadaan!

“Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan” Yesaya 46: 9  – 10

Kesabaran adalah ciri pelayan Allah

“Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran.” 2 Korintus 6: 4

Sebagai umat Kristen mungkin kita terkadang menyadari ketidaksabaran kita dalam hidup ini. Kita tahu bahwa seperti Tuhan yang sabar dalam menantikan manusia untuk kembali kepada-Nya, kita pun harus mempunyai kesabaran dalam menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan. Tetapi itu tidak mudah dilakukan.

Kesabaran juga bisa diartikan sebagai kemampuan untuk menerima keadaan yang tidak menyenangkan tanpa mengeluh. Kesabaran berlawanan dengan emosi, kekecewaan, kemarahan dan kekalapan. Ini lebih mudah dikatakan dari pada dilaksanakan.

Dalam Galatia 5: 22-23 dikatakan bahwa salah satu buah Roh adalah kesabaran. Kata Yunani yang dipakai dalam ayat ini adalah makrothumia yang terdiri dari kata makros (panjang) dan thumos (watak). Jadi makrothumia bisa diartikan sebagai watak atau sifat manusia yang tahan hantaman. Seorang yang punya kesabaran seperti itu akan tahan menghadapi kesukaran, tantangan, ancaman, kritik, dan serangan yang ada di sekelilingnya.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22-23

Memang tiap orang dilahirkan dengan karakter yang berbeda, dan ada orang yang lebih sabar dari orang yang lain dalam hidup bermasyarakat. Tetapi, dalam menghadapi masalah hidup, kesabaran yang berbentuk makrothumia adalah hal yang langka.

Dalam hal ini, Tuhan dengan sabar juga menunggu agar kita sebagai pelayan-Nya bisa berubah dari hidup lama kita yang sering terisi dengan berbagai gejolak emosi, kekecewaan, kemarahan dan bahkan kenekadan yang sia-sia, yang bisa menyebabkan kematian rohani – hilangnya kedekatan kita kepada Tuhan dan sesama. . Ia menginginkan agar kita mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya.

Menyadari kegagalan kita untuk bersabar dalam menghadapi tantangan hidup memang bisa membuat kita frustrasi. Mungkin juga kita merasa sedih bahwa buah Roh yang kita harapkan tidak terlihat tumbuh subur dalam hidup kita. Tetapi memang kesabaran harus terus ditumbuhkan selama ada tantangan hidup.

Kesabaran tumbuh sebagai proses pertumbuhan kedewasaan umat Tuhan, dan karena itu kita harus bersyukur karena selama ada tantangan, kita bisa makin menumbuhkan kesabaran kita. Kesabaran tidak bisa dipisahkan dari buah Roh yang lain, terutama kelemahlembutan dan penguasaan diri. Dengan adanya tantangan hidup, kita makin sadar bahwa kesabaran, kelemahlembutan dan penguasaan diri hanya bisa tumbuh subur kalau kita mau dekat kepada Tuhan. Tuhan tidak memaksa kita, tetapi membimbing kita untuk berubah.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya, kita tentu ingin mempunyai kesabaran yang tinggi, yaitu makrothumia. Jika kita merasa bahwa itu masih sulit dicapai, kita tidak boleh putus asa. Memang untuk mendapat kesabaran semacam itu kita ternyata harus mau berusaha dan bersemangat untuk bisa hidup sesuai dengan perintah-Nya.

“Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” 2 Timotius 4: 5

Apakah Tuhan membutuhkan kita?

“Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.” Yohanes 5: 26

Orang terkadang berpikir bahwa Tuhan menciptakan manusia karena Ia kesepian dan membutuhkan persekutuan dengan orang lain. Jika ini benar, itu pasti berarti bahwa Tuhan tidak sepenuhnya independen dari ciptaan-Nya. Ini berarti bahwa Tuhan perlu menciptakan alam semesta dan manusia agar Ia bisa benar-benar bisa bahagia atau sepenuhnya terpenuhi dalam kebutuhan pribadi-Nya.

Tidaklah mengherankan bahwa banyak khotbah-khotbah yang menyampaikan pesan bahwa Tuhan membutuhkan umat Kristen untuk mengabarkan Injil sesuai dengan apa yang tertulis dalam Alkitab:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:19-20

Dengan demikian, mungkin banyak orang Kristen yang merasa bahwa mereka memegang peranan penting dalam rencana Tuhan, tanpa itu rencana Tuhan akan terhambat. Selain itu, banyak orang Kristen yang mengharapkan “ucapan terima kasih dari Tuhan” dalam bentuk berbagai berkat untuk apa yang sudah mereka lakukan untuk Tuhan. Benarkah sikap dan pendapat manusia seperti ini?

Kita harus mulai dengan menanyakan apakah Tuhan membutuhkan kita untuk ada di dunia. Tuhan dalam Alkitab adalah Tuhan yang tidak membutuhkan apa pun. Dalam bahasa teologis, ini adalah doktrin aseity yang secara harafiah berarti “dari dirinya sendiri.” Tuhan itu ada dan tidak bergantung pada apa pun dan siapa pun. Dia ada secara independen dari dunia, sebagai Oknum Ilahi yang mandiri dan ada dengan sendirinya. Apa implikasi pernyataan ini?

  • Sebagai Tuhan, Allah memiliki segala sesuatu. Allah adalah “pemilik langit dan bumi” (Kejadian 14:19).
  • Segala sesuatu yang dimiliki oleh makhluk berasal dari Tuhan. Tuhan menjadikan langit dan bumi dan setiap pemberian yang baik dan sempurna adalah dari tangan-Nya (Kejadian 1-2).
  • Ketika kita memberikan sesuatu kembali kepada Tuhan, kita hanya memberikan kepada-Nya apa yang telah diberikan-Nya terlebih dahulu kepada kita. Kita adalah hamba Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apakah kita telah menggunakan apa yang telah Dia berikan kepada kita untuk kemuliaan-Nya atau tidak (Matius 25: 14-30).
  • Ketika kita mengembalikan sesuatu kepada Tuhan, Dia tidak berkewajiban untuk membalas kita. Ketika kita melakukan apa yang diperintahkan kepada kita, kita, sebagai hamba yang tidak layak, yang hanya melakukan tugas kita (Lukas 17: 10).
  • Tuhan tidak berutang apa pun kepada makhluk apa pun. Perhatikan bagaimana Tuhan menjawab Ayub: “Apa yang ada di seluruh kolong langit, adalah kepunyaan-Ku” (Ayub 41:11).
  • Tuhan tidak memiliki kebutuhan. Mazmur 50 sangat kuat dalam hal ini: “sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku.” (Mazmur 50:10-11).
  • Tuhan pada dasarnya memiliki aseity. Seperti yang dikatakan Paulus: “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” (Kisah Para Rasul 17: 24-25).

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita dipanggil oleh Tuhan untuk melaksanakan suatu tugas atau mandat, itu bukan karena Ia membutuhkan kita. Sebaliknya, Tuhan dengan kasih-Nya ingin memberi kita kesempatan untuk menjadi mitra dalam rencana-Nya untuk kemuliaan-Nya. Sebagai orang yang sudah diselamatkan melalui pengurbanan Yesus Kristus, adalah kewajiban kita untuk menjadi hamba-Nya dan menyadari bahwa adanya ikatan antara kita dan Tuhan adalah untuk kebaikan kita dan bukan untuk memenuhi kebutuhan Tuhan.

Mana yang lebih penting: mengasihi Tuhan atau sesama?

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22: 37-40

Pertanyaan di atas agaknya tidak terlalu sulit untuk dijawab. Setiap orang Kristen tentunya tahu bahwa Tuhan adalah Oknum Ilahi yang menciptakan alam semesta dengan kasih-Nya dan karena itu harus dihormati dan dikasihi di atas segalanya. Walaupun demikian, jika kita memikirkannya dalam-dalam, ada pertanyaan apakah kita benar-benar mengasihi Tuhan di atas segalanya: suami, istri, anak, karir, harta dan sebagainya. Pasalnya, tidak seorang pun yang mau kehilangan apa yang dapat dilihat, dinikmati dan dikasihinya, sedangkan Tuhan yang tidak terlihat selalu ada untuk umat-Nya. Begitu mungkin perasaan kita.

Manusia tidak bisa melihat Tuhan, tetapi yakin bahwa Ia ada. Dengan demikian, manusia yang percaya kepada Tuhan tetap sulit membayangkan apakah yang dirasakan dan dipikirkan Tuhan pada saat ini. Karena Tuhan selalu ada dan hidup seakan berjalan seperti biasa, banyak orang Kristen yang merasa bahwa hubungan dengan Tuhan adalah sesuatu yang rutin dan tidak perlu terlalu dipikirkan,. Apalagi Tuhan yang mahaada dan mahakasih tentunya tidak akan meninggalkan umat-Nya.

Pad pihak yang lain, kebutuhan hidup kita sehari-hari adalah sesuatu yang nyata, dan itu menuntut perhatian kita. Karena itu, hidup manusia sering berpusat pada diri sendiri atau orang-orang yang dekat dengan mereka. Mereka yang jauh dari kita, mereka yang tidak kita kenal, mereka yang tidak terlihat mungkin jarang muncul dalam “radar” perhatian kita. Sebagai alasan, bagaimana kita bisa mengasihi mereka yang tidak kita lihat atau kenal? Tambahan pula, apakah kita harus mengasihi mereka yang membenci kita?

Jika kita tidak berhati-hati, sikap kita kepada sesama manusia akan bisa mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan. Karena kita tidak bisa mengasihi mereka yang tidak kita kenal atau tidak terlihat, kita tidak akan bisa mengasihi Tuhan yang tidak terlihat.

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. 1 Yohanes 4: 20-21

Mungkin kita berpikir bahwa kita sudah mengasihi Tuhan, dengan pergi ke gereja, memberi persembahan atau aktif dalam kegiatan gereja. Kita merasa Tuhan sudah senang karena kita ingat akan Dia, dan kita yakin bahwa kita sudah berbuat baik bagi-Nya. Bukanlah mengasihi dan menghormati Tuhan adalah yang paling utama dalam iman Kristen? Jika Tuhan tidak pernah mengeluh atas perlakuan kita kepada-Nya, dan jika kita bisa hidup dan menikmati segala berkat-Nya, bukankah itu tanda bahwa Tuhan sudah puas dengan ibadah kita? Kita tentu boleh mengaku dan yakin bahwa kita sudah mengasihi Dia!

Jarang orang sadar bahwa kasih mereka kepada Tuhan hanyalah dalam perasaan saja. Bukan sesuatu yang nyata. Itu karena ayat di atas menyatakan bahwa tidaklah mungkin kita bisa mengasihi Tuhan jika kita tidak mengasihi sesama kita, terutama saudara-saudara seiman kita. Untuk bisa mengasihi Tuhan sengan segenap hati, jiwa dan akal budi, kita harus mulai dari mengasihi sesama kita dan menghilangkan kebencian kepada siapa pun. Kita baru bisa menlaksanakan hukum yang terutama dan pertama, jika kita bisa melaksanakan hukum yang kedua.

Hari ini kita diingatkan bahwa kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, dan keduanya harus kita laksanakan dalam hidup kita. Kita tidak dapat memilih satu saja. Itu tidak mudah, dan bahkan tidak mungkin kita kerjakan dengan usaha sendiri. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan sudah memberikan kita kemampuan melalui Roh Kudus untuk itu. Tuhan sudah menyatakan bahwa mengasihi-Nya adalah hal yang paling utama. Tetapi kita juga harus sadar bahwa tanpa menjalankan hukum yang kedua, keinginan kita untuk mengasihi Tuhan adalah sebuah impian saja. Dengan demikian, adalah perlu bagi kita untuk mengubah hubungan kita dengan sesama kita, dengan memancarkan kasih Allah yang sudah kita terima kepada setiap orang agar nama Tuhan dipermuliakan.

Bekerja sebagai mitra Tuhan

“Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” 1 Korintus 3:9

KBBI mendefenisikan kata “mitra” sebagai teman, sahabat, kawan kerja, pasangan kerja, dan rekan. Berdasarkan pengertian ini, maka kita dapat bertanya mungkinkah kita menjadi “mitra” Allah di dunia? Alkitab mengisahkan bahwa manusia adalah ciptaan satu-satunya yang dikatakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian1:26). Lebih lanjut lagi, manusia di dalam kebersamaannya (pria dan wanita) bertujuan untuk mengatur dunia ini (mitra kerja Allah). Manusia dengan kasih-Nya diikutsertakan Allah di dalam menjaga dan memelihara sesuai dengan kemampuan yang telah dikaruniakan kepada mereka.

Kita tahu bahwa manusia gagal menjadi mitra Allah karena lebih memilih untuk jatuh dalam dosa. Dan akibat kejatuhan ini, manusia tidak bisa lagi menjalankan tugas sebagai mitra Allah di dunia, kecuali jika ia menerima hidup baru dalam Kristus. Manusia cenderung lebih suka melakukan tindakan-tindakan yang merusak ciptaan Tuhan, melanggar perintah Tuhan serta berbuat kejahatan. Namun, kita patut bersyukur karena Allah begitu mengasihi manusia dan tetap menghendaki manusia sebagai mitra-Nya di dalam dunia. Untuk itulah, Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal, yaitu: Yesus Kristus untuk menebus dan mengembalikan manusia ke jalan yang benar. Dengan demikian, hanya melalui dan di dalam Kristuslah, setiap manusia dapat kembali menjadi mitra Allah dalam berkarya, yaitu dalam mengabarkan Injil dan memasyhurkan nama-Nya.

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Matius 4: 19-20

Pada waktu Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon Petrus dan Andreas. Mereka sedang menebarkan jala di danau sebab mereka penjala ikan. Pekerjaan yang membosankan, karena mereka harus berjam-jam bekerja tetapi belum tentu mendapatkan hasil yang memadai. Yesus mengajak keduanya untuk mengikut Dia, untuk menjadi mitra dalam hal menjala manusia. Mungkinkah ini lebih menarik dari menjala ikan? Ataukah ini juga membosankan dan sama beratnya dengan menjala ikan?

Menjala manusia, mengajak orang untuk menjadi pengikut Kristus adalah pekerjaan yang berat. Tetapi, bagi setiap pengikut Kristus, menjala manusia adalah tugas mulia yang harus dilakukan, karena itu adalah sesuatu yang bukan dianjurkan saja. Mengabarkan injil keselamatan adalah perintah Tuhan, mandat agung bagi kita sebagai mitra-Nya.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-20

Mungkin di antara kita ada yang mengira bahwa menjala manusia adalah tugas pendeta, penginjil dan orang-orang tertentu saja. Mereka tidak peduli akan panggilan Kristus untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Dengan ketidakpedulian mereka, seringkali cara hidup mereka justru bisa menghalangi usaha-usaha untuk menangkap orang-orang yang ada disekitar mereka.

Dunia ini melihat kita dan tingkah laku kita sehari-hari. Orang lain bisa melihat kita pergi ke gereja, tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang bisa membuat mereka untuk mengikut Yesus. Tetapi, jika kita hidup menurut firman-Nya dan menghasilkan hal-hal yang baik dalam hidup kita, orang akan bisa tertarik untuk mengikut Yesus dan memuliakan Bapa di surga. JIka kita tidak mau mengasihi mereka yang membenci kita, mereka tidak akan mengenal siapakah Tuhan kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Menjadi mitra Tuhan di zaman ini sesungguhnya tetap berat pelaksanaannya. Walaupun demikian, Tuhan sudah memberkati umat-Nya dengan berbagai berkat, terutama dalam bidang teknologi. Melalui berbagai media dan cara, pengabaran injil bisa dilakukan 24/7 dan menjangkau seluruh penjuru dunia. Dalam keadaan ini, setiap umat Tuhan di undang untuk berkarya demi kemuliaan-Nya. Maukah kita menjadi mitra-Nya?

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. ” Yohanes 14: 12

Berjuang bersama Tuhan

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Yesaya 40: 31

Dalam teologi Kristen, sinergi adalah beberapa bentuk kerja sama antara rahmat ilahi dan kebebasan manusia. Konsep Sinergisme dipegang oleh gereja Ortodoks dan Gereja Katolik Roma, dan oleh Gereja Methodist. Sinergisme bertentangan dengan Monergisme, doktrin yang paling sering dikaitkan dengan gereja Lutheran, Reformed dan Presbiterian. Jika sinergisme secara tegas ditolak oleh gereja Reformed, itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari teologi Arminian.

Lutheranisme, bagaimanapun, mengakui keselamatan monergis dan penghukuman sinergi. Manusia diselamatkan hanya karena anugerah Tuhan, tetapi manusia dihukum karena dosa mereka dan melalui keputusan Tuhan. Sementara itu, dua teolog gereja Reformed yang terkenal, Charles Hodge dan Robert Charles Sproul, juga mengakui adanya beberapa bentuk “kerja sama” atau sinergi antara Tuhan dan manusia.

Bagaimana sebenarnya hubungan antara manusia dan Sang Pencipta? Apakah Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa yang menentukan dan melakukan segala seuatu dalam alam semesta? Jika kita membaca kitab Kejadian 1-2, kita akan mengerti bahwa segala sesuatu memang datang dari Tuhan. Tuhan jugalah yang membuat manusia bisa hidup dan bekerja melalui karunia-Nya. Tuhan yang mahakuasa tidak membutuhkan bantuan ciptaan-Nya, tetapi Ia memberikan kekuatan dan kesempatan kepada seluruh ciptaan-Nya agar mereka dapat hidup dan bekerja untuk memuliakan Dia. Lebih dari itu, manusia diselamatkan hanya karena anugerah Tuhan yang memberi mereka iman yang membawa kepada keselamatan. Walaupun demikian, manusia yang sudah lahir baru harus mau berubah dari hidup lamanya melalui pembaharuan akal budinya yang sudah diterangi oleh Roh Kudus.

Ayat di atas ditulis oleh nabi Yesaya untuk bani Israel. Tetapi, janji Tuhan untuk Israel di saat itu adalah juga janji-Nya kepada umat Kristen di masa kini. Kata-kata penghiburan ini diberikan kepada Israel setelah peringatan berulang kali Yesaya tentang hukuman yang akan datang jika mereka tidak bertobat dari cara-cara jahat mereka. Walaupun demikian, Tuhan adalah Allah penghiburan dan anugerah. Dia tidak pernah mundur dari janji-Nya dan juga tidak menjadi lelah. Dalam cinta kasih-Nya Dia akan memberikan kasih karunia kepada yang rendah hati dan memperbarui kekuatan mereka yang menunggu-Nya dengan iman. Ini adalh bentuk salah satu sinergi yang berlaku untuk semua umat Tuhan.

Keadaan dunia pada saat ini memang bisa membuat semua orang merasa tertekan. Masalah bukan saja ditemui di bidang kesehatan, tetapi juga di bidang pendidikan, ekonomi dan politik, dan ini bisa ditemui hampir di setiap negara. Adalah kenyataan bahwa kesulitan hidup sudah membanjiri hidup manusia, ketakutan sudah menggerogoti hati manusia, dan mereka yang muda dan kuat pun bisa menjadi lemah dan lelah. Mereka tersandung dan jatuh karena mereka mengandalkan kekuatan batin dan sumber daya manusia mereka sendiri, yang bukan merupakan pelindung yang memadai dalam badai kehidupan. Mereka lupa bahwa Tuhan memberi mereka kesempatan untuk berharap pada pertolongan Tuhan. Kesempatan untuk mempraktikkan sinergi dengan Sang Pencipta.

Iman dalam Kristus dibutuhkan untuk bisa terbang setiap hari dengan sayap seperti burung rajawali. Bukan hanya kadang-kadang atau jarang. Itu berarti mempercayai Tuhan untuk mewujudkan semua yang telah Dia janjikan, bahkan ketika akal sehat dan logika kita tampaknya menyarankan sebaliknya atau tampak bertentangan dengan kebenaran yang dijanjikan-Nya. Mereka yang menantikan Tuhan adalah mereka yang memiliki kepastian dan keyakinan batin bahwa janji-janji yang telah Dia buat kepada umat-Nya, dan hal-hal yang mereka harapkan, adalah fakta dan kenyataan yang tidak dapat dibantah oleh indra, emosi, alasan atau ketakutan.

Anugerah Tuhan cukup bagi kita untuk hidup setiap hari dan untuk menghadapi semua keadaan kehidupan. Itu cukup untuk setiap kesulitan yang mungkin kita hadapi atau tantangan apa pun yang dilemparkan kehidupan kepada kita. Kasih karunia-Nya cukup bagi semua orang yang menaruh seluruh kepercayaan dan keyakinan mereka pada kekuatan-Nya yang luar biasa. Itu adalah kekuatan Tuhan Yesus yang mendukung mereka yang tidak hanya mengandalkan kemampuan mereka sendiri.

Jika kita benar-benar mengidentifikasi dengan Kristus dan percaya pada kuasa-Nya dalam perjalanan kehidupan setiap hari, maka kekuatan Tuhan disempurnakan dalam kelemahan kita, maka angin Tuhan akan mengangkat kita di atas sayap rajawali dan membawa kita melewati tantangan dan tekanan hidup, dengan kuasa Roh Kudus-Nya. Tuhan akan memberikan kekuatan kepada mereka yang mau bekerja untuk kemuliaan-Nya dan mau mengakui kelemahan mereka, karena kasih karunia-Nya cukup dalam semua situasi kehidupan.

Bagaimana cara Tuhan memelihara seisi dunia?

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 44-45

Sekalipun berita tentang Covid-19 masih menjadi salah satu pusat pembicaraan masyarakat di saat ini, ada hal-hal lain yang juga membuat kita prihatin. Hampir setiap hari kita mendengar berita tentang bencana banjir atau kekeringan di suatu tempat di dunia. Banjir dan kekeringan ekstrem memiliki dampak besar pada kehidupan manusia, terutama di bagian dunia yang kurang berkembang. Sekitar 140 juta orang terkena dampaknya – terlantar karena kehilangan pendapatan atau rumah – dan hampir 10 ribu orang di seluruh dunia meninggal setiap tahun akibat dua bencana ini.

Apakah Tuhan menyebabkan semua kejadian di atas? Apakah semua itu kehendak Tuhan? Begitu sebagian orang bertanya. Memang jika ditimbang dari segi kemahakuasaan Tuhan, tidak ada kejadian di bumi ini yang terjadi tanpa seizin Tuhan. Sekalipun apa yang terjadi itu kurang baik, Tuhan mahakasih mengizinkan itu terjadi menurut rencana pemeliharaan-Nya (yang disebut providensia). Apa yang terjadi dalam hidup kita belum tentu merupakan kehendak-Nya, sekalipun ada di dalam rencana-Nya. Orang Kristen belajar untuk mencari kehendak Tuhan dan berserah kepada kehendak-Nya sekalipun ini sebuah hal yang sulit dimengerti.

Memang perdebatan manusia tentang apa yang direncanakan dan apa yang dikehendaki Tuhan sering muncul. Sebagian orang percaya bahwa apa pun yang terjadi di alam semesta adalah atas kehendak Tuhan. Selain itu, apa yang direncanakan Tuhan mungkin ditafsirkan sebagai apa yang diperbuat-Nya. Dengan demikian Tuhan sering dianggap sebagai pencipta dosa dan malapetaka yang terjadi di dunia. Begitu juga sering kali orang Kristen kurang mau bertindak karena menganggap semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan.

Untuk bisa mengerti apa yang direncanakan Tuhan, kita harus sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan mahakasih. Apa yang direncanakan-Nya adalah agar seisi alam semesta mennyadari dan mengakui hal ini. Dalam rencananya, Tuhan tidak perlu membuat segala seuatu berjalan persis seperti apa yang dikehendaki-Nya, tetapi Ia adalah Tuhan yang bisa mengatasi segala persoalan dan munculnya hal-hal yang tidak disenangi atau yang tidak dikehedaki-Nya, sehingga rencana-Nya tetap akan terjadi: bahwa Ia akan dipermuliakan pada akhirnya.

Ada 3 hal penting dalam pemeliharaan Ilahi Allah:

  • Penjagaan / Perlindungan Allah: Kekuatan Allah yang mahakuasa yang menyebakan kelangsungan kehidupan. Seisi alam semesta tetap berjalan sekalipun ada hal-hal yang nampaknya jahat atau tidak baik.
  • Kerja sama Allah dan alam semesta: Kekuatan Allah yang mahakuasa yang mempengaruhi segala gerakan dan pekerjaan ciptaan-Nya.
  • Pemerintahan Allah: Kekuatan Ilahi yang dengannya Ia menuntun segala sesuatu, baik yang jahat maupun yang baik ke dalam tujuan akhir tertentu.

Pertanyaan untuk kita, apakah mungkin sesuatu terjadi walaupun tidak sesuai dengan kehendak-Nya? Dari ayat di atas bahwa Allah menghendaki apa yang baik, apa yang bersifat kasih. Tuhan menghendaki kita mengasihi semua orang. Tuhan dengan demikian pasti tidak menghendaki kita untuk berbuat dosa, tetapi jika kita berbuat dosa itu adalah kesalahan kita sendiri. Mengapa Tuhan membiarkan kita berbuat dosa sekalipun itu bertentangan dengan kehendak-Nya? Karena Tuhan memberikan manusia kesempatan untuk mengenal Dia dan menurut perintah-Nya. Tuhan dalam kemahakuasaan-Nya tetap bisa meneruskan rencana pemeliharaan (providensia) -Nya yang sudah ada, dalam keadaan apapun. Providensia Tuhan tidak selalu sama dengan kehendakNya, seperti apa yang terjadi pada bani Israel.

“Israel telah menolak yang baik biarlah musuh mengejar dia! Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 3 – 4

Hari ini, firman Tuhan menyatakan bahwa Ia selalu memelihara umat-Nya dengan memberikan pemeliharaan-Nya hari demi hari. Sekalipun keadaan di sekitar kita terlihat kurang menyenangkan, Tuhan bisa memakainya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan-Nya. Dalam hal ini, orang Kristen terpanggil untuk tetap hidup dalam kebenaran dan tunduk kepada hukum dan peraturan yang ada. Sebaliknya, jika apa yang terjadi jelas-jelas tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, umat Kristen terpanggil untuk menjadi terang dunia dengan memberi bimbingan, tauladan serta pengurbanan, dan menegakkan keadilan maupun kebenaran seperti apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus sewaktu Ia ada di dunia. Kita harus bisa selalu mencari kehendak-Nya dalam bekerja sambil percaya kepada pemeliharaan-Nya!

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Ingin umur panjang?

“Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!” Mazmur 34: 12 – 14

Siapakah yang tidak mengenal nama Mike Tyson? Baru-baru ini ada berita “aneh” tentang dirinya. Mike Tyson telah memberi para penggemarnya gambaran suram tentang masa depannya saat dia memperingatkan bahwa ajalnya sudah dekat. Petinju legendaris yang berusia 56 tahun itu mengatakan bahwa dia telah memperhatikan bagian-bagian tubuhnya baru-baru ini dan khawatir tentang berapa lama lagi dia berada di bumi ini.

Berbicara di podcast Hotboxin-nya, Mike Tyson berkata: “Kita semua pasti akan mati suatu hari nanti. Tetapi, ketika saya melihat ke cermin, saya melihat bintik-bintik kecil di wajah saya.” Saya berkata, “Wow. Itu berarti tanggal kedaluwarsa saya sudah dekat, sangat segera.” Dia tidak merinci lebih jauh tentang kesehatannya atau jika kesehatannya mengalami persoalan. Tetapi, ia menyatakan bagaimana dia sekarang kurang fokus untuk menghasilkan banyak uang karena dia merasa itu tidak secara otomatis mendatangkan kebahagiaan. “Uang tidak berarti bagi saya,” katanya. Mike baru sadar, nampaknya.

Dari segi kedokteran, umur seseorang umumnya bergantung pada faktor genetika dan lingkungan. Ada bangsa-bangsa tertentu, seperti bangsa Jepang, yang sejak dulu terkenal berumur panjang. Sebaliknya, ada juga bangsa yang mudah terkena penyakit tertentu, seperti diabetes, yang disebabkan oleh faktor genetika. Walaupun demikian, faktor lingkungan juga besar pengaruhnya. Mereka yang hidup sehat dalam lingkungan yang baik, biasanya bisa mempunyai umur yang lebih panjang dari mereka yang serumpun tetapi lingkungan hidupnya kurang sehat.

Bagi banyak manusia kematian adalah sesuatu yang menakutkan karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi sesudahnya, baik bagi dirinya maupun keluarganya. Dengan demikian, adalah suatu yang lumrah jika orang tidak ingin cepat mati, tetapi sebaliknya ingin untuk berumur panjang. Sekalipun orang Kristen percaya bahwa mereka akan ke surga sesudah mati, kebanyakan mereka juga ingin untuk sebisa mungkin hidup lama bersama keluarga. Walaupun mereka tahu bahwa hal hidup mati manusia ada di tangan Tuhan, mereka akan berusaha untuk tetap sehat sampai hari tua. Untuk bisa mempunyai umur panjang, mereka yang sadar akan berusaha untuk hidup sehat melalui makanan sehat, olahraga, cukup istirahat dan sedapat mungkin menghindari penyakit.

Jika mereka ditanya mengapa mereka ingin panjang umur, biasanya jawabannya adalah ingin untuk bisa menikmati hidup lebih lama bersama orang-orang yang dikasihi. Jarang orang yang menjawab bahwa mereka ingin hidup lebih lama untuk bisa makin memuliakan nama Tuhan di dunia. Bagi mereka, mungkin lebih penting untuk bisa menikmati berkat Tuhan lebih lama di dunia.

Paulus mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen, kita sebenarnya tidak perlu mendanbakan umur panjang. Itu karena baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Dengan demikian, baik dalam hidup atau mati kita bisa berharap atas kasih-Nya.

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” Roma 14: 8-9

Walaupun demikian, ayat pembukaan di atas mengatakan bahwa tidak ada salahnya jika orang ingin umur panjang untuk menikmati apa yang baik. Tetapi, hidup panjang haruslah dipakai untuk menjauhi hal yang jahat dan untuk melakukan apa yang baik untuk sesama manusia dan Tuhan.

Umur yang panjang dengan demikian seharusnya dipakai untuk melanjutkan tugas untuk menjadi terang dunia. Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Biarlah keinginannya dinyatakan kepada Tuhan dengan kemauan untuk tetap bisa menjadi umat Tuhan yang hidup untuk kemuliaan-Nya.

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20

Tuhan memberi kita kemampuan untuk bertanggung jawab

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 1 Korintus 10: 31

Membaca ayat di atas, saya sering diingatkan bahwa hidup kita sebagai orang percaya adalah untuk kemuliaan Tuhan. Itu adalah tujuan Allah menciptakan seisi alam semesta, tetapi bukanlah hal yang mudah dilakukan. Mengapa begitu? Sering kali kita melakukan suatu perbuatan hanya untuk kenyamanan dan kemuliaan kita sendiri. Makan minum pun adalah salah satu yang kita lakukan sebagai sesuatu yang bisa dinikmati untuk kepuasan diri kita.

Jika Tuhan ingin untuk kita melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya, mengapa Ia tidak menciptakan manusia sebagai suatu makhluk yang selalu bisa dan mau memuliakan-Nya? Mengapa, seperti yang ditulis rasul Paulus di atas, kita harus mau mengambil keputusan setiap hari untuk memuliakan Tuhan dalam setiap segi kehidupan kita? Dalam hal ini, pembedaan antara Tuhan sebagai penyebab utama kehidupan bisa digunakan untuk menjelaskan kemampuan dan tanggung jawab manusia, yang diberikan oleh Pencipta mereka, Tuhan.

Ketika saya makan sarapan pagi, bukan Tuhan yang perlu memakan sarapan saya. Jika saya merasakan rasa nasi goreng yang lezat itu, bukanlah Tuhan yang merasakannya. Dengan kemampuan indera yang datang dari Tuhan, saya, bisa merasakan lezat atau tidaknya makanan dan minuman. Saya, dengan kebijaksanaan saya bisa mengerti apakan perbuatan saya akan memuliakan Tuhan. Tuhan menopang saya dengan Roh-Nya dalam keberadaan saya dan melestarikan kekuatan saya dengan masukan baru dari kekuatannya, dan dengan itu saya bisa bersyukur atas berkat-Nya dan makan sarapan dengan keputusan saya. Begitu juga dalam melakukan berbagai tindakan dalam hidup, Tuhan yang memberi kemampuan dan kita yang menggunakannya.

Bahwa saya seriap hari perlu sarapan, dan melakukan hal-hal yang lain, itu sudah ditetapkan Tuhan dari awalnya. Tuhan menetapkan apa yang telah Dia ciptakan sesuai keinginan-Nya. Selain menciptakan dan melestarikan, ia juga mengatur ciptaan-Nya untuk tujuan-tujuan-Nya. Artinya, semua ciptaan-Nya berguna, memiliki hidup yang bertujuan baik. Hanya saja, sebagian manusia tidak menyadari bahwa mereka harus berani mengambil keputusan untuk memilih apa yang baik, yang bisa memuliakan Tuhan. Sebagian manusia yang lain, merasa bahwa Tuhanlah yang sudah menentukan dari awalnya apakah dalam hidup mereka bisa atau tidak memuliakan Tuhan.

Memang ada dua kesalahan yang harus dihindari, kesalahan pertama adalah ajaran bahwa segala sesuatu terjadi secara kebetulan. Kesalahan kedua adalah ajaran bahwa segala hal terjadi karena kepastian yang buta atau takdir. Karena Allah mengendalikan alam semesta ini, tidak ada tempat bagi hal yang disebut kebetulan dalam hidup manusia, dan karena Allah mengendalikan alam semesta ini, juga tidak ada tempat bagi hal yang disebut takdir untuk hidup manusia. Yang ada adalah kesempatan dan kemampuan manusia untuk memuliakan-Nya yang datang dari Tuhan.

Dalam pengaturan alam semesta, dengan pemeliharaan yang sama, Tuhan membuat semua makhluk hidup untuk bisa merasa lapar. Jadi, dalam hal makan, tindakan serangga berbeda dari tindakan burung, ternak atau manusia, tetapi masing-masing memiliki sifat yang berbeda yang “diperkenan” oleh Tuhan, yang memerintahkan semuanya agar hidup seperti seharusnya. Begitu juga, dalam hal rohani, Tuhan sudah menentukan dari awalnya apa yang baik dan apa yang jahat. Sampai sekarang, Allah secara aktif mengatur semua ciptaan-Nya untuk bisa dan bebas “mengerjakan segala sesuatu menurut kehendak-Nya” (Efesus 1:11). Jika Adam dan Hawa kemudian memilih apa yang jahat, itu adalah keputusan mereka sendiri yang ingin untuk mencari kemuliaan bagi diri mereka sendiri.

Pagi ini, ayat di atas mengingatkan kita bahwa Tuhanlah yang menetapkan segala sesuatu untuk berfungsi dan bekerja untuk kemuliaan-Nya. Dengan demikian, setiap manusa seharusnya sadar bahwa Tuhan adalah sumber kehidupan dan sepenuhnya berdaulat atas segala sesuatu. Walaupun demikian, adalah tanggung jawab kita untuk memakai hidup kita agar kehendak Tuhan atas diri kita boleh kita terjadi. Hidup kita bukanlah milik kita, tetapi milik Kristus, karena itu kita sepenuhnya bertanggung jawab untuk memakainya agar kebesaran, kemulian, serta kasih-Nya disadari oleh seisi dunia.