Menhindari petengkaran dalam hidup

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” 2 Timotius 2: 23 – 25

Gereja Yesus Kristus adalah sebuah keluarga. Mereka yang telah menempatkan iman mereka di dalam Kristus mengizinkan Roh-Nya mengubah mereka dan telah diadopsi ke dalam keluarga Allah (Efesus 1:5; Roma 8:15). Dan, seperti halnya keluarga mana pun, ada perselisihan. Ada bentrokan kepribadian, perbedaan pendapat, dan ide yang tidak akan bekerja sama. Ketika masing-masing yakin bahwa jalannya adalah satu-satunya jalan yang benar, bentrokan itu bisa permanen. Namun, perbedaan pendapat tidak selalu membuahkan hasil yang negatif. Bahkan para rasul memiliki perbedaan pendapat.

Dalam Kisah Para Rasul 15:36-41, kita membaca tentang Paulus dan Barnabas memiliki perselisihan yang begitu tajam sehingga mereka berpisah, memilih mitra pelayanan baru, dan berpisah. Hasilnya adalah semakin banyak gereja yang didirikan dan pesan Tuhan disebarkan kepada lebih banyak orang. Paulus dan Barnabas akhirnya berdamai dan terus bersama-sama menyebarkan Injil.

Ayat di atas mengajarkan bahwa dalam membicarakan hal iman, kita harus berkomunikasi dengan lemah lembut dan hormat, tanpa maksud buruk, supaya mereka yang menentang kita menjadi malu karena hidup dan sikap kita yang tak bercela. Baik dalam kehidupan sehari-hari atau dalam pertemuan di dunia maya, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang tidak mengenal Kristus, orang Kristen harus menyatakan kasihnya kepada semua orang agar kebenaran Tuhan dinyatakan.

Kata “semua orang” dalam ayat di atas juga menekankan prinsip kekristenan bahwa mengasihi sesama manusia bukanlah berarti hanya mengasihi orang yang seiman dan segolongan saja, tetapi semua orang yang hidup di dunia. Mengasihi berarti menghargai orang lain dan mau menolong mereka yang dalam kesulitan. Sekalipun kita tidak menyetujui apa yang dilakukan atau dipercayai orang lain, kita tidak dengan sengaja mencari musuh dengan berusaha menundukkan atau menghina mereka.

Apa yang ditulis Paulus adalah cocok untuk diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap umat Kristen, terutama para pemimpin jemaat. Paulus menasihati kita untuk menghindari perdebatan tentang soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Semua orang tentunya tahu bahwa soal-soal itu cenderung menimbulkan pertengkaran. Kita sebagai pengikut Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi sebaliknya harus ramah terhadap semua orang, terutama mereka yang mempunyai faham yang berbeda.

Meskipun seharusnya hanya ada satu interpretasi yang akurat dari segala sesuatu dalam Alkitab, kemampuan manusia untuk membedakan bahwa satu interpretasi bisa salah. Dua tokoh Kristen dapat melihat masalah yang sama secara berbeda. Sebagian besar denominasi gereja muncul dari interpretasi yang kontras ini. Tetapi denominasi-denominasi tersebut tidak perlu terlibat dalam “argumentasi” satu sama lain.

Diskusi antara sudut pandang yang sangat kontras tidak harus menjadi argumen. Keilahian Kristus, keselamatan melalui iman, dan kebutuhan akan pertobatan tidak dapat ditawar lagi. Tetapi beberapa masalah sekunder dalam Firman Tuhan menyisakan ruang untuk perbedaan pendapat. Beberapa ketidaksepakatan yang ada umumnya berkaitan dengan predestinasi, kehendak bebas,nubuatan akhir zaman, karunia Roh, baptisan, dan organisasi gereja. Inilah justru yang sering menjadi bahan perdebatan yang sengit saat ini.

Alkitab jelas bahwa Allah membenci perselisihan dan pertengkaran di antara anak-anak-Nya (2 Korintus 12:20; Galatia 5:15; Yakobus 3:14, 4:1-3). Filipi 2: 1-4 menyatakan:

“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”

Jika setiap orang percaya hidup dengan aturan itu, pertengkaran akan bisa dihindari. Setiap orang tua tidak menyukai pertengkaran di antara saudara kandung, dan Tuhan adalah Bapa yang juga tidak menyukainya.

Paulus juga membahas hal ini dalam Roma 14. Dia memperingatkan orang-orang percaya untuk menyambut mereka yang baru dalam iman yang mungkin memiliki keyakinan yang berbeda dari orang-orang kudus yang berpengalaman. Ayat 5 mengatakan, “Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.” Dengan kata lain, ada beberapa masalah yang bukan masalah berat, dan kita perlu mengamalkan kasih karunia dalam menerima keyakinan yang dipegang teguh dari orang percaya lainnya.

Melakukan hal itu secara konsisten akan menghilangkan banyak perdebatan yang menodai reputasi tubuh Kristus. Kita harus mempelajari Firman Tuhan dan mengungkapkan apa yang kita percaya itu ajarkan (2 Timotius 2:15), tetapi kita harus melakukannya dengan kerendahan hati dan kasih, memberikan kasih karunia kepada orang percaya lain yang melihat sesuatu secara berbeda (1 Korintus 13:1-2).
Pada akhirnya, kita semua menjawab kepada Bapa kita tentang bagaimana kita memperlakukan satu sama lain (Matius 12:36). Setiap anak Tuhan harus ingat bahwa Bapa kita menempatkan jauh lebih penting pada kasih kita menunjukkan daripada Dia lakukan pada kita yang “benar” dalam setiap masalah (1 Yohanes 4:20-21).

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita boleh berdebat dengan orang lain mengenai hal iman, tetapi pada akhirnya apa yang lebih mudah dimengerti adalah tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita benar-benar sudah menerima penebusan Kristus, hidup kita pastilah diisi dengan kasih, sukacita dan kelemahlembutan. Dengan demikian, banyaklah orang yang mengambil keputusan untuk mau mengenal Kristus karena mereka melihat Dia hidup dalam diri kita.

Hal mengambil keputusan dalam hidup

Sebenarnya kamu harus berkata: ”Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Pernahkah anda bertanya-tanya apa kehendak Tuhan bagi hidup anda? Saya kira kita semua pernah mengajukan pertanyaan itu di beberapa kesempatan. Bagi kebanyakan dari kita, pertanyaan muncul dalam hati kita pada saat-saat kritis: memilih pasangan atau pekerjaan, memilih sekolah mana yang akan diikuti atau rumah mana yang akan dibeli. Inilah saat-saat kita cenderung berseru: Tuhan, tunjukkan kehendak-Mu!

Pada saat kita berusaha untuk mengetahui kehendak Tuhan, kita sering merasakan ketegangan. Dalam keinginan yang tulus untuk menyenangkan Dia, terkadang orang Kristen bisa berjalan dalam ketakutan bahwa mereka akan membuat pilihan yang salah. Secara ekstrim, kita mungkin bertanya-tanya di mana Tuhan ingin kita mendapatkan kopi, berapa banyak yang Dia ingin kita belanjakan untuk bahan makanan, atau apakah Dia akan senang jika kita pergi ke luar kota untuk berlibur. Setiap pilihan menjadi keputusan yang melumpuhkan: entah karena takut gagal menemukan apa yang Tuhan inginkan, atau takut membuat pilihan yang bisa menghancurkan segalanya.

Bagi beberapa orang, terobsesi dengan detail kehidupan membuat mereka membuat keputusan dengan cara yang jelas-jelas tidak alkitabiah—menggantungkan pilihan mereka pada “tanda-tanda” atau ‘berserah pada “nasib”. Mungkin kita terpaksa berkata: “Kehendak-Mu jadilah” sambil menutup mata dan mengharapkan apa yang terbaik. Pada pihak yang lain, ada orang yang berayun ke ujung yang berlawanan, yang berpikir bahwa Tuhan tidak terlalu peduli dengan detail kehidupan kita dan tidak memiliki “kehendak” untuk apa pun atas hal yang mereka lakukan.

Kita juga dapat berasumsi bahwa kehendak Tuhan hanya berlaku untuk aspek kehidupan tertentu, yang signifikan, misalnya dengan siapa kita menikah atau pekerjaan apa yang kita lamar. Tetapi, di luar hal-hal besar itu, pada dasarnya kita mungkin percaya bahwa kita mengendalikan hidup kita. Yakobus mengatakan sikap seperti ini adalah arogan dan jahat (Yakobus 4:16). Dalam segala hal, kita harus mengakui ketergantungan kita sepenuhnya pada rencana Allah yang berdaulat, dengan mengatakan, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini atau itu” (Yakobus 4:15). Tetapi bagaimana kita bisa tahu apakah Tuhan telah menghendaki sesuatu atau tidak? Apakah kita tidak boleh atau tidak bisa mengambil keputusan dengan pikiran dan pengalaman kita?

Sebenarnya semua kehendak Tuhan bisa dibagi dalam dua penampilan: kehendak rahasia-Nya dan kehendak-Nya yang diungkapkan. Kehendak rahasia-Nya (kadang-kadang disebut sebagai kehendak tersembunyi) mengacu pada fakta bahwa Allah berdaulat dan memerintah dengan cermat atas segalanya. Tidak ada yang terjadi di luar kehendak-Nya atau tidak dengan se-izin-Nya. Ini disebut “tersembunyi” atau “rahasia” karena kita tidak tahu kehendaknya sebelum itu terjadi. Ini adalah kehendak Allah yang berdaulat, tetapi tidak kita ketahui. Kehendak ini tidak ada yang bisa menggagalkannya.

Pada pihak yang lain, kehendak Allah yang diungkapkann adalah apa yang Dia nyatakan kepada kita di dalam Alkitab dan apa yang kita ketahui melalui pengenalan kita akan hukum dan watak Ilahi-Nya. Misalnya, kita tahu bahwa Tuhan menghendaki kita mengasihi sesama, mengekang lidah, berlaku adil, mengasihi belas kasihan, dan berjalan dengan rendah hati. Kita tahu adalah kehendak Tuhan agar kita menghindari “dosa-dosa yang membinasakan” yang bisa menghancurkan hubungan kita dengan Dia dan sesama seperti kesombongan,ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan dan kemalasan.

Ironisnya, sebagai orang Kristen kita cenderung mengabaikan kehendak Tuhan yang diungkapkan dan terlalu berfokus pada kehendak rahasia-Nya. Kita sering ingin mengetahui kehendak Tuhan yang tersembunyi di masa depan, sementara berjalan bertentangan dengan kehendak-Nya yang terungkap di masa sekarang. Kita kurang mau mengambil keputusan berdasarkan kehendak Tuhan yang kita ketahui, dan berharap pada apa yang masih dirahasiakan. Selain itu, jika pun kita mau mengambil keputusan, kita mungkin berusaha mengingkari tanggung jawab kita dengan berkata bahwa semua yang kemudian terjadi adalah kehendak Tuhan yang dulunya tidak kita sadari.

Sebenarnya, kita harus rajin belajar dan berusaha memahami kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan. Saat kita mendengarkan khotbah dan pengajaran yang baik, membaca dan mempelajari renungan Alkitab, kita akan bertumbuh dalam kemampuan kita untuk mengetahui kehendak Allah yang diungkapkan. Dan saat kita memperbarui pikiran kita, Roh Kudus akan membantu kita tidak hanya membedakan kehendak Tuhan (Roma 12:2), tetapi juga menerapkannya pada keadaan dan momen hari-hari kita. Dengan demikian, kita akan lebih berani untuk mengambil keputusan dalam hidup kita karena kita percaya akan bimbingan-Nya.

Sementara kita berusaha mematuhi kehendak Tuhan yang diungkapkan, kita dapat percaya bahwa sebagai wakil Tuhan di dunia, kita bisa bergantung pada pemeliharaan Tuhan yang baik—bahwa Ia ikut bekerja dalam semua hal untuk membawa kebaikan bagi kita. . Melalui sinergi, Dia mengerjakan segala sesuatu bersama-sama untuk kebaikan orang-orang yang mengasihi-Nya (Roma. 8:28). Apa pun hari-hari kita, kita dapat percaya bahwa hal-hal spesifik sudah dirancang oleh Tuhan yang pengasih untuk kebaikan kita.

Apakah keputusan kita hari ini menyangkut hal memilih pasangan atau pekerjaan baru, kita dapat mempercayai Tuhan kita yang berdaulat untuk mengatur hidup kita untuk kemuliaan dan kebaikan kita. Ini juga berarti kita dapat mempercayai kehendak Tuhan bahkan selama adanya masalah kehidupan. Terkadang kita berpikir bahwa penderitaan kita tidak mungkin dikehendaki Tuhan. Tetapi kita lupa bahwa keselamatan kita dimenangkan Yesus karena Ia menyerahkan diri-Nya sepenuhnya kepada kehendak Allah pada saat penderitaan-Nya yang terbesar.

Setelah hidup dalam ketaatan yang sempurna pada kehendak Tuhan yang diungkapkan, Yesus, pada malam sebelum penyaliban-Nya, bertanya kepada Bapa-Nya tiga kali apakah ada cara lain baginya untuk menyelesaikan rencana Tuhan untuk menyelamatkan manusiai. Semuanya bergantung pada bagaimana Yesus akan menanggapi kehendak Allah yang sempurna. Segala pujian dan kemuliaan bagi Yesus, karena Dia menyerahkan diri kepada kehendak Bapa dengan berkata, “Jadilah kehendak-Mu” (Matius 26:42).

Pagi ini, biarlah kita berusaha untuk mengetahui kehendak Tuhan yang diungkapkan sebelum kita mengambil tindakan atau keputusan. Kita harus mau menaatinya, berjalan dalam kekudusan, mengejar kekudusan, mengasihi sesama kita, bermurah hati dengan sumber daya kita, mengekang lidah kita, dan takut akanTuhan. Percayalah bahwa Tuhan, dalam pemeliharaan-Nya, mengerjakan segala sesuatu bersama-sama untuk kebaikan kita, dan ingatlah bahwa apa yang saat ini tersembunyi akan suatu hari terungkap dalam kemuliaan Tuhan. Sementara kita menunggu dengan harapan yang teguh untuk hari itu, kita harus bersyukurlah kepada Tuhan bahwa kehendak-Nya selalu baik untuk setiap umat-Nya.

Pada akhirnya kehendak Tuhan pasti terjadi

Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya. Efesus 1: 11

Apakah Tuhan mengatur hidup orang Kristen saja atau semua orang di dunia? Banyak orang yang menafsirkan dari ayat di atas bahwa Tuhan membuat segala sesuatu di dunia terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Ini menyangkut hal yang baik dan yang buruk. Bagaimana sebenarnya?

Ayat di atas ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Efesus. Jadi, jelas bahwa ayat ini ditujukan untuk untuk umat Kristen. Menurut ayat itu, “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Apa arti “segala sesuatu” dalam ayat ini? Kata “semua” dan “segala” muncul beberapa kali dalam ayat-ayat di sekitar Efesus 1:11 seperti:

  • Ayat 3: segala berkat rohani di dalam sorga
  • Ayat 8: semua hikmat dan pengertian (yaitu yang berasal dari Tuhan)
  • Ayat 10: segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi

Kata “semua” dalam kitab Efesus 1 dengan demikian menunjuk pada semua berkat Tuhan, kebijaksanaan dan pemahaman spiritual dan hal-hal di langit dan bumi yang merupakan karunia Tuhan – pemeliharaan ilahi Tuhan kepada semua umat-Nya. Karena itu, dalam konteks Efesus 1:11 jelas bahwa kata “semua” tidak termasuk hal yang jahat dan dosa.

Tuhan menentukan semua hal yang baik agar terjadi, karena semua yang baik datang dari Tuhan untuk umat-Nya:

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1: 17

Jika semua yang baik datang dari Tuhan, bagaimana pula dengan hal-hal yang tidak baik?

Memang ada juga situasi di mana Tuhan mengizinkan adanya hal yang jahat datang kepada umat-Nya. Sebenarnya, Dia sering mengizinkan hal itu terjadi secara sengaja pada siapa saja, Kristen maupun bukan Kristen. Ketika Tuhan mengizinkan sesuatu, Ia tahu apa yang akan dilakukan-Nya dan Ia tahu semua hasilnya dan karena itu Ia mengizinkannya. Tuhan mengizinkannya dengan bijak dan dengan sempurna, sehingga pada akhirnya semuanya akan cocok dengan bentuk keseluruhan dari apa yang dikerjakan dan direncanakan-Nya dari mulanya. Pada akhirnya semua umat Tuhan akan melihat bahwa Tuhan adalah kasih sekalipun dalam hidup mereka bisa mengalami banyak penderitaan.

Jika ayat di atas di tujukan kepada umat Tuhan, bagaimana pula dengan mereka yang bukan umat-Nya? Jika Tuhan mempunyai rencana bagi umat-Nya, Ia juga mempunyai rencana untuk mereka yang bukan umat Tuhan. Pemeliharaan Tuhan bukan hanya untuk orang percaya, karena kehendak Tuhan juga ada untuk mereka yang saat ini belum termasuk dalam umat-Nya. Jika tidak, tidak ada seorang pun di luar gereja yang akan mengenal Allah dan gereja-Nya. Kita tahu bahwa Tuhan ingin semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan tentang kebenaran:

“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” 1 Timotius 2: 3-4

Mereka yang menerima panggilan Kristus akan mendapat bagian yang dijanjikan dari semula dan yang ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah. Sebaliknya, semua orang yang menolak uluran tangan kasih Tuhan pada akhirnya akan sadar bahwa Tuhan adalah mahasuci dan mahaadil dan karena itu mereka menerima hukuman yang seharusnya.

Pagi ini, firman Tuhan jelas menyatakan bahwa Ia adalah Tuhan yang mempunyai rencana. Kehendak-Nya pasti terjadi sekalipun manusia menjalani hidup mereka dengan kebebasan untuk melakukan apa saja dan merasa bahwa Tuhan tidak mempunyai kuasa atas hidup mereka. Mereka tidak sadar bahwa segala sesuatu ada dalam rencana Tuhan, yang pada akhirnya akan meyakinkan sesisi alam semesta bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan Tuhan yang mahakasih, yang sudah menyatakan dari awalnya bahwa semua rencana-Nya pada akhirnya akan terjadi.

TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Kedaulatan Tuhan dan kebebasan manusia

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1: 13-14

Jika Tuhan adalah penyebab utama dari segala sesuatu yang terjadi, apakah Tuhan bertanggung jawab atas dosa kita? Apa hubungan misterius antara kedaulatan Allah dan dosa manusia? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara tepat, kita harus memeriksa kondisi manusia dan bagaimana manusia bekerja di luar kasih karunia Allah.

Reformator John Calvin menulis: “Saya yakin [bahwa] pencuri dan pembunuh dan pelaku kejahatan lainnya adalah alat pemeliharaan ilahi, dan Tuhan sendiri menggunakan ini untuk melaksanakan penghakiman yang telah Dia tentukan. Namun saya menyangkal bahwa mereka dapat memperoleh dari alasan apa pun untuk perbuatan jahat mereka. Karena masalah dan kesalahan kejahatan ada pada orang jahat, apa alasan untuk berpikir bahwa Tuhan harus membuat kekotoran dalam pikiran mereka yang bisa memyebabkan mereka berdosa?”

Sementara Tuhan mengendalikan dan menahan keberdosaan manusia, Dia tidak bertanggung jawab atas tindakan orang jahat. Pemerintahannya yang berdaulat atas segala sesuatu dipertahankan, tetapi Dia tidak bertanggung jawab atas dosa – manusialah yang jatuh dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Kita diberkati dengan kebebasan untuk bertindak sesuai dengan sifat kita. Karena kodrat kita telah jatuh, rusak, dan berdosa, terlepas dari kasih karunia Allah, kita secara bebas bisa berbuat dosa. Ketika Tuhan mengeraskan hati orang-orang seperti Firaun, Dia tidak memaksa mereka untuk bertindak bertentangan dengan apa pun di dalam diri mereka sendiri. Manusia akan terus berbuat dosa dengan bebas selama Allah mengizinkannya.

Tuhan menggunakan orang-orang jahat untuk tujuan-Nya, ini terlihat jelas dalam kisah Yusuf ketika saudara-saudaranya menjual dia sebagai budak. Jusuf memberi tahu saudara-saudaranya kemudian bahwa apa yang mereka maksudkan untuk kejahatan, Tuhan dimaksudkan untuk kebaikan. Yusuf mengerti bahwa tangan Tuhan yang mengarahkan keadaannya, bukan saudara-saudaranya: “Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah” (Kejadian 45: 8). Allah mengizinkan adanya dosa untuk mewujudkan kehendak-Nya yang berdaulat.

Manusia yang jatuh adalah daging. Dalam daging, dia tidak dapat melakukan apa pun untuk menyenangkan Tuhan.

Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Roma 8: 7-8

Karena kebejatan kita, tanpa kasih karunia Tuhan, kita hanya bertindak dalam pemberontakan dan karena itu harus bertanggung jawab atas dosa-dosa kita. Walaupun begitu, Tuhan itu baik dan tidak bisa berbuat jahat. Allah mengizinkan kejahatan untuk mengerjakan segala sesuatu bersama-sama untuk kebaikan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Mungkin kita bertanya, “Siapakah mereka yang ‘berada dalam daging’?” Paulus selanjutnya menyatakan: “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu” (Roma 8: 9). Kata penting di sini adalah jika. Apa yang membedakan mereka yang ada dalam daging dari mereka yang tidak adalah berdiamnya Roh Kudus.

Tidak ada orang yang tidak dilahirkan kembali yang didiami oleh Allah Roh Kudus. Orang-orang yang ada di dalam daging belum dilahirkan kembali. Kecuali mereka dilahirkan kembali lebih dulu, dilahirkan dari Roh Kudus, mereka tidak dapat tunduk pada hukum Tuhan. Mereka tidak bisa menyenangkan Tuhan, kecuali jika mereka mau berpaling dari dosa dan mau menerima bimbingan Roh Kudus selama hidup.

Mereka yang sudah lahir baru masih bisa berbuat dosa, tetapi bukan hamba dosa. Mereka adalah hamba Allah. Mereka mempunyai Roh Kudus, tetapi masih bisa mendukakan Roh Kudus karena adanya kebebasan yang mereka punyai.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 30-31

Hari ini, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia yang jatuh masih bebas untuk memilih apa yang dia inginkan, tetapi karena keinginannya hanya jahat, dia tidak memiliki kemampuan moral untuk datang kepada Kristus. Selama dia tinggal di dalam daging, tidak dilahirkan kembali, dia tidak akan pernah memilih Kristus. Dia tidak dapat memilih Kristus dengan tepat karena dia tidak dapat bertindak melawan kehendak jahatnya sendiri. Dia tidak memiliki keinginan dan kemampuan untuk membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah dan segala kejahatan. Sungguh luar biasa bahwa hanya kasih karunia Tuhan yang bekerja di dalam hatinya yang dapat membawanya kepada iman dan pembaharuan cara hidup. Dengan adanya Roh Kudus, ia akan dapat membuang apa yang jahat dan memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah.

Kesadaran atas akibat dosa adalah perlu

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Siapa atau apa saja yang bisa membuat aspek hidup umat Tuhan rmenderita di dunia? Yang pertama tentunya dosa. Dari awalnya manusia menderita karena dosa Adam dan Hawa yang mendatangkan kutuk Tuhan kepada setiap orang. Selain itu, ada kalanya Tuhan mengizinkan datangnya “temptation” atau pencobaan. Sekalipun Tuhan tidak mencobai siapa pun, Ia dengan tuijuan tertentu bisa mengijinkan iblis untuk mencobai umat-Nya dengan mendatangkan hal-hal yang jahat. Terkadang Tuhan memberi test, hajaran atau ujian hidup kepada umat-Nya, yang sekalipun tidak melakukan dosa tertentu tetapi harus mengalami hal-hal yang tidak nyaman. Bagaimana dengan serangan iblis? Seagian orang percaya bahwa umat Tuhan yang sejati tidak dapat diserang iblis. Ini tidak benar. Iblis tidak dapat memiliki kita, tetapi tetap dapat menyerang kita. Karena itu kita harus tetap berjaga-jaga karena iblis dapat menyerang kita selagi kita tidak siap. Lebih dari itu, umat Kristen bisa menderita karena orang lain dan lingungan yang buruk. Karena itu kita harus berhati-hati memilih teman dan lingkungan kerja atau tempat hidup.

Adalah kenyataan bahwa sebagian besar kesengsaraan manusia disebabkan oleh dosa sendiri dan dosa orang lain. Manusia tidak perlu memperoleh izin Tuhan untuk berdosa, tetapi sebaliknya semua orang cenderung dan bisa berbuat dosa dengan bebas jika Tuhan tidak mencegahnya. Ayat di atas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus menyatakan bahwa ia tahu, bahwa didalam dirinya, sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam dirinya, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Kehendak yang ada pada diri manusia sering kali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga bisa dipengaruhi iblis. Dengan demikian, kehendak bebas yang dipakai dalam hubungan kita dengan Tuhan sering kali justru membuat kita cenderung untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan.

Memang kebebasan tanpa batas sering kali mendatangkan kekacauan. Ini bukan saja terjadi pada anak muda, tetapi juga di kalangan orang dewasa. Jika manusia hanya mementingkan kenyamanan dan kepuasan pribadi, pada akhirnya mereka akan melakukan hal-hal yang tidak baik. Hal yang serupa bisa juga terjadi di kalangan orang Kristen yang merasa bahwa dengan pengampunan yang mereka terima melalui Yesus Kristus, mereka dibebaskan dari pemikiran atau kekuatiran tentang dosa. Dengan kesadaran bahwa Tuhan adalah Oknum yang mahakasih, mereka mudah jatuh dalam perbuatan yang tercela. Bukankah Tuhan yang mahakasih akan selalu dapat mengampuni dosa mereka? Bukankah kasih Tuhan yang tidak dapat dibayangkan dalamnya bisa mengampuni dosa yang sekelam apa pun?

Jika kasih Tuhan yang tidak terbatas menghapus kekuatiran manusia untuk melanggar hukum Tuhan, itu adalah sesuatu yang aneh. Mengapa? Jika manusia sadar bahwa Tuhan mengasihi mereka, itu bukanlah surat izin untuk melakukan apa saja yang dikehendaki mereka. Tuhan yang lebih dulu mengasihi kita, ingin agar kita juga mengasihi Dia dan sesama kita. Dalam kenyataannya, jika kita benar-benar pengikut-Nya tentunya kita akan berusaha untuk menempuh hidup yang baik dan menjalankan perintah-Nya. Kemerdekaan dari dosa yang sudah diberikan Tuhan, bukan berarti kesempatan untuk membuat dosa baru. Sebaliknya, pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan seharusnya membuat kita sadar bahwa hidup kita makin lama harus makin baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan Tuhan,

Tuhan memberikan kemerdekaan kepada umat manusia untuk memilih apa yang baik. Tetapi, sayang sekali bahwa Adam dan Hawa gagal untuk menggunakan kebebasannya. Sebaliknya, karena pelanggaran mereka, seluruh umat manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan karena itu makin sulit bagi mereka untuk memilih apa yang baik. Manusia sudah rusak sedemikian rupa sehingga sekalipun nampaknya merdeka, sudah jatuh dalam kungkungan dosa. Ini bukan berarti bahwa manusia sudah rusak sama sekali sehingga ia sama sekali tidak dapat membedakan yang baik dari apa yang jahat. Tetapi, tanpa bimbingan dan pengarahan Tuhan pastilah manusia akan mengalami kesulitan dan tidak akan mempunyai harapan untuk keselamatan.

Sebagai orang yang sudah diberi pencerahan oleh Roh Kudus, dan oleh karena karunia-Nya kita sudah menerima pengampunan, pengertian kita akan kebebasan seharusnya diperbarui hari demi hari. Sekalipun kita melihat bahwa ada banyak hal yang menarik yang dapat kita pilih, hidup yang sudah disucikan oleh darah Kristus akan memilih untuk meninggalkan dosa lama dan menjalani hidup sesuai dengan firman-Nya. Karena kasih karunia Tuhan, kita akan makin sadar bahwa dalam hidup baru yang kita terima kita harus bisa memakai kebebasan kita untuk memilih Dia di atas segala yang terlihat memikat di depan mata. Kita meninggalkan perhambaan oleh dosa dan memilih menjadi hamba Kristus.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, kita diberi kebebasan untuk memilih apa yang kita ingini dalam hidup di dunia. Tetapi, jika kita tidak mau menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, kebebasan kita akan membawa kita kepada hal yang buruk. Penyerahan hidup kita kepada bimbingan Tuhan bukanlah sesuatu yang otomatis akan terjadi pada setiap orang Kristen, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa kitalah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup kita.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Matius 16: 24

Adanya dosa bisa menyatakan kasih Allah

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Apakah semua orang yang benar-benar percaya bahwa Yesus itu Tuhan akan diselamatkan? Mungkin banyak orang yang mengaku Kristen akan mengiyakan. Tetapi, sebagian orang mungkin merasa ragu-ragu. Bukankah Yesus pernah berkata bahwa tidak semua orang percaya akan keilahian Yesus benar-benar umat-Nya.? Adalah kenyataan bahwa iblis pun percaya adanya Tuhan (Yakobus 2: 19).

Untuk menjadi umat-Nya memang orang tidak cukup untuk percaya, tetapi harus mau hidup dalam terang-Nya karena mereka yang tetap hidup dalam kegelapan dosa bukanlah pengikut-Nya yang sejati. Seorang yang sudah menerima hidup baru adalah ciptaan yang baru, dan dengan bimbingan Roh Kudus akan berubah hidupnya, makin lama makin menyerupai Yesus. Secara pelan atau cepat, setiap orang Kristen sejati akan berubah cara hidupnya.

Pengampunan dosa dan hidup baru bukanlah berarti bahwa orang itu akan menjadi orang yang selamanya tidak bisa berbuat dosa. Manusia dalam kodratnya tetap adalah manusia yang selalu cenderung jatuh ke dalam dosa. Hal ini akan menjadi lebih serius jika orang itu tidak berusaha untuk mawas diri akan apa yang dilakukannya. Karena itu, ada orang Kristen yang tidak menyadari atau tidak peduli akan dosa yang diperbuatnya dalam hidup sehari-hari, dan karena itu tidak tahu pentingnya memohon ampun kepada Tuhan dan bertobat dari dosa-dosa yang selama ini masih menguasai cara hidup mereka.

Mereka yang sudah diampuni melalui pertobatan dan iman adalah orang orang yang secara hukum (judisial) menjadi umat Tuhan yang akan diselamatkan. Dengan demikian, mereka tidak perlu mengingat-ingat akan dosa-dosa di masa lalu. Tetapi ini bukan berarti bahwa mereka dapat melupakan dosa-dosa yang bisa mereka lakukan setelah itu. Ananias dan Safira adalah salah satu contoh di mana umat Tuhan (orang yang diselamatkan) menerima hukuman atas dosa kebohongan yang diperbuat secara sengaja. Memang ada dosa-dosa yang membawa kebinasaan!

Alasan Tuhan untuk menyebabkan kematian Ananias dan Safira melibatkan kebencian-Nya terhadap dosa, kemunafikan mereka, dan pelajaran bagi seluruh gereja, baik dulu maupun sekarang. Hari ini dapat dengan mudah mengabaikan kekudusan Allah, melupakan bahwa Dia adalah benar dan murni dan bahwa Dia membenci dosa dengan sepenuh hati. Dosa kemunafikan dalam gereja ini ditangani dengan cepat dan tegas.

Jika orang Kristen yang menderita karena teringat akan dosa masa lalu sebenarnya kurang yakin akan besarnya kasih Allah melalui penebusan darah Kristus, mereka yang menganggap bahwa menjadi Kristen adalah kebebasan untuk tetap berbuat dosa adalah orang-orang yang tidak menghargai penebusan Kristus dan tidak erat hubungannya dengan Tuhan. Lebih lanjut, mereka yang tetap hidup dalam dosa dan tidak merasakan hal itu, mungkin saja adalah orang-orang yang belum benar-benar menjadi pengikut Kristus.

Ayat di atas menyatakan bahwa mereka yang benar-benar mengikut Kristus sadar bahwa mereka diselamatkan bukan karena usaha sendiri, tetapi semua itu adalah karunia Tuhan. Mereka sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang setia dan adil karena Ia menjalankan kasih dan hukum-Nya. Karena itu, mereka selalu berusaha berjalan menurut firman-Nya. Ini tidak mudah karena mereka membutuhkan bimbingan dan pertolongan Tuhan. Oleh sebab itu, mereka selalu berusaha untuk mempunyai hubungan atau relasi yang baik dengan Tuhan. 

Ayat di atas bertalian dengan cara bagaimana kita bisa mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Jika kita sadar akan dosa kita, kita harus meminta ampun kepada-Nya. Bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi dengan penuh kesadaran dan penyesalan. Mereka yang tidak sadar akan dosa-dosa yang mereka perbuat akan sulit untuk memohon ampun dengan tulus hati, dan jika mereka melakukannya itu hanyalah omong-kosong saja. 

Mungkinkah orang yang benar-benar Kristen untuk tidak menyadari pentingnya membina relasi dengan Tuhan yang mahasuci? Mungkinkah bagi mereka untuk tidak mengerti apa yang Tuhan sukai dan apa yang Ia benci? Mungkinkah orang Kristen untuk tidak menerapkan etika Kristen? Mungkinkah mereka tetap membenci sesamanya? Tentunya tidak mungkin, kecuali jika mereka adalah orang belum dilahirkan kembali dan belum menerima pengampunan judisial dari Tuhan. Mereka yang sadar akan arti pengampunan dosa pasti sadar bahwa pertobatan adalah penting agar Tuhan memberkati hidup kita di masa depan, baik di bumi maupun di surga.

Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Yohanes 5: 14

Dosa tidak hanya membawa duka

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6: 1-2

Apakah anda orang yang senang membaca pengalaman hidup selebriti yang menghebohkan di media? Jika begitu, anda mungkin ingin tahu pengalaman hidup dan dosa apa yang pernah saya perbuat dan apa akibat dosa yang saya alami. Saya bukan seorang selebriti, tetapi saya tidak kalah hebatnya jika dibandingkan mereka. Saya mengaku pernah melakukan berbagai perbuatan yang salah, dan jika anda mengenal tujuh dosa yang mematikan atau seven deadly sins yang terdiri dari pride (kesombongan), greed (ketamakan), envy (iri hati), wrath (kemarahan), lust (hawa nafsu), gluttony (kerakusan), dan sloth (kemalasan), saya mengaku pernah melakukan semuanya.

Bagaimana pengalaman saya dengan kejatuhan dalam dosa yang disebut utama dan yang mematikan itu? Saya masih hidup sekarang, tapi itu bukan berarti hidup saya terisi sukacita setelah melakukan dosa-dosa itu. Dosa bagi umat Kristen selalu membawa rasa duka atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Dosa bagi siapa pun akhirnya sering membawa persoalan yang membuat mereka mengalami masalah-masalah besar selama hidup di dunia. Sekarang saya memang merasa menyesal atas dosa-dosa yang lalu, tetapi pada saat saya melakukan dosa-dosa itu, saya tidak terlalu memikirkannya. Saya bahkan lupa bahwa Tuhan melihat apa yang saya lakukan. Saya tidak sadar bahwa Tuhan juga berduka atas dosa saya, seperti Ia berduka melihat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Adam dan Hawa yang kemudian hidup sengsara di dunia dan harus mengalami kematian jasmani. Dosa-dosa manusia memang selain mematikan kebahagiaan dan ketenteraman hidup di dunia, juga mematikan hubungan mereka dengan Tuhan.

Jarang orang mau mengaku jika berbuat salah, bahwa itu karena pilihan sendiri. Sebaliknya, banyak orang yang merasa “terpaksa” untuk berbuat dosa karena adanya kesulitan hidup. Lebih parah lagi, ada orang yang seolah menyalahkan Tuhan jika mereka jatuh ke dalam kesulitan. Tuhan yang berkuasa seharusnya bisa menghindarkan mereka dari kesulitan hidup, begitu pikir mereka. Jika Tuhan membiarkan adanya kesulitan hidup, godaan dan hal-hal yang jahat, tentunya manusia tidak dapat sepenuhnya dituntut untuk bertanggung-jawab, demikianlah pendapat sebagian orang. Pada pihak yang lain, ada juga yang percaya bahwa apa yang jahat pun dibuat oleh Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya, tetapi manusialah yang harus tetap bertanggung-jawab untuk kejahatan mereka.

Bagaimana anda akan mendorong orang Kristen untuk melawan dosa yang mematikan sambil mengetahui bahwa dalam semua hal Tuhan pada akhirnya akan bisa membawa hidup damai karena Ia bekerja untuk kebaikan mereka? Itu benar-benar pertanyaan yang sulit dijawab. Sangat sering, iblis dan dosa kita sendiri dapat mendorong kita untuk menggunakan sifat Allah untuk membenarkan keterlibatan kita dalam dosa. Begitu banyak orang Kristen yang begitu yakin akan slogan seperti “Tuhan berdaulat” atau “Tuhan mencintaiku” atau “Tuhan membenci dosa,” dan mereka terkadang mengambil kesimpulan yang kurang benar. Dan pada titik inilah kita perlu memiliki komitmen yang kuat terhadap otoritas Alkitab dan otoritas Tuhan yang memberi tahu kita bagaimana hidup dengan kebenaran yang telah Dia ungkapkan kepada kita.

Mereka yang selalu menekankan kedaulatan Tuhan memang terlihat rasional. Sepertinya mereka harus dipercaya: “Yah, jika Tuhan berdaulat, maka Dia bertanggung jawab atas kejahatan”. Menurut mereka Tuhan selalu mempunyai rencana tertentu untuk membiarkan kita jatuh dalam dosa. Oleh karena itu kita tidak perlu terlalu memikirkan hal tanggung jawab, karena kita yakin bahwa adanya dosa bisa membuat kasih karunia Tuhan terasa makin berlimpah dan kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Mereka yang sudah terpilih untuk ke surga, tidak perlu menguatirkan akibat dosa. Semua pernyataan ini tidak alkitabiah!

Jika kita ingin berpegang pada kebenaran besar seperti kedaulatan Tuhan, kita harus mengaitkannya dengan cara yang Tuhan tetapkan bagi kita untuk melekat padanya. Kita harus berpegang teguh pada mereka secara alkitabiah. Artinya, kita harus melihatnya dalam kaitannya dengan semua kebenaran alkitabiah lainnya. Di antara kebenaran alkitabiah itu adalah Paulus yang merenungkan pemikiran dalam Roma 6: 1, “Haruskah kita berbuat dosa agar kasih karunia berlimpah?” Dia memang mengatakan dalam Roma 5: 20 bahwa “di mana dosa berlimpah, kasih karunia lebih berlimpah”. Dan inilah seseorang yang mengartikan ayat itu dengan logika dangkal berpikir: “Baiklah! Saya akan membuat kasih karunia Tuhan berlimpah di mana-mana! Saya hanya akan mengklik pornografi sebanyak yang saya bisa, dan melakukan percabulan sebanyak yang saya bisa, dan mencuri sebanyak yang saya bisa, dan serakah semampu saya”

Kita tidak bisa hanya mengatakan bahwa karena Allah berdaulat, semua dosa kita adalah kehendak-Nya. Oleh karena itu kita bisa berbuat dosa. Ini salah. Jadi, kita perlu mencari tahu apa artinya mati karena dosa. Jika kita hidup menurut daging, kita akan “mati” selama hidup di dunia. Jika kita, oleh Roh Kudus, mematikan perbuatan-perbuatan tubuh dan bertobat, kita akan hidup dalam kasih-Nya yang makin besar. Itu adalah kebenaran sebesar kebenaran kedaulatan Tuhan.

Dosa tidak hanya akan membawa duka, itu bisa menghancurkan hidup seseorang jika tidak dilawan. Begitu juga rasa duka bisa menghancurkan hidup sesorang jika ia tidak mengerti bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih. Adanya rasa duka setelah berbuat dosa sebenarnya menunjukkan bahwa Roh Kudus masih giat bekerja dalam hati kita. Dengan demikian, rasa duka harus ditanggapi secara positif, yaitu bahwa Tuhan masih mengasihi kita dan mau mengingatkan bahwa kita harus bertobat. Kita harus ingat bahwa jika kita mengakui dosa kita, Tuhan itu mau mengampuni kita dan memberkati hidup kita.

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 8-10

Arti mengabarkan Injil

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Amanat Agung yang tertulis dalam ayat diatas pasti pernah dibaca semua orang Kristen. Istilah “the Great Commission” ini mungkin diperkenalkan oleh seorang penginjil asal Austria, Justinian von Welz (1621–88), dan dipopulerkan oleh Hudson Taylor, hampir 200 tahun sesudahnya.

Dalam ayat diatas, Yesus memberi perintah agar semua bangsa dijadikan murid-Nya. Apa sebenarnya maksud Yesus? Apakah Ia memerintahkan kita untuk mengkristenkan semua manusia di dunia?

Istilah “kristenisasi” adalah istilah yang sensitip bagi orang-orang yang bukan Kristen. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai negara pernah mengalami peristiwa buruk ketika agama Kristen mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Berbagai cara penginjilan dipakai, termasuk cara-cara yang tidak baik. Di zaman ini, istilah ini sering menimbulkan ketegangan antar agama. Bagaimana sebenarnya posisi kita dalam hal mengabarkan injil?

Kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan Injil dan hidup menurut perintah Tuhan agar orang disekitar kita bisa melihat kasih Tuhan. Penginjilan bisa dan harus kita lakukan, tetapi hanya Tuhan yang bisa “mengkristenkan” seseorang.

Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk membujuk mereka untuk mau ke gereja kita, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”.

Makna Amanat Agung yang memberi kita pengertian bahwa:

  • Yesus sudah mati untuk memungkinkan semua orang yang percaya untuk menemukan jalan keselamatan. Karena itu kabar baik harus disebarkan ke seluruh bangsa.
  • Panggilan untuk menginjil ini bukan berarti hanya untuk memberitakan kabar baik, tetapi juga untuk bisa menolong banyak orang agar mau percaya dan diselamatkan.
  • Amanat Agung bukan perintah untuk membawa semua orang di dunia untuk masuk ke surga. Tidak semua yang menerima undangan kasih akan mau atau bisa menerimanya. Tetapi undangan ini harus diberitakan ke seluruh bangsa.
  • Tuhan memberi kesempatan dan kemampuan untuk kita melayani Dia dan menyerahkan hidup kita untuk maksud pelebaran kerajaan-Nya. Setiap orang harus mau mengambil keputusan untuk menerima panggilan-Nya jika Roh-Nya sudah bekerja dalam hati mereka.
  • Kita memerlukan petunjuk-Nya untuk menentukan saat dan tujuan kita dalam mengabarkan injil. Tugas ini bukan untuk membuat kekacauan dalam masyarakat atau gereja. Sebaliknya, itu adalah tugas dalam kasih, untuk memberitakan Injil kabar baik kepada mereka yang belum pernah mendengar atau menahami Injil.
  • Dalam menjalankan Amanat Agung kita harus bersandar kepada Tuhan. Karena itu, kita tidak boleh mengutamakan keberhasilan kita atau menguatirkan kegagalan. Kita tidak boleh menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
  • Tuhan yang bekerja untuk membuka hati dan pikiran orang-orang yang kita injili. Kita sendiri tidak dapat membuat orang percaya. Tuhan saja yang bisa mempengaruhi mereka untuk bertobat dan menerima anugerah keselamatan. Kita hanya dapat berdoa agar Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada banyak orang.

Pagi ini, kita mendengar Amanat Agung dari Tuhan untuk menginjil. Biarlah kita percaya bahwa Tuhan sudah memberi setiap anak-Nya kemampuan untuk melaksanakannya. Apa yang kita perlukan hanyalah kemauan untuk menjalankan amanat itu dengan benar.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8

Menabur benih memang tidak mudah

Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: ”Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” KIsah Para Rasul 8: 35-36

Dalam Kisah Para Rasul 8: 26-40, seorang sida-sida Etiopia yang sedang dalam perjalanan berkereta kuda ke Yerusalem, mengeluh kepada Filipus bahwa dia tidak mungkin mengerti apa yang dibacanya jika tidak ada orang yang menolong. Filipus yang dengan petunjuk Tuhan dapat bertemu dengan sida-sida itu, kemudian memperoleh kesempatan untuk duduk berdampingan dalam kereta kuda dan menjelaskan arti firman Tuhan sehingga sida-sida itu akhirnya bisa mengerti dan minta untuk dibaptiskan. Filipus sudah menmjalankan apa yang diperintahkan oleh Yesus sebagai Amanat Agung kepada semua pengikut-Nya:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Dalam pandangan manusia, Filipus sudah berhasil menabur benih kekristenan. Tetapi, tanpa Roh Kudus segala sesuatunya akan sia-sia. Filipus membutuhkan Roh Kudus untuk memilih jalan tertentu yang memungkinkan ia bertemu dengan sida-sida itu. Roh Kudus jugalah yang membuat Filipus dapat berkomunikasi dengan sida-sida itu. Dan Roh jugalah yang membimbing sida-sida itu dan membuka hati dan pikirannya sehingga ia percaya dan mau dibaptiskan.

Apa yang menumbuhkan jumlah orang percaya adalah adanya banyak orang yang seperti Filipus dan sida-sida Etiopia, mau mendengarkan suara Tuhan dalam hidupnya dan membuka hidupnya agar Roh Kudus bisa bekerja dengan bebas. Dengan kata lain, manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia. Inilah prasyarat pertama untuk penginjilan, yaitu peranan Tuhan dalam menciptakan dan menumbuhkan iman.

“Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.” 1 Korintus 3: 7

Kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan kabar baik dari Alkitab dan menjalani hidup menurut perintah Tuhan agar orang di sekitar kita bisa melihat kasih Tuhan. Penginjilan bisa dan harus kita lakukan, tetapi hanya Tuhan yang bisa “mengkristenkan” seseorang. Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk membujuk mereka, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”. Lalu bagaimana kita bisa secara efektif menyampaikan Injil, kabar baik tentang penyelamatan manusia yang berdosa?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Karakter adalah prasyarat kedua untuk pengaruh spiritual. Setiap manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, dan secara naluriah dan dalam keterbatasan mereka, menghargai sifat-sifat karakter Tuhan yang merancang kita – bahkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan. Umat manusia secara universal menghargai buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak oleh para pemimpin agama kemudian tertarik kepada Yesus karena Ia mewujudkan karakteristik ini. Sampai hari ini, karakter seperti yang Yesus miliki masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat masyarakat.

Orang non-Kristen memerhatikan kegembiraan kita ketika kita bekerja, kedamaian kita di tengah kekecewaan, dan keanggunan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, karakter semacam ini sering terasa kurang terlihat dalam hidup kita yang dituntut untuk menunjukkan karakter Yesus kepada dunia. Pada tahun 2013, ada survei yang mempelajari kemunafikan di kalangan orang Kristen. Di antara mereka yang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kristen, penelitian berdasarkan daftar sikap dan tindakan yang dipilih untuk diri sendiri menemukan bahwa 51 persen menggambarkan diri mereka lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, menghakimi) dibandingkan dengan hanya 14 persen yang mencontoh tindakan dan sikap Yesus (tanpa pamrih, empati, kasih dan lain-lainnya). Kekurangan umat Kristen inilah yang bisa menghambat usaha penginjilan. Mengapa demikian? Teolog terkenal C.S. Lewis menjelaskan masalahnya:

Ketika kita orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat kekristenan tidak dapat dipercaya oleh dunia luar. … Kehidupan kita yang ceroboh membuat dunia luar berbicara; dan kita dengan demikian memberi dunia sebuah alasan untuk menyatakan keraguan atas kebenaran kekristenan….”

Jika kata-kata kita berarti bagi orang lain, kata-kata itu harus mengalir dari kehidupan yang berintegritas. Jika tidak, perbuatan dan kata-kata kita akan diwarnai dengan kesombongan atau kebohongan. Sebaliknya, ketika orang melihat bahwa kita tidak hanya berpose, tetapi dengan rendah hati berusaha menjalani kehidupan yang berintegritas, mereka akan memperhatikan pesan kita.

Orang-orang juga memerhatikan apa yang akan kita lakukan ketika kita gagal dalam menjalani tes integritas. Dalam hal ini, apakah kita mau mengakui bahwa kita tidak sepenuhnya memiliki integritas sebagai anak Tuhan? Mungkin yang lebih penting daripada memperbaiki keadaan adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan, dan menebus kesalahan kita kepada mereka yang kita lukai. Salah satu elemen karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna atau manusia yang paling bijaksana.

Memang, sering kali sebagai orang Kristen kita berperilaku seolah-olah kita yang sudah lahir baru memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen yang kita anggap belum menerima apa pun dari Tuhan dan sama sekali rusak karakter dan moralnya (totally depraved). Karena itu, kita mungkin merasa malu untuk mengakui kelemahan atau memperlihatkan kekurangan apa pun yang bisa merendahkan pamor kita.

Hidup sebagai saksi Kristus tidaklah mudah. Rasul Yakobus menulis bahwa imat adalah mati jika tidak disertai perbuatan (Yakobus 2: 17). Tetapi, berbuat baik saja tidak cukup untuk mmberitakan injil. Kita harus mempunyai sesuatu yang menarik dalam karakter kita. Dalam hal ini, yang terutama adalah kemampuan kita untuk mengakui kegagalan dan kehancuran, yang merupakan karakter yang sangat menonjol dalam masyarakat dan budaya di sekitar kita. Orang perlu mencium aroma manis kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang paling nyata terlihat melalui karakter rendah hati yang Dia ciptakan dalam diri kita. Itu tidaklah mudah untuk dipraktikkan. Kita tidak dapat memperlihatkan karakter yang baik kepada dunia jika Roh Kudus tidak bekerja sepenuhnya dalam hidup kita. Pagi ini, marilah kita meminta agar Roh Kudus mau membimbing kita di setiap saat.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8