Kebenaran Alkitab hanya bisa diterima dengan iman

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Pepatah lama menyatakan bahwa “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Memang, semakin tua manusia akan makin berpengalaman karena makin banyak yang pernah dialaminya. Umumnya, pengalaman yang buruk bisa mencegah seseorang untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Sebaliknya, pengalaman yang baik dan menyenangkan membuat orang tertarik untuk mencobanya lagi jika ada kesempatan.

Untuk hal-hal tertentu, dalam keadaan tertentu, memang apa yang pernah dilihat, dirasakan dan dialami, dan apa yang sudah menjadi tradisi, bisa memberi pelajaran dan pengertian. Dengan demikian, pengalaman yang kita peroleh sekarang juga bisa berguna untuk masa depan. Dengan pengalaman dan kebiasaan yang pernah dialami, orang bisa menolak pendapat orang lain, nasihat guru atau orang tua dan bahkan firman Tuhan. Apa yang pernah dialami dan lazim dilakukan akan cenderung dipercayai, sedangkan apa yang tidak pernah terjadi atau terlihat dalam hidup, sering diabaikan.

Karena pengalaman seseorang belum tentu bisa dialami orang lain, dan juga karena pengalaman tergantung situasi dan kondisi, apa yang dirasakan sebagai kebenaran di masa lalu, belum tentu benar di masa depan. Apa yang mungkin dianggap baik hari ini, belum tentu bisa diterima oleh generasi yang akan datang. Sebaliknya, apa yang dianggap buruk di zaman dulu, sekarang mungkin sudah dianggap biasa. Karena itu, pengalaman dan kebiasaan seseorang belum tentu membawa kebenaran dan belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik.

Dalam kehidupan iman, kita juga dihadapkan dengan berbagai ajaran dan praktik kekristenan yang beraneka ragam. Pada umumnya, keragaman adalah lumrah karena tiap manusia adalah individu yang berbeda, yang mempunyai pengalaman dan pengertian yang berlainan. Walaupun demikian, ayat di atas menjelaskan bahwa firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, harus dipegang sebagai pedoman untuk memperoleh kebenaran. Bagaimana kita bisa percaya akan hal ini?

Pertama, dengan iman kita percaya bahwa Allah adalah benar (Roma 3:4).

Kedua, karena kita percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang benar, maka firman-Nya adalah kebenaran (Yohanes 17:17). Tidak mungkin Allah yang benar memberikan firman yang tidak benar. Oleh karena itu dengan pengertian akan hal ini kita akan menolak setiap pandangan bahwa firman Allah bisa salah dan atau mengandung kesalahan.

Ketiga, kita percaya bahwa firman Allah dituliskan oleh para penulis Alkitab yang diilhamkan oleh Allah sendiri (2 Timotius 3:16). Alkitab dihembuskan/dinafaskan oleh Allah. Roh Kudus memimpin dan memampukan para penulis Alkitab untuk mencatat wahyu khusus Allah dengan suatu cara yang dapat dipercaya secara mutlak. Karena Alkitab itu dihembuskan/dinafaskan oleh Allah sendiri dan dituliskan oleh para penulis mula-mula yang dipimpin oleh Roh Kudus, maka kita percaya bahwa naskah-naskah asli dari Alkitab tidak mungkin salah.

Keempat, kita percaya bahwa Allah menjamin bahwa tidak ada bagian dari firman-Nya yang akan berubah dan tidak ada penghilangan atau penambahan bahkan sekecil apa pun. Kita percaya bahwa firman Allah tidak mungkin berubah dan Allah sendiri yang akan memelihara firman-Nya (Matius 5:18, Yohanes 10:35). Tuhan Allah yang telah mewahyukan firman-Nya, yang telah mengilhamkan para penulis Alkitab mula-mula, adalah Allah yang sudah memelihara firman-Nya sehingga kita tetap dapat membaca firman-Nya yang benar dengan bimbingan Roh Kudus, sekalipun perbedaan antar terjemahan Alkitab bisa terjadi dan salah cetak juga bisa ditemui.

Hari ini kita harus sadar bahwa apa yang kita dengar dan saksikan di gereja mungkin bersumber pada pengalaman pribadi atau pendapat manusia, yang sehebat atau seajaib bagaimanapun, tidak dapat dianggap setara dengan firman Tuhan. Apalagi kalau pengalaman itu hanya mendatangkan kemuliaan bagi manusia dan bukannya Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya harus mau mempelajari firman Tuhan dengan iman, menggumuli dan menerapkannya dalam hidup dengan bimbingan Roh Kudus.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Hal karunia lidah

“Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” 1 Korintus 14: 13-15

Hari Minggu yang baru lalu adalah hari Pentakosta, hari di mana Roh Kudus turun ke atas murid-murid Yesus, lima puluh hari setelah kebangkitan-Nya. Hari Pentakosta adalah hari penting dalam sejarah gereja, bahkan dianggap oleh sebagian denominasi sebagai hari berdirinya gereja, yaitu persekutuan orang percaya.

Sesungguhnya hari turunnya Roh Kudus adalah hari yang penting untuk diperingati, bukan hanya untuk mengenang bagaimana Roh Kudus turun secara luar biasa, dan bersama itu banyak orang yang menjadi pengikut Kristus, tetapi lebih dari itu hari Pentakosta seharusnya mengingatkan kita bahwa Roh Kudus sudah dikaruniakan kepada kita dan setiap orang percaya.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Para Rasul 1: 8

Pada waktu Yesus menjanjikan datangnya Roh Kudus, apa yang dinyatakan-Nya ialah bahwa para pengikut-Nya akan menerima kuasa dan mereka akan menjadi saksi-Nya di mana saja. Mereka menjadi saksi Yesus melalui perubahan hidup mereka yang menunjukkan sesuatu sudah terjadi. Hidup lama yang berpusat pada diri sendiri sudah berubah menjadi hidup yang memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama. Hidup yang dulu sering diisi kekuatiran dan kesedihan, sekarang diisi kebahagiaan dalam Tuhan. Mereka yang dulunya ragu-ragu dalam mengabarkan injil, sekarang menjadi bersemangat dan mati-matian mau bekerja keras di ladang Tuhan. Itu semua menunjukkan bekerjanya Roh Kudus: ada kuasa baru dalam hidup mereka yang percaya.

Banyak orang Kristen yang belum atau tidak merasakan kehadiran Roh Kudus dalam hidup mereka. Tidak adanya hal yang istimewa atau spektakuler yang pernah terjadi dalam hidup mereka seolah membuat suatu tanda tanya: apakah mereka benar-benar sudah menjadi pengikut Kristus? Terkadang, mungkin ada juga rasa sedih mengapa jika Tuhan sudah menerima mereka, tidak ada yang terlihat luar biasa dalam hidup mereka?

Bagi sebagian orang Kristen, keinginan untuk mendapatkan tanda bahwa Tuhan benar-benar sudah menyelamatkan mereka dan menyertai mereka adalah begitu besar, sehingga mereka menanti-nantikan datangnya karunia ajaib yang sudah pernah diberikan kepada jemaat Kristen yang mula-mula. Salah satu yang dianggap penting adalah karunia lidah, karena dulu mereka yang mendapatkannya bisa berbicara dalam bahasa-bahasa asing yang sebenarnya bukan bahasa mereka sendiri. Dengan demikian, banyak orang yang berusaha sekuat tenaga, dengan ketekunan berdoa atau dengan cara-cara lain untuk mendapatkannya.

Karunia lidah yang berupa kemampuan berbahasa asing sekarang sudah sangat jarang dijumpai, tetapi karunia berbahasa roh adalah suatu karunia yang sering kita jumpai. Karunia berbahasa roh ada gunanya, walaupun tidak sama dengan kemampuan berbahasa asing. Dalam ayat-ayat di atas, Paulus telah menunjukkan kepada orang-orang Kristen di Korintus mengapa penerapan karunia rohani berbahasa roh selama kebaktian gereja tidaklah mudah. Singkatnya, tidak ada gunanya ketika tidak ada orang yang mengerti kata-kata yang diucapkan. Dia menambahkan dalam ayat-ayat berikutnya bahwa pengecualian untuk aturan ini adalah jika pembicara atau orang lain dapat menafsirkan apa yang dikatakan.

Untuk alasan itu, Paulus memberitahu mereka yang memiliki karunia berbahasa roh untuk berdoa memohon karunia tambahan untuk menafsirkan bahasa roh (1 Korintus 12:10). Karunia ini akan memungkinkan orang percaya untuk secara supernatural memahami apa yang dikatakan dalam bahasa yang tidak dikenal itu dan menerjemahkannya ke dalam bahasa mereka yang hadir sehingga mereka juga dapat mengerti.

Apa yang dinamakan karunia adalah suatu pemberian yang datang dari Tuhan atas kehendak-Nya semata-mata. Paulus menjelaskan bahwa karunia rohani tidak dapat diperoleh melalui kerja keras atau pelatihan atau dengan melakukan perbuatan baik. Karunia rohani harus diberikan oleh Allah melalui Roh Kudus. Orang Kristen tidak mampu untuk mendapatkannya dengan usaha sendiri. Itulah mengapa Paulus memberitahu orang-orang yang berbicara dalam bahasa roh untuk berdoa untuk memohon karunia penafsiran.

Tidak dapat disangkal, bahwa mereka yang rajin berdoa sering kali kehilangan kata-kata untuk menyatakan perasaan mereka. Apa yang keluar dari mulut mereka mungkin saja berupa suara yang merupakan bahasa roh yang tidak dapat dimengerti orang lain. Dengan bahasa roh yang seperti itu, mereka lebih dapat merasakan kehadiran Tuhan. Dalam hal ini, Paulus juga menulis bahwa jika orang berdoa dengan bahasa roh, maka rohnyalah yang berdoa, tetapi akal budinya tidak turut berdoa.

Pagi ini kita harus sadar bahwa kita boleh berdoa dengan berbahasa roh, tetapi kita harus berdoa juga dengan akal budi dan bahasa kita. Kita boleh menyanyi dan memuji dengan bahasa roh, tetapi juga akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budi dan bahasa sehari-hari kita agar orang lain bisa ikut memuji Tuhan. Semoga Tuhan memberkati kita sekalian.

Apa yang perlu dilakukan untuk bisa menginjil?

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” 2 Timotius 4: 2

Mungkin banyak orang Kristen yang sadar akan sulitnya untuk memberitakan firman Tuhan. Biasanya orang ragu untuk menyampaikan firman Tuhan karena merasa kurang mampu untuk berbicara di depan umum, atau kurang faham mengenai dasar-dasar teologi Kristen. Penginjil besar yang kita kenal, Billy Graham, pernah juga merasakan hal yang serupa. Hanya dengan kekuatan dari Tuhan, ia bisa mengatasi keraguannya dan perlahan-lahan belajar menjadi penginjil yang sangat efektif dalam membawa orang ke dalam pengenalan akan Tuhan.

Sebenarnya, menjadi pembawa firman Tuhan tidak harus diartikan bekerja sebagai penginjil atau pendeta. Amanat Agung dari Yesus untuk mengabarkan Injil adalah perintah-Nya untuk semua orang percaya. Kita bisa membawakan firman Tuhan di rumah, sekolah, kantor dan di mana saja, dan itu bisa disampaikan kepada satu, dua atau banyak orang.

Tugas mengabarkan Injil bukan sekadar tugasnya para pendeta, penginjil atau pastor, tetapi tugas kita semua yang telah menjadi anak-anak Allah, karena pengakuan kita akan Kristus sebagai Juruselamat kita dan pengantara kita kepada Bapa di surga. Kita pun tidak perlu khawatir dengan keadaan kita yang tidak sepandai para pemimpin gereja, karena Juruselamat kita telah berjanji menyertai kita. Oleh karena itu, semestinya apa pun keadaan kita, pekabaran Injil tidak boleh terhambat atas alasan apa pun.

Karya keselamatan Kristus patut untuk diwartakan ke segala penjuru dunia oleh siapa saja yang sudah menerima keselamatan tersebut. Yesus Kristus pun tidak secara spesifik menyebutkan, bahwa hanya para hamba Tuhan, pemimpin gereja, atau penginjil yang harus mengabarkan Injil. Sebaliknya, itu menjadi tanggung jawab kita semua orang Kristen, sekalipun kita hanyalah warga awam. Bahkan, sekalipun kita tidak memiliki pengetahuan teologi sekaliber pendeta atau pastor, tetapi hidup sehari-hari kita yang sudah diubahkan oleh Kristus adalah bukti pekerjaan-Nya. Itulah apa yang sebenarnya yang justru mudah dilihat oleh orang-orang belum percaya di lingkungan sekitar tempat kita tinggal.

Pada pihak yang lain, situasi di gereja terkadang justru belum bisa memenuhi kebutuhan jemaat. Bisa jadi ada pemimpin gereja, entah itu pendeta atau pastor, ataupun para penginjil yang memimpin pos-pos Injil, yang kurang cakap memberikan pemahaman yang sederhana kepada umat yang warga awam, kemungkinan karena keterbatasan kemampuan mereka untuk mencari bahasa sederhana. Selain itu, ada pendeta atau pastor yang lebih gemar menyampaikan pandangan teologinya yang nampak berbobot daripada memberitakan firman.

Perlu diingat bahwa tidak setiap orang Kristen memiliki kadar pemahaman yang sama akan isi Alkitab karena jarang membaca, apalagi mempelajari Alkitab. Karena itu, dalam menyampaikam firman Tuhan, kita harus berlandaskan kebenaran Alkitab yang kita pelajari menurut ajaran teologi yang sudah kita punyai, tetapi harus dimunculkan dalam penampilan yang cocok dengan keadaan mereka yang kita injili.

Sebenarnya, untuk mengabarkan firman Tuhan, orang tidak harus masuk sekolah Alkitab atau mempunyai gelar teologia, tetapi orang tersebut harus benar-benar orang yang percaya kepada Allah Bapa, Allah Anak dan Alah Roh Kudus. Lebih penting dari itu, orang tersebut haruslah hidup dalam terang Kristus, memiliki iman yang benar, dan rajin membaca Alkitab dan mempelajari makna ayat-ayat yang ada dalam konteks yang benar; secara utuh dan bukan secara terpisah-pisah.

Dalam ayat pembukaan di atas, Paulus menasihati rekannya yang jauh lebih muda, Timotius, tentang bagaimana ia harus mempersiapkan diri untuk membawakan firman Tuhan. Pertama, Timotius harus siap menyampaikan firman Tuhan ketika situasi lagi kondusif. Ungkapan “waktu yang baik” mengacu pada saat-saat ketika seseorang, dengan akal sehat, “seharusnya” menyampaikan firman. Ini sehubungan dengan keadaan yang bersahabat, atau situasi yang aman.

Kedua, Timotius harus siap berkhotbah ketika situasi tidak nyaman. Ini adalah arti dari ungkapan “tidak baik waktunya”. Inilah saat-saat ketika menyatakan kebenaran itu canggung, sulit, atau ditentang.

Ketiga, dia harus menyatakan apa yang salah. Ini menggemakan seruan Paulus untuk “menegur” yang ditemukan dalam 1 Timotius 5: 20.

Keempat, Timotius harus menegur orang yang salah. Istilah Yunani yang diterjemahkan sebagai “teguran”, yang dalam konteks ini berarti memarahi, mencaci, atau mengoreksi.

Kelima, Timotius harus menasihati, sebuah istilah yang mengacu pada dorongan atau himbauan. Ini melibatkan dukungan, hiburan, dan bantuan.

Keenam, Timotius harus berkhotbah dengan kesabaran. Bagi mereka yang memimpin, dan terutama ketika menghadapi oposisi, ini tidaklah mudah dilakukan. Namun, Paulus menyebutkan ini sebagai bagian dari buah Roh (Galatia 5:22-23). Kesabaran, meskipun selagi merasa frustrasi, dimaksudkan untuk menjadi ciri iman Kristen. Dengan adanya kesabaran dan rasa kasih, makin banyak orang yang akan tertarik untuk mengenal Allah.

Ketujuh, pemberitaan firman Timotius harus mencakup pengajaran, sebuah istilah yang mengacu pada instruksi. Dia harus memakai hati dan pikiran, melatih orang percaya untuk mengikuti kebenaran Allah.

Hari ini kita belajar dari rasul Paulus bagaimana kita bisa belajar menjadi pembawa firman Tuhan yang baik, yang bisa membimbing banyak orang untuk mengenal Tuhan dan hidup sesuai dengan firman-Nya. Biarlah kita mau meminta bantuan Roh Kudus agar kita diberi kemampuan dan keberanian serta kebijaksanaan untuk melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-20

Dinginnya hati tidaklah sesuai dengan kasih Tuhan yang sudah dinyatakan

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24:12

Saat ini adalah awal musim dingin di Australia dan suhu di Toowoomba di mana saya mengajar bisa mendekati nol derajat Celcius pada waktu pagi. Bagi mereka yang bekerja di kantor, pemanas ruangan bisa dipakai untuk melupakan udara dingin di luar, tetapi mereka yang harus bekerja di luar rumah tentunya harus membungkus diri dengan memakai jaket, topi, dan apa pun untuk melindungi tubuh dari udara yang dingin.

Dinginnya udara di musim dingin mungkin seperti dinginnya hati manusia dalam ayat di atas. Dengan udara yang dingin, mereka yang berada dalam keadaan yang kurang baik akan merasakan beratnya hidup tanpa adanya kehangatan rumah dan makanan. Dengan dinginnya hati manusia, mereka yang mengalami penderitaan tidak dapat mengharapkan adanya perhatian dan pertolongan dari sesama. Bahkan dengan dinginnya hati mereka yang mengaku Kristen, apa yang mereka lakukan dalam hidup sehari-hari bukannya untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesamanya, tapi untuk memuliakan diri sendiri dan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Ayat di atas menunjukkan bahwa banyak orang yang dulunya mempunyai kasih, kemudian berubah menjadi manusia yang tidak mempunyai kasih. Mereka yang dulunya pernah mendengar panggilan Tuhan dan mengerti perintah Tuhan untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan untuk mengasihi sesama manusia, kemudian berubah menjadi manusia yang tidak lagi taat kepada Tuhan. Mereka lebih mementingkan keinginan dan kebahagiaan duniawi yang berupa kemasyhuran, kekayaan, kekuasaan, kesuksesan dan semacamnya. Mengapa demikian?

Tuhan melalui rasul Paulus juga pernah mengingatkan bahwa di zaman ini ada berbagai tanda hilangnya kasih dan bertambahnya hal-hal yang jahat di antara umat Kristen (2 Timotius 3: 1-9). Bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar, di mana manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka tetapi pada hakikatnya mereka memungkiri imannya.

Jika di hari Minggu kemarin banyak orang Kristen yang ke gereja dengan kerinduan untuk mendapatkan kehangatan kasih dalam persekutuan dengan saudara seiman dan mendengar kasih penghiburan Tuhan, dengan memasuki minggu yang baru banyak orang harus menerima kenyataan bahwa hidup di dunia ini penuh perjuangan, dan menyadari bahwa di dunia ini setiap orang diharapkan untuk bisa berdiri sendiri tanpa mengharapkan bantuan dan perhatian dari orang lain. Dalam kenyataannya, banyak orang yang tidak sanggup untuk menjalani tuntutan hidup yang sedemikian berat.

Salahkah jika orang merasa bahwa hidup ini kejam? Salahkah jika ada banyak orang yang membutuhkan pertolongan orang lain? Tentu tidak! Memang sesudah kejatuhan dalam dosa, umat manusia berada dalam hukuman Tuhan, dan itu termasuk hidup membanting tulang (Kejadian 3: 17-19). Tetapi, walaupun manusia sudah jatuh dalam dosa, Tuhan yang mahakasih tetap berbelaskasihan kepada manusia dengan membuat pakaian dari kulit binatang untuk Adam dan Hawa, guna melindungi tubuh mereka (Kejadian 3: 21). Tuhan dengan demikian meminta agar kita selalu ingat akan kasih-Nya dan mau mengasihi sesama kita.

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak menghendaki kita hanya ke gereja sebagai kebiasaan atau keharusan. Ia ingin kita datang kepada-Nya dengan kehangatan kasih, dan bukannya kepalsuan. Tuhan tidak mengharapkan uang persembahan manusia tetapi Ia menghargai hati umat-Nya yang dipenuhi kasih. Tuhan tidak menjanjikan hidup yang penuh kenyamanan kepada umat-Nya, dan karena itu Ia membenci orang-orang yang seakan berbakti kepada-Nya, tetapi hanya mengharapkan Tuhan membalas “kebaikan” mereka dengan memberikan apa yang diinginkan mereka. Pada pihak yang lain, Tuhan menyenangi umat-Nya yang bukan saja mengabarkan kabar baik tentang kasih Tuhan yang menyelamatkan mereka, tetapi juga mempunyai kehangatan hati dan kasih untuk menolong mereka yang menderita.

Jika Roh Kudus turun ke atas kita

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Para Rasul 1: 8

Minggu esok adalah hari Pentakosta, hari di mana Roh Kudus turun ke atas murid-murid Yesus, lima puluh hari setelah kebangkitan-Nya. Hari Pentakosta adalah hari penting dalam sejarah gereja, bahkan dianggap oleh sebagian denominasi sebagai hari berdirinya gereja, yaitu persekutuan orang percaya. Walaupun demikian, pada beberapa gereja di Australia, hari ini tidaklah dirayakan secara formal.

Banyak orang Kristen yang tidak lagi memandang hari Pentakosta sebagai hari yang penting untuk diperingati, selain dari segi historisnya. Tambahan pula, ada golongan Kristen yang memandang bahwa perayaan hari Pentakosta itu adalah kebiasaan golongan tertentu, dan karena itu mereka agak segan untuk memperingatinya. Bagi mereka, hari kematian dan kebangkitan Yesus adalah dua hari yang terpenting dan wajib diperingati.

Sesungguhnya hari turunnya Roh Kudus adalah hari yang penting untuk diperingati, bukan hanya untuk mengenang bagaimana Roh Kudus turun secara luar biasa, dan bersama itu banyak orang yang menjadi pengikut Kristus, tetapi lebih dari itu hari Pentakosta seharusnya mengingatkan kita bahwa Roh Kudus sudah dikaruniakan kepada kita dan setiap orang percaya.

Banyak orang Kristen yang belum atau tidak merasakan kehadiran Roh Kudus dalam hidup mereka. Tidak adanya hal yang istimewa atau spektakuler yang pernah terjadi dalam hidup mereka seolah membuat suatu tanda tanya: apakah mereka benar-benar sudah menjadi pengikut Kristus? Terkadang, mungkin ada juga rasa sedih mengapa jika Tuhan sudah menerima mereka, tidak ada yang terlihat luar biasa dalam hidup mereka?

Pada waktu Yesus menjanjikan datangnya Rok Kudus, apa yang dinyatakan-Nya ialah bahwa para pengikut-Nya akan menerima kuasa dan mereka akan menjadi saksi-Nya di mana saja. Mereka menjadi saksi Yesus melalui perubahan hidup mereka yang menunjukkan sesuatu sudah terjadi. Hidup lama yang berpusat pada diri sendiri sudah berubah menjadi hidup yang memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama. Hidup yang dulu sering diisi kekuatiran dan kesedihan, sekarang diisi kebahagiaan dalam Tuhan. Mereka yang dulunya ragu-ragu dalam mengabarkan injil, sekarang menjadi bersemangat dan mati-matian mau bekerja keras di ladang Tuhan. Itu semua menunjukkan bekerjanya Roh Kudus: ada kuasa baru dalam hidup mereka yang percaya.

Hari Minggu ini, sekalipun kita tidak merayakan hari Pentakosta secara formal atau gerejani, kita wajib mengingat bahwa Roh Kudus sudah diberikan kepada kita untuk menolong, menghibur dan menguatkan kita. Roh jugalah yang bisa membawa orang lain kepada Kristus melalui hidup dan pelayanan kita. Sering kali kita lupa bahwa kita seharusnya mempersilakan Roh Kudus untuk mengatur hidup kita sepenuhnya dan bukannya mendukakan Dia dengan menjalani hidup untuk kepuasan diri kita. Roh Kudus pasti bekerja di dalam diri kita jika kita mau memakai hidup kita untuk kemuliaan bagi Tuhan. Selamat hari Pentakosta!

Tegak dan tegas melawan bidat

“Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.” Galatia 1: 9

Sebagai orang Kristen, kita harus bersyukur bahwa umat manusia  makin lama  makin  pandai dalam mengelola ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan jika dipakai dengan benar, akan memberi manusia kemampuan untuk mengatur dunia dan segala isinya. Dengan kemajuan teknologi, kabar baik tentang keselamatan lebih mudah diberitakan dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Berbagai Alkitab elektronik, buku agama dan renungan harian juga bisa ditemukan di internet.

Di zaman ini, setiap orang beragama bisa saja mengungkapkan pendapat keagamaanya selama tidak melecehkan orang atau agama lain. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika banyak tokoh agama yang memakai cara mereka sendiri untuk menarik perhatian masyarakat. Mereka dengan tidak malu-malu, menggunakan prinsip-prinsip bisnis keduniawian untuk mencari keuntungan dan nama besar. Sering kali mereka memberitakan apa yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, dengan menekankan hal-hal tertentu, dan bahkan menambah atau mengurangi apa yang ada dalam Alkitab untuk mencari pengagum dan pengikut.

Dari ayat di atas, kita sadar bahwa bukan di zaman ini saja ada orang-orang yang kelihatannya rajin mengabarkan injil, tetapi apa yang disampaikan mereka tidak sesuai dengan firman Tuhan. Paulus dalam ayat di atas dengan nada tegas mengingatkan jemaat di Galatia agar mereka berhati-hati dalam menerima pemberitaan firman karena adanya orang-orang yang mengajarkan apa yang keliru. Mereka yang benar-benar hamba Tuhan adalah orang-orang yang tulus yang tidak pernah memalsukan firman Allah dengan menggantinya dengan pikiran manusiawi. Hamba Tuhan yang benar tidak hanya memusatkan perhatiannya pada beberapa poin dalam Alkitab tetapi mengabaikan yang lain.

Adanya orang-orang yang memberitakan injil yang berbeda dengan apa yang dikabarkan Paulus membuat Paulus geram. Paulus sebagai rasul, mungkin dapat dikatakan ahli dalam bidang apologetika, yaitu mempertahankan kebenaran firman Tuhan. Dengan gaya apologet, Paulus sering membuat pernyataan yang mengoreksi apa yang tidak benar dan menguraikan apa yang benar dalam hal iman dan hidup kekristenan. Dalam ayat di atas Paulus memperingatkan jemaat di Galatia akan adanya apa yang disebut bidat di zaman sekarang.

Bidat adalah suatu ajaran atau aliran yang menyimpang dari ajaran resmi. Hal senada juga dijumpai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang menyebutkan bahwa bidat adalah “ajaran yang menyalahi ajaran yang benar”. Dalam hal ini, ajaran sesat bertumbuh dalam lingkungan gereja yang membentuk komunitas tersendiri dengan mengembangkan doktrin/ajaran baru yang bertentangan dengan Alkitab. Lahirnya “ajaran sesat” atau yang sering disebut “bidat” (heresy) dalam sejarah gereja dapat dikatakan bertumbuh seiring dengan perkembangan gereja itu sendiri.

Jika kita melihat ke dalam sejarah gereja maka ajaran sesat itu bagaikan benalu yang selalu berusaha untuk mempengaruhi kehidupan bergereja sejak abad permulaan. Dalam faktanya, sekarang pun beberapa aliran dan ajaran yang oleh gereja dinyatakan sebagai “bidat” nyatanya tetap eksis karena mereka tidak lagi tampil secara sembunyi-sembunyi melainkan dengan wajah yang baru. Inilah yang menyebabkan kita dapat mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi kehadiran dan keberadaan mereka. Mengapa demikian? Di satu pihak mereka tetap menggunakan Alkitab sebagai dasar pengembangan ajaran/doktrin mereka selain tambahan aturan yang dimilikinya. Lebih lagi, oleh karena banyak di antara mereka tadinya berasal dari komunitas gereja, mereka bertumbuh dalam komunitas yang sangat dekat dengan gereja. Kondisi semacam itulah yang sering kali membuat warga gereja bingung untuk mengidentifikasi ajaran/doktrin gereja yang benar atau tidak.

Sayang sekali, bahwa walaupun di satu sisi manusia makin pandai, manusia tidaklah bertambah dekat kepada Tuhan. Jika mereka mau menggunakan waktu untuk mengejar kesuksesan dan kepandaian, pengetahuan mereka akan pengajaran rasul-rasul yang ada dalam Alkitab tidaklah bertambah. Banyak orang yang ke gereja setiap minggu dan merasa itu sudah cukup untuk kehidupan Kristen mereka. Mereka malas atau tidak berminat untuk belajar lebih dalam hal teologi Kristen. Sudah tentu, teologi memang bukan hal yang perlu untuk keselamatan atau untuk hidup baik. Tetapi, tanpa mempunyai pengertian teologis yang baik, orang akan mudah jatuh dalam pengajaran atau doktrin yang keliru.

Masih seringkah anda bingung ketika mendengar pengajaran atau khotbah yang memikat dari seseorang? Apakah anda belum bisa membedakan karya Tuhan dengan karya manusia? Dapatkah orang mencapai apa yang baik di mata Tuhan melalui jalan yang salah? Sulitkah anda membedakan mana yang baik dan mana yang jahat? Jika kita berpegang pada apa yang diajarkan Yesus, kita tidak akan mudah untuk menjadi bingung. Jika kita menguji segala yang kita lihat, dengar dan alami dengan firman Tuhan, kita akan menyadari apakah nama Tuhan dipermuliakan, apakah kebenaran-Nya ditegakkan, dan apakah kasih kepada sesama sudah diutamakan.

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh menjadi dewasa sehingga kita tidak tetap sebagai anak-anak yang bisa diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran dan oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Sebaliknya, kita harus berpegang teguh kepada kebenaran firman Tuhan, dan di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus, pemimpin kita yang sejati.

“…sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Efesus 4: 14 – 15

Siapakah yang bisa berjalan di atas air?

Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Matius 14: 24-25

Mukjizat Yesus berjalan di atas air ditemukan dalam Injil Matius 14:22-34, Markus 6:45-53, dan Yohanes 6:15-21. Gagasan tentang seseorang yang luar biasa, yang memiliki kemampuan untuk berjalan di atas air, bukanlah barang baru pada saat Injil ditulis, tetapi sebelumnya sudah pernah ditulis sebagai ayat pertama dalam Alkitab. Pada saat sebelum langit dan bumi ada, Roh Allah sudah ada di atas muka air.

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Kejadian 1: 1-2

Walaupun demikian, tidak semua orang Kristen yang taat sepakat tentang bagaimana menganalisa dan menafsirkan kisah Yesus berjalan di atas air. Banyak yang melihat peristiwa itu dari sudut pengaruh Yesus pada para para murid-Nya, lebih dari hal Yesus yang mampu berjalan di atas air. Dengan kata lain, mereka lebih memikirkan tindakan Petrus, penderitaan para murid, dan apa yang Yesus katakan kepada mereka setelah Ia membawa Petrus dengan selamat ke kapal.

Secara khusus, keputusan Petrus untuk menuruti permintaan Yesus untuk turun dari kapal dan masuk ke dalam air yang bergejolak menunjukkan iman Petrus kepada Yesus sebagai Mesias; ia siap menempatkan dirinya dalam bahaya yang nyata karena ia percaya bahwa Yesus akan melindunginya.

Laut Galilea memang dikenal dengan badainya. Sejarah mencatat bahwa tingginya gunung-gunung di sekitarnya, perbedaan suhu muncul, dan ini menimbulkan badai yang tiba-tiba dan dahsyat. Penampilan Yesus sebagai penyelamat yang berani menghadapi badai dan membantu mereka yang membutuhkan cukup jelas: apa yang perlu dilakukan para pengikutnya hanyalah menempatkan iman mereka kepada-Nya. Bagaimana mereka dapat beriman kepada Yesus, guru mereka yang tampil sebagai manusia yang sederhana itu? Tentunya karena mereka yakin bahwa Yesus adalah bukan manusia biasa.

Bagi kita, kemampuan Yesus untuk berjalan di atas permukaan laut Galilea dengan jelas melambangkan keilahian-Nya yang sejati dan penaklukannya atas alam. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan telah memberi Musa dan Elia kuasa atas laut (Musa membelah Laut Merah untuk memungkinkan orang Israel keluar dari Mesir), dan hubungan dapat ditarik antara peristiwa-peristiwa sebelumnya dan mukjizat Yesus di laut Galilea.

Yesus adalah gambar Allah yang menciptakan segala sesuatu. Bagi orang Kristen, kemiripan ayat dari kitab Kejadian dengan ayat-ayat dalam kitab Injil menambah keyakinan bahwa Yesus itu adalah Allah dan satu dengan Allah, karena segala sesuatu di alam semesta tentunya diciptakan oleh Allah. Hal kesatuan dari Allah, Yesus dan Roh Kudus itu dinyatakan dalam pengertian Allah Tritunggal, yaitu Allah yang satu. Allah dan Roh Allah muncul dalam kitab Kejadian dari Perjanjian Lama, dan Yesus muncul dalam kitab Injil dari Perjanjian Baru. Jika Roh Allah melayang di atas muka air, Yesus berjalan di atas muka air.

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1: 16

Bagi orang percaya, bumi dan isinya memang menunjuk kepada kebesaran Tuhan. Iman kita memberi keyakinan bahwa seisi bumi yang kelihatan adalah diciptakan oleh Allah, Roh yang tidak kelihatan. Allah adalah Bapa yang mahakuasa dan mahakasih. Allah jugalah yang datang sebagai seorang Juruselamat untuk menebus dosa manusia, yaitu Yesus Kristus.

Jika Allah Bapa sering dibayangkan sebagai Tuhan dalam Alkitab perjanjian lama karena penciptaan alam semesta dan segala apa yang diperbuat-Nya bagi bani Israel, Yesus mungkin lebih mudah dibayangkan sebagai Juruselamat bagi umat manusia di era Perjanjian Baru. Tetapi itu bukan berarti bahwa Yesus baru ada pada masa Perjanjian Baru.

Ayat dalam Kolose 1: 16 di atas menyatakan bahwa Yesus sudah ada dari awalnya. Yesus yang pernah muncul sebagai manusia di dunia adalah gambar Allah yang roh, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Yesuslah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi. Apa pun yang berkuasa di bumi, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; semuanya diciptakan oleh Yesus dan untuk kemuliaan Yesus. Yesus yang pernah turun ke dunia dan sekarang berada di surga dengan demikian adalah satu dengan Allah Bapa dan Roh Kudus.

Pada pagi ini kita diingatkan bahwa di mana pun kita berada dan melihat kebesaran ciptaan Allah, kita harus bersyukur bahwa kita juga ciptaan-Nya yang sudah diperbarui oleh Yesus Kristus dengan pengurbanan-Nya di kayu salib untuk ganti dosa kita. Kita juga harus bersyukur karena Roh Kudus, Tuhan sendiri, juga hidup dalam diri kita. Marilah kita memuji Tuhan kita yang satu dan yang sudah menyelamatkan kita!

“Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Yohanes 1: 2 – 4

Berbahagialah mereka yang menderita

“Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” Yakobus 5: 10 – 11

Teringat saya akan seorang teman sekolah yang agak pendiam dan pemalu. Herannya, teman ini mempunyai seorang saudara yang sama sekali berlainan sifatnya, yaitu gemar bercakap dan bergaul dengan sesama teman. Karena kedua orang tua mereka tidaklah menunjukkan sifat pendiam atau pemalu, saya hanya bisa menduga-duga mengapa sifat kedua anak mereka sangat berbeda, seperti bumi dan langit layaknya. Selang banyak tahun kemudian, saya bertemu lagi dengan teman saya dan saudaranya. Pada kesempatan itu ada hal yang sangat menarik perhatian saya; teman saya tidak lagi menunjukkan sifat pendiam dan pemalu, sedangkan saudaranya  justru berubah menjadi pendiam dan agak ragu-ragu. Agaknya apa yang dialami kedua orang ini dalam hidup mereka sudah mengubah sifat dan sikap mereka.

Memang kebanyakan orang percaya bahwa faktor keturunan atau genetika mempunyai pengaruh yang besar pada sifat dan sikap seseorang selama hidup di dunia. Tetapi ini tidak selalu benar, karena faktor lingkungan sering kali bisa mempunyai pengaruh yang sangat besar atas kehidupan manusia, dan dengan demikian bisa mengubah dan membentuk kepribadian dan pandangan hidup yang berbeda-beda. Adanya pengalaman yang terjadi, dan apa yang dipelajari seseorang dari keadaan dan manusia di sekitarnya bisa membuat orang menjadi makin baik ataupun makin buruk sifatnya. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang hidup dalam keluarga atau lingkungan yang kurang bisa memberi teladan yang baik, akhirnya bisa menjadi orang yang kurang baik tingkah lakunya.

Pengalaman, baik yang indah maupun yang buruk, sebenarnya bisa memberi pelajaran bagi mereka yang mengalaminya. Walaupun demikian, orang sering kurang bisa belajar dari pengalaman hidup yang buruk karena adanya salah satu dari tiga reaksi ini:

  • Tidak menyadari apa yang terjadi: yaitu kebodohan,
  • Menutup mata atas apa yang terjadi: yaitu menghindari kenyataan, dan
  • Melupakan apa yang pernah terjadi: yaitu penyangkalan.

Karena itu, banyak orang yang tidak bisa mendapat manfaat dari pengalaman buruknya.

Bagi kita umat Kristen, sudah tentu kita mengakui bahwa Yesus adalah Guru yang sempurna. Kepada Dia kita ingin belajar bagaimana kita harus menjalani hidup kita di dunia. Walaupun demikian, kita tahu bahwa Yesus bukanlah manusia biasa. Sewaktu Ia di dunia, Yesus adalah sepenuhnya manusia tetapi juga sepenuhnya Tuhan. Karena itu, jika kita menghadapi masalah yang besar, mungkin kita merasa ragu bagaimana kita bisa menyelesaikannya sebagai manusia yang penuh kelemahan. Jika Yesus pasti bisa menghadapi kesulitan apa pun seperti Ia sudah membuktikannya di kayu salib, kita mungkin bertanya-tanya apakah semua penderitaan itu ada manfaatnya bagi manusia biasa.

Pada saat ini kita mungkin mengalami persoalan hidup yang besar. Mungkin itu menyangkut masalah kesehatan, pekerjaan, relasi atau hal-hal yang lain. Karena hal-hal yang membebani hidup kita, mungkin saja sifat dan sikap kita dalam hidup ini sudah berubah secara berangsur-angsur. Mungkin dulu kita adalah orang yang optimis dan ceria, tetapi sekarang kita lebih suka termenung dalam duka. Mungkin juga karena banyaknya pengalaman pahit yang terjadi, kita tidak lagi dapat memercayai orang lain. Dan dengan adanya ancaman yang sering datang dalam hidup kita, mungkin saja rasa yakin yang dulunya ada, sekarang berubah menjadi rasa putus asa. Rasa kecewa mungkin juga membuat kita percaya bahwa tidak ada orang lain yang mengalami penderitaan seperti kita.

Ayat di atas agaknya menegur kita, karena jika kita menganggap bahwa hidup kita saat ini penuh derita, ternyata ada banyak orang yang disebutkan dalam Alkitab sebagai orang-orang yang pernah mengalami penderitaan hidup yang luar biasa. Banyak orang yang taat kepada Tuhan justru mengalami penderitaan, seperti para nabi dan pengikut Yesus. Ayat di atas mengajak kita untuk menuruti teladan penderitaan dan kesabaran mereka yang hidup dalam Tuhan.  Yakobus menyebut mereka berbahagia, karena mereka telah bertekun dalam iman. Lebih lanjut Yakobus mengingatkan kita akan ketekunan Ayub yang pada akhirnya membawa berkat yang sudah disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

Saat ini pilihan ada di tangan kita: apakah kita mau tetap hidup dalam kedukaan dan kemarahan dalam menghadapi kepahitan hidup, atau menuruti contoh teladan yang diberikan oleh para pengikut Yesus, yang kemudian menerima kebahagiaan dari Tuhan karena ketekunan dan kesabaran mereka. Manakah yang kita pilih?

“Berbaqagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Matius 5: 4

Bidat bagaikan serigala-serigala yang buas

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Matius 7: 15

Seorang teman pernah bertanya apakah ada binatang buas seperti serigala, beruang dan harimau di Australia. Saya jawab tidak ada. Karena itu jika kita berjalan melalui hutan di Australia, kita tidak perlu takut diserang binatang pemakan daging seperti itu. Walaupun demikian, hutan rimba Australia bukannya tanpa bahaya. Ular dan laba-laba berbisa bisa saja mengakibatkan kematian manusia. Memang Australia memiliki jenis ular dan laba-laba yang paling berbisa di dunia.

Sekalipun Australia tidak memiliki serigala (wolf) yang bisa mencuri domba, ada binatang yang serupa anjing yang berkeliaran di hutan-hutan tertentu. Binatang itu mirip anjing, tetapi buas. Binatang itu adalah dingo, anjing liar Australia. Diduga dingo berasal dari anjing yang dibawa pelaut dari Asia yang datang ke Australia 4000 tahun yang lalu. Dingo terkadang dilaporkan mencoba menyerang orang yang sedang camping di tempat sepi jika sendirian, tetapi biasanya hewan itu tidak berani menyerang orang dewasa atau orang yang terlihat kuat. Saya sendiri pernah diikuti seekor dingo yang kemudian berbalik arah setelah saya mengambil sebuah carang pohon.

Serigala bukanlah dingo tetapi hewan yang jauh lebih kuat dan lebih buas dari dingo. Serigala juga sering menyerang mangsanya secara beramai-ramai. Serigala adalah binatang yang terlihat culas karena hewan itu sanggup mengeksploitasi kelemahan mangsanya. Karena itu, manusia yang jahat dan culas sering kali dibayangkan seperti seekor serigala. Lebih dari itu, dalam berbagai film khayal sering kali diceritakan adanya orang yang bisa berubah menjadi serigala (wolverine).

Orang yang menjadi serigala sebenarnya bukan hanya dalam khayalan. Ayat di atas menggambarkan adanya orang-orang yang nampaknya saleh dan penuh kasih, dan bahkan muncul sebagai pemimpin rohani yang terpandang. Orang-orang yang sedemikian, tanpa sepengetahuan orang lain bisa menjadi orang-orang yang menghancurkan umat Kristen dan membuat gereja menjadi kacau balau. Sebagai contoh yang paling baru, media mengungkapkan adanya sekte yang menamakan diri sebagai “Gereja  Allah yang mahakuasa” (Church of Almighty God). Mereka mengajarkan bahwa pada akhir zaman, manusia akan diadili oleh Tuhan yang menjelma sebagai seorang wanita dari China. Bidat yang dibentuk pada tahun 1990an ini sekarang memiliki ribuan jemaat di dunia, termasuk Australia dan Indonesia.

Apa arti bidat? Istilah bidat acapkali tidak dimengerti orang. Secara singkat dan agar lebih mudah dipahami, bidat tidak lain adalah aliran sesat, yaitu kompok yang menyimpang dari pengajaran-pengajaran pokok iman Kristen. Jadi, aliran sesat atau bidat memiliki doktrin-doktrin utama yang berlawanan dengan iman Kristen.

Bidat, sekte, mazhab, golongan dan pecahan, semuanya merupakan terjemahan dari kata Yunani hairesis, yang sebenarnya berarti pilihan. Tapi bagi penulis-penulis klasik, kata ini bisa menunjuk pada suatu sekolah filsafat yang pengikutnya adalah pribadi-pribadi pilihan. Sejalan dengan itu, PB memakai kata ini dalam arti “golongan”, yang terbentuk atas dorongan kehendak sendiri atau semangat perpecahan.

Ketika golongan-golongan muncul di dalam satu gereja, mereka disebut “bidat” . Dalam 1 Korintus 11:19, Paulus berkata bahwa, walaupun tidak dikehendaki, setidaknya mereka ini memberikan kejelasan siapa orang Kristen yang benar. Perpecahan ini dilihat sebagai perbuatan daging (Galatia 5:20), dan terutama sebagai kekalahan kasih, sehingga seorang bidat, yaitu seseorang yang dengan keras kepala memilih untuk membentuk atau mengikuti kumpulannya sendiri, akan ditolak sesudah dua kali ditegur (Titus 3:10).

Pemakaian kata “bidat” dalam pengertian modern mengenai kekeliruan secara doktrin tercatat dalam 2 Petrus 2:1, termasuk dalamnya penyangkalan akan Juruselamat. Bagaimana kita bisa mengenali suatu ajaran sebagai bidat, atau apakah ciri-ciri dari suatu ajaran sesat? Beberapa tanda dari bidat atau ajaran sesat adalah:

  1. Ada jalan keselamatan di luar Yesus Kristus (Universalisme, Pluralisme, Postmodernisme, dsb).
  2. Menolak doktrin Trinitas yaitu adanya satu Tuhan dengan tiga pribadi: Bapa, Anak dan Roh Kudus (Saksi Yehovah, Mormon, Gerakan Nama Suci dll.).
  3. Menekankan perlunya esktra biblika. Alkitab dipandang tidak cukup sebagai pegangan untuk merumuskan kebenaran iman Kristen sehingga diperlukan kitab-kitab lain selain Alkitab.
  4. Mengultuskan / mengidolakan seorang atau beberapa pribadi / figur tertentu.

Yesus dalam ayat pembukaan di atas memperingatkan pengikutnya bahwa mereka harus berwaspada karena adanya serigala-serigala yang memangsa domba-domba Allah. Serigala-serigala rohani bukan hanya terjadi pada zaman terbentuknya gereja, tetapi justru banyak muncul di zaman ini. Manusia yang makin jauh dari Tuhan adalah seperti domba yang jauh dari gembalanya, dan karena itu mudah ditipu dan diserang serigala yang buas. Orang-orang yang nampaknya memberitakan Injil, sekarang ini banyak yang melakukannya bukan untuk kemuliaan Tuhan tetapi untuk mencari keuntungan diri sendiri. Orang-orang yang sedemikian berusaha mencari pengikut dengan memakai tipu daya dan dengan memutar-balikkan firman Tuhan.

Kita harus merasa kasihan terhadap mereka yang tersesat. Sebisa- bisanya kita menolong mereka, supaya mereka keluar dari ajaran sesat. Kalaupun sulit, paling tidak kita punya hati yang iba untuk berdoa bagi mereka supaya mereka mau bertobat. Begitu banyaknya aliran sesat dan bidat yang bisa ditemui di zaman ini, sehingga jika orang Kristen tidak rajin mempelajari firman Tuhan mereka akan mudah ikut tersesat. Biarlah kita mau belajar mengenali kebenaran Tuhan setiap hari dan memohon bimbingan Roh Kudus agar kita tetap setia kepada Yesus Kristus Tuhan kita!

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 22 – 23

Tuhan Yesus berarti Yesus itu Tuhan

Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Markus 4: 41

Bagi sebagian besar orang Kristen, kelahiran Yesus di dunia adalah sesuatu yang sudah direncanakan Tuhan sejak mulanya sebelum hal itu terjadi. Kitab Perjanjian Lama penuh dengan berbagai ayat yang menyebutkan tentang kedatangan Sang Juruselamat. Walaupun demikian, ketika Yesus dilahirkan, tidak banyak orang yang bisa menduga bahwa bayi yang lemah, yang lahir dalam palungan, adalah Anak Allah dan Mesias, yang sudah lama dinantikan umat Israel.

Hanya melalui petunjuk Allah, sejumlah manusia langsung tahu bahwa Mesias sudah datang. Jusuf dan Maria, para gembala, orang Majus, dan Simeon adalah sebagian orang yang tahu akan hal itu. Namun orang lain, termasuk murid-murid Yesus, membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum mengenali bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka tahu bahwa Yesus adalah orang yang baik dan suka menolong orang lain, mempunyai kharisma dan pengetahuan yang luar biasa, tetapi mereka tidak tahu atau yakin bahwa Ia adalah Tuhan.

Sampai zaman ini, masih banyak orang Kristen yang tidak tahu bahwa Yesus adalah salah satu dari tiga pribadi Tuhan. Mereka menolak memanggil Yesus itu sebagai Tuhan Yesus. Sebagian orang menganggap Yesus sebagai oknum yang lebih rendah dari Bapa. Malahan ada juga yang percaya bahwa Yesus adalah ciptaan Bapa. Selain itu, ada juga bahwa Yesus adalah Bapa yang turun ke dunia dan sekarang sudah kembali ke surga sebagai Bapa.

Kita yang percaya bahwa Tuhan itu satu tetapi mempunyai tiga pribadi yang bisa hadir pada waktu yang sama, sudah tentu tidak pernah bertemu dengan Yesus secara jasmani. Yesus sekarang di surga, sedang kita masih di dunia. Semua orang yang percaya tentang lahirnya Yesus di dunia, hanya mendengar tentang kelahiran-Nya dari orang lain atau membaca kisah itu dari Alkitab atau sumber-sumber lain. Sebagian kecil manusia mungkin pernah memperoleh penglihatan atau pengilhaman tentang Yesus, tetapi semua itu tidaklah sempurna.

Adalah mudah bagi semua orang untuk menyadari bahwa Yesus adalah tokoh yang besar pada zaman-Nya, guru yang baik, orang yang mempunyai rasa sosial yang besar dan memiliki etika yang tinggi. Bukan hanya orang Kristen saja yang mengakui hal-hal itu, orang yang beragama lain pun percaya bahwa Yesus adalah orang baik. Tetapi, tidak semua orang tahu atau mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan yang turun ke dunia, jalan keselamatan satu-satunya.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14: 6

Adalah sesuatu yang menyedihkan kalau mereka yang sudah mendengar bahwa Yesus yang lahir sebagai manusia biasa, tidak dapat mengerti bahwa Ia bukan manusia biasa, tetapi Tuhan yang mahakuasa. Mereka yang mengaku Kristen tetapi tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan, perlu diyakinkan bahwa Yesus bukan ciptaan Allah tetapi sudah ada sejak awalnya (Yohanes 1: 1). Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan karena hanya Tuhan sendiri yang bisa menghindarkan umat manusia dari kebinasaan.

Kitab Markus 4 menceritakan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Saat itu Yesus sedang tidur di buritan ketika angin ribut datang. Murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Yesus kemudian bangun, menghardik angin itu. Lalu angin itu reda dan danau menjadi teduh sekali. Para murid tidak menyangka bahwa Yesus mempunyai kuasa sebesar itu. Mereka menjadi sangat takut akan kuasa Tuhan yang dinyatakan di hadapan mereka.

Hari ini kita diingatkan bahwa bagaimanapun besarnya persoalan hidup yang kita hadapi, kita harus yakin bahwa Yesus yang pernah lahir sebagai manusia, bukanlah manusia biasa. Bukti-bukti tertulis menyebutkan dengan jelas bahwa Ia adalah Tuhan. Ia sekarang berada di surga bersama dengan Allah Bapa. Karena itu kita tidak perlu mengeluh mengapa Ia membiarkan kita bergumul dengan penderitaan dan persoalan kita saat ini. Yesus adalah Tuhan yang tahu keadaan kita, dan dengan kasih-Nya sudah mengaruniakan Roh Kudus, yaitu Tuhan yang tinggal dalam hati kita.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”Markus 4: 40