TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Mazmur 23: 1-3
Esok hari adalah hari raya Imlek. Masyarakat Tionghoa umumnya mempunyai kebiasaan untuk pulang kampung di saat ini guna menjenguk orang tua dan sanak saudara yang sudah lama tidak dijumpai. Di beberapa negara, arus mudik ini begitu besar sehingga banyak jalan yang macet dan kendaraan umum pun berjubel dengan penumpang.
Bagi kebanyakan orang, tahun baru umumnya membawa harapan baru. Harapan untuk bisa melupakan kegagalan, masalah dan hal-hal yang kurang menyenangkan dari tahun yang telah lalu, dan untuk memperbaiki apa yang kurang baik, agar bisa lebih baik pada tahun yang baru.
Pertemuan antara kerabat yang sudah lama berpisah memang bisa membuat semua pihak berbahagia. Biasanya, masalah kesehatan dan keluarga adalah salah satu topik pembicaraan yang cukup menarik. Dalam suasana seperti itu, orang saling mengucapkan harapan agar orang lain makin sukses dan makin kaya di tahun mendatang. Tetapi pertemuan semacam itu juga memberi kesempatan untuk tiap orang membandingkan kesuksesan diri sendiri dengan kesuksesan orang lain.
Dengan memasuki tahun baru, umumnya orang berharap bahwa keberuntungan yang lebih besar akan bisa didapat. Tidak ada bedanya dengan tahun baru Masehi, memasuki tahun baru Imlek ini orang saling mengucapkan harapan untuk kesehatan, kesuksesan, rezeki dan lain-lain. Orang Kristen pun sering terperangkap dalam situasi yang serupa, sekalipun mereka sebenarnya tahu bahwa lebih penting untuk memikirkan soal surgawi daripada hal-hal duniawi yang sering membawa masalah.
“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6: 9
Sebenarnya, Yesus sudah mengajarkan bahwa sebagai orang percaya kita harus memohon agar Roh Kudus makin bekerja dalam hidup kita, sehingga hidup kita bisa makin dekat kepada Tuhan dan bisa berbahagia dengan adanya rasa cukup. Dengan kedekatan manusia kepada Tuhan, keinginan untuk mengejar keuntungan, harta dan kenyamanan dengan menghalalkan segala cara bisa dipadamkan karena adanya rasa takut kepada Tuhan. Mereka akan sadar bahwa Tuhan menyenangi orang yang punya rasa takut kepada-Nya. Mereka tahu bahwa Tuhan tidak mau umat-Nya menyembah ilah lain.
TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. Mazmur 147: 11
Dalam Alkitab ada banyak contoh di mana orang-orang yang takut akan Tuhan, menjalani hidup mereka sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Orang-orang seperti Abraham, Jusuf, Musa dan Daud yang dalam segala kelemahan mereka, selalu kembali kepada keinsafan bahwa Tuhan yang Mahakasih adalah seperti seorang gembala yang ingin membawa semua domba-Nya ke padang rumput yang hijau. Orang-orang sedemikian diberkati Tuhan dalam hidup mereka, karena mereka mau menuruti panggilan Tuhan.
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33
Ayat pembukaan di atas menggambarkan bagaimana Tuhan gembala kita membawa kita, domba-domba-Nya, ke padang yang berumput hijau. Tetapi dalam kenyataannya, ada domba-domba yang berhenti pada suatu tempat dan tidak mau mengikuti Dia karena adanya sejengkal rumput hijau di depan mata. Mungkin juga ada domba-domba lain yang ingin menemukan padang rumput dengan usaha sendiri. Domba- domba yang sedemikian mungkin sudah kehilangan rasa percaya kepada si Gembala.
Hari ini, dalam memikirkan apakah harapan apa yang terbaik untuk orang-orang yang kita kasihi dan untuk kita sendiri pada tahun baru ini, biarlah kita tidak ragu untuk berharap agar semua orang bisa mempunyai rasa takut akan Tuhan kita yang mahakuasa, mahatahu, mahakasih dan mahabijaksana. Dengan itu, tahun yang baru bisa diisi dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyertai kita dalam segala keadaan, untuk memberikan rasa aman, rasa cukup dan rasa damai yang tidak ada habisnya.
“Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia. Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.” Amsal 26:4-5
Banyak orang pernah mengalami masalah ketika menghadapi “orang yang sulit” yaitu orang yang tidak bisa diajak berunding, atau orang yang keras kepala, sombong, kasar, tidak tahu aturan, pemarah, pengomel atau cerewet. Pusing! Apalagi jika “orang yang sulit” bertemu dengan orang-orang yang serupa, suasana pasti menjadi bertambah keruh.
Kebanyakan orang yang “sulit diatur”, tidak merasa atau tidak mau mengakui bahwa ia adalah orang yang bertemperamen sulit. Dalam hal ini, banyak juga orang mengaku Kristen, tetapi dalam hidupnya suka bertengkar dengan orang lain, sehingga pada hakikatnya gaya hidup dan sikapnya tidaklah berbeda dengan mereka yang belum mengenal Kristus. Tidak jarang, karena mereka mempunyai sifat sedemikian, orang lain menilai mereka sebagai orang yang bodoh. Sekalipun mereka mungkin tahu bahwa kecerobohan dalam memilih kata-kata bisa melukai hati orang lain, mereka yang gemar bertengkar itu biasanya tidak peduli akan akibatnya. Hati mereka puas jika orang lain bisa ditundukkan.
Apa yang kurang disadari oleh banyak orang adalah kenyataan bahwa Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang bisa mendengar apa saja yang kita ucapkan, dan melihat apa saja yang kita perbuat dalam rumah tangga kita. Tuhan tahu jika kita memakai lidah kita secara sembarangan untuk mengeluarkan apa yang ada dalam hati kita. Tuhan juga tahu jika kita berlaku kejam terhadap anggota keluarga kita. Sebagai orang Kristen, kita mungkin ingat bahwa Yesus pernah berkata bahwa perkataan kita adalah pencerminan isi hati yang bisa membuat hubungan kita dengan Tuhan yang mahasuci menjadi renggang.
Kristus dalam hidup-Nya di dunia juga sering menghadapi orang yang sulit diatur, karena itu sikap kita kepada orang-orang semacam itu seharusnya mencontoh Dia. Dalam Yesus berinteraksi dengan orang yang sulit, Ia tidak pernah menunjukkan sikap menang sendiri, kasar atau angkuh; tetapi Ia selalu menunjukkan kekuasaan-Nya secara terkontrol dan tidak dengan semena-mena. Dengan demikian, kita pun harus bisa bersabar dan menghindari pertikaian yang tidak ada gunanya.
Pada pihak yang lain, adakalanya kesabaran kita membuat orang yang lain selalu merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling benar. Dalam hal ini, jika kita berdiam diri ataupun selalu mengiyakan orang sedemikian, orang itu tidak akan pernah menyadari kebodohan dan kesalahannya. Karena itu, sebagai orang Kristen kita wajib menegur mereka yang semena-mena, baik dalam keluarga kita, maupun mereka yang kita temui di gereja dan masyarakat umum. Kita bisa menegur atau menasihati mereka, tetapi tidak dengan kekasaran, melainkan dengan kasih.
Firman Tuhan kali ini jelas mengingatkan bahwa sebagai orang percaya, sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam menggunakan mulut kita. Panggilan kita sebagai orang Kristen dalam hal ini adalah untuk mawas diri, dan selalu hidup dalam bimbingan Tuhan, sehingga hati kita diisi dengan apa yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Hari demi hari, sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh dalam iman dan kasih melalui bimbingan Roh Kudus. Dengan demikian, apa yang ada dalam hati kita akan selalu terpancar dari mulut kita sebagai ucapan kasih yang menghibur dan menguatkan orang lain.
“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Kolose 4: 6
“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” Yakobus 3: 5
Ada frasa yang cukup terkenal: “Jangan pernah mengatakan dalam kemarahan apa yang tidak anda maksudkan, karena sekalipun anda dapat mengatakan bahwa anda menyesal sesudahnya, anda tidak dapat menariknya kembali.” Memang, kata-kata dapat berbicara tentang kehidupan, tetapi juga dapat berbicara tentang kematian. Lidah kita dapat membangun orang lain, tetapi juga dapat menghancurkannya. Gosip dan ajaran sesat juga serupa, apalagi di zaman internet ini. Kata-kata memang seperti api kebakaran yang tidak terkendali, yang berlipat ganda ukurannya setiap menit.
Dalam kehidupan rumah tangga, salah satu perbuatan yang bisa digolongkan ke dalam KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) adalah pelecehan dengan kata-kata(verbal abuse), di mana seseorang sering atau terus menerus menggunakan kata-kata untuk menyakiti hati pasangannya. Memang kata-kata dapat membawa sukacita atau menyebabkan kesengsaraan dalam sebuah rumah tangga. Amsal 18: 3 mengatakan demikian: “Bila kefasikan datang, datanglah juga penghinaan dan cela disertai cemooh“. Kita juga tahu bahwa setan dapat menggunakan lidah kita untuk menyebabkan perpecahan, merendahkan orang lain, membual, ajaran sesat, melebih-lebihkan, mengeluh, atau hanya berbohong. Orang hanya perlu beberapa kata untuk menyakiti orang lain. Luka sembuh tetapi meninggalkan bekas yang tidak pernah hilang.
Gereja tempat Yakobus menulis surat dalam Yakobus 3:1-12 penuh dengan orang-orang berpikiran sempit yang saling bergosip dan mencabik-cabik satu sama lain dengan lidah mereka. Kita bisa dengan cepat mengutuk dosa pembunuhan, pencurian, dan mabuk-mabukan, tetapi kita juga bisa menjadi pembunuh anggota keluarga dengan menggunakan lidah kita:
Suami bisa menikam istrinya dengan menggunakan kata-kata yang menyakitkan.
Istri bisa mencambuk suami dengan lidah yang merendahkan.
Orang tua bisa menghancurkan anak-anak mereka dengan lidah yang membodohkan.
Dan anak-anak membawa teror pada orang tua mereka dengan ancaman yang membawa ketakutan dan kekuatiran.
Yakobus menghubungkan dosa lidah dan ibadah. Dalam Yakobus 1: 26 ada tertulis ““Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya”. Mereka yang tidak bisa nengendalikan lidahnya, bukanlah orang yang takut akan Tuhan.
Jika seseorang melakukan pelecehan verbal, kata-katanya akan memiliki konsekuensi yang besar sebagai salah satu dari tujuh dosa yang disebutkan dalam Amsal 6: 16 – 19. Lebih lanjut, Amsal 21: 23 mengatakan, “Siapa menjaga mulut dan lidahnya, menjaga dirinya dari malapetaka” Lidah dapat mengekspresikan atau menekan; menyinggung atau berteman; menegaskan atau mengasingkan; membangun atau meremehkan; menghibur atau mengkritik; menyenangkan atau menghancurkan. Dengan demikian, lidah adalah salah satu alat yang sering dipakai orang untuk menindas anggota keluarga dan yang kemudian dapat menghancurkan rumah tangga.
Banyak kejadian yang menunjukkan bahwa gereja dan badan hukum kurang peka atas pelecehan verbal dalam rumah tangga. Sebaliknya, dalam rumah tangga, mereka yang dilecehkan sering menganggap semua itu adalah hal yang seharusnya bisa dilupakan. Ini tidaklah benar. Sebenarnya, rasa sakit psikologis jauh lebih parah dan bertahan lama daripada rasa sakit fisik. Banyak orang menyimpan bekas luka dari pelecehan psikologis sebagai anak-anak. Bekas luka itu ada di hati mereka dan bisa memengaruhi hidup mereka untuk selamanya. Begitu juga, perlakuan seseorang terhadap pasangannya bisa membunuh semangat hidupnya.
Pagi ini kita belajar bagaimana kita harus menjinakkan lidah kita. Kita tidak dapat menggunakan lidah kita untuk memuji Tuhan dan dengan lidah yang sama melukai manusia ciptaan Tuhan. Kata-kata bisa menghancurkan hati orang-orang yang mengasihi kita. Patah tulang dapat sembuh seiring berjalannya waktu, tetapi patah semangat yang disebabkan oleh kata-kata yang melecehkan, tidak mudah diperbaiki. Apakah selama ini lidah kita terlalu cepat untuk mengkritik? Apakah kata-kata kita selalu membangun, atau sering meruntuhkan? Berapa banyak orang yang telah kita siksa atau bunuh dengan kata-kata kita?
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” Yakobus 1:19
“Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya.” Efesus 5: 28-30
Adanya pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini telah membawa berbagai dampak yang tidak hanya menyangkut kesehatan, pendidikan dan pekerjaan, tetapi jauh lebih luas dari itu. Salah satu dampak yang kurang diketahui umum adalah meningkatnya tingkat keparahan dan frekuensi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Mengapa begitu? Mungkin karena adanya berbagai bentuk PPKM, kebanyakan orang terpaksa tinggal di rumah terus; dan karena keadaan ekonomi yang buruk, orang lebih mudah untuk bertengkar.
Tragisnya, kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi di mana saja, bahkan di rumah-rumah orang Kristen. Tragedi ini diperparah oleh fakta bahwa banyak orang Kristen yang menjadi korban pelecehan pasangan, telah diyakinkan bahwa perceraian bukanlah respons yang diizinkan Tuhan. Akibatnya, banyak orang yang menderita berbagai bentuk pelecehan dalam pernikahan mereka selama bertahun-tahun.
Kekerasan dalam rumah tangga adalah tindakan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami, istri, maupun anak yang berdampak buruk terhadap keutuhan fisik, psikis, dan keharmonisan rumah tangga. Yang merupakan lingkup tindakan KDRT adalah perbuatan terhadap seseorang, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban yang justru sebaliknya. Tidak semua tindakan KDRT dapat ditangani secara tuntas karena korban sering menutup-nutupi dengan alasan ikatan struktur budaya, tabu, agama, dan belum dipahaminya sistem hukum yang berlaku.
Secara umum, KDRT sering timbul karena istri yang tidak berada dalam posisi yang setara, baik secara fisik, pendidikan maupun ekonomi, sehingga harus hidup bergantung pada suami. Yang bisa memperburuk situasi ialah adanya masyarakat tertentu yang menganggap bahwa laki-laki harus kuat, berani serta tegas. Selain itu, pengertian keliru terhadap ajaran agama bisa menimbulkan anggapan bahwa laki-laki boleh dan malahan harus bisa menguasai perempuan. Oleh sebab itu, KDRT sering dianggap bukan sebagai permasalahan sosial, tetapi persoalan pribadi dalam hubungan suami istri.
Orang Kristen tentunya harus menjunjung tinggi integritas pernikahan sebisa mungkin, dan dalam hal ini ayat di atas menyatakan bahwa seorang suami harus bisa mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri. Lalu bagaimana jika kasih yang diharapkan itu tidak ada, dan sebaliknya hanya kekerasan fisik, mental atau penguasaan semena-menalah yang dialami? Bolehkah seorang istri meninggalkan suaminya karena mengalami pelecehan yang terus menerus?
Tuhan membenci perceraian, dan itu bukan bagian dari rancangan-Nya untuk pernikahan (Kejadian 2:24; Maleakhi 2:16). Namun demikian, Alkitab menyajikan kasus-kasus di mana perceraian diperbolehkan. Dalam Perjanjian Baru, dua pengecualian eksplisit terhadap aturan umum yang menentang perceraian yaitu (1) perzinahan (Matius 5:3 2; 19: 9) dan (2) ditinggalkan oleh pasangan yang tidak percaya (1 Korintus 7:15). Tapi apakah dua hal ini saja yang memberi pengecualian? Apakah adanya KDRT bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk bercerai?
Perjanjian Baru tidak menyatakan apapun mengenai kekerasan dalam rumah tangga sebagai alasan untuk melakukan perceraian, meskipun menjelaskan apa saja yang Allah harapkan dari sebuah pernikahan (Efesus 5: 22-33). Kekerasan bertentangan dengan kehendak Tuhan atas perkawinan manusia. Kekerasan dalam rumah tangga merupakan hal yang tidak bermoral dan tidak bisa ditoleransi oleh siapa pun. Tidak ada seorang pun yang diharuskan untuk tetap tinggal di lingkungan yang berbahaya, yang secara cepat atau lambat akan menghancurkan atau mematikan seseorang secara jasmani atau rohani.
Karena Alkitab tidak mencantumkan kekerasan rumah tangga sebagai alasan bagi seseorang untuk bercerai, kita harus sangat berhati-hati dan membatasi nasihat/anjuran mengenai kasus KDRT. Jika dalam keluarga ada anak-anak, mereka juga harus ikut dilindungi dari ancaman/bahaya yang ada. Adalah hal yang baik jika mereka yang mengalami kekerasan untuk memisahkan diri, setidaknya untuk sementara waktu, dari para pelaku kekerasan. Pada kenyataannya, melindungi diri sendiri dan anak-anak merupakan hal yang benar secara moral dan harus dilakukan secepatnya. Selain itu, tindakan apa lagi yang bisa dilakukan setelah itu?
Perlu diingat, walaupun Allah kelihatannya hanya mengizinkan perceraian dengan dua alasan di atas, kondisi itu tidak secara otomatis memulai proses perceraian. Perceraian selalu menjadi jalan yang terakhir. Dalam kasus perselingkuhan, akan lebih baik bagi suami-istri Kristen tersebut untuk melakukan rekonsiliasi daripada bercerai. Lebih baik untuk memberikan pengampunan dan memberikan kasih yang Allah telah berikan kepada kita dengan cuma-cuma:
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Kolose 3: 13-14
Walaupun demikian, rekonsiliasi dengan pelaku kekerasan adalah hal yang berbeda dengan pelaku dua pelanggaran lainnya. Rekonsiliasi dengan pasangan yang suka melakukan kekerasan bergantung sepenuhnya pada kesungguhan dan kemampuan si pelaku untuk berhenti melakukan kekerasan, yang mungkin bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun – jika itu memang bisa sepenuhnya terjadi. Pemisahan dari pasangan yang suka melakukan kekerasan cenderung berlangsung cukup lama dan sering mengakibatkan tragedi pada pihak yang lebih lemah, jika mereka tidak mendapat perlindungan hukum. Itu sering terjadi jika pihak yang berwenang dan gereja tidak menyadari keadaan yang ada atau tidak mau ikut campur.
Sebenarnya, ada sejumlah “tanda-tanda bahaya” yang bisa diuji sebelum seseorang memasuki hubungan pernikahan. Sayangnya, indikator ini bisa saja tidak terlihat hingga pernikahan sudah berlangsung, karena banyak pelaku kekerasan terampil menyembunyikan sifat asli mereka. Hal-hal yang harus membuat kita waspada misalnya saja: kecemburuan yang irasional, kebutuhan untuk mengendalikan, cepat marah, kejam terhadap hewan, berusaha mengisolasi pasangannya dari teman-teman dan keluarganya, ada penyalahgunaan obat atau alkohol, ataupun tidak menghormati batasan, privasi, ruang pribadi, atau nilai-nilai moral. Dalam hal ini, sebagai orang Kristen kita berkewajiban untuk memperingatkan mereka yang mau menikah untuk membuka mata atas kemungkinan adanya tanda-tanda itu.
Setiap orang Kristen sudah dikaruniai Roh Kudus yang bisa membimbing mereka agar mengerti akan maksud ayat di atas, dan benar-benar awas akan sifat, kelakuan dan penampilan calon pasangannya sebelum mengambil keputusan. Mereka harus sadar, jika hubungan suami dan istri tidak dapat meniru hubungan kasih antara Kristus dan jemaat-Nya, besar kemungkinan hubungan itu akan membuka kesempatan bagi tindakan kekerasan dan paksaan. Orang tidak boleh berpandangan bahwa Tuhan sudah menentukan orang yang disukainya untuk menjadi pasangannya. Kita harus sadar bahwa memilih jodoh adalah tanggung jawab manusia. Setiap orang harus bijaksana dalam mencari jodohnya.
Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa pernikahan antara seorang pria dan wanita adalah suatu hubungan yang melambangkan hubungan Kristus dan jemaat-Nya. Hubungan yang berlandaskan kasih dan kemauan untuk saling berkurban. Adanya kekerasan dalam pernikahan dengan demikian adalah suatu hal yang dibenci Tuhan, dimana seorang sengaja bertindak semena-mena terhadap pasangannya. Kekerasan dalam rumah tangga harus dihilangkan dari masyarakat dan dari lingkungan yang mengaku adanya Tuhan yang mahakasih.
“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” 2 Korintus 6:14
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Roma 11:33
Apa arti paradoks? Menurut kamus, paradoks adalah dua hal yang seolah-olah bertentangan, tetapi dalam kenyataannya dua-duanya benar. Ada beberapa paradoks dalam iman Kristen seperti “Yesus yang turun ke dunia adalah 100% Tuhan dan juga 100% manusia”, dan juga “Tuhan memegang kendali hidup manusia, tetapi manusia bertanggung jawab atas hidupnya”. Jika paradoks yang pertama adalah sulit di mengerti oleh orang yang belum menjadi Kristen, paradoks yang kedua bukanlah sesuatu yang mudah dipahami oleh umat percaya.
Istilah “Tuhan yang mengatur” atau “Tuhan yang menetapkan” adalah frasa yang sering digunakan orang Kristen sebagai slogan mudah diucapkan ketika terjadi hal yang tidak diingini. “Tuhan memegang kendali,” kita berkata ketika seseorang meninggal, ketika kita kehilangan pekerjaan, atau ketika kesehatan kita memburuk. Tapi apa yang dimaksudkan dengan istilah-istilah ini?
Apakah benar bahwa Tuhan menetapkan setiap keputusan, setiap peristiwa; setiap hal yang terjadi, agar semuanya terjadi menurut kehendak-Nya? Bukankah dengan demikian Tuhan sering kali membuat hal-hal yang buruk dan jahat di dunia ini? Apakah Tuhan yang mahasuci bisa mempunyai kehendak yang jahat? Jika seseorang memilih untuk minum terlalu banyak alkohol dan kemudian mengalami kecelakaan mobil sebagai akibatnya, apakah Tuhan yang menentukannya? Jika seseorang tidak bisa membayar tagihan hutang tepat waktu karena ia senang hidup dalam kemewahan, dan karena itu membuatnys terjerat hutang, apakah Tuhan yang membuat itu terjadi? Jika seseorang tidak mau memperbaiki perilaku pribadinya dan belajar mengatasi emosinya dan sebagai akibatnya pernikahannya berantakan, apakah Tuhan yang menetapkan itu?
Tidaklah mengherankan bahwa walaupun ajaran yang menyatakan bahwa “tidak ada yang terjadi tanpa campur tangan langsung dari tangan Tuhan” kelihatannya seperti teologi yang benar, yang menunjang kedaulatan Tuhan, banyak orang Kristen yang tidak percaya akan hal itu. Mereka berpegang erat pada konsep kebebasan dan tanggung jawab manusia seperti yang diucapkan Tuhan kepada Adam dan Hawa di taman Eden (Kejadian 2: 15-17). Kasih Tuhan dinyatakan kepada manusia yang diberi kemampuan untuk memilih tindakan yang baik, yang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta (Kejadian 1:26-28). Dengan demikian, sampai sekarang pun kita bisa mengambil keputusan dan memilih bagaimana kita membelanjakan uang kita, bagaimana kita mengendarai mobil kita, siapa yang kita nikahi, dan jalur karir apa yang kita ikuti. Jadi di sinilah letak paradoks teologis yang pelik. Bagaimana kedaulatan Tuhan dan kehendak manusia bisa berjalan berdampingan?
Ini adalah masalah yang sudah lama diperdebatkan umat Kristen. Paulus, dalam pembahasannya tentang paradoks lain yang menyangkut keselamatan orang Yahudi dan bukan Yahudi, menyatakannya sebagai misteri dalam ayat pembukaan di atas. Sekalipun para teolog dalam sejarah telah mencoba untuk mendamaikan hal penetapan Tuhan dan pilihan manusia ini dengan berbagai ulasan, tetapi sampai sekarang masih banyak orang Kristen yang berpendapat bahwa “segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan dan manusia hanya bisa menerimanya” untuk menghindari paradoks yang berupa misteri itu.
Mengenai paradoks ini, sebenarnya ada tiga hal yang dapat kita yakini:
Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya: Tuhan tidak mengendalikan kita seperti sebuah robot. Dia yang sudah memberi manusia kebebasan untuk memilih, tidak pernah mengambilnya kembali setelah kejatuhan. Dia masih terus menawarkan kita berkat dan kutuk, opsi antara benar dan salah, dan pilihan antara hidup dan mati. Dia memberi kita kemampuan untuk memilih melalui Roh-Nya, tetapi tidak menjewer telinga kita untuk memaksa kita untuk memilih apa yang sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, sebagai anak Tuhan, kita harus berusaha mencari kehendak-Nya (Efesus 5: 17),
Tidak semua yang terjadi di dunia adalah kehendak Tuhan: Banyak dari apa yang kita lihat di bumi ini bukanlah kehendak Tuhan. Memang, jika manusia yang sudah jatuh dalam dosa menggunakan akal budinya saja, mereka akan cenderung memilih sesuatu yang tidak baik. Kitab Suci memberi tahu kita dengan jelas bahwa ada “penguasa kerajaan udara” (Efesus 2: 2), musuh jahat yang bermaksud menggagalkan kehendak Tuhan dan yang cukup kuat untuk memengaruhi hidup kita. Lebih lanjut, jika segala sesuatu yang pernah terjadi di bumi adalah kehendak Tuhan, tentunya tidak akan ada alasan bagi kita untuk berdoa; “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Matius 6:10).
Sekalipun keadaan dunia ini kacau,Tuhan tetap memegang kontrol: Tuhan yang memegang kendali(in control) tidak berarti sama dengan Tuham yang mengontrol (controlling). Jika Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa memang mengontrol cara hidup manusia, dari mulanya tidak akan ada orang yang berdosa. Kasih Tuhan menciptakan kemungkinan kebebasan dan dalam kebebasan berarti ada pilihan yang nyata. Dengan demikian, bukan Tuhan yang membuat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Tuhan bukan pencipta kejahatan. Oleh sebab itu, jika kita tidak berhati-hati, penggunaan frasa “Tuhan yang mengendalikan” bisa membuat kita kehilangan semangat untuk memperbaiki keadaan. Itu karena kita menganggap Tuhan bertanggung jawab atas hal-hal buruk yang kita alami, sementara melalaikan tanggung jawab kita dalam menghadapi persoalan hidup.
Siang ini, mungkin ada baiknya kita meninjau kembali pernyataan bahwa “Tuhan menetapkan apa saja yang terjadi”. Kita harus ingat bahwa memang Tuhan sudah menetapkan siapa yang dipanggil-Nya dan segala hukum alam semesta, tetapi kita bertanggung jawab sepenuhnya atas cara hidup kita. Mungkin kita harus mengartikan frase “Tuhan yang memegang kendali” sebagai “Tuhan yang berdaulat” yang tidak dapat kita bayangkan kebesaran-Nya. Kedaulatan-Nya yang menakjubkan, ajaib dan misterius berarti bahwa ketika kita harus menghadapi pilihan yang memiliki konsekuensi besar, Dia yang mahatahu dapat mengatasi kelemahan kita dan menggunakan hidup kita untuk kemuliaan-Nya. Bahwa sekalipun ada yang terjadi pada hidup kita berada di luar kehendak Allah yang sempurna, Ia tetap mau dan mampu membuat segala sesuatu bekerja untuk mencapai rencana-Nya.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”Roma 8: 28
“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9
Setiap pagi saya mempunyai kebiasaan untuk makan pagi sebelum mandi. Pagi ini, saya mengambil keputusan untuk mandi dulu sebelum makan pagi. Ada pertanyaan dalam pikiran saya: apakah ini keputusan saya ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang ada juga orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang mengatur segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism“.
Walaupun sebagian orang Kristen percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan atau freedom untuk mengambil keputusan sehari-hari, mereka belum tentu bisa menerima bahwa semua itu adalah kehendak bebas atau free will. Apalagi, jika kehendak bebas dikaitkan dengan soal keselamatan, banyak orang yang menyangka bahwa manusia hanya bisa menerima apa yang “sudah ditentukan” Tuhan.
Aiden Wilson Tozer (21 April 1897 – 12 Mei 1963) adalah seorang pendeta Kristen Amerika, penulis yang terkenal, editor majalah, dan pembimbing rohani. Lahir dalam kemiskinan, Tozer belajar sendiri tentang apa yang tidak pernah diperolehnya dari sekolah menengah dan universitas.
Pada tahun 1919, lima tahun setelah pertobatannya dan tanpa pendidikan formal dalam teologi Kristen, Tozer menerima tawaran untuk melayani sebagai pendeta di gereja pertamanya. Itu adalah awal dari 44 tahun pelayanan yang terkait dengan Christian and Missionary Alliance (C&MA), sebuah denominasi Injili Protestan, termasuk 33 tahun melayani sebagai pendeta di beberapa gereja yang berbeda. Untuk prestasinya, ia menerima gelar doktor kehormatan dari perguruan tinggi Wheaton dan Houghton.
Dalam bukunya yang berjudul “Knowledge of the Holy‘, A. W. Tozer mencoba untuk mendamaikan kepercayaan yang tampaknya bertentangan tentang kedaulatan Tuhan dan kehendak bebas manusia dengan sebuah analogi:
“Sebuah kapal pesiar meninggalkan New York menuju Liverpool. Tujuannya telah ditentukan oleh otoritas maritim yang berkuasa. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Setidaknya ini adalah gambaran samar tentang kedaulatan. Di atas kapal ada banyak penumpang. Mereka tidak dirantai, kegiatan mereka juga tidak ditentukan oleh peraturan. Mereka benar-benar bebas bergerak sesuka mereka. Mereka makan, tidur, bermain, bersantai di geladak, membaca, berbicara, semuanya sesuka mereka; tapi sementara kapal besar itu membawa mereka terus maju menuju pelabuhan yang telah ditentukan. Kebebasan dan kedaulatan ada di sini, dan keduanya tidak bertentangan. Begitulah, saya percaya, dengan kebebasan manusia dan kedaulatan Tuhan. Garis besar rancangan Tuhan yang berdaulat mempertahankan jalurnya yang mantap di atas lautan sejarah.”
Analogi di atas adalah cukup terkenal, dan banyak orang Kristen yang mengutipnya. Walaupun demikian, sebagian orang yang lain menolaknya dan memandang bahwa itu tidak tepat untuk menunjukkan hubungan kedaulatan Tuhan dan kehendak manusia dalam kehidupan sehari-hari. Teolog John Piper misalnya, menolak analogi itu dengan alasan bahwa tindakan kita akan mempengaruhi tujuan hidup kita yang sudah ditetapkan Tuhan. Karena itu, setiap tindakan yang kita lakukan sehari-hari, bagaimana pun kecilnya, sudah ditentukan Tuhan agar kehendak-Nya terjadi. Pada pihak yang lain, teolog R.C Sproul menyatakan bahwa apa pun yang diperbuat manusia adalah tanggung jawab manusia dan Tuhan tetap bisa menggunakannya untuk menggenapi rencana-Nya.
Bagi saya, pandangan apa pun bisa digunakan untuk menggaris bawahi kebenaran ayat di atas tidaklah menjadi masalah selama kedaulatan Tuhanlah yang menentukan hasilnya. Jika pandangan Piper menekankan perlunya keselarasan tindakan manusia dan kehendak Tuhan untuk memcapai rencana-Nya, pandangan Sproul menyatakan bahwa kedaulatan Tuhan akan mengatasi apa pun yang dilakukan manusia untuk mencapai rencana-Nya. Jika pandangan pertama menggambarkan Tuhan yang berdaulat penuh melalui penetapan untuk segala sesuatu dari awal sampai akhir sebagai kebenaran Tuhan yang mahakuasa, pandangan kedua menyatakan bahwa Tuhan menunjukkan kedaulatan-Nya melalui penetapan Tuhan untuk segala apa yang terjadi, setiap hari dan di mana saja karena Tuhan mahatahu.
Kembali ke analogi dari Tozer, sangat menarik bahwa kapal laut itu digambarkan sebagai kapal yang sudah ditentukan untuk mencapai tujuannya oleh otoritas yang berkuasa. Ini sebenarnya adalah kenyataan: bahwa setiap cruise ship memang hanya bisa berlayar menuju ke satu tujuan akhir yang sudah ditetapkan dan tidak bisa diubah oleh penumpangnya. Berapa pun jumlah uang yang dibayar atau apa pun usaha yang dilakukan penumpang, mereka tidak bisa mengganti tujuan atau mengubah saat tibanya kapal itu. Memang benar mereka bisa makan, tidur, bermain, bersantai di geladak, membaca, berbicara, semuanya sesuka mereka. Tetapi, jika ada orang yang mencoba untuk melanggar peraturan kapal yang ada dengan berbuat onar atau melakukan hal-hal yang bodoh, mereka akan dikenakan sanksi atau hukuman yang sepadan. Mereka yang turun ke darat sewaktu kapal mengunjungi tempat-tempat perhentian sepanjang jalan, hanya bisa melakukan tur darat dalam waktu yang sudah ditetapkan. Mereka yang terlambat untuk kembali ke kapal akan ditinggal. Dengan demikian apa yang dianggap sebagai kebebasan adalah kesempatan untuk melakukan sesuatu dalam batasan yang ada. Mereka dapat melakukan apa saja, tetapi harus memikul konsekuensinya karena tujuan kapal itu sudah ditetapkan.
Bagaimana dengan kehendak bebas kita selaku ciptaan Tuhan? Banyak manusia yang merasa bahwa Tuhan tidak berkuasa atas hidup mereka. Ada pula mereka yang berdalih bahwa Tuhan yang mahakasih tentunya tidak mau membatasi kebebasan manusia. Selain itu, ada juga yang percaya bahwa selama apa yang mereka senangi terus terjadi, itu tentu sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi, ada juga orang tidak mau lagi berusaha mencapai apa yang mereka inginkan karena yakin bahwa Tuhan sudah menetapkan apa yang mereka alami. Juga ada orang-orang yang dengan sengaja berusaha mengubah rancangan Tuhan dengan berbuat jahat, melakukan keonaran dan bahkan menyerang kedaulatan Tuhan di dunia.
Hari ini, sebagai manusia kita harus sadar bahwa Tuhan sudah menentukan tujuan kapal kehidupan kita. Tuhan yang mahakasih dan mahabijaksana memberi manusia kesempatan untuk menikmati hidupnya selama di dunia. Mereka diberi-Nya kebebasan untuk menjalani hidup mereka, tetapi dalam batasan yang telah ditentukan-Nya melalui firman-Nya. Tuhan juga sudah memberikan Roh Kudus yang membimbing setiap umat-Nya agar mereka dapat menggunakan kebebasan mereka dengan cara yang benar. Kebebasan manusia akan membawa kebahagiaan rohani jika manusia tunduk kepada hukum Tuhan. Sebaliknya, kebebasan yang digunakan semaunya sendiri akan dihadapi oleh Tuhan yang akan menegur, mengubah dan bahkan menghukum manusia yang merasa bahwa kehendak bebasnya ada di atas kedaulatan Tuhan.
“Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” Yakobus 5: 10 – 11
Bagi sebagian orang, hidup ini agaknya seperti sebuah perjuangan yang tidak ada habisnya Bahkan hidup ini sering menjadi sesuatu yang terlalu berat untuk bisa dinikmati. Sejak kejatuhan manusia di taman Eden, memang dunia ini menjadi penuh rintangan dan tantangan bagi seluruh umat manusia. Semua yang terjadi dalam hidup ini terasa seperti takdir yang tidak bisa dihindari. Karena itu, tidaklah heran bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang yang patah hatinya dan hancur semangatnya. Mungkin itu disebabkan oleh kegagalan rumah tangga, karir atau usaha; atau mungkin juga karena faktor kesehatan dan keuangan. Walaupun demikian, dalam ayat di atas, rasul Yakobus menulis bahwa ada orang-orang yang sudah mengalami penderitaan berat tetapi karena kesabaran mereka, bisa menjadi teladan bagi kita. Itu karena mereka yang telah bertekun, akhirnya memperoleh pertolongan dari Tuhan.
Bertekun dalam menghadapi masalah, penderitaan dan tantangan lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Memang, untuk mengambil teladan dari penderitaan orang lain tidaklah mudah. Penderitaan yang kita alami sering kali sulit dibandingkan dengan penderitaan orang lain. Kita mungkin dapat mengerti bahwa apa yang dialami Ayub adalah suatu yang sangat berat, tetapi Ayub adalah orang yang luar biasa imannya. Pada pihak yang lain, dalam menghadapi tantangan hidup, kita sering merasa bahwa apa yang terjadi sudah terlalu berat untuk kita, sekalipun dalam hati kita tahu bahwa Tuhan tentunya tidak membiarkan kita mengalami sesuatu yang melebihi kekuatan kita.
“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13
Kita mungkin percaya bahwa Tuhan pada saatnya akan memberikan jalan ke luar, sehingga kita dapat menanggungnya, tetapi jika itu tidak juga datang setelah lama menunggu-nunggu, harapan kita pun bisa menjadi pudar. Lebih lanjut, dalam menghadapi penderitaan, apa yang diperoleh orang lain setelah mereka menderita mungkin saja tidak cukup memikat diri kita. Para rasul yang sudah bertekun dalam iman dan tetap bekerja dalam menantikan kedatangan Tuhan, kemudian banyak yang menemui ajalnya dengan cara yang mengerikan. Tidaklah mengherankan, jika penderitaan kita sudah tidak tertahankan, apa yang sering muncul adalah keinginan agar kita dibebaskan dari derita itu. Sekarang juga. Tetapi jika itu tidak terjadi, apakah yang bisa kita pakai untuk tetap bertahan dalam hidup? Karena itu, mungkin kita merasa lebih mudah jika kita pasrah.
Hari ini dalam kita membaca ayat-ayat di atas, satu hal yang terlihat adalah hakikat Tuhan yang penyayang dan penuh belas kasihan. Tuhan yang setia dalam kasih-Nya. Karena itu, kita bisa percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa senantiasa berjalan menyertai kita dalam menghadapi semua masalah, dan tidak pernah meninggalkan kita. Jika tidak ada hal lain yang bisa membuat kita tetap tabah, inilah sumber kekuatan dan ketekunan kita dalam berjuang menghadapi tantangan hidup!
“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Ulangan 31: 6
“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14
Ayat di atas sering dipakai untuk menekankan bahwa Tuhanlah yang menetapkan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia dari awalnya. Semua itu sudah ditentukan, dan manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun begitu, pengertian seperti itu sebenarnya kurang tepat. Ayat itu memang menyebutkan adanya hari yang baik, dan juga hari yang buruk, tetapi bukan dalam konteks “nasib”. Hari baik adalah hari di mana kita bisa mencapai hasil yang baik, hari buruk adalah hari di mana apa yang kita kerjakan tidak membawa hasil yang diharapkan. Keduanya dimungkinkan oleh Tuhan, agar manusia mau sadar akan kuasa Tuhan dan mencari kehendak-Nya selama hidup di dunia.
Memang setiap pagi orang bangun dari tidurnya dan mengharapkan bahwa hari itu adalah hari yang baik, terutama mereka yang mempunyai usaha wiraswasta seperti penyediaan jasa atau toko. Memang datangnya pelanggan atau pembeli tidak bisa diduga, dan bisnis bisa sepi atau ramai tergantung pada berbagai faktor, apalagi di saat pandemi Covid-19 ini sedang berlangsung.
Bagaimana pula dengan orang yang bekerja di kantor atau di rumah? Adakah hari baik dan hari buruk bagi mereka? Tentu! Mereka yang bekerja untuk sebuah perusahaan mungkin pada hari yang baik mendapat pujian dari boss, tetapi pada hari yang buruk mungkin membuat kesalahan yang tidak semestinya. Begitu juga mereka yang bekerja di rumah terkadang mendapat pujian dan ucapan terima kasih dari anggota keluarga, tetapi bisa juga menerima omelan sekalipun sudah bekerja keras seharian.
Pengkhotbah dalam ayat di atas menulis tentang dinamika kehidupan yang menyangkut semua orang di dunia, yang bekerja maupun yang tidak bekerja, tua atau muda, pria maupun wanita. Bahwa semua orang bisa mengalami saat-saat yang membawa suka maupun yang membuat duka, dan apa yang terjadi sering kali membuat kejutan karena ada di luar dugaan mereka.
Mereka yang selalu berhati-hati dalam hidup, biasanya selalu merencanakan segala tindakan dengan seksama. Pengalaman mereka di masa lalu mungkin memberi keyakinan bahwa sekalipun ada berbagai tantangan kehidupan, mereka mempunyai semangat dan kepercayaan diri untuk dapat mencapai tujuan. Masa depan ada di tangan kita sendiri, begitu mungkin pikiran sombong mereka.
Jika Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa, memang manusia bisa menentukan apa yang terjadi hari ini. Manusia juga akan bisa merencanakan apa saja yang dikehendakinya. Tetapi, karena Tuhan adalah mahakuasa, apa yang akan terjadi di masa depan sebenarnya tidak dapat ditentukan manusia. Pertanyaan yang sederhana pun, seperti apakah kita bisa bangun dari tidur esok pagi, tidak bisa kita jawab dengan kepastian. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan. Tuhan mempunyai rencana tersendiri untuk setiap orang, dan manusia harus mencari kehendak-Nya dalam bekerja dan berusaha.
Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13 – 14.
Adanya Tuhan yang mahakuasa bukanlah alasan untuk kita menyerah kepada nasib, seolah Tuhan tidak menghargai jerih payah kita. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh padam semangat dalam bekerja dan dalam menjalani hidup. Tuhan membenci orang yang malas dan menyerah kepada keadaan. Tuhan juga tidak menyenangi orang yang tidak pernah menganalisa cara hidupnya dan menganggap kegagalannya sebagai tindakan, penentuan, atau hukuman dari Tuhan.
Pagi ini, kembali kita diingatkan bahwa jika kita mendapat hasil yang baik dalam hidup kita, kita boleh menikmatinya. Sebaliknya, jika kita mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, kita harus percaya bahwa itu juga dengan sepengetahuan Tuhan. Dalam segala hal kita harus mengakui bahwa Tuhan adalah mahakuasa, dan karena itu adalah sepatutnya jika kita selalu bersyukur dan mau menyerahkan masa depan kita sepenuhnya ke dalam bimbingan kasihNya.
Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15
“Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” 1 Petrus 2: 19
Sejak adanya pandemi Covid-19 banyaklah orang yang mengalami berbagai masalah kejiwaan. Memang, gangguan kejiwaan adalah salah satu masalah kesehatan yang terbesar yang bisa dialami masyarakat di negara mana pun. Ini bukan saja berhubungan dengan gangguan medis, tetapi juga bisa bertalian dengan berbagai masalah sosial dan ekonomi. Apalagi, dalam masyarakat modern hubungan manusia yang sangat individual dan mundurnya kerohanian membuat orang yang mengalami masalah kehidupan merasa bahwa hidup mereka sangat berat untuk bisa diatasi seorang diri.
Banyak orang yang mengalami masalah kehidupan yang berat bertanya-tanya mengapa itu harus terjadi, dan itu adalah hal yang wajar. Mereka yang harus menderita bukan karena perbuatan mereka, tentu saja sulit untuk mengerti mengapa ketidak-adilan harus mereka alami. Dan mereka yang sudah bekerja keras tetapi tetap mengalami kesulitan sering merasa bahwa usaha mereka sia-sia. Mereka yang tidak tahan menghadapi penderitaan hidup seperti ini, kemudian bisa mengalami tekanan batin yang besar.
Ayub sebagai manusia yang mengalami penderitaan yang luar biasa karena berbagai malapetaka (Ayub 1: 13 – 20), tentunya tidak terluput dari perasaan sedih. Jika tidak, ia bukanlah manusia yang normal. Walaupun demikian, reaksi Ayub sungguh mengherankan. Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1: 21).
Bagaimana Ayub bisa menanggapi tragedi dalam hidupnya dengan tetap berpikir positif dan tidak mengalami kehancuran? Apakah Ayub adalah orang yang luar biasa, orang stoik yang sanggup menghadapi segala penderitaan dengan keteguhan hati? Tidakkah ia merasa bahwa Tuhan adalah Oknum yang kejam dan semena-mena? Tuhan sudah mempermainkan hidupnya!
Ayat pembukaan dari 1 Petrus 2: 19 menyebutkan bahwa adalah kasih karunia, jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan duniawi yang tidak harus ia tanggung. Ayub dapat menanggung penderitaannya dengan tenang karena Tuhan memberi Ayub kesadaran bahwa Ia menyukai sikap hidup yang menerima penderitaan dengan kesabaran. Tuhan memang menyukai orang-orang yang menyerahkan hidup mereka kepada kehendak-Nya.
Mereka yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan, adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa tentu dapat juga mengubah penderitaan untuk menjadi sukacita. Bagi mereka, kasih dan kemuliaan Tuhan akan terlihat dengan nyata pada akhirnya. Ini jugalah yang terjadi dalam hidup Ayub dan dalam hidup setiap orang yang beriman. Tuhan bukanlah Tuhan yang membuat umat-Nya menderita tanpa suatu alasan yang baik.
Mungkin pelajaran terbesar yang kita pelajari dari pengalaman Ayub adalah bahwa Tuhan tidak harus menjawab siapa pun atas apa yang Dia lakukan atau tidak lakukan. Pengalaman Ayub mengajarkan kita bahwa kita mungkin tidak pernah tahu alasan spesifik dari penderitaan seseorang, tetapi kita harus percaya kepada Allah kita yang berdaulat, kudus, dan adil.
Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji Tuhan adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. Mazmur 18: 31
Karena jalan Tuhan sempurna, kita dapat percaya bahwa apa pun yang Dia lakukan—dan apa pun yang Dia izinkan—juga sempurna. Kita tidak dapat berharap untuk memahami pikiran Tuhan dengan sempurna, karena Dia mengingatkan kita untuk memilih reaksi yang tepat terhadap firman-Nya:
Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55:8-9.
Adalah tanggung jawab dan pilihan kita untuk menaati-Nya, memercayai-Nya, dan tunduk pada kehendak-Nya, baik kita memahaminya atau tidak. Ketika kita melakukannya, kita akan menemukan Tuhan di tengah-tengah pencobaan kita—bahkan mungkin karena pencobaan kita. Kita akan melihat dengan lebih jelas keagungan Allah kita, dan kita akan berkata, bersama Ayub, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:5).
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8: 28-29
Apakah kehendak bebas itu ada? Itu semua tergantung pada maknanya. Jika dengan kehendak bebas diartikan bahwa orang yang tidak percaya sama sekali adanya Tuhan memiliki kemampuan untuk memilih di antara tunduk dan murtad terhadap Tuhan, maka jawabannya adalah tidak ada. Orang yang tidak mengenal Tuhan selalu terikat dosa dan cenderung berbuat jahat. Tetapi, jika seseorang yang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi masih sering berbuat dosa dengan sengaja, namun karena adanya kebutuhan (bukan paksaan) yang membuatnya sadar untuk sepenuhnya tunduk dan bergantung pada kasih karunia Allah untuk membebaskannya dari kuasa dosa, maka kehendak bebas itu ada.
Dalam semua kejadian Perjanjian Baru di mana kata tunduk muncul, kata tersebut diterjemahkan dari kata Yunani hupotasso. Hupo berarti “di bawah” dan tasso berarti “mengatur”. Arti penuh dari kata itu adalah “untuk mematuhi, menempatkan di bawah, tunduk pada, tunduk di bawah atau di bawah kepatuhan, atau patuh.” Kata itu digunakan sebagai istilah militer yang berarti “untuk mengatur divisi pasukan secara militer di bawah komando seorang pemimpin.” Kata ini adalah definisi yang indah tentang apa artinya “menyerahkan diri” kepada Tuhan. Ini berarti mengatur diri sendiri di bawah perintah Tuhan daripada hidup menurut cara hidup lama berdasarkan sudut pandang manusia. Ini adalah proses menyerahkan kehendak kita sendiri kepada kehendak Bapa kita.
Kitab Suci memiliki banyak hal untuk dikatakan tentang tunduk pada “kekuatan yang lebih tinggi”. Ini mengacu pada prinsip-prinsip pendirian yang telah Allah tetapkan di dunia kita -pemerintah dan para pemimpin, dalam kapasitas apa pun, yang telah Allah tempatkan dalam otoritas atas kita di bumi ini. Bagian-bagian yang mengajarkan asas ini adalah Roma 13:1-7. Prinsipnya adalah taat pada otoritas atas kita, apa pun otoritas itu. Ini akan membawa berkat secara nyata di dunia, dan bagi orang percaya, pahala di kemudian hari. Otoritas tertinggi adalah Tuhan, dan Dia mendelegasikan otoritas kepada orang lain; jadi, untuk tunduk kepada Tuhan, kita tunduk pada otoritas yang telah Dia tempatkan atas kita. Kita melihat bahwa tidak ada peringatan yang membedakan antara otoritas yang baik atau yang buruk atau bahkan otoritas yang adil atau tidak adil. Kita hanya harus merendahkan diri dan taat seperti “kepada Tuhan.”
Seseorang tidak dapat tunduk kepada Tuhan tanpa kerendahan hati. Ketaatan menuntut kita untuk merendahkan diri kita sendiri untuk menyerah pada otoritas orang lain, dan kita diberitahu bahwa Tuhan menolak kesombongan karena dari satu kesombongan bisa tumbuh banyak kesombongan yang lain. Oleh karena itu, memiliki hati yang rendah hati dan tunduk kepada Tuhan adalah pilihan yang seharusnya kita ambil. Itu berarti sebagai orang percaya yang dilahirkan kembali, kita setiap hari membuat pilihan untuk menyerahkan diri kita kepada Allah untuk pekerjaan yang dilakukan Roh Kudus di dalam kita yang akan membuat kita “serupa dengan gambar Kristus.” Dalam ayat pembukaan di atas, kita membaca bahwaTuhan menggunakan situasi hidup kita untuk memberi kita kesempatan untuk tunduk kepada-Nya. Dengan demikian, kita kemudian menerima kasih karunia Tuhan untuk bisa berjalan dalam Roh dan tidak mengikuti cara hidup lama.
Menjadi anak Tuhan itu bukan hanya percaya bahwa Ia sudah memilih kita, tetapi dicapai dengan memilih untuk menerapkan Firman Allah dan belajar tentang ketentuan-ketentuan yang telah Allah buat bagi kita di dalam Kristus Yesus. Sejak kita dilahirkan kembali, kita memiliki kemampuan di dalam Kristus, untuk menjadi orang percaya yang dewasa; tetapi, kita harus membuat pilihan untuk melakukan apa yang baik. Orang yang sudah diselamatkan bukannya menjadi orang yang pasif, tetapi sebaliknya aktif untuk mempraktikkan imannya selama hidup di dunia (Yakobus 2:26).
Kita harus memilih untuk berserah diri kepada Tuhan untuk proses belajar agar dapat bertumbuh secara rohani. Ini adalah proses yang dimulai pada kelahiran baru dan terus berlanjut dengan setiap pilihan yang kita buat, untuk menyerahkan diri kita kepada Tuhan. Proses ini akan terus berlangsung sampai Tuhan datang kembali atau sampai saat Dia memanggil kita pulang. Hal yang menakjubkan tentang ini adalah bahwa, seperti yang dikatakan dengan tepat oleh Rasul Paulus, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18).
Tuhan tidak memaksa kita untuk tunduk karena Dia adalah seorang tiran, tetapi karena Dia adalah Bapa yang pengasih dan Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Tuhan tidak memilih kita agar kita menerima keselamatan sebagai hadiah untuk dipandang saja. Memang, berkat dan damai sejahtera yang kita peroleh dari penyerahan diri kepada-Nya dengan rendah hati setiap hari adalah anugerah-anugerah yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun di dunia ini. Tetapi, patutkah kita berdiam diri dan tidak mau untuk memilih cara hidup yang baik sesuai dengan kehendak-Nya? Pilihan ada di tangan kita untuk menggunakan karunia-Nya untuk hidup dengan memuliakan Dia.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2