Pemimpin yang baik itu perlu

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Setiap tiga tahun, rakyat Australia menghadapi pemilihan umum (pemilu) tingkat federal untuk memilih wakil-wakil rakyat dalam pemerintah. Pemilihan umum adalah keharusan bagi setiap warga, dan karena itu semua orang mau tidak mau harus berpartisipasi. Mereka yang sengaja tidak ikut pemilu tanpa alasan yang sah akan didenda. Untuk orang Kristen, partisipasi dalam pemilu sudah tentu merupakan kewajiban karena pemerintah yang sah adalah wakil Tuhan di dunia.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Ada sebagian orang yang berpandangan bahwa karena Tuhanlah yang menetapkan adanya pemimpin negara dan pemerintah, mereka tidak mau berpartisipasi dalam pemilu. Tetapi, pandangan semacam ini tentunya tidak sesuai dengan keadaan sekarang, karena Tuhan tidaklah memerintah umat manusia secara langsung seperti Ia memimpin bani Israel pada zaman perjanjian lama.

Karena pemerintah negara manapun seharusnya mewakili Tuhan, sudah sewajarnya kalau setiap umat Kristen memilih pemimpih yang takut akan Tuhan. Ini adalah syarat utama, bahwa pemimpin yang baik, sekalipun bukan orang Kristen, adalah orang yang mau dan bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang penting, seperti kerohanian, perdamaian, keamanan, keadilan, fungsi keluarga, dan arti pernikahan.

Adalah baik jika semua orang yang duduk dalam pemerintahan adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Tetapi, dalam kenyataan hidup, orang-orang yang jahat dan tidak disenangi Tuhan bisa saja terpilih sebagai pemimpin-pemimpin negara. Dan kalau itu terjadi, manusialah yang harus bertanggung jawab di depan Tuhan.

“Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 4

Apa yang terjadi di muka bumi ini tentunya dengan seijin Tuhan, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan tentunya tidak akan menyenangkan Tuhan, dan karena itu, Tuhan tidak akan memberkati adanya pemerintah yang menentang Dia dan yang melanggar hukumNya, dan tidak sesuai dengan rencanaNya.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai Tuhan yang hidup, Tuhan yang maha kuasa dan maha bijaksana. Karena itu, dalam usaha untuk mencari pemimpin-pemimpin negara yang baik, kita harus selalu mau menaikkan permohonan dan doa syafaat agar orang-orang yang akhirnya terpilih dalam pemerintahan dapat memberi kita hidup tenang dan tenteram dalam iman kepercayaan kita. Lebih lanjut, sebagai orang Kristen, kita harus memilih pemimpin yang bijaksana dan yang takut akan Tuhan, agar seluruh rakyatnya juga takut akan Tuhan dan karena itu selalu mendapat berkatNya. Biarlah kita boleh mengingat pesan terakhir Raja Daud kepada rakyatnya:

“Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.” 2 Sanuel 23: 3 – 4

Jangan hidup dalam dakwaan

“Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.” Wahyu 12: 10

Pernahkah anda mengalami suatu pengalaman yang menyebabkan anda merasa tertekan, sedih dan gundah karena apa yang anda perbuat pada suatu hari, seolah tidak dimengerti orang disekitar anda, termasuk orang-orang terdekat anda? Saya yakin setiap orang pernah merasakan “hari sial” semacam itu. Kesedihan anda mungkin bisa bertambah besar jika ada orang-orang yang mendakwa bahwa anda sudah melakukan hal yang kurang baik, padahal anda tidak mempunyai maksud jahat apapun.

Jika hal diatas seringkali terjadi dalam hubungan antar manusia, dalam hubungan dengan Tuhan, ternyata ada banyak orang Kristen yang mengalami perasaan serupa, merasa sedih dan tertekan karena seolah Tuhan tidak bisa mengerti kesulitan yang mereka alami dalam usaha untuk menjadi pengikutNya yang setia.

Perjuangan untuk menjadi murid Kristus memang tidaklah mudah. Seperti Rasul Paulus mungkin kita pernah mengeluh:

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7: 15

Jika perasaan ini ada pada kita, sebenarnya kita harus bersyukur bahwa kita masih sadar akan apa yang baik dan apa yang buruk. Memang Roh Kudus bekerja untuk membimbing tiap umat Kristen dan mengingatkan akan kekurangan yang masih ada, agar mereka menjadi makin baik dan selalu yakin atas keselamatan yang sudah mereka terima.

Pada pihak yang lain, iblis yang melihat orang Kristen yang hidup dalam perjuangan iman selalu berusaha untuk menjatuhkan semangat mereka. Iblislah yang mengelilingi dan menjelajah bumi, meneliti umat percaya satu demi satu, melihat kalau-kalau ia bisa menghancurkan hidup mereka, supaya mereka melarikan diri dari Tuhan dan supaya Tuhan menolak mereka.

Berbeda dengan Roh Kudus, Iblislah yang sering mengingatkan umat Kristen akan kekurangan mereka, bukan untuk mendorong mereka untuk memperbaikinya, tetapi untuk membuat mereka meragukan bimbingan Tuhan dan jaminan keselamatan yang telah mereka peroleh. Iblis menjadi pendakwa dan kita menjadi terdakwa di hadapan Tuhan.

Mereka yang didakwa iblis bahwa hidup kerohanian mereka masih jauh dari apa yang diharapkan, mungkin kemudian merasa ragu apakah mereka masih bisa menerima karunia dan berkat Tuhan dalam hidup mereka. Mereka mungkin kemudian merasa bahwa hidup di dunia ini hanya penuh derita dan kesia-siaan. Begitu banyak mereka yang hidup dalam dakwaan iblis, lambat laun jatuh kedalam kegundahan yang berat, sehingga mereka tidak dapat memakai iman mereka dalam menghadapi masa depan.

Sore ini, ayat diatas mengingatkan kita bahwa Tuhan tahu tentang adanya dakwaan iblis yang berusaha menghancurkan masa depan anak-anak Tuhan. Tuhan pada saatnya akan menghancurkan iblis si pendakwa itu. Saat ini, kita yang seringkali didakwa si iblis, boleh yakin bahwa Tuhan tetap mengasihi kita dalam keadaan apapun. Kita juga harus percaya bahwa Tuhan kita adalah hakim yang sudah membayar harga tebusan untuk segala dosa kita melalui darah Kristus Yesus.

“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Mazmur 136: 1

Pujilah Tuhan, hai jiwaku!

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103: 2

Satu hal yang menarik perhatian saya ketika baru tiba di benua Australia pada tahun 1980an adalah bagaimana orang sudah belajar mengucapkan kata “thank you” sejak kecil, ketika menerima suatu pemberian. Ucapan ini adalah pernyataan rasa syukur atas kebaikan orang lain.

Jika mengucapkan “terima kasih” adalah salah satu kebiasaan antar manusia, bagaimana pula dengan kebiasaan yang ada antara umat Kristen dan Tuhan? Apakah mereka selalu bisa bersyukur kepada Tuhan dan memuji Dia karena berkat penyertaanNya setiap hari?

Ayat diatas adalah Mazmur Daud yang sangat terkenal. Malahan, seluruh pasal 103 berisi pujian kepada Tuhan, dan diberi judul ” Pujilah Tuhan hai jiwaku” atau “Blessed the Lord, O my soul“. Dalam 22 ayat yang ada, kita bisa membaca mengapa Daud memuji Tuhan. Bagi Raja Daud, Tuhan adalah Tuhan yang maha kasih dan maha setia kepada umatNya. Karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi Daud, Mazmur ini ditulis sebagai pernyataan terima kasih Daud kepada Tuhan.

Mazmur 103 begitu mengesankan sehingga dituangkan kedalam beberapa lagu gereja. Bagi setiap orang yang menyanyikan lagi pujian semacam itu, rasa syukur kepada Tuhan seharusnya benar-benar ada, sekalipun karena berbagai sebab yang berlainan. Mungkin ada orang yang bernyanyi karena adanya berbagai berkat seperti kesehatan, keluarga, pekerjaan dan semacamnya, tetapi tentu ada juga yang hanya bisa bernyanyi tanpa bisa menghayati maknanya.

Memang jika hidup ini berjalan lancar dan mulus, mengucapkan terima kasih dengan mulut kita kepada Tuhan tidaklah sukar, karena itulah yang kita pelajari sejak kecil. Tetapi, jika apa yang kita alami saat ini adalah penderitaan dan kemalangan, sulitlah bagi kita untuk bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur untuk apa?

Mazmur 103 sebenarnya bukan hanya berisi pujian karena Tuhan yang memberkati anak-anakNya, tetapi juga rasa syukur kepada Tuhan karena Ia tahu bahwa manusia adalah debu, yang hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang yang berkembang indah pada satu saat, tetapi hancur jika diterpa angin kehidupan (ayat 14. – 16). Daud bersyukur dengan sepenuh hati bahwa Tuhan sepenuhnya bisa mengerti penderitaan manusia. Karena itu, Daud bisa bersyukur kepada Tuhan dalam suka maupun duka.

Pagi ini kita mungkin ingin bersyukur kepada Tuhan, tetapi barangkali apa yang ada di mulut kita berbeda dengan apa yang ada didalam hati dan jiwa kita. Bahwa dengan mulut kita bisa mengucapkan “thank You” kepada Tuhan karena sudah kita sudah terbiasa, tetapi hati dan jiwa kita yang mengalami kepedihan yang besar, mungkin belum bisa dengan sepenuhnya memuji Tuhan.

Daud menulis bahwa Tuhan adalah seperti seorang bapa yang sayang kepada anak-anaknya. Kasih setia Tuhan akan selama-lamanya dicurahkan atas kita yang takut akan Dia, dan yang berpegang pada janjiNya dan yang ingat untuk melakukan firmanNya. Tuhan yang sudah menyelamatkan kita adalah Tuhan yang senantiasa menyertai kita!

Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 13

Apa yang kita harapkan sebagai pekerja Tuhan?

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” 1 Korintus 15: 58

Bagi mereka yang mencari pekerjaan di zaman ini, keadaan sudah tidak seperti 50 tahun yang lalu. Sekarang, dengan adanya kemajuan pendidikan dan teknologi dimana saja, banyak orang harus bersaing ketat untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Walaupun demikian, jika ada kesempatan untuk memilih tempat bekerja, orang tetap berusaha untuk mendapatkan apa yang terbaik.

Apa yang menarik seseorang untuk melamar posisi dalam suatu perusahaan? Mereka yang berkecimpung dalam bidang tenaga buruh (human resources) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang diharapkan oleh pelamar, antara lain:

  • Nama perusahaan
  • Penghasilan besar
  • Jam kerja fleksibel
  • Kemajuan karir
  • Lingkungan kerja yang baik
  • Atasan yang bijaksana
  • Kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif

Jika hal diatas adalah mengenai pekerjaan duniawi, mereka yang mencari hal surgawi mungkin juga merasakan keinginan yang serupa. Banyak orang yang ingin menemukan kebahagiaan rohani, melihat berbagai alternatif kerohanian yang ada dan memilih apa yang diperkirakan akan membawa kepada kepuasan rohani. Sayang, diantara orang-orang yang mencari alternatif rohani yang terbaik, kemudian jatuh kedalam pilihan yang nampaknya memberikan jalan pintas untuk memperoleh kepuasan “karir rohani”.

Bagi orang Kristen sejati, hal mengikut Yesus bukanlah suatu misteri. Yesus pernah berkata bahwa siapa yang mau bekerja untuk Dia haruslah mau dan siap berjuang untuk kemuliaan Tuhan. Jika banyak orang mendambakan adanya sarana dan lingkungan yang “super” dalam karir duniawi, kerap kali orang Kristen justru harus bisa menjalani hidup seperti Yesus dalam menjalani hidup sehari-hari. Memang, kepada mereka yang mau mengikutNya Yesus berkata:

“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lukas 9: 58

Lebih dari itu, hidup sebagai pekerja Kristus menurut Alkitab tidak pernah dihubungkan dengan kesuksesan dan kenikmatan duniawi. Memang, jika ada ajaran bahwa mengikut Yesus selalu akan membawa kesuksesan karir dan kenyamanan hidup, tentunya banyak orang yang ingin mengikutinya sebab itu tidaklah sukar. Tetapi, Yesus justru berkata bahwa kita harus memilih jalan yang sempit, bukan jalan yang lebar dan terlihat mudah. Bukan memilih sesuatu yang terlihat megah dan memikat, tetapi sesuatu yang benar dan abadi.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13 – 14

Pagi ini kita belajar bahwa bekerja untuk Tuhan bukanlah untuk mencapai tujuan dan kebesaran manusia. Jika kita mau bekerja untuk Tuhan, apapun yang kita kerjakan hari ini tidak perlu menghasilkan sesuatu yang terlihat hebat di mata manusia, tetapi sesuatu yang bisa memuliakan Tuhan. Dengan menjadi pekerja yang baik, persekutuan kita dengan Tuhan akan makin diperkuat hari demi hari, dan berkatNya akan makin melimpah dalam hidup kita.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Hal menagih janji Tuhan

“Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 9

Masa kecil adalah masa dimana seorang anak hidup bergantung kepada orang tuanya. Bagi kebanyakan orang, ingatan yang terkadang muncul tentang masa kecil bisa merupakan nostalgia yang indah, saat dimana orang tua terasa mengasihi dan mencukupi kebutuhan anaknya.

Pada saat-saat tertentu, orang tua mungkin menjanjikan sesuatu kepada sang anak. Jika janji itu kemudian tidak kunjung tiba, sang anak mungkin mengingatkan orang tuanya, alias menagih janji. Kadang, jawaban atas tagihan anak adalah sesuatu yang positif, tetapi seringkali juga dijawab lagi dengan kata “besok”. Seperti banyak anak yang lain, terkadang sulit bagi seorang anak dalam keterbatasan pengertiannya, untuk menerima penundaan pelaksanaan janji orang tuanya. Tetapi, bagaimanapun juga seorang anak harus bisa menerima kenyataan, bahwa hidupnya bergantung kepada orang tuanya.

Hidup orang Kristen juga bisa dibayangkan sebagai hidup anak-anak Tuhan yang sepenuhnya bergantung kepada Bapa yang di surga. Berbeda dengan orang tua di dunia, Sang Bapa adalah Tuhan yang maha kuasa dan maha kaya. Karena itu orang Kristen percaya bahwa tidak ada apapun yang tidak bisa dilakukanNya untuk anak-anakNya. Tuhan pasti menolong mereka yang membutuhkan apa saja, begitu pikiran mereka yang memegang janji-janji Tuhan dalam Alkitab.

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau.” Mazmur 23: 1- 2

Mereka yang berpegang pada janji-janji Tuhan, seringkali melupakan atau mengabaikan adanya janji yang bersifat umum (untuk semua orang Kristen) dan janji khusus kepada orang tertentu. Mereka juga sering tidak menyadari bahwa Bapa kita di surga adalah Tuhan yang maha bijaksana, berbeda dengan orang tua kita di dunia.

Memang dalam kehidupan di dunia, anak-anak Tuhan selalu dibimbing dan dilindungiNya. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk anak-anakNya, dan karena itu kita tidak perlu “merengek-rengek” kepadaNya. Tuhan tahu apa kebutuhan kita, sebelum kita memintanya.

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 7 – 8

Tuhan tahu apa yang kita perlukan. Tetapi apa yang kita perlukan belum tentu sama dengan apa yang kita inginkan. Apa yang diinginkan oleh banyak orang Kristen seringkali adalah kesuksesan, kekayaan, kesehatan atau kenyamanan hidup. Padahal, kesuksesan, kekayaan, kesehatan ataupun kenyamanan hidup justru bisa menjadi sesuatu yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan.

Memang, dalam mengejar keinginan duniawi, orang bisa lupa bahwa keselamatan jiwa adalah lebih penting dari segala macam kekayaan, dan mungkin juga tidak menyadari bahwa tujuan Yesus datang ke dunia adalah untuk menyelamatkan jiwa manusia.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Lukas 9: 25

Di zaman modern ini, segala cara mungkin bisa diperbuat manusia untuk “menagih” janji Tuhan. Bukan saja dengan doa yang bertele-tele, tetapi juga dengan doa-doa dan lagu-lagu yang menuntut agar Tuhan memberikan apa saja yang diingini. Sebagian mungkin dengan menyuarakan permintaan dengan suara lantang yang mengingatkan bahwa Tuhan mempunyai janji -janji kepada mereka. Itu yang disebut positive confessions atau positive affirmations, yang sepertinya adalah tindakan mengamini janji Tuhan, tetapi sebenarnya tidak lain adalah tindakan menagih apa yang pernah dijanjikan Tuhan kepada siapapun, dimanapun dan kapanpun, tanpa melihat konteksnya.

Memang ada orang Kristen yang merasa bahwa Tuhan adalah seperti orang tua kita di dunia, yang terkadang lupa atau tidak sadar akan kebutuhan anaknya, dan karena itu perlu diingatkan terus-terusan. Ada juga yang merasa bahwa jika Tuhan tidak memenuhi tuntutan mereka, mungkin itu disebabkan karena mereka kurang beriman atau kurang sungguh-sungguh dalam berdoa. Tetapi, semua anggapan diatas adalah keliru karena Tuhan adalah Tuhan yang maha kuasa dan maha bijaksana. Tuhan mempunyai rancangan-rancangan yang tidak dapat kita mengerti. Tuhan tidak pernah lupa atau membuang-buang waktu.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan tahu apa yang kita butuhkan dan Ia mempunyai rencana khusus untuk setiap anakNya. Kita tidak dapat menagih janji Tuhan, tetapi harus yakin bahwa sebagai Tuhan yang maha kasih, Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita berhutang besar kepada Tuhan atas keselamatan yang diberikanNya, tetapi Tuhan yang maha kuasa tidak berhutang sepeser pun kepada kita.

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?” Roma 11: 33 – 35

Bukan asal percaya

“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Sebuah lagu sekolah minggu yang cukup terkenal pada waktu saya masih kanak-kanak adalah lagu “Percaya saja” yang syairnya berbunyi:

Percaya saja, percaya saja

Percaya yang b’ri kita menang

Percaya saja di dalam darah-Nya

Percaya tentu kita menang

Lagu ini sederhana syairnya dan mudah dinyanyikan, karena itu banyak anak sekolah minggu yang bisa menyanyikannya di luar kepala. Bukan saja di sekolah minggu, lagu ini juga cukup terkenal diantara kaum dewasa yang menyadari bahwa karena darah Kristus telah dikucurkan di kayu salib, mereka yang percaya sudah memperoleh kemenangan atas kuasa iblis, kemenangan atas maut.

Lagu di atas adalah sangat sederhana, tetapi maknanya seharusnya dikaitkan dengan Yohanes 3: 16:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang menyanyikan lagu ini dengan bersemangat karena percaya bahwa Tuhan selalu akan membawa kemenangan dan keberhasilan dalam menghadapi persoalan apapun di dunia. Ini tentunya pengertian yang kurang benar.

Percaya saja, itu kelihatannya hal yang mudah dilakukan. Untuk bisa beriman, sebagian orang mungkin mengira bahwa mereka cukup mengakui bahwa Tuhan itu ada, dan percaya bahwa Ia adalahTuhan yang maha kuasa. Orang lain mungkin berpandangan bahwa jika ada orang-orang yang bisa berbuat berbagai amal kebaikan di dunia, mereka pasti mempunyai iman. Benarkah begitu? Tentu tidak!

Iman bukanlah usaha manusia, tetapi adalah pemberian Tuhan. Iman adalah salah satu pernyataan kasih Tuhan yang tidak mudah dimengerti. Mengapa Tuhan yang maha besar mau memberikan iman kepada manusia yang berdosa? Karena kasihNya kepada manusia, Tuhan ingin agar manusia bisa mengerti arti pengurbanan Kristus sehingga manusia mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka.

Tuhan mengaruniakan iman yang membawa keselamatan menurut kehendakNya supaya tidak ada orang yang bisa menyombongkan diri atas iman yang dimilikinya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Walaupun setiap orang yang sudah menerima Yesus tentunya diselamatkan karena adanya iman, Tuhanlah yang menentukan seberapa besar iman yang ada. Iman yang besar memang membawa keuntungan dalam menghadapi tantangan kehidupan, tetapi setiap orang harus bersyukur atas iman yang dimilikinya dan memakainya dalam hidup sehari-hari.

“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Roma 12: 3

Dengan demikian, kekaguman kita atas kuatnya iman seseorang adalah keliru, sebab kita sebenarnya harus kagum dan bersyukur atas besarnya kasih anugerah Tuhan yang menyempurnakan iman orang itu.

Pagi ini, dari ayat pembukaan diatas, kita harus menyadari bahwa karena iman yang membawa keselamatan itu datang dari Tuhan, kita harus senantiasa bersyukur kepadaNya dalam setiap keadaan. Kita yang beriman seharusnya memakai dan memeliharanya agar iman itu tetap hidup dan makin lama makin bertumbuh dalam kasihNya.

Iman yang tidak selalu disertai kehidupan yang penuh rasa syukur kepada Tuhan, dan iman yang tidak memuliakan Tuhan dalam segala perbuatan, adalah iman yang lambat laun akan menjadi mati. Sebaliknya, iman yang disertai dengan kepercayaan penuh bahwa anugerah Tuhan adalah cukup untuk kita, akan bertumbuh dan menjadi makin sempurna dalam Tuhan. Biarlah kita mau menyatakan iman kita dalam segala segi kehidupan kita sehingga kemenangan Kristus atas maut dapat lebih makin terasa dalam hidup ini!

“Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu.” 2 Tesalonika 1: 3

Menjadi semakin dewasa dalam iman

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” 2 Korintus 4: 16

Di Indonesia ada beberapa panggilan untuk mereka yang sudah berumur, seperti manusia lanjut usia, golongan senior, kaum lansia atau golongan usia senja. Lansia (lanjut usia) ialah suatu fase kehidupan di mana biasanya kemampuan akal dan fisik mulai menurun.

Sebenarnya, sejak dilahirkan manusia mengalami proses penuaan. Hanya saja, proses penuaan tubuh sebelum usia 25 umumnya bisa diperbaiki, sedangkan mereka yang sudah mencapai usia 40, proses penuaan yang terjadi akan bersifat permanen.

Menjadi tua adalah suatu proses yang ditakuti banyak orang karena ada hubungannya dengan menurunnya kesehatan, kemampuan jasmani dan penampilan. Berbagai usaha yang dilakukan manusia untuk memperlambat proses penuaan, sudah dikenal sejak zaman dulu. Dan di zaman ini, kemajuan medis dan teknologi mungkin lebih bisa membuat manusia tampak lebih muda dari usia yang sebenarnya, baik secara nyata maupun maya. Walaupun demikian, umur manusia Tuhanlah yang menentukan.

Jika manusia berusaha keras untuk memperbaiki penampilan jasmaninya, hal memperbaiki kemampuan rohani agaknya terlupakan. Tetapi, dari ayat yang ditulis oleh rasul Paulus diatas, kita seharusnya sadar bahwa mereka yang mengikut Kristus berbeda dengan orang lain. Walaupun keadaan lahiriah mereka semakin merosot, namun keadaan batiniah mereka makin baik, karena dibaharui dari sehari ke sehari. Selama mereka hidup, mereka menggunakan kesempatan yang ada untuk bisa menjadi semakin dewasa dalam iman.

Berapakah umur anda saat ini? Mungkin anda masih tergolong kaum muda, dan karena itu hal menjadi tua belum pernah terpikirkan. Mungkin juga anda tidak lagi dapat dikatakan muda, tetapi dalam kesibukan hidup anda merasa sehat dan penuh semangat untuk membangun karir dan rumah tangga. Atau mungkin anda sudah mencapai usia lanjut dan merasa bahwa kesehatan adalah masalah yang paling utama. Berapapun umur kita, pertanyaan yang sama harus kita jawab. Apakah secara rohani kita sudah tumbuh menjadi semakin dewasa, dan makin hari makin kuat dalam iman?

Pagi ini kita bangun dan melihat sinar matahari yang sama, dan menghirup udara yang tidak berbeda. Tetapi setiap orang memiliki keadaan jasmani dan rohani yang berbeda. Apa yang bisa kita lakukan dalam hal lahiriah kita adalah terbatas, karena setiap manusia pada akhirnya akan mengalami kemerosotan secara jasmani. Tetapi apa yang bisa kita lakukan dalam hal batiniah tidaklah ada akhirnya, karena dengan iman kita bisa terus bertumbuh hari demi hari, makin lama menjadi semakin menyerupai Kristus.

Jika kita sadar bahwa hidup jasmani kita bergantung kepada kemurahan Tuhan, kesadaran yang serupa harus ada untuk menjalani hidup kerohanian kita. Kedewasaan rohani tidak akan terjadi jika kita tidak mau mempersilakan Roh Kudus untuk bekerja dengan bebas dalam hidup kita. Dengan memusatkan hidup kita kepada Tuhan dan firmanNya, biarlah hidup kerohanian kita boleh makin dikuatkan hari demi hari oleh kuasa dan bimbingan Tuhan.

Perjuangan melawan diri sendiri

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Roma 7: 19

I am what I am (aku adalah aku) adalah semboyan tentang orang yang bangga dengan keadaannya, dan karena itu meminta pengertian orang lain agar menerimanya sebagaimana adanya. Lagu dengan judul yang sama pernah dinyanyikan oleh penyanyi terkenal Shirley Bassey dan Gloria Gaynor, dan bahkan muncul sebagai lagu anak-anak di sebuah acara TV. Lebih dari itu, lagu ini pernah dinyanyikan dalam sebuah show Broadway Musical, La Cage aux Folles, yang menceritakan kehidupan kaum LGBT.

Sekalipun slogan ini mempunyai maksud baik, yaitu untuk memberi rasa percaya diri kepada orang-orang yang, karena keadaan jasmani atau cara hidup mereka, dipandang rendah atau dikucilkan masyarakat, sebenarnya tidak ada orang yang bisa berkukuh dengan cara hidupnya dan yakin bahwa apa yang ada sudahlah baik dan tidaklah perlu diubah.

Mungkin anda ingat bahwa ketika Musa diutus Allah untuk memimpin umat Israel, pada waktu itu ia menemui Allah yang menampilkan diri sebagai api ditengah semak duri. Musa kemudian menanyakan nama apa yang bisa dipakainya untuk menjelaskan bani Israel tentang siapa Allah itu. Allah kemudian menjawab bahwa namaNya adalah “Aku adalah Aku” (Keluaran 3: 14), yang mungkin bisa diartikan sebagai “Aku yang tidak ada tandingannya”. Dengan demikian, slogan “aku adalah aku” mungkin kurang tepat untuk dipakai manusia, karena untuk manusia yang tidak sempurna, semboyan itu terasa bernada sombong.

Jauh dari sempurna, manusia adalah mahluk yang berdosa. Kedatangan Yesus ke dunia adalah dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa mereka. Memang Yesus menerima manusia sebagaimana adanya, dan mau memberi anugerah keselamatan kepada siapa saja yang percaya, tetapi siapapun yang menerima Yesus haruslah mengalami perubahan hidup. Hidup lama untuk dunia harus berubah menjadi hidup baru untuk Kristus. Hidup yang dulunya bergelimang dosa haruslah berubah menjadi hidup yang menurut Firman.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Perjuangan hidup untuk menjadi anak-anak Allah tidaklah mudah. Iblis dari mulanya selalu berusaha membuat manusia agar menjauhkan diri dari Tuhan. Dalam berbagai kesempatan, iblis berusaha meyakinkan manusia bahwa mereka adalah mahluk istimewa dan tidak memerlukan Tuhan. Mahluk yang berkuasa di dunia dan bangga atas eksistensi, hak dan kemampuan mereka untuk hidup seperti yang mereka ingini. Sikap itulah yang justru bisa membawa manusia jauh dari kasihTuhan.

Seringkali, walaupun kita sadar tentang apa yang baik yang harus kita lakukan, tetapi bukanlah itu yang kita perbuat, melainkan apa yang tidak kita kehendaki, yaitu yang jahat, yang kita perbuat. Karena itu, perjuangan kita untuk mengikut Yesus adalah perjuangan untuk melawan diri kita sendiri, untuk mengalahkan keakuan kita.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita tidak boleh berpandangan bahwa jika Tuhan ingin agar kita menjadi pengikutNya, Ia harus mau menerima kita dan cara hidup kita, karena “aku adalah aku”. Sebaliknya, kita harus mengakui setiap dosa dan kelemahan kita, agar Tuhan yang maha kasih memberikan pengampunan dan kekuatan, sehingga makin hari kita bisa makin sempurna didalam Dia.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Lukas 9: 23

Tidak jauh berarti belum sampai ke tujuan

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. Markus 12: 34

Dalam Alkitab ada banyak kata “bijaksana” yang bisa kita ditemui. Memang diantara sifat baik yang diharapkan dari setiap orang Kristen, kebijaksanaan adalah sesuatu yang sangat penting. Menuruti tradisi Salomo, banyak orang yang percaya bahwa kebijaksanaan adalah yang harus dicari manusia dengan sepenuh hati. Karena itu, adanya filsuf-filsuf di dunia ini, dari dulu sampai sekarang, merupakan bukti pentingnya kemampuan manusia untuk bisa menjawab berbagai pertanyaan dalam hidup.

Para filsuf yang ada di dunia ini memang adalah orang-orang pandai, dan apa yang pernah diajarkan mereka sudah menjadi bahan pemikiran mereka yang senang mendalami filsafat atau philosophy. Nama-nama seperti Bertrand Russell, Rabindranath Tagore dan Mao Zedong termasuk dalam daftar filsuf abad 20, sekalipun itu bukan berarti bahwa cara hidup mereka harus dicontoh.

Dalam Markus 12: 28 – 34 ditulis bahwa seorang ahli Taurat, yang dianggap sebagai orang bijak yang paling tahu mengenai hukum Tuhan, datang menemui Yesus. Orang itu sudah mendengar tentang Yesus yang selalu memberi jawab yang tepat atas pertanyaan berbagai orang pandai. Dengan kesungguhan, orang itu bertanya kepada Yesus: “Hukum manakah yang paling utama?”. Yesus dengan tanpa mempersoalkan motivasi orang itu, menjawab bahwa hukum yang utama adalah untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia.

Atas jawaban Yesus, ahli Taurat itu menyatakan persetujuannya. Jawabnya:

“Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Markus 12: 33

Yesus yang mendengar jawaban bijaksana dari ahli Taurat itu menjawabnya dengan singkat: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” . Yesus merasa senang bahwa orang itu tahu dan mengerti apa yang benar dan bijaksana. Bahwa kewajiban setiap manusia seharusnya adalah mengasihi Tuhan dengan sepenuh hidup kita dan juga mengasihi sesama manusia, dan bukan sekedar memuji Tuhan dan memberi persembahan. Tetapi kemampuan untuk berpikir dan menjawab dengan kebijaksanaan seperti itu, tidaklah menjamin bahwa seseorang sudah menjadi pengikut Tuhan.

Pagi ini, mungkin kita sudah mengambil keputusan yang bijaksana untuk pergi ke gereja dan berbakti kepada Tuhan. Keputusan siapapun untuk mau ke gereja adalah satu tindakan yang membuat orang itu satu langkah lebih dekat kepada Tuhan, one step closer to God. Tetapi itu bukan berarti kita sudah mencapai tujuan kita, yaitu menjadi pengikut Tuhan sepenuhnya.

Jawaban yang bijaksana tidak akan menjadi tindakan bijaksana jika Tuhan tidak memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakannya. Dengan kekuatan sendiri, tidaklah mungkin kita bisa melakukan apa yang kita janjikan atau percayai. Hanya dengan bimbingan Roh Kudus kita bisa mengubah hidup kita hari demi hari, untuk menjadi pengikut Yesus sepenuhnya. Biarlah kita terus mau berdoa memohon bimbingan Tuhan agar kita mendapat kekuatan untuk tetap bisa hidup dalam kasih dimana saja dan kapan saja.

Makin dekat, Tuhan, kepadaMu;

walaupun salib tlah mengangkatku,

tetaplah laguku: Dekat kepadaMu;

makin dekat, Tuhan, kepadaMu.

Roda kehidupan terus berputar

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Pengkhotbah 3: 1

Sabtu terasa baru saja berlalu, sekarang sudah hari Sabtu lagi! Kemana hari-hari ini pergi berlalu? Orang bilang: waktu cepat berlalu menunjukkan kesibukan hidup, itu ada benarnya. Tetapi, sekalipun kita tidak terlalu sibuk, hidup terasa berubah cepat dengan adanya kejadian-kejadian di sekeliling kita, seperti perubahan-perubahan dalam karir, kesehatan, teknologi, keluarga, dan negara.

Banyak perubahan yang harus kita terima saja, tanpa kita bisa berbuat sesuatu. Itulah yang membuat kita sering merasa prihatin, terutama jika perubahan nampaknya tidak membawa kebaikan. Perubahan itu bisa datang dari dalam diri kita sendiri sebagai faktor internal, ataupun dari orang lain atau faktor eksternal lainnya. Bertambahnya umur yang untuk sebagian orang adalah sesuatu faktor internal yang membawa kematangan, untuk orang lain mungkin mendatangkan berbagai masalah, terutama kesehatan. Masalah eksternal yang datang dari luar diri kita sudah tentu lebih sulit diduga akibatnya, tetapi selalu terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan.

Penulis ayat diatas adalah Raja Salomo yang terkenal karena kebijaksanaannya. Ia menulis bahwa segala sesuatu ada masanya, ada waktunya, dan kita tidak dapat menhindari kenyataan ini. Ada waktu untuk bergembira, ada waktu untuk berduka. Ada saat kita sehat, tetapi ada saat kita sakit. Apa yang terjadi mungkin sering dipandang sebagai kehendak Allah yang tidak dapat dihindari dan karena itu sebagian orang hanya bisa menerima semuanya dengan pasrah.

Sebagai orang percaya, memang kita yakin bahwa Tuhan berkuasa atas alam semesta. Apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah dengan sepengetahuanNya. Tuhan adalah Tuhan yang maha tahu. Tuhan juga maha kuasa, yang sudah menetapkan hal-hal tertentu untuk terjadi pada saatnya. Walaupun demikian, manusia yang diciptakanNya di dunia, bukankah seperti robot-robot yang hanya bisa melakukan sesuatu dengan perintah Tuhan. Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengambil keputusan, dan iblis pun tahu bahwa dengan adanya kebebasan manusia, ia masih mempunyai kesempatan untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.

Pagi ini, ayat diatas menegaskan bahwa adanya perubahan dalam hidup kita di dunia ini haruslah bisa kita terima. Jika kita membaca seluruh pasal dalam kitab Pengkhotbah 3, kita akan menyadari bahwa sekalipun kita tidak mengerti arti perubahan dalam hidup kita dan apa yang terjadi di sekitar kita, kita harus percaya bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Kitab Pengkhotbah 3 juga menjelaskan bahwa sebagai manusia, kita harus sadar akan keterbatasan kita. Kerapkali, kita menerima kebebasan dan kemampuan yang kita terima dari Tuhan sebagai mandat untuk memaksakan kehendak kita. Kita lupa bahwa manusia bisa, boleh dan bahkan harus berusaha, tetapi kehendak Tuhanlah yang akhirnya akan terjadi. Karena itulah, setiap umat percaya seharusnya mencari kehendak Tuhan dan tidak menyia-nyiakan hidup mereka untuk berusaha menemukan apa yang mereka kehendaki.

Kitab Pengkhotbah 3 juga menulis bahwa hidup ini adalah sebuah kesempatan untuk menikmati apa yang kita sudah terima dari Tuhan. Kegalauan hati dan pikiran tidak akan menolong kita karena kita memang tidak sepenuhnya bisa mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita. Tetapi berbagai tokoh Alkitab seperti Jusuf, Abraham dan Musa, menyerahkan semua kekuatiran mereka dalam menjalani hidup di tanah yang asing. Mereka bisa menikmati hidup di dunia dengan menyerahkan hidup mereka kedalam bimbingan Tuhan.

“Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.” Pengkhotbah 3: 13

Pagi ini, mungkin kita merasa bahwa kita kehilangan kontrol atas hidup kita. Pengkhotbah 3 bertanya adakah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rasa putus asa yang mungkin timbul dalam hidup kita. Adakah sesuatu yang bisa kita andalkan? Salomo menulis bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menguasai jalannya semua peristiwa kehidupan, tetapi bagi mereka yang takut akan Tuhan, hidup ini adalah suatu kepastian: Tuhan akan membimbing mereka dalam keadaaan apapun.

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.” Pengkhotbah 3: 14