“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” Amsal 18: 21
Soal guyon atau bergurau adalah hal yang jarang dibahas dalam Alkitab dan juga jarang dibicarakan di gereja. Sungguh mengherankan bahwa walaupun bergurau adalah hal yang lumrah dalam hidup sehari-hari dan bahkan makin populer dengan adanya internet dan sosmed, masyarakat sering menerima dan membuat guyonan atau gurauan tanpa memikirkan makna, guna dan akibatnya. Karena itu, sering kita melihat bahwa sesuatu yang dianggap guyon, yang dianggap lucu atau “kocak”, akhirnya mengakibatkan hal yang tidak diharapkan, yang mengocak atau mengacau pikiran dan hati orang. Di lain pihak ada hal-hal penting yang seharusnya mendapat tanggapan yang serius, kemudian diabaikan karena dianggap sebagai lelucon atau guyonan saja.
Adalah lumrah bahwa manusia Kristen seperti manusia lainnya, juga senang bergurau baik secara lisan maupun melalui media sosial. Alkitab tidak melarang manusia bergurau, asal saja guyonan itu pada tempatnya, dan tidak mengandung hal-hal yang menyakiti, menipu, memperbodoh atau merendahkan orang lain. Dalam kita bergurau, kita juga harus berhati-hati untuk tidak menyebabkan orang lain mempunyai pandangan negatif tentang diri kita atau menjadikan kita sebagai batu sontohan untuk orang lain. Sering, karena salah pilih “lelucon” kita harus menerima akibatnya. Memang ayat diatas berkata bahwa hidup dan mati kita dikuasai lidah – kita yang suka menggemakannya, akan memakan buahnya.
Walaupun ada kesan bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang murung, Tuhan dalam Alkitab tidak pernah bergurau atau memberikan Firman yang berupa lelucon. Sebagai Tuhan, Ia meminta manusia ciptaanNya untuk menghormati Dia dan menghampiri Dia dengan rasa khusyuk. FirmanNya adalah benar dan akurat, yang berisi hal-hal yang penting untuk manusia, bukan lelucon atau kabar angin. Sebaliknya, guyonan manusia biasanya berisi sesuatu yang tidak benar-benar terjadi, tidak akurat dan biasanya tidak ada gunanya selain bisa membuat orang tertawa geli. Ini adalah kontras antara pendekatan Tuhan dan pendekatan manusia duniawi. Kontras antara Sang Pencipta dan yang diciptakan.
Karena makin gemarnya manusia akan acara guyonan dan komedi, seringkali manusia menanggapi apa yang difirmankan Tuhan dengan kurang serius dan bahkan ada yang menganggap bahwa apa yang difirmankan Tuhan itu lelucon yang tidak lucu atau basi. Selain itu, ada juga orang yang sering memakai nama Tuhan dan firmanNya sebagai bahan lelucon dan dengan itu merendahkan namaNya. Mereka mungkin menganggap Tuhan sudah tua dan kurang bisa mengikuti perkembangan zaman. Terhadap manusia yang sedemikian Tuhan justru mentertawakan kebodohan mereka. Bagi Tuhan, manusia yang sedemikian adalah pelawak-pelawak konyol yang sia-sia perbuatannya.
“Tetapi Engkau, TUHAN, menertawakan mereka, Engkau mengolok-olok segala bangsa.” Mazmur 59: 8
Pagi ini marilah kita mengintrospeksi hidup kita, melihat apakah kita benar-benar memancarkan kebahagiaan dalam Tuhan didalam kita bergaul dan bergurau di tengah masyarakat. Kita harus sadar bahwa sebagai orang Kristen kita adalah wakil-wakil Tuhan di dunia. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita adalah orang yang berbahagia; yang bisa membagikan kebahagiaan kita untuk orang di sekitar kita. Tetapi, dalam kita bergaul dan bergurau, biarlah dunia bisa melihat bahwa hidup dalam Tuhan bukanlah sekedar lelucon saja!
Sekitar tahun 1970-an, lagu “Burung dalam sangkar” menjadi lagu dangdut yang sangat populer di Indonesia. Lagu yang dinyanyikan oleh Emilia Contessa ini sebenarnya lagu ciptaan musisi legendaris Melayu di era 50-an yang bernama Ahmad Wan Yet. Syairnya berisi rasa kasihan kepada burung yang tidak bisa melepaskan diri dari derita kungkungan sangkar. Memang burung yang dipelihara manusia dalam sangkar tidak berdaya untuk merubah keadaan hidupnya.
Salah satu hal yang didambakan manusia adalah kedamaian. Kita tahu bahwa bersama kesehatan dan kecukupan, semua orang sebenarnya mengerti bahwa hidup damai juga perlu untuk menunjang kebahagiaan. Sekalipun manusia hidup berkecukupan dan sehat tubuhnya, rasa damai itu belum tentu ada. Malahan rasa damai itu sepertinya sulit didefinisikan, karena tidak bisa dilihat atau dibuat.
Hal berbakti dan membalas budi kepada orang tua adalah sesuatu yang sangat signifikan dalam kebudayaan semua bangsa di dunia, terutama dalam masyarakat Asia. Dalam ajaran budaya Tiongkok misalnya, anak yang tidak berbakti kepada orang tua dianggap sebagai orang yang jahat dan membawa aib kepada seluruh keluarga.





