Ojo guyon ah!

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” Amsal 18: 21

Soal guyon atau bergurau adalah hal yang jarang dibahas dalam Alkitab dan juga jarang dibicarakan di gereja. Sungguh mengherankan bahwa walaupun bergurau adalah hal yang lumrah dalam hidup sehari-hari dan bahkan makin populer dengan adanya internet dan sosmed, masyarakat sering menerima dan membuat guyonan atau gurauan tanpa memikirkan makna, guna dan akibatnya. Karena itu, sering kita melihat bahwa sesuatu yang dianggap guyon, yang dianggap lucu atau “kocak”, akhirnya mengakibatkan hal yang tidak diharapkan, yang mengocak atau mengacau pikiran dan hati orang. Di lain pihak ada hal-hal penting yang seharusnya mendapat tanggapan yang serius, kemudian diabaikan karena dianggap sebagai lelucon atau guyonan saja.

Adalah lumrah bahwa manusia Kristen seperti manusia lainnya, juga senang bergurau baik secara lisan maupun melalui media sosial. Alkitab tidak melarang manusia bergurau, asal saja guyonan itu pada tempatnya, dan tidak mengandung hal-hal yang menyakiti, menipu, memperbodoh atau merendahkan orang lain. Dalam kita bergurau, kita juga harus berhati-hati untuk tidak menyebabkan orang lain mempunyai pandangan negatif tentang diri kita atau menjadikan kita sebagai batu sontohan untuk orang lain. Sering, karena salah pilih “lelucon” kita harus menerima akibatnya. Memang ayat diatas berkata bahwa hidup dan mati kita dikuasai lidah – kita yang suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Walaupun ada kesan bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang murung, Tuhan dalam Alkitab tidak pernah bergurau atau memberikan Firman yang berupa lelucon. Sebagai Tuhan, Ia meminta manusia ciptaanNya untuk menghormati Dia dan menghampiri Dia dengan rasa khusyuk.  FirmanNya adalah benar dan akurat, yang berisi hal-hal yang penting untuk manusia, bukan lelucon atau kabar angin. Sebaliknya, guyonan manusia biasanya berisi sesuatu yang tidak benar-benar terjadi, tidak akurat dan biasanya tidak ada gunanya selain bisa membuat orang tertawa geli. Ini adalah kontras antara pendekatan Tuhan dan pendekatan manusia duniawi. Kontras antara Sang Pencipta dan yang diciptakan.

Karena makin gemarnya manusia akan acara guyonan dan komedi, seringkali manusia menanggapi apa yang difirmankan Tuhan dengan kurang serius dan bahkan ada yang menganggap bahwa apa yang difirmankan Tuhan itu lelucon yang tidak lucu atau basi. Selain itu, ada juga orang yang sering memakai nama Tuhan dan firmanNya sebagai bahan lelucon dan dengan itu merendahkan namaNya. Mereka mungkin menganggap Tuhan sudah tua dan kurang bisa mengikuti perkembangan zaman. Terhadap manusia yang sedemikian Tuhan justru mentertawakan kebodohan mereka. Bagi Tuhan, manusia yang sedemikian adalah pelawak-pelawak konyol yang sia-sia perbuatannya.

“Tetapi Engkau, TUHAN, menertawakan mereka, Engkau mengolok-olok segala bangsa.” Mazmur 59: 8

Pagi ini marilah kita mengintrospeksi hidup kita, melihat apakah kita benar-benar memancarkan kebahagiaan dalam Tuhan didalam kita bergaul dan bergurau di tengah masyarakat. Kita harus sadar bahwa sebagai orang Kristen kita adalah wakil-wakil Tuhan di dunia. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita adalah orang yang berbahagia; yang bisa membagikan kebahagiaan kita untuk orang di sekitar kita. Tetapi, dalam kita bergaul dan bergurau, biarlah dunia bisa melihat bahwa hidup dalam Tuhan bukanlah sekedar lelucon saja!

Jadilah burung rajawali

“Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Yohanes 5: 39-40

Sekitar tahun 1970-an, lagu “Burung dalam sangkar” menjadi lagu dangdut yang sangat populer di Indonesia. Lagu yang dinyanyikan oleh Emilia Contessa ini sebenarnya lagu ciptaan musisi legendaris Melayu di era 50-an yang bernama Ahmad Wan Yet. Syairnya berisi rasa kasihan kepada burung yang tidak bisa melepaskan diri dari derita kungkungan sangkar. Memang burung yang dipelihara manusia dalam sangkar tidak berdaya untuk merubah keadaan hidupnya.

Lain burung, lain manusia. Pernahkah anda memikirkan bagaimana seorang anak bisa menjadi orang dewasa yang sopan dan jujur, sedangkan anak yang lain menjadi orang dewasa yang kejam dan tidak jujur? Akibat pendidikan orang tua? Akibat lingkungan hidup? Akibat teman pergaulan? Ataukah karena nasib? Mungkinkah karena sudah dikehendaki Tuhan? Mungkinkah karena manusia hidup bagai burung dalam sangkar?

Manusia diciptakan oleh Tuhan bukan sebagai burung atau hewan yang lain. Manusia diciptakan Tuhan sebagai peta dan teladan Allah dan karena itu, berbeda dengan mahluk yang lain, ia bisa dan harus mengambil keputusan dalam hidup. Perintah Allah kepada manusia untuk menguasai bumi dan isinya (Kejadian 1: 28-29), menunjuk kepada keharusan bagi manusia untuk mengatur hidupnya. Tiap orang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Dalam keadaan apapun, apa yang terjadi dalam hidup manusia biasanya bergantung kepada reaksinya terhadap keadaan di sekelilingnya. Manusia menjadi oknum yang baik atau buruk biasanya karena pilihannya sendiri. Manusia seharusnya hidup bagai burung rajawali yang bebas, bukan bagai burung kutilang dalam sangkar.

Firman Tuhan diatas mengatakan bahwa Ia sudah menyatakan diriNya melalui Alkitab, dan hukumNya juga bisa dibaca dan dipelajari. Walaupun demikian, tidak semua orang mau menerima kabar baik tentang keselamatan dan menjalankan perintah Tuhan dalam hidupnya. Setiap orang mempunyai kesempatan dan bisa mengambil keputusan, tetapi tidak semua orang mau menggunakan kesempatan untuk datang kepada Tuhan dan menjadi manusia baru didalam Yesus.

Jelas bahwa sekalipun Tuhan selalu mengambil inisiatif, hidup kita masih juga bergantung kepada keputusan yang kita ambil. Mungkin kita selama ini belum mau mengambil keputusan sendiri untuk menjadi manusia baru dalam Tuhan.

Mungkin selama ini kita mengikuti keputusan atau pendapat orang di sekitar kita. Mungkin kita masih mempertanyakan apakah eksistensi kita memang sudah final dan tidak bisa diubah. Pagi ini kita harus sadar bahwa kita bertanggung jawab atas reaksi dan keputusan kita dalam hidup ini.

Dalam hidup kita dihadapkan kepada berbagai pilihan. Life is a series of choices. Maukah kita hidup merdeka seperti burung rajawali yang bisa terbang tinggi?

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Yesaya 40: 31

Mencari kedamaian hidup

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Salah satu hal yang didambakan manusia adalah kedamaian. Kita tahu bahwa bersama kesehatan dan kecukupan, semua orang sebenarnya mengerti bahwa hidup damai juga perlu untuk menunjang kebahagiaan. Sekalipun manusia hidup berkecukupan dan sehat tubuhnya, rasa damai itu belum tentu ada. Malahan rasa damai itu sepertinya sulit didefinisikan, karena tidak bisa dilihat atau dibuat.

Berbagai usaha sering dilakukan manusia untuk mendapatkan rasa damai, misalnya dengan banyak berdoa, menyepi, berpuasa atau bersemedi. Tetapi seringkali rasa damai tentram itu tidak kunjung datang. Apalagi jika keuangan atau kesehatan mulai menurun, rasa gundah dan kuatir mulai muncul.

Mereka yang beruang dan sehat, juga belum tentu bisa mendapatkan rasa damai dalam hidupnya. Seringkali, dalam kebingungan hidup mereka mencari kebahagiaan dengan materi dan kegiatan fisik. Mungkin melalui makanan, pakaian, barang mewah, olahraga, pesta pora dan petualangan. Tetapi kedamaian adalah sesuatu yang elusif, sulit ditemukan. Kedamaian yang dimengerti manusia seringkali palsu dan tidak langgeng.

Ayat diatas meyatakan bahwa damai sejahtera yang melampaui segala akal, yang dapat memelihara hati dan pikiran kita, adalah pemberian Allah melalui Kristus Yesus. Jelas bahwa kedamaian yang benar-benar bisa efektif dalam hidup kita bukanlah dari usaha kita sendiri. Manusia sering berusaha, tapi Tuhanlah yang menentukan apa yang bisa memberi ketenangan hidup dalam keadaan apapun.

Apa yang ditentukan Allah dari awalnya untuk membawa kebahagiaan bagi manusia adalah hubungan yang baik antara manusia ciptaanNya dengan Sang Pencipta yang Mahakuasa dan Mahakasih. Karena hubungan ini menjadi rusak sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, manusia kehilangan pegangan hidup dalam perjuangan di dunia. Karena itulah Allah mengirimkan anakNya yang tunggal Yesus Kristus ke dunia.

Yesus Kristus tidak hanya menebus dosa manusia, tetapi Ia memungkinkan manusia yang percaya untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Bapa di surga. Kesempatan sekarang terbuka, bahwa semua orang yang percaya dapat mengutarakan segala persoalan dan kebutuhan mereka kepada Tuhan secara langsung. Setiap saat, dimana pun kita berada. Yang kita perlukan hanyalah kemauan untuk menerima kedamaian dari Yesus pagi ini:

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Berbakti kepada orang tua

“Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. 1 Timotius 5: 3-4

Hal berbakti dan membalas budi kepada orang tua adalah sesuatu yang sangat signifikan dalam kebudayaan semua bangsa di dunia, terutama dalam masyarakat Asia. Dalam ajaran budaya Tiongkok misalnya, anak yang tidak berbakti kepada orang tua dianggap sebagai orang yang jahat dan membawa aib kepada seluruh keluarga.

Kata “berbakti” dalam Alkitab terjemahan Indonesia sebenarnya berbeda dengan kata-kata yang dipakai dalam terjemahan bahasa Inggris. Berbakti menurut kamus bahasa Indonesia dapat diartikan “tunduk dengan hormat” dan dipakai umumnya dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Sebuah kata yang besar yang mempunyai arti yang dalam dan serius.

Dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris, kata yang artinya sama tidak dijumpai. Sebaliknya, kata “berbuat baik” umumnya dipakai dalam berbagai versi Alkitab. Memang kelihatannya, kata “berbakti” memang dipilih penerjemah Alkitab di Indonesia untuk menyesuaikan dengan kebudayaan Timur dan mungkin juga dengan adanya penggunaan kata yang sama dalam agama-agama lain.

Hal pentingnya seorang anak untuk berbakti kepada orang tua dipertunjukkan di sebuah musium di Bendigo, Australia. Kota Bendigo adalah sebuah kota yang dihuni oleh banyak pendatang dari Tiongkok yang bekerja di tambang emas pada pertengahan abad ke 19. Dalam diorama diatas, seorang wanita menyusui ibu mertuanya yang ompong walaupun bayinya sendiri lagi menangis kelaparan. Itulah konsep berbakti kepada orang tua yang sering pada zaman dulu dituntut dari anak-anak.

Pada zaman ini, hal berbakti dan soal membalas budi kepada orang tua agaknya sudah berubah. Seorang anak yang sudah berkeluarga cenderung untuk lebih mementingkan anggota keluarganya sendiri. Memang, menurut Alkitab, mereka yang menikah akan meninggalkan orang tua mereka (Kejadian 2: 24). Itulah yang terjadi di bumi ini, bahwa semua mahluk akan memelihara anaknya untuk kelangsungan generasi mendatang.

Orang tua yang bijaksana sudah tentu mengharapkan anak-anaknya untuk bisa memelihara keluarga mereka sendiri. Sebagai orang tua, mereka sendiri juga mengurbankan banyak hal untuk kebaikan anak-anaknya pada masa lalu. Memang ada sebagian orang tua yang mempunyai pandangan yang keliru, bahwa anak-anak mereka adalah jaminan masa tua mereka; tetapi anak-anak kita sebenarnya adalah pemberian Tuhan yang harus dicintai dan bukannya diperalat (Mazmur 127: 3).

Walaupun sebagai orang tua kita sendiri harus memelihara anak-anak kita, kita tidaklah sama dengan mahluk-mahluk ciptaan Tuhan yang lain. Manusia diciptakan Tuhan sebagai peta dan teladanNya dan orang tua kita adalah wakil Tuhan di dunia ini. Karena itu kita harus selalu mau menghormati orang tua kita:

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” Keluaran 20: 12

Ayat dalam 1 Timotius 5: 3-4 diatas secara spesifik mengajarkan kita untuk menghormati orang tua kita yang berada dalam kekurangan. Mereka yang tidak mempunyai penghasilan, dalam kesepian dan penderitaan. Sebagai anak yang baik kita seharusnya tetap berusaha meringankan beban mereka di hari tua, karena merekalah yang sudah memelihara dan membesarkan kita. Ini bukan berarti kita harus menelantarkan anak kita sendiri, tetapi sebagai anak kita harus bisa meyakinkan orang tua kita bahwa kita tetap mengasihi dan mau menolong mereka dalam setiap keadaan karena Tuhan sudah mengasihi kita. Semoga Tuhan tetap memimpin kita dalam mempraktikkan prinsip hubungan yang baik antara orang tua dan anak dalam hidup kita.

Bertumbuh atau mati

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3: 18

Suatu prinsip bisnis yang sering digembar-gemborkan adalah “grow or die”, yang artinya bertumbuh atau mati. Siapa yang punya bisnis harus berusaha memajukan usahanya dengan cara apapun, karena jika usaha itu tidak bertumbuh, cepat atau lambat usaha mereka akan mundur dan akhirnya gulung tikar. Semboyan ini ada benarnya untuk jenis-jenis bisnis tertentu, terutama yang berkaitan dengan teknologi.

Seperti yang terjadi dalam dunia bisnis, hal yang serupa bisa terjadi dalam hidup orang Kristen dalam soal mengelola kehidupan rohani mereka. Seringkali, ketika manusia menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka, semangat mereka sangat tinggi dan menggebu-gebu. Mungkin, karena mereka adalah OKB (Orang Kristen Baru), mereka masih belum menyadari bahwa tantangan hidup orang percaya adalah sangat berat. Tetapi, jika tahun demi tahun lewat dan mereka tidak bisa menjadi dewasa dalam iman, kerohanian mereka pasti akan mundur. Iman mereka yang tidak bertumbuh, pelan-pelan menjadi mati.

Hal tidak bertumbuh bukan hanya terjadi pada orang Kristen baru saja, karena mereka yang sudah lama mengenal Kristus pun sering mengalami hambatan pertumbuhan iman. Dunia di sekeliling kita adalah dunia yang penuh godaan, kejahatan, tipu muslihat dan rayuan. Dunia ini juga mengajarkan bahwa hidup ini harus bisa dinikmati selagi masih bisa. Seperti yang terjadi pada orang-orang di zaman Lot, banyak orang yang mengaku Kristen tetapi hanya sibuk dengan acara makan dan minum, membeli dan menjual, menanam dan membangun (Lukas 17: 28) dan tidak menyadari bahwa kesabaran Tuhan ada batasnya.

Dengan keadaan dunia yang makin mementingkan materi, manusia merasa bebas mengingini dan melakukan apa saja. Mereka yang menginginkan hidup enak, hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Mereka yang menginginkan kebahagiaan, tidak bisa mengerti penderitaan orang lain. Mereka yang sukses, hidup dalam kebanggaan dan pesta pora setiap hari. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang padam api kasihnya dan dingin hatinya tetapi tidak menyadari keadaannya.

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24: 12

Pagi hari ini panggilan Tuhan kepada kita adalah untuk bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Grow or die. Bertumbuh dalam iman atau mati. Sadarkah kita bahwa tidak cukup bagi kita untuk mengaku percaya dengan mulut kita tetapi tidak menjalankan perintahNya? Bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati?

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” Yakobus 2: 19-20

Siapakah Dia?

Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Matius 8: 27

Siang kemarin Badan Meteorologi mengirim berita lewat berbagai media bahwa topan akan mendatangi beberapa kota di negara bagian Queensland. Diramalkan topan berbentuk angin kencang, hujan deras dan hujan es akan datang sekitar pukul 4.30 sore. Seperti yang diramalkan, topan datang tepat pada waktu yang sudah diramalkan. Dimulai dengan angin kencang dan hujan air, hujan es datang menghantam mobil-mobil yang diparkir di halaman universitas tempat saya bekerja. Kerusakan yang disebabkan oleh hujan es sebesar bola pingpong itu cukup berat. Untunglah tidak ada orang yang cedera. Sungguh kekuatan manusia adalah kecil jika dibandingkan dengan alam semesta!

Topan serupa pernah dialami beberapa murid-murid Yesus yang sedang berperahu di laut Galilea dengan Guru mereka. Waktu itu Yesus merasa sangat lelah dan tidur lelap di buritan perahu. Murid-murid Yesus jelas dapat melihat bahwa guru mereka tidak ada bedanya dengan manusia biasa. Karena pekerjaan yang berat, Ia menjadi lelah dan harus beristirahat. Saat itu mereka mungkin lupa bahwa Yesus yang mereka lihat bukanlah orang biasa. Yesus yang sudah melakukan berbagai mujizat.

Sewaktu angin topan hampir menenggelamkan perahu mereka, dalam ketakutan murid-murid Yesus membangunkan sang guru. Entah apa yang dipikirkan mereka, tetapi jelas mereka ingin agar Yesus ikut memikirkan masalah yang mereka hadapi. Tidak terpikir bahwa Yesus bisa melakukan sesuatu yang istimewa, karena yang mereka tahu bahwa manusia tidak dapat menandingi kuasa alam semesta. Mereka tidak sadar bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Ia adalah pemilik segala sesuatu.

Ketika topan kehidupan yang besar datang atas diri kita, seringkali kita juga seperti murid-murid Yesus. Kita mungkin sudah pernah melihat kuasa Yesus dalam berbagai segi kehidupan kita atau dalam hidup orang lain, tetapi kita belum pernah mengalami masalah sebesar ini! Dapatkah Yesus menolong aku dalam kesulitan ini? Siapakah Dia sehingga aku boleh yakin bahwa segala sesuatu ada dalam kuasaNya?

Pagi ini marilah kita meneliti iman kita dan menanyakan siapakah Yesus bagi kita. Seperti murid-muridNya, mungkin kita belum benar-benar sadar bahwa Ia yang Anak Allah, yang berkuasa atas segala sesuatu.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Markus 4: 40

Otot kawat tulang besi

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Filipi 4: 13

“Otot kawat tulang besi” merupakan ungkapan yang berasal dari bahasa Jawa yang berbunyi “Otot kawat, balung wesi”. Ungkapan tersebut dalam kisah pewayangan mengingatkan kita pada sosok pria yang gagah perkasa, berkumis tebal, sakti mandraguna dan bisa terbang tanpa sayap. Itulah Gatotkaca putra Bima dari keluarga Pandawa dalam kisah Mahabarata.

Dalam Alkitab, orang yang dapat dikatakan mempunyai “otot dari kawat dan tulang dari besi” adalah Simson yang menjadi salah satu hakim umat Israel (Hakim-Hakim 14). Simson dapat mencabik seekor singa, menangkap tiga ratus anjing hutan dan  membunuh banyak orang, semuanya dengan tangannya. Tetapi Simson bukan benar-benar orang yang kuat dalam segala hal, karena ia mempunyai kelemahan terhadap rayuan wanita. Karena kelemahan itulah ia akhirnya mati bersama ribuan orang Filistin.

Sebagai manusia, kita mungkin membayangkan betapa enaknya jika kita bisa hidup sehat-kuat sampai hari tua. Berbagai hal yang bisa dilakukan manusia untuk memelihara kesehatannya seperti minum berbagai obat, vitamin, berolahraga, berdiet sehat dan sebagainya, yang di zaman ini menjadi pusat perhatian mereka yang mampu. Walaupun demikian, tidak ada seorangpun yang bisa dalam jasmaninya mencapai tingkatan “otot kawat tulang besi”. Seperti Simson, semua orang akhirnya akan mati dan lebih dari itu, tidak ada seorangpun yang tahu kapankah itu akan terjadi.

Sebagai karunia Tuhan dari mulanya, kekuatan jasmani memang penting untuk dapat menjalankan tugas manusia di dunia , dan lebih dibutuhkan lagi setelah kejatuhan mereka kedalam dosa – karena hanya dengan susah payah saja manusia bisa tetap berkembang biak dan hidup (Kejadian 3: 16-17). Walaupun demikian, kekuatan yang diutamakan Tuhan adalah kekuatan rohani melalui hubungan yang baik denganNya. Kekuatan rohani ini seharusnya tetap ada seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa. Namun, karena kejatuhan dalam dosa, manusia tidak akan memperoleh kekuatan rohani jika mereka tidak mau kembali membina hubungan yang baik dengan Sang Pencipta.

Seringkah anda mengalami rasa capai sesudah bekerja seharian? Seringkah anda merasa lelah dalam hidup yang penuh tantangan? Apakah anda merasa bahwa usia sudah mulai mempengaruhi kekuatan jasmani anda? Apakah anda merasa bahwa rasa hormat orang lain kepada anda sudah mulai berkurang karena usia anda? Ataukah anda mempunyai masalah dengan kesehatan anda? Mungkin semua pertanyaan itu pernah dipertanyakan oleh Simson, si “Otot Kawat Tulang Besi”. Seperti Simson, kita tidak dapat menghindari semua masalah itu karena kekuatan jasmani kita yang bersifat sementara.

Pagi ini kita harus sadar bahwa adalah kebohongan jika kita merasa bahwa hidup kita ada di tangan kita sendiri. Dalam hal jasmani, manusia manapun tidak dapat bergantung kepada tubuh, kepandaian, kekuatan dan harta mereka. Dalam soal rohani, manusia juga harus tetap bergantung kepada Tuhan yang membawa keselamatan melalui Yesus Kristus. Walaupun demikian, jika kita mempunyai kekuatan rohani dari Tuhan, kita boleh yakin bahwa kita akan mempunyai ketabahan seperti “otot kawat dan tulang besi” untuk bisa menghadapi semua tantangan hidup. Dalam kelemahan jasmani kita, kita boleh bermegah bahwa Yesus sudah memberikan kita kekuatan rohani yang abadi!

“Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 30

Bahagia karena setia

“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Yohanes 15: 10-11

Betulkah hidup orang beriman itu selalu terisi kebahagiaan? Jika tidak, apa untungnya menjadi orang Kristen? Pertanyaan ini sering kita dengar ketika mereka yang bergumul dalam hidup, dihadapkan pada kesempatan mengambil keputusan untuk mengikut Yesus.

Untuk menjawab pertanyaan itu barangkali kita harus mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini: Betulkah hidup orang yang sudah menikah itu selalu terisi kebahagiaan? Jika tidak, apa untungnya menikah?

Mereka yang akan menikah biasanya diminta untuk berjanji untuk saling setia dalam keadaan apapun. Janji ini tidak mudah diberikan tetapi jika pasangan itu saling mencintai, mereka akan berusaha melaksanakannya. Kaya atau miskin, sehat atau sakit, dalam semua keadaan mereka akan setia sampai mati. Karena itu, pernikahan yang langgeng harus mempunyai kebahagiaan yang tidak tergantung keadaan, yaitu adanya hubungan kasih antara suami dan istri.

Seperti hidup suami istri, di dunia ini hidup kita sebagai orang Kristen tidak selalu berisi hal-hal yang menyenangkan. Orang Kristen tidak mendapat perlakuan istimewa dari lingkungannya. Malahan, ada dikatakan bahwa pengikut Kristus akan menderita seperti Tuhan mereka di dunia ini karena ada banyak orang yang membenci mereka.

“Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Matius 10: 22

Karena itu, jika seseorang memutuskan untuk mengikut Kristus hanya untuk mendapat kebahagiaan duniawi, ia akan kecewa. Janji kesetiaan kita kepada Tuhan adalah untuk setia sampai akhir, tidak peduli apapun yang akan terjadi. Kita tahu bahwa Tuhan dengan setia bekerja dalam semua yang kita alami agar kita tetap merasakan kasihNya yang tidak berkesudahan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Pagi ini, kita harus sadar bahwa selama hidup di dunia, kita akan mengalami berbagai tantangan dan persoalan, baik secara jasmani maupun rohani. Baik dalam keluarga, gereja, pekerjaan ataupun masyarakat. Bahkan kita bisa mengalami persoalan dalam pikiran dan hati kita, yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan. Tetapi Tuhan yang tahu kelemahan kita tidak akan membiarkan kita bergumul seorang diri. Manusia tidak dapat memperoleh sukacita sejati dalam hidupnya karena usaha sendiri. Tetapi siapa yang taat kepadaNya akan dapat merasakan kasihNya setiap hari.

Merekmu apa sih?

“Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 10: 33

Di zaman ini segala produk yang mau sukses selalu disertai dengan usaha marketing yang gencar. Salah satu usaha memasarkan produk unggul adalah dengan menempelkan stiker, badge atau lencana merek barang tersebut secara permanen dan mencolok agar setiap orang bisa melihatnya. Bukan saja mobil, TV dan computer yang ditempeli logo pabrik pembuatnya, tetapi berbagai jenis pakaian pun dijual lengkap dengan merek yang tercetak dalam huruf besar di bagian depan atau belakang. Sesuatu yang ganjil dan agak memalukan pada zaman dulu, sekarang menjadi hal yang bisa dibanggakan pemakainya.

Adalah hal yang mengherankan bahwa orang Kristen di zaman ini justru bertindak sebaliknya. Kalau dulu orang tidak segan-segan memperkenalkan dirinya sebagai pengikut Kristus, di zaman ini orang tidak mau terlalu dikenal sebagai orang Kristen. Stiker mobil yang berbunyi “Saya cinta Yesus” mungkin sudah jarang ditemukan di Australia kecuali lencana God’s Squad di jaket pengendara sepeda motor anggota klub moge Kristen Australia. Orang Kristen sekarang kuatir menyinggung perasaan orang beragama lain. Kuatir dianggap aneh oleh orang lain. Kuatir dianggap tidak bisa hidup bertoleran dalam masyarakat yang plural. Kuatir dianggap ketinggalan jaman.

Di lain pihak, orang yang mengaku Kristen di zaman ini kebanyakan suka mengikuti hal-hal yang banyak bermunculan dalam masyarakat. Mereka tidak segan-segan menyatakan pendapat atau dukungannya kepada tokoh, pandangan, ajaran dan kegiatan tertentu, asalkan itu tidak bertentangan dengan hukum. Adanya prinsip hak azasi manusia memungkinkan orang Kristen untuk berorasi, berdemonstrasi atau menyatakan pendapatnya tentang apa saja tanpa kuatir menyinggung perasaan orang lain, asal tidak memasukkan unsur Yesus dan FirmanNya. Soal Yesus sering hanya bisa dibicarakan dalam lingkungan sendiri.

Amanat agung dari Yesus untuk mengabarkan Injil (Matius 28: 19) adalah untuk menyatakan bahwa satu-satunya jalan keselamatan hanya melalui Dia. Keselamatan manusia adalah produk anugrah Ilahi yang terbesar yang seharusnya mendapat perhatian utama seluruh umat manusia.

Umat Kristen seharusnya hanya memakai firman Tuhan sebagai satu-satunya kebenaran Ilahi. Namun dalam kenyataannya, seringkali umat Kristen juga mengikuti dan mengagumi ajaran tokoh-tokoh agama lain dan juga orang-orang ternama di dunia. Orang percaya yang seharusnya memakai lencana “Milik Yesus” sekarang sering memakai lencana “Orang Kristen Modern”, atau “Orang Kristen toleran yang bisa menerima pendapat umum”.

Pagi ini, jika kita bisa membayangkan Yesus datang menemui kita, apakah Ia bisa mengenali kita sebagai pengikutnya yang memakai lencana “Milik Yesus” ? Ataukah Yesus akan menjumpai seorang manusia yang menyangkal bahwa Ialah satu-satunya jalan keselamatan, jalan kebenaran, dan Guru yang terbaik?

Antara kasih, simpati dan empati

“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” 1 Korintus 13: 3

Masih ingat lagu anak-anak jaman dulu yang berjudul “Kasih Ibu”? Lagu sederhana ini gampang dinyanyikan dan singkat syairnya:

Kasih ibu, kepada beta; tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi; tak harap kembali. Bagai sang surya, menyinari dunia.

Kasih memang kata yang indah dan sering disebutkan sebagai suatu jenis cinta yang murni, tanpa pamrih atau maksud yang kurang baik. Dalam Alkitab kita mengenalnya sebagai Agape.

Kalau dalam bahasa Inggris kata “love” bisa dipakai untuk cinta, kasih, sayang maupun rasa suka, menurut bahasa Yunani ada empat kata untuk kata “kasih/ cinta”. Agape adalah kasih yang tak bersyarat, eros adalah kasih yang menginginkan, philia adalah kasih antara sahabat/ saudara, dan storge adalah ungkapan kasih kodrati, seperti antara orang tua kepada anak (ungkapan yang keempat ini jarang digunakan dalam karya tulis kuno).

Dalam kepercayaan Kristen, kasih agape ini adalah yang terbesar dari segala apa yang baik.

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” 1 Korintus 13: 13

Kasih adalah satu hal yang paling sukar untuk diterapkan dalam hidup karena selain tanpa pamrih, itu harus berlaku pada setiap saat dan dalam setiap keadaan serta untuk setiap orang. Manusia pada dasarnya tidak bisa mempunyai kasih karena dosa dari awalnya mendorong manusia untuk mementingkan dirinya sendiri. Hanya mereka yang sudah mengenal Allah diberi kemampuan untuk mengasihi sesamanya.

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” 1 Yohanes 4: 8

Kasih adalah cinta yang tidak mengharapkan balasan, tetapi yang diberikan dengan pengharapan agar apa yang diberikan bisa membuahkan sesuatu yang baik. Terlalu sering orang memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa pamrih, tetapi juga tanpa tujuan yang jelas. Terlalu sering “perbuatan kasih” justru membawa hasil yang tidak baik bagi orang yang menerima. Dalam hal ini, terlalu sering orang yang memberi hanya bisa mengangkat bahu, seolah tugasnya hanyalah memberi.

Kasih yang benar adalah bermula dari rasa simpati kepada orang-orang di sekitar kita yang mendorong kita untuk bisa melihat dengan mata jasmani dan rohani kita apa yang menjadi penderitaan mereka. Rasa simpati saja tidak akan membuat kita untuk melakukan suatu tindakan. Karena itu kita perlu juga untuk mempunyai rasa empati, yaitu ikut merasakan apa yang mereka rasakan, dengan menempatkan diri kita sebagai orang yang kita jumpai. Rasa empati memungkinkan kita untuk melihat bukan saja akibat tetapi juga sebab penderitaan mereka, agar kita bisa melakukan tindakan kasih yang tepat. Tindakan ini bisa, tetapi tidak harus berupa pemberian materi. Nasihat, doa, pengajaran, dukungan, pujian dan lain-lain bisa juga kita berikan sebagai tanda kasih kita.

Pagi hari ini marilah kita mengingat bahwa kasih Tuhan sudah dicurahkan kepada kita setiap hari dalam berbagai hal, tetapi Tuhan tahu bahwa apa yang paling kita butuhkan bukanlah hanya harta duniawi untuk menolong orang lain, tetapi kasihNya yang membawa kedamaian dan keselamatan untuk semua orang yang percaya. Itulah yang harus menjadi dasar rasa simpati dan empati, perbuatan kasih kita kepada orang lain.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4: 19