Apakah Allah itu heppi atau murung?

Hari ini hari minggu dan tentunya anda akan atau sudah ke gereja untuk berbakti kepada Tuhan, Allah kita. Untuk beribadah kepadaNya di gereja bersama- sama dengan saudara seiman. Bagaimana rupa dan sifat Allah  menurut bayangan anda? 

Allah adalah Roh, jadi kita tidak bisa melihat dan membayangkan rupa dan bentukNya. Namun, pengenalan akan karakter Allah ini penting karena dari pengenalan itu kita akan bisa mengerti mengapa kita sebagai peta dan teladanNya harus juga hidup sesuai dengan karakterNya (antara lain hidup kudus, punya kasih, punya kebijaksanaan, dll.). Nah, bagaimana dengan Tuhan, apakah sifatNya gembira atau pemurung? 

Apakah Tuhan ingin kita hidup bahagia atau hanya menurut hukum-hukumNya? Mungkin kita berpikir,  kalau Dia menghendaki kita hidup bahagia di dunia ini, Dia sendiri pastilah Allah yang happy! Sebaliknya kalau Dia cuma menyuruh kita untuk taat saja, mungkinkah itu menunjukkan bahwa Allah itu pemurung dan hanya menuntut ketaatan kita? 

Sering manusia berpikir bahwa Tuhan itu tidak antusias dan bahkan murung. Bukankah kejadian-kejadian di dunia ini sering menyedihkan? Dan Tuhan serasa hanya menonton saja? Bagaimana pula dengan mereka yang mengingini hidup bebas tetapi akhirnya tertekan karena adanya norma-norma Kristen? 

Kenyataaannya Tuhan itu dari dulu penuh semangat dan menghendaki kita berbahagia:

“Aku akan bergirang karena mereka untuk berbuat baik kepada mereka dan Aku akan membuat mereka tumbuh di negeri ini dengan kesetiaan, dengan segenap hati-Ku dan dengan segenap jiwa-Ku.”  Yeremia 32:41

Yesus juga berkata:

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”  Yohanes 15:11

Pemazmur juga meulis:

Bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.  Mazmur 37:4

Selanjutnya, Paulus menulis

“Bersukacitalah senantiasa” 1 Tesalonika 5: 16

Jadi bagaimana? Tuhan itu menghendaki manusia untuk bergembira atau taat kepadaNya? 

Bagaimana pula dengan ayat ini: 

“Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!” Mazmur 32: 11

dan ini:

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” Mazmur 100: 2

Dari ayat- ayat diatas terlihat bahwa ibadah dan ketaatan tidak terpisah dari kebahagiaan. Bukannya Allah menghendaki ibadah dan ketaatan lebih dari kebahagiaan, tetapi didalam ibadah dan ketaatan ada kebahagiaan. Dia bukan Allah yang pemurung tetapi Allah yang gembira jika kita bergembira dan sedih jika kita jauh dariNya!

Motivasi kita dalam memberi persembahan

Soal persembahan adalah soal sensitip baik untuk pendeta maupun jemaat. Malahan, itu juga bisa jadi sorotan masyarakat. Gereja yang besar dan “makmur” dimana saja selalu mendapat berbagai komentar dari media dan masyarakat. 

Umumnya, gereja-gereja yang besar mempunyai jemaat yang loyal dan mampu memberi persembahan yang banyak. Laporan media menunjukkan adanya tokoh-tokoh gereja tertentu yang mempunyai harta berjuta-juta dollar. Sebaliknya, dalam gereja yang kecil mungkin pendeta dan pengurus harus berjuang keras untuk hidup dan rajin mengajar jemaat agar bisa meningkatkan persembahan mereka. Bahkan ada gereja yang hidupnya bergantung pada hasil usaha bisnis pendetanya.

Terlepas dari jenis gereja, aliran teologi maupun tingkat ekonomi jemaat, persembahan harus diberikan dengan motif yang benar, melalui cara yang benar dan digunakan untuk tujuan yang benar.

Apa prinsip-prinsip utama dalam persembahan?

1. Kita memberi karena Tuhan lebih dulu memberi pemberian yang terbesar.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

2. Persembahan kita merupakan pernyataan kasih dan syukur  kita secara pribadi kepada Tuhan kita.

“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”  Matius 6: 4

3. Melaui persembahan kita memuliakan nama Tuhan.

“Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku” Mazmur 50: 23

4. Persembahan kita dapat menjadi penyaluran kasih Tuhan kepada sesama manusia.

“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” 1 Yohanes 3: 17

5. Dengan persembahan kita memperkuat iman kita.

“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2:22

Apa yang keliru:

1. Kesombongan: Kalau pemberian kita didasari keinginan untuk dihormati orang, jelas motif kita keliru. Bagaimana kalau pemberian seseorang membuat seisi gereja bangga? Sama saja. Jika bukan nama Tuhan yang dipermuliakan, itulah kesombongan. 

Persembahan sebaiknya dilakukan secara pribadi dan hasil persembahan jemaat sebaiknya tidak dijadikan simbol kesuksesan gereja. Memberi bukan untuk mendapatkan hadiah penghargaan. Pemberian juga tidak boleh dijadikan usaha mempengaruhi gereja. 

Gambar: Persembahan janda miskin.

2. Ketamakan: Memberi dengan mengharapkan balasan  Tuhan yang berupa materi yang berlipat ganda adalah kekeliruan besar. Segala sesuatu berasal dari Tuhan, karena itu jika kita memberikan sebagian kepadaNya kita tidak boleh mengharapkan bahwa Ia akan mengembalikan dengan bonus. Begitu juga dengan ajakan agar jemaat memberi yang  disertai “janji” bahwa Tuhan akan mengembalikan “hutangNya” dengan “bunga” yang besar. 

Kita memberi karena Tuhan sudah lebih dulu memberi dan bukan karena menginginkan balasan. Dan tentunya kita memberi dalam batas kemampuan kita.

3. Rasa bersalah: Ada orang yang memberi karena merasa harus. Apalagi jika ada nazar yang pernah diucapkan di masa lalu. Walau ini kelihatannya baik, Tuhan mengingini persembahan nazar yang disertai syukur dan kerelaaan, bukannya dengan rasa takut atau bersalah. Bagaimana kalau gereja menganjurkan jemaat untuk memberi dengan cara menakut-nakuti mereka? Jelas itu keliru. 

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”  2 Korintus 9: 7

4. Rasa rendah diri: Memberi harus dengan rasa bersyukur. Tuhan menghargai persembahan yang sekalipun kecil tapi sesuai dengan kemampuan kita. Bagaimana kalau gereja hanya menghargai jemaat yang mampu dan persembahan yang besar saja? Bacalah Yakobus  2:1-9.

5. Persembahan harus berupa uang: Uang adalah salah satu bentuk persembahan. Yang lain bisa berupa barang, tenaga, waktu, pelayanan, perhatian, dll. Kasih mempunyai banyak ragam.

6. Hanya untuk orang seiman: Banyak orang berpikir bahwa Tuhan hanya mengasihi anak-anakNya. Yang benar adalah Tuhan mengasihi seisi dunia. Karena itu kita wajib menolong siapapun yang memerlukan bantuan.

Tetapi inilah yang paling penting:

Persembahan yang paling disukai Tuhan adalah tubuh kita.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

If you are happy to give (your life), you will be even happier afterwards!

Jika anda mau mempersembahkan (hidup anda), anda akan lebih berbahagia lagi setelah itu!

Menghadapi kabar buruk dan kabar burung di media

Tiap pagi, selagi menikmati sarapan, saya selalu melihat pemandangan bukit di belakang rumah saya di Toowoomba. Pikiran saya selalu melayang membayangkan kebesaran Tuhan yang menciptakan alam semesta. Seringkali saya merasa takjub betapa besar kasihNya yang memungkinkan saya bangun tidur dan bisa menghirup udara di desa ini. Tuhan memang luar biasa, segala sesuatu berasal dariNya, termasuk denyut jantung yang teratur dan udara segar yang ada. Bukankah sungguh ajaib bahwa Dia yang memelihara hal-hal yang paling pokok untuk kehidupan manusia?

Waktu untuk sarapan juga bisa dipakai untuk nonton TV, mendengarkan radio atau membaca berita-berita dunia di internet. Kebanyakan berita yang top saat ini adalah berita tentang kejahatan, kecelakaan dan kerusuhan. Belum lagi ada begitu banyak hoax yang simpang siur. Mengapa dunia ini rasanya makin kotor saja? Keadaaan politik dan hukum di banyak negara juga menambah kesedihan. Malahan ada juga berita tentang kemungkinan perang antar negara atau perang saudara dalam satu negara. Karena berita kacau balau semacam itu, pagi yang indah bisa berubah menjadi pagi yang suram….


Media sering menyampaikan kabar buruk dan kabar burung.

Bagaimana kita dapat bertahan menghadapi kabar buruk di media? Mungkinkah kita hidup tanpa terganggu atau terpengaruh dengan adanya kabar buruk dan kabar burung? Adakah tindakan yang bisa mengurangi kekuatiran, kebingungan dan tekanan yang disebabkan media?

Memang tidak mudah kita membebaskan diri dari belenggu media. Sebabnya antara lain adalah:

  1. Media adalah seperti magnet yang membuat kita senang melihat orang lain dan dilihat orang lain dimanapun kita berada dan kapan saja (mungkin setara dengan kecanduan).
  2. Orang-orang dan hal-hal tertentu mempunyai kharisma atau daya penarik besar yang menuntut perhatian kita (seolah lebih menarik dari Tuhan Yesus dan firmanNya).
  3. Kekuatiran masa depan menimbulkan rasa ingin tahu yang berlebihan dan munculnya harapan-harapan yang semu (seperti adanya berbagai analisa pakar dan ramalan hari depan).
  4. Banyak orang yang menikmati usaha untuk menipu orang lain karena adanya orang yang mudah dipengaruhi berita spekulatip (sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran).
  5. Dalam hidup yang kosong, adanya media seolah memberi kegiatan nyata (daripada menganggur).

Sebagai orang Kristen, bagaimana kita bisa melawan pengaruh jahat media?

Jumpailah Tuhan dan dapatkan kedamaian dariNya.

Tidak ada manusia atau hal yang benar-benar bisa kita percaya, yang bisa memberi jaminan hari depan – karena apa yang akan datang tidak ada orang yang tahu. Hanya Tuhan yang dapat memberi kedamaian dan kepuasan hidup.

Amsal 18:10 “Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.”

Peganglah Firman Tuhan dalam tiap langkah.

Tidak ada orang atau hal yang benar di dunia. Setiap orang sudah berdosa dan kebijakan manusia adalah kebodohan untuk Tuhan. Karena itu kita harus lebih mau mendengar firman Tuhan.

Mazmur 119: 105 “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Sadarlah bahwa kita tidak dapat mengatasi masalah dan kekuatiran dengan kekuatan sendiri.

Hidup ini berat tetapi seharusnya terasa ringan dalam Yesus. Jika kita merasa bahwa hidup ini semakin berat dan dunia ini semakin kotor, itu tanda bahwa kita harus makin dekat kepadaNya.

Mazmur 55:22 “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau!”

Terimalah dan sampaikan berita yang benar dan menguatkan iman saja.

Salah satu keahlian iblis adalah menipu. Mereka yang lemah akan jatuh kedalam jebakannya. Mereka yang hidup dalam jebakan iblis akan berusaha menjebak orang lain. Karena itu kita harus hidup dalam Tuhan dan berhati-hati dalam menggunakan media.

 1 Tesalonika 5: 22 “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”

Binalah hubungan dengan saudara seiman yang bijaksana, bukan dengan orang-orang yang menyesatkan.

Dunia ini dihuni anak-anak terang dan anak-anak kegelapan. Untuk sementara kita harus bisa hidup bersama dengan siapapun. Tetapi, jika kita tidak waspada, kita akan menerima gaya hidup dan kegemaran mereka yang tidak mengenal Tuhan. Jika kita tidak awas, kita akan hanyut dalam kabar kegelapan.

Amsal 13: 30 “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”


Semoga anda bisa merasakan kedamaian Tuhan di hari ini!

💐🌼🍄🌹🌸🌷🌺🌼💐🍄🌹🌺

    Menghindari kesombongan dalam kesuksesan

    “Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.”  Amsal 8: 13

    Bagaimanakah anda mengukur kesuksesan anda? Untuk seorang atlit mungkin kesuksesan adalah medali-medali yang diperolehnya. Untuk seorang terpelajar, mungkin gelar-gelarnya. Untuk seorang pedagang mungkin labanya. Bagi orang tua, mungkin keberhasilan anak-anaknya. Dan buat seorang pendeta, barangkali ukuran gedung gereja, jumlah jemaat atau besarnya dana yang tersedia.

    Biarpun tiap orang mempunyai jenis keberhasilan dan standard yang berlainan, satu hal yang sama adalah: kesuksesan biasanya adalah sesuatu yang bisa diukur dan dilihat. Karena orang lain juga bisa mengukur dan melihat keberhasilan kita, kita senang mempamerkan hal itu. Bangga atau sombong? 

    Ada beda antara kesombongan yang Tuhan benci (Amsal 8:13) dan rasa bangga (puas) setelah berhasil mengerjakan sesuatu dengan baik. Kesombongan adalah sesuatu yang harus kita hindari karena hakikinya yang sangat buruk. 

    Pada jaman ini, anak-anak diajarkan untuk bisa percaya diri dan untuk itu orang tua dan guru dianjurkan untuk membimbing agar mereka dari kecil mempunyai rasa bangga akan apa yang mereka capai. Tetapi kebanggaan mudah berubah menjadi kesombongan karena memang itu adalah kecenderungan manusia.

    Kesombongan adalah dosa. Dalam tradisi bapa-bapa gereja di abad mula-mula, dikenal adanya tujuh dosa utama (dosa yang mematikan):

    1. Kesombongan (Pride, Superbia)
    2. Iri hati (Envy, Invidia)
    3. Kemarahan (Anger, Ira)
    4. Ketamakan (Greed, Avaritia)
    5. Nafsu-birahi (Lust, Luxuria)
    6. Rakus (Gluttony, Gula)
    7. Kemalasan (Sloth, Acedia)

    Mengapa kesombongan bisa mematikan? Mengapa kesombongan ini berada pada peringkat atas?

    Kita harus ingat bahwa setan diusir dari surga karena kesombongannya (Yesaya 14:12-15). Ia ingin untuk menggantikan Tuhan sebagai penguasa semesta.  Kesombongan dalam diri Adam dan Hawa jugalah yang membuat mereka jatuh dalam dosa karena keinginan untuk mendapat pengetahuan seperti Tuhan.

    Dosa kesombongan adalah sangat nyata di dunia sehingga itu merupakan problem umum nomer satu, diatas depresi, kekuatiran, kemarahan dll. Bahwa kesombongan adalah lebih umum dari hal- hal buruk yang lain adalah tidaklah mengherankan, setidaknya untuk umat Kristen. Tiap hari kita seharusnya sadar bahwa kita mudah sekali jadi sombong karena kita sering kurang memuji Tuhan atas segala berkatNya. Kesombongan adalah dosa yang jahat; karena  dengan melupakan kemurahan Tuhan kita mungkin merasa bahwa sukses adalah hasil usaha kita sendiri. Dalam hal ini kesombongan tidak lain adalah pemujaan diri sendiri.

     “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” 1 Korintus 4: 7

    Apa saja yang kita capai dalam hidup ini tidaklah mungkin terjadi tanpa kemurahan Tuhan yang memberi kekuatan dan kemampuan kepada kita. Karena itulah kita wajib memuji kebesaran Tuhan setiap saat, karena Dialah yang membuat segala sesuatu yang baik dalam hidup kita. 

    Jika kebanggaan muncul tanpa pengenalan akan Tuhan, disitulah kesombongan akan tumbuh dengan subur. Jika pengenalan akan Tuhan tidak dipupuk sejak muda, maka tumbuhlah manusia dewasa yang arogan, yang tidak takut akan Tuhan. Jika hidup orang-orang yang penuh kesombongan adalah hampa, mereka yang rendah hati dan takut akan Tuhan akan memperoleh hidup yang penuh berkat.

    “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.”   Amsal 22: 4

    Nasionalisme dalam pandangan Kristen

    “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”Galatia 3: 27-28


    Soal nasionalisme dan kesatuan bangsa agaknya menjadi topik hangat di dunia saat ini. Di Amerika, Eropa dan Asia banyak suara di media yang menggembar-gemborkan yel-yel nasionalis. Banyak orang Kristen yang biasanya apatis ikut jadi bersemangat. Baikkah rasa nasionalis itu?

    Soal nasionalisme, kita tentu masih ingat apa yang terjadi sewaktu perang dunia kedua. Sebagian orang Kristen waktu itu percaya bahwa Hitler adalah pemberian Tuhan kepada rakyat Jerman. Rasa nasionalis yang besar membutakan banyak orang Jerman waktu itu.

    Ada baiknya kita membedakan dua hal: patriotisme dan nasionalisme. Patriotisme adalah rasa cinta kepada bangsa/negara dan kemauan untuk mendukung perjuangan bangsa/negara untuk kemajuan rakyat. Nasionalisme adalah kebanggaan atas bangsa dan negara yang memberi keyakinan akan kebenaran dan keunggulan bangsa dan negara atas bangsa atau negara lain. Orang yang nasionalis cenderung untuk mengkultuskan golongan atau individu tertentu. Nasionalisme juga bisa menghalangi kita belajar dari orang atau bangsa lain. Nasionalisme dapat membuat kita tuli akan bisikan Tuhan.

    Dari hal diatas, terlihat bahwa nasionalisme agaknya selalu akan berakibat negatip. Sejarah membuktikan bahwa rasa nasionalisme ini telah menyebabkan banyak masalah besar di dunia. Dalam sejarah gereja, rasa “nasionalisme” yang merembet ke soal ras/suku juga bisa mengakibatkan perpecahan antar anak Tuhan. Perpecahan antara orang Yahudi dan Yunani, antara majikan dan bawahan dsb. Kalau begitu, bagaimana kita harus bertindak?

    Alkitab mengatakan bahwa kita harus tunduk kepada pemerintah dan atasan karena mereka adalah wakil Allah. Jadi wajiblah kita nencintai apa yang ditetapkan Allah. Kita sewajarnya bisa menjadi patriot-patriot Kristen.

    Roma 13: 1 Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.

    Tetapi Alkitab juga menunjukkan bahwa Tuhan ada diatas segala pemerintah dan penguasa, dan karena itu kita harus lebih tunduk kepada Tuhan.

    Kolose 2: 10 Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.

    Jelaslah bahwa dalam hidup kita, walau kita boleh bangga dan mencintai bangsa/ kelompok kita, kita juga harus selalu mawas diri agar tidak terjerumus dalam prinsip nasionalisme dan kesukuan yang sempit, yang mendukung semboyan “my country, right or wrong”, “my people, right or wrong”,  atau “my church, right or wrong”, tetapi sebaliknya kita harus juga mau menghargai orang/golongan/bangsa lain. Lebih penting dari itu, kesetiaan kita  yang paling tinggi adalah kepada Tuhan, Raja segala raja. Hanya kepada bimbingan  Tuhan kita boleh meletakkan kepercayaan kita dengan sepenuhnya. Kepada Tuhan dan bukan kepada seorang manusia kita percayakan negara kita untuk mengarungi masa depannya!

    Monday blues dan pencegahannya

    Banyak orang yang mengalami masalah tiap kali hari Senin karena mereka harus masuk kerja. Dari rasa enggan, sakit badan sampai depresi bisa timbul karena berbagai tekanan yang muncul. Itulah yang disebut sebagai Monday blues atau kesusahan hari Senin.

    Seyogyanya, ketika hari Senin datang, kita akan merasa segar dan siap untuk bekerja lagi setelah berlibur akhir pekan. Tetapi, banyak orang merasa bahwa hari Senin adalah hari yang paling “suram” karena mereka harus bekerja lagi. Malahan, seringkali kita merasa bahwa kita memasuki minggu baru dengan kelelahan. Lebih-lebih lagi, ada orang yang merasakan kelelahan semacam itu hampir setiap hari. Mengapa begitu? Dan bagaimana kita bisa mengatasi soal kesussahan hari Senin  ini? 

    Menurut ahli jiwa, masalah ini adalah suatu masalah yang bisa menjadi cukup rumit dan tidak mudah menyelesaikannya. Tetapi sebenarnya untuk orang Kristen ada cara untuk menghindarinya sebelum terlambat.

    1. Gunakan acara akhir pekan untuk hal-hal yang baik

    “Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.” Keluaran 23:12

    Alkitab menjelaskan bahwa setelah enam hari Tuhan bekerja dalam penciptaan alam semesta, Ia beristirahat pada hari yang ketujuh. Begitu pula, Tuhan juga memerintahkan manusia untuk beristirahat pada hari yang ke tujuh.

    Kenyataannya, di banyak negara hari Sabtu juga hari libur dan dengan demikian, dalam sepekan ada dua hari libur. Menikmati akhir pekan atau weekend sudah menjadi keharusan. Dari acara olahraga, shopping, arisan, makan di restoran, pesta dan temu kawan sampai acara  ke luar kota. Acara gereja  yang seharusnya memberi kedamaian dan istirahat, sering juga bisa berubah menjadi acara seksi sibuk tidak karuan. Tidak heran, setelah Senin datang tubuh dan pikiran kita jadi capai sekali; apalagi jika kita kurang menyukai pekerjaan kita. Tugas dan pekerjaan hanya terasa seperti beban dan hukuman dan bukannya berkat dan kesempatan.

    2. Bekerjalah seperti untuk Tuhan

    “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23 

    Jika kita memang bekerja untuk Tuhan, tentu kita akan mempunyai kemauan yang besar untuk mengerjakan segala sesuatu dengan sepenuh hati.

    Rencanakan segala sesuatu dengan baik, belajarlah untuk mengorganisir segala sesuatu untuk Raja kita. Siapkan acara hari Senin pada hari Jumat sebelumnya. Buatlah daftar apa yang sudah berjalan dengan baik dan apa yang perlu diperbaiki dalam tugas-tugas kita. Dengan begitu, hari Senin akan datang tanpa terlalu membawa ketegangan.

    3. Bekerjalah sambil bersyukur

    “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita” Efesus 5: 20

    Kita harus rajin mengucap syukur walaupun mungkin itu bukan atau belum menjadi naluri kita. Ambillah waktu untuk merasakan besarnya kasih Tuhan dalam hidup kita. Jika kita mulai mengalami kesusahan hari Senin mungkin kita bisa mengambil sebuah pinsil dan selembar kertas untuk menulis apa saja berkat Tuhan kepada kita dan keluarga kita sampai saat ini. Alkitab penuh dengan anjuran untuk bersyukur dan merasa cukup dalam karunia Tuhan. Itu adalah sebuah hal yang penting untuk kebahagiaan umat percaya.

    Selamat memasuki pekan yang baru!

    Selamat hari Minggu

    Mazmur 84: 12

    “Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu!”

    Hari minggu di Australia adalah hari  dimana seluruh anggota keluarga biasanya bisa menikmati kebersamaan di rumah atau beracara bersama. Memang Sabtu, walaupun hari libur, biasanya diisi dengan kegiatan rumah tangga dan olahraga.

    Walaupun sepertinya Australia itu negara Kristen, Australia adalah negara multi kutural dan sekular. Banyak orang yang mengaku Kristen tetapi hanya 10% dari penduduknya yang ke gereja pada hari minggu. Banyak gedung gereja yang dijual karena pengunjungnya sudah jarang. Hari natal dan paskah dirayakan masyarakat tetapi cenderung bersifat komersial. Walaupun demikian, kegiatan gereja masih dapat dilihat terutama berbagai dalam masalah sosial dan pendidikan.


    Foto: Gereja yang berubah menjadi hotel di Toowoomba

    Foto: St. Patrick Anglican Cathedral, Toowoomba (diresmikan 1889, masih dipakai)

    Saat ini suhu udara mulai menurun, maklum musim dingin akan datang sebulan lagi. Daun-daun sudah mulai berubah warna dan berguguran. Warna warni daun di musim gugur ini sangat indah, seolah menyatakan kebesaran Sang Pencipta.


    Foto: Taman Jepang di Toowoomba, Australia di musim gugur.

    Hari lepas hari, musim berganti musim, hanya umat Tuhan yang dapat merasakan hembusan nafas Tuhan di antara   ciptaanNya di tengah alam semesta ….

    Selamat hari minggu dan selamat berbakti!

    Hitunglah berkatmu satu persatu

    “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.” Kejadian 26: 12-13


    Minggu ini ada berita di media bahwa seorang pengangguran di Sydney yang berumur sekitar 30 tahun menang lotere sebesar $50 juta. Wow! Senang sekali dia! Memang dia beruntung! Bagaimana rasa gembiranya sewaktu ia tahu bahwa dia pemenang nomer satu? Sulit dibayangkan! Mungkinkah itu adalah berkat Tuhan?

    Memang enak kalau orang mendapat kemakmuran dan keberhasilan. Untuk orang Kristen, walaupun bukan dari hasil lotere, kebahagiaan material seperti itu biasanya diakui sebagai berkat Tuhan. Seperti Ishak yang diberkati Tuhan sehingga menjadi sangat kaya. Sebaliknya, rasa sedih kadang muncul kalau keinginan kita tidak tercapai. Apakah Tuhan hanya memberikan berkat istimewa untuk orang-orang tertentu? Dan apakah berkat Tuhan harus berupa kekayaan, keberhasilan dan kenyamanan?

    Berkat (blessing) memang satu hal yang dikejar manusia sejak dulu. Berkat sebenarnya adalah pernyataan yang berisi harapan untuk kebahagiaan, yang diucapkan seseorang kepada yang orang lain. Tradisi berkat memberkati antar manusia adalah sesuatu yang baik. Berkat  bermula dari orang yang punya hubungan erat dengan orang yang lain. Berkat adalah untuk kebaikan orang yang diberkati dan berguna untuk memperkuat hubungan kedua orang itu. Berkat juga ditanggapi dengan rasa terima kasih kepada orang yang memberkati. Lebih dari itu, berkat membuat orang yang diberkati mau memberkati orang lain.

    Berkat Tuhan yang semula untuk semua mahluk ciptaanNya, termasuk manusia, adalah agar mereka mengalami kemakmuran, kedamaian dan kepuasan hidup, tetapi rancangan ini dirusakkan oleh dosa. Walau demikian, kita melihat dari ayat diatas bahwa Tuhan tetap mau memberkati orang-orang yang mengasihiNya. 

    Berkat Tuhan tidak sekalu berupa kenyamanan tetapi bisa berupa berbagai pengalaman hidup yang selalu berguna untuk kebaikan anak-anakNya.  Berkat materi dari Tuhan sering disalah gunakan dan ditonjolkan manusia sehingga menimbulkan salah pengertian, padahal kita seharusnya bisa memfokuskan diri pada kebesaran,  kasih dan maksud baikNya. Apa yang nampak sebagai berkat Tuhan, tetapi ternyata tidak memperkuat hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, mungkin bukan datang dari Tuhan.

    Buat orang percaya, yang harus selalu diingat adalah berkat yang terbesar yang bisa diterima anak-anak Tuhan, yaitu hidup baru dan pengampunan melalui iman dalam Yesus Kristus. Berkat materi yang kita terima hanya sementara, tetapi anugrah keselamatanNya adalah kekal!

    “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

    Mengapa malapetaka terjadi?

    “Sebab malapetaka mengepung aku sampai tidak terbilang banyaknya. Aku telah terkejar oleh kesalahanku, sehingga aku tidak sanggup melihat; lebih besar jumlahnya dari rambut di kepalaku, sehingga hatiku menyerah.” Mazmur 40:12

    Salah satu pertanyaan rumit yang sering muncul dalam hidup ini adalah soal malapetaka dan hal-hal jahat yang lain. Mengapa ada malapetaka, kejahatan dan penderitaan jika Tuhan itu ada? Mengapa musuh-musuh kita terus menerus menyerang kelemahan/ kesalahan kita?  Mengapa ada orang yang harus masuk penjara atau dipecat dari pekerjaanya karena fitnah? Mengapa Tuhan membiarkan hal-hal seperti itu?

    Banyak orang yang beranggapan bahwa adanya hal-hal yang keji itu membuktikan Tuhan itu tidak ada. Sekalipun kita percaya bahwa Tuhan itu ada, pergumulan hidup diatas  bisa menimbul kan pertanyaan:

    1. Apakah Tuhan itu maha kasih tapi tidak maha kuasa?

    2. Apakah Tuhan itu maha kuasa tapi tidak maha kasih?

    Kalau Tuhan itu memang maha kasih, sudah barang tentu Dia tidak akan membuat bencana sebagai pemberian untuk anak-anakNya. Tetapi dunia yang diciptakanNya dulu, bukanlah dunia yang kita tinggali sekarang. Dunia kini adalah seperti semak duri yang dihuni anak-anak Tuhan dan anak-anak setan.

    Malapetaka bisa terjadi karena dosa dan kebodohan manusia dan pemerintah. Bencana alam sering terjadi sebagai bagian dinamika alam semesta. Tetapi bencana bukan sesuatu yang disenangi Tuhan. Itu  adalah konsekwensi kejatuhan manusia dalam dosa. Sesudah kejatuhan, manusia hidup dalam dunia yang penuh masalah. Dalam dunia manusia  bisa memilih apapun yang mereka maui. Tambahan lagi, iblis ada dimana-mana dan berusaha menguasai manusia, terutama menyerang anak-anak Tuhan yang kurang waspada.

    Walau hal-hal yang jahat bisa terjadi di dunia, Tuhan tetap mencintai  anak-anakNya dan tidak membiarkan malapetaka datang atas mereka tanpa alasan. Tuhan jugalah yang mau memberi mereka ketabahan. Tuhan yang menciptakan taman Firdaus dulu, tidak  pernah berubah  sifatnya.  Namun kadangkala Ia mengijinkan kita mendapat pelajaran dari pengalaman kita, barangkali agar kita bisa lebih menurut kepada pimipinanNya dan tidak mengandalkan pikiran dan pilihan kita sendiri. Mungkin juga Tuhan memakai kejadian seperti itu untuk menggerakkan anak-anakNya untuk lebih bisa untuk mengasihi mereka yang lagi menderita.

    Kita tahu mengapa ada malapetaka dan kejahatan di bumi, tetapi tidak ada seorangpun yang tahu dengan pasti apa maksud Tuhan jika hal-hal yang jahat terjadi pada hidup anak-anakNya. Jalan pikiranNya tidak terjangkau manusia dan rencanaNya tidak dibatasi oleh waktu. Hanya satu hal yang kita tahu, rencana Tuhan pasti terjadi pada waktunya dan Tuhan kita adalah Tuhan yang maha kasih dan bijaksana!

    “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”

    Roma 11: 33

    Dalam kebingungan semua manusia adalah pembohong

    “Aku ini berkata dalam kebingunganku: “Semua manusia pembohong.” Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan dan akan menyerukan nama TUHAN…” Mazmur 116: 11-13


    Suasana mempengaruhi perasaan, begitu kata orang. Suasana yang menyenangkan membuat hati gembira, tetapi suasana yang kacau membuat kita gelisah dan mungkin marah.

    Pemazmur jelas mengalami sesuatu yang membuat ia gundah. Dalam kebingungannya dia berkata bahwa tidak ada seseorangpun yang bisa dipercaya. 

    Apakah anda merasakan hal yang sama karena sesuatu yang terjadi dalam hidup, lingkungan atau ditempat kediaman anda? Barangkali anda marah atau gelisah atas terjadinya hal hal yang tidak adil atau bertentangan dengan kebenaran?

    Pemazmur adalah manusia juga, sama seperti kita. Adalah lumrah jika sesekali kita mengalami frustrasi karena suasana disekeliling kita. Tetapi, sama seperti pemazmur, kita harus percaya akan Tuhan yang maha kuasa dan maha bijaksana. Karena itulah kita harus mengingat kasih Tuhan dan selalu, dengan tidak ragu, memohon pertolonganNya. Sekalipun mungkin banyak orang/tokoh yang tidak dapat dipercaya, Tuhan tetap bisa kita percayai untuk memimpin hidup kita. Bukankah Dia juga yang mengubah orang berdosa – yang tidak bisa dipercaya- seperti kita, untuk dijadikan anak-anakNya?