Matematik untuk orang Kristen

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Mazmur 90: 12

Buat sebagian orang, kata “bijaksana” adalah identik dengan kata “pandai”. Karena itu ada istilah “orang bijaksana” alias “orang pandai”, orang yang bisa diminta untuk memberi petunjuk penyelesaian masalah. Di lain pihak, kita tahu bahwa orang yang pandai, yang bertitel sarjana misalnya, belum tentu bijaksana. Orang yang demikian mungkin saja sering berbuat sesuatu tanpa memikirkan akibat jangka panjang atau akibat perbuatannya pada orang lain.

Memang kalau soal kepandaian, di jaman ini setiap orang tua berhasrat dan berharap anak-anaknya bisa bersekolah setinggi mungkin agar bisa mendapatkan masa depan yang cerah dengan karir mereka. Salah satu keahlian yang diharapkan dari anak-anak jaman sekarang adalah keahlian hitung-menghitung karena itu memang dibutuhkan hampir di semua bidang. Dengan keahlian matematika dan teknologi komputer masa depan mereka akan lebih terjamin. Benarkah begitu?

Memang sebagai orang Kristen kita percaya bahwa segala yang baik dan berguna berasal dari Tuhan. Matematika adalah huruf-huruf yang dipakai Tuhan untuk menciptakan alam semesta, begitu kata Galileo Galelei, orang pandai dari abad ketujuh belas. Pemazmur diatas, agaknya setuju bahwa kita harus bisa menghitung untuk menjadi orang pandai. Menghitung apa? Menghitung hari-hari yang akan datang, dalam arti mencari tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita? Aaah..siapa yang tahu apa yang ada di masa depan? Haruskah kita menjumpai “orang pandai” alias ahli nujum untuk itu?

Pemazmur sebenarnya bermaksud untuk menginsafkan manusia agar mereka sadar bahwa umur manusia adalah terbatas. Dalam kurun waktu yang singkat itu kita harus sadar bahwa Tuhan mempunyai kuasa mutlak atas apapun dalam hidup kita. Tuhan tetap bekerja dalam hidup kita teapi tidak terikat oleh waktu yang dihitung manusia. 

Dalam waktu kita yang singkat di dunia, kita harus sadar akan keterbatasan kita dan karena itu kita harus memakai hidup kita dengan sebaik-baiknya untuk memuliakan Tuhan. Tuhanlah yang memberi kesempatan agar anak-anakNya untuk hidup dengan kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik dan sehingga kita  selalu siap untuk menjawab panggilanNya dalam hidup kita.

“Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu.” Mazmur 119: 66

Ada musim ada Tuhan, ada Tuhan ada musim

Mereka tidak berkata dalam hatinya: “Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen.” Jeremia 5: 24

Jika dibandingkan dengan iklim Indonesia, Israel punya kemiripan yaitu adanya dua musim saja yaitu “stav” yang diterjemahkan sebagai musim gugur, dan “aviv” yaitu musim semi. Stav adalah musim dimana hujan datang dan aviv adalah musim panas dan musim panen. Dengan bergantinya musim umat Isreael dingatkan bahwa segala sesuatu ada  waktunya dan Tuhanlah yang punya kuasa atas segalanya. Semua terjadi karena pemeliharaan Tuhan. 


Musim gugur di Yerusalem.

Bagi manusia yang tidak percaya atau taat kepada Tuhan, hidup ini terjadi karena hukum alam dan usaha manusia belaka.  Kalaupun ada hal yang tak terduga, itu adalah faktor kebetulan dan acak saja. Oleh sebab itu bagi mereka tidak ada istilah takut kepada Tuhan.

Sebaliknya, bagi kita orang beriman, hidup ini adalah diatur oleh Tuhan. Tidak ada yang kebetulan. Seperti bani Isreael, kita harus sadar bahwa setiap musim adalah suatu waktu yang istimewa yang mengingatkat akan janji Tuhan kepada Nuh:

“Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” Kejadian 8:22

Berbeda dengan Israel dan Indonesia, sebagian besar dari benua Australia punya 4 musim: semi, panas, gugur dan dingin. Tetapi sama dengan penduduk negara lain, berkat penyertaan Tuhan juga bisa dirasakan umatNya dalam setiap musim.

Labu raksasa dari Melbourne tumbuh pada musim semi dan musim panas. 

Dua hari lagi musim dingin akan datang di Australia. Suhu makin dingin (kalau pagi bisa 5 derajat Celcius di tempat kami) dan daun-daun pohon tertentu sudah tidak banyak tersisa. Musim dingin memang bisa membuat orang jadi takut keluar dari selimut di pagi hari, namun musim ini juga musim yang dinanti-namtikan sebagian orang karena itu memberikan kesempatan untuk menikmati suasana, aktivitas, makanan dan pakaian yang berbeda.  

Musim bukan hanya merupakan pergantian suhu udara; musim juga melambangkan variasi hidup manusia di dunia. Ada saat di mana kita merasa sedih, terharu dan  berduka; tetapi ada juga saat dimana kita bisa bersuka dan bergembira. Baiklah kita selalu mengingat bahwa segala sesuatu terjadi karena Tuhan ada, dan karena Tuhan ada segala sesuatu berjalan dengan semestinya. Mungkin kita kurang menyukai musim tertentu, tetapi keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita dalam musim apapun akan menguatkan kita dalam berjuang dan hidup hari demi hari!

Hakikat manusia: baik atau jahat?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Semua agama di dunia ini mengajarkan bahwa pada hakikatnya manusia adalah baik; kecuali agama Kristen yang mengajarkan bahwa semua orang sudah berdosa sejak awalnya. Tetapi, bukankah Tuhan menciptakan manusia menurut peta dan teladanNya? Apakah Ia menciptakan manusia sebagai mahluk yang jahat?

Pertanyaan ini memang agak membingungkan karena jawabnya bergantung pada apa arti hakikat itu. Hakikat bisa diartikan kenyataan yang sebenarnya. Kalau demikian, jelas manusia diusir dari taman Firdaus karena kenyataannya mereka tidak mempunyai sifat yang baik.

Memang manusia diciptakan Allah sebagai ciptaan yang sempurna, tetapi dengan kemampuan untuk memilih apa yang baik dan yang buruk. Dengan berbuat dosa, Adam dan Hawa jelas membuat apa yang merusak apa yang mulanya baik, menjadi sesuatu yang buruk. 

Walaupun Tuhan memberikan hidup yang nyaman di taman Firdaus, Adam dan Hawa lebih percaya kepada tipuan manis si iblis. Dosa yang diperbuat Adam dan Hawa sejak itu diwariskan kepada semua manusia.

Banyak orang yang jika mereka melihat seorang bayi yang menderita karena suatu sebab, akan berpikir bahwa sang bayi sungguh malang karena dia yang kecil dan tidak berdosa itu harus menderita. Tetapi Alkitab berkata bahwa manusia dilahirkan sebagai manusia yang berdosa sejak dalam kandungan.

“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Mazmur 51:5

Jika manusia mempunyai hakikat yang baik, manusia tidak memerlukan penebusan. Manusia akan bisa bekerja keras untuk memperbaiki dirinya sendiri, mungkin dengan hidup menurut hukum-hukum tertentu atau dengan berbuat baik. Itulah yang diajarkan agama-agama lain, termasuk agama-agama modern yang mengajarkan bahwa hidup kita di tangan kita sendiri.

Kenyataannya, Tuhan adalah mahasuci dan manusia setelah jatuh dalam dosa hanya bisa bergantung kepada kehendak sang Pencipta. Tanpa pertolongan sang Pencipta, barang yang sudah rusak itu tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri. Apa yang bisa kita lakukan hanyalah menyerahkan hidup kita ke dalam tanganNya!

“Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.” Roma 3: 25

Awas banyak barang imitasi!

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Matius 7: 15

Tadi pagi, sewaktu saya berjalan-jalan sepanjang Queen Street mall di Brisbane saya kaget melihat banyaknya orang yang berkerumun, sepertinya menonton sesuatu. Sayapun memaksakan diri untuk melihat apakah yang menarik perhatian orang-orang itu. Astaga… ternyata ada pertunjukan orang melayang! Pantas begitu banyak orang yang nonton karena ini jarang ada di Australia, walaupun banyak di India. Saya lihat orang itu mendapat banyak uang dari para penonton yang terpesona..

Pertunjukan orang “melayang” atau dalam bahasa Inggrisnya adalah levitation, biasanya memberi kesan bahwa orang tersebur mempunyai kegaiban atau tenaga ajaib yang melawan daya tarik bumi. Bagi orang tidak tahu triknya, ini adalah keajaiban!  Mereka yang tahu sudah barang tentu tidak lagi tertarik akan tipuan mata itu. Orang itu bisa melayang karena duduk di atas kursi gantung dari besi yang didesain khusus untuk mengelabui penonton yang tidak waspada.

Kalau pertunjukan ini hanyalah untuk tontonan semata, ada sesuatu yang jauh lebih serius yang Tuhan Yesus katakan. Berhati-hatilah akan adanya nabi-nabi palsu yang menyamar sebagai pemimpin-pemimpin gereja yang nampaknya baik dan suci, namun mereka adalah anak-anak setan yang berusaha menarik kita ke arah yang sesat! 

Sejarah membuktikan adanya berbagai “show” pendeta-pendeta aspal yang hanya membuat orang kagum akan penampilan mereka, yang menarik jemaat untuk menyumbangkan materi untuk kepentingan mereka, yang mengajarkan  keberhasilan duniawi sebagai tanda iman yang benar. Yesus berkata bahwa mereka semua hanya srigala buas yang mencari mangsa!

Bagaimana kita bisa membedakan “nabi asli” dari “nabi palsu”? Dari buahnya! Nabi asli menomer satukan Yesus, dan bukan diri sendiri. Nabi asli mengajarkan keselamatan jiwa dan bukan kesuksesan hidup duniawi. Firman Tuhan lebih dipentingkan daripada soal jumlah jemaat. Mereka yang asli juga mempunyai kasih yang besar untuk semua orang dan bukan cuma jemaatnya sendiri, apalagi orang-orang tertentu saja.

Selamat hari minggu dan selamat berbakti kepada Tuhan,

Bila madesu menghantui dunia

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8-9

Masih ingatkah anda akan istilah “madesu”? Istilah ini muncul di tahun 1980an dan menjadi sangat populer dikalangan anak muda. Istilah ini sampai sekarang masih dipakai sebagai bahasa gaul yang berarti “masa depan suram”.

Dengan keadaan dunia ekonomi, pendidikan dan pekerjaan di banyak negara di dunia, istilah madesu kembali muncul terutama sebagai kata olok-olok yang ditujukan kepada anak muda yang kurang berhasil dalam sekolah atau pekerjaannya. Di negara barat, terkadang istilah “hopeless generation” dipakai untuk Generasi Y yang saat ini cenderung terbelakang dalam status pendidikan, ekonomi dan sosial.

Hingga saat ini, apabila kita membaca berbagai literatur yang mendiskusikan tentang Generasi Y, tidak pernah ada suatu kesepakatan kapan generasi ini dimulai. Sebahagian literatur menetapkan bahwa mereka adalah generasi yang lahir di awal tahun 1980-an, namun banyak juga literatur yang menetapkan bahwa generasi ini lahir di awal, di tengah bahkan di akhir 1990-an.

Di belahan bumi manapun, belum ada kesepakatan tentang Generasi Y ini. Di Australia, para ahli belum menyepakati kapan persisnya Generasi Y ini muncul dan kapan pula tepatnya generasi ini berakhir. Pemerintah Australia sendiri melalui badan statistiknya, menetapkan 1982–2000 sebagai masa Generasi Y.

Banyak orang tua, guru dan atasan yang mengeluh bahwa Generasi Y, yang lahir setelah penggunaan komputer dan  internet menjadi populer dalam masyarakat, kurang mau bekerja keras sekalipun pasti tidak gaptek.  Generasi ini sering dituduh senang berfoya-foya dan berhura-hura. Generasi ini dikatakan sebagai generasi “malas” yang punya madesu.

Pada pihak yang lain, Generasi Y ini yang nantinya akan terbebani lebih berat sesudah generasi-generasi sebelumnya pensiun. Memang populasi negara barat sekarang ini umumnya didominasi oleh para “senior”, alias orang lanjut usia. Jika mereka pensiun, ongkos pemeliharaan mereka tentunya harus dibayar oleh Generasi Y, yang lebih kecil jumlahnya. Karena itu, banyak Generasi Y yang merasa bahwa masa depan mereka tidak secerah generasi- generasi sebelumnya wakaupun mereka hidup ditengah kemajuan teknologi.

Bagaimana masa depan manusia di tahun-tahun mendatang, tidak seorangpun yang pasti. Keadaan ekonomi dunia bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Keamanan dunia jelas agak goncang akhir-akhir ini, dan dengan itu keyakinan kita akan tertib hukum juga berkurang. Apa yang akan terjadi dalam hidup kita dan anak cucu kita di masa mendatang, tidak ada seorangpun yang tahu. Namun, buat orang yang beriman selalu ada keyakinan bahwa Tuhan akan menggenapi semua rencanaNya, dan itu baik untuk semua anak-anakNya.

“Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” Mazmur 116: 7

Ada banyak jalan ke Roma

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Sewaktu saya di SD, guru saya memperkenalkan peribahasa yang mengatakan bahwa ada banyak jalan menuju Roma, yang artinya ada banyak cara mencapai ke satu tujuan. Peribahasa ini sebenarnya bukan asli Indonesia, tetapi berasal dari Eropa pada abad pertengahan. “All Roads Lead to Rome” adalah peribahasa yang serupa dalam bahasa Inggris yang mengatakan bahwa semua jalan menuju ke Roma!

Sekarang, sesudah bertualang di dunia baik secara nyata maupun maya, saya jadi makin sadar akan kekeliruan arti peribahasa diatas. Mengapa? Teryata, nama tempat Roma itu bukan hanya satu di dunia. Malahan di Indonesia juga ada desa Roma yang merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Omesuri, kabupaten Lembata, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Ada beberapa kota di dunia ini yang dinamakan Roma termasuk satu kota kecil yang  di negara bagian Queensland, Australia. Jarak kota kecil berpenduduk sekitar 7000 orang ini dari kota Toowoomba dimana saya tinggal, kurang lebih 350 km.


Kota Roma di Australia ini tidak bisa dibandingkan dengan kota Roma yang asli di Italia. Kota Roma di Italia adalah kota kosmopolitan, ibukota yang berpenduduk hampir 3 juta orang! Walaupun demikian, kota Roma di Australia boleh berbangga sebagai tempat penghasil sapi terbesar di belahan selatan dunia yang tiap tahun menghasilkan 400 ribu ekor sapi.

Hotel dan bar di Roma, Australia

Seperti peribahasa “ada banyak jalan menuju Roma”, kita menghadapi berbagai pendapat manusia modern, yang mungkin dengan alasan toleransi dan kebijakan, mengatakan bahwa ada banyak jalan menuju kebahagiaan sejati. Ada banyak agana yang mengajarkan berbagai cara untuk hidup bahagia, cara mencapai surga dan cara menemui Tuhan semesta alam.

Dengan “kemajuan” pemikiran manusia, banyak juga yang berpendapat bahwa asal hidup kita diisi kebajikan, pada saatnya kita akan sampai ke “Roma”, surga yang kita impikan. Juga dengan pengenalan akan agama dan ajaran yang beraneka ragam, manusia cenderung untuk menggabungkan segi-segi yang baik dari berbagai sumber untuk dijadikan pedoman hidup modern. Tambahan lagi, ada ajaran-ajaran praktis yang meningkatkan kesehatan jasmani manusia dengan bonus perbaikan spiritual dan ketenteraman pikiran.

Alkitab membenarkan bahwa ada banyak jalan ke “Roma”. Tetapi hanya satu “Roma” yang benar dan asli. Ada banyak kota yang dinamakan “Roma”, tetapi ada satu saja “Roma” yang tulen. Tiap jalan yang dipilih manusia bisa menuju ke salah satu “Roma”, tetapi hanya satu jalan yang menjuju ke arah yang benar. Hanya melalui Yesus kita akan memperoleh hidup yang kekal di surga!

“Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat.” 2 Petrus 2: 1-2

 Dosa anut grubyuk

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakubus 4: 17

Apakah kita berdosa kalau kita tidak tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah tidak baik? Pertanyaan ini bunyinya seperti pertanyaan untuk ahli agama. Terlalu teoritis? Tapi memang ada kemungkinan bahwa manusia berbuat tidak baik karena perbuatan itu dianggapnya remeh. Dosa kecil. Malah sering ada dosa yang dianggap biasa atau lucu!

Ada orang yang berbuat sesuatu tanpa mau memikirkan baik buruknya karena saking banyaknya orang yang melakukannya. Contoh yang jelas di negara barat adalah soal penyalah gunaaan narkoba dan miras dan kebebasan seks. Di Indonesia, lagi marak soal hoax yang di share tanpa usaha untuk mencari kebenaran isinya. Juga kegiatan di sosial media yang sering berakhir dengan kemarahan dan kebencian. Begitulah  terjadinya dosa “anut grubyuk” alias ikut-ikutan tanpa pertimbangan, karena orang lain juga berbuat begitu.


Mungkinkah orang berbuat dosa karena tidak sadar akan dosa yang dilakukannya?

Memang ada kemungkinan manusia berbuat dosa dengan tidak sengaja karena itu adalah kelemahan manusia di dunia ini. Tetapi, tidaklah mudah orang terus menerus berbuat dosa tanpa keraguan. Tiap manusia dilahirkan dengan kesadaran akan hal yang baik dan buruk, yang kemudian bisa dikembangkan menjadi kesadaran etika dan hukum.

Dosa adalah kesalahan yang membuat Tuhan tidak senang. Sekalipun kita tidak sadar secara penuh akan hal apa yang membuat Tuhan tidak senang, atau tidak sadar bahwa kita melakukan pelanggaran, tindakan kita tetap merupakan dosa. 

“Jikalau seseorang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN tanpa mengetahuinya, maka ia bersalah dan harus menanggung kesalahannya sendiri.” Imamat 5: 17

Buat orang Kristen, dosa bukannya melakukan sesuatu yang tidak baik, tetapi tidak melakukan apa yang baik, seperti yang dikendaki Tuhan. Ini tidak mudah dijalani karena kita cenderung sekedar mengikuti kaidah/etika orang di sekitar kita dan hukum di negara kita.

Adakah dosa besar dan dosa kecil?

Yesus berkata bahwa dosa yang kelihatannya kecil juga dosa. Sudah tentu Dia tahu bahwa tiap dosa mempunyai akibat yang berlainan untuk manusia, tetapi semua dosa mempunyai konsekwensi yang sama dihadapan Tuhan. Dosa yang sering dilakukan oleh banyak orang tidaklah membuat itu menjadi dosa kecil, yang bisa diterima Tuhan yang maha suci. Kita harus sadar bahwa apa yang legal untuk manusia, belum tentu sesuai dengan kehenak Tuhan.

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 6: 23

Dosa anut grubyuk menodai bangsa

Jika kita melihat masyarakat tertentu, kita bisa melihat apakah masyarakat itu umumnya hidup menurut perintah Tuhan atau tidak. Jika anggota masyarakat itu kebanyakan mengenal Tuhan, masyarakat itu akan mencerminkan sebagian kebenaran Tuhan dan memunyai nilai moral yang kuat. Sebaliknya, anggota-anggota masyarakat yang hidup dalam dosa akan menodai seluruh masyarakat. Dosa anut grubyuk membuat masyarakat makin jauh dari Tuhan.

“Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.” Amsal 14: 34

Orang Kristen bisa jatuh dalam dosa anut grubyuk, tapi kita tidak boleh mengabaikan dosa apapun, dalam ukuran apapun. Kita wajib terus memupuk kesadaran kita untuk bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Kita harus melakukan apa yang baik karena tidak cukup untuk hanya berdiam diri.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Kita harus bersyukur karena walaupun kita lemah, Yesus sudah datang untuk menebus semua dosa kita. Kita bersyukur bahwa kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik kita. Kita juga bersyukur bahwa Tuhan mendengarkan doa kita. Itulah sebabnya kita tiap hari harus berdoa mohon pengampunan akan segala dosa kita dalam hidup bermasyarakat dan meminta bimbinganNya untuk masyarakat di sekitar kita.

Sabar itu subur

“Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran”  2 Korinttus 6: 4

Apa sih artinya ungkapan “sabar itu subur”? Seringkali saya mendengarnya sebagai geguyonan, tapi apa benar kesabaran membuat orang jadi subur? Subur yang bagaimana?

Orang sabar, kata orang, dapat digambarkan seperti pepohonan. Dipangkas cabang daunnya berkali-kali seperti pohon lamtoro gung, di musim hujan akan bersemi kembali. Dikurangi akarnya, seperti pohon kelengkeng yang lama tak berbuah, ia akhirnya berbunga dan berbuah lebat. Kesabaran menghasilkan kesuksesan. Benarkah ini?


Kesabaran di Alkitab PB pada umumnya dikaitkan dengan ketekunan.  Kesabaran bukannya pasip tetapi aktip. Bukan membiarkan segala sesuatu terjadi di sekeliling kita, seperti membiarkan penderitaan, kesesakan dan kesukaran tanpa bereaksi. Kesabaran adalah ketekunan dalam menghadapi persoalan dan dalam usaha mencari penyelesaian.

Sebagai orang Kristen kita menghadapi berbagai tantangan dan masalah kehidupan. Mungkin dalam pekerjaan, sekolah, keluarga, gereja dan negara. Orang Kristen dipanggil untuk bersabar dalam arti tetap tekun dalam berdoa dan bekerja. Sekalipun penyelesaian masalah belum ada, tetapi ketekunan membuat kita tetap percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan rencana Tuhan.

Kesabaran tidak bisa berkembang dalam waktu yang singkat. Kesabaran tumbuh sebagai proses pertumbuhan kedewasaan umat Tuhan. Kesabaran hanya bisa tumbuh dengan kekuatan dari Tuhan.

“…dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar… ” Kolose 1: 11

Selanjutnya, kita juga harus sadar bahwa ujian hidup akan memberi ketekunan:

“sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 3

Walaupun kita tahu bahwa kesabaran/ ketekunan akan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, tidak mudah buat kita untuk bisa mempraktekannya dalam hidup kita. Adakah hal-hal yang bisa membantu kita?

Yang pertama adalah hidup bersyukur. Orang yang kurang bisa bersyukur akan merasakan kehidupan yang lebih berat dari yang sebenarnya. Orang yang demikian sering bertanya “mengapa ini harus terjadi padaku?” Sebaliknya, rasa syukur akan membuat apa yang berat menjadi ringan.

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4: 4

Yang kedua, kita harus sadar bahwa segala sesuatu ada sebabnya. Kadang kita mengalami kesulitan supaya kita bisa menjadi saksi atas perlindunganNya dan bisa makin bertumbuh dalam hal-hal yang baik. Kita harus percaya bahwa segala sesuatu akan membawa kebaikan kepada orang yang percaya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”  Roma 8: 28

Yang ketiga, kita harus sadar bahwa sebagai manusia, kesabaran dan ketekunan kita ada batasnya. Ada saatnya dimana  kita mungkin hanya bisa bertekun dalam penyerahan kepada Tuhan.

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Mazmur 46:10

Kesabaran dan ketekunan dapat menyuburkan pertumbuhan iman kita sehingga kita bisa mengerti bahwa Allah kita adalah Tuhan yang maha kuasa, maha kasih dan maha bijaksana; yang membuat sesuatu terjadi sesuai dengan rencana dan waktuNya.

Mengapa aku sukar berubah?

“Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;” Kolose 3: 9-10


Seperti soal berdusta, kelemahan-kelemahan lain dalam hidup kita rasanya masih banyak terasa. Perubahan hidup yang kita harapkan setelah menerima penebusan Kristus memang seringkali terasa begitu perlahan sehingga bisa menjadi batu sontohan untuk  orang lain. Kitapun sering frustrasi melihat hidup orang lain dan juga hidup kita sendiri. Ciptaan baru dalam Tuhan ternyata sukar mengubah sifat lama. Mengapa begitu? 

Teringat saya akan kunjungan saya ke Canada baru-baru ini. Ikan salmon adalah hasil perikanan utama negara itu.   ikan salmon adalah ikan yang unik. Ikan ini lahir dan tumbuh menjadi cukup besar di sungai berair tawar, tetapi kemudian  pergi menghilir ke laut dan menjadi ikan laut sampai saat dimana mereka merasakan adanya “panggilan” untuk kembali ke tempat mereka dilahirkan.

 

Menjawab “panggilan” ini, Semua ikan salmon kemudian beramai ramai berenang kembali, melalui sungai yang sama, ketempat dimana mereka dilahirkan. Perjalanan ke hulu sungai ini sangat berat karena menentang arus sungai. Perjalanan yang penuh bahaya karena adanya binatang-binatang lain yang mau memakan mereka, termasuk beruang grizzly dan elang botak yang memangsa ikan salmon yang berjuang melawan arus. Sebagian lain ikan salmon tidak dapat memcapai tujuannya karena kelelahan, tersesat atau kandas di tempat yang terasing. Mereka yang bisa mencapai tempat kelahirannya kemudian bertelur dan mati disana. Siklus kehidupan ciptaan Allah yang ajaib!

Seperti itulah kehidupan manusia yang meninggalkan hidup yang bermula tak bercacat sebagai peta dan teladan Allah, tetapi kemudian terseret arus menuju ke laut bebas dan hidup dalam dosa. Tetapi Allah yang mahakasih pada saat yang tepat, memanggil kita untuk kembali menjadi anak-anakNya. Sebagian manusia menjawab panggilanNya dan pada saat itu juga menerima jaminan keselamatan, tetapi sebagian tidak mau menerimanya.

Mereka yang menerima Yesus sebagai juruselamat mereka akan dibimbing Roh Kudus untuk kembali ke cara hidup yang benar. Ini adalah perjuangan berat yang melawan arus dan penuh bahaya. Lebih mudah untuk berbuat dosa daripada menghindari dosa! Terlebih lagi, iblis bagaikan beruang dan elang yang ganas mengincar kita, dan ada berbagai situasi yang bisa melelahkan dan menyesatkan kita. Kapankah kita bisa mencapai tempat tujuan kita, yaitu hidup baik seperti yang dikendakiNya?

Tidak hanya kita, banyak juga saudara seiman yang mengalami perjuangan yang serupa. Hal ini bisa mengecilkan semangat kita karena seperti ikan salmon yang sudah mau berbalik arah, kita mungkin mengharapkan hidup baru kita jadi mudah. Namun kenyataanya  kita harus hari demi hari berjuang melawan arus dunia. Proses penyucian anak-anak Tuhan ternyata adalah proses yang terus-menerus berjalan supaya kita diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khalik kita.

Bagaimana kita dapat berjalan bersama Roh Kudus untuk bisa terus-menerus memperbaharui hidup kita ?

  1. Akuilah bahwa manusia itu lemah dan tidak dapat bergantung pada dirinya sendiri.
  2. Berdoalah agar kita dan orang yang kita kasihi dapat memperoleh kekuatan jasmani dan rohani untuk berubah dan maju dalam iman.
  3. Percayalah bahwa Tuhan yang memberi keselamatan juga memberi kita kesempatan dan sarana untuk mengubah hidup kita.
  4. Kerjakan apa yang difirmankanNya. Pilihlah apa yang baik dan bukan apa yang sia-sia.
  5. Bantulah sesama kita dalam perjuangan mereka dan jangan ragu meminta bantuan dari saudara seiman untuk pergumulan kita.
  6. Bersyukurlah atas keselamatan yang sudah diberikanNya, yang tetap ada dalam keadaan apapun.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”  1 Tesalonika 5: 18

Bila hidup bertambah berat

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5:3-4

Di Sydney, setiap tahun ada perlombaan lari “City to Surf”, dimana puluhan ribu orang berlomba lari sepanjang jalan dari pusat kota Sydney ke pantai Bondi yang jaraknya 14 km. 

Jarak 14 km itu sebenarnya termasuk jarak medium dan seharusnya tidak perlu menyebabkan problem bagi mereka yang sudah biasa. Namun, ada sebagian dari jarak itu yang melalui bukit yang naik curam yang dinamakan “Heartbreak Hill”, alias bukit patah hati. Nama bukit ini memang sesuai karena banyak pelari yang merasakan sulitnya untuk mempertahankan ritme larinya karena jalan yang menanjak 80 m dalam 2 km. Napas jadi ngos-ngosan dan kaki jadi lemas! 

Sebagian pelari mungkin berpendapat bahwa lari mereka akan bisa lebih nyaman kalau saja bukit ini tidak ada. Mengapa harus dilewatkan di daerah ini? Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa adanya bukit ini malahan membawa variasi, pengalaman dan kepuasan tersendiri. Malahan, bagi pelari elit, bukit ini bisa menentukan siapa yang benar-benar kuat dan siapa yang hanya setengah-setengah.

Sama dengan lomba lari  “City to Surf” itu, hidup kita terkadang mengalami up and down, hasil baik dan hasil buruk. Sering kita mengeluh mengapa hal-hal yang sulit atau buruk harus terjadi.

Kesulitan hidup adalah seperti “Heartbreak Hill”, merupakan bagian hidup yang memberi tantangan buat umat Kristen; yang memberi variasi hidup yang memungkinkan kita untuk bisa lebih kuat dan beriman. Lain dari masalah yang muncul karena kesalahan diri sendiri, tantangan hidup adalah kesempatan untuk mendapat pengalaman dan membangun percaya diri, karena kita mempunyai Tuhan yang maha kuasa dan maha kasih.

Bagi kita yang sudah mengalami perjuangan bersama Kristus, kita bisa mengunakan pengalaman itu untuk menghadapi tantangan lain di masa depan, untuk lebih berhati-hati, dan juga untuk bisa mengajar saudara-saudara kita tentang adanya pengharapan di dalam Kristus. Pengalaman berharga yang harus disyukuri!