Mengapa semua orang perlu mendapat tawaran Injil?

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:19-20

Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal yang disebut sebagai “The Great Commission” atau “Amanat Agung” dari Tuhan Yesus kepada para murid-Nya agar mereka memberitakan Injil ke seluruh muka bumi. Injil menurut definisi adalah “kabar baik”—sebuah maklumat tentang Yesus Kristus yang menggenapi keselamatan bagi orang berdosa melalui kematian dan kebangkitan-Nya sebagai pengganti mereka. Karena karya penyelamatan-Nya, pertobatan dan pengampunan dosa sekarang harus dimaklumkan dalam nama-Nya. Maklumat Injil ini memerlukan panggilan untuk pertobatan dan iman sebagai sarana untuk masuk ke dalam pengalaman keselamatan individu. Dalam Injil, Allah mengumumkan karya penyelamatan tunggal Anak-Nya, dan ketika kita menanggapi pengumuman itu dalam iman dan pertobatan, Allah menyambut kita dan menerima kita dengan melaui rahmat-Nya secara cuma-cuma. Jadi, dalam kabar baik ini dan “tawaran” implisitnya, kita, dengan iman dan pertobatan, menemukan kedamaian di hadapan Allah (1 Korintus15:1).

Menurut ayat di atas, Injil seharusnya ditawarkan secara bebas kepada semua orang, terlepas dari hal mereka dipilih atau tidak oleh Tuhan, tidak bergantung pada hal mampu atau tidak untuk menanggapi ajaran penebusan dari Kristus. Tawaran untuk memilih tidak bertentangan dengan pemilihan yang berdaulat dan kemahatahuan Allah. Jelas bahwa kabar baik Injil harus ditawarkan secara cuma-cuma kepada semua orang di dunia tanpa perbedaan. Tetapi, tidak semua orang Kristen menerima doktrin ini karena mereka secara berlebihan menekankan kedaulatan Allah, penebusan Kristus yang khusus untuk orang tertentu, keutamaan inisiatif ilahi, dan ketidakmampuan orang berdosa untuk menanggapi dalam iman terlepas dari anugerah kelahiran kembali dari Allah. Namun, sebenarnya semua orang berdosa dipanggil untuk percaya dan mereka akan dihakimi karena ketidakpercayaan mereka, bukan karena apakah mereka dipilih atau tidak, sehingga mereka tidak dapat mempersalahkan Allah.

Orang-orang Kristen dari hampir semua kalangan mengakui pentingnya pemberitaan Injil secara bebas, tetapi dengan alasan yang berbeda. Sebagian orang mengabarkan Injil karena tahu bahwa Alkitab menyatakan bahwa semua orang yang mendengar Injil dan percaya akan diselamatkan, tetapi sebagian lagi mengabarkan Injil karena mereka tidak tahu siapa yang akan diselamatkan. Alasan kedua, yang mungkin lebih sering didengar di Indonesia, adalah sebuah hal yang aneh dalam menginjil, karena itu mempunyai implikasi bahwa mereka yang mengabarkan Injil itu sendiri tidak yakin apakah mereka akan diselamatkan. Semua tergantung pada pilihan Tuhan yang belum dinyatakan. Pada pihak lain, jika mereka yang mengabarkan Injil itu merasa yakin akan keselamatan mereka, itu hanya berkesan kesombongan karena mereka sebenarnya tidak bisa menunjukkan bukti bahwa Tuhan yang berdaulat sudah menyatakan hal itu secara pribadi kepada mereka. Mereka tidak bisa meyakinkan diri akan keselamatan mereka jika mereka benar-benar mengikuti teologi yang mereka ajarkan.

Keberatan lain terhadap tawaran bebas Injil berasal dari doktrin pemilihan terbatas. Kalau saja umat pilihan akan diselamatkan, bukankah seharusnya Injil, kemudian, ditawarkan kepada umat pilihan saja? Bukankah tidak tulus untuk menawarkan keselamatan kepada orang-orang yang tidak terpilih? Dan apakah benar jika tawaran kita lebih luas dari tujuan penyelamatan Allah? Tidaklah mengherankan bahwa ada orang Kristen yang mempertanyakan legitimasi penawaran keselamatan kepada orang-orang yang kelihatannya tidak terpilih atau belum dilahirkan kembali. Jika Kristus mati hanya untuk umat pilihan, adakah dasar yang sah untuk membagikan kasih-Nya kepada semua orang? Bukankah kita berbohong kepada mereka yang tidak akan diselamatkan? Ataukah kita tidak perlu memikirkan bahwa kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita sampaikan dalam mengabarkan Injil?

Ada beberapa alasan teologis yang ditawarkan untuk menolak usaha membagikan tawaran gratis Injil. Yang pertama berasal dari doktrin tentang kebejatan total manusia — ketidakmampuan total untuk mencari apa yang baik. Jika orang berdosa tidak dapat percaya, bagaimana iman dapat menjadi kewajibannya? Apakah orang berdosa berkewajiban untuk bertobat jika dia, pada kenyataannya, tidak dapat bertobat? Dapatkah orang berdosa dianggap bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukannya? Selain itu, apakah tidak konsisten untuk mendesak orang berdosa untuk bertobat mengetahui bahwa dia tidak bisa? Ini adalah argumen mereka yang berusaha keras meninggikan kedaulatan Tuhan di atas kasih-Nya. Mereka juga menolak adanya kemungkinan bagi manusia untuk bisa bertanggung jawab untuk cara hidup mereka. Itu karena keadaaan manusia yang sudah rusak sebobrok-bobroknya.

Akhirnya, beberapa orang berpendapat bahwa tawaran keselamatan gratis bagi mereka yang tidak akan pernah diselamatkan akan mengurangi keagungan Tuhan—bahwa adalah merendahkan Tuhan jika kita membuat tawaran seperti itu kepada orang-orang yang sebenarnya hanya akan terus memberontak.

Pertanyaan kepada kita sekarang adalah apakah tawaran keselamatan yang tulus dapat secara sah diberikan kepada yang terhilang tanpa pandang bulu. Dapatkah kita berkata kepada sembarang orang, “Jika Anda mau datang kepada Yesus Kristus dalam iman dan dalam pertobatan dosa Anda, Allah akan menyelamatkan Anda seperti Dia sudah menyelamatkan saya?” Dalam hal ini, Alkitab jelas menunjukkan bahwa ada tiga hal yang bersangkutan dengan keselamatan: pertobatan, iman dan karunia Allah. Ketiganya ada atas inisiatif Allah. Manusia diselamatkan hanya karena karunia, tetapi karunia datang bersama pertobatan dan iman.

Memang benar bahawa kasih Tuhan untuk milik-Nya adalah unik (Efesus 2:4; 1 Yohanes 3:1), tetapi ini bukan untuk mengatakan bahawa Tuhan tidak mempunyai kasih sama sekali untuk yang terhilang. Alkitab penuh dengan penegasan akan kasih, kebaikan, dan kebaikan Allah kepada yang terhilang (misalnya, Mazmur 145:9). Dan sebenarnya “karunia umum” Allah memerlukan tawaran keselamatan-Nya (Mazmur 14:1-3). Dengan kata lain, Allah menawarkan kasih-Nya yang menyelamatkan kepada semua orang. Mereka yang melakukan penginjilan hanya untuk memenuhi perintah Yesus adalah oran-orang yang tidak percaya akan adanya karunia umum atau common grace.

Lukas 24:47 secara eksplisit menghubungkan tawaran universal Injil pengampunan dengan karya penyelamatan Kristus yang telah selesai. Dalam konteksnya, Matius 28:18-20 membuat kaitan yang sama: otoritas universal Kristus untuk menyelamatkan yang didasarkan pada karya-Nya yang telah selesai. Dengan kata lain, karya penebusan Kristus adalah dasar dari misi yang universal. Apa yang ditawarkan dalam Injil, tepatnya, adalah Yesus Kristus yang di dalam-Nya semua manfaat keselamatan dari Injil telah diperoleh. Membatasi jangkauan penebusan Kristus adalah merendahkan arti pengurbanan-Nya.

Apa yang seharusnya dituntut oleh para “duta besar Injil” Kristus sewaktu menginjil adalah bahwa agar orang berdosa yang terhilang dan tak berdaya menyerahkan dirinya kepada Juruselamat yang sempurna itu, dengan pernyataan yang tegas bahwa dengan menerima dan bersandar pada Kristus saja untuk keselamatan ia pasti akan diselamatkan. Dan apa yang dilakukan oleh orang berdosa yang terhilang atas dasar surat perintah untuk beriman adalah menyerahkan dirinya kepada Juruselamat itu dengan jaminan bahwa ketika ia percaya ia akan diselamatkan. Apa yang ia percayai, bukanlah bahwa ia telah diselamatkan, tetapi bahwa karena percaya kepada Kristus keselamatan menjadi miliknya, sesuai dengan janji Allah.

Orang-orang yang terhilang bebas untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan, tetapi di situlah letak masalahnya: “keinginan” orang-orang berdosa adalah dosa dan karena itu menyimpang dari Allah. “Ketidakmampuan” orang-orang yang terhilang untuk menanggapi Injil terletak pada kehendak mereka sendiri – mereka tidak datang kepada Kristus hanya karena mereka tidak mau. Dan karena mereka “menolak untuk datang kepada-Ku” mereka bertanggung jawab (Yohanes 5:40). Sederhananya, kebejatan dan ketidakmampuan manusia tidak menghalangi tanggung jawab. Tanggung jawab universal untuk percaya dan diselamatkan tetap ada. Selain itu, tidak ada orang berdosa yang dapat mengetahui bahwa dia tidak mampu kecuali dengan mencoba untuk datang. Dan doktrin ketidakmampuan total (total depravity) bukanlah, “Kamu tidak bisa datang”; melainkan, “Anda tidak dapat terlepas dari bantuan ilahi.” Beginilah cara Yesus sendiri menerangkan hal ini.

Dan mereka sangat heran, dan berkata kepadanya, “Kalau begitu, siapa yang bisa diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia itu tidak mungkin, tetapi tidak dengan Allah. Karena segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Markus 10:26–27).

Tanggung jawab tetap ada: seseorang yang peduli dengan jiwanya tidak diperintahkan untuk “menunggu” tetapi untuk segera “datang.” Dan semua yang datang, Ia menerima (Yohanes 6:37). Pengakuan akan ketidakberdayaan bukanlah alasan untuk ketidakpercayaan yang berkelanjutan, juga bukan penghalang bagi tawaran keselamatan universal. Perbedaan antara perintah Allah untuk percaya dan tawaran keselamatan-Nya tidak boleh dibesar-besarkan. Yang pasti, Allah “memerintahkan semua orang di mana-mana untuk bertobat” (Kisah Para Rasul 17:30), tetapi pertobatan yang diperintahkan ini adalah “pertobatan untuk pengampunan dosa” (Lukas 24:47). Perintah untuk bertobat dan percaya itu sendiri merupakan tawaran kasih karunia.

Kita mungkin setuju dengan mereka yang berpendapat bahwa tidak ada keharusan bagi Allah yang memiliki keagungan yang tak terbatas untuk membuat tawaran kasih karunia kepada mereka yang hanya akan terus memberontak. Memang, kita mungkin juga mengatakan bahwa adalah kedaulatan Allah untuk menawarkan keselamatan kepada siapa pun, terlepas dari tanggapan mereka pada akhirnya. Tetapi kenyataannya adalah, Dia melakukannya, dan Dia memberi tahu kita berulang kali. Dia memerintahkan, Dia meminta, Dia memohon, Dia berdiri dengan penuh kerinduan dengan tangan terentang — semua ini adalah bahasa alkitabiah. Lebih penting lagi, kita harus mengakui bahwa sikap welas asih ini adalah bagian dari penyataan diri Allah untuk dipahami sebagai salah satu aspek kemuliaan-Nya. Ini bukan pengertian filsafat manusia. Kita tidak menyembah Allah dengan benar sampai kita mengenali hati kasih-Nya yang besar. Dan kita tidak memberitakan Injil dengan benar sampai kita sendiri mencerminkan pendirian ini.

Pagi ini, janganlah Anda ragu bahwa tugas mengabarkan Injil kepada siapa pun memiliki jaminan Alkitab yang kuat dan eksplisit. Allah memposisikan diri-Nya kepada orang jahat sebagai orang yang bersedia menyelamatkan, dan Ia memohon kepada mereka sesuai dengan itu melalui juru bicara-Nya. Daya tarik universal Injil ini adalah sarana eksternal yang dengannya Allah, pada waktu-Nya sendiri, secara berdaulat memanggil umat pilihan-Nya secara individu ke dalam persekutuan Kristus. Jika dalam Injil Allah dengan bebas menawarkan Kristus kepada dunia, orang-orang Kristen harus membuat tawaran yang sama. Jika itu adalah tugas semua orang untuk percaya, maka itu adalah tugas orang Kristen untuk membagikan kasih Kristus. Jika kita yakin bahwa kita sudah diselamatkan karena kita sudah menjawab panggilan Kristus, kita dapat mengatakan kepada siapa pun, di mana pun—dan kita tidak boleh ragu—”Jika kamu mau datang kepada Yesus Kristus, Dia akan menyelamatkanmu, seperti Dia sudah menyelamatkan saya”.

Sumber: The Free Offer of the Gospel by Fred Zaspel, The Gospel Coalition

Tugas untuk menghindari dosa seksual

“Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah.” 1 Tesalonika 4:3-5

Daud dan Batsyeba

Dalam banyak negara, percabulan yang dilakukan oleh kaum wanita bisa mendatangkan hukuman yang cukup berat, dan mungkin juga hukuman mati. Walaupun demikian, ada negara-negara yang menganggap biasa percabulan yang dilakukan kaum pria. Malahan, ada kota-kota besar di dunia yang menjadi tujuan para pria untuk berwisata guna pelampiasan hawa nafsu mereka. Karena itu di sebagian negara, adanya berbagai layanan seksual dianggap sebagai sarana untuk memperlancar hubungan bisnis para pengusaha. Lebih dari itu, pemerintah setempat mungkin menganggap adanya penjual jasa seksual adalah hal yang normal, yang bisa mendatangkan devisa negara.

Selain interaksi seksual antar manusia, dalam beberapa tahun terakhir muncul interaksi antara manusia dan robot. Kemajuan teknologi dalam bidang Artificial Intellegence (AI), atau Kecerdasan Buatan, sudah memungkinkan manusia mempunyai pasangan maya dengan kemampuan untuk melayani keinginan seksualnya, setidaknya melalui komunikasi bahasa. Perzinahan bisa dilakukan dalam mata dan pikiran pemakainya di segala waktu dan tempat, termasuk di tempat umum dan di siang hari bolong, hanya dengan memakai sebuah HP. Ini adalah sesuati yang menakutkan, karena sulit dikontrol dan bisa dilakukan oleh pria maupun wanita dari segala umur.

Semua orang yang beragama apapun tentunya tahu bahwa dosa, termasuk dosa seksual, adalah sesuatu yang harus dihindari. Secara umum mereka mengerti bahwa berbuat dosa adalah melakukan apa yang tidak baik dalam pandangan atau ajaran agama masing-masing. Jika mereka melakukan hal yang jahat, itu adalah dosa; sebaliknya jika mereka melakukan hal yang baik, itu membawa pahala. Masalahnya adalah, ukuran apa yang baik dan buruk dalam praktik hidup sehari-hari biasanya tidak dibatasi oleh agama, tetapi diatur oleh etika praktis yang berbeda-beda menurut pengertian dan kebiasaan setempat.

Etika mengajarkan apa yang baik dan yang buruk dalam hidup bermasyarakat. Adanya etika adalah baik, tetapi tiap bangsa atau masyarakat mempunyai etika tersendiri sehingga apa yang dianggap baik di satu tempat, mungkin adalah sesuatu yang tidak baik di tempat lain. Etika biasanya tidak diatur hukum, sehingga perbuatan yang dianggap buruk oleh etika tidaklah mengundang hukuman negara, sekalipun mungkin ada sanksi sosialnya. Sebaliknya, apa yang melanggar hukum tentu ada hukumannya, sekalipun etika setempat mungkin bisa menerimannya.

Ayat diatas adalah apa yang seharusnya membuat kita sadar bahwa sebagai orang Kristen, kita harus memegang etika yang sejalan dengan Alkitab. Alkitab bukan hanya menyatakan bahwa perbuatan buruk adalah dosa, tetapi juga jelas menerangkan bahwa jika tidak melakukan apa yang baik untuk Tuhan dan sesama, kita juga berbuat dosa. Itu dalah hukum Tuhan yang berlaku atas setiap umat percaya.

Kehendak Tuhan bagi umat Kristiani mengenai perilaku seksual yang benar cukup jelas, yakni menjauhi percabulan dan menjaga kesucian hubungan suami istri. Hubungan ayat di atas dengan nasihat Paulus sebelumnya adalah jelas, yaitu ajaran agar jemaat Tesalonika berusaha untuk lebih bersungguh-sungguh untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah (1 Tesalonika 4:1-2). Paulus sudah mengetahui bahwa para pembacanya ingin melakukan kehendak Allah (lihat 1 Tesalonika 1:3-10), tetapi dia juga menyadari bahwa mereka perlu mengetahui lebih spesifik apa yang tercakup dalam kehendak-Nya yang sudah dinyatakan.

Mengingat budaya permisif di Tesalonika, yang mirip dengan keadaan di zaman ini, Paulus menganggap menghindari percabulan adalah prioritas utama dalam pengabdian orang Tesalonika pada pengudusan. Kejahatan seksual dapat dibayangkan merajalela di dalam dan sekitar Tesalonika; oleh karena itu, Paulus sangat khawatir bahwa orang Tesalonika dapat dengan mudah kembali ke kebiasaan lama mereka. Jadi dia memberi mereka perintah langsung dan tidak rumit untuk menjauhkan diri dari percabulan. Mereka tidak boleh merasa bahwa proses pengudusan adalah tanggung jawab Tuhan saja. Umat Kristen harus berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi sepenuhnya dari segala pikiran atau perilaku yang melanggar prinsip-prinsip Firman Tuhan dan yang bisa mengakibatkan berbagai tindakan asusila.

Percabulan (porneias) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan segala bentuk perilaku seksual terlarang. Aktivitas seksual apa pun yang menyimpang dari hubungan monogami antara suami dan istri adalah tidak bermoral menurut standar Allah. Tuhan benar-benar memberkati hubungan seksual dalam pernikahan: “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” (Ibrani 13:4). Jelas bahwa Tuhan membenci aktivitas seksual apa pun di luar pernikahan antara pria dan wanita.

Ajaran Paulus yang diilhami Roh tentang masalah moralitas seksual begitu ketat dan menuntut bahwa itu melampaui hanya tindakan fisik amoralitas, seperti yang diilustrasikan oleh ajaran selanjutnya kepada orang Efesus dan Kolose:

“Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus.” Efesus 5:3

“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala” Kolose 3:5

Dalam kedua ayat di atas, kenajisan atau kecemaran berasal dari kata Yunani yang sama, yang artinya melampaui tindakan dosa seksual hingga mencakup pikiran dan niat yang tidak bersih. Penggunaan kenajisan itu, bersama dengan peringatan umum Paulus terhadap amoralitas seksual, menempatkan dia sepenuhnya setuju dengan ajaran Yesus tentang dosa seksual: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Matius 5:27–28). Berpantang total dari dosa seksual adalah salah satu kewajiban yang paling penting bagi semua orang percaya, terutama karena mereka sudah ditebus oleh darah Kristus.

Jika ada banyak orang Kristen di zaman ini yang kuatir akan dampak kebebasan seksual di zaman ini, Paulus pada waktu itu khawatir bahwa orang-orang percaya baru di Korintus belum sepenuhnya meninggalkan kegiatan-kegiatan tersebut. Situasi di Korintus, di mana Paulus berada ketika dia menulis surat-surat Tesalonika, jelas menyoroti bahaya dosa seksual dan memotivasi peringatan Paulus kepada orang Tesalonika. Maka, perintahnya adalah pantang total dari aktivitas seksual apa pun di luar pernikahan.

“Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: ”Keduanya akan menjadi satu daging.” Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:15–20

Kitab Suci menjelaskan bahwa orang-orang yang biasa melakukan percabulan dengan demikian menunjukkan bahwa mereka bukan orang Kristen atau bukan orang pilihan:

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” 1 Korintus 6:9–10

Pagi ini kita juga diingatkan bahwa pasal yang sama dari 1 Korintus juga menunjukkan bahwa orang percaya terkadang masih dapat melakukan dosa seksual. Memang, bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat.

Risiko jatuh ke dalam dosa perzinahan dan dosa seksual lainnya adalah cukup besar bagi orang Kristen. Ada banyak tokoh-tokoh gereja zaman ini yang sudah jatuh ke dalam kegelapan dosa seksual dan itu membuat nama Tuhan dicemarkan. Karena itu, baiklah kita tidak meremehkan adanya ancaman dosa seksual di sekitar kita, tetapi mau saling mengingatkan agar kita mau mendengarkan bimbingan Roh Kudus dalam hidup kita, agar kita bisa lebih bersungguh-sungguh dalam melawan godaan seksual yang datang kepada kita. Bagaimana kita bisa melawan godaan ini? Cara yang paling tepat adalah dengan menghindari atau melarikan diri!

“Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: ”Keduanya akan menjadi satu daging.” Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6: 15-20

Bahan dari The MacArthur New Testament Commentary on 1 Tesalonika 4.

Tiga Cara Kasih Karunia Tuhan Mengajarkan Kekudusan

Ditulis oleh: Pdt. Dr. John MacArthur (11 Februari 2020)

Kata pengantar dan terjemahan oleh: Andreas Nataatmadja

Kata Pengantar

Pendeta veteran gereja Reformed Dr. John MacArthur menyatakan bahwa hasrat Yesus bagi umat-Nya adalah pengudusan dan karena itu, ia mendorong para pendeta untuk menyesuaikan pelayanan mereka dalam hal peningkatan pengudusan anggota mereka melalui khotbah dan pemuridan. Bersama pendeta veteran lainnya, Dr. R.C Sproul (alm.) dan Dr. John Piper, John MacArthur beberapa tahun terakhir ini berjuang melawan beberapa pengajaran Reformed yang cenderung mengabaikan panggilan Tuhan untuk hidup suci. Ajaran sesat yang sudah meracuni banyak gereja Reformed di dunia, termasuk di Indonesia, disebut sebagai ajaran antinomian dan fahamnya dikenal sebagai antinomianisme. Ajaran sedemikian membuat orang Kristen merasa tenteram tinggal dalam dosanya karena yakin sudah terpilih sebagai orang yang diselamatkan, sekalipun cara hidup mereka tentunya tidak akan membawa kemuliaan kepada Tuhan.

Tidak ada pendeta yang mau disebut sebagai pengajar teologi antinomian, tetapi kita bisa melihat ciri ajarannya yang secara ekstrem menekankan kedaulatan Tuhan, yang diyakini sudah menetapkan manusia pilihan untuk diselamatkan, sekalipun orang itu tetap hidup sebagai orang Kristen kedagingan (carnal Christian). Ini tentu saja bukan ajaran yang dapat dibenarkan karena karunia Allah tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga mendidik (bukan membuat) setiap orang Kristen sejati agar mereka bisa hidup dalam kesalehan. Adalah tidak mungkin untuk seseorang mengaku sebagai orang Kristen sejati dan juga, secara bersamaan, tetap hidup sebagai orang Kristen kedagingan.

“Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.” Titus 2: 12

Bagaimana Kasih Karunia Tuhan Memerintahkan Kita Untuk Hidup Kudus

Bagaimana kasih karunia Tuhan mengajar kita, dan apa yang diajarkannya? Jawaban alkitabiah untuk pertanyaan itu adalah sanggahan definitif terhadap doktrin antinomian yang mengabaikan perlunya perbuatan baik: “Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini” (Titus 2:12). Anugerah yang sama yang menyelamatkan orang berdosa dari hukuman dosa, juga mengajar mereka dalam kekudusan.

1. Melalui pendisiplinan

Kata Yunani yang diterjemahkan ganjaran atau hajaran adalah paideuō, sebuah kata yang berbicara tentang disiplin. Kata yang sama diterjemahkan menghukum dalam Lukas 23:16, 22 dan 2 Korintus 6:9. Itu membawa ide-ide pengajaran, koreksi, dan teguran. Itu adalah kata yang sama yang digunakan untuk disiplin dalam Ibrani 12:6: “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ini menggambarkan suatu proses yang kadang-kadang “tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” (Ibrani 12:11).

Kembali ke Titus 2. Lihatlah konteks yang lebih luas. Paulus memberi tahu Titus:

Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. Beritakanlah semuanya itu, nasihatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaanmu. Janganlah ada orang yang menganggap engkau rendah.” Titus 2:11–15

2. Melalui koreksi

Karunia Tuhan idak hanya mendisiplinkan kita demi kekudusan; itu juga melatih kita untuk meninggalkan dosa, dan itu mendorong kita untuk menantikan kedatangan Kristus kembali. Mengapa? Karena “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” (1 Yohanes 3:3).

Dan perhatikan baik-baik apa lagi yang dikatakan Paulus kepada Titus: Kristus mati bukan hanya untuk membebaskan kita dari hukuman dosa, tetapi juga untuk menebus kita dari pelanggaran hukum itu sendiri—untuk menyucikan kita dan mengubah kita menjadi orang yang bersemangat untuk melakukan pekerjaan baik. Selain itu, Paulus menginstruksikan Titus untuk tidak “menjual secara halus” kebenaran penting ini. Dia harus menasihati dan menegur jemaat yang lalai dalam menerima instruksi pengudusan dari anugerah Allah, dan dia tidak mengizinkan siapa pun untuk mengabaikan pekabaran itu. Paulus pada dasarnya mengatakan, “Tegurlah secara keras para pengikut antinomianisme dan perbaiki pandangan mereka yang salah tentang kasih karunia.”

3. Melalui penguatan

Ada satu cara krusial lainnya yang digambarkan Kitab Suci tentang kasih karunia sebagai sesuatu yang dinamis dan bukannya lamban. Roma 5:21 mengatakan bahwa kasih karunia seharusnya menguasai hati kita dengan cara yang sama seperti dosa pernah berkuasa. Anugerah bukanlah keset yang bisa kita gunakan dengan santai untuk menghapus dosa dari kaki kita; karena anugerah memerintah sebagai raja atas kita. Bagaimana kasih karunia menebus kita dari pelanggaran hukum dan menyucikan kita? Bukan hanya dengan mengajar dan mendisiplinkan dan menasihati kita “untuk hidup bijaksana, adil dan beribadah” (Titus 2:12), tetapi juga dengan “mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi. 2:13). Pada akhirnya, Tuhan sendiri akan membuat kita berdiri ” penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya” (Yudas 24).

Dapatkah kita mendefinisikan pengudusan secara sederhana? Pengudusan adalah sebuah proses berjuang untuk kebahagiaan yang penuh dan yang tidak menjual barang pengganti yang lebih murah di sepanjang jalan. Tentu saja ada pendisiplinan dan koreksi dalam prosesnya, tetapi tindakan Tuhan semacam itu adalah keadaan-Nya yang “ membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.” (Ibrani 2:10). Tujuannya, sekali lagi, adalah keserupaan dengan Kristus. Dan itu membawa kita kembali ke awal—kata-kata Paulus dalam Galatia 4:19: “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.!”

Bukan tujuan yang tepat bagi seorang pendeta untuk berharap orang akan puas dengan pesan atau pengajarannya. Pendeta yang saleh tidak boleh membayangkan bahwa jumlah jemaatnya adalah ukuran keefektifannya. Seorang pendeta yang saleh hanya dapat dipuaskan dengan adanya proses pengudusan umatnya. Itu adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai sepenuhnya sampai kita akhirnya dimuliakan. Walaupun demikian, inilah tujuan yang harus terus diupayakan oleh setiap orang percaya.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” 1 Yohanes 3:2–3

Ikuti perlombaan yang sudah ditetapkan untuk Anda

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu melekat, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” Ibrani 12:1

Beberapa kali dalam Alkitab, kehidupan sehari-hari kita di dalam Kristus digambarkan sebagai perlombaan lari jarak jauh. Kita berangkat berlari dalam acara ultra-matathon ini, dan pada setiap matahari terbit kita akan menghadapi tantangan baru. Sementara itu, kita tahu bahwa Tuhan telah menyediakan jalan yang seharusnya kita ambil. Tapi bagaimana tepatnya kita bisa menjalankan perlombaan yang ditetapkan di hadapan kita ini? Syukurlah, kita tidak berlari dalam kegelapan. Penulis Ibrani memberikan tiga cara yang telah terbukti untuk menjaga kita tetap di jalur yang benar.

Kita memulai perlombaan kehidupan dengan mengingat bahwa kita tidak sendirian:

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita…” Ibrani 12:1a

Ketika para sprinter kuno berangkat untuk berlomba lari guna meraih kemenangan dan memperoleh mahkota daun, mereka sering melakukannya di arena besar yang dipenuhi penonton (mirip dengan stadiun olahraga saat ini). Memandang ke arah tribun yang penuh dengan pakaian yang melambai dan orang-orang yang bergerak, kita seolah melihat ke awan. Dan seperti itulah rasanya bagi kita yang ikut berlomba. Kita bukanlah yang pertama yang akan berlomba. Orang-orang telah melewati jalan ini sebelumnya, seperti yang ditunjukkan dalam Ibrani 11 (sebuah pasal yang sering disebut “aula ketenaran iman” atau “faith hall of fame“. Nenek moyang spiritual kita, seperti Abraham dan Nuh, menjawab panggilan Tuhan dan memulai perlombaan yang telah ditetapkan bagi mereka. Teladan mereka memberi kita dorongan.

Tapi kita tidak perlu menoleh ke belakang untuk melihat para “pahlawan iman”. Kita dapat menemukannya hari ini dalam setiap persekutuan orang percaya. Umat Kristiani ditetapkan Tuhan melalui panggilan-Nya untuk melakukan perjalanan ini bersama-sama, dan kita akan merasa jauh lebih kuat pada saat melakukannya. Melihat teladan kesetiaan yang luar biasa di sekitar Anda dapat memberi Anda keberanian yang Anda butuhkan untuk melangkah maju dalam perlombaan. Karena itu juga Paulus pernah mengirim Timotius ke jemaat di Korintus agar mereka diingatkan akan adanya perlomnaan.

“Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat.” 1 Korintus 4:17

Namun, kadang-kadang, masalah lain dapat menghalangi kita untuk berlari, bahkan ketika orang banyak mendukung kita. Sekalipun kita ingin untuk selalu berjalan di jalan yang benar, kita tidak dapat melakukannya jika kita terus-menerus tersandung. Ketika kita melihat mereka yang mengajak kita untuk tinggal sebagai penonton saja, sebab itu lebih mudah untuk dilakukan. Karena itu kita harus memusatkan perhatian kita kepada Yesus dan pimpinan-Nya, seperti apa yang dinyatakan oleh penulis kitab Ibrani yang menggambarkannya seperti ini:

“…marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibrani 12:1b)

Dalam acara olahraga dunia kuno, para peserta biasanya berlari dengan cara yang jauh lebih “alami” daripada yang dilakukan para atlet saat ini. Jauh sebelum adanya pakaian lari yang khusus, jubah yang dipakai para peserta pada masa itu harus diikat supaya tidak menyentuh kaki atau dilepas sebelum berlari. Jika tidak, pelari akan terjerat dan jatuh tertelungkup.

Sebagai pejuang Kristen kita tidak jauh berbeda. Kita tidak dapat berjalan dengan baik jika kita terikat dalam jerat kehidupan yang penuh dosa. Hal-hal yang tampak begitu memuaskan pada saat itu dapat mengalihkan pandangan kita dari hadiah (seperti yang akan kita baca di bawah), dan sebaliknya, membuat kita terpaku pada apa yang bersifat sementara. Tapi kitai dipanggil ke jalan yang jauh lebih baik:

“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Roma 8:13

Hidup kita berjalan paling baik jika kita mengikuti Firman Tuhan dan mematuhi perintah-perintah-Nya di dalam Alkitab. Dia tidak memberi kita perintah itu untuk menjatuhkan kita, tetapi untuk membebaskan kita dari kekuatiran agar dapat berlari dengan kekuatan yang penuh. Ketika kita melakukannya, tujuan kita yang sebenarnya akan terlihat jelas. Tujuan kita bukan mengingat karunia Tuhan semata, tetapi untuk menemui-Nya melalui karunia-Nya.

Dalam perjuangan hidup, kita mungkin melirik ke arah kerumunan orang di sekitar kita dan kita mungkin menemukan hal-hal yang menarik perhatian kita, tetapi dorongan utama kita adalah hadiah yang menanti kita yang hidup dengan iman:

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Ibrani 12:2

Pada awal perlombaan, sewaktu kita baru menjadi orang percaya, Yesus mungkin tampak jauh di kejauhan. Kita mengenal Dia melalui kisah Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Kita telah mendengar bagaimana Dia telah mengubah kehidupan orang lain. Tapi perlombaan kita baru mulai. Namun, tak lama kemudian, kita menyadari bahwa hadiah yang menanti kita adalah Juruselamat kita, Yesus Kristus, dan Dia tidak puas hanya duduk dan melihat kita dari garis finis. Yesus tetap menyertai kita dalam perjuangan hidup kita. Jika kita tidak mengabaikan Dia, Roh Kudus selalu sibuk bekerja pada diri kita pada saat kita menjalankan perlombaan.

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Filipi 3:10–11

Saat kita berlari dan mengarahkan pandangan kita pada Yesus, Tuhan dengan kasih bekerja pada kita, menjadikan kita semakin serupa dengan Anak-Nya. Pada akhirnya, Dia akan membawa kita ke upah yang telah lama kita nantikan:

“aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3:14

Pagi ini, firman Tuhan memerintahkan kita untuk melaksanakan pertandingan yang sudah ditetapkan untuk kita. Janganlah kita merasa bahwa tidak ada lagi yang harus dilakukan setelah kita menerima anugerah keselamatan. Tuhan tidak hanya memberi anugerah keselamatan, tetapi Ia juga memberi anugerah untuk pengudusan. Karena itu, jalankan tugas perlombaan kita menurut apa yang dikehendaki-Nya dan bukannya mengharapkan Dia untuk menggendong kita ke garis finis untuk menerima mahkota kehidupan. Jika kita mengerti akan hal ini, tidak boleh ada alasan untuk tidak melaksanakan tugas kita, dan tidak boleh ada keraguan untuk mengajarkannya kepada semua saudara seiman.

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Lukas 6:46

Harus bertanggungjawab, bukan berarti bisa bertanggungjawab

“Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” Matius 12:35-36

Tuhan 100 persen berdaulat, manusia 100 bertanggungjawab, begitulah apa yang didengungkan oleh banyak gereja. Ini bukan berarti bahwa semua orang Kristen setuju. Masalahnya, sebagian orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan berdaulat, juga percaya bahwa setiap manusia sudah ditetapkan segala perbuatan dalam hidupnya, dan tidak ada apa pun yang terjadi tanpa dikehendaki Tuhan. Dengan demikian, jika adanya dosa manusia karena ditetapkan Tuhan, manusia tidak bisa berbuat apa pun menurut pilihannya sendiri. Karena itu, manusia tidak dapat dituntut untuk bertanggungjawab atas hidupnya. Manusia tidak sanggup untuk mempertanggungjawabkan hidupnya, karena dia ditetapkan untuk berbuat dosa yang akhirnya tidak dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan yang mahasuci. Mereka yang selamat dari murka Allah, hanyalah karena penetapan Tuhan semata-mata. Benarkah begitu?

Penjelasan di atas ada benarnya, tetapi banyak salahnya. Pendapat ini biasanya diutarakan oleh golongan Kristen yang terlalu menekankan kedaulatan Tuhan, sehingga tidak dapat mengerti adanya keseimbangan antara kehendak Tuhan dan pilihan manusia. Pengakuan Iman Westminster Bab 9 menyatakan bahwa pada mulanya Allah telah memperlengkapi kehendak manusia dengan kebebasan kodrati yang tidak dipaksa dan tidak ditentukan oleh keharusan alamiah apa pun untuk berbuat baik atau jahat. Ketika masih berada dalam kedudukan tidak berdosa, manusia memiliki kebebasan dan kuasa yang membuatnya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik dan berkenan dan kepada Allah. Akan tetapi, dalam hal itu ia peka terhadap perubahan, sehingga ia dapat saja jatuh dan kehilangan kemampuan itu. Setelah jatuh ke dalam keadaan berdosa, manusia sama sekali kehilangan kemampuan menghendaki harta rohani apapun yang menyertai keselamatan. Maka itu, manusia kodrati sama sekali menolak harta rohani itu dan mati dalam dosa, sehingga ia tidak mampu untuk dengan kekuatannya sendiri bertobat atau mempersiapkan diri untuk bertobat.

Tahukah manusia yang sudah jatuh itu jika ia berbuat dosa? Seburuk-buruknya kejatuhan manusia, ia tetap dapat, secara terbatas, membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Jadi manusia yang telah rusak itu bukan rusak sebobrok-bobroknya, melainkan tidak mampu untuk dengan kekuatannya sendiri untuk mengerti, apalagi memenuhi, standar kebenaran dan kesucian dari Allah. Karena itu, ia tidak sadar bahwa ia harus mempertanggungjawabkan hidupnya kepada Allah. Sekalipun ia tahu (karena diberitahu oleh utusan Allah) dan mau untuk bertobat, ia tidak akan dapat dengan kekuatannya sendiri untuk berdamai dengan Allah yang menuntut pertangunganjawabnya. Memang, adanya keharusan untuk bertanggungjawab, bukan berarti bisa bertanggungjawab. Untuk bisa mengerti adanya keharusan bertanggungjawab, semua manusia, Kristen maupun non-Kristen, memerlukan penjelasan dan bantuan Allah. Jika tidak demikian, manusia selalu cenderung untuk bersikap antinomian, yang berarti melawan hukum Allah.

Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak bisa menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi ia juga masih menghendaki juga apa yang jahat. Tetapi, mereka yang benar-benar lahir baru akan mengeri adanya keharusan untuk bertanggungjawab atas hidupnya, dan menyadari bahwa ia harus bergantung kepada belas kasihan Tuhan dalam memikul tanggung jawabnya. Hanya karena pengurbanan Kristus, orang percaya dapat memenuhi apa yang dituntut Allah sebagai tanggung jawab manusia dalam hal rohani.

Jika pemjelasan di atas adalah mengenai hal rohani, bagaimana dengan hal jasmani? Sesungguhnya tidak ada perbuatan jasmani manusia yang tidak ada kaitannya dengan hal rohaninya. Apa yang nampak dari luar manusia adalah berasal dari dalam hatinya. Sekalipun pada suatu saat manusia tidak bertidak apa-apa, keputusan atas tindakan berdiam diri itu tentunya bersumber dari hatinya. Mungkin karena kemalasan, mungkin ketidakpedulian, atau mungkin karena ketakutan dan sebagainya. Setiap tindakan manusia yang tidak ada arti dan gunanya, juga bisa dikatakan dosa karena setiap apa yang kita pikirkan dan kita perbuat pada hakikatnya harus untuk kemuliaan Tuhan.

Ayat di atas menjelaskan salah satu dosa yang terjadi ketika kita dihadapkan pada dua pilihan: berbuat baik atau berbuat jahat. Secara jasmani, perbuatan manusia bisa digolongkan sebagai perbuatan baik atau perbuatan jahat, sekalipun perbuatan baik bukan berarti perbuatan tanpa dosa. Dikatakan bahwa orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Semua itu agaknya relatif jika diukur dengan standar manusia. Tetapi Yesus berkata kepada kita: “Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” Apa yang sia-sia, yang tidak berguna untuk kemuliaan Tuhan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah pada waktunya.

Mungkin kita menolak keharusan untuk bertanggung jawab karena tidak ada manusia yang bisa berdiri di hadapan Allah dan membela diri atas segala dosa yang sudah diperbuatnya. Tuhan adalah Makhluk Ilahi yang mahatahu. Di hadapan Tuhan yang mahasusi, tidak ada seorang pun yang akan didakwa jika ia tidak melakukan kesalahan terhadap Tuhan. Mampukan kita mempertanggungjawabkan segala kesalahan kita? Pasti tidak mampu! Itu karena mausia dengan usahanya sendiri tidak dapat membela diri dan menghindari hukuman Tuhan. Hanya karena penyertaan Yesus yang akan membela kita, kita akan menerima pengampunan atas segala dosa kita. Itu hanya terjadi jika kita mau bertanggungjawab atas segala dosa kita dan berseru meminta pengampunan dalam nam Yesus.

Mereka yang sadar akan tanggungjawabnya pasti akan bertobat dengan pertolongan Roh Kudus. Mereka yang menolak keharusan untuk bertanggungjawab dan mendukakan Roh Kudus, tidak akan bisa menerima pengampunan atas dosa yang tidak diakuinya. Mereka yang merasa bahwa dosa adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari setelah ia menerima rahmat Tuhan adalah manusia yang menolak tanggungjawabnya selama hidup di dunia. Mereka akan tidak bisa menghindari tuntutan tanggung jawab ketika mereka menghadapi penghakiman Ilahi. Manusia tetap harus betanggungjawab, sekalipun ia tidak bisa mempertanggungjawabkan dosanya.

Hari ini, kita belajar bahwa manusia hanya bisa memenuhi tanggung jawabnya melalui darah Kristus, yang sudah mati untuk orang-orang yang mau bertanggungjawab, dan sadar bahwa mereka membutuhkan Yesus yang memikul tanggung jawab mereka di kayu salib. Apakah Anda orang yang sadar akan keharusan untuk bertanggung jawab dan mau untuk bertanggung jawab? Jika ya, Yesuslah yang akan memenuhi tanggung jawab Anda sesudah hidup di dunia ini berakhir. Jika Anda belum sadar akan keharusan untuk bertanggung jawab dan tidak mau bertanggung jawab atas hidup Anda, sekaranglah saatnya untuk Anda mengenal Tuhan yang pada akhirnya akan menuntut pertanggungjawaban dari Anda yang tidak akan bisa menolong diri sendiri.

Kesadaran akan adanya dosa akan membawa kebaikan

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Di berbagai negara sekarang ini tumbuh berbagai aliran kepercayaan baru dan cara hidup modern yang menjanjikan ketenteraman hidup. Ada aliran yang mengajarkan kebahagiaan melalui keyakinan pada diri sendiri, melalui perbuatan sosial atau dengan berbagai cara mistik. Diantara ajaran modern, ada ajaran yang menyatakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah baik, dan dunia ini sebenarnya bukan tempat dimana manusia harus berjuang dan menderita karena dosa mereka. Ada juga orang-orang yang mengajarkan bahwa setiap manusia mampu untuk menjadi tuhan-tuhan melalui kesadaran akan apa yang baik dan jahat. Dunia ini akan dapat berubah menjadi makin baik dengan adanya manusia-manusia yang baik, begitulah kata mereka.

Alkitab menyatakan hal yang bertentangan dengan kepercayaan di atas. Karena jatuh ke dalam keadaan berdosa, manusia sama sekali kehilangan kemampuan menghendaki harta rohani apapun yang menyertai keselamatan. Maka itu, manusia kodrati sama sekali menolak harta itu dan mati dalam dosa, sehingga ia tidak mampu untuk dengan kekuatannya sendiri bertobat atau mempersiapkan diri untuk bertobat. Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa. Karena itu, orang yang sudah lahir baru, oleh rahmat-Nya semata-mata, mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat. Sekalipun ia menghendaki apa yang baik, ia tetap bisa melakukan apa yang jahat.

Surat Paulus kepada jemaat di Roma, khususnya Roma 7:18, menyatakan bahwa orang yang sudah lahir baru tetap mengalami peperangan rohani setiap hari, antara memilih apa yang baik dan mengikuti apa yang jahat. Perjuangan ini sangat berat sehingga Paulus mengeluh bahwa di dalam dia, yaitu di dalam dia sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam dia, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Ia tidak membuat alasan bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya adalah apa yang sudah direncanakan dan kehendaki Tuhan. Tuhan tidak pernah membuat manusia jatuh dalam dosa, tetapi sebaliknya Ia menghendaki umat-Nya untuk taat kepada-Nya. Kesadaran ini yang justru membuat Paulus, hari demi hari, makin peka akan ketergantungannya kepada kuasa Roh Kudus yang membimbing dia dalam menghadapi perjuangan melawan apa yang jahat.

Berbeda dengan Paulus, manusia di zaman modern agaknya tidak dapat menerima jika orang lain menilai mereka sebagai orang yang “kurang baik”. Malahan, banyak sekolah yang tidak lagi dengan terang-terangan menyatakan kegagalan murid dalam hal belajar. Istilah “gagal” atau “fail” dianggap merendahkan martabat murid dan membuat mereka kehilangan motivasi untuk belajar, begitu kata beberapa ahli pendidikan. Pada pihak yang lain, komen guru seperti “akan bisa mencapai hasil yang baik dengan banyak berlatih” sekarang bisa dipakai dalam rapor murid. Pendekatan semacam ini diharapkan dapat memulihkan semangat dan rasa percaya diri para murid.

Jika di zaman ini orang terbiasa dengan penghargaan dari sesama sejak dari kecil, banyak orang yang kemudian merasa bahwa apa yang ditulis dalam Alkitab seringkali menusuk perasaan. Alkitab memang dengan jelas menyatakan apa yang baik dan apa yang buruk dengan tanpa tedeng aling-aling. Orang yang merasa bahwa diri mereka sudah diadili oleh orang lain dan oleh firman Tuhan seringkali kemudian menyatakan bahwa gereja sudah ketinggalan zaman dan orang Kristen adalah orang yang kolot atau orang yang membenci sesamanya. Semua orang adalah orang-orang yang sederajat dan orang-orang yang baik jika mereka tidak  melanggar hukum negara atau menyakiti sesamanya, begitulah pendapat orang di zaman ini.

Pagi ini firman Tuhan menyiratkan bahwa jika seseorang bisa hidup di dunia dengan tidak melanggar hukum dan etika, dan tidak berbuat jahat kepada sesamanya, ia pasti masih sering melanggar hukum Tuhan dan menyakiti hati Tuhan. Tuhan adalah mahabesar dan mahasuci, dan apa yang diperintahkan-Nya seringkali justru dilanggar manusia. Manusia sesudah kejatuhan kedalam dosa pada hakikatnya adalah  manusia yang jahat. Ayat diatas jelas-jelas menulis bahwa di dalam diri manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab jika sekalipun kehendak untuk berbuat baik itu ada, apa yang kemudian dilakukan manusia adalah bukan apa yang baik. Bagaimana dengan hidup Anda?

Manusia tidak dapat menjadi orang yang baik menurut standar Tuhan dengan usaha sendiri.  Setiap orang harus sadar akan kekurangannya, mau bertobat dari hidup lamanya dan memohon ampun atas apapun yang tidak sesuai dengan hukum Tuhan. Firman Tuhan memang seringkali terasa seperti pedang yang menusuk hati, tetapi itulah yang bisa membuat kita yang sudah lahir baru makin sensitif akan cara hidup kita, dan makin mampu untuk menyadari adanya kesalahan yang kita perbuat, sehingga kita dalam bimbingan Roh Kudus bisa kembali kepada jalan yang benar. Jika kita mengaku bahwa kita sudah lahir baru, tetapi tetap hidup seperti orang yang belum percaya, kita mungkin belum sepenuhnya bertobat dan percaya kepada Dia yang mahatahu, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab atas hidup kita.

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” Ibrani 4: 12 – 13

Bekerja adalah hak dan kewajiban bagi umat Tuhan

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Hari ini adalah hari libur di Australia, karena seperti pada banyak negara lain, tanggal 1 Mei adalah hari buruh. Sejarah Hari Buruh dimulai pada tahun 1889, ketika sebuah konferensi internasional di Paris diadakan untuk memperingati perjuangan para pekerja dan untuk memperjuangkan hak-hak pekerja. Konferensi tersebut menyerukan peringatan internasional setiap tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional.

Tidak dapat disangkal bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang mutlak dilakukan setiap manusia di dunia. Dalam kitab Kejadian 3: 17 Tuhan berkata kepada Adam setelah ia melanggar perintah-Nya:

“Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu”.

Agaknya sebagian orang menganggap bahwa pekerjaan yang sekarang harus dilakukan manusia, baik oleh pria maupun wanita, adalah akibat dosa. Mereka yang tidak mau atau tidak bisa bersusah payah mencari rezeki, harus bisa hidup dengan jalan lain.

Bekerja adalah akibat buruk dari dosa adalah sebuah pengertian yang tidak sepenuhnya benar, dan bahkan bisa dibilang keliru. Apa yang benar ialah sesudah terjadinya dosa, bekerja bukanlah sesuatu yang bisa sepenuhnya dinikmati manusia. Mereka yang bekerja sering harus membanting tulang, akan mengalami kelelahan jasmani ataupun rohani; dan jika usia mulai melanjut, orang mungkin terpaksa atau dipaksa untuk berhenti bekerja. Sebaliknya, mereka yang masih muda dan membutuhkan pekerjaan untuk bisa hidup layak, seringkali sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok.

Pekerjaan manusia pada mulanya sebenarnya sudah ditentukan oleh Tuhan sebagai berkat-Nya. Dalam kitab Kejadian 1: 28 Tuhan memberkati manusia ciptaan-Nya dan berkata:

“Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Pekerjaan manusia, dengan demikian adalah berkat Tuhan dan sudah sepatutnya dilakukan setiap manusia. Pekerjaan di masa kini, dengan demikian dapat disimpulkan sebagai aktivitas yang seharusnya dimiliki seluruh umat manusia karunia Tuhan, tetapi karena dunia yang penuh dosa, bisa menjadi beban hidup; itu mungkin karena tidak adanya pekerjaan yang disukai, atau karena adanya pekerjaan yang tidak disenangi.

Jika pekerjaan manusia di taman Eden adalah baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan, baik atau buruknya pekerjaan di dunia ini sekarang tidak lagi diukur menurut pandangan Tuhan, tetapi diukur dengan standar manusia. Karena itu, manusia sering tidak bisa berbahagia dengan hidupnya karena tidak adanya pekerjaan yang memuliakan Tuhan. Tuhan adalah sumber kebahagiaan manusia, dan jika manusia hidup dan bekerja seorang diri dan untuk kepuasan dirinya sendiri, lambat laun Tuhan terasa jauh darinya.

Bagaimana kata Alkitab agar setiap umat-Nya bisa sadar bahwa mereka sudah diberi hak dan kewajiban untuk bekerja? Ayat pembukaan kita berkata bahwa apa pun yang kita kerjakan dalam hidup ini hendaknya untuk kemuliaan Tuhan. Baik pekerjaan yang terlihat sederhana dan tidak menghasilkan uang, maupun pekerjaan besar yang penuh tanggung jawab, semuanya harus kita lakukan untuk memuliakan Tuhan. Walaupun demikian, ada orang Kristen yang mengangap bahwa kita tidak bisa hidup dan bekerja dengan cara yang baik, karena semua yang dilakukan manusia adalah mengandung dosa. Malahan, ada orang Kristen yang menganggap bahwa jika kita merasa dapat hidup dan bekerja untuk Tuhan karena Tuhan sudah mengharuskan, itu adalah sebuah kesombongan karen hanya Tuhan yang bisa membuat manusia hidup dan bekerja dengan baik.

Pagi ini, adakah kemasygulan kita dalam hal bekerja? Adakah kesedihan dan kebosanan karena apa yang sekarang kita kerjakan tidak membawa kepuasan hati? Untuk tua maupun muda, firman Tuhan berkata bahwa ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan, yang bisa membawa kebahagiaan dan kepuasan hidup. Semua itu tergantung pada kesadaran dan kemauan kita, apakah kita sebenarnya bersedia bekerja demi kemuliaanTuhan, dan bukan untuk kepentingan kita saja.

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25: 21

Maukah Anda menguduskan Yesus?

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” 1 Petrus 3:15

Pada saat Anda menjadi orang Kristen, Anda tentunya mengakui Kristus sebagai Tuhan. Petrus dalam ayat di atas mengingatkan orang-orang Kristen bahwa itulah yang telah mereka lakukan ketika mereka menjadi orang Kristen. Jadi dia berkata bahwa mereka harus berani menyatakan dalam hidup mereka bahwa “Kristus adalah Tuhan di dalam hatiku.” Menguduskan Kristus sebagai Tuhan berarti kita menjawab “ya” untuk panggilan-Nya, dan mau tunduk kepada-Nya. Itulah yang harus kita tunjukkan kepada siapa pun yang ingin tahu kepada siapa kita bertanggungjawab atas hidup kita. Kepada Yesus Kristus, Tuhan yang mahakuasa.

Setelah berserah kepada-Nya, kita sekarang seharusnya menjadi tempat di mana kekuasaan dan Firman-Nya memegang kekuasaan. Kita harus mau mengikuti Dia, bahkan jika mengikuti Dia akan melibatkan penderitaan. Tetapi, karena dunia ini sedang memberontak melawan Tuhan, maka hidup kita sering menjadi fokus pertempuran sengit, terkadang di sekitar kita, terkadang di dalam diri kita. Pertempuran yang bagaimana? Pertempuran rohani, melawan kekuatan dan bujukan iblis yang berusaha agar kita tidak mengikuti perintah Tuhan.

Apa yang dikehendaki Tuhan pada pasal ini bisa ditemukan dalam ayat 8–9 yang bunyinya cukup lugas:

“Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.”

Mengikuti Kristus berarti harus mau melakukan semua hal ini. Itu tidak mudah.

Tentu saja, lebih mudah membuat daftar hal-hal ini daripada menjalaninya. Terkadang kasih yang kita ingin nyatakan kepada orang lain menghadapkan kita pada beberapa pilihan yang sulit. Dan lebih sering daripada tidak, itu berarti Tuhan dalam kasih-Nya menunjukkan kepada kita cara agar kita dapat mengurbankan diri kita sendiri, ketika kita menjadi peduli dengan orang lain, ketika kita mulai menempatkan diri kita pada posisi mereka dan merasakan apa yang mereka rasakan bersama mereka. Ini bukan hal yang ringan.

Dalam keadaan demikian, pernahkah Anda tergoda untuk berbalik kepada kehidupan lama Anda yang nampaknya lebih nyaman? Hidup yang bebas dari firman dan perintah Tuhan? Sebab dengan makin seringnya Roh Kudus berbicara kepada kita, makin lama kita makin sadar akan kekurangan kita. Makin lama seakan Tuhan mengingatkan kita akan janji kita untuk menguduskan Dia. Hati kita yang pada dasarnya mempunyai sifat memberontak sekalipun kita sudah mendapat pencerahan Roh Kudus setelah lahir baru, masih bisa melakukan kesalahan dan bahkan berusaha melawan kehendak Tuhan.

Kalau begitu, siapakah yang bisa hidup seperti ini? Petrus memberikan beberapa contoh di akhir pasal 3. Contoh yang utama adalah Kristus:

“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,”
‭‭1 Petrus‬ ‭3‬:‭18‬ ‭

Berulang kali ketika Kristus dicobai, Dia menahan diri dari kejahatan. Kristus menaati Allah bahkan ketika itu berarti menderita sampai menyerahkan nyawa-Nya. Dan Kristus dihidupkan. Kristus dalam kehidupan dan ketaatan-Nya kepada Allah Bapa, menggenapi apa yang sudah dinyatakan Allah Bapa dari kejatuhan Adam dan Hawa.

Kristus adalah model tertinggi kita dalam berbuat baik dan menaati Tuhan. Dia adalah model bagi kita dalam mengikuti Tuhan, bahkan ketika itu melibatkan penderitaan. Dan Dia adalah model bagi kita yang akhirnya dibenarkan dalam ketaatan-Nya. Betapa membesarkan hati orang Kristen yang menderita dalam kesetiaan untuk diperlihatkan bahwa penderitaan dan perjuangan dalam mengikut Kristus akan diikuti oleh kemuliaan!

Pagi ini kita belajar bahwa menguduskan Yesus adalah pola hidup yang alkitabiah. Penderitaan, lalu kemuliaan. Salib, lalu mahkota. Apakah ini ciri hidup Anda? Apakah Anda bersedia untuk mengikuti Kristus sebagai Tuhan? Jika tidak, lalu bagaimana cara Anda mengikuti Dia? Apakah Anda masih mengharapkan agar Tuhan membuat keputusan untuk Anda? Roh Kudus tidak akan memaksakan kehendak-Nya pada diri kita. Ia mengingatkan, membimbing dan menolong kita. Tetapi kitalah yang harus menjawab pesan rasul Petrus di atas.

“Hendaklah wkamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” Filipi 2:5

Hidup dalam iman yang tak tergoncangkan

“Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” 2 Korintus 5: 6 – 7

Membedakan titik dan koma tentunya tidak sulit bagi orang yang melek huruf. Walaupun demikian, banyak orang yang kurang mengerti bagaimana menempatkan koma dan titik pada posisi yang tepat dalam sebuah kalimat. Begitu juga, orang sering bingung dalam hidup ini mengenai hal yang serupa. Bagaimana kita tahu bahwa apa yang kita alami masih berakhir dengan sebuah koma dan bukan titik? Bagaimana kita yakin bahwa penderitaan dan masalah yang kita hadapi sekarang ini hanya untuk sementara dan bukannya titik akhir? Bagaimana kita bisa tahu bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita saat ini adalah kehendak Tuhan dan bukannya apa yang dipakai Tuhan untuk mencapai apa yang dikehendaki-Nya pada masa mendatang?

Apakah Tuhan sudah menyatakan kehendak-Nya jika Anda merasa bahwa tidak ada lagi jalan keluar dari masalah yang Anda hadapi? Ataukah Anda masih mencari apa yang dikehendaki-Nya untuk dapat mengambil keputusan? Jika semua memang sudah ditentukan Tuhan, apakah Anda masih mau berjuang? Ini adalah pertanyaan yang bisa muncul dalam pikiran orang yang percaya kepada Tuhan yang berdaulat. Ketika segala sesuatunya terlihat buruk, ketika kita menghadapi berbagai krisis, reaksi kita, berdasarkan cara berpikir manusiawi, sering kali bisa berupa kepasrahan, kekalahan, atau keputusasaan.

Adalah umum, jika manusia tidak melihat jalan keluar dari situasi atau krisis yang dihadapi, mereka akan bersiap untuk menyerah. Fatalisme mungkin datang dan mereka menyangka bahwa semua itu sudah kehendak Tuhan. Dan sejujurnya, jika dalam hidup kita selalu bergantung pada kekuatan kita sendiri, memang harus begitu apa yang kita rasakan. Tapi, perasaan itu mungkin hanya bayangan kita, karena kita tidak tahu apa yang Tuhan rencanakan. Masa depan dan bahkan esok hari belum dinyatakan kepada kita. Apa yang sudah dinyatakan dalam Alkitab adalah bahwa Allah, melalui kuasa-Nya yang besar yang bekerja di dalam kita, mampu melakukan jauh lebih banyak daripada apa yang kita doakan atau pikirkan (Efesus 3: 20). Kita mungkin tidak sanggup menghadapi masalah yang ada, tapi Tuhan bisa! Tuhan mungkin masih menempatkan sebuah koma di mana kita berpikir bahwa Ia sudah menempatkan sebuah titik.

Memang banyak orang yang selalu terobsesi dengan kehendak Tuhan yang belum dinyatakan. Tetapi orang yang mempunyai iman yang benar, tidak akan berhenti berjuang dan berharap, sekalipun segala sesuatunya terlihat gelap. Dalam Injil Markus, kita membaca tentang Yairus, seorang pemimpin sinagoga, yang putrinya jatuh sakit parah. Yairus pergi kepada Yesus untuk memohon kepada-Nya, meminta Yesus untuk datang dan menumpangkan tangan atas putrinya agar dia dapat hidup (Markus 5:22-23). Yesus pergi bersama Yairus, tetapi dalam perjalanan ke rumah Yairus ada orang yang membawa berita bahwa putri Yairus telah meninggal. Orang itu menyarankan Yairus untuk tidak mengganggu Yesus karena gadis itu sudah mati. Itu sudah kehenak Tuhan. Titik. Mendengar ini, Yesus mengatakan kepada mereka untuk tidak takut tetapi memiliki iman (Markus 5:35-36). Dengan kata lain, Yesus menghapus titik tersebut dari akhir sebuah kalimat, dan menggantinya dengan sebuah koma.

Yesus lalu melanjutkan perjalanan-Nya ke rumah Yairus. Sesampainya di sana dan melihat banyak keributan dan tangisan, Yesus masuk ke dalam dan bertanya: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati; tetapi tidur.” Kerumunan orang hanya menertawakan Dia. Mereka tentunya yakin bahwa ada perbedaan nyata antara mati dan tidur, dan gadis muda ini pasti sudah mati. Titik! Tamat! Tetapi Yesus tahu bahwa itu bukanlah titik yang ada pada kehidupan gadis ini, tetapi koma. Dia pergi ke kamar di mana gadis yang mati itu berbaring, memegang tangannya dan berkata, “Hai anak,Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Gadis itu segera bangkit berdiri dan berjalan (Markus 5:38-42). Hanya Yesus, Tuhan, yang tahu di mana harus ada koma, dan di mana harus ada titik.

Ketika krisis membuat kita siap menyerah, dan ketika kita merasa kalah atau putus asa, janganlah kita melihat keterbatasan manusiawi kita sendiri, atau keterbatasan orang lain. Jangan cepat-cepat berprasangka bahwa Tuhan yang membuat semuanya terjadi dalam hidup kita. Jangan mengecilkan kedaulatan dan kuasa Tuhan! Pikirkanlah bahwa ada banyak hal yang bisa terjadi dan mempengaruhi hidup kita. Semua itu sudah terjadi pada saat tertentu, tetapi kita tidak tahu apa yang direncanakan Tuhan untuk masa depan. Lihatlah ketidakterbatasan Tuhan! Tuhan yang tidak dibatasi oleh waktu atau apa yang sudah terjadi di dunia. Semua yang kita alami saat ini terjadi dengan seizin-Nya, dan Ia bisa memakai itu untuk mencapai apa yang dikehendaki-Nya di masa mendatang. Kapan? Bilamana Ia menghendakinya!

Ayat pembukaan di atas mengajarkan kita untuk tabah dan sabar dalam menantikan pertolongan Tuhan. Ingatlah bahwa apa yang tidak mungkin bagi kita, bukanlah tidak mungkin bagi Tuhan. Bagi Allah segala sesuatu adalah mungkin (Markus 10:27). Jangan menempatkan sebuah titik di mana Tuhan mungkin sudah menempatkan sebuah koma. Ingatlah bahwa kita tidak tahu di mana sebuah koma atau titik harus diletakkan dalam hidup kita, dan kita tidak bisa memaksakan hal itu. Itu adalah bagian dari kedaulatan Tuhan yang tidak boleh kita rampas. Dari kesaksian mereka yang sudah mengalami pertolongan Tuhan dalam hidup mereka, kita akan tahu bahwa antara sebuah koma dan sebuah titik mungkin ada banyak koma. Dan di antara koma-koma dan titik itu, seharusnya ada iman yang memastikan kita untuk pada akhirnya mendapat kemuliaan abadi melalui darah Kristus.

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.” Filipi 3: 13-16