Antara kehendak Tuhan dan pilihan manusia

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus – itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu” Filipi 1: 21-24

Filipi adalah koloni Romawi, dan kota utama salah satu bagian Makedonia, di sini rasul Paulus diarahkan oleh sebuah penglihatan, untuk pergi dan memberitakan Injil; dan yang berhasil membawa pertobatan Lydia, kepala penjara dan keluarga mereka (Kisah 16: 13-40). Pauluslah yang meletakkan dasar sebuah gereja di tempat ini, kepada siapa surat ini ditulis. Kitab Filipi ditulis oleh rasul Paulus ketika dia menjadi tahanan di Roma.

Ayat ini menawarkan beberapa kata yang paling berkesan di seluruh Alkitab: “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Ayat ini menampilkan tidak hanya kehendak Tuhan, tetapi juga pilihan manusia. Paulus tidak tahu apa kehendak Tuhan yang belum dinyatakan, tetapi ia tahu bahwa Tuhan senang kalau Paulus masih mau melayani. Karena itu, terlepas dari apakah vonis atas kasusnya adalah hidup atau mati, Paulus akan tetap setia kepada Tuhan. Dia tahu bahwa kehidupan di bumi ini berarti hidup bagi Kristus, tetapi kematian bagi Paulus pribadi, akan lebih baik lagi karena dia akan berada di hadirat Tuhan. Paulus tidak ingin terburu-buru untuk mati, karena penting baginya untuk menyebarkan Injil sejauh mungkin (Filipi 1:22).

Kata-kata ini juga penting untuk memastikan apa yang terjadi pada jiwa orang percaya setelah kematian. Beberapa berpendapat menyatakan bahwa “tidur jiwa” adalah mungkin. Ini adalah pandangan bahwa jiwa orang beriman memasuki keadaan tidak sadar, dan tidak pergi ke surga bersama Tuhan sampai penghakiman yang akan datang. Ayat ini menunjukkan bahwa ajaran seperti itu tidaklah benar. Paulus dengan jelas menyatakan harapannya untuk bersama Kristus pada saat hidupnya di bumi berakhir. Ini adalah pandangan yang juga direfleksikan oleh Yesus ketika Ia mengatakan kepada pencuri di kayu salib bahwa ia akan berada di surga bersama-Nya “hari ini” (Lukas 23:43).

Filipi 1:19–30 memperlihatkan Paulus merenungkan dua keinginan yang bersaing. Di satu sisi, seorang Kristen sejati tentunya ingin melayani Tuhan dan membawa orang lain kepada Kristus melalui hidup cara mereka. Sebaliknya, seorang Kristen sejati rindu untuk meninggalkan penderitaan—ingin bersama Allah dalam kekekalan. Paulus bebas untuk menyatakan pilihannya, tetapi ia juga tahu bahwa Tuhan tentu menetapkan apa yang terbaik bagi-Nya. Karena Paulus dekat kepada Tuhan, ia menyimpulkan bahwa dirinya lebih baik hidup sampai Tuhan memanggilnya pulang, sehingga dia bisa melayani sesamanya untuk memuliakan Tuhan.

Paulus menyatakan adanya dua pilihan dan adanya kehendak Tuhan dan kehendak manusia. Apakah Paulus mempunyai untuk memilih untuk mati? Sudah tentu tidak, Paulus tidak akan berlaku sembrono atau bunuh diri agar ia bisa mati. Itu bukan cara hidup orang Kristen. Tetapi, Paulus memilih untuk terus bekerja, dan untuk itu ia membina semangat hidupnya untuk makin dekat kepada Tuhan. Itu adalah pilihannya yang bertentangan dengan kehendaknya. Paulus juga menyemangati orang Filipi dengan keyakinannya bahwa dia akan dibebaskan untuk melihat mereka lagi. Pengalamannya, baik atau buruk, semuanya menambah kemuliaan Yesus Kristus. Pilihan orang Kristen sejati selalu untuk memuliakan Tuhan melalui hidup-matinya.

Pernahkah Anda memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan untuk diri Anda? Apakah Anda pernah berusaha untuk mencari kehendak-Nya dan bukan hanya memikirkan apa yang Anda ingini? Ataukah Anda tidak pernah memikirkan apa kehendak Tuhan karena Anda yakin bahwa pilihan Anda sia-sia adanya? Bahwa hidup Anda terus berjalan sebagai orang Kristen sekalipun tidak mengalami pergumulan untuk memilih apa yang terbaik untuk Tuhan? Dari Paulus kita belajar bahwa mencari kehendak Tuhan adalah perlu, supaya kita dapat mengambil keputusan tentang yang terbaik di antara dua pilihan yang terlihat baik. Ini lebih sulit dari memilih apa yang baik di antara dua pilihan: baik atau buruk.

Pada saat kita belum bertobat, sebelum lahir baru, kita memang sama sekali kehilangan kemampuan menghendaki harta rohani apapun yang menyertai keselamatan. Maka itu, manusia kodrati kita sama sekali menolak karunia Tuhan dan mati dalam dosa, sehingga kita tidak mampu untuk memilih apa yang baik. Kehendak bebas kita justru membuat kita makin gampang memiilih apa yang buruk.

Sebagai orang percaya, kita sekarang seharusnya adalah ciptaan yang baru. Yang lama sudah lenyap, dan yang baru sudah datang. Bila Allah membuat kita, orang berdosa, bertobat dan memindahkan kita ke posisi sebagai seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskan kita dari perhambaan kodrat di bawah dosa; dan oleh rahmat-Nya semata-mata, Ia menjadikan kita mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Mata rohani kita sudah dicelikkan. Tidak boleh ada keraguan akan hal ini; sebab jika kita bimbang, maka kita akan segan memilih tindakan yang terbaik dalam hidup kita untuk memuliakan Tuhan.

Iblis sudah tentu tidak ingin kalau kita bersemangat untuk hidup baik untuk Tuhan. Iblis mungkin selalu mengingatkan bahwa kita adalah orang berdosa. Tiap tiap kali kita ingin berbuat baik, ia akan mengingatkan kita akan berbagai kegagalan pada masa yang lalu. Sebagai akibatnya, mungkin kita merasa tidak mampu untuk memilih apa yang terbaik dalam hidup kita. Padahal Tuhan sudah memberikan Roh Kudus untuk memimbing kita.

Cara Roh Kudus bekerja bukanlah dengan memaksa kita. Karena sebagai manusia pengaruh dosa masih ada dalam kita, kita sering tidak menghendaki apa yang baik; dan bukan hanya itu saja, kita juga masih sering menghendaki apa yang jahat. Karena itu, adalah penting bagi kita untuk tetap bersemangat untuk hidup dalam bimbingan Roh Kudus, dan mau bertanggung jawab untuk memilih yang terbaik dan bertindak. Kelemahan kita bukanlah alasan untuk tidak mau memilih apa yang terbaik untuk kemuliaan Tuhan. Jika kita memang mengakui kedaulatan Tuhan, kita harus tunduk kepada perintan-Nya untuk taat kepada firman-Nya dan hidup untuk memuliakan Dia.

Kedaulatan Tuhan dan fatalisme

“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6:10


Apakah Anda percaya bahwa Tuhan adalah berdaulat dan kehendak-Nya harus terjadi? Saya yakin Anda akan menjawab “ya’ jika Anda pernah mengucapkan Doa Bapa Kami. Dalam doa itu ada kalimat ” Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga”. Setiap orang Kristen seharusnya percaya. Tetapi, setiap kali saya mendengar orang berbicara tentang iman Kristen sebagai pandangan fatalistik, saya bisa mengerti karena di antara orang Kristen sendiri ada yang percaya (seperti pengikut agama lain) dan menafsirkan bahwa Tuhan yang mahakuasa selalu memaksakan kehendak-Nya agar terjadi. Sebenarnya, jika ada satu hal yang tidak dimiliki oleh Kekristenan adalah fatalistisme.

“Fatalisme” berarti bahwa nasib manusia dikendalikan dan tidak bisa dielakkan, sehingga pada akhirnya menjadi bulan-bulanan dari takdir. Atau itu berarti bahwa hidup kita dikendalikan oleh kekuatan yang tidak berperasaan dan buta, yang hanya bekerja secara mekanistik. Bukan itu yang harus kita nyatakan ketika kita berbicara tentang kebebasan Kristen dan kedaulatan Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakuasa, tetapi bukan Tuhan yang sewenang-wenang. Bagaimana mungkin jika Tuhan sewenang-wenang, Ia justru membenci orang yang berlaku sewenang-wenang kepada sesamanya?

Dalam hal kedaulatan Tuhan dan kebebasan manusia, ada baiknya kita melihat apa yang dipercaya oleh pemimpin-pemimpin gereja di saat ini. Pendeta Tim Keller, sebagai contoh, menyatakan bahwa “Tuhan berdaulat, tetapi pilihan manusia penting”. Bagaimana bisa begitu? Pengakuan Westminster tahun 1646 Bab 9, Poin 1 memang menyatakan bahwa Allah telah menganugerahi kehendak manusia dengan kebebasan alami, yang tidak dipaksakan, atau, oleh kebutuhan mutlak apa pun dari alam, ditentukan untuk kebaikan, atau kejahatan, (Matius17:12; Yakobus 1:14; Ulangan 30: 19). Tuhan memberi kebebasan kepada manusia dan tidak memaksakan kehendak-Nya atas kebebasan itu, dalam memilih apa yang baik atau apa yang buruk.

Ini berarti bahwa manusia adalah agen bebas: (1) Bahwa manusia memiliki kekuatan sendiri; bahwa dia bergerak sendiri, dan tidak hanya bergerak seperti dia digerakkan dari luar. (2) Bahwa manusia selalu menghendaki menurut apa yang ada padanya; dan sesuai dengan pemahamannya pada saat itu, dia keinginan untuk berkehendak. (3) Manusia dilengkapi dengan alasan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, dan hati nurani untuk membedakannya yang benar dan yang salah, agar sesuai dengan keinginan dan akibatnya kehendak bisa rasional dan benar; namun keinginannya belum tentu baik, rasional, atau benar, tetapi mereka dibentuk di bawah terang akal dan hati nurani mereka, baik selaras atau bertentangan dengan mereka, sesuai dengan disposisi kebiasaan atau karakter moral jiwa mereka sendiri.

Jika manusia adalah bebas untuk memilih apa yang baik atau buruk menurut pemahamannya, di manakah kedaulatan Tuhan untuk bisa membuat apa pun terjadi sesuai dengan kehendak-Nya? Teolog RC Sproul menjelaskan bahwa pertama-tama, ketika kita berbicara tentang kedaulatan Tuhan, kita mengatakan bahwa Tuhan benar-benar berkuasa dan berdaulat atas segala sesuatu. Tidak ada yang terjadi terlepas dari kehendak-Nya, dalam arti tertentu. Namun, dalam konteks kedaulatan Allah, Allah dapat mengoperasikan kekuasaan berdaulat itu dengan berbagai cara. Tuhan dapat mengoperasikan kekuasaan kedaulatan-Nya secara aktif atau pasif.

Secara aktif, Tuhan dapat menentukan dengan membentuk peristiwa sejarah untuk mewujudkan apa yang akan Dia wujudkan. Dia dapat memerintahkan dunia secara sepihak untuk menjadi ada. Dia dapat menghidupkan kembali orang mati dengan kuasa perintah-Nya. Itulah seberapa besar kekuatan dan kasih yang Dia miliki. Dan kita membicarakannya dalam istilah kemahakuasaan, yaitu kekuatan mutlak atas tatanan ciptaan.

Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Yeremia 18: 4

Allah juga menjalankan kuasa kedaulatan itu melalui operasi pasif melalui apa yang kita sebut sebagai “kuasa penahan”. Artinya, Tuhan dapat memberi kita kebebasan dalam batas-batas dan masih membawa kita ke mana kita ingin pergi atau membawa dunia ke mana Dia ingin pergi tanpa harus mengambil semua kebebasan kita untuk memilih dan kemauan kita. Pada pihak lain, Tuhan dapat menahan tindakan kita atau menyajikan peluang yang Dia tahu akan kita pilih jika Dia menempatkannya di hadapan kita. Itu karena Tuhan bukan saja mahakuasa, tetapi juga mahatahu dan mahabijaksana. Dia tetap bekerja sekalipun melalui cara pasif.

Anda mungkin meminta sebuah contoh tentang itu dan bagaimana Alkitab berbicara tentang kedaulatan Tuhan dan kebebasan manusia. Karena baru saja kita merayakan hari kematian dan kebangkitan Yesus, marilah kita meneliti apa yang dilakukan Tuhan.

Yesus harus mati, dan Alkitab mengatakan bahwa tidak mungkin dalam konteks kematian-Nya bahwa tulang-tulang Yesus dipatahkan. Apakah Anda ingat ayatnya? Yohanes 19:36. Tidak mungkin tulang Kristus dipatahkan. Dalam arti apa tidak mungkin tulang-tulang-Nya dipatahkan? Apakah karena manusia Yesus memiliki kekuatan di kaki-Nya yang secara intrinsik tidak bisa dihancurkan? Atau apakah tulang Yesus secara intrinsik rapuh seperti tulang manusia mana pun?

“Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Yohanes 19: 32-34

Praktik Romawi yang normal adalah membiarkan pria dan wanita yang disalibkan di kayu salib sampai mereka mati — dan ini bisa memakan waktu berhari-hari — dan kemudian membiarkan tubuh mereka yang membusuk tergantung di sana untuk dimakan oleh burung nasar. Jika ada alasan untuk mempercepat kematian mereka, para prajurit akan memukul kaki korban dengan palu besi (praktik yang disebut, dalam bahasa Latin, crurifragium). Terlepas dari syok dan kehilangan darah lebih banyak, langkah ini mencegah korban mendorong dengan kakinya agar rongga dadanya tetap terbuka. Ketika kaki dipatahkan, lengan kemudian segera menjadi tidak kuat, dan terjadilah asfiksia (kondisi ketika oksigen dalam tubuh berkurang yang bisa mengakibatkan penurunan kesadaran dan bahkan kematian).

Bukan karena Yesus memiliki struktur kerangka tubuh yang secara intrinsik tidak dapat dihancurkan yang membuat tulang-tulangnya tidak mungkin dipatahkan. Itu karena Tuhan telah memutuskan dengan otoritas kedaulatan-Nya bahwa tulang-tulang Putra terkasih-Nya tidak akan dipatahkan. Dan tidak ada kekuatan di langit dan bumi yang dapat menolak ketetapan Tuhan itu.

Jika prajurit itu mengambil palu dan menghantamkannya pada kaki Yesus, Tuhan akan “menggerakkan langit dan bumi” untuk menahan pilihan manusia itu agar tidak membawa hasil yang sebenarnya. Tetapi seperti kita baca, Tuhan tidak perlu bertindak karena prajurit itu mengambil keputusan untuk tidak mematahkan kaki Yesus. Bukan karena Tuhan memaksa prajurit itu untuk berpikir demikian.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu memakai pandangan fatalis untuk menjelaskan kedaulatan Tuhan. Tuhan berdaulat, tetapi keputusan manusia adalah penting supaya kebesaran Tuhan dinyatakan. Pandangan fatalistik bukan meninggikan kedaulatan Tuhan, tetapi sebaliknya merendahkan Dia, karena kita membatasi cara kerja-Nya. Kita tidak dapat menharapkan Tuhan berindak atas nama diri kita, karena setiap manusia harus bertanggung jawab atas hidupnya; dalam setiap tindakan kita baik itu baik ataupun buruk. Karena itulah kita harus berusaha mencari kehendak Tuhan sebelum kita mengambil keputusan. Jika kita yang sudah menerima Roh Kudus tidak bertindak atau tidak mau berbuat baik, itu pun adalah tindakan yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan.

Jika kita tidak mau bertindak karena kita menganggap Tuhan adalah kejam dan semena-mena, itu pun keputusan yang kita pilih dan harus dipertanggungjawabkan. Jika kita memandang Tuhan sebagai Oknum yang tidak memberi kebebasan memilih, itu pun keputusan kita yang tidak menghargai kebijaksanaan Tuhan yang sudah menciptakan kita sebagi gambar-Nya. Tuhan yang berdaulat tidak akan terkejut jika kita membuat tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya; sebaliknya kita akan terkejut jika apa yang kita kehendaki ternyata tidak terjadi karena kita mengabaikan firman-Nya.

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3: 5-6

Yesus bangkit untuk membangkitkan kita dari kematian rohani

“Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.” 1 Petrus 2: 2-3

Hari ini hari Paskah, hari kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus adalah kunci iman kita, karena jika Ia tidak dibangkitkan semua apa yang kita percaya dan harapkan akan menjadi sia-sia (1 Korintus 15: 17). Jika Yesus tidak bangkit, kita akan tetap hidup dalam dosa karena tidak ada yang dapat membasuhnya. Karena Yesus bangkit, kita akan dibangkitkan juga. Karena kita benar-benar sudah mengecap kebaikan Tuhan, kita beroleh keselamatan.

Seperi bunyi ayat di atas, walaupun keselamatan adalah satu hal utama dalam iman, sebagian besar orang Kristen tentunya juga mengharapkan bahwa mereka akan dapat menempuh hidup baru yang memuliakan Tuhan. Mereka ingin bertumbuh dalam iman, berbahagia dalam Tuhan, dan berbuah-buah dalam hidup mereka sebab itu adalah yang dihendaki Tuhan. Sayang sekali, tidak semua orang Kristen mempunyai keinginan yang sama. Mengapa begitu?

Ancaman besar terhadap keselamatan dan pertumbuhan kita menuju keselamatan adalah apa yang disebut fatalisme rohani—kepercayaan atau perasaan bahwa hanya ini yang pernah saya alami tentang Allah— tingkat intensitas spiritual yang saya miliki sekarang adalah satu-satunya yang dapat saya miliki sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang lain mungkin memiliki hasrat yang kuat akan Tuhan dan mungkin memiliki pengalaman yang mendalam tentang kebahagiaan pribadi di dalam Tuhan, tetapi saya tidak akan pernah memilikinya karena … yah, hanya karena Tuhan sudah menentukan ukuran iman saya.

Fatalisme spiritual ini adalah perasaan bahwa kekuatan genetik, kekuatan keluarga, kekuatan budaya, kekuatan pengalaman masa lalu, dan keadaan sekarang terlalu kuat untuk memungkinkan saya untuk berubah dan menjadi lebih bersemangat untuk Tuhan (Titus 2:14), atau lebih bersemangat (Roma 12:12), atau lebih bergembira di dalam Allah (Mazmur 37:4), atau lebih lapar akan persekutuan dengan Kristus (Yohanes 6:35), atau lebih betah dengan hal-hal rohani (Roma 8:5), lebih berani (2 Timotius 1:7), atau lebih bertekun dan bersukacita (Roma 12:12), atau penuh harapan (1 Petrus 1:13).

Fatalisme spiritual adalah kejadia tragis di dalam gereja, dan sering dikhotbahkan oleh sebagian pendeta. Dengan kedok ketundukan kepada kedaulatan Tuhan, pesan-pesan mereka membuat jemaat terjebak. Itu menghilangkan harapan dan impian akan perubahan dan pertumbuhan. Itu menekan kebahagiaan hidup, yang merupakan bagian pertumbuhan iman. Ini seperti mengatakan kepada seorang gadis kecil yang merasa kikuk karena merasa tubuhnya tidak proporsional: begitulah dirimu, dan kamu akan selalu seperti itu, padahal sebenarnya dia ditakdirkan untuk tumbuh dan berubah. Adalah sangat tragis untuk meyakinkannya tentang semacam fatalisme fisik—bahwa pertumbuhannya terhenti tepat di usia 13 tahun. Dalam hal ini, fatalisme spiritual adalah jauh lebih buruk. Itu karena hal-hal yang lebih besar sedang dipertaruhkan, yaitu selama di dunia kita mungkin akan tidak pernah mencapai titik di mana kita telah sampai pada kedewasaan iman seperti yang kita alami pada tubuh fisik kita. Itu adalah karena kesalahan kita sendiri, yang tidak dapat mengerti adanya kedaulatan Tuhan dan tanggung jawanb manusia.

Dalam ayat di atas Tuhan memerintahkan kita untuk tidak menjadi fatalis secara rohani. Petrus berkata dalam ayat 2: “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohan.” Kata yang sangat penting di sini adalah “selalu ingin” —ini adalah perintah untuk menginginkan. Artinya adalah jika Anda merasa mandek karena Anda tidak memiliki hasrat spiritual yang seharusnya, teks ini mengatakan, Anda tidak boleh mandek! Dikatakan, “Jadilah seperti bayi!—Dapatkan keinginan yang belum Anda miliki.” Jika Anda saat ini tidak menginginkan susu Firman, mulailah menginginkannya! Ini adalah tanggung jawab Anda.

Bukankah itu luar biasa? Perintah Tuhan untuk menginginkan! Perintah untuk merasakan kerinduan yang tidak kita rasakan. Perintah untuk merasakan keinginan yang tidak kita miliki. Adakah yang lebih bertentangan dengan fatalisme spiritual daripada perintah itu? Fatalisme mengatakan, saya tidak bisa menciptakan keinginan. Jika Tuhan tidak memberi keinginan, saya tidak akan punya. Karena itu saya tidak merasakan hal-hal yang dirasakan oleh para pemazmur ketika mereka berkata, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang mengalir, demikianlah jiwaku merindukan-Mu, ya Tuhan” (Mazmur 42:1). Saya tidak pernah merasa seperti itu terhadap Tuhan, maka itu tentu sudah kehendak Tuhan. Saya tidak bisa seperti para pemazmur! Itulah yang dikatakan fatalisme spiritual. Fatalisme spritual memadamkan api Roh Kudus yang sudah diberikan kepada setiap orang percaya.

Tetapi Tuhan berkata (dalam ayat 2), “Inginkan susu murni dari firman!” Sekarang, sebelum Anda mengajukan segala macam keberatan, seperti, bagaimana Tuhan bisa memerintahkan saya untuk memiliki keinginan? Apa yang dapat saya lakukan untuk mematuhi perintah seperti itu? Bagaimana cara menghasilkan keinginan? Seluruh masalah saya adalah bahwa saya tidak memiliki kekuatan yang saya butuhkan. Dan Tuhan hanya mengatakan kepada saya untuk menginginkan! Itu mungkin alasan kita.

Tuhan Yesus pernah juga menyuruh orang lumpuh untuk berjalan. Dan orang itu kemudian menurut, lalu bisa berjalan. Bagaimana jika orang itu mempunyai falatlisme rohani? Dapatkah ia berjalan? Tentu tidak. Uluran tangan Tuhan menuntut kita untuk menyambutnya. Iman bukan saja membawa keselamatan, tetapi juga membawa perubahan pandangan hidup jika kita mau taat kepada firman-Nya. Yesus sudah bangkit untuk membangkitkan kita dari kematian rohani kita dan Ia akan menolong kita untuk bisa hidup baik untuk memuliakan nama-Nya. Selamat hari Paskah!

“Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.” Ibrani 13: 20-21

Jadi, apa itu hiper-Calvinisme? Apakah itu kesalahan serius?

Saya menulis artkel ini, yang saya sadur secara bebas dari tulisan Pdt. Ronald Hanko dari gereja Covenant Protestant Reformed Church, karena ada satu kejadian yang tidak saya duga. Menyambut hari Paskah 2023, baru saja saya mendapat komentar dari seorang teman bahwa penekanan saya akan perlunya manusia untuk bertobat (temasuk orang Kristen) dan untuk hidup baik menurut Firman Tuhan adalah pelaksanaan kehendak bebas yang bersifat kedagingan. Saya terkejut karena baru sekali ini saya mendengar komentar semacam ini, tetapi saya tidak heran bahwa memang ada orang Kristen yang berpandangan sedemikian.

Saya akan menjelaskan, pertama, bahwa ada yang namanya hiper-Calvinisme, meskipun beberapa orang akan menyangkalnya. Mereka yang menyangkalnya biasanya adalah orang yang memang bertendensi hiper-Calvinis. Secara historis, nama tersebut telah diterapkan kepada mereka yang menyangkal bahwa perintah Injil untuk bertobat dan percaya harus diberitakan kepada semua orang.

Seorang hiper-Calvinis (secara historis dan doktrin) adalah seseorang yang, karena percaya bahwa tidak semua orang bisa dipilih dan ditebus Tuhan, tidak akan memerintahkan semua orang yang mendengar Injil untuk bertobat dan percaya. Dia adalah seseorang yang memulai dari premis yang benar tetapi menarik kesimpulan yang salah—yang tidak percaya bahwa “Allah memerintahkan semua orang di mana pun untuk bertobat” (Kis. 17:30).

Maka, seorang hiper-Calvinis sejati adalah orang yang percaya dengan benar pada kedaulatan Allah, predestinasi ganda dan khususnya penebusan Kristus, tetapi yang menyangkal kasih universal Allah dan kehendak Allah untuk menyelamatkan semua manusia. Namun dia menyimpulkan dengan salah bahwa karena Allah telah menentukan siapa yang akan diselamatkan, Ia mengutus Kristus hanya untuk mereka, dan memberikan kepada mereka keselamatan sebagai pemberian cuma-Cuma. Oleh karena itu hanya orang pilihan yang harus diperintahkan untuk bertobat dan percaya kepada pemberitaan Injil.

Ini, saya percaya, adalah kesalahan serius. Itu adalah kesalahan yang secara efektif menghancurkan pemberitaan Injil dan penginjilan—sebuah kesalahan yang harus disingkapkan dan dihindari. Doktrin semacam ini juga membuat orang Kristen kurang bersemangat untuk menginjil secara bebas, dan juga membuat mereka membenci orang yang tidak sefaham dengan mereka.

Inti dari hyper-Calvinisme, oleh karena itu, adalah penolakan terhadap apa yang disebut “kewajiban iman” (duty faith) dan “kewajiban pertobatan”  (duty repentance) yaitu, bahwa itu adalah tugas dan kewajiban yang sungguh-sungguh dari semua orang yang mendengar Injil untuk bertobat dan percaya. Hyper-Calvinisme menyimpulkan bahwa, karena manusia tersesat dalam dosa dan tidak mampu dari diri mereka sendiri untuk bertobat dan percaya, adalah suatu kesalahan untuk mengajak mereka untuk melakukannya. Ayakan seperti itu akan menyiratkan bahwa orang dapat mempunyai kemampuan untuk bertobat dan percaya, dan itu menandakan adanya kehendak manusia di luar kehendak Tuhan.

Maka, kaum hiper-Calvinis membuat kesalahan yang sama seperti mereka yang sangat menekankan kehendak bebas, hanya saja kaum hiper-Clavinis menarik kesimpulan yang berbeda. Keduanya berpikir bahwa untuk memerintahkan atau menuntut pertobatan dan iman dari orang berdosa yang mati harus menyiratkan bahwa orang berdosa tersebut tidak mati dan memiliki kemampuan untuk bertobat dan percaya. Mereka yang menekankan kehendak bebas mengatakan, “Mengajak orang untuk bertobat harus menyiratkan kemampuan, oleh karena itu, orang memiliki kemampuan.” Seorang hyper-Calvinis berkata, “Mengajak orang untuk bertobat harus menyiratkan kemampuan, oleh karena itu, kami tidak akan memerintah siapa pun kecuali yang terpilih.”

Ini berarti bahwa sementara seorang hiper-Calvinis sejati akan mengkhotbahkan “fakta-fakta” ayat Alkitab kepada semua orang yang mau mendengar (dan bersikeras bahwa dia memberitakan Injil), dia tidak akan mengajak audiensi untuk bertobat dan percaya. Perintah-perintah itu, menurut mereka, harus dikhotbahkan hanya kepada mereka yang menunjukkan bukti sebagai “orang-orang berdosa yang berakal sehat”, yaitu orang-orang berdosa yang telah diinsafkan oleh pekerjaan Roh Kudus.

Saya menolak gagasan ini karena berbagai alasan. Pertama, sulit untuk membayangkan bagaimana seseorang, tanpa ilham ilahi, dapat yakin bahwa dia berkhotbah hanya kepada “orang-orang berdosa yang berakal sehat” untuk membawa perintah Injil dengan percaya diri. Oleh karena itu, pada kenyataannya, perintah Injil jarang, jika pernah, terdengar dalam khotbah hiper-Calvinis. Khotbah-khotbah mereka hanya seputar kedaulatan Tuhan dalam memilih orang yang dikehendaki-Nya, dan tentang Tuhan yang tidak perlu memakai alasan untuk menghukum orang yang tidak dipilih-Nya.

Kedua, hyper-Calvinisme mengubah perintah bertobat dan percaya menjadi perintah untuk terus bertobat dan percaya, atau bertekun dalam bertobat dan percaya. Yang disebut “orang-orang berdosa yang berakal sehat”, satu-satunya yang dapat dipanggil untuk bertobat dan percaya adalah mereka yang sudah mulai melakukannya melalui pekerjaan rahasia Roh Kudus. Iman yang diminta, dalam hal ini, bukanlah iman yang menyelamatkan dalam arti kata yang paling benar dan terdalam, yaitu, iman yang membawa seseorang ke dalam persekutuan dengan Kristus, yang membenarkan dia dan memberinya keselamatan, tetapi hanya iman yang terus terwujud sendiri dalam buah jaminan dan harapannya.

Dalam hubungan inilah hiper-Calvinis sejati biasanya mengajarkan bahwa orang tersebut dibenarkan sepenuhnya dalam kekekalan dan bahwa pembenaran oleh iman hanya melibatkan jaminan pembenaran. Jadi, iman yang diminta dalam Injil pada kenyataannya tidak membenarkan kita di hadapan Allah tetapi hanya menjamin pembenaran yang telah terjadi. Peran dan tanggung jawab manusia dalam kehidupan Kristen dianggap tidak ada. Ini sebabnya di zaman ini banyak kita temui orang Kristen “kedagingan” yang hidupnya tidak nampak seperti orang yang sudah beriman.

Dalam hubungan ini , tidaklah mengherankan bahwa para hyper-Calvinis juga dituduh, dan itu memang sepatutnya, menganut faham antinomianisme (melawan hukum atau perintah) mengenai iman. Mereka tidak menganggap serius perintah untuk bertobat dan beriman, justru karena panggilan untuk beriman bagi mereka hanyalah panggilan untuk yakin akan imannya. Mereka juga mengabaikan perlunya untuk hidup baik sesuai dengan firman Tuhan. Ini adalah pandangan sesat yang sangat berbahaya, karena bisa menghancurkan norma-norma dan etika-etika hidup baik orang Kristen yang seharusnya ditaati orang percaya untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Atas dasar inilah saya dengan tegas menolak pandangan hiper-Calvinisme.

Penyangkalan terhadap “kewajiban iman”, “kewajiban pertobatan” dan “kewajiban memilih hidup baik”  ini jelas bertentangan dengan Kitab Suci. Kitab Suci mengatakan dalam Kisah Para Rasul 17:30 bahwa “Allah sekarang memerintahkan semua orang di mana saja untuk bertobat.” Yohanes Pembaptis dalam khotbahnya bahkan memanggil orang Farisi dan Saduki yang tidak percaya untuk bertobat (Mat. 3:8; Luk. 3:8). Yesus, juga, memanggil semua orang untuk bertobat dalam pemberitaan-Nya (Mat. 4:17) dan mencela kota-kota Galilea karena mereka tidak bertobat (Mat. 11:20). Ketika Dia mengutus 70 orang, Dia juga mengutus mereka kepada mereka yang menolak Injil dan bahkan memperingatkan mereka tentang penolakan ini (Markus 6:10-11), namun kita membaca bahwa mereka pergi dan memberitakan bahwa manusia harus bertobat (ayat 12).

Juga tidak ada bukti bahwa ketika Petrus, di bait suci setelah penyembuhan orang lumpuh, berkhotbah “bertobatlah dan bertobatlah” (Kis. 3:19), bahwa dia berkhotbah hanya kepada “orang-orang berdosa yang berakal sehat.” Tentu saja, Simon si tukang sihir bukanlah “orang berdosa yang bijaksana,” ketika Petrus berkata kepadanya, “Karena itu bertobatlah dari kejahatan ini, dan berdoalah kepada Tuhan, jika mungkin pikiran hatimu dapat diampuni” (Kis. 8:22).

Beberapa perikop yang telah dikutip (Kis. 3:19; 8:22) juga menyiratkan bahwa Injil menuntut iman dari semua orang yang mendengarnya. Iman adalah bagian dari pertobatan dan seseorang tidak dapat berdoa kepada Allah memohon pengampunan tanpa juga berdoa dengan iman. Demikian pula, tidak mungkin Yesus mengutuk orang Farisi karena tidak percaya, jika mereka tidak dituntut untuk percaya (Mat. 21:25; Luk. 22:67; Yoh. 10:25-26).

Hiper-Calvinis menyiasati ayat-ayat ini dengan berbicara tentang berbagai jenis pertobatan dan iman. Dia berbicara tentang “pertobatan Yahudi”, “pertobatan reformasi”, “pertobatan tidak langsung”, “pertobatan kolektif”, dll., dan mengklaim bahwa Kitab Suci juga menyerukan berbagai jenis iman. Jadi mereka bersikeras bahwa banyak dari ayat-ayat yang telah kita rujuk hanya untuk jenis iman dan pertobatan seperti itu, tetapi bukan untuk menyelamatkan pertobatan dan iman.

Saya tidak menyangkal, tentu saja, bahwa Kitab Suci berbicara tentang “iman” dan “pertobatan” yang tidak menyelamatkan (Kis. 8:13; II Kor. 7:10; Yakobus 2:19; Ibr. 12:17). Tapi ini, seperti yang kita tahu, hanyalah kemunafikan, dan tidak disukai Tuhan. Maka, mereka tidak mungkin menjadi sesuatu yang Tuhan minta. Bagaimana mungkin Allah, yang tidak berdusta, berbicara melalui Injil, memanggil manusia kepada pertobatan atau iman yang tidak tulus dan menyelamatkan? Tidak ada bukti sedikit pun di dalam Kitab Suci bahwa Dia juga melakukannya.

Oleh karena itu, kita harus percaya bahwa Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 17:30 harus diperhatikan dengan serius oleh mereka yang memberitakan Injil. Perintah untuk bertobat, percaya dan taat kepada Tuhan adalah bagian integral dari Injil, tidak hanya menyangkut umat pilihan Allah tetapi juga menyangkut  semua orang. Semua yang datang mendengarkan khotbah HARUS mendengar perintah itu! Tidak hanya sesuai dengan kehendak Allah bahwa itu diberitakan kepada semua orang tanpa pandang bulu tetapi itu perlu sejauh menyangkut Injil itu sendiri. Pertobatan dan ketaatan adalah sebuat paket yang diharuskan Tuhan. Menyangkal hal ini berarti melucuti Injil dari kekuatannya, dan menjadikannya pertunjukan sandiwara saja.

“Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.”  Kisah Para Rasul 17:30

Hidup kita adalah sebuah pernyataan rasa syukur

“Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah. Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” 1 Petrus 1: 21-22

Apa manfaatnya jika kita merayakan hari kematian dan kebangkitan Kristus? Bagi kebanyakan orang, itu hanya berarti hari libur yang bisa dinikmati. Bagi sebagian orang yang mengaku Kristen, itu mungkin adalah keharusan untuk pergi ke gereja sekalipun biasanya mereka jarang ke gereja. Dan bagi sebagian orang Kristen arti kematian dan kebangkitan Kristus masih menjadi pergumulan setiap hari. Apa yang harus mereka lakukan dalam hidup setelah menyadari betapa besar kasih Allah kepada manusia yang berdosa?

Petrus, rasul Yesus, menulis surat kepada orang Kristen yang menghadapi penganiayaan untuk menghibur mereka dengan kebenaran tentang siapa mereka di dalam Kristus—anak-anak Allah dengan segala alasan untuk bersukacita dalam keselamatan mereka dan kemuliaan masa depan dalam kekekalan. Selanjutnya, dia mendorong mereka untuk hidup seperti orang-orang kudus Tuhan yang sudah ada dengan menaati Tuhan sekarang, saling mengasihi dengan sungguh-sungguh, dan menaruh semua harapan mereka pada kehidupan tanpa akhir yang akan datang.

Yesus telah dinyatakan sebagai Anak Allah dan korban bagi dosa demi kita, demikian Petrus menulis. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus kita telah menjadi percaya kepada Allah. Petrus mendengar Yesus sendiri mengatakan hal yang sama dalam Yohanes 14:6–7: Tidak seorang pun datang kepada Bapa kecuali melalui Putra. Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Banyak orang mungkin berkata bahwa mereka percaya kepada Tuhan, tetapi hanya melalui percaya kepada Kristus kita benar-benar menaruh iman kita kepada Bapa.

Rencana Tuhan tidak berhenti dengan pengorbanan Putra Tunggal-Nya sebagai pembayaran dosa. Petrus berkata bahwa Allah juga membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan memuliakan Dia. Menggambarkan kemuliaan yang diberikan kepada Yesus oleh Bapa, Paulus menulis bahwa Allah “… sangat meninggikan Dia dan menganugerahkan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Filipi 2:9).

Jadi iman dan pengharapan kita ada di dalam Tuhan. Dengan cara yang sama Allah memiliki rencana untuk kehidupan dan kematian Kristus dan kebangkitan dan kemuliaan, Dia memiliki rencana untuk kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kemuliaan kita. Kita percaya Allah yang melakukan semua itu di dalam dan melalui Kristus dan tahu Dia akan melakukan hal yang sama di dalam dan melalui kita. Harapan kita ada di tempat yang tepat.

Perikop 1 Petrus 1:13–25 menggambarkan bagaimana orang Kristen—mereka yang dilahirkan kembali oleh Allah—harus hidup sekarang. Kita harus mengambil keputusan untuk mau menaati perintah Tuhan. Bukan menantikan Tuhan untuk bertindak untuk kita. Kita harus secara mental terlibat dalam menetapkan semua harapan kita pada kasih karunia Allah di masa depan bagi kita.

Pagi ini kita harus memilih untuk bertindak sebagai umat Allah, menolak keinginan jahat yang mendorong tindakan kita sebelum kita mengetahuinya dengan lebih baik. Pilihan kita penting. Tuhan kita sangat menghargai hidup kita, membayarnya dengan darah Kristus. Karena Tuhan telah membuat kita mampu melalui Roh Kudus, kita sekarang harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk hidup baik dan saling mengasihi. Selamat hari Paskah!

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan

“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” Lukas 18: 7

Bacaan: Lukas 18: 1-8, Markus 14: 66-72, Yohanes 21: 1- 19

Ketika Yesus diadili menjelang saat penyalibannya, Petrus secara diam-diam menyelinap di halaman. Lalu datanglah seorang hamba perempuan Imam Besar, dan ketika perempuan itu melihat Petrus sedang berdiang, ia menatap mukanya dan berkata: “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.” Tetapi Petrus menyangkalnya dan berkata: “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud.” Pada saat itu terdengarlah suara kokok ayam. Ketika hamba perempuan itu melihat Petrus lagi, berkatalah ia pula kepada orang-orang yang ada di situ: “Orang ini adalah salah seorang dari mereka. Tetapi Petrus menyangkalnya pula. Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ berkata juga kepada Petrus: “Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau seorang Galilea!” Maka Petrus bersumpah: “Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!” Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu menangislah ia tersedu-sedu (Markus 14: 66-72). Petrus sudah berusaha keras untuk mengasihi dan setia kepada Yesus, tetapi jalan terlihat buntu baginya.

Tentunya Anda masih ingat akan peribahasa “Di Mana Ada Kemauan, Di Situ Ada Jalan”. Pepatah ini sangat terkenal, tetapi di zaman ini sering disalah gunakan. Bagi masyarakat umum yang ingin mendapatkan sesuatu yang baik dan halal, rasanya pepatah ini sangat sulit diyakini; tetapi bagi yang biasa berbuat jahat, menipu, dan melawan hukum, peribahasa ini rasanya cocok sekali. Bagaimana makna peribahasa ini untuk Petrus dan orang Kristen seperti kita? Kelihatannya Petrus dengan sangat mudah menghindari risiko ditangkap dengan cara berbohong. Ada kemauan ada jalan? Ya, dan memang untuk berbuat jahat, kemauan yang kecil saja sudah cukup untuk membuahkan hasil yang diharapkan.

Sebenarnya ada banyak ayat Alkitab mendorong ketekunan dan tekad, tetapi itu dalam konteks keterlibatan Tuhan dalam situasi tersebut. Kita harus tetap teguh dalam iman atau doa dalam mengejar tujuan yang diberikan Tuhan kepada kita – dan bukannya hanya mengandalkan kekuatan, atau usaha diri sendiri. Ini ada kaitannya dengan istilah “kehendak bebas” yang sering didiskusikan umat Kristen. Pada hakikatnya ada beberapa hal yang bertalian dengan kehendak dan tekad manusia:

  • manusia bebas untuk memilih,
  • manusia seharusnya memilih apa yang dikehendaki Tuhan,
  • karena adanya dosa, manusia tidak akan memilih apa yang baik tetapi apa yang jahat, nikmat, atau mudah,
  • manusia tidak akan mengerti apa kehendak Tuhan jika Tuhan tidak mencelikkan mata rohaninya,
  • Tuhan tidak memaksa manusia untuk memilih apa yang dikehendaki-Nya,
  • manusia bertanggung jawab atas pilihannya, dan
  • hanya Tuhan yang memungkinkan terjadimya apa yang dipilih.

Manakah ayat Alkitab yang mendukung peribahasa di atas dalam hal bertekad untuk mendapatkan apa yang baik? Salah satu perikop yang cocok adalah kisah Yesus tentang janda yang gigih menuntut haknya dan hakim yang tidak benar (Lukas 18:1-8). Meskipun hakim biasanya tidak mengizinkan siapa pun untuk memberi tahu dia apa yang harus dilakukan, dia mengabulkan permintaan janda itu supaya dia bebas dari gangguan terus-menerus. Yesus berkata bahwa, bahkan jika orang jahat seperti itu dapat dipengaruhi oleh keuletan manusia, maka Allah yang pengasih akan lebih rela dan cepat membantu mereka yang memintanya. Ini tentunya bergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah sendiri.

Dalam perumpamaan tentang janda yang gigih itu, orang miskin yang tidak berdaya (janda) terus meminta orang yang korup dan berkuasa (hakim) untuk menegakkan keadilan baginya. Perumpamaan tersebut mengasumsikan ajaran Yohanes Pembaptis bahwa orang yang memegang posisi kekuasaan dan kepemimpinan diwajibkan untuk bekerja dengan adil, terutama atas nama orang miskin dan lemah. Tetapi Yesus memfokuskan perumpamaan itu pada poin yang berbeda, bahwa kita “selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Lukas 18:1).

Yesus mengidentifikasi para pendengar – kita – dengan wanita itu, dan oknum yang berkuasa – Tuhan – dengan hakim yang korup, kombinasi yang aneh. Tentunya Yesus tidak bermaksud bahwa Allah itu seperti hakim yang jahat karena inti perumpamaan itu adalah bahwa jika kegigihan akan terbayar oleh manusia yang rusak dengan kekuatan yang terbatas, berapa banyak lagi yang akan terbayar oleh Tuhan yang adil dengan kekuatan yang tidak terbatas.

Tujuan dari perumpamaan ini adalah untuk mendorong orang Kristen untuk bertekun dalam iman mereka melawan segala rintangan dan godaan. Tapi itu juga memiliki dua aplikasi untuk umat Kristen. Tugas seorang beriman adalah bekerja menuju apa yang baik di setiap saat. Kita memang tidak bisa memperbaiki setiap kesalahan di dunia yang bisa menghalangi kita. Namun kita tidak boleh putus asa, dan tidak pernah berhenti bekerja untuk kebaikan yang lebih besar di tengah sistem yang tidak sempurna di mana pekerjaan kita terjadi. Kita tidak boleh hanya berserah kepada Tuhan dan mengharapkan Dia untuk mengadakan intervensi secara ajaib dan langsung dalam setiap peristiwa. Setiap manusia sudah ditetapkan untuk bekerja dengan gigih dalam hidupnya.

Poin kedua adalah bahwa hanya Tuhan yang dapat mewujudkan keadilan di dunia yang rusak. Itu sebabnya kita harus berdoa dan tidak menyerah dalam hidup dan pekerjaan kita, sekalipun “pasrah” mungkin dianggap sebagian orang sebagai sebuah tanda ketaatan kepada kehendak Tuhan. Sampai sekarang Tuhan tetap bekerja menegakkan keadilan-Nya di dunia yang rusak, sama seperti Tuhan dapat memberikan kesembuhan yang ajaib di dunia yang sakit. Tentu kita masih ingat bagaimana tembok Berlin terbuka, rezim apartheid runtuh, dan perdamaian terjadi di berbagai tempat. Semua itu terjadi melalui perjuangan manusia yang gigih dan tujuan manusia yang disetujui. Pada pihak yang lain, Alkitab juga menunjukkan bahwa, jika Tuhan tidak terlibat atau menyetujui suatu usaha, tidak ada upaya manusia yang akan membuatnya berhasil (Mazmur 127:1-2).

Petrus yang menyangkali Yesus tiga kali, kemudian bertemu dengan Yesus yang sudah bangkit di pantai danau Tiberias (Yohanes 21: 1- 19). Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: ”Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: ”Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: ”Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: ”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: ”Ikutlah Aku.”

Bagaimana Petrus yang pengecut kemudian menjadi rasul yang berani mati? Petrus mempunyai kemauan tetapi kemauan saja tidak cukup untuk membuatnya menjadi orang yang setia kepada Yesus. Ia mengalami pengalaman pahit dengan usahanya untuk mengasihi Yesus. Ia gagal untuk memuliakan Yesus dengan penyangkalannya. Tetapi, kebangkitan Yesus membuat ia sadar bahwa jika ia mau berusaha dengan tulus hati dan mau menurut kehendak Tuhan, ia akan berhasil. Tiga kali Yesus bertanya apakah Petrus mengasihi Dia, dan tiga kali Petrus menjawab dengan “ya”. Dengan itu, Yesus menyuruhnya untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Ketekunan Petrus pada akhirnya berjumpa dengan belas kasihan Yesus yang memberi Petrus keberanian untuk masa depan, sekalipun ia harus mati sebagai seorang martir demi kemuliaan Tuhan.

Hari Jumat ini adalah hari kematian Yesus. Jika kita melihat penderitaan Kristus di saat itu, mungkin kita bisa hilang harapan seperti Petrus karena kita sudah berkali-kali gagal untuk hidup sebagai umat-Nya yang setia. Tetapi kita sekarang tahu bahwa Yesus bangkit pada hari yang ketiga, dan dengan itu terbukti bahwa Ia adalah Anak Allah yang sanggup untuk memberi kita bimbingan dan pertolongan bagi kita, jika kita mau mengikut Dia dengan kesungguhan dan tekad yang besar. Tuhan sendiri akan melihat tekad kita untuk berjuang menjadi umat-Nya yang setia, dan Ia akan mendengar doa-doa kita dan mau menjadikan kita umat-Nya yang bisa hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Setiap orang punya tanggung jawab kepada Allah

Karena ada tertulis:”Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah.”Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. Roma 14:11-12

Bacaan: Roma 14:1-12

Salah satu tragedi terbesar dalam gereja Kristen selama berabad-abad adalah gagasan adanya nasib, yaitu bahwa apa pun yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Menurut pandangan ini, pernyataan bahwa Tuhan mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, berarti bahwa Tuhan sebenarnya telah memakai sebuah naskah, dan hanya dapat mengikuti jalan yang telah ditetapkan-Nya sampai ke detil yang sekecil-kecilnya. Tuhan yang tidak dapat bertindak apa-apa, kecuali jika Ia membuat segala sesuatu menurut kehendak-Nya. Dengan demikian Tuhan digambarkan seperti manusia yang terbatas kemampuannya.

Adalah menyedihkan bahwa banyak orang Kristen yang masih percaya pada bentuk-bentuk “fatalisme Kristen” akan menyatakan bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Tuhan dan bahkan didatangkan Tuhan. Apa yang baik dan apa yang jahat, terjadi karena kehendak Tuhan. Dan Tuhan yang mahasuci menentukan terjadinya apa yang baik dan apa yang jahat di dunia. Dengan demikian, orang-orang yang percaya bahwa segala sesuatu sudah ditentukan dari awalnya, kurang berminat untuk berubah dalam cara hidup mereka. Dengan semboyan “pasarah pada nasib” atau “tunduk kepada kehendak Tuhan”, apa pun yang akan terjadi, akan terjadi. Semboyan itu bukan hanya dipakai oleh pemikut agama lain, tetapi juga ada dalam sebagian pemeluk agama Kristen dalm berbagai bentuk.

Keyakinan bahwa semua yang terjadi di dunia adalah sesuai dengan kehendak Tuhan bukannya membuat mereka mengasihi sesama manusia. Sebaliknya, karena pandangan mereka yang keliru, mereka cenderung memusuhi orang yang berbeda pendapat, terutama sesama orang Kristen. Itu mungkin karena mereka percaya bahwa Tuhan sudah menentukan bahwa pandangan mereka adalah satu-satunya yang benar, pandangan yang mengakui kedaulatan Tuhan.

Ayat di atas ditulis ole rasul Paulus yang menegur orang-orang Kristen yang bertengkar dengan sesama orang beriman. Mereka yang memandang rendah pendapat saudara seiman dalam hal-hal yang tidak bersangkutan dengan iman, dan yang menghakimi saudaranya yang lebih lemah. Paulus dengan jelas mengatakan bahwa setiap orang percaya yang masih hidup harus hidup untuk Tuhan, dan jika mati, mereka mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, mereka semuanya adalah milik Tuhan. Setiap orang Kristen harus berusaha hidup untuk Tuhan dan itu adalah tanggung jawab masing-masing.

Kita tidak perlu percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa harus menetapkan satu cara hidup untuk bisa mewujudkan rencana-Nya. Tetapi, Tuhan tetap bisa mewujudkan rencana-Nya tanpa harus menginjak-injak kehendak manusia, sekalipun manusia berbuat hal-hal yang tidak disenangi-Nya. Tuhan bekerja di tengah-tengah segala sesuatu dan Dia memutuskan hasilnya berdasarkan semua faktor yang penting bagi-Nya, termasuk pilihan yang dibuat orang, dan terutama dalam doa, cara hidup, dan tanggapan umat-Nya sendiri. Adanya perbedaan justru menunjukkan bahwa bukan setiap tindakan manusia ditentukan olehTuhan atau dikehendaki-Nya. Setiap orang bertanggung jawab atas cara hidupnya sendiri. Setiap orang harus bisa membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Dalm Roma 14: 1-12 kita bisa melihat bahwa bukanlah kehendak Tuhan bagi gereja-Nya untuk memberi satu pengertian yang benar kepada satu golongan saja, dan orang lain adalah orang yang keliru, yang tidak mau tunduk kepada Tuhan. Ayat-ayat ini juga menekankan pentingnya melaksanakan tanggung-jawab kita sebagai orang yang sudah diselamatkan oleh darah Yesus. Agar kita mau berubah dalam hidup kita, menjadi makin baik, makin bijaksana dan makin taat, melalui pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kusus. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup (Roma 14: 9).

Pada saat menjelang Paskah, biarlah kita menentang setiap bentuk “fatalisme Kristen” yang terselubung. Jangan sampai kita bermegah karena Tuhan sudah menentukan kita menjadi satu-satunya kelompok orang yang terpilih untuk diselamatkan oleh darah Yesus. Pada pihak yang lain, jangan memakai kata kehendak Tuhan untuk tidak mau berubah dari apa yang salah dalam hidup kita. Jangan pasif. Jangan malas. Jangan apatis. Jangan tidur.

Setiap orang harus bertanggung jawab kepada Tuhan yang memiliki hidup mereka dan mau berubah agar hidup mereka tidak akan serupa dengan apa yang dimiliki oleh orang yang belum diselamatkan. Tolaklah setiap bentuk fatalisme, bahkan jika itu muncul dalam jubah “kedaulatan Tuhan” dan “penetapan Tuhan”. Kabarkanlah kasih Tuhan kepada semua umat manusia, terutama kepada umat-Nya yang sudah diberi penebusan, sekalipun mereka berbeda dalam penampilan dan kebiasaan.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12:2

Enam Poin John Calvin tentang Kehendak Bebas

Oleh Wyatt Graham

Direktur Eksekutif The Gospel Coalition Canada.

Agustus 26, 2020

John Calvin berbicara tentang kehendak bebas dalam enam cara berikut:

  1. Adam memiliki kehendak bebas dan dengan bebas memilih untuk berbuat dosa.
  2. Adam kehilangan kehendak bebas karena kehendak bebas menuntut pikiran untuk mempertimbangkan dan membedakan yang baik dari yang jahat sebelum memilih satu tujuan. Dalam pengertian ini, kehendak bebas tidak lagi ada pada manusia karena kodrat kita telah rusak.
  3. Namun semua orang pada dasarnya memiliki dorongan untuk berbuat baik. Dorongan ini, bagaimanapun, adalah dorongan hewani yang tidak mengikuti akal yang mempertimbangkan antara yang baik dan yang jahat dan memilih satu atau yang lain (persyaratan untuk kehendak bebas; Inst. 2.2.26).
  4. Orang-orang yang dilahirkan kembali memiliki kehendak bebas yang dikembalikan kepada mereka sebagian sekarang, dan kemudian secara penuh di surga.
  5. Akibatnya, orang yang jatuh tidak memiliki kemampuan untuk berbuat baik (karena itu membutuhkan kehendak bebas). Orang-orang yang jatuh kemudian hanya melakukan kejahatan moral (karena dorongan menuju kebaikan tampaknya, bagi Calvin, adalah keburukan karena tidak rasional).
  6. Ketika orang yang jatuh berbuat dosa, mereka melakukannya karena kebutuhan tetapi bukan karena paksaan (Inst. 2.3.5). Dengan cara ini, Calvin berusaha menegaskan bahwa manusia berbuat dosa dengan rela tanpa paksaan, sekalipun harus berbuat dosa.

Kehendak kita yang dibebaskan oleh darah Kristus

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. Lukas 23: 34

Menyambut hari Jumat Agung, pikiran kita mungkin tertuju kepada Yesus, yang pada saat itu menghadapi saat-saat terakir sebelum penyaliban-Nya. Mungkin juga kita membayangkan bagaimana Yesus memberikan pesan-pesan terakhir kepada murid-murid-Nya sebelum Ia mengalami kematian di bulit Golgota. Apa yang kemudian terjadi di bukit itu memang sangat mengerikan, karena Anak Allah sudah mengalami hukuman mati yang diberikan oleh ciptaan-Nya. Perlakuan manusia terhadap Tuhan adalah sangat kejam, tetapi itu hanya dimungkinkan oleh Tuhan sendiri yang mau mengurbankan diri-Nya untuk membebaskan manusia dari hukuman dosa.

Bersalahkah mereka yang membawa Yesus ke kayu salib? Ataukah itu sesuatu yang sudah sepenuhnya ditentukan Tuhan, sesuatu yang harus terjadi sekalipun mereka tidak mau melakukan kejahatan atas Yesus? Tuhan sudah menentukan penebusan manusia melalui kematian Yesus, tetapi mereka yang menyalibkan Dia melakukannya atas tanggung jawab mereka sendiri. Mereka benar-benar melakukan kekejaman kepada manusia Yesus dan itu bukan karena mereka menjadi “boneka” Allah. Tuhan Yesus sendiri berdoa kepada Bapa-Nya, meminta agar orang-orang itu diampuni karena mereka tidak sadar apa yang mereka lakukan. Orang-orang itu memakai kehendak bebas mereka untuk membunuh Yesus, tetapi tidak tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah yang harus mati untuk menebus dosa umat manusia.

Apakah yang dimaksudkan dengan kehendak bebas manusia? Pandangan populer tentang kehendak bebas, adalah pandangan paling umum tentang kebebasan manusia yang kita temukan dalam budaya kita. Itu adalah pandangan yang paling banyak dianut orang, di dalam gereja maupun di luar gereja. Dalam skema ini, kehendak bebas didefinisikan sebagai kemampuan kita untuk membuat pilihan secara spontan. Artinya, pilihan yang kita buat sama sekali tidak dikondisikan atau ditentukan oleh prasangka, kecenderungan, atau watak sebelumnya. Tidak ada yang mempengaruhi pilihan – tidak ada prasangka, disposisi sebelumnya, atau kecenderungan sebelumnya – pilihan datang dengan sendirinya sebagai tindakan spontan oleh orang tersebut. Pandangan ini tidak benar.

Jika pilihan atas hal yang baik atau buruk kita buat murni secara spontan, tanpa kecenderungan atau disposisi sebelumnya, maka kita boleh mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk memilih. Tidak ada motif untuk memilih; itu terjadi begitu saja secara langsung tanpa dipikir. Mereka yang menyalibkan Yesus tidak mungkin melakukannya kalau tidak mempunyai kecenderungan. Kecenderungan yang ada dalam hidup mereka membuat pilihan itu jahat. Tuhan, dalam menilai suatu perbuatan, tidak hanya melihat perbuatan lahiriah itu sendiri (perbuatan), tetapi Dia juga mempertimbangkan motivasi batin (maksud di balik perbuatan itu). Tetapi jika tidak ada motivasi batin, jika tidak ada kesengajaan yang nyata, lalu bagaimana mungkin tindakan itu memiliki makna moral? Itu tidak mungkin.

Dari sudut pandang alkitabiah, manusia dalam kejatuhannya tidak berada dalam posisi netral sehubungan dengan hal-hal tentang Allah. Manusia berdosa memang punya prasangka. Dia memang memiliki bias. Dia memang memiliki kecenderungan, dan kecenderungannya adalah ke arah kejahatan dan menjauhi perkara-perkara Allah. Manusia yang belum diselamatkan mempunyai kehendak bebas, tetapi kebebasannya adalah dalam memilih hal-hal yang tidak berguna, atau yang ada dalam dosa. Itu sudah kecenderungan yang tidak dapat dihindari oleh manusia, yang membuatnya tidak bisa membuat kehendak yang spontan, bebas dari pengaruh orang lain, lingkungan, dosa, dan juga iblis. Tetapi, manusia duniawi tidak sadar dan tidak tahu akan hal ini.

Sebenarnya, kehendak bebas manusia adalah “pilihan pikiran”. Antara pikiran dan kehendak, keduanya tidak dapat dipisahkan. Kita tidak membuat pilihan moral tanpa pikiran menyetujui arah pilihan kita. Ini terkait erat dengan konsep alkitabiah tentang hati nurani bahwa pikiran terlibat dalam pilihan moral. Alkitab menyatakan bahwa takut akan Tuhan adalah sumber kebijaksanaan, dan itu benar.

“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” Amsal 9: 10

Ketika orang-orang Yahudi memilih pembebasan Barabas dan penghukuman Yesus, mereka menyadari adanya pilihan-pilihan tertentu. Manusia dengan kebebasannya selalu bertindak sesuai dengan kecenderungan terkuat yang mereka miliki pada saat memilih. Dengan kata lain, kita selalu memilih menurut kecenderungan kita, dan kita selalu memilih menurut kecenderungan terkuat kita pada saat tertentu. Kecenderungan untuk berbuat dosa, jika tidak ada rasa takut akan Tuhan.

Calvin, dalam menelaah pertanyaan tentang kehendak bebas, mengatakan bahwa jika yang kita maksud dengan kehendak bebas adalah manusia yang jatuh memiliki kemampuan untuk memilih apa yang diinginkannya, maka tentu saja manusia yang jatuh itu memiliki kehendak bebas. Tetapi jika yang kita maksud dengan istilah itu adalah manusia dalam keadaan jatuhnya memiliki kekuatan moral dan kemampuan untuk memilih kebenaran, maka, kata Calvin, “kehendak bebas adalah istilah yang terlalu muluk untuk diterapkan pada manusia yang jatuh.” Orang Yahudi pada saat itu tidak sadar bahwa mereka bertindak karena kecenderungan manusia berdosa yang tidak mau tunduk kepada Tuhan.

Alkitab berbicara tentang manusia yang telah jatuh dalam perbudakan dosa. Mereka yang berada dalam perbudakan telah kehilangan beberapa dimensi kebebasan moral. Mereka masih membuat pilihan dan mereka masih memiliki kehendak bebas, tetapi kehendak itu sekarang condong ke arah kejahatan dan segan ke arah kebenaran. Tidak ada yang berbuat baik. Tidak ada yang benar. Tidak ada seorang pun yang mencari Allah, tidak seorang pun tidak (Roma 3:10-12). Itu menunjukkan sesuatu telah terjadi pada kita di dalam hati kita.

Orang berdosa berdosa karena mereka ingin berbuat dosa. Oleh karena itu, mereka menolak Dia dengan bebas. Dan sebelum seseorang dapat menanggapi hal-hal Allah secara positif, untuk memilih Kristus, dan memilih kehidupan, dia harus memiliki keinginan untuk melakukannya. Pertanyaannya adalah: Apakah manusia yang telah jatuh bisa mempunyai keinginan di dalam hatinya untuk tunduk kepada Tuhan? Kita tahu bahwa tanpa pekerjaan Roh Kudus kita tidak mungkin mengerti apa yang kita perbuat. Hanya orang percaya yang tahu sepenuhnya apa yang dikehendaki dan apa yang dibenci Tuhan.

Setiap kali kita berbuat dosa, tindakan ini menunjukkan bahwa, pada saat kita berdosa, keinginan kita untuk melakukan dosa lebih besar daripada keinginan untuk menaati Kristus. Jika keinginan kita untuk menaati Kristus lebih besar daripada keinginan untuk melakukan dosa, kita tidak akan berbuat dosa. Tetapi pada saat kita memilih, kita selalu mengikuti kecenderungan kita yang paling kuat, watak kita yang paling kuat, keinginan kita yang paling kuat. Memang kita tidak selalu menganalisa dengan sangat berhati-hati mengapa kita membuat pilihan kita. Namun ada alasan untuk setiap pilihan yang kita buat, dan kita selalu bertindak sesuai dengan kecenderungan terkuat kita saat ini.

Sebagai orang percaya, apakah kita selalu bisa melakukan yang baik? Rasul Paulus pernah berkata,

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 18-19

Hal ini menunjukkan bahwa memang masih mungkin bagi orang percaya untuk memilih melawan keinginannya yang baik. Apa yang dia ungkapkan adalah sesuatu yang kita semua alami: kita memiliki keinginan di dalam diri kita untuk menyenangkan Kristus, tetapi keinginan itu tidak selalu menang ketika saat kebenaran tiba.

Hari ini, Yesus berkata bahwa buah pohon berasal dari sifat pohon itu (Matius 7:17–20). Pohon ara tidak menghasilkan jeruk. Anda tidak mendapatkan buah yang rusak dari pohon yang benar. Ada sesuatu yang salah di dalam diri kita jika keinginan dan kecenderungan kita masih berada dalam belenggu dosa. Kita adalah orang dipilih untuk tahu dan ingat bahwa Yesus yang sudah disalibkan sudah memberi kita kemampuan untuk memilih apa yang benar agar kita tidak terus hidup dalam dosa. Dalam Yesus kehendak kita seharusnya bisa benar-benar bebas dari pengaruh dosa.

Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Roma 6: 6-7

Hiduplah dalam terang

“Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” 1 Yohanes 1:6-7

Di zaman ini, orang mungkin sudah jarang memakai lampu tempel atau lampu petromaks. Dengan adanya tenaga listrik yang bisa disimpan dalam baterai atau disalurkan ke berbagai tempat, orang sekarang tentunya lebih sering memakai lampu listrik (baik jenis DC maupun AC). Bahkan dengan harga yang makin murah, lampu LED sekarang kelihatannya mulai mengganti bola lampu atau lampu neon. Lampu LED memang lebih terang, lebih awet, dan pemakaian listriknya sangat kecil jika dibandingkan lampu jenis lain. Hanya saja, saking terangnya lampu jenis baru ini, bagian rumah yang agak kotor yang dulunya kurang terlihat, sekarang kelihatan lebih mencolok. Terang menghilangkan kegelapan dan membuat apa yang kotor terlihat jelas.

Kitab 1 Yohanes 1 menyatakan fakta bahwa Yesus adalah Anak Allah yang kekal. Yohanes menegaskan bahwa dia secara pribadi telah melihat dan mendengar hal-hal yang Dia ajarkan. Kebenaran Tuhan disajikan sebagai “terang”, sedangkan ajaran palsu disajikan sebagai “kegelapan”. Mereka yang berpegang pada kebenaran diselamatkan dari kekotoran dosa melalui terang Kristus; tetapi, mereka yang mengaku tidak berdosa sama sekali adalah menipu diri sendiri karena hidup dalam kekotoran. Membaca tulisan ini, kita mungkin bertanya-tanya: apakah kita diselamatkan karena hidup baik kita?

Kitab 1 Yohanes 1:5–10 membuka topik utama surat Yohanes. Tuhan sepenuhnya adalah kebaikan dan kebenaran, dan mereka yang mengikuti Tuhan tidak bisa juga mengikuti kejahatan dan kepalsuan. Dalam ayat di atas, Yohanes menekankan kata “jika”, agar semua orang Kristen membandingkan diri masing-masing dengan kebenaran. Secara khusus, dalam ayat 10 menyebutkan adanya orang-orang yang mengaku sepenuhnya bebas dari dosa, atau tidak pernah berbuat dosa. Keyakinan seperti itu secara harfiah berlawanan dengan Injil. Tidak ada orang yang tidak berdosa selain Yesus Kristus.

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 10.

Apa artinya 1 Yohanes 1: 6-7? Ayat 6 berbicara hal berjalan dalam kegelapan. Ayat 7 menawarkan kontrasnya, dan memanggil orang percaya untuk hidup menurut jalan Tuhan. Dalam hal ini, kita menemukan hubungan ayat-ayat ini dengan Injil Yohanes 1:8-9 tentang Yohanes Pembaptis yang menyatakan bahwa “ia (Yohanes Pembaptis) bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia”. Yesus dicatat sebagai “terang” dan “terang sejati”. Yohanes Pembaptis berbicara tentang Dia, dan ia memanggil orang-orang untuk bertobat sebagai persiapan kedatangan-Nya. Karena itu, sampai sekarang pun orang percaya dipanggil untuk berjalan menurut jalan Kristus dan bukan apa yang diajarkan oleh manusia.

Ayat 1 Yohanes 1:7 menyatakan apa yang terjadi ketika orang percaya benar-benar berjalan dalam terang Kristus: persekutuan orang percaya dan penyucian dari dosa. Pertama, orang percaya akan memiliki komunitas dan persahabatan satu sama lain. Dengan demikian, mereka akan dapat saling menguatkan dan saling menolong. Kedua, orang percaya akan mengalami pengampunan. Meskipun seseorang telah diampuni (selamanya) dari dosa ketika dia pertama kali percaya kepada Kristus, orang Kristen masih bisa melakukan dosa selama hidup di dunia dan membutuhkan pengampunan sebagai orang percaya.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Orang Kristen bukanlah orang yang sudah sempurna, tetapi adalah orang yang disadarkan Roh Kudus akan dosanya. Mereka yang tidak sadar akan hidupnya yang porak poranda justru adalah orang yang tidak pernah atau tidak mau menerima bimbiongan Roh Kudus. Mereka tidak menyadari bahwa Tuhan yang mahasuci adalah Tuhan yang membenci dosa sekecil apa pun. Jika manusia bisa membedakan apa yang disebut dosa besar dan apa yang disebut dosa kecil, bagi Tuhan semua dosa adalah kegagalan manusia untuk taat kepada kehendak-Nya yang sudah dinyatakan dalam Alkitab.

Setiap hari, dapatkah Anda menyebutkan dosa apa yang membutuhkan pengampunan dari Tuhan? Ataukah Anda mengira semua itu adalah lumrah dan termasuk dosa-dosa kecil yang umum dan biasa? Kita mungkin harus sadar bahwa rasul Paulus mencatat adanya banyak kegagalan dalam hidupnya, terlepas dari keinginannya untuk hidup benar dan banyaknya pekerjaan mulia yang telah dia lakukan untuk Tuhan.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7:18

Implikasinya di sini jelas: kehadiran dosa dalam hidup orang Kristen yang sadar akan kelenahannya tidak berarti bahwa orang tersebut tersesat. Pengorbanan Kristus di kayu salib yang akan kita peringati sebentar lagi, sudah menghapus hukuman kekal dari semua dosa kita, di masa lalu, sekarang, dan di masa depan. Lebih penting lagi, mereka yang percaya kepada Kristus diampuni bahkan untuk dosa yang tidak mereka sadari. Bagaimana dengan dosa-dosa yang kita sadari? Kita harus mengakuinya, dan itu akan diampuni Tuhan – agar kita tidak melakukannya lagi. Jika kita bersikukuh untuk hidup dalam kegelapan setelah diampuni, itu berarti kita memakai kebebasan kita untuk tetap tinggal di jalan yang lebar yang akan membawa berbagai penderitaan (1 Timotius 6: 10). Itu bukanlah kehendak Tuhan atau rencana Tuhan untuk umat-Nya. Tetapi, jika kita mau dan bertekad untuk hidup dalam ketaatan, Tuhan akan melengkapi kekurangan kita dan memberikan kedamaian dalam hidup kita.

”Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Yohanes 8: 11