Kenalkah Anda kepada Allah?

“Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” 1 Yohanes 2: 3-6

Mungkinkah ada orang yang bisa hidup sepenuhnya menuruti perintah-perintah Tuhan? Semua orang Kristen yang percaya adanya kedaulatan Tuhan seharusnya berpendapat bahwa itu mungkin, jika Tuhan membuatnya begitu. Tetapi, dalam kenyataannya ada orang percaya yang justru tidak mau menekankan bahwa manusia bisa dan perlu untuk berbuat baik. Mengapa begitu? Menurut mereka, itu karena karena manusia yang berdosa bukanlah orang yang sempurna, tetapi adalah orang yang penuh cacat cela yang sudah dianugerahi keselamatan. Jadi perbuatan baik manusia bukanlah hal yang masih perlu digarisbawahi jika mereka diselamatkan semata-mata oleh penebusan Kristus.

Sebenarnya Alkitab PL dan PB banyak menampilkan contoh-contoh di mana umat Tuhan menuruti perintah-perintah Tuhan karena Tuhan yang membimbing dan menggerakkan mereka. Ini bukan suatu keadaan yang kekal, karena mereka yang kemudian melupakan Tuhan (seperti Daud, Salomo dll.), kemudian jatuh dalam dosa. Tanpa bimbingan Tuhan, umat Kristen mana pun akan jatuh. Mereka yang tidak dibimbing Tuhan sudah pasti tidak dapat hidup baik; dan karena itu, mereka yang selalu tidak bisa atau tidak mau berbuat baik sudah pasti bukan orang percaya.

Jika manusia bisa berbuat baik dengan bimbingan Tuhan, adakah manusia yang sempurna? Tentu saja tidak ada, sekalipun ada orang Kristen yang saleh. Orang Kristen yang saleh, yang mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, bukanlah orang yang suci. Jadi apa yang dimaksud dengan orang yang menuruti perintah-perintah Tuhan? Orang yang sedemikian adalah orang yang sadar akan kehendak Tuhan yang dinyatakan, agar mereka menghidari hal-hal yang jahat dalam pandangan Tuhan. Mereka yang sudah mendapat Roh Kudus, tidak mau mendukakan-Nya. Mereka selalu ingin mendengarkan suara-Nya yang mengingatkan mereka jika ada hal-hal yang jahat yang harus mereka hindari.

Menuruti perintah-perintah Tuhan, dengan demikian bukan berarti bahwa manusia bisa selalu mengikut Tuhan, tetapi berarti bahwa manusia selalu mempunyai kesadaran akan apa yang baik dan yang buruk. Mereka akan merasa sedih jika mereka gagal melakukan apa yang baik, dan bukannya melupakan keharusan untuk taat kepada Tuhan.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7:18-19

Ayat dari 1 Yohanes di atas lebih lanjut menyatakan bahwa orang berkata bahwa ia mengenal Tuhan, tetapi ia tidak (selalu ingin) menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa (selalu ingin) menuruti firman-Nya, orang itu sungguh sudah sempurna dalam kasih Allah. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Tuhan, ia adalah orang yang sudah lahir baru dan wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. Sebaliknya, orang yang belum lahir baru tidak akan tahu apa kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dan tidak mengenal apa yang dipandang baik oleh Tuhan. Mereka tidak tahu bagaimana mereka bisa menjauhkan diri apa yang jahat menurut mata Tuhan.

Orang bisa saja bertanya-tanya, “Jika saya diselamatkan oleh anugerah dan semua dosa saya telah diampuni, mengapa saya harus berusaha untuk hidup suci?” Pemikiran ini bukanlah hasil dari pertobatan sejati. Pertobatan yang sejati akan menghasilkan hasrat yang lebih besar untuk menjadi taat, bukan sebaliknya. Kehendak Allah – dan kehendak kita saat kita telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus – adalah bahwa kita akan berusaha keras untuk menjadi sempurna seperti Dia. Itu harus dikerjakan dengan serius sampai saat kita meninggalkan dunia (Filipi 2: 12).

Suatu hal yang penting kita ingat adalah bahwa orang Kristen bukan dipilih oleh Tuhan karena mereka adalah orang yang suci atau orang yang baik, tetapi karena Ia mempunyai rencana untuk masa depan mereka. Jika mereka mempunyai dosa sebesar dan seburuk bagaimanapun, Tuhan akan membersihkan mereka dari dosa mereka melalui darah Kristus jika mereka bertobat. Itu bukan berarti bahwa mereka bisa menjadi sempurna selama hidup di dunia. Walaupun demikian, Tuhan menyuruh mereka yang sudah dipilih untuk menuruti perintah-perintah-Nya. Dengan demikian, keinginan dan kemauan untuk berbuat baik adalah lebih bersangkutan dengan pandangan hidup orang Kristen daripada kenyataan hidup manusia selagi masih di dunia.

Orang Kristen memang tidak harus menaati Hukum Perjanjian Lama atau hukum apa pun untuk dianugerahi keselamatan. Ketika Yesus Kristus mati di atas kayu salib, Dia menggenapi Hukum Perjanjian Lama (Roma 10:4). Walaupun demikian, ada kesimpulan yang tidak alkitabiah yang muncul: Allah tidak mengharuskan orang Kristen untuk menaati hukum moral dan etika Kristen karena sudah diselamatkan. Di zaman ini, saya kurang melihat adanya orang Kristen sejati yang dengan sengaja mengabaikan ajakan Tuhan untuk berbuat baik dan melupakan adanya etika Kristen. Saya melihat kurang adanya kemauan untuk taat kepada perintah-perintah Tuhan.

Rasul Paulus membahas itu dalam Roma 6:1-2, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Kritik yang paling sering dilontarkan terhadap doktrin keselamatan melalui “Melalui Anugerah semata-mata saja” atau ” By Grace alone” adalah: doktrin itu bisa mendorong seseorang untuk kurang peduli akan dosa dalam hidupnya. Selain itu, mungkin juga doktrin itu mendorong seseorang untuk tidak berusaha untuk menghasilkan apa yang baik untuk Tuhan dan sesama dari apa yang sudah diterimanya. Bukankah harga keselamatan sudah dilunasi Yesus?

Harus dimengerti bahwa sesudah menerima keselamatan, manusialah yang harus mau mengambil keputusan untuk hidup suci, menaati firman-Tuhan dan menjalankan semua perintah-Nya. Ini bukan untuk mempetahankan keselamatan yang sudah diterima mereka, karena keselamatan orang yang sudah terpilih tidak akan ditarik kembali oleh Tuhan yang setia. Tetapi, mereka yang benar-benar sudah menjadi orang percaya tentu akan mengerti bahwa tanda keselamatan mereka adalah adanya kerinduan untuk hidup suci karena adanya rasa syukur atas karunia keselamatan dan berbagai karunia yang lain. Mereka yang tidak mau menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, dan tidak rindu untuk berbuat baik selama hidup di dunia, mungkin saja bukan orang Kristen yang sejati. Orang Kristen yang sejati selalu ingin menjadi murid Yesus yang bisa dipakai-Nya untuk melebarkan kerajaan-Nya dan membawa kemuliaan bagi-Nya baik dalam hal yang besar maupun yang kecil (Matius 25: 14-30).

Hari ini, firman Tuhan menyatakan bahwa sebagai orang Kristen kita adalah orang yang sudah mendapat karunia terbesar, yaitu penebusan Kristus. Kita mengenal Kristus. Dengan demikian patutlah dengan rendah hati menyatakan kemauan kita untuk menjadi budak-Nya yang berguna dan berusaha untuk hidup sesuai dengan perintan-Nya. Satu hal yang jelas adalah bahwa tidak ada alasan bagi kita yang mengaku Kristen sejati, untuk tidak membiarkan Roh Kudus memimpin kita untuk mengubah hidup kita. Kita harus ingat bahwa setiap manusia harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Hanya orang Kristen sejati yang akan mendapat pengampunan oleh darah Kristus.

Mengapa kita harus bertanggung jawab atas hidup kita?

“Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” 1 Petrus 4: 5

Pernahkah anda memikirkan arti kata “adil”? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “adil” bisa berarti sama berat; tidak berat sebelah; tidak memihak; berpihak kepada yang benar; berpegang pada kebenaran; sepatutnya; dan tidak sewenang-wenang. Definisi kata itu agaknya mudah di mengerti, tetapi masalahnya ialah bahwa selama hidup di dunia ini kita sering melihat apa yang kurang atau tidak adil.

Dalam hidup sehari-hari, mungkin kita sering melihat bahwa ada banyak orang yang bersalah tetapi tidak mendapatkan hukuman yang setimpal, dan sebaliknya ada orang yang tidak bersalah tetapi memperoleh hukuman berat. Bagaimana manusia bisa diharapkan untuk bertanggung jawab atas perbuatannya jika hukum yang ada tidak dapat dilaksanakan dengan benar?

Dalam hal ini kita juga tahu bahwa setiap orang yang berhadapan dengan masalah bisa mendapatkan bantuan hukum untuk mendapatkan keringanan dan bahkan pembebasan dari hukuman. Orang yang mampu dan berpengaruh memang bisa menyewa ahli-ahli hukum ternama untuk membela kasus mereka. Sekalipun seseorang bersalah secara fakta, ia mungkin tidak bersalah secara hukum; dan karena itu tugas para pembela hukum adalah meringankan hukuman sang klien. Orang yang bebas dari hukuman harus dipandang sebagai orang yang tidak bersalah. Itulah hukum di dunia, dan sekalipun tidak sempurna, sebagai orang Kristen kita harus menaatinya.

Selama hidup di dunia, orang Kristen adalah warga dunia tetapi juga warga surga. Mereka harus menaati hukum dunia tetapi juga hukum Tuhan. Ketaatan kepada pemerintah dan hukumnya adalah keharusan bagi setiap orang Kristen dan itu diajarkan dalam Alkitab (Roma 13: 6 – 7). Walaupun demikian ada kalanya apa yang dibenarkan oleh hukum setempat belum tentu sesuai dengan apa yang tertera dalam Alkitab. Makin banyak hal yang disetujui oleh masyarakat di zaman modern ini yang bertentangan dengan firman Tuhan. Itu bukan saja menyangkut uang, bisnis, sekolah, hubungan antar manusia dan budaya, tetapi juga menyangkut soal makanan dan pakaian dan sebagainya. Dengan demikian, banyak orang Kristen menjadi bimbang: manakah yang harus dituruti?

Adalah kenyataan bahwa ada banyak orang Kristen yang sekarang segan untuk menunjukkan kekristenan mereka dan sebaliknya cenderung untuk mengikuti arus dunia. Banyak orang Kristen yang tidak mau dipandang “aneh” oleh masyarakat atau dianggap sebagai “orang Farisi” oleh sesama umat. Ada juga orang Kristen yang kuatir dianggap sesat karena berusaha untuk berbuat baik sekalipun keselamatan hanya diperoleh melalui anugerah Allah. Menjadi orang Kristen adalah orang yang dibebaskan dari tuntutan hukum, begitu kata mereka. Jadi, selama apa yang dilakukan dianggap sah dan adil menurut hukum setempat, mereka akan hidup dan bekerja seperti orang bukan Kristen, agar tidak mengalami masalah dalam hidup bermasyarakat. Mereka tidak sadar bahwa walaupun mereka bisa menghindari masalah yang bertautan dengan hukum dunia dan cara hidup manusia, mereka tidak akan bisa menghindari fakta bahwa mereka mungkin melanggar hukum Tuhan karena tidak hidup menurut cara hidup yang sudah dinyatakan Tuhan dalam Alkitab. Berbeda dari hukum dunia yang bisa berubah-ubah dan bisa dihindari, hukum Tuhan adalah kekal dan tidak bisa dipengaruhi oleh kehendak manusia dan situasi. Manusia harus bertanggung jawab atas hidupnya kepada Tuhan, hakim yang di surga.

Ada orang Kristen yang berpendapat bahwa karena Tuhan adalah mahakuasa, umat pilihannya harus yakin bahwa tidak ada apa pun yang perlu dilakukan untuk keselamatan mereka. Yesus yang akan menghakimi manusia, adalah pembela kita. Dengan demikian, kita tidak perlu memikirkan cara hidup kita di dunia. Benarkah itu? Sudah tentu itu tidak benar karena mereka yang sudah diselamatkan harus mau meninggalkan cara hidup yang lama, yang tidak sesuai dengan hukum Tuhan. Umat pilihan-Nya yang sejati adalah orang yang dibebaskan dari perhambaan kepada dosa, dan kemudian menjadi hamba Allah. Dengan demikian, mereka sekarang harus memakai hukum surgawi sebagai pedoman hidup mereka.

Pagi ini, ayat pembukaan di atas mengingatkan kita bahwa sebagai orang percaya, kita mempunyai Tuhan di surga yang mengawasi semua tingkah laku dan perbuatan kita. Jika hidup kita hanya berdasarkan apa yang dianggap pantas, layak, lumrah , jamak dan adil di dunia, lambat laun kita akan hidup seperti mereka yang belum percaya. Tuhan yang mahaadil adalah Tuhan yang sudah menanamkan hukum-Nya dalam hati setiap orang percaya. Sekalipun dalam hidup sehari-hari kita tidak terus menerus membaca hukum utama tentang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama kita, seharusnya kita bisa mengingatnya setiap kali kita melangkahkan kaki kita. Rasa takut akan Tuhan haruslah selalu ada dalam hati kita, dan itu membimbing kita untuk hidup dengan bijaksana. Memang pada akhirnya kita harus memberi pertanggungjawab kepada Dia, Tuhan yang mahaadil, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Sebagai umat-Nya, kita tentu berharap bahwa Tuhan akan menyambut kita dengan tangan terbuka di surga.

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25:23

Rasa malu harus pada tempatnya

“Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” 1 Petrus 4: 16

Pernahkah anda merasa malu? Tentunya setiap orang pernah mengalami peristiwa yang memalukan dalam hidupnya. Mungkin itu hanya soal kecil seperti memakai pakaian yang kurang sesuai ke pesta, atau hal yang lebih besar seperti lupa mengerjakan tugas penting yang diberikan atasan.

Untuk hal yang kecil, biasanya orang lebih mudah melupakan rasa malunya, tetapi ada hal-hal lain yang signifikan yang membuat rasa malu sulit hilang dari pikiran. Dalam hal ini, ada hal yang sekalipun terasa kecil untuk seseorang, merupakan hal yang besar untuk orang lain. Walaupun demikian, ada orang yang tidak pernah merasa malu sekalipun ia melakukan hal-hal yang membuat orang lain merasa sangat malu. Tidak tahu malu, istilahnya. Tetapi rasa malu adalah soal pribadi, dan tiap orang agaknya mempunyai kesadaran yang berbeda. Begitu juga, jika orang percaya memiliki rasa malu kepada Tuhan atas cara hidupnya, orang yang tidak kenal Tuhan tidak akan sadar akan dosanya, dan karena itu tidak pernah malu atau menyesal atas perbuatannya.

Di zaman sekarang orang mudah merasa malu jika mobil sudah nampak tua, atau rumah yang tidak sebesar rumah tetangga. Tetapi, banyak orang tidak merasa malu ketika ketahuan sudah menyalah-gunakan uang perusahaan atau uang negara. Mereka yang bisa memperoleh banyak uang dengan cara menjual diri pun tidak merasa malu mempertunjukkan hasil jerih payahnya

Sering kali kita mendengar bahwa hidup orang yang beriman adalah hidup yang diberkati Tuhan. Dari mimbar gereja sering dikumandangkan pesan bahwa Tuhan yang mengasihi anak-anak-Nya, akan juga memberikan berkat-Nya dengan berkelimpahan. Malahan, ada banyak pendeta yang mengkhotbahkan bahwa orang Kristen akan mempermalukan Tuhan yang mahakaya jika tidak kaya. Untuk menjadi kaya, apa yang diperlukan adalah iman yang kuat, dan dengan itu Tuhan akan memenuhi kebutuhan umat-Nya di dunia. Orang Kristen yang sedemikian, tidak merasa malu ketika mereka memperlakukan Tuham seperti dewa Mamon.

Apa yang kita lihat sebagai kenyataan hidup adalah sebaliknya. Mereka yang hidupnya tidak baik sering kali terlihat jaya dan nyaman hidupnya, dan mereka yang berusaha hidup dalam kejujuran justru sering mengalami kekurangan dan penderitaan. Lebih payah lagi, jika penderitaan bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, sebagian orang Kristen mungkin merasa terpukul kalau sanak saudara, teman atau diri sendiri mengalami musibah. Adakah keuntungan menjadi orang Kristen di dunia ini?

Ayat diatas jelas mengatakan bahwa sebagai orang Kristen kita tidak perlu merasa malu jika kita mengalami penderitaan. Itu jika kita tidak berbuat jahat atau salah (1 Petrus 4: 15). Jadi, apa pun yang terjadi atas diri kita, kita tidak perlu merasa tertekan, sedih, malu, gundah ataupun merana.

Penderitaan memang bisa datang kepada orang percaya melalui beberapa sebab:

  • Dunia sudah jatuh dalam dosa, apa yang sekarang ada di dunia adalah cacat dan jahat.
  • Pengikut Tuhan sering dibenci oleh mereka yang membenci Tuhan Yesus.
  • Iblis ingin menghancurkan umat Tuhan dan gereja-Nya.
  • Tuhan mendidik anak-anak-Nya untuk bisa lebih baik.
  • Pengikut Yesus ingin mengikuti cara hidup-Nya di dunia dan mau berkurban untuk sesama dan membela keadilan seperti Dia yang sudah mati untuk mereka.

Jika kita merasa hidup kita berat, kita mungkin mengalami salah satu atau sebagian dari sebab diatas. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita tidak perlu merasa malang; sebaliknya kita harus merasa bersyukur karena ada kesempatan bagi kita untuk menunjukkan iman kita kepada seisi dunia, bahwa dalam semua hal kita bisa merasakan penyertaan Kristus dan menyelami betapa besar kasih-Nya yang sudah menebus dosa kita. Lebih dari itu kita bisa berharap bahwa pada suatu saat kita akan mendapat kemuliaan di surga sebagai anak-anak Allah.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Bagi orang Kristen yang benar-benar hidup dalam Tuhan, rasa malu bukanlah karena merasa kalah dengan orang lain dalam hal duniawi. Tuhan bukanlah yang menimbulkan rasa malu, tetapi umat Tuhan yang sejati bisa merasa malu karena apa yang kurang baik yang diperbuatnya. Pada waktu Adam dan Hawa melanggar larangan Tuhan di taman Firdaus, mereka tiba-tiba sadar akan ketelanjangan mereka (Kejadian 3: 7). Mereka merasa malu bukan karena Tuhan membuatnya muncul, dan bukan juga karena adanya bentuk tubuh yang berlainan, tetapi karena adanya kesadaran bahwa mereka sudah mengkhianati kasih Tuhan.

Dalam kehidupan umat Kristen, penebusan oleh darah Kristus sudah mencuci bersih dosa kita (Yesaya 1: 18). Apa yang dulunya gelap, sekarang menjadi terang; apa yang dulunya kotor sekarang menjadi putih bersih. Dengan itu semua rasa bersalah, rasa malu dan rasa pahit dari masa lalu kita seharusnya bisa dihilangkan dari pikiran kita. Karena pengampunan Tuhan, kita juga wajib mengampuni diri kita dan juga orang lain, melupakan hal-hal memalukan dari masa lalu.

Walaupun demikian, jika kita tidak memuliakan Kristus sepenuhnya, patutlah kita merasa malu. Hidup baru orang yang sudah diselamatkan seharusnya bisa terlihat dari apa yang diperbuatnya dan apa yang dihasilkannya. Karena kita sudah diselamatkan bukan karena usaha kita, kita harus selalu bersyukur dan memuliakan Kristus Juruselamat kita, baik oleh hidup kita maupun oleh mati kita. Selama hidup ini kita harus memuliakan Kristus dalam segala apa yang kita kerjakan, sehingga jika tiba waktunya untuk kita meninggalkan dunia ini, Tuhan akan menerima kita dengan ucapan selamat atas segala jerih payah kita (Matius 25: 21).

Hari ini, marilah kita menganalisa hidup pribadi kita. Marilah kita memikirkan apa yang sudah kita lakukan dalam hidup kita sampai sekarang. Apakah kita sudah memakai segala apa yang kita punyai untuk memuliakan Tuhan dalam segala kesempatan yang diberikan-Nya? Apakah kita merasa puas dengan pujian orang lain atas hidup kita yang terlihat indah di depan umum? Ataukah kita secara pribadi mengakui bahwa kita masih sering mementingkan apa yang kita senangi saja dan melupakan rasa malu kepada Tuhan yang sudah mencurahkan kasih-Nya yang sungguh besar kepada kita? Semua itu hanya bisa dijawab oleh setiap orang percaya secara pribadi sesuai dengan panggilan Tuhan dan bukannya dengan mendengarkan pendapat dunia. Semoga pencerahan Roh Kudus bisa kita rasakan dan sadari dalam hidup kita.

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20

Jika kita mengenal diri kita, kita akan mengenal Tuhan

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.Jika kita b erkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1:8-10

Judul di atas sering dipakai dan diajarkan oleh pengikut aliran spiritual tertentu. Bahkan ada yang mengajarkan bahwa dengan menenali diri kita, kita akan menemukan bahwa Tuhan ada di dalam diri kita. Selain itu, ada juga yang mengajarkan bahwa dengan mengenali diri sendiri, pada akhirnya kita akan bisa menjadi dekat dan bersatu dengan-Nya, untuk bisa berpikir dan bertindak seperti Dia. Pada akhirnya, kita bisa menjadi (seperti) Tuhan.

Bagi mereka yang tidak percaya adanya Tuhan, sudah tentu semboyan di atas tidaklah ada artinya. Bagi mereka yang tidak mau menerima kenyataan bahwa mereka adalah orang yang berdosa, sudah tentu tidak akan mengerti adanya Tuhan yang mahasuci, yang hanya bisa menerima manusia yang sudah ditebus oleh darah Kristus untuk bisa diselamatkan. Mereka tentunya sulit untuk menjadi orang Kristen. Mengapa begitu?

Sebenarnya, untuk orang percaya ada pengertian bahwa hampir semua hikmat yang kita miliki, yaitu hikmat yang benar dan sehat, terdiri dari dua bagian: pengetahuan tentang Tuhan dan tentang diri kita sendiri. Bagi orang yang tidak beriman, hikmat hanya ada untuk mengerti hal-hal jasmani saja. Bagi mereka, pengetahuan akan Tuhan adalah suatu kebodohan. Dan karena mereka tidak takut akan (adanya) Tuhan, mereka tidak dapat mendapatkan hikmat rohani yang datang dari surga.

Judul di atas adalah benar, tetapi harus diartikan dari konteks yang tepat. Seringkali, garis itu digunakan sebagai pembenaran untuk introspeksi atau kesadaran diri secara psikologis.Adalah keliru jika kita menginginkan hubungan erat dengan batin kita karena kita merasa tidak dapat memahami Tuhan tanpa belajar dari pengalaman kita sendiri. Yang benar adalah: kita bisa mengenal Tuhan karena Dialah yang membuka jalan bagi kita untuk menyadari dosa-dosa kita.

Apa yang benar adalah bahwa kita harus mengenal diri kita sendiri untuk mengenal Allah, tetapi yang harus kita ketahui adalah “ketelanjangan yang memalukan” yang menyingkapkan “banyaknya kelemahan” dalam hidup kita. Pengetahuan tentang diri sangat diperlukan karena dari “ketidaktahuan, kesombongan, kemiskinan, kelemahan kita sendiri” kita dapat mengenali bahwa “cahaya kebijaksanaan sejati, kebajikan yang murni, kelimpahan penuh dari setiap kebaikan, dan kebenaran sejati hanya ada di dalam Tuhan”. Sebuah kontras yang besar. Dengan demikian, jelaslah bahwa apa yang sering menghambat pengenalan akan diri sendiri adalah kebodohan dan kesombongan manusia. Mereka yang yakin bahwa hidup mereka adalah cukup baik, tidak akan dapat mengenal Tuhan yang mahasuci.

Tujuan pengenalan akan diri sendiri juga bukan untuk membedakan tipe kepribadian kita atau mengetahui bakat kita atau berhubungan dengan masa lalu kita, meskipun semua ini ada gunanya. Bagi orang Kristen sejati, pengetahuan tentang diri sendiri adalah sangat penting karena kita hanya akan mulai mencari Allah ketika “kita mulai tidak senang dengan diri kita sendiri”. Apa arti hidup kita? Apakah manusia hanya dilahirkan untuk bekerja dan kemudian kembali menjadi tanah? Usaha mengenali diri sendiri dan mencari makna kehidupan adalah bagian dari proses pengenalan akan Tuhan.

Mana yang lebih dulu: pengenalan akan diri sendiri atau pengenalan akan Tuhan? Meskipun keduanya saling terkait, kita harus mulai dengan pengenalan akan Tuhan. Ini penting agar kita tahu seberapa jauh kita dari kemuliaan dan kekudusan Allah. Manusia yang belum mengenal Tuhan selalu menimbang bahwa diri mereka adalah benar, lurus, bijaksana dan suci. Kebanggaan semacam ini adalah bawaan dalam diri setiap manusia. Jika Tuhan tidak mencelikkan mata rohani kita, kita tidak akan melihat adanya ketidakbenaran, kekotoran, kebodohan, dan kenajisan dalam diri kita sendiri. Selain itu, kita tidak akan yakin akan dosa kita jika kita hanya memandang diri kita sendiri, tetapi tidak pernah sadar adanya Tuhan, yang merupakan satu-satunya standar yang dengannya penilaian ini harus diukur. Kita harus mengenal Tuhan, bukan untuk memahami perasaan, temperamen, dan pengalaman kita (sekalipun ada gunanya), tetapi untuk memahami kebutuhan kita akan Tuhan. Kita melihat Tuhan ketika Dia mengungkapkan dirinya kepada kita, dan kemudian kita kan bisa melihat adanya kontras antara Dia dan diri kita.

Malam ini, firman Tuhan berkata: Kenalilah Tuhan, dan kenalilah dirimu sendiri. Kenali diri Anda untuk mengetahui kebutuhan Anda akan Tuhan. Kenali Tuhan untuk mengetahui bahwa Anda bukanlah orang yang bisa menyelamatkan diri sendiri. Jika kita mengaku dosa kita, maka kita akan mengenal Dia yang setia dan adil, dan percaya bahwa Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Dengan demikian kita akan bisa hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan sejati.

Apakah Tuhan kuatir jika manusia menjadi pandai?

Kemudian TUHAN turun untuk melihat kota dan menara yang dibina oleh manusia. Dia berfirman, “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa, dan hal ini baru permulaan rancangan mereka. Tidak lama lagi mereka akan sanggup melakukan apa sahaja yang dikehendaki mereka. Marilah Kita turun dan kacau bahasa mereka supaya mereka tidak memahami satu sama lain.” Demikianlah TUHAN mencerai-beraikan mereka ke seluruh bumi. Maka mereka berhenti membina kota itu. Kota itu dinamakan Babel kerana di situlah TUHAN mengacau bahasa manusia, dan dari situlah TUHAN mencerai-beraikan manusia ke seluruh bumi. Kejadian 11: 5- 9

Kisah mengenai menara Babel sudah sering diceritakan dalam konteks pemberontakan manusia. Setelah peristiwa air bah, Allah memerintahkan manusia untuk ‘bertambah banyaklah serta penuhilah bumi” (Kejadian 9:1). Manusia justru melakukan hal yang sebaliknya. “Juga kata mereka: ”Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” (Kejadian 11:4).

Manusia memutuskan untuk membangun sebuah kota besar dan berkumpul di sana. Mereka memutuskan untuk membangun sebuah menara raksasa sebagai simbol kekuasaan mereka, untuk mencari kemuliaan dirinya (Kejadian 11:4). Menara ini kemudian diingat sebagai Menara Babel. Sebagai respon, Allah mengacaukan bahasa manusia sehingga mereka tidak lagi bisa berkomunikasi satu sama lainnya (Kejadian 11:7). Akibatnya, mereka yang berbicara dengan bahasa yang sama segera pergi bersama-sama dan menetap di bagian dunia lainnya (Kejadian 11:8-9). Allah mengacaukan bahasa di Menara Babel supaya perintah-Nya bagi umat manusia agar menyebar ke seluruh dunia bisa terlaksana. Itu bukan karena Allah takut bahwa manusia akan merasa berkuasa atas hidup mereka.

Berbeda dari pandangan Kristen deterministik yang menyatakan bahwa Tuhan sudah menentukan setiap apa yang terjadi di dunia dari awalnya, kisah menara Babel menunjukkan dinamika kehidupan manusia. Tuhan tidak membuat manusia selalu bertindak menurut apa yang dikehendaki-Nya, tetapi Ia tetap memegang kontrol dan kehendak-Nyalah yang akhirnya terjadi. Setiap manusia memang diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mengambil keputusan dan bertindak menurut apa yang dianggapnya baik. Tetapi, tidak semua orang sadar bahwa Tuhan pada akhirnya yang akan mengambil keputusan tentang apa yang boleh terjadi.

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”Amsal 16:9

Jika manusia merancang urusan duniawi mereka dengan sangat berhati-hati dan mengharapkan sukses besar, Tuhan yang mengatur alam semesta terkadang mengarahkan langkah mereka ke arah yang tidak mereka inginkan. Dengan demikian, setiap manusia diajar untuk mengarahkan pandangan mereka kepada Allah, mempunyai rasa takut dan hormat kepada-Nya, tidak hanya dalam hidup sehari-hari, tetapi juga dalam setiap langkah yang mereka ambil.

Sepanjang sejarah, umat manusia telah membuat rencana dan keputusan untuk apa yang akan harus dilakukan setiap hari. Ketika saya bermaksud untuk bermobil ke luar kota, saya perlu merencanakan jam berapa saya harus pergi. Saya menggunakan GPS saya untuk merencanakan rute saya. Seperti itu juga, seorang pilot harus membuat rencana penerbangannya dan seorang nakhoda kapal harus memetakan arah kapalnya untuk mencapai tujuan. Tidak ada yang salah dengan perencanaan. Malahan, sebenarnya adalah baik bagi semua orang untuk menetapkan tujuan dan rencana. Jika tidak, hidup mereka akan kacau dan tidak akan membuahkan apa yang berguna.

Kemampuan untuk membuat rencana jelas merupakan hal yang baik dan merupakan suatu berkat dari Tuhan. Namun, sebagai orang Kristen, rencana kita harus selalu dimulai dengan doa dan mencari kehendak Tuhan untuk hidup kita. Jika Tuhan telah disertakan dalam proses perencanaan, kita dapat yakin bahwa rencana kita akan berhasil, bahkan jika kita mengalami beberapa rintangan dan harus berputar jalan. Sebaliknya, jika rencana kita bertentangan dengan kehendak Tuhan, kita berdosa kepada-Nya.

Bagi setiap orang, rasul Yakobus menulis,

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. Yakobus 4:13-17

Mereka yang bermegah dalam kesombongan akan membuat Allah marah. Semua kesombongan manusia seperti mereka yang membangun menara Babel adalah jahat. Maka itu, bagi orang Kristen yang tahu bagaimana mereka seharusnya bisa menempatkan diri di hadapan Allah dan melakukan apa yang difirmankan-Nya tetapi tidak mengerjakannya, hal itu juga berakhir dengan dosa.

Tuhan mungkin mengizinkan kita untuk membuat rencana kita sendiri tanpa berkonsultasi dengan-Nya. Dia bahkan mungkin mengizinkan kita untuk membuat rencana kita sendiri ketika kita tidak terlalu menyukai kehendak-Nya. Dia akan memungkinkan kita untuk memutuskan untuk melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri. Sebagai Tuhan, Ia tidak kuatir kalau-kalau manusia menjadi terlalu pandai dan bisa membatalkan rencana-Nya. Tetapi kita harus sadar bahwa terlepas dari apa yang kita rencanakan, Tuhan akan menjadi satu-satunya Oknum yang bisa mengarahkan setiap langkah yang kita ambil. Dan jika karena kesombongan dan keras kepala kita, kita memilih untuk melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri, Tuhan akan tetap bisa mewujudkan kehendak ilahi-Nya. Tetapi jalan menuju ke sana mungkin tidak akan menjadi jalan yang bisa kita nikmati!

Yunus adalah contoh seseorang yang tidak menyukai apa yang Tuhan perintahkan sehingga dia membuat rencananya sendiri. Tuhan ingin Yunus pergi berkhotbah di Niniwe dan Yunus tidak mau pergi. Dia justru naik perahu dan pergi ke arah yang berlawanan dari Niniwe. Akibatnya, badai besar datang dan semua orang di kapal menjadi takut kalau-kalau mereka akan mati di laut. Mereka mulai membuang muatan untuk meringankan beban kapal dan kemudian Yunus mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus membuangnya juga ke laut agar badai akan berhenti. Para pelaut mengira Yunus gila, tetapi setelah beberapa saat, mereka terpaksa melempar Yunus ke dalam gelombang badai. Tuhan tidak hanya mengarahkan langkah Yunus, tetapi Dia juga membuat seekor ikan besar yang datang pada saat yang tepat untuk menelan Yunus. Setelah tinggal tiga hari di dalam perut ikan, akhirnya Yunus bertobat. Tuhan kemudian membuat ikan itu memuntahkan Yunus yang akhirnya mau pergi ke Niniwe dan berkhotbah di sana.

Yeremia 29:11 memberi tahu kita bahwa Tuhan tetap sama, Ia memiliki rencana yang baik untuk orang yang takut akan Dia – rencana untuk kesejahteraan kita dan bukan kehancuran. Jika kita benar-benar percaya akan hal ini, maka kita tidak akan kesulitan memulai perencanaan kita dengan menyediakan waktu untuk berdoa dan mencari kehendak Tuhan – untuk memastikan bahwa rencana yang kita buat selaras dengan kehendak Tuhan. Jika kita melakukannya, maka kita dapat menyerahkan rencana kita ke dalam tangan-Nya dan percaya bahwa meskipun jalan untuk mencapai apa yang kita rencanakan terlihat berbeda dari yang kita rencanakan, pada akhirnya Tuhan akan membawa kita ke sana, bahwa Ia akan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan kita, dan Ia akan menyertai kita di setiap langkah.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29: 11

Pagi ini, adakah rencana yang anda pikirkan? Firman Tuhan menyatakan bahwa adalah baik jika anda melanjutkan atau membuat rencana anda. Tetapi mulailah setiap rencana dengan doa, carilah kehendak Tuhan terlebih dahulu. Buatlah rencana anda berpusat pada kehendak-Nya, mintalah agar rencana anda bisa membawa kehormatan dan kemuliaan bagi-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Manusia menurut Alkitab

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1:27

Allah telah menjadikan manusia berbeda dari semua makhluk ciptaan lainnya. Manusia memiliki tubuh fisik dan komponen spiritual: jiwa dan/atau roh. Bagian dari aspek immaterial ini adalah kepemilikan intelek, emosi, dan kemauan. Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Manusia berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki tubuh fisik, dan hewan yang tidak mencerminkan gambar Allah.

Ada berbagai pandangan yang tidak alkitabiah tentang apa artinya menjadi manusia. Gnostisisme klasik, misalnya, berpandangan bahwa umat manusia pada dasarnya murni, entitas spiritual yang terbelenggu oleh tubuh yang rusak dan berat. Pandangan lain, seperti naturalisme, melihat umat manusia sebagai mesin fisik yang sangat kompleks tanpa roh sama sekali—perasaan, pikiran, atau inspirasi apa pun yang kita alami hanyalah produk sampingan dari reaksi kimia di dalam otak kita. Pada pihak yang lain, pandangan sebagian orang Kristen sering muncul dalam bentuk ekstrem dan menyatakan bahwa manusia yang berdosa sama sekali tidak mempunyai sesuatu yang baik, dan karena itu tidak dapat diharapkan untuk bertanggungjawab atas perbuatannya. Tak satu pun dari ekstrem ini memiliki dukungan alkitabiah.

Ayat di atas mentatakan bahwa menjadi manusia berarti menyandang gambar Allah. Kita tidak ilahi, tetapi kita mencerminkan keilahian. Tuhan memiliki pikiran, emosi, dan kehendak. Sebagai pembawa citra, kita juga memiliki kecerdasan, emosi, dan kemauan. Kita memiliki kreativitas, menciptakan, membuat, mensintesis, membuat musik, dan menciptakan semua jenis karya seni. Kita memiliki karunia bahasa, menghubungkan pikiran dari satu pikiran sadar diri ke pikiran lain, mempelajari ribuan kata dan menciptakan kata-kata baru saat kita membutuhkannya. Kita terdorong untuk memberi nama dan mengklasifikasikan binatang, seperti yang dilakukan ayah kita Adam (Kejadian 2:19–20). Karena kita diciptakan menurut gambar Allah, kita memiliki martabat dasar dan makna yang melekat.

Menjadi manusia berarti memiliki tujuan hidup. Tugas Allah yang dinyatakan kepada Adam dan Hawa adalah untuk “berbuah dan bertambah jumlahnya; memenuhi bumi dan menaklukkannya. Berkuasalah atas ikan di laut dan burung di langit dan atas setiap makhluk hidup yang merayap di bumi” (Kejadian 1:28). Kita masih memenuhi tujuan ini saat kita menjinakkan hewan, menggunakan sumber daya alam, membentuk alam, dan mengukir keberadaan kita bahkan di lingkungan yang paling keras sekalipun. Tapi kita lebih dari pengelola planet ini. Tujuan hidup kita yang berbeda dengan makhluk lain adalah untuk mengenal Tuhan dan memiliki hubungan dengan-Nya. Tujuan tertinggi kita adalah untuk memuliakan Allah: “Segala sesuatu diciptakan oleh [Anak] dan untuk Dia” (Kolose 1:16).

Menjadi manusia juga berarti memiliki kebutuhan. Hanya Tuhan yang mandiri dan bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Kita memiliki kebutuhan tubuh, jiwa, dan roh. Tubuh kita harus menerima makanan, minuman, dan istirahat untuk bertahan hidup. Jiwa kita harus bersekutu dengan orang lain, penyaluran kreativitas, dan waktu stimulasi mental, emosional, dan estetika untuk menjaga kesehatan. Roh kita harus makan dari Firman Allah dan memiliki hubungan dengan Kristus (Lukas 4:4; Yohanes 6:35). Jika kita menyangkal adanya kebutuhan di salah satu dari ketiga bidang ini, itu berarti menolak untuk mengakui bagian dari kemanusiaan kita.

Menjadi manusia berarti bertanggung jawab secara moral. Kita diberi Tuhan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan salah. Adam memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab atas pilihan moral yang dia buat untuk mematuhi atau tidak mematuhi Pencipta-Nya; sayangnya, dia memilih untuk tidak menaati Allah (Kejadian 2:16–17). Semua umat manusia berbagi tanggung jawab moral yang sama, dan kita semua berada di bawah keharusan moral yang sama untuk menaati Allah. “Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya” (Yehezkiel 18:20). Tanggung jawab moral tidak hilang ketika manusia jatuh dalam dosa.

Menjadi manusia berarti sudah berdosa. Kita semua adalah orang berdosa (Roma 3:23; 5:12). Kita telah melanggar hukum Allah dan memilih jalan kita sendiri (Yesaya 53:6; 1 Yohanes 3:4). Dosa kita telah memisahkan kita dari Pencipta kita dan menyebabkan kita mati secara rohani (Efesus 2:1-10). Kita diperbudak oleh dosa, tidak mampu membebaskan diri dari malapetaka yang ditimbulkannya (Roma 6:23). Tanpa campur tangan Tuhan, kita akan terkutuk dan terpisah dari Dia (Yohanes 3:16-18). Karena besarnya kasih Tuhan, kita tidak harus tetap dalam kondisi ini. Ada penebusan yang tersedia di dalam Yesus Kristus. Karena pengorbanan Yesus di kayu salib, dosa kita dapat diampuni, dan hubungan kita dengan Allah dapat dipulihkan (Yohanes 3:16–18; Efesus 2:8–9). Menjadi manusia berarti dikasihi Tuhan dan diberi kesempatan menjadi anak-anak Tuhan (Yohanes 1:12; 3:16). Mereka yang menolak kasih Tuhan adalah bukanlah orang yang dikasihi-Nya.

Alkitab mengatakan bahwa Anak Allah menjadi manusia. Yesus Kristus datang dari surga, hidup tanpa dosa, mati di kayu salib sebagai korban untuk dosa kita, dan kemudian bangkit kembali. Semua orang yang beriman kepada Kristus adalah orang yang dikasihi-Nya dan diberikan kebenaran-Nya (2 Korintus 5:21). Kita dijadikan manusia baru (2 Korintus 5:17), dan Roh Kudus mendiami kita (Efesus 1:13-14). Kematian dan kebangkitan Kristuslah yang membuat semua perbedaan bagi umat manusia. Manusia yang dulunya sulit untuk mau mempertanggung jawabkan hidupnya, kemudian menjadi orang yang mau bertanggung jawab kepada Tuhan. Mereka akan hidup dalam terang Kristus dan mau berusaha untuk hidup menurut firman-Nya.

Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa menjadi manusia yang “baik” saja tidak cukup. Umat manusia dirusak oleh dosa dan menghadapi penghakiman Allah yang pasti. Sekalipun kita mau bertanggungjawab atas hidup kita dan berusaha hidup baik, pertanggunganjawab itu tidak akan cukup untuk bisa menebus dosa kita kepada Tuhan yang mahasuci. Hanya manusia yang telah ditebus yang akan bisa melihat Tuhan dan hidup bersama-Nya selamanya. Hanya mereka yang ada di dalam Kristus yang akan mengalami pengampunan dosa, penghapusan kerusakan dan penghapusan air mata. Yesus berkata: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (Yohanes 3:3). Maukah Anda menjadi manusia yang dilahirkan kembali?

Ajaran Alkitab tentang keselamatan dan hidup baru

Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. Beritakanlah semuanya itu, nasihatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaanmu. Janganlah ada orang yang menganggap engkau rendah. Titus 2 : 12-15

Ketika seseorang mengatakan bahwa Alkitab diilhamkan, mereka menunjuk kepada fakta bahwa Allah mempengaruhi orang-orang yang menulis Kitab Suci dengan cara sedemikian rupa sehingga apa yang mereka tuliskan itu adalah Firman Allah. Dalam konteks Kitab Suci, kata ilham/inspirasi berarti “dinafaskan oleh Allah.” Pengilhaman memberi tahu kita bahwa Alkitab benar-benar Firman Allah, dan dibandingkan dengan kitab-kitab lainnya, ini membuat Alkitab menjadi kitab yang unik. Sekalipun ada pendapat yang berbeda-beda mengenai sampai taraf apa Alkitab diilhamkan, tidak ada keraguan bahwa Alkitab sendiri mengklaim bahwa setiap kata, dalam setiap bagian Alkitab, diilhamkan oleh Allah sendiri (1 Korintus 2:12-13; 2 Timotius 3:16-17).

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” 2 Timotius 3:16-17

Pandangan semacam ini sering disebut sebagai inspirasi secara ”verbal dan menyeluruh” (verbal plenary inspiration). Pandangan ini menganggap pengilhaman itu untuk semua kata (inspirasi verbal), bukan hanya konsep atau ide. Yang diilhamkan adalah seluruh bagian dan topik Alkitab (inspirasi secara menyeluruh). Ada orang-orang yang percaya bahwa hanya sebagian dari Alkitab yang diilhamkan, atau hanya pemikiran-pemikiran atau konsep-konsep yang berhubungan dengan agama yang diinspirasikan; namun pandangan serupa ini tidak sesuai dengan apa yang diklaim oleh Alkitab sendiri. Pengilhaman secara verbal dan menyeluruh adalah karakteristik penting dari Fiman Tuhan.

Ayat ini memberitahukan kita bahwa Allah mengilhamkan Kitab Suci secara keseluruhan dan hal itu bermanfaat untuk kita. Bukan hanya bagian Alkitab yang berhubungan dengan pengajaran-pengajaran agama yang diilhamkan, namun setiap dan semua bagian, mulai dari Kejadian sampai Wahyu, itu benar-benar Firman Tuhan. Karena diilhamkan oleh Allah, Alkitab merupakan otoritas dalam menentukan doktrin dan sudah memadai untuk mengajar manusia bagaimana dapat memiliki relasi yang benar dengan Allah, ”mendidik orang dalam kebenaran.”Alkitab bukan hanya mengklaim sebagai sesuatu yang diilhamkan oleh Allah, namun juga mampu mengubah kita dan membuat kita ”sempurna,” diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Pandangan yang benar terhadap Allah akan menuntun pada pandangan yang benar terhadap Firman-Nya. Karena Allah itu Mahakuasa, Mahatahu, dan sepenuhnya sempurna, Firman-Nya memiliki karakteristik yang sama. Ayat-ayat yang sama yang menegakkan pengilhaman Alkitab juga meneguhkan bahwa Alkitab tidak ada kekeliruan di dalamnya dan memiliki otoritas. Tanpa ragu, Alkitab sesuai dengan yang diklaim – tanpa bisa disangkal, Firman Tuhan yang berotoritas yang ditujukan kepada manusia. Walaupun demikian, dalam mempelajari Alkitab kita harus mengerti konteks ayat-ayatnya dan mengarisbawahi apa yang diajarkan Yesus dalam kitab Injil. Dengan memakai prinsip ini, kita tidak akan menjumpai kontradiksi dalam Alkitab.

Paulus mengilustrasikan tindakan keselamatan Allah dalam beberapa cara. Salah satu modelnya adalah model peradilan. Dalam hal ini, Paulus menggambarkan masalah manusia dalam istilah hukum. Tuhan adalah pembuat hukum yang telah memberikan hukum; Tuhan juga hakim manusia. Semua orang telah melanggar hukum dan harus menghadap Tuhan untuk dihukum; hukuman atas dosa adalah maut. Paulus juga menjelaskan solusi untuk masalah ini dalam istilah yudisial: Yesus setuju untuk membayar hukuman bagi orang lain. Allah Bapa menunjukkan bahwa Dia menerima pengorbanan Yesus dengan membangkitkan Dia dari kematian. Untuk memperoleh keselamatan, manusia harus beriman kepada pengorbanan Yesus dan penerimaan Allah atas itu. Keselamatan adalah karunia Tuhan.

Model kedua yang pernah dihadirkan Paul adalah model partisipasionis. Di sini juga, masalah manusia adalah dosa, tetapi dalam hal ini dosa bukanlah perbuatan yang dilakukan manusia yang bertentangan dengan kehendak Allah. Sebaliknya, dosa adalah kekuatan kosmis yang memperbudak manusia. Solusinya, sekali lagi, adalah kematian dan kebangkitan Yesus, tetapi kali ini mengungkapkan kemenangan Allah atas kuasa kosmik dosa dan kematian. Orang Kristen “berpartisipasi” dalam kemenangan ini melalui baptisan dan keinginan untuk hidup baru. Paulus percaya bahwa pada saat pembaptisan, orang Kristen dipersatukan dengan Kristus dan ikut serta dalam kemenangannya. Keselamatan membawa perbahan hidup manusia.

Perlu kita ketahui, model-model ini bukan satu-satunya yang digunakan Paul, dan tidak saling eksklusif. Saat menulis kepada orang Roma, Paulus sangat ingin menekankan bahwa semua orang—baik Yahudi maupun bukan Yahudi—sama-sama dikutuk di hadapan Allah karena semua orang telah berbuat dosa. Namun, Paulus meyakinkan orang-orang Romawi bahwa Allah telah menawarkan keselamatan dari penghukuman ini: kematian Kristus menebus dosa. Paulus menegaskan bahwa hukum tidak dapat membenarkan seseorang: perjanjian yang Allah buat dengan orang Yahudi selalu didasarkan pada iman, bukan pada perbuatan hukum. Karena hukum tidak membawa orang ke posisi yang benar di hadapan Allah, orang Yahudi tidak berada di posisi yang menguntungkan. Semua orang dihukum, tetapi mereka yang percaya pada kematian dan kebangkitan Kristus dapat berpartisipasi dalam kemenangannya atas kejahatan dan kematian. Meskipun mengikuti hukum tidak menempatkan seseorang pada posisi yang benar di hadapan Allah, Paulus menjelaskan bahwa Injilnya bukanlah “pelanggar hukum:” kepercayaan kepada Kristus menuntut tindakan kasih demi sesama.

Dalam ayat di atas, Paulus menulis kepada Titus bahwa orang Kristen melakukan hal yang baik karena Kristus sudah lebih dulu berkurban untuk mereka. Mereka tentu tidak berusaha untuk berbuat baik guna dapat diselamatkan, karena tidak ada seorangpun yang bisa memenuhi standar kesucian Allah. Tetapi, karena kasih Tuhan yang begitu besar telah membawa keselamatan, umat Kristen seharusnya mempunyai keinginan yang kuat untuk hidup baik dan berbuat kebaikan agar orang lain bisa melihat kasih Tuhan dan kemudian mau menerima karunia keselamatan. Pekerjaan yang baik dan hidup baik orang Kristen di dunia ini adalah identik dengan mengajak dunia untuk memuliakan Tuhan. Tetapi hal ini bukanlah mudah untuk dijalankan. Bagaimana kita membandingkan ajaran Paulus ini dengan ajaran Yesus?

Sebenarnya, ada dua syarat yang diberikan Yesus untuk menjadi murid-Nya (Lukas 14: 25-33). Yang pertama adalah rela meninggalkan keluarga untuk mengikut Yesus. Yang kedua adalah rela mati, baik secara harfiah maupun metaforis (“mati bagi diri sendiri”) untuk mengikut Yesus. Yesus kemudian memberikan dua contoh “menghitung biaya.” Yang pertama adalah contoh seorang pria yang ingin membangun menara tanpa terlebih dahulu menghitung biaya pembangunan menara. Setelah menyadari bahwa dia tidak dapat menyelesaikannya, dia menyerah karena malu dan malu. Yang kedua adalah seorang raja yang bersiap untuk pergi berperang dan memastikan dia bisa bertahan melawan musuh yang lebih unggul. Maksud Yesus adalah bahwa untuk menjadi pengikut-Nya kita harus bersedia berkurban besar. Untuk hidup baik, kita harus mau meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi. Ini adalah konsekuensi yang harus dihadapi.

Untuk bisa hidup sebagai orang Kristen yang setia di dunia ini tidaklah mudah. Godaan dan bahaya selalu ada di dunia yang sudah dipenuhi dosa ini; sehingga sering mereka yang ingin untuk hidup baik, bisa gagal untuk menjalaninya. Banyak orang Kristen hidup dalam dua dunia, diluar kehidupan gereja mereka tidak berbeda dengan orang lain. Ada juga orang Kristen yang terlihat baik dalam masyarakat, tetapi tidaklah demikian dalam keluarga sendiri. Banyak orang Kristen yang berbuat baik untuk sesama tetapi tidak mempersembahkan kemuliaan yang diterima kepada Tuhan. Selain itu, ada juga orang Kristen yang kurang bisa melakukan pekerjaan yang baik karena adanya kesibukan dan kesukaran hidup. Hal-hal semacam ini sudah tentu merendahkan nilai karunia keselamatan yang sudah diberikan Tuhan. Walaupun demikian, ada pandangan Kristen duniawi yang memandang bahwa hidup baik adalah hal yang kurang penting bagi orang yang sudah terpilih. Tentu saja, pandangan duniawi seperti ini cukup memikat karena agaknya keselamatan ada tanpa menimbulkan konsekuensi.

Ide kekristenan duniawi pada dasarnya mengajarkan bahwa selama seseorang mengaku beriman kepada Kristus, dia diselamatkan (Roma 10:9), bahkan jika tidak ada ketaatan langsung pada perintah Yesus dan para rasul untuk hidup dalam hidup kesucian. Mereka terpilih bukan karena perbuatan, dan karena itu perbuatan bukanlah faktor penting dalam hidup kekristenan mereka. Ini adalah gagasan bahwa kita dapat memiliki Yesus sebagai Juruselamat, tetapi tidak harus sebagai Tuhan yang harus ditaati. Orang-orang yang mendukung Kekristenan duniawi, atau “karunia cuma-cuma” seperti yang sering disebut, tidak menyangkal perlunya perbuatan baik (yaitu, hidup kudus) untuk pengudusan, tetapi mereka memisahkan panggilan untuk keselamatan dari panggilan untuk pengudusan (atau pemuridan) . Ini adalah penyalahgunaan ajaran Paulus.

Memang ada orang Kristen yang terlalu menekankan ajaran Paulus, kemudian mengajarkan bahwa orang yang percaya kepada Yesus Kristus “memiliki hidup yang kekal” dan “akan diselamatkan.” Tidak ada yang mempermasalahkan ini. Namun, yang ditentang oleh orang-orang Kristen lainnya bukanlah bahwa keselamatan dan kehidupan kekal adalah pemberian cuma-cuma dari kasih karunia Allah, melainkan ajaran bahwa panggilan keselamatan tidak mencakup panggilan untuk pertobatan dan hidup kudus. Dengan kata lain, teologi mereka yang keliru membuat doktrin keselamatan Paulus sebagai ajaran kasih karunia yang gratis atau uma-cuma menjadi doktrin kasih karunia yang murah. Ini adalah kesalahan besar. Kasih karunia Allah memang diberikan secara cuma-cuma kepada orang percaya, tetapi harga yang harus dibayar Yesus adalah sangat mahal. Gratis, tetapi bukan murah.

Jika proses pengudusan dimulai pada saat orang diselanatkan dan perintah Tuhan untuk hidup baik ada dalam Alkitab, sering kali orang tidak sadar akan pentingnya. Dari mana orang Kristen bisa mendapatkan kesadaran untuk hidup baik? Sebagian orang berpendapat bahwa itu mungkin diperoleh dengan bertambahnya usia, dan pengaruh lingkungan, pendidikan dan pengalaman. Benarkah begitu? Ada banyak orang yang sudah lama menjadi anggota gereja, tetapi tidak mengenal pentingnya untuk hidup baik. Bukannya berusaha hidup baik, mereka justru sering mencemooh orang lain yang berusaha hidup dalam kekudusan dan menganggap mereka munafik.

Ayat di atas menjelaskan bahwa, bagi orang Kristen, apa yang baik selalu datang dari Tuhan dan dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi-Nya dan kebaikan bagi umat-Nya. Dengan demikian, mereka yang penuh dengan hikmat akan mengerti bahwa panggilan keselamatan dan panggilan untuk hidup kudus adalah satu. Mereka yang bijaksana seperti Zakheus yang dipanggil Yesus untuk turun dari pohon, tidaklah menyombongkan keselamatan yang mereka terima, tetapi sebaliknya justru rendah hati, baik hati, tulus hati dan mau memakai apa yang ada dalam hidup mereka untuk memuliakan Tuhan.

Pagi ini kita disadarkan bahwa seyakin-yakinnya kita akan karunia keselamatan dari Tuhan, itu belum lengkap jika kita tidak sadar bahwa karunia keselamatan itu bukanlah sesuatu yang murah, yang tidak menuntut pengurbanan kita. Mereka yang mengabaikan perintahTuhan untuk hidup dalam kekudusan bukanlah orang Kristen yang sejati karena mereka memusatkan hidup mereka kepada keselamatan diri sendiri. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup baik yang penuh kasih harus tetap diusahakan dan dipertahankan sampai berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka.

Menjadi pemimpin yang baik

Maka sangat marahlah aku, ketika kudengar keluhan mereka dan berita-berita itu. Setelah berpikir masak-masak, aku menggugat para pemuka dan para penguasa. Kataku kepada mereka: ”Masing-masing kamu telah makan riba dari saudara-saudaramu!” Lalu kuadakan terhadap mereka suatu sidang jemaah yang besar”. Nehemia 5: 6-7

Karakter apa yang paling penting untuk menjadi seorang pemimpin? Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab karena setiap lingkungan kerja tentunya mempunyai keadaan yang berbeda dan dengan itu membutuhkan pemimpin dengan karakter yang berlainan. Sebagai kepala sekolah, mungkin seseorang harus mempunyai karakter yang baik sebagai pendidik dan bisa diterima oleh para guru, murid dan orangtua murid. Seorang pemimpin negara tentu saja seharusnya mempunyai karisma, kebijaksanaan dan kemampuan untuk memimpin para menteri dan rakyatnya.

Banyak orang Kristen yang percaya bahwa menjadi pemimpin di luar gereja tidaklah mudah. Mengapa begitu? Di dalam kehidupan sekuler, kita tentunya tidak bisa memakai Alkitab sebagai buku pedoman kerja untuk semua orang. Dalam kehidupan di negara yang berlandaskan demokrasi, banyak pemimpin mau tidak mau harus tunduk kepada suara terbanyak. Apa yang bisa dilakukan seorang pemimpin dalam keadaan sedemikian tentunya hanya memakai etika praktis dan hukum yang ada dan yang bisa diterima oleh semua orang. Sekalipun demikian, ada satu karakter yang membedakan seorang pemimpin yang baik dari yang lain: integritas.

Apa arti kata “integritas”? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata ini sebagai “mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran”. Memang kejujuran adalah karakter yang sangat penting, yang membedakan orang yang mengikut Tuhan dari orang yang lain. Sayang sekali, kita tahu bahwa dari mulanya manusia cenderung untuk tidak jujur, seperti apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa di taman Firdaus di hadapan Tuhan.

Mengapa orang mampu menyulap apa yang buruk untuk menjadi sesuatu yang kelihatan baik? Mengapa orang, demi keuntungan dan kenikmatan diri sendiri, sanggup untuk memutar-balikkan fakta? Mengapa banyak orang yang menghalalkan segala cara, asal  tujuannya tercapai? Mereka yang tidak punya etika yang baik sudah tentu dapat dikatakan sebagai oknum yang tidak berintegritas. Itulah yang terjadi di zaman Nehemia, ketika orang Yahudi yang kaya dan berkedudukan menindas dan memeras mereka yang miskin dan lemah. Mereka yang tidak mampu sampai-sampai harus mengadaikan rumah mereka dan hidup dalam kelaparan, karena terlibat hutang yang berbunga besar.

Nehemia dalam ayat di atas menyatakan kemarahannya. Nehemia sebagai orang yang takut akan Tuhan, tidak ragu-ragu marah untuk memembela yang lemah. Memang kemarahan yang mempunyai sebab yang benar tidaklah perlu dihindari, dan justru harus dinyatakan. Dalam hal ini, Nehemia dalam kejujurannya, tidak dapat menahan kemarahannya ketika mendengar adanya orang-orang yang beriktikad jelek, yang mau menindas bagsa sendiri. Kemarahan Nehemia bukanlah asal marah saja, tetapi didasarkan pada integritas dirinya. Ia berpikir masak-masak sebelum bertidak, dan mengadakan sidang jemaah yang besar.

Integritas adalah suatu konsep berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Tetapi, dalam hal kejujuran dan etika setiap orang seringkali berbeda, karena latar belakang, budaya, sifat, kebiasaan dan lingkungan bisa membuat orang mempunyai standar yang berbeda-beda. Karena itu banyak orang (dan bahkan pemimpin kaliber tinggi) yang percaya bahwa mereka adalah orang yang mempunyai integritas, sekali pun di mata umum mereka mungkin sebaliknya.

Bagi orang Kristen, integritas seseorang adalah tingkah laku dan perbuatan  yang  tidak menyimpang dari fiman Tuhan. Firman di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus yakin akan apa yang akan kita nyatakan kepada orang lain. Jika kita percaya bahwa itu benar adanya, kita harus mengiyakannya. Tetapi jika sesuatu adalah tidak benar, kita juga harus berani untuk berkata “tidak”. Upaya untuk menutup-nutupi kenyataan dengan tipu-daya atau kamuflase, seharusnya tidak ada dalam kamus kehidupan orang Kristen karena semua itu adalah ketidak-jujuran.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah bagi kita untuk selalu bertindak jujur, tegas dan berani dalam membela kebenaran. Sering kali, karena kekuatiran, ketakutan atau karena adanya risiko, orang Kristen tidak dapat mempertahankan integritasnya. Ini bukan saja mengenai soal bisnis, pekerjaan, dan sekolah, tetapi juga kehidupan keluarga. Pada pihak yang lain, ada banyak orang Kristen yang seperti orang Yahudi di zaman Nehemia yang berlaku semena-mena kepada orang lain, termasuk sesama orang Kristen. Orang yang sedemikian seolah-olah tidak takut akan Tuhan yang mahaadil dan mahasuci.

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa jika kita memang benar-benar pengikut Kristus, kita akan sungguh-sungguh yakin bahwa apa yang kita perbuat, katakan dan pikirkan haruslah berdasarkan kebenaran. Dengan demikian, tidak ada gunanya bagi kita untuk berusaha melakukan  tindakan yang diharapkan untuk lebih meyakinkan orang lain atas integritas kita. Sebaliknya, kita harus menjaga integritas kita dengan selalu sadar bahwa apa yang akan kita tunjukkan, lakukan, dan sampaikan kepada orang lain adalah apa yang sudah diketahui oleh Tuhan kita. Integritas adalah ciri iman Kristen yang sejati.

Apakah yang harus kita lakukan?

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15-5-6

Setiap hari Minggu, umat Kristen umumnya pergi ke gereja. Walaupun demikian, tidak semua orang yang pergi ke gereja akan pulang ke rumah dengan membawa kesan yang baik. Mungkin itu disebabkan oleh acara pujian yang kurang “sreg”, atau mungkin juga karena bahan khotbah yang kurang mengena. Bagi pendeta yang membawakan khotbah memang sulit untuk bisa selalu menyampaikan firman Tuhan dengan menerangkan apa aplikasinya dalam hidup setiap jemaat. Memang, sebagian pengkhotbah sering membawakan khotbah yang “kering”, tetapi berisi pengajaran teologi yang dalam. Sebaliknya, ada banyak pengkhotbah yang menyampaikan khotbah “populer” yang kurang berisi firman Tuhan. Sebenarnya, apakah yang dibutuhkan jemaat dalam mendengarkan firman? Kebanyakan jemaat ingin tahu “apa yang harus aku perbuat?” dalam hidup yang mereka alami (berapa kali pertanyaan ini muncul dalam Alkitab PB?).

Bagi umat Kristen, terlepas dari hal bagaimana dan sejak kapan manusia mengenal Tuhannya, pada umumnya diterima pernyataan bahwa Tuhanlah yang memilih manusia untuk diperkenalkan kepada Dia. Mereka yang dipilih Tuhan, diberi kesempatan, jalan dan bimbingan untuk dapat merasakan kuasa, kasih dan eksistensi Tuhan, sekalipun mereka tidak dapat melihat Tuhan dengan mata jasmani. Dari ayat pembukaan di atas, kita bisa melihat bahwa Tuhan juga memilih umat-Nya untuk menghasilkan buah, yaitu berbagai bentuk kasih untuk sesama manusia. Itu jika kita mau untuk tetap hidup bersama Dia. Ini adalah salah satu dari firman Tuhan yang sudah dinyatakan kepada kita, dan yang harus kita perhatikan dengan seksama selama kita hidup di dunia. Ini juga seharusnya ditekankan dalam pengajaran Kristen. Mengapa demikian?

Jika Yesus digambarkan sebagai pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya, itu karena kita sudah dipilih untuk menjadi umat-Nya. Sebagai umat, kita akan bergantung kepada Dia sebagai sumber kehidupan. Karena itu, jika kita memang orang Kristen yang sejati, kita akan merasakan adanya dorongan untuk tumbuh dan berbuah. Mereka yang bukan orang yang dipilih-Nya adalah seperti ranting yang patah atau rontok tanpa menghasilkan buah dan kemudian akan menjadi kering.

Jika buah dari pengurbanan Kristus di kayu salib adalah keselamatan kita, buah dari keselamatan kita, yang tumbuh karena Yesus sudah memilih kita, adalah apa yang bisa membawa kabar keselamatan bagi orang lain.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Jika kita berusaha untuk berbuat baik dan mengasihi sesama kita, mungkin ada orang yang mungkin menegur kita bahwa keselamatan kita bukan bergantung pada usaha kita. Tetapi, ayat di atas mengatakan bahwa “barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak” . Ini menunjukkan bahwa mereka yang benar-benar mempunyai relasi yang baik dengan Yesus, pasti akan berbuah banyak. Mereka yang Kristen sejati pasti mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan. Mereka akan merasakan adanya dorongan untuk berbuah banyak karena adanya Roh Kudus yang bekerja.

Bagaimana kalau demikian? Haruskah kita mengabarkan bahwa sebagai manusia yang lemah, kita harus mengikut jejak Yesus dan hidup untuk berbuah? Tuhan yang sudah memilih kita adalah Tuhan yang mahakuasa, dan Ia mendengar doa-doa kita, supaya apa yang kita minta kepada Bapa dalam nama Yesus akan diberikan-Nya kepada kita. Karena itu kita harus yakin dalam iman bahwa jika Tuhan berserta kita, tidaklah ada yang perlu kita ragukan dalam hidup kita. Roh Kuduslah yang akan memberi kita buah-buah Roh jika kita hidup sesuai dengan firman-Nya dan tidak mendukakan Roh-Nya.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Efesus 4: 30

Sikap kita dalam menghadapi perundungan

Ketika Sanbalat mendengar, bahwa kami sedang membangun kembali tembok, bangkitlah amarahnya dan ia sangat sakit hati. Ia mengolok-olokkan orang Yahudi dan berkata di hadapan saudara-saudaranya dan tentara Samaria: ”Apa gerangan yang dilakukan orang-orang Yahudi yang lemah ini? Apakah mereka memperkokoh sesuatu? Apakah mereka hendak membawa persembahan? Apakah mereka akan selesai dalam sehari? Apakah mereka akan menghidupkan kembali batu-batu dari timbunan puing yang sudah terbakar habis seperti ini?” Lalu berkatalah Tobia, orang Amon itu, yang ada di dekatnya: ”Sekalipun mereka membangun kembali, kalau seekor anjing hutan meloncat dan menyentuhnya, robohlah tembok batu mereka.” Nehemia 4:1-3

Dalam media sosial ataupun dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membaca atau mendengar kata bully. Tak dapat dipungkiri bahwa kata ini begitu populer dalam masyarakat mana pun, termasuk Indonesia. Bullying atau perundungan sendiri adalah sebuah kegiatan penyalahgunaan kekuasaan atau ‘kekuatan’ yang bertujuan untuk menyakiti orang lain baik dalam bentuk fisik, psikis atau perkataan sehingga sang korban seringnya akan merasakan sakit, depresi atau terjebak dalam keputusasaan. Biasanya, pelaku adalah orang yang merasa mempunyai posisi yang lebih tinggi atau lebih ‘kuat’ dari sang korban. Tetapi, ada juga perundungan yang terjadi di antara dua pihak yang bermusuhan. Dalam hal in, perundungan mungkin muncul dalam bentuk ancaman atau intimidasi.

Perundungan bisa terjadi di sekolah, di kantor, di rumah, di gereja dan di mana saja, termasuk di dunia maya. Ini sudah ada sejak dulu, tetapi baru sejak dekade yang lalu disorot orang karena akibatnya yang sangat destruktif dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang menjadi hancur hidupnya setelah menjadi korban perundungan. Jika perundungan begitu buruk akibatnya dan hanya akan menyakiti orang lain, mengapa banyak orang yang kerap kali melakukannya?

Sekalipun Alkitab tidak mempunyai kata perundungan, dalam ayat di atas ada kata-kata yang berkaitan dengan perundungan. Pada waktu itu, Nehemia berada di Yerusalem dan berusaha mengerahkan orang-orang Yahudi untuk bersama-sama membangun kota itu, yang sudah porak-poranda karena berbagai serangan tentara musuh. Nehemia tidak mempunyai orang-orang yang berpengalaman dalam hal membangun, dan karena itu ia menerima bantuan dari banyak orang Yahudi yang mempunyai berbagai latar belakang dan pekerjaan. Sudah tentu, mereka tidak dapat bekerja sekeras atau secepat mereka yang biasa membangun. Ketika itulah ada beberapa orang non-Yahudi yang mengejek dan berusaha mematahkan semangat Nehemia dan pengikutnya.

Ada berbagai istilah mengenal perundungan yang perlu diketahui umat Kristen, diantaranya:

  1. Intimidasi fisik adalah bullying yang berbentuk kekerasan badani, seperti: mendorong, memukul, melukai, dan meludahi.
  2. Intimidasi emosional adalah bullying yang melibatkan faktor-faktor lain selain interaksi fisik, seperti: penghinaan, komentar yang menghina, memberi nama panggilan, membodoh-bodohkan dan mengolok-olok.
  3. Intimidasi individu adalah bullying yang dilakukan perorangan dan bisa terjadi baik secara langsung atau online. Intimidasi individu juga bisa dilakukan dengan cara intimidasi fisik atau intimidasi emosional.
  4. Intimidasi kelompok adalah bullying yang dilakukan beramai-ramai terhadap seseorang, dengan cara intimidasi fisik atau intimidasi emosional. Ini juga dapat dilakukan secara langsung atau di dunia maya.

Keempat jenis perundungan di atas sudah dilakukan kepada orang-orang Yahudi yang ingin membangun kembali kota Yerusalaem (baca Nehemia 4).

Banyak faktor yang memicu seseorang untuk melakukan perundungan, di antaranya yang paling umum adalah:

  • Kurangnya kepercayaan diri sendiri: sang pelaku ingin merasa ‘lebih baik’ dengan cara merundung; yang akhirnya memberikan mereka kepuasan yang bersifat sementara tanpa menyadari efek berkepanjangan pada korban .
  • Kurangnya empati kepada orang lain: biasanya para pelaku akan mencari alasan pembenaran kelakuan mereka jika ditanyakan. Namun bagaimanapun, tidak ada satu pun alasan yang bisa membenarkan sebuah tindakan tidak terpuji seperti bullying. Kurangnya hati nurani adalah penyebab utamanya, alih-alih alasan lain yang mereka coba buat.
  • Mencari-cari perhatian: sang pelaku merasa ‘hebat’ dengan menindas orang lain dan mendapatkan atensi dari banyak orang. Yang sebenarnya, bisa jadi salah satu tanda gangguan mental yang ia idap, seperti kecenderungan narsistik akut yang membuatnya ingin selalu dipandang sebagai yang ‘terhebat’.
  • Perbedaan suku, agama atau ras, dan antar agama: SARA adalah salah satu penyebab perundungan yang paling sering dijumpai. Ini karena adanya orang-orang dari golongan tertentu yang menganggap rendah orang lain. Dan inilah yang terjadi pada Nehemia dan pengikutnya.

Perundungan terhadap seseorang adalah suatu dosa, dan maraknya kasus semacam ini di berbagai tempat adalah sangat menyedihkan. Herannya, khotbah gereja jarang sekali membahas hal perundungan di kalangan umat Kristen. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa kasus perundungan adalah marak di antara umat Kristen, tetapi jarang dibahas karena adanya rasa tabu. Pada pihak lain, perdebatan antar golongan Kristen yang ada di media, dan yang sering kali sudah melampaui batas-batas etika, juga bisa digolongkan sebagai usaha perundungan sesama.

Hari ini, anda mungkin ingin tahu bagaimana reaksi Yesus seandainya Ia masih ada bersama kita sekarang ini. Matius 5: 22 bisa memberi sebuah gambaran:

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Jelas bahwa Yesus membenci bentuk perundungan sekecil apa pun. Karena itu, sebagai umat Kristen kita harus ikut berusaha bersama masyarakat umum, badan gereja, aparat hukum dan pemerintahan untuk menghilangkan praktik perundungan dari kehidupan masyarakat. Itu adalah bagian panggilan kita untuk mengasihi sesama manusia.

Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita” Amsal 14: 21

Apa yang dilakukan Nehemia dalam menghadapi perundungan dan ancaman musuh-musuhnya? Ia berdoa kepada Tuhan dan meminta pertolongan. Ia tahu bahwa perundungan sudah terjadi bukan hanya terhadap dia dan pengikutnya.

Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan. Jangan Kaututupi kesalahan mereka, dan dosa mereka jangan Kauhapus dari hadapan-Mu, karena mereka menyakiti hati-Mu dengan sikap mereka terhadap orang-orang yang sedang membangun. Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati.” Nehemiya 4: 4-6

Sepertinya, doa Nehemia ini terdengar sangat keras nadanya. Tetapi, itu adalah jeritan hatinya yang merasa bahwa Tuhanlah yang sudah dihina, karena perundungan yang sudah dilakukan oleh Sanbalat dan Tobia. Nehemia yang sudah disertai Tuhan sehingga ia diizinkan raja Artahsasta dari Persia untuk pergi ke Yerusalem, tahu bahwa ia mengemban tugas berat untuk membagun kembali kota Yerusalem untuk kemuliaan-Nya (Nehemiya 1,2). Oleh sebab itu, ia berdoa agar Tuhan menyertai bangsa Israel dalam perjuangan membangun kota Yerusalaem sampai selesai.

Hari ini kita bisa belajar bahwa jika kita mengalami perundungan, kita boleh berdoa kepada Tuhan untuk memohon perlindungan dan kekuatan, jika kita terancam untuk tidak dapat menjalankan tugas dan kewajiban sehari-hari yang diberikan Tuhan kepada kita. Lebih dari itu, Nehemia juga menunjukkan bahwa kita juga harus berani berjuang sepenuh hati untuk melenyapkan bahaya dan ancaman mereka yang ingin menghancurkan pekerjaan Tuhan (Yeremia 4).

“Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu.” Nememia 4:14