Sinisme adalah racun kehidupan

“Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” Ibrani 12: 15

Seorang yang sinis adalah seseorang yang percaya bahwa orang-orang dimotivasi semata-mata oleh kepentingan pribadi dan akibatnya, tidak ada yang bisa dipercaya. Sinisme menunjukkan penghinaan terhadap sifat manusia secara umum dan menunjukkan ketidakpercayaan yang besar. Karena orang yang sinis penuh dengan penghinaan terhadap sesama manusia, orang Kristen tidak boleh dikenal sebagai orang yang sinis.

Banyak orang tua yang sinis terhadap anak-anaknya. Mungkin karena adanya rasa kecewa, orang tua sedemikian sering mengejek apa yang dilakukan sang anak, menganggapnya sebagai kebodohan dan kesia-siaan. Sebagai akibat, anak yang hidup dalam keluarga dimana sinisme muncul dalam berbagai bentuk, kemudian bisa menjadi orang dewasa yang kurang percaya diri, takut untuk mencoba apa yang baru, dan selalu menyesali kemalangan hidupnya. Lebih menyedihkan, seorang yang dibesarkan dalam lingkungan yang sinis, bisa menjadi orang sinis juga. Sinisme adalah seperti penyakit menular.

Alkitab memiliki contoh orang-orang yang sinis. Yunus menunjukkan sikap sinis terhadap Niniwe dalam keyakinannya bahwa orang Asyur tidak pantas mendapatkan pengampunan Tuhan (Yunus 4). Ketika Filipus pergi ke Natanael temannya untuk membawanya kepada Yesus, tanggapan Natanael menunjukkan sinisme: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yohanes 1: 46).

Orang-orang sinis, menurut pengertian umum, adalah orang yang pesimis tentang kehidupan. Karena dalam pandangan sinis, orang yang memiliki sikap atau naluri untuk memperhatikan dan mengutamakan kepentingan dan kebaikan orang lain tidaklah ada. Semua orang adalah bobrok sebobrok-bobroknya (absolutely depraved). Tidak ada orang yang bisa bertindak dengan motif yang baik, dan tidak ada janji yang akan ditepati. Mereka yang cukup bodoh untuk mempercayai orang lain adalah ditakdirkan untuk menjadi korban. Pandangan sedemikian tentunya bisa disebut ekstrim. Alkitab tidak mengajarkan sinisme dan pesimisme seperti itu. Kasih “selalu percaya, selalu berharap” (1 Korintus 13:7).

Orang sinis adalah pencari kesalahan. Mereka dengan mudah melihat kualitas negatif dari seseorang, benda, atau ide dan dengan cepat bisa menunjukkannya. Sebagian orang Kristen yang jatuh ke dalam perangkap sinisme merasa diri mereka sangat “rohani” atau “cerdas”, ketika mereka mengkritik musik Kristen tertentu, mengejek penampilan Kristen tertentu, atau meremehkan denominasi Kristen tertentu. Padahal, Alkitab memperingatkan kita agar tidak mengkritik rekan-rekan seiman:

“Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (Roma 14:13).

Orang sinis juga cenderung sarkastik. Humor mereka meyakiti dan sering pedas. Sarkasme jarang, jika pernah, berguna untuk melayani tujuan Tuhan. “Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.” (Galatia 5:15). Kata-kata sinis sering kali merupakan gejala kekecewaan dan kepahitan di dalam hidup, dan ayat pembukaan kita memperingatkan kita terhadap racun seperti itu: “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” (Ibrani 12:15).

Penyabab utama dari sinisme adalah kurangnya kasih dalam hidup. Orang yang sinis mungkin sering dikecewakan orang lain. Kesombongan dan kurangnya kesadaran diri juga berperan, karena orang yang sinis sering menempatkan pendapatnya di alas pendapat orang lain. Sinisme adalah produk dari sifat kejatuhan kita. Kita adalah orang berdosa, dan, ketika kita berjalan dalam daging, mudah bagi kita untuk mengambil sikap sinis dalam menanggapi penderitaan atau kekecewaan.

Memang orang yang sinis sering berlaku sinis terhadap dirinya sendiri dan merasa pesimis kalau ia bisa atau perlu berubah. Tetapi, Tuhan punya rencana yang baik untuk kita. Dia ingin menyembuhkan kita dan membersihkan hidup kita dari sinisme. Untuk itu kita harus mau untuk berubah seiring dengan bimbingan Roh Kudus. Kita harus percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa bisa memberi keyakinan bahwa dalam kasih-Nya kita bisa menghadapi hidup dalam masyarakat dengan optimisme.

Pada akhirnya, kunci untuk menghadapi sinisme dalam hidup kita adalah Kristus sendiri. Kita membutuhkan Kristus di dalam hati kita untuk menghilangkan kemarahan, melarutkan kepahitan, dan menjadikan kita ciptaan baru. Doa yang cocok untuk menghilangkan rasa sinis adalah:

“Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku”. Mazmur 19:14

Mengapa perlu berbuat baik?

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Adakah orang yang baik di dunia? Pertanyaan yang sederhana ini bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Sebagai manusia kita tentunya ingat akan orang-orang yang sudah berjasa memberikan tumpangan, pertolongan, dan bahkan mengurbankan sebagian dari hidup mereka untuk kita. Kita mungkin ingat dan berterima kasih atas bimbingan orang tua, guru, pendeta dan teman selama hidup kita. Tetapi, apakah kita bisa menyatakan bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang baik?

Sebenarnya, tidaklah mudah bagi kita untuk menyatakan bahwa seorang yang kita kenal adalah baik. Mereka yang baik bagi kita, mungkin bukan orang yang baik untuk orang lain. Apa yang kita pandang sebagai kebaikan, belum tentu adalah sesuatu yang baik untuk oramg lain. Apa yang kita anggap sebagai kebaikan, mungkin saja mempunyai maksud yang terselubung. Dengan demikian, hanya Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya. Dan itu sudah dinyatakan-Nya.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Walaupun begitu, manusia sebagai ciptaan Tuhan bukanlah manusia yang tidak bisa berbuat baik sekecil apa pun. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa, adalah manusia yang sudah rusak total secara rohani sehingga seharusnya akan mengalami kematian yang abadi. Tetapi, itu bukan berarti bahwa manusia adalah makhluk yang rusak hidupnya secara total, secara jasmani dan rohani.

Setiap manusia di dunia ini diberi kemampuan oleh Tuhan untuk, paling tidak, membedakan apa yang baik dan apa yang buruk bagi hidupnya dan hidup orang lain. Menolak adanya kenyataan ini adalah menolak kenyataan bahwa sesudah jatuh dalam dosa, manusia tetap menjadi alat Tuhan untuk berpartisipasi dalam kehidupan di dunia. Manusia tetap mempunyai hati dan pikiran yang bisa dipakai untuk Tuhan sebagai alat-Nya, sekalipun mereka mungkin tidak sadar akan hal itu.

Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Tuhan yang mahakasih sudah memberikan berbagai karunia, termasuk karunia terbesar yaitu keselamatan melalui darah Kristus. Dalam hidup sehari-hari, Tuhan juga memberikan kesempatan kepada setiap umat-Nya untuk bersyukur kepada-Nya dengan berbuat baik kepada semua orang, karena Ia sudah lebih dulu berbuat baik bagi kita. Karena itu, pengertan kita akan berbuat baik tentunya berbeda dengan pengertian mereka yang tidak mengenal Tuhan. Kita sadar akan karunia dan kuasa Tuhan dalam hidup kita.

Setiap orang sudah diberikan Tuhan kesempatan untuk hidup baik. Mengambil kesempatan untuk hidup tanpa mau memikirkan dari mana itu datang, sudah tentu merupakan hal yang tidak pantas, dan bahkan bisa dikatakan dosa kesombongan. Menggunakan kesempatan hidup tanpa mau mengerti apa arti pemberian itu adalah pencerminan sikap mementingkan diri sendiri. Dan tindakan mengambil apa yang baik dari Tuhan hanya untuk kemuliaan dan kenyamanan diri sendiri, tidaklah jauh berbeda dengan dosa mencuri.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk berbuat baik sudah disediakan Tuhan bagi kita selama kita hidup. Karena itu adalah pemberian Tuhan, kita tidak perlu ragu-ragu untuk memakainya. Sebaliknya, karena kesempatan itu diberikan kepada setiap umat-Nya, kita harus bersedia untuk mengambil kesempatan itu untuk bisa digunakan sesuai dengan kehendak-Nya, yaitu untuk membawa kemuliaan bagi Dia. Maukah kita mengambil kesempatan yang masih ada untuk berbuat baik kepada semua orang dan terutama kepada saudara-saudara seiman kita?

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Filipi 4:-8

Pentingkan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 13 – 15

Orang yang percaya adanya Tuhan yang mahakuasa tentunya sadar bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi dengan seizin-Nya. Lebih dari itu, untuk mencapai apa yang diingininya, manusia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk membuka jalan. Dalam kenyataannya, manusia lebih mudah untuk mengatakan kata “jika Tuhan menghendaki” daripada untuk melakukan apa yang semestinya dilakukan. Manusia sering kali merencanakan segala sesuatu untuk masa depan dengan tanpa memikirkan kehendak Tuhan. Memang kita tidak tahu apa yang akan dilakukan-Nya dengan segala apa yang sudah kita perbuat, tetapi harus kita akui bahwa kita mungkin sering melakukan sesuatu dan ingin agar Tuhan kemudian memberi persetujuan-Nya. Pada pihak yang lain, kita mungkin sudah mengetahui banyak kehendak Tuhan dalam hidup kita, tetapi kita tidak mau melakukannya.

Untuk pengertian kita, sebenarnya kehedak Tuhan itu bisa juga dibagi menjadi tiga macam:

(a) Kehendak mulak: yaitu dekrit yang berdaulat, kehendak yang dengannya Allah mewujudkan apa pun yang Dia tetapkan. Ini tersembunyi bagi kita sampai itu terjadi.

(b) Kehendak preseptif: adalah hukum atau perintah Allah yang diwahyukan, untuk mana kita bisa mengabaikan, tetapi tidak membatalkan.

(c) Kehendak watak: kehendak yang menggambarkan sikap atau watak Tuhan. Ini mengungkapkan apa yang berkenan kepada-Nya. Ini pun sesuatu yang bisa diaabaikan orang.

Dengan demikian, apa yang kita lakukan sehubungan dengan kehendak Tuhan (b) dan (c) adalah tanggung jawab dalam kebebasan kita untuk menaati dan menghormati Tuhan. Jika kita tidak mau tunduk kepada (b) dan (c), kita telah berbuat dosa. Banyak contoh di Alkitab yang menunjukkan manusia yang mengalami berbagai masalah karena tidak mau melaksanakan apa yang dituntut oleh kehendak Tuhan dalam bentuk (b) dan (c). Ini jelas terlihat dalam perbuatan Adam dan Hawa di taman Firdaus, ketika mereka melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buan terlarang (Kejadian 3: 3).

Adalah kelemahan manusia bahwa sampai sekarang manusia ingin mengetahui apa kehendak mutlak Tuhan, yang tidak bisa mereka ketahui sampai saat Tuhan menyatakan hal itu. Manusia terobsesi dengan apa yang akan terjadi sehingga sebagian ingin melaksanakan rencananya secepat-cepatnya agar dapat memperoleh hasilnya. Sebaliknya, ada orang-orang yang tidak mau atau tidak bisa melaksanakan rencana mereka sebelum ada “kepastian” bahwa itu adalah apa yang dikehendaki Tuhan. Sebaliknya ada orang-orang yang merasa tahu apa kehendak mutlak Tuhan sehingga mereka yakin untuk berhasil. Semua itu adalah pandangan yang kurang benar karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang secara mutlak dikehendaki-Nya, sampai itu terjadi.

Ayat di atas menyatakan bahwa jika manusia merencanakan, Tuhanlah yang menentukan hasilnya. Manusia boleh dan bisa merencanakan, tetapi harus sadar bahwa rencananya akan berhasil jika itu sesuai dengan seluruh kehendak Tuhan. Sebaliknya, jika manusia tidak mau membuat rencana, apa yang kemudian terjadi mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Memang, Tuhan selalu mempunyai cara untuk mengenapi rencana-Nya, dan setelah itu terjadi, kita mungkin tidak setuju dengan kehendak-Nya atau tidak menyukai hasil rancangan-Nya. Tetapi, kita tidak dapat melawan kehendak mutlak Tuhan. Karena itulah, jika kita percaya kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu, kita akan selalu mencari kehendak preseptif dan kehendak watak dari Tuhan yang sudah dinyatakan kepada semua umat-Nya. Kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat kita melangkah, tetapi jika kita melangkah sesuai dengan firman dan sifat keilahian-Nya, Tuhan akan memakai kita dan membimbing kita untuk mencapai apa yang direncanakan-Nya.

Kesombongan manusia membuat ia merencanakan segala sesuatu tanpa mau belajar dari kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan, dan sebaliknya mengharapkan bahwa kehendak mutlak Tuhan akan sesuai dengan kehendak kita. Ayat di atas memperingatkan mereka yang yakin dan bahkan sombong akan hari depan yang cerah, bahwa hidup mereka bukan di tangan mereka sendiri. Apa yang akan terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena Tuhanlah yang memegang kunci kehidupan. Mereka seharusnya menyadari bahwa hanya dengan mencari dan melakukan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan, mereka akan bisa melaksanakan apa yang mereka rencanakan dengan benar.

Sebagai umat Kristen, kita tidak dapat mengharapkan bahwa hidup di dunia bisa menjadi mudah dan selalu lancar. Kita tidak juga bisa berharap bahwa tanpa menaati kehendak Tuhan yang ada dalam Alkitab, Tuhan akan mendatangkan mukjizat yang kita ingini. Selama hidup ini kita justru perlu untuk membuat berbagai rencana dan keputusan. Ini harus dilakukan dengan penyerahan kita secara total kepada kehendak mutlak-Nya. Ini seringkali tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi kita bisa mengharapkan datangnya pertolongan Tuhan agar kita bisa melangkah dengan iman dan sanggup menghadapi berbagai jurang dan bukit untuk menuju ke arah yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita.

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Jika Tuhan mengabulkan permintaan kita

Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: “Tidak, harus ada raja atas kami; maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang.” Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan menyampaikannya kepada TUHAN. 1 Samuel 8: 19-21

Dalam 1 Samuel 8, kita membaca tentang bagaimana orang Israel meminta seorang raja menjelang akhir hidup Samuel. Seperti yang dijelaskan dalam pasal ini, ini adalah tuntutan yang berdosa dan mencerminkan penolakan orang-orang Israel terhadap Allah sebagai Raja mereka. Permintaan mereka menunjukkan bahwa mereka tidak sepenuh hati mau menyembah Tuhan. Tetapi, akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apa yang dapat kita pelajari dari ayat-ayat ini?

Tuhan tahu orang Israel akan memilih raja dan Ia mempunyai rencana yang tidak bisa dibatalkan:

Bagian-bagian Alkitab lain juga meramalkan bahwa suatu hari bangsa Israel akan meminta seorang raja. Bahkan dari turunan raja Daud, lahir seorang Juruselamat, yaitu Yesus Kristus. Allah memang berjanji kepada Yakub, “Lagi firman Allah kepadanya: ”Akulah Allah Yang Mahakuasa. Beranakcuculah dan bertambah banyak; satu bangsa, bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu dan raja-raja akan berasal dari padamu.” (Kejadian 35:11). Referensi serupa untuk raja di masa depan dapat ditemukan dalam Kejadian 36:31; 49:10; Bilangan 24:7–9; dan Ulangan 28:36.

Kita percaya bahwa Tuhan mahatahu. Tuhan telah meramalkan bahwa suatu hari bangsa Israel akan meminta seorang raja. Dalam kemahakuasaan-Nya, Tuhan bisa menggenapi rencana-Nya dengan tidak terganggu oleh kejadian-kejadian transien yang ada di dunia. Bagi-Nya, apa yang dilakukan manusia tidak ada pengaruhnya terhadap semua yang sudah ditetapkan-Nya.

Tuhan tidak menyukai manusia yang melupakan bimbingan-Nya:

Mengapa tuntutan orang Israel akan seorang raja merupakan dosa? Permintaan orang Israel adalah salah, karena Tuhan adalah penguasa Israel. Allah memimpin bangsa itu melalui Musa dan Harun, dan kemudian melalui para imam dan hakim memerintah umat itu. Di zaman Samuel, orang-orang mulai khawatir tentang siapa pemimpin berikutnya, karena putra Samuel tidak mengikuti Tuhan. Permintaan mereka untuk seorang raja merupakan penolakan terhadap cara kepemimpinan Tuhan atas mereka.

Dari ayat-ayat lain, kita tahu bahwa maksud Tuhan adalah agar Israel memiliki seorang raja, tetapi bukan raja yang sama seperti yang dimiliki bangsa-bangsa kafir. Orang-orang Israel keliru pada zaman Samuel karena mereka menginginkan jenis kerajaan yang ada di antara orang-orang bukan Yahudi, bukan hanya karena mereka iningin hidup dalam sebuah kerajaan. Mereka menginginkan seorang raja yang akan bersenang-senang dengan kekuatannya sendiri, dalam ukuran istana kerajaannya, dan dalam kemuliaannya sendiri. Samuel memperingatkan mereka bahwa memiliki raja seperti itu tidak akan baik bagi bangsa itu, tetapi mereka mengabaikannya dan tetap menuntut jenis raja yang salah (1 Sam. 8:10-20). Kesalahan seperti ini bisa terjadi pada kita juga, jika kita tidak sadar atas apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita.

Tuhan membiarkan kebodohan umat Israel untuk mencapai renana-Nya

Suatu hal yang mengherankan terjadi. Tuhan yang mahatahu tentunya tahu apa yang diingini bangsa Israel dan apa yang menjadi alasannya. Bangsa Israel merasa iri dengan bangsa-bangsa yang mengikuti dewa-dewa palsu. Tuhan menanggapi permintaan bani Israel dengan menyuruh Samuel untuk mendengarkan orang banyak dan mengangkat seorang raja untuk mereka (ayat 21-22). Tetapi seperti yang akan kita lihat, meskipun orang Israel mendapatkan jenis raja yang mereka inginkan, hal itu menyebabkan banyak perselisihan di Israel. Kita harus sadar bahwa terkadang Tuhan memanifestasikan penghakiman-Nya dengan membiarkan manusia memiliki apa yang mereka inginkan meskipun apa yang mereka inginkan tidak baik.

Raja Israel muncul sebagai bagian rencana Allah. Tetapi itu bukan berarti bahwa Tuhanlah yang membuat orang Israel menginginkan seorang raja. Itu juga bukan berarti bahwa Tuhan “tunduk” kepada permintaan bani Israel. Mengapa? Israel sudah bersalah meminta seorang raja adalah karena orang Israel melakukannya agar menjadi seperti ”semua bangsa lain”. Tuhan telah menciptakan Israel sebagai umat yang unik. Dia adalah pemimpin mereka. Ketika bangsa Israel menginginkan seorang raja seperti yang dimiliki bangsa-bangsa lain, mereka menolak posisi mereka yang unik dan terpisah sebagai umat Allah. Karena itulah, Tuhan menghukum mereka dengan membiarkan mereka jatuh ke dalam perangkap dosa.

Sampai sekarang Tuhan memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih hidup yang baik:

Tuhan menetapkan bahwa Israel akan mempunyai raja. Tetapi, itu tidak harus melalui cara yang salah. Karena itu Tuhan mengizinkan orang Issrael untuk memiliki raja dengan maksud menghukum mereka dan sekaligus menggenapi rencana-Nya. Dengan demikian, meminta sesuatu yang sesuai dengan kehendak Tuhan juga harus dengan cara dan maksud yang baik. Tuhan mengutus Samuel untuk menasihati bangsa Israel agar mereka memilih apa yang baik, dan sampai sekarang pun Ia ingin agar kita memilih apa yang berkenan kepada-Nya, karena Ia sudah memberi Roh Kudus-Nya untuk membimbing kita.

Sampai sekarang Tuhan bisa membiarkan hal yang buruk untuk mengajar umat-Nya:

Setiap manusia pasti akan menerima apa yang buruk atas dosa dan kesalahan mereka. Selain itu, manusia yang hidup di dunia yang penuh dosa, bisa mengalami apa yang tidak baik sekalipun mereka tidak membuat kekeliruan. Tetapi, dari bacaan kita hari ini, kitaharus sadar bahwa Tuhan terkadang membiarkan apa yang buruk terjadi atas diri kita agar kita sadar atas kesalahan kita dan agar rencana baik-Nya terjadi.

Sampai sekarang Tuhan bisa mencapai kehendak-Nya sekalipun manusia berusaha melawan:

Dapatkah manusia melawan kehendak Tuhan? Tentu saja. Tetapi tidak ada seorang pun yang bisa menang dalam melawan Tuhan yang mahakuasa. Bani Israel mungkin bergembira karena Tuhan seolah mengalah kepada mereka. Tetapi, ini adalah anggapan yang salah karena tidak lama kemudian mereka merasakan bagaiman mereka menderita dalam hidup karena adanya raja Saul. Tuhan memang terkadang membiarkan kita mendapatkan apa yang kita ingini. Seolah doa kita berhasil mengubah pandangan Tuhan, atau mendorong Dia untuk melalkukan apa yang kita ingini. Tetapi, melalui apa yang kita baca, kita harus lebih berhati-hati dalam memohon sesuatu kepada Tuhan. Kita harus mencari kehendak-Nya, karena apa yang tidak sesuai dengan itu mungkin tidak akan terjadi, atau jika itu terjadi akan membawa kesusahan kepada kita. Percayalah bahwa Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa adalah Tuhan yang harus kita dengar suara-Nya dan kita turuti perintah-Nya!

Tuhan yang bisa menghitung rambut adalah Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal dan sering dikhotbahkan untuk menunjukkan bahwa Tuhan mengatur alam semesta dan juga hidup manusia sampai ke detail yang sekecil-kecilnya. Tuhan agaknya menghitung jumlah rambut kita satu persatu dan tidak membiarkan sehelai rambut pun rontok tanpa seizinNya. Tuhan dengan demikian membuat segala sesuatu berjalan persis seperti apa yang dikehendaki-Nya. Pengertian determinisme yang sedemikian biasanya cenderung mengarah ke pandangan bahwa Tuhan, baik secara langsung maupun tidak langsung, adalah pencipta dan penyebab terjadinya segala sesuatu, termasuk apa yang baik dan jahat. Kuasa Tuhan yang absolut membuat manusia hanya bisa melakukan apa yang ditentukan-Nya dan bahkan bertanggung jawab atas hidup yang sudah ditentukan Tuhan dari awalnya.

Sekalipun secara literal bunyi ayat itu menggaris-bawahi kedaulatan Tuhan yang mutlak, banyak penafsir Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus dalam ayat itu memakai sebuah kiasan (metafor) untuk menyatakan bahwa Tuhan adalah mahatahu dan mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan tidak perlu untuk menghitung jumlah rambut kita setiap detik, tetapi Ia yang mahatahu selalu bisa mengarahkan jalan kehidupan manusia yang bebas tetapi terarah pada rencana Tuhan. Sekalipun pekerjaan Tuhan bukan menghitung rambut manusia, tetapi Ia tahu keadaan setiap insan dan selalu bisa mengatasinya.

Perlu diketahui, selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus Kristus menggunakan frasa “rambut” secara harfiah dan metaforis, dua cara yang berbeda tetapi terhubung. Secara harfiah, Dia berbicara tentang pengetahuan ilahi dengan detail yang tepat. Tuhan dapat dan melakukan hal yang mustahil secara manusiawi, sepanjang waktu. Itulah yang dilakukan dan akan dilakukan oleh Allah Tritunggal untuk selama-lamanya.

“Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya.” Matius 10:30.

Secara kiasan, Yesus berbicara tentang keselamatan. Hanya Tuhanlah Juruselamat, Penyelamat, Pelindung, Penjaga, dan Pembebas kita, sekarang dan selama-lamanya. Sekali lagi, itulah yang Dia lakukan dan akan lakukan selamanya.

“Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang.” Lukas 21:18

Seperti Yesus, Paulus juga menggunakan frasa ini secara metafora untuk mengartikan “keselamatan.”

“Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorang pun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.” Kisah Para Rasul 27:34

Dengan demikian, sekalipun secara literal bunyi ayat pembukaan di atas menggarisbawahi kedaulatan Tuhan yang mutlak, banyak penafsir Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus dalam ayat itu memakai sebuah kiasan untuk menyatakan bahwa Tuhan adalah mahatahu dan mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan tidak perlu untuk menghitung jumlah rambut kita setiap detik, tetapi Ia yang mahatahu selalu bisa memegang kemudi jalan kehidupan manusia.

Bagaimana dengan kita sendiri, jika kita melihat sesuatu terjadi di luar dugaan atau rencana kita? Karena kita bukan Tuhan, sudah tentu reaksi kita akan berbeda dengan reaksi-Nya. Kita mungkin heran, kaget, kuatir atau takut. Jika itu menyangkut masa depan dan rencana kita, mungkin saja kita merasa sedih, depresi, kuatir ataupun putus asa. Adalah wajar bahwa sebagai manusia kita menyadari bahwa kemampuan kita terbatas dan karena itu kita bisa kehilangan harapan. Tetapi Tuhan bukan manusia. Ia bisa mengatasi semua persoalan dan bahkan tahu persoalan apa yang akan timbul sebelum itu terjadi.

Ayat di atas meyakinkan kita bahwa tidak ada hal yang terlalu kecil untuk diabaikan Tuhan, dan tidak ada hal yang terlalu besar untuk bisa diatasi-Nya. Tuhan mahatahu tidak mungkin untuk tidak melihat masalah apa pun yang terjadi di dunia dan Ia tahu bagaimana hal yang kecil bisa berkembang menjadi besar. Tuhan yang mahakuasa tentunya mampu untuk mengatasi masalah apa pun pada waktu yang tepat. Tuhan pastilah bisa membuat apa saja untuk menjadi kebaikan untuk umat-Nya sehingga semua orang bisa memuliakan Dia yang mahakuasa.

Dalam kenyataannya, manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa sudah tentu tidak bisa hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Setelah diusir dari taman Firdaus, manusia secara bebas melakukan berbagai kejahatan dan penyelewengan yang pada akhirnya akan membawa kematian. Walaupun demikian, Tuhan yang mahakuasa tidak akan terkejut melihat apa yang terjadi, karena Ia yang memegang kemudi dan sanggup mengatur segalanya sehingga pada akhirnya kehendak-Nya yang terjadi. Itulah sebabnya Ia membeti kesempatan dan kesempatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya untuk bertobat. Pujilah Tuhan selama-lamanya!

Menhindari petengkaran dalam hidup

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” 2 Timotius 2: 23 – 25

Gereja Yesus Kristus adalah sebuah keluarga. Mereka yang telah menempatkan iman mereka di dalam Kristus mengizinkan Roh-Nya mengubah mereka dan telah diadopsi ke dalam keluarga Allah (Efesus 1:5; Roma 8:15). Dan, seperti halnya keluarga mana pun, ada perselisihan. Ada bentrokan kepribadian, perbedaan pendapat, dan ide yang tidak akan bekerja sama. Ketika masing-masing yakin bahwa jalannya adalah satu-satunya jalan yang benar, bentrokan itu bisa permanen. Namun, perbedaan pendapat tidak selalu membuahkan hasil yang negatif. Bahkan para rasul memiliki perbedaan pendapat.

Dalam Kisah Para Rasul 15:36-41, kita membaca tentang Paulus dan Barnabas memiliki perselisihan yang begitu tajam sehingga mereka berpisah, memilih mitra pelayanan baru, dan berpisah. Hasilnya adalah semakin banyak gereja yang didirikan dan pesan Tuhan disebarkan kepada lebih banyak orang. Paulus dan Barnabas akhirnya berdamai dan terus bersama-sama menyebarkan Injil.

Ayat di atas mengajarkan bahwa dalam membicarakan hal iman, kita harus berkomunikasi dengan lemah lembut dan hormat, tanpa maksud buruk, supaya mereka yang menentang kita menjadi malu karena hidup dan sikap kita yang tak bercela. Baik dalam kehidupan sehari-hari atau dalam pertemuan di dunia maya, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang tidak mengenal Kristus, orang Kristen harus menyatakan kasihnya kepada semua orang agar kebenaran Tuhan dinyatakan.

Kata “semua orang” dalam ayat di atas juga menekankan prinsip kekristenan bahwa mengasihi sesama manusia bukanlah berarti hanya mengasihi orang yang seiman dan segolongan saja, tetapi semua orang yang hidup di dunia. Mengasihi berarti menghargai orang lain dan mau menolong mereka yang dalam kesulitan. Sekalipun kita tidak menyetujui apa yang dilakukan atau dipercayai orang lain, kita tidak dengan sengaja mencari musuh dengan berusaha menundukkan atau menghina mereka.

Apa yang ditulis Paulus adalah cocok untuk diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap umat Kristen, terutama para pemimpin jemaat. Paulus menasihati kita untuk menghindari perdebatan tentang soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Semua orang tentunya tahu bahwa soal-soal itu cenderung menimbulkan pertengkaran. Kita sebagai pengikut Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi sebaliknya harus ramah terhadap semua orang, terutama mereka yang mempunyai faham yang berbeda.

Meskipun seharusnya hanya ada satu interpretasi yang akurat dari segala sesuatu dalam Alkitab, kemampuan manusia untuk membedakan bahwa satu interpretasi bisa salah. Dua tokoh Kristen dapat melihat masalah yang sama secara berbeda. Sebagian besar denominasi gereja muncul dari interpretasi yang kontras ini. Tetapi denominasi-denominasi tersebut tidak perlu terlibat dalam “argumentasi” satu sama lain.

Diskusi antara sudut pandang yang sangat kontras tidak harus menjadi argumen. Keilahian Kristus, keselamatan melalui iman, dan kebutuhan akan pertobatan tidak dapat ditawar lagi. Tetapi beberapa masalah sekunder dalam Firman Tuhan menyisakan ruang untuk perbedaan pendapat. Beberapa ketidaksepakatan yang ada umumnya berkaitan dengan predestinasi, kehendak bebas,nubuatan akhir zaman, karunia Roh, baptisan, dan organisasi gereja. Inilah justru yang sering menjadi bahan perdebatan yang sengit saat ini.

Alkitab jelas bahwa Allah membenci perselisihan dan pertengkaran di antara anak-anak-Nya (2 Korintus 12:20; Galatia 5:15; Yakobus 3:14, 4:1-3). Filipi 2: 1-4 menyatakan:

“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”

Jika setiap orang percaya hidup dengan aturan itu, pertengkaran akan bisa dihindari. Setiap orang tua tidak menyukai pertengkaran di antara saudara kandung, dan Tuhan adalah Bapa yang juga tidak menyukainya.

Paulus juga membahas hal ini dalam Roma 14. Dia memperingatkan orang-orang percaya untuk menyambut mereka yang baru dalam iman yang mungkin memiliki keyakinan yang berbeda dari orang-orang kudus yang berpengalaman. Ayat 5 mengatakan, “Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.” Dengan kata lain, ada beberapa masalah yang bukan masalah berat, dan kita perlu mengamalkan kasih karunia dalam menerima keyakinan yang dipegang teguh dari orang percaya lainnya.

Melakukan hal itu secara konsisten akan menghilangkan banyak perdebatan yang menodai reputasi tubuh Kristus. Kita harus mempelajari Firman Tuhan dan mengungkapkan apa yang kita percaya itu ajarkan (2 Timotius 2:15), tetapi kita harus melakukannya dengan kerendahan hati dan kasih, memberikan kasih karunia kepada orang percaya lain yang melihat sesuatu secara berbeda (1 Korintus 13:1-2).
Pada akhirnya, kita semua menjawab kepada Bapa kita tentang bagaimana kita memperlakukan satu sama lain (Matius 12:36). Setiap anak Tuhan harus ingat bahwa Bapa kita menempatkan jauh lebih penting pada kasih kita menunjukkan daripada Dia lakukan pada kita yang “benar” dalam setiap masalah (1 Yohanes 4:20-21).

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita boleh berdebat dengan orang lain mengenai hal iman, tetapi pada akhirnya apa yang lebih mudah dimengerti adalah tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita benar-benar sudah menerima penebusan Kristus, hidup kita pastilah diisi dengan kasih, sukacita dan kelemahlembutan. Dengan demikian, banyaklah orang yang mengambil keputusan untuk mau mengenal Kristus karena mereka melihat Dia hidup dalam diri kita.

Hal mengambil keputusan dalam hidup

Sebenarnya kamu harus berkata: ”Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Pernahkah anda bertanya-tanya apa kehendak Tuhan bagi hidup anda? Saya kira kita semua pernah mengajukan pertanyaan itu di beberapa kesempatan. Bagi kebanyakan dari kita, pertanyaan muncul dalam hati kita pada saat-saat kritis: memilih pasangan atau pekerjaan, memilih sekolah mana yang akan diikuti atau rumah mana yang akan dibeli. Inilah saat-saat kita cenderung berseru: Tuhan, tunjukkan kehendak-Mu!

Pada saat kita berusaha untuk mengetahui kehendak Tuhan, kita sering merasakan ketegangan. Dalam keinginan yang tulus untuk menyenangkan Dia, terkadang orang Kristen bisa berjalan dalam ketakutan bahwa mereka akan membuat pilihan yang salah. Secara ekstrim, kita mungkin bertanya-tanya di mana Tuhan ingin kita mendapatkan kopi, berapa banyak yang Dia ingin kita belanjakan untuk bahan makanan, atau apakah Dia akan senang jika kita pergi ke luar kota untuk berlibur. Setiap pilihan menjadi keputusan yang melumpuhkan: entah karena takut gagal menemukan apa yang Tuhan inginkan, atau takut membuat pilihan yang bisa menghancurkan segalanya.

Bagi beberapa orang, terobsesi dengan detail kehidupan membuat mereka membuat keputusan dengan cara yang jelas-jelas tidak alkitabiah—menggantungkan pilihan mereka pada “tanda-tanda” atau ‘berserah pada “nasib”. Mungkin kita terpaksa berkata: “Kehendak-Mu jadilah” sambil menutup mata dan mengharapkan apa yang terbaik. Pada pihak yang lain, ada orang yang berayun ke ujung yang berlawanan, yang berpikir bahwa Tuhan tidak terlalu peduli dengan detail kehidupan kita dan tidak memiliki “kehendak” untuk apa pun atas hal yang mereka lakukan.

Kita juga dapat berasumsi bahwa kehendak Tuhan hanya berlaku untuk aspek kehidupan tertentu, yang signifikan, misalnya dengan siapa kita menikah atau pekerjaan apa yang kita lamar. Tetapi, di luar hal-hal besar itu, pada dasarnya kita mungkin percaya bahwa kita mengendalikan hidup kita. Yakobus mengatakan sikap seperti ini adalah arogan dan jahat (Yakobus 4:16). Dalam segala hal, kita harus mengakui ketergantungan kita sepenuhnya pada rencana Allah yang berdaulat, dengan mengatakan, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini atau itu” (Yakobus 4:15). Tetapi bagaimana kita bisa tahu apakah Tuhan telah menghendaki sesuatu atau tidak? Apakah kita tidak boleh atau tidak bisa mengambil keputusan dengan pikiran dan pengalaman kita?

Sebenarnya semua kehendak Tuhan bisa dibagi dalam dua penampilan: kehendak rahasia-Nya dan kehendak-Nya yang diungkapkan. Kehendak rahasia-Nya (kadang-kadang disebut sebagai kehendak tersembunyi) mengacu pada fakta bahwa Allah berdaulat dan memerintah dengan cermat atas segalanya. Tidak ada yang terjadi di luar kehendak-Nya atau tidak dengan se-izin-Nya. Ini disebut “tersembunyi” atau “rahasia” karena kita tidak tahu kehendaknya sebelum itu terjadi. Ini adalah kehendak Allah yang berdaulat, tetapi tidak kita ketahui. Kehendak ini tidak ada yang bisa menggagalkannya.

Pada pihak yang lain, kehendak Allah yang diungkapkann adalah apa yang Dia nyatakan kepada kita di dalam Alkitab dan apa yang kita ketahui melalui pengenalan kita akan hukum dan watak Ilahi-Nya. Misalnya, kita tahu bahwa Tuhan menghendaki kita mengasihi sesama, mengekang lidah, berlaku adil, mengasihi belas kasihan, dan berjalan dengan rendah hati. Kita tahu adalah kehendak Tuhan agar kita menghindari “dosa-dosa yang membinasakan” yang bisa menghancurkan hubungan kita dengan Dia dan sesama seperti kesombongan,ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan dan kemalasan.

Ironisnya, sebagai orang Kristen kita cenderung mengabaikan kehendak Tuhan yang diungkapkan dan terlalu berfokus pada kehendak rahasia-Nya. Kita sering ingin mengetahui kehendak Tuhan yang tersembunyi di masa depan, sementara berjalan bertentangan dengan kehendak-Nya yang terungkap di masa sekarang. Kita kurang mau mengambil keputusan berdasarkan kehendak Tuhan yang kita ketahui, dan berharap pada apa yang masih dirahasiakan. Selain itu, jika pun kita mau mengambil keputusan, kita mungkin berusaha mengingkari tanggung jawab kita dengan berkata bahwa semua yang kemudian terjadi adalah kehendak Tuhan yang dulunya tidak kita sadari.

Sebenarnya, kita harus rajin belajar dan berusaha memahami kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan. Saat kita mendengarkan khotbah dan pengajaran yang baik, membaca dan mempelajari renungan Alkitab, kita akan bertumbuh dalam kemampuan kita untuk mengetahui kehendak Allah yang diungkapkan. Dan saat kita memperbarui pikiran kita, Roh Kudus akan membantu kita tidak hanya membedakan kehendak Tuhan (Roma 12:2), tetapi juga menerapkannya pada keadaan dan momen hari-hari kita. Dengan demikian, kita akan lebih berani untuk mengambil keputusan dalam hidup kita karena kita percaya akan bimbingan-Nya.

Sementara kita berusaha mematuhi kehendak Tuhan yang diungkapkan, kita dapat percaya bahwa sebagai wakil Tuhan di dunia, kita bisa bergantung pada pemeliharaan Tuhan yang baik—bahwa Ia ikut bekerja dalam semua hal untuk membawa kebaikan bagi kita. . Melalui sinergi, Dia mengerjakan segala sesuatu bersama-sama untuk kebaikan orang-orang yang mengasihi-Nya (Roma. 8:28). Apa pun hari-hari kita, kita dapat percaya bahwa hal-hal spesifik sudah dirancang oleh Tuhan yang pengasih untuk kebaikan kita.

Apakah keputusan kita hari ini menyangkut hal memilih pasangan atau pekerjaan baru, kita dapat mempercayai Tuhan kita yang berdaulat untuk mengatur hidup kita untuk kemuliaan dan kebaikan kita. Ini juga berarti kita dapat mempercayai kehendak Tuhan bahkan selama adanya masalah kehidupan. Terkadang kita berpikir bahwa penderitaan kita tidak mungkin dikehendaki Tuhan. Tetapi kita lupa bahwa keselamatan kita dimenangkan Yesus karena Ia menyerahkan diri-Nya sepenuhnya kepada kehendak Allah pada saat penderitaan-Nya yang terbesar.

Setelah hidup dalam ketaatan yang sempurna pada kehendak Tuhan yang diungkapkan, Yesus, pada malam sebelum penyaliban-Nya, bertanya kepada Bapa-Nya tiga kali apakah ada cara lain baginya untuk menyelesaikan rencana Tuhan untuk menyelamatkan manusiai. Semuanya bergantung pada bagaimana Yesus akan menanggapi kehendak Allah yang sempurna. Segala pujian dan kemuliaan bagi Yesus, karena Dia menyerahkan diri kepada kehendak Bapa dengan berkata, “Jadilah kehendak-Mu” (Matius 26:42).

Pagi ini, biarlah kita berusaha untuk mengetahui kehendak Tuhan yang diungkapkan sebelum kita mengambil tindakan atau keputusan. Kita harus mau menaatinya, berjalan dalam kekudusan, mengejar kekudusan, mengasihi sesama kita, bermurah hati dengan sumber daya kita, mengekang lidah kita, dan takut akanTuhan. Percayalah bahwa Tuhan, dalam pemeliharaan-Nya, mengerjakan segala sesuatu bersama-sama untuk kebaikan kita, dan ingatlah bahwa apa yang saat ini tersembunyi akan suatu hari terungkap dalam kemuliaan Tuhan. Sementara kita menunggu dengan harapan yang teguh untuk hari itu, kita harus bersyukurlah kepada Tuhan bahwa kehendak-Nya selalu baik untuk setiap umat-Nya.

Pada akhirnya kehendak Tuhan pasti terjadi

Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya. Efesus 1: 11

Apakah Tuhan mengatur hidup orang Kristen saja atau semua orang di dunia? Banyak orang yang menafsirkan dari ayat di atas bahwa Tuhan membuat segala sesuatu di dunia terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Ini menyangkut hal yang baik dan yang buruk. Bagaimana sebenarnya?

Ayat di atas ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Efesus. Jadi, jelas bahwa ayat ini ditujukan untuk untuk umat Kristen. Menurut ayat itu, “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Apa arti “segala sesuatu” dalam ayat ini? Kata “semua” dan “segala” muncul beberapa kali dalam ayat-ayat di sekitar Efesus 1:11 seperti:

  • Ayat 3: segala berkat rohani di dalam sorga
  • Ayat 8: semua hikmat dan pengertian (yaitu yang berasal dari Tuhan)
  • Ayat 10: segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi

Kata “semua” dalam kitab Efesus 1 dengan demikian menunjuk pada semua berkat Tuhan, kebijaksanaan dan pemahaman spiritual dan hal-hal di langit dan bumi yang merupakan karunia Tuhan – pemeliharaan ilahi Tuhan kepada semua umat-Nya. Karena itu, dalam konteks Efesus 1:11 jelas bahwa kata “semua” tidak termasuk hal yang jahat dan dosa.

Tuhan menentukan semua hal yang baik agar terjadi, karena semua yang baik datang dari Tuhan untuk umat-Nya:

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1: 17

Jika semua yang baik datang dari Tuhan, bagaimana pula dengan hal-hal yang tidak baik?

Memang ada juga situasi di mana Tuhan mengizinkan adanya hal yang jahat datang kepada umat-Nya. Sebenarnya, Dia sering mengizinkan hal itu terjadi secara sengaja pada siapa saja, Kristen maupun bukan Kristen. Ketika Tuhan mengizinkan sesuatu, Ia tahu apa yang akan dilakukan-Nya dan Ia tahu semua hasilnya dan karena itu Ia mengizinkannya. Tuhan mengizinkannya dengan bijak dan dengan sempurna, sehingga pada akhirnya semuanya akan cocok dengan bentuk keseluruhan dari apa yang dikerjakan dan direncanakan-Nya dari mulanya. Pada akhirnya semua umat Tuhan akan melihat bahwa Tuhan adalah kasih sekalipun dalam hidup mereka bisa mengalami banyak penderitaan.

Jika ayat di atas di tujukan kepada umat Tuhan, bagaimana pula dengan mereka yang bukan umat-Nya? Jika Tuhan mempunyai rencana bagi umat-Nya, Ia juga mempunyai rencana untuk mereka yang bukan umat Tuhan. Pemeliharaan Tuhan bukan hanya untuk orang percaya, karena kehendak Tuhan juga ada untuk mereka yang saat ini belum termasuk dalam umat-Nya. Jika tidak, tidak ada seorang pun di luar gereja yang akan mengenal Allah dan gereja-Nya. Kita tahu bahwa Tuhan ingin semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan tentang kebenaran:

“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” 1 Timotius 2: 3-4

Mereka yang menerima panggilan Kristus akan mendapat bagian yang dijanjikan dari semula dan yang ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah. Sebaliknya, semua orang yang menolak uluran tangan kasih Tuhan pada akhirnya akan sadar bahwa Tuhan adalah mahasuci dan mahaadil dan karena itu mereka menerima hukuman yang seharusnya.

Pagi ini, firman Tuhan jelas menyatakan bahwa Ia adalah Tuhan yang mempunyai rencana. Kehendak-Nya pasti terjadi sekalipun manusia menjalani hidup mereka dengan kebebasan untuk melakukan apa saja dan merasa bahwa Tuhan tidak mempunyai kuasa atas hidup mereka. Mereka tidak sadar bahwa segala sesuatu ada dalam rencana Tuhan, yang pada akhirnya akan meyakinkan sesisi alam semesta bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan Tuhan yang mahakasih, yang sudah menyatakan dari awalnya bahwa semua rencana-Nya pada akhirnya akan terjadi.

TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Kedaulatan Tuhan dan kebebasan manusia

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1: 13-14

Jika Tuhan adalah penyebab utama dari segala sesuatu yang terjadi, apakah Tuhan bertanggung jawab atas dosa kita? Apa hubungan misterius antara kedaulatan Allah dan dosa manusia? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara tepat, kita harus memeriksa kondisi manusia dan bagaimana manusia bekerja di luar kasih karunia Allah.

Reformator John Calvin menulis: “Saya yakin [bahwa] pencuri dan pembunuh dan pelaku kejahatan lainnya adalah alat pemeliharaan ilahi, dan Tuhan sendiri menggunakan ini untuk melaksanakan penghakiman yang telah Dia tentukan. Namun saya menyangkal bahwa mereka dapat memperoleh dari alasan apa pun untuk perbuatan jahat mereka. Karena masalah dan kesalahan kejahatan ada pada orang jahat, apa alasan untuk berpikir bahwa Tuhan harus membuat kekotoran dalam pikiran mereka yang bisa memyebabkan mereka berdosa?”

Sementara Tuhan mengendalikan dan menahan keberdosaan manusia, Dia tidak bertanggung jawab atas tindakan orang jahat. Pemerintahannya yang berdaulat atas segala sesuatu dipertahankan, tetapi Dia tidak bertanggung jawab atas dosa – manusialah yang jatuh dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Kita diberkati dengan kebebasan untuk bertindak sesuai dengan sifat kita. Karena kodrat kita telah jatuh, rusak, dan berdosa, terlepas dari kasih karunia Allah, kita secara bebas bisa berbuat dosa. Ketika Tuhan mengeraskan hati orang-orang seperti Firaun, Dia tidak memaksa mereka untuk bertindak bertentangan dengan apa pun di dalam diri mereka sendiri. Manusia akan terus berbuat dosa dengan bebas selama Allah mengizinkannya.

Tuhan menggunakan orang-orang jahat untuk tujuan-Nya, ini terlihat jelas dalam kisah Yusuf ketika saudara-saudaranya menjual dia sebagai budak. Jusuf memberi tahu saudara-saudaranya kemudian bahwa apa yang mereka maksudkan untuk kejahatan, Tuhan dimaksudkan untuk kebaikan. Yusuf mengerti bahwa tangan Tuhan yang mengarahkan keadaannya, bukan saudara-saudaranya: “Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah” (Kejadian 45: 8). Allah mengizinkan adanya dosa untuk mewujudkan kehendak-Nya yang berdaulat.

Manusia yang jatuh adalah daging. Dalam daging, dia tidak dapat melakukan apa pun untuk menyenangkan Tuhan.

Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Roma 8: 7-8

Karena kebejatan kita, tanpa kasih karunia Tuhan, kita hanya bertindak dalam pemberontakan dan karena itu harus bertanggung jawab atas dosa-dosa kita. Walaupun begitu, Tuhan itu baik dan tidak bisa berbuat jahat. Allah mengizinkan kejahatan untuk mengerjakan segala sesuatu bersama-sama untuk kebaikan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Mungkin kita bertanya, “Siapakah mereka yang ‘berada dalam daging’?” Paulus selanjutnya menyatakan: “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu” (Roma 8: 9). Kata penting di sini adalah jika. Apa yang membedakan mereka yang ada dalam daging dari mereka yang tidak adalah berdiamnya Roh Kudus.

Tidak ada orang yang tidak dilahirkan kembali yang didiami oleh Allah Roh Kudus. Orang-orang yang ada di dalam daging belum dilahirkan kembali. Kecuali mereka dilahirkan kembali lebih dulu, dilahirkan dari Roh Kudus, mereka tidak dapat tunduk pada hukum Tuhan. Mereka tidak bisa menyenangkan Tuhan, kecuali jika mereka mau berpaling dari dosa dan mau menerima bimbingan Roh Kudus selama hidup.

Mereka yang sudah lahir baru masih bisa berbuat dosa, tetapi bukan hamba dosa. Mereka adalah hamba Allah. Mereka mempunyai Roh Kudus, tetapi masih bisa mendukakan Roh Kudus karena adanya kebebasan yang mereka punyai.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 30-31

Hari ini, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia yang jatuh masih bebas untuk memilih apa yang dia inginkan, tetapi karena keinginannya hanya jahat, dia tidak memiliki kemampuan moral untuk datang kepada Kristus. Selama dia tinggal di dalam daging, tidak dilahirkan kembali, dia tidak akan pernah memilih Kristus. Dia tidak dapat memilih Kristus dengan tepat karena dia tidak dapat bertindak melawan kehendak jahatnya sendiri. Dia tidak memiliki keinginan dan kemampuan untuk membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah dan segala kejahatan. Sungguh luar biasa bahwa hanya kasih karunia Tuhan yang bekerja di dalam hatinya yang dapat membawanya kepada iman dan pembaharuan cara hidup. Dengan adanya Roh Kudus, ia akan dapat membuang apa yang jahat dan memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah.