Berhati-hatilah supaya jangan jatuh!

Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” 1 Korintus 10: 12

Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus merupakan salah satu dari ketiga surat (1 & 2 Korintus serta Roma) yang menempati posisi sentral dalam bagian Perjanjian Baru di Alkitab. Surat Korintus yang pertama ditulis setelah Paulus menerima kabar buruk dari orang-orang Kloe. Berita buruk tersebut adalah timbulnya persoalan-persoalan, seperti keikutsertaan jemaat Korintus dalam upacara-upacara keagamaan kafir, penghakiman di depan orang-orang kafir, dan pelacuran. Selain masalah-masalah etis dan moral, surat ini juga merupakan surat penggembalaan untuk menegur jemaat di Korintus yang memiliki berbagai macam karunia, sehingga menjadikan jemaat satu dengan yang lainnya saling menyombongkan diri.

Gereja di Korintus didirikan pada perjalanan penginjilan Paulus yang kedua, sekitar musim gugur tahun 52 Masehi, seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 18:1-18. Di Korintus, Paulus tinggal selama 18 bulan, mengasuh gereja yang baru ini, sambil sehari-hari bekerja sebagai tukang membuat tenda. Paulus menyebut orang Korintus ‘tidak kekurangan dalam suatu karunia pun’. Atas keadaan inilah, hidup jemaat di Korintus menjadi sangat nyaman, namun sikap ini juga yang membuat jemaat di Korintus menjadi congkak, puas diri, sehingga keadaan jemaat menjadi kacau. Gereja Korintus yang sudah bersekutu dengan iblis menjadi porak poranda (1 Korintus 10: 20).

Bagaimana orang Kristen bisa dikacaukan oleh iblis? Ini yang sering kurang disadari orang Kristen sampai zaman ini. Keadaan kita di zaman ini tidak lebih baik dari keadaan Korintus di zaman rasul Paulus. Sampai sekarang, iblis yang digambarkan sebagai singa yang mengaum-ngaum, mencari orang-orang yang dapat ditelannya. Iblis bukanlah singa dan tidak dapat menelan manusia, tetapi iblis adalah roh yang berusaha menjauhkan manusia dari bimbingan Tuhan melalui Roh Kudus. Dengan segala triknya, iblis mengancam umat Kristen dengan apa yang terlihat menakutkan, memikat ataupun hal-hal lain yang bisa membuat mereka lengah.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8

Sebelum jatuh, iblis adalah salah satu malaikat Tuhan yang paling rupawan, yang kemudian kita kenal sebagai Lucifer walaupun nama itu tidak ada dalam naskah Alkitab. Satu hal yang kita harus sadari adalah bahwa iblis adalah roh dan karena itu kita sebenarnya tidak dapat melihatnya dengan mata kita selama kita hidup di dunia.

Berbagai gambaran tentang iblis dan berbagai setan pengikutnya biasanya berupa sesuatu yang terlihat menakutkan atau mengerikan. Karena mereka adalah roh, mungkin gambaran-gambaran itu berkaitan dengan imajinasi manusia, yang berbeda-beda menurut pengaruh mistis setempat. Tapi memang iblis dapat menampilkan diri dengan berbagai manifestasi.

Jika iblis ingin membuat manusia menjadi pengikutnya, ia sering menampilkan diri dalam bentuk yang bisa diterima manusia, sehingga manusia tidak berusaha menghindarinya. Bentuk yang jahat dan mengerikan mungkin hanya bisa menundukkan atau menarik orang-orang tertentu, tetapi apa yang terlihat manis dan indah memikat, apa yang terlihat berguna, atau apa tidak terlihat, akan lebih mudah diterima kebanyakan orang.

Hari demi hari manusia menemui iblis dan roh-roh jahat dalam berbagai bentuk yang tidak membuat mereka takut. Malahan, iblis bisa bekerja dibalik kemajuan-kemajuan dibidang teknologi, ilmu pengetahuan, kedokteran, kemasyarakatan, ekonomi, politik, filsafat dan kebudayaan, sehingga manusia terbuai dan melakukan dosa-dosa yang menjauhkan mereka dari jalan keselamatan.

Iblis bisa juga memakai kedok cinta kasih untuk memikat semua orang yang mendambakan kedamaian hidup di dunia. Dengan demikian, ada filsafat yang mengajarkan bahwa perdamaian di bumi adalah apa yang harus dituju manusia dengan segala cara. Selain itu, ada juga filsafat yang mengajarkan bahwa semua orang pada hakikatnya baik dan tidak memerlukan penebusan dosa. Banyak yang mengajarkan bahwa manusia dapat diselamatkan melalui perbuatan amalnya. Belum lagi ajaran “zaman baru” atau New Age, yang sering mengajarkan bahwa manusia bisa menemukan Tuhan dalam dirinya. Semua itu menunjukkan bahwa iblis bisa bekerja secara tidak terlihat, melalui akal budi manusia sehingga manusia berbuat dosa.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita harus sadar bahwa iblis dan roh-roh jahat ada di mana-mana, bukan hanya di tempat yang angker dan gelap, tetapi juga di tempat yang terang dan dianggap suci. Walaupun kelihatannya baik, apa yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan dan kasih Kristus mungkin adalah penampilan iblis. Tetapi, jika kita selalu hidup dalam iman, mendekatkan diri pada Roh Kudus dan berpegang kepada firman Tuhan, tidak ada yang bisa memisahkan kita dari Tuhan.

Hidup kita tidak lebih baik dari hidup orang Korintus

Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran. 1 Korintus 5: 8

Ayat di atas ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang pada waktu itu baru saja terbentuk dan berkembang. Kota Korintus pada waktu itu adalah kota yang cukup besar dengan berbagai kebudayaan dan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran kekristenan. Paulus bisa merasakan bahwa dalam kemudaannya, jemaat Korintus sering kali terombang-ambing d iantara berbagai golongan masyarakat yang berbeda pendapat. Dalam kehidupan gereja pun, perbedaan pendapat itu sering terjadi. Tiap orang cenderung untuk menggunakan karunia yang dipunyainya untuk dirinya sendiri dan bukan untuk kepentingan bersama. Tidaklah heran, kekacauan kemudian terjadi.

Berkat korespondensi rasul Paulus yang ekstensif dengan jemaat Korintus, kita mendapat informasi yang lebih baik tentang gereja di Korintus daripada gereja abad pertama mana pun. Dalam 1 Korintus khususnya, rasul membahas berbagai masalah yang memengaruhi komunitas orang percaya, termasuk perpecahan, litigasi, makanan yang dipersembahkan kepada berhala, hal-hal asusila, dan perpecahan kelas pada jamuan makan bersama. Dengan melakukan itu, dia memberi kita gambaran yang jelas tentang kehidupan gereja mula-mula. Tetapi kita tidak boleh terkejut jika Paulus masih hidup ia akan mengirim surat serupa kepada gereja di zaman ini.

Jemaat di Korintus mencakup beberapa orang Yahudi, tetapi sebagian besar terdiri dari orang-orang non-Yahudi yang bertobat. Pernyataan Paulus dalam 1 Korintus 1:26 memperjelas bahwa mayoritas anggota gereja adalah golongan bawah, sekalipun ada yang berpendidikan tinggi, berkuasa, dan bahkan memiliki keturunan bangsawan. Istilah-istilah yang ia gunakan memiliki jangkauan sosial ekonomi yang cukup luas dan dengan demikian tidak selalu menunjuk pada golongan elit di dalam gereja, tetapi mereka ini, sekalipun jumlahnya kecil, memang agak lebih istimewa daripada yang lain.

Perpecahan sosial yang ditunjukkan dalam 1 Korintus 1:26 mungkin telah menjadi sumber gesekan di dalam gereja. Pembagian dalam perjamuan bersama, yang digambarkan Paulus dalam 1Korintus 11:17-34, mungkin adalah pembagian sosial ekonomi, dengan anggota gereja yang lebih miskin menerima sedikit makanan, sedangkan yang lebih kaya kenyang (lihat 1 Korintus 11:21, di mana “ yang satu lapar dan yang lain mabuk”).

Jemaat di Korintus jelas mengalami ketegangan internal. 1Korintus 1-4 mencerminkan masalah faksionalisme, di mana Paulus mengidentifikasi pihak-pihak terpisah yang mengklaim kesetiaan alternatif kepadanya, Apolos (seorang pengkhotbah Kristen Yahudi), Petrus (salah satu murid Yesus), atau Kristus (menurut pemahaman mereka sendiri, bukan pemahaman Paulus). Masalah yang sangat memecah belah adalah makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Beberapa percaya bahwa mereka memiliki “kebebasan” untuk makan apa pun dan di mana pun mereka inginkan, sementara yang lain menganggap makan makanan yang dikorbankan untuk berhala adalah dosa dan berbahaya.

Meskipun ada konflik di dalam kelompok, orang-orang Kristen di Korintus menikmati hubungan persahabatan dengan orang luar. Memang, gereja di Korintus terlalu nyaman dengan kemerdekaan yang disukai Paulus. Tetapi, dengan terlibat dalam litigasi, hal-hal asusila, dan berpartisipasi dalam makanan pemujaan berhala, orang-orang Korintus menyesuaikan diri dengan pola perilaku masyarakat yang lebih besar. Dalam surat pertama ini, Paulus mendesak mereka untuk memisahkan diri dengan kebebasan dunia yang mendatangkan kekacauan. Paulus mengajak mereka untuk beralih dari gaya kehidupan lama yang berisi keburukan dan kejahatan, menuju gaya kehidupan baru yang berisi kemurnian dan kebenaran

Kalau kita pikirkan dalam-dalam, sebenarnya kekacauan apa pun terjadi sampai saat ini bukan hanya terjadi karena kebetulan. Berbagai sebab bisa mendatangkan kekacauan, tetapi sebab yang utama sebenarnya cara hidup atau tindakan manusia. Manusia yang sering kali lebih mementingkan kebutuhan pribadi biasanya melakukan tindakan tanpa pikir panjang, dan jika tindakan itu secara signifikan memengaruhi banyak orang, kekacauan akan terjadi. Selain itu, kekacauan bisa terjadi karena hal yang sepele: karena banyaknya orang yang ingin untuk melakukan hal yang terasa nyaman atau menguntungkan, kekacauan kemudian timbul.

Paulus melalui surat kepada jemaat Korintus mengajarkan bahwa setiap orang Kristen harus bisa mengontrol dirinya sendiri. Setiap orang dengan kebijaksanaan harus memikirkan kepentingan bersama untuk membangun, dan bukannya untuk mencari kepuasan dan menguntungkan diri sendiri. Setiap orang harus bisa mawas diri dan menghargai orang lain. Mengapa demikian? Karena Allah adalah Tuhan yang menghendaki ketertiban. Dalam kitab Kejadian kita seharusnya sudah tahu bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh jagad raya sehingga dari apa yang tidak berbentuk, semua kemudian menjadi sesuatu yang teratur dan indah.

Hari ini, jika kita membaca koran atau media apa pun, apa yang bisa kita baca kebanyakan adalah kekacauan yang terjadi di mana-mana. Itu juga terjadi di kalangan umat Kristen dan kehidupan gerejani. Hidup kita tidak lebih baik dari hidup orang-orang Korintus pada zamannya. Melakukan hal-hal yang tidak adil, tidak etis, tidak pantas, dan melawan hukum adalah bagian kehidupan orang modern, termasuk orang Kristen yang ingin hidup nyaman dan sukses.

Apakah panggilan Tuhan untuk kita dalam keadaan sekarang? Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki ketertiban di dunia. Jika iblis adalah sumber kekacauan, Tuhan adalah mahasuci dan Ia menghendaki kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mempermalukan Dia. Sebaliknya, kita harus menjadi orang-orang yang memberi contoh kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang bijak, sopan dan menghargai keteraturan. Kita adalah orang-orang yang mencintai kedamaian dan kesejahteraan dan ingin untuk membangun masyarakat di sekitar kita agar mereka mengenal dan memuliakan Tuhan kita.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Antara fanatisme dan ekstrimisme

“Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Wahyu 3: 16

Orang yang benar-benar menyukai suatu jenis olahraga bisa dikatakan fanatik. Mereka sangat antusias tentang hal apa pun yang menyangkut olahraganya. Begitu pula orang bisa menjadi penggemar kelas berat dari jenis film, makanan dan hal-hal lain. Mereka juga bisa disebut kaum fanatik. Kata fanatik sebetulnya bisa mempunyai arti baik – memang kata Latin “fānāticus” berarti “diilhami Tuhan”.

Sayang sekali bahwa kata fanatik sering digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang ekstrim, lebih dari yang lumrah. Sebagai contoh, Bonek, grup “bondo nekad” penggemar fanatik sepak bola di Indonesia, sering kali terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang kurang baik dan bahkan melawan hukum. Dengan demikian, jika kata fanatik masih sering dipakai untuk menunjuk kepada seseorang yang benar-benar bersemangat, sangat berdedikasi dan setia kepada apa yang disukainya, kata ekstrimis merujuk kepada orang sudah melampaui batas-batas kewajaran, etika, dan hukum dalam usaha untuk mendukung apa yang disukainya.

Lalu apakah ada orang Kristen yang fanatik? Ada! Tetapi mungkin tidak seorang pun diantara kita yang mau disebut Kristen fanatik. Kenapa gerangan? Mungkin dari pengalaman kita, orang fanatik adalah orang yang tidak mempunyai toleransi kepada orang lain dan selalu merasa dirinya paling benar. Ini tidak benar. Ini sebenarnya bukan fanatisme tetapi ekstrimisme. Jika fanatisme adalah baik, ekstrimisme cenderung menyebabkan pertikaian dan kekacauan.

Dalam hal ini, Alkitab menjelaskan bahwa orang yang benar-benar cinta kepada Tuhan akan selalu memprioritaskan Tuhan di atas segala-galanya. Mereka akan berjalan dalam terang Tuhan dalam setiap keadaan. Dari hidup mereka jelas terlihat adanya: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu (Galatia 5: 22-23). Menjadi orang yang benar-benar Kristen adalah menjadi orang pengikut Kristus yang fanatik!

Apakah anda sudah menjadi orang Kristen fanatik? Belum? Tidakkah anda ingin menjadi anggota kelompok orang yang benar-benar beriman? Mungkinkah anda hanya ingin menjadi orang Kristen yang “biasa” yang “normal”? Bukan fanatik? Mungkin anda kuatir kalau-kalau anda menjadi pengikut agama yang ekstrim, yang memusuhi orang yang tidak sepaham, yang siap menggunakan kekerasan untuk membuat orang lain tunduk. Tapi pengikut agama Kristen yang ekstrim seperti itu bukanlah pengikut Kristus yang fanatik. Mereka sebenarnya kaum ekstrimis.

Jika dalam fanatisme ada kasih, tetapi dalam ekstrimisme hanya ada kebencian. Pada waktu Yudas datang menjumpai Yesus bersama sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata, Petrus yang fanatik berubah memjadi Petrus yang ekstrimis. Petrus yang membawa pedang, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Tetapi, Yesus kepada Petrus: “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (Yohanes 18: 3-11).

Jika kita ingat bahwa Yesus begitu fanatik dalam pengurbanan-Nya di kayu salib, kita akan sadar bahwa jika Yesus kurang dari fanatik dalam menaati perintah Allah Bapa, kita akan tetap tinggal dalam kebinasaan. Ayat renungan kita dari Wahyu 3:  16 di atas menunjukkan bahwa pengurbanan Kristus menuntut pengabdian umat Kristen kepada Allah secara penuh, secara fanatik. Jika kita hanya menjadi orang Kristen yang suam-suam kuku, menjadi orang yang hanya menyebut dirinya Kristen tetapi tidak menaati firman-Nya, yang masih hidup dalam kepalsuan, kejahatan, dan yang malas untuk berbakti kepada Tuhan bersama saudara seiman dalam kasih, maka kita tidak dapat memperoleh keyakinan yang diisi dengan fanatisme bahwa Kristus hidup dalam diri kita. Hari ini kita diingatkan untuk setia dalam iman kita dan menjadi pengikut Yesus Kristus yang fanatik yang tetap mempunyai kasih kepada sesama kita.

Kebenaran Alkitab hanya bisa diterima dengan iman

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Pepatah lama menyatakan bahwa “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Memang, semakin tua manusia akan makin berpengalaman karena makin banyak yang pernah dialaminya. Umumnya, pengalaman yang buruk bisa mencegah seseorang untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Sebaliknya, pengalaman yang baik dan menyenangkan membuat orang tertarik untuk mencobanya lagi jika ada kesempatan.

Untuk hal-hal tertentu, dalam keadaan tertentu, memang apa yang pernah dilihat, dirasakan dan dialami, dan apa yang sudah menjadi tradisi, bisa memberi pelajaran dan pengertian. Dengan demikian, pengalaman yang kita peroleh sekarang juga bisa berguna untuk masa depan. Dengan pengalaman dan kebiasaan yang pernah dialami, orang bisa menolak pendapat orang lain, nasihat guru atau orang tua dan bahkan firman Tuhan. Apa yang pernah dialami dan lazim dilakukan akan cenderung dipercayai, sedangkan apa yang tidak pernah terjadi atau terlihat dalam hidup, sering diabaikan.

Karena pengalaman seseorang belum tentu bisa dialami orang lain, dan juga karena pengalaman tergantung situasi dan kondisi, apa yang dirasakan sebagai kebenaran di masa lalu, belum tentu benar di masa depan. Apa yang mungkin dianggap baik hari ini, belum tentu bisa diterima oleh generasi yang akan datang. Sebaliknya, apa yang dianggap buruk di zaman dulu, sekarang mungkin sudah dianggap biasa. Karena itu, pengalaman dan kebiasaan seseorang belum tentu membawa kebenaran dan belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik.

Dalam kehidupan iman, kita juga dihadapkan dengan berbagai ajaran dan praktik kekristenan yang beraneka ragam. Pada umumnya, keragaman adalah lumrah karena tiap manusia adalah individu yang berbeda, yang mempunyai pengalaman dan pengertian yang berlainan. Walaupun demikian, ayat di atas menjelaskan bahwa firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, harus dipegang sebagai pedoman untuk memperoleh kebenaran. Bagaimana kita bisa percaya akan hal ini?

Pertama, dengan iman kita percaya bahwa Allah adalah benar (Roma 3:4).

Kedua, karena kita percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang benar, maka firman-Nya adalah kebenaran (Yohanes 17:17). Tidak mungkin Allah yang benar memberikan firman yang tidak benar. Oleh karena itu dengan pengertian akan hal ini kita akan menolak setiap pandangan bahwa firman Allah bisa salah dan atau mengandung kesalahan.

Ketiga, kita percaya bahwa firman Allah dituliskan oleh para penulis Alkitab yang diilhamkan oleh Allah sendiri (2 Timotius 3:16). Alkitab dihembuskan/dinafaskan oleh Allah. Roh Kudus memimpin dan memampukan para penulis Alkitab untuk mencatat wahyu khusus Allah dengan suatu cara yang dapat dipercaya secara mutlak. Karena Alkitab itu dihembuskan/dinafaskan oleh Allah sendiri dan dituliskan oleh para penulis mula-mula yang dipimpin oleh Roh Kudus, maka kita percaya bahwa naskah-naskah asli dari Alkitab tidak mungkin salah.

Keempat, kita percaya bahwa Allah menjamin bahwa tidak ada bagian dari firman-Nya yang akan berubah dan tidak ada penghilangan atau penambahan bahkan sekecil apa pun. Kita percaya bahwa firman Allah tidak mungkin berubah dan Allah sendiri yang akan memelihara firman-Nya (Matius 5:18, Yohanes 10:35). Tuhan Allah yang telah mewahyukan firman-Nya, yang telah mengilhamkan para penulis Alkitab mula-mula, adalah Allah yang sudah memelihara firman-Nya sehingga kita tetap dapat membaca firman-Nya yang benar dengan bimbingan Roh Kudus, sekalipun perbedaan antar terjemahan Alkitab bisa terjadi dan salah cetak juga bisa ditemui.

Hari ini kita harus sadar bahwa apa yang kita dengar dan saksikan di gereja mungkin bersumber pada pengalaman pribadi atau pendapat manusia, yang sehebat atau seajaib bagaimanapun, tidak dapat dianggap setara dengan firman Tuhan. Apalagi kalau pengalaman itu hanya mendatangkan kemuliaan bagi manusia dan bukannya Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya harus mau mempelajari firman Tuhan dengan iman, menggumuli dan menerapkannya dalam hidup dengan bimbingan Roh Kudus.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Hal karunia lidah

“Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” 1 Korintus 14: 13-15

Hari Minggu yang baru lalu adalah hari Pentakosta, hari di mana Roh Kudus turun ke atas murid-murid Yesus, lima puluh hari setelah kebangkitan-Nya. Hari Pentakosta adalah hari penting dalam sejarah gereja, bahkan dianggap oleh sebagian denominasi sebagai hari berdirinya gereja, yaitu persekutuan orang percaya.

Sesungguhnya hari turunnya Roh Kudus adalah hari yang penting untuk diperingati, bukan hanya untuk mengenang bagaimana Roh Kudus turun secara luar biasa, dan bersama itu banyak orang yang menjadi pengikut Kristus, tetapi lebih dari itu hari Pentakosta seharusnya mengingatkan kita bahwa Roh Kudus sudah dikaruniakan kepada kita dan setiap orang percaya.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Para Rasul 1: 8

Pada waktu Yesus menjanjikan datangnya Roh Kudus, apa yang dinyatakan-Nya ialah bahwa para pengikut-Nya akan menerima kuasa dan mereka akan menjadi saksi-Nya di mana saja. Mereka menjadi saksi Yesus melalui perubahan hidup mereka yang menunjukkan sesuatu sudah terjadi. Hidup lama yang berpusat pada diri sendiri sudah berubah menjadi hidup yang memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama. Hidup yang dulu sering diisi kekuatiran dan kesedihan, sekarang diisi kebahagiaan dalam Tuhan. Mereka yang dulunya ragu-ragu dalam mengabarkan injil, sekarang menjadi bersemangat dan mati-matian mau bekerja keras di ladang Tuhan. Itu semua menunjukkan bekerjanya Roh Kudus: ada kuasa baru dalam hidup mereka yang percaya.

Banyak orang Kristen yang belum atau tidak merasakan kehadiran Roh Kudus dalam hidup mereka. Tidak adanya hal yang istimewa atau spektakuler yang pernah terjadi dalam hidup mereka seolah membuat suatu tanda tanya: apakah mereka benar-benar sudah menjadi pengikut Kristus? Terkadang, mungkin ada juga rasa sedih mengapa jika Tuhan sudah menerima mereka, tidak ada yang terlihat luar biasa dalam hidup mereka?

Bagi sebagian orang Kristen, keinginan untuk mendapatkan tanda bahwa Tuhan benar-benar sudah menyelamatkan mereka dan menyertai mereka adalah begitu besar, sehingga mereka menanti-nantikan datangnya karunia ajaib yang sudah pernah diberikan kepada jemaat Kristen yang mula-mula. Salah satu yang dianggap penting adalah karunia lidah, karena dulu mereka yang mendapatkannya bisa berbicara dalam bahasa-bahasa asing yang sebenarnya bukan bahasa mereka sendiri. Dengan demikian, banyak orang yang berusaha sekuat tenaga, dengan ketekunan berdoa atau dengan cara-cara lain untuk mendapatkannya.

Karunia lidah yang berupa kemampuan berbahasa asing sekarang sudah sangat jarang dijumpai, tetapi karunia berbahasa roh adalah suatu karunia yang sering kita jumpai. Karunia berbahasa roh ada gunanya, walaupun tidak sama dengan kemampuan berbahasa asing. Dalam ayat-ayat di atas, Paulus telah menunjukkan kepada orang-orang Kristen di Korintus mengapa penerapan karunia rohani berbahasa roh selama kebaktian gereja tidaklah mudah. Singkatnya, tidak ada gunanya ketika tidak ada orang yang mengerti kata-kata yang diucapkan. Dia menambahkan dalam ayat-ayat berikutnya bahwa pengecualian untuk aturan ini adalah jika pembicara atau orang lain dapat menafsirkan apa yang dikatakan.

Untuk alasan itu, Paulus memberitahu mereka yang memiliki karunia berbahasa roh untuk berdoa memohon karunia tambahan untuk menafsirkan bahasa roh (1 Korintus 12:10). Karunia ini akan memungkinkan orang percaya untuk secara supernatural memahami apa yang dikatakan dalam bahasa yang tidak dikenal itu dan menerjemahkannya ke dalam bahasa mereka yang hadir sehingga mereka juga dapat mengerti.

Apa yang dinamakan karunia adalah suatu pemberian yang datang dari Tuhan atas kehendak-Nya semata-mata. Paulus menjelaskan bahwa karunia rohani tidak dapat diperoleh melalui kerja keras atau pelatihan atau dengan melakukan perbuatan baik. Karunia rohani harus diberikan oleh Allah melalui Roh Kudus. Orang Kristen tidak mampu untuk mendapatkannya dengan usaha sendiri. Itulah mengapa Paulus memberitahu orang-orang yang berbicara dalam bahasa roh untuk berdoa untuk memohon karunia penafsiran.

Tidak dapat disangkal, bahwa mereka yang rajin berdoa sering kali kehilangan kata-kata untuk menyatakan perasaan mereka. Apa yang keluar dari mulut mereka mungkin saja berupa suara yang merupakan bahasa roh yang tidak dapat dimengerti orang lain. Dengan bahasa roh yang seperti itu, mereka lebih dapat merasakan kehadiran Tuhan. Dalam hal ini, Paulus juga menulis bahwa jika orang berdoa dengan bahasa roh, maka rohnyalah yang berdoa, tetapi akal budinya tidak turut berdoa.

Pagi ini kita harus sadar bahwa kita boleh berdoa dengan berbahasa roh, tetapi kita harus berdoa juga dengan akal budi dan bahasa kita. Kita boleh menyanyi dan memuji dengan bahasa roh, tetapi juga akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budi dan bahasa sehari-hari kita agar orang lain bisa ikut memuji Tuhan. Semoga Tuhan memberkati kita sekalian.

Apa yang perlu dilakukan untuk bisa menginjil?

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” 2 Timotius 4: 2

Mungkin banyak orang Kristen yang sadar akan sulitnya untuk memberitakan firman Tuhan. Biasanya orang ragu untuk menyampaikan firman Tuhan karena merasa kurang mampu untuk berbicara di depan umum, atau kurang faham mengenai dasar-dasar teologi Kristen. Penginjil besar yang kita kenal, Billy Graham, pernah juga merasakan hal yang serupa. Hanya dengan kekuatan dari Tuhan, ia bisa mengatasi keraguannya dan perlahan-lahan belajar menjadi penginjil yang sangat efektif dalam membawa orang ke dalam pengenalan akan Tuhan.

Sebenarnya, menjadi pembawa firman Tuhan tidak harus diartikan bekerja sebagai penginjil atau pendeta. Amanat Agung dari Yesus untuk mengabarkan Injil adalah perintah-Nya untuk semua orang percaya. Kita bisa membawakan firman Tuhan di rumah, sekolah, kantor dan di mana saja, dan itu bisa disampaikan kepada satu, dua atau banyak orang.

Tugas mengabarkan Injil bukan sekadar tugasnya para pendeta, penginjil atau pastor, tetapi tugas kita semua yang telah menjadi anak-anak Allah, karena pengakuan kita akan Kristus sebagai Juruselamat kita dan pengantara kita kepada Bapa di surga. Kita pun tidak perlu khawatir dengan keadaan kita yang tidak sepandai para pemimpin gereja, karena Juruselamat kita telah berjanji menyertai kita. Oleh karena itu, semestinya apa pun keadaan kita, pekabaran Injil tidak boleh terhambat atas alasan apa pun.

Karya keselamatan Kristus patut untuk diwartakan ke segala penjuru dunia oleh siapa saja yang sudah menerima keselamatan tersebut. Yesus Kristus pun tidak secara spesifik menyebutkan, bahwa hanya para hamba Tuhan, pemimpin gereja, atau penginjil yang harus mengabarkan Injil. Sebaliknya, itu menjadi tanggung jawab kita semua orang Kristen, sekalipun kita hanyalah warga awam. Bahkan, sekalipun kita tidak memiliki pengetahuan teologi sekaliber pendeta atau pastor, tetapi hidup sehari-hari kita yang sudah diubahkan oleh Kristus adalah bukti pekerjaan-Nya. Itulah apa yang sebenarnya yang justru mudah dilihat oleh orang-orang belum percaya di lingkungan sekitar tempat kita tinggal.

Pada pihak yang lain, situasi di gereja terkadang justru belum bisa memenuhi kebutuhan jemaat. Bisa jadi ada pemimpin gereja, entah itu pendeta atau pastor, ataupun para penginjil yang memimpin pos-pos Injil, yang kurang cakap memberikan pemahaman yang sederhana kepada umat yang warga awam, kemungkinan karena keterbatasan kemampuan mereka untuk mencari bahasa sederhana. Selain itu, ada pendeta atau pastor yang lebih gemar menyampaikan pandangan teologinya yang nampak berbobot daripada memberitakan firman.

Perlu diingat bahwa tidak setiap orang Kristen memiliki kadar pemahaman yang sama akan isi Alkitab karena jarang membaca, apalagi mempelajari Alkitab. Karena itu, dalam menyampaikam firman Tuhan, kita harus berlandaskan kebenaran Alkitab yang kita pelajari menurut ajaran teologi yang sudah kita punyai, tetapi harus dimunculkan dalam penampilan yang cocok dengan keadaan mereka yang kita injili.

Sebenarnya, untuk mengabarkan firman Tuhan, orang tidak harus masuk sekolah Alkitab atau mempunyai gelar teologia, tetapi orang tersebut harus benar-benar orang yang percaya kepada Allah Bapa, Allah Anak dan Alah Roh Kudus. Lebih penting dari itu, orang tersebut haruslah hidup dalam terang Kristus, memiliki iman yang benar, dan rajin membaca Alkitab dan mempelajari makna ayat-ayat yang ada dalam konteks yang benar; secara utuh dan bukan secara terpisah-pisah.

Dalam ayat pembukaan di atas, Paulus menasihati rekannya yang jauh lebih muda, Timotius, tentang bagaimana ia harus mempersiapkan diri untuk membawakan firman Tuhan. Pertama, Timotius harus siap menyampaikan firman Tuhan ketika situasi lagi kondusif. Ungkapan “waktu yang baik” mengacu pada saat-saat ketika seseorang, dengan akal sehat, “seharusnya” menyampaikan firman. Ini sehubungan dengan keadaan yang bersahabat, atau situasi yang aman.

Kedua, Timotius harus siap berkhotbah ketika situasi tidak nyaman. Ini adalah arti dari ungkapan “tidak baik waktunya”. Inilah saat-saat ketika menyatakan kebenaran itu canggung, sulit, atau ditentang.

Ketiga, dia harus menyatakan apa yang salah. Ini menggemakan seruan Paulus untuk “menegur” yang ditemukan dalam 1 Timotius 5: 20.

Keempat, Timotius harus menegur orang yang salah. Istilah Yunani yang diterjemahkan sebagai “teguran”, yang dalam konteks ini berarti memarahi, mencaci, atau mengoreksi.

Kelima, Timotius harus menasihati, sebuah istilah yang mengacu pada dorongan atau himbauan. Ini melibatkan dukungan, hiburan, dan bantuan.

Keenam, Timotius harus berkhotbah dengan kesabaran. Bagi mereka yang memimpin, dan terutama ketika menghadapi oposisi, ini tidaklah mudah dilakukan. Namun, Paulus menyebutkan ini sebagai bagian dari buah Roh (Galatia 5:22-23). Kesabaran, meskipun selagi merasa frustrasi, dimaksudkan untuk menjadi ciri iman Kristen. Dengan adanya kesabaran dan rasa kasih, makin banyak orang yang akan tertarik untuk mengenal Allah.

Ketujuh, pemberitaan firman Timotius harus mencakup pengajaran, sebuah istilah yang mengacu pada instruksi. Dia harus memakai hati dan pikiran, melatih orang percaya untuk mengikuti kebenaran Allah.

Hari ini kita belajar dari rasul Paulus bagaimana kita bisa belajar menjadi pembawa firman Tuhan yang baik, yang bisa membimbing banyak orang untuk mengenal Tuhan dan hidup sesuai dengan firman-Nya. Biarlah kita mau meminta bantuan Roh Kudus agar kita diberi kemampuan dan keberanian serta kebijaksanaan untuk melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-20

Dinginnya hati tidaklah sesuai dengan kasih Tuhan yang sudah dinyatakan

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24:12

Saat ini adalah awal musim dingin di Australia dan suhu di Toowoomba di mana saya mengajar bisa mendekati nol derajat Celcius pada waktu pagi. Bagi mereka yang bekerja di kantor, pemanas ruangan bisa dipakai untuk melupakan udara dingin di luar, tetapi mereka yang harus bekerja di luar rumah tentunya harus membungkus diri dengan memakai jaket, topi, dan apa pun untuk melindungi tubuh dari udara yang dingin.

Dinginnya udara di musim dingin mungkin seperti dinginnya hati manusia dalam ayat di atas. Dengan udara yang dingin, mereka yang berada dalam keadaan yang kurang baik akan merasakan beratnya hidup tanpa adanya kehangatan rumah dan makanan. Dengan dinginnya hati manusia, mereka yang mengalami penderitaan tidak dapat mengharapkan adanya perhatian dan pertolongan dari sesama. Bahkan dengan dinginnya hati mereka yang mengaku Kristen, apa yang mereka lakukan dalam hidup sehari-hari bukannya untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesamanya, tapi untuk memuliakan diri sendiri dan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Ayat di atas menunjukkan bahwa banyak orang yang dulunya mempunyai kasih, kemudian berubah menjadi manusia yang tidak mempunyai kasih. Mereka yang dulunya pernah mendengar panggilan Tuhan dan mengerti perintah Tuhan untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan untuk mengasihi sesama manusia, kemudian berubah menjadi manusia yang tidak lagi taat kepada Tuhan. Mereka lebih mementingkan keinginan dan kebahagiaan duniawi yang berupa kemasyhuran, kekayaan, kekuasaan, kesuksesan dan semacamnya. Mengapa demikian?

Tuhan melalui rasul Paulus juga pernah mengingatkan bahwa di zaman ini ada berbagai tanda hilangnya kasih dan bertambahnya hal-hal yang jahat di antara umat Kristen (2 Timotius 3: 1-9). Bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar, di mana manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka tetapi pada hakikatnya mereka memungkiri imannya.

Jika di hari Minggu kemarin banyak orang Kristen yang ke gereja dengan kerinduan untuk mendapatkan kehangatan kasih dalam persekutuan dengan saudara seiman dan mendengar kasih penghiburan Tuhan, dengan memasuki minggu yang baru banyak orang harus menerima kenyataan bahwa hidup di dunia ini penuh perjuangan, dan menyadari bahwa di dunia ini setiap orang diharapkan untuk bisa berdiri sendiri tanpa mengharapkan bantuan dan perhatian dari orang lain. Dalam kenyataannya, banyak orang yang tidak sanggup untuk menjalani tuntutan hidup yang sedemikian berat.

Salahkah jika orang merasa bahwa hidup ini kejam? Salahkah jika ada banyak orang yang membutuhkan pertolongan orang lain? Tentu tidak! Memang sesudah kejatuhan dalam dosa, umat manusia berada dalam hukuman Tuhan, dan itu termasuk hidup membanting tulang (Kejadian 3: 17-19). Tetapi, walaupun manusia sudah jatuh dalam dosa, Tuhan yang mahakasih tetap berbelaskasihan kepada manusia dengan membuat pakaian dari kulit binatang untuk Adam dan Hawa, guna melindungi tubuh mereka (Kejadian 3: 21). Tuhan dengan demikian meminta agar kita selalu ingat akan kasih-Nya dan mau mengasihi sesama kita.

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak menghendaki kita hanya ke gereja sebagai kebiasaan atau keharusan. Ia ingin kita datang kepada-Nya dengan kehangatan kasih, dan bukannya kepalsuan. Tuhan tidak mengharapkan uang persembahan manusia tetapi Ia menghargai hati umat-Nya yang dipenuhi kasih. Tuhan tidak menjanjikan hidup yang penuh kenyamanan kepada umat-Nya, dan karena itu Ia membenci orang-orang yang seakan berbakti kepada-Nya, tetapi hanya mengharapkan Tuhan membalas “kebaikan” mereka dengan memberikan apa yang diinginkan mereka. Pada pihak yang lain, Tuhan menyenangi umat-Nya yang bukan saja mengabarkan kabar baik tentang kasih Tuhan yang menyelamatkan mereka, tetapi juga mempunyai kehangatan hati dan kasih untuk menolong mereka yang menderita.

Jika Roh Kudus turun ke atas kita

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Para Rasul 1: 8

Minggu esok adalah hari Pentakosta, hari di mana Roh Kudus turun ke atas murid-murid Yesus, lima puluh hari setelah kebangkitan-Nya. Hari Pentakosta adalah hari penting dalam sejarah gereja, bahkan dianggap oleh sebagian denominasi sebagai hari berdirinya gereja, yaitu persekutuan orang percaya. Walaupun demikian, pada beberapa gereja di Australia, hari ini tidaklah dirayakan secara formal.

Banyak orang Kristen yang tidak lagi memandang hari Pentakosta sebagai hari yang penting untuk diperingati, selain dari segi historisnya. Tambahan pula, ada golongan Kristen yang memandang bahwa perayaan hari Pentakosta itu adalah kebiasaan golongan tertentu, dan karena itu mereka agak segan untuk memperingatinya. Bagi mereka, hari kematian dan kebangkitan Yesus adalah dua hari yang terpenting dan wajib diperingati.

Sesungguhnya hari turunnya Roh Kudus adalah hari yang penting untuk diperingati, bukan hanya untuk mengenang bagaimana Roh Kudus turun secara luar biasa, dan bersama itu banyak orang yang menjadi pengikut Kristus, tetapi lebih dari itu hari Pentakosta seharusnya mengingatkan kita bahwa Roh Kudus sudah dikaruniakan kepada kita dan setiap orang percaya.

Banyak orang Kristen yang belum atau tidak merasakan kehadiran Roh Kudus dalam hidup mereka. Tidak adanya hal yang istimewa atau spektakuler yang pernah terjadi dalam hidup mereka seolah membuat suatu tanda tanya: apakah mereka benar-benar sudah menjadi pengikut Kristus? Terkadang, mungkin ada juga rasa sedih mengapa jika Tuhan sudah menerima mereka, tidak ada yang terlihat luar biasa dalam hidup mereka?

Pada waktu Yesus menjanjikan datangnya Rok Kudus, apa yang dinyatakan-Nya ialah bahwa para pengikut-Nya akan menerima kuasa dan mereka akan menjadi saksi-Nya di mana saja. Mereka menjadi saksi Yesus melalui perubahan hidup mereka yang menunjukkan sesuatu sudah terjadi. Hidup lama yang berpusat pada diri sendiri sudah berubah menjadi hidup yang memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama. Hidup yang dulu sering diisi kekuatiran dan kesedihan, sekarang diisi kebahagiaan dalam Tuhan. Mereka yang dulunya ragu-ragu dalam mengabarkan injil, sekarang menjadi bersemangat dan mati-matian mau bekerja keras di ladang Tuhan. Itu semua menunjukkan bekerjanya Roh Kudus: ada kuasa baru dalam hidup mereka yang percaya.

Hari Minggu ini, sekalipun kita tidak merayakan hari Pentakosta secara formal atau gerejani, kita wajib mengingat bahwa Roh Kudus sudah diberikan kepada kita untuk menolong, menghibur dan menguatkan kita. Roh jugalah yang bisa membawa orang lain kepada Kristus melalui hidup dan pelayanan kita. Sering kali kita lupa bahwa kita seharusnya mempersilakan Roh Kudus untuk mengatur hidup kita sepenuhnya dan bukannya mendukakan Dia dengan menjalani hidup untuk kepuasan diri kita. Roh Kudus pasti bekerja di dalam diri kita jika kita mau memakai hidup kita untuk kemuliaan bagi Tuhan. Selamat hari Pentakosta!

Tegak dan tegas melawan bidat

“Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.” Galatia 1: 9

Sebagai orang Kristen, kita harus bersyukur bahwa umat manusia  makin lama  makin  pandai dalam mengelola ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan jika dipakai dengan benar, akan memberi manusia kemampuan untuk mengatur dunia dan segala isinya. Dengan kemajuan teknologi, kabar baik tentang keselamatan lebih mudah diberitakan dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Berbagai Alkitab elektronik, buku agama dan renungan harian juga bisa ditemukan di internet.

Di zaman ini, setiap orang beragama bisa saja mengungkapkan pendapat keagamaanya selama tidak melecehkan orang atau agama lain. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika banyak tokoh agama yang memakai cara mereka sendiri untuk menarik perhatian masyarakat. Mereka dengan tidak malu-malu, menggunakan prinsip-prinsip bisnis keduniawian untuk mencari keuntungan dan nama besar. Sering kali mereka memberitakan apa yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, dengan menekankan hal-hal tertentu, dan bahkan menambah atau mengurangi apa yang ada dalam Alkitab untuk mencari pengagum dan pengikut.

Dari ayat di atas, kita sadar bahwa bukan di zaman ini saja ada orang-orang yang kelihatannya rajin mengabarkan injil, tetapi apa yang disampaikan mereka tidak sesuai dengan firman Tuhan. Paulus dalam ayat di atas dengan nada tegas mengingatkan jemaat di Galatia agar mereka berhati-hati dalam menerima pemberitaan firman karena adanya orang-orang yang mengajarkan apa yang keliru. Mereka yang benar-benar hamba Tuhan adalah orang-orang yang tulus yang tidak pernah memalsukan firman Allah dengan menggantinya dengan pikiran manusiawi. Hamba Tuhan yang benar tidak hanya memusatkan perhatiannya pada beberapa poin dalam Alkitab tetapi mengabaikan yang lain.

Adanya orang-orang yang memberitakan injil yang berbeda dengan apa yang dikabarkan Paulus membuat Paulus geram. Paulus sebagai rasul, mungkin dapat dikatakan ahli dalam bidang apologetika, yaitu mempertahankan kebenaran firman Tuhan. Dengan gaya apologet, Paulus sering membuat pernyataan yang mengoreksi apa yang tidak benar dan menguraikan apa yang benar dalam hal iman dan hidup kekristenan. Dalam ayat di atas Paulus memperingatkan jemaat di Galatia akan adanya apa yang disebut bidat di zaman sekarang.

Bidat adalah suatu ajaran atau aliran yang menyimpang dari ajaran resmi. Hal senada juga dijumpai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang menyebutkan bahwa bidat adalah “ajaran yang menyalahi ajaran yang benar”. Dalam hal ini, ajaran sesat bertumbuh dalam lingkungan gereja yang membentuk komunitas tersendiri dengan mengembangkan doktrin/ajaran baru yang bertentangan dengan Alkitab. Lahirnya “ajaran sesat” atau yang sering disebut “bidat” (heresy) dalam sejarah gereja dapat dikatakan bertumbuh seiring dengan perkembangan gereja itu sendiri.

Jika kita melihat ke dalam sejarah gereja maka ajaran sesat itu bagaikan benalu yang selalu berusaha untuk mempengaruhi kehidupan bergereja sejak abad permulaan. Dalam faktanya, sekarang pun beberapa aliran dan ajaran yang oleh gereja dinyatakan sebagai “bidat” nyatanya tetap eksis karena mereka tidak lagi tampil secara sembunyi-sembunyi melainkan dengan wajah yang baru. Inilah yang menyebabkan kita dapat mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi kehadiran dan keberadaan mereka. Mengapa demikian? Di satu pihak mereka tetap menggunakan Alkitab sebagai dasar pengembangan ajaran/doktrin mereka selain tambahan aturan yang dimilikinya. Lebih lagi, oleh karena banyak di antara mereka tadinya berasal dari komunitas gereja, mereka bertumbuh dalam komunitas yang sangat dekat dengan gereja. Kondisi semacam itulah yang sering kali membuat warga gereja bingung untuk mengidentifikasi ajaran/doktrin gereja yang benar atau tidak.

Sayang sekali, bahwa walaupun di satu sisi manusia makin pandai, manusia tidaklah bertambah dekat kepada Tuhan. Jika mereka mau menggunakan waktu untuk mengejar kesuksesan dan kepandaian, pengetahuan mereka akan pengajaran rasul-rasul yang ada dalam Alkitab tidaklah bertambah. Banyak orang yang ke gereja setiap minggu dan merasa itu sudah cukup untuk kehidupan Kristen mereka. Mereka malas atau tidak berminat untuk belajar lebih dalam hal teologi Kristen. Sudah tentu, teologi memang bukan hal yang perlu untuk keselamatan atau untuk hidup baik. Tetapi, tanpa mempunyai pengertian teologis yang baik, orang akan mudah jatuh dalam pengajaran atau doktrin yang keliru.

Masih seringkah anda bingung ketika mendengar pengajaran atau khotbah yang memikat dari seseorang? Apakah anda belum bisa membedakan karya Tuhan dengan karya manusia? Dapatkah orang mencapai apa yang baik di mata Tuhan melalui jalan yang salah? Sulitkah anda membedakan mana yang baik dan mana yang jahat? Jika kita berpegang pada apa yang diajarkan Yesus, kita tidak akan mudah untuk menjadi bingung. Jika kita menguji segala yang kita lihat, dengar dan alami dengan firman Tuhan, kita akan menyadari apakah nama Tuhan dipermuliakan, apakah kebenaran-Nya ditegakkan, dan apakah kasih kepada sesama sudah diutamakan.

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh menjadi dewasa sehingga kita tidak tetap sebagai anak-anak yang bisa diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran dan oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Sebaliknya, kita harus berpegang teguh kepada kebenaran firman Tuhan, dan di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus, pemimpin kita yang sejati.

“…sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Efesus 4: 14 – 15

Siapakah yang bisa berjalan di atas air?

Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Matius 14: 24-25

Mukjizat Yesus berjalan di atas air ditemukan dalam Injil Matius 14:22-34, Markus 6:45-53, dan Yohanes 6:15-21. Gagasan tentang seseorang yang luar biasa, yang memiliki kemampuan untuk berjalan di atas air, bukanlah barang baru pada saat Injil ditulis, tetapi sebelumnya sudah pernah ditulis sebagai ayat pertama dalam Alkitab. Pada saat sebelum langit dan bumi ada, Roh Allah sudah ada di atas muka air.

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Kejadian 1: 1-2

Walaupun demikian, tidak semua orang Kristen yang taat sepakat tentang bagaimana menganalisa dan menafsirkan kisah Yesus berjalan di atas air. Banyak yang melihat peristiwa itu dari sudut pengaruh Yesus pada para para murid-Nya, lebih dari hal Yesus yang mampu berjalan di atas air. Dengan kata lain, mereka lebih memikirkan tindakan Petrus, penderitaan para murid, dan apa yang Yesus katakan kepada mereka setelah Ia membawa Petrus dengan selamat ke kapal.

Secara khusus, keputusan Petrus untuk menuruti permintaan Yesus untuk turun dari kapal dan masuk ke dalam air yang bergejolak menunjukkan iman Petrus kepada Yesus sebagai Mesias; ia siap menempatkan dirinya dalam bahaya yang nyata karena ia percaya bahwa Yesus akan melindunginya.

Laut Galilea memang dikenal dengan badainya. Sejarah mencatat bahwa tingginya gunung-gunung di sekitarnya, perbedaan suhu muncul, dan ini menimbulkan badai yang tiba-tiba dan dahsyat. Penampilan Yesus sebagai penyelamat yang berani menghadapi badai dan membantu mereka yang membutuhkan cukup jelas: apa yang perlu dilakukan para pengikutnya hanyalah menempatkan iman mereka kepada-Nya. Bagaimana mereka dapat beriman kepada Yesus, guru mereka yang tampil sebagai manusia yang sederhana itu? Tentunya karena mereka yakin bahwa Yesus adalah bukan manusia biasa.

Bagi kita, kemampuan Yesus untuk berjalan di atas permukaan laut Galilea dengan jelas melambangkan keilahian-Nya yang sejati dan penaklukannya atas alam. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan telah memberi Musa dan Elia kuasa atas laut (Musa membelah Laut Merah untuk memungkinkan orang Israel keluar dari Mesir), dan hubungan dapat ditarik antara peristiwa-peristiwa sebelumnya dan mukjizat Yesus di laut Galilea.

Yesus adalah gambar Allah yang menciptakan segala sesuatu. Bagi orang Kristen, kemiripan ayat dari kitab Kejadian dengan ayat-ayat dalam kitab Injil menambah keyakinan bahwa Yesus itu adalah Allah dan satu dengan Allah, karena segala sesuatu di alam semesta tentunya diciptakan oleh Allah. Hal kesatuan dari Allah, Yesus dan Roh Kudus itu dinyatakan dalam pengertian Allah Tritunggal, yaitu Allah yang satu. Allah dan Roh Allah muncul dalam kitab Kejadian dari Perjanjian Lama, dan Yesus muncul dalam kitab Injil dari Perjanjian Baru. Jika Roh Allah melayang di atas muka air, Yesus berjalan di atas muka air.

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1: 16

Bagi orang percaya, bumi dan isinya memang menunjuk kepada kebesaran Tuhan. Iman kita memberi keyakinan bahwa seisi bumi yang kelihatan adalah diciptakan oleh Allah, Roh yang tidak kelihatan. Allah adalah Bapa yang mahakuasa dan mahakasih. Allah jugalah yang datang sebagai seorang Juruselamat untuk menebus dosa manusia, yaitu Yesus Kristus.

Jika Allah Bapa sering dibayangkan sebagai Tuhan dalam Alkitab perjanjian lama karena penciptaan alam semesta dan segala apa yang diperbuat-Nya bagi bani Israel, Yesus mungkin lebih mudah dibayangkan sebagai Juruselamat bagi umat manusia di era Perjanjian Baru. Tetapi itu bukan berarti bahwa Yesus baru ada pada masa Perjanjian Baru.

Ayat dalam Kolose 1: 16 di atas menyatakan bahwa Yesus sudah ada dari awalnya. Yesus yang pernah muncul sebagai manusia di dunia adalah gambar Allah yang roh, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Yesuslah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi. Apa pun yang berkuasa di bumi, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; semuanya diciptakan oleh Yesus dan untuk kemuliaan Yesus. Yesus yang pernah turun ke dunia dan sekarang berada di surga dengan demikian adalah satu dengan Allah Bapa dan Roh Kudus.

Pada pagi ini kita diingatkan bahwa di mana pun kita berada dan melihat kebesaran ciptaan Allah, kita harus bersyukur bahwa kita juga ciptaan-Nya yang sudah diperbarui oleh Yesus Kristus dengan pengurbanan-Nya di kayu salib untuk ganti dosa kita. Kita juga harus bersyukur karena Roh Kudus, Tuhan sendiri, juga hidup dalam diri kita. Marilah kita memuji Tuhan kita yang satu dan yang sudah menyelamatkan kita!

“Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Yohanes 1: 2 – 4