Arti warna merah di hari Natal

“Marilah, baiklah kita berperkara! firman TUHAN Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Dua minggu lagi kita akan merayakan hari Natal. Bagi banyak orang, hari Natal adalah hari yang dirayakan dengan kegembiraan, sekalipun mereka bukan orang Kristen. Hari Natal di banyak negara adalah hari besar di mana banyak keluarga merayakan kebersamaan dengan saling menukar hadiah dan makan malam bersama. Walaupun demikian, hanya mereka yang beragama Kristen merayakan hari Natal sebagai hari peringatan kelahiran Yesus, Anak Allah.

Jika pada saat ini banyak tempat yang sudah dihiasi dengan berbagai lampu dan hiasan Natal, satu warna yang selalu dapat dijumpai adalah warna merah. Mungkin banyak orang mengartikan bahwa karena hari Natal adalah hari yang berbahagia, warna merah adalah warna yang cocok untuk lampu dan hiasan Natal. Jarang orang sadar bahwa warna merah adalah warna darah, dan pada hari Natal dua ribu tahun yang lalu seorang bayi dilahirkan di palungan di kota Betlehem, yang kemudian, setelah dewasa, harus mengucurkan darah-Nya dan mati sebagai tebusan orang yang berdosa.

Warna merah juga warna yang melambangkan dosa manusia. Mengapa warna ini, dan bukan hitam misalnya? Istilah-istilah ini dipakai karena merah adalah warna yang terang, bisa menimbulkan noda yang mencolok mata. Salah satu kamus Alkitab menyatakan: “Satu-satunya warna dasar yang tampaknya memiliki konsepsi yang jelas dalam pikiran orang Ibrani ialah merah.” Berbeda dengan ketidakmampuan manusia untuk mencuci noda kehidupannya, ayat di atas menyatakan bahwa Allah bisa membasuh jiwa kita untuk kembali menjadi putih, seperti bulu domba yang tidak bernoda, bahkan seperti salju. Itu karena adanya warna merah yang lain, yaitu darah Kristus.

Sebagai umat Kristen, memang kita percaya bahwa karena darah Yesus kita mendapat pengampunan sepenuhnya. Tetapi pikiran kita seringkali sulit untuk dibersihkan atau dicuci bersih dari bekas-bekas dosa kita. Ada kalanya perasaan bersalah itu begitu besar, sehingga kita merasakan betapa besar dan nyata noda-noda yang ada dalam hidup kita. Apalagi jika iblis mulai menyerang kita dengan tuduhan-tuduhannya yang keji (Wahyu 12: 10).

Ayat di atas menjelaskan bahwa tidak ada yang bisa membersihkan hidup kita dari dosa. Agama-agama lain mengajarkan bahwa manusia dapat menyucikan dirinya dengan perbuatan amal dan berbagai ritual. Tetapi kita tahu bahwa standar kesucian Tuhan adalah sangat tinggi dan tidak mungkin dicapai manusia atas usaha dan jerih payahnya sendiri. Hanya darah Kristus yang bisa membersihkan kita dari noda-noda dosa kita. Apa yang kita perlukan hanyalah iman, percaya bahwa penebusan Kristus hanya sekali tetapi sudah cukup untuk memberikan kita hidup yang baru. Dengan itu kita bisa memusatkan pikiran kita kepada hal-hal yang positip dan menolak tuduhan-tuduhan iblis.

Pada saat menjelang Natal ini marilah kita mengingat bahwa bukan kelahiran Kristus yang menjadi inti iman kita, tetapi kematian-Nya yang menghapus dosa kita, dan kebangkitan-Nya yang memberi kita kesempatan untuk bangkit dengan tubuh baru untuk bersatu dengan-Nya di surga. karena itu, jika kita melihat warna merah di antara hiasan Natal pada saat ini, marilah kita bersyukur bahwa karena kasih Allah yang sangat besar, Ia sudah mengurbankan Anak-Nya agar kita beroleh hidup yang kekal.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Kebebasan seorang anak ada dalam batasan

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: ”Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 16-17

Apakah Anda memiliki kebebasan dalam hidup di dunia? Sebagian orang percaya mereka memiliki kebebasan, sebagian lagi yakin bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar bebas. Bagaimana dengan pendapat orang Kristen? Orang Kristen percaya bahwa manusia diciptakan dengan kebebasan yang ada dalam batasan, dan di luar batasan itu hanya ada pemberontakan.

Tuhan menciptakan alam semesta dalam enam hari, tetapi, pada awalnya, alam semesta tidak memiliki dosa—segala sesuatu yang Dia buat adalah “sangat baik” (Kejadian 1:31). Dosa masuk ke alam semesta karena tindakan pemberontakan terhadap Tuhan, bukan karena Tuhan menciptakan dosa. Karena manusia sudah melanggar batasan Tuhan, manusia menjadi hamba dosa – apa pun yang dilakukannya terasa sebagai kebebasan, tetapi justru mengikatnya pada kematian.

Kita perlu mendefinisikan “dosa.” Ayat 1 Yohanes 3:4 mengatakan, “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” Oleh karena itu, dosa adalah pelanggaran apa pun terhadap hukum Allah yang kudus. Roma 3:23 mengatakan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Dosa dengan demikian adalah segala sesuatu (perkataan, pikiran, tindakan, dan motivasi) yang tidak mencapai kemuliaan dan kesempurnaan Allah. Di dunia, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang ingin menggunakan kebebasannya untuk berbuat dosa pada setiap saat dan kesempatan yang ada.

Tuhan menciptakan manusia dan malaikat dengan kehendak bebas, dan, jika makhluk memiliki kehendak bebas, setidaknya ada potensi yang akan dia pilih dengan buruk. Potensi dosa adalah risiko yang diambil Allah. Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya, dan karena Dia bebas, manusia juga diciptakan bebas (Kejadian 1:27). Kehendak bebas melibatkan kemampuan untuk memilih, dan, setelah Allah mengomunikasikan standar moral, Dia memberi manusia itu kebebasan untuk memilih apa yang benar (Kejadian 2:16-17).

Adam memilih ketidaktaatan. Tuhan tidak mencobai, memaksa, atau memikat Adam ke dalam ketidaktaatan. Yakobus 1:13 mengatakan, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Allah mengizinkan Adam untuk memilih dengan bebas dalam batasan, dan menghormati pilihan itu dengan konsekuensi yang pantas (Roma 5:12).

Hal yang sama telah berlaku untuk setiap manusia sejak itu. Tua atau muda, sama saja. Kesempatan untuk berbuat dosa melekat dalam kebebasan kita untuk memilih. Kita dapat mendengarkan suara Roh Kudus dan memilih untuk taat kepada Tuhan, yang menuntun pada kehidupan yang benar (Yeremia 29:13; 2 Timotius 2:19). Atau kita dapat memilih untuk mengikuti kecenderungan kita sendiri, yang menjauhkan kita dari Tuhan (Amsal 16:5). Alkitab jelas bahwa, apapun jalan yang kita pilih, konsekuensi mengikuti. Kita menuai apa yang kita tabur (Galatia 6:7).

Bagaimana dengan cara kita mendidik anak kita tentang kebebasan dan konsekuensinya? Tanyakan siapa saja yang pernah bekerja di toko mainan anak-anak. Selalu ada orang tua yang membiarkan anak-anak mereka berkeliaran, mencoba sesuatu, lalu meninggalkan semuanya berantakan tanpa menyuruh mereka untuk mengembalikannya. Kadang-kadang, orang tua yang sama ini akan memandang pemilik atau pelayan toko yang malang itu (yang sekarang harus merapikan jualannya) dengan mata atau bahkan kata-kata yang mengatakan, “Yah, anak-anak selalu begitu. Mereka mempunyai jiwa yang bebas!”

Jangan salah paham, saya sendiri memiliki semangat bebas dan ingin agar anak-anak saya juga demikian. Semangat bebas sejati adalah orang yang tidak membiarkan siapa dan apa pun menghentikannya dari melakukan apa yang dia tahu benar. Sayangnya, istilah free spirit sekarang sering diartikan sebagai seseorang yang tidak mau mengikuti aturan. Aturan siapapun. Bahkan Tuhan. Dalam bahasa Tuhan, semangat bebas semacam itu adalah pemberontakan. Pemberontakan terhadap Tuhan adalah dosa. Tuhan itu penuh kasih karunia, tetapi Dia juga mengharapkan ketaatan yang sempurna. Tidak menaati Tuhan adalah pemberontakan. Pemberontakan atas perintah Tuhan tidak pernah berakhir dengan baik.

Jika Anda memiliki anak yang Anda anggap berjiwa bebas, periksalah perilaku apa, dan yang lebih penting sikap hati yang bagaimana, yang Anda inginkan untuk dimiliki anak tersebut setelah mereka dewasa. Mungkin dia ingin mengenakan warna pakaian yang tidak cocok dengan selera Anda saat dia pergi berbelanja dengan Anda. Dalm hal ini, biarkan anak Anda bebas untuk mengenakan warna yang disenanginya. Namun, jika Anda menyuruhnya mengenakan pakaian tertentu dan dia muncul mengenakan pakaian lain, itu adalah pemberontakan dan harus diperbaiki.

Berhati-hatilah, bahwa aturan yang Anda buat adalah aturan yang perlu ada. Jangan membuat situasi di mana Anda menentukan sesuatu yang harus dipilih melalui izin Anda, tetapi pada akhirnya membiarkannya dipilih secara bebas oleh anak Anda. Izinkan dia untuk mengekspresikan kepribadiannya dalam bidang-bidang yang tidak melanggar perintah atau prinsip Tuhan dan yang sesuai dengan usianya.

Mengatasi pemberontakan anak Anda dan bukannya membiarkannya berlanjut dengan alasan untuk “berjiwa bebas” pada akhirnya akan membuat pekerjaan pengasuhan Anda jauh lebih mudah. Dan ketika anak Anda harus membuat keputusan antara mematuhi Tuhan atau memberontak terhadap perintah Tuhan, kemungkinan besar dia akan membuat pilihan yang baik. Jika Anda percaya bahwa prinsip “jiwa bebas” berarti membiarkan anak-anak Anda memilih apa saja yang mereka sukai, itu berarti Anda sendiri yang ingin mempunyai kebebasan dari perintah Tuhan.

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Amsal 22:6

Jika Tuhan melindungi, mengapa harus berhati-hati?

Yesus berkata kepadanya: ”Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Matius 4:7

Pada suatu ketika, sebelum tidur, Charlotte yang berumur 4 tahun mendengarkan orangtuanya membacakan cerita anak-anak dari Alkitab dan berdoa malam untuknya. Biasanya, setelah itu orangtuanya meninggalkan kamar tidur Charlotte agar ia bisa tidur. Tetapi, pada kali ini Charlotte mengajukan satu pertanyaan yang cukup sulit dijawab; dan karena itu satu jam lagi lewat sebelum ia siap untuk tidur. Pertanyaan apa pula itu?

Charlotte pada siang harinya pergi berjalan-jalan dengan orang tuanya. Sering kali, sebelum mereka bersama-sama menyeberang sebuah jalan, orangtuanya memperingatkan dia untuk berhati-hati. Ini tentunya untuk melatih Charlotte agar selalu melihat ke kanan dan kiri sebelum menyeberang, unuk memastikan tidak ada kendaraan yang lewat. Pada malam harinya ia bertanya kepada orangtuanya: “Mengapa kita harus berhati-hati menyeberang jalan jika Tuhan Yesus melindungi kita?

Pertanyaan dari seorang anak kecil yang sulit dijawab ini, adalah juga pertanyaan orang dewasa yang sulit dijawab. Pertanyaan yang sering membuat orang dewasa menolak untuk percaya adanya Tuhan, dan tidak mau menjadi orang Kristen:

  1. Apa perlunya kita mempunyai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih jika kita tetap harus menjaga keselamatan diri sendiri?
  2. Apaakah Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih jika ada orang Kristen yang sudah berhati-hati tetapi tetap mengalami bencana?
  3. Apakah Tuhan yang menetapkan datangnya bencana pada umat-Nya, seperti Ia melakukannya kepada orang yang tidak beriman?

Pertanyaan yang pertama dan kedua adalah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh mereka yang tidak mau menjadi orang Kristen karena adanya kepahitan atas masa lalu atau atas apa yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka tidak menyadari bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang menyebabkan adanya masalah dalam hidup mereka. Mereka tidak mengerti bahwa semua manusia sudah jatuh dalam dosa dan karena itu harus hidup di luar kedamaian yang pada mulanya diciptakan Tuhan untuk ciptaan-Nya. Karena itu, adalah lumrah jika ada orang Kristen yang sudah berhati-hati tetapi tetap bisa mengalami masalah.

Mereka yang mengharapkan Tuhan akan melindungi mereka sekalipun mereka dengan sengaja membuat hidup mereka kacau balau, adalah orang-orang yang mencobai dan menantang Tuhan. Mereka berusaha membuktikan ada atau tidak adanya Tuhan, dan sering kali bersaksi bahwa Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih ketika mereka terhindar dari konsekuensi kebodohan mereka. Sebaliknya, jika mereka melihat orang Kristen yang lain menderita, mereka dengan mudah menuduh bahwa orang-orang itu kurang beriman, atau telah berbuat dosa sehingga menerima hukuman yang setimpal.

Kita tidak boleh mencobai Tuhan dengan menjalani hidup yang “ugal-ugalan” dan berharap bahwa Tuhan akan menghentikan kebodohan kita atau menghindarkan kita dari akibat kesalahan kita. Setiap manusia harus bertanggungjawab sepenuhnya atas hidup mereka dan menerima akibat apa yang dilakukan mereka. Selain itu, setiap umat Kristen sudah dikaruniai Roh Penolong, Roh Kudus yang membimbing hidup mereka dalam mengambil keputusan. Tidak ada orang Kristen sejati yang bisa menolak kenyataan bahwa Roh Kudus ada dalam hidup mereka. Jika kehadiran-Nya tidak terasa, itu adalah karena Ia sudah diabaikan dan didukakan sejak lama.

Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan hanya mau menolong mereka yang mau menolong diri mereka sendiri. Pendapat ini terdengar seperti sebuah kebenaran, yang mempersalahkan manusia yang mengalami masalah karena terlihat kurang mau berusaha. Sebetulnya, pendapat ini tidak benar. Jika kita berpendapat demikian, kita juga bisa dikatakan mencobai Tuhan karena jika kita merasa sudah bertindak semaksimum kita, kita berhak menuntut pertolongan Tuhan. Jika kita sudah merasa berbuat benar, kita merasa berhak menerima perlindungan-Nya. Ini bukanlah pendapat yang benar.

Dalam kenyataannya, setiap umat Kristen berhak menyebut Allah sebagai Bapa karena pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib, dan dibenarkan jika kita berharap akan pertolongan-Nya. Tetapi apa yang harus kita yakini adalah bahwa manusia boleh berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan. Manusia bisa berusaha tetapi itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kuasa Tuhan. Kita tidak boleh merasa yakin dapat melakukan segala sesuatu, dan Tuhan tidak perlu meyertai kita sampai saat kita meminta pertolongan-Nya. Tuhan tidak senang jika kita mengabaikan Dia.

Bagaimana pula dengan pandangan bahwa Tuhan yang menetapkan datangnya bencana pada umat-Nya, seperti Ia melakukannya kepada orang yang tidak beriman? Adalah keliru jika ada orang Kristen yang percaya kepada “nasib”, karena percaya bahwa Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu, hal baik maupun hal buruk, dari mulanya. Tuhan tidak mempunyai rencana yang jahat kepada umat-Nya. Ia ingin bahwa selagi langit dan bumi masih ada, makin banyak orang yang mengenal Dia dan bertobat dari dosa mereka. Karena itu, pada hakikatnya Tuhan tidak ingin membawa malapetaka kepada siapa pun, kecuali jika ada hal-hal jahat yang bisa mengganggu rencana-Nya.

Pada akhirnya, kita harus ingat bahwa kita hidup di dunia di mana iblis masih mempunyai kesempatan untuk menghancurkan hidup manusia. Iblis ingin menghancurkan ciptaan Allah, kasih Allah, karunia Allah dan Allah sendiri. Karena itu, seperti diungkapkan dalam ayat di atas, Yesus pun harus berhati-hati dalam menghadapi berbagai godaan iblis selama Ia hidup di dunia. Seperti itulah, kita juga harus tetap berhati-hati dalam melangkahkan kaki kita selama kita hidup di dunia yang penuh dosa ini. Tuhan 100% berkuasa, tetapi manusia 100% bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya.

Bagaimana bekerja untuk kemuliaan Tuhan

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Beberapa tahun yang lalu, seorang dokter yang biasa saya kunjungi jika saya merasa kurang sehat, menasihati saya untuk mengurangi kesibukan olahraga. Dia berkata: “Manusia diciptakan untuk hidup santai, bukan untuk bekerja keras”. Saya pada waktu itu heran mengapa dia berpendapat begitu, padahal selain kesibukannya sebagai dokter, dia juga seorang pendeta. Mungkin dia bisa membagi waktu dengan baik, dan bisa bekerja dengan santai.

Saya pada waktu itu merasa bahwa setiap orang di dunia harus bekerja keras, sesuai dengan kehendak Allah. Tetapi, sebenarnya kita tidak perlu bekerja keras jika Adam dan Hawa tidak jatuh dalam dosa. Kita tahu bahwa Allah telah menetapkan pekerjaan kita sebagai penatalayanan atas dunia ciptaan-Nya (Kejadian 1:28; 2:15). Dia telah merancang pekerjaan untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan kita. Dan saya sekarang percaya bahwa pekerjaan Adam dan pada waktu itu bisa dilakukan dengan santai. Sayang, karena kejatuhan dalam dosa, manusia kemudian harus bekerja keras untuk bisa hidup di dunia.

Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Kejadian 3: 17-19

Sekarang, setiap orang harus bekerja keras untuk hidup. dan karena itu sering kali kita tidak mempunyai waktu untuk bersantai. Bekerja keras di zaman ini bukan hanya untuk bisa hidup, tetapi banyak orang yang bekerja untuk menjadi kaya atau sukses. Pekerjaan manusia yang pada mulanya dirancang Tuhan untuk hal yang baik, sekarang belum tentu membawa kemuliaan bagi Tuhan dan kebaikan bagi kita. Sebagai orang Kristen kita sering bingung bagaimana kita harus bekerja untuk memenuhi kehendak-Nya. Untuk itu kita harus sadar akan beberapa hal:

  1. Percaya bahwa semua pekerjaan itu suci atau tidak suci di hadapan Tuhan berdasarkan iman kita, bukan dari apa yang dianggap benar melalui jenis pekerjaan itu sendiri. Sebagai contoh, seorang bisa menjadi dokter yang baik di mata manusia, tetapi belum tentu dokter yang baik di mata Tuhan.
  2. Bersikap adil dan jujur dalam semua urusan kita dengan uang. Banyak orang Kristen yang rajin ke gereja, tetapi di luar gereja mereka tidak ada bedanya dengan orang lain. Mereka mengejar untung dan kejayaan diri sendiri melalui ekploitasi orang lain, baik rekan sekerja maupun para pekerja mereka.
  3. Bergantung dengan penuh doa kepada Tuhan, bukan keyakinan atas kemampuan diri sendiri. Banyak orang Kristen yang lupa berdoa karena kesibukan mereka. Lambat laun mereka mereka merasa bahwa berdoa adalah tidak penting karena mereka berhasil sekalipun kurang berdoa. Mereka kemudian yakin bahwa kerja keras adalah kunci kesuksesan.
  4. Gunakan upah yang diperoleh dari pekerjaan kita untuk menolong dan memberkati orang lain. Apa yang terjadi di dunia saat ini adalah kenyataan bahwa yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin. Jurang antara yang kaya dan yang miskin makin besar. Ini bukan kehendak Tuhan.
  5. Bertumbuh dalam keahlian kita, bekerja keras, dan berjuang untuk kemuliaan Tuhan. Banyak orang Kristen yang merasa puas dengan apa yang bisa dilakukan saat ini, tanpa keinginan untuk mengembangkan karunia atau talenta yang Tuhan berikan. Orang lain kemudian memandang orang Kristen sebagai pekerja yang malas atau tidak mempunyai inisiatif.
  6. Teladankan kasih kepada sesama dalam cara kita berinteraksi dengan rekan kerja. Menjadi pekerja Kristen yang bersemangat bukan berarti kita boleh saling sikut untuk bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi. Tugas orang Kristen adalah membawa orang lain untuk mengenal kasih Tuhan melalui cara hidup kita.
  7. Rencanakan ke depan dengan percaya “jika Tuhan menghendaki”. Manusia boleh merencanakan, tetapi kehendak Tuhanlah yang terjadi. Karena itu, dalam merencanakan masa depan, kita harus mencari kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan kepada kita melalui firman-Nya.
  8. Sampaikan Injil kepada kolega kita. Sambil menyelam, minum air. Sambil bekerja, mengabarkan Injil. Ini tidak harus selalu melalui jalan formal, tetapi dari apa yang kita lakukan, ucapkan dan rencanakan orang harus bisa melihat kalau kita adalah orang Kristen yang taat kepada Tuhan.
  9. Bekerjalah seperti untuk Tuhan dan untuk manusia. Jika kita bekerja untuk manusia, kita akan sering merasa kecewa, sakit hati atau marah karena perlakuan orang lain. Tetapi, jika kita percaya bahwa Tuhanlah majikan kita, tanggapan kita akan suasana pekerjaan akan berubah menjadi lebih damai dan santai.
  10. Fokus pada pekerjaan yang telah diberikan. Sebagai orang Kristen kita tidak harus tetap bekerja pada satu tempat dan dibawah satu atasan. Tuhan bisa bekerja melalui aspirasi dan inisiatif kita, untuk membawa kita ke tempat lain yang lebih baik untuk kemuliaan-Nya dan untuk kebaikan kita. Tetapi, selama kita bekerja pada satu tempat, konsentrasi kita harus tetap dipertahankan sambil menunggu panggilan Tuhan untuk maju bergerak.
  11. Ucapkan kata-kata kasih dan syukur. Sekalipun situasi pekerjaan kita kurang mencocoki keinginan kita, kita harus tetap bersemangat dalam menunaikan tugas kita, dengan rasa syukur kepada Tuhan dan rasa kasih kepada sesama kita.
  12. Hidup dalam damai melalui keyakinan iman bahwa apa pun yang terjadi adalah sesuai dengan kehendak Tuhan yang menentukan atau mengizinkan semuanya. Percaya dalam iman bahwa Tuhan selalu memelihara umat-Nya.

Libur tidak libur sama saja

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Minggu depan adalah permulaan liburan akhir tahun bagi murid sekolah menengah di Australia. Pada umumnya liburan ini berlangsung selama 6 minggu, termasuk libur Natal dan Tahun Baru, kecuali untuk sekolah swasta yang mempunyai lebih banyak hari libur. Biasanya, pada musim liburan seperti ini tempat kamping (camping ground) di berbagai tempat pesiar dipenuhi banyak caravan.

Liburan adalah sesuatu yang umumnya disambut orang dengan gembira, kalau itu diartikan sebagai kesempatan untuk beristirahat dan menikmati hidup. Walaupun demikian, bagi mereka yang tetap harus bekerja atau tidak mempunyai kesempatan untuk berlibur, adanya hari libur mungkin bisa mendatangkan rasa sebal.

Alkitab tidak secara jelas membahas soal liburan selain adanya satu hari yang dikhususkan untuk beristirahat dan memuliakan Tuhan. Memang diluar libur sehari dalam seminggu, hari libur lainnya ditentukan oleh kebijaksanaan pemerintah atau organisasi setempat. Dalam hal ini banyak negara yang menentukan adanya liburan selama beberapa minggu dalam setahun kepada mereka yang bekerja, agar mereka dapat beristirahat untuk memulihkan keadaan tubuh dan pikiran.

Walaupun tidak jelas dikemukakan, sebenarnya Alkitab juga memberi gambaran adanya liburan untuk prajurit Israel pada kitab 1 Tawarich 27: 1.

“Adapun orang Israel, inilah daftar para kepala puak, para panglima pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pengatur yang melayani raja dalam segala hal mengenai rombongan orang-orang yang bertugas dan libur, bulan demi bulan, sepanjang tahun. Setiap rombongan berjumlah dua puluh empat ribu orang.”

Ternyata, pada zaman dulu orang sudah mengerti perlunya untuk bekerja dan berlibur. Memang, jika orang harus bekerja terus tanpa adanya liburan panjang, mereka akan mudah menjadi lelah.

Jika liburan panjang itu perlu, apa yang bisa dikerjakan pada waktu itu? Pertanyaan ini agaknya aneh bagi mereka yang ingin untuk 100% beristirahat tanpa mau memikirkan pekerjaan atau tugas. Tetapi, bagi mereka yang senang bekerja, pertanyaan ini adalah lumrah. Jika liburan tidak diisi dengan kegiatan, memang itu bisa juga membosankan dan juga melelahkan. Apalagi, bagi sebagian orang, berlibur bisa berarti tidak ada pemasukan uang. Lalu kegiatan apa yang sebaiknya dilakukan selama berlibur agar liburan tidak menjadi hal yang sia-sia?

Bagi umat Kristen, liburan panjang bukan berarti libur dari memuliakan Tuhan. Banyak orang yang berpikir bahwa selama liburan kegiatan memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya boleh dikurangi. Namun ayat pembukaan kita berkata bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan, kita wajib melakukannya dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur kepada Allah, Bapa kita. Dengan demikian, adanya liburan dari pekerjaan dan aktivitas rutin justru seharusnya memberi kita kesempatan untuk bersyukur atas kasih-Nya. Dengan demikian, liburan panjang adalah sebuah kesempatan untuk meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Libur atau tidak libur, tidak ada bedanya dalam hal ini!

Ayat yang sering disalahgunakan

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Pagi tadi saya bangun agak pagi karena ingin menonton siaran TV yang meliput pertandingan Piala Dunia di Qatar. Tim mana yang bertarung? Tentunya Anda bisa menerka. Tim Australia berhadapan dengan tim Argentina yang sudah dikenal sebagai tim sepakbola yang sangat kuat. Dalam hal rangking, tim Australia bukan apa-apa jika dibandingkan dengan tim Argentina. Dan hasil pertandingan mungkin menyatakan hal itu: skor 2 – 1 untuk Argentina, walaupun skor itu seharusnya bisa dihindari kalau saja kiper Australia tidak membuat blunder.

Demam bola agaknya menguasai banyak orang di seluruh dunia pada saat ini. Tua muda, pria maupun wanita, masing-masing mempunyai tim favoritnya sendiri. Mereka berharap, dan bahkan berdoa, agar tim kesayangan mereka menang; bukan karena tim lain disponsori oleh perusahaan yang tidak mereka sukai, dan bukan juga karena tim mereka adalah tim orang Kristen. Berharap untuk sukses atau menang memang sering bersifat egocentric, berpusat pada diri sendiri. Tidak peduli akan orang lain, asal diri sendiri berhasil.

Di kalangan orang Kristen pun ada banyak orang yang secara sadar atau tidak bersifat egosentris, memohon berkat dan keberhasilan dari Tuhan, sekalipun itu mungkin berarti kesusahan, kerugian dan kekalahan orang lain. Mungkin itu karena merasa bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan yang paling disayangi sehingga Tuhan akan mengabulkan permintaan apa saja. Mereka merasa tidak perlu mencari kehendak Tuhan. Mereka tidak mengerti bahwa Tuhan memberi kan berkat-Nya kepada semua orang di dunia. Mereka tidak paham jika Tuhan mengabaikan kebutuhan orang non-kristen di dunia ini, tentu seluruh sistim pemerintahan, perekonomian, teknologi dan sebagainya akan jatuh berantakan.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Banyak juga orang Kristen yang percaya bahwa sebagai orang yang dipilih Tuhan, mereka adalah orang-orang yang bisa mendapatkan apapun yang mereka ingini. Selalu menang. Dengan demikian, ayat diatas sering dipakai untuk memberi semangat kepada mereka yang kuatir dalam menghadapi kesulitan hidup, agar mereka yakin bahwa bersama Yesus mereka akan selalu berhasil. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Benarkah begitu?

Ayat diatas tidak dapat dipakai sebagai pedoman umum jika kita tidak mau membaca ayat-ayat lain sesudahnya. Dari ayat-ayat itu, kita bisa melihat bahwa Paulus menulis ayat diatas dalam konteks mengalami penderitaan dan apa yang diartikan sebagai kegagalan. Bukan dalam konteks mencapai keberhasilan. Paulus mempersiapkan orang-orang Kristen di Roma dalam menghadapi penderitaan!

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Roma 8: 35

Hari ini, jika kita merasa takut dalam menghadapi kegagalan dan penderitaan, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan beserta kita senantiasa. Dalam keadaan apapun, kita boleh yakin bahwa kita adalah pemenang sejati yang lebih dari pada orang-orang yang terlihat menang, karena kita mempunyaiTuhan yang mengasihi kita. Kita juga bisa merasakan adanya kekuatan yang diberikan Tuhan, karena tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Cinta uang adalah akar kejahatan

KataNya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12: 15

Siapakah yang mau dikatakan cinta uang alias tamak? Saya kira tidak ada seorang pun. Tamak mempunyai konotasi yang jelek sebab kata itu dihubungkan dengan keserakahan dan kerakusan akan uang. Memang, sering kali orang menghubungkan ketamakan dengan tingkah laku yang tercela untuk memperoleh keuntungan materi, seperti korupsi, penggelapan uang atau perampasan harta orang lain.

Banyak orang yang berpikir bahwa orang kaya adalah identik dengan orang yang tamak. Karena tamak, orang bisa menjadi kaya, dan orang yang kaya tentunya tamak. Begitu alasannya. Oleh karena itu ada orang Kristen yang berpendapat bahwa kekayaan adalah bertentangan dengan iman. Tentu saja, pendapat seperti itu adalah tidak benar.

Pada pihak yang lain, apakah orang Kristen boleh hidup untuk mengejar kekayaan? Dalam hal ini jawabnya adalah tegas. Alkitab menyatakan dalam ayat di atas bahwa sekalipun kita dapat memperoleh harta yang berlimpah-limpah, kita tidak bisa dijamin akan berhahagia karena hidup kita tidak tergantung padanya. Alkitab justru memberi peringatan yang tegas:

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Dalam sejarah bisnis internasional, banyak contoh kejatuhan orang karena ketamakan dan kesembronoan. Yang baru-baru ini terjadi adalah bangkrutnya bursa uang kripto (“uang dunia maya”) bernama FTX yang dulunya dianggap sebagai “pabrik uang”.Mantan bos FTX, Sam Bankman-Fried disebut jadi penyebab kebangkrutan perusahaannya sendiri. Dalam pengadilan kebangkrutan Amerika Serikat disebutkan runtuhnya raksasa bursa kripto itu setelah ‘dijalankan sebagai milik pribadi Sam Bankman-Fried’. Memang, semasa jaya, Sam Bankman-Fried pernah berkata bahwa ia akan menjadi orang terkaya sedunia. Kebangkrutan FTX dianggap sebagai salah satu keruntuhan yang paling mendadak dan rumit dalam sejarah perusahaan Amerika.

Sam Bankman-Fried menjalankan FTX yang bernilai US$32 miliar. Namun dia nyatanya tidak punya kemampuan mengontrol uang paling mendasar sekalipun, dan karena itu sekarang kebangkrutan ini bisa dipahami. Gaya hidup Sam Bankman-Fried juga jadi bahan pembicaraan dalam pengadilan tersebut. Pria berusia 30 tahun itu dilaporkan menghabiskan US$300 juta untuk penyediaan rumah liburan dan properti bagi staf seniornya.

FTX mengajukan status bangkrut setelah perusahaan itu runtuh pada awal bulan November 2022. Ada lebih dari 1 juta investor di FTX dan kemungkinan uang mereka tidak bisa kembali didapatkan. Mereka terbujuk oleh promosi FTX yang menjanjikan untung besar dalam waktu singkat. Belum diketahui berapa banyak uang yang tertahan di FTX. Lebih parah lagi, sekarang diketahui bahwa aset uang kripto milik beberapa perusahaan telah dicuri oleh hacker.

Uang memang bisa membawa kebahagiaan, tetapi juga penderitaan. Banyak orang berpendapat bahwa jika ada uang, kebahagiaan akan mudah diperoleh. Bagi sebagian orang, uang mungkin identik dengan berkat dan kasih Tuhan. Sebaliknya, banyak orang yang merasa bahwa penderitaan hidup disebabkan oleh tidak adanya uang atau karena adanya uang yang harus dikeluarkan. Bagi mereka, kehilangan uang mungkin berarti kehilangan berkat dan kasih Tuhan. Bukankah Tuhan yang mahakaya dan mahakasih mengerti bahwa manusia memerlukan uang untuk hidup di dunia dan senang jika mempunyai banyak uang?

Menurut dunia, uang memang kunci kehidupan. Menurut dunia kebahagiaan dan penderitaan bisa diukur dengan uang yang masuk atau uang yang keluar.  Tetapi firman Tuhan di atas berkata bahwa hidup manusia tidak bergantung pada kekayaannya; sebab sekalipun seorang berlimpah-limpah hartanya, kebahagiaan belum tentu datang. Hal yang sebaliknya justru sering terjadi: karena harta yang berlimpah-limpah seorang bisa kehilangan Tuhannya dan mengalami kehampaan hidup. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang hidup dalam kekurangan bisa merasakan bahwa hidup ini sangat berat dan Tuhan itu tampak jauh.

Dengan demikian, manakah yang lebih baik: menjadi orang kaya atau orang miskin? Jika kemakmuran bisa membuat orang jauh dari Tuhan, kemiskinan juga bisa mempunyai akibat yang serupa. Menurut ayat di atas, apa yang penting bagi kita adalah untuk menghindari ketamakan. Ketamakan bukanlah monopoli orang yang kaya saja: mereka yang kaya bisa menjadi tamak karena kecintaan kepada harta, tetapi mereka yang berkekurangan bisa menjadi tamak karena kerinduan untuk memperoleh harta. Dengan demikian, baik kaya atau miskin, orang bisa saja menjadi tamak. Orang yang tamak selalu ingin memperoleh harta yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya.

Hari ini kita diingatkan bahwa ketamakan membuat orang lupa bahwa hidupnya hanya bergantung kepada Tuhan. Ini adalah bencana. Dengan mengejar kekayaan orang bisa jatuh kedalam berbagai pencobaan dan karena cinta akan uang orang bisa melakukan berbagai kejahatan (1 Timotius 6: 9 – 10). Mereka yang siang malam memikirkan harta, pada akhirnya bisa mendewakan harta dan kehilangan Tuhan. Karena itu, seperti Paulus kita harus mau melatih diri agar bisa merasa cukup dalam setiap keadaan, baik itu kelimpahan ataupun kekurangan.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 11 – 13

Jangan sampai tersesat!

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 7-10

Memasuki bulan Desember, suasana liburan sudah mulai terasa di Australia. Mulai tanggal 10 Desember 2022 liburan panjang sekolah akan dimulai, dan berlangsung sampai 18 Januari 2023. Banyak keluarga yang sudah merencanakan acara liburan mereka, termasuk acara camping atau berkemah di tempat yang jauh dari kesibukan kota besar. Ini tentunya perlu persiapan yang baik, termasuk mempelajari jurusan dan jalan untuk mencapai tempat tujuan. Memang, dalam berpergian ke tempat asing adalah kurang menyenangkan jika kita tidak dapat menemukan jalan untuk mencapai tujuan kita. Mungkin jalan yang kita pilih pada mulanya tidak memberi kesan bahwa jalan itu adalah jalan yang keliru, tetapi kemudian kita bisa sadar bahwa kita telah tersesat. Kesadaran itu mungkin timbul karena apa yang kita tuju tidak kunjung terlihat, atau karena suasana di sekitar kita yang terasa asing, atau mungkin juga karena ada orang lain yang menyadarkan kita.

Kesadaran saja, bahwa kita harus berganti haluan, tidak bisa menjamin bahwa kita akan menemukan jurusan yang benar. Tanpa mengganti jurusan, kita mungkin tidak bisa mencapai tujuan kita. Juga, tanpa memakai suatu pedoman arah, tidaklah mudah untuk memastikan kemana kita harus pergi. Dan sekalipun kita mempunyai pedoman arah, pengertian kita mungkin keliru. Memang jika kita benar-benar berada di tempat yang asing, kita harus selalu berhati-hati dan mau mempelajari medan.

Seperti itu jugalah hidup kita sebagai orang Kristen yang menuju ke tempat yang asing untuk kita yaitu surga. Banyak orang Kristen yang masih percaya bahwa mereka menuju ke surga melalui jalan tertentu, tetapi orang lain juga bisa menuju ke tempat yang sama melalui jalan lain. Padahal, pedoman arah kita, Alkitab, menulis bahwa Yesus berkata:

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Jika kita tahu bahwa ada satu jalan menuju ke arah keselamatan, ada sebuah pertanyaan yang sering menggelitik kita: apakah kita bisa tersesat dalam perjalanan hidup ini? Ayat yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Galatia di atas menunjukkan bahwa orang percaya bisa saja tersesat. Jemaat Galatia pada waktu itu terancam ajaran sesat yang mengharuskan orang non Yahudi untuk disunat sebagai syarat keselamatan. Seperti itu juga, di zaman ini, dimana “semangat persahabatan” antar umat Kristen lagi sering didengung-dengungkan, orang mungkin ragu untuk menolak ajaran orang lain. Tetapi, Paulus jelas tidak ragu untuk mengingatkan jika kita tidak mempunyai kesetiaan sejati kepada Kristus saja, kita mungkin sudah jatuh kedalam tipuan iblis. Ternyata, umat Kristen yang percaya kepada Yesus bisa saja tersesat jika kepercayaan kita kepada-Nya tidak lagi murni berdasarkan Alkitab.

Hari ini kita diingatkan bahwa menjalani hidup kekristenan itu tidak mudah. Jika kita tidak selalu awas akan arah iman kita dan selalu memakai pedoman arah kita, Alkitab, dengan benar, kita akan bisa tersesat. Ada begitu banyak orang yang menunjukkan berbagai arah dan jurusan menuju kearah surga, dan ada begitu banyak orang yang percaya perlunya untuk mempunyai hal-hal ekstra diluar Yesus; semua itu bisa-bisa adalah tipu daya iblis yang berusaha menipu kita. Selain itu, ajaran yang memastikan bahwa kita bisa menjadi umat-Nya tanpa adanya keinginan untuk berbuat baik adalah ajaran yang keliru.

Kita harus sadar bahwa seperti dalam melakukan perjalanan wisata kita harus selalu mau mempelajari medan dan memakai pedoman arah, dalam perjalanan hidup keimanan kita harus selalu mau mempelajari apakah yang kita percayai sudah dan tetap sesuai dengan firman Tuhan. Lebih dari itu, kita harus giat melakukan apa yang baik, yang memuliakan Tuhan, dan bukan apa yang memuliakan diri kita sendiri.

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 15-16

Bagaimana caranya membalas kasih Tuhan?

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Kesempatan untuk mengunjungi dan tinggal di berbagai negara bisa memberi pelajaran kepada siapa pun bahwa setiap suku bangsa mempunyai adat istiadat dan etika yang berbeda. Walaupun begitu, ada satu hal yang selalu ada dimanapun kita berada, yaitu ucapan terima kasih. Dimana saja, setiap orang yang mempunyai sopan santun, selalu mengucapkan terima kasih atas pemberian dan pertolongan orang lain. Jika apa yang diterima dari orang lain cukup besar artinya, mungkin juga ada keinginan untuk membalas budi selain mengucapkan terima kasih.

Pernyataan syukur kepada Tuhan adalah wujud rasa terima kasih kita kepada-Nya. Alkitab mencatat bahwa dari mulanya, Tuhan menghendaki dan menghargai persembahan syukur dari manusia ciptaan-Nya. Kain dan Habil mempersembahkan korban syukur dengan caranya masing-masing, tetapi hanya persembahan Habil yang diterima Tuhan (Kejadian 4: 3 – 4). Rupanya Tuhan mempunyai selera tersendiri dalam hal menerima pernyataan syukur manusia. Karena itu, dalam mempersembahkan syukur kita kepada Tuhan, kita tidak boleh melakukannya menurut apa yang kita senangi, tetapi sesuai dengan apa yang Tuhan sukai.

Adalah kenyataan hidup bahwa banyak manusia yang senang menerima, tetapi kurang suka memberi. Ini juga berlaku dalam hubungan manusia Kristen dengan Tuhan. Sebagian besar manusia hanya berdoa kepada Tuhan untuk memohon sesuatu, terutama jika situasi hidup menjadi berat. Namun, manusia cenderung untuk menerima kasih dan berkat Tuhan seperti sesuatu yang sudah selayaknya diterima dan lupa untuk bersyukur.

Ayat diatas menyebutkan bahwa ketika kita masih hidup dalam dosa, Kristus sudah mati untuk ganti kita. Kita menerima keselamatan karena Tuhan sudah lebih dulu menyatakan kasihNya. Apa yang bisa kita lakukan untuk menyatakan rasa terima kasih kita? Sebagian orang merasa bahwa karena keselamatan itu datang dari Tuhan dan bukan karena perbuatan kita, kita tidak perlu menekankan pentingnya hal berbuat baik untuk Tuhan. Ini aneh.

Yesus tidak meninggalkan kita dengan keraguan tentang apa artinya mengasihi Allah. Dalam Yohanes 14:23, Dia berkata, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Yesus telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa mengasihi Dia berarti menaati-Nya dan, dalam Yohanes 15:10, Dia memberi tahu kita, “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.”

Jadi, kasih Yesus bagi kita bukanlah hal yang ringan dan tanpa syarat seperti yang dipikirkan banyak orang; kita harus tetap berada dalam kasih-Nya jika kita taat pada perintah-Nya. Jika kita tidak menaati perintah ini maka kita tidak akan tinggal di dalam kasih-Nya dan tidak akan mewarisi hidup yang kekal karena, dalam Yohanes 15:6, Dia berkata, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”

Selain itu, Paulus dalam kitab Roma 12:1 menulis tentang persembahan apa yang patut untuk Tuhan: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan yang sudah memberikan berbagai berkat dalam hidup kita, tidaklah menganggap uang, tenaga atau materi sebagai hal yang utama untuk dipersembahkan kepada-Nya. Semua itu baik, tetapi terlalu kecil bagi-Nya. Bagi Dia yang sudah memberikan hidup baru dan keselamatan yang sejati kepada kita, tidak ada yang lebih patut untuk dipersembahkan kepada-Nya, kecuali seluruh hidup kita. Biarlah apapun yang kita kerjakan dan jalani dalam hidup ini bisa kita gunakan untuk memuliakan Dia!

Tujuan dan cara adalah suatu kesatuan

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” Filipi 1: 9 – 11

Tahukah Anda bahwa ada Alkitab buatan Cina? Amity Printing Company adalah satu-satunya percetakan di Cina yang diizinkan oleh pemerintah komunis untuk mencetak Alkitab. Amity bisa mencetak jutaan Alkitab dalam setahun, namun dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil yang terjual di Cina. Sebagian besar Alkitab dicetak dalam bahasa lain dan diekspor ke lebih dari 60 negara. Saat ini Alkitab mungkin hanya dapat dibeli secara legal di toko buku gereja yang terdaftar pemerintah. Alkitab tidak tersedia di toko buku biasa, meskipun kitab suci Buddha, Islam, dan ateisme, bisa dibeli dengan bebas. Karena itulah, ada beberapa organisasi di luar Cina yang mendatangkan Alkitab ke Cina melalui jalan gelap: penyelundupan.

Sebagian pimpinan organisasi Kristen menyatakan bahwa bahwa mereka tidak setuju dengan pandangan bahwa kita tidak boleh melakukan sesuatu yang ilegal sekalipun itu untuk maksud yang baik. Mereka berpendapat bahwa jika orang Kristen dibatasi oleh pandangan itu, kesimpulan logisnya adalah sebagian besar dunia tidak akan diinjili. Untuk menginjil, kita boleh melakukan hal yang melawan hukum suatu negara. Pada pihak yang lain, ada tokoh-tokoh Kristen lain yang tidak setuju atas pandangan “tujuan menghalakan cara”, dan menyatakan bahwa penyelundupan Alkitab lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya. Penyelundup dapat diusir dari negara itu, tetapi dampaknya bisa lebih serius bagi orang percaya di negara itu. Bagaimana pendapat Anda?

Paulus dalam ayat diatas menulis tentang doanya untuk jemaat di Filipi agar kasih mereka makin melimpah dalam pengetahuan yang benar (knowledge), sehingga mereka dapat mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang baik (discernment), dan supaya mereka bisa hidup dalam kejujuran (sincerity) dan tak hidup dalam dosa (blameless). Lebih dari itu, Paulus berdoa agar mereka bisa menghasilkan berbagai perbuatan yang baik melalui Yesus (good works) untuk memuliakan Allah. Kasih umat Kristen, berbeda dengan cinta duniawi, ternyata tidak buta. Adanya kasih tidak menghalalkan segala cara untuk menyatakannya. Kasih bertujuan untuk memuliakan Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Karena itu kita harus bisa memilih cara yang benar untuk menyatakannya. Cara yang sesuai dengan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan kepada kita.

Kasih yang harus dipunyai setiap orang Kristen bukanlah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dengan membabi-buta tanpa pikir. Sebaliknya, jika umat Kristen ingin untuk bisa mengasihi sesamanya, mereka harus berdoa agar mereka bisa melakukannya dengan bijaksana agar bisa memilih apa yang baik dan berguna bagi hidup mereka dan bagi hidup orang lain. Kasih yang dinyatakan dengan cara yang sesuai dengan Firman Tuhan. Kasih yang benar tidak akan mengurbankan prinsip-prinsip kejujuran dan kesucian hidup yang dituntut Tuhan, dan kasih yang benar selalu dapat menghasilkan apa yang baik sesuai dengan firman Tuhan. Kasih surgawi tidak semudah atau semurah cinta duniawi. Kasih datang dari Allah dan kita harus mengerti apa yang dikehendaki-Nya untuk dapat mengasihi. Inilah yang juga pernah didoakan Paulus untuk jemaat di Efesus.

‘Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”  Efesus 3: 18 – 19

Hari ini, mungkin kita ingin menyatakan kasih kita kepada orang lain, kepada teman, sanak atau pun keluarga. Mungkin kita ingin agar membuat mereka berbahagia dengan berbagai perhatian, pemberian atau pengurbanan. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa untuk bisa memberi kasih yang benar kita harus mempunyai kebijaksanaan, dan bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Kasih yang benar adalah kasih yang membangun hidup orang lain didalam Kristus, kasih yang seperti kasih Kristus adalah kasih yang membawa orang kearah keselamatan, bukan ke arah kehancuran dalam impian. Kasih yang benar akan mempertahankan apa yang baik dan menghilangkan apa yang buruk dari hidup kita dan hidup orang lain, agar hidup kita dan orang-orang yang kita kasihi bisa membawa kemuliaan kepada Tuhan.