Sehati sepenanggungan

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Pada saat ini keadaan di dunia terasa kurang enak. Dimana-mana orang agaknya cemas mendengar kabar bahwa makin banyak orang yang terkena serangan virus corona. Di Australia, supermarket penuh dikunjungi orang yang ingin membeli bahan-bahan makanan yang bisa disimpan lama untuk berjaga-jaga sekiranya lockdown kota atau negara benar-benar terjadi. Memang kalau ada pembatasan sosial, orang akan sulit mencari makanan atau barang-barang lain.

Hari ini, supermarket membuka pintu jam 7 pagi untuk memberi kesempatan bagi orang yang sudah tua atau yang fisiknya kurang kuat untuk berbelanja secara terpisah dari masyarakat umum selama satu jam. Ini untuk menghindari ramainya pengunjung yang berebut barang. Memang mereka perlu dikasihani dan dilindungi selama krisis ini berlangsung.

Dalam keadaan genting, sifat orang yang asli dapat terlihat. Banyak orang yang terlihat kurang peduli akan kepentingan orang lain dan malahan berlaku kejam kepada mereka yang lebih lemah. Dalam memperebutkan barang kebutuhan, yang lemah mudah untuk menjadi bulan-bulanan yang lebih kuat. Tidaklah mengherankan bahwa dalam suasana seperti ini kebanyakan orang mengalami stress.

Mengapa semua ini harus terjadi? Apa yang harus aku lakukan? Begitu mungkin jeritan banyak orang, baik mereka orang Kristen maupun bukan. Memang jika malapetaka terjadi, tidak ada seorang pun yang bisa yakin bahwa ia akan bebas darinya. Tuhan yang mahakasih memang menyayangi umatNya, tetapi itu bukan berarti mereka akan bebas dari penderitaan di dunia. Jika demikian, apakah untungnya menjadi orang Kristen?

Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap orang percaya adalah anak Allah yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus. Tetapi, untuk menjadi anakNya kita harus sehati sepenanggungan dengan AnakNya yang tunggal yaitu Yesus Kristus. Jika kita bersedia untuk menderita bersama-sama dengan Dia yang sudah mati di kayu salib, kita juga akan dipermuliakan bersama-sama dengan Dia di surga. Dengan demikian, penderitaan apa pun tidak bisa memisahkan kita dari kasih Allah. Tuhan bisa menggunakan keadaan saat ini untuk memperkokoh iman dan menyempurnakan kasih kita.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Bukan hanya tahu, tetapi juga melakukan

“Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh BapaKu dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diriKu kepadanya.” Yohanes 14: 21

Di Australia, mulai bulan Maret ini kamera khusus yang bisa mendeteksi orang yang menggunakan HP selagi mengemudi kendaraan mulai dipakai. Mereka yang melakukan pelanggaran ini bisa didenda beberapa ratus dolar. Sebelumnya memang denda serupa sudah ada tetapi pelaksanaannya sulit karena polisi harus menangkap basah pelakunya.

Sebenarnya, setiap pengemudi kendaraan bermotor dan sepeda tahu bahwa mereka tidak boleh memakai HP ketika mengemudi, karena itu membahayakan orang lain dan diri sendiri. Tetapi, banyak orang yang melanggar hukum karena mereka merasa bahwa hukum tidak berlaku selama mereka tidak tertangkap. Dengan demikian, orang yang ditemukan bersalah adalah orang yang “sial” karena kesalahannya ditemukan oleh hamba hukum.

Banyak orang Kristen yang melakukan hal yang serupa dalam hidup sehari-hari. Ada orang Kristen yang nampaknya dengan ringan hati berbuat dosa. Mengapa begitu? Yang pertama, mereka mungkin merasa bahwa jika apa yang mereka perbuat bisa diterima masyarakat, semua itu tidak perlu dipikirkan. Yang kedua, mereka mungkin percaya bahwa dosa yang mereka perbuat adalah kecil dan bisa diampuni Tuhan yang mahakasih. Yang ketiga, mereka bisa menyembunyikan apa yang tidak baik sehingga perasan bersalah bisa ditekan. Mereka merasa tidak bersalah sampai saat dimana hukum setempat membuktikan kesalahannya.

Semua penyebab di atas bisa diringkas dalam satu sebab saja: mereka yang tidak menjalankan perintah Tuhan tidaklah peduli akan adanya Tuhan. Itulah yang menyebabkan Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Secara keseluruhan, itu menunjukkan bahwa mereka tidak mengasihi Tuhan yang sudah menciptakan dan memelihara mereka.

Bagi kita yang sudah diselamatkan oleh pengurbanan Kristus, rasa syukur kita seharusnya diwujudkan dalam kasih kita kepada Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Dengan demikian, kita tidak mau menyakiti hatiNya dengan tidak melakukan firman yang sudah diberikanNya kepada kita untuk kebaikan kita sendiri. Jika kita mengasihi Yesus, kita pasti mau melakukan firmanNya. Dengan demikian kita akan menerima kasih Allah Bapa, dan merasakan penyertaan Yesus setiap saat dalam hidup kita.

Keyakinan dalam iman

“Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.” Yakobus 5: 15

Teringat saya akan masa muda, dimana teman yang lama tak berjumpa menyapa saya dengan pertanyaan “kemana saja nih” dan obyek pembicaraan kami berlanjut menjadi saling menukar pengalaman selama berpisah. Heran, setelah usia saya mulai melanjut, pembicaraan dengan teman-teman saya cenderung berkisar soal kesehatan dan obat-obatan. Sekalipun demikian, saya yakin bahwa keadaan dunia di zaman ini agaknya sudah berubah dengan kesadaran bahwa hal menjadi sakit bukan hanya monopoli kaum yang kurang mampu dan yang berumur saja.

Setiap orang bisa jatuh sakit, itu adalah kenyataan yang tidak dapat ditolak. Dengan demikian, setiap orang berusaha dengan kemampuannya untuk bisa tetap sehat, dan mereka yang beriman tentunya memohon penyertaan Tuhan agar bisa terlindungi dari ancaman berbagai penyakit. Pada pihak yang lain, orang mungkin jarang memikirkan hal dosa yang seperti penyakit jasmani, bisa membuat manusia sakit. Orang mungkin kurang menyadari pentingnya meminta perlindungan Tuhan dari godaan iblis supaya bisa mengatasi ancaman berbagai penyakit rohani. Padahal hal sakit rohani seharusnya lebih ditakuti daripada sakit jasmani karena menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan.

Pada ayat di atas terlihat adanya hubungan antara penyakit jasmani dengan penyakit rohani. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mampu menyembuhkan orang yang sakit seperti apa yang dikehendakinya. Hal ini bukan berarti bahwa Ia akan menyembuhkan setiap orang dari setiap penyakit pada setiap saat, tetapi Ia sanggup menunjukkan kuasaNya sehingga setiap umatNya yang benar-benar beriman mempunyai keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu. Oleh sebab itu, setiap orang percaya tidak perlu takut dalam menghadapi bahaya penyakit jasmani.

Pada pihak yang lain, dosa yang membawa penyakit rohani adalah suatu bahaya besar yang seharusnya ditakuti oleh setiap manusia yang sadar tentang adanya Tuhan yang mahasuci. Tuhan menuntut seluruh umat manusia untuk bisa hidup suci seperti Dia, dan jika tidak mereka akan binasa. Dengan demikian, tidak ada seorang pun yang bisa selamat dengan usahanya sendiri. Hanya dengan belas kasihan Tuhan, manusia bisa menerima pengampunan melalui darah Kristus. Karena itu, mereka yang beriman tidak akan mati, melainkan sudah memperoleh jaminan hidup yang kekal.

Hari ini, adakah perasaan gundah dalam hati anda karena adanya ancaman penyakit jasmani tertentu? Apakah anda kuatir akan kekuatan tubuh anda dan keadaan orang-orang yang anda cintai? Sebagai orang beriman kita harus yakin bahwa Tuhan sanggup memelihara kesehatan tubuh semua umatNya. Lebih dari itu Ia menjamin keselamatan jiwa mereka yang beriman dengan mengampuni semua dosa yang mereka perbuat karena pengurbanan Kristus. Biarlah kita selalu yakin akan kebesaran kasih dan kuasaNya dalam iman yang teguh!

Tolonglah aku yang tidak percaya ini!

Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Markus 9: 23 – 24

Mengapa orang mengalami rasa putus asa? Rasa hilang harapan mungkin terjadi jika orang sudah berkali-kali berusaha tetapi tetap saja gagal untuk mencapai apa yang diharapkan. Rasa putus asa mungkin juga terjadi ketika orang tidak sanggup menghadapi kesulitan yang besar, dan tidak ada orang lain yang dapat menolongnya. Rasa putus asa dengan demikian biasanya berakhir dengan ketidakberdayaan yang membuat orang seakan lumpuh.

Sebenarnya orang yang putus asa belum tentu kehilangan semua harapan. Dalam hatinya mungkin masih ada sepercik harapan untuk melihat adanya keajaiban sebelum habis waktu. Mereka yang sudah divonis hukuman mati misalnya, masih berharap adanya hal-hal yang bisa mengurangi atau membatalkan hukumannya sebelum saatnya tiba. Memang adanya sedikit harapan selagi dilanda rasa putus asa bisa membuat orang tetap hidup sekalipun sengsara.

Pada waktu itu ada seorang bapa yang menemui Yesus dan berkata:

“Guru, anakku ini kubawa kepadaMu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-muridMu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Markus 9: 17 – 18

Mungkin saja sang bapa sudah merasa putus asa, karena penderitaan anaknya sudah berlangsung lama dan tidak ada seorangpun yang bisa menolong.

Perjumpaan sang bapa dengan Yesus memberi secercah harapan. Sekalipun ia tidak yakin bahwa anaknya bisa ditolong, ia memohon kepada Yesus: “Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Sangat menarik adanya kenyataan bahwa kebanyakan orang mempunyai reaksi berdasarkan apa yang dialaminya. Karena bapa itu sudah mengalami banyak kekecewaan, ia tidak yakin apakah Yesus dapat menyembuhkan anaknya.Walaupun demikian, ia mau meminta pertolongan dan belas kasihan Yesus karena murid-murid Yesus sudah berusaha menolong. Ini kesempatan terakhir yang dipunyainya!

Yesus tentu bisa menyembuhkan anak itu. Tetapi sebelum melakukan hal itu Ia menegur sang bapa: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Dengan demikian, Yesus menegur bapa yang kurang yakin bahwa Tuhan dapat menolongnya. Ia juga menegur kita yang sering kurang percaya bahwa Tuhan mahakuasa dan mahakasih. Tuhan sudah tentu dapat menolong orang yang beriman kepadaNya. Ia menolong kita dengan cara dan pada waktu yang sesuai dengan rencanaNya. Jangan putus asa!

Mengapa aku harus takut?

“Waktu aku takut, aku ini percaya kepadaMu” Mazmur 56: 3

Hari ini banyak orang memperbincangkan masalah pandemi yang baru diumumkan oleh Badan Kesehatan Sedunia (WHO). Status wabah virus corona COVID-19 menjadi pandemi setelah menyebabkan lebih dari 118.000 kasus terinfeksi di lebih dari 110 negara dan lokasi di seluruh dunia dengan risiko penyebaran global yang berkelanjutan. Dengan status pandemi, semua negara di dunia diharapkan bisa melakukan hal-hal yang perlu untuk membatasi penyebaran virus ini. Beberapa negara sudah dinyatakan tertutup untuk turis, dan negara lain juga melarang kunjungan turis dari negara-negara itu. Di Australia, suasana memang sudah terasa tidak nyaman sejak minggu lalu, tetapi dengan adanya pernyataan WHO ini makin banyak orang yang merasa takut untuk mendatangi tempat-tempat yang banyak dikunjungi orang.

Saat ini beberapa sekolah dan kantor sudah ditutup karena adanya orang yang terkena virus ini. Tentunya jumlah sekolah dan kantor yang ditutup akan bertambah banyak jika penyebaran virus ini tidak bisa dikontrol. Di berbagai negara, bukan saja rakyat jelata yang terkena serangan virus ini, tetapi juga pemimpin negara dan tokoh masyarakat. Seorang bintang film ternama dan pemenang dua Oscar, Tom Hank, termasuk salah satu yang terkena virus ini ketika sedang membuat film di Gold Coast. Ia dan istrinya sekarang harus menjalani pengobatan di Rumah Sakit Gold Coast.

Rasa takut adalah wajar bagi setiap orang yang mengalami ancaman. Rasa takut bisa terjadi karena adanya kemungkinan untuk kalah atau hancur ketika manusia menghadapi suatu tantangan atau musuh. Rasa takut bisa juga muncul karena manusia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya di masa mendatang.

Rasa takut bisa muncul dalam diri orang yang bukan Kristen maupun orang Kristen. Walaupun demikian, jika rasa takut sulit diatasi oleh orang yang tidak mengenal Kristus, orang Kristen seharusnya lebih mudah untuk mengatasinya. Mengapa demikian? Jika rasa takut muncul karena kekuatiran untuk kalah atau hancur, orang Kristen percaya bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan yang mahakuasa, yang mampu mengatasi segala goncangan yang ada di alam semesta. Jika rasa takut timbul karena orang tidak tahu apa yang akan terjadi, orang Kristen tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi pada akhirnya akan membawa kebaikan bagi dirinya.

Ayat dalam Mazmur 56 ditulis Daud ketika ia berada dalam kesusahan karena orang Filistin menangkap dia di Gat. Setiap hari Daud mungkin mengalami penyiksaan dan penghinaan oleh musuh-musuhnya (ayat 2). Sebagai manusia, Daud takut. Walaupun demikian, dalam takutnya Daud meletakkan kepercayaannya pada Tuhan. Oleh sebab itu ia merasa dikuatkan dan dalam ayat 4 dapat berkata “Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”

Hari ini, adakah ketakutan atau kekuatiran yang muncul dalam hati dan pikiran anda? Apakah keadaan di sekeliling anda membuat anda tertekan dan ingin melarikan diri, tetapi anda tidak tahu kemana anda harus pergi? Ataukah himpitan kebutuhan hidup membuat anda merasa ragu bagaimana anda bisa melangkah di hari depan? Firman Tuhan mengajak kita untuk meletakkan kepercayaan kita pada Tuhan saja; Dialah yang mahakuasa, mahatahu dan mahakasih. Dialah yang akan memelihara kita.

“Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 6 – 7

Belas kasihan Tuhan tetap ada bagi kita

“Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” Markus 6: 34

Apa beda antara belas kasihan dan cinta kasih? Belas kasihan dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai compassion adalah emosi manusia yang muncul atas penderitaan orang lain. Lebih kuat daripada empati, perasaan ini biasanya menimbulkan usaha untuk mengurangi penderitaan orang lain. Pada pihak yang lain, cinta kasih yang diterjemahkan sebagai love adalah perasaan sayang yang disertai dengan kemauan untuk berkurban untuk orang yang dicintai. Jika dalam belas kasihan belum tentu ada cinta kasih, dalam cinta kasih pasti ada rasa belas kasihan yang muncul pada saat orang yang dicintai sedang mengalami masalah.

Jika semua orang pada umumnya ingin dicintai oleh orang lain, tidak semua orang mau dikasihani. Dalam hal ini ada orang yang merasa terhina jika dikasihani orang lain, karena merasa bahwa orang lain menganggapnya tidak mampu atau tidak berdaya. Tetapi, adalah wajar jika orang mau menerima belas kasihan dari orang yang dicintainya karena itu menunjukkan adanya cinta kasih dari orang itu. Memang orang yang saling mencintai tentunya selalu ingin untuk mengurangi beban orang yang dikasihi.

Banyak orang yang tidak mau mengenal Tuhan karena bagi mereka Tuhan adalah oknum yang selalu menuntut hidup yang baik dari umatNya. Lebih dari itu, Tuhan dalam kesucianNya selalu memandang semua manusia tidak cukup baik untukNya. Jika Tuhan mengirim Yesus untuk menebus manusia, orang yang merasa hidupnya cukup baik mungkin tidak merasa perlu untuk menerima belas kasihanNya. Dengan demikian, banyak orang yang tidak bisa merasakan kasih Tuhan karena keangkuhannya.

Ayat pembukaan di atas menceritakan bahwa ketika Yesus melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Yesus melihat mereka yang kacau dan hampa hidupnya, dan yang mengalami berbagai masalah dan penderitaan. Karena kasihNya, Ia mau mengajarkan banyak hal kepada mereka. Lebih dari itu, Ia juga memberi mereka makan (Markus 6: 41).

Saat ini mungkin hidup anda terasa berat karena adanya berbagai masalah. Anda percaya bahwa Tuhan mengasihi umatNya, tetapi Ia agaknya tidak menaruh belas kasihan atas penderitaan anda. Mungkin sudah lama anda memohon pertolonganNya, dan sekarang hanya kehampaan yang terasa. Mungkin anda tidak lagi tertarik untuk meminta belas kasihanNya. Mungkinkah itu rasa angkuh yang timbul dari hati yang kecewa?

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa seperti Yesus, Tuhan kita adalah Tuhan yang pengasih dan penuh belas kasihan. Tetaplah berharap kepadaNya dengan rendah hati karena Ialah yang bisa dan mau menolong kita yang dalam kesulitan dan penderitaan.

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” 2 Korintus 1: 3 – 4

Jangan takut karena Tuhan dekat

Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Mazmur 46: 1 – 3

Bacaan: Mazmur 119

Manusia manakah yang tidak pernah takut? Setiap manusia yang normal dan sehat pikirannya tentu pernah merasa takut. Rasa takut adalah mekanisme kehidupan yang membuat orang bisa mengatasi adanya bahaya, dan itu yang sering mendorong orang untuk berusaha membela diri, menyembunyikan diri atau lari dari bahaya. Walaupun demikian, keadaan seringkali membuat orang kehilangan harapan, karena mereka bisa melihat bahwa baik dengan melawan, bersembunyi atau pun melarikan diri, mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari ancaman yang ada.

Sejarah menuliskan berbagai pengalaman manusia dalam menghadapi bahaya besar. Adanya kebakaran hutan (bushfire) di Australia baru-baru ini menunjukkan adanya orang-orang yang berani dengan mati-matian mempertahankan rumahnya dari serangan api dengan memakai pipa air yang ada, tetapi ada juga yang mengambil keputusan untuk melarikan diri. Mereka yang tidak mempunyai kemampuan untuk melawan serangan api dan terlambat untuk melarikan diri, terpaksa bersembunyi di tempat yang dirasa paling aman. Tragisnya,  kebakaran yang demikian besar biasanya tidak memandang bulu dan orang yang bagaimana pun bisa menjadi korbannya.

Bagaimana jika kita dihadapkan kepada bahaya yang besar dalam hidup kita? Bagaimana perasaan kita jika kita melihat adanya banyak orang yang menjadi korban malapetaka dan kita pun mungkin mengalami hal yang serupa? Jika kita tidak mempunyai harapan apapun untuk menghindari malapetaka itu, mungkin kita memaksakan diri untuk menghadapinya muka dengan muka. Tetapi, bagaimana pula jika kita tidak yakin bahwa kita akan sanggup untuk melakukan perlawanan? Mungkin kita bisa bersembunyi. Tetapi, kalau tidak ada tempat bersembunyi yang baik, usaha kita juga akan sia-sia.

Mazmur 119 adalah bab yang terpanjang dari Alkitab karena mempunyai 176 ayat. Penulis mazmur ini kurang diketahui, tetapi diduga Ezra, Daud atau Daniel. Tetapi yang jelas adalah penulisnya mengalami penderitaan atau masalah yang sangat besar. Seluruh ayat yang ada menunjukkan pergulatan jasmani maupun rohani yang dialaminya. Walaupun demikian, dalam setiap kesempatan si penulis menyatakan kerinduan dan pujian kepada Tuhan, sumber pengharapannya. Ia juga menyatakan bahwa dalam Tuhan ia bisa menemukan tempat persembunyian dan pertahanan.

“Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu.” Mazmur 119: 114

Mazmur 119 jelas menunjukkan perbedaan antara orang yang memiliki (atau lebih tepat, dimiliki) Tuhan. Adanya Tuhan dalam hidup seseorang membuat perspektif hidupnya berubah sama sekali. Beruntunglah orang yang mengalami masalah tetapi masih mempunyai harapan. Malanglah orang yang mengalami penderitaan dan tidak mendapat penghiburan.

Tuhan itu bagi orang percaya adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu orang yang beriman tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Itu karena Tuhan adalah Sang Pencipta yang berkuasa atas langit dan bumi dan segala isinya.

Pagi ini, adakah rasa takut dan kuatir dalam diri anda? Adakah masalah yang besar yang seakan tidak akan dapat anda atasi atau hindari? Tuhan yang memiliki kita adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ia mau mendengarkan doa kita dan sanggup memberi kita keteguhan hati dalam menghadapi semuanya. KasihNya tidak pernah berubah dalam keadaan apa pun, dan kepadaNya saja kita boleh berharap akan datangnya pertolongan, perlindungan dan penghiburan.

Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan

” ….dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Matius 6: 14

Doa di atas adalah bagian dari doa Bapa kami yang diajarkan oleh Yesus sebagai contoh doa yang baik. Permohonan agar Allah Bapa tidak membawa umatNya ke dalam pencobaan, biasanya dimaksudkan agar mereka dibebaskan dari pencobaan. Pencobaan yang bagaimana? Bukankah Allah tidak pernah mencobai siapa pun (Yakobus 1: 13)?

Istilah “pencobaan” mungkin bisa diartikan sebagai (1) godaan, (2) ujian dan (3) penderitaan. Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa karena digoda oleh iblis, tetapi itu bukanlah ujian atau godaan yang datang dari Allah. Jika kemudian mereka diusir dari taman Firdaus, itu adalah hukuman dan bukan ujian dari Allah. Hukuman dari Allah yang membawa penderitaan itu bukanlah pencobaan. Pada pihak yang lain, pencobaan bisa dihubungkan dengan penderitaan yang terjadi pada umat Tuhan yang bukan karena kesalahan mereka, dan itu bisa membuat mereka lebih tahan uji dan lebih beriman (Yakobus 1: 12).

Penderitaan yang dialami oleh umat Kristen yang bukan disebabkan oleh kesalahannya tidak perlu menyebabkan rasa malu, sebaliknya hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus (1 Petrus 4: 16). Walaupun demikian, tidak ada salahnya jika kita memohon agar Tuhan membebaskan kita dari penderitaan itu, jika itu berkenan kepadaNya. Itu pun diminta oleh Yesus ketika Ia berdoa di taman Getsemane.

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Matius 26: 39

Doa Yesus ini menunjukkan penyerahan kepada Allah, yang dipercayaiNya sebagai Bapa yang mahabijaksana dan mahakasih. Yesus tidak membiarkan diriNya menjadi penghalang atas rancangan keselamatan Allah. Yesus tidak membiarkan iblis untuk melakukan apa yang jahat, yaitu melawan kehendak Allah. Yesus tahu bahwa Bapa mempunyai rancangan yang baik, yang harus terjadi.

Pagi ini, jika kita bangun dan teringat bahwa ada banyak hal yang membawa rasa kuatir dan takut, kita harus memohon agar Tuhan tidak membiarkan kita jatuh dalam godaan iblis. Kita juga bisa memohon agar jika Tuhan berkenan, Ia mau membebaskan kita dari penderitaan kita. Tetapi, kita harus sadar bahwa Tuhan yang mahabijaksana tentu mempunyai maksud tertentu dalam setiap keadaan dan karena itu kehendakNyalah yang harus terjadi. Dengan demikian, doa yang baik dan yang sesuai dengan apa yang diajarkan Yesus adalah doa yang memohon agar Tuhan memberi kita kekuatan dan kebijaksanaan untuk bisa menghadapi semua masalah kita dengan iman dan rasa syukur kepada Tuhan, dan bukannya dengan rasa kecewa atau marah. Doa kita juga harus menunjukkan kepercayaan kita kepada Dia yang bisa melindungi kita dari kuasa jahat iblis.

Jangan tinggal dalam kegelapan hatimu

“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Yakobus 3: 16

Mungkin anda yang tinggal di Indonesia ikut merasakan adanya rasa panik dalam masyarakat karena munculnya COVID 19, virus corona baru yang sudah memakan banyak korban. Di Indonesia, mereka yang ingin memperkuat ketahanan tubuh berbondong-bondong membeli “obat kuat” tradisionil seperti jamu dan rempah-rempah tertentu. Sebagai akibatnya, harga produk kesehatan itu naik secara drastis.

Di Australia, panik belanja juga terjadi. Sebuah video di Youtube yang sudah ditonton ratusan ribu orang menayangkan perkelahian antara beberapa wanita karena berebut membeli tissue WC di sebuah supermarket dekat Sydney. Mengapa mereka memperebutkan benda yang tidak mempunyai fungsi istimewa itu, tidaklah ada yang tahu pasti. Tetapi, karena banyaknya orang yang membeli barang-barang keperluan hidup oleh sebab munculnya krisis virus corona, mungkin mereka ikut panik untuk membeli tissue yang kebetulan menipis persediaannya.

Dalam keadaan kritis, sifat manusia yang asli bisa terlihat. Mereka yang terlihat lemah-lembut bisa menjadi garang dan ganas terhadap sesamanya. Mungkin itu mirip dengan apa yang ditayangkan di berbagai cerita gladiator Romawi, dimana orang harus membunuh yang lain untuk bisa tetap hidup. Memang karena kebutuhan yang mendesak, orang mencoba untuk survive dengan segala cara, dan itu membuat mereka menjadi makhluk yang mementingkan diri sendiri.

Ayat di atas menulis apa yang terjadi jika orang hanya memikirkan kebutuhannya. Dalam keadaan itu, rasa iri hati dan mementingkan diri sendiri bisa menyebabkan kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Apa yang terjadi pada Habel juga bisa dihubungkan dengan rasa iri hati dan mementingkan diri sendiri yang timbul dalam hati kakaknya, Kain (Kejadian 4: 3 – 8).

Rasa iri hati dan kecenderungan untuk mementingkan diri selalu muncul dalam diri setiap orang, termasuk diri kita selama masih hidup di dunia. Ini bisa muncul ketika kita berada di kantor, di sekolah, di rumah atau pun di gereja. Tetapi, selama kita masih mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, RohNya selalu mau menolong dan membimbing kita ke jalan yang benar. Pada waktu hal-hal yang kurang baik mulai muncul dalam pikiran kita, Tuhan bisa menegur kita seperti Ia menegur Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” (Kejadian 4: 6 – 7). Apa yang kita lakukan kemudian adalah pilihan kita sendiri.

Carilah kebenaran, bukan kenikmatan

“Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” 2 Timotius 4: 3 – 4

Di Australia, berbagai jenis gereja bisa di temui, tidak hanya yang berbeda aliran teologi tetapi juga yang berbeda penampilan. Berbeda dengan Eropa, kebanyakan gedung gereja yang masih dipakai untuk kebaktian di Australia bukanlah gedung besar dan kuno. Gedung gereja kuno sudah banyak yang berubah fungsinya karena sudah tidak mempunyai jemaat yang cukup besar. Pada pihak yang lain, gedung gereja modern banyak di jumpai di kota-kota, termasuk di Toowoomba tempat saya bekerja.

Gedung gereja di Australia biasanya cukup sederhana penampilannya, kebanyakan seperti aula atau tempat pertemuan. Tetapi, ada juga gereja-gereja besar yang bisa memuat ribuan orang, yang biasanya cukup mewah, modern dan canggih perlengkapannya. Jemaat mungkin merasa nikmat mengikuti acara yang ada dan senang mendengarkan khotbah yang menginspirasi.

Di dunia ini memang ada orang-orang yang pergi ke gereja karena penampilan gedung dan kehebatan acaranya. Dalam hal ini, ada juga orang yang bisa merasakan adanya kemiripan antara kebaktian untuk Tuhan dengan sebuah konser musik atau pertemuan yang diadakan untuk mendengarkan pesan seorang motivator ternama.

Jika kita berpikir bahwa adanya “show” atau “pertunjukan” di gereja adalah suatu fenomena baru di zaman modern, mungkin kita salah tanggap. Sejak dulu ada umat Kristen yang lebih senang menerima apa yang terasa enak. Ayat di atas memperingatkan umat Kristen pada zaman Paulus untuk awas dan tidak terjebak dalam apa yang terlihat nikmat, merdu dan indah saja.

Rasul Paulus mengingatkan Timotius dan para umat Tuhan lainnya akan bahaya munculnya orang-orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat. Mereka itu akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendak mereka, untuk memuaskan keinginan telinga mereka sendiri. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi apa yang terdengar merdu dan memberikan motivasi baru dalam hidup. Firman Tuhan dengan demikian sudah diganti dengan pesan-pesan orator dan motivator yang mengutamakan kepentingan manusia.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan bahwa kita ke gereja adalah untuk berbakti kepada Tuhan dan untuk mendengarkan kebenaran firmanNya. Selain itu, kita ingin bersekutu dengan saudara-saudara seiman. Kita tidak ke gereja untuk menikmati sebuah pertunjukan atau untuk mendengarkan pesan seorang motivator yang hanya memberi pesan-pesan positif. Firman Tuhan terkadang seperti pedang bermata dua yang bisa mendidik kita untuk hidup sesuai dengan kehendakNya (Ibrani 4: 12). Memang kebenaran firman sering terasa tidak nyaman, tetapi itulah yang bisa membimbing hidup kita agar tetap berjalan di jalan yang benar.