
Telah satu tahun blog ini diterbitkan, dan sejak bulan Mei 2017 orang Indonesia yang tinggal di 20an negara membaca renungan- renunngan yang ada hampir 25 ribu kali. Itu semua adalah berkat karunia Tuhan. Segala kemuliaan bagi Dia! Soli Deo Gloria!

Telah satu tahun blog ini diterbitkan, dan sejak bulan Mei 2017 orang Indonesia yang tinggal di 20an negara membaca renungan- renunngan yang ada hampir 25 ribu kali. Itu semua adalah berkat karunia Tuhan. Segala kemuliaan bagi Dia! Soli Deo Gloria!
Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lukas 9: 62

Sebagai orang Kristen kita mengaku bahwa kita adalah orang beriman dan pengikut Yesus. Agaknya, setiap orang yang mengaku percaya kepada Kristus, juga mengakui bahwa mereka juga pengikutNya. Apakah iman (faith) kepada Kristus adalah sama dengan menjadi pengikut (disciple) Yesus?
Dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai untuk menjadi pengikut Yesus adalah mathetes, yang bukan saja berarti “murid”, tetapi adalah orang yang taat kepada perintah Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Jika orang Farisi mengaku bahwa mereka adalah murid-murid Musa (Yohanes 9: 28), murid-murid Yesus dinamakan pengikut Yesus sebelum ada sebutan “orang Kristen”. Mereka menjadi pengikut Yesus ketika mereka mengambil keputusan untuk mengikutiNya (Matius 9:9). Menjadi pengikut Kristus adalah hidup dan bekerja untuk kemuliaan Tuhan.
Menjadi pengikut Kristus adalah keputusan kita. Jika kita pernah menyanyikan lagu terkenal “Mengikut Yesus keputusanku”, agaknya tidak sulit untuk sekedar mengakui bahwa kita adalah orang beriman yang menjadi pengikut Yesus. Tetapi, dalam kenyataannya, tidaklah semudah itu untuk menjalaninya.
Mengapa tidak mudah untuk menjadi pengikut Yesus? Apa syarat-syarat untuk menjadi pengikutNya? Memang sebagai pengikut Yesus kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, tetapi untuk melaksanakan kedua hukum yang paling utama itu kita setidaknya memerlukan dua hal yang penting: kesiapan dan kesetiaan. Ada orang yang tidak pernah memiliki keduanya, sehingga ia tidak pernah bisa untuk menjadi pengikut Yesus, tetapi ada yang hanya memiliki salah satu saja, sehingga ia mungkin hanya tahan untuk menjadi pengikut Kristus dalam kurun waktu yang singkat saja.
Dalam kitab Lukas 9: 57-61 tertulis adanya seseorang yang berkata bahwa ia mau mengikut Yesus kemana saja, tetapi Yesus menolaknya karena ia belum siap untuk menghadapi perjuangan berat sebagai pengikut Yesus. Dalam ayat 58, Yesus berkata kepadanya “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Menjadi pengikut Yesus bukannya berarti hidup dalam kenyamanan dan berfokus pada kesuksesan pribadi, tetapi hidup dalam ketabahan dan berfokus pada kemuliaan Tuhan.
Ada orang-orang lain yang diajak Yesus untuk menjadi pengikutnya karena mereka tampak sudah siap berjuang, tetapi mereka menjawab bahwa masih ada hal-hal yang lebih penting yang harus mereka lakukan (Lukas 9: 59, 61). Kepada orang-orang itu Yesus berkata bahwa setiap orang yang siap untuk membajak , yaitu mengikut Dia, tetapi masih mempunyai prioritas-prioritas lain, tidaklah layak untuk mengikut Dia karena dedikasi yang salah (ayat 62).
Pagi ini, pertanyaan untuk kita yang mengaku beriman kepada Yesus adalah: Apakah kita sudah siap dan memang mau untuk menjadi pengikut Yesus? Siapkah kita untuk menjalani perjuangan hidup dengan ketaatan kepada perintahNya dan bekerja untuk kemuliaanNya? Menjadi orang beriman tidak bisa dipisahkan dari menjadi pengikut Kristus (Yakobus 2: 24) karena untuk menjadi orang Kristen tidaklah cukup dengan berdiam diri dan mengabaikan panggilanNya untuk menjadi seperti Dia, dan bekerja untuk memuliakan namaNya dengan setia, hari demi hari baik dalam suka maupun duka.
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2: 20
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18
Kemarin pagi, dalam kebaktian gereja, lagu “As long as you are glorified” dinyanyikan. Dalam bahasa Indonesia, judul lagu ini bisa diterjemahkan sebagai “Asal Engkau (Tuhan) dipermuliakan”. Sebagian syairnya berbunyi;
Shall I take from Your hand Your blessings, yet not welcome any pain?
Bolehkah aku mengambil dari tanganMu berkat-berkat, tetapi menolak hak-hal yang menyakitkan?
Shall I thank You for days of sunshine, yet grumble in days of rain?
Bolehkah aku bersyukur kepadaMu untuk hari-hari yang cerah, tetapi bersungut-sungut untuk hari-hari hujan?
Memang dalam hidup ini selalu ada saja hal-hal yang kurang menyenangkan, yang muncul pada saat yang kurang tepat, yang membuat kita berpikir “hidup akan lebih enak seandainya itu tidak ada”. Tetapi lagu diatas menyatakan bahwa kita harus menerima semuanya dan tetap bisa memuliakan Tuhan. Sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan.
Mengapa Tuhan menciptakan hal-hal yang indah dan juga membiarkan munculnya hal-hal yang kurang bisa dinikmati? Banyak orang yang menghubungkan ini dengan kejatuhan manusia kedalam dosa. Dosa seolah membuat segala sesuatu yang tidak baik muncul di dunia, baik itu berupa keadaan, benda mati maupun mahluk hidup. Benarkah begitu?
Memang menurut Alkitab, sebagian hal-hal yang terlihat kurang baik terjadi karena manusia jatuh dalam dosa dan kemudian diusir dari taman Eden. Tetapi segala sesuatu yang diciptakan Tuhan, baik benda mati maupun mahluk hidup, selalu mempunyai fungsi dan keindahan yang tersendiri. Demikian juga, sekalipun rasa sakit dan penderitaan adalah salah satu akibat kejatuhan dalam dosa, hal-hal semacam itu bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam hidup dan lebih percaya akan pemeliharaan Tuhan.
“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2-3
Sebagai manusia, menikmati apa yang sesuai dengan kebutuhan dan selera kita adalah sesuatu yang kita dambakan. Hidup ini serasa nikmat jika kita bisa mengatur segalanya dan mendapat hasil yang baik sesuai dengan harapan kita. Tetapi, kenyataan hidup menunjukkan bahwa apa yang sudah kita rencanakan dan harapkan belum tentu terjadi. Dan itu seharusnya membuat kita sadar bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi dan bukan kehendak kita.
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Yesaya 55: 8
Pagi ini Tuhan berfirman bahwa sekalipun hidup kita tidak berjalan sesuai dengan harapan kita, Tuhan tetap menyertai kita. Bagi setiap orang percaya, segala sesuatu terjadi dengan sepengetahuan dan ijin Tuhan. Lebih-lebih lagi, Yesus sudah turun ke dunia sebagai manusia untuk menebus dosa kita dan membawa kita keluar dari kematian yang disebabkan oleh dosa kita. Dengan demikian kita percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita jatuh lagi kedalam dosa dan keputusasaan, karena Ia mengasihi semua anak-anakNya. Didalam kasihNya selalu ada pengharapan akan berkat dan penyertaanNya. Karena itulah kita harus dapat memuji dan memuliakan Dia dalam segala keadaan.
“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” Mazmur 103: 2
Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Markus 4: 40
Dalam kitab Markus 4: 35-41 dikisahkan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Apa yang kemudian terjadi sudah sering dibahas dalam berbagai renungan dan khotbah, yaitu tentang kelemahan manusia dan kemahakuasaan Tuhan. Walaupun demikian, thema ini selalu populer karena sangat aktuil dalam kehidupan manusia.
Saat itu Yesus sedang tidur di buritan ketika angin ribut datang. Karena sangat ketakutan dan dalam ketidakberdayaan, murid-murid-Nya terpaksa membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Apa yang kemudian terjadi adalah diluar dugaan para murid. Yesus bangun dan menghardik angin itu, dan seketika itu angin pun reda dan danau menjadi teduh sekali. Para murid tidak menyangka bahwa Yesus mempunyai kuasa sebesar itu. Masalah manusia yang besar, bisa diatasi hanya dengan sebuah kata dari Tuhan.
Mengapa murid-murid merasa takut ketika perahu mereka diombang-ambingkan topan? Murud-murid Yesus adalah orang-orang yang sederhana, tetapi menyadari kekuatan alam. Apalagi beberapa diantara mereka adalah nelayan. Mereka tahu bahwa manusia harus menyegani kekuatan alam. Dan pada saat itu, mereka merasa bahwa apa yang mereka hadapi adalah lebih besar dari kekuatan dan kemampuan mereka.
Kisah murid-murid Yesus diatas menggambarkan keadaan hidup kita saat terombang-ambing dalam lautan masalah. Apa yang kita lakukan biasanya adalah berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi gejolak ombak kehidupan dengan tenaga sendiri. Seperti murid-murid Yesus, kita berusaha mengemudikan perahu kehidupan kita dengan kemampuan yang ada.
Dalam kesulitan hidup yang besar, setidaknya ada tiga pertanyaan yang bisa muncul dalam hati kita.
Masalah kehidupan yang kita hadapi seringkali adalah bagian kehidupan manusia di dunia. Jika kita percaya bahwa Tuhan itu ada tetapi merasa bahwa Ia tidak bertindak, Tuhan seakan jauh dari kita. Mungkin seperti Yesus yang tidur di buritan kapal dan yang sepertinya tidak dapat merasakan adanya bahaya yang dihadapi murid-muridNya.
Masalahnya, sekalipun kita sadar bahwa Tuhan ada dan tahu akan persoalan yang kita hadapi, sering tetap ada keraguan atas apa yang bisa dan tidak bisa dilakukanNya. Bukankah ada banyak kejadian yang terjadi di sekeliling kita tanpa menunjukkan adanya intervensi Tuhan? Mungkinkah Tuhan sudah menentukan apa yang dapat atau tidak dapat dilakukanNya untuk kita? Dan jika Ia tidak dapat atau tidak mau menolong kita, kita pun harus siap menerima itu sebagai nasib kita?
Membaca kisah murid-murid Yesus dalam perahu yang menghadapi topan, kita harus sadar bahwa Tuhan ada beserta kita. Ia bisa dan mau bertindak pada saat yang tepat, sesuai dengan rencanaNya. Dan jika Ia tidak terlihat segera bertindak, itu karena masalah apapun yang kita hadapi, tidaklah sebanding dengan kebesaran kuasa dan kasihNya. Dalam hidup ini, seringkali kita membuat kekeliruan dengan tidak menyadari bahwa hidup kita yang mengalami topan, adalah seperti perahu dimana Tuhan ada bersama kita. Kita seharusnya percaya bahwa selama Dia ada beserta kita, hidup kita akan tetap aman. God is in control.
“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39
“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21
Sudah berpuluh tahun masyarakat Australia mengetahui adanya kasus kawin paksa diantara beberapa komunitas etnik tertentu. Dalam perkawinan semacam itu, biasanya gadis-gadis remaja (kadangkala anak lelaki) dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak dikenal mereka. Biasanya perkawinan semacam ini disebabkan oleh orang tua gadis yang bersangkutan, yang memaksa anaknya untuk menikah dengan orang yang jauh lebih tua dengan alasan keuangan, kehormatan, agama dan semacamnya. Banyak pernikahan semacam itu berakhir dengan masalah, karena tidak adanya cinta diantara suami dan istri. Selang berapa tahun, mereka bisa kenal satu dengan yang lain, tetapi tetap tidak bisa saling mencintai sebagaimana seharusnya. Perkawinan paksa bertentangan dengan hak asazi manusia dan prinsip kemerdekaan individu. Karena itu, pada tahun 2013, kawin paksa di Australia dimasukkan kedalam golongan kejahatan kriminal.
Seperti hal kawin paksa, memaksa seseorang untuk mengikuti kepercayaan tertentu adalah bertentangan dengan hukum. Setiap orang bebas untuk memilih kepercayaannya sendiri. Dalam hal ini, kita tahu bahwa Tuhan kita sendiri tidak pernah memaksa atau membuat manusia untuk percaya kepadaNya. Tuhan mengharapkan kesadaran manusia, dan keputusan untuk percaya kepada Tuhan adalah di tangan manusia. Tuhan memberikan berbagai kesempatan, masukan, bimbingan dan peringatan kepada manusia untuk percaya kepadaNya, tetapi tidak menjadikan manusia seperti robot yang hanya bisa mengiyakanNya.
Tuhan sudah cukup sering memperingatkan manusia agar mereka sadar akan kemuliaan dan kebesaranNya. Dimanapun manusia berada, mereka dapat menyadari bahwa Tuhan yang maha kuasa pasti ada, dan karena itu Ia harus dimuliakan. Apalagi, Alkitab sudah menjelaskan bahwa Tuhan sendiri sudah datang ke dunia untuk menebus dosa manusia. Karena itu orang tidak dapat berdalih bahwa ia tidak mengenal Tuhan.
“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Roma 1: 19-20
Mengenal Tuhan bukanlah selalu berarti mengasihiNya. Sebab sekalipun manusia mengenal Tuhan, mereka belum tentu selalu memuliakan Dia sebagai Tuhan atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka seringkali menjadi sia-sia dan hati mereka menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka bijaksana, tetapi mereka sebenarnya telah menjadi bodoh. Mereka yang ada di zaman ini menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan hal-hal duniawi, baik dalam kepercayaan kepada diri sendiri, kepada hal-hal mistik, kepada keserakahan ataupun kepada ilah-ilah lain (Roma 1: 21-23).
Bukan hanya mereka yang bukan Kristen yang membuat kesalahan semacam ini. Orang Kristen pun sering jatuh kedalam perangkap iblis. Akibatnya, banyak yang lebih mementingkan hidup pribadi, berusaha menikmati apa yang dapat mereka capai, dan membaktikan diri kepada hal-hal yang membawa kegembiraan sesaat. Sebaliknya, ada juga orang Kristen yang jatuh dalam depresi karena merasa bahwa Tuhan tidak peduli akan hidup mereka. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka penuh dengan keinginan untuk mencari kepuasaan duniawi saja.
Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk menjadi anak-anakNya. Tetapi karena kasihNya, Ia ingin agar setiap orang yang percaya kepadaNya bisa diselamatkan. Kepercayaan yang benar bukan hanya sekedar pengenalan, tetapi harus mencakup rasa hormat dan kasih. Apakah anda kenal kepada Tuhan dan selalu memuliakan Dia dan bersyukur kepadaNya? Ataukah anda kenal kepadaNya tetapi tidak mencintaiNya?
“Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.” Amsal 20: 3
Banyak orang pernah mengalami masalah ketika menghadapi “orang yang sulit” yaitu orang yang tidak bisa diajak berunding, atau orang yang keras kepala, sombong, kasar, tidak tahu aturan, pemarah, pengomel atau cerewet. Pusing! Apalagi jika “orang yang sulit” bertemu dengan orang-orang yang serupa, suasana pasti menjadi bertambah keruh.
Dalam keluarga pun ada suami atau istri yang “sulit diatur” oleh yang lain. Jika keduanya sering bersitegang dan tidak mau saling mengalah, suasana rumah tangga pun akhirnya menjadi kacau dan orang-orang disekitarnya pun bisa ikut menderita.
Kebanyakan orang yang “sulit diatur”, tidak merasa atau tidak mau mengakui bahwa ia adalah orang yang bertemperamen sulit, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut difficult people. Dalam hal ini, banyak juga orang mengaku Kristen, tetapi dalam hidupnya suka bertengkar dengan orang lain, sehingga pada hakikatnya gaya hidup dan sikapnya tidaklah berbeda dengan mereka yang belum mengenal Kristus.
Apakah pengenalan akan Kristus itu bisa secara nyata mengubah hubungan antara manusia sehingga mereka bisa saling menghormati, saling bersabar dan merendahkan diri dalam usaha untuk menyelesaikan masalah? Seharusnya begitu!
Karena Kristus dalam hidupNya di dunia juga sering menghadapi orang yang sulit diatur, sikap kita kepada orang-orang semacam itu seharusnya mencontoh Dia. Dalam Yesus berinteraksi dengan orang yang sulit, Ia tidak pernah menunjukkan sikap menang sendiri, kasar atau angkuh; tetapi Ia selalu menunjukkan kekuasaanNya secara terkontrol dan tidak dengan semena-mena. Kadang Ia menunjukkan kemarahanNya, tetapi Ia juga bisa berdiam diri atau memberi pertanyaan atau pengarahan berdasarkan firman Allah. Semua itu dilakukanNya karena kasihNya yang ingin menolong dan menyelamatkan manusia.
Pagi ini, kita mungkin sedang memikirkan bahwa hari ini kita harus menghadapi orang-orang sulit yang berada dalam keluarga, sekolah, kantor atau masyarakat. Cukup dengan membayangkan hal itu, kita bisa menjadi pusing karena memikirkan adanya kemungkinan untuk munculnya pertikaian atau percekcokan.
Ayat pembukaan diatas mengajak kita untuk menjadi orang terhormat dengan menjauhi perbantahan, dan tidak menjadi orang bodoh yang membiarkan amarah kita meledak tanpa alasan. Sanggupkah kita? Itu tergantung pada kita: apakah kita bisa selalu ingat dan bersyukur kepada Tuhan yang mengasihi kita. Dulu kita adalah orang-orang yang sulit untuk diselamatkan, tetapi karena kesabaran Tuhan kita menerima pengampunan dalam Yesus Kristus.
“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Kolose 3: 12-13
“TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka.” Mazmur 94: 11
Teringat saya akan seseorang yang dari mudanya ingin mencapai prestasi yang tinggi. Dilahirkan dari sebuah keluarga yang serba sederhana, ia adalah seorang yang senang merencanakan segala sesuatu dengan sangat berhati-hati. Karena hidupnya yang serba teratur, pemuda ini berhasil mencapai prestasi yang sangat baik dalam sekolahnya dan juga selama di universitas. Ia seringkali mendapatkan angka ulangan dan ujian yang terbaik diantara murid yang ada. Sampai pada suatu saat, pada ujian akhir universitas, ia gagal untuk lulus hanya karena satu mata pelajaran. Mereka yang tidak berprestasi sebaik dia justru lulus. Hati pemuda ini hancur, semua kebanggaannya lenyap, dan kepercayaan kepada diri sendiri pun pudar.
Mengapa kesulitan terjadi disaat yang tidak disangka? Hal ini sulit dijawab. Ada orang yang percaya adanya “Murphy’s Law” alias hukum Murphy, yang biasanya diartikan “Apa yang bisa gagal akan gagal pada suatu saat”. Manusia tidak bisa menghindari kesulitan, persoalan dan kegagalan, karena semua itu akan terjadi, jika ada kemungkinan untuk terjadi.
Apa yang bisa gagal akan gagal pada suatu saat. Bukankah apa yang ada dalam hidup manusia selalu mempunyai kemungkinan untuk gagal? Bukankah manusia tidak mempunyai kontrol yang penuh atas segala sesuatu? Bukankah apa yang megah, apa yang kuat, sehat, kaya ataupun bijak selalu mempunyai kelemahan yang bisa membawa kegagalan dan kehancuran? Karena tidak adanya kesempurnaan dan keabadian dalam hidup ini, agaknya apa yang dikerjakan manusia hanyalah sekedar usaha untuk memperkecil kemungkinan atau menunda terjadinya kegagalan.
Pagi ini jika kita bangun, mungkin kita siap melakukan apa yang sudah kita rencanakan, atau sibuk merencanakan apa yang akan kita lakukan. Tetapi pernahkah kita memikirkan bahwa sebagai manusia, kita hanya bisa merencanakan dan melakukan, tetapi Tuhanlah yang menentukan hasilnya? Ayat diatas bahkan berkata bahwa TUHAN mengetahui rancangan-rancangan kita; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka. Karena apapun yang kita rencanakan, jika itu tidak sesuai dengan kehendakNya, tidaklah akan terjadi.
Adakah cara untuk menghindari kegagalan dalam hidup? Itu adalah pertanyaan semua orang di dunia. Dunia ini bukanlah surga, tetapi justru sebuah tempat yang sudah dikontaminasi dosa. Karena dosa manusia, bumi dan isinya sudah dikutuki; dan hanya dengan bersusah payah kita akan mencari rezeki dari tanah seumur hidup kita (Kejadian 3: 17). Hidup manusia menjadi sangat berat dan kegagalan demi kegagalan bisa terjadi. Tetapi itupun dengan seijin Tuhan yang maha kuasa.
Walaupun kegagalan bisa terjadi, sebagai orang percaya kita mempunyai satu harapan bahwa jika kita meminta Tuhan yang maha kasih untuk menyertai hidup kita, kita akan bisa melihat kemana dan bagaimana kita harus mengarahkan tujuan hidup kita. Kegagalan belum tentu menjadi kesia-siaan tetapi bisa menjadi kesempatan untuk mencari kehendak Tuhan. Hanya dalam iman kita mempunyai harapan untuk masa depan sekalipun mengalami kegagalan, dan harapan kita dalam iman itu tidaklah akan menjadi sia-sia.
“Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.” Amsal 10: 28
“Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia.” Titus 3: 8
Mengapa sebagai orang Kristen kita harus dengan aktif berbuat baik? Ini sering dipertanyakan orang, baik oleh orang Kristen maupun non-Kristen. Jika orang Kristen diselamatkan karena iman, apakah ada motivasi bagi mereka untuk melakukan hal baik dan berguna bagi sesama?
Orang Kristen melakukan hal yang baik karena Kristus sudah lebih dulu berkurban untuk mereka. Mereka tentu tidak berusaha untuk berbuat baik guna dapat diselamatkan, karena tidak ada seorangpun yang bisa memenuhi standar kesucian Allah. Tetapi, karena kasih Tuhan yang begitu besar telah membawa keselamatan, umat Kristen seharusnya mempunyai keinginan yang kuat untuk hidup baik dan berbuat kebaikan agar orang lain juga melihat kasih Tuhan dan kemudian mau menerima karunia keselamatan. Pekerjaan yang baik dan hidup baik orang Kristen di dunia ini adalah identik dengan mengajak dunia untuk memuliakan Tuhan.
Untuk bisa hidup sebagai orang Kristen yang setia di dunia ini tidaklah mudah. Godaan dan bahaya selalu ada di dunia yang sudah dipenuhi dosa ini; sehingga sering mereka yang ingin untuk hidup baik, bisa gagal untuk menjalaninya. Banyak orang Kristen hidup dalam dua dunia, diluar kehidupan gereja mereka tidak berbeda dengan orang lain. Ada juga orang Kristen yang terlihat baik dalam masyarakat, tetapi tidaklah demikian dalam keluarga sendiri. Banyak orang Kristen yang berbuat baik untuk sesama tetapi tidak mempersembahkan kemuliaan yang diterima kepada Tuhan. Selain itu, ada juga orang Kristen yang kurang bisa melakukan pekerjaan yang baik karena adanya kesibukan dan kesukaran hidup. Hal-hal semacam ini sudah tentu tidaklah berguna bagi sesama untuk bisa mengenal Tuhan yang maha kasih.
Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang berusaha untuk hidup baik dengan cara mengisolir hidup mereka dari dunia. Bagi mereka, hidup suci adalah hidup di kalangan orang seiman, saling menolong dan menguatkan dalam lingkungan kekeluargaan dan persaudaraan. Tetapi, sudah tentu itu bukan maksud Tuhan ketika Ia memerintahkan kita untuk pergi keseluruh dunia untuk mengabarkan Injil. Hidup sebagai orang percaya tidak berarti bahwa kebahagiaan dan keselamatan yang ada hanya untuk dinikmati dalam lingkungan sendiri.
Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Markus 16:15
Pagi ini, Tuhan berfirman bahwa orang Kristen harus menjadi terang dunia, terang yang menghilangkan kegelapan dunia. Karena itu, melakukan pekerjaan yang baik untuk sesama berarti memuliakan nama Tuhan, menunjukkan rasa syukur kita kepada Tuhan dan memberitakan kabar baik kemana saja, dimana saja dan kapan saja. Maukah kita berusaha untuk melakukan hal itu?
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16
“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7: 11

Lagu berjudul “Unanswered prayers” (Doa yang tidak terjawab) adalah lagu country yang dinyanyikan oleh Garth Brooks pada tahun 1990 dan menduduki tangga pertama di Amerika pada tahun 1991. Lagu itu bukanlah lagu rohani, tetapi mengungkapkan pengalaman pribadi penyanyinya. Dalam syairnya ada tertulis bahwa terkadang ia bersyukur atas doa yang tidak dijawab Tuhan yang di surga, karena doa yang tidak terjawab bukanlah menunjukkan ketidakpedulian Tuhan.
Sometimes I thank God for unanswered prayers
Remember when you’re talkin’ to the man upstairs
That just because he doesn’t answer doesn’t mean he don’t care
Some of God’s greatest gifts are unanswered prayers
Lagu ini menjadi sangat populer waktu itu karena banyak orang yang merasakan hal yang serupa. Setelah berdoa cukup lama, tidak ada tanda-tanda bahwa Tuhan mau menjawab doa mereka. Walaupun sebagian orang menjadi kecewa dan bahkan putus asa dan meninggalkan iman mereka, ada orang-orang yang bersyukur karena Tuhan tidak menjawab doa mereka. Apa yang mereka minta kelihatannya tidak dikabulkan Tuhan, dan itu justru membawa kebaikan untuk mereka.
Benarkah Tuhan terkadang tidak menjawab permohonan anak-anakNya? Banyak orang Kristen yang mengajarkan bahwa Tuhan selalu menjawab doa mereka yang percaya. Doa yang tidak terjawab menunjukkan kelemahan iman, begitu kata mereka. Dan mereka memakai ayat Matius 7: 11 itu sebagai pedoman, bahwa Tuhan pasti menjawab doa-doa kita dan memberikan apa yang kita minta. Tetapi ajaran semacam itu tidaklah benar.
Doa terkadang tidak terjawab karena apa yang kita minta tidak sesuai dengan kehendakNya. Doa mungkin tidak terjawab karena hidup kita tidak sesuai dengan firmanNya. Doa mungkin tidak dijawab Tuhan agar kita bisa belajar bersabar dan bertekun dalam penderitaan kita serta bergantung kepadaNya. Dan mungkin juga Tuhan tidak menjawab doa kita agar dalam keadaan apapun, kita sadar bahwa Ia adalah Tuhan yang maha kuasa, maha adil dan maha bijaksana. Kehendak Tuhanlah yang terjadi, bukan kehendak kita.
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3-5
Pagi ini, jika kita bangun dan merasa Tuhan itu jauh dan tidak mendengarkan doa-doa kita, kita tidak boleh merasa kecewa atau putus asa. Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita walaupun Ia belum tentu mengabulkan permohonan kita. Tuhan hanya memberikan apa yang terbaik kepada umatNya pada saat yang tepat.
Kita harus percaya bahwa Tuhan mengasihi kita dan dengan kebijaksanaanNya Ia belum tentu menjawab doa kita seperti apa yang kita harapkan. Kunci kebahagiaan bukanlah memperoleh apa yang kita minta, tetapi rasa cukup dengan apa yang sudah diberikanNya.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1
Sebagai mahluk sosial, manusia umumnya tahu bagaimana membuat orang lain senang. Salah satu diantara hal-hal yang bisa dilakukan untuk menggembirakan orang lain ialah memberi sebuah hadiah, entah itu berkenaan dengan ulang tahun, tahun baru atau perayaan lainnya. Dalam hal ini, adat saling memberi adalah umum. Seseorang tidak dapat mengharapkan untuk selalu diberi, tetapi ia harus juga siap memberi sebagai balasan dan rasa terima kasih.
Dalam soal saling memberi, adalah lazim jika seseorang yang pernah menerima sebuah pemberian yang berharga, berusaha untuk membalas pemberian itu, jika bisa dan pada waktu tepat, dengan sesuatu yang pantas. Ini tidak harus dengan pemberian yang seharga dengan apa yang diterimanya, tetapi setidaknya dengan sesuatu yang menunjukkan apresiasi atas pemberian itu.
Bagi umat Kristen, pemberian Allah yang terbesar adalah AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, yang sudah mati untuk ganti dosa mereka. Karena itu, sikap yang benar dalam hidup orang Kristen sejati adalah rasa syukur dalam setiap keadaan. Mereka tidak lagi mengejar hal-hal duniawi seperti kesuksesan, kekayaan dan keternamaan lagi. Mereka tidak lagi sibuk meminta hadiah semacam itu dari Tuhan. Bagi mereka, Tuhan adalah baik dan bahkan sangat baik kepada mereka. Hanya mereka yang tidak mempunyai apresiasi yang cukup untuk karunia keselamatan itu, selalu sibuk memohon kepada Tuhan untuk mendapat berkat-berkat lain.
Bagaimana kita dapat membalas kasih Tuhan yang terbesar dalam diri Yesus Kristus, sebenarnya harus menjadi pemikiran kita sehari-hari. Karena dengan berhutang budi, hati kita seharusnya merasa bahwa kasih Tuhan yang sedemikian besar menuntut kasih yang serupa dari diri kita. Kasih yang dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita (Markus 12: 30).
Sudah tentu manusia tidak mungkin dapat membalas segala kebaikan Tuhan dengan sesuatu yang sama besarnya. Siapakah manusia itu, sehingga ia dapat menandingi Tuhan yang maha kasih? Tetapi, apakah itu alasan kita untuk tidak berusaha memberikan apa yang terbaik dari hidup kita kepadaNya?
Sebagai orang percaya kita tahu bahwa tidak hanya kita memperoleh anugerah keselamatan, kita juga menerima berkat-berkat yang tidak terhitung setiap hari. Jika demikian, adakah alasan bagi kita untuk hidup hanya untuk menikmati semua itu hari demi hari tanpa menyatakan rasa syukur kita kepadaNya secara nyata pada setiap saat dalam hidup kita?
Ayat diatas mengingatkan kita bahwa karena kita sudah menerima kemurahan Allah, kita harus memikirkan bagaimana kita dapat menggunakan hidup kita, sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadah yang sejati, yang harus bisa kita laksanakan hari ini dengan kesungguhan hati dan pikiran, dan dengan sepenuh kekuatan kita. Karena apapun yang kurang dari itu, menunjukkan bahwa kita kurang menghargai kasihNya.
“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” 1 Petrus 1: 3