Reuni yukk….

“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.” Wahyu 7: 9


Dimana-mana ada reuni. Disini reuni, disana reuni. Kemarin reuni, besok reuni. Memang sekarang ini lagi demam reuni di Indonesia. Dengan majunya berbagai aplikasi internet, orang makin bisa menemukan teman-teman lama yang sudah lama tidak dijumpai. Pertemuan lewat internet kemudian bisa berlanjut dengan kopdar, pertemuan di darat, mulai dengan reuni kecil, reuni besar, dan kemudian reuni akbar.

Reuni adalah kesempatan untuk bertemu, makan-makan, bertukar cerita, bernostalgia dan malah  juga untuk berbagi gosip. Bagi sebagian orang, reuni sangat menyenangkan karena adanya kesempatan untuk “show-off” atau pamer untuk pakaian, status dan bahasa; tetapi bagi yang lain, adanya reuni itu bisa merepotkan dan kurang menyenangkan. Memang pertemuan dengan orang yang disenangi, orang yang cocok dengan kita, adalah menyenangkan. Tetapi pertemuan dengan orang yang dulu kurang kita senangi, apalagi yang dulu kita benci, bisa merusak suasana sekalipun sudah lama tidak bertemu. Belum lagi kenangan pahit masa lalu, sewaktu kita berbuat hal-hal yang konyol, mungkin juga dijadikan bahan pembicaraan pada saat reuni. Karena hal-hal ini, sebagian orang mungkin menghindari acara reuni.

Ingatan akan masa lalu, terutama hal-hal yang kurang baik memang seringkali menghantui manusia. Manusia sering mengalami penderitaan dan bahkan depresi karena munculnya perasaan bersalah, rasa sedih atau perasaan kurang enak mengenai hal-hal yang terjadi pada masa yang silam. Buat orang beriman, satu-satunya hal yang bisa membesarkan hati kita ialah kenyataan bahwa Tuhan yang mahakuasa dan yang tidak bisa lupa, ternyata memilih untuk melupakan kelemahan kita:

“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” Yesaya 43: 25

Jaminan bahwa Tuhan akan melupakan dosa dan kelemahan kita adalah suatu yang membuat orang Kristen tabah dan kuat dalam menghadapi masa depan. Jaminan ini tidak boleh dilupakan dan bahkan harus diingat-ingat untuk kita bisa memasuki masa depan dengan segala tantangan yang ada. Jika iblis mengingatkan kita akan masa lalu kita agar hidup kita di masa depan bisa diisi dengan kemurungan dan kesengsaraan, jaminan Tuhan inilah yang akan bisa menepis tuduhan-tuduhan iblis itu. Jika pikiran kita mudah melupakan berkat Tuhan hari ini, kita harus tetap ingat bahwa Tuhan dulu sudah memilih kita apa adanya untuk bisa bereuni bersama saudara-saudara seiman di surga dimasa depan.

Reuni di surga akan lain dengan reuni didunia. Kitab Wahyu diatas menjelaskan bahwa ini adalah reuni super akbar yang dihadiri oleh orang percaya yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa. Mereka yang diundang ke reuni ini akan berdiri di hadapan takhta Allah Bapa dan Yesus, semuanya memakai pakaian yang sama yaitu jubah putih, dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Mereka terlihat suci dan bahagia, memuliakan dan memuji kemuliaan Tuhan. Sekalipun mereka terdiri dari berbagai suku dan bangsa, mereka dapat berkomunikasi satu dengan yang lain. Sekalipun mereka dulunya tidak saling mengenal, mereka bisa bersatu dalam kasih karunia Tuhan.

Reuni yang kita alami di dunia ini, seharusnya mengingatkan bahwa pada saatnya kita akan menghadiri reuni di surga. Selagi kita masih bisa bereuni di dunia, kesempatan masih ada untuk kita mempersiapkan diri guna bereuni di rumah Bapa. Kesempatan masih ada juga untuk mengundang teman-teman yang belum sadar bahwa pada suatu saat kita semua akan bertemu dengan Sang Pencipta melalui penebusan darah Kristus.

Reuni dengan teman sekolah mungkin sangat menarik, tetapi reuni dengan teman seiman seharusnya jauh lebih menarik, sesuatu yang dirindukan setiap orang percaya. Dalam reuni dunia, pelan-pelan kita akan menyadari bahwa kemampuan manusia ada batasnya; ingatan mungkin berkurang, kesehatan mungkin menurun. Tetapi kesadaran tentang bakal adanya reuni di surga seharusnya makin membuat kita makin ingat akan kasih Tuhan dan makin dikuatkan dalam menghadapi apa yang masih harus kita perjuangkan dalam hidup ini. Kesadaran ini jugalah yang seharusnya mengubah hidup kita selama ada di dunia karena hidup kita bukannya milik kita, tetapi Kristus yang hidup didalamnya (Galatia 2: 20). Apapun yang pernah kita alami di dunia tidaklah menentukan apa yang akan kita alami setelah itu; hanya iman kepada Kristus yang memungkinkan kita untuk bereuni didepan Tuhan!

 

 

Adakah orang yang anda kagumi?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”  Roma 3: 23-24

Jika anda ditanya, siapakah tokoh dunia yang anda kagumi, apakah jawab anda? Mungkin ada yang menjawab Mother Theresa, Bung Karno, Mahatma Gandhi atau pemimpin besar lainnya. Mungkin juga pilihan anda adalah bintang film yang cantik atau tampan, atau businessman yang sukses dan kaya. 

Saya sendiri adalah pengagum John Fitzgerald Kennedy yang pernah menjadi presiden Amerika Serikat mulai tahun 1961 sampai saat dimana dia ditembak hingga tewas pada bulan November 1963. Entah kenapa saya kagum kepada dia, mungkin karena pidatonya yang sering dibumbui slogan-slogan bermutu. Dua kali saya mengunjungi taman pahlawan Arlington di Amerika dimana makamnya berada, dua kali juga saya melihat bahwa orang yang saya kagumi tidak berbeda dengan orang lain.

Hal orang yang dikagumi, pilihan kita pasti didasarkan satu atau beberapa hal yang merupakan keunggulan orang yang kita pilih. Dengan adanya hal yang istimewa itu, kita bisa melupakan hal-hal yang kurang baik yang mungkin ada dalam orang pilihan kita.

Dalam hidup kekristenan, mungkin saja kita kagum kepada tokoh-tokoh perjanjian lama seperti Abraham, Musa, Daud dll., atau tokoh-tokoh perjanjian baru seperti Maria, Petrus, Paulus dsb. Karena itu banyak orang yang memakai nama yang sama dengan nama orang yang dikaguminya.

Walaupun orang-orang diatas mempunyai hal-hal yang baik dan patut dikagumi atau ditiru, ayat Roma 3: 23-24 diatas jelas menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang cukup baik dihadapan Tuhan. Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengagumi seseorang, tetapi kekaguman kita itu tidak boleh membuat kita berpikir bahwa orang itu memenuhi standar kebaikan dan kesucian Tuhan. Kita tidak boleh mendewakan apapun dan siapapun sekalipun mereka dipanggil raja, nabi, rasul ataupun presiden.

Sejak jatuhnya Adam dan Hawa kedalam dosa, tidak ada siapapun yang bisa mencapai tingkat kebaikan yang diminta oleh Tuhan. Manusia sesudah kejatuhan pada hakekatnya adalah mahluk yang jahat, termasuk semua tokoh-tokoh di dunia yang dikagumi banyak orang. 

Bahwa manusia karena dosanya tidak dapat lagi mendekati Tuhan yang mahasuci, merupakan inti pengajaran Kristen yang sangat berbeda dengan agama-agama lain. Diluar agama Kristen, manusia berusaha untuk berbuat baik dengan berbagai cara untuk bisa mendapat keselamatan. Tetapi ini merupakan hal yang sia-sia menurut iman Kristen.

Di hari minggu ini kita diingatkan lagi untuk kesekian kalinya bahwa satu-satunya jalan bagi manusia untuk memenuhi standar Tuhan yang maha tinggi ialah melalui inisiatip Tuhan sendiri yang mau merendahkan diriNya dan menebus dosa manusia melalui darah anakNya, Yesus Kristus. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kisah 4: 12).


Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Yesus dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (Filipi 2: 9-11). Mereka yang berusaha memperoleh keselamatan melalui ritual-ritual agama yang dipandang istimewa atau melalui perantaraan orang-orang “suci” yang dikagumi akan dikecewakan!

 “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”  Yohanes 14: 6

Mengerti untuk mendengar, mendengar untuk mengerti

Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” 1 Samuel 3: 10

Pada waktu Samuel disapa Tuhan, ia tidak mengerti bahwa itu adalah suara Tuhan. Tetapi saat itu Samuel belum mengenal Tuhan secara pribadi. Bagi Samuel, ia mulanya mendengar suara tapi belum mengerti kalau itu suara Tuhan. Untunglah imam Eli menyadarkan Samuel bahwa Tuhanlah yang memanggilnya. Samuel kemudian mengerti bahwa ia harus menyambut sapaan Tuhan itu dengan kesediaan untuk mendengar. Dan setelah Samuel bisa mendengar suara Tuhan, ia bisa mengerti maksud Tuhan. Mengerti untuk mendengar adalah perlu agar setelah mendengar kita bisa mengerti.

Tidak seorangpun yang dapat menyangkal pentingnya pendengaran. Kemampuan mendengar mungkin umumnya tidak terlalu dipikirkan, sampai saat dimana orang lain mulai mengomel ketika kita tidak mendengar apa yang mereka katakan. Juga, ketika orang lain harus mengulangi apa yang dikatakan beberapa kali, barulah kita sadar bahwa ada sesuatu yang mengganggu pendengaran kita.

Buat semua orang, berkurangnya pendengaran memang sering dijumpai. Terutama mereka yang sewaktu muda kurang memperhatikan bahaya bunyi peralatan berisik.  Ketulian dikalangan anak muda pada jaman ini juga cenderung meningkat karena kebiasaan mendengarkan musik yang bervolume tinggi. Memang buat mereka, musik yang hingar bingar seringkali merupakan sesuatu hiburan yang digemari. Dengan mendengarkan musik keras semacam itu mungkin mereka bisa melupakan kesedihan hati.

Ketulian mungkin juga diakibatkan kebiasaan “menulikan diri”. Seringkali, karena merasa terganggu, seseorang mungkin mengabaikan apa yang diucapkan orang lain: masuk telinga kiri, keluar dari telinga kanan. Malah sekarang ini ada banyak alat-alat yang bisa dipakai agar orang tidak mendengar kebisingan atau suara disekelilingnya. Orang juga bisa seakan tuli karena tidak memberikan waktu atau perhatian untuk mendengar. Mungkin mereka tidak mengerti perlunya untuk mendengar. 

Jika telinga kita adalah alat pendengaran jasmani, bagaimana pula dengan pendengaran rohani kita? Dalam hidup ini, suara Tuhan seharusnya dikenal dan bisa didengar oleh semua umatNya  – seperti apa yang terjadi pada Samuel. Yesus berkata bahwa domba-dombaNya mengenal suaraNya (Yohanes 10: 16). Tetapi dalam kenyataannya, tidak semua orang mengerti pentingnya untuk mendengar suara Tuhan tiap hari. Tidak semua orang mau atau bisa mendengar.

Memang, seperti telinga kita, kemampuan kita untuk mendengar suara Tuhan sering tidak bekerja dengan baik. Mungkin karena kita belum benar-benar mengenal Tuhan. Mungkin juga, kenyamanan hidup dan ketidak-pedulian membuat  kita kurang bisa mengenal suara Tuhan. Juga, karena kita sudah berhasil mengatasi tantangan hidup dan merasa sudah beriman, ketulian rohani bisa merupakan manifestasi kepercayaan pada diri sendiri yang terlalu besar.

Kerusakan pendengaran rohani bisa terjadi karena adanya kebiasaan hidup di masa lalu. Kebiasaan mendengarkan suara-suara lantang yang manis menggoda dan menyesatkan  di masa lalu, membuat kita tidak peka atas bisikan Roh Kudus. Terlebih lagi, ada saja hal-hal yang bisa kita pakai untuk membungkam suara Tuhan, seperti pengalaman pribadi dan pikiran duniawi kita. Selain itu, kemalasan dan kesibukan diri sendiri membuat tidak ada waktu untuk memikirkan perlunya untuk mendengar dan mengerti firman Tuhan. 

Pagi ini kita diingatkan untuk memikirkan perlunya mengenali suara Tuhan. Kita harus tahu bahwa ada bunyi-bunyian lain dalam hidup yang bisa mengacaukan suara Tuhan. Jika kita tidak dapat menangkap apa yang difirmankanNya, bagaimana pula kita bisa mengerti bagaimana kita harus hidup sesuai dengan perintahNya? Untuk mau mendengar kita harus mengerti pentingnya untuk mendengar dengan baik; dan untuk bisa mengerti apa yang penting dalam hidup ini, kita harus mau mendengar!

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. “Matius 11: 15

Mungkinkah Tuhan gaptek?

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Yesaya 55: 8

Gaptek itu apa artinya sih? Begitu pertanyaan yang pernah muncul dalam benak saya beberapa tahun yang lalu. Sesudah tahu artinya, yaitu Gagap Teknologi, saya masih juga dihujani beberapa istilah baru yang berkaitan dengan Gaptek, misalya Butek (Buta Teknologi), Meletek (Melek Teknologi) dan Cantik (Canggih Teknologi Informasi Komputer). Aduh….memang luar biasa bahasa gaul Indonesia ini. Tidak hanya teknologi yang berkembang di Indonesia, tetapi masyarakat bisa mengantisipasi kemajuan teknologi dengan membedakan kemampuan mereka dalam pemakaiannya.

Kemajuan teknologi di dunia ini memang sangat pesat dan jika kita pikirkan dalam-dalam, nampaknya sangat menakutkan. Orang bilang bahwa sekarang ini kita hidup di era Revolusi Industri keempat. Diluar kemajuan yang membawa peningkatan kenikmatan hidup manusia, ada bayang-bayang gelap yang seakan membawa kemungkinan terjadinya malapetaka. Kelihatannya, manusia sudah hampir menyerupai tuhan-tuhan kecil yang bisa menciptakan kehidupan dalam laboratorium, menambah usia manusia menurut pesanan ataupun memusnahkan seisi bumi dengan menekan tombol sebesar kancing. Juga manusia bisa belajar dari komputer untuk mengerjakan apapun, tanpa bimbingan guru atau orang-tua. Kemajuan teknologi juga diiringi dengan perkembangan teologi Kristen yang sekarang muncul dalam bentuk berbagai teologi progresip yang menerima adanya berbagai jalan keselamatan dan mendukung perkawinan sejenis.

Dengan kemajuan teknologi dan perubahan suasana sosial dan teologi, mau tidak mau kita akan berpikir bagaimana dunia ini akan berubah pada tahun-tahun mendatang. Dampak negatip sudah terjadi di negara-negara maju, yang dulunya negara Kristen tetapi sekarang sudah berubah menjadi negara bebas agama. Dengan perubahan sosial dan hukum, setiap orang bebas melakukan apa saja asal tidak merugikan orang lain. Bahkan dengan kebebasan itu, nama Tuhan dan Yesus bisa dijadikan bahan lelucon sekalipun kebebasan serupa tidak berlaku untuk agama-agama lain.

Kemajuan manusia jaman ini sangat mirip dengan apa yang terjadi dengan pembangunan menara Babel. Dalam Kejadian 11 tercatat bagaimana manusia berkata satu dengan yang lain: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” 

Kita hidup pada jaman dimana umat manusia “disatukan” dalam bahasa teknologi dan keinginan untuk hidup menurut selera pilihan manusia saja. Manusia berlomba untuk menggunakan teknologi yang serupa untuk membuat mereka merasa lebih yakin dan bangga akan kemampuan mereka. Manusia mulai mendewakan teknologi dalam segala segi kehidupan. Manusia tidak lagi bergantung kepada Tuhan seperti dulu karena mereka yakin dapat memilih cara hidup yang disukai. Manusia dengan teknologi, merasa yakin dapat mencapai langit.

Kehidupan keluargapun terpengaruh oleh kemajuan teknologi. Komunikasi langsung antara anggota keluarga, diganti komunikasi melalui komputer dan HP. Fungsi orang tua dan guru menurun karena internet dan berbagai program komputer bisa mengajarkan apapun yang ingin diketahui anak-anak.  Rasa hormat kepada orang tua menjadi berkurang karena anak-anak memandang mereka ketinggalan jaman dan gaptek. Tuhan yang dikenal oleh orang tua mereka sekarang cenderung menjadi tokoh dongeng anak-anak. Kepercayaan kepada Tuhan pelan-pelan menghilang…..karena agaknya Tuhan tidak dapat mengikuti kemajuan teknologi dan sosial di dunia …alias gaptek.

Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, keluarga adalah tempat pertahanan terakhir umat Kristen. Diluar keluarga, kehidupan masyarakat diatur oleh teknologi dan hukum manusia. Jika keluarga kita tidak lagi dapat mempertahankan iman dan nilai-nilai Kristen, Tuhan akan diganti dengan kepercayaan kepada manusia dan teknologi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Kisah 16: 31

Pagi ini, jika anda merenungkan kemana dunia ini akan membawa kita dan anak cucu kita, mungkin anda menjadi masygul. Mungkin juga timbul rasa takut akan apa yang akan terjadi dengan anak-cucu kita di masa depan. Tetapi ayat-ayat bacaan kita diatas jelas menyatakan bahwa Tuhan yang mahabesar mempunyai rencana-rencana yang tidak bisa dimengerti manusia. Manusia dengan segala kepandaian dan rencananya tidak mungkin mengalahkan Tuhan kita. Apa yang perlu kita teruskan hanyalah tetap percaya kepadaNya dan bersama seluruh anggota keluarga kita menghadapi masa depan dengan iman yang teguh.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”  1 Petrus 5: 7

Tuhan sumber berkat

 “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”  Matius 7: 7

Puluhan tahun yang silam, saya menghadiri sebuah kebaktian kebangunan rohani (KKR) yang dipimpin oleh seorang evangelis ternama dari luar negeri. Ketika itu ribuan orang datang ke lapangan sepakbola Persebaya di sebelah Taman Hiburan Rakyat (THR) di Surabaya. Dalam kebaktian itu ada juga acara doa untuk kesembuhan penyakit, dan banyak orang yang maju kedepan untuk mendapat kesembuhan Ilahi.

Waktu itu saya tidak sakit apapun, kecuali kedua mata saya yang rabun jauh. Kekurangan dalam soal pengelihatan ini saya terima sebagai kenyataan hidup dan masyarakat di sekeliling saya juga menganggapnya jamak. Malahan kata orang, cacat mata seperti itu biasanya tanda “kutu buku”. Walaupun saya percaya bahwa Tuhan bisa menyembuhkan segala penyakit, saya tidak mengharapkan kesembuhan untuk mata saya. Saya melihat bahwa yang minta kesembuhan kebanyakan adalah orang yang sakitnya parah dan bukannya “sakit” berkacamata.

Sesudah KKR, seseorang yang saya kenal bertanya mengapa saya tidak meminta kesembuhan kalau saya percaya Tuhan bisa menyembuhkan segala penyakit. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena saya tidak tahu apa yang harus saya katakan. Untuk menjawab pertanyaan itu ternyata saya harus menunggu bertahun-tahun……

Ayat diatas sangat dikenal oleh umat Kristen. Ayat yang sering dipakai untuk mengajak orang berdoa, memohon sesuatu dari Tuhan Sang Pencipta. “Name it, claim it” atau “minta dan dapatkan” adalah pandangan sebagian orang Kristen yang yakin bahwa Tuhan akan memberikan apa saja yang mereka minta. Siapa yang menginginkan sesuatu hendaknya rajin berdoa memohon kepada Tuhan untuk hal itu, dan Tuhan pasti mengabulkannya.

Sebagian umat Kristen juga berpendapat bahwa jika berkat Tuhan tidak juga datang, itu mungkin karena kurang berdoa atau kurang iman. Tambahan lagi, jika kita percaya bahwa Tuhan sudah memberikannya, pastilah itu akan benar-benar terjadi. Tuhan adalah sumber hidup, sumber rezeki; dan berkatNya yang pasti akan datang sesuai dengan permintaan umatNya.

Berdasarkan prinsip diatas, saya bayangkan jika saya benar-benar memohon kepada Tuhan waktu itu, saya pasti tidak perlu memakai kacamata tebal lagi sejak SD.  Mungkin dokter mata dan optometris juga pada tutup kalau seluruh kota mendapat kesembuhan serupa. Tetapi, apa yang terjadi ternyata lain dari yang dibayangkan. Bahwa sekarang saya bisa menyetir mobil tanpa kacamata, itu adalah karena operasi mata yang saya alami.

Tuhan memberkati saya dan dokter yang merawat saya sehingga operasi mata berjalan sukses, 50 tahun sesudah saya mengikuti acara KKR di Surabaya. Tuhan bekerja tetapi tidak seperti yang saya harapkan dan bayangkan. Tuhan ternyata membuat mujizat yang berbagai ragam di tempat dan waktu yang berbeda-beda sesuai dengan prioritasNya.

Dengan bertambahnya umur, hubungan kita dengan Tuhan seharusnya makin berkembang dan dewasa. Pengertian kita akan apa yang dikerjakan Tuhan, apa yang disukaiNya, apa yang dibenciNya dll. tentunya akan berubah. Itu semua karena pekerjaan Roh Kudus yang bekerja tiap saat untuk mencelikkan mata rohani umat percaya. Karena itu jugalah iman tumbuh makin subur lewat pergumulan hidup.

Jika dulu kita seringkali mau memohon kepada Tuhan apapun yang kita inginkan, sekarang kita mungkin hanya berdoa untuk apa yang kita butuhkan. Jika dulu kita mengaku bahwa semua yang kita inginkan adalah sesuatu yang kita butuhkan, sekarang mungkin kita sering berdoa untuk bisa melihat apa yang benar-benar kita butuhkan. Jika dulu kita, seperti anak kecil, sering memusatkan diri kepada apa yang kita butuhkan, mungkin sekarang kita lebih dewasa dalam iman dan bisa melihat apa yang dibutuhkan orang lain. Jika dulu kita yakin bahwa Tuhan ada untuk melayani permintaan kita, sekarang kita harus sadar bahwa manusia diciptakan untuk kemuliaan Sang Pencipta.

Satu hal lain yang juga penting untuk pengertian umat percaya adalah soal prioritas Tuhan dalam rencanaNya. Bagi sebagian umat Kristen, Tuhan sebagai Bapa, seharusnya memgutamakan soal kebutuhan anak-anakNya. Karena itu banyak ajaran yang menekankan kasih Tuhan dalam memenuhi kebutuhan jasmani manusia. Ajaran ini sekarang banyak pengikutnya karena seolah Tuhan itu akan memberi apapun yang kita minta pada saat yang kita kehendaki. Kehendak kita yang terjadi, bukan kehendakNya.

Iblis dari awalnya tahu bahwa manusia memiliki kecederungan untuk mementingkan diri sendiri. Ia tahu jika manusia dibuai dengan kesuksesan dan kemewahan, mereka akan lebih mudah dipengaruhinya. Itulah sebabnya begitu banyak gereja yang saat ini sukses dalam menarik jemaat, karena manusia lebih tertarik untuk hidup berlebihan dalam kemewahan dan keberhasilan daripada hidup dalam iman dan merasa cukup dalam setiap keadaan. 

Kebahagiaan yang ditawarkan banyak pembicara sekarang ini juga sering dilandaskan pada kepercayaan manusia kepada diri sendiri dan bukan kepada Tuhan (positive thinking). Seringkali manusia dianjurkan untuk percaya bahwa mereka pada hakekatnya adalah baik, dan karena itu mereka tidak perlu memikirkan dosa mereka. Tidak perlu punya “negative thinking” tentang diri sendiri dan orang lain. Akibatnya, sekalipun hidup manusia kacau balau, bayangan akan Tuhan yang mahakasih seolah memberi mereka kepercayaan diri bahwa hidup mereka sudah benar. Dengan itu, tumbuh juga kepercayaan bahwa doa mereka selalu didengar Tuhan.

Ada banyak contoh dalam Alkitab dimana Yesus dan murid-muridNya menyembuhkan orang sakit dan bahkan membangunkan orang mati. Yesus juga membuat air menjadi anggur dan meredakan topan. Tetapi harus kita sadari bahwa prioritas tugas Yesus waktu itu adalah penyelamatan manusia dari dosa. Prioritas tugas murid-murid Yesus waktu itu adalah mengabarkan Injil keselamatan. Prioritas hidup kita sebagai umat percaya adalah untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Setelah kita sadar dan menerima apa yang kita harus prioritaskan dalam hidup, bolehlah kita menyampaikan permohonan kita kepada Tuhan. Apa yang diminta secara benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan akan terjadi.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita harus berdoa dengan sikap dan tujuan yang benar. Kita adalah tanah liat dan Tuhan adalah penjunan kita. Kita adalah manusia berdosa dan Tuhan adalah mahasuci. Manusia  dalam kebodohannya tidak akan dapat mengerti cara berpikir Tuhan yang maha bijaksana. Jika kita berdoa, seringkali kita tidak tahu bagaimana caranya. Orang lain yang ditanya mungkin malah mengajarkan hal yang tidak benar. Hanya Roh Kudus yang bisa mengajar kita secara pribadi untuk berdoa secara benar (Roma 8: 26). Kita harus tetap ingat bahwa doa yang benar selalu mengandung kata-kata “jadilah kehendakMu” dan “secukupnya” (Matius 6: 10-11).

Kembali ke ayat Matius 7: 7 diatas:

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” 

Apakah anda tahu apa yang harus diminta dan dicari?

Kalau sangkakala berbunyi

“Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.”  2 Petrus 3: 13-14

Waduh…kiamat dah! Ungkapan ini sering muncul dalam cerita lucu, misalnya ketika kenakalan seorang anak yang bernama si Put On diketahui oleh sang ibu yang galak. Si anak dalam ketakutan menyadari bahwa ibunya akan marah besar dan melabraknya habis-habisan. Kiamat adalah sebuah kata yang artinya menakutkan, tetapi sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari untuk menggambarkan suatu hal yang kocak dan lucu. Kiamat sepertinya adalah hal jauh disana, yang tidak perlu dipikirkan saat ini.

Sebaliknya, dikalangan sebagian orang beragama, kata kiamat yang menunjuk kepada akhir jaman  – yang sebetulnya tidaklah harus menjadi hal yang sangat ditakuti –  justru seringkali didiskusikan dan bahkan diramalkan akan segera terjadi. Hal ini makin menjadi-jadi hingga banyak orang yang mengambil tindakan-tindakan ekstrim, seperti bersembunyi di hutan, membangun konstruksi anti bom atom dsb.  Dalam medsos pun banyak beredar peringatan-peringatan akan tanda-tanda akhir jaman. Namun, walaupun ramalan  datang dan pergi sejak dulu, akhir jaman rupanya belum juga mendatangi.

Soal menyambut datangnya kiamat, memang banyak orang Kristen yang berbeda pendapat. Buat orang-orang tertentu, kiamat sudah dekat dan karena itu mereka sibuk bersiap-siap. Bagi yang lain, kiamat pasti akan datang tetapi beberapa prosesnya masih harus dijalani dan kekuatiran tidak perlu muncul karena keyakinan bahwa mereka harus selalu siap. 

Saya masih ingat lagu anak-anak sekolah minggu ini:

Kalau zaman ini lalu pada hari kiamat,

kalau sangkakala Allah berbunyi.

Kalau orang yang selamat berkeliling takhta-Nya,

Kalau namaku dipanggil ku ada.

Jelas nada lagu diatas, yang merupakan terjemahan himne terkenal “When the trumpet of the Lord shall sound” atau “When the Roll Is Called up Yonder” gubahan James Milton Black di abad ke 19, adalah positip. Kalaupun kiamat itu datang pada saatnya, kita tidak perlu bingung karena sudah pasti kita diselamatkan. Lalu mengapa begitu banyak tokoh-tokoh Kristen yang selalu sibuk bernubuat dan menafsirkan tanda-tanda akhir jaman? Sebagian mungkin bermaksud baik dengan berusaha memperingatkan umat Kristen akan apa yang pasti akan terjadi. Tetapi ada juga yang termasuk dalam kelompok tertentu seperti yang tertulis dalam Alkitab:

“Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan.” Markus 13: 22

Apa yang telah terjadi dan akan terjadi di dunia ini adalah sesuai dengan rencana Tuhan. Umat Kristen harus sepenuhnya percaya bahwa Tuhan yang mengasihi mereka, akan juga membimbing semuanya melewati saat-saat yang sulit di masa mendatang. Sebagai manusia kita tidak dapat menyelami dalamnya pikiran Tuhan dan tidak dapat menerka apa yang akan terjadi dan kapan akan terjadi. 

“Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.”  2 Petrus 3: 20

Apa yang penting kita lakukan dalam masa penantian ini adalah tetap bertekun dalam iman kepada Yesus Kristus. Selain itu, kita harus tetap bersemangat dalam melanjutkan kehidupan kita dan malahan makin berbuah berbagai kebaikan untuk kemuliaan nama Tuhan.

Yesus Kristus sudah turun ke dunia untuk membawa damai untuk orang percaya. Murka Allah atas diri kita sudah padam. Karena itu, kita harus percaya bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik, selama kita hidup di dunia dan setelah kita meninggalkannya. Berita-berita yang membuat umat Kristen menjadi gundah, justru merendahkan arti kematian dan kebangkitan Kristus. Berita semacam itu harus kita tanggapi dengan berhati-hati, karena iblislah yang selalu berusaha memisahkan kita dari kasih Tuhan dan mengacaukan hidup kita sehingga kita tidak bisa berfungsi penuh sebagai anak-anak Tuhan selama hidup di dunia. Dalam hal ini, kita harus yakin bahwa dalam keadaan apapun kasih Tuhan tetap menyertai kita.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”  Roma 8: 38-39.

Pagi ini, jika kita masih bisa melihat matahari bersinar dan mendengar kicauan burung-burung, yakinlah bahwa Tuhan akan menyertai kita sampai akhir zaman; dan karena itu, bilamana sangkakala berbunyi, kita boleh menjawab “ya” dengan penuh keyakinan!

Hidup ber – Vivere Pericoloso

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.”  1 Petrus 5: 8


Vivere pericoloso, adalah sebuah ungkapan yang memakai dua kata dari bahasa Italia, vivere (hidup) dan pericoloso (berbahaya).  Dalam bahasa Italia yang benar, ungkapan itu seharusnya berbunyi vivere pericolosamente.   Arti kata-kata ini adalah, “hidup secara berbahaya” atau “hidup menyerempet-nyerempet bahaya”. Di Indonesia, ungkapan ini dipopulerkan oleh Bung Karno pada tahun 1964 sebagai judul pidato kenegaraan pada peringatan HUT ke-19 RI.

Memang di jaman itu orang Indonesia hidup dalam berbagai tekanan, baik sosial, ekonomi dan juga politik. Suasana tegang dan mencekam dan ketakutan akan apa yang akan terjadi menghantui masyarakat. Di jaman sekarang istilah vivere pericoloso itu tidak lagi “ngetrend” sekalipun bahaya dan kekuatiran itu selalu ada dimana saja.

Manusia dari dulu memang sering cenderung   untuk hidup ber  vivere pericoloso.  Pada awalnya Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena berani nyerempet-nyerempet bahaya dengan mendengarkan bujukan si ular. Lot mengalami persoalan karena memilih hidup di Sodom yang dihuni oleh orang-orang jahat tak bermoral setelah berpisah dari Abraham.

Dalam jaman modern, gaya hidup yang nyerempet bahaya juga sering dipunyai banyak orang Kristen. Mereka, karena yakin sudah terpilih untuk diselamatkan, seringkali mengabaikan kenyataan bahwa iblis selalu ingin menjatuhkan mereka, seperti ia ingin menjatuhkan Yesus yang lelah setelah berpuasa 40 hari di padang gurun. Iblis seperti singa yang mengaum-aum, selalu mencari anak-anak Tuhan yang dapat ditelannya.

Sayang bahwa umat percaya sekarang sering mengira bahwa iblis tidak dapat menyentuh mereka. Mereka mungkin mengira bahwa iblis hanya menyerang mereka yang belum beriman kepada Yesus. Sebagian malah tidak percaya kalau iblis bisa menghancurkan tidak hanya kerohanian manusia, tetapi juga bisa memporak-porandakan jasmani manusia, seperti yang terjadi pada Ayub.

Sebagian orang membayangkan bahwa iblis yang mengaum-ngaum itu selalu muncul dalam berbagai bentuk khusus yang menakutkan dan mudah dikenali. Tetapi iblis adalah oknum yang pandai menyamar, yang bisa muncul sebagai sesuatu yang tidak terduga, sehingga manusia bisa terkecoh dan membuat keputusan yang salah. Iblis tidak hanya bisa membawa penderitaan dan malapetaka di dunia; ia juga seringkali muncul dengan janji atau hadiah yang menggiurkan seperti harta, pengetahuan, kekuatan dll. yang bisa menghacurkan manusia secara pelan-pelan.

Bagi anak-anak Tuhan, bahaya serangan iblis adalah lebih besar karena ia akan sangat senang jika bisa menjatuhkan orang-orang yang dikasihi Tuhan. Iblis tahu bahwa ia bisa menyerang orang-orang percaya hanya dengan seijin Tuhan dan sekalipun ia tidak dapat mencuri keselamatan yang sudah diberikan Tuhan, iblis tetap ingin untuk mempermalukan Tuhan jika anak-anakNya jatuh. 

Sebagai orang percaya, kita harus sadar bahwa yang bisa dilakukan iblis adalah membuat berbagai keraguan, kebingungan, kekacauan, godaan dan persoalan dalam hidup orang percaya. Berbeda dengan orang yang belum diselamatkan, iblis tidak bisa memiliki hidup orang percaya. Karena itu, jika kita jatuh dalam dosa, itu adalah tanggung jawab kita sendiri karena dosa yang kita buat sendiri sekalipun dengan pengaruh setan. Buat kita: ada pilihan, ada tanggung jawab.

Hidup menyerempet bahaya memang beresiko tinggi, dan karena itu kita harus sebisa mungkin menghindari semua bentuk godaan, sekalipun itu sepertinya indah dan muncul dalam bentuk berkat dalam hidup kita. Kita harus rajin berdoa dan saling mendoakan agar kita bisa tetap tahan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dan kita wajib melawan iblis dengan iman yang teguh.

“Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.”  1 Petrus 5: 9

Apakah anda fanatik?

“Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Wahyu 3: 16

Hari Minggu, hari dimana banyak orang Kristen pergi ke gereja. Tetapi tidak semua orang yang mengaku Kristen suka ke gereja. Di Australia, hanya 15% penduduk yang ke gereja sedikitnya sekali sebulan, padahal 60% penduduknya mengaku beragama Kristen. Memang mungkin orang yang benar-benar Kristen agaknya jarang…apalagi yang fanatik.

Orang yang benar-benar menyukai suatu jenis olahraga bisa dikatakan fanatik. Mereka sangat antusias tentang hal apapun yang menyangkut olahraganya. Begitu pula orang bisa menjadi penggemar kelas berat dari jenis film, makanan dan hal-hal lain. Mereka juga bisa disebut kaum fanatik. Kata fanatik sebetulnya bisa punya arti baik – memang kata Latin “fānāticus” berarti “diilhami Tuhan”.

Sayang sekali bahwa kata fanatik sering digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang ekstrim, lebih dari yang lumrah. Sebagai contoh, Bonek, grup “bondo nekad” penggemar fanatik sepakbola di Indonesia, seringkali terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang kurang baik dan bahkan melawan hukum. Walaupun demikian kata fanatik masih sering dipakai untuk menunjuk kepada seseorang yang benar-benar bersemangat, sangat berdedikasi dan setia kepada apa yang disukainya.

Lalu apakah ada orang Kristen yang fanatik? Ada! Tetapi mungkin tidak seorangpun diantara kita yang mau disebut Kristen fanatik. Kenapa gerangan? Mungkin dari pengalaman kita, orang fanatik yang sedemikian tidak mempunyai toleransi kepada orang lain dan selalu merasa dirinya paling benar.

Dalam hal ini, Alkitab menjelaskan bahwa orang yang benar-benar cinta kepada Tuhan akan selalu memprioritaskan Tuhan diatas segala-galanya. Mereka akan berjalan dalam terang Tuhan dalam setiap keadaan. Dari hidup mereka jelas terlihat adanya: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu (Galatia 5: 22-23). Menjadi orang yang benar-benar Kristen adalah menjadi orang pengikut Kristus yang fanatik!

Apakah anda sudah menjadi orang Kristen fanatik? Belum? Tidakkah anda ingin menjadi anggota kelompok orang yang benar-benar beriman? Mungkinkah anda hanya ingin menjadi orang Kristen yang “biasa” yang “normal”? Bukan fanatik? Mungkin anda kuatir kalau-kalau anda menjadi pengikut agama yang fanatik, yang memusuhi orang yang tidak sepaham, yang siap menggunakan kekerasan untuk membuat orang lain tunduk. Tapi pengikut agama Kristen yang seperti itu bukanlah pengikut Kristus yang fanatik.

Jika kita ingat bahwa Yesus begitu fanatik dalam pengurbananNya di kayu salib, kita akan sadar bahwa jika Yesus kurang dari fanatik dalam menaati perintah Allah Bapa, kita akan tetap tinggal dalam kebinasaan. Ayat renungan kita dari Wahyu 3:  16 diatas menunjukkan bahwa pengurbanan Kristus menuntut pengabdian umat Kristen kepada Allah secara penuh, secara penuh, secara fanatik. Jika kita hanya menjadi orang Kristen yang suam-suam kuku, menjadi orang yang hanya menyebut dirinya Kristen tetapi tidak menaati firmanNya, yang masih hidup dalam kepalsuan, kejahatan, dan yang malas untuk berbakti kepada Tuhan bersama saudara seiman, maka kita tidak dapat memperoleh keyakinan yang diisi dengan fanatisme bahwa Kristus hidup dalam diri kita. Hari ini kita diingatkan untuk setia dalam iman kita dan menjadi pengikut fanatik Yesus Kristus!

Antara pilihan dan tanggung jawab

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13-14

Apa yang akan anda kerjakan hari ini? Apakah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu yang signifikan dalam minggu ini? Kebanyakan orang selalu membuat rencana untuk hari-hari mendatang selama masih bisa. Mereka yang sudah sangat lanjut usia mungkin kurang bisa untuk itu; karena itu rencana dan keputusan mungkin diserahkan kepada orang lain. Memang selama pikiran masih sehat, keputusan dan tanggung jawab ada ditangan kita. Cara yang mudah untuk menghindari tanggung jawab adalah mengingkari adanya kesempatan atau kemampuan untuk mengambil keputusan.


Keputusan yang kita ambil mungkin bisa membawa hasil yang baik, tetapi mungkin juga menghasilkan sesuatu yang kurang kita sukai. Dalam hal ini kita sering tidak bisa menduga apa hasilnya. “Life is like a box of chocolates”, begitu kata Forest Gump dalam filmnya. Hidup adalah seperti sekotak coklat, itulah bunyi ungkapan itu. Kita tidak tahu coklat rasa apa yang akan kita dapat. Tetapi coklat apapun yang kita peroleh, kita sendiri yang telah memilihnya dan terserah kepada kita untuk merasakannya. Hidup manusia adalah penuh dengan pilihan dan tanggung jawab. Ini adalah masalah yang sering diperdebatkan manusia, termasuk umat Kristen.

Ada orang-orang yang mungkin berpendapat bahwa didalam  kotak yang kita terima ada beberapa coklat dengan berbagai ragam bungkus yang harus kita pilih, tetapi rasanya sudah ditentukan oleh Tuhan. Walaupun kita harus memilih satu coklat, sebenarnya coklat yang kita pilih tidak berbeda dengan coklat yang lain. Walaupun manusia bebas memilih, mereka sebenarnya tidak dapat menentukan pilihannya. Sebaliknya ada yang percaya bahwa Tuhan memberi kita sekotak coklat dengan berbagai rasa untuk bisa kita pilih. Dalam hal ini, masalahnya adalah coklat mana yang kita pilih.

Memang hidup ini punya berbagai variasi, berbagai segi, bermacam peristiwa. Apa yang akan kita lakukan hari ini mungkin saja hanya hal yang kecil, yang rutin, yang mungkin tidak mempunyai konsekuensi besar. Tetapi mungkin juga kita dihadapkan dengan berbagai tugas berat yang mengharuskan kita untuk mengambil pilihan. Mungkin kita sudah bisa dan siap berdoa: “Biarlah kehendak Tuhan yang terjadi”. Tetapi keputusan tetap ada di tangan kita untuk mengambil tindakan. Kita jugalah yang harus bertanggung jawab atas apa yang kita pilih.

Pagi ini kita dihadapkan dengan kenyataan hidup: bahwa hidup kita adalah suatu proses dimana kita selalu dihadapkan dengan pilihan dan tanggung jawab pribadi. Jika kita sekarang mengalami suatu keadaan, kita sendiri yang bisa menentukan reaksi kita dan kita sendiri yang bisa memutuskan apa yang akan kita akan perbuat. Seringkali dalam hidup ini kita menjumpai tantangan besar dan untuk mengatasinya mungkin ada jalan pintas yang tampaknya sangat mudah dan memikat. Adalah keputusan kita sendiri untuk memilih jalan itu sekalipun bertentangan dengan firman Tuhan, ataukah memilih jalan yang lain yang nampaknya lebih berat tetapi yang tidak melanggar perintahNya.

Hidup iman kita mungkin juga sudah mencapai saat dimana kita merasakan bahwa tidak ada yang perlu kita pikirkan lagi karena kita mungkin sudah merasa bahwa Tuhan sudah memutuskan apa yang terjadi dalam hidup kita, baik itu kesuksesan maupun kegagalan. Sikap yang semacam itu memang seolah membuat hidup kita nampaknya lebih enteng, karena kita memilih apa yang lebih mudah dilewati: jalan yang lebar, yang bisa dilewati tanpa memerlukan pergumulan terus-terusan. Jalan yang sempit, yang menuntut perjuangan untuk mempertahankan kesetiaan yang penuh kepada Tuhan yang mahakuasa, yang benar-benar penuh dengan rasa syukur dan hormat kepada Tuhan dalam setiap saat dan keadaan, tidaklah mudah dijalani. Tetapi itulah yang jalan yang benar yang diajarkan Yesus kepada murid-muridNya.

Untuk sebagian umat Kristen, keyakinan akan keselamatan itu datang melalui tradisi, kebiasaan dan pengalaman mereka. Jalan yang lebar dan mudah dilalui, tetapi seringkali hanya ilusi. Untuk yang lain, iman datang dari Tuhan melewati pergumulan hidup, pilihan pribadi, pelajaran hidup, kesadaran akan ketergantungan dan pertobatan dalam Yesus Kristus. Ini jalan yang sempit dan sulit dilalui. Tanpa keberanian untuk memilih dan kemauan untuk bertanggung jawab, manusia tidak akan bisa berkata:

Tuhan, aku sudah mengambil berbagai keputusan di masa lalu,

Aku sadar bahwa aku sering melakukan hal yang bodoh.

Pagi ini aku mengaku bahwa aku bertanggung jawab atas hidupku.

Aku sekarang mau memilih jalan yang sempit untuk mengenal Engkau.

Bimbinglah aku agar sampai ke tempat tujuan.

Hallo Tuhan….

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Tahukah anda bahwa ponsel alias HP baru muncul di dunia sekitar tahun 70an? Ketika itu Motorola menciptakan telepon genggam yang ukurannya sebesar batu bata (23 x 13 x 5 cm) dan beratnya 1.1 kg. Ponsel itu cuma bisa dipakai selama 30 menit tapi perlu 10 jam untuk menyetrum.  Barangkali karena beratnya, untuk memegang ponsel sebesar itu selama setengah jam saja sudah terasa terlalu lama! Walaupun demikian, penemuan ini sangat bersejarah karena dengan kemajuan teknologi, orang bisa ber halo-halo dimana saja, kapan saja dan kemana saja. Kecuali ke surga…. 

Manusia, dengan kemajuan teknologi, sepertinya tidak mendapat kemudahan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Malahan, manusia jaman sekarang makin sulit untuk mendengar suara Tuhan dan berbicara denganNya. Padahal Tuhan selalu siap untuk berkomunikasi dengan umatNya.

Bagaimana Tuhan dapat berkomunikasi dengan kita? Ada beberapa saluran yang bisa dipakai Tuhan. Saluran utama adalah firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Ada yang bilang buku Alkitab itu seperti ponsel model kuno, beratnya ada yang 1 kg, dan malah ada yang beratnya 500 kg. Alkitab model baru memang ada, firman Tuhan dalam bentuk eletronik yang bisa dibaca atau didengar dan bisa kita simpan dalam ponsel kita. Tetapi Alkitab berbentuk apapun itu tetap sama isinya; itulah yang harus kita pegang sebagai jalur komunikasi nomer satu yang dipakai Tuhan. Manusia harus membaca firman Tuhan dan mempelajarinya untuk bisa mengerti maksud dan perintah Tuhan.

Selain melalui Alkitab, Tuhan bisa berfirman melalui beberapa hal yang lain, seperti mimpi, pengelihatan, pendengaran; suara hati, dll. Tetapi ini sudah jarang karena kita sudah mempunyai Alkitab. Apa yang kita terima diluar Alkitab harus dibandingkan dengan apa yang ada didalam Alkitab supaya kita tidak terjebak dalam menerima “kabar burung” dan “hoax” dari si iblis.

Lalu bagaimana pula dengan kita yang ingin mengontak Tuhan? Jalan utama untuk mengucapkan “hallo” kepada Tuhan adalah melalui doa. Ini yang paling efektip karena mulut dan hati kita berbicara langsung dengan Tuhan. Sewaktu Yesus belum disalibkan, umat Israel harus memakai perantaraan imam-imam untuk menemui Tuhan. Tetapi sekarang kita bisa langsung berjumpa dengan Tuhan dalam doa tanpa harus diwakili pendeta atau pastor. Sayang sekali, jalur komunikasi yang bebas pulsa ini sekarang seringkali diabaikan umat Kristen. Mungkin karena gratis, manusia cenderung untuk meremehkannya.

Berapa kali kita dalam sehari harus mengontak Tuhan? Karena Tuhan adalah sumber kehidupan manusia, kita seharusnya menelepon Dia sesering mungkin, seperti juga membaca firmanNya. Komunikasi adalah dua arah, jika Tuhan berfirman kepada kita dan membimbing kita setiap saat, pikiran dan hati serta mulut kita juga harus bisa berhubungan denganNya setiap waktu agar kita tidak tersesat. Tuhan tidak pernah tidur, karena itu kita tidak boleh ragu untuk menelepon Dia disetiap waktu, dari mana saja, kapan saja, melalui doa dalam bimbingan Roh Kudus.

Seperti suara dari ponsel, kadangkala suara Tuhan tidak terdengar dengan jelas karena adanya suara-suara lain disekitar kita. Untuk bisa mendengar suaraNya, kita harus mau meluangkan diri untuk mencari saat dan tempat yang baik. Hidup yang terlalu sibuk dengan segala hiruk-pikuknya akan membuat manusia sulit untuk mendengar suara Tuhan. Apalagi hidup yang diisi dengan hal-hal yang salah. Hubungan yang kurang baik dengan Tuhan juga bisa mengakibatkan kita untuk menerima pesan-pesan yang keliru yang bukannya dari Tuhan.

Pada pihak yang lain, Tuhan selalu menantikan sapaan anak-anakNya. Tuhan mengasihi mereka yang mau berkomunikasi, dan intim denganNya. Dalam hal ini, setiap manusia diberi kemampuan dan kebebasan untuk memilih apa yang baik dan berguna dalam hidup mereka. Mereka yang hanya senang berkomunikasi dengan hal-hal dan orang-orang yang kurang baik akan kacau hidupnya, sedangkan mereka yang senang berkomunikasi dengan Tuhan akan diperbaharui hidupnya dan dikuatkan setiap hari.

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.” Yudas 1: 20