Mengapa Tuhan tidak menjawab doaku?

Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada TUHAN.”  1 Samuel 1: 20

“Tuhan belum menjawab doaku” adalah keluhan umum manusia. Setelah lama menunggu, rasa berharap mungkin diganti rasa kecewa karena seolah Tuhan mengabaikan doa kita. Mungkinkah Ia tidur, terlalu sibuk atau sekedar mengabaikan aku? Apakah Ia marah kepadaku? Apakah Ia sudah menentukan apa yang terjadi dalam hidupku? Apakah doaku sia-sia?

Dalam kitab 1 Samuel 1, ada seorang wanita yang bernama Hana yang mengalami hal yang serupa. Bertahun-tahun ia menantikan datangnya seorang anak, tetapi apa yang diharapkan tidak kunjung datang. Tetapi ia tetap saja berdoa untuk pertolongan Tuhan sekalipun kelihatannya sudah tidak ada kemungkinan dan orang disekelilingnya tidak mendukung doanya. Untuk apa ia berdoa kalau segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan? Hana percaya bahwa Tuhan mempunyai maksud lain.

Hal berdoa adalah satu bentuk ibadah yang lazim dilakukan oleh semua umat beragama sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan yang mereka kenal sebagai tuhan. Dengan ritual dan cara mereka masing-masing mereka berdoa, dan dengan keterbatasan pengertian, mereka mencoba mengerti siapa tuhan itu dan berharap doa mereka didengar tuhan mereka.

Jika kita memperhatikan doa manusia manapun dan dimanapun, kebanyakan itu merupakan permohonan. Bukan pujian atau percakapan. Kalaupun ada pujian, itu sekedar pembuka kata saja. Tidaklah mengherankan bahwa sekalipun doa adalah bentuk komunikasi dengan sang pencipta, seringkali doa adalah “shopping list” atau daftar belanja manusia. Karena itu seringkali dalam doa kita salah alamat karena apa yang kita temui mungkin bukan Tuhan. Tuhan yang mahasuci hanya bisa didekati dengan iman dan cara yang benar. 

Tuhan mengasihi kita dan ingin supaya manusia sadar akan ketergantungannya. Doa yang benar adalah penyerahan total kepada Tuhan. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Kita harus bisa  memohon agar Tuhan memberi apa yang terbaik untuk kita. Apa yang kita benar-benar butuhkan. Masalahnya, kita sering tidak dapat membedakan apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan. Apa yang kita inginkan seringkali hanya untuk kepentingan kita, tetapi apa yang kita butuhkan adalah sesuatu yang bisa memuliakan Tuhan dan mempererat hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Kalau kita lihat dalam kisah perjuangan iman Hana, itu jugalah yang dinantikan Tuhan untuk muncul dalam doa Hana.

Mungkin, seperti Hana kita sudah menangis cukup lama. Sudah merasa tertekan dan menderita sejak lama. Kita membutuhkan jawaban Tuhan sekarang juga. Tetapi, berbeda dengan manusia, Tuhan tidak terikat waktu dan Ia tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. RencanaNya adalah sempurna karena Ia tidak dibatasi oleh kelemahan yang dipunyai manusia. Oleh sebab itu, tantangan untuk kita adalah agar kita bisa bersabar dan merasa cukup dalam setiap keadaan, sambil menyerahkan masa depan kita kepadaNya.

Tuhan ingin kita untuk tidak berhenti berdoa untuk bisa mengerti kehendakNya, yang sering tidak sama dengan apa yang kita pikirkan. Untuk dapat menerima apa yang akan diberikanNya, kita tetap harus berkomunikasi denganNya. Hana tidak putus-putusnya berdoa dan ketika Tuhan menjawab doa Hana, itu bukan karena Tuhan menyerah kepada doa permohonan yang bertubi-tubi dari Hana. Tetapi jawaban Tuhan datang pada saat Tuhan melihat bahwa Hana mengerti akan maksud Tuhan.

Manusia diciptakan untuk memuliakan Tuhan. Apa yang kita minta harus bisa memuliakan Tuhan. Jika apa yang kita dapat akhirnya tidak memuliakanNya, berarti bukan Tuhan yang memberi. Jika kita berdoa meminta apa yang kita ingini, dan bukannya memohon agar kehendakNya yang terjadi, doa kita hanya merupakan tuntutan dan bukannya penyerahan. 

Hana pada saat yang tepat melahirkan seorang bayi yang dinamakan Samuel karena Tuhan telah menjawab doanya. Dan kita tahu bahwa Samuel menjadi nabi Israel yang paling terkenal pada jamannya. Samuel dikenal oleh umat agama Yahudi, Kristen dan Islam. Samuel adalah nabi yang mentahbiskan raja Saul dan Daud. Hana diberi berkat yang ternyata jauh lebih besar dari apa yang dimintanya. Biarlah Tuhan dipermuliakan dalam doa-doa kita!

Pilih jadi macan atau gajah?

“Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Amsal 22: 6

Satu hal yang sangat sukar dipelajari adalah bagaimana menjadi orang tua yang baik. Memang ada banyak buku dan teori yang bisa dibaca, tapi untuk mempraktikkan dengan benar dan mencapai hasil yang baik adalah sulit. Banyak orang tua yang merasa sudah banyak berkorban waktu, biaya dan perasaan, tetapi anak-anaknya tetap saja tidak dapat menjadi seperti yang diharapkan.

Amy Chua adalah seorang profesor Amerika yang mengajarkan untuk mendidik anak dengan disiplin tinggi. Anak yang tidak mau belajar misalnya, akan dihukum dengan mengurangi jatah mainan atau hiburan. Banyak orang barat yang tidak setuju cara mendidik yang sedemikian. Tetapi sebaliknya banyak orang Asia yang setuju. Ibu yang “galak” terhadap anaknya diberi julukan “tiger mum” atau “ibu macan”, dan cara mendidik yang sedemikian disebut “tiger parenting” atau “mengasuh anak gaya macan”. Anak-anak yang dididik sedemikian, sering mencapai hasil yang tinggi dalam pendidikan.

Kebalikan dari “ibu macan”, ada orang-orang yang menganjurkan untuk memakai prinsip “ibu gajah” yang menganjurkan orang tua untuk lebih membesarkan hati, membimbing, dan menuntun anak-anak mereka. Seperti seekor gajah yang melindungi anaknya, dengan selalu berjalan bersama anaknya kemana saja. Anak-anak yang dididik dengan cara ini diharapkan bisa mempunyai rasa bahagia yang lebih besar dalam hidup walau tidak mencapai prestasi tinggi.

Mana yang benar? Mendidik anak seperti macan atau gajah? Sangat lucu bahwa dalam diskusi “jurus macan” vs. “jurus gajah”, orang sepertinya mau belajar cara mendidik hewan dan bukannya manusia. Bagaimana cara mendidik manusia dengan benar, mungkin tidak lagi menarik perhatian. 

Alkitab dalam kitab Amsal memberi banyak pedoman untuk mengajarkan bagaimana seorang anak bisa belajar untuk menjadi orang yang berhasil dalam hidup mereka. Amsal juga jelas menunjukkan bahwa kunci pendidikan adalah bukan didasarkan pada prinsip macan atau gajah, tetapi pada iman:

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”  Amsal 1: 7

Bagi kita yang masih mempunyai kesempatan untuk mendidik anak cucu kita, kita harus kembali kepada prinsip-prinsip Alkitabiah. Dengan prinsip yang benar, kita juga akan dapat mengarahkan kaum muda sehingga mereka mengerti bahwa keberhasilan hidup tidak diukur dengan banyaknya gelar, harta atau kemasyhuran; tetapi dengan eratnya hubungan kita dengan Tuhan. Bahwa sumber kebahagiaan adalah iman. 

Bagi kita yang sudah mengalami pendidikan jaman dulu, gaya hidup kita mungkin sudah terpengaruh oleh apa yang kita anggap benar pada waktu itu. Barangkali kita sendiri sudah menjadi seperti macan atau gajah yang hidup di hutan rimba. Mungkin kita sudah puas dengan apa yang kita capai:  kebahagiaan semu. Tapi mungkin juga kita masih mencari apa arti keberhasilan atau kebahagiaan itu. Pagi ini kita diingatkan bahwa bagi kita masih ada kesempatan untuk belajar lagi melalui firman Tuhan tentang apa yang benar-benar baik dalam hidup ini: bahwa hidup menurut perintahNya akan memberi rasa sejahtera dalam hidup kita.

Amin?

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”  Filipi 4: 6


Amin!

Kata “amin” mungkin sering kita dengar atau ucapkan, pada akhir sebuah doa atau jika kita ingin mengiyakan ucapan teman. “Amin” adalah sebuah kata yang benar-benar serius artinya, tetapi banyak orang mengucapkannya seolah dengan santai dan bahkan untuk sekedar humor. Kata ini muncul dalam Alkitab, baik PL maupun PB, berulang kali. Tidak hanya dalam doa, tetapi juga dalam hal-hal ritual yang lain. 

Kata “amin” juga diucapkan untuk mengakhiri doa Bapa kami (Matius 6: 9-13). Seirama dengan isi doa itu, kata itu bisa diartikan “biarlah itu terjadi seperti yang dikendaki Tuhan”. Kata yang sama dengan arti yang serupa muncul dalam bahasa Ibrani, Arab dan Aramaik dan karena itu dipakai dalam agama Judaisme, Kristen dan Islam.

Walaupun kata “amin” nampaknya mengandung arti yang baik, banyak orang Kristen yang kurang memahami arti dan konsekuensinya, terutama dalam sebuah doa permohonan. Seringkali orang mengucapkan kata ini sebagai mantra dengan maksud “biarlah yang kita doakan digenapi Tuhan”.  Agaknya, doa yang demikian adalah daftar keinginan kolektif yang kita setujui bersama agar dilakukan Tuhan.

Doa adalah sebuah komunikasi langsung antara umat percaya dengan Tuhannya. Dalam ayat diatas, kita dianjurkan untuk berdoa dan memohon pertolongan Tuhan dengan bersyukur dan bukannya hidup dalam kekuatiran. Tetapi, bukankah Tuhan sudah tahu apa yang kita perlukan dan bahkan tahu apa yang akan kita doakan? Untuk apa berdoa dan untuk apa mengamininya?

Doa yang berakhir dengan kata “amin” sebenarnya adalah sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa. Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Jika doa kita berakhir dengan kata “amin”, itu seharusnya berarti “jadilah seperti kehendakMu” dan bukannya “biarlah yang kita doakan digenapi Tuhan”.

“Amin” juga dapat diartikan sebagai “dengan sesungguhnya”. Dalam doa kita dengan sejujurnya benar-benar mengakui Tuhan dengan segala atributNya. Dengan sesungguhnya kita juga mengakui kelemahan kita dan ketergantungan kita kepada Tuhan. Doa dengan kata amin seharusnya juga merupakan penyerahan seluruh hidup kita kepada pimpinanNya.

Pagi ini jika kita berdoa dan mengakhiri doa kita dengan kata “amin”, hendaknya kita sadar bahwa kata ini bukanlah dimaksudkan untuk berbunyi “kabulkanlah doaku”; tetapi sebaliknya berarti “aku menyerahkan hidupku”. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk hidup kita!

Tidurlah intan…

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman. Mazmur 4: 8

Mungkin anda masih ingat akan lagu-lagu gubahan almarhum R. Soetedjo juga terkenal di Eropa terutama di Negara Belanda. Misalnya lagu  “Waarom huil je toch Nona Manis”. Semua lagu ciptaan Soetedjo memang nyaman didengar, tetapi yang paling sering saya dengar adalah lagu “Tidurlah Intan”  yang pernah dinyanyikan oleh Waljinah, Broery Marantika, Hetty Koes Endang dll.

Tidurlah Intan, tidurlah anakku manis

Hari sudah malam, pejamkanlah mata

Tidurlah Intan, tidurlah kekasih hati

Esok hari kita bermain kembali


Hal tidur adalah suatu yang penting bagi semua mahluk ciptaan Tuhan. Tidur adalah kesempatan untuk beristirahat, untuk memulihkan kesegaran tubuh manusia. Tuhanlah yang menciptakan sistem istirahat teratur, termasuk istirahat pada hari ketujuh. Kebutuhan tidur dan istirahat mengingatkan kita bahwa kita adalah ciptaan Tuhan dan bukan pencipta alam.

Manusia memerlukan jumlah jam tidur yang cukup menurut umur mereka. Tanpa tidur yang cukup, tubuh manusia tidak dapat berfungsi dengan baik dan akan mudah jatuh sakit. Masalahnya, dalam hidup ini kita sering tidak atau kurang bisa tidur karena berbagai persoalan atau tugas. Kalaupun cukup jumlah jam tidur kita, kualitasnya mungkin kurang baik karena tidak bisa lelap. Masalah ini dihadapi banyak orang di dunia sehingga kasus adiksi obat tidur dan obat penenang bertambah parah.

Mengapa manusia sering tidak bisa tidur? Ada banyak sebabnya. Manusia sering kuatir akan apa yang belum terjadi. Manusia ingin mendapat kepastian tentang masa depan, tetapi merasa tidak bisa menentukannya. Manusia juga sering lemah dan mudah tergoda, tetapi dosa menyebabkan penyesalan atau keterikatan yang mengganggu tidurnya. Manusia juga sering kurang berdisiplin dalam hidup sehingga ritme hidup menjadi acak dan kesehatan mereka tidak terjaga. Manusia juga banyak yang mengalami penderitaan jasmani atau rohani, dan karena itu tidurpun menjadi bagian penderitaan dan kehampaan. Manusia kurang bisa berserah kepada Tuhan yang bisa memberi istirahat yang baik untuk tubuh dan jiwa kita.

Rasul Petrus pernah mengalami saat dimana ia dipenjara dan akan menghadapi pengadilan masa esok harinya. Dalam keadaan demikian, ia tetap dapat tidur nyenyak; sampai-sampai malaikat yang datang harus menepuk Petrus untuk membangunkannya:

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Kisah Para Rasul 12: 6-7.

Bagaimana Petrus dapat tidur nyenyak dalam keadaan kritis seperti itu? Jelas bahwa ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dengan sepenuhnya.

Jika anda bangun pagi ini dan merasa masih mengantuk, mungkin tidur anda kurang cukup atau kurang lelap. Apapun sebabnya, anda mungkin akan merasa lebih sulit untuk bersyukur kepada Tuhan dan mendengarkan suaraNya. Tubuh yang lelah dan pikiran yang berat seolah membuat tembok pemisah antara kita dengan Tuhan kita. Jika kita tidak dapat memperbaiki gaya hidup kita, masalah kurang tidur ini akan pelan-pelan menghancurkan jasmani dan rohani kita. Karena itu marilah pada pagi ini kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Hanya Tuhan lah yang bisa memberi kita rasa tenang dan aman!

Usia tidak menjamin kematangan

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4: 12

Masa muda biasanya adalah masa dimana seseorang masih banyak belajar. Dalam masa itu biasanya orang belum mempunyai pandangan hidup yang jelas, hidup serampangan, dan kurang bijaksana. Kebanyakan mereka berusaha menikmati hidup hari ini dan sebisa mungkin menghindari tanggung jawab atau kewajiban. Mereka juga yakin hidupnya masih panjang, dan karena itu agaknya tidak takut mati.

Orang tua sering mengelus dada jika mereka melihat anak muda yang hidupnya ugal-ugalan, apalagi di jaman kebebasan sekarang ini. Orang dewasa sering memandang rendah mereka yang masih terombang-ambing dalam menghadapi masa depannya itu. Perkataan mereka, tingkah laku, dan hidup mereka yang kurang mengenal arti kasih, pengorbanan, kesetiaan dan kesucian, sering menjadi bahan diskusi orang dewasa.

Paulus dalam ayat diatas menulis kepada Timotius yang masih muda agar jangan mengikuti stereotipe anak muda, melainkan hidup sebagai anak Tuhan sehingga orang lain tidak memandang rendah dirinya. Timotius malahan diharapkan menjadi contoh untuk orang lain, termasuk orang yang lebih dewasa!

Kebalikan dari masa muda, masa dewasa sering  ditandai dengan karir yang sudah mantap dan keberhasilan dalam hal mencukupi kebutuhan hidup. Malahan, dengan bertambahnya umur, kepercayaan diri sendiri makin bertambah besar dan kemampuan untuk menikmati hidup juga meningkat. Hidup pun seringkali bisa lebih meriah jika dibandingkan dengan hidup anak muda. Apalagi kesadaran bahwa hidup ini hanya sekali, membuat mereka yang berumur cenderung untuk bersuka-ria dan menikmati hidup selagi kesempatan masih ada. Karena itu kepekaan akan keadaan orang lain, yang  menderita dan belum mengenal Kristus, juga bisa memudar. Seringkali dengan kemampuan  yang ada, mereka melakukan hal-hal yang sama dan seringkali lebih “hebat” jika dibandingkan dengan apa yang sering dilakukan anak-anak muda di dunia nyata maupun maya.

Sebagai orang Kristen, adalah kenyataan bahwa semua orang dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak Tuhan yang bijaksana, yang bisa memberi contoh yang baik untuk semua orang. Malahan, sebagai orang yang sudah cukup umur, orang diharapkan untuk lebih bisa menjadi teladan. Mereka juga diharapkan untuk lebih bisa mawas diri dan lebih peduli atas orang lain. 

Pagi ini kita diingatkan bahwa nasihat Paulus kepada Timotius berlaku untuk semua umur, yaitu agar kita bisa menjadi teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataan kita,  dalam tingkah laku kita, dalam kasih,  kesetiaan dan dalam kesucian kita. Mereka yang lebih tua juga harus lebih bisa menunjukkan apa arti hidup baru didalam Kristus. Jangan sampai mereka yang lebih dulu mengenal Tuhan menjadi mereka yang paling terbelakang dalam menjalankan perintahNya.

“Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran.” Amsal 16: 31

Apakah anda betul-betul pernah ke gereja?

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10: 25

Hari Minggu. Hari libur dimana banyak orang Kristen pergi ke gereja dan hari dimana kita mungkin bisa melihat acara kebaktian gereja di layar TV. Hari Minggu juga hari kedua dari liburan akhir pekan, walaupun hari itu adalah hari kerja pertama pada banyak negara islam. Hari Minggu adalah hari yang dianggap sebagai hari Sabat, hari untuk berhenti bekerja bagi banyak orang Kristen. Ke gereja? Untuk apa?


Banyak orang ke gereja dan banyak juga alasannya. Begitu pula banyak orang tidak ke gereja dengan berbagai sebab. Banyak juga orang yang ke gereja atau tidak ke gereja tanpa sebab yang pasti.

Gereja bisa berarti persekutuan orang percaya, gereja juga bisa berarti rumah Tuhan, tetapi gereja sering diartikan sebagai gedung pertemuan orang Kristen. Orang bisa ke gereja sebagai orang Kristen tetapi tidak semua orang yang ke gereja menjumpai Tuhan. Sebagian orang ke gereja menjumpai manusia dan menikmati persekutuan dengan sesama. Sepertinya lumrah dan tidak ada salahnya. Ke gereja, mengikuti kebaktian, bertemu teman, lalu pulang. Sebagian orang Kristen malah bisa merasa ke gereja dengan mengikuti acara gereja di TV – tidak perlu naik mobil dan repot mencari tempat parkir!

Bagi mereka yang mengerti, gereja adalah tubuh kita karena Roh Kudus tinggal dalam diri tiap orang percaya:

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1 Korintus 3: 16

Karena itu setiap orang Kristen harus hidup dalam kekudusan setiap hari, dan bukan pada hari Minggu saja. Siapa yang menyia-nyiakan hidupnya berarti mengabaikan Tuhan dan menelantarkan gereja!

Gereja juga tempat yang kudus dan harus dipakai untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk meninggikan manusia. Bukan sebuah pertemuan organisasi untuk merencanakan suatu event atau merayakan kesuksesan organisasi atau perseorangan. Gereja bukanlah rumah sarang penyamun, bukan juga tempat bisnis!

“Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Markus 11: 17

Setiap orang percaya adalah gereja, dan pada hari Minggu mereka bersama-sama bersekutu untuk mendengarkan Firman, berdoa, saling menyapa dan menguatkan. Saling menasihati, agar mereka dapat hidup dengan baik sesuai dengan Firman. Untuk umat percaya, gereja adalah hidup dan hidup adalah gereja, dan karena itu tidak dapat digantikan dengan benda-benda mati seperti TV, internet dan radio.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai rumah Tuhan, kita harus bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan giat bersekutu dengan saudara seiman untuk memuliakan Tuhan kita. Jangan sampai kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, sekalipun dunia modern ini penuh dengan daya penariknya sendiri.  Jangan juga kita bersekutu dengan hati yang mati dan dingin, tetapi marilah kita saling mengasihi, menguatkan, mendoakan dan menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat!

 When the going gets tough…

“Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.” Markus 4: 39

Pagi ini, segera setelah bangun tidur saya keluar dari kamar menuju ke balkoni belakang untuk melihat matahari terbit. Laut terlihat sangat tenang dan beberapa perahu terlihat berhenti disana, mungkin dengan penumpang yang masih tidur beristirahat. Suasana tenang dan barangkali mereka sedang bermimpi indah.

Murid-murid Yesus menurut kitab Markus diatas mungkin juga berperahu sambil  menikmati pemandangan ketika mereka menyeberangi laut Galilea yang juga dinamakan laut Tibereas. Laut ini sebenarnya adalah danau air tawar terbesar di Israel, sekitar 20 km panjangnya dan 10 km lebarnya dengan kedalaman 45 meter. Ketenangan danau itu tiba-tiba berubah diganti dengan kekacauan dan ketakutan ketika angin topan datang, yang membuat perahu mereka hampir karam.

Datangnya topan dan ombak membuat murid-murid menjadi was-was. Tetapi, sebagai penangkap ikan, sebagian mungkin sudah terbiasa menghadapi ombak besar seperti itu. Seperti semboyan “When the going gets tough, the tough gets going” (Jika keadaan makin buruk mereka yang kuat tetap bertahan), mereka awalnya tentu berusaha untuk mengatasi keadaan. Semboyan ini adalah semboyan lama dalam bahasa Inggris yang mungkin diperkenalkan oleh presiden Kennedy dari Amerika Serikat. Semboyan ini sering dipakai untuk memotivasi orang-orang yang mengalami persoalan/tantangan agar tetap bertahan. Tetapi sekalipun mereka yang kuat dan berpengalaman dengan ombak besar, ternyata keadaan menjadi sangat buruk sehingga mereka harus membangunkan Yesus.

Sekuat-kuatnya manusia, tentu ada keadaan yang membuat mereka kuatir. Dengan pikiran sehat kita tentu pernah mengalami bahwa ada saatnya kita merasa takut dan kuatir karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Orang disekitar kita mungkin bermaksud baik dengan menyokong kita, membesarkan hati kita sambil berkata “When the going gets tough, the tough gets going”. Tetapi siapakah yang berani mengaku bahwa dirinya “tough” atau “kuat” dalam gelombang hidup yang besar? Kita adalah manusia yang sebenarnya kecil dibandingkan dengan gunung persoalan dan tantangan yang kita hadapi.

Seperti murid-murid Yesus kita pernah merasa lemah dan tak berdaya. Tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Tidak ada nasihat dan semboyan yang bisa membesarkan hati kita. When the going gets tough, the tough gets going…. Bukan aku, Tuhan!

Pada waktu murid-murid menyadari ketidak-berdayaan mereka, mereka menjerit memanggil Yesus.  Mereka membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Dalam keadaan darurat seperti itu mereka sadar bahwa harapan satu-satunya adalah pada Ia yang benar- benar “tough”, yang benar-benar berkuasa, Tuhan Yesus.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita tidak diharapkan untuk selalu menang dan selalu bersemangat untuk bisa menang dalam hidup ini. Bukan seperti yang dipidatokan banyak motivator di TV dan seminar. Adakalanya kita harus merasa kalah, ada saatnya kita menyerah, untuk bisa menjerit kepada Tuhan. Meminta tolong kepada Dia yang mahakuasa dan mahakasih. Dan Ia akan menghardik topan kehidupan kita dan berkata: “Diam! Tenanglah!”

Mungkin kita sudah mengalami berbagai topan kehidupan di masa lalu. Ingatkah anda bahwa ketika topan itu reda dan hidup kita menjadi teduh kembali,  Yesus berkata kepada kita: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

Mau hidup berapa lama?

“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” Mazmur 90: 10

Baik tua maupun muda, dalam hidup di dunia ini, semua orang tentu pernah memikirkan beberapa hal ini:

  • Berapa lama aku mau hidup?
  • Berapa lama aku akan hidup?
  • Untuk apa aku hidup?
  • Apakah aku puas dengan hidupku?
  • Bagaimana akhir hidupku?
  • Apa yang terjadi seusai hidupku di dunia ini?

Bagi sebagian orang, sebagian pertanyaan ini mungkin sudah terjawab. Sebagian tetap merupakan tanda tanya, dan sebagian lain mungkin belum/tidak mau dipikirkan.

Membaca Mazmur diatas, agaknya mengherankan juga bahwa walaupun ada banyak perubahan cara hidup, kita yang hidup di jaman modern ini masih juga mempunyai umur maksimum sekitar 70-80 tahunan, walaupun ada juga yang bisa mencapai umur lebih dari 100 tahun seperti yang ditulis dalam kitab Kejadian 6: 3:

Berfirmanlah TUHAN: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.”

Punya umur panjang memang adalah impian manusia. Menarik sekali bahwa menurut buku rekor dunia Guinness, manusia modern yang tertua di dunia adalah Jeanne Louise Calment yang umurnya 122 tahun dan 164 hari yang meninggal tanggal 4 Augustus 1997 di Arles, Prancis.

Di jaman ini, banyak manusia  yang berusaha untuk memperpanjang umurnya dengan berbagai cara. Dari olahraga, diet, obat/obatan, operasi medis dll. sampai yoga, semedhi dan ritual agama. Tetapi tidak ada seorangpun yang tahu kapan saat untuk pergi. Usaha memperpanjang umur sering juga berlanjut dengan pergulatan mencari arti hidup kalaupun diberi umur panjang.

Dalam hidup, terutama untuk kita yang sudah dewasa, memang sering kita mencari arti hidup itu. Terutama bagi kita yang merasa bahwa hidup yang ada belumlah membawa apa yang kita harapkan, kekosongan hati menimbulkan pertanyaan apa lagi yang dapat dilakukan dalam sisa hidup ini. Walaupun demikian, mereka yang kelihatannya sukses dalam hidupnya seringkali juga masih mempertanyakan kalau-kalau makna hidup ini seharusnya lebih dari apa yang ada. Karena itu, kurun waktu 80 tahun atau 120 tahun itu bisa terasa sangat panjang.  Banyak orang yang tidak mau hidup selama itu, bahkan berusaha memperpendek umurnya, karena kehampaan,  kesukaran dan penderitaan yang ada. 

Dengan bertambahnya umur, manusia umumnya akan menyadari bahwa hidup ini ternyata tidak sepanjang yang diharapkan pada awalnya. Apalagi, jika ada teman atau sanak yang diluar dugaan mendahului kita.  Bayangan tentang hidup di hari tua mungkin mulai terasa, mungkin sejak melihat orang tua kita yang mulai menua atau mungkin juga setelah kita sendiri merasa bahwa kita tidak muda lagi. Hidup di dunia ini memang bisa terasa pendek bila kita sadar bahwa itu dapat berakhir dengan buru-buru, tiba-tiba, diluar kontrol manusia.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya kita harus yakin bahwa hidup kita bukannya milik kita lagi.  Kita yang hidup saat ini, dengan iman juga kita meyakini bahwa hidup kita tidak akan berakhir dengan apa yang kita capai di dunia ini. Hidup kita memang pendek di dunia ini, tetapi kekekalan dan kebahagiaan surgawi sudah dapat kita mulai rasakan dan yakini sejak sekarang juga. Mau hidup berapa lama bukanlah pertanyaan untuk orang percaya karena mereka sudah hidup dengan Tuhan sekarang dan selama-lamanya!

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2: 20

Jangan takut, tapi berhati-hatilah!

 “Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.” 2 Yohanes 1:7 

Sebagai umat Kristen kita mungkin sering mempunyai rasa was-was jika kita mendengar tentang atau melihat keadaan dimana pengikut Kristus mengalami persekusi, penistaan dan kekacauan. Kuatir kalau hal-hal itu disebabkan oleh usaha Antikristus untuk menghancurkan umatNya. Menurut pandangan Kristen, Antikristus adalah kekuatan jahat yang dinubuatkan Alkitab yang akan menjadi musuh Kristus, yang akan menyesatkan banyak orang. Dalam pengajaran Islam, Antikristus adalah Dajjal, yang diramalkan akan bertarung dengan Isa (Yesus Kristus).

Sudah merupakan naluri manusia bahwa di jaman apapun, manusia selalu ingin tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu dari jaman ke jaman, berbagai ramalan telah dibuat oleh  mereka yang mempunyai obsesi tentang siapa Antikristus itu. Selain itu ada orang-orang yang berusaha mengail ikan di air keruh dengan membuat cerita-cerita khayal demi sensasi dan kepuasan pribadi. Orang yang membaca cerita-cerita semacam itu akhirnya bisa hidup dalam ketakutan atau kekecewaaan; keduanya tidak membantu pertumbuhan iman.

Surat 2 Tesalonika 2:3-4 memberi sedikit gambaran tentang Antikristus:

“Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.”

Jelas bahwa Antikristus itu adalah manusia yang sangat berpengaruh dan mau menyaingi Allah. Walaupun demikian, Alkitab tidak pernah menyatakan sesuatu yang spesifik mengenai dari mana si Antikristus akan muncul. Tidak juga menyatakan bahwa Antikristus itu harus berupa satu orang dari negara tertentu. Tidak juga secara khusus menerangkan bahwa benda-benda seperti credit card dan microchip adalah alat-alat Antikristus. Semua ramalan-ramalan tentang itu secara umum hanyalah spekulasi yang serupa dengan ramalan tukang nujum pinggir jalan.

Selama ini, ketidaktahuan manusia tentang siapa Antikristus itu seharusnya sudah bisa menyadarkan mereka yang takut dan kuatir. Martin Luther yakin bahwa Paus pada zamannya adalah Antikristus. Selama masa tahun 1940-an, banyak orang yang meyakini kalau Adolph Hitler adalah si Antikristus. Nama lain dalam beberapa  tahun terakhir ini juga seringkali dikait-kaitkan dengan Antikristus: Vladimir Putin, Paus Fransiskus I,  mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Barack Obama dan Donald Trump. Jelas daftar ini akan bertambah panjang di masa depan.

Sejauh ini, semua spekulasi-spekulasi ini terbukti salah dan apa yang dikuatirkan umat kristen belum terjadi. Karena itu kita seharusnya berhenti berspekulasi, menghilangkan ketakutan dan kekuatiran, tetapi mau berwaspada agar kita tetap bisa beribadah secara benar dengan iman yang teguh.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah. Dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.” 1 Yohanes 4:1-4

Pagi ini marilah kita berdoa agar kita tetap kuat dan bersatu bersama dengan saudara-saudara seiman, saling mengasihi satu dengan yang lain, dan berusaha untuk saling menguatkan dan saling belajar dari yang lain; agar kita bisa makin kuat, bersatu dan bijaksana untuk menghadapi kekuatan-kekuatan jahat yang berusaha menghancurkan iman kita. Terpujilah Tuhan semesta alam yang mengasihi umatNya!

Aduh mak, kepala sakit!

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Matius 6: 25

Siapakah yang tidak pernah stress dalam hidup di dunia? Semua orang pasti pernah mengalaminya. Adalah kenyataan bahwa manusia jaman sekarang, terutama di dunia Barat, mengalami stress adalah hal yang sangat umum sehingga konsumsi obat penenang, pain killer dan minuman keras makin meningkat. Keadaan bertambah parah dengan data-data yang menunjukkan bahwa anak mudapun sekarang mengalami stress yang luar biasa dalam hidup mereka.

Pada tahun 60an,  murid SD umumnya hanya mementingkan soal belajar menulis, membaca dan berhitung. Hidup sebagai murid SD saat itu cukup nyaman. Saat itu, murid SD hanya belajar bahasa Indonesia dan tidak perlu belajar bahasa Inggris atau bahasa lain. Saya waktu itu hanya punya buku teks bahasa Indonesia karangan Purwadarminta. Buku “Bahasaku” berisi pelajaran bahasa yang pada umumnya berisi teks dan pertanyaan, dan juga mempunyai latihan-latihan yang sekarang mungkin lebih dikenal dengan sebutan pelajaran tata bahasa.

Di jaman ini, sekolah bisa menjadi tempat yang menakutkan. Sekolah tidak hanya tempat belajar, tapi juga tempat untuk memamerkan pakaian, tas, mobile phone dan bahkan mobil orang tua. Seusai sekolah, kehangatan rumah yang dirindukan mungkin diganti dengan kecerewetan orang tua yang mengingatkan anak untuk mengikuti les tambahan ini atau kursus itu. Belum lagi tumpukan pekerjaan rumah, latihan untuk mengulang pelajaran di sekolah dsb. Tidaklah mengherankan, bila banyak anak-anak mengalami stress luar biasa di sekolah. Alasan sakit kepala, sakit perut dan mules pada jam berangkat ke sekolah sering terjadi karena stress.

Kita yang sudah berumurpun tetap sering mengalami stress. Melihat keadaan di sekitar kita, membayangkan apa yang mungkin terjadi pada kita, anak-cucu dan masyarakat kita di masa depan, bisa membuat sakit kepala dan depresi. Apalagi, dengan meningkatnya umur, kemampuan fisik, mental dan materiil mungkin sudah mulai terasa berkurang. Akibatnya rasa kuatir, takut dan sedih mungkin meningkat dan menjadi stress.

Sebagai manusia, merasa kuatir, takut dan sedih adalah normal. Stress adalah reaksi manusia terhadap berbagai “stressor”, hal-hal yang menantang kita. Mengabaikan adanya masalah, resiko dan bahaya adalah kebodohan dan kesembronoan. Yesuspun mengalami stress ketika Ia berdoa di taman Getsemane, sampai-sampai keringatnya bercucuran seperti darah (Lukas 22: 44). Yesus karena itu dapat memahami bagaimana manusia dalam kelemahannya sering mengalami stress.

Pagi hari ini kita diingatkan bahwa ada banyak hal yang bisa membuat kepala kita sakit. Tetapi, seperti Yesus yang telah menang, kitapun bisa menang kalau kita menyadari apa yang terjadi dalam hidup kita dan tahu bagaimana cara menghindari atau mengatasinya:

  1. Dosa dan kesalahan masa lalu: sering membuat manusia tidak bahagia hidupnya. Stress bisa diakibatkan oleh kenangan masa lalu yang belum terhapus sampai sekarang. Mungkin stress adalah peringatan Tuhan agar kita mau meminta ampun akan hal-hal itu. Tetapi jika kita sudah meminta ampun dan mengubah hidup kita, mintalah pertolongan Tuhan untuk penguatan dan perlindungan dari tuduhan-tuduhan iblis.
  2. Kekuatiran akan sesuatu yang belum (tentu) terjadi: seringkali menguji iman kita. Stress dalam hal ini bisa mengingatkan kita agar kita diam dan mengakui bahwa Allah kita adalah Allah yang berkuasa.  Kita harus menyerahkan segala kekuatiran kita kepadaNya sebab Ia yang memelihara kita.
  3. Kebutuhan akan sesuatu: sering membuat kita mempertanyakan apakah yang akan Tuhan lakukan di masa depan. Yesus berkata bahwa kita tidak perlu kuatir akan apa yang hendak kita makan atau minum, atau apa yang hendak kita pakai.
  4. Keinginan untuk menonjolkan keberhasilan: kecenderungan untuk “show” bisa membuat manusia menjadi sombong dan rakus. Tuntutan untuk mendapat pujian dari orang disekeliling kita lambat laun akan mejadi obsesi. Kekuatiran kalau popularitas jadi menurun bisa membuat manusia jadi stress.
  5. Hidup yang kurang berdisplin: bisa membuat tubuh kita lemah. Ada banyak orang kristen yang ingin melayani Tuhan dengan sepenuh hati tapi terjerumus dalam kesibukan-kesibukan yang diluar kemampuan. Akibatnya keluarga berantakan, hubungan orang tua dan anak menjadi dingin dan tubuh kitapun jadi lelah karena kurang tidur atau isirahat.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”  1 Petrus 5: 7