Dari mata turun ke hati

Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Lukas 11: 34

Ingatkah anda akan syair lagu ini?

Dari manakah datang datangnya lintah, darilah sawah turun turun ke kali

Darimanakah datang datangnya cinta, dari mata ke hati

Syair ini cukup dikenal dan mungkin sering mucul dalam lagu-lagu Melayu tempo dulu. Memang sepertinya semua orang mengalami bahwa jika kita pernah jatuh cinta kepada seseorang, awalnya dimulai dari mata yang melihat adanya daya tarik dalam diri orang itu. Dari apa yang dilihat mata, cepat atau lambat berubah menjadi rasa suka di hati. Begitu pula jika kita pergi shopping, sebelum kita rela mengeluarkan uang dari dompet kita, mata kita harus tertarik dan pikiran kita mengiyakan atas pilihan kita.

Mata adalah salah satu panca indera manusia yang penting karena melalui mata kita menerima input dari dunia luar. Tetapi mata bukan harus berupa sepasang lensa yang bisa membedakan terang dan gelap, obyek yang berhenti atau bergerak, dan warna-warni bunga disekitar kita; mata juga bisa melihat dan membedakan apa yang sedap dipandang dan apa yang menyebalkan. Mata juga bisa berupa mata rohani yang bisa melihat apa yang adil dan apa yang tidak adil, apa yang tulus dan apa yang culas, dan bisa membedakan hal-hal yang baik dari hal-hal yang jahat. Dalam Kejadian 3: 5, Hawa melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lalu ia memakannya dan juga membaginya dengan Adam. Hawa juga membuat kekeliruan dengan mata rohaninya yang membuat ia berpikir bahwa buah itu akan membuatnya menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.

Baik mata jasmani dan mata rohani keduanya memang diperlukan manusia, sebab apa yang dilihat mata jasmani belum tentu bisa dilihat oleh mata rohani dan sebaliknya apa yang dilihat mata rohani belum tentu tampak didepan mata jasmani. Kita tahu bahwa setelah Yesus naik ke surga, Ia menampakkan diri kepada umatnya yang bisa melihat Yesus dengan mata rohani mereka. Memang Yesus jauh di mata, tetapi Ia tetap dekat di hati murid-muridNya. Kitapun sebagai orang yang beriman bisa melihat Yesus, tetapi mereka yang tidak percaya dibutakan mata rohaninya (2 Korintus 4: 4).

Informasi apapun yang masuk sebagai input melalui mata jasmani dan mata rohani kita sudah sewajarnya diteruskan ke tempat lain untuk di proses. Pikiran dan hati kita memproses apa yang kita lihat dalam hidup kita – dari mata turun ke hati. Dalam hidup di dunia ini, sayang bahwa kita tidak selalu mendapatkan informasi yang baik; ada kalanya informasi itu hanya hal yang kosong tidak berarti, tetapi mungkin juga hal yang buruk atau sesuatu yang baik. Mata menerima informasi itu ke pikiran dan hati kita dan disanalah apa yang kita terima berubah menjadi sesuatu yang baik atau buruk untuk hidup kita. Jika apa yang kita lihat selalu hal-hal yang buruk, jika apa yang kita terima adalah selalu hal yang salah dan bertentangan dengan Firman, cepat atau lambat hati dan pikiran kita akan diracuninya dan kita akan berbuat sesuatu yang tidak benar.

Memang mata jasmani dan rohani terbukti bisa menaklukkan banyak anak Tuhan. Mereka yang kuat seperti Simson bisa jatuh setelah melihat perempuan Filistin dan Daudpun jatuh dalam dosa setelah melihat Batsyeba. Tetapi mata kita  tidak hanya bisa tergoda oleh penampilan fisik. Kesuksesan, kekayaan, makanan, kepandaian, ketenaran orang lain yang kita lihat, juga bisa menjatuhkan kita. Lebih dari itu, jika mata kita terbiasa dengan melihat ketidak-adilan dan ketidak-jujuran, hati kitapun menjadi terbiasa dan kebal atas hal-hal itu. Apabila mata kita tertarik dan terbiasa akan kegelapan, kejahatan dan kekotoran dunia, maka hal-hal itu akan mengisi hati dan merusak hidup kita.

Dari mata turun ke hati, tetapi sering terjadi tanpa kita sadari. Benarkah?  Tidak seharusnya! Yesus berkata bahwa mata adalah sesuatu yang ada dalam kontrol kita:

“Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.” Matius 18: 9

Hari ini kita diingatkan bahwa apa yang kita biasa lihat dalam kehidupan kita akan mempengaruhi pandangan hidup kita. Jika kita gemar melihat dan menikmati hal-hal yang kurang baik, hati kita pun menjadi kotor. Jika mata kita tidak peka akan apa yang baik dan jahat, hati kitapun berubah menjadi kacau. Jika mata kita tertarik akan hal-hal yang tidak berguna, hati kita jadi kosong. Karena itu kita harus selalu memohon agar Roh Kudus bisa mencelikkan mata kita untuk dapat memilih apa yang baik dan berguna serta menghindari atau membuang apa yang buruk. Kita harus sadar bahwa jauh di mata, jauh di hati; jika kita bisa menghindari hal-hal yang salah, hati kita akan tetap bersih!

Maaf, tidak sedia gado-gado!

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” Roma 16: 17

Kita semua tentu tahu apa gado-gado itu. Makanan yang sangat populer di Indonesia dan juga diluar negeri, terutama di Belanda. Salad campur yang berbumbu kacang itu juga termasuk favorit saya, walaupun saya kurang suka ketimun dan kubisnya. Karena itu saya biasanya pesan gado-gado tanpa sayur-sayur itu. Memang itulah enaknya, gado-gado bisa disesuaikan dengan selera pembeli.

Kalau gado-gado dibuat dari berbagai jenis makanan yang setelah dicampur mempunyai rasa “sreg”, istilah “gado-gado” biasanya dipakai untuk menunjuk pada suatu campuran berbagai hal yang kurang cocok. Penampilan “gado-gado” misalnya, adalah penampilan campur aduk yang tidak memberi kesan bersatu dan harmonis.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, mengingatkan agar jemaat berhati-hati akan mereka yang  mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan pengajaran yang telah mereka terima sebelumnya, yang menimbulkan perpecahan dan godaan. Pengajaran “gado-gado” yang kacau dan menyesatkan, yang membuat jemaat menjadi bingung.

Paulus lebih lanjut menjelaskan (Roma 16: 18) bahwa pemimpin-pemimpin umat yang demikian tidak melayani Kristus, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis bagaikan gado-gado, mereka menipu jemaat yang tidak sadar akan hal itu. Mereka dengan semangat berkobar-kobar menarik perhatian jemaat yang hanya menginginkan sesuatu yang sedap untuk didengar telinga mereka.

Memang manusia dari awalnya selalu tertarik akan hal-hal yang “enak” dan “hebat” daripada hal-hal yang benar. Mereka di jaman ini lebih senang mendengar “kabar baik” yang memberikan kesan bahwa orang percaya pasti hidup dalam keberhasilan karena Tuhan maha kasih. Mereka juga ada yang yakin bahwa Tuhan mengasihi semua manusia termasuk mereka yang memilih untuk tetap hidup dalam dosa. Ada juga yang imannya bergantung pada keajaiban-keajaiban yang terjadi dalam gereja. 

Hari Minggu ini jika kita ke gereja, kita tentunya bermaksud untuk berbakti kepada Tuhan dan mendengarkan FirmanNya. Tetapi sadarkah kita bahwa ada kemungkinan bahwa kita akan menjumpai “gado-gado” dalam menu gereja?

Gado-gado bisa kita jumpai di gereja antara lain ketika kita melihat adanya hal-hal ini:

  1. Firman Tuhan disampaikan dengan campuran pendapat/pengalaman pribadi yang muluk-muluk dan tidak alkitabiah.
  2. Puji-pujian dinyanyikan untuk membangkitkan gairah jemaat dan kebaktian menjadi  “show besar” guna memenuhi keinginan manusia saja.
  3. Kebaktian sepertinya untuk memuliakan Tuhan tetapi sebenarnya untuk mencapai maksud-maksud eksklusip golongan/orang tertentu.
  4. Firman Tuhan disampaikan dengan bumbu pemanis dan bahan penyedap supaya bisa menyenangkan dan memuaskan keinginan jemaat.
  5. Firman Tuhan dicampur dengan pesan-pesan lain untuk memotivasi jemaat. Firman Tuhan  berubah menjadi pesan pemikiran positip saja.

Sebagai umat kristen kita harus senantiasa berwaspada jika kita menjumpai lingkungan yang tidak membawa kita kepada Firman, yang tidak berlandaskan Alkitab dan yang tidak memberitakan Firman. Kita harus tahu mana/siapa yang menghidangkan “gado-gado” dan mana yang tidak. Bersyukurlah jika anda bisa melihat tanda “Maaf, tidak sedia gado-gado!” di gereja anda pada hari Minggu ini!

Mens sana in corpore sano?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Mens sana in corpore sano adalah suatu semboyan bahasa Latin yang bisa diartikan “jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat”. Semboyan ini biasanya dipakai untuk menekankan pentingnya olahraga dan kesehatan tubuh untuk menjaga kesehatan kejiwaan. Presiden pertama RI, Bung Karno, mempopulerkan semboyan ini karena tekadnya untuk menjadikan Indonesia salah satu dari 10 besar dunia di bidang olahraga.

Kita sekarang menyadari bahwa hubungan antara kesehatan jasmani dan kesehatan rohani tidaklah semudah yang diutarakan semboyan itu. Tubuh tidak lebih penting dari jiwa dan tidak menjamin sehatnya jiwa. Dalam tubuh yang sehat mungkin saja ada jiwa yang sakit, dan sebaliknya dalam tubuh yang sakit mungkin saja ada jiwa yang sehat. Kita mungkin sering menjumpai olahragawan dan olahragawati yang prestasinya hebat tapi kesehatan jiwanya perlu dipertanyakan karena cara hidupnya yang berantakan. Sebaliknya, ada banyak orang yang sakit atau tidak sempurna fisiknya tetapi mampu mencapai prestasi kehidupan yang hebat, dengan menggunakan pikiran dan hati mereka secara bijaksana.

Rasul Paulus sendiri ternyata adalah orang yang kurang sehat jasmaninya. Ia menulis dalam 2 Korintus 12: 7 bahwa ia diberi suatu duri dalam tubuhnya, mungkin suatu penyakit kronis dan menyusahkan dia, yang hanya bisa kita duga tetapi tidak bisa kita pastikan jenisnya. Walaupun demikian, dalam penderitaannya Paulus bisa menulis banyak pengajaran dan nasihat kepada banyak umat kristen di berbagai tempat. Tuhan memberi Paulus jiwa yang sehat walaupun tubuhnya merasakan penderitaan sampai akhir hayat.

Sebagai orang kristen memang kita percaya bahwa tubuh manusia mempunyai dua bagian, tubuh jasmani dan tubuh rohani, yang dinamakan tubuh dan jiwa (sebagian orang kristen membagi rohani dalam dua jenis yaitu jiwa dan roh). Karena tubuh jasmani kita ini akhirnya akan lenyap pada saat yang ditentukan Tuhan, banyak orang berpikir bahwa tubuh adalah tidak penting dan kurang berharga jika dibandingkan dengan jiwa. Tetapi pandangan semacam itu tidak dapat dibenarkan karena dalam penciptaan, Tuhan secara khusus membentuk tubuh manusia – lelaki dan perempuan – dan memberi mereka jiwa.

Rasul Paulus dalam ayat diatas mengajarkan bahwa kita harus memakai tubuh kita sebagai persembahan yang kudus untuk Allah, yang berarti kita harus juga menghargai tubuh kita sama seperti jiwa kita. Jasmani dan rohani keduanya penting. Inilah yang sering dilupakan oleh umat kristen, bahwa selama kita hidup di dunia ini, kita harus memelihara dan memakai tubuh yang ada, dengan apa yang mampu kita lakukan, sesuai dengan maksud penciptaanNya, untuk kemuliaan Tuhan. Sekalipun kita mungkin tidak lagi mempunyai tubuh yang sehat, apa yang masih kita punyai tetap harus dipakai untuk memuliakan Tuhan.

​Sayang sekali banyak orang yang tubuh dan jiwanya sehat tetapi tidak mau memakainya untuk memuliakan Tuhan. Ada pula orang yang sengaja menyia-nyiakan atau menyalah-gunakan tubuhnya. Juga patut disayangkan kalau ada orang yang menunggu sampai saat dimana tubuh atau pikiran mulai kurang sehat untuk baru mau bekerja untuk Tuhan. 

Semua orang yang masih hidup di dunia punya kewajiban untuk memelihara tubuh dan jiwa mereka dan menggunakannya sesuai dengan maksud penciptaan. Siapa yang segan menggunakannya akan menemui masalah karena apa yang tidak digunakan dengan baik, akan diambil Tuhan. Orang yang menelantarkan tubuhnya akan kehilangan kesehatannya, yang menelantarkan pikirannya akan cepat linglung, orang yang malas menggunakan kakinya akhirnya tidak kuat berjalan, orang yang segan berdoa lama-lama canggung untuk berdoa, dan orang yang tidak pernah menguji imannya lama kelamaan menjadi orang yang tidak percaya. Hukum alam? Bukan! Itu adalah hukum Tuhan!

“….Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.” Lukas 19: 26

Bahwa kemampuan tubuh dan jiwa kita akan berkurang dengan bertambahnya umur, itu bisa dimengerti. Itu ditentukan sejak jaman Adam dan Hawa setelah jatuh dalam dosa.  Mereka yang tidak mau menggunakan kesempatan yang masih ada, akan cepat kehilangan semuanya.  Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya, apa yang masih bisa digunakan untuk memuliakan Tuhan, baik tubuh maupun jiwa,  harus digunakan; hingga tiba saatnya kita menghadap Sang Pencipta!

Ojo gampang gelo….

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Matius 11: 6


Dalam hidup ini, tiap manusia pasti pernah kecewa. Kekecewaan adalah perasaan pahit yang terasa akibat kejadian yang tidak sesuai dengan harapan.  Ayat diatas menunjuk kepada sebagian manusia disekeliling Yesus yang merasa kecewa karena Yesus bukanlah seperti raja perkasa yang mereka harapkan..

Sebagai orang kristen, kita mungkin mengharapkan datangnya kebahagiaan dalam hidup. Kekecewaan bisa datang jika hal itu tidak terjadi.  Jika kemudian yang datang justru penderitaan, kekecewaan mungkin bertambah besar. Sering juga orang kristen kecewa karena perbuatan orang lain. Juga kekecewaan bisa terjadi kalau tidak ada jawaban Tuhan setelah berdoa sekian lama; seolah Tuhan tidur atau tak peduli. Dengan demikian, secara umum kekecewaan orang kristen bisa terjadi karena tiga hal: keadaan kita, manusia di sekeliling kita dan Tuhan.

Dibandingkan dengan hal-hal yang lain, kekecewaan adalah yang paling mudah diperoleh. Kekecewaan adalah sesuatu yang akan terjadi jika tidak diperangi. Iblis memang selalu berusaha membuat diri kita kecewa agar kita terpisah dari Tuhan. Mengapa begitu?

  1. Mereka  yang kecewa bisa kehilangan kepercayaan kepada Tuhan yang maha kasih dan maha bijaksana. Kekecewaan bisa mengkerdilkan dan bahkan membunuh iman.
  2. Mereka yang kecewa bisa tergoda untuk mencari alternatif tanpa memikirkan akibatnya: kepercayaan baru, gereja baru, istri atau suami baru, narkoba, miras dsb. 
  3. Kekecewaan bisa menyebabkan kepahitan yang melumpuhkam gairah hidup. Kekecewaan besar memang sesuatu yang paling efektif untuk menghancurkan hidup seseorang.
  4. Kekecewaaan juga adalah alat iblis untuk membuat orang bisa menghancurkan hidup orang lain dan hubungan dengan orang lain, terutama orang-orang terdekat.
  5. Kekecewaan sering menghapus ingatan akan apa yang baik di masa lalu. Itu bisa membuat kita ragu menghadapi masa depan karena trauma yang menghapus keberanian.
  6. Kekecewaan sering berakhir dengan kemarahan yang membuat manusia kurang bisa mengasihi Tuhan dan sesamanya. Rasa dingin dan apatis akan menguasai hidup manusia yang kecewa.
  7. Kekecewaan seringkali menghalangi umat kristen untuk menyadari kekeliruannya dan minta ampun akan hal yang salah.

Manusia seringkali sukar dan bahkan tidak dapat menghapus kekecewaan dengan usaha sendiri. Manusia memerlukan pertolongan dari Tuhan untuk kesadaran, pengampunan dan perubahan hidup. 

Ayat diatas mengingatkan kita bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita jangan sampai mudah membuat kita kecewa. Resiko kekecewaan itu terlalu besar jika kita tidak bisa menghindari dan menghapusnya dalam hidup kita. Tuhan kita tetap sama – Ia maha kasih dan maha bijaksana- dulu, sekarang dan selamanya.  Ojo gampang gelo!

Wah harus ngantre?…

“Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” Filipi 3: 20-21

Kita semua tahu bahwa mengantre adalah hal yang membosankan dan melelahkan, membuat kita stress, terutama kalau harus mengantre di Indonesia. Semua orang ingin cepat selesai mengantre dan mendapatkan apa yang diperlukannya tanpa harus berlama-lama. Kalau terpaksa, jalan apapun sepertinya halal!


Kalau soal antre ke surga, itu lain lagi. Orang Kristen seringkali mau berdiri di deret paling belakang untuk bisa mengantre selama mungkin. Selain itu, mereka yang masih muda mungkin jarang yang mau memikirkan soal mengantre karena yakin bahwa antrean di depannya masih sangat panjang. Yang sudah berumurpun tidak suka membicarakannya karena takut menghadapi kenyataan. Padahal, sebagai anak Tuhan kita seharusnya rindu untuk mendapat karcis ke surga untuk menjumpai Tuhan Yesus Kristus yang akan mengubah tubuh agar jadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia. Tapi untuk itu kita harus mengantre, dan itu ada caranya.

Pertama, orang kristen  yang benar selalu sabar dan yakin dalam menantikan saat untuk bertemu dengan Tuhan kita. Mengantre dengan iman untuk masuk ke surga melalui kebangkitan Tuhan Yesus. Kalau tidak ada jaminan itu, sia-sialah penantian kita. Dan kalau  tidak punya iman dan pengharapan, mengapa kita menempatkan diri di antara orang-orang yang mengantre? Jangan cuma ikut-ikutan saja!

“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.”  1 Korintus 15: 14

Kedua, dalam mengantre kita harus bisa menghindari kebosanan. Kebosanan bisa membuat orang melakukan hal-hal yang tidak berguna, hanya untuk mengisi waktu. Tetapi sebagai orang kristen kita tidak boleh menyia-nyiakan hidup kita. Dalam menanti, kita harus memakai hidup kita untuk hal-hal yang berguna untuk Tuhan dan sesama. Dalam mengantre jangan cuma nonton orang lain!

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Efesus 5: 15-16

Ketiga, untuk mengantre apapun kita perlu persiapan fisik dan mental. Sebagai anak Tuhan kita harus memelihara hidup jasmani dan rohani kita. Untuk kemungkinan lama mengantre, kita harus berbekal makanan dan minuman yang cukup.  Kita harus selalu percaya bahwa Tuhan akan mencukupi kebutuhan makanan jasmani dan rohani kita selama kita hidup.

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 19

Keempat, dalam penantian tiap orang percaya diberi kurun waktu tersendiri untuk mengantre. Tuhan yang menetapkan kapan kita boleh berhenti menunggu. Tidak ada yang tahu berapa lama kita harus mengantre. Iblispun tidak tahu. Jangan terkecoh dengan pikiran bahwa waktu kita sudah dekat atau masih lama. Manfaatkan apa yang ada untuk kemuliaanNya!

“Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu pada-Mu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya” Ayub 14: 5

Kelima, sekalipun kita yakin dan siap, adakalanya dalam mengantre kita masih sering merasakan adanya kelelahan jasmani dan rohani. Itu lumrah. Kemauan ada tapi badan lemah. Hanya melalui doa kita dan dukungan doa  saudara seiman kita bisa mendapatkan tambahan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi tantangan hidup.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Bagaimana keadaan anda saat ini dalam mengantre? Masih bersemangat dan kuat untuk terus berdiri tegap? Pagi ini kita diingatkan bahwa kita harus bertekun didalam penantian kita sambil meyakini bahwa dalam keadaan apapun, kita adalah warga surgawi!

“Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” Roma 8: 25

Jangan tunduk dalam ketakutan

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan” Efesus 5: 22

Soal tunduk kepada suami ini sering menjadi bahan perdebatan di kalangan umat beragama. Saya ingin mengulasnya setelah membaca berita ABC Australia kemarin mengenai kasus-kasus penganiayaan istri  oleh suami (domestic violence) diantara umat Kristen.

Sayang bahwa gereja dan pendeta dalam hal ini sering tidak mau campur tangan dan bahkan memilih untuk menekankan bahwa istri harus tetap “tunduk” kepada suami. Banyak pendeta yang kukuh mengajarkan bahwa seperti manusia harus tunduk kepada Tuhan, istri juga harus tunduk dan taat kepada suaminya dalam keadaan apapun.

Memang seperti Tuhan mengasihi manusia, suami harus mengasihi istrinya. Suami juga harus mengasihi istrinya seperti ia mengasihi dirinya sendiri (Efesus 5: 25-28). Masalahnya ialah banyak suami yang tidak mengenal kasih Tuhan dan bahkan tidak tahu bagaimana ia harus mengasihi dirinya sendiri. Inilah masalahnya: bagaimana istri bisa tunduk kepada suami yang demikian?

Membandingkan lelaki dan wanita, mungkin tidak ada orang yang membantah bahwa pada umumnya lelaki lebih kuat fisiknya daripada wanita. Karena itulah, dalam olahraga, tim pria tidak bertanding melawan tim wanita. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa kejahatan suami terhadap istri, atau kekerasan pria atas wanita secara umum tidak dapat diterima masyarakat manapun.

Dalam rumah tangga, seorang suami mungkin lebih bisa mengerjakan satu hal dan sang istri sering lebih luwes melakukan hal yang lain. Tetapi yang sering terjadi dalam rumah tangga adalah istri diharapkan untuk tunduk kepada suami dalam semua hal, bahkan seperti tunduk kepada Tuhan. Apakah seorang istri harus selalu memandang dirinya kurang berarti? Apakah istri tidak boleh membantah dan menentang perlakuan semena-mena suami? Berita-berita di media sampai sekarang sering menunjukkan bahwa banyak istri yang menderita lahir dan batin karena harus tunduk kepada sang suami. Bahkan ada suami yang mungkin karena saking pintarnya bertinju, suka memukuli istrinya sampai babak belur!

Bagi kita yang sudah lama menikah, mungkin kita sudah terbiasa dengan perlakuan suami atau istri kita. Mungkin perlakuan kita yang dulu kurang baik, jika ada, sudah berhasil  diperbaiki. Syukurlah kalau begitu. Jika tidak, kesempatan masih ada untuk mengubah apa yang keliru. John Piper, pendeta dan penulis buku Kristen terkenal, menulis:

  1. Tunduk bukan berarti selalu setuju.
  2. Tunduk bukan berarti istri harus menanggalkan akal budi.
  3. Tunduk bukan berarti tidak pernah atau mau mempengaruhi suami.
  4. Tunduk bukan berarti mendahulukan kehendak suami diatas kehendak Tuhan.
  5. Tunduk bukan berarti menggantungkan seluruh kekuatan rohani kepada suami.
  6. Tunduk bukan berarti hidup dalam ketakutan.

Marilah kita juga bisa mengajarkan anak-cucu kita agar mereka tidak memperoleh pengertian yang keliru tentang ayat-ayat diatas!

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” 1 Yohanes 4: 18

Bersukaria boleh saja, asal….

“Oleh sebab itu aku memuji kesukaan, karena tak ada kebahagiaan lain bagi manusia di bawah matahari, kecuali makan dan minum dan bersukaria. Itu yang menyertainya di dalam jerih payahnya seumur hidupnya yang diberikan Allah kepadanya di bawah matahari.” Pengkhotbah 8: 15

Hari ini saya berjalan-jalan ke China Town, Melbourne. Sudah sering saya kesana, maklum dulu saya pernah tinggal di kota Melbourne selama 12 tahun sebelum pindah ke kota-kota lainnya di Australia. Sekalipun saya mengenali hampir seluruh sudut China Town itu, tiap kali saya kesana saya selalu senang menonton dua hal: adanya berbagai restoran yang menjual makanan enak berbagai jenis, dan adanya berbagai manusia yang datang kesana untuk makan enak. 


Melihat lampu-lampu restoran yang berwarna warni, saya berpikir: manakah yang benar – hidup untuk makan ataukah makan untuk hidup? Di China Town itu anda mungkin akan membenarkan keduanya. Ada banyak orang yang pergi kesana untuk menikmati makanan enak,  seolah hidup hanya untuk makan; tetapi jika anda sempat melihat ke ujung jalan yang gelap didekat restoran-restoran itu, anda bisa melihat bayang-bayang mereka yang tidur kedinginan di pinggir jalan, mereka yang kurang makan, mereka yang mencari makan dan sisa makanan untuk bisa hidup. Suatu kontras kehidupan yang terjadi pada saat yang sama.

Pengkhotbah dalam ayat diatas seolah mendukung mereka yang hidup untuk makan dan minum. Seolah itu adalah wajar kalau dalam makanan dan minuman kita menemukan sukacita. Seakan itu adalah hak karunia anak-anak Tuhan. Seolah kasih Allah harus bisa dinikmati dalam bentuk makanan, minuman yang enak dan kegembiraan yang menyertainya. Tetapi bukan itulah yang dimaksudkan ayat-ayat diatas. Ayat-ayat itu bukannya mendukung pesta pora dan pesta kuliner!

Apa yang dimaksud ayat-ayat itu adalah bahwa makanan dan minuman adalah memang berkat Tuhan. Makanan dan minuman dalam bentuk apapun dan jumlah bagaimanapun harus kita sambut dengan sukacita. Tidak ada yang lebih membahagiakan kita jika kita menyadari bahwa Tuhan mengasihi kita dalam keadaan apapun.  Untuk anak-anak Tuhan,  asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1 Timotius 6: 8). Tidak ada yang lebih membawa kebahagiaan jika kita bisa merasa cukup. Mereka yang berlebihan belum tentu merasa cukup untuk bisa berbahagia. Sebaliknya, mereka yang benar-benar dalam kekurangan memang sering sulit untuk merasa cukup. Karena itu, mereka yang punya kelebihan hendaklah bisa menolong sesamanya, agar mereka bisa merasakan sukacita bersama (Lukas 3: 11).

Ayat-ayat Alkitab diatas sebenarnya menyatakan bahwa hidup untuk mencari kesenangan duniawi tidaklah dapat dibenarkan. Tetapi hidup manusia yang didalam kasih Tuhan dan yang bisa membagikan kasihNya untuk orang lain sudah sewajarnya membawa sukacita di dunia. Kita tahu bahwa adanya makanan dan minuman belum tentu menjamin adanya perasaan sukacita. Tapi adanya sukacita membuat keadaan apapun bisa diterima dengan bersyukur.

Pagi ini, jika kita merencanakan sesuatu acara untuk bersukaria, kita harus bertanya apakah kita melakukan hal-hal itu hanya untuk bisa bersukaria. Ataukah kita lebih dulu merasa cukup dalam hidup kita dan karena itu ingin merayakan sukacita kita dengan sesama kita sambil bersyukur kepada Tuhan? Dua hal ini sangat berbeda artinya sebab usaha untuk bersukacita tanpa adanya rasa cukup dan syukur dalam hidup kita adalah sia-sia dan hanya membawa kehampaan.

Aku seorang musafir

“Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” 1 Korintus 4: 11-13

Pagi ini saya bangun pukul 4.00 pagi untuk naik bis dari Toowoomba ke Brisbane airport. Rencana saya adalah untuk bisa terbang ke Melbourne, sekitar 2000 km dari Brisbane, untuk menghadiri konferensi pendidikan universitas. Mata rasanya masih mengantuk dan hari masih gelap ketika bis berangkat dari stasiun bis.

Pemandangan dalam bis Toowoomba – Brisbane.

Sebenarnya saya bisa terbang dari Toowoomba langsung ke Melbourne, tetapi ongkosnya mungkin bisa $250 lebih mahal dari ongkos penerbangan  Brisbane – Melbourne. Jadi terpaksalah saya naik bis ke Brisbane selama 2 jam karena ongkos bis cuma $40 yang masih dikorting $10 karena saya sudah tergolong senior.

Perjalanan dengan bis luks ini terasa sangat membosankan walau saya bisa duduk nyaman karena bis hanya terisi penumpang sepertiga jumlah kursi yang ada. Namun saya merasa bersyukur juga karena jaman sekarang ini saya tidak perlu naik kereta berkuda seperti pada tahun 1800an. Apalagi bis ini ber AC dan dilengkapi dengan internet gratis. Sebagai musafir, traveller, saya termasuk musafir beruntung!


Kereta kuda di Toowoomba sekitar tahun 1850.

Sebenarnya saya tidak patut mengeluh karena naik bis selama dua jam.  Kalau kita bayangkan sewaktu Yesus hidup di dunia, Ia sebagai musafir banyak melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Tidurpun seringkali harus dibawah langit. Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Yesus tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya (Matius 8: 20). Selama 3 tahun Yesus tidak mempunyai rumah – Ia adalah “homeless person”. Ia memberi contoh bahwa pengikut Tuhan seringkali kita harus siap menghadapi tantangan dan penderitaan.

Rasul Paulus juga pernah menjadi musafir. Ia mengembara dari kota ke kota mengabarkan Injil dan mengajar cara hidup kekristenan cukup lama. Kepada jemaat di Korintus ia menulis bahwa ia dan rekan-rekannya pernah menderita karena kelaparan, kehausan, kedinginan dan bahkan karena dipukuli dalam hidup mengembara. Sebagai seorang musafir  dia juga melakukan pekerjaan kasar yang berat. Walaupun demikian ketika ia dimaki, ia bisa memberkati yang memaki; kalau ia dianiaya, ia bisa bersabar; kalau ia difitnah, ia tetap bisa menjawab dengan ramah; ia telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu (1 Korintus 4: 11-13). Paulus menjalani hidup seperti Tuhan yang disembahnya, Tuhan Yesus.

Pagi ini sebagai seorang musafir di dunia ini terbetik dalam hati saya perasaan malu. Betapa tidak? Sebagai seorang musafir saya sering mengeluh, marah dan kecewa atas hal-hal yang kurang nyaman dalam hidup saya. Musafir Kristen seperti Paulus belajar untuk bisa menghadapi penderitaan dari gurunya, musafir terbesar yang telah datang dari surga ke dunia sebagai manusia biasa, Yesus Kristus. Di lain pihak, kita bisa melihat betapa banyaknya musafir-musafir yang hanya menginginkan pelayanan terbaik dari Tuhan – hidup enak dan sukses sebagai upah iman. Bagaimana dengan anda sendiri? Tahukah anda bahwa sebagai musafir kita harus tabah dalam menghadapi semua tantangan sepanjang perjalanan hidup kita?

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2: 8

Matahari sumber kehidupan

“Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.” Kejadian 1: 16

Pagi-pagi di hari Minggu  ini saya berjalan-jalan di sepanjang pantai Gold Coast sambil menikmati pemandangan. Cuaca agak mendung dan sejuk, dan beberapa orang sudah terlihat berlari pagi, berjalan kaki atau menuntun anjing-anjing mereka. Mataharipun mulai menampakkan diri dari balik awan dan pemandangan yang cukup indah itu saya nikmati sambil bersyukur kepada Tuhan atas berkatNya.

Berpikir tentang matahari yang datang di pagi hari dan terbenam di waktu senja, saya tak heran-herannya memikirkan kebesaran Tuhan yang menciptakan segalanya. Dalam kitab Kejadian, diungkapkan bagaimana bumi ini asalnya gelap sampai saat ketika Tuhan memisahkan gelap dan terang di hari pertama (Kejadian 1: 4). Ketika itu matahari  kita belum ada dan itu berarti bahwa dalam jagad raya ini ada sumber cahaya yang lain selain matahari yang kita kenal. Matahari yang kita kenal baru diciptakan pada hari keempat (Kejadian 1: 16).

Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa diluar ruang pengaruh matahari yang kita kenal ada banyak matahari-matahari yang lain. Sampai saat ini astronomer-astronomer di berbagai negara telah menemukan lebih dari 500 sistem matahari/solar dan bahkan menemukan sistem solar yang baru setiap tahun. Saintis-saintis memperkirakan kemungkinan adanya 100 ribu juta (100 miliar) matahari di jagad raya ini. Tetapi hanya satu matahari yang berguna untuk hidup kita. Tanpa matahari dunia ini akan menjadi beku dan kita akan mati.

Manusia dengan kepandaiannya menanggapi kebesaran ciptaan Tuhan ini dengan berbagai sikap. Bagi yang percaya adanya Tuhan,  tidak lagi ada pertanyaan  apakah Tuhanlah yang menciptakan segalanya. Tetapi bagi yang menganggap dirinya “berpendidikan dan modern”, semua itu mungkin terjadi menurut hukum alam/fisika. Sedangkan untuk mereka beragama dan “toleran”, soal Tuhan manakah yang menciptakan matahari itu, tidaklah perlu dipersoalkan. Dan untuk mereka yang “mengikuti tren”, tuhan-tuhan yang baru masih terus bermunculan.

Bagi yang melihat matahari datang dan pergi setiap hari untuk semua orang, mungkin juga ada perasaan  bahwa Tuhan itu tidak mencampuri hidup manusia. Karena itu “life goes on” dan segala sesuatu bisa diperbuat manusia dengan bebas. Tetapi untuk kita umat Kristen, Tuhan itu ada dan membimbing umatNya.  Tiap kali kita diingatkan bahwa seperti adanya satu matahari yang menerangi bumi kita, hanya ada satu Tuhan yang bisa menerangi  hidup kita. Tanpa matahari kita akan musnah dan tanpa Tuhan kitapun akan menemui kematian. 

Tuhan menciptakan segala sesuatu secara sistematis dan harmonis. Kasih dan kebesaran Tuhan itu tidak ada bandingnya, dan tidak ada tuhan-tuhan, matahari-matahari lain – baik yang sudah ada sejak jaman dulu, maupun yang sudah atau akan muncul di jaman ini – yang bisa menerangi hidup manusia.  Hanya Tuhan kitalah yang mempunyai rencana penyelamatan manusia dari awalnya dan menggenapi rencanyaNya pada saat yang tepat dengan kelahiran Yesus di dunia. Hanya Tuhan kitalah yang mengerti bahwa seperti hidup jasmani kita membutuhkan sinar matahari, hidup rohani kita memerlukan sinar kasih penebusan Yesus!

“Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8: 12

Melek tapi tidur

“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur.” Markus 13: 35-36

Tidur adalah bagian kehidupan manusia yang sangat penting. Tidur memberi kesempatan bagi semua mahluk untuk beristirahat dan memulihkan kesegarannya. Tanpa tidur yang cukup, tubuh manusia akan menjadi lemah dan bahkan berbagai penyakit akan datang. Tetapi, terlalu banyak tidur mungkin juga membawa penyakit dan mungkin tanda adanya penyakit jasmani ataupun kejiwaan. Apalagi jika seorang tidur terus, itu mungkin pertanda bahwa tubuhnya sudah dalam keadaan sakit berat.

Tidurnya Adam digunakan Allah untuk mengambil rusuk Adam guna memciptakan Hawa, sang pendamping Adam (Kejadian 2: 21). Tidur secara fisik jelas diciptakan Tuhan untuk maksud yang baik walaupun Tuhan sendiri tidak pernah atau perlu tidur karena Dia adalah Roh dan selalu mengawasi anak-anakNya. Walaupun tidur untuk beristirahat adalah baik, tidur yang disebabkan karena pengaruh miras, obat terlarang dan narkoba sering membawa bencana. Lot yang mabuk misalnya, melakukan hubungan terlarang dengan kedua putrinya (Kejadian 19: 33-35). 

Alkitab juga menyebutkan tidur rohani yang lain dari tidur jasmani. Dalam tidur jasmani mata kita tertutup tetapi dalam tidur rohani hati kita tertutup. Dalam tidur badani manusia tidak dapat bereaksi terhadap keadaan jasmani disekitarnya, dalam tidur rohani manusia tidak sadar akan keadaan spiritual di sekitarnya.  Jika tidur jasmani dibekakang kemudi mobil bisa berakhir dengan kematian, begitu juga tidur rohani, sekalipun dengan pikiran dan mata yang terbuka lebar, bisa berakhir dengan kematian spititual.

Mana yang lebih berbahaya, tidur jasmani yang berakhir dengan kematian jasmani, atau tidur rohani yang berakhir dengan kematian rohani? Pertanyaan ini aneh dan mungkin belum pernah kita pikirkan sebelumnya. Tetapi ada banyak contoh dalam Alkitab yang menyebutkan bahwa tidur jasmani, selama itu bukan disebabkan oleh dosa, tidak perlu kita kuatirkan. Tiap orang diberikan kurun waktu kehidupan tersendiri, dan jika waktunya sudah sampai kematian jasmani hanyalah jalan menuju perjumpaan dengan Kristus yang kita kasihi.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Filipi 1: 21

Sebaliknya, Alkitab berulangkali mengingatkan kita betapa kematian rohani akan berakhir dengan malapetaka, perpisahan abadi antara manusia dan Tuhan. Ayat  Markus 13: 35-36 diatas mengingatkat kita agar secara rohani kita harus tetap berjaga-jaga agar iblis tidak menyesatkan kita dengan berbagai hal seperti kekecewaan, penderitaan, tantangan, nafsu, harta dsb. yang membuat kita menjadi orang kristen zombi yang melek matanya tetapi tidak lagi mempunyai kesadaran akan kebenaran Allah!

“Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati.” Mazmur 13: 3