Asal Bapak Senang?

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Lukas 6: 46

Pada masa Orde Baru, tersohor sebuah ungkapan Asal Bapak Senang (ABS). Biasanya, sebutan itu digunakan sebagai sindiran atau ungkapan sarkastik untuk menanggapi adanya laporan dari bawahan untuk para bos atau atasan. Laporan yang sebenarnya tidak sesuai kenyataan, tapi direkayasa agar atasan senang. Pokoknya asal bapak (bos/atasan) senang melihat laporan dari tugas-tugas yang diberikan bawahannya. Budaya ABS ini mungkin sudah jauh berkurang sekarang karena adanya kontrol yang lebih ketat, terutama dengan majunya pendataan dan laporan elektronik, dan juga karena adanya sosial media. Orang mungkin lebih segan untuk menggunakan taktik ABS karena takut terbongkar kedoknya (karena atasan sekarang sudah lebih sukar dibohongi) dan kuatir menjadi bahan tertawaan publik.
Celakanya, di kalangan umat Kristen budaya ABS ini masih ada dan bahkan makin marak. Lho? Ya, memang banyak orang yang ke gereja dan menyanyikan lagu pujian, berdoa dan mengucapkan “kata-kata rohani” seperti shalom, amin dan haleluya, tapi itu hanya untuk ABS (Asal Bapa disurga Senang). Juga sering sering orang memanggil-manggil Abba, Tuhan dan Yahwe dengan mesranya setidaknya pada hari minggu, hari kudus, hari berkelakuan baik. Sepertinya agar Tuhan itu senang dengan pendekatan kita, walaupun hidup kita sehari-hari sebenarnya kacau dan berantakan. Lebih dari itu, di zaman ini banyak “menteri-menteri” kerajaan Tuhan yang rajin sekali melaporkan dan mempopulerkan hasil kerjanya baik itu berupa banyaknya orang yang mau datang ke gerejanya, yang mau menyumbang dana besar untuk gerejanya, yang menerima kesembuhan karena doanya, dsb. Pasti Tuhan akan senang mendengar laporan dari anak-anakNya!

Ayat diatas secara tegas mengungkapkan perasaan Yesus yang resah karena adanya orang yang bermanis-manis kepadaNya tetapi tidak mau menuruti apa yang diperintahkanNya.  Jika mungkin untuk manusia membuat pernyataan dan laporan palsu dan setengah palsu sekedar untuk memuaskan atasan-atasan mereka di dunia, manusia tidak dapat membohongi atasan mereka yang di surga karena Dia adalah Tuhan yang maha tahu. Tidaklah mungkin bahwa Tuhan bisa kita bohongi dengan laporan-laporan kehidupan kita yang palsu, yang tidak berdasarkan data yang benar. Sia-sialah kita bersikap sopan dan hormat kepada Tuhan jika tingkah laku kehidupan kita di dunia ini mempermalukan Dia yang maha suci.

Iman Kristen memang unik karena hanya dengan iman kita diselamatkan, dan itu bukan karena perbuatan kita. Tetapi itu bukan berarti kita bisa menjadi persembahan yang hanya harum di luar tetapi berbau busuk di dalam. Bukan berarti bahwa kita bisa menjadi orang Kristen yang nampak indah cemerlang dalam penampilan luar kita tetapi gelap gulita dalam kehidupan sehari-hari kita.Bukan juga berarti kita bisa jujur dalam lingkungan gereja tetapi culas di dalam hidup bermasyarakat.

Begitu banyak orang Kristen yang berpedoman asal Tuhan senang, peduli amat dengan orang lain. Tetapi ini tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan Yesus:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Markus 12: 30-31

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak dapat kita tipu dengan laporan-laporan kehidupan yang tidak benar, tidak lengkap atau yang sudah direkayasa. Tuhan tahu jika kita berlagak kasih dan hormat kepadaNya tetapi tidak mempunyai rasa kasih dan hormat kepada sesama kita. Tuhan tahu jika kita seolah mau bekerja keras untuk Dia tetapi tidak mau mempedulikan kebutuhan keluarga kita sendiri. Tuhan bisa melihat jika kita hanya mengasihi sesama orang Kristen dan bukannya sesama manusia. Di lain pihak, Tuhan juga tahu jika kita hanya berusaha menyenangkan orang-orang tertentu dan bukannya berusaha untuk menaati perintah Tuhan.

“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.”  Kolose 3: 22

Marilah kita bersama berusaha hidup dengan jujur di hadapan Tuhan kita yang maha tahu dengan menaati segala perintahNya, supaya dalam setiap saat dan keadaan kita bisa memanggilNya Tuhan tanpa keraguan dan kecanggungan!

Menabung untuk masa depan?

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” Amsal 6: 6-8.

Hal menabung adalah sesuatu yang tiap orang pernah memikirkan atau melakukan. Pemerintah dan masyarakat umumnya menganjurkan setiap orang memikirkan hari depan dan berusaha menabung uang yang tidak terpakai hari ini untuk keperluan masa depan. Di negara barat, gaji diterima tiap dua minggu sekali tetapi tagihan sering datang sebulan atau setahun sekali. Tanpa uang tabungan orang akan harus berhutang untuk melunasi tagihan!

Gerejapun kadang menabung untuk rencana proyek pengembangan sarana atau misi khusus. Ini biasanya dilakukan dalam kurun waktu yang relatip pendek sesuai dengan rencana anggaran gereja. Lain halnya dengan beberapa gereja dan pendeta tertentu yang giat menggalakkan tabungan khusus untuk “proyek istimewa” seperti membangun gedung gereja super mewah atau membeli mobil mewah/pesawat terbang kepentingan pribadi.

Soal menabung sebenarnya soal pelik karena ada ayat-ayat yang menganjurkan kita untuk menabung, tetapi ada juga yang menganjurkan kita untuk tidak kuatir akan kebutuhan masa depan.

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Matius 6: 25

Malahan ada juga ayat menganjurkan kita untuk menabung harta surgawi dan bukannya harta duniawi;

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 19-20

Mencontoh apa yang dilakukan semut seperti yang ditulis dalam Amsal 6 diatas, kelihatannya memang menabung untuk maksud baik tidak ada salahnya. Menabung di hari baik untuk persiapan menghadapi masa depan adalah bijaksana. Masalahnya, manusia seringkali tidak dapat membedakan apa yang yang benar-benar dibutuhkan di masa depan dari apa yang diingini. Keinginan manusia memang sulit untuk dipuaskan:

 “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya….” Pengkhotbah 5: 10

Sejarah membuktikan bahwa ada banyak orang Kristen yang jatuh ke dalam dosa karena tidak dapat membedakan apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan (1 Timotius 6: 9). Keinginan kita belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan, tetapi Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Tuhan Yesus mengajarkan agar kita berdoa untuk meminta makanan yang secukupnya untuk setiap hari (Lukas 11: 3). Bukan makanan yang berlebihan, bukan makanan untuk setahun. Prinsip inilah yang harus kita pegang.

Pagi ini biarlah kita bisa diingatkan bahwa sebagai orang Kristen kita harus tahu bagaimana kita harus menabung:

  • Menabung untuk apa yang kita butuhkan di masa depan adalah baik apalagi kalau disertai dengan keyakinan bahwa Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan.
  • Menabung dengan disertai rasa syukur adalah baik, tetapi menabung dengan rasa kuatir menunjukkan kelemahan iman kita.
  • Berhati-hatilah jika  kita menabung untuk apa yang kita ingini karena keinginan manusia seringkali belum tentu disukai Tuhan.
  • Menabung hanya untuk kepentingan diri sendiri adalah dosa. Apa yang kita punya datangnya dari Tuhan dan harus bisa dipakai untuk kemuliaanNya dan untuk bisa menolong sesama.

Menabung itu tidak mudah. Tidak setiap orang bisa menabung dan tidak semua orang bisa merasa puas dengan tabungannya. Apalagi orang sering tidak tahu bagaimana menggunakan tabungannya. Buat kita orang Kristen, adalah tantangan bagi kita  untuk bisa merasa cukup  dan untuk bisa bersyukur kepada Tuhan dalam semua keadaan!

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 12-13

 

 

Eh emosi lagi….

“Adaa waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari” Pengkhotbah 3: 4

Jangan emosi…! Begitulah nasihat yang kita terima sewaktu kita mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan. Emosi memang sering dihubungkan dengan kemarahan yang tidak terkontrol. Jika kita marah dan terbawa emosi, mungkin pikiran kita menjadi kurang dapat bekerja dengan baik sehingga ada kemungkinan kita melakukan hal-hal yang kurang bijaksana.

Emosi sebenarnya belum tentu berhububgan dengan kemarahan. Emosi adalah gejolak perasaan yang timbul karena rangsangan di sekitar kita. Manusia diciptakan sebagai peta dan teladan Allah dan emosi adalah salah satu bagian dari kemampuan manusia dalam bereaksi atas kejadian yang kita lihat, dengar atau rasakan. Emosi bisa berupa perasaan senang, gembira, marah, sedih dsb. Pengkhotbah dalam ayat diatas menulis bahwa ada saat-saat tertentu dimana kita bisa dipengaruhi oleh emosi kita sehingga kita bisa menangis, tertawa, meratap dan menari. Raja Daud adalah salah satu tokoh dalam Alkitab yang sering dipengaruhi oleh emosinya. Ia menari-nari dihadapan TUHAN dengan sekuat tenaga (2 Samuel 6: 14). Emosi dalam hal ini adalah sehat dan baik, dan malahan menunjukkan betapa dekatnya Daud dengan Tuhannya.

Emosi yang buruk adalah emosi yang tidak terkontrol. Umat Kristen sudah seyogyanya menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan dan dengan itu Roh Kudus memimpin hidup mereka. Jika Roh Kudus tidak atau kurang bekerja dalam hidup seseorang, orang itu akan hidup dalam dirinya sendiri dan dengan keadaan itu emosinya akan sering berakibat negatip. Tidak ada seorangpun yang benar di muka bumi ini dan semua orang cenderung berbuat dosa jika datang keadaan yang memancing emosi mereka. Keadaan yang menyenangkan mengundang emosi gembira luar biasa yang mungkin bisa menjatuhkan orang dalam dosa. Begitu juga keadaan yang tidak menyenangkan bisa menimbulkan emosi kemarahan atau kekecewaan yang besar, yang bisa membawa manusia ke arah yang salah.

Bagaimana jika kita tidak mempunyai emosi? Salahkan itu? Memang ada agama-agama yang mengajarkan bahwa orang yang saleh seharusnya bisa memadamkan emosinya agar bisa sepenuhnya menguasai hidup dan  tingkah laku mereka. Ajaran itu mungkin membuahkan manusia-manusia “rohani” yang tidak mempunyai reaksi/emosi dalam kehidupan mereka; wajah dan gerak-gerik mereka tampak seperti robot belaka. Manusia Kristen bukanlah seperti itu. Yesus sendiri tergerak emosinya ketika ia melihat kesusahan orang lain dan Ia menagis bersama Maria dan Martha yang menangisi kematian Lazarus (Yohanes 11: 35).

Orang Kristen jelas adalah orang yang masih mempunyai emosi. Emosi yang tidak dibuat-buat. Emosi yang tidak berlebihan. Tetapi emosi yang berdasarkan kasih. Jika ada sesama manusia yang menderita, orang Kristen menangis bersama mereka. Jika ada sesama manusia yang bersuka cita karena hal yang baik, orang Kristen bergembira bersama mereka. Orang Kristen yang sudah tidak peka lagi terhadap keadaan dan ketidak-adilan di sekitarnya adalah orang Kristen yang sudah padam api Roh Kudusnya.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Orang Kristen adalah orang yang bisa mengendalikan emosinya dalam kedaan yang tidak menyenangkan.

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” Yakobus 1: 19

Emosi kemarahan mereka tidak akan berlarut-larut, karena kemarahan yang tidak berkesudahan pasti berakhir dengan dosa.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” Efesus 4: 26

Maukah kita mengundang Roh Kudus untuk mengisi hidup kita dengan sepenuhnya, agar kita dapat memakai emosi kita untuk hal-hal yang baik, yang memuliakan Tuhan?

Antara PD dan iman

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13-14.

Bagi kita yang mempunyai anak, tentu kita ingat bahwa tidaklah mudah untuk mendorong anak-anak kita agar berani menghadapi semua tantangan baik itu dalam pergaulan, pendidikan maupun pekerjaan. Memang ada anak-anak yang lebih ekstrovert dan mampu untuk menhadapi orang, suasana dan tugas yang baru atau asing bagi mereka. Tetapi bagaimanapun juga, untuk semua orang tua maupun muda, adakalanya orang merasa kurang yakin atau takut untuk melakukan suatu tindakan besar dalam hidupnya. Karena itu, di jaman ini sangat larislah para pembicara yang bisa memberi motivasi kepada orang lain, baik itu di TV, buku, majalah, maupun berbagai kursus peningkatan percaya diri (PD). Bahkan banyak pendeta juga senang berkotbah tentang soal meningkatkan percaya diri untuk mencapai kesuksesan hidup.

Pada umumnya usaha untuk meningkatkan PD adalah berdasarkan keyakinan bahwa “nasib kita adalah di tangan kita sendiri”. Dalam bahasa Inggrisnya “you are the master of your own destiny”. Juga seringkali kita mendengar “Jika engkau percaya pada dirimu sendiri, segala sesuatu adalah mungkin”. Inilah yang banyak diajarkan kepada anak-anak jaman sekarang , baik di rumah, di sekolah maupun dalam masyarakat; agar mereka mempunyai keberanian dan keyakinan untuk maju ke arah kesuksesan hidup. Bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengatur dan menetapkan masa depannya sepenuhnya.

Untuk mereka yang beragama, keyakinan untuk bisa maju itu mungkin diiringi dengan tambahan ucapan “jika Tuhan menghendaki”. Mengapa? Mereka yang percaya akan kuasa Tuhan, percaya bahwa manusia boleh berusaha tetapi Tuhanlah yang menentukan. Dalam bahasa Arab mungkin kita sering mendengar kata “In sha’ Allah” yang sering diucapkan penganut agama Islam. Walaupun orang Kristen tidak memakai kata-kata ini, orang Yahudi mempunyai kata yang serupa “Im yirtsé Hashém”. Apakah setiap orang yang mengucapkan kata-kata ini memang sepenuhnya menyerahkan usaha mereka kepada Tuhan, kita tentunya tidak tahu. Yang lebih dapat dipastikan adalah bahwa dalam hidup di dunia modern ini, manusia seringkali jauh lebih menekankan usaha sendiri daripada bergantung kepada Tuhan. Seakan akan percaya diri lebih penting daripada iman.

Mereka yang mendidik anak-anak di jaman ini banyak yang kurang menekankan pentingnya mencari kehendak Tuhan. Kita yang hidup di abad ke 21 ini memang justru lebih sering meminta Tuhan untuk merestui dan memberkati usaha dan pilihan kita. Mereka yang berhasil mencapai kesuksesan, merasa bangga karena seakan semuanya itu adalah hasil usaha, jerih-payah mereka sendiri. Tetapi ini bukan masalah baru. Dalam ayat-ayat di atas, Yakobus menulis bahwa adalah kebodohan jika kita dengan bermodal PD, merencanakan untuk berbuat sesuatu guna mendapat kesuksesan, sedangkan kita tdak tahu apa yang akan terjadi besok.  Percaya diri yang tidak diiringi dengan pengertian akan kuasa Tuhan atas hidup kita adalah kekeliruan besar, karena manusia tanpa Tuhan adalah bagaikan uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai umatNya, kita wajib berusaha dan bekerja dengan rajin. Kita juga harus mempunyai percaya diri, tetapi kepercayaan itu bukanlah kepada kemampuan kita sendiri melainkan kepercayaan bahwa sebagai umatNya, kita bisa bersandar kepada kemampuan Tuhan kita yang maha kuasa, maha kasih dan maha bijaksana. Tuhan adalah sumber kekuatan kita dan hanya kepadaNya kita bisa menyerahkan hidup kita  sambil berkata:

“Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku.” Yesaya 12: 2

Kita adalah manajer!

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Pagi ini jika kita bangun dari tidur, mungkin kita masih merasa lelah dan segan untuk masuk kerja. Bagaimana tidak? Kalau Sabtu dan Minggu umumnya diisi dengan kegiatan yang menyenangkan, hari Senin mengingatkan kita pada pekerjaan dan rutinitas yang membosankan dan melelahkan. Inikah akibat kutuk Tuhan kepada manusia sewaktu mereka jatuh dalam dosa (Kejadian 3: 17)? Bahwa karena dosa kita sekarang harus bekerja keras untuk bisa hidup di dunia? Di lain pihak banyak orang bersyukur kalau mereka punya pekerjaan atau aktivitas yang sekalipun kurang berarti, memberikan makna hidup untuk mereka.


Masalah pekerjaan, apakah itu berkat atau kutuk seringkali menjadi pertanyaan manusia sepanjang masa. Mereka yang hidupnya enak, yang pekerjaannya enteng, dan yang pekerjaannya sesuai dengan hobbynya mungkin percaya kalau pekerjaan itu adalah berkat. Sebaliknya, mereka yang pekerjaannya berat, hasilnya pas-pasan dan tidak menyukai pekerjaannya, mungkin merasakan pekerjaan itu seperti kutukan Tuhan. Bagaimana kita harus bersikap dalam hal ini?

  • Setiap orang harus bekerja. Hidup adalah untuk menghasilkan sesuatu untuk menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Hidup orang Kristen dari awalnya adalah untuk bekerja, dan kita bukannya bekerja hanya untuk hidup. Memang karena dosa, banyak manusia yang merasakan bahwa mereka bekerja hanya untuk bisa hidup. Tetapi sekalipun dalam kerja keras, kita seharusnya bisa bersyukur kalau masih ada hasil yang baik yang kita capai.
  • Pekerjaan harus ada hasil positipnya, bukan hanya membuang waktu. Tidak selalu berbentuk uang tetapi harus selalu untuk kemuliaan Tuhan. Banyak orang yang bekerja dan menghasilkan banyak uang tetapi itu bukan untuk kemuliaan Tuhan. Akibatnya, mereka akan menjadi hamba pekerjaan dan hamba uang. Hidup mereka akan dikacaukan oleh pekerjaan dan cinta akan uang.
  • Tiap pekerjaan yang baik, yang sesuai dengan Firman, adalah sama derajatmya di mata Tuhan. Banyak orang yang merasa sedih karena tidak dapat mencapai apa yang diidam-idamkannya. Merasa malu karena tidak mencapai posisi yang tinggi. Tetapi bagi Tuhan kita adalah manajer-manajer dan wakil-wakil Tuhan di bumi, yang diberikan hak dan kewajiban untuk bisa memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama, serta memelihara alam semesta.
  • Dalam pekerjaan hati dan pikiran kita harus bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama. Karena pekerjaan kita adalah sebagai wakil Allah, sebagai manajer-manajer Allah kita harus bisa dan mau mendapat bimbingan Allah dan bisa berkonsultasi dengan semua manusia.  Bukan hanya dengan saudara seiman. Tanpa bimbinganNya, kerajaan Allah bisa dirugikan oleh tindakan kita.
  • Untuk umat Tuhan tidak ada istilah pensiun. Selama kita hidup di dunia, kita tetap menjadi wakilNya. Mungkin dalam hidup, kita beberapa kali berganti posisi manajer – dalam bidang dan jurusan yang berlainan; tetapi tanggung jawab kita tetap berjalan. Sebagai manajer “perusahaan” Allah kita harus tetap berusaha untuk membawa keuntungan untuk kerajaanNya.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

 

Jangan lupa…

” TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103: 2

Ingatkah anda akan lagu lama “Jenang Gulo”? Lupa adalah lumrah. Semua orang pernah lupa. Tetapi melupakan adalah tindakan kesengajaan yang dibuat dengan kesadaran. Dan kalau kita yang dilupakan orang,  hati kita mungkin akan sakit atau susah jadinya. 

Melupakan orang yang pernah kita kenal, apalagi orang yang pernah berbuat baik kepada kita adalah sesuatu yang tidak seharusnya kita lakukan. Apalagi jika orang itu pernah berkorban besar untuk diri kita. Tidaklah pantas bagi seseorang untuk melupakan pengorbanan orang lain dan tidak bersyukur atas apa yang diterimanya dari orang itu.

Kenyataaannya adalah begitu banyak manusia yang tidak pernah mengerti bahwa hidup kita bergantung kepada Tuhan. Tuhanlah yang menciptakan alam semesta dan segala yang baik dalam hidup kita. Bagaimana mungkin orang bisa lupa bahwa tanpa Tuhan, alam semesta ini akan berjalan dengan kacau? Bagaimana pula manusia bisa lupa bahwa jika Tuhan tidak mengambil inisiatip untuk menyelamatkan manusia, kita pasti binasa?

Hari Minggu ini, marilah kita berhenti sejenak dari kesibukan, keresahan dan keramaian di sekeliling kita. Marilah kita mengingat-ingat apa yang baik, yang sudah kita terima dari Tuhan kita. Marilah kita memuji Dia yang mahabesar dan mahakasih. Segala pujian untuk Dia di tempat yang mahatinggi!

Bebas tapi terikat

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 16-17

Di bulan Juli dan Agustus ini ada dua negara besar yang merayakan kemerdekaannya, Amerika dan Indonesia. Perayaan yang disertai dengan rasa syukur dan bangga atas kemerdekaan yang bisa dicapai dengan pengorbanan yang besar. Memang manusia sangat menghargai kemerdekaan karena dengan kemerdekaan mereka mendapat kebebasan untuk memilih apa saja yang mereka maui. Benarkah begitu?

Kemeredekaan suatu negara selalu disertai dengan penentuan hukum-hukum yang harus ditaati seluruh rakyanya. Hukum yang mengharuskan semua rakyat untuk melakukan atau tidak melakukan hal-hal tertentu. Dengan kemerdekaan suatu bangsa, ada komitmen bersama untuk membatasi diri dalam segala tindakan mereka agar tidak melanggar hukum. Negara-negara merdeka juga harus tunduk dalam hukum internasional. Kalau begitu, benarkah ada kemerdekaan manusia itu? Adakah kemerdekaan manusia untuk memilih jalan hidupnya? Ada, tetapi tidak sepenuhnya!

Kemerdekaan manusia ada dalam Alkitab sejak penciptaan. Tetapi kemerdekaan yang disertai kebebasan memilih tidaklah seperti yang umumnya dibayangkan. Manusia sering berpikir bahwa “nasibmu ada ditanganmu sendiri” atau “you are the master of your destiny”, tetapi seringkali kenyataan adalah jauh dari itu karena selalu ada saja manusia yang mengalami hal-hal yang tidak bisa dikontrolnya.

Membaca ayat-ayat diatas, jelas Adam dan Hawa jelas diberikan kemerdekaan untuk makan buah apa saja, asalkan bukan buah pohon pengetahuan tentang baik dan jahat.  Ada kemerdekaan, ada kebebasan memilih, tetapi ada batasan. Dalam kebebasan yang diberikan Allah, Adam dan Hawa juga dapat melanggar batasan itu, dan harus menanggung konsekwensinya. Dengan menyalahgunakan kemerdekaan itu, pelanggaran batasan terjadi  – yang kemudian membawa dosa untuk seluruh umat manusia. Manusia tidak lagi hidup dalam jaminan ketentraman Firdaus, tetapi masuk kedalam ketidak pastian masa depan!

Sesudah kejatuhan, manusia masih mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan. Tetapi kemeredekaan dalam Tuhan yang sebelumya ada, malahan mudah berubah menjadi perhambaan dalam dosa. Ketenteraman hidup yang dulunya ada, berubah menjadi berbagai kesulitan dan penderitaan. Untunglah Allah dengan kasihNya memberikan kemungkinan agar setiap orang bisa secara bebas mengambil keputusan untuk mengikut Yesus, agar kita bisa terlepas dari ikatan dosa.

Walaupun usaha kita sendiri tidak bisa menyelamatkan kita dari murka Allah, tetapi karena pengurbanan Yesus kita bisa menggunakan kemerdekaan kita untuk memilih mengikut Yesus dan hidup dalam ketaatan kepadaNya!

I have decided to follow Jesus;

I have decided to follow Jesus;

I have decided to follow Jesus;

No turning back, no turning back.


Mengikut Yesus keputusanku,

Mengikut Yesus keputusanku,

Mengikut Yesus keputusanku.

‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

Mungkinkah aku salah pilih?

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6


Soal salah pilih adalah soal biasa. Misalnya, jika kita membeli baju dari toko dan setelah dicoba di rumah ternyata kekecilan. Itulah gara-gara malas mencoba. Kalau baju mungkin bisa ditukar,  soal pasangan hidup lain lagi karena sekali pilih dharapkan cocok untuk seumur hidup sekalipun tanpa coba-coba!

Ketika kita berpergian, adakalanya kita keliru memilih jalan. Seharusnya ke kanan, tetapi kita pilih jalan ke kiri. Kadang orang tidak sadar akan kekeliruannya sampai jauh tersesat, tapi adakalanya orang sadar dengan cepat karena jalan yang dipilihnya terasa asing. Sekalipun kita mungkin mendapat petunjuk GPS, kita juga masih bisa salah jalan, karena GPS nya keliru atau kita salah menafsirkannya.

Bagaimana pula dengan iman kepercayaan kita? Mungkinkah kita memilih kepercayaan tertentu dan kemudian ternyata salah pilih? Mungkin juga! Kebanyakan mereka yang mau mencari Tuhan akhirnya menganut ajaran agama tertentu. Namun setelah menganut ajaran itu, adakalanya mereka  kemudian meninggalkan agamanya dan menjadi tidak beragama lagi atau masuk agama lain. Salah pilih?

Yudas Iskariot adakah salah satu murid Yesus yang merasa bahwa ia salah pilih. Sesudah mengikut Yesus untuk 3 tahun ia kecewa. Yesus ternyata bukan seperti yang diharapkannya, Yesus bukan seperti pahlawan perang yang bisa menjatuhkan penjajah Romawi. Yudas juga meragukan kalau Yesus itu anak Allah, karena itu ia tidak pernah memanggil Yesus sebagai Tuhan, ia hanya menganggap Yesus sebagai guru. Tambahan lagi, Yudas tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Yesus, hubungannya hanya hubungan formal. Ia berusaha memakai hubungan itu untuk mendapat suatu keuntungan buat dirinya sendiri. Karena itu ia kecewa. Yudas akhirnya memilih jalan yang salah, mengkhianati Yesus. Dan setelah ia sadar akan kesalahannya, ia kemudian memilih jalan salah yang lain: bunuh diri. Sungguh tragis!

Mengapa ada orang Kristen yang kemudian meninggalkan hidup kekristenan? Merasa salah pilih? Seperti Yudas? Ada berbagai sebab, seperti perumpamaan benih yang ditabur (Matius 13: 19-23).

  • Kurang pengertian: Kepada setiap orang yang mendengar firman, tetapi belum tentu ia bisa atau mau mengertinya.  Kemudian datanglah iblis yang merampas apa yang ditaburkan dalam hati orang itu.
  • Kurang kuat: Ada orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penderitaan hidup, orang itupun segera murtad.
  • Godaan duniawi: Ada orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kenikmatan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah dan akibatnya hidup orang itu jadi melenceng.

Selain itu, banyak orang yang kecewa melihat hidup orang Kristen seolah tidak ada bedanya dengan orang yang tidak beriman. Apalagi, agama lain mengajarkan bahwa keselamatan manusia ituu harus ditunjang hidup yang baik, dengan amal dan sedekah, dengan ritual dan doa tertentu. Orang Kristen ternyata tidak sebaik yang mereka harapkan. Mereka yang kecewa itu tidak sadar bahwa standar Tuhan tidak akan dapat dicapai manusia, dan manusia hanya bisa diselamatkan kalau Tuhan yang memberi anugrah keselamatan.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman;  itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8-9

Mereka yang ingin  bukti keselamatan mereka, kemudian memilih agama yang mengharuskan mereka untuk berbuat sesuatu. Salah pilih! Hanya Tuhan yang menentukan siapa yang diselamatkan, dan mereka yang diselamatkan bukan karena usaha sendiri.

Ada pula orang yang memilih agama karena ikut-ikutan suami, istri atau orang tua. Barangkali mereka melihat bahwa semua agama baik adanya. Menurut mereka, tidak ada agama yang mengajarkan hal-hal yang buruk. Malahan agama-agama lain lebih terlihat lebih toleran dari agama Kristen, dan pemimpinnya lebih rendah hati. Tidak ada tokoh agama lain yang mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan kecuali Yesus. Bagaimana bisa anak tukang kayu mengaku sebagai anak Allah? Mereka yang meragukan hal ini, seperti Yudas, tidak pernah mengenal Yesus sebagai juruselamatnya. Dan seperti Yudas, mereka merasa salah memilih. Dan mungkin juga, seperti Yudas, mereka tidak akan pernah menemui keselamatan!

Pagi ini kita ditantang dengan sebuah pertanyaan: apakah kita yakin tidak salah pilih. Apakah kita yakin bahwa kita sudah diselamatkan dan apa buktinya? Kita harus yakin bahwa Allah kita adalah Allah yang benar yang mahasuci, yang tidak dapat dicapai dengan usaha manusia. Mereka yang mengajarkan bahwa kita bisa mencapai pilihan yang benar dengan usaha kita sendiri adalah keliru. Allah orang Kristen bukan allah-allahan yang kecil.  Manusia hanya bisa diselamatkan karena menjawab panggilan Tuhan. Manusia tidak dapat meraih Tuhan dengan berbuat baik; Tuhan yang harus datang ke dunia dengan merendahkan diriNya untuk menebus dosa manusia. Hanya ada satu agama yang mengajarkan bahwa Tuhan sendiri telah datang ke dunia untuk menebus dosa manusia.

Jamu manjur?

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Bagi kita yang hidup di kota besar, tukang jual jamu tradisional mungkin sudah jarang terlihat. Tukang jual jamu ini biasanya seorang wanita yang menggendong jualannya dan berkeliling masuk keluar kampung. Di kota besar, sebagai gantinya kita mungkin masih bisa menemukan jamu-jamu sejenis di beberapa hotel sebagai bagian dari menu makan pagi. Mengapa orang senang minum jamu semacam ini? Ada berbagai alasan yang mungkin mereka berikan. Jamu tradisional mungkin dianggap lebih manjur untuk sakit tertentu sekalipun belum ada bukti ilmiahnya. Pemakainya mungkin percaya bahwa jamu-jamu itu lebih manjur dari obat dokter. Mungkin juga karena adanya anggapan bahwa akibat sampingannya kecil. Lagi pula karena harganya relatip murah, semua golongan masyarakat bisa menjangkaunya.

Didalam hidup kekristenan, kita sekarang juga sering mendengar dan menyaksikan adanya “bakul-bakul jamu” di gereja. Mereka yang menjanjikan penyelesaian instan masalah-masalah kita; masalah keuangan, hal kesuksesan, masalah kesehatan, soal hubungan kemanusiaan dll. Semuanya seolah bisa diselesaikan hanya melalui iman kita kepada Tuhan. Seperti jamu-jamu itu, berbagai cara dan jalan diajarkan pembicara-pembicara di gereja untuk dapat memperoleh berkat keuangan, kesuksesan, kemashuran dan kesembuhan. Bahkan, mereka seolah mengajarkan cara untuk membuat Tuhan mendengarkan dan menuruti permohonan kita. Tokoh-tokoh gereja bermunculan dan menjadi tenar karena mereka membuat jemaatnya terpukau akan kata-kata mereka. Kesaksian demi kesaksian diperagakan oleh mereka sebagai bukti bahwa jika kita memakai cara tertentu, Tuhan akan menjawab doa kita secara instan.

Sungguh disayangkan bahwa begitu banyak orang Kristen yang tekecoh oleh jamu-jamu dan penjual jamu di gereja. Tertipu oleh jampi-jampi dan dukun-dukun gereja. Mereka tidak sadar bahwa jalan Tuhan bukan jalan manusia. Jalan Tuhan belum tentu yang tercepat atau termudah, tetapi adalah jalan yang terbaik buat umatNya. Sebagian dari tokoh-tokoh gereja itu malahan dianggap sebagai nabi-nabi modern yang bisa melakukan berbagai hal-hal ajaib dan meramalkan masa depan manusia. Mereka memuliakan dirinya sendiri dan dipermuliakan jemaatnya dan mereka hidup dalam kemewahan – tidak seperti nabi-nabi dalam Alkitab. Mereka menjadi bakul jamu yang sukses, yang kaya raya. Ini adalah salah satu tanda-tanda akhir jaman yang sudah tertulis dalam Alkitab:

“Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.”  2 Petrus 2: 3

Untuk mereka yang dekat dengan Tuhan, Tuhan mengaruniakan kebijaksanaan rohani yang bisa membedakan jamu asli dari jamu palsu,  melihat perbedaan antara penjual jamu dan dokter. Mereka akan mengerti bahwa Tuhan mendengar permohonan anak-anakNya tetapi tidak dapat diperintah oleh siapapun. Tuhan melihat ketulusan hati dan bukan kesombongan. Tuhan menyukai kata-kata yang sederhana tapi tulus, daripada kata-kata yang muluk-muluk dan sombong. Tuhan berfirman melalui hambaNya yang mampu menggunakan kata-kata yang jelas, Alkitabiah dan santun, bukan kata-kata yang lucu, kasar atau tidak ada artinya.

Memang manusia cenderung berbuat kekeliruan yaitu mudah tertarik atas solusi  yang instan. Tertarik atas kata-kata manis, bombastis atau lucu. Tertarik atas apa yang bisa dilihat mata. Terpukau akan apa yang bisa dinikmati tubuh.  Persis seperti apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa di taman Firdaus: untuk memperoleh status yang sama dengan Allah mereka memilih cara yang mereka anggap mudah  dan instan yaitu mempercayai iblis. Kesalahan fatal! Seperti itulah banyak orang Kristen yang tergoda untuk memperoleh hasil yang hebat dan besar dalam waktu yang singkat, dan mereka jatuh kedalam perangkap dosa. Mereka tidak sadar bahwa itu adalah pekerjaan iblis.

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu”  2 Tesalonika 2: 9

Perjuangan hidup ini tidak mudah, apa yang kita minta belum tentu terjadi menurut apa yang harapkan. Tetapi kita harus sadar bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan apa yang terbaik, yaitu kasihNya, yang tidak dapat lenyap dalam hati kita. Mereka yang tidak mengerti akan hal ini  tidak akan juga dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Awas ada ular!

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Australia bukan saja terkemal dengan binatang-binatang yang lucu seperti kangguru, koala dan burung kukabura, tetapi negara itu memiliki 21 dari 25 jenis ular berbisa yang ada di dunia. Memang di Australia ada banyak jenis ular, ada yang kecil ada yang besar, ada yang berbisa ada yang tidak berbisa. Sekalipun ular itu kecil, tetap saja manusia tidak menyukai ular karena gigitan ular kecilpun bisa mengakibatkan infeksi. Ular yang besar di Australia, ular piton misalnya, tidaklah beracun, tetapi bisa menelah hidup-hidup seekor anjing ataupun buaya. Ular yang paling berbisa di Australia adalah ular yang paling berbisa di dunia. Ular taipan, misalnya mempunyai racun yang bisa mematikan 100 manusia dengan racun yang ada dalam satu gigitan! Walaupun demikian, kematian karena gigitan ular taipan adalah jarang karena adanya suntikan anti bisa yang jika diberikan pada waktunya akan bisa mencegah kematian. Selain itu, pada umumnya penduduk Australia sangat berhati-hati jika berjalan diantara semak-semak atau di hutan.

Ular adalah binatang yang sudah sejak dulu ada di dunia. Bahkan Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa karena bujukan iblis yang berbentuk ular. Sudah tentu ular bukanlah iblis, tapi tampil dalam kitab Kejadian 3 untuk melambangkan iblis. Mungkin saja iblis tampil dalam bentuk  seekor ular, merasuki seekor ular, atau membuat Adam dan Hawa sepertinya bercakap dengan seekor ular. Untuk umat Kristen dan juga pengikut agama lain, ular adalah hewan yang menjijikkan, berbahaya dan tidak dapat dipercaya. Ular adalah lambang keculasan dan kekejian. Kalau iblis muncul sebagai ular di jaman ini, hampir bisa dipastikan bahwa semua manusia akan menghindarinya, tidak mau mendekatinya, dan bahkan akan bersusaha menyingkirkan atau membunuhnya.

Ular yang kita hadapi dalam dunia jasmani rupanya berbeda dengan ular rohani. Ular di dunia jasmani lebih mudah dilihat, diidentifikasi dan dihindari.  Biasanya ular yang demikian malahan berusaha menjauhi manusia. Ular sebenarnya takut kepada manusia. Orang yang diserang ular biasanya melalui perjumpaan yang tidak disengaja ditempat tempat yang tidak terduga.  Lain halnya dengan ular rohani yang ada dimana-mana dalam hidup kita. Perjumpaan dengan iblis seringkali terjadi ditempat tempat yang biasa kita kunjungi, di kantor, di rumah, di sekolah dan bahkan di gereja. Ular rohani, si iblis, tidaklah takut kepada manusia. Iblis adalah mantan malaikat Allah yang sangat pandai dan punya kuasa besar. Baginya manusia adalah mahluk yang lemah dan mudah dikalahkan. Manusia juga mudah ditipu, apalagi jika iblis menampilkan diri dalam bentuk yang indah dan menarik dan bukannya seperti ular.

Rasul Paulus dalam ayat diatas menyatakan kekuatirannya bahwa jemaat di Korintus mudah disesatkan dari kesetiaan mereka kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh iblis dengan kelicikannya. Sebagai orang Kristen kita mungkin tidak akan terkecoh jika iblis menampilkan diri dengan hal-hal yang nyata-nyata jahat dan buruk atau menakutkan. Tetapi jika iblis menggunakan kelicikannya, mudahlah ia mengalahkan manusia, kecuali manusia itu ada di dalam perlindungan kuasa Allah. Kecuali jika Roh Kudus bekerja dalam hidup manusia. Kecuali jika kita mau berjalan menurut bimbinganNya.

Memasuki minggu yang baru ini, kita diingatkan bahwa jika kita berjalan menurut kemauan  kita sendiri dan tidak mau dibimbing ole Roh Kudus, perjumpaan dengan ular, si iblis itu, tidak akan bisa dihindari. Ular-ular rohani ini ada dimana-mana siap menyerang mereka yang lemah di setiap saat. Ular-ular ini tidak takut atas manusia, sebaliknya malahan selalu mau mendekati dan menipu manusia dengan berbagai rayuan berbisa. Ada banyak umat Kristen yang tertipu oleh ajaran-ajaran yang keliru dan hidup dalam kesesatan, dan dengan itu mereka tidak lagi memuliakan Yesus. Sebalinya, mereka  mungkin justru hidup untuk kesuksesan dirinya sendiri, mendewakan sesama manusia, dan memprioritaskan hal-hal duniawi. Mereka mungkin juga hidup menghalalkan segala cara selama tidak melanggar hukum pemerintah. Karena itu, berdoalah senantiasa agar kita dilindungi dan dibimbing oleh Tuhan dalam perjalanan hidup ini. Hanya dalam Yesus kita menemukan keselamatan!

 “Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.” 2 Korintus 11: 4