Maju dalam Kristus

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13-14


Libur lebaran sudah berlalu, banyak orang mulai balik kembali ke rumah masing- masing. Arus balik lalu lintas mulai meningkat, jalananpun menjadi macet. Setahu saya, saat ini banyak orang yang merasa bahwa liburan begitu cepat berlalu; keindahan yang sudah dialami bersama keluarga dan teman sekarang tinggal kenangan. Sebaliknya, mereka yang tidak dapat menikmati liburannya akan merasa lega karena kesibukan rutin akan dapat segera dimulai lagi. Memang liburan kalau bisa dinikmati akan serasa pendek, tetapi kalau membosankan tentunya akan terasa panjang. Tetapi untuk semua orang, tidak ada liburan yang tidak berakhir.

Seperti liburan, hidup kita memang terkadang terasa indah, namun ada kalanya hidup terasa membosankan dan melelahkan. Kesibukan kehidupan seringkali membuat kita lupa bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita bukanlah tujuan kita yang sebenarnya.  Hidup di dunia adalah sementara dan harta dan kebahagian duniawi bukanlah tujuan utama.

Jika kita sekarang dalam perjalanan kembali ke rumah kita, atau jika kita dalam perjalanan kembali ke kota untuk bekerja minggu depan, apakah yang kita pikirkan? Barangkali kita mulai merencanakan apa yang akan kita kerjakan minggu depan, bulan depan dan seterusnya. Karena sesudah liburan bebas kerja yang baru lalu, masih banyak hal yang harus kita kerjakan.

Paulus menulis bahwa ia pernah “berlibur” di dunia tetapi ia selalu ingat bahwa ada hal- hal penting yang harus dikerjakannya di masa depan. Apapun yang pernah dialaminya di masa lalunya, baik itu berupa harta, kedudukan atau kekuasaan, bukanlah apa yang kekal. Ia lebih suka melupakan hal-hal itu karena ada tujuan yang lebih penting, yaitu hidup menurut panggilan Tuhan. Ia tidak pernah berpikir bahwa ia sudah menyelesaikan tugas imannya; karena itu ia selalu mau bekerja keras dalam mengarungi masa depannya agar ia makin sempurna didalam Kristus. Ia lebih suka melupakan hal-hal yang kurang berarti di masa lalu, dan terus maju ke masa depan dengan rencana-rencana baru untuk kemuliaan Tuhan.

Pengalaman-pengalaman hidup kita hanyalah seperti liburan yang pendek. Setelah liburan berakhir datanglah kenyataan. Kenyataan bahwa sebagai anak Tuhan kita harus bisa serupa dengan Yesus Kristus. Marilah kita melupakan apa yang sementara dalam hidup ini untuk dapat berlari kencang mencari tujuan hidup yang sebenarnya: memuliakah Allah!

Sunyi sepi sendiri

“Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.” Mazmur 25: 16

Masih ingatkah anda akan lagu “Surat Undangan” yang dinyanyikan oleh Diah Iskandar? Lagu sentimental ciptaan Jules Fioole ini sangat populer pada tahun 1960an. Walau sudah berumur,  lagu ini tetap dikenal orang dan malah dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi lain seperti Yuni Shara.

Sunyi sepi sendiri, sejak kau tinggal pergi.

Tiada kabar berita, hidupku merana…

Begitu juga di dunia barat banyak lagu yang berthemakan kesepian seperti “Mr. Lonely” nya Bobby Vinton yang sangat terkenal itu:

Lonely I’m so lonely.

I have nobody To call my own

I’m m so lonely, I’m Mr. Lonely                       

I have nobody To call my own

I’m so lonely

Memang masalah kesepian itu masalah yang sangat umum di kalangan apapun. Mereka yang muda mungkin kesepian karena hidup jauh dari orang tua  atau karena ditinggal teman/pacar. Mereka yang  berkeluarga mungkin kesepian setelah ditinggal atau dilupakan oleh suami, istri atau anak tersayang. Dalam kesepian, seseorang mungkin hidup di tengah keramaian, tetapi tetap merasakan bahwa  hati dan pikirannya serasa kosong dan karena itu hiduppun serasa tidak ada artinya. Kesepian adalah salah satu penyebab utama depresi dan bunuh diri.

Pemazmur diatas merasakan kesepian karena sebatang kara dan tertindas. Memang manusia sebagai mahluk sosial selalu membutuhkan teman. Jika teman yang baik tidak dipunyai, serasa hidup kita sebatang kara. Apalagi jika kita dalam kesulitan. Yesuspun merasakan kesepian di taman Getsemane sebelum disalibkan karena semua orang, termasuk murid-muridNya, meninggalkan atau melupakan Dia.

Kesepian jugalah yang membuat seseorang mencari jalan keluar berupa berbagai aktivitas-aktivitas sosial untuk menghilangkan kebosanan, dengan sibuk mengumpulkan harta benda, membeli pakaian,  makanan dan minuman secara berlebihan, memakai obat-obat terlarang, memiliki banyak mainan atau hewan peliharaan dsb.

Kesepian adalah tanda jauhnya Tuhan dari hidup manusia. Yesus merasa kesepian di taman Getsemane karena Allah Bapa membiarkan Yesus bergumul dalam usaha untuk menebus dosa manusia. Manusia mungkin merasa kesepian karena mereka telah hidup sesat, jauh dari Tuhan. Ada juga mereka yang kesepian karena belum mengenal Tuhan. Mereka yang kenal Tuhan sering juga merasa Tuhan itu jauh dan lambat bereaksi. Dan banyak juga manusia yang merasa kesepian karena iblis yang berusaha menghancurkan hidup mereka. Memang manusia mudah dikalahkan melalui kesepian.

Kesepian adalah salah satu musuh besar manusia modern. Manusia yang makin individualis. Tiap orang, tua maupun muda, harus bisa menangani hidupnya sendiri. Teman, anak dan keluarga tidak dapat lagi diharapkan untuk memberi dukungan. Kekecewaan mungkin datang silih berganti dan segala aktivitas pelarian ternyata hanya memberi kebahagiaan semu yang bersifat sementara. Hanya satu yang tidak pernah berubah: Tuhan itu ada dan Ia tetap mengasihi umatNya. KepadaNya kita berharap, didalam Dia kita menemukan kedamaian.

 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Soal kecerdasan

Berfirmanlah Allah kepada Salomo: “Oleh karena itu yang kauingini dan engkau tidak meminta kekayaan, harta benda, kemuliaan atau nyawa pembencimu, dan juga tidak meminta umur panjang, tetapi sebaliknya engkau meminta kebijaksanaan dan pengertian untuk dapat menghakimi umat-Ku yang atasnya Aku telah merajakan engkau”   2 Tawarich 1: 11

Di jaman ini, seorang yang melamar sebuah posisi harus bisa menunjukkan prestasi yang baik dalam berbagai hal, dan umumnya harus mempunyai IQ dan EQ yang cukup baik. Intelligence quotient atau IQ adalah ukuran kecerdasan seseorang yang dibandingkan dengan sesamanya dalam satu populasi. Walaupun IQ tinggi menunjukkan bahwa seseorang adalah pandai, IQ tidak menjamin bahwa orang itu mampu bekerja dengan baik. Karena itu, sekarang banyak perusahaan yang memakai EQ sebagai  standard ukuran kemampuan pelamar. EQ (Emotional Quotient) adalah ukuran kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. EQ belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan IQ. 

Kesuksesan seseorang sebenarnya tidak hanya tergantung pada IQ dan EQ nya. Beberapa ahli menyatakan bahwa diluar kedua ukuran diatas, masih ada SQ (Spiritual Quotient) dan PQ (Physical Quotient). Aduh…koq banyak macamnya sih? IQ dan EQ masih belum cukup, kita masih juga harus memiliki SQ dan PQ!

SQ adalah kecerdasan spiritual yang memungkinkan seseorang untuk bertindak dengan kebijaksanaan dan kasih dengan mempertahankan kedamaian kedalam dan keluar dalam suasana apapun. PQ adalah ukuran kecerdasan fisik yang memberikan kemampuan kepada seseorang untuk menyadari keadaan kesehatan tubuh dan jiwanya agar bisa menjaga kesehatannya secara menyeluruh.

Dalam ayat diatas kita bisa melihat bahwa raja Salomo ternyata tidak mementingkan hal-hal lain kecuali kebijaksanaan dan pengertian untuk dapat membimbing rakyatnya. Tuhan sangat senang karena Salomo tidak meminta kekayaan material, kemashuran, umur panjang atau nyawa musuh-musuhnya. Salomo justru menginginkan kemampuan untuk bisa membimbing rakyatnya dengan kasih dan pengertian. Rupanya Salomo waktu itu  sadar bahwa untuk bisa sukses sebagai pemimpin ia perlu  kecerdasan emosional dan spriritual! Bagaimana Salomo bisa sadar bahwa kesuksesan bukan tergantung kepandaian otak dan kesehatan tubuh saja? Bagaimana ia bisa tahu bahwa modal materi dan kekuatan fisik saja tidaklah cukup? Seakan ia sudah mengerti apa yang dikatakan Yesus dalam Lukas 12: 29-31 ini:

“Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.”

Buat kita orang percaya, soal IQ, EQ, SQ dan PQ itu memang penting tetapi terlebih penting lagi adalah menyadari dari mana asalnya kecerdasan dan kemampuan diatas. Hanya Tuhan yang bisa memberi apa yang baik dalam hidup kita. Hanya Dia yang mampu memberi kecerdasan surgawi. Kita memang mempunyai tanggung jawab untuk memilih apa yang kita utamakan dalam hidup kita. Tetapi, dengan pikiran kita sendiri kita sering memilih apa yang keliru dan mengutamakan apa yang tidak atau kurang penting. Hanya dengan bimbingan Roh Kudus kita akan dapat menghasilkan apa yang baik:

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Marilah kita hari ini merenungi apa yang kita prioritaskan dalam hidup kita. Tiap hari dalam hidup kita, Tuhan bertanya kepada kita, seperti Dia bertanya kepada Salomo, tentang apa yang kita inginkan. Untuk kita sendiri maupun anak cucu kita. Apakah jawaban kita? Biarlah kita bisa mengutamakan apa yang bisa memperkuat kasih kita kepada Tuhan dan sesama kita. Dia yang mahakasih pasti mengaruniakan apa yang benar-benar kita perlukan!

Awas barang imitasi

“Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.” 2 Petrus 2: 1

Rolex submariner: asli vs. palsu

Beberapa bulan yang lalu kami berdua berkunjung ke Hong Kong untuk sekedar berjalan-jalan dan berwisata kuliner. Kami sempat juga pergi ke beberapa shopping centre sekedar untuk lihat-lihat, window-shopping.  Karena hotel kami berada di pusat kota kami bisa melihat begitu banyak orang di jalan, terutama di daerah komersial seperti Tsim Sha Tsui yang sering kami lewati. Sungguh menarik karena di daerah itu, ada orang-orang di pinggir jalan yang menawarkan jam tangan palsu. Memang Hong Kong terkenal dengan produk jam tangan palsu yang ada berbagai macam kwalitasnya, mulai dari yang murah sampai yang agak mahal karena betul-betul mirip dengan aslinya. Seringkali sulit sekali untuk membedakan barang yang asli dari barang yang tiruan karena selain tampak luarnya yang indah, juga bunyi detiknya sangat halus!

Soal barang palsu memang sudah ada sejak awalnya. Adam dan Hawa juga jatuh kedalam dosa karena pengajaran palsu si iblis yang mengatakan hal-hal yang tidak benar tentang Allah (Kejadian 3: 1-5). Sejak saat itu iblis selalu berusaha menipu manusia dan terutama anak-anak Tuhan dengan berbagai cara agar mereka jatuh kedalam dosa dan meninggalkan jalan kebenaran. Didalam kehidupan gerejapun banyak terjadi bahwa tokoh-tokoh gereja dan gereja-gereja tertentu jatuh terseret kedalam tipuan iblis. Mereka yang tertipu oleh iblis itu kemudian meneruskan ajaran-ajaran yang tidak benar kepada orang lain. Bagaimana kita bisa membedakan ajaran yang benar dari ajaran yang palsu?

Pertama, banyak pemimpin dan gereja imitasi yang tidak menomer-satukan Yesus. Apa yang ditonjolkan dalam kehidupan dan pelayanan mereka adalah hal-hal lain seperti mujizat, nubuat, dan berbagai karunia yang membuat mereka merasa bahwa Tuhan memilih mereka sebagai orang yang istimewa. Mereka menikmati sanjungan masyarakat dan sering membuat sensasi dengan ramalan-ramalan tentang masa depan bak ahli nujum. Kita harus ingat bahwa iblis dulunya adalah malaikat rupawan yang gila hormat!

Kedua, banyak ajaran yang palsu tidak berdasarkan sepenuhnya pada firman Tuhan. Seringkali pengajar palsu memakai Alkitab untuk menggunakan ayat-ayat tertentu saja guna mendukung ajarannya. Thema pengajaran mereka umumnya  itu-itu saja: kemakmuran, kesuksesan, kebahagiaan, percaya diri dsb. Banyak juga orang yang mengajarkan Firman menurut pengertian mereka sendiri. Yang mencampur adukkan Alkitab dengan “pengilhaman langsung” atas diri mereka. Yang mencampur Firman dengan selera masyarakat jaman ini. Celakanya, kalau jemaat kurang mau belajar dari Alkitab, mereka akan mudah tertipu. Kita harus ingat bahwa firman Tuhan telah dikumpulkan menjadi satu, yaitu Alkitab. Siapapun tidak boleh menambah atau mengurangi isi Alkitab.

Ketiga, pengajar yang palsu sering tidak dapat menerapkan firman Tuhan dalam hidup mereka sendiri. Buah-buah Roh (Galatia 5: 22-23) yang semestinya bisa kita lihat jelas dalam hidup mereka, seringkali tidak mudah dilihat. Guru-guru palsu ini seringkali malahan kelihatan sebagai orang yang mementingkan diri mereka sendiri atau kebesaran organisasinya. Mereka seringkali berkotbah membangggakan keberhasilan atau kesuksesan mereka dan kurang peduli akan mereka yang menderita. Mereka yang sering bertengkar dengan orang lain dan merendahkan golongan lain.

Keempat, banyak aliran dan pengajar palsu yang tidak membawa kedamaian diantara masyarakat. Karena mereka, Injil lebih mirip kabar buruk daripada kabar baik! Perpecahan dalam gereja, pertengkaran diantara pemimpin-pemimpin gereja seringkali memberi tanda bahwa sesuatu telah berjalan dengan kurang benar. Pengajar yang ikut-ikutan bermain politik dan serang-menyerang dengan golongan masyarakat yang lain perlu disangsikan panggilannya. Roh Tuhan adalah Roh pembawa ketertiban dan jika keadaan malahan menjadi kacau, anda harus bertanya apakah Roh Tuhan benar ada disitu.

Kelima, banyak pengajar dan aliran palsu yang bersifat eksklusip. Mereka hanya mau bergaul dengan anggota kelompoknya. Anggota mereka mungkin dianjurkan untuk tidak berkomunikasi dengan kelompok lain. Mereka hanya mau menolong kelompok sendiri dan tidak bisa menerima pendapat orang lain. Mereka yang percaya bahwa hanya mereka yang bakal diselamatkan.

Marilah kita rajin mempelajari firmanNya dan mintalah agar Roh Kudus membuka mata dan telinga kita supaya kita melihat dan mendengar dengan baik, untuk membedakan apa yang asli dari apa yang palsu!

 

 

 

 

Apakah mujizat itu masih ada?

Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan. Markus 13: 22

Salah satu acara TV yang saya senangi adalah magic illusion show nya David Copperfield. Memang dia termasuk salah satu dari 10 top ahli sulap di dunia. Kalau nonton show semacam itu, saya tertarik karena hal-hal yang tidak mungkin bisa terjadi di depan mata. Sekalipun saya tahu itu hanyalah tipuan mata, tetap saja saya merasa kagum atas kehebatan David. Memang manusia dari dulu selalu tertarik akan hal- hal yang spektakular dan ajaib seperti orang-orang Mesir yang kagum atas trik-trik penyihir Firaun.

Manusia pada umumnya mempunyai kecenderungan untuk mengagumi hal-hal yang luar biasa, yang spektakular, yang tidak dapat dijelaskan secara mudah dengan akal pikiran. Itu sebabnya orang agnostikpun percaya akan adanya hal-hal yang diluar pengertian manusia. Albert Einstein misalnya, pernah berkata bahwa ia melalui ilmu pengetahuan dapat melihat hal-hal yang luar biasa di alam semesta, sekalipun ia tidak percaya bahwa Tuhan adalah dibalik semuanya. Sebaliknya, orang Kristen tentunya percaya bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta, tetapi sering kurang menyadari bahwa keajaiban hidup terjadi setiap saat. Keajaiban seperti tumbuhnya bunga di pagi hari, lahirnya seorang bayi ataupun ketika kita bangun tidur dan tetap bisa bernapas!

Manusia memang selalu mengharapkan mujizat istimewa terjadi ketika mereka tersudut. Bagi sebagian manusia, mereka berasa bahwa mujizat dapat memperkuat iman mereka. Tuhan tidak dapat terlihat, namun jika mereka bisa melihat mujizatNya mungkin mereka akan bisa (lebih) yakin bahwa Tuhan itu ada. Begitu mungkin dalih mereka. Tetapi sejarah membuktikan begitu banyak orang yang akhirnya dapat ditipu oleh trik-trik yang dilakukan oleh ahli-ahli sulap, baik diluar gereja maupun didalam gereja. Mereka yang mendapat kesembuhan penyakit yang didatangkan dukun, orang pintar dan pendeta; mereka yang menerima sesuatu setelah melakukan sesuatu tindakan seperti berdoa dengan cara khusus, berpuasa, atau mengunjungi tempat-tempat tertentu.

Masih adakah mujizat itu di jaman ini? Alkitab meyatakan bahwa ada mujizat palsu yang bukan dari Tuhan – baik di Perjanjian Lama (Keluaran 7)  maupun Perjanjian Baru (Kisah 8: 9-25). Alkitab juga menceritakan berbagai mujizat yang dilakukan Yesus dan murid-muridNya. Jadi tidaklah mengherankan jika kita masih juga bisa menemui mujizat palsu dan juga mujizat asli yang datang dari Tuhan di jaman ini. Mujizat istimewa yang datang dari Tuhan mungkin sudah tidak terlalu sering kita lihat saat ini karena  manusia bisa mengenal Tuhan melalui berbagai jalan lain, tetapi di tempat tempat yang terpencil, manusia justru sering menerima mujizat yang berupa intervensi langsung dari Tuhan.

Kita harus sadar bahwa sekalipun ada mujizat, manusia belum tentu bisa menerima atau berserah kepada Tuhan karena kekerasan hatinya. Kalau Tuhan tidak bekerja dalam hidup manusia, ia tidak dapat mengenal Tuhan. Mujizat alam semesta yang kita lihat tiap haripun sekarang sudah kurang bisa dirasakan sebagai mujizat. Sebaliknya, mereka yang selalu mencari mujizat dalam hidup ini, akan mudah jatuh ke dalam perangkap setan. Setan memang mempunyai kemampuan membuat  hal-hal yang diluar kemampuan manusia. Mujizat yang datang dari setan justru membuat manusia jauh dari Tuhan. Mereka yang selalu mencari intervensi Tuhan akan mudah  jatuh kedalam perangkap iblis; mereka akan “ketagihan” mujizat, mendewakan orang atau tempat yang membawa mujizat, dan mereka akan pergi ke tempat-tempat (termasuk gereja) dimana “mujizat” itu terjadi.

Umat Tuhan yang dewasa mengerti bahwa memang kadang-kadang Tuhan meng intervensi hidup kita. Menolong kita, menyadarkan kita atau menguatkan kita. Tetapi sebagai manusia beriman, kita adalah manusia merdeka yang sudah diberikan Roh Kudus yang menguatkan kita hari demi hari. Hidup kita adalah tanggung jawab kita, dan kita tidak bisa mengharapkan mujizat khusus selalau terjadi di depan mata kita. Pengharapan akan mujizat seringkali justru terjadi sebagai manifestasi iman yang lemah, yang tidak mau berserah kepada kehendak Tuhan, dan egoisme, yang selalu ingin untuk mendapat perlakuan istimewa dari Tuhan. Mereka yang memusatkan imannya kepada mujizat akan mengalami kekecewaan, tetapi mereka yang memusatkan imannya kepada Yesus akan menerima kebahagian sejati. 

Apakah anda mau keduanya?

 “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Matius 6: 24

Kemarin pagi saya menyempatkan diri untuk lari pagi sepanjang pantai di Gold Coast. Maklum dengan usia semakin tua, kesehatan harus semakin dijaga dan untuk itu makanan sehat dan olahraga adalah penting. Setelah setengah jam di jalan, tiba-tiba ada suara yang menyapa saya dari belakang. Sewaktu saya menoleh kebelakang, saya lihat seorang wanita setengah umur yang juga berlari pagi. Kemudian kami berlari bersama sepanjang jalan sambil bercakap- cakap. Ternyata dia sedang mempersiapkan diri untuk lari marathon minggu depan. Lari marathon yang pertama untuknya. Omong punya omong, dia bilang bahwa persiapannya untuk Gold Coast marathon membutuhkan waktu yang banyak untuk berlatih, tetapi dia tidak berharap untuk bisa menempuh jarak 42 km itu dalam waktu kurang dari 6 jam karena da seorang perokok berat. Saya hanya mengiyakan, tetapi dalam hati ada rasa heran juga…….

Soal olahraga, Rasul Paulus adalah seorang rasul yang sering membandingkan umat Kristen dengan petinju dan pelari. Paulus menulis bahwa hidup kita adalah seperti pelari yang berlomba untuk mencapai garis akhir dan petinju yang berlatih untuk memukul dengan jitu. Bahwa sebagai orang Kristen kita menggembleng hidup kita sehingga pada akhirnya iman kita tidak sia-sia. Tidak ada yang lebih mengecewakan buat seorang atlit, jika ia gagal untuk memperoleh kemenangan.

“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya. Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”  1 Korintus 9: 24-27

Perjuangan hidup memang tidak mudah karena ada banyak tantangan dan godaan. Kenyataanya, ada banyak orang Kristen yang mempunya hidup ganda. Banyak orang Kristen yang rajin ke gereja, tetapi di luar gereja mereka menjalankan bisnis dan praktek hidup yang tidak berbeda dengan orang yang tidak beriman. Kita mungkin tahu bahwa tubuh kita bukan milik kita sendiri, tetapi kita memperlakukan tubuh kita dengan seenaknya sendiri. Kita mungkin ingin mendapatkan karcis ke surga tetapi tidak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati kesenangan duniawi. Orang di sekitar kita mungkin mengira bahwa kita hidup baik dan berbahagia dalam iman, tetapi mungkin kita hanya bersandiwara!

Dalam ayat Matius 6: 24 diatas, Yesus berkata bahwa tidaklah mungkin untuk anak Tuhan mempunyai dua tujuan hidup, memuliakan Tuhan dan memuliakan hal-hal yang tidak benar, hal-hal yang duniawi. Sebagai atlit, kita harus benar-benar bisa berlari melalui jalur yang sudah ditetapkan dan bukannya melalui jalan pintas ataupun menggunakan cara terlarang untuk mencapai tujuan. Seorang atlit harus juga rajin berlatih dan mau hidup sehat untuk bisa bertanding dengan baik. Sebagai orang Kristen kita harus berjalan di jalan yang benar sekalipun jalan itu terlihat lebih sempit dan sukar untuk dilalui. Karena kita ingin kuat dalam hidup, kita harus rajin memupuk iman kita dengan rajin membaca firman Tuhan dan mempunyai hidup kekristenan yang sehat dan benar.

Memasuki minggu yang baru kita diingatkan bahwa kita adalah “pegawai tetap” kerajaan Allah. Kita adalah orang Kristen, pelari dan petinju full-time. Majikan, boss kita hanya satu. Sepanjang hari, setiap saat, kita dituntut untuk hidup sebagai anak Tuhan. Memang banyak orang Kristen “part-time”, yang hanya hidup secara Kristen dalam saat-saat tertentu dan dalam suasana tertentu. Untuk mereka, petandingan lari serasa acara jalan-jalan dimana mereka boleh berhenti di setiap tempat, menikmati apa yang bisa ditemui, dan kemudian melanjutkan perjalanannya  tanpa merasakan keperluan untuk mencapai tujuan dan kemenangan. Tetapi orang Kristen yang benar akan melatih hidupnya dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, mereka sendiri akan mencapai kebahagian surgawi.

 

 

 

 

 

Malin Kundang

“Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 10: 33

Batu Malin Kundang, Padang.

Bagi kita yang lahir dan dibesarkan di Indonesia, tentu kita ingat akan kisah Malin Kundang. Malin Kundang adalah anak durhaka yang dikutuk karena menyangkali ibunya sehinngga menjadi patung batu. Cerita rakyat Malin Kundang diangkat dari latar belakang sebuah desa nelayan di Pantai Air Manis, Padang Selatan, Sumatera Barat. Jika anda mengunjungi tempat tersebut,  anda mungkin bisa menjumpai sebuah batu yang menyerupai orang sujud, patung si Malin Kundang.

Sebagai orang Kristen, sudah tentu kita mengerti bahwa kita harus menghormati orang tua kita agar kita mendapat berkat dari Tuhan (Efesus 6: 2-3). Orang tua adalah wakil Tuhan dalam keluarga. Dalam hidup kekristenan, kata hormat bukan hanya dengan apa yang bisa dilihat orang lain, tetapi juga dengan apa yang ada dalam hati kita. Hormat bukan sekedar hal lahiriah yang bisa dilihat mata. Hormat juga bukan hanya sekedar sebuah konsep pikiran atau batin. Hormat yang benar adalah bersifat lahir dan batin.

Menghormati orang tua adalah penting, namun menghormati Tuhan lebih penting lagi dan lebih sukar pelaksanaannya. Kita harus mengasihi Tuhan diatas segala-galanya. Matius 22: 37 mengatakan:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”

Tuhan adalah Allah yang menuntut pengabdian manusia secara mutlak karena Ia adalah Allah yang cemburu (Keluaran 20: 5). Lagi pula, Yesus dalam Matius 10: 33 diatas menegaskan bahwa siapa yang menyangkal Dia, akan juga disangkalNya dihadapan Allah Bapa.

Secara sadar atau tidak, penyangkalan atas Tuhan itu sering terjadi dalam hidup kita. Jika kita selalu hidup dalam kesombongan, kekuatiran, kekesalan, kekecewaan, kemarahan dll., kita hidup dalam dunia kecil kita yang tidak bisa mengakui Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Jika kita masih melakukan kebiasaan dan tingkah laku yang membuat kecewa Tuhan dan saudara seiman, sebenarnya dengan perbuatan-perbuatan itu kita juga menyangkali Dia, karena seolah Dia tidak ada.

Tidak hanya materi yang bisa menguasai hidup orang Kristen sehingga Tuhan terlupakan. Kegiatan hidup seperti yoga, meditasi dan olahragapun bisa dicampuri berbagai mantra dan doa yang “nyasar”. Dalam hal pengobatan penyakit, tempat-tempat “keramat”,  dukun “sakti” dan “orang pintar” masih banyak dikunjungi orang-orang yang mengaku Kristen.   Kalaupun mereka mengaku percaya kepada Tuhan, mereka masih juga suka pergi ke tempat praktek “tenaga gaib” seperti tabib sangkal putung  yang makin populer di Indonesia, yang konon bisa menyembuhkan cedera tulang dengan memakai kekuatan  mistik. Dengan melakukan sesuatu yang tidak benar atau pergi ke tempat yang tidak disukai Tuhan, apalagi mencari pertolongan dari orang yang menggunakan kuasa-kuasa yang bukan dari Tuhan, mereka tidak lain hanyalah menyangkal eksistensi Tuhan. Hal-hal ini bisa membangkitkan kemarahan dan  kecemburuan Tuhan!

Pagi ini kita diingatkan oleh firman Tuhan bahwa siapa yang bermain air akan menjadi basah, dan siapa yang bermain api akan hangus. Siapa yang menyangkali kenyataan adanya satu Tuhan didalam Yesus, akan kehilangan tempatnya dihadapan Allah. Pengabdian dan iman kepada Tuhan kita tidak boleh diperlemah dengan cara hidup dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan firmanNya!

Apakah yang akan anda wariskan?

“Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 20

Jika tiba waktu anda untuk meninggalkan dunia ini, apakah yang akan anda wariskan kepada orang yang anda cintai? Kenangan apakah yang akan tinggalkan? Pertanyaan ini mungkin lebih mudah dijawab oleh orang yang sudah berumur karena mereka yang masih muda mungkin berpikir bahwa mereka belum saatnya untuk memikirkan hal itu. 

Di negara barat, ABG pun banyak yang sudah memikirkan apa yang dapat mereka tinggalkan. Bukan harta, karena umumnya mereka masih baru mulai dengan karirnya. Lalu apa, kalau bukan harta? Andaikan punya hartapun, mereka kan belum berkeluarga? Memang benar, mereka tidak mempunyai harta, tetapi mereka mau men donasikan organ tubuh mereka agar bisa ditransplantasi ke orang lain jika mereka mati muda. Ah, koq ada saja …

Warisan adalah barang berharga dan sukar didapat, yang diberikan seseorang untuk orang yang ditinggalkan agar bisa dipakai mereka. Jika Tuhan sudah memanggil kita, kita tidak lagi memerlukan tubuh, kepandaian dan harta kita. Karena itu banyak orang tua yang mati-matian bekerja, bahkan sampai usia uzur, untuk mengumpulkan harta bagi anak-anaknya. Kalau anak sudah berkecukupan bagaimana? Ya barangkali untuk cucu dan cicit….agar bisa tujuh turunan…

Sekalipun warisan iti pada unumnya berguna untuk yang diwariskan, ada kalanya warisan menjadi beban buat orang yang diwarisi. Misalnya pernah terjadi properti warisan orang tua ternyata mengundang pajak yang besar. Wah, tentu saja keadaan yang demikian harus bisa kita hindari. Warisan harus sesuatu yang berharga, berguna, menolong, dan membahagiakan orang yang diberi, agar mereka bisa merasakan cinta kasih mereka yang memberi.

Buat orang Kristen seperti kita, tidak ada sesuatu yang lebih berharga, lebih berguna, lebih menolong, dan lebih membahagiakan daripada harta surgawi, keselamatan yang kita terima melalui Yesus Kristus. Penebusan dosa kita memungkinkan Allah menerima kita sebagai anak-anakNya. Pengorbanan Kristus juga membuka mata rohani kita, memberikan kita kemampuan untuk melihat betapa besar kasih Allah kepada manusia.

Sungguh disayangkan bahwa di jaman modern ini, banyang orang yang memusatkan perhatian pada harta duniawi. Kekayaan, kepandaian, kemasyuran dll. sering menjadi tujuan kerja keras kita. Namun, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya untuk kita. Tidak juga berguna untuk yang kita warisi karena semua itu tidak menunjang keselamatan dan kebahagiaan mereka.

Di akhir pekan ini, marilah kita memikirkan apa yang pantas untuk ditinggalkan untuk orang-orang, masyarakat yang kita kasihi. Sesuatu yang benar-benar berharga, pasti berguna, sangat menolong, dan membawa kebahagiaan yang abadi bagi mereka. Hanya ada satu hal yang penting untuk mereka: Yesus. Marilah kita berdoa nemohon agar Tuhan membimbing mereka dalam hidup mereka, memberikan iman yang teguh dan menumbuhkan kasih mereka kepada Tuhan dan sesama. 

Shalom Aleichem!

 “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Shalom Aleichem! Damai besertamu! Begitulah sapaan yang sering diucapkan oleh masyarakat Yahudi jika mereka bertemu. Sebagai balasan, mereka yang disapa mengucapkan “aleichem shalom” . Di Indonesia, masyarakat Islam memakai ucapan serupa (assalamualaikum dan wa’alaikum salam) ketika mereka baru berjumpa. Pada pihak yang lain, umat gereja sering mengucapkan “shalom” atau “damai” sebagai kependekan dari “shalom aleichem”.

Salam damai ini ternyata juga dituangkan dalm bentuk lagu. Lagu Shalom Aleichem adalah sebuah lagu tradisional dengan pesan senada yang dinyanyikan orang Yahudi tiap Jumat malam sesudah kembali dari berdoa di sinagoga. Lagu itu menyambut datangnya hari Sabbath, dan menyambut datangnya malaikat-malaikat ke rumah mereka.

Bagi umat Kristen, menyampaikan salam damai seperti diatas seharusnya bukanlah sekedar ucapan bibir belaka. Ucapan itu berarti pengharapan dan kepercayaan tentang adanya damai dari yang menyampaikan untuk orang yang dijumpai. Jika orang yang memberi salam tidak mengenal damai, bagaimana pula ia bisa berkata “damai besertamu”? Sama halnya dengan orang-orang yang sering menulis atau mengucapkan salam “GBU” , jika mereka tidak mengenal siapakah Tuhan (God) dalam hidup mereka, ucapan yang demikian adalah sia-sia belaka. Bagaimana kita bisa berkata “shalom” atau “shalom aleichem” jika kita tidak mempunyai kedamaian dalam hidup kita sendiri?

Masalah kedamaian hidup adalah masalah yang rumit. Banyak orang yang hidupnya makmur, tetapi tidak merasakan damai dalam rumah tangga. Ada juga mereka yang mau ke gereja, tetapi tidak menemukan rasa damai disana. Juga karena keadaan dunia yang sekarang morat-marit diberbagai tempat,  kita mungkin sulit untuk mempunyai rasa damai dalam hidup kita.

Buat orang Kristen, rasa damai yang asli datangnya dari Tuhan. Rasa damai dalam Alkitab setidaknya menyangkut lima hal. Hanya kalau kita mau mengerti dan menerima kelima hal ini kita akan dapat merasakan kedamaian yang penuh.

  • Damai dengan Tuhan: Tuhan dengan kasihNya sudah mengambil inisiatip untuk membuat perdamaian dengan manusia yang sudah sesat. Yesus sudah disalibkan dan darahNya sudah memungkinkan dosa kita untuk dicuci bersih dalam pandangan Tuhan (Yesaya 1: 18).  Kita tidak perlu memikirkan bagaimana kita yang berdosa ini dapat mendekati Tuhan, karena Dia yang sudah lebih dulu menyambut kita sebagai anak yang hilang.
  • Damai dengan sesama: Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi sesama manusia, tidak hanya untuk sekedar menjalankan kehendakNya. Tetapi dengan mau mengasihi orang lain kita juga akan lebih sadar bahwa Tuhan sudah lebih dulu mengasihi kita. Dalam mengasihi orang lain dan membina hubungan kasih dengan sesama, kita alan merasakan kedamaian dalam hidup kita. Sebaliknya jika kita hidup dalam kemarahan, dendam dan kebencian, kedamaian tidak dapat kita rasakan dalam hidup kita (Efesus 4: 26-27).
  • Damai dengan masa lalu: Banyak orang Kristen yang selalu teringat akan masa lalunya. Mungkin teringat akan masa-masa kejayaan, saat-saat kemakmuran, atau juga saat dimana mereka membuat kekeliruan dan kebodohan. Akibatnya, mereka selalu dihantui perasaan bahwa mereka adalah orang yang “gagal”. Rasa menyesal dan kekecewaan akan datang mengusir kebahagiaan yang seharusnya ada dalam hidup sekarang yang masih ada. Filipi 3: 13 mengajak kita untuk melupakan masa lalu agar bisa melangkah ke depan.
  • Damai dengan masa kini: Ada juga orang yang mengalami pergulatan denngan hidup masa kini. Mungkin dengan adanya kekurangan, penderitaan, penyakit, perjuamgan dll. yang mereka alami saat ini. Sebaliknya, ada mereka yang berlebihan dalam hidup ini tapi masih juga tidak  dapat merasakan kecukupan. Paulus juga mengalami hal-hal yang serupa, tetapi ia dapat bersyukur dalam keadaan apapun dan merasa cukup dalam kekurangannya (Filipi 4: 11).
  • Damai dengan masa depan: Siapa yang tidak kuatir akan masa depan? Masa depan adalah sesuatu yang tidak bisa kita lihat atau duga. Tetapi, jika kita mau berserah kepada Tuhan dan yakin bahwa Dia akan membawa anak-anakNya ke arah yang baik, kekuatiran kita akan mereda. Kita harus yakin bahwa segala sesuatu akan mendatangkan kebaikan kepada semua umatNya (Roma 8: 28).

Sebelum Yesus meninggalkan murid-muridnya, Ia memberikan damai sejahtera kepada mereka. Ia tahu bahwa sebagai manusia kita sering gelisah dan gentar dalam menghadapi hidup ini. Tetapi apa yang diberikanNya tidaklah seperti kedamaian palsu yang ditopang kepandaian, kekayaan, kesehatan, kemashuran dan kuasa manusia. Apa yang kita terima adalah jauh lebih besar dari itu.

 “….tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yohanes 14: 26

Maksud lo apaan?

“Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”   Roma 8: 8

Ingatkah anda akan lagu ini, yang selalu dinyanyikan di taman kanak-kanak?

Bangun tidur, ku terus mandi…
Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi ku tolong ibu…
Membersihkan tempat tidurku

Lagu ini menggambarkan betapa riang dan sederhana dunia anak-anak, sehingga kegiatan tiap hari hanya terdiri dari tugas-tugas yang itu-itu saja yang bisa dilakukan tanpa memerlukan pertimbangan atau rencana.

Sebagai manusia dewasa,  lagu kehidupan kita berbeda. Segala aktivitas kita biasanya memerlukan pertimbangan mengenai waktu, biaya, kegunaan, untung-rugi, dll. Umumnya, sebagai orang dewasa kita merasa bahwa segala yang kita lakukan haruslah mempunyai maksud tertentu, dan bukannya cuma mengisi waktu kosong. Kalaupun ada waktu senggang, kita biasanya juga merencanakan sesuatu untuk mengisinya dengan suatu kegiatan, seperti menoton TV, makan di mall, dll. Memang apapun yang kita lakukan selalu ada motivasinya, entah itu untuk meperoleh penghasilan, kepandaian, kesenangan atau sekedar mengisi waktu. Motivasi adalah perlu sebab kita tidak berbuat sesuatu hanya untuk sekedar berbuat saja, tanpa maksud atau tujuan apapun. Benarkah begitu?

Dalam hidup kekristenan kita, mungkin kita mempunyai kegiatan rutin seperti berdoa, ke gereja, membaca firman Tuhan, mengurus acara gereja dll. yang sudah biasa kita lakukan. Saking terbiasanya, mungkin kita tidak perlu memikirkannya terlalu dalam. Kita sudah terbiasa dan cukup merasa senang dengan kehidupan kita sehingga kita tidak lagi memikirkan apa yang menjadi motivasi kita dalam melakukan kegiatan-kegiatan itu. Seperti seorang pengemudi mobil yang sudah terbiasa dengan lika-liku jalan raya, tidak lagi memikirkan apa yang harus dilakukannya sepanjang jalan. Begitu juga kita, sebagai orang Kristen, jika hidup kita relatip tenang mungkin kita tidak lagi terbiasa memikirkan hal-hal seperti:

  • Apa arti hidupku sebagai orang Kristen?
  • Mengapa aku disini dan melakukan hal-hal ini?
  • Kemana tujuan hidupku di dunia ini?

Pagi ini kita harus menyadari bahwa motivasi hidup adalah perlu. Tiap orang adalah individu yang harus bertanggung jawab atas segala yang dilakukan dalam hidup. Tanpa kesadaran yang penuh, orang Kristen bisa menjadi seperti “robot” yang bisa berjalan, berkata dan bekerja; tetapi tanpa motivasi yang jelas atau dengan motivasi yang keliru. Motivasi yang sering kita lihat dan dipromosikan banyak pembicara populer umumnya adalah keinginan untuk menolong masyarakat, untuk memperoleh kesuksesan karir, kebanggaan dan kepuasan pribadi.  Namun, motivasi demikian hanyalah bersifat kedagingan. Motivasi hidup orang Kristen yang bisa dibenarkan Tuhan adalah untuk kemuliaan Tuhan saja (Soli Deo Gloria – for His glory only). Inilah yang sukar dalam dilakukan, karena dalam hidup kita Tuhan menghendaki supaya namaNya dibesarkan jika orang melihat apa saja yang kita lakukan.

 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”  Matius 5: 16

Hari ini, jika kita merencanakan untuk berbuat sesuatu, perlulah kita berhenti sejenak untuk mengintrospeksi diri kita. Biarlah segala apa yang akan kita lakukan mempunyai arti yang dalam, dan bukan sekedar berbuat sesuatu untuk diri kita sendiri. Tuhan melihat segala apa yang kita rencanakan dan perbuat, dan Dia selalu mengetuk pintu hati kita dan bertanya: “Apa maksudmu dengan berbuat itu?” Apakah kita punya waktu dan kemauan untuk memikirkan jawabannya ditengah kesibukan kita?