Bolehkah kita membela diri?

Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” Matius 26: 52

Di jaman ini kita banyak mendengar berita tentang kekacauan dan kerusuhan di berbagai tempat. Masalah persekusi dan penindasan terjadi dimana-mana dan juga dalam rumah tangga. Kasus istri yang disiksa suami, baik secara fisik maupun batin, terjadi tiap hari. Penindasan yang terjadi karena sesorang mempunyai kepercayaan tertentu, jenis etnik tertentu ataupun orientasi seksual tertentu banyak dilaporkan dalam media. Mereka yang kuat menidas yang lemah, dan mereka yang berkuasa menjalankan kuasanya dengan sewenang-wenang.

Orang Kristen adalah orang yang harus mempraktekkan kasih kepada sesama. Tetapi kenyataan hidup sukar diduga. Seringkali kita dihadapkan dengan masalah dimana kita harus menerima umpatan, penistaan dan hujatan dari orang disekitar kita. Yesus mengajarkan bahwa jika kita ditampar di pipi kanan, maka kita seharusnya memberikan pipi kiri juga (Matius 5: 39). Perintah ini adalah mengandung kiasan bahwa jika kita mengalami penghinaan atau umpatan orang lain, kita harus bersabar dan tidak memperburuk suasana dengan melakukan pembalasan.

Yesus dalam ayat Matius 26: 52 di atas mengatakan bahwa orang menggunakan pedang untuk menyerang orang lain akan mati karena pedang. Siapa yang suka menyerang orang lain dengan kekerasan akan hancur karena kekerasan. Jelas bahwa orang Kristen tidak boleh menggunakan kekerasan sebagai modus operandi dalam suasana apapun karena kasih adalah modus operandi Allah dalam mengaruniakan juruselamat manusia, Yesus Kristus (Yohanes 3: 16). Menyerang orang lain dan membalas kelakuan jahat mereka adalah bertentangan dengan prinsip hidup keKristenan kita. Kita harus tetap dapat mengasihi sesama manusia, siapapun dalam keadaan apapun.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”  Matius 5: 44

Tetapi bagaimana jika kita tidak hanya menghadapi kemarahan, hujatan dan makian tetapi juga mengalami serangan fisik dan batin? Bolehkah kita membela diri? Ini adalah salah satu topik yang sukar dalam keKristenan. Banyak orang yang berkata bahwa kita harus menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan, dan jika perlu kita harus siap untuk berkurban seperti Stefanus, sebagai seorang martir. Tetapi ini tidaklah benar. Penganiayaan, kekerasan, dan persekusi lainnya terjadi di berbagai tempat di dunia yang penuh dosa ini. Dan adalah kenyataan bahwa karena dunia ini tidak sempurna, pemerintah dan hukum tidak selalu dapat mengendalikan suasana. Tuhan tidak membutuhkan “martir-martir” di setiap tempat dan dalam setiap waktu. Orang Kristen boleh dan wajib membela diri dalam batas-batas tertentu, selama itu tidak merupakan penyerangan dan pembalasan.

Mengenai pedang, dalam Lukas 22: 36 Yesus berkata: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.” Waktu itu murid-muridnya menjawab: “Tuhan, ini dua pedang.” Tuhan Yesus menjawab: “Sudah cukup.” Disini Yesus jelas menunjukkan bahwa sebagai pengikutNya, kita juga boleh bersiap untuk membela diri jika keadaan memang membutuhkan. Dalam hal ini kuncinya adalah kebijaksanaan untuk memakai tindakan yang secukupnya, yang sesuai dengan keadaan. Tidak berlebihan, tidak harus berupa tindakan fisik, dan tidak untuk mengandalkan kekuatan kita sendiri. Bukan juga untuk menyerang orang lain atau untuk membalas dendam.

Hidup sebagai orang Kristen adalah hidup yang bertanggung jawab. Tiap-tiap orang Kristen dikaruniai Tuhan kebijaksanaan untuk bisa melihat keadaan dan kepekaan untuk bisa  mengambil keputusan yang terbaik dalam keadaan kritis. Sebagai orang Kristen kita adalah orang yang cintai damai dan harus berusaha menghindari konflik sebisa mungkin. Namun kita juga harus mempunyai keberanian untuk membela diri dan membela orang yang lemah dalam batas-batas hukum yang berlaku.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Lupa itu perlu

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.” Filipi 3: 13

Dalam hidup ini manusia selalu mengalami masalah dengan soal “lupa”. Waktu saya masih di SD, seringkali guru jadi marah kalau ada murid yang lupa mengerjakan pekerjaan rumah (PR) nya. Maklum, kadangkala banyak juga murid yang bilang lupa. Bukan saja soal PR, tetapi tugas-tugas lainpun sering dijawab murid-murid tertentu dengan singkat dan tegas: “lupa”.

Sesudah dewasa, saya menyadari bahwa jawaban “maaf, kelupaan’ sering kali diucapkan orang kalau terpepet. Orang sudah terbiasa dengan jawaban itu, baik benar-benar lupa atau sekedar alasan. Bukankah semua manusia bisa lupa ditengah kesibukan hidup ini? Lucunya, mereka yang menghutangkan uang kepada orang lain tidak mungkin lupa untuk menagih, sedangkan yang berhutang mungkin mudah untuk lupa bayar. Lupa rupanya juga bisa tergantung sikon dan bisa diatur…..

Manusia memang dikaruniai dengan kemampuan untuk lupa. Jika tidak mungkin otak kita akan jadi terlalu penuh dengan segala kejadian yang pernah kita alami. Apa yang kurang berarti, biasanya mudah terlupakan. Apa yang signifikan dalam hidup ini tentunya tidak mudah terlupa. Contohnya, seorang suami tidak boleh melupakan hari ulang tahun istrinya, kecuali jika usia lanjut sudah membuat kemampuan untuk mengingat menjadi sangat berkurang!

Tuhanpun bisa lupa. Loh, masa begitu? Tuhan kan maha tahu, mana mungkin Dia bisa melupakan segala sesuatu? Memang Tuhan tidak bisa benar-benar lupa, tetapi Dia bisa dengan sengaja melupakan hal-hal tertentu. Tidak mau mengingat lagi.

“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” Yesaya 43: 25

Tuhan dengan kasihNya bisa memutuskan untuk tidak  mengingat-ingat dosa yang pernah kita lakukan karena adanya penebusan darah Kristus.

Bagaimana degan kita sendiri? Bisakah kita melupakan dosa dan kesalahan yang telah kita buat? Untuk sebagian manusia, soal melupakan dosa adalah soal gampang, banyak orang berbuat dosa yang sama setiap hari tanpa merasa menyesal. Hal buruk yang diperbuat mereka kemarin, akan diperbuat lagi hari ini tanpa memikirkan konsekwensinya terhadap Tuhan dan sesama. Sebaliknya, banyak orang Kristen yang selau mengingat-ingat masa lalunya dan karena itu tidak bisa hidup dengan damai karena masa lalu yang selalu menghantui.

Paulus dalam ayat diatas mengatakan bahwa ia mau melupakan apa yang telah terjadi pada masa lalunya dan mengarahkan dirinya kepada apa yang di hadapannya. Ia sengaja melupakan masa lalunya sebagai pemimpin masyarakat yang jaya, berkuasa dan berkecukupan. Ia juga mau melupakan masa lalunya yang penuh dengan hal-hal yang jahat yand dilakukannya kepada pengikut Yesus. Masa lalu Paulus memang penuh dengan hal-hal yang signifikan, yang mustahil untuknya untuk bisa melupakan. Tetapi Paulus sengaja bertekad untuk melupakan apa yang sudah lewat untuk bisa memusatkan diri kepada yang akan datang, yaitu hidup dalam Kristus.

Sekalipun kita mau melupakan apa yang telah terjadi pada masa lalu kita, itu tidaklah mudah untuk melakukannya. Jika kita tidak mendapat pertolongan Roh Kudus yang menguatkan kita, masa lalu kita dapat mencengkeram hidup kita sehingga kita bisa mengalami tekanan spiritual yang berat. Apalagi, iblis sangat pandai untuk mengorek-ngorek masa lalu kita agar kita tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup kita (Wahyu 12: 10). 

Maukah kita memasuki minggu ini dengan kemerdekaan dari pengaruh masa lalu kita, baik itu merupakan kejayaan ataupun kebodohan, hingga kita bisa memusatkan perhatian kita kepada apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita? Berdoalah, dan mintalah pertolongan Roh Kudus supaya kita memperoleh kemerdekaan yang penuh dari pengaruh masa lalu kita!

Adakah buah Roh dalam hidup kita?

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22-23

Lebaran akan datang seminggu lagi. Menjelang lebaran selalu identik dengan jalan macet. Begitu banyak orang yang mulai mudik, perjalanan dari Surabaya menuju ke Kertosono misalnya, bisa memakan waktu 3 jam dengan mobil. Berarti kecepatan rata-rata hanya 35 km per jam! 

Membayangkan bagaimana banyak orang yang terjebak dalam kemacetan lalu lintas, pikiran saya melayang. Kalau saja saya bisa tahu apa yang dipikirkan oleh tiap orang yang terjebak dalam kemacetan lalu lintas, tentu saya akan bisa melihat berbagai ragam reaksi manusia: dari kesal, marah, sedih, bingung, frustrasi dll. Lalu, kalau saya memang bisa tahu apa reaksi tiap orang, mungkinkah saya bisa membedakan mana orang Kristen dan mana yang bukan?  

Saya sendiri kadang meragukan kalau Tuhan sekalipun selalu  bisa melihat bedanya. Itu juga pengalaman saya pribadi yang sering bergulat berusaha untuk berbuat baik, namun sering gagal! Bagaimana mungkin dalam keadaan buruk orang Kristen  masih diharapkan untuk tetap mempunyai kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri? Bukankah dalam keadaan yang kurang enak setiap orang akan cenderung kehilangan hal-hal yang baik itu sedikit demi sedikit, seirama dengan pengalaman buruk kita? Paling tidak dalam keadaan yang “normal” kita kan masih dapat menunjukkan segi kebaikan kita? Bukankah setiap orang umumnya ingin belajar untuk berbuat baik dan tidak selalu bisa berhasil?

Memang benar bahwa manusia bisa belajar untuk bisa mengasihi, bersukacita, bersabar, bermurah hati, dll. Tetapi apa yang merupakan usaha manusia tidak akan tahan uji. Tidak asli dan tidak tahan lama. Sewaktu Yesus berkata bahwa dari buahnyalah kita akan mengenal apakah seseorang adalah anak Tuhan (Matius 7: 20), maksud Yesus adalah buah-buah Roh, sifat-sifat baik yang disebabkan karena Roh Kudus bekerja dalam hidup orang itu. Bukan karena hasil usaha manusia itu sendiri. Bukan juga perbuatan dan sikap baik untuk kemuliaan dan kepentingan diri sendiri.

Buah-buah Roh akan dihasilkan manusia yang mengalami transformasi kehidupan secara terus menerus dibawah bimbingan Roh Kudus. Sebagai manusia, orang-orang Kristen bukanlah orang-orang yang sempurna tetapi adalah orang-orang yang mengalami perubahan “one way only” ke arah yang baik karena mereka membiarkan Roh Kudus memimpin hidup mereka. Mereka tidak kembali ke arah kehidupan lamanya, yang hanya berbuahkan rasa benci, marah, dengki, dll. (Galatia 5:  19-21). Mereka yang  dibimbing oleh Roh akan menghasilkan buah-buah Roh yang asli dan tahan uji,  sebagai pengikut Yesus yang sejati.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Aji mumpung

“Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” Lukas 12: 19

Siapakah yang tidak menyukai kesempatan makan enak, minum segar dan bergembira bersama sanak dan teman? Let’s eat and drink and be merry, begitulah ungkapan yang terkenal sepanjang masa. Marilah kita bersenang-senang karena mungkin tidak ada hari esok! Mumpung masih hidup!

Tidak hanya mereka yang sudah tua yang berusaha menikmati hidup, anak mudapun sering berpesta pora seakan menikmati hari terakhir. Diluar negeri, kita mungkin bisa melihat hal semacam ini di akhir pekan, dimana orang makan minum dan bahkan mabuk, hanya untuk bisa menikmati hari itu.

Makan minum dan menikmati hidup, apakah itu salah? Berwisata kuliner atau ikut cruise atau tour ke luar negeri selagi masih bisa, apa tidak boleh? Menikmati hari tua selagi masih sehat, itu kan baik? Menikmati masa muda selagi masih bebas, apakah itu tidak pada tempatnya? 

Ajakan untuk makan, minum dan bersenang-senang memang ada dalam beberapa ayat Alkitab (seperti Yesaya 22: 13, Pengkhottbah 8:15, 1 Korintus 15:32 dan Lukas 12:19). Tetapi apa yang dilakukan oleh manusia di dunia ini sering bertentangan dengan pesan Alkitab. Aji mumpung di dunia pada umumnya bersifat negatip karena bermaksud untuk melakukan apa saja yang dimaui selagi masih bisa. Alkitab sebaliknya berpesan bahwa selagi kita bisa, sebaiknya kita memanfaatkan hidup untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama manusia.

Sebagai orang Kristen kita tidak sepatutnya hidup untuk bersenang-senang dan berpesta-pora untuk memperoleh kepuasan jasmani semata. Sebaliknya  kita harus hidup didalam kebahagiaan dalam Kristus (Yohanes 15: 10-11):

“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”

Marilah kita memakai hidup kita hari ini untuk berjalan sesuai dengan FirmanNya, supaya kita benar-benar bisa makan, minum dan bersuka cita dalam kecukupan yang telah diberikan Tuhan kepada setiap umatNya.

“Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” 1 Timotius 6: 7-8.

Ngantri donk!

“Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” 1 Korintus 14: 40


MENGAPA GURU DI NEGARA MAJU LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA ?  

Begitulah tulisan sesorang yang disebar-luaskan lewat sosial media dan dikagumi oleh banyak pembaca. Tulisan yang bernada menyindir keadaan setempat yang kurang mengenal etika mengantri. Tidaklah benar bahwa guru di luar negeri lebih khawatir tentang soal mengantri daripada matematika, namun tulisan itu ada benarnya: mengantri itu hal yang penting. Tanpa mengantri, kekacauan akan terjadi karena orang berebut untuk mencari posisi terdepan.

Bagaimana dengan ngantri ke surga? Bukan hanya dalam cerita sinetron TV, memang kita semua mengantri untuk ke surga. Tetapi kebanyakan orang tidak mau berlomba maju ke depan antrian, semua malah pada mau dibelakang! Manusia memang mau enaknya saja, manusia memang cenderung mementingkan diri sendiri.

Beberapa bulan yang lalu, saya pergi ke sebuah shopping centre besar di Brisbane. Saat itu lagi ramai-ramainya orang berbelanja. Setelah berputar-purar mencari tempat parkir, saya menemukan tempat dimana ada seorang pengemudi yang bersiap untuk keluar dari tempat parkirnya. Sayapun menunggu dengan sabar dibelakangnya. Baru saja mobil itu keluar, tahu-tahu ada mobil yang menyerobot dari samping saya dan mengambil tempat parkir itu! Saya hanya bisa menggerutu …Orang itu adalah seorang pencuri!

Mengantri adalah etika untuk menjunjung “law and order”, hukum dan tata cara, yang harus dipraktekkan dalam hidup kekristenan.  Apakah Alkitab pernah membahas soal ini? Barangkali tidak. Budaya antri itu tidak sama diantara banga-bangsa dan biasanya berkembang seirama dengan etiket-etiket yang  lain. Alkitab tidak membahas segala segi kehidupan manusia secara mendetail. Pusat perhatian Alkitab adalah Yesus Kristus dan pengurbananNya. Namun, Alkitab memberikan pedoman-pedoman penting yang bisa diterapkan dalam semua segi kehidupan manusia (Matius 22: 37-39):

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Etika dan etiket orang Kristen sudah seharusnya merupakan pelaksanaan perintah Tuhan diatas. Untuk bisa mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, kita harus bisa mengasihi sesama manusia yang kelihatan (1 Yoh 4: 20). Lebih dari itu, etika dan etiket adalah usaha manusia untuk hidup secara beradab, sopan dan teratur karena itulah yang disenangi Tuhan kita. Tuhan bukanlah Tuhan yang menginginkan kekacauan (1 Korintus 14: 40).

Mengantri juga menyangkut soal kejujuran. Siapa yang tidak mau mengantri, pada hakekatnya mengambil hak orang lain. Siapa yang mengantri sambil “mewakili” orang lain  sehingga orang itu tidak perlu ikut mengantri, mungkin bisa digolongkan sebagai pembantu pencuri. Di gerejapun, kita sering melihat hal semacam ini ketika seseorang menaruh tas atau barang-barangnya di beberapa kursi untuk teman atau anggota keluarga yang belum datang.

Soal mengantri memang dianggap remeh oleh sebagian orang, tetapi untuk orang Kristen adalah soal serius:  soal kasih.

“Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” 1 Yohanes 4: 21

Maju tak gentar

“Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.” Efesus 6: 13


Ingatkah anda akan lagu ini?

Maju tak gentar, membela yang benar.

Maju tak gentar, hak kita diserang

Maju serentak, mengusir penyerang.

Maju serentak, tentu kita kita menang

Lagu karangan Cornel Simanjuntak ini sangat terkenal dulu, karena waktu itu negara Indonesia masih mengalami perjuangan besar. Sekarang, mungkin lagu ini jarang dinyanyikan karena suasana yang sudah berubah. Nada patriotik memang diperlukan sewaktu kita menghadapi pergulatan melawan musuh yang nyata.

Dikalangan gereja ada juga lagu yang bernada serupa:

Maju Laskar Kristus, Maju Berperang,

Ikut Salib Yesus, Yang Memimpinku.

Kristus Tuhan Raja, Bawa Umat-Nya,

Maju Dalam Perang Ikut Panji-Nya.

Lagu “Maju Laskar Kristus” ini adalah terjemahan lagu “Onward Christian Soldiers” yang sangat terkenal itu. Sayang, lagu ini sekarang jarang dinyanyikan di negara barat karena dianggap bisa menyinggung perasaan pengikut agama lain. Mungkin karena rasa enggan karena nadanya yang patriotik dan juga karena adanya kata “perang”. Jangan-jangan pengikut agama lain menganggap umat Kristen bermaksud untuk membasmi mereka.

Lagu “Maju Laskar Kristus” sebenarnya adalah lagu rohani yang dipakai untuk memberi semangat kepada umat Kristen dalam peperangan rohani, peperangan melawan kuasa iblis. Lagu ini berbeda dengan lagu “Maju Tak Gentar” yang merupakan lagu nasionalis untuk mendukung negara.

Mengapa orang Kristen ada didalam peperangan rohani? Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Melawan kuasa setan.  Efesus 6: 12. Walaupun bukan peperangan antar negara, peperangan ini sama dahsyatnya atau malah lebih dahsyat dari peperangan jasmani, karena peperangan ini berlangsung setiap saat, setiap hari, dalam hidup tiap anak Tuhan.

Adalah mengherankan jika kita, sebagai prajurit Kristen yang menghadapi peperangan besar, tidak mempunyai semangat “maju tak gentar”. Adalah menguatirkan jika kita takut menyanyikan lagu “Maju Laskar Kristus” dalam hidup kita. Tetapi bisa dimengerti jika ada orang Kristen yang tidak sanggup berjuang melawan iblis karena tidak mempunyai persenjataan yang cukup. Persenjataan apakah itu?

  • Ikat pinggang: kebenaran
  • Baju zirah: keadilan,
  • Sepatu: Injil damai sejahtera
  • Perisai: iman
  • Ketopong: keselamatan
  • Pedang Roh: firman Allah.

Ada pula orang Kristen yang sebenarnya berniat untuk menjadi prajurit yang baik dan maju perang tetapi sayangnya tidak mempunyai persenjataan yang cukup. Hidup mereka mungkin banyak dipengaruhi oleh dunia sehingga kebenaran dan keadilan sering dilupakan. Kejujuran, moral dan hukum sering ditinggalkan. Sering juga, dalam tekanan kehidupan mereka lupa akan kabar baik bahwa Yesus sudah mati untuk menebus dosa orang yang percaya. Dalam menghadapi masalah besar, mereka juga sering kurang memakai iman. Jika keadaan dunia terasa berat, mereka lupa bahwa dalam keadaan apapun keselamatan mereka sedah terjamin. Dan dalam kebingungan mereka sering lupa untuk mempelajari firman Tuhan.

Hidup Kristen ini adalah peperangan. Marilah kita bisa berdiri tegap dan berani menghadapi kehidupan ini dan mau melawan si jahat dengan saling mendoakan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk kemenangan setiap prajurit Tuhan!

 

 

 

 

 

 

 

Eh, ada setan!

“Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6: 12

Sebagian diantara kita yang tinggal di Indonesia mungkin sudah terbiasa dengan cerita-cerita hantu baik nonton di TV maupun di bioskop. Manusia memang sejak dari awalnya sudah tertarik akan adanya dunia roh diluar dunia kita. Bagi mereka yang percaya adanya Tuhan, mungkin sudah lumrah kalau mereka percaya adanya iblis. Tetapi mereka yang tidak percaya kepada Tuhan juga banyak yang percaya bahwa adanya dunia roh. Malahan ada orang-orang yang hobbynya mengunjungi tempat-tempat “angker” untuk mencari berkat. Di Australia, ada orang-orang yang suka berburu hantu, mereka membawa berbagai peralatan termasuk kamera, alat sensor khusus dll. untuk membuktikan ada tidaknya hantu itu di tempat-tempat tertentu.

Foto: Sebuah rumah kuno di Australia yang dikabarkan “simgit” atau dihuni mahluk halus.

Sebagai orang percaya kita tentu tahu bahwa iblislah yang menipu Hawa ditaman Eden. Di Alkitab, ada banyak ayat yang menyebutkan betapa berbahayanya si iblis itu. Iblis yang berusaha menghancurkan anak-anak Tuhan. Walaupun demikian, tidak banyak orang Kristen yang menyadari bahwa seperti Tuhan itu nyata dalam hidup kita sehari-hari, iblis juga mengelilingi kita. Seperti Tuhan ada dimana-mana, iblispun bisa bergentayangan diberbagai tempat disetiap waktu. 

Orang Kristen banyak yang hidup tanpa menyadari bahwa iblis tidak selalu berbentuk seperti apa yang ditampilkan di film atau buku cerita. Iblis tidak selalu menyatakan diri sebagai kekuatan fisik, tetapi sering muncul sebagai kekuatan spiritual yang tidak mudah dirasakan. Iblis bisa mempengaruhi anak-anak Tuhan yang lengah atau lemah.

Sebagai manusia, kita pada umumnya cenderung berhati-hati jika kita bermaksud untuk pergi ke seuatu tempat atau mau melakukan sesuatu. Kita sadar bahwa ada tempat-tempat tertentu yang diincar penjambret, pencuri atau perampok. Kita juga sadar bahwa ada tempat-tempat tertentu yang beresiko tinggi dalam hal keselamatan seperti mendaki gunung, berenang di lautan dsb. Kita juga tahu bahwa diberbagai negara di dunia ini, peperangan masih berlangsung dan karena itu mungkin kita tidak mau mengunjunginya. Semua yang bisa kita lihat, pikir atau rasakan, memang mudah untuk dipertimbangkan baik-buruknya.

Sayang sekali bahwa umat Kristen kebanyakan kurang menyadari bahwa hal-hal yang jahat tidaklah harus bisa kita lihat, pikir dan rasakan. Di gerejapun, jarang kita diingatkan bahwa begitu kita bangun tidur, kita langsung menghadapi iblis dalam berbagai bentuk penampilan baik nyata maupun tidak nyata. Manusia memang tidak mau hidup dalam kekuatiran terus-menerus, kekuatiran bahwa iblis selalu mengintai kita dan akan menerkam kita di saat yang tidak kita duga. Lebih enak buat orang percaya untuk merasa tenteram karena sepertinya iblis sudah tidak mau menggaggu kita jika kita memakai tanda salib di rumah, kalung salib di leher kta, atau jika kita sudah berdoa dan membaca firman Tuhan tiap hari. Rasa aman yang membuai…..

Kita harus sadar bahwa kita hidup dalam peperangan. Peperangan melawan sesuatu yang mungkin tidak mudah dilihat atau disadari.  Peperangan melawan iblis yang seringkali menyamar sebagai sesuatu/seseorang yang indah, bagus dan menarik. Dalam peperangan melawan setan, prajurit-prajurit Tuhan tidak hanya harus sadar akan adanya peperangan dalam hidup kita, tetapi harus mau dan siap untuk melawan setan dalam segala bentuk dan pengaruhnya. Sebagai prajurit Tuhan kita harus terus menerus berlatih dan dan bersiap untuk berperang. Kita tidak boleh lengah, tidak boleh lemah dalam menghadapi “duel” yang kita hadapi tiap hari. Untuk seorang prajurit, tidak ada hal yang lebih buruk daripada mengibarkan bendera putih, tanda mengaku kalah. Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang menyerah karena hidup mereka yang tidak berdisiplin, karena nafsu dan pikiran jahat mereka – tetapi menyalahkan kekalahan mereka pada iblis.

Iblis di jaman modern bisa juga, dan malah sering, mewujudkan diri dalam dunia maya. Sejak adanya internet dengan berbagai ragam sosial media, anak-anak Tuhan mendapat berbagai serangan setan yang bermacam-macam. Berbagai berita yang menyesatkan, palsu dan membingungkan, yang bisa menumbuhkan berbagai dosa seperti kebencian, kemarahan, penghujatan, penipuan dll., sekarang dengan mudahnya tersebar ke seluruh dunia. Iblis di jaman ini juga masih sering muncul dimana saja dalam bentuk tekanan-tekanan psikologis, fisik, sosial, ekonomi dan politik terhadap anak-anak Tuhan. Karena itulah, biarlah kita sebagai prajurit Tuhan tetap berwaspada dan sadar bahwa setan ada dimana-mana dan karena itu kita harus tetap bertempur melawan setan dengan tetap beriman kepada Yesus Kristus sampai akhir hayat kita.

“Aku telah berusaha dengan bersungguh-sungguh di dalam peperangan iman, aku telah menyempurnakan usahaku, aku telah memeliharakan iman.” 2 Timotius 4:7 (TL)

 

Emangnya gue pikirin?

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24:12


Jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain, bahasa Indonesia termasuk hebat karena selain punya kata-kata baku, bahasa ini juga penuh dengan ungkapan atau slang yang singkat dan mengena, seperti “emangnya gue peduli” atau singkatanya “EGP”, yang mungkin bisa diterjemahkan sebagai “what do I care” dalam bahasa Inggris.

Dalam Alkitab, orang pertama yang mengucapkan kata sejenis EGP adalah Kain, yang sewaktu ditanya Tuhan tentang keberadaan adiknya, Habel, menjawab: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”.  EGP memang mengandung unsur ketidak pedulian terhadap hal-hal yang terjadi didepan mata kita. Kata ini juga berarti menolak untuk bertanggung jawab atas terjadinya sesuatu.

Di jaman ini, orang makin individualis. Cara hidup mereka, cara berpakaian, cara berkomunikasi dll. selalu menonjolkan segi keakuan. Kalau seseorang yang hidupnya amburadul, berpakaian semaunya dan omongnya sembarangan ditegur orang lain, jawabnya mungkin EGPL(emangnya gua pikirin lo). Sebaliknya, biar banyak orang yang melihat orang lain yang hidupnya amburadul, mungkin juga jarang orang yang mau peduli karena kebanyakan orang berpendapat EGP (emangnya gua peduli).

Pemakaian media sosial sering juga mencerminkan perubahan sifat manusia modern yang hanya sering ingin menonjolkan diri sendiri dan menarik perhatian orang-orang lain tanpa peduli akan perasaan orang lain. Begitu banyak komentar-komentar yang dilontarkan dalam Facebook, Twitter dll. tanpa keraguan sedikitpun; sekalipun ada kemungkinan orang lain akan dibuat susah, marah atau menderita. Pokoknya EGP!

Yesus dalam ayat diatas secara tepat mengungkapkan keadaan masa kini. Masa dimana manusia makin cenderung untuk egois dan memuja diri sendiri. Paulus dalam 2 Timotius 3: 2-4 menjelaskan hal ini lebih lanjut:

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.”

Bagaimana dengan hidup kita saat ini? Apakah kita sadar bahwa hidup kita sering terpengaruh oleh arus dunia? Apakah tiap hari kita menyadari perbuatan-perbuatan yang tidak layak kita lakukan baik di rumah, di kantor, dan di Facebook, Twitter, Whatsapp dll.? Sadarkah bahwa dalam menumbuhkan iman kita juga harus menumbuhkan kasih kita kepada sesama kita?

Resiko salah kamar

“Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka.” Lukas 21: 8

Kemarin pagi sekitar jam 6, saya sudah sibuk memindahkan barang dari mobil ke apartment saya. Tetangga masih pada tidur, tetapi saya sudah sibuk  keluar masuk apartment. Untuk memudahkan acara mengangkat barang, pintu depan saya biarkan tidak terkunci.

Setelah sekian kalinya saya naik turun lift untuk nembawa barang-barang dari tempat parkir bawah tanah, secara tidak sadar saya memencet nomer lantai yang keliru. Tanpa berpikir, saya berjalan kearah yang sama seperti menuju ke apartment saya. Setelah membuka pintu depan yang tidak terkunci, saya jadi  kaget: itu bukan apartment saya! Cepat-cepat saya kabur sambil bersyukur bahwa yang punya apartment tidak tahu kalau ada tamu yang tidak diundang …

Kejadian seperti diatas, mungkin jarang  terjadi, tetapi bisa saja terjadi kalau pikiran kita lagi “beristirahat”. Karena sudah terbiasa, kita tidak memakai pikiran lagi untuk melakukannya. Begitu juga dalam soal hidup kekristenan kita; karena sudah terbiasa dengan apa yang kita mengerti selama ini, kita seringkali kurang ketat atau awas dalam menyaring apa yang benar dan apa yang kurang benar.

Di masa sekarang ada berbagai ajaran “kristen” yang mengajarkan berbagai hal yang kelihatannya cukup masuk akal, seperti adanya ajaran bahwa:

  • Ada keharusan untuk mempunyai karunia tertentu untuk tanda iman
  • Tuhan akan memberi kesuksesan kepada yang beriman
  • Akhir jaman akan terjadi pada tahun tertentu
  • Yesus sebenarnya bukan anak Allah
  • Allah Tritunggal itu keliru, Allah hanya satu
  • Keselamatan tidak cukup dengan iman
  • Orang tertentu adalah  antikris
  • Ada banyak jalan menuju keselanatan
  • Pemujaan patung-patung dan simbol keramat
  • Pemimpin gereja yang bernubuat tentang hal yang aneh-aneh
  • Pernikahan tidak harus antara pria dan wanita dll.

Ayat diatas mengajak kita untuk berhati- hati karena dalam mendekati akhir jaman akan ada banyak penyesatan. Kesaksian palsu, injil keliru dan pemimpin gadungan ada dimana-mana. Sebagai orang Kristen, pada hari minggu ini kita dingatkan agar makin berwaspada, agar jangan sampai salah kamar. Kita harus tetap memakai iman dan akal budi kita untuk mencapai tujuan yang benar. Resiko sungguh besar jika kita tidak mengikuti jejak dan tuntunan Yesus Kristus!

Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13-14

Sulitnya menjala ikan

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Matius 4: 19


Seorang pemancing yang bernama Leigh McNair minggu lalu berhasil menangkap ikan barramundi sepaanjang 106 cm di Northern Territory, Australia. Ikan barramundi atau kakap putih adalah ikan air tawar yang banyak dijumpai disungai-sungai di bagian utara benua Australia dan juga di Indonesia dan Papua.

Barramundi atau barra adalah salah satu ikan predator besar, tumbuh hingga mencapai bobot 60kg, tetapi yang sering tertangkap antara 1-3 kg bahkan kurang dari itu. Barramundi dapat tumbuh mencapai 180 cm dan mencapai usia kedewasaan ketika barramundi mencapai panjang sekitar 99 cm. Usia barramundi bisa mencapai 25 tahun.

Memang  menangkap ikan barra itu tidak terlalu mudah karena ikan itu kuat dan gesit sekali. Untuk menangkap ikan yang betul-betul besar lebih sulit lagi karena ikan yang seukuran itu hidupnya ekslusip. Jika Leigh bisa menangkap ikan yang sebesar itu, sepertinya ia lagi beruntung karena sudah berjam-jam ia tak kunjung mendapat ikan satupun di sungai yang banyak buayanya.  Herannya,  ikan sebesar itu akhirnya bisa ditemukan dan ditangkapnya dengan susah payah dalam kubangan air yang cuma seukuran 2×1 meter!


Bukannya mengajak murid-muridNya untuk menjala ikan, Tuhan Yesus mengajak mereka untuk menjala orang.  Membawa orang kepada pengenalan akan Tuhan. Seperti pemancing mencari ikan barra, mereka harus mau pergi ketempat- tempat yang manapun untuk bisa menangkap ikan yang besar. Tempat yang kadang tak terduga, tersembunyi dan banyak bahayanya.

Ikan besar, mereka yang sudah lama hidup dalam ketidak percayaan, tidak mudah untuk ditangkap. Mereka yang sibuk menikmati kekayaan, baik harta, kesuksesan ataupun kepandaian cenderung untuk puas dengan hidup mereka dan mengabaikan usaha kita untuk membawa mereka ke jalan keselamatan. Mereka yang hidupnya berhasil sering percaya bahwa tidak ada lagi yang harus dipikirkan. Yesus mengatakan bahwa orang semacam itu akan sukar untuk menerima karunia keselamatan.

“Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Matius 19: 24

Sebagai umatNya kita diajak Tuhan untuk tidak berputus asa untuk memberitakan kabar keselamatan dimanapun kita berada. Memang sering kita merasa bahwa usaha kita untuk menangkap manusia, terutama yang merasa diri mereka besar dan hebat, adalah sia-sia. Waktu sudah terbuang dan keringat kita bercucuran, namun sang ikan tetap berkubang dalam hidup lamanya. Sering kita bertanya-tanya: apakah mereka dapat ditangkap, dapat diselamatkan?

Tuhan Yesus menjawab:

“Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Matius 19: 26

Marilah kita tetap mau menjala manusia!