Kekuatan yang tidak bisa hilang

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” 2 Korintus 4:16

Badai salju dan turunnya suhu yang luar biasa di Amerika minggu lalu membuat banyak negara bagian mengalami krisis energi. Di kala banyak orang memerlukan tenaga listrik untuk pemanas ruangan, sebagian daerah padam aliiran listriknya sehingga orang harus mencari jalan lain untuk dapat tetap hidup dan makan. Memang, sebagai manusia modern kita memerlukan tenaga listrik untuk kegiatan apa pun; dan jika ini tidak dapat diproduksi atau disalurkan ke konsumen, kekacauan dan penderitaan akan terjadi.

Banyak negara sekarang sudah beralih dari pemakaian tenaga listrik yang berasal dari hasil tambang, seperti minyak dan batubara, menuju ke arah penggunaan energi listrik dari tenaga angin atau ombak laut yang lebih langgeng. Tetapi, untuk menghasilkan tenaga listrik yang cukup besar dan lebih ekonomis sebagian orang berpendapat bahwa kita sebenarnya membutuhkan pembangkit listrik bertenaga nuklir. Sayang sekali, penggunaan reaktor bertenaga nuklir mempunyai risiko besar bagi penduduk sekitarnya. Dalam hal ini, kemajuan sains begitu pesat sehingga teknologi baru yang lebih aman dan efektif terus bermunculan. Harapan para peneliti adalah untuk menciptakan mesin yang bisa menghasilkan energi yang lebih besar dari energi yang dipakai, sehingga kita bisa mendapat suplai listrik yang tidak bisa mati. Kedengarannya mustahil, tetapi ini bisa dicapai melalui teknik nuclear fusion di masa depan.

Dalam kehidupan manusia, kita bisa melihat bahwa dengan bertambahnya umur, kemampuan jasmani kita akan menurun. Sekalipun orang berusaha memertahankan kesegaran tubuhnya dengan makanan bergizi, berolahraga dan cara hidup yang sehat, semua orang akan merasakan bahwa energi yang bisa dihasilkan akan menurun lepas usia pertengahan. Bagi sebagian orang ini adalah keadaan yang dirasakan sebagai penderitaan batin, karena kesadaran bahwa kemampuan tubuh sudah berkurang membuat mereka terpaksa untuk mengurangi kegiatan dan mulai merencanakan hidup hari tua. Bagi mereka, kenyataan hidup bahwa kemampuan tubuh makin merosot hari demi hari adalah sebuah fakta yang menyedihkan.

Bagaimana kita bisa menghadapi hari depan jika kita sadar bahwa pada suatu saat kita tidak lagi mempunyai energi yang cukup untuk hidup mandiri? Mungkin kta berharap akan bantuan orang lain untuk membagi energi yang mereka punyai agar hidup kita bisa tetap berjalan. Tetapi semua itu hanya memberi kesan bahwa hidup kta adalah seperti lilin yang hampir padam. Perasaan sedih akan datang jika kita tidak lagi bisa menghasilkan sesuatu yang positif dalam hidup kita. Bagaimana kita bisa tetap bertahan dan hidup dalam kedamaian jika kita sadar bahwa energi yang ada sudah semakin kecil? Kita membutuhkan pasokan energi baru!

Ayat di atas menjelaskan kunci hidup orang Kristen yang tidak pernah kehabisan energi selama hidup. Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa sebagai orang beriman mereka sadar akan kenyataan bahwa secara lahiriah mereka semakin merosot, namun mereka juga tahu bahwa secara batiniah mereka dibaharui dari sehari ke sehari. Energi mereka tidak pernah habis jika mereka dekat dengan Tuhan yang memberi mereka kesehatan rohani dan kekuatan rohani setiap hari. Jika mereka hidup sesuai dengan firman-Nya dan mengundang Roh Kudus untuk terus bekerja dalam hidup mereka, api Roh Kudus akan terus menyala dan memberi mereka kekuatan untuk menjalani masa depan.

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru, tahun 2023. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita, dan mungkin kita merasa gundah dan lemah. Kita membutuhkan sumber energi yang baru untuk menghadapi pergumulan hidup, baik itu di sekolah, di kantor, dalam rumah tangga, ataupun dalam pergaulan sehari-hari. Kita mungkin merasa lelah, putus asa, atau mungkin bosan dalam menghadapi masa depan. Firman Tuhan hari ini jelas menyatakan bahwa tanpa pembaruan rohani melalui Roh Kudus, kita akan hanya merasakan kemerosotan energi dan semangat hidup. Bertekunlah dalam pembaruan-Nya, maka Anda akan makin kuat dalam menghadapi hari depan!

Selamat hari Natal!

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Hari ini hari Natal, hari peringatan kelahiran Yesus ke dunia. Merry Christmas! Berjuta-juta orang Kristen merayakan hari Natal dengan berbagai acara gereja. Memang, bagi mereka hari Natal adalah hari yang membawa kesan gembira, hari ulang tahun Yesus Kristus. Untuk sementara, orang berhenti memikirkan persoalan hidup dan mencoba untuk bergembira dalam suasana Natal yang dapat mereka temui.

Tidak semua orang bisa dan mau merayakan hari Natal. Mereka yang tidak mengenal Yesus mungkin tidak berminat untuk merayakan kelahiran-Nya. Mereka yang tidak percaya bahwa Yesus Anak Allah, mungkin hanya merayakan Natal sebagai hari untuk libur seperti hari tahun baru. Dan mereka yang membenci Yesus mungkin akan berusaha menghalangi orang lain yang ingin merayakan Natal.

Mereka yang mengerti bahwa Yesus dilahirkan untuk menebus dosa mereka, tentu merasa beruntung bahwa hadiah Natal sudah mereka terima. Mereka sadar bahwa jika hadiah itu tidak datang secara cuma-cuma dari Allah, tidak mungkin bagi mereka untuk membeli harga penebusan dosa-dosa mereka. Karena Tuhan mahasuci, manusia tidak mungkin bisa menerima keselamatan jika itu tidak datang sebagai anugerah-Nya.

Mereka yang mengerti arti Natal yang sebenarnya, juga harus bersyukur bahwa Roh Kudus sudah bekerja dalam hidup mereka, sehingga mereka memperoleh kesadaran akan dosa-dosa yang ada, dan karena itu mau menerima uluran tangan Tuhan yang menyelamatkan. Mereka tentunya menyadari bahwa walau ada banyak yang mendengar panggilan Tuhan, sedikit saja yang terpilih. Memang sebagian manusia terlalu sibuk dengan hidup mereka untuk mau mengikut Kristus dan sebagian lagi memang membenci Dia.

“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Matius 22: 14

Sebagian dari orang yang sudah mengenal dan menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka, masih kurang yakin bahwa darah Yesus sudah melunasi harga tebusan mereka dengan sepenuhnya. Mereka masih terus mencari apa saja yang bisa menambah harga tebusan itu dengan menjalani hukum dan peraturan yang dibuat manusia untuk membuat mereka makin berkenan kepada Tuhan. Tetapi, cara hidup yang demikian sebenarnya merendahkan nilai penebusan Kristus.

“Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.” Galatia 2: 16

Hari ini, dalam merayakan Natal marilah kita bersyukur bahwa Tuhan sudah menunjukkan kasih-Nya yang sempurna. Karena itu kita bisa dengan sepenuhnya bersyukur kepada Tuhan dan menyatakannya dalam hidup kita, bukan saja pada hari ini, tetapi selama kita hidup di dunia. Selamat hari Natal!

Hadiah Natal yang perlu diterima

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Matius 1: 21

Hari ini tanggal 24 Desember dan esok hari adalah hari Natal. Hari Natal yang kita rayakan sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus. Hari itu hanya ditetapkan sebagian orang Kristen karena tidak seorang pun yang tahu kapan hari kelahiran Yesus. Walaupun demikian, hari itu dirayakan untuk memperingati hari kelahiran Yesus. Yesus, Anak Allah, sudah lahir di dunia untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Hari Natal bukanlah seperti hari tahun Baru, yang merupakan awal dari tahun baru. Karena itu ucapan selamat hari Natal sebenarnya tidak seharusnya disampaikan sesudah hari Natal itu datang, tetapi bisa dan lebih cocok untuk diucapkan sebelumnya. Agaknya terlambat kalau ucapan hari Natal itu disampaikan sesudah hari Natal.

Apa arti kata Natal? Kata Natal berasal dari kata Natus dalam bahasa Latin, yang berarti “dilahirkan”. Dalam istilah kedokteran, kata Neonatal menggambarkan bulan pertama kehidupan seseorang. Masa neonatal adalah bulan pertama setelah bayi lahir. Tahap neonatal adalah bulan pertama kehidupan, saat bayi paling kecil dan paling rapuh. Bayi yang lahir di rumah sakit yang tidak bisa segera pulang terkadang tinggal di unit perawatan intensif neonatal, di mana dokter spesialis dan perawat neonatal merawat mereka.

Di Australia, bukan hanya orang Kristen yang menyambut datangnya hari Natal karena hari ini adalah bagian penting dari budaya barat. Hari Natal bagi masyarakat umum biasanya dirayakan sebagai hari keluarga, dimana banyak orang mengunjungi orang tua mereka untuk makan bersama. Liburan Natal yang bersamaan dengan liburan panjang musim panas, juga membuat orang untuk memakai kesempatan yang ada untuk berlibur atau bertamasya bersama keluarga.

Saat ini, anak-anak sudah tidak sabar menanti datangnya Natal karena memikirkan hadiah apa saja yang bakal didapat dari orang tua mereka. Sebaliknya, sebagian orang masih bingung dan bahkan pusing memikirkan hadiah apa yang bisa mereka berikan kepada anak-cucu. Semua itu membuat hari Natal terasa seperti suatu kesibukan bagi semua umur. Walaupun demikian, bagi banyak orang lain hari Natal mungkin justru bisa mendatangkan rasa sedih. Mungkin itu karena tidak adanya anggota keluarga atau teman yang bisa diajak untuk merayakan Natal, atau kurangnya uang untuk bisa membeli hadiah natal. Karena itu, hari Natal yang meriah bagi banyak orang bisa menjadi hari di mana banyak orang merasa sedih, merana atau kesepian.

Seperti disebutkan sebelumnya, bagi mereka yang beragama Kristen, hari Natal adalah hari peringatan lahirnya Yesus. Ini seharusnya lebih utama dari segi sosial dan finansial. Walupun demikian, jika orang Kristen tidak meluangkan waktu untuk memikirkan arti hari Natal untuk dirinya, hari itu tidak akan berbeda dari hari-hari besar yang lain, seperti hari Tahun Baru dan hari kemerdekaan bangsa. Sekalipun ada yang bisa dinikmati, hari libur seperti itu adalah hari yang dirayakan orang setiap tahun tanpa ada yang terasa istimewa secara pribadi. Setiap tahun orang mungkin merayakannya tanpa mengalami perubahan, kecuali umur yang bertambah satu tahun. Benarkah demikian?

Hari Natal adalah hari yang seharusnya mengingatkan kita akan tujuh hadiah yang sudah kita terima dari Tuhan melalui Yesus. Tujuh hadiah itu adalah: pengampunan, pembenaran, hidup baru, perdamaian, pengadopsian, pembebasan dan penyucian. Karena Yesus lahir ke dunia dan mati di kayu salib ganti kita, kita bisa memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kita. Dosa yang seharusnya membawa kematian, tidak lagi menyebabkan datangnya murka Allah, karena melalui Yesus kita dibenarkan. Melalui Yesus kita bisa mendapat hidup baru, karena hidup lama yang sudah mati mendapatkan nafas baru dari Allah.

Natal seharusnya juga mengingatkan kita  bahwa Allah yang membenci dosa kita seharusnya memberi kita hukuman yang setimpal. Kita seharusnya mengalami kematian sebagai balasan atas kedurhakaan kita. Tetapi Yesus datang untuk mendamaikan Allah dengan kita, umat-Nya. Dengan itu terbuka kemungkinan bagi kita untuk diadopsi sebagai anak-anak-Nya dan berhak memanggil Dia sebagai Bapa. Kita sudah dibebaskan dari cengkeraman dosa dan pengaruhnya, oleh karena itu kita bisa mempunyai masa depan yang baik. Lebih dari itu, Tuhan yang mahakasih membimbing kita dengan Roh Kudus-Nya untuk menyucikan hidup kita setiap hari, sehingga semakin lama kita menjadi semakin serupa dengan Yesus.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita akan tujuh hadiah Natal yang sudah diberikan kepada kita. Hadiah-hadiah ini sering tidak kita pikirkan karena pikiran kita yang sering terpusat pada hal-hal duniawi. Hadiah ini seringkali tidak disadari manusia karena mereka menginginkan apa yang tidak abadi, seperti perhiasan, pakaian dan bahkan mobil, tetapi melupakan apa yang penting bagi rohani mereka. Bagi banyak orang, hadiah Natal yang surgawi adalah apa yang tidak mereka harapkan sekalipun itu adalah apa yang mereka butuhkan untuk hari depan. Bagaimana dengan sikap Anda dalam menghadapi Natal yang sebentar lagi akan datang? Sudahkah Anda bersyukur bahwa Tuhan sudah memberikan tujuh hadiah yang berharga untuk Anda dan orang-orang yang Anda kasihi? Semoga.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Damai di bumi?

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9: 6

Tidak terasa hari Natal sudah di ambang pintu dan dengan itu semua orang, Kristen dan bukan Kristen, dapat menikmati suasana Natal karena hotel, pertokoan dan tempat wisata sudah dihias dengan pohon, hiasan dan lampu Natal. Teringat saya akan masa kecil saya di Indonesia, mendengarkan lagu-lagu Natal dari radio luar negeri; membayangkan seolah hari Natal di luar negeri itu penuh kedamaian, apalagi dengan taburan salju di pohon-pohon dan di atas atap rumah-rumah. Salah satu lagu Natal klasik yang sering diputar saat itu adalah Hark! The Herald Angels Sing, ciptaan Charles Wesley. Lagu ini dikenal di Indonesia sebagai lagu Gita Sorga Bergema.

Gita Sorga Bergema adalah kidung yang termuat dalam buku nyanyian Kristen “Kidung Jemaat” Nomor 99 yang diterbitkan oleh Yamuger, dan juga dalam buku “Puji Syukur” nomor 457. Kidung ini biasa digunakan sebagai Nyanyian Gloria besar pada hari Natal dalam gereja-gereja Kristen Protestan. Lagu Natal ini juga populer di kalangan gereja-gereja Amerika Serikat dan Kanada. Pertama kali dipublikasikan pada tahun 1739 dalam koleksi Himne dan Sajak Kudus, Wesley sebenarnya membuat lirik kidung ini khidmat, bukan dengan tempo cepat atau disko seperti yang sering muncul di TV saat ini. Syair bait pertamanya berbunyi:

Gita sorga bergema,
“Lahir Raja mulia!
Damai dan sejahtera
turun dalam dunia.”
Bangsa-bangsa, bangkitlah
dan bersoraklah serta,
permaklumkan Kabar Baik;
Lahir Kristus, T’rang ajaib!
Gita sorga bergema,
“Lahir Raja mulia!”

Himne aslinya digubah sebagai “Himne untuk Natal” oleh Charles Wesley, yang termasuk dalam koleksi John Wesley yang diterbitkan tahun 1739. John dan Charles Wesley adalah dua bersaudara, pendeta gereja Metodis Amerika. Bait pertama kata-katanya direvisi pada tahun 1758 oleh George Whitefield, sahabat John dan Charles Wesley, menjadi syair bahasa Inggris yang sekarang. Kidung ini diterjemahkan oleh Yamuger pada tahun 1977. Versi terjemahan Indonesia lainnya adalah: “Dengarlah Malak Menyanyi” yang dimuat di Pujian Bagi Sang Raja, Sinode GBIS, dan Kidung Persekutuan Reformerd Indonesia, Sinode GRII, dan “Dengarlah Malaikat Nyanyi” yang dimuat di Nyanyian Kemenangan Iman.

Damai dan sejahtera turun dalam dunia, tertulis dalam bait pertama lagu ini. Agaknya yang dibayangkan dan diharapkan manusia dengan datangnya hari Natal seringkali tidak sesuai dengan apa yang terjadi dalam kenyataannya. Setelah dewasa saya menjadi sadar bahwa adanya Natal belum tentu membawa kedamaian. Di berbagai tempat, perayaan Natal terjadi di tengah peperangan, kemiskinan dan kekacauan. Bahkan, sekalipun banyak yang merayakan Natal di keluarga, di gereja atau negara, kedamaian itu seringkali sukar dirasakan. Apa guna merayakan Natal jika kedamaian itu tidak ada? Dapatkah kita membayangkan Yesus yang lahir sebagai bayi kecil lemah lembut di palungan? Dan malaikat-malaikat yang menyanyikan lagu malam kudus?

Yesus sebenarnya datang ketika bangsa Israel sedang dijajah bangsa Romawi. Bagi mereka, situasi pada saat itu tentunya tidak damai. Tetapi, Yesus datang ke dunia bukan dengan maksud untuk mendamaikan manusia dengan manusia. Ia tidak datang untuk memberi ketenteraman, kepuasan dalam kehidupan duniawi. Ia datang ke dunia untuk memisahkan mereka yang mau didamaikan dengan Allah Bapa, dari mereka yang ingin mendekati Allah dengan cara mereka sendiri.

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Matius 10: 34-36

Yesus adalah Raja Damai karena Ialah yang membawa damai antara Allah dan umat manusia. Murka Allah terhadap manusia yang tidak mau bertobat dari dosa mereka, terhadap mereka yang merasa dapat membeli karcis ke surga, atau yang merasa hidup mereka sudah cukup baik, tidaklah dapat dipadamkan kecuali melalui penebusan Yesus Kristus.

Hari ini biarlah kita sadar bahwa walaupun di dunia ini sering kita menjumpai berbagai hal yang tidak membawa kedamaian di antara umat manusia; dalam keluarga, pekerjaan, negara dan bahkan gereja, kita boleh yakin bahwa kita sudah didamaikan dengan Allah Yang Mahasuci. Dan karena kita sudah mendapatkan kebahagiaan yang tertinggi, kita juga seharusnya dapat membagikan kabar baik itu kepada sesama kita supaya mereka, melalui hidup kita, juga dapat memperoleh dan merasakan kedamaian dengan Allah Tuhan kita.

“Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Roma 10: 15b

Sudah siapkah anda untuk menyambut hari Natal?

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Allah menyertai kita. Matius 1: 23

Jika anda berada di Australia dan mengunjungi berbagai kompleks pertokoan, tentu anda bisa melihat bahwa orang mulai sibuk dengan persiapan menyongsong hari Natal. Pusat perbelanjaan di mana pun saat ini dipenuhi banyak pengunjung, apalagi sekolah dan universitas sudah memasuki masa liburan musim panas. Akhir tahun di Australia tidaklah bersalju, tetapi sebaliknya, bagi mereka yang senang berjemur, bulan-bulan ini adalah saat untuk bermain di pantai. Tentu saja, mereka yang kepanasan memilih untuk pergi shopping karena gedung pertokoan yang ber AC adalah tempat yang enak untuk bersantai.

Dengan berjubelnya pusat pertokoan, terkadang saya heran mengapa begitu banyak orang yang merayakan hari Natal. Benarkah mereka mengerti makna Natal? Ataukah mereka hanya merayakan hari Natal sebagai suatu kebiasaan turun temurun saja? Hanya sekitar 43% penduduk Australia saat ini mengaku sebagai orang Kristen, tetapi dalam kenyataannya hanya sebagian kecil dari mereka yang pergi ke gereja secara konsisten. Tentu saja mereka yang mengaku Kristen mengerti bahwa perayaan Natal adalah perayaan hari kelahiran Yesus. Tetapi, siapakah Yesus itu untuk diri mereka pribadi? Apakah Yesus tetap relevan untuk kehidupan mereka, sedangkan mereka yang tidak ke gereja kebanyakan berdalih bahwa gereja sudah tidak cocok untuk kehidupan zaman sekarang?

Memang kekristenan di zaman ini menghadapi serangan yang luar biasa dari segala penjuru. Bukan saja pertumbuhan agama-agama lain menyebabkan mereka yang dulunya lahir dan hidup dalam lingkungan Kristen, sekarang tertarik untuk pergi “shopping” mencari apa yang lebih menarik, kemajuan teknologi bisa membuat manusia seolah bisa menentukan nasibnya sendiri. Nasibku ada di tanganku, begitu banyak orang berpikir. Belum lagi adanya banyak orang terkenal yang mengajarkan cara hidup yang dikatakan akan membawa keberhasilan dan kebahagiaan tanpa perlu untuk menaati ajaran-ajaran keagamaan atau mengenal Tuhan. Tidaklah mengherankan, bagi banyak orang Yesus hanyalah tokoh sejarah dan bukan Anak Allah.

Ayat diatas adalah ayat yang sering dibacakan di gereja pada minggu-minggu menjelang Natal. Ayat yang signifikan karena setidaknya dua hal. Yang pertama adalah bahwa Yesus memang lahir sebagai manusia dan karena itu Ia adalah manusia yang bisa mengerti kebutuhan kita dengan sepenuhnya. Yang kedua, Yesus dilahirkan sebagai pernyataan kasih Allah yang ingin agar manusia menyadari bahwa didalam Yesus manusia dapat menemukan Dia.

Tuhan yang menjadi manusia adalah Tuhan yang bisa dan mau menolong kita. Tuhan kita bukanlah yang jauh di sana, yang dalam kebesaran-Nya membiarkan manusia untuk berjuang seorang diri di dunia, dan yang mengharuskan manusia untuk bisa mencapai derajat kesucian yang bisa diterima oleh-Nya. Bukan demikian. Tuhan tahu bahwa manusia yang lemah dan berdosa ini, tidaklah sanggup untuk berjuang seorang diri.

Tiga hari lagi kita akan merayakan Natal. Masih ada cukup waktu bagi siapa saja untuk mulai menganalisa hidup kita selama setahun ini. Sudahkah anda mencapai kebahagiaan yang sejati? Sudahkah anda merasa tenteram dalam hidup anda? Yakinkah anda bahwa hari-hari mendatang akan dapat anda hadapi dengan keteguhan hati?  Masih adakah perasaan bahwa dengan adanya berbagai persoalan ekonomi, studi, kesehatan dan keluarga, anda mungkin harus menerima kenyataan bahwa hidup ini terlalu sulit untuk dijalani?

Ayat di atas memberikan jaminan kepada setiap orang Kristen bahwa apa pun yang mereka alami, Yesus yang lahir di bumi sebagai manusia dapat mengerti dan ikut merasakannya. Ayat itu juga memberi keyakinan baru kepada siapa pun yang merasa lemah dan kuatir untuk menghadapi masa depan, bahwa Yesus Anak Allah akan menyertai mereka dalam setiap keadaan. Apa yang perlu kita persiapkan dalam menghadapi Natal adalah hati kita, agar kita tetap berpegang pada iman bahwa Imanuel itu benar-benar berarti Allah menyertai kita.

Kualitas orang Kristen menjelang Natal

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” Kolose 3: 12

Hari Natal adalah hari gembira untuk umat Kristen karena pada hari itu mereka merayakan kelahiran Yesus. Tetapi, di Australia banyak orang yang tidak beragama Kristen pun ikut merayakannya karena Natal dianggap sebagai “hari keluarga” untuk dinikmati bersama. Dengan demikian, banyak orang memakai hari Natal sebagai kesempatan untuk mengunjungi orang tua dan sanak saudara.

Hari Natal secara tradisi dirayakan dengan makan bersama dengan keluarga dekat dan tukar menukar kado. Karena itu, tidaklah mengherankan jika beberapa hari sebelum hari Natal, pusat pertokoan terlihat sibuk dengan banyaknya orang yang berbelanja. Suasana yang sedemikian umumnya membuat jalan dan tempat parkir menjadi macet karena banyaknya orang yang pergi shopping.

Bagaimana suasana di pusat pertokoan di Australia menjelang hari Natal saat ini? Sesudah tiga tahun berada dalam suasana tidak menentu akibat adanya pandemi COVID-19, sekarang banyak orang merasa bahwa kebebasan untuk bepergian dan berbelanja sudah kembali ada. Karena itu, shopping centre di kota-kota besar terlihat penuh sesak, apalagi sekarang murid sekolah dan universitas sudah libur. Agaknya suasana gembira dengan adanya hiasan dan lagu-lagu Natal tertutup dengan suasana tegang karena banyaknya orang yang menggunakan kesempatan berbelanja. Ini sering membuat orang menunjukkan sifat asli masing-masing: serakah, kasar, mudah naik darah dan mementingkan diri sendiri, terutama dalam mencari tempat parkir mobil.

Suasana hari Natal yang pertama adalah jauh berbeda dengan keadaan di zaman ini. Pada hari itu Anak Allah datang ke dunia dalam wujud seorang bayi yang tidak berdaya dan dilahirkan di kandang hewan di Betlehem. Anak Allah merendahkan dirinya sebagai manusia, tetapi yang tidak berdosa, dalam suasana hening, damai dan bahagia. Ialah Mesias yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama. Natal adalah wujud kasih Allah kepada manusia, yang tidak memusnahkan manusia yang sudah jatuh kedalam dosa, tetapi memberikan mereka kesempatan untuk bertobat dan mendapat pengampunan melalui Yesus Kristus.

Karena kasih Tuhan yang sangat besar itu, adalah wajar jika orang Kristen, sebagai orang-orang pilihan Allah mau mengenakan rasa belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran kepada sesamanya. Jika Natal bagi mereka yang tidak mengenal Allah adalah kesempatan untuk mencari kegembiraan untuk diri sendiri, kita dipanggil untuk membagikan kabar baik tentang kelahiran Yesus kepada semua orang melalui hidup kita setiap hari, dengan menunjukkan rasa kasih kita di setiap keadaan dan kesempatan kepada semua orang.

Selamat menyongsong hari Natal!

Tuhan mengerti perasaan kita

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Lukas 2: 29 – 32

Tak terasa hari Natal sudah dekat. Lima hari lagi! Tetapi, sekalipun bagi sebagian orang Kristen hari Natal adalah sesuatu yang disambut dengan rasa sukacita, bagi yang lain ini bukanlah sesuatu yang bisa disambut dengan rasa entusias. Untuk mereka tahun demi tahun berlalu, tetapi tidak ada yang berubah dalam kehidupan mereka. Malahan, masa depan kelihatannya makin suram.

Mungkin seperti itulah apa yang dirasakan oleh seorang bernama Simeon di Yerusalem. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi bangsa Israel. Tahun demi tahun lewat, tetapi Mesias yang dinantikannya tidak juga datang. Walaupun demikian, Simeon tetap percaya kepada janji dan kasih Allah.

Simeon adalah orang yang mengenal Tuhan, mau menurut firman-Nya dan beriman kepada-Nya. Simeon bukan hanya berharap untuk dirinya sendiri, tetapi untuk keselamatan orang Israel dan untuk bangsa-bangsa lain juga. Tuhan yang memperhatikan harapan Simeon yang taat kepada-Nya, memberikan janji-Nya bahwa Simeon akan melihat Sang Juru Selamat, Yesus Kristus, sebelum ia meninggal.

Empat puluh hari sesudah Natal, Simeon datang ke Bait Allah oleh petunjuk Roh Kudus. Ketika Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk upacara pentahiran, Simeon yang melihat Yesus merasa sangat gembira. Ia menyambut Anak itu serta menatang-Nya sambil memuji Allah. Masa penantiannya yang cukup lama sudah berakhir, dan Simeon melihat bahwa Allah sudah membuktikan kasih-Nya dengan lahirnya Mesias yang dikaruniakanNya untuk segala bangsa.

Mungkin bagi kita, selama ini hidup kita adalah seperti Simeon yang menantikan harapan untuk masa depan. Apa yang akan terjadi pada anak-cucu kita, kepada kerabat kita, atau bangsa kita di tahun-tahun yang akan datang? Kita merasa prihatin akan apa yang terjadi di sekeliling kita, dan berharap agar Tuhan menyatakan pertolongan-Nya. Tetapi, semua kekuatiran kita sebenarnya bisa kita tinggalkan jika kita hidup seperti Simeon: mengenal Tuhan, taat kepada firman-Nya dan mempunyai iman yang teguh.

Seperti Simeon yang akhirnya melihat dengan matanya bahwa Mesias sudah datang, kita pun bisa yakin bahwa dalam Yesus akan ada pertolongan dan harapan untuk masa depan orang-orang yang kita kasihi. Marilah kita menyambut hari Natal dengan kepercayaan yang makin besar bahwa Tuhan mengenal anak-anak-Nya dan mengerti apa yang dibutuhkan mereka.

Kelahiran Kristus menunjukkan kuasa Allah

Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Markus 4: 41

Kelahiran Tuhan Yesus di dunia adalah sesuatu yang sudah direncanakan Allah jauh bertahun-tahun sebelum hal itu terjadi. Kitab Perjanjian Lama penuh dengan berbagai ayat yang menyebutkan tentang kedatangan Juruselamat itu. Walaupun demikian, ketika Yesus dilahirkan, tidak ada orang yang menduga bahwa bayi yang lemah, yang lahir dalam palungan, adalah Anak Allah, Mesias, yang sudah dinantikan umat Israel.

Kelahiran Yesus Kristus bukanlah terjadi melalui jalan yang mulus. Banyak peristiwa yang terjadi antara saat kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa dan saat Yesus dilahirkan yang secara logika manusia bisa membuat rencana Allah menjadi berantakan. Itu karena iblis yang berusaha keras untuk menggagalkan renana penyelamatan umat manusia. Walaupun demikian, melalui berbagai kuasa dan bimbingan Tuhan, semuanya bisa berjalan sesuai dengan rencana-Nya.

Kelahiran Anak Allah bukanlah disertai dengan hal-hal yang megah seperti apa yang terjadi jika seorang bayi dilahirkan dalam keluarga Raja. Tidak ada pemberitaan langsung dari surga dan karena itu tidak banyak orang yang sadar bahwa apa yang dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya sudah digenapi Allah. Sampai sekarang pun, banyak orang Yahudi yang tidak percaya bahwa Mesias sudah datang.

Hanya melalui petunjuk Allah, sejumlah manusia langsung tahu bahwa Mesias sudah datang. Yusuf dan Maria, para gembala, orang Majus, dan Simeon adalah sebagian orang yang tahu akan hal itu. Namun orang lain, termasuk murid-murid Yesus, membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum mengenali bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka tahu bahwa Yesus adalah orang yang baik dan suka menolong orang lain, mempunyai kharisma dan pengetahuan yang luar biasa, tetapi mereka tidak tahu atau yakin bahwa Ia adalah Anak Allah.

Kita yang merayakan hari Natal setiap tahun, sudah tentu tidak pernah bertemu dengan Yesus secara jasmani. Yesus sekarang di surga, sedang kita masih di dunia. Semua orang yang merayakan hari Natal dengan alasan apapun, hanya mendengar tentang kelahiran Yesus dari orang lain atau membaca kisahnya dari buku atau sumber-sumber lain. Sebagian kecil manusia mungkin pernah memperoleh pengelihatan atau penglihatan tentang Yesus, tetapi semua itu tidaklah sempurna. Walaupun demikian, kita saling mengucapkan “Selamat Hari Natal” karena kita percaya bahwa kelahiran Yesus seharusnya membawa kebahagiaan bagi mereka yang percaya.

Adalah mudah bagi semua orang untuk menyadari bahwa Yesus adalah tokoh yang besar pada zaman-Nya, guru yang baik, orang yang mempunyai rasa sosial yang besar dan memiliki etika yang tinggi. Bukan hanya orang Kristen saja yang mengakui hal-hal itu, orang yang beragama lain pun percaya bahwa Yesus adalah orang baik. Tetapi, tidak semua orang tahu atau mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, bahwa Ia dan Bapa adalah satu.

“Aku dan Bapa adalah satu.” Yohanes 10:30 6

Dengan demikian, adalah sesuatu yang menyedihkan kalau mereka yang sudah mendengar bahwa Yesus yang lahir sebagai manusia biasa, tidak dapat mengerti bahwa Ia bukan manusia biasa, tetapi Tuhan yang mahakuasa.

Kitab Markus 4 menceritakan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Saat itu Yesus sedang tidur di buritan ketika angin ribut datang. Murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Yesus kemudian bangun, menghardik angin itu. Lalu angin itu reda dan danau menjadi teduh sekali. Para murid tidak menyangka bahwa Yesus mempunyai kuasa sebesar itu. Mereka menjadi sangat takut akan kuasa Tuhan yang dinyatakan di hadapan mereka.

Hari ini kita diingatkan bahwa bagaimanapun besarnya persoalan hidup yang kita hadapi, kita harus yakin bahwa Yesus yang pernah lahir sebagai manusia bukanlah manusia biasa. Karena itu kita tidak perlu mengeluh mengapa Ia membiarkan kita bergumul dengan penderitaan dan persoalan kita pada ini. Yesus adalah Tuhan yang tahu keadaan kita, dan dengan kasih-Nya pasti mengulurkan tangan-Nya pada saat yang tepat.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”Markus 4: 40

Ingat kelemahan, ingat Tuhan

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ”Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5-6

Dalam kehidupan sehari-hari sering manusia merasa lelah dan lemah. Berbagai masalah di kantor, sekolah, maupun rumah tangga, seringkali membuat kita lelah. Mereka yang bekerja di ladang Tuhan juga kerap kali merasa penat baik secara jasmani maupun rohani. Rasa lelah terasa lebih parah jika kita merasa sudah berusaha sebaik mungkin tetapi tidak mendapat hasil yang kita harapkan. Dalam keadaaan ini, orang Kristen mungkin teringat untuk berdoa guna meminta pertolongan Tuhan.

Jika kita jujur, mungkin kita ingat bahwa jumlah doa kita ketika berada dalam keadaan nyaman adalah lebih kecil, jika dibandingkan jumlah doa kita ketika mengadapi persoalan. Ini adalah hal yang umum di kalangan umat percaya. Mengapa begitu? Perumpamaan anak yang hilang menjelaskanbahwa manusia dalam keadaan nyaman sering lupa bahwa hidupnya yang harus disyukuri bergantung pada Tuhan; tetapi jika ia mengalami derita, ia mungkin baru sadar bahwa hanya Tuhan yang bisa menolong.

Soal merasa lelah dan lemah, jika tidak diatasi, bisa menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Rasul Paulus pernah mengungkapkan penderitaannya dalam hidup sebagai rasul Tuhan. Paulus menulis bahwa ia sudah banyak berjerih lelah dan bekerja berat; dan kerap kali ia tidak tidur; ia sering lapar dan haus; kerap kali dia harus berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian (2 Korintus 11: 27). Sudah sewajarnya ia merasa kuatir dengan adanya jemaat Korintus, yang sudah lama dibimbingnya, yang disesatkan oleh rasul-rasul palsu yang mungkin dianggap hebat dengan segala yang dibanggakan mereka.

Jika Paulus adalah orang yang tidak kuat imannya, ia mungkin akan mengalami kekecewaan yang besar karena adanya orang-orang yang tidak menghargai segala pengurbanannya untuk jemaat di Korintus. Apalagi ia mempunyai masalah kesehatan kronis yang tidak kunjung sembuh sekalipun ia sudah memohon kesembuhan tiga kali. Bukannya menyembuhkan Paulus, Tuhan justru berkata bahwa kasihNya kepada Paulus sudah cukup. Heran, dengan jawaban Tuhan itu, Paulus justru bisa makin merasakan bahwa hidupnya tergantung kepada Tuhan. Memang, Tuhan sering menghajar orang yang dikasihi-Nya, tetapi semua itu terjadi agar orang itu menjadi kuat karena sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Hari ini, jika kita merasa masih sangat lelah baik dalam hal lahir maupun batin, itu mungkin disebabkan oleh hal-hal dan suasana yang kita hadapi saat ini. Apalagi jika penghargaan, pertolongan, simpati dan empati orang lain tidak pernah kita terima. Keadaan yang demikian memang bisa membuat kita merasa sangat lemah dalam menghadapi hidup ini.

Tetapi, jika kita mengingat Paulus dengan kelelahan serta penderitaannya, dan juga dengan adanya jemaat di Korintus yang tidak menghargai segala pengurbanannya, biarlah kita juga bisa bersikap seperti dia, yang merasa bahwa kesulitan hidup justru membuat dia makin dekat kepada Kristus yang memberinya kesabaran, dan kekuatan. Adanya kesulitan hidup bisa membuat kita sepenuhnya bergantung pada Tuhan yang mahakuasa. Adanya kelelahan bisa membawa berkat karena dapat membuka kesempatan bagi kita untuk membina hubungan yang lebih baik dengan Kristus.

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. 2 Korintus 12: 9b

Kesuksesan yang benar adalah dalam hal memuliakan Tuhan

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Ada seorang teman saya yang pernah bertanya apakah masih ada yang ingin saya capai dalam hidup ini. Ketika saya menjawab tidak ada, muncullah pertanyaan kedua yakni apakah saya merasa sukses. Ketika saya menjawab saya tidak merasa bahwa saya sudah mencapai kesuksesan, kemudian muncul pertanyaan apakah saya puas dengan apa yang ada. Saya jawab bahwa saya bersyukur atas apa yang ada, sekalipun masih ada yang ingin saya kerjakan. Lalu, ia lalu bertanya apa yang masih ingin saya lakukan. Ketika saya menjawab bahwa saya ingin untuk lebih bisa memuliakan Tuhan, ia kemudian berhenti bertanya. Agaknya jawaban saya tidak bisa dimengertinya.

Sebenarnya, dalam usia senja banyak orang yang menerima kenyataan bahwa apa yang sudah tercapai mungkin adalah hasil maksimal dari usaha mereka. Sesudah usia tertentu, sebagian orang mungkin harus pensiun, ingin pensiun, atau ingin mengurangi tekanan pekerjaan untuk dapat menikmati apa yang masih bisa dilakukan selain bekerja untuk mencari nafkah. Walaupun demikian, ada orang yang tetap ingin bekerja keras untk mencapai hasil yang lebih baik, atau mencapai apa yang belum pernah didapat sampai saat ini. Mereka tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada, atau masih merindukan kesuksesan. Mungkin mereka kurang sadar bahwa selagi masih ada kesempatan, mereka harus bisa merasa cukup agar bisa lebih memuliakan nama Tuhan.

Pada umumnya orang selalu mempunyai keinginan untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu di masa depan. Memang hal ini lebih umum di kalangan orang yang belum mencapai usia uzur, tetapi di antara mereka yang sudah pensiun tidaklah jarang ditemui orang yang masih mempunyai rencana masa depan sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Masa depan adalah relatif, buat mereka yang masih anak-anak menjadi orang dewasa barangkali tidak atau belum pernah terpikirkan, tetapi mereka yang sudah termasuk dewasa tetapi masih tergolong muda mungkin mempunyai berbagai cita-cita dan rencana hidup yang diharapkan untuk tercapai sebelum datangnya usia tua. “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, begitulah nasihat yang sering diberikan kepada orang muda; tetapi bagi sebagian orang yang sudah pensiun mungkin pandangan hidup sudah berubah untuk menerima apa yang ada.

Berlainan dengan pandangan atau kebiasaan umum, buat orang Kristen tujuan hidup bukanlah hanya untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit dan berusaha mencapainya, dan juga bukan untuk hidup pasif dan tidak berbuat apa-apa – tetapi untuk memuliakan Tuhan, karena itulah tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia. Manusia dari segala bangsa, jenis, status sosial dan umur seharusnya mengabdikan diri mereka selama hidup di dunia untuk kemuliaan Tuhan.

“Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43: 7

Jika tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, itu bukan berarti kita tidak boleh berusaha mencapai apa yang bisa dicapai dalam hidup kita, karena Alkitab mengatakan bahwa apapun yang kita perbuat dalam hidup ini, kita harus melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Ini berarti bahwa apa yang kita pikirkan dan rencanakan haruslah mempunyai tujuan agar nama Tuhan dibesarkan. Dengan tidak bersemangat untuk mencapai hasil baik atau dengan kepuasan untuk tidak berbuat apa-apa, manusia tidak dapat memuliakan Tuhan.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia, tua atau muda, memiliki cita-cita dan membuat rencana untuk dirinya sendiri. Bukan saja mereka yang muda ingin untuk memperoleh segala kenikmatan duniawi yang ada, mereka yang sudah tua pun jarang memikirkan apa yang harus diperbuat untuk kemuliaan Tuhan dalam sisa hidup mereka. Manusia tidak tahu apa yang terjadi esok hari, tetapi seolah merasa bahwa mereka harus dan akan hidup  untuk mencapai apa yang mereka senangi.

Hari ini, kita harus menyadari bahwa hidup mati kita bukannya ada di tangan kita, dan karena itu dalam merencanakan segala sesuatu seharusnya kita melakukannya dengan rasa rendah hati dan penyerahan kepada Tuhan. Manusia memang bisa merencanakan segala sesuatu, tetapi jika itu bukan untuk kemuliaan Tuhan, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya sesudah hidup kita berakhir di dunia ini.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13-14

Semoga kita bisa mengarahkan hidup kita ke arah yang benar dan mau menyerahkan semua rencana hidup kita ke tangan Tuhan demi kemuliaan-Nya!