Arti mengabarkan Injil

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Amanat Agung yang tertulis dalam ayat diatas pasti pernah dibaca semua orang Kristen. Istilah “the Great Commission” ini mungkin diperkenalkan oleh seorang penginjil asal Austria, Justinian von Welz (1621–88), dan dipopulerkan oleh Hudson Taylor, hampir 200 tahun sesudahnya.

Dalam ayat diatas, Yesus memberi perintah agar semua bangsa dijadikan murid-Nya. Apa sebenarnya maksud Yesus? Apakah Ia memerintahkan kita untuk mengkristenkan semua manusia di dunia?

Istilah “kristenisasi” adalah istilah yang sensitip bagi orang-orang yang bukan Kristen. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai negara pernah mengalami peristiwa buruk ketika agama Kristen mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Berbagai cara penginjilan dipakai, termasuk cara-cara yang tidak baik. Di zaman ini, istilah ini sering menimbulkan ketegangan antar agama. Bagaimana sebenarnya posisi kita dalam hal mengabarkan injil?

Kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan Injil dan hidup menurut perintah Tuhan agar orang disekitar kita bisa melihat kasih Tuhan. Penginjilan bisa dan harus kita lakukan, tetapi hanya Tuhan yang bisa “mengkristenkan” seseorang.

Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk membujuk mereka untuk mau ke gereja kita, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”.

Makna Amanat Agung yang memberi kita pengertian bahwa:

  • Yesus sudah mati untuk memungkinkan semua orang yang percaya untuk menemukan jalan keselamatan. Karena itu kabar baik harus disebarkan ke seluruh bangsa.
  • Panggilan untuk menginjil ini bukan berarti hanya untuk memberitakan kabar baik, tetapi juga untuk bisa menolong banyak orang agar mau percaya dan diselamatkan.
  • Amanat Agung bukan perintah untuk membawa semua orang di dunia untuk masuk ke surga. Tidak semua yang menerima undangan kasih akan mau atau bisa menerimanya. Tetapi undangan ini harus diberitakan ke seluruh bangsa.
  • Tuhan memberi kesempatan dan kemampuan untuk kita melayani Dia dan menyerahkan hidup kita untuk maksud pelebaran kerajaan-Nya. Setiap orang harus mau mengambil keputusan untuk menerima panggilan-Nya jika Roh-Nya sudah bekerja dalam hati mereka.
  • Kita memerlukan petunjuk-Nya untuk menentukan saat dan tujuan kita dalam mengabarkan injil. Tugas ini bukan untuk membuat kekacauan dalam masyarakat atau gereja. Sebaliknya, itu adalah tugas dalam kasih, untuk memberitakan Injil kabar baik kepada mereka yang belum pernah mendengar atau menahami Injil.
  • Dalam menjalankan Amanat Agung kita harus bersandar kepada Tuhan. Karena itu, kita tidak boleh mengutamakan keberhasilan kita atau menguatirkan kegagalan. Kita tidak boleh menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
  • Tuhan yang bekerja untuk membuka hati dan pikiran orang-orang yang kita injili. Kita sendiri tidak dapat membuat orang percaya. Tuhan saja yang bisa mempengaruhi mereka untuk bertobat dan menerima anugerah keselamatan. Kita hanya dapat berdoa agar Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada banyak orang.

Pagi ini, kita mendengar Amanat Agung dari Tuhan untuk menginjil. Biarlah kita percaya bahwa Tuhan sudah memberi setiap anak-Nya kemampuan untuk melaksanakannya. Apa yang kita perlukan hanyalah kemauan untuk menjalankan amanat itu dengan benar.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8

Menabur benih memang tidak mudah

Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: ”Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” KIsah Para Rasul 8: 35-36

Dalam Kisah Para Rasul 8: 26-40, seorang sida-sida Etiopia yang sedang dalam perjalanan berkereta kuda ke Yerusalem, mengeluh kepada Filipus bahwa dia tidak mungkin mengerti apa yang dibacanya jika tidak ada orang yang menolong. Filipus yang dengan petunjuk Tuhan dapat bertemu dengan sida-sida itu, kemudian memperoleh kesempatan untuk duduk berdampingan dalam kereta kuda dan menjelaskan arti firman Tuhan sehingga sida-sida itu akhirnya bisa mengerti dan minta untuk dibaptiskan. Filipus sudah menmjalankan apa yang diperintahkan oleh Yesus sebagai Amanat Agung kepada semua pengikut-Nya:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Dalam pandangan manusia, Filipus sudah berhasil menabur benih kekristenan. Tetapi, tanpa Roh Kudus segala sesuatunya akan sia-sia. Filipus membutuhkan Roh Kudus untuk memilih jalan tertentu yang memungkinkan ia bertemu dengan sida-sida itu. Roh Kudus jugalah yang membuat Filipus dapat berkomunikasi dengan sida-sida itu. Dan Roh jugalah yang membimbing sida-sida itu dan membuka hati dan pikirannya sehingga ia percaya dan mau dibaptiskan.

Apa yang menumbuhkan jumlah orang percaya adalah adanya banyak orang yang seperti Filipus dan sida-sida Etiopia, mau mendengarkan suara Tuhan dalam hidupnya dan membuka hidupnya agar Roh Kudus bisa bekerja dengan bebas. Dengan kata lain, manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia. Inilah prasyarat pertama untuk penginjilan, yaitu peranan Tuhan dalam menciptakan dan menumbuhkan iman.

“Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.” 1 Korintus 3: 7

Kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan kabar baik dari Alkitab dan menjalani hidup menurut perintah Tuhan agar orang di sekitar kita bisa melihat kasih Tuhan. Penginjilan bisa dan harus kita lakukan, tetapi hanya Tuhan yang bisa “mengkristenkan” seseorang. Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk membujuk mereka, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”. Lalu bagaimana kita bisa secara efektif menyampaikan Injil, kabar baik tentang penyelamatan manusia yang berdosa?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Karakter adalah prasyarat kedua untuk pengaruh spiritual. Setiap manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, dan secara naluriah dan dalam keterbatasan mereka, menghargai sifat-sifat karakter Tuhan yang merancang kita – bahkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan. Umat manusia secara universal menghargai buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak oleh para pemimpin agama kemudian tertarik kepada Yesus karena Ia mewujudkan karakteristik ini. Sampai hari ini, karakter seperti yang Yesus miliki masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat masyarakat.

Orang non-Kristen memerhatikan kegembiraan kita ketika kita bekerja, kedamaian kita di tengah kekecewaan, dan keanggunan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, karakter semacam ini sering terasa kurang terlihat dalam hidup kita yang dituntut untuk menunjukkan karakter Yesus kepada dunia. Pada tahun 2013, ada survei yang mempelajari kemunafikan di kalangan orang Kristen. Di antara mereka yang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kristen, penelitian berdasarkan daftar sikap dan tindakan yang dipilih untuk diri sendiri menemukan bahwa 51 persen menggambarkan diri mereka lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, menghakimi) dibandingkan dengan hanya 14 persen yang mencontoh tindakan dan sikap Yesus (tanpa pamrih, empati, kasih dan lain-lainnya). Kekurangan umat Kristen inilah yang bisa menghambat usaha penginjilan. Mengapa demikian? Teolog terkenal C.S. Lewis menjelaskan masalahnya:

Ketika kita orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat kekristenan tidak dapat dipercaya oleh dunia luar. … Kehidupan kita yang ceroboh membuat dunia luar berbicara; dan kita dengan demikian memberi dunia sebuah alasan untuk menyatakan keraguan atas kebenaran kekristenan….”

Jika kata-kata kita berarti bagi orang lain, kata-kata itu harus mengalir dari kehidupan yang berintegritas. Jika tidak, perbuatan dan kata-kata kita akan diwarnai dengan kesombongan atau kebohongan. Sebaliknya, ketika orang melihat bahwa kita tidak hanya berpose, tetapi dengan rendah hati berusaha menjalani kehidupan yang berintegritas, mereka akan memperhatikan pesan kita.

Orang-orang juga memerhatikan apa yang akan kita lakukan ketika kita gagal dalam menjalani tes integritas. Dalam hal ini, apakah kita mau mengakui bahwa kita tidak sepenuhnya memiliki integritas sebagai anak Tuhan? Mungkin yang lebih penting daripada memperbaiki keadaan adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan, dan menebus kesalahan kita kepada mereka yang kita lukai. Salah satu elemen karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna atau manusia yang paling bijaksana.

Memang, sering kali sebagai orang Kristen kita berperilaku seolah-olah kita yang sudah lahir baru memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen yang kita anggap belum menerima apa pun dari Tuhan dan sama sekali rusak karakter dan moralnya (totally depraved). Karena itu, kita mungkin merasa malu untuk mengakui kelemahan atau memperlihatkan kekurangan apa pun yang bisa merendahkan pamor kita.

Hidup sebagai saksi Kristus tidaklah mudah. Rasul Yakobus menulis bahwa imat adalah mati jika tidak disertai perbuatan (Yakobus 2: 17). Tetapi, berbuat baik saja tidak cukup untuk mmberitakan injil. Kita harus mempunyai sesuatu yang menarik dalam karakter kita. Dalam hal ini, yang terutama adalah kemampuan kita untuk mengakui kegagalan dan kehancuran, yang merupakan karakter yang sangat menonjol dalam masyarakat dan budaya di sekitar kita. Orang perlu mencium aroma manis kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang paling nyata terlihat melalui karakter rendah hati yang Dia ciptakan dalam diri kita. Itu tidaklah mudah untuk dipraktikkan. Kita tidak dapat memperlihatkan karakter yang baik kepada dunia jika Roh Kudus tidak bekerja sepenuhnya dalam hidup kita. Pagi ini, marilah kita meminta agar Roh Kudus mau membimbing kita di setiap saat.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8

Pengetahuan ada untuk bisa lebih mengerti

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Efesus 3: 18 -19

Teologi adalah studi tentang Tuhan dan hubungannya dengan, tujuan, dan pekerjaan di dalam alam semesta yang diciptakan. Dengan demikian, teologi mencakup semua realitas yang diciptakan dari sudut pandang Sang Pencipta yang membuat semua itu. Hanya karena Tuhan telah menyatakan diri-Nya, kita dapat mengetahui siapa Tuhan itu dan apa tujuan, rencana, dan pekerjaan-Nya dalam ciptaan yang telah dibuat-Nya, sekalipun selama kita hidup di dunia pengenalan kita akan Tuhan belumlah sempurna.

Setiap bidang teologi—penciptaan dunia, pembentukan laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya, kejatuhan mereka ke dalam dosa, rencana keselamatan dan pemulihan-Nya bagi dunia yang telah jatuh yang melibatkan panggilan Abraham dan pilihan Israel melalui siapa Mesias akan datang, pekerjaan pemeliharaan-Nya untuk membawa keselamatan melalui inkarnasi, kehidupan tanpa dosa, kematian Yesus sebagai penebus kita, dan kebangkitan-Nya yang berkemenangan, pembentukan gereja-Nya, dan rencananya untuk membawa semua ciptaan ke tujuan yang telah ditetapkan secara ilahi, dan banyak lagi – semua terikat langsung kepada Allah dan karakter, kehendak, cara, rencana, dan pekerjaan pemeliharaan-Nya sendiri. Hanya ketika kita memahami aspek-aspek kehidupan dan teologi ini dari sudut pandang Tuhan, kita dapat memahami siapa Tuhan itu, siapa kita, dan bagaimana sebaiknya kita hidup.

Sebagai ilustrasi pentingnya mengenal Tuhan mungkin bisa dibayangkan jika kita mendengar sebuah pertanyaan yang sering disampaikan kepada mereka yang sudah lama menikah adalah mengenai hal mengenal pasangan mereka. Apakah mereka yang sudah hidup bersama puluhan tahun sudah saling mengenal kebiasaan dan sifat pasangannya sehingga mereka bisa saling menerka segala apa yang akan diperbuat pasangannya? Pada umumnya jawaban pertanyaan ini adalah antara “ya” dan “tidak”. Hidup bersama orang lain dalam suatu pernikahan dalam waktu yang lama tidaklah membuat seseorang bisa mengerti semua apa yang dipikirkan pasangannya. Walaupun demikian, biasanya orang bisa mengerti bahwa pasangannya adalah orang yang seringkali berbeda dalam kebiasaan dan cara berpikir, sehingga ia tidak lagi terkejut atau heran jika pasangannya melakukan sesuatu hal baru. Mereka yang sudah hidup bersama cukup lama tentunya saling mengasihi dan saling memercayai. Bagaimana pula pengenalan kita akan Tuhan?

Dalam Roma 11: 33 Paulus menulis kepada jemaat di Roma ketika ia berada di Korintus sekitar tahun 50 Masehi: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya!” Ayat ini sering dipakai dalam khotbah untuk menggarisbawahi kebesaran Tuhan yang tidak dapat diselami manusia. Manusia sebagai ciptaan tidak dapat menyelami jalan pikiran Sang Pencipta. Ini adalah hal yang diajarkan dalam banyak agama. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika manusia sering bertanya-tanya mengapa suatu hal harus terjadi dalam hidupnya, terutama jika hal itu adalah sesuatu yang tidak diinginkannya. 

Apa yang terjadi di dunia saat ini adalah sesuatu yang membuat banyak orang menderita, dan dengan itu banyak orang yang mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi. Malahan, ada orang yang bertanya apakah Tuhan itu memang ada jika manusia harus mengalami berbagai malapetaka. Adalah menyedihkan bahwa di dalam kesusahan, manusia tidak dapat mengenali Tuhan yang mahakuasa. Terlebih menyedihkan jika ada orang yang sudah lama merasa kenal dengan Tuhannya, tetapi tidak dapat mengerti bagaimana sifat Tuhan.

Dalam ayat pembukaan di atas, Paulus menulis sesuatu yang agaknya berbeda dengan apa yang ditulisnya dalam Roma 11: 33. Dalam ayat Efesus 3: 18-19 ini ia justru berdoa agar jemaat Efesus bersama dengan segala orang percaya dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan yang kita punyai. Apakah ini bukannya doa yang sia-sia jika Tuhan adalah Allah yang tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan tak terselami jalan-jalan-Nya?

Paulus berdoa agar mereka dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Ini menunjukkan bahwa kepenuhan Allah adalah penting untuk bisa memahami sifat dan tindakan Tuhan. Memang setiap orang percaya mengerti bahwa Allah sudah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus manusia yang seharusnya binasa. Dalam Kristus, kasih dan kebijaksanaan Allah sudah dinyatakan sepenuhnya. Dalam Kristus kita bisa melihat Allah yang tidak bisa kita lihat dengan mata. Allah adalah mahakuasa, mahatahu, mahabijaksana dan Ia juga mahakasih. Allah bukan mahakuasa saja, tetapi Ia juga mahakasih. Dalam ibadah kita, kita tidah boleh menekankan kemahakuasaan Tuhan di atas kemahakasihan-Nya, dan begitu juga sebaliknya. Jika kita terlau menekankan sifat mahakuasa-Nya, kita akan merasa bahwa Tuhan menentukan segalanya tanpa mendengarkan keluh-kesah manusia, dan jika kita terlalu menekankan kasih-Nya, kita mungkin merasa bebas untuk berbuat apa saja (Galatia 5: 13). Dengan demikian, pengetahuan yang seimbang antara kedua sifat hakiki Tuhan ini perlu kita fahami.

Pagi ini, jika anda merasakan jauhnya Tuhan dan betapa hidup ini terasa berat saat ini, firman-Nya berkata bahwa Tuhan dapat kita lihat sepenuhnya dalam diri Kristus yang sudah membawa kita kepada keselamatan. Jika kita mengerti bahwa tidak ada hal lain yang lebih berharga dari karunia kasih Allah dalam diri Kristus, itu berarti bahwa kita sudah mengenal kasih-Nya yang melampaui segala pengetahuan. Jika demikian, adakah hal yang masih membuat kita ragu akan Dia yang dengan kasih-Nya memegang kendali hidup kita dan segala sesuatu yang ada dalam alam semesta?

Bagaimana bisa membesarkan Tuhan

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3: 30

Berfirmanlah Allah: ”Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan itulah yang terjadi. Tuhan membuat dua lampu besar—yang lebih besar untuk mengatur siang, dan yang lebih kecil untuk mengatur malam. Dia juga membuat bintang. Tuhan menetapkan lampu-lampu ini di langit untuk menerangi bumi, untuk mengatur siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari kegelapan. Dan Tuhan melihat bahwa itu baik (Kejadian 1: 14-15).

Matahari terbit sangat penting bagi kehidupan sehari-hari sehingga reporter cuaca melacak dan memperkirakan waktu yang tepat untuk mengharapkannya. Demikian juga, mereka memprediksi waktu matahari terbenam setiap hari ketika matahari terbenam melewati cakrawala, menyatakan hari itu selesai dan segera bintang-bintang akan menyelimuti langit. Matahari yang lebarnya bisa memuat lebih dari 100 bumi atau 10 planet Jupiter adalah sangat besar ukurannya. Tetapi pernahkah anda berpikir bahwa bahkan sebelum matahari terlihat sepenuhnya di pagi hari, bulan dan bintang-bintang menghilang? Bulan dan bintang- bintang menghilang dari pandangan karena sinar matahari yang luar niasa terangnya. Seperti itulah Yohanes dalam ayat di atas merasa bahwa ia tidak berarti jika dibandingkan Yesus.

Pelayanan Yohanes Pembaptis dan Yesus sangat erat hubungannya. Yohanes telah mempersiapkan cara membaptis dan memanggil orang-orang untuk bertobat dari dosa-dosa mereka. Alkitab menggambarkan dia mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu unta dan mengenakan ikat pinggang kulit. Mereka menyuruhnya makan belalang dan madu hutan. Yesaya 40: 3 dikutip sebagai nubuat yang digenapi, “Ada suara yang berseru-seru: ”Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!.” Matius, Markus, Lukas dan Yohanes semuanya menyoroti Yesus yang dibaptis oleh Yohanes. Semua Injil mengungkapkan bahwa ketika Yohanes membaptis Yesus, Roh Kudus turun ke atas Yesus “seperti burung merpati.”

Allah menyatakan kepada Yohanes bahwa Yesus adalah Anak Allah. Jadi ketika seseorang datang kepada Yohanes mengatakan bahwa orang lain pergi kepada Yesus untuk dibaptis, Yohanes dengan cepat menjawab bahwa Yesus adalah Kristus, bukan dirinya sendiri, dan karena itu orang lain harus pergi kepada Yesus untuk dibaptis. Dia berbicara tentang sukacita yang dia miliki karena mengetahui bahwa Yesus adalah Kristus dan khotbahnya telah digenapi. Yohanes Pembaptis kemudian membuat pernyataan ini, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. ” Pernyataan Yohanes cukup mendalam. Itu adalah kebenaran Injil. Kita dapat belajar banyak dari sikap dan gagasan ini. Kristus harus menjadi lebih besar, dan kita harus menjadi kurang. Hari demi hari, kita harus menjadi makin kecil untuk lebih bisa melihat kebesaran Tuhan. Masalahnya, bagaimana kita melakukannya? Bagaimana kita membuat Kristus lebih besar dan bagaimana kita menjadi lebih kecil?

  • Pertama dan terutama, agar Kristus menjadi lebih besar dan kita menjadi lebih kecil, kita harus memiliki pemahaman tentang siapakah Kristus itu. Alkitab dalam 1 Petrus 3:15 menyatakan, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” Dapatkah anda menjawab pertanyaan ketika ditanya apakah Yesus adalah Tuhan? Dia harus menjadi lebih besar, kita harus menjadi lebih kecil.
  • Kedua, agar Kristus menjadi lebih besar dan menjadi lebih kecil, kita harus mau mengampuni sebagaimana kita telah diampuni. Efesus 4:32 berbunyi “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Apa yang akan terjadi dalam hidup kita jika kita mau mengampuni sebagaimana kita telah diampuni? Kita akan menjadi lebih kecil dan Kristus akan menjadi lebih besar karena dosa kita kepada Tuhan adalah jauh lebih besar dari kesalahan orang lain kepada kita.
  • Ketiga, agar Kristus menjadi lebih besar dan kita menjadi lebih kecil, kita perlu mengasihi sebagaimana kita sudah dikasihi. Dalam Yohanes 15:12, Yesus berkata, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Apakah kasih kita membuktikan bahwa kita mau menjadikan Kristus menjadi lebih besar dan kita menjadi lebih kecil dalam cara hidup kita? Sejujurnya, ada kalanya kurangnya kasih kita terhadap orang lain tidak menghasilkan persembahan yang harum kepada Tuhan. Bahkan, mungkin sering baunya yang busuk sudah sampai ke surga. Agar Kristus menjadi lebih besar, kita harus menjadi lebih kecil dengan menjalani kehidupan yang penuh kasih agar kita lebih menyadari bahwa kasih-Nya sangat besar. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4: 19).
  • Keempat, agar Kristus menjadi lebih besar dan kita menjadi lebih kecil, kita perlu menjadi pekerja-Nya. Kita adalah hamba-hamba Tuhan. Ayat 2 Timotius 2:15 berbunyi, “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan kabar kebenaran itu.” Dapatkah kita mempraktikkan kebenaran Firman dengan benar? Apakah anda senang mempelajari dan membagikan firman Tuhan?
  • Kelima, agar Kristus menjadi lebih besar dan kita menjadi lebih kecil, kita perlu menjalani kehidupan doa. Ada sesuatu tentang berdoa yang memungkinkan kita menjadi lebih kecil dan Kristus menjadi lebih besar. Itu karena jika kita berdoa, kita menempatkan diri kita di kaki-Nya. Dengan demikian, jika kita ingin mengalami kebesaran dan kemuliaan Tuhan dalam hidup kita, kita harus rajin berdoa akar kuasa Tuhan terasa lebih nyata.

Hari ini firman Tuhan menyatakan bahwa Tuhan menciptakan kita dan memiliki tujuan untuk kita. Namun, masalahnya adalah bahwa kita adalah orang yang tidak sempurna dan ketidaksempurnaan kita memberikan masalah ketika kita mencoba untuk mendekati Tuhan yang sempurna. Namun karena Tuhan sangat mengasihi kita, Dia menyediakan sarana bagi kita untuk memiliki akses kepada-Nya. Karena Tuhan begitu mencintai dunia sehingga Dia memberi kita hak sebagai anak-Nya dan siapa pun yang percaya kepada-Nya tidak boleh binasa tetapi memiliki hidup yang kekal. Yang harus kita lakukan adalah memulai dengan langkah keyakinan agar Dia menjadi lebih besar dan kita menjadi lebih kecil. Ini akan mengubah hidup kita sehingga kita bisa lebih bisa mengasihi-Nya dan mengasihi sesama kita.

Dalam hidup kita perlu pemimpin-pemimpin

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Di Australia, pemerintah dari partai Labor yang baru-baru ini menang dalam pemilu sekarang mulai sibuk membenahi berbagai bidang. Peraturan-peraturan baru mulai bermunculan dan tentunya setiap badan pemerintah dan swasta harus menaatinya. Begitu pula rakyat harus mengikuti dan melaksanakan apa yang ditentukan pemerintah. Bagi umat Kristen, ini adalah hal yang sudah semestinya karena setiap pemerintah adalah ditetapkan Allah.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Karena pemerintah negara manapun seharusnya mewakili Tuhan, sudah sewajarnya kalau setiap umat Kristen memilih pemimpin yang takut akan Tuhan. Ini adalah syarat utama, bahwa pemimpin yang baik, sekalipun bukan orang Kristen, adalah orang yang mau dan bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang penting, seperti kerohanian, perdamaian, keamanan, keadilan, fungsi keluarga, dan arti pernikahan.

Adalah baik jika semua orang yang duduk dalam pemerintahan adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Tetapi, dalam kenyataan hidup, orang-orang yang jahat dan tidak disenangi Tuhan bisa saja terpilih sebagai pemimpin-pemimpin negara. Dan kalau itu terjadi, manusialah yang harus bertanggung jawab di depan Tuhan.

“Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 4

Apa yang terjadi di muka bumi ini tentunya dengan seizin Tuhan, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan tentunya tidak akan menyenangkan Tuhan, dan karena itu, Tuhan tidak akan memberkati adanya pemerintah yang menentang Dia dan yang melanggar hukum-Nya, dan yang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Dalam ayat pembukaan di atas, perintah Tuhan melalui rasul Paulus yang mengirim suratnya kepada Timotius untuk menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur seringkali ditafsirkan sebagai doa untuk pemerintah dan para pemimpinnya. Tetapi, jika kita teliti, sebenarnya itu untuk semua orang yang bisa dan bertanggungjawab untuk membawa kita dapat hidup bahagia dalam ketertiban, yaitu apa yang disebut “tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan”. Dengan demikian, itu bukan saja mengenai hidup dalam satu negara, tetapi juga dalam satu tempat pekerjaan, organisasi, gereja, dan bahwan rumah tangga di mana kita berada. Setiap bagian dari hidup kita memerlukan adanya pemimpin yang bisa menuntun semua anggotanya dengan memberi contoh teladan dan kepemimpinan yang baik.

Pemimpin tidak perlu di artikan sebagai satu orang yang sudah terpilih secara resmi dan berdasarkan prinsip demokrasi, tetapi bisa saja terdiri dari orang-orang yang memang terpanggil dan mau untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab tertentu. Dalam pemerintahan, kantor, badan sosial, gereja dan rumah tangga ada orang-orang tertentu yang dikarunia Tuhan dengan kemampuan-kemampuan khusus untuk kebaikan bersama. Dan itu bisa pria atau wanita, tua atau muda, dengan berbagai sifat yang berlainan, tetapi dengan tujuan yang sama yaitu agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Kita sebagai orang Kristen wajib menghormati dan menghargai mereka yang mau dan sanggup untuk menolong orang lain dengan cara yang diperkenan oleh Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai Tuhan yang hidup, Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Karena itu, dalam usaha untuk menjadi umat Kristen yang baik, kita harus selalu mau menaikkan permohonan dan doa syafaat untuk semua orang, Kristen dan non-Kristen, yang dipakai Tuhan untuk mewujudkan hidup tenang dan tenteram dalam iman kepercayaan kita. Lebih lanjut, sebagai orang Kristen, kita harus mendukung mereka yang memang bijaksana, mempunyai kasih dari Tuhan, dan yang takut akan Tuhan, agar kita juga takut akan Tuhan dan karena itu selalu mendapat berkat-Nya. Biarlah kita boleh mengingat pesan terakhir Raja Daud kepada rakyatnya:

“Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.” 2 Samuel 23: 3 – 4

Orang Farisi sebagai orang yang merasa benar

Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 18:14

Perumpamaan Yesus tentang Orang Farisi dan Pemungut Cukai adalah pereumpamaan yang sangat terkenal. Kedua orang itu bagai bumi dan langit layaknya. Pada zamannya, orang Farisi adalah warga negara teladan. Dia mendalami Taurat, taat hukum, memberi persepuluhan, adil, setia kepada istrinya, dan benar di hadapan manusia. Orang Farisi memiliki reputasi terbaik di Israel.

Sejarawan Yahudi pada masa itu menggambarkan mereka sebagai ”sekte tertentu orang Yahudi yang tampak lebih religius daripada yang lain, dan tampaknya menafsirkan hukum dengan lebih akurat”. Tidak ada yang melihat orang Farisi dan melihat adanya masalah yang perlu diperbaiki. Tidak seorang pun, yaitu, kecuali Yesus. Pemungut Pajak, sebaliknya, adalah kebalikan dari orang Farisi. Jika orang Farisi adalah warga negara teladan, Pemungut Pajak adalah “penjahat” yang menghindari penangkapan.

Jika dibandingkan, orang Farisi jelaslah orang yang lebih baik. Kita mungkin ingin agar dia menjadi tetangga kita. Kita akan berpaling kepadanya jika kita membutuhkan bantuan. Kitai tidak keberatan berjalan bersamanya di jalan. Pemungut Pajak, di sisi lain, adalah seseorang yang kita hindari. Kita akan bergidik melihatnya mendekati rumah kita. Kita akan memisahkan diri dengan dia.

Kita mungkin sering melupakan perbedaan antara dua orang ini. Kita yang telah mendengar begitu banyak hal buruk tentang orang Farisi lupa bahwa banyak dari mereka adalah tipe pria yang kita hormati. Jangan salah, orang Farisi itu orang baik, Pemungut Pajak orang jahat. Itu dulu, jika kita hidup bersama mereka pada waktu sebelum Yesus lahir.

Tapi kita hanya melihat tampak luar manusia. Tuhan melihat hati (1 Samuel 16:7). Apa yang salah dengan orang Farisi itu? Seringkali orang Farisi ini dianggap sebagai seorang legalis. Legalisme adalah orang yang berusaha memperoleh keselamatannya dengan perbuatan baiknya. Orang Farisi dalam tidak melakukan itu. Dia percaya perbuatan baiknya diberikan kepadanya oleh Tuhan. Dia mengatakan banyak dalam doanya, “Tuhan, saya berterima kasih …” Dia mengakui bahwa Tuhan adalah orang yang memberinya kebenarannya. Masalah dengan orang Farisi bukanlah legalisme. Itu karena dia memandang dan mempercayai kebenaran itu -kebenaran menurut pengertiannya – untuk keselamatan. Dia sangat bangga dengan kebenarannya. Dan itulah masalahnya di hadapan Tuhan.

Orang Farisi itu percaya apa kunci kebenarannya dan berdoa dalam hati. Perhatikan, selain berbicara kepada Tuhan di awal doanya, ia menghabiskan sisa waktunya waktu berbicara tentang dirinya sendiri. Dia percaya pada dirinya sendiri bahwa dia yang paling benar. Dia merasa sudah mencapai kebenaran Tuhan secara mutlak. Hal tentang mempercayai diri sendiri untuk kebenaran adalah bahwa hal itu selalu mengarah pada memperlakukan orang lain dengan penghinaan. Ketika kita percaya bahwa kitalah yang bisa mengerti sifat hakiki Tuhan, kita melihat orang lain sebagai orang yang penuh kebodohan dan kekeliruan dan melihat mereka dengan rasa mual.

Pemungut Pajak, sebaliknya, mempertaruhkan segalanya pada kebenaran Tuhan. Ia tidak mengerti banyak tentang Taurat, tetapi ia percaya adanya Tuhan yang mahakasih. Dia tidak akan memasuki bait Allah. Ada alasan sosial untuk ini, tetapi Yesus menyoroti kerendahan hati-Nya. Dia berdiri jauh, jauh dari orang lain, bukan seperti orang Farisi tetapi dengan kesedihan yang mendalam karena dosa-dosanya. Doanya sederhana. Dia tidak mengacu pada orang lain. Dia tidak membual tentang kebenarannya atau pengetahuannya karena dia tidak memilikinya. Dia memohon belas kasihan Allah. Dia menyebut dirinya siapa dia sebenarnya, “orang berdosa.” Dia bahkan tidak mengangkat matanya ke langit. Dia memukul dadanya dengan sedih. Bahkan, dalam bahasa Yunani, permohonannya lebih dari sekadar pengampunan. Secara harfiah, permohonannya untuk belas kasihan adalah permohonan untuk “didamaikan.” Dia tidak meminta apa pun selain murka Tuhan untuk disingkirkan darinya.

Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita merasa benar di hadapan Tuhan karena Dia memberi kita kemampuan untuk melakukan atau mempelajari ajaran agama yang baik? Atau apakah kita benar di hadapan Allah karena Yesus benar di hadapan Allah dan kita ada di dalam Dia? Itu bermuara pada satu pertanyaan: kebenaran siapakah yang menyelamatkan kita. Banyak orang Kristen yang percaya bahwa apa yang diyakininya adalah kebenaran, dan kebenaran orang lain adalah bukan kebenaran karena berbeda dengan apa yang diyakininya. Padahal, apa yang diyakini Pemungut Cukai hanya sederhana: Tuhan mahasuci dan dia orang berdosa.

Kita tidak dibenarkan karena Allah memberi kita kebenaran khusus untuk kita sendiri. Kita dibenarkan karena Allah memberi kita kebenaran Kristus sebagai Juruselamat kita.. Arah pandangan anda membuat semua perbedaan. Ini diberikan kepada seluruh umat percaya.

Apakah Tuhan adalah penolong ilahi kita, yang memberi kita kemampuan untuk menjadi benar, atau apakah dia Juru Selamat Ilahi kita, yang memberi kita anugerah-Nya? Jika kita merasa bahwa Tuhan memberi kita kebaikan dalam pribadi kita sendiri dan menerima kita berdasarkan itu, masuk akal bagi kita untuk memandang rendah orang lain. Tetapi jika Allah memberi kita kebenaran melalui Anak-Nya, dan hanya melalui Anak-Nya, maka kita tidak akan memandang rendah orang lain. Kita semua setara. Kita semua membutuhkan kebenaran Kristus. Ini yang tidak disadari orang Farisi itu.

Kepada siapa kita harus menginjil?

“Petrus tinggal di Yope dengan seorang penyamak kulit bernama Simon untuk beberapa hari lamanya.” Kisah Para Rasul 9.43

Dalam ayat di atas tertulis bahwa Petrus tinggal di Yope di rumah Simon “sang penyamak”. Itu hanya sebuah deskripsi di mana rasul Petrus tinggal. Seorang malaikat memberikan alamat ini kepada seorang non-Yahudi yang takut akan Tuhan dari Kaisarea. Malaikat itu memberi tahu Kornelius, seorang perwira Romawi, “Dan sekarang, suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus. Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit yang bernama Simon, yang tinggal di tepi laut” (Kisah Para Rasul 10: 5-6). Yope adaah kota pelabuhan di Yudea, sekitar 60 km selatan Kaisarea. Orang yang mencari Petrus di Yope akan mencari rumah di pantai, tetapi mereka mungkin dapat menemukan rumah Simon dari baunya. Penyamak kulit terkenal karena baunya.

Tapi tinggalnya Petrus di rumah Simon orang Yahudi adalah hal yang tidak biasa. Orang Yahudi menghindari penyamak kulit. Hukum zonasi kuno sering menempatkan penyamakan kulit di pinggir kota atau di luarnya, di lokasi yang ditentukan oleh angin yang bertiup. Kulit hewan yang diolah dengan penyamak kulit dengan campuran kotoran hewan atau manusia yang busuk atau dengan bahan kimia keras. Terkadang daging yang tersisa di kulit dibiarkan membusuk. Itu adalah pekerjaan yang tidak higienis selain bau busuk yang akan meresap ke pakaian, kulit, dan rumah penyamak kulit.

Penyamakan kulit adalah salah satu usaha yang paling najis dalam masyarakat kuno mana pun, sifat pekerjaan mereka membuat mereka tetap dalam keadaan najis untuk ritual (Imamat 11:35), dan proses penyamakan kulit memang mengakibatkan keadaan najis secara fisik. Para rabi menyebut penyamak kulit atau penyamak kulit dalam konteks “hal-hal najis” lainnya. Penyamakan kulit sebenarnya tidak dilarang dalam Perjanjian Lama. Kulit digunakan untuk pakaian, tas, pelana, sandal, dan tenda -termasuk Tabernakel, selama berabad-abad pusat kehidupan ibadat Israel. Tapi hewan mati dan fitur lain dari pekerjaan meninggalkan penyamak kulit kotor, bau, dan sering kali najis. Secara adat, penyamak kulit diperlakukan sebagai orang buangan dari masyarakat umum dan didorong ke pinggiran kehidupan keagamaan Yahudi.

Jadi, tinggalnya Petrus dengan Simon si penyamak kulit bertentangan dengan norma kehidupan orang Yahudi. Petrus jelas tidak mencari keuntungan atau kenyamanan pribadi. Mungkin kamarnya memiliki pemandangan laut, tapi pasti ada bau penyamakan kulit. Petrus telah menemukan cara untuk membiarkan Simon si penyamak kulit, terlepas dari statusnya, membantu menyebarkan Injil. Yang paling penting, pilihan akomodasi Petrus membantu menandakan bahwa Injil dimaksudkan untuk semua orang.

Mungkin saja Simon memiliki bisnis penyamakan kulit dan tidak bekerja sendiri. Tapi bisnis tampaknya baik untuk Simon karena dia bisa membuka rumahnya untuk Petrus. Rumah itu cukup besar untuk memiliki gerbang dan halaman yang cukup jauh dari rumah sehingga Petrus tidak mendengar anak buah Kornelius datang (Kisah 10:17-18). Mereka tiba tepat setelah Tuhan melalui suatu penglihatan mengarahkan Petrus bahwa tidak perlu lagi memelihara hukum makanan Yahudi. Roh Tuhan kemudian menyuruhnya kembali ke Kaisarea bersama delegasi dari Kornelius. Di sana Petrus mengkhotbahkan fakta kehidupan kekal kepada seisi rumah perwira dan membaptis mereka.

Bahwa Petrus berbagi keramahan dengan Simon itu penting. Sama seperti Yesus, Ia makan dan minum dengan orang-orang buangan, orang-orang Yahudi tetapi terpinggirkan dari sudut pandang kemurnian Bait Suci dan tradisi Farisi. Sementara penyamak kulit tidak pernah termasuk dalam daftar orang luar yang makan bersama Yesus, mereka mungkin berada dalam kategori yang sama dengan pemungut cukai dan pelacur. Jadi Petrus sebenarnya sudah tidak menaati humum Taurat, dan karena itu tidak bisa menolak perintah Tuhan untuk menjumpai Kornelius yang dianggap najis oleh orang Israel.

Bagaimana dengan kehidupan kita sendiri sebagai orang Kristen? Kita tentu sadar bahwa Yesus memerintahkan kita unruk pergi ke seluruh penjuru dunia, tanpa perkecualian. Pemberitaan Injil yang membawa keselamatan bukan berarti mengajarkan hal-hal yang kurang penting sepeti prinsip-prinsp teologi pilihan kita. Pengabaran injil juga harus dilandaskan pada kasih Tuhan kepada seluruh umat manusia dan tidak dihambat oleh perbedaan ras, staus sosial orang yang di injili, pendidikan dan latar belakang kehidupan mereka. Pengabaran Injil bukan kesempatan untuk menjelekkan aliran Kristen lain agar pengikutnya pindah gereja. Penginjilan adalah ditujukan untuk mencari jiwa baru dalam dunia yang kotor dan penuh dosa. Kita yang mengabarkan Injil harus selalu ingat bahwa Yesus sudah menyucikan hidup kita dari semua dosa. Seperti itulah, Ia ingin menyelamatkan orang lain yang belum mengenal Kristus, sekalipun mereka bukan orang orang yang terlihat baik di mata kita.

Bahaya perhambaan dalam penerapan doktrin

“Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita. Tetapi sesaatpun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu.” Galatia 2: 4 – 5

Di zaman ini, masalah perbedaan doktrin masih sering menimbulkan ketegangan di antara umat Kristen. Karena tugas utama umat Kristen adalah mengabarkan injil, banyak orang Kristen dengan semangat yang menggebu-gebu ingin agar orang lain juga bisa diselamatkan. Oleh sebab itu, sering terlihat di berbagai media adanya berbagai pidato, tulisan dan rekaman yang bernada keras dan menyerang orang yang berbeda teologinya.

Mengapa untuk Alkitab yang sama ada begitu banyak teologi yang berbeda? Itulah karena manusia adalah makhluk yang istimewa! Dalam segi yang baik maupun yang buruk, manusia adalah makhluk yang unik. Manusia diciptakan sebagai peta dan teladan Allah dan karena itu mempunyai kemampuan yang berbeda dari makhluk-makhluk yang lain. Manusia memiliki pikiran, perasaan dan perhatian yang jauh lebih tinggi dari makhluk yang lain. Jika makhluk lain bergantung pada naluri, manusia menggunakan akal budinya untuk menilai keadaan dan orang di sekitarnya. Tiap manusia bisa mempunyai pengertian dan perasaan yang berlainan terhadap hal yang sama.Walaupun demikian, masalah akan timbul jika ada orang-orang tertentu yang bersikeras bahwa pengertian yang dimilikinya adalah satu-satunya yang benar dan harus diikuti oleh orang lain.

Masalah serupa diungkapkan Paulus pada suratnya kepada jemaat di Galatia, Dalam ayat di atas ia memperingatkan bahwa dalam gereja ada orang-orang yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan jemaat dalam bersekutu di dalam Kristus Yesus. Paulus menegaskan bahwa “saudara-saudara palsu” itu berusaha untuk memperhamba jemaat. Siapa saudara-saudara palsu ini tidak diketahui dengan pasti. Juga tidak diketahui apakah Paulus mengacu pada mereka yang berada di Yerusalem atau mereka yang berada di Antiokhia. Kemungkinan besar dia merujuk pada orang-orang Kristen yang melakukan Yudaisasi, atau orang-orang yang mengaku sebagai orang Kristen dan telah berpindah agama dari Yudaisme.

Apakah “saudara-saudara palsu” itu benar-benar penyesat dan munafik, atau apakah mereka kurang mendalami hal kekristenan, dan begitu keras kepala, bersikap otoriter, meskipun mereka sebenarnya orang beriman, tidaklah mudah untuk dipastikan. Namun, jelas bahwa mereka menentang rasul Paulus. Mereka menganggap Paulus telah mengajarkan doktrin yang berbahaya, dan mengklaim memiliki pandangan yang lebih benar yang berdasarkan prinsip-prinsip Yudaisme. Mereka ingin menjadi pemimpin yang terpandang dalam gereja.

Jelas di sini bahwa Paulus memberikan alasan untuk apa yang telah dia lakukan, yaitu untuk melawan pengaruh “saudara palsu” dalam kasus tersebut. Ini diungkapkan dalam pernyataannya bahwa dia tidak setuju atas penyunatan Titus, dan bahwa dia bermaksud menolak itu untuk melawan pengaruh mereka dan untuk mengalahkan rencana mereka. Dengan demikian Paulus dapat mengamankan ajaran para rasul terkemuka lainnya, dan secara efektif mencegah semua upaya saudara-saudara palsu untuk memaksakan ritus-ritus Yahudi pada orang-orang non-Yahudi yang bertobat.

Mungkin Paulus merujuk pada kejadian di Yerusalem, dan bahwa saudara-saudara palsu ini telah diperkenalkan dari Antiokhia atau tempat lain di mana Paulus telah berkhotbah, atau bahwa mereka adalah orang-orang yang telah diperkenalkan oleh musuh-musuhnya untuk menuntut agar Titus disunat, dengan alasan yang masuk akal bahwa hukum Musa mengharuskannya. Mereka menuntut agar penyutatan Titus ini harus diterapkan pada orang-orang non-Yahudi yang bertobat. Jika Paulus dipaksa untuk tunduk pada ini dan menyerah atas tuntutan mereka, itu akan membuktikan bahwa hukum Musa harus diterapkan pada orang-orang non-Yahudi yang bertobat. Inilah alasan mengapa Paulus sangat menentangnya. Memang penerapan doktrin yang salah bisa membuat mereka yang mengajarkannya seolah menjadi “wakil-wakil” Allah yang berotoritas, yang menuntut ketundukan orang lain kepada mereka dan bukannya kepada firman Tuhan.

Pada zaman ini kita masih bisa menemukan “saudara-saudara palsu” seperti yang ditemui Paulus. Mereka yang memimpin umat dengan otoritas yang berasal dari pengaruh, pandangan dan pengertain mereka, Mereka memandang bahwa satu-satunya kebenaran adalah seperti apa yang mereka mengerti. Mereka sudah menganggap bahwa apa yang mereka ajarkan adalah apa yang benar dan sempurna, dan dengan itu menjadikan orang lain mau untuk menjadi hamba dari apa yang mereka percayai. Pada pihak yang lain, ada pemimpin kelompok yang memperhamba pengikutnya dengan cara yang membuat mereka takut untuk meninggalkan kelompok itu.

Pagi ini, seperti Paulus kita harus berani menyatakan bahwa dalam Kristus ada kemerdekaan dari pengertian manusiawi. Seperti Paulus kita harus yakin bahwa kita sudah dimerdekakan dari pengaruh dosa dan manusia, dan menjadi pelayan-pelayan Allah yang merdeka dalam darah Yesus. Kita tidak boleh tunduk kepada mereka yang menambahkan berbagai syarat buatan manusia untuk menjadi orang Kristen yang benar. Kita tidak boleh terpengaruh oleh mereka yang ingin mempengaruhi iman kita melalui berbagai ajaran yang bertujuan meninggikan status dan teologi mereka di mata umat Kristen dan bukannya untuk memuliakan Tuhan.

“Tetapi sesaatpun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu.” Galatia 2: 5

Bagaimana seharusnya kita menggunakan Alkitab untuk hidup sehari-hari

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Julian Assange adalah pendiri sekaligus editor dan juru bicara WikiLeaks, sebuah situs media yang mempublikasikan berbagai dokumen dan informasi rahasia berbagai negara di dunia yang bertujuan untuk menciptakan pemerintahan yang lebih terbuka. Assange dikenal sebagai seorang aktivis hacker dan progammer komputer yang dikenal dunia setelah meluncurkan WikiLeaks. Ia banyak diburu oleh polisi internasional untuk mempertanggungjawabkan tindakannya yang telah membocorkan rahasia negara Amerika. Walaupun demikian, banyak orang yang mendukung Assange dan menganggap apa yang dilakukannya adalah etis dan benar karena sesuai dengan azas kemerdekaan pers yang disebut sebagai pilar demokrasi. Bagaimana posisi umat Kristen dalam masalah moral dan etika seperti ini?

Alkitab berisi banyak materi moral dan etis, misalnya Sepuluh Hukum Tuhan, Khotbah di Bukit, contoh umum dan ajaran Yesus, dan bagian-bagian dalam surat-surat Paulus. Penting bagi kita untuk membaca dan merenungkan materi ini. Dengan melakukan itu, kita mungkin menjadi sadar tidak hanya tentang cara Alkitab yang dapat membantu kita, tetapi juga tentang jarak yang sangat jauh antara dunia alkitabiah pada waktu itu dan dunia kita sendiri saat ini. Bagi banyak orang Kristen, konteks budaya para penulis Alkitab tampaknya bisa menghasilkan keputusan yang masih perlu kita pertanyakan hari ini, dalam terang perintah utama Yesus untuk mengasihi Tuhan dan sesama tanpa syarat. Sikap dalam hukum Musa terhadap musuh, budak dan wanita, bersama dengan hukuman seperti rajam untuk pelanggaran seksual, adalah contoh kasusnya.

Bagaimana kita harus hidup di zaman ini? Prinsip apa yang harus kita pakai dalam hal moral dan etika? Bagaimana kita bisa memahami masalah yang kita hadapi? Banyak pemikir dan filsuf selama berabad-abad telah menawarkan berbagai jawaban atas pertanyaan seperti itu, tetapi banyak orang Kristen yang percaya bahwa iman mereka bisa memberi mereka jawaban yang tepat. Singkatnya, orang Kristen berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, apakah usaha itu cukup?

Membedakan apa yang kehendak Tuhan dari apa yang harus kita hindari terkadang tidak sulit. Pembunuhan, penyiksaan, pencurian dan kebohongan adalah tidak etis dan, bagi orang Kristen, perilaku seperti itu jelas bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, merawat mereka yang membutuhkan, memberi makan yang lapar, dan membantu yang tertindas atau menderita dipahami sebagai moral yang mendalam dan sejalan dengan kehendak Tuhan. Walaupun demikian,keputusan moral lainnya seringkali terbukti lebih sulit untuk ditangani. Ini mungkin karena dilema etika baru telah muncul yang tidak tercakup oleh ajaran moral tradisional kita, atau karena ada perbedaan mengenai bagaimana ajaran moral tradisional itu sebaiknya ditafsirkan sekarang.

Jangkauan pengalaman moral kita luas dan kompleks; sehingga mencapai keputusan moral bisa sulit dan mahal untuk dilakukan. Gereja berusaha untuk mengakarkan pemahamannya tentang kehendak Tuhan dalam pengakuan akan tantangan-tantangan ini, dan Gereja berusaha untuk mendukung mereka yang bergumul dengan kesulitan moral yang mereka hadapi. Tetapi, perlu kita sadari, setiap orang dan setiap gereja memiliki prioritas dan kemampuan yang berbeda.

Jadi, dalam hal ini kita perlu mempertimbangkan bagaimana kita membaca Alkitab. Ayat di atas menyatakan bahwa firman Tuhan harus menjadi pembimbing hidup kita. Dua prinsip sangat penting: pertama, Gereja menekankan pentingnya pembacaan sistematis kitab suci dalam ibadah. Gereja mengikuti serangkaian bacaan dari Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, dan orang-orang Kristen terutama berfokus pada perkataan dan teladan Kristus. Kita tidak bisa hanya berfokus pada beberapa bagian yang menarik bagi kita; kita dituntut untuk membaca dan merenungkan Alkitab secara keseluruhan. Dengan demikian, Gereja adalah agen moral yang dibentuk oleh pembacaan Kitab Suci.

Prinsip kedua terkait dengan cara membaca Alkitab. Alkitab berisi banyak cita-cita Kristen, tetapi itu bukan sekadar buku peraturan. Ini adalah kumpulan kesaksian dari berbagai zaman tentang hubungan yang hidup antara Allah Bapa yang penuh kasih dan anak-anak-Nya, seorang Bapa surgawi yang selalu ingin melindungi kita dari bahaya yang mungkin kita timbulkan atas diri kita sendiri dan orang lain. Jadi sementara Alkitab menawarkan banyak bimbingan moral, terutama dalam kehidupan dan pengajaran Kristus. Memperlakukannya hanya sebagai sebuah buku aturan etis akan meminimalkan dan bahkan merusak nilainya.

Iman kita kepada Tuhan sebagai pencipta berarti bahwa kehendak Tuhan juga diwahyukan di dalam dan melalui dunia di sekitar kita – tidak hanya melalui lingkungan, tetapi melalui penelitian dan studi, melalui potensi dan keterbatasan kita sebagaimana ditentukan oleh alam, melalui interaksi dan eksplorasi manusia. Berbagai cabang studi dan usaha manusia, seperti humanisme dan psikologi, terus mengungkapkan banyak hal tentang penciptaan dan tentang penciptanya. Sayang, ada banyak orang Kristen yang memandang semua itu kurang sesuai dengan isi Alkitab.

Melalui doa dan penyembahan kita, studi dan meditasi kita, kita dapat menemukan lebih banyak lagi kehendak Tuhan untuk penciptaan. Pengalaman kita sebagai komunitas orang percaya, Gereja, adalah inti dari proses penegasan ini. Komunitas ini – melintasi ruang dan waktu – menawarkan kepada kita perspektif, tolok ukur yang dengannya kita dapat mengukur pengalaman dan tanggapan kita sendiri terhadap Tuhan. Sangat menolong jika kita sadar bahwa kita bukanlah orang pertama yang bergumul dengan masalah moral dalam kehidupan Kristen kita.

Kita mungkin mendapati bahwa upaya kita yang sungguh-sungguh untuk memahami kehendak Tuhan dalam situasi yang sulit membuat kita bingung dan tidak dapat menemukan jawaban yang membuat kita nyaman. Atau, bahwa saat mencapai jawaban, kita menemukan diri kita dalam ketidaksetujuan dengan orang-orang yang kita cintai dan percayai. Tetapi penting bagi kita untuk menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan ketidakmampuan untuk menghasilkan jawaban yang pasti untuk setiap pertanyaan moral, dan untuk mengingat bahwa, apa pun kesimpulan kita, kita mungkin perlu meninjaunya kembali berdasarkan perkembangan selanjutnya. Memang kita adalah manusia terbatas yang tidak sempurna.

Jadi bagaimana kita bisa membuat keputusan moral hari ini? Sebagai kesimpulan, kehendak Tuhan harus dilihat setidaknya dalam tiga cara:

  • melalui Alkitab sebagai pengungkapan hubungan Tuhan dengan umat-Nya, ini hal yang mutlak dan utama,
  • melalui komunitas orang percaya, dan
  • melalui dunia di sekitar kita, sebagai ciptaan Tuhan.

Semoga kita mau belajar agar makin lama makin sempurna dalam pengenalan kita atas kehendak Tuhan.

Mengapa Tuhan membiarkan umat-Nya menderita?

Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini. Yesaya 45: 6-7

Jika kita membaca berita dalam surat kabar atau dari media eletronik, pastilah kita bisa melihat bahwa setiap hari selalu ada saja kabar buruk yang terjadi di dunia. Tidak hanya berita tentang adanya kekacauan di bidang sosial, ekonomi dan politik di berbagai tempat, tetapi juga adanya penderitaan yang dialami manusia karena adanya kelaparan, penyakit, penganiayaan, kejahatan, perang atau kecelakaan. Apalagi, ada kejadian-kejadian dimana sejumlah besar manusia yang nampaknya tidak bersalah, menemui kematian pada waktu yang bersamaan akibat suatu bencana, seperti jatuhnya sebuah bom di kompleks perumahan Ukraina.

Memang sebagian manusia mungkin hanya memikirkan penderitaan orang lain secara sepintas lalu saja. Selama hal-hal itu tidak menyangkut hidup mereka atau hidup sanak saudara, mereka tidak merasa terbebani. Tetapi, kebanyakan manusia tentu bisa merasakan kesedihan yang dialami orang lain dan menerima kenyataan bahwa selama hidup di dunia memang penderitaan bisa datang silih berganti.

Apakah Tuhan itu benar ada dan tetap mengatur seisi jagad-raya? Jika Tuhan itu mahakuasa, mahatahu dan mahakasih, adakah yang Ia lakukan ketika Ia melihat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri umat manusia? Inilah pertanyaan yang sulit dijawab manusia jika mereka membaca ayat di atas. Dimanakah Tuhan ketika malapetaka terjadi di dunia? Sedihkah Tuhan jika umat-Nya terkena bencana?

Bagi orang Kristen hal ini adalah pertanyaan yang masih sering timbul. Bahkan adanya bencana dan malapetaka seringkali membuat hati menjadi kecil karena nampaknya malapetaka bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Itu karena Tuhan yang “menjadikan nasib mujur dan nasib malang”. Ini adalah serupa dengan pandangan fatalisme: bahwa segala sesuatu, apa yang baik dan yang jahat, diciptakan oleh Tuhan. Sebaliknya, apa yang bisa kita pastikan adalah segala sesuatu yang baik dan yang sempurna diciptakan oleh Tuhan (Yakobus 1: 17).

Sebelum kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, hidup semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan manusia.

Satu hal lain yang harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah satu-satunya yang menyebabkan munculnya malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya. Tuhan bukan pencipta kejahatan.

Konteks Yesaya 45: 6-7 adalah Allah memberi upah kepada Israel karena ketaatan dan menghukum Israel karena ketidaktaatan. Tuhan mencurahkan keselamatan dan berkat kepada orang-orang yang Dia kasihi. Tuhan membawa penghakiman atas mereka yang terus memberontak melawan Dia. “Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja!” (Yesaya 45:9). Itulah orang yang kepadanya Tuhan membawa “kejahatan” dan “bencana.” Jadi, bukannya mengatakan bahwa secara umum Tuhan menciptakan “apa yang jahat” untuk umat manusia. Yesaya 45:7 menyajikan tema umum dari Kitab Suci – bahwa Tuhan membawa bencana bagi mereka yang terus memberontak melawan-Nya. Selain itu, Tuhan juga memberi peringatan kepada umat-Nya yang mundur dari-Nya.

Dalam Alkitab, pengaalaman buruk umat Alah bisa digambarkan oleh Ayub. Ayub pernah mengalami pengalaman yang sangat buruk dan karena itu merasa bahwa itu adalah hukuman baginya Ia merasa bahwa Tuhan sudah memusuhinya. Ini adalah kekeliruannya. Tuhan tidak memusuhi umat-Nya.

Berapa besar kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu.Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu? Ayub 13; 23-24

Pagi ini, jika kita mendengar adanya sebuah malapetaka, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan seakan berdiam diri. Apakah Tuhan benar-benar mahakasih, maha adil dan mahakuasa? Ayat diatas menunjukkan bahwa  keputusan-Nya akan terjadi dan segala kehendak-Nya akan terlaksana. Apa-pun yang terjadi adalah dengan sepengetahuan-Nya.

Dalam keadaan yang tidak baik, bagi umat Kristen seharusnya tetap sadar bahwa satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apa pun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa terasa dan membuat manusia mau tunduk dan berserah kepada-Nya. Tuhan ingin agar umat-Nya bisa sepenuhnya bergantung kepada kasih-Nya.

Kita sering kali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang kita mengerti adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi apa yang datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi dimana kita sudah menerima garansi untuk bisa menikmati kebahagiaan yang penuh dengan Tuhan. Hidup yang singkat di dunia, dengan demikian bisa kita gunakan untuk mempersiapkan diri untuk hidup bersama Allah, dan untuk menolong mereka yang menderita, agar mereka bisa mengenal Tuhan yang mahakasih seperti kita. Biarlah nama Tuhan dipermuliakan segala bangsa dalam segala keadaan!

“Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan” Yesaya 46: 9  – 10