We know the meaning of life if we know the meaning of death

“For to me to live is Christ and to die is gain. But if I have to live in this world, it means for me to work to give fruit. So what should I choose, I have no idea. I was urged from two sides: I wanted to go and live with Christ that was much better; but it is more necessary to stay in this world because of you.” Philippians 1: 21-24

J.I. Packer was an Anglican church member who spent the first half of his life in England and the second half in Canada but who is perhaps most popular in the United States. He is widely recognized as one of the most influential theologians of the twentieth century. Pastor and theologian Packer went to see God on July 17, 2020. He was 93 years old. One of his many writings is “God’s Plans for you”. He wrote in the book “Only when you know how to die can you know how to live”. His writings underline the Christian way of life that must be adapted to the fact that he will meet a holy God in the end. Therefore Christians should be aware that they must be prepared at all times to face death.

Perhaps, in writing the verse above, Paul felt the same way for himself. His advancing age and the house arrest he endured certainly made him think about what might happen in the future. As a man who believed in God and was confident in his salvation, Paul certainly had no doubts about where he would go at the end of his life. He will go to heaven. Thus, the worst situation that many other people who experience life struggles think of, is actually the best situation for Paul. Death will bring him to an encounter with Christ.

Paul wrote that death is gain. Why is that? As a believer, Paul believed that because of his faith, he had received the salvation that comes through the blood of Christ. However, as long as he lived on earth, he could only imagine the beauty of heaven. Only through the death of his physical body will he receive an immortal spiritual body in heaven. Imagining the moment he would be able to meet Christ face to face, Paul said that he would feel lucky if it happened right now because it would be so much better than living in this dark world.

The belief that life in heaven is better than life on earth is probably owned by every believer. Indeed people believe that in Christ there is a resurrection that will enable them to live with Christ forever. However, perhaps no Christian would choose to die quickly. Most Christians may admit that the time to leave this world is determined by God; however, they would choose to live a long life on earth if that was possible. In this case, no one knows when they will be called by God.

The Bible says that human life is like a vapor that appears for a moment and then disappears (James 4:13-14). We cannot prolong our life for a second. But that does not mean that we should expect the encounter with Christ to come as soon as possible. Why is that? Paul explained that although life in heaven is much better, there is a need to live on earth to work and bear fruit, that is, for the glory of God. In this case, what should we do in the community around us while the opportunity still exists?

Those who are ready to die are believers who believe that their faith is not in vain. They will welcome death fearlessly because they are ready to meet their beloved God and want to live in His glory in heaven. However, people with true faith are people who also believe that while living on earth, they must strive to live well in order to glorify God. Indeed we are saved, but if we do not use our lives as if tomorrow is the time to meet our Lord, our faith may still be dominated by worldly desires.

“Therefore, just as a body without a spirit is a dead body, so faith without works is a vain faith!” James 2: 26

This morning, the question for us is: “Are we ready to die?”. Are we really ready to meet God in heaven? If we are ready to die, it means we are also ready to live in this world as God wills. We must continue to believe, that even though the current situation is not good, we must still be eager to live to carry out His commandments to be an offering that is pleasing to God.

“Therefore, brethren, by the grace of God I exhort you to offer up your body as a living sacrifice, holy and pleasing to God: this is your true worship.” Romans 12:1

Kita tahu arti hidup jika kita tahu arti kematian

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 21-24

J.I. Packer adalah seorang anggota gereja Anglikan yang menghabiskan paruh pertama hidupnya di Inggris dan paruh kedua di Kanada tetapi yang mungkin paling populer di Amerika Serikat. Ia dikenal luas sebagai salah satu pempopuler teologi paling berpengaruh di abad kedua puluh. Pendeta dan teolog Packer pergi menemui Tuhan pada 17 Juli 2020. Dia berusia 93 tahun. Salah satu dari banyak tulisan beliau adalah “God’s Plans for you” atau “Rencana Tuhan untukmu”. Beliau menulis dalam buku itu “Only when you know how to die can you know how to live” yang artinya “Hanya jika kamu tahu bagaimana kamu akan mati akanlah kamu tahu bagaimana harus hidup”. Tulisan beliau menggarisbawahi cara hidup orang Kristen yang harus disesuaikan dengan kenyataan bahwa ia akan bertemu Tuhan yang mahasuci pada akhirnya. Karena itu semestinya orang Kristen sadar bahwa mereka harus bersiap setiap waktu untuk menghadapi kematian.

Barangkali, Paulus dalam menulis ayat di atas merasakan hal yang serupa bagi dirinya. Usia yang mulai melanjut dan tahanan rumah yang dialaminya tentunya membuat dia memikirkan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan dan yakin atas keselamatannya, Paulus tentu tidak sangsi ke mana ia akan pergi pada akhir hidupnya. Ia akan ke surga. Dengan demikian, keadaan terburuk yang banyak dipikirkan orang lain yang mengalami pergumulan hidup, justru merupakan keadaan yang terbaik bagi Paulus. Kematian akan membawa dia ke perjumpaan dengan Kristus.

Paulus menulis bahwa mati adalah keuntungan. Mengapa demikian? Sebagai orang beriman, Paulus percaya bahwa karena imannya, ia sudah menerima keselamatan yang datang melalui darah Kristus. Tetapi, selama hidup di dunia, ia hanya bisa membayangkan keindahan surga. Hanya melalui kematian tubuh jasmaninya, ia akan menerima tubuh rohani yang abadi di surga. Membayangkan saat di mana ia bisa berjumpa muka dengan muka dengan Kristus, Paulus berkata bahwa ia akan merasa beruntung jika itu terjadi sekarang juga karena itu jauh lebih baik daripada hidup di dunia yang gelap ini.

Keyakinan bahwa hidup di surga itu lebih baik dari hidup di dunia barangkali dipunyai oleh setiap orang percaya. Memang orang percaya bahwa dalam Kristus ada kebangkitan yang memungkinkan mereka untuk hidup bersama Kristus untuk selamanya. Walaupun demikian, mungkin tidak ada orang Kristen yang memilih untuk mati secepatnya. Kebanyakan orang Kristen mungkin mengakui bahwa saat untuk meninggalkan dunia ini ditentukan oleh Tuhan; tetapi, mereka akan memilih hidup panjang di dunia jika itu mungkin. Dalam hal ini, tidak seorang pun yang tahu kapan mereka akan dipanggil Tuhan.

Alkitab menyatakan hidup manusia itu seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yakobus 4: 13-14). Kita tidak dapat memperpanjang hidup kita sedetik pun. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus mengharapkan perjumpaan dengan Kristus untuk datang secepat mungkin. Mengapa demikian? Paulus menjelaskan bahwa sekalipun hidup di surga itu jauh lebih baik, ada perlunya untuk hidup di dunia untuk bekerja dan berbuah, yaitu untuk kemuliaan Tuhan. Dalam hal ini, apa yang harus kita kerjakan dalam masyarakat di sekitar kita selagi kesempatan masih ada?

Mereka yang siap untuk mati adalah orang-orang beriman yang percaya bahwa iman mereka tidak sia-sia. Mereka akan menyambut kematian dengan tanpa rasa takut karena mereka sudah siap untuk menjumpai Tuhan yang mereka kasihi dan ingin hidup dalam kemuliaan-Nya di surga. Tetapi, orang-orang yang benar imannya adalah orang yang juga percaya bahwa selama hidup di dunia, mereka harus berusaha untuk hidup baik guna memuliakan Tuhan. Memang kita sudah diselamatkan, tetapi jika kita tidak memanfaatkan hidup kita seakan esok hari adalah saat untuk menjumpai Tuhan kita, iman kita mungkin masih dikuasai keinginan duniawi.

“Oleh itu, sebagaimana tubuh tanpa roh adalah tubuh yang mati, demikian juga iman tanpa perbuatan adalah iman yang sia-sia!” Yakobus 2: 26

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah: “Apakah kita siap untuk mati?”. Apakah kita benar-benar siap untuk menjumpai Tuhan di surga? Jika kita memang siap untuk mati, itu berarti kita juga siap untuk hidup di dunia ini sebagaimana Tuhan menghendakinya. Kita harus tetap percaya, bahwa sekalipun keadaan saat ini kurang baik, kita harus tetap bersemangat untuk hidup guna melaksanakan perintah-Nya untuk menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1

Menjawab undangan Allah

Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” Lukas 14: 23-24

Alkisah ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh pelayannya untuk memanggil para undangan. Tetapi mereka yang sudah diundang itu semuanya menolak untuk datang. Ada yang berkata bahwa ia baru saja membeli ladang dan harus pergi melihatnya. Yang lain berkata bahwa ia telah membeli lima pasang sapi dan harus pergi mencobanya di sawah. Dan yang lain lagi berkata bahwa ia baru menikah dan karena itu tidak dapat datang. Si pelayan kemudian pulang dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu marahlah tuan rumah itu dan memerintahkan pelayannya untuk pergi ke segala jalan dan lorong kota dan membawa orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Tuan rumah itu menghendaki agar rumahnya harus penuh.

Di sini Yesus menggambarkan tawaran Injil, pertama kepada orang Yahudi dan kemudian kepada orang bukan Yahudi. Bangsa Yahudi dengan tegas menolak tawaran yang Tuhan berikan kepada mereka melalui para nabi-Nya. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah terbuka untuk semua orang, bukan hanya orang Yahudi.

Mereka yang akhirnya datang ke perjamuan adalah orang-orang di luar bangsa Yahudi, yang dianggap lebih rendah derajatnya. Mereka adalah orang yang sakit, yang lemah, dan yang menderita. Mereka adalah orang yang membutuhkan penyelamatan, dan tanpa kasih karunia Tuhan tidak akan bisa berjumpa dengan Tuhan. Hanya karena karunia Tuhan yang ditawarkan secara cuma-cuma, mereka yang dipilih untuk masuk ke dalam perjamuan.

Apa yang Yesus maksudkan dengan “Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku”? Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk bertobat dan percaya akan kabar baik yang diberitakan oleh -Nya. Tetapi banyak orang Yahudi yang menolak undangan-Nya. Adalah mungkin bagi kita untuk menolak undangan-Nya, seperti yang dilakukan banyak orang Yahudi. Dalam hal ini, Yesus menyatakan bahwa mereka yang menolak undangan Allah untuk menerima keselamatan itu sudah bersalah karena menolaknya dan tidak akan bisa menemui-Nya.

Siapakah mereka yang menanggapi panggilan dan menerima Kristus dalam iman? Yesus menyebut mereka “dipaksa” untuk datang. Inilah semua yang telah dipilih Bapa di dalam Kristus sejak sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Efesus. 1:4). Hanya orang-orang pilihan inilah yang akan menjadi kumpulan orang-orang yang ditebus ketika Kristus datang kembali dalam kemuliaan. Pilihan kekal Allah memastikan mereka akan menanggapi panggilan itu dengan kerendahan hati.

Apa pelajaran utama yang Yesus miliki bagi kita dalam perumpamaan yang mengejutkan dan meresahkan ini? Pertama, tidak sedikit orang yang menolak panggilan Allah melalui utusan-Nya. Mereka yang tidak mau mendengarkan kabar keselamatan yang disampaikan hamba Tuhan. Mereka yang ke gereja hanya untuk bersosial, atau mereka yang sama sekali menolak ajaran Kristen. Tuhan akan meminta pertanggungjawaban mereka yang menolak panggilan itu pada hari penghakiman.

Kedua, Yesus ingin kita menyadari bahwa ada cara yang lebih halus untuk menolak panggilan itu. Seseorang mungkin hanya berbasa-basi untuk menerima panggilan Yesus tetapi tidak pernah benar-benar mau memperhatikan apa yang ditawarkan dalam panggilan itu. Bagaimana nasib kita jika berlaku sedemikian? Kabar buruknya adalah kita tidak memiliki kekuatan dalam diri kita sendiri untuk mengubah hati kita yang menolak. Kabar baiknya adalah Allah mau mengubah hati orang yang memberontak dengan kuasa Roh-Nya yang tak terkalahkan. Dalam hal ini, Tuhanlah yang menentukan siapa orang yang dipilih-Nya, dengan cara serta pada waktu yang ditetapkan-Nya.

Bagi kita yang bukan orang Yahudi, dari ayat di atas kita tahu mengapa kita diberi hak istimewa untuk masuk ke dalam berkat-berkat yang dijanjikan Allah kepada umat pilihan-Nya, Israel. Akan tetapi, ini bukanlah ayat yang mencemooh orang-orang Yahudi karena ketidakpercayaan mereka dan yang memuji orang-orang bukan Yahudi karena kecerdasan mereka yang lebih besar, sebagaimana dibuktikan oleh iman mereka kepada Yesus. Orang-orang bukan Yahudi adalah mereka yang terpaksa datang, dari jalan raya dan jalan-jalan kecil. Mereka, seolah-olah, adalah “gelandangan” di sepanjang jalan.

Kita bisa melihat adanya interaksi antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Ayat di atas mengaitkan kegagalan orang Israel untuk masuk ke dalam berkat-berkat kerajaan Allah dengan penolakan mereka terhadap undangan yang diberikan kepada mereka. Lukas tidak memberi tahu kita bahwa orang-orang Yahudi dijauhkan dari kerajaan karena pilihan Allah, tetapi karena pilihan mereka sendiri. Di sisi lain, keselamatan orang bukan Yahudi tidak dikaitkan dengan pilihan mereka, tetapi karena penetapan ilahi. Kedaulatan Allah dengan demikian ditekankan sehubungan dengan keselamatan, dan tanggung jawab manusia sehubungan dengan penghukuman.

Dalam ayat di atas, Allah memberi kita undangan untuk “datang makan malam di rumah-Nya,” seolah-olah, untuk menjadi anggota kerajaan-Nya, untuk duduk sebagai meja-Nya selamanya. Kita diampuni dari dosa-dosa kita dan dibenarkan di hadapan-Nya melalui karya Kristus, dan dengan itu kita bebas untuk menikmati persekutuan yang intim dengan Dia. Menerima Yesus atas undangan-Nya berarti memperoleh hak untuk masuk. Sebaliknya, menolak Yesus, atau bahkan menunda keputusan untuk menerima-Nya, adalah penyebab dari pemisahan kekal dari-Nya dan kerajaan-Nya.

Jika kita telah menanggapi panggilan Yesus dengan pertobatan dan iman, itu bukan karena usaha kita. Itu terjadi hanya karena Allah telah terlebih dahulu bekerja di dalam kita untuk mengubah kita menjadi umat-Nya di dalam Kristus. Tanpa karunia Allah kita hanya dapat menolak semua panggilan Allah dan memilih kesukaan duniawi yang membawa kematian. Keselamatan benar-benar hanya karena kasih karunia Allah. Kebenaran ini memang bisa membuat kita resah, tetapi Yesus ingin membuat kita berpikir dalam-dalam mengenai hidup kita karena suatu alasan. Dia ingin kita menemukan keselamatan dan hidup di dalam Dia saja, yang hanya oleh kasih karunia. Dan hanya di dalam Kristus kita dapat menemukan keselamatan yang kekal dan tak tergoyahkan.

Memakai kehendak bebas kita di dunia

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5: 10

Hari ini agaknya dimulai dengan sesuatu yang agak aneh. Setiap pagi saya mempunyai kebiasaan untuk makan pagi sebelum mandi, tetapi pagi tadi saya mandi dulu sebelum sarapan. Ada pertanyaan dalam pikiran saya: apakah ini keputusan saya ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang ada orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang menetapkan segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism” sekalipun mengenai hal-hal yang bersifat duniawi.

Manusia hanya bisa diselamatkan melalui iman. Itu benar. Sudah barang tentu, siapa pun yang mengambil keputusan untuk percaya tentunya hanya bisa benar-benar percaya karena bimbingan Roh Kudus. Dan oleh bimbingan Roh Kudus, mereka yang percaya akan bisa menyatakan iman mereka dalam berbagai perbuatan baik yang memuliakan Tuhan.

Walaupun sebagian besar orang Kristen percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan atau freedom untuk mengambil keputusan sehari-hari, mereka belum tentu bisa menerima bahwa semua itu adalah kehendak bebas atau free will. Apalagi, jika kehendak bebas dikaitkan dengan soal keselamatan yang sudah diterima, banyak orang yang menyangka bahwa sebagai orang terpilih apa yang mereka perbuat sudah tentu adalah apa yang ditentukan-Nya.

Sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, manusia sebenarnya diberi kebebasan untuk memilih apa yang diingini selama hidup di dunia. (Kejadian 2: 16). Tetapi, jika manusia tidak mau selalu taat kepada firman Tuhan, kehendak bebas akan membawa mereka kepada pilihan yang buruk. Kebebasan manusia dalam hal duniawi dengan demikian bukanlah sesuatu yang tidak mempunyai konsekuensi, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa manusia tidak dapat hidup di dunia tanpa Tuhan dan firman-Nya. Manusialah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup mereka di dunia.

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” Yohanes 3: 36

Selama hidup di dunia, setiap orang bisa menghendaki apa pun, tetapi belum tentu mendapatkannya. Kehendak Tuhanlah yang pada akhirnya akan terjadi. Kehendak kita hanya bisa terjadi sejauh mana Allah mengizinkan dan tidak lebih jauh. Manusia bisa menghendaki apa pun, tapi tidak ada usaha kita yang mengalahkan kedaulatan dan rencana Tuhan.

Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: “Apa yang Kaubuat?” Daniel 4: 35

Jika demikian, apakah kita tidak benar-benar mempunyai kehendak bebas? Sekali lagi, sebagai umat Kristen kita bebas untuk melakukan apa saja atau mengambil keputusan selama hidup di dunia. Tetapi kita tidak boleh menggunakan kebebasan itu untuk membuat Allah murka atau kecewa. Kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan karena kita bukanlah pion-pion Allah. Kewajiban kita adalah menggunakan kehendak bebas (yaitu tanpa paksaan) yang diberikan-Nya kepada kita untuk diselaraskan dengan kehendak-Nya selama hidup di dunia.

Satu hal penting yang harus kita sadari, Tuhan belum tentu menghentikan tindakan manusia sekalipun itu tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Manusia tidak bisa mempersalahkan Tuhan jika ia jatuh ke dalam dosa. Tuhan sudah tahu sebelum dosa dilakukan manusia dan rencana-Nya tetap bisa berjalan tanpa bergantung pada hidup dan perbuatan manusia. Itulah sebabnya ada banyak hal menyedihkan yang terjadi ketika orang percaya tidak mau mengambil keputusan yang perlu.

Kita tidak dapat mengharapkan bahwa Tuhan yang sudah memilih kita untuk di selamatkan di surga, akan mengambil keputusan untuk segala sesuatu yang kita hadapi di dunia. Kita harus sadar bahwa sebagai umat Kristen kita bertanggung-jawab atas apa yang kita sudah lakukan dengan kehendak bebas kita selama hidup di dunia.

Tuhan menetapkan hubungan orang tua dan anak seperti hubungan Dia dengan umat-Nya

“Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Efesus 6: 2 – 4

Saya pernah membaca di media bahwa ada seorang pria di satu negara yang membawa orang tuanya ke pengadilan. Mengapa? Karena ia merasa bahwa haknya sudah dilanggar; orang tuanya tidak pernah meminta izin kepadanya untuk melahirkan dia. Pria itu merasa bahwa ia dirugikan karena dengan kelahirannya ia harus berjuang untuk hidup. Aneh?

Saya rasa itu tidak aneh karena dalam kenyataannya ada orang yang merasa dirugikan oleh Tuhan yang menetapkan kelahirannya. Mengapa Tuhan membuat ia lahir di dunia hanya untuk mengalami penderitaan?

“Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?” Ayub 3: 11

Adanya filosofi bahwa seorang anak tidak seharusnya dilahirkan menurut kemauan orangtua bukan barang baru. Filsuf Théophile de Giraud tercatat sebagai orang pertama di abad 20 yang memperkenalkan faham yang disebut anti-natalisme yang menentang kebebasan orangtua untuk mempunyai anak. Melahirkan anak dianggap sebagai usaha yang menimbulkan siksaan kepada bayi yang harus menjadi dewasa dan menghadapi semua tantangan kehidupan.

Beberapa agama sebenarnya juga mengajarkan anti-natalisme, karena menganggap bahwa kelahiran manusia di dunia adalah awal penderitaan, apalagi jika tuhan mereka menetapkan mereka untuk hidup sengsara. Tetapi, menurut kepercayaan Kristen kelahiran seorang bayi adalah berkat Tuhan kepada keluarga yang menjalankan perintah-Nya untuk berkembang biak.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Kelahiran seorang bayi, seperti penciptaan manusia di taman Eden, dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Oleh sebab itu, manusia tidak berhak untuk menghentikan proses kelahiran bayi, sekalipun bebas dalam mengambil keputusan untuk memperoleh keturunan atau tidak.

Ayat di atas menggaris-bawahi hubungan antara anak dan orangtua dalam keluarga Kristen yang sering disalah-tafsirkan. Pada masa yang silam, menghormati orangtua sering membuat anak sangat terbebani sehingga keluarga mereka sendiri bisa terlantar. Dalam Perjanjian Lama, kata “hormat” dipakai sebagai terjemahan kata Ibrani kabad yang memberi kesan seperti beban berat bagi anak-anak mereka yang harus memberi prioritas utama kepada orangtua. Tetapi dalam Perjanjian Baru, kata Yunani timao dipakai untuk menunjukkan adanya sesuatu yang berharga. Memang orangtua adalah orang yang harus dihargai oleh anak-anak mereka, sekalipun mereka mungkin mempunyai banyak kekurangan.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa hubungan orangtua dan anak-anak mereka adalah kewajiban dua arah. Jika anak harus menghargai orangtua, kita yang berstatus orangtua tidak boleh memakai status itu untuk menggunakan kekerasan dan paksaan dalam mendidik anak-anak kita, agar jangan sampai merasa terlukai, baik secara lahir maupun batin. Sebaliknya, kita harus mendidik anak-anak kita dengan kasih sayang supaya mereka mau menerima ajaran dan nasihat Tuhan, dan bisa menjadi orangtua yang baik di masa depan.

Mengapa Tuhan memerintahkan hubungan kasih antara orang tua dan anak? Itu memang seharusnya karena merupakan pencerminan kasih Tuhan kepada umat-Nya.

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 13

Sebagai seorang Bapa yang mahakasih dan mahabijaksana, Tuhan bukanlah Oknum yang kejam dan semena-mena. Ia tidak mengatur hidup manusia sehingga tidak mempunyai kebebasan sama sekali, melainkan sejak mulanya Ia memberikan kesempatan agar manusia dapat hidup dan bertindak sesuai dengan maksud penciptaan-Nya. Begitu juga sebagai orang tua yang bijaksana, kita juga harus bisa memberikan kebebasan yang membawa anak-anak kita untuk dengan sukacita memilih jalan hidup yang sesuai dengan ajaran dan nasihat Tuhan.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita akan pentingnya hubungan dalam keluarga. Sebagai manusia, kita bukanlah orang yang sempurna, dan karena itu kita sering membuat kekeliruan dalam membina hubungan dengan orangtua ataupun anak kita. Walaupun demikian, jika kita mau belajar dari Tuhan yang dengan sabar dan kasih membimbing hidup kita, kita akan dapat menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita.

Yesus mengasihi orang berdosa

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” 1 Korintus 6: 9-11

Saat ini, salah satu isu yang sering diperdebatkan orang Kristen adalah adanya kelompok LGBT yang menuntut persamaan hak dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam kehidupan gerejani. Hak asasi manusia seharusnya sama untuk semua orang tanpa memandang latar belakang dan orientasi seksualitas mereka. Walaupun demikian, kebanyakan orang Kristen masih ingin mempertahankan posisi anti LGBT, sekalipun mereka menghargai semua orang dan pilihan mereka. Karena itu, ada gereja yang menolak adanya jemaat dari kelompok LGBT.

Paulus dalam ayat di atas mengingatkan umat Kristen di Korintus bahwa orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah. Ayat tersebut dipandang menjadi semacam legitimasi bahwa para homoseks ini calon penghuni neraka, padahal ayat di atas juga membahas dosa-dosa yang lain. Artinya siapa pun yang tidak bertobat, dari dosa apa pun tidak hanya soal homoseksualitas saja, dan sesuai daftar yang diberikan Rasul Paulus, mereka tidak layak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Dengan demikian, semua orang Kristen adalah orang yang dulunya tidak layak mendapat bagian dalam kerajaan Allah.

Dengan menyatakan ini, tidak berarti kita menutup mata terhadap kejahatan-kejahatan dalam hubungan heteroseksual. Hubungan heteroseksual yang melanggar susila tidak lebih baik ataupun lebih buruk dari hubungan homoseksual. Keduanya dihakimi Allah. Walaupun demikian, bila kita datang kepada Kristus, kita dituntut untuk bertobat dari dosa-dosa kita dan tidak lagi melakukan pola-pola hidup tak saleh yang kita nikmati sebelumnya. Mungkin ada di antara kita berusaha membenarkan homoseksualitas sebagai pilihan lain dari hubungan heteroseksual, namun Roma 1:1-32 jelas menyebutnya sebagai hal yang berbeda.

Seperti orang berdosa lainnya, kaum homoseksual perlu mengalami kelepasan melalui kuasa Injil, walaupun mungkin mereka tidak mudah bebas sepenuhnya dari kecenderungan-kecenderungan homoseksual dan pencobaan. Rasul Paulus menulis kepada mereka yang dulunya pernah terlibat dalam homoseksualitas dan dosa-dosa lainnya, sebagai berikut: “Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Artinya, golongan mereka juga akan tetap mempunyai kesempatan untuk dikuduskan bagi Allah dan memperoleh bagian dalam Kerajaan Surga dalam pertobatannya.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17)

Bagaimana orang Kristen harus menghadapi mereka yang berbeda dalam hal seksualitas? Mungkin kita ingat bahwa Yesus mau diundang dan bahkan makan dengan pemungut cukai dan orang yang dipandang berdosa. Mereka bertanya kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Mereka tidak sadar bahwa di hadapan Tuhan semua orang adalah orang berdosa, seperti orang sakit yang memerlukan tabib. Mereka yang menyadari dosanya dan datang kepada Yesus akan menerima keselamatan secara cuma-cuma, tetapi mereka yang tidak mengakui dosanya tidak akan bisa menghindari kematian.

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Markus 2: 17

Kecenderungan memang ada untuk mengabaikan apa yang buruk dalam hidup kita dan merasa bahwa kita sudah cukup baik untuk Tuhan. Kalau cara hidup kita diterima masyarakat, mungkin ada perasaan bahwa Tuhan tentu sudah senang dengan cara hidup kita. Selain itu, dengan adanya berbagai kesibukan, kita tidak lagi peduli untuk selalu datang kepada Yesus untuk memohon pengampunan dan bimbingan dari-Nya. Yesus datang seperti seorang tabib yang datang untuk menyembuhkan mereka yang sakit. Mereka yang sudah merasa hidupnya cukup baik dan sehat adalah orang-orang yang tidak menyadari segala kelemahan dan dosanya. Hanya orang yang menyadari kelemahannya akan mau mengundang Dia untuk datang dan menyertainya setiap saat.

Mungkin pada saat ini hidup kita berjalan lancar dan nyaman. Adalah mudah dalam keadaan yang sedemikian untuk kita merasa bahwa semuanya ada dalam keadaan baik. Sebagai orang Kristen, kita mungkin tidak lagi merasa bahwa kita selalu membutuhkan Yesus pada setiap saat untuk terus menguatkan, membimbing dan menyembuhkan bagian hidup kita yang tidak baik. Sebagai orang Kristen kita mungkin juga ragu-ragu untuk menyatakan bahwa ada orang-orang tertentu yang tidak sadar akan dosa mereka karena kita tidak ingin disebut orang munafik. Kita mungkin takut untuk dikritik orang yang sudah kita tegur.

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Matius 7: 1

Ayat ini kelihatannya mudah dimengerti dan sangat praktis penggunaannya dalam hidup sehari-hari. Sayang sekali, ayat ini sering disalah artikan sehingga orang memakainya sekadar untuk membungkam kritik-kritik orang lain. Lebih-lebih lagi di kalangan umat Kristen pun banyak yang memakai ayat ini untuk menekankan segi kasih dan kesabaran Tuhan, tetapi secara keliru. Sering kali ayat ini juga dipakai untuk menyerang orang Kristen yang berusaha menerapkan ajaran Alkitab dalam masyarakat dan negara. Ayat ini biasanya dikaitkan dengan ayat lainnya yang juga sama terkenalnya dalam hidup sehari-hari:

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Yohanes 8: 7b

Ayat ini sekarang sering dipakai untuk membungkamkan orang Kristen yang ingin mengingatkan bahwa setiap orang berdosa harus bertobat.

Sungguh disayangkan bahwa dengan tekanan masyarakat umum, orang Kristen sering kali jadi bungkam dan mandul dalam usaha menegakkan kebenaran Kristus di dunia. Tidak hanya masyarakat Kristen menjadi tersudut, para pendeta, guru dan orang tua pun menjadi serba salah ketika menghadapi tantangan dalam gereja, sekolah dan keluarga. Akibatnya jelas merugikan martabat dan fungsi orang Kristen di dunia. Orang Kristen tidak dapat lagi menjadi terang dunia sebagaimana seharusnya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang terpilih yang sudah diselamatkan kita tidak boleh ragu dan takut untuk menegur orang lain. Firman Tuhan harus dinyatakan kepada semua orang, karena Yesus mengasihi setiap orang. Sebagai orang yang dulunya hidup dalam dosa, kita harus tetap mau menyatakan kebenaran Tuhan!

Yesus mengajar umat-Nya pada saat yang tepat

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: ”Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: ”Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 38-42

Sebagai dosen, saya selalu berusaha mengajarkan berbagai teori yang tidak hanya harus dimiliki oleh setiap murid sebagai dasar ilmu pengetahuan, tetapi juga dengan berbagai ajaran praktis dari dunia nyata. Jika teori diajarkan, dipelajari dan diuji, itu belum tentu bisa digunakan pada setiap waktu. Karena itu, para murid harus juga diberi petunjuk yang berdasarkan pengalaman nyata dan pengetahuan praktis, karena teori saja belum tentu mudah atau bisa dipakai secara efektif dalam menghadapi suatu persoalan.

Selama hidup di dunia, Yesus mengajarkan dan membahas berbagai hal yang menyangkut kehidupan manusia, baik dalam hal jasmani maupun rohani. Dari mulut-Nya, kita mendengar berbagai “teori” yang berupa firman dan hukum Tuhan, dan juga berbagai perumpamaan selaku “alat peraga “untuk menjelaskan pelaksanaan atau aplikasi firman-Nya, dan juga sebagai cara penyampaian hal yang rumit. Semua itu disampaikan-Nya pada saat dan kesempatan yang dipilih Yesus secara khusus dan bukannya secara acak-acakan.

Kisah kunjungan rombongan Yesus ke dusun di mana Marta dan Maria tinggal adalah suatu laporan lapangan yang ditulis dalam kitab Lukas di atas dan juga di Yohanes 12: 2. Kisah ini sudah banyak dibahas dalam khotbah, renungan dan bahkan melalui berbagai media. Pada umumnya, pembahasan yang ditampilkan mengandung pesan:

  • Perbedaan karakter: Maria yang baik karakternya dan Marta yang masih harus berubah.
  • Prioritas hidup: Maria yang memilih apa yang kekal, Marta memilih apa yang duniawi.
  • Menggunakan kesempatan: Maria yang menggunakan kesempatan dengan bijaksana.
  • Teguran Yesus: Yesus menegur Marta yang terlalu sibuk dengan hal-hal yang kurang penting.

Sebenarnya, baik Maria maupun Marta adalah orang orang yang dekat dengan Yesus. Bersama saudara mereka yang bernama Lazarus, mereka bertiga adalah orang-orang yang dikasihi Yesus. Oleh sebab itu, saya yakin bahwa ketiganya adalah orang-orang yang benar-benar dipilih untuk menjadi umat Tuhan yang sejati. Menjadi umat Tuhan bukan berarti bahwa Tuhan mengubah kebiasaan mereka dan pribadi mereka secara total, dan bahwa untuk menjadi pengikut-Nya orang harus mempunyai sifat dan gaya hidup yang serupa. Oleh karena itu ayat di atas bukanlah berisi pujian kepada Maria dan teguran kepada Marta. Apa yang dikatakan Yesus adalah nasihat praktis-Nya kepada setiap orang yang menghadapi tantangan hidup.

Yesus pada waktu itu datang ke Betania dengan murid-murid dan pengikut-Nya, yang mungkin ada sekitar 70 orang jumlahnya. Sebagai kebiasaan waktu itu, mereka yang bertamu ke desa tertentu akan menumpang di rumah penduduk desa yang bersedia untuk menjadi tuan rumah. Entah berapa orang yang datang di rumah Maria dan Marta, tetapi sudah jelas Marta merasa bertanggung jawab atas makanan yang harus disediakan untuk mereka. Marta adalah orang yang bertanggung jawab dan sikapnya patut dipuji. Dengan demikian, Yesus bukanlah marah atau menegur Marta ketika Ia memanggilnya dua kali: “Marta, Marta..”. Yesus hanya mengingatkan bahwa Maria yang duduk mendengarkan perkataan-Nya tidaklah perlu ditegur oleh Marta.

Tahukah Yesus bahwa Marta bermaksud baik dan bermurah hati kepada tamu-tamunya? Sudah tentu! Yesus tahu bahwa tiga bersaudara dari Betania adalah orang-orang yang mengasihi-Nya, dan Ia juga mengasihi mereka. Yesus tidak mengasihi atau menyenangi Maria lebih dari Marta. Tahukah Yesus bahwa Marta merasa tersendiri dalam kesibukannya untuk melayani? Yesus sebagai manusia pasti tahu dan bisa mengerti mengapa Marta secara tiba-tiba menjadi uring-uringan kepada-Nya. Yesus sebagai Tuhan, tentunya tahu bahwa hal itu akan terjadi, bahkan sebelum Marta membuka mulutnya.

Dapat dipastikan bahwa Yesus membiarkan “drama” yang akan terjadi dengan tujuan tertentu. Satu hal yang baik adalah Maria dan Marta diingatkan bahwa walaupun tugas manusiawi adalah penting, tugas surgawi adalah lebih penting pada saat itu. Karena itu, mereka tentunya merasa beruntung mengalami peristiwa sedemikian dalam hidup mereka. Sesuatu yang tidak disangka datang dari Yesus pada kesempatan yang tidak terduga. Apa yang dikatakan Yesus tentunya ada dalam hati mereka sepanjang hidup mereka. Bukan seperti teori, tetapi pengalaman hidup.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah di atas adalah kepedulian Tuhan atas hidup manusia sampai kepada hal-hal yang sekecil-kecilnya. Yesus pasti tahu apa yang ada dalam pikiran Marta dan Maria ketika Ia datang. Bukannya Ia berusaha menghindari atau berusaha menghentikan terjadinya kemarahan Marta, Ia justru membiarkannya dengan maksud tertentu. Ia ingin memberi nasihat kepada mereka berdua, dan juga kepada kita yang hidup dua ribu tahun sesudahnya.

Pelajaran apa yang bisa kita dapat dari kisah di atas selain mengenai penggunaan waktu dan prioritas secara bijaksana? Yesus ingin menyatakan bahwa Ia peduli akan hidup kita. Seperti kunjungan-Nya ke rumah Marta dan Maria, Ia sering datang ke dalam hidup kita sehari-hari. Mungkin kita tidak menyadari, ketika Ia menegur, menasihati atau menghibur kita karena kita terlalu sibuk dengan kehidupan kita. Yesus yang peduli kepada semua umat-Nya selalu beserta kita dan memakai kesempatan yang ada untuk berbicara kepada kita.

Yesus yang mahakasih, mahatahu dan mahakuasa, ingin untuk mengarahkan hidup kita ke arah yang benar. Ia datang ketika kita mengalami persoalan besar, tetapi Ia juga bersama kita ketika kita menghadapi tugas-tugas rutin. Ia melihat hidup kita, mendengarkan suara hati kita baik itu berupa keluhan, kemarahan atau rasa bimbang. Tuhan membiarkan berbagai masalah kehidupan terjadi atas kita dan menunggu sampai kita mau mendengarkan suara-Nya dan mau mengubah cara hidup kita. Biarlah mulai hari ini kita lebih peka akan kehadiran dan suara Yesus dalam hidup kita. Yesus selalu datang pada saat yang tepat untuk mengajar kita, baik pada saat kita mengalami peristiwa yang besar maupun hal-hal yang kecil.

Mengapa harus menaati hukum Tuhan?

“Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.” 1 Yohanes 3: 24

Pernahkah anda memikirkan apa gunanya orang menaati hukum? Ada banyak orang yang berpendapat bahwa itu perlu agar tidak dihukum. Dalam hal ini, polisi bertugas untuk menegakkan hukum, tetapi setiap orang seharusnya menaati hukum dan peraturan setiap saat dan bukannya hanya sewaktu ada hamba hukum. Jika orang hanya melaksanakan hukum karena takut dihukum, kekacauan akan terjadi jika tidak ada aparat hukum atau orang yang bisa melihat atau melaporkan adanya pelanggaran hukum.

Apa guna orang Kristen menaati hukum Tuhan? Ada sebagian orang Kristen yang berpendapat bahwa itu perlu agar mereka bisa diselamatkan. Tetapi, keselamatan bukanlah dari usaha manusia, melainkan karunia Tuhan. Oleh karena itu ada orang Kristen yang merasa bahwa adanya iman sudah cukup untuk menjamin keselamatan, karena menaati hukum Tuhan itu sulitnya bukan main untuk tidak dikatakan mustahil.

Semua manusia memang mempunyai kecenderungan untuk melanggar hukum jika keadaan memungkinkan. Dari kitab Kejadian kita tahu bahwa ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan mereka tidak sadar bahwa Tuhan tahu apa mereka lakukan. Sejak itu banyak orang melakukan berbagai dosa karena tidak sadar bahwa Tuhan selalu mengawasi mereka.

Bagaimana pula dengan orang Farisi yang mengharuskan masyarakat Yahudi untuk menjalankan hukum Taurat? Apakah mereka sendiri adalah orang yang taat? Mereka mengubah pelaksanaan hukum Taurat karena mereka sendiri tidak dapat menjalankan hukum itu dengan sepenuhnya. Seperti itu, kita pun sering berbuat dosa jika tidak ada peraturan manusia yang melarangnya. Sekalipun kita tahu apa yang baik, kita cenderung untuk melakukan apa yang tidak baik tetapi mudah dilakukan.

“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 19

Paulus mengingatkan kita bahwa orang yang mempunyai Tuhan dalam hidupnya selalu memiliki kesadaran akan apa yang dikendaki Tuhan dalam setiap keadaan, karena Roh Kudus telah dikaruniakan kepada mereka dan menyertai setiap langkah kehidupan mereka. Orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan tidak hanya berusaha menaati hukum dan etika ketika mereka melihat adanya penegak hukum atau karena takut menerima sanksinya, tetapi karena mereka tahu apa yang dikehendaki Tuhan yang mahasuci. Mereka sadar jika mereka melakukan apa yang jahat karena pekerjaan Roh Kudus.

Sebagai umat Kristen, kita tentunya ingin untuk hidup sesuai dengan perintah Yesus. Tetapi itu sulit sekali. Mengasihi Tuhan, Allah kita dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita, serta mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri bukanlah hal yang mudah dilakukan. Padahal, pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22: 37-40). Yesus menuntut suatu standar yang tidak akan tercapai oleh para pendengar-Nya. Jika demikian, mengapa Yesus perlu menyebutkannya?

Pengajaran Yesus yang kita bisa pelajari dari Alkitab, adalah bahwa tidak seorang pun yang dapat menjalani kehidupan dengan kemurnian moral yang layak untuk ke surga (Yohanes 14: 6). Ini dijelaskan lebih lanjut oleh rasul Paulus dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Namun, kita tahu bahwa orang yang beriman kepada Kristus “oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” ( Roma 3: 24). Yesus dengan demikian ingin mempersiapkan umat-Nya untuk memahami bahwa mereka membutuhkan kebenaran yang hanya dapat diperoleh-Nya bagi kita.

Hari ini, mungkin kita teringat akan perintah Yesus untuk hidup dalam kebenaran. Kebenaran yang ada di dunia ini dan yang diajarkan oleh manusia hanya membuat kita terbuai seakan kita sudah mencapai tingkat kesempurnaan seperti yang dikehendaki Yesus. Oleh karena itu, semakin kita berusaha mencapai tingkat kerohanian yang tinggi dengan tenaga sendiri, semakin jauh kita dari apa yang diperintahkan Yesus. Sebagai orang berdosa, kita tidak akan mencapai apa yang diminta-Nya untuk bisa dihitung sebagai anak-anak Tuhan. Kita bersyukur bahwa hanya oleh kemurahan-Nya, Yesus sudah menebus dosa kita dan membuka jalan ke surga bagi kita. Dengan pertolongan-Nya kita akan hidup dengan rasa syukur dan makin hari makin sempurna dalam menegakkan kebenaran-Nya selama hidup di dunia ini.

Apa yang Anda cari?

“Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.” Yosua 1:7-9

Hari ini saya berada di Tahlee, sebuah dusun di utara Sydney. Akhir pekan ini gereja saya mengadakan sebuah camp rohani yang dihadiri 165 orang. Tahlee adalan tempat yang strategis untuk menyaksikan matahari terbit dan terbenam di horison. Pemandangan indah yang bisa membuat kita merasa bahagia.

Kebahagiaan. Sukacita. Sesuatu yang dicari semua orang, tetapi yang sangat sulit ditemukan. Kebahagiaan dicari banyak orang dan dengan demikian, banyak guru, orang pandai, dan motivator yang mengajarkan bagaimana cara memperolehnya. Menurut mereka, kitalah yang bertanggung jawab untuk bisa membuat diri sendiri berbahagia. Kebahagiaan bergantung pada kemauan kita dan reaksi kita terhadap orang-orang dan suasana di sekitar kita.

Berbeda dengan pandangan umum, untuk orang Kristen, kebahagiaan diakui sebagai berkat Tuhan. Tetapi, itu sering kali dikaitkan dengan keberuntungan dan keberhasilan yang kita terima dari-Nya. Dengan demikian, rasa sedih kadang bisa muncul kalau keinginan kita tidak tercapai. Apakah Tuhan hanya memberikan berkat istimewa untuk orang-orang tertentu seperti Yosua?

Memang ada banyak orang Kristen yang hidup dalam kemakmuran. Hidup mereka nampaknya bahagia dan serba berkecukupan, untuk tidak dikatakan berlebihan. Mungkin dalam berdoa mereka tetap ingat untuk memohon kekuatan, kecukupan dan perlindungan dari Tuhan untuk orang lain yang berada dalam penderitaan. Tetapi untuk mereka sendiri tentunya mereka sering meminta agar Tuhan tetap membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada mereka.

Berkat (blessing) memang satu hal yang dikejar manusia sejak dulu. Berkat sebenarnya adalah pernyataan yang berisi harapan untuk kebahagiaan, yang diucapkan seseorang kepada yang orang lain. Tradisi berkat memberkati antar manusia adalah sesuatu yang baik. Berkat  bermula dari orang yang punya hubungan erat dengan orang lain. Berkat adalah untuk kebaikan orang yang diberkati dan berguna untuk memperkuat hubungan kedua orang itu. Berkat juga ditanggapi dengan rasa terima kasih kepada orang yang memberkati. Lebih dari itu, berkat membuat orang yang diberkati mau memberkati orang lain.

Berkat Tuhan yang semula untuk umat manusia, adalah agar mereka mengalami kebahagiaan di dalam Dia. Berkat Tuhan tidak selalu berupa kenyamanan tetapi bisa berupa berbagai pengalaman hidup yang selalu berguna untuk kebaikan anak-anak-Nya. Karena dosa, berkat materi dari Tuhan sering disalah gunakan dan ditonjolkan manusia sehingga menimbulkan salah pengertian, padahal kita seharusnya bisa memfokuskan diri pada kebesaran,  kasih dan maksud baik-Nya dalam hidup kita.

Sesungguhnya, hidup dalam kelimpahan dan kenyamanan bukan berarti tanpa bahaya. Mereka yang terbuai dalam suasana damai, aman dan nikmat, sering lupa bahwa iblis selalu mengintai untuk mencari kesempatan menyerang. Iblis bagaikan singa, akan menyerang mereka yang tidak berjaga-jaga.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8

Banyak orang Kristen yang berdoa untuk kesuksesan dan kemakmuran, tetapi mungkin jarang yang berdoa untuk meminta sukacita. Herannya, mereka sering mengucapkan “semoga anda berbahagia” kepada orang lain. Mungkin ada keseganan dan rasa malu jika orang berdoa untuk kebahagiaan karena seyogyanya semua orang Kristen berbahagia. Kenyataannya adalah bahwa semua orang pernah mengalami saat-saat dimana kelihatannya hanya kesusahan yang ada.

Hidup yang terasa tenteram tidak boleh menyebabkan kita lengah. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan bisa jatuh ke dalam keputusasaan dan dosa, mereka yang hidup dalam kecukupan bisa jatuh ke dalam ketamakan, kesombongan dan dosa. Iblis ingin menghancurkan hidup setiap orang percaya dalam keadaan apa pun. Mereka yang tidak waspada, jarang membaca Firman, dan jauh dari Tuhan sudah pasti akan menjadi mangsa yang empuk. Iblis bukannya muncul dalam bentuk yang selalu terlihat jelas atau menjijikkan, karena jika demikian manusia akan mudah menghindarinya. Iblis justru muncul dengan berbagai bentuk kamulflase indah yang membuat kita tidak awas dan kemudian terkecoh.

Satu hal yang sangat penting yang mungkin tidak dikenal oleh orang yang belum beriman adalah bahwa kebahagiaan sejati bukanlah dari kita sendiri. Berlawanan dengan ajaran agama lain dan teori manusia, kebahagiaan sejati sebenarnya berasal dari Tuhan. Dalam bahasa Yunani, kata kebahagiaan atau sukacita diterjemahkan sebagai “chara” yang berhubungan dengan kata “charis” yang berarti karunia. Kita tidak dapat merasakan sukacita dengan usaha sendiri, tetapi jika Roh Kudus bekerja dalam hati kita, mata rohani kita bisa terbuka untuk melihat betapa besar kasih Tuhan kepada kita. Kebahagiaan atau sukacita adalah karunia Tuhan.

Kemampuan untuk melihat hidup dari perspektif yang benar tidaklah dimiliki semua orang. Orang yang bisa benar-benar merasa bersyukur atas hidup mereka tidaklah besar jumlahnya. Kebanyakan orang lebih mudah berfokus kepada apa yang mereka harapkan atau ingini, daripada bersyukur atas apa yang ada. Untuk orang Kristen, kebahagiaan akan datang ketika kita menyadari betapa besar karunia Tuhan dalam hidup kita sekalipun kita sekarang berada dalam kesulitan. Kebahagiaan akan muncul kalau kita bisa merasa cukup dan tidak menguatirkan hal-hal yang di luar kemampuan kita.

Karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan agar Ia memberikan karunia sukacita kepada kita yang percaya, agar kita bisa hidup dengan tenteram dan damai, dan juga bisa memancarkan sukacita ini kepada orang yang di sekitar kita.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6-7

Hidup penuh tantangan

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Matius 5: 4

Berita media hari ini agaknya membawa kekuatiran bagi penduduk dunia. Saat ini harga bensin di seluruh dunia akan naik tajam karena jumlah minyak mentah yang berkurang sebagai dampak dari perang di Ukraina. Situasi di pasar energi sangat serius, bahkan sebelum invasi Rusia ke Ukraina terjadi. Hal itu lantaran pasokan minyak di seluruh dunia gagal mengimbangi pemulihan permintaan yang kuat ketika pandemi Covid-19 mereda. Sementara konflik Rusia-Ukraina berpotensi mengganggu ekspor minyak dari Rusia.

Rusia merupakan produsen minyak terbesar ketiga di dunia. Dengan adanya pembatasan pengadaan minyak asal Rusia, dunia harus menghadapi kenaikan harga bahan bakar yang akan membuat meningkatnya harga barang-barang lainnya. Mereka yang hidupnya pas-pasan akan merasakan himpitan ekonomi yang lebih besar pada bulan-bulan mendatang. Bagaimana orang bisa merasakan kebahagiaan di saat pandemi belum berakhir, ketika ekonomi dunia porak poranda?

Setiap orang ingin hidup berbahagia. Hanya saja, tiap orang mempunyai pengertian yang berbeda tentang apa yang disebut kebahagiaan. Untuk bisa hidup berbahagia sebagian orang berpikir bahwa dengan adanya harta, semua bisa dibeli. Kebahagiaan seolah bisa diperoleh melalui kemakmuran. Tetapi ini tentu saja tidak benar. Alkitab menyatakan bahwa orang yang gila harta mudah jatuh ke dalam berbagai pencobaan (1 Timotius 6: 10).

Kebahagiaan memang belum tentu ditentukan oleh adanya harta atau kenyamanan. Tetapi, orang pada umumnya merasa bahwa untuk bisa hidup bahagia bersama dengan keluarga dan kerabat, perlu adanya penghasilan yang cukup, setidaknya untuk bisa makan secukupnya. Kebahagiaan lebih sulit diperoleh dalam kekurangan, dan orang yang hidup dalam kekurangan mungkin juga sulit untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan.

“Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Amsal 30: 9

Jika kebahagiaan adalah sulit untuk diperoleh, dukacita dan penderitaan sering datang tanpa diundang. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kata peribahasa. Walaupun demikian, ayat pembukaan di atas mengatakan bahwa dalam kemalangan masih ada keuntungan, yaitu datangnya penghiburan dari Tuhan. Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Tuhan yang mahakasih ingin untuk selalu berkomunikasi dengan umat-Nya. Setiap saat Ia ingin untuk membimbing dan menguatkan mereka yang mau mendengarkan-Nya. Tetapi, seperti seorang anak kecil yang melupakan orang tuanya ketika sibuk bermain ayunan di halaman, kita pun sering melupakan Tuhan ketika hidup kita sedang berjalan lancar. Seorang anak baru ingat akan orang tuanya jika ia terjatuh dari ayunan. Ketika rasa sakit datang, ia menjerit memanggil orang tuanya.

Untuk seorang anak, adanya orang tua adalah suatu berkat. Mereka yang tidak mempunyai orang tua bisa merasakan saat-saat di mana rasa sepi dan takut mendatangi. Anak-anak yang mempunyai orang tua yang baik dan bijaksana adalah orang-orang yang berbahagia karena adanya penghiburan dan perlindungan ketika mereka mengalami hal yang tidak diinginkan.

Semoga hari ini kita disadarkan bahwa Bapa kita yang di surga tidak pernah meninggalkan kita. Berbahagialah umat Tuhan yang mau memanggil nama-Nya ketika badai kehidupan datang menerpa!

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3: 22 – 23