Percayalah kepada Tuhan yang mahakuasa

“Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?” Roma 11: 34 – 35

Adanya masalah besar yang terjadi dalam hidup seseorang bisa menghasilkan setidaknya tiga macam reaksi: marah, sedih dan pasrah. Jika kemarahan terjadi karena adanya perasaan tidak terima, rasa sedih muncul karena perasaan terpukul, dan rasa pasrah keluar karena adanya rasa tidak berdaya. Tentu saja ada juga orang yang menunjukkan ketiga reaksi itu secara bersamaan: yaitu merasa marah dan sedih, tetapi tidak berdaya untuk berbuat apa-apa.

Reaksi seseorang yang muncul tentunya tergantung pada masalah apa yang dialaminya dan apa yang menyebabkannya. Biasanya, jika masalah itu timbul karena kesalahan orang, rasa marahlah yang muncul. Marah kepada diri sendiri, atau kepada orang lain yang dijadikan kambing hitam. Tetapi, jika apa yang buruk terjadi karena perbuatan orang lain yang lebih berkuasa, perasaan marah belum tentu bisa dikeluarkan. Dengan demikian, perasaan sedih atau rasa putus asalah yang timbul dalam hati.

Bagaimana pula jika seseorang merasakan kepahitan yang diduga berasal dari Tuhan? Mungkin dengan adanya kegagalan, kehilangan, bencana dan penyakit yang dialaminya? Ada orang yang marah kepada Tuhan, seperti yang terjadi pada nabi Yunus.

Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.” Yunus 4: 8 – 9

Dan orang yang merasa sedih, seperti raja Daud.

“…mataku merana karena sengsara. Aku telah berseru kepadaMu, ya TUHAN, sepanjang hari, telah mengulurkan tanganku kepada-Mu.” Mazmur 88: 9

Dan ada juga orang yang putus asa seperti Salomo:

“Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia.” Pengkotbah 3: 19

Pada saat ini, banyak orang yang merasakan penderitaan sehubungan dengan adanya pandemi. Banyak orang yang dulunya sehat, sekarang harus dirawat di rumah sakit. Tidak terhitung orang yang sudah kehilangan pekerjaan, dan juga yang kehilangan sanak saudara yang sudah meninggalkan dunia ini. Tuhan seakan menelantarkan umat manusia dan membiarkan mereka untuk berjuang di antara hidup dan mati.

Saat ini, bagaimana perasaan anda kepada Tuhan? Adakah rasa marah, rasa sedih atau rasa putus asa? Sebagai manusia, adalah wajar jika kita mempunyai perasaan-perasaan ini. Walaupun demikian, sebagai orang beriman, kita tidak akan berlama-lama terbenam di dalamnya. Ayat pembukaan kita mengatakan bahwa tidak ada orang yang mengetahui pikiran Tuhan. Tidak ada orang yang bisa menjadi penasihatNya. Lebih dari itu, tidak ada orang yang pernah memberikan sesuatu kepadaNya, sehingga Ia harus menggantikannya.

Tuhan kita adalah Tuhan yang berdaulat. Karena itu kita tidak bisa menuntut Dia untuk melakukan apa yang kita maui. Kita tidak sepatutnya marah kepada Dia jika kita kehilangan apa yang kita sayangi. Pada pihak yang lain, kita tidak perlu berputus-asa karena menyangka bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Tuhan memang tidak membutuhkan nasihat kita, tetapi itu karena Ia adalah Tuhan yang mahabijaksana dan mahakasih. Ia tidak membutuhkan apa pun dari diri kita, kecuali kasih kita; itu karena Ia sudah lebih dulu mengasihi kita dengan memberikan AnakNya yang tunggal untuk menyelamatkan kita. Karena itu, dengan iman kita percaya kepada Dia yang sanggup memberikan rasa damai, sukacita dan keberanian untuk menghadapi hari depan.

Darimanakah datangnya kekuatan kita?

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” 1 Korintus 1: 18

See the source image

Jika teringat akan masa muda, pikiran mau tidak mau melantur dan membayangkan betapa mudahnya bagi saya untuk pergi kemana-mana dengan mengendarai sepeda motor. Hujan, panas, angin maupun mendung tidak akan menghalangi kepergian saya. Heran, setelah memasuki usia senja, keinginan untuk “keluyuran” tidak lagi ada. Bahkan, sekalipun ada ajakan untuk pergi bermobil untuk bertamasya, membayangkan bagaimana jauhnya tempat yang dituju sudah bisa membuat semangat saya padam. Walaupun demikian, satu keuntungan dengan bertambahnya usia, adalah bertambahnya pengalaman. Dengan makin banyaknya pengalaman, orang mungkin bisa menjadi semakin bijak. Benarkah? Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa menarik manfaat dari bertambahnya umur.

Ayat di atas menyebutkan bahwa bagi sebagian orang, pengurbanan Yesus di kayu salib adalah sesuatu yang tidak ada artinya. Mereka mungkin tidak bisa mengerti mengapa Allah harus mengubankan AnakNya untuk  menebus manusia yang berdosa. Sebagian orang percaya bahwa dengan tidak melakukan kejahatan dan dengan banyak berbuat baik, mereka akan bisa masuk ke surga. Selain itu ada juga orang yang percaya bahwa hidup hanyalah ada di dunia, dan setelah mati manusia tidak lagi mempunyai eksistensi. Bagi orang-orang semacam ini, pemberitaan tentang salib adalah suatu kebodohan saja. Mereka tidak sadar bahwa tanpa pengurbanan Yesus, mereka akan binasa.

Orang bisa melihat arti pengurbanan Yesus di kayu salib hanya karena berkat Tuhan semata-mata. Mereka adalah orang-orang yang sudah berubah dari hidup lama mereka yang hanya berpusat pada diri sendiri. Allah sudah membuka hati dan pikiran mereka sehingga sekalipun segala sesuatu pada mulanya sulit dimengerti, Roh Kudus mencelikkan mata mereka sehingga mereka dapat melihat kasih dan kemuliaan Allah. Mereka menyadari bahwa apa yang sudah di nubuatkan dalam kitab Perjanjian Lama, akhirnya terjadi persis seperti yang direncanakan Allah. Adanya kesadaran bahwa Allah sudah merencanakan segala sesuatu dari mulanya untuk menyelamatkan manusia, membuat mereka sadar bahwa Allah adalah benar-benar Oknum yang mahakuasa.

Jika   Tuhan begitu berkuasa dalam melaksanakan rencanaNya, orang yang beriman tentunya tidak mempunyai keraguan bahwa hidup mereka juga berada dalam tanganNya. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup mereka, tentunya terjadi sesuai dengan rencanaNya. Karena itulah, mereka yakin bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup mereka, kekuatan Tuhan senantiasa menaungi mereka. Mereka juga sadar bahwa hidup mereka bukan lagi milik mereka tetapi sepenuhnya milik Kristus.  Usia boleh bertambah dan tubuh lambat laun boleh melemah, tetapi iman mereka semakin hari justru menjadi makin kuat. Dengan demikian, hidup orang yang dinaungi kekuatan Allah bisa menjadi hidup yang senantiasa diperbaharui dalam keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, Allah senantiasa membimbing mereka sampai  saat dimana mereka memperoleh hidup yang kekal.

Belajar mencari kebahagiaan dalam penderitaan

“Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” Yakobus 5: 10 – 11

See the source image

Teringat saya akan seorang teman sekolah yang agak pendiam dan pemalu. Herannya, teman ini mempunyai seorang saudara yang sama sekali berlainan sifatnya, yaitu gemar bercakap dan bergaul dengan sesama teman. Karena kedua orang tua mereka tidaklah menunjukkan sifat pendiam atau pemalu, saya hanya bisa menduga-duga mengapa sifat kedua anak mereka sangat berbeda, seperti bumi dan langit layaknya. Selang banyak tahun kemudian, saya bertemu lagi dengan teman saya dan saudaranya. Pada kesempatan itu ada hal yang sangat menarik perhatian saya; teman saya tidak lagi menunjukkan sifat pendiam dan pemalu, sedangkan saudaranya  justru berubah menjadi pendiam dan agak ragu-ragu. Agaknya apa yang dialami kedua orang ini dalam hidup mereka sudah mengubah sifat dan sikap mereka.

Memang kebanyakan orang percaya bahwa faktor keturunan atau genetika mempunyai pengaruh yang besar pada sifat dan sikap seseorang selama hidup di dunia. Tetapi ini tidak selalu benar, karena faktor lingkungan seringkali bisa mempunyai pengaruh yang sangat besar atas kehidupan manusia, dan dengan demikian bisa mengubah dan membentuk kepribadian dan pandangan hidup yang berbeda-beda. Adanya pengalaman yang terjadi, dan apa yang dipelajari seseorang dari keadaan dan manusia di sekitarnya bisa membuat orang menjadi makin baik atau pun makin buruk sifatnya. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang hidup dalam keluarga atau lingkungan yang kurang bisa memberi teladan yang baik, akhirnya bisa menjadi orang yang kurang baik tingkah lakunya.

Bagi kita umat Kristen, sudah tentu kita mengakui bahwa Yesus adalah Guru yang sempurna. Kepada Dia kita ingin belajar bagaimana kita harus menjalani hidup kita di dunia. Walaupun demikian, kita tahu bahwa Yesus bukanlah manusia biasa. Sewaktu Ia di dunia, Yesus adalah sepenuhnya manusia tetapi juga sepenuhnya Tuhan. Karena itu, jika kita menghadapi masalah yang besar, mungkin kita merasa ragu bagaimana kita bisa menyelesaikannya sebagai manusia yang penuh kelemahan. Jika Yesus pasti bisa menghadapi kesulitan apapun seperti Ia sudah membuktikannya di kayu salib, kita mungkin bertanya-tanya apakah ada manusia biasa yang sanggup menghadapi penderitaan yang serupa.

Pada saat ini kita mungkin mengalami persoalan hidup yang besar. Mungkin itu menyangkut masalah kesehatan, pekerjaan, relasi atau hal-hal yang lain. Karena hal-hal yang membebani hidup kita, mungkin saja sifat dan sikap kita dalam hidup ini sudah berubah secara berangsur-angsur. Mungkin dulu kita adalah orang yang optimis dan ceria, tetapi sekarang kita lebih suka termenung dalam duka. Mungkin juga karena banyaknya pengalaman pahit yang terjadi, kita tidak lagi dapat mempercayai orang lain. Dan dengan adanya ancaman yang sering datang dalam hidup kita, mungkin saja rasa yakin yang dulunya ada, sekarang berubah menjadi rasa putus asa. Rasa kecewa mungkin juga membuat kita percaya bahwa tidak ada orang lain yang mengalami penderitaan seperti kita.

Ayat diatas agaknya menegur kita, karena jika kita menganggap bahwa hidup kita saat ini penuh derita,  ternyata ada banyak orang yang disebutkan dalam Alkitab sebagai orang-orang yang pernah mengalami penderitaan hidup yang luar biasa. Banyak orang yang taat kepada Tuhan justru mengalami penderitaan, seperti para nabi dan pengikut Yesus. Ayat di atas mengajak kita untuk menuruti teladan penderitaan dan kesabaran mereka yang hidup dalam Tuhan.  Yakobus menyebut mereka berbahagia, karena mereka telah bertekun dalam iman. Lebih lanjut Yakobus mengingatkan kita akan ketekunan Ayub yang pada akhirnya membawa berkat yang sudah disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

Saat ini pilihan ada di tangan kita: apakah kita mau tetap hidup dalam kedukaan dan kemarahan dalam menghadapi kepahitan hidup, atau menuruti contoh teladan yang diberikan oleh para pengikut Yesus, yang kemudian menerima kebahagiaan dari Tuhan karena ketekunan dan kesabaran mereka. Manakah yang kita pilih?

Saat ini pilihan ada di tangan kita

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meteraiNya.” Yohanes 6: 27

Sebelum terjadinya wabah COVID-19 pada tahun 2020, banyak orang tentunya masih ingat akan adanya berbagai wabah di abad 20 seperti ebola, flu burung, flu babi dan sebagainya. Mereka yang suka hitung-menhitung juga bisa mengamati bahwa pandemi yang besar terjadi setiap seratus tahun: Wabah Besar Marseille (1720), Wabah Kolera (1820), dan Wabah Flu Spanyol (1920). Adalah kenyataan bahwa hidup manusia di dunia selalu dibayangi oleh kemungkinan sakit dan kematian. Semua penderitaan di bumi adalah bagian kehidupan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa.

Sekalipun berbagai pandemi sudah terjadi di dunia, hidup manusia berjalan terus seperti biasa sesudahnya. Mereka yang mencari segi positif dari adanya penderitaan yang dialami umat manusia mungkin berpendapat bahwa semua pandemi bisa mengingatkan manusia untuk bisa hidup lebih baik dan lebih sehat di masa depan. Itu mungkin ada benarnya;  karena dengan adanya berbagai masalah, manusia akan makin mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan melakukan langkah-langkah untuk bisa mengatasi kesulitan yang serupa di masa mendatang. Walaupun demikian, masalah yang serupa tidak akan menghilang dari dunia. Sesudah COVID-19 orang mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa pandemi serupa akan datang di masa depan, sekalipun belum tentu seratus tahun lagi.

Segala sesuatu yang terjadi di dunia pasti terjadi  dengan seizin Tuhan. Kebanyakan orang Kristen tentunya percaya akan hal ini. Tetapi, mereka tentunya merasa sedih dan bertanya-tanya, mengapa banyak manusia yang harus mengalami penderitaan yang luar biasa jika tidak jelas manfaatnya. Apakah dengan adanya pandemi, makin banyak orang yang kemudian percaya kepada kuasa Tuhan dan takut kepadaNya? Apakah dengan adanya korban jiwa yang besar, banyak orang kemudian menemukan jalan keselamatan? Ini adalah pertanyaan yang tidak mudah dijawab, karena tidak ada data yang menunjukkan bahwa umat manusia di dunia secara umum menjadi lebih taat kepada Tuhan sesudah datangnya pandemi.

Sejarah umat Israel menunjukkan bahwa berkali-kali Tuhan memperingatkan mereka dengan berbagai cara, tetapi hidup mereka tetap saja tidak berubah. Malahan, karena menolak keAllahan Yesus, mereka kemudian menyalibkanNya di Golgota. Penyaliban Yesus adalah malapetaka besar di antara pengikutNya. Mereka sangat sedih karena mereka tidak berdaya menghindari atau mengatasi kebencian orang Israel.  Sesudah Yesus meninggalkan mereka, kehidupan para pengikutNya bukannya makin mudah. Banyak pengikut Yesus yang dikejar-kejar, disiksa, dipenjara dan bahkan dibunuh. Tetapi, dalam keadaan sedemikian mereka berubah menjadi orang-orang yang berani menghadapi bahaya dan penderitaan; dan karena kesetiaan dalam iman kepada Kristus, sekarang Injil dapat menyebar ke seluruh dunia.

Kembali ke saat sekarang, apakah anda merasakan adanya manfaat yang terjadi karena krisis yang dialami seluruh umat manusia? Mungkin, seperti murid-murid Yesus yang pada mulanya bingung dan takut, kita pun merasa gundah dan kuatir akan apa yang bakal terjadi di masa depan. Kita bisa melihat bagaimana usaha yang dilakukan dan kesuksesan manusia yang dicapai selama ini, secara mendadak hilang seperti asap yang terbang ke langit. Arti kekayaan, kedudukan, ketenaran dan kesehatan mulai menjadi kabur, karena adanya bahaya kesehatan, ekonomi dan hukum yang mengancam.

Murid-murid Yesus menemukan kekuatan dari Yesus yang sudah meyakinkan mereka bahwa hidup sesudah ini adalah hidup yang kekal. Yesus juga sudah memberikan Roh Kudus untuk menolong dan menguatkan mereka. Seperti murid-murid Yesus, kita pun tahu bahwa hidup di dunia ini adalah hidup yang sementara. Seperti mereka, kita pun sudah dikaruniai dengan Roh Kudus yang senantiasa mau memimbing kita. Apa yang harus kita lakukan hanyalah keberanian untuk tetap hidup dan  bekerja, dan memilih apa yang benar. Bukan memilih apa yang bisa lenyap, melainkan  apa yang kekal guna menerima kemuliaan yang akan diberikan Kristus kepada kita,  sebab Dialah yang disahkan oleh Allah Bapa sebagai Juruselamat kita.

Satu sumber pengharapan yang bisa memberi rasa sukacita dan damai

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Roma 15: 13

Adakah sesuatu yang masih anda harapkan dalam hidup ini? Saya yakin pertanyaan ini akan dijawab dengan “ya” oleh setiap orang. Sekalipun apa yang kita harapkan belum tentu bisa terjadi, harapan setidaknya adalah pernyataan isi hati. Selagi masih hidup, umumnya orang masih berharap akan sesuatu untuk diri sendiri atau orang lain. Mereka yang menghadapi kematian pun masih mengharapkan sesuatu sebagai keinginan terakhir.

Jika ditanya lagi, sebagian orang yang mempunyai harapan bisa menyebutkan apa yang diharapkannya dengan tegas dan langsung karena memang ada sesuatu yang signifikan yang masih dinantikannya. Tetapi, sebagian lagi harus berpikir dulu untuk menemukan jawabnya. Mereka mungkin sudah merasa terbiasa dengan hidupnya, sehingga mereka butuh waktu untuk memikirkan apa yang penting dan yang belum terjadi atau tercapai.

Pertanyaan selanjutnya mungkin agak sulit untuk dijawab: Apa yang bisa kita harapkan kalau keadaan begitu buruk sehingga kita tidak dapat mengharapkan apa pun untuk diri sendiri, orang lain, keluarga atau negara? Dalam hal ini, mungkin orang sulit untuk mengutarakan harapannya karena merasa bahwa kemungkinan untuk bisa terjadi adalah nol. Karena itu, dalam keadaan sedemikian orang kemudian memutuskan untuk acuh tak acuh atau pun “pasrah”.

Bagi orang Kristen, harapan akan apa yang baik seharusnya selalu bisa dinyatakan.  Jika mereka benar-benar mengenal Tuhan yang mahakuasa, mereka tahu bahwa Tuhan sanggup untuk melakukan apa saja. Lebih dari itu, umat Kristen percaya bahwa  dari dulu Tuhan yang mahakasih selalu menghendaki apa yang baik, bukan yang jahat untuk umatNya. Karena itu, umat Kristen seharusnya selalu tetap bisa mengharapkan apa yang baik untuk dirinya, orang lain, bangsa, negara dan dunia, sekalipun itu terlihat sulit untuk dicapai.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29: 11

Pada saat dunia dan negara berada dalam keadaan kacau, kita harus bisa mengharapkan apa yang benar-benar baik untuk para pemimpin. Jika kita melihat orang lain kacau hidupnya, kita harus bisa mengharapkan sesuatu yang baik untuk mereka. Dan jika kita bisa melihat apa yang menjadi kekurangan kita, kita harus mau mengharapkan sesuatu yang benar-benar baik akan terjadi pada diri kita.

Masalahnya disini adalah apa yang “benar-benar baik”? Kita sendiri mungkin kurang tahu tentang itu, terutama jika kita melihat keadaan dunia pada saat ini. Kita mungkin mengharapkan agar para pemimpin di dunia bisa memberikan sedikit harapan untuk masa depan rakyatnya. Tetapi, apakah harapan bisa menjadi kenyataan? Kita mungkin ragu. Karena itu, pada saat inilah kita harus kembali kepada Tuhan, karena Dialah yang tahu apa yang terbaik untuk kita.

Ayat pembukaan di atas adalah ayat yang sering diucapkan di gereja sebagai salam berkat di akhir kebaktian. Mungkin kita sudah terlalu sering mendengarnya. Tetapi pada suasana yang mencekam seluruh dunia pada saat ini, tidak ada yang lebih kita inginkan daripada apa yang diucapkan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, yang berlaku juga untuk kita. Dalam ayat itu Paulus berdoa semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kita dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kita, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kita berlimpah-limpah dalam pengharapan.

Pada pagi ini kita diingatkan bahwa hanya Allah yang bisa memberi kita harapan, yang bisa memenuhi kita dengan rasa sukacita dan damai sekalipun keadaan di sekeliling kita terasa mencengkam.  Allah jugalah yang memberi kita iman kepercayaan sehingga kita tidak ragu atau goncang dalam pengharapan kita. Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita sudah menyatakan bahwa sebagai umatNya, tidak ada hal yang lebih besar dari pengharapan bahwa walaupun ombak menghempas hidup kita saat ini, kita akan bisa menghadapi semuanya dengan keberanian dan keyakinan. Kita berharap bahwa jika pada akhirnya semua ini berlalu, nama Tuhan akan lebih dimuliakan. Lebih dari itu, apa pun yang terjadi, kita bisa berharap bahwa pada saatnya kita akan dipersatukan denganNya dalam kemuliaan dan kedamaian di Surga karena Yesus sudah menebus diri kita dengan harga yang termahal.

 

 

 

Hal mengharapkan datangnya mujizat

“Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” 1 Korintus 15: 19 – 20

Saat ini hampir semua negara di dunia mengalami persoalan besar yang disebabkan oleh adanya pandemi COVID-19. Masalah terbesar yang harus dihadapi tentunya adalah masalah kesehatan, tetapi masalah ekonomi tidaklah kalah gentingnya. Selain itu, di beberapa negara, kestabilan politik dan hukum juga merupakan tantangan besar.

Jika mereka yang mempunyai usaha bisnis sekarang mengalami masalah keuangan dan mungkin harus mengurangi jumlah pegawai, gereja pun pada saat ini mengalami masalah besar karena tidak bisa mengadakan kebaktian dan dengan demikian pengeluaran haruslah dikurangi sebisa mungkin. Dalam keadaan sedemikian, banyaklah orang yang merasa bahwa awan kelabu seolah sudah menutupi sinar matahari.

Apa yang bisa kita perbuat di tengah keadaan yang kacau saat ini? Mungkin tidak banyak, selain makin bersungguh-sungguh dalam berdoa, seperti apa yang dilakukan Yesus di taman Getsemane. Selain itu, tentunya kita berharap jika Tuhan menghendaki, kita boleh dibebaskan dari masalah kehidupan yang semakin besar hari demi hari.

Mengharapkan turun tangannya Tuhan secara langsung di dunia adalah sesuatu yang normal jika manusia merasa tidak berdaya. Alkitab mencatat berbagai kisah tentang orang-orang yang menjerit kepada Tuhan untuk memohon pertolonganNya, dan memang sering Tuhan menjawab mereka dengan memberikan apa yang mereka butuhkan secara ajaib. Tentu saja kita juga bisa memohon hal yang serupa kepada Tuhan di zaman ini dan yakin bahwa itu pasti akan terjawab jika sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dalam Kristus kita memang mempunyai harapan. Selama Yesus hidup di dunia, ada banyak orang yang sudah melihat berbagai mujizat yang diperbuatNya. Ia melakukan berbagai keajaiban karena kasihNya kepada manusia, tetapi yang paling utama adalah agar nama Bapa dipermuliakan.

Sekarang Yesus sudah tidak tinggal di dunia lagi, dan karena itu kita tidak bisa melihat Dia dan para rasul melakukan mujizat. Injil sudah diberitakan keseluruh dunia dan karena itu mujizat tidaklah terjadi seperti dulu. Mujizat dari Tuhan tetap bisa muncul dalam hidup sehari-hari, tetapi mujizat yang terbesar dan yang paling sering terjadi adalah ketika Roh Kudus membawa seseorang ke jalan yang benar. Roh Kudus juga menolong dan menguatkan kita dalam menghadapi tantangan hidup. Semua itu terjadi karena kasih Allah kepada umat manusia dan karena itu namaNya dipermuliakan di seluruh penjuru dunia.

Mujizat yang dibuat Yesus di dunia sebenarnya bukanlah bagian utama dari misiNya. Yesus datang ke dunia untuk membuka jalan bagi kita untuk menuju ke surga. Di surga kita akan melihat apa yang jauh lebih menakjubkan dari keajaiban apa pun di dunia. Karena itu, ayat di atas menyatakan bahwa jika kita hanya berharap kepada Yesus dalam hidup di dunia saja, kita adalah orang yang malang.

Pengharapan akan datangnya sesuatu yang sangat hebat tidaklah akan terjadi selama kita hidup di dunia. Tetapi, adalah jauh lebih penting bagi kita untuk berharap kepadaNya untuk masa depan kita sesudah tugas kita di dunia selesai. Kita bisa mempunyai harapan yang besar karena Kristus sudah menang atas maut. Hidup kita yang sekarang mungkin penuh dengan masalah, tetapi kita tidak memusatkan hidup kita untuk itu saja, melainkan kepada Kristus yang sudah menjadi Juruselamat kita.

“Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” 1 Korintus 15: 22

Tetaplah teguh dalam iman

“Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” 1 Petrus 1: 5 – 6

Hidup manusia di mana pun selalu penuh dengan perjuangan. Mereka yang melihat adanya orang yang nyaman hidupnya mungkin kadang-kadang merasa iri bagaimana orang tersebut agaknya tidak pernah mengalami penderitaan. Pada pihak yang lain, mereka yang hidupnya sudah nyaman seringkali masih merasa iri melihat orang lain yang hidupnya terlihat lebih berbahagia. Memang, jika orang membanding-bandingkan hidupnya dengan hidup orang yang lebih enak, rasa kecewa sering timbul karena Tuhan sepertinya tidak adil.

Konsep keadilan yang dimengerti manusia memang seringkali tidak dapat menerima keadaan dimana orang di tempat tertentu bisa mempunyai kenyamanan hidup yang jauh lebih tinggi dari mereka yang di tempat lain. Dalam hal ini, adalah baik jika orang yang lebih enak hidupnya bisa menolong orang lain yang terlihat kurang beruntung. Tetapi, dalam kenyataannya mereka yang mengalami penderitaan belum tentu bisa mendapat pertolongan dari orang lain. Karena itu, di berbagai tempat di dunia, ada masyarakat yang sejak lama hidup dalam kekurangan dan penderitaan. Bagi mereka, rasa kecewa sering timbul mengapa Tuhan yang dikatakan mahakasih dan mahaadil tidak pernah menolong mereka. Apakah itu karena kemarahan Tuhan?

Bagi orang Kristen, Alkitab mempunyai banyak ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengasihi umatNya. Sekalipun ada banyak ayat yang mengemukakan amarah Tuhan (God’s wrath) kepada mereka yang melanggar perintahNya, banyak orang Kristen yang terbuai oleh ayat-ayat pujian atas kasih Tuhan (God’s love), seperti apa yang tercantum dalam kitab Mazmur 91. Agaknya, lebih mudah bagi kita untuk membayangkan Tuhan yang mahamurah daripada membayangkan Tuhan yang mahakuasa dan mahaadil. Tidaklah mengherankan jika kehidupan manusia di dunia sekarang ini mengalami goncangan karena adanya berbagai bencana, dan iman umat Kristen pun ikut tergoncang jadinya. Apakah Tuhan itu benar-benar mengasihi umatNya? Apakah Tuhan itu benar-benar berkuasa atas alam semesta? Mengapa sifat Tuhan pada saat ini seakan berbeda dengan apa yang diperlihatkan oleh Yesus selama Ia di dunia?

Tuhan tidak pernah berubah. Jika kitab Perjanjian Lama mengutarakan adanya berbagai hukuman yang dijatuhkan kepada umat manusia karena pelanggaran hukum Tuhan, kitab Perjanjian Baru  menyatakan bahwa hukuman manusia yang bertahan dalam dosanya adalah kematian.  Apa yang berbeda adalah kemarahan dan berkat Tuhan pada zaman Perjanjian Lama adalah bersifat sementara untuk orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu, sedangkan kemarahan dan berkat Tuhan pada Perjanjian Baru adalah bersifat kekal untuk semua bangsa dan setiap individu karena Yesus yang sudah mati di kayu salib untuk seisi dunia. Setelah kedatangan Kristus, kemarahan Tuhan kepada mereka yang tinggal dalam dosa adalah kematian di neraka, sedangkan berkat Tuhan kepada semua orang yang beriman adalah keselamatan yang kekal di surga.

Apakah Tuhan bermaksud menghukum kita dengan adanya bencana pada zaman sekarang? Apakah adanya pandemi menyatakan murka Tuhan? Belum tentu! Jika ada manusia atau masyarakat yang mengalami hal yang pahit karena kesalahan yang ada, itu memang sudah sepantasnya. Tetapi mereka yang sudah hidup menurut firman Tuhan bisa juga mengalami berbagai masalah selama hidup di dunia bersama orang lain. Sebaliknya, mereka yang hidup jauh dari Tuhan bisa saja mempunyai hidup yang nampaknya nyaman di dunia. Apa yang harus kita perhatikan adalah hidup di dunia yang adalah hidup yang sementara, dan bagi umat Kristen apa yang lebih penting adalah hidup sesudahnya. Ayat di atas menyatakan bahwa orang yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena iman, adalah orang yang menantikan keselamatan yang telah tersedia karena penebusan Kristus. Karena itu, pengharapan akan hidup kekal di surga membuat orang itu bisa tetap bersukacita sekalipun sekarang ini  ia harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Oleh sebab itu, tetaplah teguh dalam iman!

Bersukacita selalu dan tetap berdoa

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa.” 1 Tesalonika 5: 16 – 17

Sudah beberapa minggu ini di berbagai negara banyak orang bekerja dari rumah (work from home alias WFH). Tidak terbayang sebelumnya bahwa hal ini bakal terjadi, tetapi gara-gara virus SARS-Cov-2 yang ganas banyak pemerintah yang menyuruh warganya untuk melakukan social distancing sehingga mereka harus tinggal di rumah sepanjang hari, kecuali jika benar-benar perlu untuk keluar rumah. Bagi saya, bekerja dari rumah memang praktis karena tidak perlu memakai pakaian kerja yang lengkap. Cukup dengan memakai celana pendek dan sandal jepit asalkan berbaju kerja, saya bisa bertemu muka dengan siapa saja di dumia melalui program komputer Zoom. Selain itu, untuk mulai bekerja tentunya saya tidak perlu mengedarai mobil, tetapi cukup berjalan beberapa meter saja dari kamar tidur ke ruang kerja di rumah.

Walaupun bekerja dari rumah terasa nyaman pada mulanya, setelah tiga minggu saya mulai merasa bosan. Belum lagi dengan kecenderungan untuk sedikit-sedikit makan dan bukannya makan sedikit-sedikit jika di rumah, tubuh pun berubah makin besar saja rasanya. Dengan adanya perasaan bosan dan ditambah dengan terlalu seringnya mengikuti laporan perkembangan wabah COVID-19, pelan-pelan perasaan saya menjadi tidak menentu. Rasa sedih, bingung dan kuatir sering muncul silih berganti dan itu membuat perasaan murung datang. Memang, menurut para ahli dampak kejiwaan dari pandemi ini akan makin jelas dengan makin lamanya keharusan untuk tinggal di rumah. Sebagian dari masyarakat pada akhirnya akan memerlukan perawatan psikologis karena hidup mereka yang tertekan.

Bagaimana orang dapat menghadapi masalah hidup dan tetap kuat secara jiwa dan raga? Sekalipun masyarakat diminta untuk tidak pergi ketempat lain jika tidak perlu sekali, pemerintah pada umumnya menganjurkan agar penduduk untuk tetap rajin beraktivitas di rumah, seperti berolahraga, senam, memasak, menonton film di TV dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan semacam itu diharapkan bisa mengisi kebosanan dan mendatangkan rasa gembira dan semangat baru. Walaupun demikian, banyak orang yang merasa bahwa hidup dalam suasana sekarang ini tidaklah bisa dinikmati. Dengan tutupnya banyak perusahaan, mereka yang kehilangan pekerjaan  merasa bahwa masa depan adalah suatu tanda tanya besar.

Bagaimana manusia bisa mengatasi perasaan sedih, bingung dan kuatir atas apa yang dilihat, dirasakan atau dibayangkannya? Sekalipun ada lagu yang menganjurkan agar kita tidak kuatir tapi bergemibira selalu (Don’t worry, be happy), dalam kenyataannya manusia pada umumnya tidak bisa menghilangkan rasa gundah jika tidak ada jaminan bahwa segala sesuatu pada akhirnya membawa kebaikan.

Ayat di atas ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, dan merupakan dua ayat dari beberapa ayat tersingkat dalam Alkitab berbahasa Indonesia. Ayat 16 berbunyi “Bersukacitalah senantiasa” dan terdiri dari dua suku kata, dan ayat 17 yang berbunyi “Tetaplah berdoa” juga terdiri dari dua suku kata, tetapi mempunyai jumlah huruf yang lebih sedikit. Sekalipun kedua ayat ini sangat singkat, artinya sangat dalam. Ayat-ayat  ini mudah diingat, dan seharusnya tidak pernah dilupakan oleh setiap orang Kristen.

Hidup sebagai orang Kristen di dunia belum tentu membawa kenyamanan dan kenikmatan. Bahkan, sebaliknya orang Kristen diajak unuk mengikut teladan Yesus dengan mendahulukan kepentingan Tuhan di atas kepentingan diri sendiri. Orang Kristen dengan demikian harus bersedia untuk mengikut jejak Yesus dan sanggup untuk menghadapi segala tantangan, masalah dan bahaya dalam hidup di dunia demi kemuliaan Tuhan.

Anjuran Paulus untuk senantiasa bersukacita tidak akan dapat dilakukan jika tidak ada alasan untuk bersukacita. Orang tidak bisa bersukacita jika tidak ada jaminan bahwa apa yang kita alami saat ini hanya untuk sementara, sedangkan masa depan yang cemerlang akan datang pada waktunya.

Dalam hal ini, orang Kristen adalah orang yang tahu bahwa dua ribu tahun yang lalu, Yesus mengalami penderitaan yang luar biasa dan kemudian mati disalibkan, tetapi pada hari yang ketiga Ia bangkit. Kebangkitan Kristus inilah yang memberi jaminan bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kita, pada akhirnya kita akan menang seperti Yesus yang sudah menang.

Yesus yang sewaktu hidup di dunia sudah melakukan berbagai mujizat, adalah Tuhan yang sekarang berada di surga. Kuasa Allah yang dipertunjukkanNya selagi masih di dunia adalah kuasaNya yang sekarang  tetap ada karena Ia adalah Allah. Karena itulah kita seharusnya juga bisa selalu bersukacita karena Ia selalu beserta kita. Kita juga harus bisa selalu dengan yakin berdoa kepadaNya karena Ia adalah Tuhan yang mengasihi kita dan mau menjawab permohonan-permohonan kita. Bersukacitalah senantiasa, tetaplah berdoa!

 

 

Domba-domba yang sudah menang

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Roma 8: 35 – 37

Hari ini hari Paskah, hari kebangkitan Yesus Kristus. Yesus yang taat kepada kehendak Allah Bapa, dan karena itu mau disiksa dan disalibkan seperti induk domba yang digunting bulunya dan seperti anak domba yang sudah dibawa ke pembantaian (Yesaya 53: 7), sekarang sudah menang atas maut. Ia tidak lagi dapat di jumpai di liang kubur karena Ia tidak lagi berupa jasad mati yang terkurung tembok.

Jika kematian Yesus menunjukkan besarnya kasih Allah kepada umat manusia, kebangkitanNya membuktikan besarnya kuasa Allah. Jika sebelum Ia bangkit, Yesus mempunyai tubuh seperti kita yang bisa mengalami rasa lelah, sakit, dan takut, sesudah Ia bangkit tidak ada hal duniawi yang bisa membuat Dia menderita. Karena Ia sudah menang atas maut, Ia membuktikan bahwa apa yang pernah dinyatakanNya kepada banyak orang adalah benar: Ia memang Anak Allah. Sebagai Anak Allah ia adalah satu dengan Allah Bapa, dan karena itu Ia mahakuasa dan mahakasih.

Bagi umat Kristen, kematian Kristus adalah keajaiban yang terbesar yang diperbuat Allah Bapa karena kasihNya, yang sudah direncanakanNya sejak dari mulanya. Pada pihak yang lain, kebangkitan Kristus membuat orang Kristen yakin bahwa iman kepada Yesus bukanlah sia-sia, karena pada saatnya kita akan dibangkitkan kembali seperti Dia. Walaupun demikian, pertanyaan yang ada adalah bagaimana kita bisa mempunyai keyakinan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus juga membawa berkat dan kebahagiaan bagi kita selama kita masih hidup di dunia.

Apa untungnya menjadi pengikut Kristus selama kita masih hidup di dunia? Adakah manfaat yang bisa kita peroleh dengan menyadari bahwa Yesus sudah mati dan bangkit untuk kita? Ayat di atas menyatakan karena besarnya kasih Allah yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal, bahaya dan penderitaan apa pun tidak dapat memisahkan kita dari Kristus.

Hari ini mungkin kita merasakan beban kehidupan yang berat dan bisa melihat adanya ancaman bahaya. Walaupun seperti Yesus kita telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan, tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, sebab Yesus sudah menang atas kematian. Dengan demikian, kita adalah domba-domba Kristus yang bisa merasakan damai dan sukacita dalam keadaan apa pun karena adanya harapan untuk masa depan. Karena itu juga, kita bisa hidup dan memuliakan Kristus sepanjang hidup di dunia.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1: 21

Kebangkitan Kristus memberi kepastian

“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” 1 Korintus 15: 14

Adakah hal yang pasti dalam hidup manusia? Banyak orang berpendapat bahwa tidak ada apapun yang pasti. Sewaktu kecil saya pernah mendengar peribahasa “Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”, dan saya percaya bahwa itu benar. Tetapi, setelah dewasa saya bisa melihat adanya orang-orang yang sekalipun rajin dan hemat ternyata tidak sukses hidupnya. Bahkan, dalam suasana perekonomian dunia  di saat COVID-19 ini, ada kemungkinan bahwa banyak orang yang dulunya kaya bisa menjadi bangkrut. Begitu pula orang yang dulunya sehat, bisa jatuh sakit dan bahkan meninggal dunia. Nasib manusia memang seperti sebuah yo-yo yang terkadang di atas, dan terkadang di bawah.

Sekalipun tidak ada sesuatu pun yang bisa dipastikan di dunia, ada beberapa orang yang pernah menyatakan bahwa untuk manusia apa yang bisa dipastikan adalah kematian dan pajak (death and taxes). Salah satu diantara orang-orang itu adalah Benjamin Franklin yang menulis hal ini dalam suratnya kepada Jean-Baptiste Leroy, pada tahun 1789. Memang, setiap orang yang hidup di sebuah negara umumnya harus membayar pajak kepada pemerintah dan akhirnya menemui ajalnya. Dengan demikian, selama hidup di dunia ini orang tidak dapat memastikan  datangnya apa yang baik dan indah, tetapi bisa memastikan apa yang buruk, yaitu pajak dan kematiannya. Hidup manusia agaknya seperti apa yang dikatakan Allah sesudah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa:

“Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Kejadian 3: 17 – 19

Sejak saat itu, hidup manusia agaknya menjadi suram dan tidak mempunyai harapan. Tetapi, karena Allah adalah Tuhan yang mahakasih, Ia tidak membiarkan manusia menderita di dunia untuk selamanya. Tuhan dalam kitab Kejadian juga menyatakan rencana penyelamatan umat manusia; dengan menjanjikan datangnya seorang Manusia yang akan mengalahkan iblis, yaitu Yesus Kristus.

“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kejadian 3: 15

Yesus Kristus mengalami penderitaan di kayu salib, tetapi dengan itu Ia meremukkan kepala iblis. Kematian Yesus menebus manusia yang berdosa dan kebangkitanNya memungkinkan mereka yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat untuk memperoleh keselamatan. Memang selagi hidup di dunia orang percaya tidak akan luput dari berbagai penderitaan seperti kemiskinan  dan penyakit, tetapi mereka mempunyai harapan untuk masa depan, yaitu hidup kekal di surga.

Selagi di dunia, mereka yang percaya tentu saja hanya dapat membayangkan bagaimana indahnya kehidupan di surga, dimana tidak ada lagi tangis dan duka. Tetapi, karena tidak ada seorang pun yang pernah ke surga, hal itu haruslah diyakini dengan iman selama masih hidup di dunia. Itu tidak mudah dilakukan. Apalagi, dengan adanya berbagai masalah hidup, kita akan mudah hilang harapan. Bagaimana jika hidup kekal itu ternyata tidak ada? Bukankah iman kita akan menjadi sia-sia?

Untunglah bahwa hidup kekal memang benar-benar ada karena Yesus yang sudah mengalahkan kematian. Di hari Paskah ini kita merayakan kemenangan Yesus atas iblis dan atas maut, dan karena itu kepercayaan kita tidaklah sia-sia. Bagi umat Kristen apa yang pasti bukanlah penderitaan seperti kematian dan pajak, tetapi adanya hidup yang kekal dalam Yesus Kristus!